30 days with Them

Cast : Baekhyun, all exo member and other cast

Pairing : Chanbaek/Baekyeol(Always!) slight KaiBaek, KaiSoo slight SuDo, Sulay, Hunhan slight KrisHan, KrisTao, ChenMin and other pair

Rated : T for Teen

Genre : Romance, Friendship, a little bit of hurt/comfort

Summary : Baekhyun, seorang gadis bertubuh mungil yang menjadi anak baru di SunShine High School. Dengan jubah hitamnya, ia mengaku kalau ia berasal dari dunia fantasi dan bisa melakukan sihir. Sihir seperti apa yang bisa dilakukannya? Dan apa anak-anak lainnya akan percaya?

All Cast Belong to God and Their Family but This Story Belong to Me.

Warning : Uke as Girl, GENDERSWITCH, OOC and SO MANY TYPOSSSSS. If you don't like, so don't Read

Jangan terlalu yakin dengan Summarynya karena bisa saja isi ceritanya melenceng dari itu. Hehehehe J

.

Chapter 10 : Semangat dan Harapan

.

.

Langit yang cerah tampak menghiasi hari senin yang damai ini. Mungkin bagi kebanyakan orang, hari senin sangatlah menyebalkan. Tentu saja, siapa yang tidak kesal jika mereka di paksa untuk beranjak dari ranjang masing-masing untuk melakukan kegiatan rutin yang selalu di mulai pada hari senin. Padahal baru saja kemarin mereka menghabiskan waktu sepenuhnya di rumah hanya untuk bermalas-malasan.

Namun melihat langit bersih yang secerah ini, siapa yang sanggup menolak? Semua pun tanpa sadar pastilah menikmati suasana nyaman di senin pagi ini.

Berlokasi di salah satu sekolah menengah atas swasta yang terletak di pusat kota Seoul, terlihat sudah banyak remaja putra-putri yang berlalu lalang. Ada yang bercanda tawa dengan kawan-kawannya sambil berjalan menuju gedung sekolah. Ada pula yang sudah duduk manis di dalam kelas sambil membuka-buka buku pelajaran—ini di khususkan bagi anak-anak pintar yang terlalu rajin.

Sedangkan Byun Baekhyun...

Gadis mungil berwajah manis ini hanya berdiam diri di depan pintu kelasnya. Tangannya menggenggam erat tali tas ranselnya sambil menunduk menatap sepatu converse hitam yang di kenakannya.

Baekhyun ingin sekali masuk ke dalam kelas. tapi dia terlalu takut.

Baekhyun merasa belum siap untuk bertemu lagi dengan Chanyeol setelah kejadian sabtu tempo hari.

Baekhyun sadar kalau dirinya sangat keterlaluan waktu itu.

"Mian Yeollie... Hiks! Aku tidak bisa."

Bahkan kata-kata yang saat itu keluar dari bibirnya sendiri terasa mengiris hatinya sendiri. Sungguh, dia ingin sekali berkata 'Ya'. Baekhyun juga ingin mengatakan pada Chanyeol kalau dirinya memiliki perasaan yang sama. Namun disisi lain, Baekhyun merasa ia tidak bisa.

Kalau di hitung dari hari ini, mungkin keberadaannya di korea tidak sampai 3 minggu lagi. Baekhyun tidak ingin meninggalkan Chanyeol bersama luka yang telah ia buat. Belum lagi kalau mengingat waktunya untuk hidup di dunia ini. Mungkin bukannya kenangan bahagia, Baekhyun hanya akan menjadi kenangan menyakitkan untuk Chanyeol dan Baekhyun tidak ingin itu.

"Kau ingin masuk atau tidak? jangan berdiri di depan pintu seperti itu."

Tubuh Baekhyun menegang. Suara itu...

"Aku... harus ke toilet." Tanpa sadar Baekhyun sedikit meninggikan nada suaranya, lalu gadis itupun langsung melesat pergi.

Chanyeol yang melihat tingkah aneh Baekhyun pun hanya bisa memasang wajah datarnya. Ia tahu ini akan terjadi. Baekhyun pasti akan menjauhinya.

.

.

"Hosh Hosh Hosh" Baekhyun sedikit membungkukkan tubuhnya sambil menumpukan kedua tangannya pada lutut. Ia memegang dadanya yang berdebar keras karena habis berlari.

Sungguh, sekarang Baekhyun justru merasa menyesal akibat kelakuannya. Ini semua hanya refleks. Baekhyun tidak ingin bersikap seolah dirinya menjauhi Chanyeol. Baekhyun menyayangi Chanyeol tetapi sekarang ia bingung. Dia harus bersikap seperti apa jika sedang bertatap muka dengan namja itu. Astaga... bagaimana ini?

Setelah merasa deru nafasnya sudah kembali normal, Baekhyun pun menegakkan tubuhnya kembali. Ia berniat untuk berputar arah, kembali ke kelasnya. Namun belum sempat Baekhyun melangkah, matanya sudah menangkap siluet seorang namja.

Namja itu—Kai sedang duduk di bangku taman. Bisa Baekhyun liat kalau Kai tengah fokus membersihkan lensa kameranya.

Iseng-iseng Baekhyun pun beralih untuk mendekati Kai. Ia sengaja mengambil jalan memutar agar bisa mengagetkan Kai dari belakang. Dengan langkahnya yang mengendap-endap, gadis mungil itu sudah mengangkat tangannya—bersiap untuk menepuk bahu Kai.

"Aku tahu itu kau." Ucap Kai pendek namun terkesan dingin. Dengan lesu, Baekhyun menurunkan kedua tangannya. Ia memasang wajah cemberutnya lalu mendudukkan dirinya di samping Kai dengan sedikit kasar.

Kai yang merasa bahu Baekhyun yang terlalu menempel padanya pun langsung bergeser.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun berbasa-basi.

"Kau bisa melihatnya sendirikan." Balas Kai acuh dan tetap fokus pada benda kesayangannya.

"Huh... kau ini. aku kan sedang berbasa-basi sedikit." Protes Baekhyun pura-pura sebal.

"Aku tidak suka basa-basi."

"Dasar namja batu."

Baekhyun melipat lengannya di depan dada sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi taman. Berusaha melakukan aksi merajuknya pada Kai. Namun pada kenyataannya, Kai tidak peduli.

"Apa kau sedang lari dari Chanyeol Hyung?" tanya Kai tiba-tiba setelah mereka melalui keheningan dalam beberapa menit tadi.

