"Chained To You"
Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.
Genre : Romance, Drama-Hurt, Little Bit Action
Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook
Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min
Rated : M
Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook
YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya
Typo everywhere
Chapter 11 : Awake
Ruangan itu gelap.
Satu-satunya penerangan yang terlihat adalah sebuah bohlam kecil yang nyaris putus di makan tikus di atas kepalaku. Dari penerangan minim itulah kesadaranku mulai berkumpul.
Aku mengangkat kepalaku dan mencoba memandang sosok tinggi menjulang di hadapanku. Perawakannya cukup tinggi, atau setidaknya lebih tinggi dariku. Ia berwajah tampan dan menyiratkan hawa bangsawan dari gurat kulitnya. Wajah yang memang tidak secara langsung di turunkan kepada anaknya, namun bisa di katakan mirip. Bak pinang di belah dua. Orang bilang semakin kuat ikatan batin kita terhadap orang yang kita sayang, maka wajah kita akan semakin mirip dari hari ke hari. Sepertinya hal itu berlaku pada dia, dan kekasihku yang entah berada dimana.
Apakah bisa ku sebut sebagai kekasih setelah apa yang ku lakukan padanya?
"Jadi kau bajingannya"
Suaranya menggeram. Mirip seperti suaraku saat sedang menahan amarah. Aku tersenyum simpul padanya.
"Nah, kau sudah tahu"
Bukkk.
Satu hantaman ku terima akibat ucapan kurang ajarku.
Pria itu mencengkeram erat daguku yang terasa ngilu.
"Kau bajingan kecil. Apa saja yang sudah kau lakukan pada Jungkookku?"
Aku mendengus ringan dan mendapat bogem mentah darinya sekali lagi. Tubuhku terhuyung di kursi ringkih yang ku duduki berjam-jam ini. Aku nyaris terjatuh jika saja tanganku tak terikat kuat ke belakang olehnya.
"Beraninya kau mengambil anakku! Beraninya kau menyentuh Jungkookku!"
Bukkk.
Satu darah terciprat, kepala terasa berat, ia mencekik leherku kuat.
"Apa yang sudah kau lakukan, brengsek!" hardiknya. Ia terlihat bagaikan singa buas yang mengaum. Geraman dan teriakannya menggelegar di ruang sempit yang sudah cukup akrab bagiku ini.
Dalam tarikan napas yang tersendat aku menjawabnya pelan. "Jika ku bilang aku sudah menidurinya beberapa kali, apa yang akan kau lakukan?"
Pukulannya kali ini sukses membuatku terjatuh bersama kursi yang ku duduki. Aku terbatuk-batuk dan memuntahkan beberapa darah segar dari mulutku. Tubuhku terasa luar biasa sakit, anehnya aku merasa puas setelah mengatakan hal itu pada ayah Jungkook.
Sungguh, aku tak bermaksud membanggakan perlakuan buruk yang ku lakukan pada sosok yang ku sayang itu. Tak sedikitpun aku memikirkan itu. Aku hanya ingin membuatnya semakin menggila saat tahu jika aku sudah memiliki anaknya. Tidak seutuhnya, setidaknya belum.
"Ku pastikan kau akan membusuk di penjara! Tak akan ku biarkan kau menemui Jungkookku!"
Satu tendangan ku terima tepat di perutku. Aku memuntahkan darah lagi.
Rasanya sakit tapi puas. Aku senang melihatnya murka.
Maka di hari itu, tubuhku menjadi bulan-bulanan amukannya.
.
.
.
Sayup-sayup aku mendengar suara bising di sekitarku.
Suara berisik dari benda yang di dorong, ucapan di sana-sini, erangan seseorang, dentingan gelas, suara seorang pria….
Aku tak tahu pasti, tapi ku rasa aku sedikit mendengar orang itu berbicara dengan… bukan bukan… lebih tepatnya menginstruksikan sesuatu pada seseorang. Ia berbicara cepat dengan bahasa inggris. Aku tak dapat menangkap pembicaraannya namun ku rasa aku mendengar beberapa kata seperti 'cepat', 'brengsek', 'cepat', dan 'cepat'.
Aku tak ingat apapun lagi karena kesadaran menghilang untuk kesekian kalinya.
Berikutnya aku mencium aroma cairan yang menyengat, dan ku rasakan ada yang menggelitik bahuku dengan pulpen, err… pinset? Aku tak tahu apa. Kemudian aku mendengar bunyi berkelenting benda logam yang di jatuhkan.
