Bleach = Kubo Tite
The Last Third = Searaki Icchy La La La
Rate = M 4 safe
Genre = Drama, Hurt/Comfort, Romance, Family, FriendShip, dll
WARNING! Typo(s), OOC, Geje, ngawur, stress, ngancurin image, pairing bukan hanya IchiRuki dan bla bla bla lainnya~
Last epilog
.
And the story still go on until…
.
"Kau bilang apa, Orihime?" Rukia tidak menyangka setelah pertemuannya dengan Ichigo kemarin malam itu mengundang berbagai macam kejutan untuknya. Salah satunya adalah pesan yang Orihime beritakan diseberang.
Ya, sebenarnya Rukia masih mempunyai ponsel. Dia hanya mengganti nomor baru saja, makanya Ichigo tidak tahu apakah Rukia punya atau tidak. Karena waktu itu, Rukia tidak ingin mengingat tentang Ichigo makanya dia memutuskan untuk menghilang dan melalang buana di negeri asing. Dan saat ini sahabatnya yang bernama Inoue Orihime sedang memberinya sebuah kejutan besar yang begitu jarang.
"Aku akan menikah, Rukia-chan!" teriak Orihime begitu ceria, "Ishida-kun melamarku dan aku akan segera menjadi Nyonya Ishida!" lanjutnya memberitakan kabar gembira.
"Akhirnya penantianmu selama ini terbayar juga. Selamat, Orihime."
"Bagaimana denganmu, Rukia-chan?" tanya Orihime tiba-tiba. "Apa Ichigo-kun tidak mengajakmu untuk menikah?"
Rukia hanya diam. Memikirkan tentang pernikahan rasanya begitu jauh di dalam pandangannya. Hubungannya dengan Ichigo saja masih belum jelas, ini lagi sudah ditanya soal pernikahan?
"Aku saja belum menjalin hubungan lagi sejak putus dengannya, Orihime. Tidak mungkin dia langsung menikahiku, kan?" jawab Rukia seadanya.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak tanya langsung saja, Rukia-chan? Siapa tahu saja sebenarnya Ichigo-kun sedang menyiapkan kejutan dengan melamarmu?" tebak Orihime sedikit menggoda Rukia.
Rukia kembali diam. Kalau memang benar begitu, rasanya dia semakin tidak siap untuk bertemu dengan Ichigo sekarang. Dua bulan sudah berlalu sejak pengakuan Ichigo dan juga reuni kecil mereka saat itu. Rukia masih tetap menjalankan hari-harinya di Amerika. Uang untuk pulang ke Jepang hasil kerja kerasnya selama ini pun sudah terkumpul, sangat pas karena beberapa hari yang lalu Ayahnya, Kuchiki Byakuya, menghubunginya untuk menyuruhnya kembali.
"Lebih baik kau pikirkan tentang masalah pernikahanmu, Orihime. Jadi, kapan kau akan menikah?" tanya Rukia mencoba mengalihkan topik.
"Hmmm… seminggu dari sekarang."
"Baiklah, aku akan pulang secepatnya, oke?"
"Aku menunggu~" dan pembicaraan pun dihentikan.
.
.
Sementara itu…
.
.
Kita akan menyorot kediaman Kurosaki setelah pasca Ichigo bertemu dengan Rukia. Terlihat Renji tengah sibuk menulis jadwal-jadwal baru tentang pekerjaan Ichigo selanjutnya. Plus ditambah dengan pekerjaan baru, Renji harus menjadi salah satu bestman untuk pernikahan Ishida karena Ichigo menolak dengan tugas ini.
"Daripada aku, lebih baik kau suruh saja Renji. Dia lebih dapat dipercaya."
Karena Ishida juga percaya Renji lebih dapat diandalkan daripada Ichigo, akhirnya terpilihlah Renji menjadi salah satu bestman bersama dengan Ulquiorra (atas saran dari Grimmjow).
Setelah selesai mencatat semua kegiatan majikannya hari ini, Renji bergegas menuju ruangan kerja Ichigo. Yup! Ichigo tengah disibukkan dengan berbagai tumpukan dokumen yang merepotkan. Bola mata hazelnya terlihat fokus membaca kata per kata dari kertas putih di tangannya. Kerutan permanennya terlihat lebih jelas saat dia sedang bekerja, tak lupa secangkir kopi hangat membantu pekerjaannya.
"Ichigo, aku sudah mencatat semua jadwalmu untuk bulan ini," jelas Renji mengabarkan.