"Nde?" Baekhyun terkejut bukan main dan langsung saja menegakkan tubuhnya.

"Kau menolaknya kan. Aku tahu karena Chanyeol hyung bercerita padaku."

"Jinjja?" kali ini, Baekhyun benar-benar kehabisan kata-katanya.

Tiba-tiba Kai pun beranjak berdiri. Namja itu menoleh ke arah Baekhyun dan menatap gadis itu intens. Hal ini jelas saja membuat Baekhyun sedikit salah tingkah.

"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli pada urusan kalian. Jadi aku tidak meminta jawabanmu. Aku pergi dulu."

Lalu Kai berbalik dan mulai melangkah.

"Kai..."

Mendengar namanya di panggil, Kai pun kembali menoleh.

"Wae?" tanyanya.

"Sebenarnya aku sangat ingin menerimanya. Kau tahu kan alasanku. Aku tidak ingin pada akhirnya hanya memberikan Yeollie kenangan buruk. Karena pada akhirnya aku akan pergi." kata Baekhyun dengan suara lirih namun Kai masih bisa mendengar itu.

Kai terdiam. Entah kenapa dadanya terasa berdebar dua kali lebih cepat ketika melihat wajah sendu Baekhyun. Rasanya sangat menyakitkan. Sebenarnya apa yang di rasakannya saat ini?

"Aku percaya sekalipun kau akan pergi nanti, itu tidak akan selamanya. Aku tahu kau akan kembali. Makanya, yakinkanlah pada dirimu sendiri." ujar Kai serius.

"Tapi—"

"Kau hanya perlu percaya pada kekuatanmu Baekhyun-ah. Aku tahu kau bisa, maka dari itu berjuanglah. Lawanlah segala hal sulit itu. Aku yakin, kau pasti bisa."

Hati Baekhyun terasa hangat ketika ia mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Kai. dan lagi, bukankah ini pertama kalinya Kai menyebut namanya.

"Percayalah pada dirimu sendiri." setelah mengatakan itu, Kai pun berbalik dan melangkah menjauh.

"Kalau di lihat dari belakang, Kai terlihat seperti Yesung Uisa-nim." Lirih Baekhyun namun tanpa sadar ia pun tersenyum.

Kata-kata Kai bagaikan kekuatan baru baginya untuk tetap bertahan. Entah kenapa, Baekhyun jadi bisa merasakan semangat dalam dirinya. Yah, Baekhyun ingin bertahan. Baekhyun ingin hidup. Baekhyun tidak ingin meninggalkan orang-orang yang sudah percaya padanya. Sekarang giliran Baekhyun yang harus percaya pada dirinya sendiri.

"Gomawo Kai."

.

.

Namun Baekhyun tetaplah Baekhyun. Ia masih terlalu pengecut untuk menghadapi perasaannya. Baekhyun ingin memperbaiki hubungannya dan Chanyeol yang sedikit retak. Namun untuk mendekati meja Chanyeol saja, Baekhyun sudah tidak berani.

"Kau kenapa Baekkie?" Kyungsoo menatap Baekhyun heran. Sejak tadi gadis itu terlihat sangat resah. Kyungsoo bisa lihat dari gerak-geriknya yang aneh. Bahkan terkadang Baekhyun terlihat sedang meringis seorang diri tanpa alasan yang jelas.

"Aku tidak apa-apa Kyung-ie." Elak Baekhyun sambil mengibaskan kedua tangannya. Kyungsoo pun sedikit menyipitkan matanya dan mendekatkan wajahnya pada Baekhyun.

"Wajahmu tertera dengan jelas kata 'Berbohong'. Kau tidak bisa menipuku Baekkie-ah."

Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal. Sebenarnya berapa lama sih dia dan Kyungsoo berteman. Sepertinya baru sekitar dua minggu lebih, tapi kenapa Kyungsoo sangat mengenalnya.

"Itu karena ekspresimu sangat mudah di tebak Baekkie."

Twitch! Bibir Baekhyun pun 2 senti lebih maju mendengar perkataan Kyungsoo.

"Kau paranormal ya?" tuduh Baekhyun sebal.

Sedangkan Kyungsoo hanya tersenyum kecil menanggapi kecerewetan Baekhyun.

.

.

"Kau dan Baekhyun kenapa lagi?" tanya Kyungsoo secara to the point pada Chanyeol.

Sesuap nasi yang tadinya hampir masuk ke dalam mulutnya pun batal. Namja itu meletakkan kembali sendoknya lalu menatap gadis bermata bulat itu dengan tatapan nelangsa.

Sesekali Chanyeol melirik ke balik punggung Kyungsoo, berharap Baekhyun ada di sana, namun pada kenyataannya gadis itu tidak terlihat sama sekali.

"Baekhyun tadi pergi dengan Kai." jawab Kyungsoo seolah menjawab pertanyaan yang berputar-putar di benak Chanyeol.

Chanyeol memasang wajah sebalnya ketika ia mendengar nama sepupunya itu.

"Dasar! Bukannya dia tahu kalau aku baru saja menembak Baekhyun dan di tolak. Kenapa sekarang dia seolah ingin mencuri start." Dumel Chanyeol sebal.

"Mereka hanya ingin menemui Xiumin Eonnie untuk mengurus urusan klub." Ucap Kyungsoo lagi. "Jadi cepat jawab pertanyaanku? Ada apa dengan kalian berdua?" tanya gadis itu.

Chanyeol menatap horor gadis yang ada di hadapannya ini. "Kenapa dia bisa membaca pikiranku?"

"Baekhyun menolakku." Kata Chanyeol cepat lalu kembali menunduk untuk melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda tadi.

"Mwo?" Mata Kyungsoo yang bulat itupun semakin membesar dan terlihat menyeramkan—bagi siapapun yang tidak sengaja melihatnya.

"Bisakah kau memberikan respon yang lebih wajar. Melihat wajahmu yang seperti itu membuatku terlihat semakin menyedihkan." Keluh Chanyeol sambil memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan kasar.

"Aku tak percaya. Apa kau sedang berusaha membohongiku? Kalau Baekhyun yang menolakmu, kenapa justru gadis itu yang sedih." Ucap Kyungsoo lagi dengan nada polosnya. Chanyeol pun menghentikan aktifitas mengunyahnya lalu menatap kosong piring nasi kari yang baru ia makan beberapa sendok.

