DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, Ojamajo Doremi 16 Naive & Ojamajo Doremi 16 Turning Point (light novel) © Kodansha, 2011-2012. Endless Night © Agatha Christie, 1967. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini, dan semua lagu yang judulnya tercantum dalam fic ini juga bukan punya saya.
Catatan Author: Akhirnya, setelah mengambil 'libur' Tahun Baru selama beberapa hari, saya bisa mengupdate fic ini lagi.
Jujur, tadinya saya bener-bener bingung mikirin ide cerita untuk chapter ini, tapi akhirnya, saya punya ide juga (dan ide itu bersumber dari novel Agatha Christie yang baru saja saya beli – yang saya cantumkan di disclaimer).
Selamat membaca.
.
Intro: Dari dalam sebuah ruangan studio televisi…
"M!"
"A!"
"H!"
"O!"
"Do!"
"…" Empat orang gadis yang berada di dalam studio terkejut mendengar sahutan terakhir dari pintu studio. Mereka menoleh kesana, dimana seorang gadis berambut merah panjang seusia mereka berdiri. Dialah orang yang menyahut seruan mereka. Merekapun terlihat sangat gembira mengetahui apa yang terjadi.
Gadis itupun memasuki ruangan studio tersebut dan bergabung dengan keempat orang sahabatnya sambil tersenyum. Mereka berlima berdiri lalu meneruskan seruan khas mereka sambil mengangkat tangan mereka yang saling berpegangan, "MAHO-Do!"
.
(Opening Song 'Ojamajo Girlband': 'Egao no Mirai he' by MAHO-Do – Original Version by Yuki Matsuura)
Ojamajo Girlband
.
The Stars and the Bad Boys
Suasana dalam studio televisi tersebut sekarang dipenuhi dengan kebahagiaan dan keceriaan, lebih dari apa yang terjadi di acara musik dua hari yang lalu. Setelah sebulan tampil di sana-sini dengan formasi yang tidak lengkap, akhirnya hari ini, kesemua personil MAHO-Do dapat hadir dalam acara talk show pagi ini.
Percakapan diantara sang presenter dengan seluruh personil MAHO-Do berlangsung dengan gembira, sampai pada suatu ketika, presenter itu bertanya tentang insiden penembakan yang terjadi sebulan yang lalu.
Pada mulanya, Hazuki, Aiko, Onpu dan Momoko merasa keberatan dengan pertanyaan tersebut, tapi saat Doremi berkata bahwa ia bersedia menceritakan apa yang terjadi saat itu, mereka akhirnya menyerah, membiarkan pertanyaan itu terjawab dengan sejujur-jujurnya…
"Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat," ujar Doremi, mulai bercerita tentang apa yang terjadi padanya saat itu, "dan itu terjadi sesaat setelah Onpu-chan-tachi mengantarku pulang ke rumah. Saat itu…"
Flashback (Doremi's POV)
Suara ledakan yang berasal dari pistol itu terdengar sangat nyaring di telingaku, dan bersamaan dengan itu, aku merasakan sakit yang teramat dalam di perutku. Dalam… dan panas… pemuda misterius itu berhasil melepaskan peluru itu ke tubuhku…
'Mungkin sekarang… aku akan mati…'
Aku masih bisa melihat dengan jelas sosok pemuda itu, pemuda yang mengarahkan sebuah pistol yang digenggamnya padaku. Aku melihatnya pergi begitu saja dari persimpangan jalan tempatnya berdiri… setelah ia melepaskan tembakan itu…
'Siapa dia? Kenapa… kenapa dia menembakku?'
Refleks, tangan kananku menyentuh luka itu, dan rasanya… sangat sakit. Aku merasakan adanya cairan yang membasahi telapak tanganku, cairan yang mengalir keluar dari luka yang baru saja kudapatkan. Aku lalu melepaskan sentuhanku dari luka itu dan memandang kearah telapak tangan kananku, memandangi cairan yang sewarna dengan rambutku tersebut…
'I-ini… darahku?' pikirku saat aku melihat cairan itu melapisi telapak tanganku.
Dalam sekejap, pandanganku terasa kosong… Semuanya terasa gelap…
Dan aku terjatuh…
Dalam kegelapan, aku merasa seperti orang yang tidak punya tenaga sama sekali, bahkan untuk menggerakkan tangan dan kakiku sekalipun. Aku tak bisa.
Saat itu juga, pikiranku terhanyut dalam sebuah mimpi buruk. Aku berdiri dalam kegelapan. Dari sana, aku bisa mendengar suara-suara orang yang kukenal memanggilku dari kejauhan, tapi aku tidak dapat menggerakkan kakiku sama sekali, padahal, aku ingin sekali menghampiri sumber suara itu.
