Bagian 5, Ketika Gelisah Menyapa
HANYA KOSONG YANG MENYEKAT SETIAP INCI RUANG BATIN. BAHAGIA SEPERTINYA TENGAH ANGKUH DAN MENJAUH DARI TEPIKU. DALAM WIRID LEMAH, AKU HANYA BISA PASRAH: TEMANIKU TUHAN DALAM KEHAMPAAN INI.
...
Ketika getar itu mengecup pucuk pengharapanku, kenapa justru ragu yang menyergap warasku. Letup kangenku tiba-tiba menciumi basi tanpa permisi.
Red's POV
"Oke, Pika, kau siap berlatih denganku sekarang?" tanyaku pada Pika dengan suaraku yang tidak biasanya lemah seperi kurang makan. Pika juga menyadari itu dengan memasang wajah heran.
"Ada apa? Ada yang salah?" tanyaku. Pika hanya mengangguk. Aku hanya bisa mengambil napas dalam-dalam karena aku tahu baru saja aku gagal membohongi Pikachu-ku sendiri.
"Ya, aku mengaku. Aku memang kangen Yellow. Tapi ..." kataku, bingung ingin berkata apa. Aku dan Pika hanya terdiam saja sampai akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan acara diam-diaman ini.
"Yellow menelepon kalau dia akan pergi ke daerah yang jauh dimana sinyal dari Kanto tidak akan terasa. Jadi, aku dan dia harus berpisah beberapa saat. Dia sudah berkata kalau dia akan baik-baik saja, tapi aku tetap saja ragu dan takut. Menurutmu, itu wajar tidak, Pika?" tanyaku. Pika hanya bisa memiringkan kepalanya. Itu mengingatkanku.
"Oh, ya, kau tidak mengerti bahasaku. Mungkin lebih baik aku pergi ke Blue untuk membicarakan ini," kataku.
"Pika?" tanya Pika.
"Hmmm, benar juga, mungkin aku harus fokus ke latihanku. Kalau aku bicara ke Blue, pasti Blue akan langsung curiga denganku," kataku sambil terkekeh. Akhirnya dengan langkah yang masih perlahan, aku dan Pika pergi dari rumahku dan bersiap untuk berlatih.
Bisakah kita bertemu lagi, Yellow?
...
Gelisah berjalan seiring di atas titian gundah. Menanti saat perjumpaan tiba dengan berpeluh resah yang tak usai merunut ke rumah, hatimu jualah!
Yellow's POV
Aku sedang berada di ruang tunggu sebuah pesawat. Duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Aku melihat banyak orang berjalan di bandara itu. Ada yang terlihat membawa koper, ada yang terlihat santai dengan pakaian pantainya, ada yang baru saja turun dari pesawat dan siap untuk melanjutkan perjalanannya, bahkan ada beberapa orang yang memeluk orang yang mereka cintai setelah mereka datang.
Termasuk sepasang kekasih yang saling berpelukan setelah lama berpisah.
Itu yang sebenarnya aku ingin lakukan.
Aku sedang menunggu Red-san yang sedang dalam perjalanan dari Unova ke Kanto setelah tugas yang berhubungan dengan Pokedex yang diberikan oleh Profesor Oak. Aku senang saat Red-san menelepon kemarin. Dia berkata bahwa hari ini dia akan kembali ke Kanto.
Aku sudah menunggu selama kurang lebih 2 jam. Red-san berkata bahwa pesawatnya akan mendarat sekitar pukul 12.00. Aku melihat jam di sana dan sudah menunjukkan pukul 11.44. Sebentar lagi. Sebentar lagi Red-san akan datang.
Aku melihat papan informasi penerbangan, dan aku melihat bagian Red-san. Disana tertulis masih ada dalam perjalanan. Beruntunglah, masih dalam perjalanan. Itu berarti Red-san masih aman di perjalanan.
Entah tiba-tiba aku harus pergi ke toilet dulu. Menunggu dua jam itu tidak enak kalau dibarengi dengan menahan hasrat untuk buang air kecil.
...
Betapa kagetnya aku saat aku melihat kembali papan informasi penerbangannya. Tulisannya berubah menjadi "tertunda". Pesawat yang membawa Red-san tertunda untuk datang ke sini.
Itu membuatku khawatir dengan keadaannya. Bahkan SMS darinya beberapa detik yang lalu yang menuliskan bahwa dia baik-baik saja belum membantu.
Aku harus menunggu dengan resah sekarang.
...
Kenapa hanya diammu yang kudekap hari ini? Maafkan aku tak di sana saat kau gelisah. Lindungi aku dari bencimu jika kau tak bahagia.
Yellow's POV
"MAAFKAN AKU, RED-SAN!" teriakku.
Dia terdiam.
"RED-SAN! AKU MINTA MAAF! AKU TIDAK SENGAJA KETIDURAN," kataku.
Dia masih terdiam.
"KAU MARAH KEPADAKU, RED-SAN? KALAU YA, KUMOHON MAAFKAN AKU!" seruku lagi, sambil menangis deras bagaikan air terjun. Namun yang kuajak bicara masih diam sejuta bahasa.
"RED-SAN! KAU MENDENGARKANKU ATAU TIDAK?" tanyaku dengan teriakan yang belum pernah aku keluarkan sebelumnya. Namun sepertinya Red-san masih terdiam.
"Red-san! Kumohon bicaralah padaku! Aku tahu aku salah karena lupa kalau kita punya kencan hari ini dan aku ketiduran. Tapi aku masih ingin bersamamu, Red-san!" seruku. Red-san masih terdiam, berdiri tidak jauh dariku.
Sebenarnya keadaannya genting di sini karena Red-san berdiri di dekat tebing dan aku takut kalau Red-san akan melompat dari sana. Kalau itu terjadi, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri dan melakukan hal yang sama.
Tapi aku benar-benar berharap itu tidak terjadi.
Dan benar saja, setelah beberapa saat, akhirnya Red-san berbalik dan melangkah mendekatiku. Aku sempat takut karena aku tidak tahu apa yang dilakukan Red-san terhadapku. Dia hanya memberikan tatapan dinginnya padaku. Saat dia akhirnya selangkah dariku, mengejutkannya, justru Red-san memelukku dengan erat.
"Maaf, Yellow, maaf ..." katanya, sambil melepaskan tangisan lembutnya. Aku hanya bisa memeluknya balik.
Aku tahu kalau Red-san memaafkanku hanya dari pelukan ini. Dia juga tidak membenciku sama sekali walaupun aku lupa tentang kencan kita.
...
Menikmati kesendirian ditengarai sepi yang tak usai mencecap keterasingan ... dari adamu, dari jerat rindumu, dari apapun tentangmu.
Red's POV
Satu hari lagi tanpa Yellow. Satu hari lagi tanpa matahari. Satu hari lagi tanpa cerianya. Ini akan menjadi hari yang membosankan bagiku.
Semenjak dia pergi, hidupku menjadi kehilangan warna kuningnya. Matahari menjadi kelabu, bunga matahari menjadi kelabu, semua yang ada namamu menjadi kelabu tanpa kehadiranmu.
Sepi rasanya.
Setelah dia pergi dari dunia ini, rasanya aku malas untuk melakukan apapun. Yang menyadari anomaliku untuk pertama kalinya adalah Green. Aku dan Green sedang berlatih bersama saat tiba-tiba aku mengingatnya lagi dan membuatku malas.
"Red, kau mengapa? Terlalu lemah untuk melawanku kali ini?" tanya Green.
"Sial! Aku kuat, tahu?" tanyaku.
"Lalu aku menunggumu untuk menyerang, tapi kau hanya diam saja seperti orang yang terlalu banyak berpikir," kata Green.
"Aku tidak memikirkan banyak hal selain cara agar bisa mengalahkanmu, Green!" seruku.
"Kau jangan bohong. Kau bukan Blue. Kau Red. Aku tahu kau tidak bisa berbohong seperti Blue. Aku menghentikan latihannya," kata Green sambil memasukkan Pokemon yang dia latih ke dalam bolanya.
"Hei, mengapa kau menghentikan latihannya?" tanyaku.
"Emosimu belum stabil. Apa yang terjadi beberapa saat yang lalu masih memengaruhimu. Aku tidak bisa melawan orang yang masih belum stabil seara emosional karena ketimpangannya akan sangat jauh. Karena itulah aku menghentikan latihannya," kata Green, lalu dia berbalik dan setelah beberapa langkah, dia berhenti.
"Kunjungi pemakamannya. Lepaskan semua emosimu di sana," lalu Green berjalan lagi.
'Bagaimana bisa Green tahu?' pikirku.
Pada saat itulah aku merasakan sepi yang terus menghantui semenjak perginya Yellow.
...
Mencoba berdamai dengan ego yang mulai mengundang amarah. Entah karena dia yang masih diam tanpa tanda-tanda atau karena lelah ini telah sampai di titik tengah?
Yellow's POV
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, Red-san! Mengapa kau harus pergi?" tanyaku.