"Jadi kau pikir aku tak sedih?" Chanyeol bergumam tak jelas. Namun berhubung Kyungsoo berdiri tepat di depan namja itu, setidaknya ia bisa mendengar suara Chanyeol tadi.

Srakkk...

Chanyeol memundurkan kursinya lalu mulai beranjak berdiri.

"Aku harus ke kelas." pamit Chanyeol.

Kyungsoo yang sadar kalau dirinya salah bicarapun jadi merasa bersalah.

Tapi melihat reaksi Chanyeol yang seperti itupun membuat Kyungsoo tidak enak hati lagi untuk menyuarakan pendapatnya. Bagaimana kalau dirinya salah bicara lagi dan justru semakin membuat namja itu tersinggung? Ah tidak. Kyungsoo paling tidak suka membuat masalah. Ia ke sekolah untuk berteman kan, bukan untuk mencari musuh.

Plukk...

Kyungsoo menoleh cepat ketika ia merasa ada orang yang menepuk pundaknya.

"Suho Oppa..."

.

.

Buggghh !

Baekhyun tersentak kaget. Sejak tadi dia sedang asyik melamun sambil melihat—memandang kosong—lapangan bola yang kosong. Ia menoleh dan langsung mengerucutkan bibir mungilnya begitu tahu siapa pelaku yang mengacaukan lamunannya.

"Apa yang kau lakukan Oppa?" kesal Baekhyun.

Kris yang di beri pertanyaan seperti itu lantas menaikkan kedua alis tebalnya. Ingin sekali rasanya dia menjitak kepala gadis mungil—pendek—di sampingnya ini.

"Jangan berani sekali-sekali kau menjitaknya Kris." Baru saja Kris mengangkat kepalan tangan kanannya, suara lembut Luhan sudah menghentikan niatnya tersebut.

Kris hanya bisa menggeram kesal lalu kembali mengangkat keranjang bola yang baru saja ia taruh dengan kasar—dan pastinya penyebab Baekhyun terkejut tadi.

"Baekkie-ah. Kau sedang apa?" tanya Luhan sambil tersenyum manis. Gadis yang mendapat julukan 'Deer' dari teman-teman seangkatannya pun langsung merangkul pundak Hoobae-nya dengan akrab.

"Eonnie ..." Baekhyun semakin memajukan bibir mungilnya sambil memasang wajah merajuk pada Luhan.

Luhan yang merasa tak tahan melihat keimutan Baekhyun pun langsung mencubit bibir mungil Baekhyun dengan gemas. Astaga, jangan sampai kau menjadi menyimpang. Ingatlah pada Sehun-Mu yang tampan itu, Luhannie.

"Ada apa dengan penyihir imut ini, Hemm?" tanya Luhan sambil tersenyum manis.

Kris yang sejak tadi hanya diam pun langsung merasa sesak pada dadanya. Apalagi alasannya kalau bukan karena senyum Luhan.

"Aku menyukai seseorang." Lirih Baekhyun. namun baik Luhan maupun Kris masih dapat mendengar suara gadis imut itu.

"Lalu?"—Kris.

"Dia juga menyukaiku." Tambah Baekhyun.

"Ck! Lalu masalahnya apa?" tanya Kris lagi. Dia merasa gadis mungil nan berisik itu terlalu aneh.

"Sekarang hubungan kami berjarak. Aku terlalu payah karena malah menghindarinya."

"Ka—" Kris bungkam ketika dilihatnya tatapan tajam yang Luhan arahkan padanya.

"Baekkie-ah, kau sedang jatuh cinta ya?" tanya Luhan lembut bagaikan seorang kakak perempuan yang sangat mengerti adiknya.

"Eumm..." Baekhyun mengangguk.

"Kenapa kau tidak mencoba untuk jujur saja."

"Tapi kalau aku jujur, aku takut akan menyakitinya suatu saat nanti, Eonnie."

"Kau berkata seperti itu seakan bisa menyakitinya saja. Terkadang, pihak wanita akan selalu menjadi yang tersakiti." Ujar Kris santai. Namun entah mengapa, Kris jadi merasa seperti orang bodoh sekarang. Kata-katanya seolah menyindir dirinya sendiri.

"Jangan bicara sembarangan Kris." Kesal Luhan. Entah kenapa, dia merasa hari ini Kris tidak seperti Kris yang biasanya.

Kata-kata yang namja itu ucapkan selalu saja terdengar skeptis dan kasar. beberapa kali juga Luhan mendapati namja itu melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. Apa ini karena dirinya? Mengingat kalau sekarang dia dan Sehun sudah menjadi kekasih.

"Baekkie-ah, kenapa kau berpikir akan menyakitinya? Kau kan gadis manis dan polos. Aku yakin kau tak akan sanggup menyakiti siapapun." Ujar Luhan sambil mengelus puncak kepala Baekhyun.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia ingin mengatakan yang sejujur-jujurnya pada Luhan. Namun, kalau dia melakukannya, berarti semuanya akan langsung 'berubah'. Dan apa yang ingin Baekhyun rasakan dalam pertemanan di sekolah pun akan menjadi berbeda.

"Aku hanya takut saja." ucap Baekhyun akhirnya.

"Cobalah kau jujur pada perasaanmu sendiri. Dan percayalah atas apa yang kau rasakan." Nasihat Luhan lagi dengan bijaknya.

Sekali lagi dalam hari ini Baekhyun harus mendengar kata 'percaya' dari orang lain.

Haruskah Baekhyun benar-benar percaya?

Percaya pada dirinya. Pada kekuatan yang di milikinya. Pada hatinya yang sedang jatuh cinta. Dan pada Chanyeol yang sangat ia cintai.

Haruskah Baekhyun tak lagi ragu?

"Gomawo Luhan Eonnie."

.

.

Bel tanda pulang sekolah berdering nyaring. Dengan secepat kilat Baekhyun merapikan segala alat tulis dan buku miliknya. Kyungsoo yang sejak tadi sesekali mengawasi gadis itu pun hanya bisa memasang wajah herannya.

"Kau kenapa Baek?" tanya Kyungsoo heran.

Mendengar pertanyaan Kyungsoo itu, justru membuat Baekhyun menghentikan pergerakannya. Gadis itu menatap lurus pada ransel merah kesayangannya yang belum di resleting sedangkan barang-barangnya sudah masuk semua.

"Baekkie ..." Panggil Kyungsoo lagi. Di lihatnya Baekhyun justru melamun.

"Ah ... Ne. Aku buru-buru—"

"Kita harus bicara, Baek."

Freeze !

