CHAPTER 11 : KESEPAKATAN DAN PERPISAHAN ?

CAST : OH SEHUN, PARK CHANYEOL, KIM JONGIN, IRENE BAE, KIM MYUNGSOO

PAIR : CHANHUN

WARN : TYPO (S), BL, YAOI

DON'T LIK E DON'T READ

.

.

Sehun menahan nafasnya dan membuka matanya. Terperangah kaget ketika tubuh Zi Tao terjatuh dan menyentuh lantai dengan darah mengalir dari pergelangan tangannya. Pistol baretta yang dipegangnya terjatuh.

Terlihat Jiwon mengarahkan senjatanya dari balik dinding, polisi wanita itu yang telah menembak tangan Zi Tao. Untuk sesaat Sehun bisa bernafas lega namun wajahnya memucat seketika saat mendapati ada sesosok tubuh lain yang tersungkur bersimbah darah tak jauh dari tempatnya, dan Sehun sadar sepenuhnya apa yang telah terjadi.

Orang itu sudah melindunginya dari Zi Tao yang akan menembaknya dan setelah itu barulah Jiwon menembak tangan Zi Tao.

.

.

"Chan-Chan-Ye-ol ?"

.

.

Tangan Sehun masih dalam keadaan terikat ke kursi dan Ji Won segera berusaha melepaskan ikatan tangannya, dan begitu ikatannya terlepas, Sehun buru-buru menghampiri sesosok tubuh yang tergeletak tak berdaya di lantai bersimbah darah itu.

"Chanyeol ! Chanyeol ! bangun !"

Sehun mengguncang-guncangkan tubuhChanyeol yang tak beregrak sama sekali, tak peduli darah Chanyeol yang mengalir dari punggungnya itu kini mengotori tangan dan pakaiannya. Sehun sama sekali tidak peduli, ia panik melihat Chanyeol yang tertembak karena berusaha melindunginya.

(FLASHBACK ):

ZI Tao mendekati Sehun dan mengelus pipinya perlahan. Menekan-nekan lebam di sudut bibirnya sehingga membuat Sehun meringis kesakitan.

"Kita mulai permainan ini,cantik dan berdoalah supaya Tuhan menaruhmu di dalam surganya " Zi Tao merendahkan tubuhnya dan berbisik di telinga Sehun dan Sehun menatap Zi Tao penuh kebencian bercampur ketakutan.

Zi Tao berniat menghabisi Sehun.

"Kalau aku tidak memilikimu maka orang lain tidak juga memilikimu, lebih baik kau mati saja, cantik , mungkin beretta cantik ini akan mengirimmu ke surga " Zi Tao mengarahkan senjata itu ke kepala Sehun.

"Satu..."

Zi Tao mulai menghitung, ia tertawa melihat wajah Sehun yang ketakutan dan memejamkan matanya.

"Dua..."

Zi Tao menarik pelatuknya dan Sehun makin erat memejamkan matanya.

Ketika Zi Tao menghitung tiga dan sungguh-sungguh menarik pelatuknya, tiba-tiba Chanyeol datang dan memeluk Sehun sehingga timah panas yang Zi Tao lesakkan dari pistolnya menembus punggungnya , dan Sehun ? ia terlalu ketakutan untuk mengetahui apa yang sudah terjadi.

Dan ketika ia membuka mata ia sudah menemukan Chanyeol yang tergeletak.

(END FLASHBACK)

.

.

Ji Won berteriak di handphone-nya memanggil seluruh anggota anak buahnya.

"Cepat panggilkan ambulans, ada yang sekarat di sini !"

Sementara Sehun masih terlampau shock untuk bisa berkata-kata, dengan tangannya yang serasa lemas seketika itu, pemuda bermarga Oh itu meraih kepala Chanyeol lantas diletakkan di pangkuannya, Chanyeol sudah tak sadarkan diri dan Sehun baru menyadari kalau darah masuh terus-terusan mengalir dari luka tembak yang ada di punggungnya bahkan sudah menembus dadanya. Luka yang terlihat sangat dalam itu sangat mengerikan dan Sehun tidak pernah menyulai darah, ia begidik ngeri jika mesti berurusan dengan cairan berwarna merah itu, namun kini ia tak keberatan bahkan cenderung tidak peduli jika darah dari tubuh Chanyeol membasahi baju dan tangannya.

