WARNING!
IT'S CHENMIN/XIUCHEN! SLIGHT CHANBAEK, HUNHAN, XINGDAE/LAYCHEN! BOYxBOY! HOMOPHOBIC MENJAUH, GAK USAH DEKET DEKET SANA HUSH HUSH!
RATE SUATU SAAT BISA NAIK JIKA AUTHOR SEDANG MOOD :v
ALUR GAJE, CERITA PASARAN, BAHASANYA JUGA ACAK KADUT, NO JUDGE PLEASE :))
SELAMAT MEMBACA
"Jongdae, selamat pagi."
"Pagi, Jongdae-ya,"
"Kyaaa! Jongdae tampan sekali!!"
Jongdae mendengus. Tampan darimananya? Pipinya masih merah akibat tamparan Baekhyun tadi malam. Dia berjalan menuju loker dan membukanya.
Cklek, bruukk!
"Uwoah!" Jongdae mundur beberapa langkah. Daebak! Isi lokernya cokelat semua! Plus tulisan-tulisan tidak jelas dari para penggemarnya. Dia tak tertarik dengan coklat itu, matanya menerawang ke dalam loker. Akhirnya dia tersenyum ketika melihat ada bakpau di ujung loker.
Jongdae membawa bakpau itu dan membuka tulisan di dalamnya,
"Jongdae, aku minta maaf untuk yang kemarin. Maafkan aku ya?"
Membaca itu membuat Jongdae terkekeh pelan. Dia masih punya keyakinan 100% kalau orang yang memberinya bakpau dan tulisan itu tak bisa jauh-jauh darinya. Jongdae memasukkan seluruh cokelat yang jatuh tadi ke dalam lokernya lagi, membawa bakpau nya lalu pergi ke kelas.
"Kenapa kau disini?" Tanya Jongdae ketika melihat Baekhyun duduk di tempatnya. "Aku membatalkan pindah tempat duduk!" Seru Baekhyun. "Tidak bisa! Kita sudah sepakat di rumah untuk tukar tempat duduk!" Jongdae geram.
"Kau berisik, Jongdae! Akan ku bakar bebek karet ungu mu jika kau masih memaksa!"
Jongdae langsung pergi dan menyimpan tasnya di sebelah Minseok. Persetan! Dia masih sayang bebek karet ungunya. "Awas kau! Bacon mu akan kumakan pulang nanti!" Teriak Jongdae. Baekhyun menatap Jongdae tajam. "Jadi? Kau mau ini kubakar?" Tanya-nya sambil mengangkat sesuatu.
SIAAL! ITU BEBEK KARET UNGU NYA! SEJAK KAPAN ADA DI TANGAN BAEKHYUN?!
"Andwaeeee!~ Hyung mianhaaeeeeee" Jongdae merengek sambil mendekati Baekhyun. Seisi kelas tertawa, uh-oh, image mu hancur wahai Pangeran Jongdae. Yang di tertawakan hanya cengengesan dengan wajah memerah. "Awas kau sialan" ancam Jongdae.
Baekhyun mengambil korek di tasnya. "Kubakar!"
"Tidak, tidak, Hyung!" Jongdae merebut bebek tercintanya. "Uh Chennie sayang, kau baik-baik saja?" Tanya Jongdae pada bebek karetnya. Baekhyun memutar bola mata. "Hentikan, Jongdae, kau membuatku malu punya adik sepertimu," ucap Baekhyun. Jongdae mendengus dan kembali ke kursinya.
Tepat saat itu, Minseok baru kembali dari kelas Luhan. Jongdae yang baru duduk menatap Minseok.
Krik
Jongdae nyengir. "Aku.. kembali kesini ya?" Ucapnya mencoba menghilangkan canggung. "Okay," balas Minseok singkat, dia langsung duduk di sebelah Jongdae. "Minseok?"
"Ya?"
"Bakpaunya, gomawo." Jongdae menoleh ke kiri dan tersenyum. "Hm.." Minseok acuh dan menjatuhkan kepalanya di meja. Tapi dia bangun lagi dan menoleh ke belakang. "Sehun-ah, kau hari ini ada janji?"
'Kenapa Minseok bertanya hal itu?'
Sehun mengangguk. "Fighting! Luhannie itu tak banyak mau nya kok, kau memperlakukannya dengan baik maka dia akan memperlakukan mu lebih baik," ujar Minseok sambil tersenyum. "Nde, gomawo Minseok-hyung.."
"Hyung?" Jongdae berbalik dan ikut nimbrung. "Wae? Aku kan lebih muda setahun dari kalian.." kata Sehun. Dia memang maknae di angkatan Jongdae, dia mirip Chanyeol, masuk lebih cepat. "Tidak bukan itu, harusnya kau memanggilnya Noona, kalau aku, Hyung," Jongdae tertawa.
Buk!
"Enak saja! Aku namja!" Seru Minseok setelah memukul bahu Jongdae. "Tapi kau terlalu manis untuk seorang namja, Hahaha.."
Sehun dan Minseok mematung. Tak usah di tebak lagi, muka Minseok sudah memerah. "Apa kau baru saja menyatakan perasaan, Hyung?" Tanya Sehun. Jongdae menghentikan tawanya dan menatap Sehun horor. "Enak saja!" Serunya.
.
.
"Han Minseok?"
Minseok berbalik dan menatap datar yeoja di hadapannya. "Kenapa?" Tanya-nya. "Eum.. a-aku menyukaimu.. tolong ambil!" Yeoja itu memberikan amplop lucu pada Minseok dan kabur.
