"Apa yang harus kulakukan?" tanya Baekhyun, senja sudah mulai menjemput tapi ia masih saja terjebak dalam studio Kris yang nyaris kosong. Sejak siang tadi, pikirannya benar-benar sudah melayang entah kemana.

Bahkan omelan Kyungsoo melalui sambungan telepon sama sekali tak bisa Baekhyun pahami. Teriakan Kyungsoo hanya semakin membuat telinganya kebas.

Raganya berada dihadapan Kris, tapi pikirannya mencari hal lain.

Sedangkan pria yang juga tampak melamun itu mendesah ringan tanpa melihat Baekhyun sama sekali, pandangan matanya terfokus pada jendela besar yang menghubungkan ruangan tertutup ini dengan dunia luar sana.

"Tanyakan hatimu, Baekhyun. Hatimu tak akan pernah berbohong," balasnya tanpa pikir panjang, Kris sudah kehilangan kemampuan untuk menemukan jalan keluar permasalahan ini.

Masalah yang sebenarnya malah bukan miliknya.

"Aku mencintainya,"

"Aku tau," sahut Kris. "Tapi kenapa kau mencium Sehun?" ucapnya acuh.

Mulut Kris benar-benar.

Desahan berat keluar dari bibir Baekhyun, kembali, hatinya didera perasaan bersalah dan menyesal. Meskipun terlambat mengakui ini, tapi ia tau ini semua salahnya. Membiarkan Sehun menciumnya sama juga membuka hati untuk pria lain.

Bodohnya ia sudah bermain curang dibelakang Chanyeol.

Baekhyun mengacak rambutnya kasar, bibir tipisnya mengeluarkan dengusan keras beberapa kali, terdengar sangat putus asa, ia tak bisa memaksakan otak tumpulnya yang nyaris rusak untuk berpikir lebih jauh lagi.

Bagaimana aku mengakhiri kegilaan ini?

"Aku dan Sehun tidak ada hubungan apa-apa, Kris,"

"Lalu kenapa kau menciumnya?" pria itu bersikeras, mungkin tak akan berhenti sampai mendapatka jawaban.

Lagi-lagi, Baekhyun menghembuskan napas berat. Dalam hati sudah menyiratkan ribuan umpatan indah untuk Kris. Seharusnya sebagai teman, Baekhyun butuh pria itu memberikan dukungan, bukan malah seperti ini.

Kris yang dulu selalu ada untuknya pun, nyatanya hilang entah kemana sekarang.

"Aku hanya tertarik padanya,"

"Seperti kau pernah tertarik padaku?" sahut Kris, memotong apapun pembelaan yang Baekhyun ucapkan.

Gadis itu mengangguk, ringan tapi terlihat sangat berat. "Itu wajar Kris, Sehun memperlakukanku dengan sangat baik,"

Kris memutar tubuhnya untuk menoleh kearah Baekhyun dan menudingnya dengan jari telunjuk. "Kau terlalu mudah jatuh cinta," ucapnya, begitu dingin, acuh, seolah sama sekali tak memikirkan perasaannya, dan kris memang tampak sudah tak peduli lagi dengan perasaan gadis itu.

Mungkin Kris ikut kesal saat melihat apa yang sudah Baekhyun lakukan bersama Sehun.

Ia mendengus kasar, tapi tidak menyangkal apa yang diucapkan pria itu. "Apa yang harus kulakukan sekarang Kris, aku tak ingin kehilangan Chanyeol,"

"Bukannya kau yang ingin pergi darinya. Chanyeol sudah menyerah karena dia pikir traumamu tak akan bisa sembuh. Bukankah itu yang membuatmu memutuskan berpaling ke Sehun?"

Itu ada benarnya.

Hanya saja.

Ini rumit.

Selama ini memang Baekhyun sudah berputar-putar dengan traumanya sendiri. Tanpa ia sadari, kegelisahan terhadap trauma itu lama kelamaan membuatnya semakin kehilangan rasa cinta pada Chanyeol. Traumanya sudah mengendalikan jauh di dalam hatinya, dan itu yang membuat Baekhyun lebih mudah berpaling.

Membuatnya lebih mudah jatuh cinta hanya karena diperlakukan dengan baik oleh pria lain.

"Chanyeol tak ingin kau terus menerus terjebak dalam traumamu, jadi dia melepasmu Baekhyun," bisik Kris, suaranya terdengar tenang, berbeda dengan badai yang menguasai hati Baekhyun. "Bisa kukatakan itu pengorbanannya,"

Otak tumpulnya itu berusaha memikirkan hal lain, termasuk kemungkinan-kemungkinan keputusan yang akan ia ambil untuk menyelamatkan hubungannya bersama Chanyeol. Baekhyun tak boleh menyerah sampai disini, ia harus berusaha memperbaiki semuanya.

Menebus kesalahannya.

Mengendalikan traumanya sendiri.

Ah itu.

"Traumaku," bisik Baekhyun, akhirnya setelah seolah menemukann lampu terrang berpendar dalam otaknya.

Kris meliriknya dengan kening berkerut dalam, bingung. "Apa maksudmu?"

Baekhyun berdiri dari duduknya. "Aku harus berdamai dengan itu semua. Aku harus bisa menerima Chanyeol dan semua kegilaannya. Trauma sialan itu tak akan membuatku gelisah lagi, Kris. Aku harus berdamai dengannya,"

Kris balas menatapnya, mengernyit bingung tidak mengerti. "Apa yang sedang kau rencanakan sekarang?"

"Bawa aku pada Chanyeol Kris, ini semua harus segera diakhiri,"

"Apa yang harus diakhiri?" kembali, Kris benar-benar tak bisa menemukan petunjuk dari kalimat yang keluar dari bibir Baekhyun.

"Semuanya," balas gadis itu dengan yakin.

Sedangkan Kris masih belum mengerti apa yang Baekhyun maksud dengan mengakhiri semuanya.

Apa Baekhyun menyerah juga sekarang?

.

.

Chanyeol melangkahkan kakinya dengan gontai menuju hotel tempatnya menginap selama dua hari belakangan ini. Ia memutuskan untuk tidak pulang karena pikirannya masih kacau. Bagaimanapun, menghindari Baekhyun masih menjadi pilihan terbaik untuknya saat ini.

