BAB 11
Memasuki awal Agustus berarti telah memasuki pertengahan musim panas. Udara tak sepanas siang tadi sehingga Ara lebih nyaman ketika ia tiba di halaman belakang Malfoy Manor. Ara tak melakukan apapun selain menatapi taman bunga yang dirawat oleh tangan Narcissa Malfoy sendiri hingga menjadi seindah ini. Sesekali diliriknya burung merak putih yang tengah merentangkan sayapnya yang luar biasa indah milik keluarga sepupunya. Malfoy memang selalu hidup mewah. Tak heran memang, keluarga bangsawan darah-murni tersohor, sepadan dengan keluarganya.
Menghela napas, lalu beranjak menuju kursi taman terdekat. Ara memandangi bunga-bunga yang masih bermekaran. Ara suka bunga, tetapi ia tak suka merawat bunga, lebih kepada tak pandai merawat sebetulnya. Di sisi lain, burung merak putih itu berjalan dengan anggunnya menuju tempatnya duduk, meminta tiga usapan lembut di lehernya yang panjang. Burung merak itu mengenali Ara, bahkan sejak makhluk itu baru menetas dari telurnya.
Delapan tahun yang lalu ketika Lucius dan Narcissa mengajaknya dan Draco mengunjungi sebuah kebun binatang di Yunani, Narcissa meminta Lucius membelikannya sebuah telur burung merak untuk dipeliharanya di Manor. Dengan beberapa bujukan dan rayuan, akhirnya Bibinya membawa telur itu pulang. Bersama-sama dengan Ara dan Draco, Bibinya merawat telur itu hingga menetas dan menjadi merak cantik seperti saat ini.
Tiga usapan lembut berhasil membuat makhluk anggun itu tenang. Kata orang, mengelus bulu binatang peliharaan dapat meringankan beban. Ara tertawa meremehkan dalam hati, mungkin itu hanya omong kosong karena Ara masih merasa tertekan sebanyak apapun ia mengelus leher Laselle–nama burung merak itu.
Peristiwa dibunuhnya satu keluarga Muggle oleh orang tua dan pamannya masih berbekas di benak Ara. Bukan apa-apa, hanya saja mereka telah berbaik hati menolong Ara yang pingsan empat hari lalu. Kalau saja itu Muggle yang lain, mungkin Ara tak akan peduli. Jujur saja, sejak peristiwa itu, pandangan Ara tentang Muggle mulai sedikit berubah. Dan justru itu membuatnya goyah. Apa jalan yang dipilihnya ini salah?
Menjadi seorang Pelahap Maut yang pekerjaannya hanya berbuat kriminal, tentu saja merupakan hal yang salah. Namun saat ini yang ia cari bukanlah mana yang benar dan mana yang salah. Ia hanya mencari mana yang terbaik untuk dirinya. Peristiwa itu membuat pendiriannya menjadi goyah. Dan Ara sangat benci dengan yang namanya ketidakpastian.
Apalagi cuplikan-cuplikan di mimpinya terasa sangat mengganggu. Mimpi-mimpi anehnya sejak musim panas tahun lalu. Apa orang mati bisa memberi petunjuk kepada orang yang masih hidup? Ara tak mengerti. Hingga Ara mendapatkan satu hipotesis mengenai hubungannya dengan ketiga orang yang selalu menghantui tidurnya itu. Dan rasa takut merambat ke hatinya.
Saat ini orang tua dan pamannya sedang menjalankan misi sejak tadi pagi. Sebenarnya Ibunya memaksa Ara untuk ikut dengannya, namun Bibi Narcissa tak mengizinkannya pergi karena Ara masih butuh istirahat. Tulang rusuknya yang retak belum pulih benar, meskipun telah diobati dengan pengobatan Muggle waktu itu dan ramuan yang dibuat bibinya.
"Sedang apa di sini? Sendirian.." suara itu mengejutkannya.
"Tak boleh memang?" balas Ara menatap Draco yang berjalan menuju ke arahnya. "Kau sendiri ngapain ke sini? Kangen, eh?"