"Ini untuk menyelamatkan dunia, Yellow," kata Red-san.
"Aku juga ingin menyelamatkan dunia juga, Red-san!" seruku.
"Tapi itu berbahaya. Nanti kalau kau celaka, bagaimana?" tanya Red-san.
"Red-san, kita pernah celaka bersama. Mengapa sekarang kau seperti tidak ingin membiarkanku pergi?" tanyaku.
"Aku tidak ingin kau menderita karena kau mendapatkan musibah," kata Red-san.
"Red-san, kau tahu tidak?" tanyaku.
"Apa?" tanya Red.
"Red-san, aku akan jauh lebih menderita kalau Red-san mendapatkan musibah dan aku tidak ada di sana untuk menolongmu. Itu sama dengan aku tidak bisa melakukan apa-apa saat kau membutuhkanku. Itu akan jauh lebih menyakitkan daripada aku membatu atau kau membeku, Red-san. Kau harus tahu itu," kataku.
Red-san hanya terdiam. Dia terdiam lama. Mungkin dia kelelahan dari konflik berkepanjangan ini atau ...
Apa yang kukatakan itu benar. Akhirnya, setelah lama terdiam, Red-san bicara.
"Yellow, aku tahu ini akan sangat menyakitkan. Peperangan bukan tempat untuk orang berhati lemah, juga bukan tempatnya para penakut. Kau yakin akan ikut denganku?" tanya Red-san.
"Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa aku akan ikut denganmu sampai titik darah penghabisan. Bersama, kita akan memenangkan peperangan ini," kataku.
"Baiklah, kalau itu maumu. Persiapkan dirimu. Aku menunggumu di sini," kata Red-san. Aku mengangguk dan langsung mempersiapkan peralatanku.
Lebih baik aku mati bersama Red-san daripada hidup tanpa Red-san.
...
Jejakku menepi. Hadirmu seperti tak menyisakan apa-apa lagi selain damba basi. Sekelebat senyum yang mengusik tidurku, hilang begitu saja tanpa arti.
Red's POV
"Red-san! Ayo tangkap aku!" seru Yellow.
"Aku akan menangkapmu!" seruku.
Aku dan Yellow sedang berlarian di taman bunga yang luas di tepian hutan Viridian. Aku berusaha untuk mengejar Yellow yang berlari di depanku. Kami berdua bersuka ria. Kami terus berlari sampai akhirnya kami kelelahan.
"Oke, oke, aku menyerah, aku sudah lelah, Yellow ..." saat aku ingin melihat Yellow yang seharusnya ada di sampingku, ternyata kosong. Yellow tidak da di sampingku.
"Yellow? Kau di mana? Kau masih berlarikah?" tanyaku. Aku berdiri lagi dan mulai mencarinya. Aku berjalan menyusuri taman bunga itu untuk memastikan keberadaan Yellow. Namun setelah aku mencari selama beberapa saat, aku gagal untuk menemukannya.
"Yellow? Yellow? Ayolah, jangan bercanda, Yellow. Aku sudah lelah mencarimu," kataku. Aku terus berjalan di daerah taman itu sampai mendekati daerah hutan namun Yellow masih belum bisa ditemukan.
Aku bingung ingin mencari ke mana lagi, jadi kuputuskan untuk mencarinya di dalam hutan. Aku menyisiri semua bagian hutan sampai ke akar-akarnya, namun tetap saja hasilnya sama. Nihil.
"Ah, Yellow di mana ya?" tanyaku kepada diriku sendiri. Akhirnya aku hanya bisa memanggil Yellow sekarang, berharap dia datang.
"Yellow! Yellow! Yellow! Yellow!" berkali-kali aku memanggilnya namun tetap saja dia tidak datang.
...
Aku terbangun dari mimpiku dan baru menyadari kalau apa yang terjadi tadi hanyalah mimpi.
"Sial, ini pasti karena aku membaca buku tentang burung yang punah itu. Tapi mengerikan juga," kataku sambil mengingat apa yang baru saja kumimpikan.
...
Dalam perjalanan menjemput sang pemilik senyum bidadari yang telah mencatut gelisah jadi bertuah.
Red's POV
"Aduh, aduh, aduh, aduh ..." aku hanya bisa berputar-putar di depan ruangan dokter. Mengapa? Aku baru saja mengantar istriku, Yellow, ke rumah sakit untuk pengecekan rutin. Ya, terlihat bahwa perutnya Yellow sudah semakin besar, yang mana itu berarti Yellow harus bersiap untuk melahirkan. Masalahnya adalah, dari ukuran perut Yellow yang besar itu, sang dokter harus memikirkan cara kelahiran yang mungkin untuk Yellow.
Kemungkinan terbaiknya, cara normal. Kemungkinan terburuknya ...
"Tuan Red, pemeriksaan terhadap istri Anda sudah selesai dan Anda dipersilakan masuk ke ruangan dokter," kata seorang perawat yang mendekatiku.
"Oh, sudah? Terima kasih," kataku, lalu aku masuk ke dalam ruangan dokter kandungan itu. Setelah aku masuk ke dalam, aku langsung disambut dengan senyuman dokter yang agak mengerut.
"Tuan Red, silakan duduk," kata sang dokter. Yellow sudah duduk di sampingku dari tadi. Wajahnya menunjukkan senyumnya, namun di balik itu, ada sedikit yang membuatku khawatir.
Bekas air mata.
"Ummm, dokter, semuanya baik-baik saja?" tanyaku.
"Ya, secara garis besar. Anak anda tumbuh dengan normal," kata sang dokter. Lalu dia melihat kertas hasil penelitiannya lagi.
"Namun ada satu hal yang Anda harus sangat perhatikan," kata sang dokter lagi.
"Apa itu, dok?" tanyaku.
"Ya, bayinya tumbuh dengan ukuran normal, yang berarti sedikit terlalu besar untuk Nyonya Yellow. Itu berarti ..." sang dokter terdiam sebentar.
Lalu ...
...
"Yellow, kau yakin akan kuat dalam menjalani ini?" tanyaku.
"Ya, Red-san. Ini satu-satunya cara aman untuk melahirkan anak kita," kata Yellow.
"Baiklah, asalkan kita melaluinya bersama, kita pasti kuat," kataku. Yellow mengangguk.
"Baiklah, lebih baik kita mempersiapkan hal lain sekarang," kataku. Lalu kami berdua melihat kembali tulisan pada laporan dokter tadi.
OPERASI CAESAR
...
Terkesiapku ditelan damba yang mengecup hampa. Maunya hari mengeja hari bersama sapa dan tawanya, ternyata hanya sekelebat bayangnya saja yang tersisa.
Yellow's POV
Aku bosan. Setiap kali aku pulang ke rumahku, pasti suasananya sepi. Aku tinggal sendiri di rumah ini, hasil dari kerja kerasku sebagai Penyembuh dan pelukis. Aku bisa bersantai di dalam rumahku setelah kerja keras yang melelahkan itu.
Aku memang perlu banyak istirahat karena kerja keras bukan hal yang biasa aku lakukan. Aku hanya bisa bersantai dalam proses menggambar dan menyembuhkan Pokemon, namun yang paling melelahkan adalah dari penyembuhan Pokemon yang membuatku harus menyedot bangak tenaga.
Anehnya, tenagaku kembali kalau salah satu pelanggan penyembuhan Pokemon yang datang adalah dia. Ya, dia. Laki-laki petarung yang menjadi juara dalam lomba Pokemon itu. Dia sering datang ke tempatku untuk menyegarkan Pokemonnya kembali setelah mereka berlatih keras.
Aku ingin sekali dia datang terus kemari, memintaku untuk menyembuhkan Pokemonnya, berbincang banyak hal, berbagi ilmu bersama, bahkan sampai lupa waktu dan menjaga tempat kerja dan rumahku bersama.
Sayang hanya bayangannya saja yang ada sekarang. Dia pergi ke alam baka sebulan yang lalu karena kecelakaan dalam pertarungannya. Aku sempat memakai kekuatanku untuk menyelamatkannya, namun ternyata aku gagal.
Ya, jadi yang tersisa hanyalah sepi di tempat kerjaku. Aku hanya melukis sambil menunggu pelanggan lain datang, meminta Pokemon mereka disembuhkan.
Sayangnya, itu bukan kau, Red-san ...
...
Sedih melukis wajah layu. Tak kutemui binar tawa dan manja sapamu membasuh sepiku. Kenapa justru tawar sikapmu yang kudekap di batast tidurku yang tak lena?
Yellow's POV
Aduh, aku stres! Aku benar-benar stres. Akan ada ujian tengah semester untuk pelajaran yang aku ambil, yaitu Biologi Dasar. Ada cukup banyak bab yang harus kuingat-ingat untuk ujiannya, dan ujiannya tinggal besok.
Ya, besok. Aku bodoh sekali untuk lupa belajar dari jauh hari, dan sekarang, aku harus mendapatkan getah pahitnya.
