"My Lovely, Fernandes"

By: Uchiha-Cla/Karura-Clarera

FAIRY TAIL FANFICTION

Disclaimer: Mashima Hiro-sama

Warnings: OOC, Abal, Tidak Menarik, Hasil seorang amatir.

A/N: Wuaah, baru sempat update. Gomen... Btw, makasih loh reviewnyaa.. Banyak yang mulai kepo ya ternyata. Tenang saja, lama2 kekepoan Anda semua akan terjawab kok di chap akhir ups ^^ Aku gatau sih di chap ini akan membuat kalian tambah bertanya2 atau tidak. atau justru malah bosan dan tidak tertarik lagi. Pokoknya...

HAPPY READING HAPPY REVIEW~!


CHAPTER 10:

'Menguapnya Perasaan Sheria. Perang Gray x Jellal!


'Kenapa... padahal aku sudah cukup dekat dengannya... tetapi, mengapa perasaan ini timbul. Perasaan akan kehilangan seseorang yang kucintai...'

Erza Scarlet in MLF


Hari ketiga tiba.

Natsu lesu karena ini adalah hari-nya kembali ke kota Fiore. "Ahh, aku masih ingin bersenang-senang!" serunya berkali-kali hingga membuat Sherry muak dan menjitak Natsu.

"Dasar berisik!" ujar Sherry. Dua buah benjolan terlihat nyata di atas kepala malang Natsu.

Para Fairy Tail telah memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi bus. Warrod-sensei pun sudah tertidur pulas di dalam bus. *Warrod kerjaannya tidur mulu*

Gray yang sedang sibuk mengatur-atur barang itu sedikit merasa kewalahan karena ia melakukannya seorang diri tanpa dibantu Natsu ataupun Lyon.

Selang 20 menit kemudian, barulah ia memasuki bus dan mencari tempat duduk yang sudah sebagian penuh itu. Tatapannya tertuju pada gadis berambut merah yang duduk di kursi dua set di dekat jendela. Gray langsung tersenyum mengetahui sebelah Erza masih belum ada yang duduk. Di antara seluruh wanita yang ikut dalam kegiatan camp ini, tidak ada satupun yang dekat sekali dengan Erza. Pantas saja jika Erza tidak terlalu akrab dengan anggota perempuan Fairy Tail. Teman Erza kan kalau di sekolah hanya Lucy.

Gray melangkah lurus ke kursi kosong di sebelah Erza dengan wajah berseri-seri. Senyumnya berubah masam begitu ia menyadari seseorang juga mengincar tempat duduk itu dari arahnya yang berlawanan.

Jellal berhasil menduduki tempat duduk itu membuat Gray geram. "Huaah, sial!" geram Gray sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Gray, kau sudah gila atau kenapa?" tanya Natsu yang membuat Gray semakin menjadi-jadi. Terlebih saat Jellal melambai tangan pada Gray sambil menyeringai tanda mengejek.

"3-0" ucap Jellal yang dapat diketahui oleh Gray dengan jelas melalui gerak mulutnya Jellal. Gray yang kalah pun akhirnya duduk di kursi paling belakang lagi bersama Natsu dan Gajeel dengan pasrah.

"Uoh, Gray, ayo kita main kartu!" ajak Gajeel dan Natsu dengan bersemangat.

"Tidak mau!" tepis Gray dengan kasar. Mood-nya sedang buruk saat ini.

Natsu dan Gajeel hanya mengangkat bahu lalu kembali bermain kartu dengan serunya itu. Sedangkan Gray menekuk wajahnya sambil memandang ke luar jendela.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Erza pada pemuda berambut biru di sebelahnya itu dengan ketus.

"Asisten, jangan banyak bicara." Sahut Jellal dengan datar. "kau berhutang padaku lagi, ingat?" tambahnya memperingati Erza.

Mengingat kejadian kemarin, Erza merasa terpuruk. Ia pun diam dan kembali menatap ke luar jendela bus.