Minho dan Jungmo memborgol Zi Tao yang masih setengah sadar namun terus memegangi pergelangan tangannya yang ditembak oleh Jiwon, namun matanya menatap tajam ke arah Sehun yang wajahnya pucat sekali.

"Kami juga menemukan ini dalam saku Zi Tao " lapor Jungmo pada Woobin dan ternyata Zi Tao juga membawa tiga setengah gram heroin yang siap diedarkannya.

"Sehun ! Sehun !" itu suara Jongin yang nampak panik sekali dengan keadaan artisnya sekaligus sahabatnya itu dan pemuda berkulit cokelat itu memekik ketika mendapati Chanyeol yang sedang sekarat dan kini pingsan.

"Chanyeol !" pekiknya dan teriakan serupa kini datang dari bibir mungil Irene.

.

.

Tak beberapa lama ambulans datang namun Sehun masih bersimpuh dan memegangi tangan Chanyeol yang mulai dingin. Ia hanya mengikuti dengan gontai para petugas rumah sakit yang dengan cepat membawa tubuh chanyeol menuju ambulans namun sedetik kemudian tubuh Sehun tiba-tiba jatuh ke tanah dan ia pingsan.

Irene dan Jongin ikut ambulans yang membawa Chanyeol sedangkan Myungsoo menemani Sehun yang dibawa dengan ambulans yang lain.

.

.

Sehun perlahan bangun dan mmebuka kedua matanya, kepalanya masih sangat sakit dan luka di sudut bibirnya juga terasa nyeri. Ia melihat ke sekelilingnya yang merupakan ruangan serba putih dan ia mneyadari jika sekarang ia ada di rumah sakit. Melihat hanya ada Myungsoo yang ada di sampingnya.

"Myungsoo ?" tanyanya dengan lemah dan pria yang dipanggil namanya itu menoleh dan berteriak memanggil dokter, kalau Sehun sudah sadar.

Namun rupanya Sehun tidak melupakan kejadian buruk yang barusan saja dia alami, karena begitu ingat dia tidak menunggu dokter datang melainkan langsung beranjak dan mencari belahan jiwanya yang sekararng mungkin saja sedang sekarat, Chanyeol. Entah bagaimana keadaannya, karena pria itu tertembak gara-gara dirinya, gara-gara melindungi dirinya dan Sehun ingin tahu keadaan Chanyeol saat ini.

"Sehun, tunggu ! kau mau ke mana ? kau belum boleh ke mana-mana !" teriak myungsoo namun tidak diindahkan sehun.

"Aku harus melihat Chanyeol, aku harus melihatnya " Sehun berkata lirih tanpa menoleh dan ia berjalan tidak tahu ke maana karena ia tak tahu di mana Chanyeol dirawat. Myungsoo masih mengikutinya, Sehun terus melangkah, mengikuti ke mana hatinya mengarahkannya karena ia percaya ikatan di antara dirinya dan Chanyeol cukup kuat.

Ruangan gawat darurat. Iya, Chanyeol pasti masih ada di sana, dan Sehun menuju ruangan gawat darurat rumah sakit dengan sisa tenaganya.

.

.

Jongin dan Irene masih berkutat dengan rasa khawatir di diri mereka. Chanyeol masih di ruang operasi untuk mengeluarkan dua buah peluru yang bersarang di dada dan punggungnya dan Irene mengatupkan tangannya. Berdoa sepenuh hati agar Chanyeol bisa selamat.

"Mana Chanyeol ! Mana dia !" suara teriakan lantang Sehun membuyarkan doa Irene, gadis itu membuka mata dan mendapati Sehun tengah berjalan lemah ke arah mereka.

"Irene-ya ! mana dia ! mana Chanyeolku !" serunya dan Irene tidak bisa berkata apapun selain memeluk Sehun.