Draco mencibir, "Maumu.."
Ara terkekeh kecil. Rasanya sudah lama sekali ia tak tertawa sehingga terasa aneh.
"Masih kepikiran Muggle-muggle itu, ya?" tanyanya sambil menjatuhkan bokongnya di sebelah kiri Ara. Kemarin Ara terpaksa menceritakannya karena Bibi Narcissa mendesaknya dengan membabibuta.
"Tidak juga," jawab Ara. "Tapi memang masih cukup menggangguku.."
"Mereka hanya Muggle kotor tak penting," kata Draco datar. Ara menoleh. "Pikirkan saja seperti itu, seperti biasa kau memandang mereka. Mungkin akan lebih cepat terlupakan. Bagaimanapun, itu memang tugas kita, membunuhi para Muggle."
Ara terdiam. Ia merasa hatinya mencelos ketika mendengar tiga kata terakhir. Draco beranjak dari duduknya untuk sekedar mengelus leher Laselle yang kini tertidur di sebelah kanan Ara. Draco tersenyum tipis tatkala Laselle menggeliat, mungkin baginya terlihat lucu.
"Kau merasa pernah melakukannya?" kata Ara sarkas setelah sejenak mengingat hal yang pernah Travers–salah satu Pelahap Maut–ceritakan padanya. "Seingatku yang kau lakukan hanya bersembunyi di belakang Travers atau si gendut Amycus sambil merengek minta pulang."
Draco mendelik kepada Ara. Pipinya merona merah jambu ketika mendengar sindirannya itu. Nampaknya Draco menganggap hal itu sangat memalukan sehingga ia tak sanggup membalas dengan pedas.
Ara tertawa meremehkan, "Draco... Draco, kapan sifat pengecutmu itu hilang, hm? Di Hogwarts saja lagakmu sok berkuasa."
"Aku bukan pengecut!" serunya sengit, lalu menambahkan dengan suara rendah, "Aku hanya.. tak terbiasa membunuh orang."
Ara menggulirkan bola mata, "Oh, berkatilah Santa Draco ini!"
Kadang Ara tak habis pikir juga. Draco yang terkenal dengan keangkuhan dan kebenciannya terhadap Muggle dan Darah-lumpur nyatanya tak sanggup membunuh mereka.
Betapa kontradiktifnya.
Ara tahu tak semua kaum mereka, kaum pro Drah-murni mampu melakukannya dengan hanya berdasar dari kebencian mereka. Namun mereka adalah Pelahap Maut yang terlatih, seharusnya Draco bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Bahkan Vincent dan Greg masih lebih berani dari Draco. Seringkali mereka mempermainkan tawanan mereka dahulu sebelum dibunuh. Entah itu dengan Kutukan Crusiatus atau yang lainnya. Ara kadang merasa mereka berdua terlampau bengis, meskipun masih jauh dari tingkat kebengisan orang tuanya, terutama Ibunya. Nyaris tak ada Pelahap Maut lain yang bisa menyaingi kesadisan Bellatrix Lestrange.
Ara tak menghitung berapa lama waktu yang mereka habiskan hanya untuk diam setelahnya. Sebetulnya tak benar-benar diam, hanya menikmati angin sore tanpa berkata apapun.
Kemudian suara Draco memecahkan keheningan.
"Kudengar malam ini ada pesta pernikahan di gubuk para Weasley. Entah pernikahan siapa," lanjut Draco karena Ara tak menanggapi. "Mungkin si Redhair dengan Darah-lumpur itu. Atau Potty dengan cewek Weasel-bee itu."
Ara tak ingin tahu dari mana Draco mendapat informasi itu karena kini mood Ara mendadak buruk, "Jangan bicarakan mereka."
"Mengapa? Tak biasanya kau seperti ini," katanya heran.
"Jangan tanya-tanya," balas Ara ketus.
Sebetulnya ia sendiri pun bingung apa sebabnya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah ketenangan dengan tak mengungkit-ungkit mereka. Setiap nama cowok itu terdengar di telinganya, rasanya pertahanan Ara nyaris runtuh. Dan dengan sendirinya, hatinya akan kembali membangun harapan kosong itu.
