Basil Family

A/N : heyya. So, kita lompat lagi. Mohon maklum…

Disclaimer : I don't own HM and its characters… *sob*

So, Enjoy!


Summer the 10th, Mineral Beach, 01.00 p.m

-Claire's POV-

Panas matahari musim panas terasa sangat menyengat ubun-ubunku. Setelah menyeka keringat yang bercucuran di dahiku, aku menarik alat pancingan yang sudah kupegangi selama 2 jam terus menerus–namun tetap tiada hasilnya. "Jack?"

"Hm?" sahut Jack, "Belum dapat juga?". Berbeda dengan emberku yang kosong melompong, 2 ember yang Jack siapkan dari rumah terisi penuh dengan ikan yang berukuran sedang dan besar. Mereka menggeliat-geliat seakan-akan berusaha mengejekku.

Angin berhembus kencang, tapi bukannya menyejukkan, melainkan membuat keadaan sekitar makin gerah.

"Udahan aja, deh. Aku emang engga bakat dalam hal beginian," eluhku pada Jack. Jack, di lain tangan tersenyum penuh kebahagiaan dengan hasil pancingannya hari ini; yang berarti makanan ekstra untuk makan malam.

Aku pun berdiri lalu membersihkan pasir pantai yang melekat di baju overall unguku.

'TOOOOTTT'

Aku dan Jack mencari-cari asal suara kapal itu, yang tentu saja berasal dari laut. Sebuah kapal feri bercat putih kusam karena telah dimakan waktu berlayar perlahan mendekati Pantai Mineral Town.

"Wah! Kita pulang, ya, Jack?! Kok engga bilang-bilang? Kan kita bisa packing dulu!" seruku pada Jack, yang memberiku tatapan 'sangar' biasa miliknya.

"Siang Jack dan Claire," suara lembut wanita dari belakangku membuatku berbalik dengan cepat.

"Anna? Siang!" sahutku cepat. Anna tersenyum lalu berjalan ke tepi dermaga dengan kedua tangannya yang penuh dengan tas bepergian warna coklat tua. Itu artinya Anna yang akan pergi dengan kapal yang baru saja menepi tersebut. "Mau kemana?" tanyaku pada Anna yang sedang memasukkan barang bawaannya ke kapal.

Sebelum Anna sempat menjawab pertanyaanku, suara tawa kecil Manna dan Sasha terdengar dari arah Rose Square. "Seandainya saja begitu, Duke hanya bisa mabuk tiap malam. Aku sangat kesepian di rumah. Dan setiap kali aku menegurnya tentang itu, ia pasti marah-marah dan mulai membahas hal yang tidak perlu," gumam Manna sambil memegang dagu dengan ibu jari dan telunjuk kanannya,

"Aku jadi teringat saat ia masih muda! Sangat berbeda dengan penampilannya sekarang! Dan juga saat aku, kau, Anna, Lillian, dan istri Doug masih berkumpul bersama! Masa-masa bahagia…" lanjutnya lagi sambil tertawa kecil. Sasha yang berada di sampingnya hanya mengangguk kecil dengan senyum melekat di bibirnya, sambil menatap langit seakan mereka ulang kejadian belasan tahun lalu yang diceritakan Manna.

Di belakang mereka, Basil dan Mary berjalan dengan cepat sambil membawa koper kecil bersama mereka. Mary, yang baru saja sadar atas keberadaanku langsung mengalihkan pandangannya lalu terburu-buru masuk ke dalam kapal, mengikuti ayahnya yang telah masuk terlebih dahulu.

Manna dan Sasha pun berjalan mendekati Anna yang masih berdiri di tepi dermaga. Setelah beberapa menit menggosip, Anna memeluk mereka berdua sebagai tanda perpisahan. Sebelum masuk ke dalam kapal, ia sempat memanggil aku dan Jack, yang sedari tadi merapikan peralatan pancing, lalu melambaikan tangannya. Kami membalas lambaiannya sambil menyerukan selamat tinggal.