Ia belum siap bertemu gadis itu.

Belum siap membayangkan kembali kejadian yang menyayat hatinya hingga hancur. Chanyeol belum biasa, ia tidak sekuat itu untuk saat ini.

Chanyeol hanya pria lemah yang coba menjalani karma Tuhan sambil berharap tidak remuk.

Dosanya sungguh masih membayangi hingga sekarang. Rasa sakit yang pernah ia berikan untuk Baekhyun nyatanya harus kembli padanya –beribu kali lebih sakit sekarang.

Dia tak sekuat Baekhyun, hatinya tidak sekeras hati gadis itu, ini menyakitkan. Sungguh, Chanyeol bisa menyerah kapan saja.

Selama dua hari tenggelam dalam pekerjaan dan kesendirian membuatnya banyak berpikir. Otak lelahnya terus menerus memikirkan Baekhyun –tanpa kenal waktu, bahkan gadis itu selalu hadir dalam mimpi buruknya.

Mimpi buruk yang kini sudah menjadi nyata.

Keluar dari lift yang membawanya ke lantai atas –ke kamarnya– langkah Chanyeol terhenti karena sosok gadis yang masih sangat ia cintai itu muncul di pelupuk mata. Baekhyun berdiri disana, di depan pintu kamarnya yang tertutup rapat.

Sorot matanya penuh kesedihan, Chanyeol tak tau apa yang sedang Baekhyun pikirkan dengan wajah semuram itu, tapi sesuatu jauh di dalam hatinya juga menjerit pilu.

Kesedihan Baekhyun, kesakitannya juga.

Gadis itu tersenyum, bukan sebuah senyuman manis seperti biasanya, hanya ada senyum sarat kesedihan, senyum yang dipaksakan ada untuk menutupi luka. Inilah salah satu yang paling Chanyeol ingat dari gadis itu –Baekhyun pandai berpura-pura bahagia.

Sementara mata Baekhyun mulai berkaca-kaca, bibirnya terbuka tapi tak ada satu katapun yang berhasil ia ucapkan, Chanyeol kehilangan akal sehat.

Sebagian hatinya menjerit, menyuruhnya untuk berlari dan memeluk Baekhyun, mendekap tubuh gadis itu dalam pelukan hangat, membiarkannya menumpahkan semua keluh kesah, kemudian dengan damai mengakhiri kegilaan ini.

Melupakan masa lalu yang masih membayangi.

Tapi sebagian hatinya menahan, memerintahkan Chanyeol untuk tidak peduli, meneriakkan ribuan umpatan untuk kebodohannya. Chanyeol bodoh karena tak bisa menentukan sikap dengan baik.

Ini gila.

Masih berdebat dengan hatinya sendiri, terjebak dalam tatapan mata Baekhyun yang mengunci, Chanyeol bisa merasakan napasnya memburu secara tiba-tiba. Sesuatu jauh di dalam hatinya menjerit nyeri. Rasa sakit karena kenangan buruk saat melihat Baekhyun bersama pria lain kembali mencekiknya.

Hingga nyaris mati, rasanya.

"Park Chanyeol," ucap gadis itu dengan suara bergetar saat Chanyeol perlahan berjalan mundur.

Dia tak punya pilihan lain selain menghindar.

Dengan keraguan yang jelas di wajahnya, Baekhyun berlari, menabrak tubuh Chanyeol dengan keras untuk memeluknya erat-erat. Sedangkan Chanyeol berdiri mematung seperti orang bodoh dengan kedua tangan terkepal kuat.

Ia membiarkan Baekhyun memeluknya dengan sangat kuat, membiarkan aroma tubuh Baekhyun yang sudah sangat ia rindukan memenuhi indera penciumannya, membiarkan Baekhyun meluapkan apa yang ia mau, Chanyeol terlalu rindu untuk menolak.

Perlahan, setelah cukup lama Baekhyun memeluknya, Chanyeol menarik tubuh gadis itu menjauh. Butuh pengendalian diri ekstra untuk tidak serta merta membalas pelukan Baekhyun dan kembali terjebak dalam tatapan mata penuh permohonan itu.

Tatapan mata yang selalu menjadi kelemahannya.

"Chanyeol," rintih gadis itu, sedikit mendongak untuk menatap raut wajah Chanyeol yang sama sekali tidak tersenyum. "Kumohon, Chanyeol," rengeknya dengan suara nyaris habis, mata berbinar yang terlihat menyedihkan kembali ia lihat dalam gambaran wajah Baekhyun.

Tidak Chanyeol, keraskan hatimu.

Baekhyun tidak mencintaimu seperti dulu lagi. Ia hanya–

"Masuklah dulu, disini pasti dingin sekali,"

Kau bodoh Park Chanyeol, kau kalah lagi.

Baekhyun hanya akan menyakitimu.

Baekhyun mengerjap, masih memandanginya dengan tatapan mata seperti itu. Perlahan, ia membimbing Baekhyun untuk masuk, menghindarkannya dari udara dingin yang menusuk –katanya, alasan klasik idiot.

"Bagaimana kau bisa tau aku disini?" tanya Chanyeol, basa-basi saja.

Ia tau pasti Baekhyun sudah merengek pada Kris untuk memberitahu keberadaannya. Dan berani bertaruh, pria China itu pasti luluh dengan segala rengekan Baekhyun yang terkadang sangat membahayakan. Gadis itu lebih mirip seorang penyihir atau pengendali pikiran.

Baekhyun menggelengkan kepala ringan, tidak menjawab. Ia membiarkan Chanyeol membimbingnya untuk duduk di sofa, sedangkan pria itu duduk di sebelahnya –menjaga jarak. Ia hanya ingin menghindari Baekhyun, itu saja.

Tapi kenapa semuanya menjadi begitu sulit.

Percuma saja selama dua hari ini Chanyeol berusaha menenangkan diri jika pengendalian dirinya yang tipis itu langsung lenyap saat melihat Baekhyun.

Chanyeol pria lemah, ingat?

"Chanyeol aku tau sebenarnya–,"

"Cukup, Baekhyun. Aku tak ingin mendengar apapun," potongnya. Ia terlalu malas mendengar alasan, terlalu malas untuk kembali berlarut-larut dalam kesedihan tidak jelas itu.