"Dia di dalam, oppa. Dokter sedang berusaha mengeluarkan pelurunya, kita berdoa saja, karena tak ada lagi selain doa yang bisa kita lakukan " lirihnya. Dan Sehun dengan patuh duduk dan mulai memanjatkan doanya. Ia berdoa supaya Tuhan masih sayang padanya dan juga Chanyeol meski ia tahu kalau Tuhan mungkin saja membenci hubungan mereka ini karena melawan takdir, namun setidaknya Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bersama Chanyeol dan kini ia berdoa agar Tuhan masih cukup sayang padanya untuk mmeberinya ksempatan lagi untuk masih bisa bersama Chanyeol yang dicintainya lebih lama lagi.

Hening melanda, tidak ada percakapan antara keempat orang itu, karena masing-masig sibuk dengan doanya masing-masing yang kesemuanya ditujukan untuk keselamatan Chanyeol.

.

.

"Hallo ?" perempuan setengah baya bernama Park Soo Ah, yang merupakan ibunda Chanyeol itu mengangkat telepon genggamnya .

"Apakah saya sedang berbicara dengan Nyonya Park Soo Ah ?"

"Iya benar, saya sendiri, ada apa ya ?"

Dan sejurus kemudian, wanita itu membiarkan teleponnya merosot ke lamtai sementara wajahnya terlalu shock untuk dijelaskan.

"Ibu ada apa ?" tanya Yoora yang kaget melihat ibunya tampak pucat seperti baru mendengar sebuah kabar, yang sangat buruk.

"Yoora, kita ke rumah sakit Seoul sekarang !"

.

.

"Dasar kau, apa yang sudah kau lakukan pada putraku !" Ibu Chanyeol memukul bahu Sehun dengan cukup keras sedangkan Sehun sudah seperti mayat hidup yang bahkan tidak melakukan reaksi apa-apa.

"Kau ! kau membawa nasib buruk pada putraku ! puas sekarang, sekarang putraku sedang sekarat di dalam sana dan itu semua karenamu, dasar kau bocah sialan !" umpatan demi umpatan keras mulai memasuki telinga Sehun namun ia tidak mengatakan apapun. Air mata yang menggantikan reaksinya dan Yoora terlihat menarik lengan ibunya agar tidak terllau membuat kegaduhan di rumah sakit.

"Dan akhirnya Irene yang tidak tahan dan melancarkan reaksinya.

"Nyonya ! kumohon padamu, berhenti membuat keributan di sini ! ini bukan salah Sehun oppa, ini karena Chnayeol oppa mencintai Sehun !"

"Cinta ? tahu apa kau soal cinta ! dasar gadis kecil, yang kutahu sekarang adalah chanyeol yang sedang sekarat dan kalau sampai terjadi apap-apa dengannya, aku bersumpah akan membuatmu menyesal dan menderita seumur hidupmu, Oh Sehun !" wanita itu menyumpahi Sehun dan setelahnya ia duduk tidak jauh dari mereka.

.

.

"Maaf, apakah ada di antara kalian yang adalah keluarga tuan Park Chanyeol ?" dokter akhirnya keluar dan bertanya.

"Pasien kehilangan banyak darah dan membutuhkna donor, darah pasien bergolongan B dan kami membutuhkan donor, apakah ada di antara kalian ?"

"Saya ibunya dokter. Saya ibunya, ambil darah saya saja, asalkan anak saya bisa selamat, ambil sebanayk yang dibutuhkan, dokter !" Ibu Chanyeol menangis dan memohon agar dokter mengambil darah dan didonorkan kepada Chanyeol.

"Saya kakaknya, jika ibu saya tidak bisa, ambil darah saya saja " Yoora ikut menyahut dan dokter itu hanya mengangguk.

"Baiklah, namun kami harus memeriksa darah kalian terlebih dulu karena meski kalian keluarga pasien, namun bisa saja darah kalian tidka cocok, ikut saya, silahkan "

Dan Yooran serta ibunya mengikuti dokter berumur empat puluh tahunan itu menuju laboratorium pemeriksaan.

Kira-kira dua puluh menit kemudian, dokter itu kembali dan kembali bertanya.

"Maaf, namun ternyata darah Nyonya Park dan juga Nona Park tidak cocok dengan pasien. Apa ada di antara kalian yang juga bergolongan darah B ?"

Dan tanpa ragu Sehun mengangkat tangannnya.