'Kenapa aku lemah begini?' pikirku, 'Poppu… Kimitaka-kun… Tetsuya… Hazuki-chan… Ai-chan… Onpu-chan… Momo-chan… Okasan… Otousan… Minna… Kenapa sekarang, aku tidak bisa menjangkau kalian? Kenapa sekarang, aku tidak bisa melihat kalian? Padahal kedengarannya… kalian terasa dekat…'
'Sekarang… aku merasa tak berguna…'
Keadaan itu terus berlangsung, entah untuk berapa lama, sampai akhirnya, aku mendengar suara seseorang mengajakku bicara…
"Ne, Doremi, dua hari lagi… aku tidak tahu harus berbuat apa."
'Suara itu…' aku mengenali sang pemilik suara tersebut, lalu memanggilnya, "Tetsuya?"
"Ini sudah sebulan sejak insiden itu terjadi…"
"Tetsuya…"
"… dan kau… masih seperti ini…"
"Tetsuya…"
Aku terus mencoba untuk menyahut apa yang Tetsuya katakan, dan entah kenapa, sekarang aku seperti mendapat kekuatan dari dalam diriku, untuk dapat menjangkau sumber suara itu… sumber suara itu… sumber suara itu… sumber suara itu… sumber suara itu…
"Te-tsu-ya…"
End of Flashback
"Yah, begitulah ceritanya, sampai akhirnya aku bisa hadir disini dengan keadaan yang sehat hari ini," tutup Doremi.
"Jadi, itu yang terjadi saat itu, ya?" gumam sang presenter, "Apa sekarang kalian sudah tahu, siapa pemuda misterius yang menembak Doremi sebulan yang lalu?"
"Kami sudah mengetahuinya," jawab Onpu, "Kami juga sudah melaporkan kasus penembakan ini ke polisi, dan sampai saat ini, polisi masih melakukan pencarian terhadap pemuda tersebut."
"Kalian mengenalnya?"
"Ya, kami mengenalnya," kali ini, Momoko yang menjawab, "Sebelumnya, dia juga yang menyebarkan kabar miring tentangku dan Ai-chan beberapa waktu yang lalu."
"Pokoknya, siapapun di antara pemirsa semuanya yang mengetahui keberadaan seseorang bernama Akihiro Rocky, dimohon untuk segera memberitahu pihak kepolisian," lanjut Aiko, memberikan pengumuman, "Laporan anda sangat berarti bagi kami semua."
"Baik, mungkin sekarang kita beralih ke topik yang lain," ujar sang presenter mengalihkan pembicaraan, "Sebentar lagi kan, libur musim panas akan berakhir. Kira-kira, apa saja yang akan kalian lakukan untuk menyambut semester yang baru ini? Mengingat kalau tidak salah, ini tahun terakhir kalian bersekolah di SMA."
"Yah, mungkin di semester ini, kami akan sangat sibuk karena jadwal kegiatan kami yang masih saja padat sampai dua bulan kedepan, tapi tentu saja, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa membagi waktu antara jadwal kerja dengan persiapan kami untuk mengikuti ujian kelulusan," jelas Onpu.
"Bicara soal kelulusan kalian dari SMA yang akan terjadi tidak lama lagi, katanya, pihak manajemen kalian berencana untuk mendaftarkan kalian berlima untuk kuliah di sebuah universitas yang…"
Syuting terus berlangsung selama satu jam…
.
"Doremi-chan, Kotake-kun, kami benar-benar tidak menyangka kalau kalian akan kemari menyusul kami hari ini," ujar Onpu, "Tadinya, kami berniat untuk ke Rumah Sakit setelah syuting acara ini selesai, tapi ternyata…"
"Kami duluan yang menyusul kalian kesini kan?" lanjut Doremi sambil tersenyum, "Yah, begitu aku mengetahui kalau aku sudah boleh pulang dari Rumah Sakit hari ini, aku teringat janjiku pada kalian kemarin. Aku akan menyusul kalian kalau pada saat aku sudah sembuh, kalian sedang bekerja, makanya, aku mengajak Tetsuya kesini, sebelum kami pulang ke rumahku."
"Dan sekarang, kau benar-benar menepati janjimu," ujar Aiko, "Kami sangat kagum padamu, Doremi-chan. Selama ini, kami sangat tepat memilihmu sebagai sahabat terbaik kami, dan juga, sebagai pemimpin kami."
"Ah, jangan terlalu berlebihan," sahut Doremi sambil tersipu malu, "Jadi sekarang, kalian ingin mengantarku pulang?"
"Iya. Sekarang, kami juga ingin mampir ke rumahmu," jawab Hazuki, "Kalau tidak salah, keluargamu juga pulang dari Tokyo hari ini kan?"
"Ya, itu benar,"
"Baiklah," ujar Kotake, "Ayo semuanya, kita ke mobil!"
"Yeah!" seru para personil MAHO-Do. Mereka lalu bergegas memasuki sebuah mobil van biru yang diparkir diluar stasiun televisi.
Sesampainya mereka di rumah keluarga Harukaze, mereka disambut dengan hangat oleh Nyonya Haruka, Tuan Keisuke dan Pop yang juga baru saja sampai di rumah tersebut beberapa menit sebelum mereka tiba disana.