Kau menyedihkan, Ara..
"Whoa, sedang PMS rupanya," katanya menyimpulkan.
Ara yang ingin segera keluar dari zona darurat itu, melenggang pergi meninggalkan Draco bersama Laselle.
Malamnya, tak ada yang bisa Ara kerjakan. Kebosanan yang tiada habisnya membuat Ara uring-uringan. Bingung harus melakukan apa. Sedari tadi yang dilakukannya dalam kamar tidurnya hanya berbaring, lalu bangkit duduk lagi. Kemudian berbaring lagi, lalu duduk lagi.
Rasanya malas juga jika berlatih. Lagipula menurutnya ia sudah mahir. Beberapa minggu lalu ia bahkan membawa beberapa tawanan Muggle untuk dijadikannya sebagai objek latihannya dalam mantra modifikasi memori. Mungkin untuk kegiatan Pelahap Maut rasanya tak begitu berguna. Tujuan mereka menyerang Muggle sudah jelas supaya mereka semua tahu bahwa di tengah-tengah mereka ada sekumpulan penyihir yang terpaksa merahasiakan diri mereka karena keegoisan para Muggle. Namun Ara berpikir mungkin mantra ini akan berguna di suatu hari.
Ara juga sempat berpikir untuk mempelajari Patronus. Menurutnya itu sangat berguna meskipun semua orang tahu bahwa Dementor berada di pihak Voldemort. Bagaimanapun Dementor tak bisa melihat siapa mangsa yang diincarnya. Dementor hanya bisa merasakan emosi di sekitarnya. Barangkali suatu hari Ara bertemu Dementor, ia sudah siap mencegah serangannya. Tetapi sejujurnya ia pesimis bisa melakukannya karena Patronus bisa dikeluarkan jika si perapal memiliki memori kebahagiaan yang kuat. Dan Ara tak yakin memiliki memori semacam itu. Karena hidupnya hanya penuh kesinisan, persaingan, dan ambisi.
Menyapu pemikiran tadi ke belakang otaknya, sekarang Ara merasa sedikit cemas. Hingga saat ini, Ayah-Ibunya belum juga kembali. Apa terjadi sesuatu dalam misi mereka? Ara segera beranjak dari kasurnya. Hendak bertanya kepada siapa saja agar mengurangi cemasnya meskipun Ara tahu orang tuanya tak akan begitu saja kalah dalam pertempuran, bahkan kukunya tergores pun rasanya mustahil.
Ara tak menemukan seorang pun dalam manor, bahkan Paman Lucius, Bibi Narcissa, dan Draco. Akhirnya ia memutuskan menuju gerbang, mungkin ada seseorang yang berjaga di sana. Dan dugaannya benar, Jugson, Alecto, dan Wormtail berada di sana. Wormtail tampak sedang membanggakan tangan peraknya yang dibalas cibiran dari Alecto. Kemudian Jugson mengusirnya sehingga Wormtail masuk ke manor terburu-buru dengan kaki pendeknya setelah sempat berpapasan dengan Ara.
"Kalian... apa kalian sedang berjaga di sini?" tanyanya pada keduanya.
"Tidak juga. Kami menunggu berita dari Kementrian," kata Jugson, menatap Ara dengan heran.
"Apa kalian tahu bagaimana perkembangan misi yang Ayah-Ibuku lakukan? Mengapa mereka belum pulang juga hingga sekarang?" kata Ara.
"Tak biasanya kau mengkhawatirkan mereka, Ara," tukas Alecto. "Kudengar mereka akan langsung ikut penyerangan jika berita dari Kementrian sudah tiba."
Alis Ara mengerut, "Penyerangan? Penyerangan apa? Bu-bukankah hanya membunuh Scrimgeour?"
Jugson menyeringai, "Kau tak menyimak rapat kita waktu itu? Begitu Kementrian kita kuasai, orang-orang kita akan langsung menyerang tempat Potter bersembunyi sekarang."