Bahkan, percakapanku dengan Red-san masih belum membantuku menghilangkan stresku. Bahkan, lebih buruk lagi.
"Aaaahhh, akhirnya, pekerjaanku selesai juga. Bagaimana denganmu, Yellow?" tanya Red-san.
"Aku masih belum selesai, Red-san," kataku, masih fokus dengan pelajaranku sambil menulis jawaban dari pertanyaan Red-san.
"Oh, oke. Dan sekarang ..."
"Red-san ingin tidur sekarang?" tanyaku. Aku kembali fokus ke bahan pelajaranku karena Red-san sepertinya belum membalas pesanku. Mungkin dia sudah ...
"Aku sedang melihat langit. Agak samar, tapi aku bisa melihat rasi bintangmu, Yellow," kata Red-san. Sepertinya dia sedang berada di luar rumah sambil melihat bintang di langit.
"Ayolah, Red-san, jangan menggangguku dulu, aku masih fokus dengan pelajaranku. Tesku tinggal besok," kataku sambil fokus ke pelajaran lagi. Aku tidak punya waktu untuk membayangkan hal itu. Lalu kemudian, Red-san membalas dengan sebuah pesan.
"Baiklah, aku akan melihat sendiri saja," katanya. Aku baru sadar beberapa menit kemudian karena aku masih sibuk dengan pelajaranku. Lalu, aku membalas pesannya.
"Kalau ada yang bagus, beri tahu aku," kataku. Namun kemudian, Red-san membalas dengan pesan yang terlihat sedih.
"Ahh, entahlah, aku ingin tidur saja. Tiba-tiba aku tidak sedang ingin melihat bintang, ya, bisa dibilang bad mood. Selamat melanjutkan belajarmu, Yellow. Selamat malam," kata Red-san di pesan terakhirnya.
Pada saat itulah aku baru menyadari apa yang aku lakukan. Fokusku terhadap pelajaranku justru membuat Red-san seperti sakit hati. Aku tahu ini terlambat, namun paling tidak kita berdua bisa berbicara besok tentang hal ini. Aku membalas pesannya.
"Selamat malam, Red-san, maaf telah membuatku bad mod,"
...
Selain bisik kangen, apalagi yang kau titipkan untukku? Sementara di satu sisi hatiku, rindu terus saja berontak, memanggil namamu dari kedalamannya.
Yellow's POV
Apa yang baru saja kulakukan? Apa yang baru saja kulakukan? Apa yang baru saja kulakukan? Aku baru saja membuat satu hati terluka karena tindakanku yang bodoh. Apa yang baru saja aku lakukan terhadap Red-san?
Aku sedang ingin mendekatkan rasa kami yang agak luntur karena kesibukan kami masing-masing, namun apa yang baru saja kulakukan ini justru menjauhkan kami dari kebersamaan yang sesungguhnya.
Aku tahu tugas dan ujianku memang berat, namun seharusnya aku tidak menyakiti perasaan orang yang telah bersusah payah berjuang untukku. Baru saja aku tidak peduli dengan apa yang Red-san lihat di matanya.
Akhirnya, Red-san hanya berkata selamat malam tanpa ekspresi senang yang biasa dia berikan padaku. Dia pasti sedih karena aku. Tapi justru aku yang sedih.
Aku baru saja membuatnya sakit hati.
Aku tidak akan bisa tidur nyenyak sampai aku minta maaf padanya atas apa yang terjadi malam ini. Ya, aku akan minta maaf besok, bahkan walaupun aku tahu Red-san juga akan meminta maaf padaku karena dia berpikir dia menggangguku dalam belajar.
Aku harus minta maaf kepada Red-san.
Waktunya memikirkan sebuah mimpi dimana aku mengejar Red-san.
...
Entahlah. Tiba-tiba aku ingin berhenti sejenak. Meniadakanmu dari bejana rinduku. Membiarkan sepi mencumbui setiap inci gundah yang bersemayam dalam adaku.
Red's POV
"Red, kau tidak ingin istirahat dulu?" tanya Silver.
"Tidak, terima kasih, aku masih kuat," kataku, masih mengetik lembar demi lembar tugas yang harus kukumpulkan dalam waktu dekat ini.
"Kau benar-benar tidak ingin istirahat? Kawan-kawan yang lain sudah istirahat semua, hanya kau yang belum," kata Silver.
"Tidak. Aku juga hampir selesai dalam mengerjakan ini," kataku.
"Oke, aku akan beristirahat. Kalau kau sudah selesai, bangunkan kami, oke?" tanya Silver, lalu pergi ke tempat tidurnya.
Ya, Silver, Diamond, dan Pearl menginap di kosku karena kami satu kelompok dalam satu tugas kuliah. Tugasnya memang akan dikumpulkan dalam waktu 4 hari mendatang, tapi daripada membuang waktuku, lebih baik aku menggunakan waktuku untuk mengerjakan tugas ini.
Saking fokusnya aku terhadap tugas ini, aku sampai lupa untuk mandi dan hanya memakan beberapa bongkah roti dan minum 3 gelas kopi tanpa gula agar aku tidak mengantuk dalam mengerjakan tugas. Untungnya itu sudah cukup untuk sekarang ini.
Aku harus fokus dengan pekerjaan ini. Aku tidak mau ada unsur yang mengganggu pekerjaanku, bahkan seekor nyamuk sekalipun. Jangan samai waktu terbuang sia-sia hanya karena aku memikirkan hal lain.
Dan maaf, untuk kali ini, termasuk kau, Yellow. Untuk kali ini, aku harus melupakanmu. Untuk kali ini saja.
Kembali ke tugas.
...
Hujan telah menunda jejakku menghitung abjad hari bersamamu. Aku hanya inginkan sabarmu, sejenak saja. Lindungi aku dari bencimu, jika kau disergap gelisah.
Red's POV
"Yah, sepertinya kita tidak jadi pergi kencan hari ini, Yellow," kataku, lewat telepon.
"Ya, Red-san. Hujannya deras sekali," kata Yellow.
"Ya, kencan pertama kita sepertinya harus kita tunda dulu," kataku.
"Aku sedih, Red-san. Sudah 6 kali kencan kita tertunda. 3 kali karena hujan, 2 kali karena aku sakit, sekali karena kau ada lomba Pokemon," kata Yellow.
"Ya, mau apa lagi? Inilah resiko kita, Yellow," kataku.
"Ah, aku maunya ada malam Minggu khusus untuk kita berdua, Red-san," kata Yellow, terdengar sedih.
"Aku juga, Yellow. Aku benci mengatakan ini tapi aku berharap minggu depan cuacanya lebih baik," kataku.
"Dan aku berharap ini bukan hanya berujung harapan saja. Aku sudah gelisah, Red-san. Sudah setengah tahun kita berjalan bersama, tapi belum sekalipun berkencan," kata Yellow.
"Ya, kencan yang sebenarnya, bukan kencan dunia maya," kataku.
"Aku ingin segera bertemu Red-san," kata Yellow, sedih.
"Aku juga, Yellow," kataku.
Lalu kami terdiam untuk beberapa saat. Kami bingung harus berkata apa. Bahkan, kami tidak sadar bahwa ternyata kami masih berhubungan lewat telepon kami, dan hujannya sudah berhenti.
"Yellow?"
"Ya, Red-san?"
"Ini jam berapa?" sedikit menunggu, mungkin Yellow sedang melihat jamnya.
"11 malam, Red-san. Mengapa?" tanya Yellow.
"Aku akan pergi ke rumahmu, malam ini, lalu kita nonton televisi bersama," kataku.
"Ehh? Red-san tidak perlu melakukan itu, aku tak apa-apa," kata Yellow.
"Kumohon, anggap saja ini kencan singkat kita," kataku. Sedikit tenang beberapa saat. Lalu ...
"Datanglah cepat, Red-san, aku sudah mengantuk ..." kata Yellow.
...
Ragu mulai mengulum damba. Di batas rindu yang belum jua menemui titik pengakhirannya, tercekatku oleh sikapmu yang menyisakan tanda tanya. Ada apa sebenarnya? Apakah ini semata hanya kekhawatiranku saja? Semoga ... iya.
Yellow's POV
"Ini Cydonia, kau bisa dengar?"
"Meridiani jelas mendengarkan. Ada apa?"
"Ada satu orang yang ingin bertemu denganmu,"
"Benarkah?"
"Ya. Dia lagi,"
"Oh. Katakan padanya aku masih punya 44 sol lagi sampai aku menyelesaikan misi ini,"
"Dia berkata bahwa dia akan bersedih selama itu juga,"
"Katakan padanya untuk bersabar sedikit,"
"Roger that,"
Crystal hanya bisa memasang wajah kecewanya lagi setelah memutus komunikasi dengannya.
"Maaf, Yellow. Dia tidak akan kembali dari pangkalannya di Meridiani sampai misinya selesai," kata Crystal.
"Aku khawatir pada Red-san," kataku.