Aku yang masih penasaran dengan kepergian keluarga Basil, menanyakan alasannya pada Manna, "Katanya seperti liburan keluarga. Sekalian menghilangkan jenuh. Mereka juga bilang Mary punya masalah atau apa. Mary anak perempuan satu-satunya di keluarga itu. Kalau Aja masih di sini dan ia punya masalah, mungkin aku dan Duke juga akan melakukan hal yang sama. Atau kalau ada seseorang yang berani menyakiti hati Aja…" Manna pun melanjutkan ocehannya panjang lebar dengan raut muka yang berubah-ubah.

"… Yah begitulah. Tapi rasa sepiku hilang saat berkumpul dengan penduduk Mineral Town. Juga melihat anak seumuran Aja, seperti kau dan teman-temanmu, Claire. Setidaknya aku yakin bahwa Aja pasti baik-baik saja di luar sana," ujar Manna dengan senyum lebar setelah berbicara kurang lebih semenit tanpa henti. Aku tersenyum melihat kepercayaan hati yang ada pada diri Manna.

Seakan baru tersadar dengan ucapan Manna tentang Mary sebelumnya, aku pun dengan penuh dramatis, meletakkan tangan kananku di mulut dengan mata terbuka lebar, "Aku… Aku harus pergi dulu! Jack, tolong bawa peralatannya! Dah, Manna, Sasha!". Jack menatapku heran. Begitu juga dengan dua wanita yang berdiri di sampingnya.

Tapi itu tidak terlalu penting sekarang. Aku harus bertemu dengan Ann!


Aku berlari sekuat tenaga menuju Inn, membuat rambut lurus panjangku yang tak diikat berkibar-kibar terhembus angin. Dengan sekuat tenaga pula, membuka pintu Inn yang telihat sangat tua dengan kedua tanganku. "Ann! ANN!" macam orang hilang atau bisa kalian sebut tarzanwati, aku berteriak-teriak mencari Ann yang jelas-jelas berada tidak sampai 2 meter di hadapanku.

Mendengar suara deheman Doug, aku pun tersadar akan keadaan sekitar. Semua penduduk yang berada di Inn menatap dengan tatapan yang beragam; heran, kaget, tajam, sinis, menusuk, dan lain lain.

Aku tertawa kecil menahan malu, melambaikan tangan dan membisikkan kata maaf berulang-ulang pada setiap penduduk–yang merasa waktu santainya terganggu dengan kedatangan si tarzanwati- sambil berjalan pelan mendekati Ann.

Si gadis tomboi namun manis yang sejak tadi melihat kelakuanku itu hanya bisa menahan tawa sebisanya sambil mengaitkan tangannya kelenganku. Dengan tergesa-gesa, ia menarikku ke dalam pintu belakang Inn lalu tertawa terbahak-bahak.

"Kau benar-benar cewek ajaib, Claire!" ucap Ann di sela-sela tawanya. Aku memajukan bibir bawahku lalu menarik kedua pipi Ann dengan gemas. Kali ini aku yang tertawa melihat wajah aneh Ann.

Ann melepaskan tanganku dari wajahnya, lalu mengusap-ngusap pipinya pelan, "Jadi ada apa, Claire?". Teringat tentang tujuan awalku menghampiri Ann, aku meletakkan tanganku di kepala, lalu mengacak-ngacak rambutku dengan cepat. Mendramatiskan keadaan.

"Mary, Ann! Ini semua karena salahku! Seharusnya aku harus lebih berusaha! Aku orang yang jahat Ann… Mungkin sebaiknya aku pergi dari sini, mengungsi ke pulau terpencil yang hanya berisi hewan-hewan yang aku bahkan tak tahu namanya, lalu menjadi pertapa untuk menghabiskan sisa hidupku yang begini!" aku mengenggam tangan Ann kuat-kuat.

Ann sweatdrop mendengar ucapanku yang terlalu dilebih-lebihkan. "Oke, jadi ini masalah kepergian keluarga Basil, iya kan mbak dramaqueen?". Sebelum aku sempat mengiyakan pertanyaan Ann, Ann lansung buka mulut,

"Kamu kira keluarga Basil pergi karena Mary cerita semuanya –entah apa yang menurutmu ia ceritakan, hingga mereka pergi untuk menenangkan anak mereka tersebut,"

"YA! YA!"

