BREAKOUT!
Naruto Belongsto Masashi Kishimoto.
Terimakasih untuk dukungannya.
STUDIO SRTB TV
Hiruk pikuk suara tepuk tangan menggema di studio salah satu perusahaan stasiun televisi terbesar milik Sarutobi. Semua pasang mata tertuju kepada sosok wanita blonde dengan gaun navy pendeknya. Cantik, anggun, dan berkelas. Yamanaka Ino.
"Baiklah Ino. Apakah orientasi kekasihmu sudah berubah? Maksudku, pemain tenis? Mengingat akhir-akhir ini kamu sering sekali terlihat "hang out" dengan beberapa pemain tenis." tanya pembawa acara dengan senyum menggodanya.
Mulanya Ino tersenyum manis menanggapi pertanyaan menjebak dari host wanita berambut cepak itu. Dia sudah cukup terbiasa dengan acara semacam ini, mengupas kehidupan pribadinya.
"Haha. Tidak. Saat ini aku sedang free, sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Aku hanya mencoba berteman dengan mereka saja." jawab Ino dengan senyum manis yang tak lepas dari bibirnya.
"Are you sure? How about the pinky girl?" diikuti sebuah kerlingan mata si pembawa acara.
Ino diam sebentar, tampak berfikir jawaban apa yang ingin dia katakan.
"Ino?"
"Kami memang dekat, sangat dekat, tapi tidak ada hubungan special yang seperti itu. Just friend." jawab Ino yang tampak ragu, entah apa si pembawa acara menyadarinya.
Tanpa disadari, ada seorang gadis ditengah keramaian memandang ke arah panggung dengan pandangan tajam dan tangan mengepal.
Ino POV
Honestly, aku membenci acara talk show semacam ini. Mengupas dan menggali kehidupan pribadiku dan membagikannya kepada orang lain. Itu menjijikan! Jika kalian berfikir aku bermuka dua karena bilang membenci tapi selalu tersenyum di panggung itu, terserah saja! Aku tak peduli! Aku hanya bersikap profesional, mereka membayarku dan aku harus bekerja dengan baik dan maksimal bukan?
Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka membicarakanku? Semoga Kakashi dan Deidara tidak berbicara macam-macam.
"Oh lihat! Kekasihmu datang sayang."
Deidara melambaikan tangan gemulainya kepadaku. Uhh menjijikan. Walaupun dia salah satu sutradara kelas atas tapi aku tak bangga sebagai adiknya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyaku to the point, tentu saja pada Deidara dan pacar ter-sa-yang-nya. Cih!
"Kami hanya menemani kekasihmu sayang, bukankah kau tak mau jika dia diambil orang lain?" timpal si brengsek Kakashi.
"Tolong hentikan omong kosong ini Kakashi. Aku masih single!"
Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat marah sekali? Bukankah dia sudah menstruasi diawal bulan?
"Lagipula, tak pernah sedikitpun aku berfikir mau jadi pacarmya."
A-apa! Apa maksudnya itu? Brengsek! Gadis brengsek! Tak tahu diri! Menciumku, berusaha tidur denganku dan dia bekata seperti itu? Dimana otaknya?
"Hei kau gadis tak tahu diri! Sombong sekali kau ini! Aku juga tak sudi punya kekasih dengan attitude buruk sepertimu!"
Ekspresi apa macam itu? Brengsek! Seharusnya dia minta maaf kepadaku, atau paling tidak menunjukan sebuah penyesalannya. Bukan ekspresi angkuh seperti itu.
"Talk to my hand!" jawabnya dengan mengangkat telapak tangannya ke wajahku. Oh Shit!
"K-kau..!
"Oh ya Tuhan, sudahi pertengkaran pasangan ini. Lebih baik kita makan saja ya..." sela kakakku.
Dia gadis angkuh dengan otak minimalis dikepalanya. Bagaimana bisa aku menyukai gadis macam itu? Aku menyesal telah menciumnya. Menjijikan!
