Is That True? Really?
.
BL
.
Jimin x Yoongi
Bts all mem,
.
.
.
'Please, Jimin itu lagi berjuang. Tapi Yoongi pengen fokus kerja."
Hari ini adalah hari pulangnya Yoongi dari rumah sakit. Yoongi sudah tidak memakai pakaian rumah sakit lagi. Ia duduk dipinggiran ranjang dengan kaki yang menjuntai lucu, menatap Jimin yang sedang mengemasi barang barangnya. Kedua sudut bibirnya terangkat, mengingat telatennya Jimin menjaganya merawatnya dirumah sakit itu.
Jika boleh jujur, Yoongi sedang membayangkan kehidupannya dengan Jimin kelak. Entah terjadi atau tidak. Kepalanya sibuk dengan imajinasi ringan tentang keluarga kecil yang ia bangun dengan Jimin. Rumah yang tidak terlalu besar, dengan halaman luas didepannya. Serta suara tawa seorang anak yang lucu, Yoongi membayangkan seorang anak yang mirip dengannya.
Hingga kekehan kecil keluar dari mulutnya, Yoongi baru menyadari Jimin dengan berkacak pinggang menatapnya sambil mengerutkan dahi, bingung. Yoongi gelagapan ditempat, rona samar terlihat dipipinya. Ia terlihat mengulum senyum, sungguh lucu dimata Jimin.
"Hei, sedang apa kau?" Jimin mendekat, "Kau membayangkan apa?"
"Hmm, tidak ada, hanya ya hanya."
Jimin tersenyum melihat tingkah imut itu, ia mencubit gemas hidung Yoongi. "Ayo pulang." Kemudian memasangkan masker kewajah Yoongi.
Keduanya pulang kedorm, disambut antusias para member lain. Sang hyung tertua pun juga memasak banyak untuk kepulangan Yoongi. Mereka makan bersama dengan candaan dan bincangan ringan membahas tentang kecelakaan Yoongi kala itu.
"Hyung, kata pd-nim kemarin. Kau diberi waktu istirahat untuk pulang kekampung. " Jimin tersenyum lebar mendengar berita itu, ia ingin sekali ikut kedaegu dan beristirahat bersama Yoongi.
"Hyung, aku boleh ikut kan?"
"Tidak Jimin, comeback kita sebentar lagi. Kau harus tinggal untuk berkerja." Jawab Namjoon meyakinkan.
Yoongi terkekeh, "Aku juga tidak berniat membawamu, Jimin-ah."
Gelak tawa memenuhi meja makan itu, semua merasa terhibur dengan terpojokkannya seorang Park Jimin.
..
Yoongi sedang sibuk mengemasi barang-barangnya, dengan alunan lagu gerutu tak jelas dari Jimin. Jimin tidak main-main, ia benar-benar ingin ikut menemani Yoongi pulang kekampungnya.
"Ahh, hyung. Biarkan aku ikut."
"Dan, dikeluarkan dari agensi. Kau tentu tidak menginginkannyakan, Jimin."
Tiba-tiba dua buah lengan kekar sudah melingkar diperut Yoongi, "Baiklah, siapa yang akan menjemputmu?"
Yoongi menyamankan diri dengan bersandar ditubuh Jimin, "Hyung-ku, akan menjemput besok."
"Hati-hati, hyung. Aku menunggumu." Setelah mengecup singkat pipi Yoongi, Jimin melepas pagutannya dan beranjak untuk keluar, berisrtirahat didalam kamarnya.
.
.
.
Walau pun, Yoongi diberi waktu untuk beristirahat. Ia tetap berkerja dengan menulis lirik yang akan ia gunakan untuk album kedepannya. Duduk dihalaman belakang rumahnya, Yoongi sibuk mencoret-coret kertas. Sudah tidak terhitung kertas yang menggulung lusuh dibawah kakinya. Yoongi sulit berkonsentrasi.
Pikirannya melayang memikirkan orang yang sekarang mengisi hatinya. Jimin, tepatnya. Yoongi memikirkan kembali waktu sebelumnya saat ia memilih untuk dekat kembali dengan Jimin. Ia merasa interaksi bersama Jimin kala itu berlebihan. Seharusnya Yoongi tidak perlu bersikap seperti seorang kekasih dulu.