Rasanya tubuh Baekhyun membeku seketika. Namun debaran jantungnya justru menjadi 3x lebih aktif dari sebelumnya.

Inilah yang membuat Baekhyun terburu-buru. Baekhyun tidak ingin berpapasan walau hanya sepersekian detik saja dengan Chanyeol. Sekalipun ia sudah mendapat banyak masukan dan petuah dari orang-orang di sekelilingnya, namun tetap saja Baekhyun tidak sanggup. Sisi egoisnya lebih mendominan dan hal ini membuat Baekhyun tak sanggup bertatap muka dengan Chanyeol.

Baekhyun belum siap jika Chanyeol meminta penjelasan padanya.

Namun sekarang ... Chanyeol sendiri yang menghampirinya. Jadi, mungkin sekarang saatnya bagi Baekhyun mengumpulkan keberaniaannya.

"Jangan menghindariku lagi Baek." Ujar Chanyeol lagi.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya keras lalu mengangguk dengan ragu.

.

.

Xiumin melangkah menuju pintu depan kelasnya. Rasanya hari ini ia sangat ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan merebahkan dirinya di ranjang empuknya. Kepalanya terasa sedikit pening dan mungkin dia sedikit flu. Mungkin ini efek dari kerja kerasnya semalam karena harus mencari ide untuk tema photografi. Yah, rencananya Xiumin ingin mengikut-sertakan klub photografi kebanggaannya dalam sebuah lomba antar sekolah.

Setidaknya ia harus menorehkan prestasi sebanyak mungkin sebelum kelulusannya. Dengan begitu, klub photografi bisa tetap di pertahankan.

"Noona..."

Xiumin memutar bola matanya malas. Ia menatap datar seorang namja berwajah kotak yang sedang mencegat jalannya. Demi apapun, Xiumin benar-benar malas bertemu dengan namja yang satu ini.

"Menyingkir." desis Xiumin tajam.

"Noona..." Jongdae—si namja yang tengah di musuhi Xiumin itu—memasang wajah memelasnya.

"Aku mau pulang, Jongdae-Ssi"

Oh God! Demi apapun. Xiumin sedang sangat malas untuk berbasa-basi. Sudah dia bilang kan kalau ia ingin langsung pulang.

"No—"

"Chennie..."

Jongdae menoleh ketika ia mendengar namanya di panggil dengan manja.

"Jinri—" kata-kata Chen terhenti. Ia menatap nanar punggung Xiumin yang sudah pergi meninggalkannya. Demi apapun, kenapa gadis manis itu harus datang di saat yang salah sih.

"Annyeong..." Jinri atau Sulli memasang senyum terbaiknya pada Jongdae.

"Ada apa Jinri-ya?" tanya Chen heran. Tidak biasanya Chen mencarinya.

"Tidak apa-apa. Tadi aku habis menemui Jinyoung Oppa. Lalu aku melihat kau ada di sini. Hehe..."

"Oh."

"Ah! Chennie, bisakah aku menitip sesuatu padamu ?"

"Mwo?"

"Tolong ya. Please... berikan coklat ini pada Chanyeol Oppa. Gomawo Chennie." Tanpa aba-aba, Sulli menyodorkan sebatang coklat pada Chen lalu melesat pergi.

Tuh kan. sudah bisa di duga kalau gadis itu tidak mungkin menyapanya secara tulus. Mana mungkin seorang Choi Jinri yang cantik dan populer serta tidak dekat sama sekali dengannya bisa tiba-tiba menyapanya.

Setelah Sulli pergi, Chen hanya bisa menggeram kesal.

"Argghhh... Xiumin Noona." gemas Chen lalu berlari menyusul Xiumin yang sudah pergi lebih dulu.

.

.

"Tuh kan. dia bahkan tidak menyusulku. Dasar muka kotak jelek. Menyebalkan." Xiumin menghentakkan kakinya sebal.

"Bahkan Spongebob yang kotak itu lebih tampan daripada dirinya."

Xiumin masih saja menggerutu sendiri. Tanpa sadar, ia pun memelankan langkahnya. Mungkin dari hati Xiumin yang terdalam, ia berharap Jongdae mengejarnya.

"Xiumin-ah." Xiumin menghentikan langkahnya lalu menoleh.

"Lay..." girang Xiumin. Tadi saat jam pelajaran terakhir, sahabat baiknya itu tidak masuk ke dalam kelas. Seperti biasa, pasti karena urusan osis yang beberapa hari belakangannya ini memang semakin sibuk.

"Kau sendirian?" tanya Lay sambil menggandeng lengan kiri Xiumin.

"Seperti yang kau lihat." Balas Xiumin.

"Mau ku traktir?" tawar Lay. "Suho Oppa yang akan membayarnya." Lanjutnya sambil mengerling jahil ke arah teman gadisnya tersebut.

"Jinjja?"

Xiumin baru sadar kalau Lay tidak sendirian. Ada seorang namja berwajah malaikat yang berjalan di sisi sahabat cantiknya itu.

"Kalian—"

"Kami sudah berpacaran." Ucap Lay.

"Kyaaaa! Chukkae." Xiumin langsung menghambur memeluk tubuh kurus Lay dengan erat. Akhirnya sahabat tersayangnya ini bisa mendapatkan cinta sejatinya.

"Gomawo."

Xiumin jadi lupa pada niat awalnya tadi. Mungkin menikmati traktiran makan siang dari sahabatnya ini adalah yang terbaik.

Bahkan pusing yang tadi di rasakannya pun sudah menghilang entah kemana. Kekuatan antar sahabat memang sangat menakjubkan.

.

.

"Ini." Chanyeol mengulurkan susu strawberry kotak pada Baekhyun.

Gadis yang sejak tadi hanya menunduk itupun menerimanya dengan ragu.

Lalu Chanyeol mendudukkan dirinya di samping Baekhyun. Saat ini mereka sedang berada di atap sekolah. Awalnya Chanyeol sedikit bingung ingin mengajak Baekhyun kemana, namun ketika teringat salah satu tempat favoritenya ini, maka Chanyeol pun mengajak gadis yang di kasihinya ke sini.

"Jangan menunduk terus. Apa lantai itu lebih tampan daripada diriku." Gurau Chanyeol yang berusaha mencairkan suasana. Rasanya sangat menegangkan jika mereka terus saja saling mendiamkan. Juga sedikit membuat merinding karena biasanya Baekhyun yang paling suka berceloteh ria. Baekhyun yang ceria dan berisik pun tak tampak sama sekali.