Ichigo menjawabnya dengan mengangguk. Dia masih berkonsentrasi dengan isi dokumen di mejanya. Renji yang bosan karena tidak ada pekerjaan lagi tiba-tiba terbesit keinginan untuk bertanya.
"Say, Ichigo. Kenapa kau tidak mengikuti jejak Ishida?" tanya Renji.
"Jejak?" pandangan Ichigo masih belum teralihkan dari berkas dokumen.
"Aku sedang bicara soal pernikahan," ucap Renji lebih jelas. "Daripada kau kembali mengajak Rukia untuk pacaran, kenapa kau tidak sekalian mengajaknya untuk menikah?"
Ichigo langsung berhenti dari kegiatannya. Pandangan hazelnya kini teralihkan menatap Renji.
"Jangan bilang padaku kau tidak kepikiran tentang itu," tebak Renji sambil menepuk keningnya. Bisa-bisanya pria yang tengah bergelut dengan tumpukan pegunungan dokumen-dokumennya itu tidak terpikirkan bagaimana cara untuk membahagiakan seorang wanita.
Hey, Ichigo itu pria berumur! Seharusnya dengan usianya yang sekarang dia paham dengan impian setiap wanita. Omong kosong jika dia tidak memikirkan tentang masa depannya. Membina keluarga baru juga sebenarnya salah satu termasuk rencana Ichigo.
Masalahnya, yang diajak untuk ikut membangun keluarga barunya mau atau tidak?
"Aku tidak ingin menakutkan Rukia dengan mengajaknya menikah. Kami baru saja bertemu setelah dua tahun lamanya, masa aku langsung melamarnya padahal pacaran saja tidak?"
"Kau sudah mencobanya atau belum?"
Ichigo terdiam sejenak. "Belum…"
"Nah! Dicoba saja belum kau sudah mau bilang tidak mau menakutinya," ujar Renji heran.
"Karena aku tahu menikah itu tidak mudah, babon!"
"Memangnya siapa bilang menikah itu gampang, dasar jeruk bodoh!"
Renji hanya tertawa dari balik pintu kerja Ichigo. Membiarkan sang pemilik ruangan merenungi tentang hal yang baru saja mereka debatkan. Apa yang Renji ucapkan memang ada benarnya, tidak ada salah mencoba. Tapi, jika mengingat umur Rukia yang baru berusia 22 tahun, tidak mungkin dengan mudahnya dia bilang bersedia ketika Ichigo melamarnya.
"Aku terlihat seperti orang bodoh jika harus berhadapan dengan masalah seperti ini…"
Ichigo menghela nafas pasrah. Dirinya memang baru belajar soal cinta, tapi bukan berarti dia tidak tahu peraturan tentang pernikahan. Semua orang juga pasti tahu langkah pertama untuk menikah yaitu mempunyai pasangan yang mencintai dan bersedia untuk dinikahkan.
Jika kita bertanya dengan Ichigo apakah dirinya mencintai Rukia, dia pasti dengan yakin menjawab ,"ya!" dan mungkin juga dia akan menjawab dengan penuh keyakinan, "aku bersedia menikah dengannya!"
Namun jika kita bertanya kepada Rukia apakah dia bersedia menikah dengan Ichigo? Mungkin saja, Rukia menolak karena belum siap untuk menikah. Atau mungkin saja, Rukia sudah tidak terlalu mencintai Ichigo karena hubungan mereka yang tidak terlalu jelas. Atau mungkin…
"BERHENTI BERSPEKULASI DENGAN TEORI TIDAK JELASMU ITU, ICCHY!"
Ah, gomennasai… sepertinya saya terlalu asyik menganalisa tentang bagaimana kelanjutan hubungan mereka berdua. Back to topic! Setelah protes kepada sang Author gagal akhirnya pekerjaan Ichigo kembali tertunda. Dirinya terus mengutuk Renji karena sudah menganggunya dengan pertanyaan yang seharusnya tidak dibicarakan sekarang. Tapi, kalau Renji tadi tidak bertanya seperti itu mungkin selamanya Ichigo tidak akan memikirkannya seperti sekarang ini.
Hal yang ingin dia lakukan pertama kali sebelum menikahi Rukia adalah…
"Aku ingin bertemu Rukia…" dengan ganas Ichigo menjatuhkan keningnya diatas tumpukan pekerjaannya. Padahal dia sudah berusaha untuk tetap sabar menunggu mungil pulang ke Karakura, selama dua bulan pun Rukia tidak juga menghubunginya. Ichigo bisa saja menyusulnya kembali dan bertemu dengannya, tapi kalau hal itu dia lakukan yang ada Rukia malah melayangkan sebuah lagu berisi celotehannya karena Ichigo dengan seenaknya meninggalkan pekerjaan hanya demi bertemu dengannya. Sekarang yang bisa Ichigo lakukan hanya menunggu dan menunggu…
.