Seakan ada sesuatu yang meninju perutnya. Ara tak mengerti mengapa dirinya baru mengetahui itu sekarang. Apa memang ia tak menyimak dengan benar?
Kemudian terdengar suara orang ber-Apparate. Seorang laki-laki gendut–Amycus–berjalan melewati kegelapan di jalan masuk Malfoy Manor. Pria itu tak repot-repot menggunakan Lumos untuk menerangi jalannya. Laselle muncul dari puncak pagar tanaman yang membatasi di sepanjang jalan masuk Malfoy Manor.
"Lucius... selalu berkecukupan," gumam Jugson. Kemudian laki-laki itu berpaling ke arah Amycus yang telah mendekati mereka. "Bagaimana?"
"Kementrian sudah kita kuasai," katanya dengan desis antusiasme yang luar biasa. "Anak itu bersembunyi di tempat Weasley, sebagian dari kita sudah ke sana."
"Ayah dan Ibuku?" tanya Ara.
"Sejak kapan kau di situ?" tanya Amycus balik, menatap Ara dengan matanya yang agak juling. Ara menggeram kesal. "Rodolphus dan Bellatrix sedang menuju ke sana. Kau tak ikut?"
"Ayo kita susul mereka," kata Jugson kepada dua rekannya. "Dia masih harus istirahat karena belum pulih benar. Betul, kan?" lanjutnya dengan nada sindiran yang sangat kentara.
Ara tahu bahwa sebagian besar Pelahap Maut begitu antipati dengan keluarganya. Mereka menganggap keluarganya merupakan saingan terberat mereka dalam mendapatkan kepercayaan dari Lord Voldemort. Ara sudah menyadarinya sejak lama sehingga kini rasanya sudah terbiasa dengan berbagai sindiran.
Ketiganya menghilang secara misterius setelah suara khas orang ber-Disapparate terdengar.
Ara masih terpaku. Perasaannya kini campur aduk, tak terjelaskan. Mendadak Ara ingin ikut dalam penyerangan itu. Ia sendiri tak mengerti apa sebabnya. Untuk sekedar mengetahui situasi di sana? Atau.. mengetahui keadaan Harry?
Brengsek!
"Siapa di sana!" seruan itu cukup mengejutkannya. Bibi Narcissa muncul dari kegelapan menuju tempat Ara berdiri. "Kau rupanya, kukira siapa. Sedang apa kau di sini?"
"A-aku..."
"Cepat masuk," katanya menarik Ara masuk ke manor.
-xx-
Keparat!
Ia mengumpat. Lagi. Entah sudah ke berapa-kalinya Ara menggeram dalam hati. Tangannya kembali meraih rambut pendek–yang sekarang sudah agak panjang–nya, lalu mengacak-acaknya dengan brutal sambil–lagi-lagi–mendesah.
Waktu telah menunjukan pukul sebelas. Waktu yang biasanya dihabiskannya untuk tidur, namun kali ini matanya enggan kooperatif dengan otaknya. Yang dilakukannya selama tiga jam terakhir hanyalah mengumpat sambil menjambak rambutnya sendiri.
Sialan!
Ara tak bisa memastikan apa bentuk dari sesuatu yang mengganggu pikiran dan sanubarinya sejak tiga jam yang lalu. Lebih tepatnya–takut memastikan apa gerangan yang mengganggunya saat ini. Sungguh ironis. Ia tak mengerti mengapa kali ini terasa sulit sekali mensugesti dirinya sendiri untuk tak usah peduli dengan apa yang terjadi. Sebelumnya tak pernah sesukar ini.
Tolol!
Ia butuh pelampiasan. Ia membutuhkan pengalih perhatian. Harry Potter harus segera ditendang keluar dari kepalanya. Tapi ia sendiri bingung apa yang harus dikerjakannya untuk menghalau bayang-bayang cowok dengan codet di dahinya itu. Menjambak rambutnya sampai rontok pun nyatanya tak mempan menghilangkan sosok itu dari pikirannya.