"Saya dokter. Saya bergolongan darah B. Ambil darah saya saja, asalakan Chanyeol bisa selamat, saya akan melakukan apapun "

.

.

Mungkin Sehun dan Chanyeol memang ditakdirkan untuk bersama, darahnya dan darah Chanyeol pun dinyatakan cocok dan Sehun pun mendonorkan darahnya untuk Chanyeol. Sehun menyangka Chanyeol akan segera sadar namun dugaannya ternyata salah besar. Mungkin Tuhan masih ingin menghukumnya karena sudah dua hari dan Chanyeol masih belum siuman. Meskipun sudah dipindahkan ke kamar perawatan namun pria itu masih belum membuka matanya.

Dokter menyatakan jika masa kritisnya telah lewat namun Chnayeol masih harus mendapatkan perawatan yang intensif.

"Sebaiknya kau pulang saja, kami tidak butuh kehadiranmu di sini " desis ibu Chnayeol dengan nada yang sangat dingin, ia berusaha keras untuk tidak memukul dan menampar Sehun di rumah sakit. Karena Yoora menahannya.

"Dan sebaiknya aku tidak melihat wajah sialmu itu lagi di sini, sebelum aku benar-benar menampar wajahmu itu " ketusnya lagi dan Sehun tidak bisa berbuat apapun selain melangkahkan kaki keluar dari kamar Chanyeol dirawat.

Sehun melirik Chanyeol sekali lagi. Wajah Chanyeol pucat dengan tabung oksigen untuk membantu pernafasannya yang masih terhubung. Hati Sehun terasa sakit sekali melihat keadaan Chanyeol saat ini apalagi di kala dirinya tidak bisa menunggui hingga kekasihnya itu tersadar.

Setelah Sehun meninggalkan kamar, ibu Chnayeol masih sempat berbisik pada Yoora,

"Nanti mungkin ibu akan pulang sebentar, kau tunggulah di sini, dan jangan sampai anak sialan itu masuk dan menemui Yeol "

"Tapi, ibu. Kupikir dia juga cemas akan kondisi Yeol, jadi kupikir tak apa kalau Sehun menemuinya sebentar " tawar Yoora namun hati keras ibunya sungguh seperti batu .

"Tidak boleh, Yoora. Jangan sampai ijinkan dia masuk, kau dengar ibu kan ?" dan Yoora hanya bisa mengangguk patuh , tidak ingi dicap durhaka karena melawan sang ibu.

.

.

"Ibunya sungguh keterlaluan, oppa " Irene menyandarkan kepalanya di bahu Myungsoo.

"Di saat kondisi Chanyeol oppa seperti ini, masih saja ia tidak mengijinkan Sehun oppa menengol barang sebentar. Sehun oppa pasti sangat khawatir, aku menjadi tidak yakin akan kelangsungan hubungan mereka. Mereka saling mencintai namun dinding yang menghalangi mereka begitu tebal dan tinggi "

"Itu karena hubungan yang mereka jalani masih dikatakan tidka bisa diterima ibunya karena tak wajar, dan ibunya itu orang dulu yang masih kolot, Joohyun, masih begitu konservatif. Hubungan sesama jenis itu tidak akan bisa mencapai nalarnya, dan ia masih ingin menantu perempuan dan bukannya pria " jelas Myungsoo

"Namun, kurasa untuk saat ini yang Chan oppa butuhkan untuk bisa sadar kembali adalah dukungan dan perhatian dari Sehun oppa, ia memerlukannya "

Irene membenamkan wajah cantiknya di dekapan Myungsoo-nya. Diam-diam air mata menitik dari mata cantiknya.

.

.

"Sebenarnya ada apa dengan putraku, dokter ? kenapa dia tidak kunjung siuman ? jelaskan padaku, dokter " Ibu Chanyeol yang sangat cemas gara-gara Chanyeol sudah tiga hari dalma komanya dan belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.

"Begini, nyonya. Peluru yang menembus punggung dan juga dada Chanyeol telah menembus terlampau dalam. Dua buah peluru itu hampir saja merenggut nyawanya kalau saja meleset sedikit saja dan mengenai jantungnya, maka dipastikan putra anda pasti akan meninggal. Bersyukurlah pada Tuhan yang masih melindunginya. Mungkin koma ini adalah efek semnetara saja, dia akan sadar asalkan ..."