Beberapa saat kemudian, bus pun berjalan. Suasana tidak seriang di hari pertama saat mereka baru berangkat. Banyak yang merasa sedih karena harus berpisah dengan Pegasus Hills ini begitu cepat.

Jellal mengambil ponsel dari saku celananya, ia juga mengambil sebuah earphone dan menyematkan yang sebelah kiri di telinga kanannya. Sebelah lainnya ia tempelkan di telinga Erza.

"Aku tidak mau." Sergah Erza menepis halus.

"Dengar dulu." Ucap Jellal seolah memerintah.

Erza mendecih sebal lalu terpaksa menyematkan earphone itu di telinganya. Suatu melodi lagu yang diputar Jellal pun terdengar. Melodi pelan dan lembut yang menenangkan hatinya.

Bukan sebuah lagu pop atau rock atau apalah yang disukai kebanyakan pria, ini adalah lagu instrumen klasik yang meneduhkan.

The Seasons, Tchaikovsky. Octobre (October): Chant d'automne (Autumn Song).

Kebanyakan orang mengatakan, komposisi ini merupakan bagian romantis dari antara ke-12 lainnya. Entah mengapa, Erza merasa instrumen ini terdengar begitu menyayat hatinya. Seolah akan ada hal buruk terjadi...

Ia menoleh pada Jellal. Pria itu telah bersender dengan nyaman dan kedua matanya terpejam rapat.

'Aku menganggapnya, meski aku sering menghapus perasaan itu.' ujar Erza dalam hatinya, 'Kenapa... padahal aku sudah cukup dekat dengannya... tetapi, mengapa perasaan ini timbul. Perasaan akan kehilangan seseorang yang kucintai...'

.

.

Di Fiore...

Loke Leo. Pria tampan, rupawan, idaman para wanita kekinian berdiri menjulang di depan cermin kamarnya. Ia memandang refleksi dirinya dengan lemas. Entah, perasaannya amat kacau dan buruk hari ini. Tepatnya pagi ini, ia telah berdandan rapi dengan setelan jas abu-abu yang membalut tubuh atletis-nya.

"Loke! Cepat sedikit!" seru sang nenek, Evergreen, yang memang selalu galak itu dari luar kamarnya.

"Ya, aku akan keluar sebentar lagi, baachan..." sahut Loke dari dalam kamarnya.

Ia mengancingkan jasnya, merapikan dasi serta rambutnya dan beranjak keluar kamar. "Aku sudah tidak kuat menghadapi hari ini..." gumam Loke sedikit didramatisir.

"Dasar lelet. Kau masih muda tapi lamban sekali!" gerutu Evergreen dengan galak. Ia berdiri dengan melipat tangannya di dekat garasi mobil itu.

"Ma-maaf, baachan."

"Baiklah, ayo kita berangkat."

Loke dan Evergreen memasuki mobil sedan biru tua metalik bersamaan. Loke menghempaskan tubuhnya di bangku mobil dengan pasrah. Ia tidak tahu harus berbuat apa, melarikan diripun percuma.

Mobil sedan milik Ever ini pun melaju pelan menuju kediaman seseorang. Begitu tiba di kediaman kenalan Ever, Loke mendongak kagum pada rumah yang megah nan besar dan luas itu.

"Ayo kita masuk ke dalam, Loke." Ajak Evergreen sambil membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Lalu ia berjalan pelan sambil menjinjing tas tangannya dengan anggun menuju dalam rumah yang megah itu.

Loke membuntuti Ever dan ia menoleh-noleh kekiri dan ke kanan dengan takjub. Ia tidak menyangka Baachan-nya memiliki kenalan orang super kaya raya seperti ini. Sampai di depan pintu masuk, Ever dan Loke disambut hangat oleh pelayan yang berkemeja itu. "Silakan masuk, tuan dan nyonya." Ujar pelayan itu dengan sopan dan formal. Mereka pun berjalan mengikuti petunjuk dari sang pelayan.

Sampailah mereka di sebuah ruang tamu rumah ini setelah mereka melalui lorong megah dan terang yang cukup panjang. Ever dan Loke duduk di sofa berdampingan.