Biarkan hubungannya biasa saja sampai sekiranya ia dapat menerima Jimin kembali. Seketika senyum kecil menghiasi wajahnya, Yoongi terbayang kala,
Sebelum debut,,
Para member bangtan ditugaskan untuk berdiet dan membentuk absnya, yang paling gampang dengan hal itu hanya Jimin dan paling susah ialah Yoongi. Sebenarnya Yoongi bukan orang yang makannya sering, hanya saja jika ia mulai makan Yoongi akan tidak akan makan dengan sedikit. Yoongi bisa makan melebihi porsi member lain.
Dan kali ini ia merasa sial, karna sibuk dengan latihan rapnya, Yoongi tidak ingat makan seharian. Sedangkan saat malam, tidak ada lagi makanan yang tersedia untuknya. Yoongi panik, lapar memang tidak mudah untuk membuatnya mati. Tapi jika ia lapar, Yoongi akan susah untuk tidur.
Sibuk mengoceh tak jelas, ternyata gerutuannya terdengar oleh namja bantet yang saat itu belum terlalu dekat dengan Yoongi. Jimin, namanya. Si Jimin mendekat mencoba ingin tau masalah dari manusia yang lebih tua darinya namun manis itu.
"Permisi, kau memerlukan sesuatu?"
"Ah, kau? Ini aku belum makan apapun sejak pagi."
Tanpa bertanya lagi pun Jimin sudah mengetahui apa yang tengah mengganggu namja putih itu. "Ingin keluar denganku?"
"Huh?"
Dengan ketidak sopanannya Jimin langsung menarik tangan Yoongi. Sang pemilik tangan yang memang tidak mengerti dengan Jimin, hanya bisa mengikuti dari belakang. Mereka berjalan dengan mengendap-endap, tak lama kemudian keduanya sudah ada diluar dorm.
Jimin masih saja memegang kuat Yoongi dan membawanya kesuatu tempat tak jauh dari dorm mereka. Sebuah mini market berada didekat sana yang masih buka lah tujuan Jimin.
Memesan ramen dan menyeduhnya, mereka duduk dimeja yang memang sudah disediakan oleh pemilik minimarket. Jimin kadang terkekeh melihat lahapnya Yoongi memakan ramennya.
Selesai dengan makanannya, Jimin menginstuksikan untuk pulang dengan cepat takut ketahuan oleh manager yang tengah tertidur diruang tengah.
Kembali mengendap-endap Jimin maupun Yoongi, masuk dengan perlahan,
"Ekhem. Sepertinya kita memiliki dua tikus bau ramen disini."
Yoongi dan Jimin saling menatap,
"Ini salahku, hyung. | Ini salahku, hyung." Jawab mereka bersamaan
"Salah dia | Salah dia." Kembali berseru bersama dengan saling menunjuk antara keduanya. Setelahnya mereka terkekeh menyadari ucapan masing-masing. Namun,
"Tidak ada yang lucu, seminggu kedepan kalianlah yang harus mencuci piring semua member."
Saat itulah, Min Yoongi dan Park Jimin mulai dekat.
.
Sibuk dengan bayangan masa lalu, Yoongi tidak menyadari waktu terbuang. Sekarang Yoongi mendapat pilihannya. Dimana ia akan kembali bersifat seperti dulu, Yoongi yang dingin dan banyak diam. Bukan karna apa, namun ini demi perkerjaannya. Yoongi tidak ingin lagi perkerjaannya terganggu hanya karna memikirkan Jiminnya.
.
.
.
Puas dengan waktu istirahat yang diberikan, Yoongi mencoba menjalankan recananya. Di tengah pintu Jimin sudah membuka lebar kedua tangan, bermaksud memberikan pelukan untuk kedatangan Yoongi.
"Sedang apa kau?"
"Eyyy, aku akan memberi pelukan selamat datang, kemarilah."
Yoongi hanya mengkerutkan dahi dan berlalu begitu saja melewati Jimin. jimin yang memang sedang menutup mata, merasa bingung. Mengapa tidak ada tubuh yang mendekat padanya? Hingga matanya dibawa untuk membuka, maniknya tidak menemukan apa pun didepan. Hanya pintu yang terbuka lebar, dengan cepat Jimin membalikkan tubuh, menatap punggung Yoongi yang menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Apa yang ia makan saat didaegu?"
.
.
.
Cobaan Jimin bukan hanya sampai itu, beberapa hari ini ia memerhatikan Yoongi yang jauh dari sebelumnya. Sebelum pulang kekampung, Yoongi baik-baik saja. Jujur Jimin menyukai saat-saat manjanya seorang Min Yoongi.