"Terus kamu merasa bersalah karena kamulah penyebab kepergiannya –yang padahal belum tentu betul,"

"BISA JADI! BISA JADI!"

"Kamu juga mengira mereka pergi dan takkan kembali sampai kau 'pergi dari sini, mengungsi ke pulau terpencil yang hanya berisi hewan-hewan yang kau bahkan tak tahu namanya, lalu menjadi pertapa untuk menghabiskan sisa hidupmu yang begini',"

"HEY–"

"Padahal yang terjadi sebenarnya ialah, keluarga Basil pergi ke pulau seberang untuk menemui keluarga jauh mereka, sekaligus merayakan ulang tahun Basil yang jatuh besok hari,"

"EH- ?"

Ann terdiam sebentar sambil mengamati ekspresi bagaimana-kau-bisa-tau-semuanya –dan ekspresi super bingungku saat ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir- yang melekat di wajahku, lalu tertawa sampai guling-guling di karpet merah muda beludru kamarnya.

"Aduh, Ann! Aku serius, nih!" seruku sewot. Suara tawa Ann mereda seraya ia membetulkan posisi tubuhnya. "Aku juga serius soal kunjungan keluarga Basil ke pulau seberang. Claire, kau benar-benar actress of the year, dan kau pantas mendapatkan Oscar untuk penampilanmu tadi!" seru Ann sambil menahan tawa.

Aku hanya menatap Ann dengan kesal sambil memajukan bibir. Tapi seenggaknya Mary pergi bukan karena aku… dan aku tidak perlu susah-susah pergi ke pulau terpencil. Lebih baik aku pergi ke salah satu pulau di Hawaii dan berseluncur ria di sana.

"Eh, mbak dramaqueen,"

Suara Ann membuyarkan lamunanku yang sedang berselancar di Pulau Maui bersama lumba-lumba, "Iya, neng?"

"Nanti tanggal 17, hari apa, hayo?" tanya Ann sambil menaik-naikkan kedua alisnya cepat dengan senyum lebar di bibirnya. Aku menaikkan sebelah alis heran melihat ekspresi Ann.

"Erm… HUT Mineral Town?"

Ann menggeleng.

"Hari Buku Nasional?"

Ann menggeleng cepat.

"Hari Balon Gratis Sedunia?"

Ann membelakkan matanya dan menaikkan alisnya dengan bingung.

"Hehe. Terus apa, dong? Aku 'kan baru di sini," ujarku sambil memperhatikan Ann yang sedang membuka laci meja kayunya lalu mengambil sesuatu dari sana.

"Peka dong, Claire! Peka!" seru Ann yang akhirnya menyerah dengan memberikan sebuah amplop berwarna kuning buah lemon yang dihias dengan pita biru laut.

Ku buka amplop itu untuk menemukan sebuah kartu persegi berwarna oranye yang dihiasi glitter berwarna-warni di segala sudutnya.

"Hai, Claire dan Jack!

Kalian diundang untuk hadir ke pesta ulang tahunku pada…

Tanggal : 17 Summer

Jam : 10 A.M s/d selesai

Di : Restoran dan Penginapan terbaik dan satu-satunya di Mineral Town, Inn!

Kehadiran kalian sangat berarti untukku. Jangan lupa datang, ya!

Salam Hangat,

Ann."

Aku melongo lebar disebabkan apa yang baru saja aku lihat dan baca, "Astaga, Ann… Ini gaya undangan zaman kapan?"

Ann hanya tertawa seakan setuju dengan apa yang kukatakan, "Yang ada hanya itu saja! Itu sisa undangan 5 tahun lalu, saat Ibu masih ada!"

Aku terperengah dengan ucapan Ann, dan akhirnya terconnect. Aku perhatikan Ann yang sibuk mengumpulkan sisa-sisa undangan yang belum ia bagi. Merasa sangat bersalah, aku buka mulut, "Maaf, Ann. Aku engga maksud…"

"Alah, Claire. Santai aja kali…" sahutnya dengan senyum lebar 3 senti sambil menepuk-nepuk punggungku agak keras. Nah loh?