Chanyeol melihat Baekhyun yang menggeleng pelan.

"Yeollie... Mianhae." Lirih Baekhyun.

"Kenapa minta maaf? Kau tak salah apapun kan." ujar Chanyeol santai.

"Sebenarnya—" Baekhyun menelan ludahnya gugup.

"Percayalah pada dirimu sendiri."

Kata-kata semangat dari Kai entah kenapa langsung melintas dalam benaknya. Dalam hati, Baekhyun kembali memantapkan keberaniannya. Ya! Dia harus percaya pada dirinya. Baekhyun juga tidak ingin semuanya berakhir dengan sia-sia.

Meskipun ini terasa egois namun Baekhyun ingin barang sekali saja ia merasa bahagia karena memiliki seorang kekasih. Baekhyun juga ingin merasakan sebuah kisah cinta yang ia lihat dalam drama-drama serial yang di sukainya.

"Yeollie, aku menyukaimu." Ujar Baekhyun.

"Eumm... kau pernah mengatakannya Baek. Aku juga menyukaimu." Balas Chanyeol santai.

"Aku—aku benar-benar menyukaimu Yeollie."

"Baekhyun-ah." Chanyeol menarik tangan mungil Baekhyun dengan lembut. Membuat gadis mungil itu berhadapan dengannya.

"Aku tahu kau tidak bisa menerimaku sebagai kekasih. Aku mengerti kalau kau mungkin belum siap. Atau mungkin rasa sukamu padaku itu hanya sebatas teman. Setelah memikirkannya semalaman, akhirnya pikiranku jadi sedikit lebih terbuka." Jelas Chanyeol. ia menatap Baekhyun lembut.

"Aku bisa menjadi sahabatmu. Dengan begitu, aku bisa tetap menyayangimu kan. Dan kau juga bisa tetap menyukaiku. Mungkin dengan hanya berteman, semua akan kembali seperti semula." Chanyeol mengelus puncak kepala Baekhyun dengan sayangnya.

Baekhyun sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Niat awalnya pun lenyap sudah. Mungkin apa yang di katakan Chanyeol ada benarnya.

Astaga! Byun Baekhyun, kenapa kau mudah sekali goyah.

"Lagipula, kau masih terlihat seperti anak-anak. Aku takut di kira pedofil karena memacari anak di bawah umur." Canda Chanyeol yang di selingi kekehannya. Baekhyun yang mendengar itupun langsung mengerucutkan bibirnya.

"Yeollie menyebalkan."

"Ah... My Baby Baekkie merajuk ne?" goda Chanyeol.

"Baekkie?" gumam Baekhyun.

"Eumm. Sekarang kita sahabat kan. Jadi kurasa panggilan 'Baekkie' terdengar lebih akrab." Jelas Chanyeol.

Muncul rona merah tipis di kedua pipi Baekhyun. ia menatap Chanyeol malu-malu.

Meskipun niat awalnya untuk mengakui semua perasaannya pada Chanyeol gagal. Namun, Baekhyun sudah cukup puas. Karena ini artinya untuk hari-hari ke depannya, ia menjadi semakin dekat dengan namja bermarga Park itu.

.

.

Xiumin memasang wajah kesalnya.

Begitu sampai di sebuah kedai restoran sederhana pilihan Lay, ternyata sudah ada Luhan yang duduk manis menunggu mereka. Demi apapun, Lay tidak mengatakan apapun tentang Luhan.

"Luhan itu sahabatku juga, Xiumin-ah. begitu juga kau. Aku ingin merayakannya bersama kedua sahabat terbaikku." Ujar Lay sambil memasang senyum polosnya.

"Untuk hari ini saja, tidak apa kan Xiumin-ah?" tanya Luhan sambil menatap Xiumin sendu. Dia sangat berharap kalau semuanya bisa kembali seperti dulu.

"Karena ini permintaan Lay, jadi aku tidak bisa menolaknya."

"Gomawo."

"Jadi, apa yang akan kita pesan? Ddeokbokki mungkin enak. Seperti saat kita kelas satu dulu." Usul Lay.

"Yupss... aku setuju saja. Lagipula, bukankah kau yang membayarnya Lay-ah." Goda Luhan sambil memasang senyum cantiknya.

"Ani. Bukan aku tapi Suho Oppa yang akan membayarnya." Elak Lay sambil memasang wajah malu-malu. Gadis itu sedikit menarik ujung kemeja milik namja yang duduk di sampingnya.

"Kalian tampak serasi sekali loh." Goda Luhan sengaja membuat Lay semakin malu. "Ya kan Xiumin?" tanya Luhan sambil melirik gadis berpipi chubby yang sedang fokus memilih menu yang di inginkannya.

"Aku ingin jus tomat." Ucap Xiumin dengan sedikit ketus tanpa menggubris Luhan. Dia tidak ingin bersikap baik pada gadis itu.

Luhan hanya bisa menatap sendu pada Xiumin yang tampak tidak suka dengan kehadirannya. Mungkin jika bukan karena menjaga perasaan Lay, Xiumin tidak akan mau duduk satu meja lagi dengan dirinya.

Luhan juga ingin seperti Lay, mengungkapkan hubungannya dengan Sehun. Hanya saja melihat sikap keduanya membuat Luhan urung dan lebih memilih merahasiakan hubungannya dengan Sehun.

"Ahjumma." Panggil Lay sambil mengangkat tangannya.

"Nde?"

"Aku ingin pesan satu porsi Ddeokbokki. Boleh tambahkan lebih banyak sausnya. Lalu 2 jus tomat—"

"Aku juga ingin Jus tomat." Potong Luhan cepat. Xiumin melirik Luhan sinis.

"Ah, berarti 3 jus tomat. Oppa, kau mau apa?"

"Aku ingin cola." Ujar Suho tenang.

Luhan terkekeh geli melihat Suho. Mungkin namja itu sedikit merasa canggung karena harus berada di antara para gadis. Yahh... mengingat namja itu lumayan pendiam dan penutup.

"Baiklah. Satu porsi Ddeokbokki, 3 jus tomat dan cola."

"Ya." Lay mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.

"Kalau begitu, tunggu sebentar ne?"

"Ne." Ucap ketiga gadis itu bersamaan. Lay dan Luhan pun tertawa bersama namun Xiumin hanya tersenyum tipis.

.

.

"Kau menghindariku?"