"Ah, onee-chan, rambutmu…" komentar Pop saat ia memperhatikan rambut sang kakak, "Aku tak menyangka kalau rambutmu bisa panjang lagi."
"Itu masih mungkin terjadi, Poppu, kecuali kalau ada yang memotong rambutku saat aku masih berada di Rumah Sakit," sahut Doremi, "Nah, bicara soal rambut, kemarin kaubilang… ikat rambutku ada padamu. Sekarang, kau bisa mengembalikannya padaku kan?"
"Anou, kupikir… kelihatannya, onee-chan sudah punya… aksesoris rambut yang baru ya?" jawab Pop sambil memperhatikan sebuah bando yang melingkar di kepala Doremi, "Itu artinya kan… onee-chan tidak butuh ikat rambut onee-chan lagi…"
Doremi menangkap bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya mengenai ikat rambut yang selama ini dipakainya tersebut, "Apa yang terjadi dengan ikat rambutku, Poppu?"
"Ah, ti-tidak ada yang terjadi kok, hanya saja… kupikir onee-chan tidak perlu lagi… mengikat rambut onee-chan seperti biasanya."
"Jangan bohong, Poppu. Aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu," Doremi bertanya lagi, "Ada apa dengan ikat rambutku?"
"A-ayolah, onee-chan. Gaya rambutmu itu sudah tidak cocok lagi buatmu…"
"Poppu, jangan sembunyikan apapun!" Doremi mengeraskan suaranya, "Sebenarnya, apa yang terjadi saat kau pergi ke Tokyo bersama okasan dan otousan? Apa kau… merusak ikat rambutku?"
"Akh, itu… itu…" Pop berpikir sebentar dengan wajah yang terlihat tegang, sampai pada akhirnya ia menghela napas dan berkata, "Baiklah. Aku akan menjelaskan semuanya, tapi… onee-chan jangan marah ya, kalau nanti kuberitahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Aku janji, aku tidak akan marah," sahut Doremi, "Jadi, apa yang terjadi dengan ikat rambutku?"
"Ngg… begini," Pop mulai menjelaskan semuanya, "Saat aku menginap di sebuah hotel di Tokyo bersama dengan okasan dan otousan, aku sempat meninggalkan ikat rambut onee-chan di dalam kamar hotel, dan… saat aku melihat ikat rambut itu, ternyata…"
"Ternyata?"
Pop lalu mengeluarkan sepasang ikat rambut yang dimaksud dan melanjutkan kata-katanya, "Saat kutemukan, ikat rambut ini sudah rusak. Kelihatannya, ada seseorang yang menyelinap masuk ke kamar kami dan… merusak ikat rambut ini."
Doremi kemudian memandang kearah sepasang ikat rambutnya, yang sekarang sudah terbagi menjadi empat bagian. Kelihatannya, ada seseorang yang memotong ikat rambut tersebut.
"Sou na… ikat rambutku…" ujarnya lirih, "Siapa yang telah merusaknya? Apa untungnya dia merusak ikat rambutku ini?"
Hanya dalam sekejap, Doremi menemukan jawaban atas pertanyaan yang diucapkannya dari sebuah pesan singkat yang baru dikirim ke ponselnya.
"Baik, jangan bilang kalau si Batu itu juga yang telah merusak ikat rambutmu…" tebak Kotake.
"Sayangnya, kau benar, Tetsuya," jawab Doremi. Ia lalu menutup ponsel flip merah mudanya dan melanjutkan kata-katanya, "Orang yang merusak ikat rambutku adalah… Akihiro Rocky."
"Dan kurasa, mulai hari ini dan seterusnya, aku akan terus mengenakan bando ini…"
.
Keesokan harinya…
Terlepas dari apa yang terjadi dengan ikat rambut Doremi, kesemua personil MAHO-Do, juga Kotake, Pop dan kedua orangtua dari Doremi dan Pop memilih untuk menanggapinya dengan santai, walau mereka juga tahu bahwa mereka harus lebih waspada dalam menghadapi Akihiro Rocky.
Rabu ini, mereka memutuskan untuk pergi berkemah bersama dengan Yada Masaru dan Kimitaka, juga seluruh anggota FLAT 4, di tempat yang sama dimana Doremi, Kotake, Hazuki, Masaru, Aiko, Momoko, Hana-chan dan beberapa teman seangkatan mereka di SD Misora dulu berkemah enam tahun yang lalu.
"Ah, keadaannya masih sama dengan enam tahun yang lalu…" ujar Doremi, "Udara disini juga masih sesegar yang dulu."
"Air di sungai ini juga masih sejernih yang dulu," komentar Hazuki saat ia memperhatikan air sungai yang mengalir disana, "Di hutan ini, semuanya tidak berubah."
"Dan sekarang, aku bersyukur bisa pergi kesini bersama dengan kalian," sahut Onpu, "Untungnya, kita tidak punya jadwal kegiatan sampai besok."