"Tenang saja, kita sudah 210 sol di Cydonia. Dia pasti baik-baik saja," kata Crystal.
"Benarkah?" tanyaku. Crystal mengangguk.
"Kita lihat, sekarang Sol Saturni, tanggal 7 Scorpius 226. Ya, saat dia kembali dari Meridiani, dia akan merayakan ulang tahun Buminya," kata Crystal.
"Bagaimana kau bisa menghafal penanggalan itu? Aku saja masih bingung," kataku.
"Ada aplikasinya, jadi aku bisatahu sekarang tanggal berapa," kata Crystal.
"Crys, menurutmu Red-san akan baik-baik saja?" tanyaku.
"Jika dia dalam bahaya, pasti akan sinyal bahaya yang berbunyi di pangkalan kita. Lagipula, Red itu orang yang kuat," kata Crystal.
"Crystal, sepertinya kita perlu melanjutkan pelajaran penanggalan Darian," kataku.
"Nah, begitu, sedikitlah bersemangat untuk pengetahuan," kata Crystal.
Semoga kau baik-baik saja, Red-san ...
...
Terima kasih untuk senyum yang kautitipkan malam ini. Membasuh khawatirku pergi tanpa perih.
Red's POV
"Sebuah badai besar akan menerjang daerah Kanto pada 2 hari mendatang. Para alhi cuaca menyatakan bahwa badai ini memiliki kategori 5 pada skala Fujita, yang berarti kerusakan parah akan terjadi di daerah yang dilewati badai ini. Badai ini berkecepatan 350 km per jam pada masa puncaknya, yang akan terjadi di daerah pesisir Kanto. Untuk penduduk yang tinggal di sekitar pesisir, diharapkan untuk mengungsi ke tempat yang aman,"
Ya, itulah berita yang aku tonton kali ini. Itu juga yang menjelaskan mengapa belakangan ini turun hujan terus-menerus. Badai itu memang sudah terasa sejak 4 hari yang lalu. Hujan, suhu udara yang rendah, bahkan para Pokemonku malas bergerak. Memang hari yang membosankan.
Sebenarnya ada satu hal yang aku khawatirkan. Itu tentang Yellow. Dia sedang di rumahnya, sendirian, dan mungkin belum tahu bahwa badai segera datang. Aku punya rencana untuk datang ke rumahnya tapi masalahnya, sepedaku rusak dan tidak mungkin aku akan pergi ke sana dalam cuaca seperti ini.
Jadi, aku dan Yellow berkirim pesan.
Oke, ada kabar baik. Ternyata Yellow sudah siap dengan badainya. Saat aku bertanya apakah aku diperlukan atau tidak, dia menjawabnya dengan jawaban yang meyakinkan.
"Red-san, terima kasih atas tawarannya. Tapi aku sudah siap dengan badainya. Aku belum memerlukan bantuanmu. Tapi, kalau sekiranya keadaan menjadi lebih buruk, aku akan langsung menghubungimu. Tenang saja, Red-san," kata Yellow.
Ya, Yellow sudah dewasa sekarang. Dia menjadi jauh lebih kuat daripada saat kita pertama kali bertemu. Aku senang kalau dia akan baik-baik saja.
Paling tidak, kekhawatiranku sekarang bisa berkurang.
...
Kamu tidak secantik kemarin. Luap kekesalanmu mendakwaku surut satu langkah, lagi. Aku ingin kamu tersenyum, hari ini. Itu saja!
Red's POV
Ya, aku menyesali tingkah bodohku hari ini. Di saat badanku sakit, aku masih memaksa diri untuk berlatih dengan Pokemonku. Sekarang, badanku semakin sakit dan lemah. Sebenarnya bukan itu yang membuatku menyesali perbuatanku. Yang membuatku begini adalah apa yang dilakukan oleh istriku sendiri.
Saat aku pulang ke rumah dalam keadaan lemas, istriku hanya bisa berkacak pinggang sambil menggembungkan pipinya. Wajahnya memasang rupa kesalnya. Aku langsung berpikir bahwa dia marah padaku. Bagaimana seorang istri tidak marah kalau suaminya melakukan hal bodoh yang merugikan dirinya sendiri?
Jarang dia marah seperti ini. Biasanya dia berperilaku baik dan lembut. Ya, salahkan aku yang bertingkah bodoh hari ini.
"Red-san! Aku sudah bilang untuk tidak berlatih dulu! Kau malah menambah latihanmu. Seharusnya Red-san beristirahat sementara aku membuatkanmu makanan penghangat tubuh. Mulai hari ini sampai kau sembuh, kau tidak boleh keluar rumah!" serunya.
Aku remuk.
Tapi bohong.
Setelah sesi dimarahi yang singkat itu, dia langsung tersenyum.
"Red-san, lebih baik Red-san mandi sekarang. Air panasnya sudah kupersiapkan," katanya.
"Eh? Makanannya?"
"Sudah ada. Nah, Red-san mandi air panas dulu, pakai pakaian hangat, lalu datanglah ke ruang makan. Ada sup hangat dan jahe wangi di sana," katanya.
"Wah, jadi merepotkan begini. Maaf ya," kataku.
"Sudah, aku maafkan. Lain kali kalau tidak enak, lebih baih istirahat dulu," katanya.
"Bakilah. Aku mandi dulu," kataku.
"Hati-hati ya, Red-san?' tanyanya dengan manis.
"Ya, Yellow," kataku. Lalu aku pergi ke kamar mandi untuk menikmati mandi air panasnya.
...
Hampir saja rasa kesal menghampiri kesendirianku. Andai saja sapa manjamu tidak menyeruak di antara rindu yang menyergapku, mungkin aku akan terdiam seribu bahasa. Menyetubuhi angan kosong tanpa kata-kata. Terima kasih untuk kecup jauhmu, hari ini. Membawa setiaku khusyuk mencetak wajahmu, lagi dan lagi.
Red's POV
AAAARRRGGGHHHH! AKU BELUM BISA PULANG LAGI!
Lagi-lagi ada pertarungan Pokemon di Kalos. Padahal baru saja selesai satu pertarungan. Betapa sibuknya diriku ini. Itu membuatku harus tetap di Kalos lebih lama dan itu berarti, aku harus bersabar dari kesendirianku di sini.
Aku bisa saja berubah menjadi Green karena sikapku kali ini. Terdiam menghadapi lawan, berubah menjadi pasif, dan menjadi kaku karena aku terjebak dalam pertarungan yang lama ini. Bisa saja Green kaget karena aku berubah menjadi mirip dengannya.
Untungnya, aku tidak akan menjadi Green kali ini, atau kapanpun itu.
Baru saja Yellow meneleponku.
"Selamat siang, Red-san!" seru Yellow.
"Yellow? Bukankah ini malam di Kanto?" tanyaku.
"Ya, tapi aku ingin bicara dengan Red-san," kata Yellow.
"Oh, pas sekali. Aku bosan di sini. Selain bertarung dan bertarung, seperti tidak ada hal lain yang bisa kulakukan," kataku.
"Eh? Red-san belum selesai dengan pertarungannya?" tanya Yellow.
"Sudah, tapi akan ada lagi dalam waktu 3 hari. Ya, kau tahu rasanya kalau terjebak dalam pertarungan dan tidak bisa pulang cepat?" tanyaku.
"Ya, itu pasti berat. Tidak ada orang yang ingin menderita seperti itu. Mereka ingin bekerja cepat dan cepat pulang. Tapi kalau memang itu tuntutan kerja, mau apa lagi?" tanya Yellow.
"Ya, sepertinya aku akan terlambat pulang kali ini," kataku.
"Tidak apa-apa, Red-san. Red-san harus bertarung bukan? Jadilah pemenang! Aku sabar menunggumu," kata Yellow. Aku hanya bisa tersenyum setelah mendengarkan apa yang Yellow katakan.
"Ya, terima kasih, Yellow," kataku.
...
Buncah rindu itu tertahan dalam lajunya ... tak merunut nyata hingga siang menjelma. Hanya ada sapa tanpa manja ... hanya ada desah yang berujung gelisah. Kuremas detik yang menjepit dengan basi. Seorang diri.
"Hai, Yellow. Aku sedang dalam perjalanan ke tempatmu. Aku harap bisa datang ke tempatmu pagi-pagi. Perjalanan lewat kapal ini agak terganggu cuaca,"
Yellow's POV
Itulah pesan yang dikirim oleh Red-san pagi ini. Aku melihat ke arah langit dan terheran.
"Chuchu, mengapa Red-san berkata bahwa cuaca di sana buruk? Di sini langitnya cerah tanpa awan," kataku. Chuchu hanya bisa memiringkan kepalanya.
"Aku harap Red-san tidak dalam bahaya atau apapun itu yang mengerikan," kataku sambil menatap langit lagi dan berharap bahwa harapanku menjadi kenyataan dan Red-san dapat datang ke rumahku.
Aku sudah menunggu selama 4 jam di depan jendela kamarku. Menunggu kehadiran Red-san sambil memandang langit biru ini. Aku masih berharap Red-san untuk datang. Sesekali aku mengirim pesan ke Red-san.
