Chapter 11

Little Screet

The Librarian

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated : T

"Apa maksudmu ?" Tanya Kabuto dengan sebuah kernyitan dahi di wajahnya yang putih tersebut.

"Lihat scorpion panda itu. Kau tau apa artinya kan ?" Tanyaku dengan nada datar kearah Kabuto. Kabuto hanya mengangguk perlahan mendengar ucapanku tersebut.

"Si dobe tadi bareng kesekolah bersama denganku. Artinya dia sudah tau kalo disini terjadi sebuah kasus" Kataku menjelaskan apa yang terjadi pagi tadi.

"Tadi dia ditelepon ayahnya yang notabene adalah inspektur kepolisian Otogakure" Kataku yang hanya membuat Kabuto mengangguk-angguk pelan. Scorpion adalah motor polisi dengan mesin yang tangguh dan juga keren, dan untuk polisi yang resmi pastinya dia berwarna hitam putih alias panda.

"Jadi ayah Naruto-san adalah inspektur ya. Kau mau lihat ?" Tanya Kabuto dengan wajah datar. Berbeda dari biasanya yang sinis dan tersenyum penuh kemenangan.

"Baiklah" Kataku sambil berjalan mendampingi Kabuto. Kami berdua pun berjalan dengan pose masing-masing. Berkali-kali kulirik Kabuto yang tampaknya sedang berpikir keras menebak apa kasus yang ada tersebut.

Kasus ini berada di perpustakaan, aku mengetahuinya dari seorang polisi berbadan tegap yang berdiri di depan pintu perpustakaan.

"Kita tak boleh masuk" Bisikku pada Kabuto yang masih terus berjalan dengan posenya sendiri. Kulihat dia berbicara sedikit dengan polisi tersebut dan kemudian dia masuk dengan tenang sambil melirik kearahku. Bagaimana bisa ?

Tunggu dulu...! Dia menghasut polisi itu untuk mencoba masuk kedalam perpustakaan ? Apa-apaan tuh polisi.

Rasanya aku melupakan sesuatu. Siaaalll...! Aku selalu lupa sesuatu yang penting disaat-saat krusial. Apa itu ? Apa itu ? Cepatlah berpikir Sasuke.

"Kau kenapa, Sasuke-senpai ?" Seseorang dengan rambut keemasan tiba-tiba menegurku dan langsung menyadarkanku dari kestresanku dalam berpikir tentang Kabuto yang bisa dengan mudah menghasut polisi.

"Sasuke-senpai, kok malah ketakutan kayak ngeliat hantu gitu sih. Mana ada hantu di siang bolong" Kata cewek manis tersebut sambil memandang wajahku dengan heran. Yah...! Dia kohaiku yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Aku tidak punya adik dan aku ingin sekali mendapatkan adik, tapi mungkin gak bisa. Jadi, gadis mungil ini kuadopsi secara paksa.

"Ah...! Nggak ada apa-apa kok" Kataku sambil sedikit tersenyum. Kulihat dia yang sepertinya sedang berusaha melihat apa yang ada di belakangku.

"Yah...! Perpustakaannya kok dijaga sama polisi sih" Keluhnya terdengan sangat kecewa melihat polisi berbadan kekar tersebut. Kutolehkan kepalaku sekali lagi kearah polisi tersebut dan rupanya dia membalas pandanganku.

"Emangnya Miyuki-chan mau apa ?" Tanyaku sambil mengalihkan pandanganku pada Miyuki yang sepertinya masih belum percaya tentang keberadaan polisi tersebut.

"Aku mau ambil bukuku yang kemarin. Aku taruh di rak M-18 dengan judul Competitive Programming dan aku mau baca lanjutannya" Kata Miyuki dengan bibir mengerucut seolah kesal dengan polisi tak bersalah tersebut.

"Competitive Programming ? Maksudmu CP ? Aku punya ketiga serinya di rumah. Kau mau pinjam" Kataku dengan nada datar. Aku merasa ada sesuatu yang janggal terjadi kemarin. Miyuki biasanya langsung meminjam setiap buku yang telah dibacanya dan kemarin dia tidak pinjam ?

"Wah...! Syukurlah, besok tolong dibawa ya, senpai" Kata Miyuki dengan riang. Ekspresi kesal telah hilang dari wajahnya entah kemana.

"Aku boleh tanya sesuatu gak ?" Tanyaku pada Miyuki yang hanya dijawab dengan anggukan pelan oleh Miyuki.

"Apapun untuk senpaiku yang cool" Godanya. Aku hanya tergelak sebentar sebelum kembali menjadi serius.

"Apakah terjadi sesuatu yang janggal di perpustakaan kemarin ? Sesuatu yang lain dari biasanya ?" Tanyaku. Aku memang tidak terlalu sering berkunjung ke perpustakaan. Aku lebih suka merenung dikelas atau ke kantin untuk sekedar menyegarkan pikiran. Saat dikantin itulah biasanya aku bertemu dengan Miyuki.