Akatsuki lalu menyadari, bahwa sejak mereka dalam perjalanan menuju hutan itu, Momoko sedang asyik membaca sebuah novel. Ia bertanya kepada gadis berambut pirang tersebut, "Momo-chan, kau sedang baca apa? Kelihatannya asyik sekali…"
"Oh, ini?" jawab Momoko sambil menunjukkan sebuah novel yang dibacanya, "Ya, aku sedang membaca sebuah novel karangan Agatha Christie."
"Eh? Momo-chan, aku baru tahu kalau kau menyukai novel yang semacam itu…" sahut Doremi heran, "Memangnya, apa judul novel yang sedang kaubaca? Dan… bagaimana ceritanya?"
"Judulnya 'Endless Night'," jelas Momoko, "Novel ini menceritakan tentang sepasang suami-istri yang tinggal di sebuah tempat yang katanya telah dikutuk oleh kaum gipsy di Inggris. Suatu hari, sang istri yang berasal dari keluarga kaya berkebangsaan Amerika meninggal tanpa sebab yang jelas, tapi belakangan baru ketahuan kalau yang menyebabkan kematiannya adalah suaminya sendiri, yang berkebangsaan Inggris."
"Usou! Kau serius, Momo-chan?"
"Aku serius, Doremi-chan," ujar Momoko dengan sungguh-sungguh, "Ternyata Mike, sang suami, hanya ingin memperalat istrinya, Ellie, supaya dia bisa mendapatkan harta istrinya itu dan menikah dengan kekasihnya selama ini, Greta. Mike pura-pura jatuh cinta kepada Ellie, supaya mereka bisa menikah."
"Memperalat… Pura-pura cinta…" gumam Akatsuki pelan. Ia teringat dengan sesuatu yang ia lakukan delapan tahun yang lalu, saat ia sempat memperalat Doremi hanya untuk dapat menculik Hana-chan dengan mudah. Ia berpikir, 'Apa yang terjadi dalam novel itu… hampir sama dengan apa yang terjadi padaku delapan tahun yang lalu. Bedanya, aku tidak sampai hati untuk membunuh Doremi-chan, sementara… tokoh dalam novel itu…'
Doremi sempat melirik kearah Akatsuki sebentar sebelum akhirnya menyahut perkataan Momoko, "Wah, kedengarannya… cerita novel itu menarik juga, tapi… apa kau sudah selesai membaca novel itu sekarang? Kurasa, sekarang waktunya kita mendirikan tenda."
"Ah, tenang saja. Aku sudah selesai kok," jawab Momoko sambil menutup buku yang dibacanya dan memasukannya kedalam tas ransel yang dibawanya, "Ayo, kita mendirikan tendanya."
Mereka semua lalu mulai bekerja sama mendirikan tenda, setelah itu, mereka bersama-sama memasak kare lengkap dengan nasi sebagai menu makan sore mereka disana.
Setelah kare dan nasi mereka siap, merekapun memakannya sambil mengobrol. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok dengan pokok pembicaraan yang berbeda di masing-masing kelompoknya.
Di kelompok pertama, kelima personil MAHO-Do membicarakan tentang Hana-chan.
"Justru sekarang, Hana-chan yang tidak bisa kemari bersama dengan kita…" keluh Onpu yang kemudian melanjutkan kata-katanya dengan pelan kepada keempat personil MAHO-Do yang lain, "Padahal, Hana-chan juga yang mengantarkan seporsi kare untukku enam tahun yang lalu."
"Yah, mau tidak mau, kita harus menerima keadaan ini, Onpu-chan," balas Doremi, "Lagipula… Hana-chan tidak bisa selamanya berada disini. Dia harus mempersiapkan diri untuk menjadi calon ratu Majokai yang baik. Dia harus mempersiapkan semuanya untuk bisa bersaing dengan adil melawan Yume-chan, kandidat calon ratu Majokai lainnya, yang juga adalah adiknya*."
"Kau benar. Tidak mungkin bagi Hana-chan untuk bisa kemari sekarang ini. Dia juga sedang ada urusan penting disana…" Onpu menghela napas, "Tak apalah. Yang penting, sekarang aku bisa berkemah disini bersama dengan kalian."
Gadis berambut ungu itu kemudian memulai pembicaraan lain, "Ngomong-ngomong, Doremi-chan, saat itu Hana-chan bilang padaku kalau kau menumpahkan kare buatan kelompok kalian. Apa itu benar?"
"Ya… saat itu, aku lupa melindungi tanganku dari panasnya panci yang kami gunakan," jawab Doremi.
"Bukankah itu karena kare yang kalian buat terlihat kacau, makanya kau menumpahkannya karena tidak ingin memakannya?" ledek Aiko.
"Bukan karena itu, Ai-chan. Aku sebenarnya memang tidak ingin memakannya, tapi bukan berarti aku sengaja menumpahkannya," kilah Doremi.
"Eh? Kacau?" tanya Onpu tidak mengerti, "Memangnya kau masukkan apa ke dalam kare itu, Doremi-chan?"