"Asalkan apa, dokter ?" potong ibu Chanyeol tak sabar.

"Asalkan pasien bisa mendapat dukungan dan perhatian dari orang-orang yang dicintai dan emncintainya, maka dapat dipastikan dia akan lebih cepat sadar dan pulih, karena dukungan dan cinta dari orang-orang terdekat adalah segalanya bahkan melebihi obat "

Ibunya mengangguk-angguk, sebenarnya ia ingin menyuruh Sehun agar menunggui Chanyeol dengan harapan Chanyeol dapat segera sadar, namun otaknya kembali berpikir untuk menjauhkan mereka berdua karena bagaimanapun ia tidak akan pernah merestui hubungan sejenis yang menurutnya amat menjijikkan tersebut.

.

.

Sehun melangkahkan kakinya menuju kamar no 12, tempat Chanyeol dirawat. Ia sengaja datang di malam hari karena ia tahu kalau yang menunggui Chanyeol malam ini hanyalah Yoora, dan ibunya akan kembali keeseokan paginya. Dan ia akan memohon pada kakak perempuan Chanyeol itu untuk sejenak ...hanya sejenak saja menginjinkannya untuk melihat Chanyeol dan mungkin membisikkan sedikit kata-kata penyemangat. Ia tahu mungkin Chanyeol tak bisa mendengarnya tapi setidaknya itu akan menjadi smenagat agar Chanyeol tidak menyerah.

"Sudah kuduga kau akan datang, Sehun " sapa Yoora tak megalihkan perhatian dari majalah yang dibacanya. Wanita itu duduk di sebuah sofa tak jauh dari ranjang Chanyeol.

"Noona, aku hanya ingin melihatnya sebentar saja " mohon Sehun.

"Aku tidak akan sekeras ibu, aku akan mengijinkanmu untuk menengoknya "

Sehun sudah tersenyum lega.

"Namun jangan senang dulu, karena ibu sudah punya sebuah rencana. Aku akan memberitahukan ini padamu dan aku harap kau bisa mempertimbangkannya kalau kau memang sungguh-sungguh cinta pada adikku "

"Apa itu, apapun itu aku akan melakukannya " Sehun bersungguh-sungguh, yang dia inginkan saat ini hanyalah Chanyeol bangun dan smebuh seperti sedia kala.

"Ibu ingin kalian berpisah "

Dunia sehun seolah runtuh saat itu juga, rupanya ibunda Chanyeol itu tidak main-main, dia sungguh membencinya dan akan menentang sampai akhir.

"Ibu akan mengijinkanmu setiap hari dan selama apapun kau mendampingi Chanyeol di sini, namun begitu ia sadar, ia ingin kau meninggalkannya, ibu juga menginginkan agar kau meninggalkan dunia entertainment di Korea, dan kau bisa memilih kariermu di mana saja, mungkin di Hollywood, namun tidak di korea, agar kau tidak bertemu dengan adikku lagi. Aku tahu mungkin ini terdengar sangat kerjam untuk kalian, untukmu dan juga untuk Chanyeol, namun ibu hanya ingin putra tersayangnya menjalani sebuah hubunga yang normal, dengan seorang perempuan dan ibu berpikir kalau saja ia tidak lagi bertemu denganmu untuk jangka waktu yang lama, maka Chanyeol perlahan bisa normal kembali dan mungkin menikahi seorang perempuan. Aku harap kau bisa maklum soal ini, Sehun "

Kalau saja tidak di depan kakak Chanyeol saat ini, mungkin sehun sudahmenangis sejadi-jadinya. Sebenci itukah ibu Chanyeol padanya, sehingga dirinya bagai bakteri yang harus dibasmi dan dimusnahkan. Namun cinta Sehun pada Chanyeol akhirnya lah yang membuatnya menyetujui itu semua.

"Baik " ujarnya lirih.