"Ummm...! Sesuatu yang janggal ? Apa ya ?" Miyuki tampak berpikir sejenak Dahinya tampak berkerut-kerut mendengar ucapanku.

"Ah...! Gak tau ya. Tapi yang menurutku lain dari biasanya sih adalah Pak Matsuda yang tidak masuk kemarin dan juga ada sebuah rak yang dipenuhi oleh buku yang masih berplastik. Judulnya lumayan keren jadi aku tertarik dengan buku itu, tapi aku tidak boleh membukanya" Kata Miyuki dengan raut wajah ceria seperti biasanya. Buku tersegel ? Penjaga perpustakaan yang tidak masuk ? Tunggu dulu...

"Dimana buku bersegel tersebut ?" Tanyaku dengan cepat kearah Miyuki yang sepertinya cukup terkejut dengan pertanyaanku.

"Kalo tidak salah di rak khusus buku terbaru. Rak bagian A-12" Jawab Miyuki.

"Mungkin aku harus pergi ke perpustakaan. Jaa ne" Kataku sambil berlari menuju perpustakaan yang sepertinya masih dijaga dengan ketat oleh polisi berbadan tegap tersebut.

"Aku boleh masuk ?" Tanyaku pada polisi bertampang sangat tersebut. Polisi itu menganggukkan kepalanya pelan sambil sedikit membuka jalan untukku. Aku pun masuk kedalam perpustakaan.

Buku-buku yang rapi menyambut kedatanganku dengan seulas senyuman muram. Kepala perpustakaan tampak sedih diinterogasi oleh polisi yang bertugas saat itu. Kulihat dobe dan Kabuto sepertinya sedang memeriksa beberapa tempat dengan sarung tangan bersama beberapa polisi yang lain. Aku pun masuk kedalam perpustakaan.

"Apa yang kau lakukan disini ?" Bentak kepala perpustakaan yang berwajah sedih dengan rambut berwarna keputihan. Kukira dia sudah tua sehingga dia kehilangan hampir seluruh pigmen miliknya.

"Aku mau menyelidiki juga" Kataku.

"Dia temanku" Sahut Kabuto dengan sebuah seringaian tajam kearah polisi di depanku. Polisi itu mengangguk dan kemudian menyerahkan dua potong sarung tangan dan aku langsung memakainya.

Aku langsung bergerak menuju ke rak M-18 untuk menemukan buku CP yang sudah kukoleksi mulai dari seri satu sampai dengan seri tiga yang ditemukan oleh Miyuki di perpustakaan ini.

Kulihat sebuah buku yang sudah tidak asing lagi dengan sebuah pembatas buku yang mencuat di buku tersebut. Kurasa Miyuki sedang membacanya sehingga menempatkan pembatas tersebut disela-sela halaman yang sudah dibacanya. Eh...! Coba kulihat sebentar.

Asyik belajar matematika ? Fisika tanpa rumus, siapa takut ? Legenda yang tidak terpecahkan ? Kuburan tak bertuan ? Apa-apaan ini.

Kulihat label yang berada di samping kanan rak M-18. Komputer dan Teknologi ? Kuambil sebuah novel berjudul 'Kuburan tak bertuan' dan kulihat-lihat sebentar. Sesuatu jatuh dari sela-sela halamannya yang kebetulan kubaca. Tenggorokanku tercekat begitu melihat yang terjatuh adalah sebuah pembatas buku.

Tunggu dulu...! Semua yang berada di kiri rak ini mempunyai pembatas buku. Jika dugaanku benar maka...

Sou ka...! Aku sudah mengerti sesuatu yang cukup penting. Tapi, mengapa dia dibunuh ? Dan dimana dia disembunyikan ?

Kalo tidak salah...! Aku pun berdiri dari tempatku jongkok dan memperhatikan rak bagian atas.

A-12 ? Exactly. Aku tau kenapa dia dibunuh, tapi masih belum jelas. Aku harus menemukan kumpulan buku bersegel tersebut. Tapi kenapa di rak A-12 ini bukunya tak tersegel ? Apa mungkin Miyuki salah liat ? Ataukah rahasianya bukan terdapat di buku itu ? Aku memilih kemungkinan kedua.

Ku berjingkat untuk mengambil sebuah buku dari rak atas dengan judul yang menarik. Pemrograman menggunakan assembly ? Kulihat buku-buku itu sebentar sambil membolak-balik buku yang cukup besar tersebut.

Bruuukkkk...!

Semua polisi yang ada disitu langsung menoleh kearahku. Aku hanya nyengir innocent karena telah menjatuhkan buku itu dengan suara yang cukup keras.

Kupungut kembali buku berwarna putih tersebut. Kuterkesiap sejenak melihat posisi jatuhnya buku tersebut. Buku itu terjatuh dan terbuka tepat ditengah-tengahnya.