"Bukan aku yang menyebabkan karenya jadi kacau begitu. Itu semua ulah Tamaki dan Hana-chan. Aku dan Tetsuya hanya bertugas mengiris bawang saja."
Sementara itu, Kotake, Masaru, Akatsuki, Fujio, Leon dan Tooru sedang membicarakan hal yang lain.
"Kalau saja, saat itu kami satu sekolah dengan kalian…" ujar Akatsuki setelah mendengar cerita sekilas dari Kotake dan Masaru tentang apa yang terjadi di perkemahan enam tahun yang lalu, "Kami juga pasti akan menikmati saat-saat yang menyenangkan."
"Ya, dan mungkin saja saat itu, kita semua sudah akan tahu, siapa diantara kau dan Kotake yang lebih mencintai Harukaze," sahut Masaru dengan gaya bicaranya yang biasa, "Kau tahu? Saat itu mereka berada di kelompok yang sama, dan banyak hal yang mereka kerjakan bersama-sama sebagai tim."
"Yada, untuk apa kau mengatakan hal itu?" tanya Kotake, sedikit tidak nyaman dengan apa yang dikatakan Masaru barusan, "Wajar saja kan, kalau saat itu, aku dan Doremi bekerja sama, sebagai satu kelompok?"
"Kalian tidak perlu malu menceritakannya padaku," sahut Akatsuki, "Sebagai teman satu kelompok, memang sudah sepantasnya bagi kalian untuk bekerja sama kan?"
"Ya… saat itu mereka menangis bersama, menyentuh wajah satu sama lain, tersesat di hutan berdua…"
"Kurasa kau sedikit melebih-lebihkan perkataanmu, Yada," koreksi Kotake, "Saat itu, kami sama-sama bertugas mengiris bawang yang akan digunakan dalam pembuatan kare kelompok kami, dan malamnya… kami sempat saling bertengkar gara-gara… petasan yang kunyalakan mengenai salah satu rambut odango Doremi."
"Lalu, bagaimana tentang kalian yang… tersesat di hutan?" tanya Akatsuki.
"Itu terjadi keesokan harinya, saat kelompok kami mencari stempel di dekat jurang yang berada disebelah sana," jelas Kotake, "Saat itu, Doremi terjatuh kedalam jurang itu, saat ia mencoba mengambil stamp sheet milik kelompok kami yang terbang tertiup angin. Aku mencoba menariknya supaya ia tidak terjatuh, tapi kemudian, malah aku yang ikut jatuh kedalam jurang itu…"
"Kedengarannya menarik juga…" pemuda berambut violet kembali menyahut, tertarik dengan cerita yang didengarnya, "Setelah itu, apa yang terjadi?"
"Di bawah sebuah pohon di dekat tempat kami terjatuh, kami menemukan stempel bintang besar yang saat itu menjadi sasaran utama tiap kelompok – siapapun yang mendapatkannya akan diperbolehkan untuk tidak mengerjakan PR musim panas, dan setelah aku menggunakannya pada stamp sheet kami, aku menyadari bahwa kaki kiri Doremi terkilir."
"Jadi kalian benar-benar menemukan stempel bintang itu?" tanya Masaru, "Yah, tapi untungnya, saat itu stamp sheet kalian hilang…"
"Bilang saja kalau kau iri, karena aku dan Doremi yang menemukan stempel bintang besar itu, Yada," sahut Kotake, "Baik, kembali ke ceritaku. Saat aku menyadari bahwa salah satu kaki Doremi terkilir, aku memutuskan untuk mengobati kakinya. Aku juga memperingatkannya untuk tidak menggerakkan kaki kirinya yang sakit."
"Lalu, apa yang kalian lakukan selanjutnya?" tanya Akatsuki.
"Aku sempat mencari pertolongan sebentar ke sekitar tempat kami jatuh, tapi tidak ada jawaban. Bahkan, Tamaki dan Makihatayama yang satu kelompok dengan kami dan membawa peta dan kompas malah sudah pergi entah kemana," Kotake terus bercerita, "Setelah beberapa lama mencari bantuan, tiba-tiba hujan turun. Saat itu, aku lalu memutuskan untuk menggendong Doremi di punggungku, sementara kami mencari tempat berteduh."
"Apa kalian menemukan tempat berteduh yang kalian cari?"
"Ya, disebuah gua kecil beberapa meter dari semak-semak yang tinggi di sebelah sana," jawab Kotake sambil menunjuk kearah beberapa semak-semak tinggi di dekat perkemahan, "Ternyata dasar jurang tempat kami jatuh berada tidak begitu jauh dari sini."
"Dan setelah hujan reda, kau kembali menggendong Doremi-chan di punggungmu, dan kembali meneruskan perjalanan untuk meminta bantuan sampai akhirnya kalian sampai kembali kesini?" tebak Akatsuki.