"Kalau itu memang yang ibu Chanyeol inginkan, aku setuju. Aku akan menunggu hingga Yeol sadar dan aku akan meninggalkannya, tidak akan lagi muncul di hadapannya dan hadapan kalian, dan aku akan mengundurkan diri dari dunia entertainment di korea agar Yeol tak lagi bisa menemuiku, aku juga akan meninggalkan Korea. Kalau itu memang bisa membuat Chanyeol pulih dan ibunya senang aku akan melakukannya " Sehun mengucapkannya dengan hati yang teramat berat dan air mata yang siap mengalir kapan saja. Bibirnya serasa kelu dan lututnya lemas.

"Baiklah, aku akan menyampaikannya pada ibu dan kalau ibu setuju, maka besok pagi kau bisa ada di sini sampai kapan saja , sampai adikku sadar " Yoora menepuk bahu Sehun pelan.

.

.

Tangis Sehun pecah. Ia tak bisa lagi menahan rasa pedih yang merayapi hatinya. Ia akan meninggalkan Yeol, untuk selamanya tidak akan muncul di depannya. Kenapa jalannya dan juga Chanyeol harus terjal seperti ini.

.

.

"Kau bergurau " Jongin tertawa kecut tak percaya apa yang akan Sehunl akukan.

"Aku serius "

"Kau...itu bodoh, Sehun. Kau akan meninggalkan dunia hiburan ini dan juga Chanyeol, apa kau sudah sinting ? ibunya itu hanya menggertakmu saja, kenapa kau setuju ?"

"Tolong, Jongin. Tolong bantu aku untuk berpromosi di Hollywood mulai saat ini, mungkin setelah ini aku akan pindah ke Eropa saja,agar kami tidak mungkin lagi bertemu "

"Sehun, kau mencintainya dan dia juga mencintaimu, kalian tidak akan bisa hidup tanpa yang lain. Ibunya itu tidak suka padamu, tapi tidak kusangka dengan begitu kejamnya dia bisa mneyuruh kaian putus dan berpisah, dia sungguh keterlaluan " geram Jongin, tak tega juga melihat mata sembab Sehun dan pria itu tahu kalau artisnya ini habis menangis semalaman.

"Aku pasrah, Jongin. Aku pasrah dnegan takdir ini, mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Mungkin Yeol memang bukan jodohku "

"Dan mungkin kau terlampau tolol untuk menuruti ibunya " jawab Jongin dengan nada sarkastis. Ia benci melihat sehun yang lemah begini. Ia tidak mau sehun diperlakukan semena-mena oleh ibu Chanyeol.

"Ya ya baiklah, aku akan menurus semuanya. Aku akan mempersiapkan perkembangan kariermu di sana, dan juga konferensi persmu. Kebetulan, aku juga mempunyai banyak teman dan koneksi di Amerika, kau bisa pindah dan memulai kariermu di sana, kudengar ada beberapa produser Hollywood yang sudah tertarik dengan aktingmu "

"Benarkah ?" tanya Sehun seraya menatap Jongin tak percaya, benarkan dirinya sudah dikenal sampai ke Hollywood. Itu bagus.

"Ya, aku tidak bohong dan mengada-ada karena kenyataannya memnag seperti itu "

"Baguslah " lirih Sehun .

.

.

Seminggu berlalu dan Chanyeol masih belum sadar. Tiap hari, dengan penuh telaten, Sehun mengunjungi dan menunggui Chanyeol, juga kadang bernyanyi untuknya, berharap dia akan segera siuman.

Dan hari ini, tepat dua puluh dua hari Chanyeol koma.

Sehun tertidur di sofanya.

Chanyeol perlahan membuka matanya dan kebetulan Yoora juga ada di sana, tepat duduk di samping adiknya. Bola mata Chanyeol yang terpejam tampak bergerak-gerak dan begitupun dengan jemarinya. Melihatnya Yoora segera berteriak memanggil perawat dan dokter. Membuat sehun juga ikut terbangun.

Dalam hati ia senang jika Chanyeol benar sudah sadar, namun ia segera teringat akna perjanjiannya dengan ibu Chanyeol. Ia sadar jika Yoora pasti akan menyuruhnya pergi, tanpa disuruh pemuda mnais itu segera melangkahkan kaki keluar kamar dan Yoora melihatnya namun tak bisa berbuat apa-apa dan berpikir Sehun menepati janjinya untuk meninggalkan adiknya.