.
Finally, seminggu kemudian…
.
.
Narita airport, salah satu bandara yang berpengaruh besar di Jepang. Sebuah pesawat yang diterbangkan dari New York city sudah mendarat dengan selamat. Rukia terlihat diantara gerombolan para penumpang yang baru turun. Saat ini dirinya tengah menunggu kopernya di tempat pengambilan barang. Kedua violetnya menangkap seorang wanita tengah kebingungan seakan mencari sesuatu. Rukia mengamati sosok wanita tersebut, rambutnya berwarna caramel bergelombang, memakai dress bunga-bunga begitu manis. Matanya tertutupi oleh sunglass namun terlihat cocok dengannya.
Tidak ada yang mau menolong wanita yang sedang kebingungan itu. Karena risih dan juga penasaran, akhirnya Rukia memutuskan untuk menghampirinya dan bertanya.
"Ng… ada yang bisa kubantu? Sepertinya anda kebingungan mencari sesuatu," tanya Rukia sopan.
Wanita itu langsung menoleh kearah Rukia. Dibalik kacamata hitamnya dia tersenyum manis.
"Ah, terima kasih. Aku mencari sesuatu yang terjatuh disini, tapi tidak ketemu," jawabnya masih celingukan mencari sesuatu.
"Boleh kutahu benda apa yang hilang, bibi?" tanya Rukia.
"Semua koperku! Seharusnya tadi aku tidak ikuti saran dari petugas Amerika disana, sekarang aku bingung bagaimana caranya mengembalikan semua barangku!" seru wanita itu panik.
Sing… Rukia terdiam, bukannya kalau koper yang kita bawa itu biasanya ditaruh dibagasi pesawat sampai tempat tujuan, yah? Setelah itu, kita akan mengambil ditempat pengambilan barang. Koper dan semua barang yang kita bawa pasti akan ditaruh dibiarkan berputar sampai kita mengambilnya. Pikirannya kembali melayang, apa jangan-jangan bibi didepannya ini baru pertama kali naik pesawat?
"Ngg, bibi… kalau soal itu sebaiknya bibi menunggu disini. Semua koper kita akan dikembalikan lewat tempat itu," jelas Rukia sambil menunjuk tempat yang memutarkan barang-barang para penumpang.
"Ah, itu koperku," Rukia beranjak untuk mengambil kopernya. "Punya bibi mungkin sebentar lagi akan datang. Aku akan membantu bibi," sambungnya tersenyum.
"Nona baik sekali~" puji wanita itu. "Jarang sekali aku bertemu gadis sepertimu. Boleh kutahu siapa namamu?" tanya wanita itu.
"Kuchiki Rukia."
"Lucia?"
"Rukia desu," ucap Rukia sambil jelas.
"Sudah kuduga kau begitu manis sekali, Rukia-chan~" ujar wanita itu terlihat bersemangat.
Rukia mengerutkan keningnya heran. "Ng, apa aku pernah bertemu dengan bibi sebelum ini?"
"Ahahaha, tidak! Tidak!" wanita itu langsung menggeleng lalu membuka kacamata hitamnya dan memperlihatkan wajah aslinya yang masih terlihat muda. "Namaku Kurosaki Masaki, yoroshiku nee!"
"Yoroshiku," Rukia menunduk hormat.
Tunggu dulu! Sepertinya Rukia pernah mendengar namanya. Dimana yah?
"Ah, koperku!" lamunan Rukia pun buyar karena wanita bernama Masaki akhirnya menemukan semua koper-kopernya. Oke, terlalu banyak barang yang dibawanya. Rasanya tidak mungkin dia membawa barang sebanyak ini seorang diri.
"Terima kasih karena sudah membantuku, Rukia-chan~! Semoga setelah ini kita bertemu lagi, yah?" wanita bernama Masaki itu pun berlalu setelah melambaikan tangannya. Meninggalkan Rukia yang agak sedikit sweatdrops dengan tingkahnya.
.
.
Finally (again)…
.
.