"Tenten, duduk sebelahku! Aku tak sudi bersebelahan dengan iblis kecil itu!"
Kutatap tajam Tenten saat dia memutar bola matanya bosan. Ada apa dengan orang-orang disini? Kenapa mereka begitu menyebalkan!
xxxxxxxxxx
A ITALIAN RESTAURANT
Lihat gayanya yang sok itu! Ingin sekali aku melempar asbak kaca ini ke mukanya. Sok-sokan makan steak begitu tangan kanannya sembuh! Banyak gaya sekali dia!
"Sakura sayang, kudengar kau seorang calon dokter?" tanya Deidara yang ada disebelahnya.
"Calon dokter yang akan membunuh pasiennya."
"Ino! Kau..!"
Apa? Dia berniat membunuhku dengan tatapan anak anjingnya? Coba saja kalau bisa!
"Wow keren sekali kau nona manis! Tak sia-sia aku dan Ino berpisah jika yang kami dapatkan lebih 'worth it'. Hahahaha."
Kuberikan deathglear terbaikku untuk Kakashi! Terlebih lagi untuk Lee dan Tenten yang seenaknya sendiri tertawa dengan begitu keras. Bagaimana bisa dia menganggap ini sebuah lelucon? Dimana otaknya? Dia berselingkuh dengan kakakku sendiri. Brengsek! Untung aku tidak memakai hati saat berhubungan dengannya. Hanya saja, seperti 'my pride was hurting'.
"A-apa? Tunggu! Kalian pernah berhubungan? Pacaran maksudku?" tanya Sakura kaget.
"Jaga mulutmu Nona!"
"Santailah Ino sayang. Ya! Kakashi dan Ino dulu pernah pacaran, tapi hanya sebentar." kata Deidara menjelaskan. Brengsek!
"Dan sekarang Kakashi pacaran denganmu? Kakaknya Ino?"
Deidara mengangguk. Tidak! Semua yang ada disini mengangguk mengiyakan pertanyaan Sakura.
"HAHAHAHAHA! Ya Tuhan! Malang sekali nasibmu Ino."
"Tutup mulutmu brengsek!"
Dan diikuti tawa dari Lee, Tenten, Deidara, dan Kakashi. Dan sekarang, harga diriku hancur kembali. Fuck! Mungkin setelah ini aku akan menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh si brengsek Kakashi.
Pelayanan datang dengan beberapa hidangan yang kami pesan di troli yang mereka bawa. Meletakan ke meja piring-piring dengan berbagai hidangan menggugah selera. Kubayangkan steak yang kupesan ini seperti gadis berambut pink sebelah sana, akan kupotong-potong tanpa ampun dan menguyahnya sampai hancur. Rasakan itu!
Lho kok...? Kenapa pakai tangan kiri? Bukankah katanya tangan kanannya sudah lebih baikkan? Apa tangan kanannya sakit lagi?
"Kemarikan piringmu!"
Kurebut piring Sakura melewati Lee yang sedang makan. Walaupun aku sibuk memotong daging milik Sakura, tapi aku tahu banyak pasang mata yang melihatku saat ini. Ahh! Aku tak peduli!
"Oh sayang, lihat Ino! So sweet sekali dia."
Pasti sekarang Deidara dan Kakashi melihatku dengan mata berbinar sambil berpegangan tangan. Wew. So disgusting! Kenapa ayah punya anak seperti dia?
"Ino selalu melakukan itu Deidara-chan."
Kutendang kaki Lee yang duduk disebelahku. Terdengar dia merintih kesakitan. Lalu apa peduliku?
"Woww! Hebat! Kau kekasih yang mengagumkan Ino!" teriak Deidara dengan gaya lebaynya.
"Hentikanlah pikiran konyol kalian! Aku hanya tidak ingin membayar lebih karena dia menghancurkan piringnya." jawabku sekenanya
"Ini. Makanlah."
