Naruto tidak dapat berpikir jernih, pikirannya kacau karena seorang wanita. Wanitanya, yang kini berada entah di mana, katakutan, sendirian di luar sana. Menggunakan handsets bluetooth Naruto menghubungi Iruka, menyuruh pria itu beserta bawahannya yang lain mencari Sakura. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Naruto untuk menemukan Sakura dengan bantuan Iruka dan bawahannya yang lain. Dia segera pergi ke suatu tempat saat mendapat informasi bila Sakura berada di sana.

Di bawah pohon besar Naruto melihatnya, duduk meringkuk ketakutan. Dengan langkah pelan dan hati-hati Naruto mendekat. Disentuhnya bahu Sakura dengan lembut membuat sang empunya menoleh dengan terkejut. Manik seindah permata emerald itu berkedip-kedip memperlihatkan ketakutannya. "Hei." Naruto tersenyum dan membuai wajah Sakura dalam telapak tangan besarnya. "Tidak akan ada yang akan menyakitimu selama ada aku, percayalah... " Kekasihnya dulu pun mengatakan hal yang sama. Sakura mengisak yang kemudian dipeluk Naruto dengan erat. Tapi... dia pergi memberinya luka, luka yang sampai saat ini masih menganga dengan lebarnya. Sakura membalas memeluk Naruto. Wanita itu takut kehilangan untuk yang kedua kali.

Sreek.

Suara daun kering terinjak membuat Sakura membuka matanya. Wanita itu menatap waspada kegelapan di sekitarnya dan menarik Naruto untuk bersembunyi. Naruto menurut. Dalam diam pria itu memperhatikan wajah Sakura, membaca emosi yang sangat kentara di wajah wanita itu. Lama mereka bersembunyi tapi tidak ada apapun. "Aku akan lihat ada apa di sana." Naruto berniat pergi tapi Sakura menarik tangannya, tidak mengizinkannya untuk pergi.

"Tidak." Sakura menggeleng.

"Ayolah Sakura, aku tidak akan apa-apa." Bujukan Naruto tidak membuat genggaman Sakura mengendur melainkan sebaliknya, wanita itu semakin kuat menggenggam tangannya. "Kau percaya padaku? Aku bisa mengatasinya, percayalah..." Bukan sebuah kepercayaan yang Naruto dapatkan melainkan sebuah ciuman dengan emosi di dalamnya.

Sakura memagut bibir Naruto dengan putus asa. Naruto membalasnya untuk menenangkan wanita itu. Lama mereka saling memagut bibir satu sama lain sampai pada akhirnya mereka melepaskan diri karena kehabisan udara. Naruto pergi melihat sekitar tanpa dapat Sakura cegah. Lama Sakura menunggu Naruto kembali sampai pada akhirnya pria itu kembali dan Sakura langsung memeluknya. "Kau tidak apa-apa?"

Naruto terkekeh dan balas memeluk wanita itu. Perasaan hangat memenuhi isi perutnya. Dia sangat bahagia karena Sakura sudah bisa menerimanya. Naruto tahu Sakura sudah menyisakan sedikit ruang untuknya saat wanita itu begitu mencemaskannya. "Sudahku bilang tidak ada apa-apa di sini." Naruto mencium rambut Sakura dengan hidungnya, harum rambut Sakura adalah bau parfum terbaik di dunia baginya. "Siap untuk pulang?" Dan senyum Naruto semakin lebar saat wanita itu mengangguk dalam pelukkannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Karin terdiam melihat pria yang kini jadi pusat perhatian di kantornya. Manik ruby gadis cantik berambut merah itu berkedip ketika melihat pria yang paling disegani di kantor melewati dirinya. Karin pikir nama mereka saja yang sama, tapi ternyata Karin salah. Dari tempat berbeda Iruka memperhatikan Karin dan Naruto bergantian, menilik segala emosi di wajah gadis itu, bagaimana dia menatap Naruto. Dan Iruka dibuat penasaran, semirip apa Naruto atasannya dengan Naruto adik Karin.

Iruka mendekati Karin dan berdehem mengejutkan gadis berambut merah itu. Dengan terkejut Karin menoleh ke samping. Iruka memberinya tiga map. "Semuanya salah." Karin menunduk, dia tahu semua yang dikerjakannya semalam salah, karena dia tidak mengerti sedikit pun apa yang tertulis di dalam map itu. Jangan salahkan dia, dia hanya seorang gadis lulusan SMA yang tidak tahu apa-apa dibidang seperti ini. "Kau mengacaukan semuanya."