Akhirnya, setelah beberapa jam dalam perjalanan menuju Karakura, kini sampailah Rukia di depan rumahnya yang merupakan kedai ramen Kuchiki. Hari ini, kedai sedang tutup karena hari ini merupakan hari pernikahan Orihime dan Ishida dilangsungkan. Ayahnya pasti juga bersiap-siap untuk datang dan menunggu Rukia pulang.
"Tadaima~!" Rukia menggeser pintu masuk dengan ceria.
Terlihat Byakuya tengah merapikan jas birunya, penampilannya begitu rapi dan siap untuk pergi menghadiri pesta. Sebelum itu, dirinya tersenyum singkat menyambut putri kesayangannya.
"Okaeri, bagaimana perjalananmu?"
"Untungnya lancar-lancar saja. Orihime kadang suka mendadak memberikan kabar."
"Dia sudah memberitahumu dari seminggu yang lalu, Rukia."
"Iya sih… tapi aku masih membereskan keperluanku disana, makanya aku baru bisa pulang sekarang. Dan untungnya aku pulang tepat pada waktunya," jelas Rukia.
Byakuya tersenyum singkat. "Ganti bajumu setelah itu kita langsung berangkat."
Setelah mengangguk singkat mendengar perintah Ayahnya, Rukia pun berlalu untuk mengganti penampilannya dengan mini dress berwarna putih polos. Agak simple namun boleh lah untuk sekedar menghadiri resepsi pernikahan. Setelah memastikan dirinya oke, mereka pun bergegas pergi.
.
.
Sebuah gereja yang begitu megah sengaja dipesan oleh Ishida Uryuu yang merupakan calon pewaris rumah sakit Ishida yang begitu terkenal dengan kecepatannya menangani pasien-pasien yang datang. Betapa takjubnya Rukia dan juga Rangiku melihat penampilan Orihime yang begitu cantik dengan balutan gaun pengantin yang begitu indah. Renda yang menutup rambut coklat panjangnya benar-benar semakin membuatnya terlihat seperti bidadari.
"Wow!" Rangiku berdecak kagum.
Rukia terlalu bingung untuk berbicara.
"Hehehe," Orihime tersipu.
"Nanti jangan lupa ceritakan pada kami tentang malam pertamamu, yah~" goda Rangiku.
"Sepertinya bukan malam pertama lagi, Rangiku-san," Orihime tertawa. Dia kan sudah pernah melakukannya jauh sebelum ini.
"Say, kapan kau akan menyusul, Rukia-chan?" tunding Rangiku langsung memberikan pertanyaan kepada Rukia, si mungil yang sepertinya sedang tidak ingin disinggung soal tersebut.
"Aku baru pulang dari Amerika, belum berpacaran dengan Ichigo, dan seminggu yang lalu Orihime juga menanyakan hal yang sama denganmu," Rukia mendengus malas.
"Aku tidak mau memikirkan tentang hal itu!" jawabnya mantap.
"Ayolah~" Rangiku masih memaksa. "Belum berpacaran bukan berarti tidak menikah, kan?"
"Hey, saat ini yang harusnya diberikan pertanyaan itu Orihime! Yang menikah hari ini kan dia?" seru Rukia tidak terima kenapa selalu dirinya yang diteror pertanyaan absurd tersebut.
"Kalau aku sudah jelas akan segera menikah dengan Ishida-kun," jawab Orihime santai. "Nah sekarang pertanyaan kami adalah, kenapa kau tidak bertanya kepada Ichigo-kun tentang hubungan kalian?"
"Benar, kesampingkan soal pernikahan. Sekarang kenapa kau tidak tanya ke Ichigo hubunganmu dengannya? Kalian belum menjalin hubungan, kan?" sambung Rangiku.
Rukia terdiam, kedua sahabatnya benar, Ichigo belum mengikat status dengannya. Rukia juga sebenarnya tidak keberatan dengan hal itu, tapi… sampai kapan semuanya akan berjalan seperti ini terus? Ichigo memang sudah mengakui kalau dia mencintai Rukia, begitu juga sebaliknya. Tapi, jarak yang memisahkan mereka seperti sekarang ini bisa saja membuat kemungkinan Ichigo akan melirik wanita lain. Banyak wanita lain yang lebih cantik, lebih pintar, dan lebih mencintai Ichigo sepenuh hatinya melebihi Rukia, dan mungkin saja banyak wanita seperti Rukia yang menyukai Ichigo apa adanya tanpa memandang status.
Kalau Rukia tidak mau semua yang dia takutkan itu terjadi, berarti mau tidak mau dia harus mengikuti saran dari Rangiku dan Orihime?
