Maaf... aku telat mengupdatenya. walaupun aku telah membuat cerita pada chapter ini sejak lama, tapi aku tidak menemukan waktu untuk mengetiknya (plus aku agak malas... tugas menumpuk dan UAS pun tiba... arghhh. syukurlah sekarang UAS sudah selesai). jadi, sekali lagi aku minta maaf. oke... kembali ke cerita...
Disclaimer: i don't own Gakuen Alice but this story... yes..
Tanpa Kusadari
Chapter 11
Minami sama sekali tidak tampak dimana pun. Ini membuat Natsume menjadi bingung.
"Hei, Natsume," panggil cowok berambut pirang dengan kelinci putih di tangannya. Natsume memandang Ruka tanpa ekspresi.
"Siapa orang disampingmu, Natsume?" tanya Ruka. Kazu memandang Ruka lalu memberikan senyum kecil yang agak ramah.
"ah... Namaku Kazu Azumi," jawab Kazu," dan kamu?"
"Ruka. Ruka Nogi," jawab Ruka sambil tersenyum.
"Hei, Ruka," sela Natsume tiba tiba," apa kau melihat gadis kecil itu?"
"huh... gadis kecil? siapa?" tanya Ruka kebingungan.
"Maksudnya Minami-san," ucap Kazu terburu buru. Ruka mengangguk tanda mengerti. Lalu, dia menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Natsume. Aku sama sekali tidak melihatnya hari ini. Padahal sekarang adalah hari minggu," ucapnya dengan sedikit menyesal," mungkin kau sebaiknya mencarinya di kamar,"
Natsume dan Kazu mengangguk kemudian mereka menuruti saran Ruka menuju asrama. Mereka berjalan hingga di depan pintu kamar single star yang bertuliskan nama Minami Sakura. Kazu pun mengetuk pintu dengan pelan. Namun, tidak ada jawaban dari pemilik kamar. Kali ini, dia mengetuk pintu lebih keras namun, tetap saja tidak ada jawaban dari dalam.
"kau mencari Minami-chan?" tanya kedua gadis yang sebaya dengan Natsume, satu berambut pink bergelombang dan yang satu lagi berambut biru lurus. yah... seperti yang kalian tahu kalau mereka berdua adalah Anna dan Nonoko.
"ah... iya," jawab Kazu.
"Kenalkan aku Anna Umenomiya," ucap Anna tiba tiba.
"Aku Nonoko Ogasawara," lanjut Nonoko.
"Aku Kazu Azumi," balas Kazu. Mereka terdiam cukup lama. Lalu, untuk memecahkan kesunyian, Anna berbicara,
"eng... anu... kalau kau mencari Minami-chan, dia tidak ada. Aku sama sekali tidak melihatnya sejak tadi malam."
"iya... tadi pagi saat aku ke kamarnya, dia sudah tidak ada," ucap Nonoko dengan cemas.
"hm... jadi dia tidak ada di sini," gumam Kazu.
"Baiklah kalau begitu. terima kasih atas informasinya." ucap Kazu sambil memberikan senyum pada mereka dan kemudian pergi bersama Natsume meningglkan mereka.
"Kau lihat yang tadi, Anna," bisik Nonoko.
"Iya... aku tidak pernah melihatnya di akademi," balas Anna.
"Mungkinkah dia anak baru?"
"mungkin... dan sepertinya dia mengenal Minami-chan."
"atau bahkan mungkin... juga mengenal Mikan-chan."
"Dia sungguh tampan. Beruntung Mikan-chan dan Minami-chan mengenalnya."
Anna dan Nonoko tertawa geli dan kemudian berjalan masuk ke kamar Anna (kamar Anna berada di sebelah kamar Minami) sambil menunggu hari esok.
--
"cih... sial" kutuk Natsume dengan kesal. Kazu menatap Natsume dan menenangkannya.
"Sudahlah... Mungkin dia sedang jalan jalan entah kemana," hibur Kazu.
"ya... dan sampai jam 8 malam dia tidak terlihat oleh siapa pun," ucap Natsume sambil berusaha menahan gejolak amarahnya.
"tenanglah... mungkin besok kau dapat bertemu dengannya," ucap Kazu. Natsume hanya menjawab dengan 'hn'nya.
"aku akan kembali ke kamarku," ucap Kazu sambil berjalan meninggalkan Natsume.
Natsume terdiam sebentar dan kemudian berjalan menuju rumah sakit. Di sana suasana sangat sepi. Dia menyelinap masuk karena dia tahu jam besuk telah habis dan apabila dia ketahuan berada di rumah sakit, dia pasti akan diusir pergi.