Dan Baekhyun diam, terlebih saat mendengar suara Chanyeol yang sedikit keras.

"Jangan pergi dariku, kumohon," rengek gadis itu lagi.

Seharusnya aku yang mengatakan itu, Baekhyun.

Chanyeol tersenyum, bukan sebuah senyum menyenangkan. "Aku tak pernah pergi darimu," balasnya.

"Kau melakukannya selama dua hari ini," debat Baekhyun, suaranya sedikit bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca.

Jangan menangis, kumohon.

Chanyeol menghela napas, mengalihkan pandangannya dari Baekhyun dan memilih melihat dinding kosong dihadapannya. Tatapan mata gadis itu masih menjadi kelemahannya nomor satu.

"Aku hanya perlu berpikir, Baekhyun,"

"Dan kau akan meninggalkanku setelah itu?"

Chanyeol mendengus ringan, tak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak merasa muak. "Itu pertanyaan yang seharusnya kuajukan padamu,"

"Chanyeol,"

"Apa kau akan meninggalkanku, Baekhyun?" ucapnya, dengan satu penekanan kuat.

Sementara Chanyeol menunggu, Baekhyun diam. Gadis itu menggerak-gerakkan tangannya dengan gelisah, ia menggigit bibir kuat-kuat sementara kepalanya tertunduk.

"Maaf, Chanyeol. Aku tak bermaksud melakukan itu, sungguh," rintihnya dengan suara tipis.

Kembali, Chanyeol tersenyum masam, berusaha menahan rasa kesal saat lagi-lagi ingatan buruk tentang Baekhyun dua hari yang lalu kembali memenuhi pikirannya.

Ah, sakit sekali.

"Itu bukan salahmu. Aku yang memperlakukanmu dengan buruk selama ini dan itu membuatmu trauma. Aku benar-benar sudah berbuat dosa besar," suara Chanyeol yang mengalir seperti air mau tak mau membuat Baekhyun semakin kacau.

"Chanyeol, kumohon. Aku mencintaimu, jangan seperti ini,"

Kau egois, sekali, Byun Baekhyun.

Kau hanya memikirkan diri sendiri sekarang.

Kali ini Chanyeol memutar tubuh untuk menatap Baekhyun, ia berdiri, berusaha membuat peredaran darahnya agar lancar dan otaknya kembali bekerja. Chanyeol harus tenang, ia tidak boleh kembali dikendalikan perasaan gila yang sempat menguasainya.

Tidak lagi.

"Kau tau bagaimana perasaanku Baekhyun," suaranya terdengar nyaris seperti gumaman. "Aku tak bisa lagi menggengammu, kau bebas pergi. Aku tak berhak atas apapun yang melekat pada dirimu,"

"Aku dan Sehun tidak ada hubungan apa-apa,"

Chanyeol sedikit tertawa, kakinya sedikit berjalan mondar-mandir hanya sekedar menghilangkan kesal. "Ya, aku tau. Kau belum menjadi miliknya. Hanya saja, mataku tak bisa berbohong, Baekhyun,"

"Chanyeol,"

"Aku tak akan menghalangimu pergi lagi mulai sekarang. Apapun yang ingin kau buat, lakukanlah. Aku akan melepaskanmu perlahan," ucapnya final, ia menguatkan diri sendiri untuk menatap Baekhyun.

Hanya untuk sekedar melihat wajah yang sudah sangat ia rindukan itu.

Tiba-tiba saja Baekhyun menjatuhkan dirinya ke lantai, bertumpu pada kedua lutut, ia menyatukan kedua tangan menghadap keatas dengan keadaan terbuka, mata berbinarnya memandangi Chanyeol yang sedang menatapnya dengan bibir nyaris menganga.

Apa Baekhyun sedang berlutut sekarang?

"Bangun, apa yang kau lakukan?" Chanyeol setengah berteriak, berusaha mengangkat tubuh mungil gadis itu tapi Baekhyun tak bergerak.

Baekhyun masih mengadahkan kepala keatas dengan kedua tangan terulur ke depan. Ia tersenyum, terlihat cantik dan menyedihkan disaat bersamaan. Dan Chanyeol benar-benar sudah kehilangan akal sehat.

"Aku bersalah Chanyeol," ucapnya.

"Hentikan," kembali, Chanyeol membungkuk untuk menyamai tinggi gadis itu sekarang. Suaranya terdengar seperti bentakan dan ia bisa melihat bahu Baekhyun yang sedikit terangkat karena kaget.

Jangan mengendalikanku, Baekhyun.

Tidak.

"Aku bersalah Chanyeol," ulangnya dengan nada suara yang sama. "Hukum aku seperti yang selalu kau lakukan dulu,"

Apa kau bilang?

Baekhyun nyaris memohon, sedangkan Chanyeol mematung seperti orang bodoh. Otaknya berhenti bekerja, saraf ditubuhnya tak bisa digerakkan.

"Jangan seperti ini, Baekhyun," ucapnya lembut, ikut berlutut dihadapan Baekhyun, memandangi gadis itu dengan tatapan mata asing.

Melihat Baekhyun tampak lemah hanya akan memunculkan fetish gilanya lagi.

Dan Chanyeol harus menghindari itu.

Baekhyun menggelengkan kepala kuat-kuat, masih memandangi wajah Chanyeol dengan tatapan sarat kesedihan. "Aku sudah melakukan kesalahan, aku akan menebusnya. Hukum aku, jadikan ini kegilaan yang terakhir,"

"Aku tak akan menyakitimu lagi," debatnya, sedikit menarik tubuh Baekhyun untuk berdiri, tapi gadis itu bersikukuh bertumpu pada kedua lututnya.

"Kumohon lakukanlah, untuk yang terakhir kali," Baekhyun nyaris berbisik, ia menatap mata Chanyeol dengan berani. "Buat aku kalah, Chanyeol. Kau selalu bisa membuatku menyerah, hukum aku seperti keinginanmu,"

Dan sesuatu dalam diri Chanyeol berdesir aneh, sesuatu yang sudah lama ia tahan, mulai kembali muncul mendobrak akal sehatnya yang semakin menipis.