"Tidak tepat seperti itu juga. Saat kami berteduh, kami sama-sama merasa lapar. Mencari bantuan benar-benar menghabiskan tenaga yang banyak. Kami berdua merasa lapar, tapi saat itu, yang kumiliki hanyalah sebutir permen… mau tidak mau, hanya satu orang diantara kami berdua yang bisa memakannya…"
"Kurasa kau sendiri yang akhirnya memakannya, Kotake-kun," potong Fujio dengan nada sarkastik, "Permen itu kan milikmu."
"Kau salah, Fujio," Kotake menggelengkan kepalanya, "Sebelum Doremi tahu kalau aku juga lapar seperti dirinya, aku sudah menawarinya permen itu, dan dia menerimanya. Dia yang memakan permen itu, Fujio."
"Kurasa, aku sudah menduganya, Kotake-kun," ujar Akatsuki, "Sebaliknya, aku ragu kalau aku jadi kau, apakah aku akan melakukan hal yang sama…"
"Jangan berkata begitu, Akatsuki," sahut Kotake merendah, "Memangnya, sekolahmu tidak pernah mengadakan acara berkemah?"
Dan di waktu yang bersamaan, Kimitaka hanya mengobrol dengan Poppu dan kedua orangtuanya tentang panduan berkemah…
.
Malam harinya, mereka semua mengadakan acara api unggun. Persis seperti apa yang terjadi enam tahun yang lalu, malam ini Aiko jugalah yang menyalakan api unggun yang menghangatkan tubuh mereka semua yang duduk disekelilingnya. Seperti saat itu, Momoko juga mengajak mereka semua untuk menyanyikan lagu 'Sekai wa Love and Peace' bersama-sama.
Setelah beberapa lama mereka berkumpul mengitari api unggun, merekapun akhirnya tenggelam dalam urusan masing-masing.
"Aku tak pernah menyangka, kalau sekarang… justru aku bisa memandang bintang-bintang di langit bersamamu disini," ujar Doremi kepada Kotake saat mereka berdua sedang memandangi langit penuh bintang di malam itu, "Padahal, enam tahun yang lalu, aku justru mengharapkan orang lain yang menemaniku melihat bintang-bintang itu…"
Kotake tertawa, "Sekarang, aku justru teringat dengan perkataan Makihatayama saat kita bertengkar disini malam itu… Dia bilang, hubungan kita baik juga."
"Hana-chan… Jujur saja, saat itu aku benar-benar merasa keberatan dengan apa yang dikatakannya, tapi… saat aku memikirkannya lagi sekarang, aku merasa kalau yang dikatakannya saat itu ada benarnya juga…"
Kotake berhenti tertawa lalu menghela napas, "Sejujurnya, saat Makihatayama mengatakan hal itu, aku merasa malu. Bahkan aku berharap kalau hubungan kita benar-benar berjalan dengan baik saat itu, dan kita tidak benar-benar bertengkar."
"Kau memang berkata seperti itu sekarang, tapi kau juga tidak boleh lupa kalau orang yang membuat kita bertengkar saat itu adalah dirimu sendiri. Rambutku terkena petasan yang kaubakar…"
"Hei, soal rambutmu yang terkena petasanku, aku kan sudah meminta maaf padamu."
"Ya, itu benar, tapi setelah itu, kau malah menyalahkanku juga. Kaubilang… semua itu gara-gara aku memasang muka tak senang."
"Memang itu benar, kan? Seharusnya kau merasa senang di acara api unggun enam tahun yang lalu, bukannya meratapi diri karena tidak bisa memandang bintang bersama 'orang lain' yang kaumaksud tadi," Kotake memberikan alasannya, "Apalagi, sekarang kan… ehm, ada aku disampingmu."
"Baiklah, mungkin saat itu, aku memang terlalu egois…"
"Sudahlah, Doremi," hibur Kotake sambil membelai rambut merah kekasihnya itu, "Yang penting, sekarang semua itu telah berlalu, dan ya, disinilah kita."
"Kau benar," Doremi tersenyum, "Yang penting sekarang adalah apa yang sedang terjadi. Apa yang kita jalani saat ini."
Mereka akhirnya mengalihkan pandangan kearah bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.
Sementara itu, Hazuki dan Masaru juga sedang menikmati saat-saat mereka berdua disana, sedangkan Aiko, Onpu, Momoko dan Pop sedang berbincang-bincang dan semua anggota FLAT 4 juga Kimitaka sedang bermain petasan.
"Hei, kalian harus hati-hati membakar petasan-petasan itu, jangan sampai ada yang merasa terganggu," ujar Kotake memperingatkan, "Kalau ada yang tidak hati-hati, aku tidak akan segan-segan menghajarnya."
"Tetsuya, sudahlah," sahut Doremi, "Aku yakin kalau mereka akan berhati-hati."
"Tapi aku meragukannya, terutama… aku ragu terhadap Fujio," Kotake melirik sang pemuda berambut orange bob yang berdiri agak jauh darinya, "Bukan tidak mungkin kalau dia menyalah gunakan petasan yang dibakarnya untuk mengganggu Yada dan Fujiwara."