"Woah?" Minseok takjub. Dia membolak-balik amplopnya. Kemudian dia tersenyum dan memasukkannya ke saku. "Buang itu," Minseok terkejut dan menatap Jongdae.
"Wae?" Tanya Minseok. "Tentu saja kau harus membuangnya. Kau menyukaiku kan?" Balas Jongdae sengit.
Poof!
Minseok memerah seketika. Tapi dia langsung geleng-geleng. "Tidak, aku menghargai perasaan nya, jadi aku takkan membuangnya.." Minseok nyengir. "Jadi kau pikir aku tak menghargai perasaan mu?" Jongdae mendekat. "Bukan begitu Jong–"
Chu
"Hati-hati dijalan, Minseokkie.." Jongdae tersenyum jahil dan lari. "KIM JONG DAE SIALAAN!!" Minseok berteriak kesal dengan wajah memerah sempurna dan jantung yang berdetak sangat kencang.
.
.
"Ish, Minseok pabbo!" Umpat Minseok sambil menggulingkan badannya di kasur. "Minseokkie~ aku punya game baru! Ayo main!" Chanyeol masuk ke kamar dan menarik Minseok paksa. "Game apa?!" Minseok berseru, dia antusias.
Chanyeol nyengir. "Entah sih, aku diberikan game karena Appa bilang game nya gagal," ujarnya. Appa nya memang kerja di perusahaan Game, jadi Chanyeol bisa mencoba semuanya, lebih tepatnya tester :v makanya Minseok betah dekat-dekat Chanyeol.
"Waktu itu juga ada yang gagal, tapi seru kok.." Minseok mengambil CD game di tangan Chanyeol. "Tapi katanya ini permainan buat para yeoja," Chanyeol menjelaskan. "Ah peduli amat, intinya jika itu game, aku akan memainkannya." Minseok langsung memasukkan CD tadi ke DVD Player yang tersambung dengan konsol PS nya.
"Oh?" Minseok menatap halaman awal baik-baik. "Ini semacam simulator mendapat cowok, ya?" Lanjutnya. Chanyeol mengangguk. "Tidak seru sih, tapi karena sudah masuk game, mainkan saja." Minseok tertawa mendengar perkataan Chanyeol.
Minseok memainkan game nya serius. Sesekali Chanyeol memberi saran untuk Minseok agar tidak memilih jawaban yang salah. Jika salah, maka si 'pacar' dalam game tersebut akan pergi meninggalkan yeoja tokoh utamanya.
TETERET TETET!~ HAPPY ENDING!~ Wanna play again with other stories?
Minseok mematung. Dia menatap Chanyeol. "Wae?" Tanya yang ditatap. "Kenapa aku merasa game tadi .."
"Ah lupakan, makan yok," Minseok menggantungkan ucapannya dan menarik Chanyeol ke meja makan.
.
.
"Ijen arayo neomu gipeun sarangeun, oeryeo selpeun majimageul gajyeoon daneun geol~"
Puk!
"Wuaahh kampret! Kau mengejutkanku," seru Jongdae sambil mengelus dadanya. Baekhyun nyengir. "Buat festival?" Tanya-nya. Jongdae mengangguk. "Kau main solo?"
"Ani, aku main dengan pacarmu, Hyung."
"Hah? Jangan bilang kau mau menikung?!" Seru Baekhyun. Jongdae memutar bola matanya. "Aku tidak tertarik pada Ceye, dia terlalu tinggi, tak bisa dijangkau." Ujarnya. "Pantas saja kau memilih Minseok yang gembul dan beda beberapa centi darimu,"
Jongdae mengangkat gitarnya, hendak memukul Baekhyun. Tapi Baekhyun langsung kabur. "Mengganggu saja," kesalnya. Dia memasukkan gitarnya ke dalam sarung gitar lalu merebahkan dirinya di ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
Dia jadi ingat kejadian tadi sore, saat dia mencuri sebuah kecupan singkat di bibir Minseok. Jongdae sudah menghitungnya, itu ciuman keempat mereka. Pertama, yang tidak sengaja. Kedua, Minseok yang meminta. Ketiga, Minseok pula yang duluan. Dan keempat, Jongdae. Dia tak mau Minseok terus yang memulai, kalau begitu, lama-lama dia bisa jadi uke yang terus disosor.
Jongdae tersenyum mengingat pernyataan Minseok sore itu di Taman. Dia merasa bersalah, sih, tapi dia lega, karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Puk!
Jongdae menepuk keningnya. "Yak! Kau tidak menyukainya, Jongdae!" Serunya kesal. "Tapi apa benar Minseok menyukaiku? Siapa tau waktu itu dia hanya kena dare dari Luhan atau Chanyeol kan?" Jongdae bermonolog.
"Wajahnya sering memerah sih kalau dekat denganku, tapi, siapa yang tidak malu jika berdekatan dengan orang yang baru saja kau nyatakan perasaan padanya? Semua pasti malu, walau hanya dare.." lanjutnya.
"Hhh.. Minseok, kau terlalu rumit untukku. Tapi biarkan aku mencari rumus untuk menyelesaikannya. Dan aku tidak akan membiarkan seorang pun menyelesaikannya sebelum aku. Aku akan ikut alur permainan mu mulai sekarang," Jongdae menyeringai.
.
.
cieee ngaku juga kan akhirnya. jangan saling egois gitu napa T_T