"Ohoho, Ever-chan. Kau memang selalu membuat hatiku berdetak, eh..." Loke dan Ever menengok ke sumber suara. Evergreen langsung tersipu malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus mendengar gombalan itu.

"Elf-kun..." gumam Ever begitu melihat paras orang yang meggombalinya itu. Seorang pria tua bertubuh besar dan berpakaian rapi, itulah Elfman Fernandes. Loke merasa sedikit minder, padahal pria itu sudah kakek-kakek.

Loke pun berdiri dan memberikan hormat pada Elfman. Begitu ia menegakkan tubuhnya setelah membungkuk, sepasang mata Loke membulat seiring ia menemukan keajaiban yang tak disangka baginya. Mulutnya terbuka setengah karena sedikit tercengang.

"Tak kusangka rencana perjodohan kita benar-benar terlaksana, Ever-chan..." kata Elfman yang kemudian terduduk di hadapan Evergreen. "inilah gadis yang akan kujodohkan dengan cucu ketigamu itu, Ever-chan."

"Salam kenal." Gadis yang dilihat oleh Loke sedari tadi akhirnya membuka mulut untuk mengucapkan salam. Loke masih bergeming di tempatnya.

Loke benar-benar tidak menyangka, gadis yang akan dijodohkannya ini benar-benar yang idamannya. Berambut biru bergelombang, bertubuh ramping dan parasnya cantik. Loke jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Perkenalkan, Evergreen-san. Namaku adalah Juvia Fernandes..." ujar Juvia sambil membungkukkan tubuhnya dengan hormat.

"Ah, nama yang indah, Juvia-chan. Panggil aku Baachan saja, ya.. toh Loke juga memanggilku demikian." Ujar Evergreen dengan ramah. Lalu ia melirik ke Loke yang masih berdiri dengan tercengang itu, "Loke, kenalkan dirimu dong." Perintah Evergreen sambil mencubit pinggang Loke hingga cucu berambut orange-nya itu sedikit merintih karena sakit dan geli.

"A-aku Loke Leo, Ju-juvia-san... Panggil aku Loke. Senang bertemu denganmu." Ujar Loke dengan terbata. Matanya tak teralihkan dari gadis berambut biru yang kini sedang tersenyum kecil melihat tingkah Loke.

Meski Loke tidak bebas untuk memilih pasangannya saat ini, tapi entah mengapa ia tidak menyesal untuk dijodohkan...

.

.

Waktu menunjukkan pukul 13.00.

Makan siang sebelum akhirnya sampai di kota Fiore. Mereka berhenti di sebuah rumah makan yakiniku yang berdesain Jepang kuno itu. Natsu langsung menjulurkan lidahnya berkali-kali karena rasa lapar.

"Hentikan tingkah menjijikanmu itu, Natsu." Sherry menjitak Natsu untuk keduakalinya.

"Aww, sakit, tahu Sherry-senpai!" gerutu Natsu sambil mengelus-elus kepalanya yang benjol.

Erza turun dari bus setelah Jellal. Erza sedikit tertegun begitu menyadari pemuda berambut biru itu selalu menunggunya, sehingga akhirnya mereka berdua berjalan bersamaan.

"Ehem ehem, ketua osis dilarang pacaran,ya..." gurau Warrod-sensei sambil berjalan di tengah Erza dan Jellal hingga memisahkan keduanya secara paksa.

"Ti-tidak, sensei!" balas Erza dan Jellal dengan kompak. Mendengar itu Warrod malah terkekeh dan meninggalkan keduanya yang saling salah-salahan itu.

Gray dan Sheria menatap keduanya dengan heran. Erza dan Jellal memang sangat membingungkan. Perasaan cemburu Gray meluap-luap, sedang Sheria tersenyum kecil melihat pasangan itu. "Mereka serasi, ya..." ujar Sheria pada Gray. Kini Sheria telah berubah. Ia menganggap Jellal sebagai teman. Malah sekarang ia bersemangat untuk menjodoh-jodohkan Jellal dan Erza.