Kabut putih semakin menarikku dalam tidurku.
Kali keduanya, aku mendengar suara beberapa orang. Aku tak tahu pasti mungkin 3 atau 4 orang. Salah satunya suara seorang pria yang lembut.
Apakah Seokjin hyung? Dia ada di sini?
Namun suara orang itu lebih lembut, tidak seperti suara milik Seokjin hyung. Suara itu merdu dan mengalun bagaikan alunan lagu pengantar tidur. Aku bertaruh pasti orang itu sangat cantik, namun siapa dia?
"Kau harus istirahat. Kau terlihat sangat berantakan"
Orang itu memanggil siapa? Apakah dia bicara dengan Taehyung?
Aku mencoba untuk membuka mataku namun rasanya seperti sebotol penuh lem besi sudah di tumpahkan di kedua mataku. Berat sekali untuk terbuka.
"Tidak. Aku mau tetap disini"
Suara Taehyung berat, serak, dan begitu husky. Akan tetapi suara yang ku dengar ini cukup berbeda darinya. Suara yang ini terdengar lebih... soft. Lebih tenang dan menenangkan. Siapa dia?
Aku mencoba menggerakkan tanganku.
Gagal.
Sedikitpun tak bisa.
"Kalau begitu aku akan pulang dulu. Aku akan kembali besok pagi"
Aku mencoba membuka mataku lagi dan mendorong keinginan kuatku untuk terlelap, namun sesuatu seperti menarikku menjauh dari suara-suara itu.
Tidak! Aku masih ingin mendengarnya.
Kali ini suara berkelenting pelan memenuhi telingaku. Aku merasakan seuatu menyengat lenganku. Seseorang menyuntikkan sesuatu disana. Aku berusaha keras untuk bangun.
"Kenapa dia tak bangun-bangun, Dok?"
Suara orang itu terdengar begitu menderita.
Sebuah tangan menggenggam tanganku, meremasnya perlahan sementara cairan dingin di oleskan ke lenganku lagi.
Aku ingin bangun.
"Ini masih normal Tuan Park. Pasien ini rupanya seorang yang tangguh. Biasanya luka tembak di bahu masih lumayan di bandingkan di bagian lain. Untung saja tidak sampai melukai organ vitalnya, namun tetap saja jangan remehkan luka itu. Jika peluru itu tidak di ambil secepat mungkin, nyawa pasien pasti sudah melayang. Apalagi saya memeriksa jika rusuknya baru saja memar, dan di sekujur tubuhnya banyak terdapat bekas luka lebam. Biarkan saja dia beristirahat sejenak Tuan Park"
Tuan... Park?
"Tapi dia sudah tak sadar selama 2 hari. Bagaimana kalau ia…. Kalau…"
"Dia akan baik-baik saja, sir. Percaya saja padaku. Sejauh ini kondisinya stabil. Tekanan darahnya normal, jantungnya normal, segala organ vitalnya juga normal. Awalnya kami sedikit khawatir dengan—"
Kepalaku terasa pening. Dadaku berdebar-debar. Aku terlelap lagi.
Aku merasakan sesuatu yang hangat dan sedikit gatal bersandar di tanganku. Aku memaksakan diri untuk membuka mataku dan berharap Taehyung ada disana saat aku berhasil melakukannya.
Ia mengecup telapak tanganku. Kecupannya selembut bulu.
Membuatku begitu ingin… Aku ingin...
Dan aku membuka mataku perlahan.
Memaksa indera pengelihatanku agar terbuka sepenuhnya.
Cahaya terang dari penerangan ruangan ini membuatku silau. Aku menutup mataku lagi dan membukanya. Menyesuaikan mataku dengan sekelilingku.
Aku merasa gerah, lemas, lapar, dan haus. Terutama haus. Aku melirik ke sekelilingku. Netraku mencari-cari sosok yang sangat ingin ku lihat saat ini.
Ia meringkuk di kursi empuk berwarna cokelat, beberapa centi dariku.
"Taehyung"
Panggilanku bagaikan setruman baginya.
Ia membuka matanya lebar-lebar dan mendapatiku tersenyum lemah kepadanya. Sayangnya orang itu bukanlah Taehyung seperti yang ku harapkan, melainkan...
"Jimin hyung?"
Ia menatapku tak percaya sebelum pada akhirnya langsung duduk di tepi ranjangku.