Kukembalilan piring milik Sakura tanpa melihatnya. Dan kudengar suara sebuah ucapan terima kasih yang sangat lirih dari orang yang kutahu siapa.
Ino POV End
Sakura duduk ditempatnya kembali di mobil ini, selalu disebelah kanan Ino di kursi belakang. Setelah Tenten yang penuh pengertian berhasil menempati kursi depan disebelah Lee terlebih dahulu. Dan sepertinya Ino juga sudah tidak merasa keberatan duduk bersebelahan dengan Sakura. Sepanjang perjalanan pulang memang tak ada obrolan diantara mereka, hanya teriakan-teriakan seperti biasa Lee dan Tenten soal lagu yang mereka putar. Mereka tidak sedang perang dingin, tapi hanya berusaha saling mengerti perasaan masing-masing saja.
xxxxxxxxxx
AT CAR ON THE ROAD
Salju akhir tahun mulai turun memenuhi jalanan LA. Membuat sebagaian rute jalan sedikit macet, apalagi ditambah libur sekolah dan perayaan Tahun Baru yang beberapa hari lagi.
Sakura POV
Bukannya aku tidak bersyukur dijemput Lee, betapa tidak tahu dirinya aku sudah dijemput masih saja protes ini itu. Hanya saja aku terlanjur terbiasa dijemput oleh Ino dan menghabiskaan sore dan malamku bersama gadis itu. Tetapi kata Lee tadi, Ino sedang sibuk, meeting untuk film barunya. Ya sudahlah.
Aku sudah gila! Tersenyum seperti monyet hanya karena menatap salah satu kontak dengan nama full capslock di ponselku, YAMANAKA INO. Aku belum tanya alasannya, tapi mengingat harga dirinya yang luar biasa tinggi alasannya paling masih berhubungan dengan itu. Aku jamin itu!
Aku merindukannya, wanita bermulut tajam itu. Apa Ino sudah pulang? Apa mungkin kuhubungi saja? Ahh pasti dia akan besar kepala! Tidak! Buat apa kuhubungi?
To YAMANAKA INO : Ino. Apa kamu sudah pulang? Kata Lee, tadi siang kamu sedang meeting.
He-ei! A-aku hanya bersikap baik saja. Ti-tidak lebih.
BEEPBEEPBEEP
Ya Tuhan! Dia membalasnya. Cepat sekali.
From YAMANAKA INO : Aku sudah dirumah. Maaf tak bisa menjemputmu Sakura.
Ino minta maaf? Ada apa dengannya? Apa dia sedang sakit? Apa ada masalah dengan pekerjaannya? Apa aku perlu bertanya? Kurasa tidak. Cara lain saja!
To YAMANAKA INO : Oh. Its alright Ino. Um. Boleh aku pinjam laptopmu lagi Ino? Aku ada tugas, tapi punyaku rusak lagi.
From YAMANAKA INO : Tentu saja. Datanglah ke kamarku.
Saat aku membaca pesan Ino yang terakhir, seketika itu juga darah yang seharusnya mengalir ke otakku berhenti.
xxxxxxxxxx
INO'S ROOM. INO'S APARTMENT
Sebenarnya dari tadi aku sudah menyelesaikan tugas kuliahku, hanya saja kesempatan ini terlalu disayangkan untuk dilewatkan, saat Ino sedang dalam 'angel mode'nya. Jarang-jarang bukan? Thanks God!
Ino membiarkanku membuka-buka folder dilaptopnya dan aku boleh bertanya tentang apapun itu. Bukankah itu sebuah keajaiban? Maksudku, dibanding dengan dia yang begitu pelitnya meminjamkanku laptop tempo hari. Saat kutanya dimana sandinya, Ino hanya menjawab seperti 'berkas-berkas pekerjaanku sudah kupindah di flashdisk, kau tak akan bisa menjualnya ke penggemar atau wartawan'. Bullshit! Aku berani bertaruh filenya itu bukan berisi pekerjaan, melainkan berisi foto dan video tak senonohnya dengan mantan-mantan pacarnya dulu. Dasar mesum!