Fetish gilanya perlahan kembali muncul menembus perasaannya.

Chanyeol menggenggam tangan gadis itu, napasnya memburu, begitu pula dengan Baekhyun. Ia menarik tubuh mungilnya untuk berdiri dengan paksa. Chanyeol melepaskan pegangan tangannya pada Baekhyun, membiarkan gadis itu kembali menatapnya dengan mata penuh permohonan.

"Jangan menolakku," bisiknya.

"Hentikan, Baekhyun," Chanyeol membentak dengan suara keras.

"Kau harus melakukannya. Sekali saja, biar aku berdamai dengan traumaku mulai sekarang. Aku mencintaimu Chanyeol, biarkan aku menerimamu secara penuh. Semuanya. Apapun yang melekat pada dirimu, kegilaan atau tidak, aku akan menerimanya,"

"Kumohon berhenti," bisik Chanyeol, mulai terdengar putus asa.

Sesuatu kegilaan dari dalam dirinya mulai bergerak cepat dan sesuatu dalam dirinya juga menahan. Perdebatan ini sungguh menyiksa.

"Aku mencintaimu, Chanyeol. Trauma sialan ini tak boleh lagi menghalanginya,"

Sial.

Jangan menatapku dengan mata seperti itu.

Chanyeol mengerang keras, mata terpejam erat berusaha mengendalikan perdebatan aneh yang semakin membuat otaknya menggila. Baekhyun dan semua bisikan asing dalam tubuhnya benar-benar membuat Chanyeol nyaris menyentuh batas pengendalian diri.

Gila.

Gila.

Sial.

"Jangan menahannya, Chanyeol. Biarkan aku berdamai dengan traumaku sendiri, lakukan, kumohon,"

Tidak Baekhyun ini hanya akan–

"Aku tidak akan melepaskamu, Chanyeol. Jangan menyerah padaku. Kumohon, biarkan aku berdamai dengan traumaku sendiri," rengeknya dengan kedua tangan masih terulur ke depan.

Dan Chanyeol benar-benar kehabisan kata. Sesuatu jauh di dalam dirinya mulai menunjukkan reaksi yang berbeda. Keinginan gila untuk kembali menyentuh Baekhyun dengan ujung lidah, lagi-lagi menggeser akal sehatnya, melenyapkan pengendalian diri yang perlahan terus menipis.

Lagi-lagi, kegilaan mengambil alih.

"Terakhir kali, Chanyeol. Kumohon. Kau harus membuatku menyerah malam ini," kembali, Baekhyun mengulurkan tangan ke depan, menyerahkannya pada pria itu.

"Aku tak akan bisa berhenti, Baekhyun," pria itu mengingatkan dengan suara berat mengerikan, kembali dalam hati berusaha mengendalikan kegilaan di dalam dirinya meskipun itu mustahil dilakukan.

"Jangan berhenti,"

Ini terdengar seperti jalang, tapi siapa peduli.

Baekhyun sudah pernah menjadi pelacur Chanyeol sebelumnya.

Ah itu.

Masih berdebat dengan hatinya antara ya dan tidak, Chanyeol berusaha berjalan mundur, setidaknya ia harus sedikit menjaga jarak dengan Baekhyun agar kegilaan di dalam hatinya tidak kembali menguasai.

Jujur saja, bagaimanapun Chanyeol berusaha menghilangkan fetish gilanya, tetap saja melihat Baekhyun yang seperti ini sudah membuat gairahnya meluap-luap.

Terlebih gadis itu seolah sedang menawarkan diri seperti ini sekarang.

Chanyeol tak bisa berbuat lebih banyak lagi untuk menghindar.

"Aku akan menerimamu Chanyeol, semuanya. Aku tak akan menghindarimu, tidak lagi. Traumaku akan hilang jika aku berdamai dengannya. Aku siap menyerah di bawahmu Chanyeol, lakukanlah," suara Baekhyun terdengar seperti permohonan yang putus asa.

Dan Chanyeol benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya lagi.

Ini gila, tapi siapa peduli.

"Park Chanyeol," bisik Baekhyun, suaranya terdengar nyaris habis.

Chanyeol tidak tersenyum, tapi kakinya bergerak maju, dengan cepat dengan kedua tangan merengkuh wajah Baekhyun, ia sedikit menundukkan kepala untuk menempelkan bibirnya yang panas pada permukaan bibir Baekhyun.

Masa bodoh.

Aku tak akan menahannya lagi sekarang.

Bibir Chanyeol bergerak dengan kasar menelusuri bibir gadis itu, ia mencium dengan panas, cepat, menuntut, sementara Baekhyun mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, kakinya berjinjit dan bibirnya terbuka lebar –menerima ciuman Chanyeol tanpa tipu daya. Gerakan pria itu terasa sangat kasar, kedua tangan mencengkeram rahangnya, menguncinya. Berusaha mengimbangi ciuman panas yang membakar, Baekhyun mengecap bibir Chanyeol dengan gerakan kaku.

Kegilaan kembali mengambil alih tubuh Chanyeol.

Baekhyun ingin menikmati momen ini dengan menyeluruh, menikmati bibir Chanyeol yang begitu ia rindukan dengan penuh. Kalau bisa, Baekhyun ingin waktu berhenti. Ia ingin terus tenggelam dalam bibir Chanyeol yang memabukkan. Rasa manis Chanyeol sudah menjadi candu untuknya, dan Baekhyun memang tak berniat untuk sembuh dari candu itu.

Meskipun diperlakukan dengan kasar menjadi trauma dalam dirinya, tapi Baekhyun tak akan menghindar dan bersembunyi seperti pengecut.

Tidak lagi.

Tanpa sadar, satu bulir air mata turun membasahi pipi tirusnya.

Baekhyun tak tau kenapa ia menangis. Entah itu karena senang bertemu dengan Chanyeol dan meluapkan semua rasa rindunya, atau Baekhyun sedih karena memikirkan kemungkinan berpisah dengan pria itu. Hatinya maih tak bisa menentukan perasaan aneh yang membuat air mata sialan itu kembali meleleh.