"Ya Tuhan, Jungkook. Kau sadar"
Secepat kilat ia mendatangiku. Ia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya dan meletakkannya di bibirnya.
Kenapa Jimin hyung ada di sini? Mana Taehyung?
Masih merasa bingung dengan sekeliling, dengan tangan kiriku, aku mencoba untuk membuka alat bantu pernafasanku yang menutupi hidung dan mulutku.
"Jangan, Kookie. Aku panggil dokter dulu" Jimin hyung menahan tanganku. Ia menekan tombol di dekat ranjang, memanggil dokter.
Aku ingin banyak berkata dan bertanya padanya namun rasanya sulit sekali. Aku masih berusaha untuk sadar sepenuhnya dari tidurku ini.
"Jungkook, kau bangun. Kau sadar. Ya tuhan"
Aku memandang lemah raut wajahnya. Mata Jimin hyung berkaca-kaca. Ia terlihat seperti belum tidur selama berhari-hari. Bajunya kusut, rambutnya berantakan, dan lingkaran hitam di bawah mata menghiasi rautnya.
"Mengapa kau disini?" tanyaku pelan.
"Jangan bicara dulu, Kookie. Kau masih lemah" tegurnya. Ia menggenggam erat tanganku.
Pintu membuka perlahan. Seorang Dokter laki-laki yang terlihat rapih dan gagah dengan jubah putihnya masuk ke dalam ruang ini diikuti dengan 2 orang suster muda namun berwajah keibuan. Mereka semua tersenyum lebar padaku seolah-olah menyambutku dari tidurku ini. Mereka mendekat ke arahku.
"Tunggu sebentar, Tuan Park. Kami harus memeriksa keadaan Tuan Jeon terlebih dahulu"
Dokter itu tersenyum senang padaku. Wajahnya terlihat cerah, seolah-olah ia membawa matahari di atas kepalanya.
"Halo Tuan Jeon. Senang akhirnya kau sudah bangun"
Aku mencoba tersenyum padanya. Jimin hyung terlihat enggan saat ia melepaskan tanganku dan sedikit menyingkir dariku. Pada akhirnya ia berdiri di dekat kakiku. Dokter dan para suster memeriksaku. Masing-masing dari mereka menekan-nekan dadaku dengan stetoskopnya, memintaku untuk membelalakkan mata, dan berbagai physical test lainnya hingga akhirnya dia mengangguk senang.
"Semuanya baik. Semuanya sudah lebih baik. Apa yang kau rasakan saat ini, sir?"
Aku mengerjap beberapa kali. "Sedikit pusing. Kepalaku agak berat. Dadaku nyeri" ungkapku. Mataku melirik ke arah dadaku yang sudah tertutup oleh perban putih.
"Dia pusing, Dok! Lakukan sesuatu!" suara Jimin hyung mendominasi ruangan ini. Dia meringsek mendekatiku, membuat 2 suster yang sedang berdiri di sampingku menyingkir menjauh.
"Itu normal, sir. Untuk seseorang yang tak sadarkan diri selama 3 hari itu masih normal" Dokter itu mengalihkan pandangannya ke arahku. "So, katakan padaku apa lagi keluhannya, Tuan Jeon?" Dokter itu tersenyum ramah lagi padaku. Mengabaikan reaksi Jimin hyung yang sedikit berlebihan.
"Aku umm… haus, dan... sedikit lapar"
Perutku keroncongan. Aku butuh makan sebelum aku mulai mengunyah bantalku.
Jimin hyung menggeser tubuh dokter itu. "Kau haus dan lapar, Kook? Apa yang ingin kau makan?"
"Tuan Park, sepertinya sarapan akan datang sekitar beberapa menit lagi. Ku rasa Tuan Jeon—"
"Katakan Jungkook, kau mau ku carikan apa untuk makan?" ia mengabaikan ucapan dokter itu.
"Apapun, hyung" jawabku.
"Apapun"
.
.
.
"Saya turut senang anda sudah siuman, Tuan Jeon"
Salah satu dari 2 suster tadi berbicara padaku.
Jimin hyung bersikeras meminta salah satunya untuk tinggal dan menemaniku sementara dia keluar untuk mencarikanku makanan. Aku sudah mengatakan padanya jika aku tak apa di tinggal sendirian saja, namun Jimin hyung menolaknya mentah-mentah. Ia memerintahkan suster berambut pirang itu untuk tinggal disini.