Demi Salazar, jangan pedulikan dia, Ara!
Beribu sugesti telah dirapalkannya dalam hati seperti berlatih mantra, namun rasanya percuma saja. Sejak menghilangnya Jugson, Amycus, dan Alecto dari gerbang Malfoy Manor, dadanya serasa ditekan batu besar hingga napasnya sesak. Ia–sekali lagi–benci mengakui bahwa kini cowok itu merasuki benaknya lagi. Ia takut.
Ada saat di mana Ara lelah dengan segala penyangkalan atas isi hatinya. Ada saat di mana dirinya pasrah, mengikuti permainan takdir yang konyol ini. Namun lagi-lagi ia menyadari bahwa semuanya adalah sebuah kesalahan. Berjuta kali ia berpikir, mencerna, menganalisis segala yang terjadi di antara dirinya dan Harry, dan ujung-ujungnya tetap tertuju pada satu kesimpulan. Yeah, kesalahan. Seharusnya sejak awal ia tak perlu berduel dengannya. Seharusnya ia tak perlu datang ke perpustakaan itu. Sepatutnya ia tak perlu keluar dari Durmstrang. Bertemu Harry Potter hanya membuat semuanya semakin sulit. Ia sungguh menyesalinya sekarang.
Ia sadar sepenuhnya bahwa mereka berdua tidak akan berhasil. Harry Potter memang tak akan pernah bisa disandingkan dirinya. Ara Lestrange tak selayaknya bersama Sang Terpilih. Dunia mereka berbeda–sangat berbeda dan berlawanan. Permainan takdir bodoh yang membuatnya terus berputar dalam kebimbangan tak berujung. Kini air mata yang sedari tadi ditahannya menyeruak keluar.
Brengsek!
Ara tak bisa terus seperti ini. Ia tak ingin. Masih banyak hal yang belum ia selesaikan. Pengabdiannya pada Lord Voldemort. Dan jangan lupakan kebenaran tentang asal usulnya. Ara harus segera melanjutkan penyelidikannya yang masih sebatas di tengah jalan. Ia benci sekali berlarut-larut dalam dilema konyol ini.
Ara mengusap air mata di pipinya. Menangis seperti ini malah membuatnya merasa seperti gadis lemah. Ia gadis yang kuat, air matanya tak boleh dibuang dengan sia-sia. Ara keluar dari kamarnya menuju ruang makan Malfoy Manor. Mengumpat semalam suntuk ternyata mengeluarkan banyak energi sehingga kini perutnya terasa lapar. Persetan dengan Harry Potter. Ia hanya ingin makan saat ini.
Menghilanglah dari otakku, Potter! Aku ingin makan dengan tenang!
"Micky!"
Sedetik kemudian bunyi Apparate terdengar seiring munculnya peri-rumah yang cukup tua itu ke hadapannya.
"Ya, Nona Ara."
Peri-rumah itu seperti biasa membungkuk dengan sangat rendah hingga hidungnya yang agak panjang nyaris menyentuh lututnya sendiri.
"Aku ingin makan. Ambilkan yang banyak."
Peri-rumah itu menghilang setelah menyuarakan kesediaannya. Kemudian beberapa detik setelahnya Micky muncul lagi dengan beberapa hidangan tersedia di meja di depan Ara. Ada kentang tumbuk, daging panggang, lima potong paha ayam goreng, puding cokelat, dan seteko jus labu kuning kesukaannya.
Ara makan dengan tidak bersemangat. Ia mengumpat lagi dalam hati karena lidahnya terasa pahit sekali ketika makanan masuk ke mulutnya. Mood-nya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama. Bayang-bayang Harry yang menghantui kepalanya seperti lalat yang mengerubungi bangkai masih sedikit-banyak mengganggunya.
Ara menghela napas.
"Bawa pergi semuanya. Aku tak jadi bernafsu untuk makan," kata Ara yang menyadari bahwa Micky masih siaga di sana memerhatikannya makan.
"Baik, Nona."