" Ngomong-ngomong, bisa tolong bantuin aku bagi sisa undangan ini, enggak?" tanya Ann akhirnya sambil menyodorkan setengah undangan yang ia rapikan tadi.

Aku mengangguk cepat, menyambut undangan-undangan tersebut dari Ann, lalu memasukkannya ke ransel coklat kebanggaanku.

Sebelum sempat berpamitan dengan Ann, aku mendengar perutku menghasilkan bunyi layaknya kokokan ayam-ayam Jack tiap pagi. Erm, memancing benar-benar menguras tenaga untukku –walaupun kau tidak mendapatkan seekor ikanpun.

Aku tersenyum malu sambil memegang bagian belakang kepalaku, "Ann, hari ini ada menu spesial buatanmu enggak?"


"Huf…" aku menghela napas sembari menepuk-nepukkan kedua tanganku yang terlapis sarung hitam penuh debu. Setelah berkeliling membagikan undangan ulang tahun Ann –setelah terlebih dahulu makan siang dengan Kare Apel Spesial buatan Ann yang top markotop dan mandi sore-, aku memutuskan untuk menyiram ladangku sekali lagi dikarenakan cuaca yang terlampau panas siang tadi.

Aku tersenyum kecil melihat tunas-tunas tanaman musim panasku yang mulai tumbuh, lalu mengalihkan pandangan ke ladang 'teritorial' Jack yang terlihat sangat tertata dan rapi.

Kualihkan lagi pandanganku ke arah ladangku, lalu ladang Jack, berulang-ulang.

Tidak sebagus Jack, sih… Tapi setidaknya aku membuat peningkatan yang 'lumayan' dibanding musim lalu. Aku berjongkok lalu mulai membersihkan rerumputan yang tumbuh di sekitar tanaman jagungku.

"Erm… Claire?"

Aku tersentak kaget, "Jack?, Jangan ngagetin, bisa?" ucapku tanpa menoleh pada Jack yang memanggilku tiba-tiba dari belakang.

Mendengar tidak ada sahutan, aku yang masih serius membersihkan ladang, bertanya tanpa membalikkan badan, "Oh, ya. Tadi Ann bikin Kare, loh… Rasanya? Meleleh…

"Dia juga kasih lebihan Kare nya itu ke aku. Tapi kamu engga usah, ye… Kan tadi udah dapat banyak ikan." celotehku kekanak-kanakkan sambil menatap pond penuh ikan milik Jack.

Jack hanya diam tanpa 'cuap-cuap'nya yang biasa kalau sudah kuajak berdebat, "Jack? Kok diem aja, sih? Kesambet apa–" aku membalikkan badan cepat untuk melihat Jack.

Alih-alih mendapatkan penampakan Jack dengan overall dan topi biru kebanggaannya, aku malah mendapati sosok Gray yang berdiri di antara pagar depan, menatapku dengan tatapan layaknya orang yang baru saja melihat hewan spesies terlangka di dunia.

Siapapun. Kubur. Aku. Sekarang.

"M-maaf Gray… aku kira kamu Jack…" ucapku pelan dengan suara agak tercekat, menahan malu.

Reaksi Gray ternyata berbeda dengan bayanganku, ia menurunkan topi sambil tertawa kecil, "Jack ada?"

Aku ikut-ikutan tertawa kecil lalu bergegas berjalan ke arah pintu rumah, membukanya, lalu menyerukan nama Jack berkali-kali. Mendengar tidak ada sahutan, aku memasukkan kepalaku ke dalam rumah dan celingak-celinguk mencari Jack-yang memang tidak ada di rumah.

Dengan pelan aku menutup pintu rumah, "Maaf Gray, Jack nya engga ada di rumah. Kamu ada perlu apa sama Jack? 'Ntar aku bilangin ke dia.". Aku bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi, walaupun sulit; dikarenakan Gray yang terlihat mulai illfeel denganku -itu menurutku sih.

Gray terdiam sebentar lalu membuka mulutnya, "Kalau begitu aku minta tolong kamu aja.