Tao yang baru saja menyampirkan tas ranselnya di bahu kiri pun tersentak. Ia menoleh lalu menatap tajam pada namja tinggi yang kini sudah berdiri di depan mejanya.

Awalnya Tao memang sengaja menunggu kelasnya sepi lalu barulah dirinya pulang. Hitung-hitung juga untuk memperkirakan keadaan sekolah yang sudah tidak begitu banyak penghuni. Dan meminimalisir kemungkinannya untuk menemui namja tinggi menyebalkan yang sudah ia hindari seharian ini.

"Tidak." Balas Tao angkuh. Ia pun membetulkan letak ranselnya lalu mulai melangkah. Namun baru satu langkah ia berjalan, Kris sudah menghadangnya.

"Kita perlu bicara." Ujar Kris—namja itu sambil mencekal pergelangan tangan Tao. Gadis tinggi bermata panda itupun menatap nanar pada Kris.

"Lepaskan, Ge." Mohon Tao lirih. Dia tidak ingin pertahanannya runtuh. Dia tidak mau Kris melihat sisi lemahnya yang menyedihkan.

"Tao !"

"Ge ! Kumohon lepaskan aku." Sentak Tao. Gadis itu menarik kasar tangannya. Ia menatap Kris tajam namun jelas tersirat luka dalam tatapannya.

"Bukankah di pesan kemarin aku sudah bilang padamu kalau kita berakhir? Hahh.. Aku sadar kalau kau tidak akan pernah menyukaiku. Kau hanya menyukai Luhan Eonnie." Tao mengusap sudut matanya yang mulai meneteskan air mata. "Sejujurnya aku kesal. Aku yang pertama kali tahu tentang kau. Aku yang pertama kali melihatmu. Dan aku juga yang lebih dulu menyukaimu. Aku kesal kenapa kau tidak bisa melihatku? Kenapa kau tidak bisa menyukaiku? Dan lebih mengesalkan lagi adalah kenapa aku justru suka padamu? Aku benci pada perasaanku ini, Ge."

"Tao..." Lirih Kris. Entah kenapa hatinya terasa perih melihat gadis di hadapannya ini menatapnya seperti itu. Bukan lagi binar keceriaan dan penuh kasih sayang yang ada dalam matanya. Melainkan luka karena sikapnya sendiri selama ini.

"Jadi, sudah kuputuskan. Aku akan mematikan perasaan ini. Gege tenang saja. Aku tak akan menyalahkan Gege akan rasa sakit hatiku. Aku sendiri yang memulainya. Menyukaimu secara sepihak meski aku sadar kalau cintaku tak berbalas. Oleh karena itu, aku sendiri juga yang harus mengakhirinya. Selamat tinggal, Kris Ge."

Setelah mengakhiri kata-katanya, Tao langsung berlari meninggalkan Kris. Ia bahkan tanpa sengaja menubruk bahu Kris. Membuat namja itu sedikit mundur ke belakang. Kris menoleh cepat dan menatap miris kepergian gadis malang itu.

Kris memegang dadanya yang terasa sakit. Kenapa dia justru merasa sakit ketika melihat gadis itu menangis? Seingat Kris, ia tidak merasa sesakit ini ketika mendapat penolakan telak atas pernyataan cintanya pada Luhan. Ia tidak pernah merasa sepedih ini saat Luhan berulang kali menyuruhnya untuk berhenti menyukai gadis itu.

Tapi kenapa Kris justru merasa tersiksa ketika gadis yang terang-terangan menyukainya itu berkata ingin berhenti?

Sepertinya sekarang Kris benar-benar merasa menyesal. Ia menyesal karena sudah kehilangan orang yang dengan tulus mencintainya.

Sebenarnya, daripada mengejar cinta yang sia-sia, kenapa dia tidak menggapai saja cinta yang sudah ada di hadapannya.

Kris memukul kepalanya sendiri. Ia benar-benar merasa seperti orang bodoh sekarang.

.

.

"Yeollie..." Panggil Baekhyun sambil menengadah menatap wajah tampan milik namja yang sejak tadi menggenggam tangannya.

"Hnn?" dengung Chanyeol lalu menunduk menatap Baekhyun.

Bertatap langsung dengan Chanyeol dengan jarak sedekat itu, bukanlah hal biasa bagi Baekhyun. Ia belum terbiasa dengan skinship yang terlalu intim dengan namja yang di sukainya tersebut. Dan lagi, detak jantung dan sirkulasi darahnya benar-benar menjadi tidak normal. Ketika ia harus menatap mata bulat jernih itu, otomatis detak jantung Baekhyun menjadi 5x lebih cepat. Belum lagi, rasanya aliran darah dalam tubuhnya berkumpul semua pada wajah manisnya. Baekhyun yakin wajahnya sudah seperti kepiting rebus yang memerah.

Baekhyun menunduk cepat lalu memilin-milin ujung kemejanya gugup dengan tangannya yang satu lagi.

Padahal ia dan Chanyeol bukan berpacaran, tapi kenapa jadi segugup ini. Harusnya ia bisa bersikap biasa kan?

"Ada apa, Baekkie?" tanya Chanyeol heran.

"Itu... Ah! Tidak apa-apa." Elak Baekhyun. Ia menarik tangannya yang sejak tadi di genggam Chanyeol. Mati-matian ia mengalihkan pandangannya dari Chanyeol. Meskipun ia senang karena sekarang Chanyeol bersikap baik padanya, tapi tetap saja ia jadi merasa gugup dan susah untuk bersikap natural.

'Aduhh... Kenapa Yeollie melihatku seperti itu sih. aku kan malu.' Batin Baekhyun.

"Eh?" Gumam Chanyeol dan tak lama senyum lebar menghiasi wajah tampannya.

Baekhyun sedikit melirik ketika mendengar suara Chanyeol.

"Di sana ada studio musik Baek. Ayo kita kesana."

"Mwo?" Kaget Baekhyun ketika Chanyeol lagi-lagi menarik tangannya.

.

.

Sehun beberapa kali memandang ke sekitarnya. Berharap-harap kalau gadis cantik yang di nantikannya sejak tadi sudah datang. Karena tadi Sehun harus mengikuti jadwal remedial, jadi ia membiarkan Luhan pergi duluan. Namun beberapa menit yang lalu, Luhan mengiriminya pesan kalau gadis itu belum pulang ke rumahnya.

Mereka pun memutuskan untuk bertemu di kedai bubble tea yang letaknya sudah tidak jauh dari kompleks rumahnya dan Luhan.