"Ayolah, Tetsuya…"
"Kau tenang saja, Kotake-kun. Aku akan memastikan kalau Fujio-kun tidak akan melakukan apa yang kau khawatirkan," potong Akatsuki, "Sekarang, kau lanjutkan saja pengamatan bintang romantismu dengan Doremi-chan."
Doremi tersipu malu, sementara Kotake hanya berkata, "Baiklah, aku percaya kalau kau bisa mengawasi itu semua."
Saat pandangan mereka berdua kembali tertuju kepada bintang di langit, Fujio bertanya kepada Akatsuki, "Kau tidak benar-benar akan mengawasiku kan?"
"Tergantung dari apa yang sedang kaupikirkan sekarang, Fujio-kun," jawab Akatsuki, "Kuharap kau tidak sedang memikirkan cara untuk memisahkan Yada-kun dengan Hazuki-chan."
"Terserah kaulah," sahut Fujio sambil memutar bola matanya.
Saat malam semakin larut, mereka semua memasuki tenda masing-masing dan pergi tidur.
.
Keesokan paginya…
"Jadi, kalian yakin akan pulang dari sini jam sepuluh nanti?" tanya Tuan Keisuke.
"Iya, otousan," jawab putri sulungnya, "Onpu-chan bilang, siang nanti akan ada pengarahan khusus dari pihak manajemen kami, mengenai jadwal dan kontrak kerja terbaru kami."
"Kelihatannya, jadwal kalian sekarang akan semakin memadat," ujar Nyonya Haruka, "Tapi, kalian juga harus ingat, kalau sebentar lagi, kalian akan menghadapi ujian kelulusan dari SMA. Jangan sampai pekerjaan kalian membuat kalian lupa mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nanti."
"Yah, kurasa Hazuki-chan tidak akan merasa kesulitan menghadapi ujiannya di Karen," sahut Aiko, "Yang harus dikhawatirkan dalam hal ini hanyalah Doremi-chan."
"Chotto, Ai-chan! Kenapa kau malah meremehkanku begitu?" protes Doremi, "Lagipula kan, mengenai ujian, kita bisa mempersiapkan diri kita bersama-sama. Kita bisa belajar bersama di waktu luang."
"Onee-chan serius berkata begitu?" tanya Pop tak yakin, "Bukannya selama ini, onee-chan yang paling santai dalam belajar jika dibandingkan dengan yang lainnya?"
"Mulai sekarang, aku tidak akan bersantai lagi seperti yang kaukatakan tadi, Poppu," jawab Doremi, "Kalau selama aku berada di Rumah Sakit saja, aku bisa menyelesaikan semua PR musim panasku, aku juga pasti akan mampu menghadapi ujian kelulusan."
"Eh? Kau sudah mengerjakan semua PR musim panasmu?" tanya Momoko tak percaya, "Well, kami harap kau bersungguh-sungguh mengatakannya."
Setelah sarapan pagi, mereka bergegas mempersiapkan semuanya untuk pulang. Doremi dan Kotake sengaja membereskan barang-barang mereka lebih cepat dari yang lainnya, karena mereka ingin sekali melihat-lihat kesebuah tempat yang pernah mereka datangi enam tahun yang lalu disana, yaitu sebuah gua kecil tempat mereka berteduh dari hujan dulu.
Dengan hati-hati, mereka menerobos semak-semak tinggi yang dulu mereka lewati untuk sampai ke perkemahan. Hanya dalam beberapa menit berjalan kaki, mereka akhirnya sampai di gua kecil tersebut.
"Wah, pemandangan disini masih seindah dulu," puji sang gadis berambut merah, "Bagaimana menurutmu, Tetsuya?"
"Ya, semuanya masih terlihat indah disini," sahut Kotake setuju. Ia lalu menatap keatas, "Nah, coba kaulihat celah-celah pepohonan diatas. Bentuknya menyerupai bintang besar."
"Masa?" Doremi kemudian ikut memandang kearah apa yang dipandangi oleh Kotake, "Ah, kau benar. Kenapa dulu kita tidak menyadarinya ya?"
Kotake menghela napas, "Semua yang terjadi disini benar-benar berhubungan dengan bintang…"
"Bintang?" Doremi berpikir sebentar sebelum akhirnya meneruskan kata-katanya, "Kurasa kau benar. Semua yang terjadi diantara kita di tempat ini berhubungan dengan bintang. Bintang-bintang yang menghiasi langit malam dengan indahnya, stempel bintang besar yang kita temukan dulu, pola bintang yang dibentuk oleh pepohonan disini, dan juga… bintang besar di mimpiku enam tahun yang lalu."
"Mimpi?"
"Ya."
Doremi lalu menceritakan tentang mimpi yang didapatnya saat berkemah disana enam tahun yang lalu.
"Kau tahu, Tetsuya? Setelah memperhatikan semua yang terjadi selama ini, aku berpikir kalau… seseorang yang ingin kutemui di mimpiku saat itu adalah… kau."