Ha...! Sou ka. Aku mengerti motif pembunuhan ini. Sekarang tinggal menemukan mayat pak Matsuda yang telah hilang selama dua hari.

Aku diberi tau oleh dobe kalo penjaga perpustakaan kita aka pak Matsuda hilang sejak lusa kemarin. Katanya sih dia hilang saat disekolah karena istrinya tidak mendapat telepon. Biasanya si istri mendapat telepon kalo dia akan pulang, tapi lusa kemarin dia tidak mendapatkan telepon.

Kuberjingkat untuk mengembalikan buku baru tersebut kedalam rak nomor A-12. Aku masih harus memikirkan kemana dia bisa menyembunyikan mayat pak Matsuda yang telah dibunuhnya.

Aku masih belum bisa menebak pelakunya, tapi pastinya pelakunya orang dalam sekolah sehingga bisa tau keberadaan rak-rak baru tersebut. Jika begitu, maka tempat penyembunyian mayat pastinya di sekitar sekolah ini.

Kuedarkan pandanganku kesemua arah di perpustakaan untuk melihat dimanakah ada tempat yang bisa menyembunyikan mayat dengan rapi dan tanpa noda darah yang menetes.

Bila ada tempat seperti itu pastinya hanya ruang rahasia ataupun ruang angker yang hanya dihuni oleh laba-laba liar.

Laba-laba liar ? Tunggu dulu...! Aku mengingat kata-kata seorang detektif yang cukup terkenal. Tidak ada yang lebih mengecoh daripada fakta yang telah lama berlangsung.

Fakta ? Fakta yang ada disekolah ini ? Fakta apa ya ?

Kuberpikir secara intensif untuk menemukan kira-kira dimana tempat yang bisa digunakan untuk menyembunyikan mayat. Sekolah ini di paving agar air hujan tidak menggenang dimana-mana dan disetiap sudut di lengkapi dengan drainase untuk saluran pembuangan air hujan.

Tidak mungkin baginya untuk membawa mayat keluar dari sekolah ini karena mungkin akan menimbulkan kecurigaan tentang orang yang lewat saat malam hari di depan sekolah.

Satu-satunya jalan adalah menyembunyikannya di dalam sekolah, dengan resiko ditemukan yang lebih kecil.

Mungkin disitu...! Yah...! Kemungkinan besar disitu. Kakashi-sensei pernah bilang begitu ketika aku baru saja masuk kedalam kelas. Aku harus memastikannya nanti.

Sekarang aku harus memastikan bila orang itu pelakunya. Kukeluarkan hapeku untuk melihat jam karena aku tidak membawa arloji.

Oh...! Sial...! Rupanya aku lupa men-charge bateraiku sehingga low batt setelah ku pake untuk menelepon Hinata.

Kulihat semua orang yang berada disitu. Tak ada yang pake arloji dan rupanya semuanya sedang sibuk mencari petunjuk tempat mayat disembunyikan kecuali inspektur dan kepala perpustakaan.

Tunggu dulu...! Apa itu ? Ku dekati kepala perpustakaan dengan wajah serius.

"Tidak ada jam disini, sekarang jam berapa ?" Tanyaku pada kepala perpustakaan. Pria berambut keputihan itu tampak gugup saat kutanyai, dia kemudian mengeluarkan hapenya dari saku kanannya.

"Pukul 10.03" Gotcha...! Aku dapat.

"Bentar lagi masuk ya ? Mungkin aku harus kembali ke kelas" Kataku dengan sebuah seringaian penuh kemenangan. Aku berhasil memecahkan pembunuhan ini.

"Teme, kau sudah memecahkannya ?" Teriak dobe melupakan sejenak apa yang dilakukannya alias menyelidiki perpustakaan tersebut.

"Mungkin begitu" Kataku dengan seringaian kemenangan. Kulihat Kabuto tampak melihatku dengan tatapan tajam. Aku melupakannya.

"Kabuto...! Kau tak kembali ke kelas" Tanyaku sambil melihat kearah Kabuto yang masih berdiri tersebut. Kulihat ekspresi polisi yang berada di sebelahku yang tampak aneh.

"Mungkin aku akan berada disini untuk sementara waktu" Kata Kabuto dengan wajah sinis tanpa ada senyuman sedikit pun dalam wajahnya. Dia mendorong kacamatanya sedikit keatas dengan raut wajah serius.

"Sasuke-kun"

TBC

Bagi penggemar Detective Conan mungkin masih ingat dengan kasus yang satu ini. Sesaat setelah Conan bertemu dengan Heiji dan kemudian dia menemukan sesuatu agar bias kembali kewujudnya semula.

Saya kurang tahu ini chapter berapa. Tapi yang pasti saya terinspirasi dari cerita detective conan tersebut.

Happy Read