Aku melirik ke arah suster bertubuh pendek itu. Nama yang tertera di name tagnya adalah Susan, dan logat berbicaranya sangat British. Ku rasa dia bukan berasal dari US.
"Terima kasih, sus" jawabku lirih. Aku menarik napas dalam-dalam. "Boleh saya tahu di rumah sakit mana saya saat ini?"
Seingatku... kejadian terakhir kali yang ku alami adalah perkelahian Taehyung dan beberapa orang asing yang mengincar dokumen bukti tentang penculikanku. Kemudian salah satu dari mereka menembakku tepat di bahu. Lalu Taehyung mencoba membawaku ke rumah sakit dengan mobilnya. Setelah itu...
Aku tak dapat mengingat apa-apa lagi.
Yang ada saat ini malah aku yang terbaring lemah di tempat asing ini bersama Jimin hyung.
Dimana Taehyung? Bagaimana bisa Jimin hyung berada disini? Apakah itu artinya keluargaku berhasil menemukanku?
"Springhill Medical Centre, sir" suster itu menuangkan segelas air putih padaku. Ia tersenyum sendu dan berkata, "Letaknya masih di sekitar Alabama"
Aku minum dan meletakkan gelas kosong itu ke tangannya.
"Apakah suster tahu siapa yang membawaku ke rumah sakit ini?" tanyaku ragu-ragu.
"Tentu saja, sir" jawabnya. "Anda adalah salah satu pasien istimewa di rumah sakit ini. Anda bahkan mendapatkan pengawalan ketat"
Aku mengernyitkan kedua alisku. "Pengawalan ketat?"
Suster muda itu mengangguk dua kali. "Betul, sir. Ayah Tuan sendiri yang memerintahkan penjagaan extra untuk anda. Pihak rumah sakit sudah mengetahui mengenai penculikan yang anda alami. Saya turut bersedih mendengarnya"
Deg.
Tidak.
Ayah menemukanku.
"Kami turut prihatin atas menghilangnya Tuan Jeon selama sebulan. Penculikan itu benar-benar jahat dan tidak manusiawi. Akan tetapi Tuan Jeon tenang saja, di balik pintu kamar ini, banyak polisi yang telah siaga memberikan jaminan perlindungan bagi Tuan Jeon. Bahkan pihak rumah sakit sudah menyediakan Psikiater guna memulihkan trauma yang mungkin anda alami, sir"
"Anda juga sungguh beruntung, sir. Setiap hari sahabat anda selalu menemani tepat di samping anda. Menggenggam tangan, membisikkan kata penyemangat, bahkan tak jarang menitikkan air mata. Dia begitu khawatir dengan kondisi anda, sir. Dia selalu siaga disini"
Tubuhku terasa begitu lemas.
Tidak mungkin..
Bagaimana bisa.. aku...
Taehyungku...
.
.
.
Tepat sesudahnya, pintu membuka perlahan dan menampakkan sosok 2 orang pria dan wanita yang masuk ke dalam.
Jimin hyung berdiri membawa kantong makananku.
Di sebelahnya, bersisian seorang pria yang tingginya tak lebih dari Jimin hyung yang tersenyum tipis memandangku. Pria itu berwajah manis dengan mata sipit yang indah. Rambutnya di warnai dengan warna mint segar. Jika saja ia memiliki rambut panjang, mungkin aku sudah mengiranya sebagai wanita.
"Kookie, maaf membuatmu menunggu lama"
Jimin hyung meletakkan kantong makananku di meja. Ia menyingkirkan bubur, sup, dan minuman dari Suster Susan dan mengeluarkan makanan yang di belinya dan menatanya di mangkuk putih.
"Selamat pagi Tuan Jeon. Senang melihatmu sudah sadar" ujar pria bersurai mint. Aku menangkap senyum samar Jimin hyung saat pria itu berucap padaku. "Perkenalkan, namaku Dokter Min. Aku akan menjadi pendamping psikismu atau yang biasa orang sebut sebagai Psikiater"
"Dia teman kuliahku dulu, Kook. Namanya Min Yoongi. Panggil saja Yoongi hyung" ujar Jimin hyung. Ia menepuk santai pundak pria bernama Min Yoongi itu.
"Aku hanya memperkenalkan diri secara resmi" ia mendengus pada Jimin hyung. "Anyway, kau bisa memanggilku Yoongi hyung atau Dokter Min. Apa saja. Aku tak keberatan"
Aku mengangguk ringan sebagai balasan.