"Kurasa, aku juga memikirkan hal yang sama. Kurasa bintang besar yang hadir dalam mimpimu itu bisa disamakan dengan stempel bintang besar yang kita temukan. Apalagi, dua tahun setelahnya, kau benar-benar mengakui perasaanmu padaku."
Lama mereka berdua terdiam, sampai akhirnya sang pemuda berambut biru berkata lagi, "Yah, kurasa sebaiknya kita cepat-cepat bergabung dengan yang lainnya. Bagaimana kalau sekarang, mereka semua sudah siap untuk pulang."
"Kau benar juga, Tetsuya. Mereka pasti sudah menunggu kita," sahut Doremi yang kemudian menarik tangan Kotake, "Ayo, kita temui yang lainnya."
Sepasang kekasih itupun lalu menghampiri yang lainnya, kemudian mereka bergegas pulang.
.
Beberapa lama kemudian, di kantor manajemen…
Hari ini, Doremi baru mengetahui bahwa manajemen yang mengurusi dirinya dan para sahabatnya di MAHO-Do adalah tim manajemen yang juga mengurusi boyband FLAT 4. Kedua kelompok menyanyi itu sama-sama diperintahkan untuk mendatangi kantor manajemen mereka hari ini, karena ada pengumuman penting untuk mereka.
"Eh? Jadi mulai besok, jadwal kegiatan kami akan terfokus pada syuting dorama di televisi?" tanya Doremi.
"Tidak terlalu terfokus kesana. Saat libur musim panas berakhir nanti, kalian hanya perlu syuting tiap hari Senin sampai Jumat. Khusus di minggu ini saja, kalian akan syuting besok dan lusa," jawab seorang wanita yang juga adalah manajer mereka.
"Yang benar saja? Aku kan baru saja sembuh," protes sang leader MAHO-Do, "Manajer-san, apa tanggal mulai syutingnya bisa diundur? Lagipula, kami semua masih belum menanda tangani kontrak untuk dorama itu."
"Tidak bisa begitu, Doremi. Masalahnya, dorama yang akan kalian bintangi akan ditayangkan Senin depan."
"Manajer-san, sebelumnya kaubilang… syuting akan dimulai Jumat depan, tapi kenapa sekarang…"
"Maafkan aku, Onpu. Memang seharusnya, aku sudah memberitahu kalian tentang perubahan yang mendadak ini sebelumnya, sejak hari Minggu kemarin saat aku diberitahu oleh pihak produksi dorama itu," ujar sang manajer memotong perkataan Onpu, "Yah, tapi tidak apa-apa juga, kalau kalian semua tidak ingin menanda tangani surat kontrak kalian dan memutuskan untuk membatalkan kontrak kerja untuk dorama ini."
"Ya… kalau menurutku sih… boleh-boleh saja kami… ikut serta dalam dorama televisi itu, kalau memang yang lainnya sudah menyetujui hal itu," sahut Doremi pada akhirnya, mencoba bersikap bijak, "Minna, apa sebelumnya, sudah ada pembicaraan tentang hal ini?"
"Iya, tepatnya dua minggu yang lalu, waktu kau masih belum sadarkan diri," jawab Onpu, "Saat itu, katanya syuting akan dimulai Jumat depan, makanya kami setuju. Hanya saja, kontrak kerjanya belum kami tanda tangani, karena kami ingin menunggumu sadar dulu. Kami yakin, sebelum Jumat depan, kau sudah akan sadar, dan hal itu terbukti benar."
"Hmm… baiklah, kurasa aku menyetujuinya. Ayo, kita tanda tangani kontrak ini," ajak Doremi pada akhirnya, "Kalau aku boleh tahu, apa judul dorama ini? Dan… bagaimana ceritanya? Aku perlu mengetahuinya, karena seperti yang kaubilang tadi, syuting akan dimulai besok. Semua hal yang berhubungan dengan dorama itu sudah harus kami ketahui sekarang."
"Baiklah…" sang manajer menghela napas sebelum memulai penjelasannya, "Judulnya 'The Stars and the Bad Boys'…"
*: ini bersumber dari Ojamajo Doremi 16 Turning Point, dimana dijelaskan bahwa sebenarnya, beberapa saat setelah Hana-chan lahir di episode pertama Ojamajo Doremi Sharp, ada seorang bayi penyihir lain yang juga lahir dari mawar Witch Queen, dan bayi itu dinamai 'Yume'.
Catatan Author: Ehm, kelihatannya… di chapter ini, saya menambahkan spoiler yang lumayan serius dari Ojamajo Doremi 16 Turning Point…
Disini, saya juga menceritakan tentang beberapa hal yang terjadi di Ojamajo Doremi Dokkan episode 26, yang juga bisa dibilang episode favorit dari penggemar pairing KotaDore. Semoga berkenan untuk readers semua ya? ^^
Yang pasti, chapter selanjutnya akan jadi lebih seru lagi dari sebelumnya. Penasaran? Ditunggu saja ya?