.

.

"Chanyeol, kau sudah sadar, nak ?" Ibu Chanyeol memeluk putra tercintanya itu.

Namun mata bulat Chanyeol segera berkeliaran mencari sesuatu atau seseorang tepatnya.

"Sehun...mana dia ? sehun mana bu ? aku mau bertemu dengannya. Apakah ia baik-baik saja, aku tidak melihatnya, apa ia akna datang nanti ?" dan ibunya tidak menjawab apa-apa. Bingung harus berkata apa.

"Sehun ...dia, pergi, Yeol " jawab Yoora dan membuat pandangan Chanyeol fokus ke kakaknya.

"Pergi ? pergi bagaimana ? noona, maksudmu apa ? "

"Yeol, kau kan baru saja sadar setelah masa komamu, jangan dulu berpikiran yang macam-macam, istrirahatlah dulu " sela ibunya dna Chanyeol menjawabnya dengan gelengan kuat.

"Tidak mau, bu. Aku mau bertemu dnegan Sehun "

Chanyeol bermaksud turun dari ranjang namun setelah koma dua minggu lebih menyebabkan kedua kakinya tidak terlalu kuat untuk dipakai berjalna dan pemuda jangkung itu harus terjatuh.

"Yeol !" ibunya dan Yoora sontak bermaksud menolong Chanyeol dengan memapahnya namun ditepis olah Chanyeol.

"Aku mau ketemu dia !"

Dengan agak susah payah, Chanyeol berjalan keluar dari kamarnya dna Jongin yang ada di luar kamarnya langsung membantunya, memapahnya.

"Jongin ? Sehun mana ? mana dia ? apa dia bersamamu ? atau dia sedang syuting ?"

"Chanyeol tenanglah dulu "

"Tidak, tidak, aku tak bisa tenang. Aku rindu padanya, aku mau bertemu dia !" serunya.

"Sehun sudah pergi untuk pindah ke Amerika " akhirnya suara Jongin menghentikan langkah Chanyeol dan pemuda itu berbalik untuk meminta penjelasan dari Jongin.

"Apa maksudmu ? dia pindah ? sejak kapan ? seharunya dia menungguku sadar, dan dia memberitahuku ? kenapa tiba-tiba dia pindah ? kau harus jelaskan smeuanya Kim Jongin !" nada suara Chanyeol meninggi dan ia tidak bisa percaya kalau sehun meninggalkannya.

.

.

Jongin menyerahkan sebuah rekaman video di handphonenya, rekaman konferensi pers Sehun.

"Hallo, rekan-rekan pers juga fans-fansku yang aku cintai dan selalu mendukungku selam a ini. Ini aku Oh Sehun, sebelumnya aku berterima kasih atas kedatangan kalian di tempat ini. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu secara singkat saja.

Akun akan pindah ke Amerika dan akna memulai karirku di sana, aku akan mengembangkan karier sebagai artis Hollywood, bukankah itu luar biasa dan tentunya aku tidak akna melupakan semua fansku di Korea dna Asia, karena dukungan kalian tetaplah yang paling utama, aku mencintai kalian semua, namun aku harap kalian tetap bisa mendukungku, juga untuk seseorang di sana yang akan selalu berada di dalam hatiku yang paling dalam, aku hanya ingin bilang kalau aku sayang padamu namun aku tak bisa lagi bersamamu. Pergilah mencari seseorang yang lebih sayang padamu daripada aku, karena kita resmi berpisah. Terima kasih atas sayangmu selama ini "

Tubuh Chanyeol merosot ke lantai, ia menangis. Air matanya tak bisa lagi terbendung dan ia tak percaya jika sehun memutuskannya dengan cara seperti ini.

Ia sudah mengorbankan apapun demi Sehun, dan bahkan siap melawan ibunya demi sehun namun kenapa, kenapa sehun malah menyerah begitu saja dan meninggalkannya, kenapa Sehun malah memilih untuk meninggalkannya , semua ini dia tinggalkan bahkan tidak menemuinya untuk menucapkan kata perpisahan ?