Dia berjalan dalam hening ke kamar Mikan. Ketika dia ingin membuka pintu tersebut, dia mendengar suara sehingga dia membatalkan niatnya itu.
"Kau sudah bangun, hime?" tanya seorang pria yang ia tahu adalah Persona.
"Ya..." jawab Mikan. Natsume merasa senang karena Mikan telah bangun. Dia sebenarnya sangat khawatir melihat Mikan yang tiba tiba jatuh didepan matanya sendiri.
"Jadi...kali ini kau pingsan karena hal 'itu'," ucap Persona dengan nada sedikit cemas.
Perasaanku saja atau... Persona merasa ... cemas? pikir Natsume.
"ya," jawab Mikan.
"Apa alice yang menyerangmu?" tanya Persona.
"Lightning alice."
"Jenisnya??"
"Lightning Strike, kurasa," jawab Mikan. Mereka pun terdiam cukup lama.
"Apa yang bernama Minami itu datang?" tanya Persona tiba tiba.
"Ya... dia datang untuk mengembalikan sedikit kekuatanku."
""Sebaiknya, kau hentikan keputusanmu itu," saran Persona sebelum akhirnya keheningan melingkupi kamar Mikan sekali lagi. sangat hening sehingga membuat Natsume kebingungan.
"Masuklah... dia sudah tidak ada," panggil Mikan dari dalam kamarnya. Dengan ragu, Natsume membuka pintu kamar Mikan dan menatap Mikan yang sedang duduk di sisi tempat tidurnya sambil memandang Natsume.
"Kau curi dengar, ya," tebak Mikan. Natsume mengangguk pelan. Mikan hanya berdecak pelan kemudian memandang keluar jendela. Lalu, Mikan menghela napas dan menatap Natsume yang kini sedang duduk diatas sofa.
"Seberapa banyak yang kau dengar tentang pembicaraanku dengan Persona?" tanya Mikan dengan dingin. Natsume terdiam mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kutanya sekali lagi. seberapa banyak yang kau dengar," tanyanya lagi dengan suara yang lebih keras. Natsume kini memandang Mikan langsung pada bola mata coklat milik Mikan.
"Sejak Persona bertanya tentang keadaanmu," jawab Natsume. Mikan menghela napas.
"Kau itu orang yang suka mencuri dengar rupanya," gumam Mikan.
"HEI... AKU DENGAR APA YANG KAU BILANG," bentak Natsume dengan suara pelan," lagipula, itu salah kamu telah bicara dengan suara keras." Mikan cemberut mendengarnya dan tanpa disadari Mikan, ini membuat wajah Natsume memerah OoO.
Mikan menundukkan kepalanya dan dengan suara sedikit bergetar, dia bertanya," se... seberapa jauh y... yang kau ketahui tentangku?" Natsume hanya menganggkat bahunya.
"entahlah..."
Mereka terdiam. Natsume agak benci dengan keheningan seperti itu sehingga membuatnya memulai pembicaraan.
"Melihat kondisimu... sebaiknya, kau tidak usah mengambil misi."
Mikan menatap Natsume dengan tatapan marah. Dimatanya, terbendung emosi yang meluap luap dengan air mata yang nyaris jatuh ke pipinya.
"ta... tahu apa kamu tentang diriku?" bentak Mikan. Natsume terkejut melihatnya.
"KAU SAMA SAJA DENGAN PERSONA," teriak Mikan," KALIAN MEMANG TIDAK TAHU PERASAANKU." Natsume terdiam sekaligus syok karena ia disamakan dengan Persona.
"a... apa m.. maksud..."
"Ah... sudahlah," bantah Mikan," Jangan ikut campur urusanku."
Tiba tiba, cahaya biru remang remang menyelimuti kamar Mikan. Natsume merasa sedikit kedinginan sehingga ia menggunakan alicenya untuk menghangatkan tubuhnya (dia tidak membuat api. Hanya menghangatkan udara saja).
Ruangan itu kini diselimuti es tipis. Dan makin lama, cahaya biru itu tetap ada, es es itu menjadi lebih tebal dan membuat Natsume harus menggunakan fire alicenya lebih kuat lagi.
sial... kalau aku terus menggunakan aliceku, bisa bisa tubuhku melemah, pikir Natsume.
Adakah... adakah cara untuk menghentikan ini??
Aku ingin mempunyai kekuatan untuk melindungi... ya ... melindungi.