"Serasi apanya?!" timpal Gray tidak terima. Ia mendengus lalu berjalan mendekati Jellal Erza yang berjalan beriringan itu. Kemudian Gray menyingkirkan Jellal agar Gray dapat bersebelahan dengan Erza.

"Erza, bagaimana keadaanmu? Baik?" tanya Gray dengan perhatian.

"Baik, Gray. Terima kasih sudah perhatian padaku." Balas Erza sambil tersenyum manis. Di balik tubuh Gray, ada seorang yang berambut biru merasa kepanasan karena hatinya serasa tersulut api kecemburuan.

Gray membalas senyum Erza lalu ia berpaling pada Jellal yang ada di belakangnya itu. "1-3." Kata Gray tanpa suara tapi Jellal dapat menangkap vokal pria es yang selalu memakai baju ketat itu, Gray.

Jellal mendengus.

Pada saat makan, Jellal dan Gray juga seringkali bertarung semu. Mereka berebutan duduk di sebelah Erza, berebut memberikan tisu pada Erza, berebut melemparkan perhatian kepada Erza. Sialnya, kali ini Gray yang selalu menang. Oleh sebab itu kini Jellal terus menekuk wajahnya. "4-3, Jellal." cetus Gray dengan bangga.

Gray memasuki bus setelah Erza dan Jellal di belakang Gray. Bahkan di pintu masuk bus ini mereka rebutan masuk duluan. "Aku duluan, baka!" oceh Gray sambil mendorong-dorong Jellal.

"Kau lamban! Aku duluan!" balas Jellal tak mau kalah. Keduanya sama kuat dalam hal dorong-dorongan. Hingga belasan orang yang ingin masuk ke bus menunggu atraksi mereka berdua yang menghalangi jalan masuk itu selesai.

Akhirnya sang mantan ketua Fairy Tail pun melerai, "Kalian menghalangi jalan, baka!" omel Lyon sambil memisahkan keduanya secara paksa dan menendang mereka jauh dari bus.

"Ah sial, tendangan aniki sakit sekali!" gerutu Gray yang mengelus-elus pantatnya itu.

"Ini salahmu." Ujar Jellal yang telah berdiri dan menepuk-nepuk tubuh bagian belakangnya yang berdebu karena terkena tanah.

Gray menggeretuk, "Kau juga salah, baka!" lagi-lagi mereka bertengkar. Hingga pada akhirnya Sherry menjitak keduanya.

"Hahaha! Rasakan jitakan maut Sherry-senpai!" ejek Natsu sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kau juga diam!" Sherry juga menjitak Natsu.

"Kenapa jadi aku..." cicit Natsu tidak terima.

Akhirnya semua Fairy Tail sudah memasuki bus. Jellal dan Gray duduk di kursi paling belakang dengan Erza di tengah-tengah mereka. "Hari ini kenapa kalian selalu bertengkar, sih?" tanya Erza penasaran.

"Tanya saja ke orang sok seksi itu." sahut Jellal sambil mendongakkan kepalanya pada Gray.

Gray bersungut-sungut. Lalu Erza bertanya padanya, "Kenapa, Gray? Apa alasan di balik pertengkaran kalian?" tanya Erza.

"Tanya saja serigala biru itu, Erza."sahut Gray melemparkan pertanyaan Erza pada Jellal.

"Enak saja. Tanya saja si Gray!"

"Tanya Jellal!"

Mereka saling lempar melempar pertanyaan berulang kali, hingga kesabaran Erza menipis. Dengan cepat Erza meninju perut keduanya hingga kedua orang yang mengapitnya ini merintih kesakitan. "Dasar menyebalkan!" ucap Erza dengan kesal.