"Apa ini ? kenapa Sehun meninggalkan aku seperti ini ? kenapa begini ?" Chanyeol menutup wajahnya yang basah karena air mata dengan kedua tangannya. Dan Yoora yang tidak tega meraih adik laki-lakinya itu dalam dekapannya. Dan Chanyeol mennangis sejadi-jadinya di sana.

.

.

Sebetulnya yang terjadi adalah konferensi pers itu sudah direkam Sehun lebih dulu dan saat ini ia bahkan belum berangkat ke Amerika. Ia sedang emnegmas barang-barangnya di apartemen.

"Oppa, hentikan ini semua, kubilang kau tak boleh pergi dan meninggalkan semuanya !" jerit Irene.

"Aku hanya menepati janjiku "

"Hanya menepati janjimu, Cih...kau ini dungu oppa, dungu ! Ibunya itu sungguh kejam, sialan !"

"Irene sudahlah, kupikir Chanyeol harus menjalani hubungan yang normal, ibunya benar juga. Kalau bersamaku, ia tak akan bisa memiliki keturunan, dan aku menghormati ibunya "

"Sehun oppa ! ibunya itu jahat dan tidak punya perasaan !"

"Irene, minggirlah. Kummohon, pesawatku akna berangkat tiga jam lagi jadi kau semestinya membantuku bersiap "

Irene kesal setengah mati namun tak ada pilihan lain dan ia mulai berjongkok dan membantu Sehun berkemas.

"Kau pasti akan menyesali keputusan bodohmu ini, oppa. Dan ketika kau sudah menyadarinya maka semuanya akna terlambat " desisnya dengan kesal.

"Mau kan mengantarku ?" tawar Sehun dan Irene hanya mengangguk lemah.

.

.

"Kau masih punya waktu untuk merubah keputusan dan pikiranmu, oppa " kata Irene ketika mereka sudah ada di airport.

"Tidak, Irene. Keputusanku ini sudah bulat dan aku tidak akan menyesalinya atau merubahnya "

"Terserahmu saja, oppa. Aku hanya bisa berharap yang terbaik untuk kalian. Jangan lupa hubungi aku ya, kita harus selalu saling berhubungan walaupun jaraknya jauh sekali "

Sehun memeluk Irene dengan erat.

"Terima kasih karena selama ini kau sudah seperti malaikat untuk kami, Irene. Kua dan Myungsoo juga harus sampai menikah ya, dan jangan lupa undang aku kalau kau menikah. Arra ?"

Irene menangis, ia masih belum rela berpisah dengan Sehun yang sudah dianggap seperti kakak laki-lakinya sendiri. Ia tak rela melepaskan sehun, terbukti memeluknya dengan erat dna mencengkeram ujung jaket kulit Sehun dengan sangat erat.

"Pesawatku akan berangkat, Irene. Lepaskan pelukanmu "

"Tidak mau "

"Irene-ah, kumohon. Aku harus berangkat " pinta Sehun dan perlahan Irene melepaskan pelukannya.

.

.

Sehun meninggalkan Chanyeol demi cintanya pada pria itu. Menepati janji dan kesepakatan yang dia buat dengan Ibu Chanyeol. Sehun tidak menyesal, semua kenangan indahanya bersama Park Chanyeol akan sellau diingat dan disimpannya dalma hati dan pikirannya. Ia tak mau egois, karena berpikir kalau omongan ibunya ada benarnya juga. Chanyeol pernah normal dan bukan gay semnajak wala sepertinya maka bagaimanapun juga Chanyeol harus normal kembali. Dan ia akan emngalah , tak apa jika ia yang sakit dan menderita karena itulah cara membalas pengorbanan Chanyeol untuknya. Ia percaya kalau Chanyeol pasti akna menemukan seseorang yang lebih layak untuknya, seorang perempuan yang akan mencintainya lebih dari dirinya dulu dan akan menerimanya apa adanya.

Sehun tetap harus meneruskan kehidupannya. Meskipun tanpa Chanyeol di sampingnya, dan di tempat lain yang masih asing itu ia akan memulai lembaran baru dalam hidupnya.

TBC

Apa-apaan ini ? Chapter yang nyesek, sampai yang nulis juga nyesek. Jangan lupa tinggalkan jejak langkah kalian, guys ^^

.