Sehun kembali menyeruput minuman kesukaannya itu. Sepertinya dia benar-benar tidak sabaran. Padahal baru beberapa menit ia menunggu. Ah! Luhan memang paling bisa membuatnya menjadi seperti ini.

Meskipun sesering apapun mereka bertemu, Sehun pasti akan cepat rindu pada kekasih cantiknya itu.

Baru saja Sehun berniat untuk mengirim pesan singkat untuk Luhan, pandangannya langsung menggelap. Ada sepasang tangan mungil yang halus menutup kedua matanya.

Sehun mengulum senyumnya karena ia sudah bisa menebak siapa yang menutup matanya ini.

"Hannie Noona..." Panggil Sehun sambil memegang tangan orang yang menutup matanya.

Gadis cantik yang tadi menutup mata Sehun pun terkekeh kecil. Ia melepaskan tangannya lalu beralih untuk melingkarkan lengannya pada leher Sehun. Memeluk namja tampan itu dari belakang.

"Menunggu lama, Hunnie?" Goda Luhan sambil berbisik di telinga Sehun.

"Sebenarnya tidak lama. Tapi entah kenapa jadi terasa sangat lama karena aku merindukanmu, Noona." Balas Sehun dengan nada suara—sok—polos.

"Jinjja? Sehunnie sangat merindukanku rupanya." Kata Luhan dengan nada mengejek.

CUPP

"Itu untuk rasa bersalahku karena sudah membuat Sehunnie merindukanku." Bisik Luhan setelah mengecup pipi Sehun sekali. Ia pun melepaskan pelukannya lalu beralih duduk di hadapan Sehun.

"Wahh... Pipi Sehunnie merona. Hihihi" Lagi-lagi Luhan menggoda Sehun.

"Noona!" seru Sehun dengan nada merajuknya.

Luhan tertawa keras melihat tingkah manis namjachingunya.

"Padahal aku laki-laki, tapi kenapa justru aku yang di buat malu. Tidak! Tidak boleh seperti ini." –Batin sehun sebal.

Tiba-tiba terbesit ide jahil dalam benak Sehun. Ia menyeringai—namun sayangnya Luhan tak menyadari seringaian tersebut karena gadis itu sibuk tertawa.

"Noona..." Panggil Sehun dengan nada rendah. Ia mengulurkan tangannya untuk memegang dagu Luhan.

Luhan hanya bisa membeku di tempatnya ketika mata jernih Sehun bertatapan langsung dengan matanya. Tanpa aba-aba, Sehun sudah mendekatkan wajahnya ke arah Luhan.

Tidak lama, tekstur lembut itu sudah menempel pada bibir mungilnya. Namun sadar kalau mereka berada di tempat umum, Sehun tidak melakukan pergerakan lebih. Hanya menempelkannya saja. Setelah itu, Sehun kembali menjauhkan wajahnya lalu tersenyum manis pada Luhan.

"Bibir Noona ternyata manis." Gantian Sehun yang menggoda Luhan.

"Sehunnie..." Rajuk Luhan sambil menutup wajah cantiknya. Berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang merona hebat.

.

.

Baekhyun duduk di kursi meja belajarnya sambil menumpukan dagunya pada kedua tangannya. Ia tersenyum-senyum sambil menatap indahnya malam dari jendela kamarnya—letak meja belajar Baekhyun berhadapan langsung dengan jendela kamarnya.

Masih terbayang-bayang dalam memori indahnya tentang kejadian-kejadian manis tadi siang.

Ketika Chanyeol memanggil namanya dengan lembut. Lalu ketika Chanyeol mengacak rambutnya dengan gemas. Belum lagi tadi Chanyeol sempat mencubit pipinya. Ahh... Semua skinship yang dilakukannya bersama Chanyeol, benar-benar membuatnya berdebar sekaligus bahagia.

Ceklek

Baekhyun menoleh ketika ia sadar ada seseorang—atau dua orang—masuk ke dalam kamarnya.

"Baekhyunnie, Kim Uisa datang." Ujar Hyukjae sambil mempersilahkan seorang pria dengan jas putih untuk masuk ke dalam kamar putrinya.

Baekhyun pun beranjak dari duduknya lalu beralih dengan mendudukkan dirinya di ranjang. Lagi-lagi dia harus melakukan pemeriksaan rutin.

"Apa kabar, Baekhyunnie?" tanya Yesung—Kim Uisa—ramah. Ia mengeluarkan stetoskopnya dari dalam tas yang di bawanya.

"Kabarku baik, Uisa-nim." Balas Baekhyun sambil tersenyum manis lalu mulai membaringkan tubuhnya.

Dan pemeriksaan pun di mulai. Membutuhkan waktu sekitar 10 menit sampai pemeriksaan ini berakhir.
"Perkembanganmu bagus, Baekhyunnie." Ujar Yesung sambil tersenyum hangat pada pasiennya itu.

"Jinjjayo?" tanya Baekhyun senang.

"Ne. Sepertinya kau benar-benar siap untuk operasi nanti kan?"

"Tentu saja. Aku ingin sembuh, Uisa." Ujar Baekhyun.

Yesung tersenyum melihat semangat yang kembali hadir dalam diri pasiennya ini.

"Dan aku harus sembuh. Karena aku tidak ingin meninggalkan orang-orang yang menyayangiku." Tambah Baekhyun. Yesung pun mengusap kepala Baekhyun lembut.

"Ya. Tetap jaga semangatmu itu sampai akhir. Karena keyakinan dan harapan itu juga sangat di perlukan untuk operasimu nanti. Aku yakin, kau pasti berhasil." Ujar Yesung.

"Gomawo Uisa-nim."

Yesung pun merapikan semua peralatannya lalu beranjak berdiri.

"Aku keluar dulu, ne?"

"Ne."

Setelah itu, Yesung pun melangkah keluar dari kamar Baekhyun.

"Aku ingin sembuh karena aku tidak ingin meninggalkan Yeollie. Aku ingin bersama Yeollie selamanya." Batin Baekhyun sambil tersenyum dengan begitu manisnya. Andai saja Hyukjae dan Donghae melihat ini, mungkin mereka akan langsung bersyukur pada Tuhan karena senyum putri kesayangan mereka telah kembali.

Chanyeol benar-benar telah menjadi semangat bagi Baekhyun.

.

.

Kai menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Ia sedikit mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut untuk sekedar mengintip. Bisa ia lihat, ponselnya yang berdering di atas meja nakas samping tempat tidurnya.