Seketika Micky lenyap membawa serta makanan-makanan lezat dari meja makan. Ara menjambak rambutnya lagi. Sekarang ia yakin sekali bahwa ia sudah layak masuk St. Mungo di bagian kejiwaan. Ia nyaris menggigit lengannya sendiri karena menggeram terlalu sering. Ia tahu memendam sendiri keluh kesah terlalu banyak itu tidak bagus, tapi ia tak bisa menceritakan perasaan–terlarang–nya pada orang lain. Ia bertekad sejak awal bahwa ini hanya akan menjadi rahasia kotornya seorang–tidak, rahasianya dan Harry.
Demi jenggot Merlin, kini ia menyesali satu hal lagi bahwa ia telah berbuat bodoh dengan mengatakan tiga-kata-terlarang itu padanya. Yeah, ia ingat saat itu, di dekat Danau Hitam, sore hari. Bahkan ciuman mereka, ia masih ingat dengan jelas, sejelas melihat dalam Pensieve.
Bodoh!
Tolol!
Brengsek!
Well, kini ia merasa seperti seorang ABG yang baru jatuh cinta dengan emosi selabil pergerakan Snitch di udara. Oh, begitu memalukan. Ia bukanlah ABG lagi, tapi ia akui kalau ia memang baru merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya, dan emosinya akhir-akhir ini memang sedang labil. Ia merasa begitu konyol. Mengapa ia tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri? Ini akan sangat menggelikan jika mengetahui bahwa Harry sendiri saat ini sedang menertawakannya di luar sana–bersama teman-teman cecurutnya.
Sialan!
Sungguh, ia harus mencari pengalih perhatian sekarang juga. Apapun itu, Potter harus keluar dari otaknya saat ini juga. Mungkinkah ini adalah kesempatannya? Mumpung semua orang pergi–khusunya Ibu dan Ayahnya. Bisakah ia mencuri pandang ke dalam Pensieve lagi? Namun ia takut ketahuan lagi. Ia tidak yakin akan dapat merasakan mentari pagi esok jika sekali lagi Bellatrix menangkap basah dirinya. Dan lagi-lagi ia menyesal bahwa tiga jam terakhir yang sangat berharga tadi malah digunakannya untuk hal yang sia-sia.
"Well, putri Lestrange yang katanya 'sedang sakit' ini mengapa masih berkeliaran di tengah malam seperti ini?"
Ara menoleh kaget dengan suara berat itu. Ternyata perkiraan bahwa 'semua orang pergi' itu salah. Goyle Senior itu tengah menatapnya tajam dengan seringaian–sok–gaharnya.
"Aku tidak berkeliaran," suaranya didatarkan semaksimal mungkin. Ara mati-matian menahan nada sengit yang sangat ingin dilontarkannya untuk Ayah teman sekolahnya itu.
"Oh ya?" pertanyaan retoris yang sangat membuatnya sebal. "Atau kau hanya pura-pura saja?"
Bingo! Itulah hal yang sangat ingin diutarakannya. Laki-laki itu merasa iri, bahkan sebagian besar dari mereka juga merasakan hal yang sama. Yeah, Ara sudah sangat mengetahuinya. Padahal sebetulnya Ara heran, apa yang mereka irikan terhadapnya? Pangeran Kegelapan tak pernah memperlakukannya serta keluarganya secara khusus. Memangnya memuji itu termasuk perlakuan khusus? Apa mereka tak ingat bahkan Ibunya juga mendapat hukuman berat karena kegagalan di Kementrian waktu itu.
"Terserah apa katamu," Ara tak terlalu suka dengan perdebatan. Apalagi untuk hal konyol seperti itu. "Daripada Paman," menyebutnya begitu membuat Ara mual, "hanya merepet tak penting, bukankah lebih baik kau tingkatkan kinerjamu itu supaya Pangeran Kegelapan mau mengakuimu ..."
Ara menyeringai tatkala melihat raut wajah Goyle Senior itu menggelap, "... atau setidaknya melirikmu."
Kemudian Ara langsung melenggang pergi, meninggalkan laki-laki berbadan besar itu yang sedang menahan amarah hingga wajahnya memerah.