Tanpa Yoongi dan Hoseok, member bangtan berkumpul untuk bersantai diruang tengah. Dua manusia yang tidak hadir itu datang dari lelahnya berkerja distudio.
Entah dapat ide dari mana, mungkin karna sudah tidak tahan diabaikan Jimin mulai melakukan aksinya,
"I rewind my girl baby come back to my world
I rewind my girl come back, kom bek oyyy!"
Adegan itu sungguh tiba-tiba, penonton dibuat tercengang atas teriakan Jimin, belum lagi ia melakukannya sambil menggedor pintu kamar yang ada Yoongi dan Hoseok didalamnya. Sepertinya mereka sedang mendiskusikan hal penting didalam.
Hingga suara kencang sebagai balasan untuk Jimin keluar dari dalam sana,
sarangi tteona gado, gaseume meongi deureo do
walaupun cinta meninggalkanku, walaupun hatiku terluka.
han sungan ppuni deora, babman jal meok deora, jukneun geotdo ani deora
itu hanya sementara, aku masih bisa makan dengan baik, itu bukan berarti aku akan mati
nunmureun mudeo dwora, dang bun ganeun ilman haja
lupakan air mata, mari kita fokus berkerja saja.
jugeul mankeum saranghan, geunyeoreul aratdan, geu sashire gamsa haja
bersyukurlah akan kenyataan, kalau aku akan mencintainya sampai mati
.
Semua yang ada di ruang tengah maupun didalam kamar tertawa kencang, tanpa Jimin tentunya, karna ia hanya melengo tak suka sambil menatap pintu. Entahlah mungkin ini ide Hoseok yang tidak ingin diganggu oleh suara cempreng Jimin.
Ya, itu adalah suara Hoseok dan Yoongi.
.
.
.
Jimin belum menyerah rupanya, ia tak lepas dari acara mengganggu Yoongi. Esoknya, diamana Yoongi sibuk dengan buku lirik ditengah sofa. Jimin tiba tiba duduk disamping Yoongi, sambil merangkul bahunya.
"Hyung, kenapa kau berubah? Kapan kau kembali, padaku?" Jimin hanya tidak tau, kalau Yoongi hanya ingin fokus bekerja saat ini.
"Yeobo?" Seseorang mungkin tak percaya, yang tadi itu suara Yoongi dengan lagak menggoda.
"Nde, chagi-ya. Huh?" seketika mata Jimin membelalak tak percaya, pandangannya beralih pada wajah orang disampingnya yang tengah mendekat. Ya wajah Jimin mendekat. Tubuh Jimin menegang ditempat. Yoongi berdiri lalu duduk diatas paha Jimin.
"Jiminie, aku sedang berkerja bisakan kau memberi waktu untuk tidak mengganguku?" lagi, suara menggoda itu entah kenapa membuat Jimin terdiam, belum lagi jari telunjuk yang ia mainkan serta memutar didada Jimin. Jimin tak mampu membalas atau melakukan apapun, ribuan pertanyaan mengapa tubuhnya menjadi seperti ini berteriak dikepalanya.
Namun, saat tangan Jimin mulai menyentuh pinggang Yoongi. Sang pemilik pinggang melenggak pergi begitu saja masuk kedalam kamarnya.
"Yang tadi itu apa? Kenapa aku diam?" –jimin.
.
.
.
Yoongi memilih untuk pulang dari studio ke dorm karna alasan, lelah. Ia bergegas keluar dan menemukan lift yang kondisinya sama dengan beberapa waktu lalu. Ya, lift itu kembali rusak dimalam hari. Keringat dingin meluncur bebas dikeningnya, Yoongi menatap horror pintu tangga darurat tak jauh dari tempatnya berdiri.
Yoongi kembali masuk kedalam studionya, duduk disofa miliknya. Yoongi mungkin bisa beristirahat disini namun sofa studio tak senyaman ranjang dikamarnya. Tak lama kemudian muncullah ide yang membuat Yoongi tersenyum, namun menyesal setelahnya.
Yoongi berpikir untuk menghubungi Jimin, lagi-lagi Jimin. tapi seingatnya hanya Jimin yang masih betah didalam ruang latihan dijam seperti ini. Oke, Yoongi tidak peduli, yang ia inginkan sekarang hanya tidur dengan bergelung selimut dikasurnya.
"Jimin, kau dimana?"
'Astaga, Yoongi hyung? Kau kah itu? Akhirnya kau menelp—'
"Datang-kestudioku-sekarang-juga!" /Bip/ kalian semua mengerti.