Persetan dengan itu, yang penting sekarang ia bisa menyentuh Chanyeol, bisa merasakan Chanyeol pada indera perasanya yang peka.

Itu sudah lebih dari cukup.

Chanyeol melepaskan ciuman mereka, tanpa senyum dibibir, pria itu memandang Baekhyun dengan tatapan tajam, penuh pertanyaan. Tapi seolah tak bisa mengendalikan, tangannya terangkat untuk mengusap butiran air mata Baekhyun yang masih turun samar dari matanya.

"Baekhyun, aku benar-benar tak bisa mengendalikannya," ucapnya, terdengar putus asa.

Baekhyun menggelengkan kepala. "Jangan menahannya, Chanyeol. Kumohon, biar aku berdamai dengan rasa sakitnya," gadis itu kembali memohon dengan tatapan yang sudah menjadi kelemahan Chanyeol.

Chanyeol tidak menunjukkan perubahan raut wajah sama sekali, ia menyapukan jemarinya dibibir Baekhyun, perlahan turun menyentuh perpotongan lehernya yang hangat. Tangan Chanyeol menangkup pinggang Baekhyun, sedikit mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongannya sementara bibirnya kembali menemukan bibir Baekhyun.

Gairah benar-benar menghilangkan akal sehatnya sekarang.

Bibir Chanyeol bergerak seirama dengan gerakan Baekhyun, menyatu dalam ciuman panas yang begitu mendamba. Baekhyun bisa merasakan Chanyeol membawanya berjalan, tapi ia terlalu sibuk untuk peduli.

"Aku mencintaimu," bisik Baekhyun dengan suara lembut lembut.

Sementara pria itu tidak menjawab, ia hanya menatap Baekhyun dengan kerutan dalam dikening, berusaha meyakinkan diri sendiri untuk melakukan hal ini atau tidak.

Jauh didalam lubuk hatinya masih memperdebatkan semuanya.

"Berdamai dengan traumamu bukan pilihan bagus, Baekhyun,"

"Berpisah denganmu benar-benar bukan pilihan yang bisa kuambil, Chanyeol,"

Chanyeol menarik wajahnya, selama beberapa detik terdiam. Ia menatap Baekhyun dengan pandangan bingung. Dan saat bibir Baekhyun sedikit terbuka karena napasnya yang mulai memburu, sesuatu yang lain di dalam diri Chanyeol mengambil alih, sesuatu yang dasar dan kuat.

Gairah yang meledak-ledak.

Tanpa sadar, Chanyeol menyapukan jemarinya untuk membelai leher hingga dada Baekhyun yang terbuka, bibirnya sedikit melengkungkan senyum –tepatnya seringaian mengerikan.

Fetish gilanya kembali mengambil alih.

"Berapa waktu yang kupunya sebelum kau berubah pikiran?" tanya Chanyeol, ia mendekatkan wajahnya pada perpotongan leher Baekhyun –membuat gadis itu mengerang pelan, begitu mendamba sentuhan pria itu lebih jauh lagi– dan Chanyeol menciumnya atas dasar kebutuhan yang mendesak.

Masih dengan bibir terbuka lebar dan desahan yang mengalun lembut, Baekhyun menutup mata. Ia menikmati sentuhan bibir Chanyeol di tubuhnya yang sudah sangat ia rindukan. "Buat aku menyerah, Chanyeol," balas Baekhyun, kembali meloloskan desahan berat saat Chanyeol menghisap permukaan dadanya.

Chanyeol tak pernah bisa terpuaskan hanya dengan menyentuh Baekhyun dengan bibirnya. Rasa manis Baekhyun diujung lidahnya, aroma tubuh Baekhyun yang membuat adrenaline-nya menggila, Chanyeol begitu mendamba.

Menyentuh Baekhyun tak akan pernah cukup baginya.

Kegilaan selalu menguasai.

Dan Chanyeol tau, sesuatu yang lain mendesak untuk diselesaikan.

Ketegangan dan kebutuhan berputar-putar dalam tubuhnya.

Chanyeol meloloskan kemeja Baekhyun dengan cepat, putus asa untuk merasakan tubuh Baekhyun yang sudah lama ia rindukan. "Aku tak akan melepaskanmu," bisik Baekhyun dengan saura tajam penuh penekanan, sementara bibir pria itu kembali menelusuri bibir Baekhyun, bergerak lembut membasahi rahang dan leher. "Chanyeol," desahnya dengan suara nyaris habis.

Pengendalian diri Chanyeol yang rentan menguap entah kemana saat suara Baekhyun mendesahkan namanya.

Suara desahan yang keluar dari bibir mungil itu nyatanya cukup membuat panas membara semakin membakarnya.

"Aku akan menyerah di bawahmu Chanyeol, aku tak akan melawan sama sekali," bisik Baekhyun, ia sedikit mengerang saat Chanyeol menciumnya lagi dengan panas, sangat menuntut.

Puas dengan ucapan itu, Chanyeol mengangkat tubuhnya dengan cepat, membuat gadis itu memekik kaget karena Chanyeol melemparkan tubuhnya keatas ranjang dengan kasar. Ia memandangi wajah pias Baekhyun yang bergitu cantik karena bibirnya yang terbuka lebar mengatur napas.

Sebuah tatapan tajam tanpa senyum yang mengerikan.

Baekhyun mengulurkan tangannya keatas sementara ia berbaring di atas ranjang, dan Chanyeol merangkak diatas tubuhnya. Memenjarakan tubuh Baekhyun dengan kedua kaki, membuatnya tak bisa banyak bergerak.

Menguncinya dengan lutut dan juga tatapan mata tajam yang seolah mengungkung Baekhyun.

Untuk sesaat, ingatan mengerikan tentang Chanyeol kembali memenuhi pikirannya.

"Kau yang meminta ini, Baekhyun," ia mengingatkan, perlahan melonggarkan ikatan dasi yang seolah mencekiknya seharian ini.

"Kumohon," rengek Baekhyun, menyatukan kedua tangan dan mengulurkan itu kedepan Chanyeol. "Buat aku menyerah dibawahmu,"

Chanyeol tidak tersenyum, wajahnya dipenuhi keseriusan, sedangkan keningnya berkerut dalam berusaha memikirkan semuanya. Ia nyaris mencengkeram tangan Baekhyun, kemudian mengikatkan dasinya kuat-kuat pada kedua tangan gadis itu.