Lalu, memori masa kecilnya berterbangan memenuhi jendela pikirannya
flashback
"Sungguh kau ingin melindungiku?" tanya Mi. Natsume menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut.
"oh... Nat. Kau baik sekali," puji Mi," aku seperti mempunyai seorang bodyguard." Natsume kemudian membisikkan sesuatu pada Mi sehingga membuat wajah Mi sedikit memerah.
"e... eh... Nat??" ucap Mi sedikit tergagap.
"Aku sungguh sungguh akan melindungimu dengan segenap jiwaku," ucap Natsume sambil tersenyum. Mi membalasnya dengan senyum paling cerah yang ia miliki dan memeluk tubuh Natsume. Natsume pun menjadi gugup ketika dirinya dipeluk seperti itu.
"Makasih, Nat," bisik Mi sambil memeluk tubuh Natsume lebih erat.
end of flashback
Biarlah... anggap saja ini demi Mi. Kalau aku tidak ada, maka Mi tidak bisa kulindungi lagi, pikir Natsume. Tiba tiba, terdapat sesuatu yang tidak terlihat, yang menahan kekuatan Mikan. Mikan terdiam. Dirinya kini tidak dipenuhi emosi kemarahan. Sekarang ia menatap Natsume dengan pandangan ketakutan dan cahaya biru remang remang itu telah lenyap, digantikan oleh sinar rembulan yang menerobos masuk melewati jendela kamar.
Natsume bingung dengan apa yang terjadi namun, ia menatap Mikan dengan pandangan sedikit lega.
"Ti... TIDAAAKKKKK..." Mikan berteriak dan tiba tiba saja teriakannya berhenti karena mulutnya tertutup oleh Persona yang muncul entah dari mana. Mikan mulai memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Persona.
"hime... tenanglah..." bisik Persona menenangkan. Mikan masih saja memberontak sehingga membuat Persona sedikit kewalahan.
"Sudahlah, hime. Tenang... Natsume nanti akan kebingungan." Mikan segera terdiam. Napasnya terengah engah dan air matanya dengan lembut bergulir di pipinya. Mikan kemudian memeluk Persona untuk menenangkan dirinya dan Persona membelai lembut rambut Mikan. Persona memandang wajah Natsume yang terkejut dengan sikap Persona tersebut. dan tanpa disadari, ada sebuah perasaan yang membakar jiwa Natsume.
"Ternyata kau telah menemukan alice keduamu ya, Kuroneko," ucap Persona sambil memasang seringai liciknya.
"a.. alice yang kedua??"
"ya... kau tadi menggunakan alicemu untuk memblokir alice yang digunakan hime." jawabnya.
"ja... jadi.."
"ck... ck... ck... apa kau mengira dia menghentikan alicenya dengan sendirinya? kau salah besar, neko-chan," ucap Persona. Persona menghela napas dan menatap Mikan yang terlihat begitu kekanak kanakan. Dia kemudian menatap Natsume lagi.
"alicemu yang kedua adalah barrier alice." Natsume terdiam menatap Persona.
"Namun sayangnya... kamu belum dapat mengendalikannya dengan baik. Oleh karena itu, aku menyarankanmu untuk latihan dengan alice keduamu itu sebagai pengganti misi misimu selanjutnya-" Natsume memandang Persona dengan wajah terkejut,"-dan sayangnya pula, kau tidak boleh memberitahu siapapun perihal alicemu yang kedua ini."
Persona kemudian melepaskan pelukan Mikan dan memberikan sebuah anting (sebelah pasang) kepada Natsume.
"Pakai ini, dengan ini kau dapat menahan barrier alicemu sehingga orang lain tidak mengetahuinya." Natsume memandang anting tersebut lalu menerimanya.
"saat sedang latihan, lepaskan antingmu itu. Bila sudah selesai, pasang lagi anting tersebut," instruksi Persona. Natsume mengangguk.
"Sekarang pulanglah..." titah Persona. Natsume melirik sebentar ke arah Mikan dan lalu dia keluar dari kamar tersebut menuju kamar tidurnya dengan membawa hati yang tidak percaya akan kejadian yang baru menimpanya.
end of chapter
--
hanya ini yang bisa aku ketik. saat saat terakhir, aku terburu buru mengetiknya agar aku bisa lebih cepat meng-update cerita ini.
mungkin kalian menyadari kalau Natsume dan Persona agak OOC. Tapi, memang itulah sifat yang kubuat pada fanfic ini. (kalau Natsume, aku tidak menyangka akan begini jadinya)
sekian dari saya, semoga kalian menikmatinya...
jangan lupa review-nya
-sakuraaimier-