Tak lama kemudian Jimin datang, Yoongi berdiri menghampiri Jimin.
"Hai—uwahhh." Jimin membolakan matanya sambil tersenyum lebar /bayangin aja gimana horornya wajah jimin/, bahkan tangannya ia bawa menangkup wajah Yoongi. "Hyung, sejak kapan? Akh, kau tambah manis." Kini tangannya memiring miringkan wajah Yoongi kekanan dan kiri.
"Hentikan, apa-apa an, kau?"
Jimin masih saja terkagum dengan sosok didepannya. Ia seperti itu, karna Yoongi tidak lagi memiliki rambut caramel seperti kemarin-kemarin, rambutnya berubah menjadi warna mint yang membuat wajahnya semakin manis.
"Lepas, dan ayo pulang."
Jimin semakin tersenyum, melihat Yoongi berjalan lebih dulu, dengan bibir terpout lucu. Mereka keluar dan memberhentikan langkah didepan tangga darurat. Dan saat menuju kesini, Jimin sudah mengerti masalah Yoongi.
"Tidak ada cara lain." Guman Jimin, Yoongi yang tadinya diam. Dikagetkan dengan terangkatnya tubuhnya didepan tubuh Jimin. "Aku tau, kau takut bukan?"
Anehnya Yoongi tidak berontak, mungkin karna memang ini yang terbaik. Dari pada harus ketakutan menuruni tangga dengan bayangan terjatuh kala itu. Yoongi menatap singkat wajah tersenyum Jimin. lalu melingkarkan kedua tangannya dileher serta kaki dipinggang Jimin.
"Aku tidak percaya ini, tapi aku cukup berat untuk tubuhmu, Jimin."
Jimin semakin melebarkan senyumannya, ia juga mengeratkan pelukan ditubuh Yoongi, "Tapi kau harus tau kalau aku seorang yang kuat, hyung."
Setelahnya, Jimin mulai berjalan menuruni tangga dengan lantai tidak sedikit. Untuk Yoongi itu tidak akan berat untuknya.
Awalnya Jimin tidak berniat untuk pulang dan hanya mengantar Yoongi sampai lobi. Tapi, terasa kurang jika hanya mengantar sampai situ. Alhasil, Jimin pun ikut pulang bersama Yoongi kedorm mereka.
Yoongi bergegas menuju kamarnya, tanpa tau Jimin mengikutinya dibelakang. Saat pintu kamar ia buka, tubuh Yoongi seketika menegang, matanya yang membola sempurna serta mulut yang sedikit terbuka.
Yoongi melihat dua manusia sedang melakukan adegan panas didepannya. Seseorang yang salah satunya adalah teman sekamar dirinya.
"Uwwahhh (2)"
Seharusnya Yoongi menyadari Jimin tadi, Yoongi merasa menjadi seorang pengintip sekarang dimana Namjoon dan Jin menghentikan kegiatan mereka karna kedua orang lain yang menyaksikan mereka.
Dengan cepat Yoongi berbalik menutup mulu Jimin dengan telapak tangan, serta membawanya untuk keluar dari kamar tersebut. Mereka berjalan gusar ke dapur. Yoongi mengibas tangan didepan wajah, sejak kapan hawa menjadi panas diantara keduanya. Jimin juga merasakan itu, tepatnya.
Hingga mata mereka bersitatap menyelami manik lawan. Mata Yoongi turun, kearea selatan Jimin. Yoongi merasa bodoh, kenapa matanya malah menangkap kelana kain Jimin yang terlihat menyembul dari dalam.
"Apa yang kau lihat?"
"Hu-huh?"
Jimin mendekat, "Aku teringat kejadian dipesawat. Yang berakhir dengan bermain solo salah satu dari mereka, yang tadinya melakukan adegan panas." Sejak kapan Jimin dihadapan Yoongi, Yoongi mundur mencoba menjauh sampai bokongnya menyentuh sisi meja makan.
Jimin semakin mendekat, dengan mudahnya ia angkat tubuh Yoongi untuk duduk diatas meja. Jimin berdiri diantara kedua kaki Yoongi, "Bisakah, kita melanjutkannya, tanpa status sebagai sepasang kekasih seperti dulu?"
Dan ucapan itu, sukses membuat Yoongi menelan ludahnya sendiri.
.
.
.
.bersambung.
Itu apa-an sih, mood gak bagus, sumpah.
2ronde leh ugha yekan?