"Chanyeol," desahnya dengan suara sarat permohonan, membiarkan pria itu menarik tangannya ke atas kepala dan mengikatnya pada besi ranjang erat-erat, Baekhyun sama sekali tak bisa menggerakkan tangan sekarang.

Kembali, bibirnya mendesahkan nama Chanyeol dengan suara yang cukup membuatnya menggila.

"Aku tak bisa menyakitimu lagi, Baekhyun," bisik Chanyeol didepan bibir gadis itu, nyaris menyentuhnya.

Dan Baekhyun mengerang, merasakan gairahnya yang mulai terbakar.

"Biarkan aku berdamai ini," desahnya ringan, sedikit melengkungkan tubuh keatas, putus asa untuk merasakan sentuhan bibir Chanyeol lagi.

Perlahan, Chanyeol mendorongnya agar kembali berbaring diatas ranjang yang dingin. Ia menyelipkan tangannya di sekeliling tubuh Baekhyun dan mengangkatnya sedikit. Gerakan sederhana itu nyatanya membuat tubuh Baekhyun bergetar tanpa sebab.

Dan pria itu kembali menciumnya dengan kasar, membuat napas Baekhyun terengah-engah mencari udara. Gairah dalam tubuhnya berputar-putar aneh, sedangkan jantungnya berdetak lebih cepat. Kemudian ia membuka mata saat Chanyeol melepaskan ciumannya, matanya menatap manik kecoklatan Chanyeol yang tampak tajam menusuk.

Itu indah dan mengerikan disaat bersamaan.

Tanpa banyak bicara, Chanyeol menyusupkan jemarinya ke dalam celana jeans ketat Baekhyun. Sedangkan gadis itu menarik napas pendek dan cepat, matanya masih menatap wajah Chanyeol yang tercetak tampan meskipun tanpa senyum.

Udara disekitar mereka terasa sesak, panas karena gairah.

Dan saat jemari Chanyeol meluncur di dalam tubuhnya, Baekhyun mengejang. Tubuhnya sedikit melengkung ke atas saat merasakan sensasi luar biasa yang tersalur dari jemari Chanyeol hingga meresap ke seluruh tubuhnya.

Tanpa sadar, Baekhyun mendesahkan nama Chanyeol dengan suara penuh permohonan, dan pria itu menariknya dalam sebuah ciuman panas yang menuntut. Ciuman yang dapat menghancurkan kesabaran, dengan kepolosan –seolah-olah itu adalah ciuman pertama mereka, desahan Baekhyun mengalun halus, menyelipkan nama Chanyeol disana, sementara jemari Chanyeol masih menguasai tubuhnya.

Jemari pria itu bermain-main di dalam pusat tubuhnya, membuat desiran aneh dan getaran menyenangan keseluruh saraf tubuhnya. Membuat perutnya melilit karena gairah panas yang mulai ingin menguasai.

Chanyeol menyadari ketidakteraturan hembusan napas Baekhyun, jadi ia melepas ciumannya. Bibirnya beralih menghisap leher dan dada Baekhyun –membuat gadis itu mendesah keras. "Chanyeol," rengeknya dengan suara erangan lembut. Baekhyun berusaha mengekang gairahnya yang memburu dan sangat menuntut, sementara Chanyeol terus memaksanya untuk menyerah.

Sedikit demi sedikit, Chanyeol menghisap lebih keras –begitu pula erangan Baekhyun yang mulai menggila. Baekhyun tenggelam dalam belaian, dalam kungkungan gairah panas yang siap meledak karena dorongan jemari Chanyeol di dalam pusat tubuhnya terus menggila.

Ini menakjubkan.

Detik berikutnya saat jemari Chanyeol bergerak lebih cepat, mendorong lebih dalam, gairahnya melebur. Baekhyun benar-benar tenggelam dalam lelehan lava panas mengerikan dari dalam perutnya. Ia membiarkan nyala api perlahan bersinar lebih terang, menghujani dari pusat tubuh hingga setiap sel di dalam tubuhnya.

Napasnya terengah sementara bibirnya tak berhenti mendesahkan nama Chanyeol.

Pria itu masih menatap Baekhyun dengan raut wajah mengerikan, ia menarik diri dari tubuh Baekhyun, kemudian berusaha melepaskan pakaiannya sendiri. Tak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk membuat tubuh keduanya terbebas dari kungkungan sesak pakaian.

Dan bodoh, lagi-lagi Baekhyun berdecak kagum melihat pahatan sempurna tubuh pria itu.

Sadar bahwa tuntutan gairah semakin besar, Chanyeol tak mengulur waktu lebih lama lagi.

Dan Baekhyun mengikuti permainan Chanyeol dengan terbuka, tanpa tipu daya. Seperti sebelumnya, ia selalu memberikan semua yang Chanyeol minta, menerima setiap keintiman yang Chanyeol tawarkan, menyerahkan setiap jengkal tubuhnya tanpa bisa menolak sama sekali.

Dan bagaimanapun keadaannya, Chanyeol menikmati Baekhyun, ia selalu bisa membuat gadis itu menggila karena sentuhan.

Bibir Chanyeol bergerak lembut menelusuri setiap jengkal tubuhnya –seolah-olah ia sedang memuja kulit gadis itu.

"Chanyeol," desah Baekhyun lembut, suaranya terdengar seperti permohonan.

Permainan mereka semakin berapi-api dan menuntut, seolah-olah bersatunya mereka untuk yang pertama kali setelah badai yang menghantam hubungan keduanya, entah mengapa terasa sangat berbeda. Chanyeol merasakan itu dalam diri Baekhyun –dari respon yang Baekhyun berikan. Ia bisa merasakan ketegangan dalam diri Baekhyun yang terbalut tubuh rampingnya.

Baekhyun penuh kewaspadaan, penuh kesadaran, penuh pengharapan.

Dengan gerakan lembut, Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun sedikit untuk membenarkan posisinya. Terkunci dalam ciuman mereka, Baekhyun mengangkat tangan untuk memeluk Chanyeol. Ia sedikit memiringkan kepala untuk menikmati ciuman Chanyeol lebih dalam lagi, kalau bisa Baekhyun ingin memeluk pria itu, tapi tangannya tak bisa bergerak.