"Jimin hyung" panggilku lirih. Sosok yang memiliki surai pirang itu segera menghadap ke arahku sesaat setelah aku memanggilnya.
"Iya, Kookie?" ia beringsut mendekatiku. "Apa yang sakit? Apa bahumu terasa nyeri?"
Aku menggeleng lambat-lambat. "Bukan itu" ucapku.
"Lalu apa? Kau mau makan sekarang, bukan? Ini, sudah ku siapkan—"
"Dimana Taehyung?"
Jimin hyung terdiam akan pertanyaanku.
"Kemana perginya Taehyung? Apa dia disini?" cercarku lagi. Semakin aku bertanya, talu di jantungku semakin menggila. Aku khawatir akan jawaban yang ku terima.
"Kau tak perlu takut lagi, Kook. Ada aku disini, ada Dokter Min, dan—"
"Aku tidak takut" aku menggeleng kuat. Tanda tak setuju akan ucapannya. "Aku.. Aku khawatir padanya. Sangat khawatir padanya. Katakan padaku dimana ia sekarang?"
Jimin hyung memandangku kaget. Ia seolah tak percaya akan pernyataan dan pertanyaan yang terlontar dariku.
"Hyung... Ku mohon. Katakan—"
"Kau khawatir padanya?"
Mata sipitnya membelalak menatapku. Ia terlihat begitu tak rela saat ku bilang aku khawatir dengan Taehyung.
"Jangan bercanda, Kook. Bagaimana bisa kau khawatir pada bajingan itu?"
Aku mencoba untuk duduk lebih tegap lagi. Sedikit susah karena bahuku masih terasa nyeri dan ngilu tak tertahan. Dokter Min yang peka langsung membantuku agar lebih nyaman saat duduk.
"Hyung.. Dimana Taehyung? Tolong katakan kalau ia baik-baik saja"
Aku mengusap sudut mataku yang mulai berair. Menarik dan membuang napas agar dadaku tak berdenyut nyeri memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi saat ini.
"Kook... Kenapa kau seperti ini?"
"Katakan saja, hyung!" teriakku emosi. Aku mengusap mataku dengan lenganku yang terbalut perban putih. Perasaanku begitu kacau dan nyaris menggila. "Apakah Taehyung terluka? Dimana ia sekarang?"
"Jungkook, tenanglah. Tarik napas dalam-dalam dan perlahan buang. Kau tidak boleh terlalu emosi saat ini"
Aku mencoba mengikuti ucapan Dokter Min walau saat ini perasaanku begitu kalut.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi" bisikku lirih. "Please"
Jimin hyung menatapku lekat.
"Baiklah. Tapi janji kau harus tenang" katanya.
Aku mengangguk perlahan. "Janji" ucapku.
Jimin hyung menarik napas dan mulai bercerita.
"Sesaat setelah kau di nyatakan hilang, Paman Wonwoo mengabariku dan memintaku untuk membantu mencarimu. Kami melakukan segala cara, mengumpulkan berbagai data, dan meminta bantuan ke siapapun agar kau bisa di temukan"
"Kami menemukan fakta bahwa kau berada di daerah Busan. Kau di bawa hingga jauh kesana oleh penculikmu. Saat kami mencoba mendatangi tempat itu, penculikmu ternyata sudah membawamu bahkan ke Amerika. Ini sangat-sangat gila"
"Kami pikir kau akan di jual sebagai budak atau semacamnya" ucap Jimin hyung. Ia lalu melanjutkan. "Ayahmu membentuk tim investigasi khusus dan mengirim beberapa diantaranya—termasuk aku—ke Amerika"
"Kami mencoba melacak jejak Taehyung sedetail apapun. Mulai dari kartu kredit yang ia pakai, tempat dia menginap, dan mobil yang ia kenakan. Semuanya hampir rapih tak terbercela. Nyaris tak bisa di lacak. Aku tak tahu Taehyung begitu pintar menyembunyikan itu semua"
"Lalu suatu hari mobil yang ia kendarai melintasi daerah Alabama. Entah bagaimana bisa, mobil itu bisa kami ikuti keberadaannya. Tim yang di bentuk ayahmu mencoba menjebak Taehyung agar lebih mudah tertangkap, dan ku rasa Taehyung masuk dalam jebakan yang di bentuk ayahmu"
"Kami menemukan kalian. Mengepung mobil yang kalian naiki dan mendapati kau yang bersimbah darah di kursi belakang mobil. Awalnya ku kira kau sudah meninggal, tetapi ternyata nadimu masih berdenyut. Lemah memang, tapi masih ada harapan"
"Lalu kami langsung membawamu kemari dan Taehyung di kawal polisi dan di terbangkan kembali ke Korea. Dia akan mendapat pengadilan disana"
Tenggorokanku terasa seperti tersumbat sesuatu. Hidungku terasa sakit dan mataku memanas.