Tak lama kemudian, para Pelahap Maut yang berpartisipasi semalam kembali. Namun sayangnya, dengan tangan kosong. Beberapa di antara mereka, Ara dengar dari balik pilar dekat tangga, berdebat tentang penyerangan semalam, saling menyalahkan satu sama lain hingga misi menangkap Harry Potter lagi-lagi mengalami kegagalan. Satu yang Ara yakini, mereka tidak mau disalahkan yang berakibat hukuman bagi mereka.
"Mana Dolohov dan Rowle?" raung Mulciber. "Kukira seharusnya mereka sudah kembali membawa bocah itu!"
"Tenangkan dirimu, Mulciber," sambung Snape datar. "Kita tak tahu siapa yang menyebutkan nama Pangeran Kegelapan. Bisa saja itu anggota Orde Phoenix lain yang sedang berjaga di suatu tempat."
"Bukankah semuanya berjaga di pernikahan itu? Banyak sekali wajah-wajah menjijikan yang kukenal di sana!" tukas Bellatrix sengit.
"Kau kira anggota orde tak bisa lebih banyak dari itu?" balas Snape. "Tentu saja tak semua dari mereka ada di sana."
Bellatrix mengerucutkan bibirnya, seakan ia baru saja meminum obat yang pahit.
"Kita lanjutkan sesuai rencana sampai Pangeran Kegelapan kembali," lanjut Snape. "Sementara itu cari Rowle dan Dolohov. Aku akan langsung kembali ke Hogwarts."
Langsung saja kerumunan itu membubarkan diri, sementara Snape dan dua orang di depannya keluar menuju gerbang untuk ber-Disapparate ke tujuan masing-masing. Bersamaan dengan itu pula, rasa sesak di dada Ara secara ajaib perlahan meringan. Setelahnya ia bergegas ke kamarnya sendiri karena ia tahu tak lama lagi akan terjadi sesuatu yang mengerikan jika Pangeran Kegelapan kembali dan mendapati bahwa Harry berhasil lolos lagi.
Author's Note:
Lumos!
Nama Laselle itu saya pinjam dari salah satu fanfic yang menjadi referensi juga untuk pembuatan fanfic ini. Judulnya The Black Queen (by vandermalfoy).
Pendek, ya? Tapi semoga suka deh hehe.. Btw, saya cukup sibuk dengan fanfic saya yang lain, jadi bikin saya kehilangan ide nerusin fic ini. Jadi, maaf saja kalau sering kurang memuaskan :'(
Mungkin setelah chapter ini update, saya bakalan fokus dulu sama fanfic saya yang lain sampe tamat. Salah satu faktornya adalah karena mood dan feel yang menurun drastis gegara lagi excited sama fanfic saya yang lain itu :( Setelah fanfic yang lain tamat, saya hanya perlu membaca ulang fanfic ini dari awal dan membaca buku harpot 7 supaya dapet mood dan feel-nya lagi :)
Jadi, bisa dikatakan fanfic ini dipending dulu sampai beberapa bulan ke depan. Saya gak bisa jamin sampai kapan karena ide dan mood saya gak bisa ditebak datang dan perginya hihihi, tapi saya usahakan tidak akan terlalu lama :)
Maaf, ya. Pokoknya tenang aja, saya akan tetap lanjutkan fanfic ini sampai selesai.
Saatnya balas review!
potter15: Terima kasih banyak :') Sampai jumpa lagi~
Aomine LOVER: Terima kasih banyak :') Ini adalah fanfic multichapter panjang pertama saya, jadi bikin fanfic ini tiap chapternya bener-bener dengan sepenuh hati :) Saya pikir fanfic ini absurd banget karena agak melenceng dari buku harpotnya hehehe, tapi alhamdulillah ternyata ada yang suka :') Sekali lagi terima kasih banyak ^^ Sampai jumpa lagi~
Thanks for all my lovely reviewers, followers, favoriters, and silent readers ^^
See you later~
Nox!