Terbakar oleh gairah menyesakkan, Chanyeol berusaha mengungkung fetish gilanya dan tidak menyakiti Baekhyun.

Ia harus menahan diri untuk tidak serta merta membuat Baekhyun memekik karena rasa sakit.

Baekhyun menggeliat tidak sabar di atas ranjang, membuat Chanyeol mulai memposisikan tubuh bagian selatannya dipusat kebahagiaan Baekhyun. Chanyeol tau Baekhyun luar biasa panas dan siap, tapi ia tak memberikan kesempatan. Jemarinya bergerak lincah di permukaan kulit Baekhyun, bibirnya masih bertaut sempurna dengan bibir Baekhyun.

"Aku tak akan menyakitimu," bisik Chanyeol dengan suara berat mengerikan, bibirya menelusuri leher Baekhyun.

Sedangkan gadis itu tercekat, menahan napas. "Lakukanlah, kumohon,"

Demi Tuhan, suara Baekhyun bisa membuat pria manapun menggila.

Dan saat dorongan naluri muncul lebih menuntut, Chanyeol mendorong masuk, membiarkan Baekhyun melengkungkan tubuh keatas dan mendesah keras –sedikit memekikkan nama Chanyeol karena terkejut dengan penyatuan mereka yang mendadak saja menjadi sangat indah. Chanyeol mendorong lebih dalam, membelai pusat tubuh Baekhyun dengan penuh dan lembut.

Gadis itu mengerang –terdengar sangat lembut.

Dan saat Chanyeol mendorong lebih cepat untuk menyalurkan gairahnya yang menuntut, Baekhyun menjerit. Ia menerima Chanyeol yang meluncur lebih panas dalam tubuhnya, ia menikmati tubuh Chanyeol yang memenuhinya dengan sempurna. Kelembutan dan panas membara Baekhyun rasakan bersamaan.

Ereksinya memenuhi Baekhyun dengan sesak.

Gairah panas menguar kuat diudara.

Seiring dengan gerakan Chanyeol yang menuntut, Baekhyun tak bisa memaksakan otaknya berpikir. Ia bahkan tak bisa mengendalikan suara desahannya sendiri, air matanya kembali mengalir entah mengapa.

Ia bahagia, bisa merasakan sentuhan pria itu lagi.

Meskipun Chanyeol sendiri tidak yakin.

Dan kali ini Chanyeol menciumnya dengan sangat lembut, seolah Baekhyun adalah benda rapuh. Berbeda dari sebelumnya, Chanyeol tampak sedang mengungkung gairahnya sendiri.

Chanyeol lembut dan keras disaat bersamaan.

"Chanyeol," desahnya dengan suara yang semakin membuat Chanyeol menggila, ia berusaha mengimbangi gerakan Chanyeol yang memabukkan. Masih bergerak di dalam tubuh Baekhyun, Chanyeol mengusap air mata Baekhyun dengan lembut. Entah mengapa, seolah Chanyeol benci air mata yang keluar dari mata indah itu.

Dengan perasaan yang terbentar –liar dan tak biasa– dalam jiwa keduanya. Mata Baekhyun terpejam, merasakan Chanyeol lebih penuh.

Baekhyun bisa merasakan aliran panas mulai menyerang bagian selatan tubuhnya, panas membara yang perlahan menahan, mendorongnya untuk melebur. Tapi Baekhyun berusaha menahan itu, ia menghiraukan dorongan gairah yang terus menipiskan pertahanan dirinya.

Keyakinan melekat dalam pikiran Baekhyun, dalam jiwanya, Chanyeol adalah miliknya, hanya miliknya, dan akan selalu menjadi miliknya. Entah bagaimana keduanya pernah memiliki keinginan untuk saling melepas, Baekhyun tak akan ragu lagi mulai sekarang.

Tuhan telah melukiskan nama Chanyeol sebagai jalan hidupnya.

Tubuh Baekhyun terus bergerak diluar perintahnya, begitu pula dengan bibirnya yang mendesahkan nama Chanyeol, ia dikendalikan oleh kebutuhan yang tak bisa disembunyikan lagi.

Terperangkap dalam momen itu, Baekhyun membuka mata untuk menikmati wajah Chanyeol yang luar biasa menakjubkan, bibir pria itu sedikit terbuka, dan suara geramannya membuat Baekhyun terbakar. Ia bisa merasakan kekuatan laksana baja yang Chanyeol berikan untuk mendorongnya, Baekhyun terlalu egois untuk memikirkan hal lain.

Hasrat memuncak, kemudian membanjiri Baekhyun, ia mendengar bibirnya sendiri mengeluarkan suara erangan memilukan, menyelipkan nama Chanyeol disana. Dan Chanyeol tidak berhenti, ia hanya bergeser untuk menciumnya lagi, kemudian kembali mengencangkan pelukannya, mendorong Baekhyun lagi untuk menyelesaikan hasratnya sendiri.

Ini gila.

Benar-benar gila.

Baekhyun menarik napas putus asa, tubuh bagian selatannya mencengkeram Chanyeol untuk masuk lebih dalam, ke dalam tubuhnya, juga ke dalam jiwanya.

Ke dalam hatinya.

Baekhyun jatuh, benar-benar kalah oleh pesona Park Chanyeol yang membuatnya gila, sentuhan pria itu tak bisa berhenti menjadi candu dalam hidupnya.

Chanyeol memang pernah menyakitinya, tapi ini luar biasa menakjubkan.

Sampai titik teratas, ujung kenikmatan yang mengambang dan menggenang, kemudian menghantam, menyiram tubuh dan pikirannya kembali tenggelam dalam kenikmatan, dengan pelepasan yang rentan dan indah, bersinar di bawah tubuhnya yang basah, Baekhyun kembali melepaskan pusat gairahnya untuk melingkupi tubuh Chanyeol dengan licin dan lembut.

"Aku mencintaimu," bisik Chanyeol dengan suara desahan tipis, sementara Baekhyun tak sanggup menjawab ucapan itu.