"Red-san, kau ada di mana sekarang? Kau baik-baik saja? Aku menunggu balasanmu," tulisku. Lalu aku menunggu lagi.
Aku tidak sadar kalau waktu sudah bergerak sangat cepat. Sekarang sudah siang dan tidak ada kabar dari Red-san. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Menunggu? Itu akan membuang waktuku. Lebih baik aku menggambar sesuatu di dekat sungai.
Tentunya dengan berharap Red-san kembali.
...
Diam mencumbui angan kosong sepertinya jadi pilihan terbaik untukku, detik ini. Tiba-tiba aku begitu rindu kesendirian. Entahlah ...
Red's POV
Aku bosan. Lebih baik aku berdiam diri di kamarku. Entah mengapa aku sedang bosan berlatih dengan Pokemonku, bertanding melawan Green, bahkan untuk bercanda dengan Yellow. Aku bosan untuk pergi ke mana-mana. Hanya berdiam diri di kamarku.
Mungkin aku aneh tapi rasanya aku sedang meniru X. Ya, mengurung diri di dalam kamar dan hampir tidak melakukan apapun. Bahkan walaupun ada banyak pesan dan beberapa telepon masuk ke telepon genggamku, tetap tidak kugubris. Aku tidak peduli.
Aku hanya ingin menyendiri kali ini.
Tidak masuk akal? Ya, mungkin. Aku juga bingung. Tenang saja, aku hanya ingin menyendiri, bukan ingin mati konyol. Ah, mungkin aku ingin bermain dengan beberapa permainan di dalam laptopku.
...
12 permainan sudah kumainkan, dan aku masih bosan keluar. Itu, sampai tiba-tiba ...
"Red-san?" tiba-tiba sesosok manusia sudah berada di depanku. Jelas itu mengagetkanku. Luar biasanya, yang mengejutkanku adalah Yellow.
"Yellow? Apa yang kaulakukan?" tanyaku.
"Entahlah. Aku hanya ingin menemanimu," kata Yellow.
"Entahlah, aku sedang ingin sendiri sekarang," kataku.
"Menyendiri itu tidak enak, Red-san. Tidak enak dan membosankan. Lebih baik kau keluar dan menikmati udara segar atau bermain atau apapun itu, daripada kau hanya berdiam diri di kamar seperti tidak ada pekerjaan apapun dalam hidupmu," kata Yellow.
Ya, itu sedikit menusuk. Tapi dia benar. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan kebosananku.
'Yellow, kau ingin pergi ke kafe denganku?" tanyaku dengan berani. Yellow hanya terdiam.
...
Aku inginkan keheningan, sejenak. Merasakan sepi, menghirup sunyi dalam-dalam—membebaskan diri dari keluh segala gaduh. Sejenak saja.
Red's POV
Pesta ulang tahun. Pesta. Saat dimana banyak orang bersenang-senang dan makan dengan lahap. Hanya ada satu masalah bagiku. Masalahnya adalah aku sedang tidak ingin terjebak keramaian. Karena itulah aku lebih enak di luar dan menikmati heningnya malam. Kontras dengan apa yang terjadi di dalam.
Ternyata aku tidak sendiri. Hanya dalam waktu beberapa detik, ada satu orang yang mengikutiku ke sini. Seorang perempuan berambut pirang panjang yang lebih pendek daripada aku, namun baik hati. Ya, teman terbaikku, Yellow.
"Red-san?" tanya Yellow.
"Yellow? Kau sedang apa di luar sini?" tanyaku.
'Ya, aku pusing dengan keramaian pesta, jadi aku keluar untuk mencari ketenangan," kata Yellow.
"Wah, aku juga sama. Ramai sekali di dalam sana," kataku. Aku dan Yellow mencari kursi terdekat dan duduk di sana.
"Jadi, bagaimana pendapatmu tentang pestanya?" tanya Yellow.
"Ya, pestanya keren. Aku tidak pernah berpikir bahwa Platinum akan mengadakan pesta yang lebih, anak muda?" tanyaku.
"Ya, aku juga begitu. Aku tahu aku sudah 17 tahun, tapi aku tidak terlalu suka dengan lagu-lagu anak muda," kata Yellow.
"Sama. Aku lebih suka lagu yang sedikit keras," kataku. Yellow tersenyum.
"Aku suka lagu klasik. Itu bisa menenangkan pikiran. Ditambah, lagu klasik bisa membuat janin dalam kandungan menjadi lebih cerdas," kata Yellow.
"Eh?" tanyaku. Lalu aku dan Yellow saling memandang. Beberapa saat kemudian, pipi Yellow menyala merah.
"EHHHHH? Maksudku bukan itu, bukan!" kata Yellow sambil menggerakkan tangannya dan menahan malu. Aku hanya bisa terkekeh dengan tingkahnya ini.
...
Senja yang kureka-reka dari kemarin ternyata tak seindah biasanya. Kenapa ada kosong yang menyekat, padahal dia begitu dekat?
Yellow's POV
Ya, itulah yang kurasakan kali ini. Gagal melihat matahari terbenam lagi. Bukan karena hujan atau perang, tapi ini karena aku harus menunggu Red-san di rumah sakit karena penyakit yang diderita Red-san. Dia terkena demam tinggi. Karena itulah dia harus dirawat di rumah sakit selama 8 hari. Seharusnya Red-san sudah bisa dibawa pulang kemarin, tapi ternyata panasnya naik lagi.
Aku harus menemani Red-san lebih lama lagi. Tidak apa-apa, aku terima. Sambil menunggu Red-san sembuh, aku sering menceritakan hal-hal menarik kepada Red-san, tentu saja saat dia terbangun. Dia perlu istirahat yang banyak.
Aku sedikit sedih karena sekali lagi gagal melihat matahari terbenam bersama Red-san, namun melihat keadaan Red-san yang seperti ini, tentunya aku tidak bisa memaksakan kemauanku. Aku bersabar dalam menunggu keadaan Red-san membaik kembali.
"Red-san?" panggilku ke Red-san yang tersadar.
"Hai, Yellow," kata Red-san.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku.
"Masih pusing, mata belakangku sakit, sendiku sedikit sakit kalau digerakkan, pilek masih menyerang, tapi sisanya aku baik-baik saja," kata Red-san.
"Syukurlah. Kau sudah minum obatmu tadi siang?" tanyaku. Red-san mengangguk.
"Aku tidak tahu mengapa tubuhku bisa sakit seperti ini. Aku hanya bisa pasrah dan berharap bisa cepat sembuh jadi kita bisa melakukan sesuatu bersama, ya, seperti makan, atau menonton film atau hanya sekedar menikmati matahari terbenam," kata Red-san.
Eh? Dia punya harapan yang sama denganku?
"Ya, teruslah berusaha dan berdoa, Red-san. Pasti Tuhan akan memberikanmu kesembuhan," kata Yellow.
"Terima kasih, Yellow. Aku ingin tidur lagi, rasanya aku masih lemas," kata Red-san.
"Silakan, Red-san," kataku dengan senyuman.
...
Senjaku yang kosong berubah malam yang berbinar. Senyum polos bidadarinya, kini bisa kucetak dalam dekat dan lekat.
Red's POV
Perjalanan yang panjang telah kutempuh. Lelah sudah kulawan untuk tujuan ini. Tidak ada penyesalan, tidak ada keluhan, hanya harapan dapat bertemu dengannya lagi.
Setelah perjalanan di kapal yang tidak menyenangkan karena cuaca buruk, akhirnya aku bisa menyentuh daratan dan memulai perjalananku kepadamu.
Perjalanan darat ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan oerjalanan laut tadi, dan sekarang aku sudah siap untuk bertemu dengannya.
Hutan Viridian, rumahmu. Tempat tujuanku. Tempat dimana kau menungguku selama ini. Aku minta maaf karena aku datang terlambat. Tapi, paling tidak, aku bisa sampai ke rumahmu dan melepas kangenku padamu.
Yellow's POV
Aku mendengar suara ketukan di pintu depan. Aku penasaran siapa yang datang ke rumahku malam-malam begini. Aku tidak pernah berpikir siapa yang datang ke rumahku. Aku langsung pergi ke pintu dan membuka pintunya.
Aku langsung terkejut dan terdiam melihat siapa tamuku malam ini. Bukan pocong, bukan kuntilanak, bukan genderuwo, bukan sundel bolong, bukan babi ngepet, bukan suster ngesot, bukan jelangkung, bukan bigfoot, bukan lochness, bukan Sadako si perempuan dari video terkutuk, tapi justru orang yang sudah aku tunggu dari tadi pagi.
Red-san
"Red-san ..."
"Yellow ..."
...
"Selamat datang. Pasti kau kelelahan. Mari beristirahat dulu di dalam. Akan kubuatkan jahe hangat untuk mengembalikan semangatmu,"
"Terima kasih, Yellow. Aku apresiasi pelayananmu. Aku masuk ya ..."