Naruto melihat keributan itu. Dia segera mendekati Iruka dan menyentuh bahunya. Menggunakan isyarat mata Naruto menyuruh Iruka ikut keruangannya. Sementara Karin, dia diam di tempatnya berdiri. Bukan karena omelan Iruka melainkan karena melihat Naruto. Betapa dia rindu dan ingin memeluk tubuhnya.

...

Naruto duduk di kursinya menunggu Iruka bicara. Tatapannya serius menatap pria berambut hitam di depannya. Iruka menghela napas sebelum mengeluarkan suara. "Aku hanya memberitahunya. Semua yang dia kerjakan semuanya salah."

"Lalu?" Naruto memainkan gelas kopi di mejanya.

"Itu akan merugikan kita,"

"Kau tahu pendidikannya?"

Iruka menunduk, mengerti Naruto saat ini sedang marah dan tidak bisa dibantah. "Aku tahu."

Naruto mengangguk kemudian berjalan mendekati jendela besar dalam ruangannya. "Copy berkas yang harus dia kerjakan, aku ingin kau yang mengerjakannya, jangan biarkan dia tahu, buat dia seolah dia benar-benar bekerja di sini. Kau mengerti?" Dengan isyarat tangan Naruto mempersilahkan Iruka pergi dari ruangannya. Pria tampan berambut pirang itu menatap keluar gedung ketika Iruka sudah pergi dari ruangannya. Sebuah senyum terlukis di bibirnya saat ingat seseorang. Naruto mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dengan senyum dia menelfon Sakura.

.

.

.

.

Sakura menyadari satu hal, dia tidak sanggup bila harus kehilangan untuk yang kedua kali. Wanita itu berdiri di depan meja bar sedang mempercantik masakannya. Dia tidak bisa kehilang Naruto, tidak bisa, alasan slama ini dia bekerja di Namikaze corp karena dia ingin melihat Naruto setiap hari, setiap waktu bila dia bisa. Wanita itu tersenyum dan membawa masakannya ke meja makan. Tidak peduli mereka orang yang berbeda tapi mereka memiliki perasaan yang sama. Perasaan ingin melindungi, menyayangi dan mencintainya. Sakura tidak tahu seperti apa perasaannya pada Naruto, tapi dia akan berusaha mencari tahu dan memahami perasaan apa ini.

Tangan yang tiba-tiba melingkari pinggangnya membuat Sakura dengan reflek menoleh. Wanita itu tersenyum ketika melihat siapa yang memeluknya dari belakang. Dia merasa sangat dicintai ketika hidung mancung Naruto mencium harum rambutnya.

"Apa itu?"

"Kau bisa mengganguku menyelesaikan ini bila terus seperti ini," Sakura tersenyum melihat Naruto yang menatapnya cemberut dari samping. "Duduklah..." pintanya yang langsung dituruti Naruto dengan cepat.

Mereka duduk berhadapan seraya menikmati hidangan makan malam yang Sakura masak sendiri. Saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang ... entahlah. Perlahan wajah Naruto mendekat. Dengan lembut pria itu mengusap sudut bibir Sakura menggunakan ibu jarinya. Dia tersenyum ketika Sakura menatapnya dalam diam kemudian menarik tangannya dan menghisap ibu jarinya yang tadi mengusap bibir Sakura. "Kau tahu?"

"Hm?" Sakura menatap bertanya Naruto.

Naruto semakin mendekatkan bibirnya dengan telinga Sakura. "Karinya jauh lebih enak saat menempel dibibirmu," Bisiknya menggoda.

Sakura tertawa, entah kenapa bisikan Naruto terdengar lucu di telinganya, dan memukul main-main tangan Naruto. Melihatnya tertawa Naruto ikut tertawa. Dia tidak tahu apa yang lucu tapi entah kenapa dia ingin tertawa. "Dasar penggoda." Tawanya semakin keras mendengar itu dari Sakura.

"Salahkan dirimu yang selalu menggodaku," Sakura tersenyum. Senyumnya hilang ketika dengan hati-hati Naruto menarik wajahnya mendekat. Ibu jari pria itu menyentuh bibirnya. Sakura berkedip. "Aku selalu bertanya... seperti apa rasanya ini?" Sakura memejamkan mata ketika Naruto menariknya semakin dekat, berusaha menerima setiap sentuhan yang Naruto berikan. Melihat hal itu Naruto mengecup bibir Sakura, hanya kecupan sekilas. Kedua mata Sakura terbuka, hal pertama yang dia lihat adalah senyum Naruto. Dia mengedip. "Dan sekarang aku tahu rasanya." Naruto mengacak rambut Sakura dengan senyumnya yang khas.