"Wow! Cantik! Siapa dia Ino?" tanyaku saat melihat sebuah foto anak kecil berambut pirang dengan memakai kostum beruang.
Setelah kulihat-lihat sepertinya ada yang aneh. Aku cukup familiar dengan wajah anak kecil dilaptop Ino. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang yang kukenal. Kulit pucat, rambut pirang, mata biru, seperti milik Ino. What! A-apa! Tunggu dulu! A-apa anak ini...?
"Inojin. Dia anakku. Dan dia laki-laki Sakura."
Ini salah! Maksudku, dia tak pernah mengatakan apapun soal punya anak. Dan ditelivisi tidak pernah diberitakan soal hal itu. Apa maksudnya ini? Siapa ayahnya? Kakashi? Yang benar saja!
"Sebenarnya Inojin anak kakakku, Yamanaka Inohara. Karena kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu, kakakku dan istrinya meninggal, jadi Inojin tinggal bersama Ayahku. Sekarang aku dan Deidaralah orangtua untuknya. Yabegitulah."
Oh sial! Aku tak bermaksud membuat Ino mengingat kejadian buruk itu. Ahh! Bodoh sekali kau Sakura! Walaupun Ino tetap tenang sambil menggeser touchpad laptop, mataku tidak buta melihat kesedihan dimata biru itu.
"Maaf. Aku tak bermaksud mengingatkanmu Ino." kataku penuh sesal.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan."
Ino tersenyum kepadaku. Tangannya terangkat mencubit hidungku pelan.
"Bertanya bukan suatu kejahatan Sakura."
Dan aku melted dibuatnya. Damn!
Aku berusaha keras untuk tetap sadar dan mengendalikan pergumulan hati yang tiba-tiba saja ada karena perbuatannya barusan. Berusaha tetap merasa biasa saja dan tidak terjadi apa-apa. Tapi susah!
"Di-dimana mereka tinggal? Inojin dan Ayahmu?" tanyaku gagap.
"Forks, Washington. Tempatnya masih hijau tidak penuh polusi seperti disini. Hutan hujan tropis Hoh, Kalaloch Beach, Cape Flattery, dan air terjun Sol Duc Falls. Dan satu lagi, hu-jan-nya."
Dan aku hanya beroh ria mendengar penjelasan antusiasisme Ino barusan. Sepertinya menyenangkan. Wajar saja. Aku belum pernah kesana.
"Mau kesana? Forks?" tanya Ino tiba-tiba.
Apa dia penyihir? Kenapa bisa tahu isi pikiranku? Apa mungkin benang merahku dan Ino sudah terhubung? Ya Tuhan, semoga saja.
"A-apa? Benarkah? Mau! Aku mau! Kapan Ino?" jawabku excited.
Ino tersenyum. Cantiknya!
"Besok. Ambil penerbangan pagi sekali, kita bisa disana dua hari. Bagaimana?"
Oh my god!
"Besok?"
Aku langsung turun dari ranjang milik Ino dengan tergesa-gesa, tanpa mempedulikan omelan kasar Ino karena aku menginjak laptopnya. Haha.
"Sakura! Mau kemana kau? Benar-benar tak sopan!"
"Oh maaf Ino, aku harus kembali kekamar. Berkemas, memilih baju yang akan kubawa besok."
Dan selanjutnya aku hanya mendengar dengusan 'dasar bocah' dari bibir merah Ino.
Sakura POV End
Belum sempat Sakura keluar dari kamar gadis itu, Ino memanggilnya kembali. Membuat Sakura terpaksa berhenti sebentar dan melihat gadis yang sedang duduk diranjangnya.
"Ada apa Ino? Aku harus cepat!"
"Nanti malam temani aku keluar, beli hadiah untuk Inojin."