"Jadi, entah karena ada angin apa Kakek menyuruhku untuk membelikannya Sup Jagung. Aku sudah pergi ke kota sebelah dan berkeliling mencarinya, namun hasilnya nihil. Saat aku bilang pada Kakek, ia malah marah dan berkata 'kau kurang berusaha' atau sesuatu seperti itu," ucap Gray datar, namun ekspresinya menunjukkan kekesalan yang jelas.

Aku hanya mengangguk-angguk sambil mendengarkan 'curhatan' Gray, sesuatu yang jarang-atau takkan- kau dengar dari seorang Gray. "Uh… Jadi?" ucapku ragu sambil memperhatikan Gray yang sedang serius memperhatikan tanah, seakan itu adalah hal yang paling menarik di dunia ini.

Gray perlahan mengangkat kepalanya, "Jadi kakek itu menyuruhku pergi ke Stark Farm untuk memesan beberapa jagung dari kalian."

Setelah mendengar perkataan Gray, dengan otomatis mataku menelaah ladang yang baru saja kubersihkan, "Baiklah… Akan kusampaikan pada Jack nanti.".

Gray mengangguk pelan lalu berkata lagi, "Dan Kakek juga menyuruhku untuk membantu kalian sampai jagung itu bisa di panen."

Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil ke arah Gray–yang masih terlihat sangat jengkel. "Mungkin kakekmu ingin kau sedikit rileks dari pekerjaan di toko. Pekerjaan memang melelahkan, tapi juga menyenangkan di waktu yang sama 'kan? Itu sebabnya Kakek menyuruhmu membelikannya Sup Jagung –walaupun itu memang terdengar sedikit janggal…" ucapku sambil menatap Gray–yang menatapku balik dengan tatapan bingung.

Oke. Lagi-lagi aku terlihat seperti sedang menceramahinya.

Ia tersenyum, "Baiklah. Mulai besok siang aku akan datang kesini.", yang hanya kubalas dengan senyuman lebar.

"Claire! Eh, ada Gray juga!" teriakan Popuri yang tiba-tiba muncul dari arah Poultry Farm mengagetkan kami berdua.

"Popuri?" sahutku. Popuri mendekati aku dan Gray yang masih mematung di posisi semula.

"Ayo ikut ke rumahku! Ada acara minum teh dan makan kudapan dalam rangka ulang tahunku!" serunya bersemangat sambil menepuk-nepukkan tangannya bersemangat.

Gray yang merasa tidak memiliki urusan apa-apa dengan kami, beranjak pergi perlahan setelah mengucapkan 'permisi'-nya yang pelan.

"EIT! Kamu mau kemana, Gray?! Ikut kami aja! Teman-teman udah pada nunggu, loh!" tandas Popuri sambil menarik lengan baju Gray dengan seenaknya. (Oh, jadi Jack ada di Poultry Farm...)

Gray yang terlihat risih langsung menarik lengannya dari cengkraman Popuri lalu menarik topinya turun.

"Eh? Maaf Gray!" seru Popuri lagi, sambil menunduk-nunduk tidak jelas. Aku hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan Popuri.

"Nah, tunggu apa lagi? Ayo ke rumahku!" Popuri berjalan cepat lalu melambaikan tangannya sebagai kode agar kami mengikutinya.

Aku dan Gray tukar pandang sambil mengangkat bahu lalu menghembuskan napas kecil. Kami tertawa kecil, kemudian segera mengikuti Popuri yang sudah masuk ke wilayah perternakan ayamnya.

Aku jadi teringat satu hal. Sambil menatap Popuri yang berdiri tidak sabaran di depan pintu rumahnya, aku bertanya,

"Popu, bukannya ulang tahunmu tanggal 3 Summer?"


A/N : That's all. Maaf kalau bahasanya membingungkan. Dan maaf telat update! Sekolah lagi banyak tugas dan pr, dan sebentar lagi saya UAS T_T.

Jadi maaf kalo chapter depan telat juga…

Ok then, I'll see y'all next time!

*jangan lupa review, yak… hehe*