.

.

.

.

Naruto terlihat berbeda pagi ini. Pria itu mengenakan celana jeans pendek dan kaus polos tanpa lengan, tidak memakai pakaian kantor seperti biasa. Naruto tersenyum ketika Sakura menatapnya. "Kau tidak kerja?" Sakura membawa masakannya ke meja makan. Naruto mengikutinya dari belakang kemudian duduk di kursi meja makan.

"Ku rasa pantai jauh lebih menarik dari ruang kerja, kita ke pantai."

"Hari ini?"

"Tidak. Minggu depan. Tentu saja hari ini."

"Kenapa tidak bilang dari tadi malam, aku bahkan belum menyiapkan apapun." Sakura cemberut menatap Naruto yang sedang sarapan.

Naruto tersenyum. "Tidak perlu menyiapkan apapun, siapkan saja dirimu." Dan menarik Sakura ikut dengannya. Naruto membawa Sakura ke pusat perbelanjaan. Membelikan pakaian pantai sampai bikini membuat wanita merah muda itu malu dan memukul lengannya. Naruto tertawa. "Ini memalukan." Kata Sakura cemberut yang kemudian Naruto peluk dari belakang.

"Siapa bilang? Bukankah bikini adalah sayap wanita," godanya tanpa melepas Sakura dari pelukkannya.

Sakura menatap tajam Naruto, tidak habis pikir kalau Naruto seperti ini. "Ahh... dasar mesum." Dan mencubit lengan pria itu.

Semuanya terasa menyenangkan ketika bersama Sakura. Tidak ada hal yang jauh lebih menyenangkan dari ini. Sungguh. Naruto melepas pelukkannya dan menatap Sakura. "Tentu saja aku tidak akan membiarkan wanitaku memakai pakaian seperti ini di tempat umum, tentu saja tidak, aku tidak akan membiarkan seorang pun melihat tubuh wanitaku." Wajah Sakura memerah hal yang sangat langka Naruto lihat. Pria tampan itu tersenyum dan dengan cepat mencium pipi Sakura membuat wajah wanita berambuy merah itu semakin merah karenanya. Hal yang sangat Naruto sukai saat ini adalah wajah merah karena malu milik Sakura, apa lagi kalau itu karena dirinya. Beberapa pegawai pusat perbelanjaan yang sedang bersiap membuka mall tersenyum malu dan iri. Ouuhhh... siapa yang tidak mau diperlakukan seperti itu oleh putra Namikaze, pria muda, tampan, mapan, serta ramah. Jadi wanitanya semalam pun mereka mau.

...

Seperti janjinya, hari ini mereka ke pantai. Angin, pasir, awan biru dan ombak adalah hal pertama yang Sakura lihat. Suasana pantai hari ini tidak begitu ramai karena hari kerja, hanya sedikit orang yang datang berkunjung. Sakura yang sedang berdiri menatap sekelilingnya terkejut saat Naruto menarik tangannya. "Apa yang kau lakukan, ayoooo!" Tarik pria itu seraya tersenyum. Naruto membawa Sakura lari mendekati bibir pantai.

"Apa yang akan kita lakukan?"

"Apa yang akan kita lakukan?" Naruto mengulang pertanyaan Sakura dengan wajah pura-pura bingung. "Pertama yang kita lakukan adalah istirahat dan minum air kelapa."

Sakura menatap sekelilingnya mencari tempat yang seperti Naruto katakan, kemudian menghela napas ketika melihat tempat seperti itu cukup jauh dari tempatnya berdiri. "Apa kita akan ke sana?"

"Tentu saja tidak." Naruto menunjuk tempat yang baru selesai disiapkan anak buahnya dengan dagu. Pria itu melipat tangan di depan dada dengan sombong ketika Sakura menatap tempat itu terkejut.

"Bagaimana bisa secepat itu?"

Naruto tersenyum. "Aku bisa melakukan apapun, tentu saja." Dan mengedipkan mata pada anak buahnya.

"Sombong." Kata Sakura geli ketika melihat kode Naruto yang menuruh mereka pergi.