Dan sudah dipastikan Sakura tersenyum lebar mengiyakan permintaan sang gadis. Kesempatan lainnya. Lumayan.
xxxxxxxxxx
PUSAT PERBELANJAAN MELROSE AV.
Salju sudah turun sejak tadi. Udara malam yang dinginnya masuk ketulang, tidak serta merta membuat jalanan kompleks pertokoan utama di LA ini sepi pejalan kaki. Mengingat juga mendekati Tahun baru, ditambah lagi liburan musim dingin untuk anak sekolahan. Mereka tetap berbelanja atas sekedar berjalan-jalan seperti biasa saat salju tak turun, hanya saja kali ini harus memakai mantel tebal agar tetap menjaga kehangatan tubuh.
"Ino? Apa kamu yakin berjalan-jalan disini? Bagaimana jika orang-orang sampai melihatmu? Kita?"
Ino memutar mata bosan mendengar pertanyaan Sakura yang sudah ribuan kali didengarnya. Sakura terlalu khawatir kalau paparazi memotret mereka dan pasti akan menjadi headline untuk majalah atau berita besok pagi.
"Bagaimana jika mereka membuat berita yang tidak-tidak? Seperti kita sedang berkencan mungkin?" tanya Sakura dengan takut-takut, melirik sekilah Ino yang disebelah kirinya.
Ino POV
Apa topi trapper coklat yang kupakai ini kurang menjuntai sampai ke bawah? Apa mantel yang kukenakan ini tidak menutupi bagaian leherku? Apa syal yang kugunakan tidak menutupi separuh wajahku? Apa penampilanku sekarang masih mencolok sebagai Yamanaka Ino? Tidak.
Kurasa mata emerald Sakura yang kurang beres. Sebelum memutuskan kesini aku sudah berkaca puluhan kali, merubah penampilanku agar tidak seperti Yamanaka Ino. Dan ini berhasil! Sejauh kami berjalan tak ada yang mengenaliku, bahkan kami. Ya. Aku juga menyuruhnya memakai scraft untuk menutupi sebagian wajahnya, dan topi bobble untuk menutupi surai merah mudanya itu.
Apa mungkin karena Sakura tidak ingin berkencan denganku? Apa aku terlalu buruk untuknya? Apa mungkin dia sudah punya pacar? Apa Sakura sebegitunya tak ingin berkencan denganku?
"Apa kau sebegitunya tak ingin berkencan denganku?"
Ahhh bodoh! Kenapa harus kutanyakan? Harusnya cukup diucapkan dihati saja. Brengsek!
"Aku hanya mengatakan hal yang kemarin kau katakan Ino. Tidak lebih."
Apa maksudnya? Aku tak pernah mengatakan hal konyol semacam itu! Aku seret Sakura untuk lebih kepinggir, aku tidak ingin sampai diketahui orang hanya karena berdebat di tengah jalan.
"Apa maksudmu? Kau bermain-main denganku hah?"
"Kau lupa? Baiklah akan kuingatkan. Kau bilang saat ditelevisi kemarin, kita memang dekat, kita sangat dekat, tapi tak ada hubungan istimewa seperti itu. Hanya teman."
Dia gadis terbodoh yang kukenal. Benar-benar tak tahu terimakasih. Aku berbicara seperti itu karena ingin melindunginya dari serbuan wartawan, bukannya berterima kasih malah berbicara seolah aku wanita brengsek yang mencampakannya. Eh tunggu! Apa dia senang dengan ucapanku saat itu? Apa dia benar-benar tak ingin berkencan denganku? Brengsek!
"Apa kau senang tak berkencan denganku? Brengsek!"
Kulemparkan beberapa kantong belanjaan yang kubawa ke arahnya. Sakura benar-benar kaget dengan perbuatanku barusan. Salah sendiri tidak bisa menjaga mulutnya dengan benar.
"Bawa sendiri! Bukankah lebih banyak punyamu ketimbang milikku?"
"Tapi Ino, aku juga bawa untuk Inojin." protes Sakura.