"Silakan, Red-san,"
Pada malam itu, kami berdua berbahagia.
...
Harus dengan kalimat apa agar kamu percaya jika aku mengatakan hal yang sejujurnya, bukan yang kureka-reka?
"Aku tidak percaya padamu! Setelah apa yang kaulakukan padaku, apa yang bisa kupercaya darimu?"
"Kumohon, jangan percaya gosip murahan itu. Aku masih mencintaimu,"
"Bohong! Pasti kau sudah berselingkuh dengan lelaki itu, jangan bohong!"
"Aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak berbohong!"
"Apa sumpahmu bisa dipercaya, setelah aku melihat sendiri apa yang kaulakukan dengan laki-laki itu?"
"Itu kakakku. Kau salah paham saja,"
"Sekali lagi, kau pasti bohong! Setahuku, kau tidak punya kakak,"
"Kakakku ada di wajib militer dan kemarin adalah waktunya kembali dari posnya,"
"Ah, aku tidak percaya denganmu!"
"Lalu, apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku?"
"Ya, mungkin dengan tidak mendekati laki-laki lain dan selalu di sampingku selama seminggu,"
"Apa? Tidak mungkin! Aku punya acara hari ini, tidak mungkin aku ada di sampingmu terus!"
"Ya, itu pilihanmu. Mau tetap berada di sampingku atau kita akhiri hubungan ini?"
"Eh? Mengapa kau bisa-bisanya membuat pernyataan seperti itu?"
"Aku laki-lakinya, laki-laki adalah pemimpin,"
"Pemimpin macam apa kau yang suka menyakiti perasaan wanita?"
"Aku tidak peduli, yang penting kau tetap di sampingku!"
"Justru aku yang tidak mau. Kau egois, jahat, dan kejam!"
"Daripada kau, pembohong, pengkhianat, tukang selingkuh,"
"Kau itu yang tidak mau percaya dengan kekasihnya sendiri!"
"Kekasih? Kau kekasihnya siapa? Aku, atau laki-laki itu?"
"Tentu saja kau, sialan!"
"Aku tidak percaya denganmu!"
"Ya sudah, aku berlepas diri darimu saja. Selesai,"
Yellow's POV
"Red-san?"
"Ya?"
"Lain kali aku saja yang membeli VCD romantisnya. Kau payah,"
"Hehehe, maaf, Yellow. Aku memang belum terlalu paham dengan hal seperti itu,"
"Makanya ada aku di sini, jangan pikir karena aku polos, aku tidak tahu hal percintaan,"
"Iya deh, kau menang,"
...
Diam menengahi ruang. Saat mata terbuka, ada sepi yang hinggap tiba-tiba. Begitu beda tanpamu di dekatku.
Yellow's POV
"Selamat pagi, dunia. Aku lemas lagi," kataku dalam hati. Mengapa aku bisa berkata seperti itu? Ya, aku kurang tidur karena tugas yang harus aku selesaikan dalam waktu dekat ini. Ini saja baru sampai setengah bagian.
Tapi alasan utamanya bukan itu. Alasannya adalah Red-san. Ya, karena Red-san mengikuti lomba Pokemon, Red-san tidak bisa datang ke kelas. Aku yang biasanya berangkat dengannya setiap hari, jadi harus berangkat sendiri.
Aku jadi sendirian karenanya. Kelas akan sangat sepi bagiku tanpa Red-san. Hariku saja dimulai dengan tidak semangat seperti ini Bagaimana aku bisa mengikuti pelajarannya?
...
Di kelas, aku hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Rasanya bosan diri ini tanpa kehadiran Red-san. Tidak ada laki-laki yang bisa kutatap saat guru menerangkan pelajaran. Ya, memang ada banyak laki-laki di kelasku, tapi hanya Red-san yang ada di hatiku.
"Yellow, kau mengapa? Kau seperti kertas kosong yang terbawa angin, begitu lemas dan kurang semangat," kata Sapphire yang tiba-tiba datang ke sampingku.
"Entahlah, Sapph, aku seperti tidak ingin melakukan apapun," kataku.
"Ayolah, tunjukkan cerahnya namamu itu. Pasti ada yang salah denganmu. Coba ceritakan," kata Sapphire.
"Kau lihat kursi kosong itu?" tanyaku. Lalu Sapphire melihat ke arah kursi itu.
"Di samping Green?" tanya Sapphire. Aku mengangguk.
"Red-san pergi berlomba, dan aku jadi kesepian," kataku.
"Ya ampun, kukira apa? Ayolah, seharusnya kau bersemangat untuk Red-san. Nah, kabarnya, kelas akan dipulangkan lebih cepat untuk ini, jadi bagaimana kalau kita pergi ke sana bersama? Sekalian kuajak Ruby," kata Sapphire.
"Benarkah?" tanyaku. Sapphire mengangguk.
"Terima kasih, Sapphire," kataku, tersenyum tipis.
...
Maaf, aku tak ada di sana malam ini. Lindungi aku dari sedihmu. Kita simpan rindu sejenak, esok kita tuang bersama dalam bejana yang menasbihkan bahagia.
"Wah, sepertinya kita harus menunda pertemuan pertama kita,"
"Mengapa, Red-san?"
"Tiket menuju Kanto ternyata habis untuk sebulan. Pada waktu itu juga, aku punya kegiatan di kampus dan ujian akhir,"
"Yah, gagal bertemu kita," kata Yellow, sedikit sedih.
"Ya, kita harus bersabar lagi. Aku harap bulan depan, aku sudah tidak ada kegiatan yang berat lagi," kata Red.
"Tapi, tapi, aku ingin segera bertemu Red-san," kata Yellow, tambah sedih.
"Sudah, jangan sedih. Bagaimana kalau kita memakai telepon video?" tanya Red.
"Ummm, boleh, sebentar, aku menyalakan komputernya dulu," kata Yellow.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Red dan Yellow tersambung dengan telepon video.
"Hai, Red-san," kata Yellow.
"Hai, Yellow. Bagaimana keadaanmu di sana?" tanya Red.
"Sedih tanpamu," kata Yellow.
"Sabar ya, Yellow. Aku sedang berjuang di sini. Kau juga harus berjuang, Yellow," kata Red.
"Benar juga, aku sedang bersiap untuk ulangan dua hari mendatang," kata Yellow.
"Nah, jangan terjebak kesedihan terus. Kita harus berjuang bersama, untuk masa depan kita," kata Red.
"Red-san, jangan membuatku malu di depanmu," kata Yellow sambil menutup wajahnya.
"Ya, ayo kita membicarakan sesuatu," kata Red.
Malam itu (bagi Yellow) dan siang itu (bagi Red), mereka berdua hanya membicarakan hal random dari kehidupan mereka sampai akhirnya Yellow kelelahan.
...
Ditempias kangen yang menggugat sepi meraja, kucoba merasakan kesedihannya. Hanya maafku yang tersisa karena aku tak di sana, bersamanya.
Red's POV
Di luar cerita ...
"Red-san," panggil Yellow.
"Ya, Yellow?" tanyaku.
"Mengapa sebagian besar bagian bab dalam buku ini berisi kesedihan? Aku tidak suka," kata Yellow.
"Ya, aku juga tidak tahu. Itu juga jawaban yang sama jika suatu saat aku harus pergi dan pada saat aku pergi, kau terjebak dalam masalah yang tidak bisa kautangani sendiri," kataku.
"Sayang sekali kalau itu terjadi. Aku berharap Red-san tetap di sini," kata Yellow.
"Sayangnya kita bukan pasangan ideal, maksudnya, pasangan yang bisa bersama terus setiap saat. Pada suatu waktu, ada salah satu dari kita yang harus pergi karena sesuatu," kataku.
"Ya, benar juga, tapi semua pasangan ingin menjadi pasangan ideal," kata Yellow.
"Termasuk kita, Yellow. Tapi idealitas dalam hubungan itu sangat sulit tercapai, apalagi kita hidup di alam semesta yang penuh kemungkinan. Ketidakpastian saja memiliki ketidakpastian," kataku.
"Eh? Apa maksudnya?" tanya Yellow.
"Aku juga bingung. Ada satu temanku yang mengatakan itu padaku. Hanya satu hal yang kutangkap. Dunia ini tidak pasti. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan," kataku.
"Oh, aku paham kalau itu. Dunia ini memang tidak pasti. Kita hanya bisa berusaha untuk mempertahankan hubungan kita ini," kata Yellow. Aku mengangguk.
"Itulah yang sedang kita perjuangkan. Makanya, kita harus berjuang bersama," kataku. Yellow mengangguk. Kemudian, kami membaca bukunya kembali.
...
Haruskah kesedihan menenggelamkan kita dalam kebisuan tanpa kata? Menghunus praduga singgah dalam ruang tanya yang tak berjawab.