"Apa aku harus memastikan hubunganku dengannya?" tanya Rukia gugup. Rasanya memalukan bertanya tentang hal seperti ini.
"Tentu saja!" jawab Rangiku dan Orihime bersamaan.
"Begini saja, setelah semua acara selesai, aku akan memastikan Ichigo sendirian, saat itulah kesempatanmu untuk mengobrol dengannya," jelas Rangiku.
"Dan aku akan mengawasi gerak-gerik Ishida-kun dan Abarai-kun," sambung Orihime tersenyum.
"Yah tidak perlu seekstrim itu but… thanks!"
Mereka bertiga saling berpelukan. Lalu kembali merayakan hari bahagia Orihime dan juga Rukia yang sebentar lagi terjalin. Dengan ini, rencana pun dimulai!
.
.
Skip time…
.
.
Sebuah ruangan serba guna yang disulap menjadi tempat pesta perayaan untuk pernikahan Orihime dan Ishida begitu megah. Teras belakangnya langsung memaparkan kolam renang dengan air yang terlihat seperti air laut. Semuanya terlihat begitu gembira merayakan hari ini, tapi tidak untuk Kurosaki Ichigo. Wajahnya menatap sendu semilir air yang bergoyang pelan.
Dirinya tidak bergairah karena sedaritadi tidak melihat sosok Rukia di dalam kerumunan orang-orang. Padahal seharusnya Rukia datang karena hari ini yang menikah adalah salah satu sahabatnya. Saat Ichigo menyapa Byakuya, dia diberitahu kalau Rukia sudah pulang ke Amerika dan datang bersamanya. Tapi, kenapa sampai saat ini Ichigo tidak melihat sosoknya?
"Kenapa dia tidak mengabariku dulu?" Ichigo mulai bertanya-tanya.
Apa Rukia tidak ingin bertemu dengannya? Tidak, tidak, tidak. Sepertinya Ichigo hanya lelah karena jadwal yang padat sedari pagi.
"Sepertinya kau kesepian yah, paman jeruk?" sebuah suara langsung membuyarkan semua pikiran nething yang tadi menggerogoti otak Ichigo. Sebuah suara yang selalu dia nantikan kini terdengar jelas di kedua telinganya.
Saat Ichigo menoleh, terlihat sempurna sosok mungil dengan mini-dress putih polosnya dipadu dengan rambut hitam yang terlihat lebih pendek sejak terakhir kali mereka bertemu. Pantulan kristal ungu dikedua matanya tersenyum hangat.
"Yo!" sapa Rukia singkat sambil menghampiri tempatnya berdiri.
Ichigo hanya bisa tersenyum lega. Yah, setidaknya Rukia tidak melupakannya. "Yo…"
Tangannya mencoba menjamah tubuh mungil Rukia dan memeluk dengan penuh kerinduan.
"Aitakatta…" bisiknya begitu mesra di telinga Rukia.
Rukia hanya bisa tersenyum mengerti, dia juga merindukan Ichigo. "Aku tahu…"
.
.
Epilog - end
~ Icchy's corner ~
Gyaaaa! #berlindung dari timpukan para readers
Epilognya masih bersambung sebenarnya, soalnya sebenarnya ceritanya agak lumayan panjang, tapi Icchy usahakan disingkat untuk epilog keduanya ^^a
Yaaa... well, disini tuh IchiRuki mulai disinggung2 soal merrid...
Icchy jelasin aja disini deh secara singkat (baca : panjang)
1. Rukia ga pernah kepikiran soal nikah sama Ichigo, pas Orihime nyinggung soal itu baru dia kepikiran sama statusnya dengan Ichigo yg masih blum jadian
2. Disatu sisi, Ichigo sebenarnya udah ada kepikiran untuk ngelamar Rukia. Tapi mengingat umur Rukia baru 22 thn, dia pikir Rukia pasti belum mau untuk nikah muda. Padahal sebenarnya Ichi sih siap2 aja asalkan Rukia terima dia =))
Yah... untuk 2 hal diatas bakal Icchy ceritain di epilog keduanya... Ini sih bukan epilog namanya tapi cerita baru #digebukin...
Icchy mau say Arigatou buat semua pembaca yg berkenan memberikan review untuk (semua) Fic Icchy, I LOPH YOU GUYS POLL! #sun" :X
Jgn lupa tinggalkan review kalian supaya Icchy tau bagaimana tentang cerita geje ini... #bungkuk
Sekian, REVIEW ONEGAISHIMASU~! :D