"Apa peduliku Nona! Hidup memang tak mudah! Biasakanlah!"
"Ah! Dan jangan berbicara padaku! Aku tak ingin orang-orang mengenaliku karena kau terlalu banyak bicara." sambungku dengan kasar.
Aku berjalan terlebih dulu, meninggalkannya dengan kantong belanjaan yang pasti akan membuatnya repot. Aku tak peduli dengannya! Semua karena kesalahannya sendiri. Biar dia belajar menghargai orang lain dan menjaga mulut kecilnya itu.
Ahh! Lihat! Sakura berhasil menyusulku dengan langkah kaki tergopoh-gopoh dan kerepotan sendiri karena kantong belanjaan. Dan aku tak ada niatan untuk membantunya. Buat apa? Lebih baik beli susu hangat saja.
xxxxxxxxxx
SAKURA'S ROOM. INO'S APARTMENT
Aku kesini bukan karena ingin mengambil belanjaanku yang tadi dibawa Sakura ke kamarnya. Tapi melainkan ingin melihat keadaannya saat ini. Aku sedikit menyesal menyuruhnya membawakan belanjaan kami. Membuat tangan kanan Sakura yang belum sembuh betul harus tertumpah kopi panas yang kami beli tadi. Sejujurnya, aku ingin tetawa keras saat kopi tertumpah ditangannya, hanya saja melihatnya meringis kesakitan membuatku jadi tak tega. Tapi sumpah, benar-benar lucu! Sungguh!
Kusambar handuk kecil yang digunakan Sakura untuk membersihkan tangannya.
"Lihat ini hasil perbuatanmu? Kau pasti senang sekali bukan!"
Tanpa sadar aku tersenyum mendengar celotehan Sakura. Aku berusaha selembut mungkin membersihkan tangan rapuh Sakura.
"Salah kau sendiri Sakura. Kenapa tak bisa menjaga mulutmu dengan benar? Kau berkata seolah berkencan denganku adalah mimpi terburukmu." kataku tanpa melihat kearahnya.
"Bukankah kau yang mencampakanku Ino? Kau yang bilang begitu ditelevisi. Hanya teman? Cih!"
Ya Tuhan dia gadis terbodoh yang kutemui. Bukan itu yang kumaksud. Aku melatakan handuk kecil tadi ke dalam baskom yang berisi air hangat. Menatap Sakura dengan pandangan penuh keseriusan. Pikiran negatifnya tentang aku harus dihentikan!
"Kenapa tidak tanya dulu? Kau bilang takut dengan wartawan. Kau bilang tak aman dan nyaman saat di kampus. Kau bilang tidak suka hubunganmu diumbar-umbar."
Mata hijau Sakura menunjukan keterkejutan.
"Aku melakukankannya untukmu. Kenapa kamu tak paham Nona?"
Sakura terdiam. Dia menunduk. Apa masih belum sadar hn?
"Oh. Berarti kita tidak berteman?" tanyanya innocent.
Dasar bodoh! Kenapa tidak paham-paham?
"TIDAK! Mana ada orang yang sering berciuman bibir dengan temannya? Dan lagi hampir tidur disofa! Jelas sekali bukan kategori teman Sakura." kataku dengan jengkel.
"Lalu apa Ino? Kita berciuman tapi juga bukan pasangan. Ya Tuhan! Sebenarnya kita ini apa?"
Oh my god! Aku juga lupa dengan kenyataan yang satu itu. Tak ada hubungan semacam itu antara aku dan Sakura. Tapi aku menyukainya! Sungguh!
"Ini membingungkan Ino!" teriak Sakura frustasi, menjambak rambut merah mudanya. Dont do that!
"Mungkin karena sudah nyaman satu sama lain."
"Nyaman? Itu bukan kata yang tepat untuk kita saat ini Ino."
Ahhh benar juga! Bukan hanya nyaman yang kurasakan selama ini, tetapi...
"Lalu apa? Suka? Sayang? Cinta?" tanyaku to the point.