Yellow's POV
Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku hanya bisa memeluk erat Red-san yang juga memelukku. Kami berdua hanya bisa saling berpelukan setelah kami tahu kami gagal menyelamatkan yang lain setelah sebuah kepingan batu angkasa jatuh ke Kanto dan melenyapkan ¾ daerah.
Untungnya kami selamat karena saat itu kami berada di Sinnoh. Kami melihat sebuah pancaran cahaya dari arah Kanto. Lalu saat beritanya muncul, kami kaget bukan main karena ternyata sebagian besar Kanto hancur karena meteor itu.
Kami tidak bisa bicara, hanya saling menatap mata kami yang sedih. Menyadari bahwa rumah kami telah hancur. Bahkan ...
Red's POV
Aku mencoba untuk menghubungi Green dan Blue, namun setelah menunggu, tetap saja tidak ada balasan. Aku takut bahwa mereka menjadi korban dari jatuhnya meteor itu. Bahkan, saat aku mencoba untuk menghubungi teman-teman dari Johto, mereka juga tidak membalas.
Satu-satunya kontak dari teman-teman pemegang Pokedex adalah berasal dari teman-teman dari Hoenn yang memeriksa daerah itu.
"Red, kau di mana?" tanya Emerald. Dalam pesannya.
"Sinnoh, bersama Yellow," kataku.
"Dengan Green dan Blue?" tanya Emerald.
"Sayangnya, tidak. Aku tidak bisa menghubungi mereka," kataku.
"Aku harap mereka selamat. Kau harus melihat kawah raksasa ini," kata Emerald. Lalu Emerald mengirimkanku sebuah gambar yang memperlihatkan keadaan Kanto. Aku dan Yellow hanya bisa menganga melihat kawah besar yang menghilangkan sebagian besar Kanto.
Itu sampai kami menyadari bahwa satu serpihan meteor itu jatuh hanya 200 meter di dekat kami. Ya, ini saatnya untuk melindungi diri kami sendiri.
...
Andai saja hari ini seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Tenangku tentu tak akan menepi sampai detik ini. Rinduku pun tak akan tinggal diam dalam ruang sepi tak berpenghuni. Andai ...
Red's POV
Ah, Yellow belum pulang ternyata?
Itulah yang aku pukirkan saat aku melewati rumahnya yang kosong. Rencananya, aku akan bertemu dengannya setelah ada pesan darinya bahwa dia akan pulang. Ya, aku agak sedih karena Yellow ternyata belum pulang.
Lebih baik aku pergi ke tempat latihan biasaku.
...
Latihanku selesai. Lebih baik aku mengecek rumahnya Yellow. Mungkin dia sudah pulang sekarang.
Pada saat aku sudah sampai ke rumahnya, aku hanya bisa memikirkan satu hal.
'Aku tarik kata-kataku yang tadi. Ternyata Yellow belum pulang. Baiklah, aku akan menunggu di rumahku saja,' pikirku, kemudian aku pulang ke rumah.
...
Di rumah, aku membayangkan apa yang terjadi beebrapa hari yang lalu. Itu saat aku dan Yellow menikmati matahari terbenam bersama. Pada saat itulah Yellow berkata padaku bahwa dia harus pergi bersama pamannya ke Kepulauan Sevii.
"Tapi tidak lama, kan?" tanyaku.
"Aku tidak tahu, Red-san. Aku diajak oleh pamanku, katanya aku dibutuhkan olehnya di Kepulauan Sevii," kata Yellow.
"Ya, hati-hati di sana. Aku tidak tahu cuaca di sana bagaimana. Kau harus bersiap kalau sekiranya cuacanya memburuk. Cuaca buruk di kepulauan kecil seperti itu lebih parah daripada di sini," kataku.
"Aku paham, Red-san. Jangan khawatir," kata Yellow.
...
Malamnya, dia belum kembali. Aku memilih untuk tidur di depan rumahnya. Mungkin Yellow akan menemukanku tidur di sini.
Aku tidak punya ide lain.
...
Begitu susahkah kujadikan hatimu sebagai sandaran untuk bahagia dan sedihku? Ajari aku menemukan jawabnya—agar aku tak tersia-sia dalam semunya mimpi.
Yellow's POV
"Aku tidak mengerti, Blue-san. Mengapa Red-san sangat tidak peka padaku?" tanyaku.
"Hmmm, untuk masalah Red ini memang sulit. Kadang aku tidak paham dengan pemikirannya. Padahal semua sikapmu itu sudah jelas menandakan kalau kau suka pada Red, tapi yang dia pikirkan hanya bagaimana untuk menjadi lebih kuat," kata Blue.
"Nah, itu masalahnya," kataku.
"Perlu pemikiran ekstra untuk hal seperti ini," kata Blue, mulai berpikir.
"Blue-san, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku.
"Aku sedang berpikir, Yellow. Jangan ganggu aku untuk sementara saja," kata Blue sambil berpikir. Aku hanya bisa menunggu wangsit datang ke otaknya Blue-san.
Setelah beberapa menit kemudian dan mampir ke toilet 3 kali, akhirnya Blue-san menemukan ide yang aku harap cemerlang.
"Nah, Yellow. Aku sudah tahu caranya agar kau bisa mendapatkan Red," kata Blue.
"Kumohon, idenya jangan yang aneh-aneh," kataku.
"Tenang saja, ini anak bayi juga bisa. Idenya adalah ..." kata Blue-san, lalu membisikkan idenya padaku. Aku langsung kaget saat mendengarkan idenya.
"Blue-san! Benarkah aku harus melakukan ini?" tanyaku.
"Lha? Mudah kan? Hanya tinggal katakan padanya kalau kau menyukainya. Sisanya ya tinggal doa," kata Blue.
"Tapi, tapi, aku malu bicara dengannya," kataku.
"Ya, itu terserah kau. Kau ingin mendepatkan Red atau justru peremu=puan lain yang akan mendapatkannya. Itu terserah kau," kata Blue.
Itu kalimat sederhana dari "Yellow, kau sudah besar, kau harus melakukannya sendiri. Katakan padanya tentang isi hatimu,"
Itu juga yang dia bisikkan padaku.
Keberanian, datanglah padaku.
...
Maafkan aku, untuk sedihmu yang tak sengaja kutitipkan pada kerut wajahmu. Lindungi aku dari bencimu ...
Di luar cerita ...
Red's POV
"Eh? Mengapa tema ini muncul lagi?" tanyaku.
"Aku juga bingung, Red-san," kata Yellow.
"Menurutmu bagaimana dengan bagian ini?" tanyaku.
"Ya, sebenarnya aku juga takut kalau Red-san marah," kata Yellow.
"Sama, aku juga takut saat kau marah," kataku.
"Bagaimana bisa?" tanya Yellow.
"Saat kau sudah mengendalikan kekuatan terbesarmu sampai bisa menaikkan level banyak Pokemon, kau bisa seperti monster. Bukannya menghina, tapi memang itu yang kulihat saat kau memakai Volt Tackle," kataku.
"Ya, memang saat itu aku benar-benar marah melihat musuh itu mencoba mengalahkan kita," kata Yellow.
"Aku takut kalau kau marah padaku dan kau menghancurkanku dengan hal itu," kataku. Yellow memandangku dengan wajah heran.
"Eh? Kau tidak pernah membuatku marah besar, Red-san, dan tidak mungkin aku akan menyerangmu dengan Volt Tackle. Kau kekasihku, dan akan sangat bodoh kalau aku sampai melakukan itu," kata Yellow.
"Benarkah?" tanyaku, lalu Yellow mencium pipiku dengan lembut.
"Tidak akan pernah, Red-san," kata Yellow. Aku tersenyum dan membalas ciuman di pipinya.
"Eh, Red-san?"
"Ya, Yellow?"
"Kau tahu, terkadang konflik itu perlu juga," kata Yellow.
"Maksudnya?" tanyaku.
"Terkadang, kita berbeda pendapat dan saling memenangkan diri sendiri. Itu yang membuat konflik dalam sebuah hubungan," kata Yellow.
"Harus ada pihak yang mengalah akar konfliknya tidak semakin meruncing," kataku.
"Kau benar, Red-san," kata Yellow.
"Bagaimana kalau kita membaca bukunya lagi? Hanya tinggal beberapa poin lagi," kataku.
"Aku setuju, Red-san," kata Yellow, lalu kami membaca buku itu lagi.
...
Inginku membasuh sedihmu, detik ini—dengan jemari saling menggenggam. Tapi apa daya, kuasa waktu dan lemahnya ragaku tak memberiku ruang untuk menatap wajahmu dan merengkuh bahumu lekat-lekat. Hanya maafku yang tersisia ... selebihnya, baikmu yang kuiba dalam doa.
Red's POV
Maaf, Yellow. Aku tidak bisa bersamamu. Aku pernah janji kita akan bersama sampai kita berdua meninggal dunia. Sepertinya aku tidak bisa memebuhi janji itu.
Maaf, Yellow. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Tiba-tiba badanku sakit sendiri sampai-sampai untuk memegang apapun tidak bisa.