Kai menghembuskan nafasnya kesal sambil menggosok matanya yang masih di dera kantuk. Siapakah orang yang berani mengganggu tidur tampan(?)-nya?

Ia meraih ponselnya lalu menggeser icon hijau untuk menjawab panggilan tanpa melihat nama si pemanggil.

"Yeoboseyo?" Ujar Kai dengan suara seraknya khas orang yang baru bangun tidur.

"Kai—"

Kai membulatkan matanya. Ia langsung menjauhkan ponselnya lalu melihat layar ponselnya yang menampilkan nama dari orang yang meneleponnya.

'Kyungsoo'

Kai kembali menempelkan ponselnya ke samping telinga.

"Ada apa Kyungsoo Noona?" tanya Kai to the point.

"Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya dari suara di seberang sana.

'Sangat mengganggu' Batin Kai gemas. Namun pastinya dia tidak mungkin bilang seperti itu. setidaknya Kai masih mengingat etika sopan santun dalam bertelepon.

"Ani. Aku belum terlalu pulas juga kok. Ada apa?"

"Eumm... untuk materi olimpiade nanti. Bisa kita pelajari bersama besok? Tadi saat pulang sekolah, aku mencarimu tapi ternyata kau sudah pulang."

"Ooh." Kai cepat-cepat berusaha memutar otaknya untuk mencari alasan menolak ajakan Kyungsoo.

"Gimana Kai?"

"S-sepertinya tidak bisa deh, Noona. Besok aku harus—ah! Menemani Baekhyun. Iya! Aku ada janji dengan Baekhyun. Ehmm, Mianhae Noona."

"Oh yasudah. Nanti materinya kuberikan padamu saja ya. Kau bisa kan mempelajarinya sendiri?"

"Tentu saja bisa. Oh ya, bisa kau titipkan pada Baekhyun? Biar sekalian saja."

"Ne."

"Baiklah. Sudah dulu ya, Noona. Aku mau tidur lagi."

"Oh... Iya. Jaljayo Kai-ah."

"Ne, Jaljayo Noona."

Kai menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya ia punya alasan untuk menghindari Kyungsoo besok. Meski pada kenyataannya dia tidak membuatjanji apapun dengan Baekhyun.

"Mianhae Noona. Aku tidak bermaksud menjauhimu tapi aku tidak bisa dekat dengan perempuan yang punya perasaan tertentu terhadapku. Aku tidak bisa." Gumam Kai. Ia meletakkan ponselnya di tempat sebelumnya lalu menarik selimutnya kembali.

Daripada berpikir yang aneh-aneh, lebih baik dia kembali tidur.

Entah kebohongan seperti apa lagi yang akan ia buat nantinya untuk menghindari Kyungsoo.

To Be Continued

Words : 5.210

Updated : 25/06/2014

terhitung 2 bulan lebih aku ga update FF ini. Alasan pertama karena aku hiatus untuk UAS Semester 2. Namun di tengah-tengah UAS, ada berita menyedihkan tentang Kris yang ngajuin gugatan. Bahkan aku harus galau di tengah UAS. Oke Fine. Bahkan setelah UAS, aku tak punya kekuatan buat ngelanjutin FF ini, mengingat betapa menyebalkannya karakter Kris dalam FFku ini.

Lalu beberapa hari yang lalu, pas aku mau nyelesain chapter yang ini, aku harus di buat sakit lagi. Baekhyun-Taeyeon Dating? lalu SM Comfirm kalau mereka punya hubungan. Pacaran? OMO! 3 hari aku bergalau-galau ria. temen-temenku yang tahu aku suka pake banget ama Baekhyun pun langsung berbondong-bondong ngucapin belasungkawa#plakk. semua pada nyuruh aku buat sabar.

Aku bener-bener ga habis pikir. Oke, aku ga mau bahas tentang semua ucapan-ucapan Baekhyun yang lalu, karena itu bakal lebih nyakitin lagi. aku sempet mikir, apa aku berhenti ngetik FF ChanBaek aja?

Tapi ngeliat FF ChanBaek yang berkurang belakangan ini, bikin aku berpikir ulang. belum lagi banyak fans yang beralih fandom dan justru ninggalin Baekhyun. Lalu tiket drama musical Baekhyun yang menurun. Bahkan ada yang bilang Baekhyun Pengkhianat di acara inkigayo dan nulis agar Baekhyun berhenti aja buat jadi MC di sana. aku sedih banget. Kenapa mereka setega itu?

Tapi sedihku terobati ketika tahu Baekhyun bakal jadi bintang tamu di acara Roommatenya Chanyeol. Intinya moment ChanBaek akan tetap berkobar*Eaaa Eaaa

Dan dari situlah aku mutusin. aku ga mau kayak mereka semua yang ninggalin Baekhyun. aku mau tetep ada di belakang untuk mendukung idolaku yang imut itu. Aku juga bakal tetap ngeship ChanBaek. kita ga tau apa yang terjadi sebenarnya? Apa Baekhyun Taeyeon itu bener-bener jadian dan bukan akal-akalan SM? karena di lihat dari berbagai sisi, ketangkepnya hubungan mereka emang rada ga masuk akal. Dan kalau mereka emang berpacaran-meski nyesek-aku bakal tetep nerima dan berusaha buat dukung. Toh, Baekhyun tetap manusia normal. kalo kenyataannya dia straight, mau bagaimana lagi? Biarlah dia bahagia bersama cewe yang dia sayang. lagipula dia tetep sahabatnya Chanyeol kan. dan Baekhyun-Chanyeol juga tetep saling sayang. hahayyy

Dan lagi, kalo Baekhyun ngelakuin sesuai kata-katanya kalau dia bakal berkencan dengan gadis di umur 35 tahun, ya kali... kapan kawinnya? aku juga ga mau biasku tersayang jadi bujangan tua-_- yasudahlah, selama Baekhyun bahagia, maka aku juga bakal bahagia.

Tetep berkarya dan jangan mengecewakan fansmu lagi ne Baby Baek ! SARANGHAE.

balik ke cerita ini... aku udah semangat nih bakal tetep lanjut, tapi gimana dengan kalian? Mau tetep ada FF ini atau engga? kalau engga ya ga aku lanjut. percuma juga aku lanjut kalo ga ada yang baca. aku lanjut di laptopku tapi ga akan aku publised.

Kalau Reviewnya banyak, aku bakal beri chapter selanjutnya. Jadi Review after read ne? Kamsahamnida ^,^