Katakan 'ya'! Katakan 'ya' Sakura! Kumohon.
"Entahlah. Aku perlu memastikannya."
Oh fuck! Apanya yang perlu dia pastikan? Sudah jelas dia ada rasaku untukku! Membalas setiap ciumanku dan dia masih ingin memastikannya? Brengsek!
"Bagaimana denganmu sendiri Ino?"
"Aku belum tahu pasti."
Hatiku berteriak kencang saat mengatakannya. Tapi tak masalah, ada harga diri yang perlu kujaga.
Sakura hanya menjawab 'oh saja'. Sebenarnya permainan macam apa yang sedang dia mainkan? Aku ada feeling kalau dia juga menyukaiku, bahkan Jiraya dan Sasori saja mengatakan hal itu kepadaku. Tapi kenapa dia begitu keras kepala! Apa yang dipikirkannya? Brengsek!
"Jika ini terasa sulit untukmu, aku bisa membantumu." sebuah ide tiba-tiba melintas diotakku.
Sakura menaikan alis sebelah, tanda bertanya.
"Jangan terbebani oleh rasa yang kau rasakan padaku. Apapun itu namanya, kita tetap seperti ini. Tetap melakukan hal-hal yang pernah kita lakukan, dan melakukan hal-hal yang belum kita lakukan. Apapun. Bagaimana?" jawabku mantap. Dan aku tidak akan menyesal dengan perkataanku saat ini.
"Apa maksud 'apapun' Ino?"
"Jangan pura-pura bodoh Sakura! Kau tahu betul apa maksudnya."
"Kurasa tidak ada batasan, seperti ciuman saja mungkin."
Of fuck! Bersabarlah Ino, batasan untuk dilanggar. Hanya perlu waktu yang tepat saja.
"Ya. Terserah kau saja Sakura."
Aku bangkit dari kasur Sakura. Memberikan Sakura 'me time' nya.
"Baiklah, pikirkanlah baik-baik. Temui aku dikamar jika sudah memutuskannya."
Aku berjalan ke arah pintu kamar Sakura dengan perasaan campur aduk. Kesepakatan macam apa ini? Aku bukan ingin membantu Sakura, melainkan membantu diriku sendiri. Aku terlalu takut jika Sakura berfikir menjaga jarak denganku. Aku sudah terbiasa dan ternyamankan olehnya. Aku membutuhkannya! Aku menginginkannya! Aku harus melakukan kontak fisik apapun itu dengannya setiap hari. Ahh! Aku tak menyangka aku bisa selicik ini.
"Ino!"
Kulepas ganggang pintu yang senpat kupegang tadi, membalikan badan dan melihat sosok gadis yang beberapa minggu terakhir masuk terlalu jauh ke hatiku. Duduk bersila ditengah kasurnya. Manis.
"Untuk apa jauh-jauh ke kamarmu, jika aku bisa memutuskannya disini."
"Kemarilah" ucap Sakura dengan kedua tangan terbuka, gestur menunggu pelukan.
Aku menghampiri Sakura dengan senyum yang terus mengembang dibibirku. Mungkin saat ini aku terlihat seperti orang gila dengan senyum bodohnya. Biarpun ini hanya sebuah kesepakatan konyol, tapi rasanya tetap membuatku senang bukan main. Ya Tuhan! Aku gila!
Ino POV End
Saling menyesapi manis dibibir masing-masing, membuat mereka lupa segala hal. Saliva yang mengalir diujung bibir mereka seolah bukan halangan untuk merasakan kenikmatan bercumbu. Gerakan menuntut dari bibir dan lidah Sakura didalam mulut Ino, membuat Ino yang sudah berusaha tenang lepas kendali. Tangannya bergerak tanpa arah menggrayangi seluruh bagian tubuh gadis yang berada diatasnya. Dan berhenti tepat di dua benda yang membuat lenguhan Sakura mengalun semakin indah.
"I-inoh, ba-tasannya."
TBC