Maaf, Yellow. Aku merahasiakan ini darimu. Aku tidak ingin kau ikut menderita bersamaku karena hal ini. Aku ingin melihatmu tersenyum dengan senyuman termanismu tanpa peduli betapa sakitnya aku setelah aku tahu aku tidak akan bisa melihatnya lagi.
Maaf, Yellow. Aku harus melangkah ke level berikutnya sendirian, tanpamu. Aku tidak menyangka bahwa aku akan dipanggil ke level berikutnya secepat ini tanpa dirimu.
Maaf, Yellow. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah perpisahan menyakitkan ini. Aku hanya makhluk biasa yang tidak punya kuasa untuk memperpanjang masa hidupku atau bahkan untuk membawamu bersamaku.
Maaf, Yellow. Hanya itu yang bisa aku lakukan sebelum aku pergi meninggalkanmu. Aku harus mengatakan ini agar kau tidak marah padaku saat kita bertemu lagi nanti.
Maaf, Yellow. Aku hanya mempunyai satu permintaan padamu. Tolong jangan marah padaku dan ampuni kesalahanku. Doakan aku agar aku mampu melangkah ke level berikutnya.
Maaf, Yellow, aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu lagi pada tempat dan waktu yang tidak ditentukan.
Dari cintamu, Red.
...
Dibelit kangen yang menggugat di batas jarak yang menyekat tatap. Hanya kata maaf dari jauhku yang terucap, menunggu kuasa waktu mengizinkan kau dan aku bertemu dalam lebur janji yang saling mengikat.
Red's POV
Aku masih berada di posku di Meridiani Planum, Mars. Misiku belum selesai padahal waktuku semakin sempit. Anggap saja waktuku kurang 15 sol dari masa badai debu raksasa Mars. Ya, kau bisa menebak tanggal berapa sekarang.
12 Simha 216. 12 Simha, tanggal yang krusial bagi setiap orang di Mars karena pada saat itulah Mars berada paling dekat dengan Matahari. Aku harus kembali ke pos pusat di dekat Cydonia Mensae.
Seharusnya aku mendengarkannya dari awal. Seharusnya aku menyelesaikan misiku lebih cepat dan bisa meninggalkan posku menuju pos pusat. Akhirnya aku memanggil robot pembantuku bernama PIKA untuk menelaah data yang belum selesai.
"PIKA, apa data yang kuperlukan sudah cukup?" tanyaku padanya. Beruntungnya, PIKA mengangguk.
"Apa datanya bisa kuproses di Cydonia?" tanyaku lagi, dan beruntungnya, PIKA mengangguk lagi. Aku akhirnya bisa bernapas lega. Akhirnya aku bisa bersiap untuk pulang.
"Oke, PIKA. Kirim transmisi ke CHUCHU kalau kita siap pulang," kataku. Lalu PIKA melakukan apa yang aku perintahkan sementara aku mengemasi barang-barangku.
Sementara itu, Yellow's POV di pos Cydonia.
"Ah, perihelion. Sudah lama sekali aku menunggu ini," kataku. Tiba-tiba robot pendampingku bernama CHUCHU mendatangiku dengan cepat.
"Ada apa, CHUCHU?" tanyaku. CHUCHU berdecit dengan bahasa robotnya. Untung aku sudah belajar bahasanya jadi aku tidak perlu alat penerjemah. Apa yang dia katakan membuatku membuka mataku terbuka lebar.
"Kau serius? Red-san siap pulang?" tanyaku, dan CHUCHU mengangguk. Aku hanya tersenyum senang. Kemudian aku mengirim transmisiku.
Aku siap menunggumu, Red-san.
...
Larut dalam diam, membebaskan diri dari belenggu kata-kata ... dan sendiri menelan sepi di batas rindu yang menyanjung indahnya mencintai dan dicintai.
"Jangan sampai ada apapun yang mengganggu kita, Yellow,"
"Aku mengerti, Red-san, hanya kau dan aku,"
"Hanya kau dan aku. Red dan Yellow,"
"Ya. Kita akan begini terus sampai puas,"
"Ya, sampai puas. Aku akan meemlukmu sampai puas tanpa ada apapun yang mengganggu kita,"
"Aku juga akan memelukmu sampai aku mati sekalipun,"
"Berarti kita mati dalam cinta bersama. Benar kan, Yellow?"
"Kau benar, Red-san,"
...
"Kau serius ingin kami membaca naskah ini?" tanya Red.
"Mau apa lagi? Itu naskahnya, itu yang harus kaubaca," kata Blue.
"Blue, bisakah kau sedikit lebih masuk akal? Naskah drama sampai ada adegan seperti itu?" tanya Green.
"Ya sudah, pak dosen ingin aku yang membuat naskahnya, jadi semuanya ada di dalam kendaliku," kata Blue.
'Blue-san, bisakah adegannya agak disederhanakan?" tanya Yellow.
"Disederhanakan apanya lagi? Itu sudah yang paling sederhana yang bisa aku pikirkan. Atau kau ingin yang lebih menantang?" tanya Blue dengan wajah usilnya yang keluar dari sangkarnya.
"Uhhh, sepertinya kita kalah kali ini," kata Red. Yellow dan Green hanya bisa mengangguk pelan.
Catatan moral: saat Blue mengendalikan apapun, semuanya akan menjadi kacau.
...
Setelah drama selesai, terlihat bahwa Red dan Yellow tidak bisa menghilangkan wajah merah mereka karena saking malunya dengan apa yang baru saja mereka lakukan di atas panggung. Jelas mereka kapok untuk menjadikan Blue pembuat naskah.
Mungkin lain kali Yellow saja. Pikir Red dan Green.
...
Lebur dalam bahagia yang membasuh sendiriku. Biarkan rindu ini merintih sejenak hingga datangnya perjamuan nyata, nanti.
Nanti yang berarti, sekarang ...
Yellow's POV
Ya, Red-san masih sibuk. Tidak seharusnya aku menangisinya sambil menunggu seperti menunggu bulan jatuh dari langit.
Seharusnya aku melakukan sesuatu yang bisa membuatku senang dan dapat menyalurkan hobiku. Bukannya mengurung diri di dalam kamar seperti orang yang berputus asa.
Seharusnya aku mulai menggambar alam, Pokemon, dan imajinasiku sendiri, bahkan kalau itu kau. Mungkin itu bisa menjadi kejutan saat kau kembali dari kesibukanmu.
Seharusnya aku menyembuhkan banyak Pokemon yang terluka, sekaligus untuk memperkuat diriku dan untuk mempersiapkan evolusi kekuatanku yang kesekian kalinya. Mungkin besok, akan ada saatnya aku mampu menyembuhkan manusia, termasuk kau.
Seharusnya aku bersemangat dalam menjalani hidupku sambil menunggumu. Bukannya malah bersembunyi dari dunia sampai dunia menganggap kau sudah mati.
Seharusnya aku tetap maju melawan tantangan besar dalam hidup, bukannya malah lari dan bersembunyi dari kesempatan untuk mengembangkan diri dan memantaskan diri untuknya.
Mengapa aku memikirkan ini? Aku tahu akan ada saatnya kita berdua akan bertemu lagi. Bertemu dalam satu pertemuan yang akan mengakhiri perpisahan kita yang menyakitkan itu. Aku yakin akan ada waktunya, dan aku yakin waktunya dekat.
Saat aku menjemputmu, kemudian kita saling bertemu dan berpelukan, sebuah perasaan yang lepas setelah tertahan selama bertahun-tahun, semuanya adalah balasan dari perjuangan yang aku lakukan mulai saat ini.
Waktunya dekat. Bahkan, sangat dekat.
Pada waktu itu, akhirnya, aku akan menembus rekorku sendiri. Bukan hanya menjadi perempuan kuat, tapi menjadi perempuan sejati yang akan memenangkan hatinya secara penuh. Aku yakin itu akan terjadi.
Segera.
Di luar cerita ...
"Red-san?" tanya Yellow.
"Ya, Yellow?" tanya Red.
"Jika kau gelisah, ingatlah kalau Tuhan melindungi kita," kata Yellow.
"Kau juga, Yellow," kata Red. Lalu sambil membawa buku itu, mereka kembali ke rumah Yellow dengan perasaan tenang.
Bab 5 selesai.
Ini tantangan besar, mengerjakan fic dalam keadaan sakit. Namun ternyata bisa selesai juga.
Tentang sistem penanggalan yang belum pernah kalian lihat itu, itu adalah sistem penanggalan Darian, sistem yang diusulkan untuk dipakai di planet Mars. Sol adalah hari Mars. Silakan cari lebih lanjut di mesin pencari.
Sekian untuk bagian ini. Kripik jaran sangat disarankan karena kau masih lapar XDD
Fic ini spesial diselesaikan untuk Hari Sumpah Pemuda.
Fic ini akhirnya mengalahkan rekor awalku di Dear You.
Update agak lama karena aku terjebak tugas kuliah, tapi diharapkan akan selesai.
RWD, keluar.