Naruto menarik Sakura dan memeluk pinggang wanita itu. "Ayo." Mereka berjalan bersama mendekati tenda yang sudah disiapkan anak buah Naruto, duduk berdua di bawah tenda menikmati angin pantai dan pemandangannya. Entah bagaimana apa yang Naruto katakan selalu bisa membuat Sakura tertawa, tersenyum, sekalipun itu bukan lelucon lucu. Mereka menikmati semuanya di tenda, makanan, minuman, semuanya. Naruto bahkan memanggil anak-anak kecil yang sedang bermain pasir untuk bergabung bersamanya dan Sakura. Makan, minum, membicarakan banyak hal dan tertawa bersama. Tenda mereka dipenuhi anak-anak dan beberapa orang dewasa yang menemani anaknya.

Naruto menghela napas dan menggaruk kepalanya melihat tendanya penuh. Dia pikir akan menyenangkan dan bisa membuat Sakura senang bila tendanya dipenuhi anak-anak, tapi ternyata tidak. Sakura memang terlihat senang, wanita itu bermain dengan anak-anak itu, tapi Naruto yang tidak senang. Anak-anak itu mengambil semua perhatian Sakura. Naruto mendengus. Pria itu berdiri dengan wajah kesal. Tapi kemudian dia tersenyum ketika melihat senyum Sakura. Dia terus memperhatikan wanita itu, menatap wajah cantik itu dengan senyuman. Tatapan mereka bertemu. Sakura tersenyum pada dan Naruto pikir mereka butuh berduaan, hanya berduaan, tentu saja. Naruto dengan cepat berjalan mendekati Sakura dan menarik wanita itu ikut dengannya. Membawa lari Sakura dari anak-anak itu.

...

Langit sudah gelap ketika Naruto membuka mata. Pria itu tersenyum ketika melihat wanita yang tidur di sampingnya. Perlahan, dia memeluk pinggang wanita itu dari bekalang. Tidak dia pedulikan butir-butir kecil pasir yang menempel ditubuhnya. Naruto mencium harum rambut Sakura, menghirup wangi khas wanita itu sebanyak yang dia mau.

Sakura tidak begitu ingat kenapa dia bisa tidur di tempat seperti ini, di bawah pohon bakau yang ada di bibir pantai. Yang membuatnya bangun adalah ketika sebelah lengan besar memeluk perutnya dari belakang. Dia berkedip dan kemudian tersenyum saat Naruto mencium rambutnya. Sakura berbalik menatap Naruto. Pria berambut pirang itu awalnya terkejut tapi kemudian dia tersenyum. "Kau sudah bangun?"

Sakura tersenyum. "Ya."

"Sejak kapan?"

"Sejak kau memelukku,"

"Apa aku mengganggumu,"

Wanita merah muda itu tertawa. "Tidak. Tentu saja tidak. Bagaimana kita bisa tidur di sini?"

Naruto mendekap Sakura dalam pelukkannya. "Entahlah, aku tidak begitu ingat." Dia menunduk menatap wajah cantik wanita yang lebih pendek darinya. Sakura tersenyum. Senyuman manis dan memabukkan yang membuat Naruto ingin menciumnya. Tapi Naruto ragu, takut Sakura menolaknya, dan yang bisa Naruto lakukan hanya diam menatap Sakura yang begitu memikatnya.

"Apa kita tidak akan pulang?" Tiba-tiba saja Sakura bersuara memecah kesunyian. "Ini sudah malam."

Naruto tersenyum. "Bagaimana kalau menginap?"

Sakura cemberut dalam pelukkan Naruto. "Tidak ada penginapan,"

Naruto melihat jam tangannya dan menghela napas. "Pulang juga sudah larut dan terlalu jauh. Kita cari hotel saja, kau mau?"

"Baiklah."

Naruto mencium Sakura sebelum bangun dari tidurannya. Pria itu mengulurkan tangannya yang disambut baik oleh Sakura. Mereka berjalan berdua seraya membicarakan bintang mereka. Sakura sangat antusias menunjuk bintangnya yang terlihat paling besar malam ini, dia bahkan sampai melompat munujuknya. Naruto tersenyum dan menarik wanita itu. Mencium bibir Sakura satu tangannya memeluk pinggang ramping Sakura.

T

B

C

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sampai jumba dichap selanjutnya... dan selamat menunaikan ibadah puasa :D

B

Y

E

E

.

.

.

.