"Erza, maksudku asisten, seharusnya kau tidak usah tahu." Kata Jellal yang mengelus-elus perutnya. Erza kemudian menatapnya dengan tajam membuat Jellal sedikit bertanya-tanya. Erza mendekatkan wajahnya ke telinga kanan Jellal dan membisikkan sesuatu. "Begitu, ya..." bisik Erza yang serasa menggema di telinga Jellal hingga bulu kuduk Jellal meremang. Inilah kekuatan kedua Erza setelah pukulan dan tendangannya. Permasalahannya Jellal belum dapat memecahkan kekuatan Erza yang kedua ini. Kekuatan yang unik sehingga membuat Jellal bertanya-tanya.

Sebelum sampai di Fiore, rombongan Fairy Tail pun mampir dulu ke Mermaid Store, toko untuk membeli oleh-oleh khas Pegasus Hills. Mereka singgah di tempat oleh-oleh ini kurang lebih selama satu jam dan sekitar pukul 15.30 barulah mereka menempuh perjalanan ke Fiore.

Meski jam masih menunjukkan sore hari, namun langit sudah gelap. Perjalanan pulang terasa begitu panjang. Apalagi terkesan tambah lama karena jalanan yang macet. Karena perjalanan yang lama ini, terlebih langit dan suasana busnya gelap dan hening rasa kantuk pun datang menyerbu semua orang di bus itu kecuali untuk si pak supir tentunya.

Jellal masih terjaga, matanya memandang luar jendela bus. Dilihatnya mobil-mobil yang berjalan merayap karena padatnya lalu lintas. Daerah perbatasan Pegasus dan Fiore memang terkenal selalu padat. Sepintas ia menoleh kepada dua teman di samping kanannya, namun dua temannya itu juga tertidur sama halnya teman-teman yang lain.

"Dasar kerbau." Ejek Jellal pada Erza dan Gray yang sedang tertidur pulas itu. Jellal kemudian memutuskan untuk mendengarkan musik dengan earphone-nya, siapa tahu juga bisa membuatnya mengantuk.

Begitu perjalanan mulai lancar, bus ini melaju di jalanan berkelok-kelok. Maklumlah pegunungan. Jellal menyukai jalan berkelok-kelok, karena ia merasakan tubuhnya terbawa oleh udara jika melewati jalan berkelok-kelok. (?)

PUK!

Kepala Erza mendarat di bahu Jellal dengan nyamannya. Menyadari itu gejolak aneh di dada Jellal lagi-lagi terjadi. Jellal menyentuh dada kirinya bermaksud untuk meredakan gejolak aneh itu. Ia menunduk untuk melihat gadis yang terpejam dan terlihat lelah itu. Degup jantungnya malah makin kencang. Bahkan ia sendiri dapat mendengar degup jantungnya itu.

Jellal mengedipkan matanya dan menghela napas pelan. Dilihatnya lagi Erza yang bersandar di bahunya sendiri. Degup jantungnya belum normal dan kini matanya malah tertuju pada Erza sepenuhnya. Ia membetulkan posisi tubuhnya agar gadis itu nyaman.

Apa aku menyukai gadis ini..? menyukai Erza... kata Jellal di dalam hati. Ia menggeleng dan berusaha menyingkirkan pikiran anehnya itu. "Ah, aku ini sudah gila!" rutuk Jellal pada dirinya sendiri.

Ia memutuskan untuk kembali melihat luar jendela dan fokus mendengarkan musik merdu di telinganya itu..

"... Would you swear that you'll always be mine?

Would you lie? Would you run and hide?

Am I in too deep? Have I lost my mind?

I don't care. You're here tonight..."

Jellal tersenyum masam mendengarkan lagu dari earphone-nya itu, "Sial, kenapa lagunya seperti mengejekku.." rutuknya dengan lirih. Lirik lagu itu cukup cocok untuk menggambarkan isi hatinya saat ini.

.

CHAPTER 10 END!

*) Potongan Lirik Lagu: Hero – Enrique Iglesias.

TARAA! Maaf jika chap ini kurang jelas.. Hehe. Di chap selanjutnya kita akan memulai ketegangan sesungguhnya dari fanfic ini (?) Review dari para reader sangat diterima dengan tangan terbuka oleh Karu! ^^ terima kasih!