Mulai tidak mempercayai pendengarannya sendiri.

Matanya terpejam, tubuhnya melemas di bawah kungkungan pria itu. Teriakannya bahkan terdengar seperti orang sekarat. Baekhyun bisa merasakan pengendalian diri Chanyeol yang semakin tipis dan nyaris habis, jadi ia menunggu, berusaha mencengkeram Chanyeol lebih erat lagi, membiarkan Chanyeol mencapai kebahagiaannya.

Dan saat Chanyeol mengambang dalam kedamaian, Baekhyun mendesah lega.

Aliran lava panas membara memenuhi tubuhnya.

Luar biasa menakjubkan.

Napas keduanya membaur dan putus-putus, mata Chanyeol memandangi Baekhyun dengan tatapan memuja yang jelas. Jemarinya mengusap wajah Baekhyun dengan lembut. Memandangi tatapan Chanyeol yang penuh cinta, Baekhyun kembali tak bisa menahan air matanya.

Ia nyaris terisak, sebelum Chanyeol menciumnya lagi.

"Jangan menangis, Baekhyun," bisik Chanyeol. Jemari pria itu terulur ke atas untuk melepaskan ikatan dasi yang menjerat tangan gadis itu, sementara Baekhyun langsung memeluknya erat-erat.

Baekhyun berusaha tersenyum meskipun air mata masih keluar dari matanya. "Jangan pergi Chanyeol, kumohon," bisiknya lembut, sedangakan pria itu tidak menjawab. Dengan tubuh telanjang yang berpeluh keringat, ia mendekap Baekhyun dalam pelukannya.

Membiarkan gadis itu terisak cukup lama, tanpa suara, Chanyeol hanya bisa menenagkan Baekhyun dengan tepukan ringan.

Dalam hati, ia berusaha menenangkan diri sendiri.

Chanyeol tau saat isakan dan rengekan gadis itu berhenti terdengar, saat pelukan Baekhyun ditubuhnya mengendur, Chanyeol melepasnya. Membiarkan Baekhyun tidur dengan kening berkerut dalam, dengan wajah cantik yang tidak damai.

Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang gadis itu sementara ia berpikir.

Memikirkan semua kegilaan ini.

.

.

Pagi menjemput, Baekhyun sudah tersadar dari tidurnya, tepat saat matahari pagi mengintip dari balik tirai tebal yang tak tertutup sempurna. Bangkit dari tidur, ia duduk dengan cepat –mengabaikan rasa pening di kepala, mata gadis itu menelusuri seluruh ruangan kamar yang kosong, begitu pula dengan ranjangnya.

Apa Chanyeol meninggalkanku?

Baekhyun berusaha menggeser tubuhnya untuk berdiri, dan baru menyadari ia masih telanjang pagi ini. Sementara pria itu tak ada dimanapun disudut ruangan ini, semuanya kosong.

Tanpa sadar, seiring dengan langkahnya yang terhenti, Baekhyun jatuh. Ia duduk bersimpuh di atas karpet tebal, tanpa sadar, matanya basah.

Otak tumpulnya yang dipaksa bekerja sepagi ini benar-benar tak memiliki jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi pikirannya.

Pertanyaan-pertanyaan retoris seperti..

Mengapa Chanyeol meninggalkanku?

Apa Chanyeol benar-benar sudah menyerah?

Dia melepasku?

Tenggelam dalam pikirannya sendiri, Baekhyun tak bisa mengendalikan air matanya lagi. Dadanya sesak, hatinya kembali merasakan sakit luar biasa seperti yang pernah ia rasakan dulu –dan itu bukan nostalgia yang menyenangkan.

Kalau boleh jujur, ia tak ingin merasakannya lagi.

Tapi apa Baekhyun punya pilihan lain?

Semalam, setelah Chanyeol kembali menyentuhnya, ia bisa sedikit mendesah lega, tapi kenapa sekarang perasaan menyakitkan ini kembali lagi.

Chanyeol menyetubuhinya dengan lembut semalam, Baekhyun bisa merasakan itu dibalik sentuhannya. Chanyeol menahan fetish-nya, ia berhasil mengendalikan kegilaan itu, membuatnya tidak merasakan sakit.

Dan Baekhyun baru menyadari kesungguhan Chanyeol untuk benar-benar berubah.

Chanyeol berubah untuknya.

Dia serius.

Bodoh, Baekhyun baru menyadari itu.

Chanyeol benar-benar mencintainya.

Apa aku sudah terlambat menyadari ini?

Suara getaran ponsel membuat Baekhyun mau tak mau berdiri, ia mengusap air matanya yang turun tanpa sebab. Sambil mengatur napas yang masih berantakan karena terisak, ia memandangi nama yang tertera di layar ponselnya.

Pria itu menghubunginya lagi.

Dengan satu desahan napas ringan, masih berusaha menenangkan diri agar tidak terdengar seperti orang sekarat dipagi hari, Baekhyun menerima panggilan itu.

Ini semua harus diakhiri.

.

.

TBC

.

.

HAPPY VALENTINE DAY. SPREAD THE LOVE OVER THE WORLD.

Busyet, ini drama banget ya jadinya /eheh/ jadi sebenarnya yang bikin konflik itu inner masing-masing individu /bisa dipahami kan yha?/ xixixi

Kepanjangan kah ini? Maapin.

Fast update again special request from my beloved sister parkd, admin cantiq yang hobby baca FF.

Oke, gimana? Komen dong komen hahaha. Ini pertama kali kayanya Author bikin semi-semi hurt kzl gini hehehe.

BTW kemarin pas baca review dari readers semua dichapter sebelumnya, Author bener-bener terharu. Kukira FF ini banyak yang gasuka karena mungkin pasaran dsb tapi ternyata feedback dari readers cukup bisa buat semangat lagi untuk nglanjut nulis.

Jadinya fast update lagi.

Dan inilah Chapter 11 /tolong jangan tanya ini sampe chapter berapa/ nikmati saja hehehe.

Terima kasih sudah membaca dan mereview.

Lebih kurangnya mohon maaf.

Jangan lupa review ya semuanya.

With love,

lolipopsehun

Today update with my 'lil sister baekbeelu and fujoaoi. Please kindly check their story too~