"Jadi sekarang Taehyung di Korea?" tanyaku berbisik.
Jimin hyung mengangguk ringan. "Dia disana, di salah satu penjara. Menunggu untuk di adili seberat-beratnya"
Tidak...
Aku belum menemukan ibu kandungku.
Aku tak ingin bertemu dengan ayahku.
Dan sekarang Taehyung di penjara...
Aku tak mau kehilangannya.
Apa yang harus ku lakukan?
.
.
.
Suntikan demi suntikan sudah ku terima selama beberapa hari ini. Selama kurang lebih 3 hari ini, aku belum bertemu sekalipun dengan Ayah. Jimin hyung bilang, ayahku sedang berada di Korea. Itu artinya... Taehyung dalam kondisi yang buruk. Aku tak bisa membayangkan apa yang di lakukan ayahku pada Taehyung.
Hatiku terasa sakit membayangkannya.
Aku menggaruk baju rumah sakit ini. Rasanya gatal dan tak nyaman. Aku sudah tak tahan berada disini. Bahuku sudah tak terlalu sakit. Mungkin sedikit nyeri, tapi ku rasa semuanya membaik. Suntikan dan obat yang kuminum nyatanya menyembuhkanku dengan cepat.
Ini sungguh tak adil.
Bagaimana bisa aku malah bersantai menikmati istirahatku disini sementara Taehyung di hukum jauh disana?
Aku seharusnya melakukan sesuatu instead of hanya berdiam diri disini.
Tapi nyatanya memang tak ada yang bisa ku lakukan.
Jimin hyung dan Dokter Min menjagaku dengan ketat. Belum lagi polisi yang menjaga di luar kamar. Aku benar-benar tak berkutik.
Seperti hari ini. Kali ini aku sedang menjalani sesi terapiku bersama Dokter Min, sementara Jimin hyung pergi keluar untuk membeli beberapa keperluanku.
Sesuai dugaan Seokjin hyung, aku di diagnosa oleh Dokter Min menderita Stockholm Syndrome. Dia dengan sabar dan telaten menjabarkan tentang sindrom yang ku alami. Kali ini bahkan ia mendiagnosa bahwa Taehyung mengalami Lima Syndrome. Sindrom yang berkebalikan dari Stockholm syndrome dimana penyandera memiliki ketertarikan emosional terhadap sanderanya.
Penyandera menjadi lebih simpatik, dan bahkan merasa membutuhkan sanderanya Kata Dokter Min.
Aku tak peduli jenis sindrom apa yang ku miliki. Aku hanya ingin bertemu Taehyung dan memastikan jika ia baik-baik saja.
"Mungkin ini terdengar konyol, tapi apakah kau baik-baik saja?"
Dokter Min menyentuh pundakku perlahan. Aku mendongakkan kepalaku menatapnya.
"Apa ada yang sakit lagi? Kau merasakan nyeri di bahu lagi?"
Aku menggelengkan kepalaku dan menghapus air mataku yang mengalir. Demi Tuhan, bisakah aku tidak menangis barang satu kali saja? Ini sangat menjengkelkan.
"Taehyung.." Hanya itu yang dapat ku katakan.
Dokter muda itu tersenyum prihatin melihatku.
"Dokter Min kau harus percaya padaku" aku meraih tangannya yang berada di pundakku. "Taehyung tidak bersalah. Bukan dia yang jadi otak penculikkan ini. Dia hanya di suruh—"
"Tapi ia adalah salah satu orang yang menyeretmu masuk ke dalam mobilnya sebulan yang lalu" ucap Dokter Min tenang.
"Tapi dia tidak sejahat yang kalian pikirkan. Taehyung orang baik. Dia hanya berada di jalan yang salah"
"Dia tetap bersalah, Jungkook. Dia terbukti melakukan kekerasan seksual padamu. Hasil visum sudah membuktikan semuanya"
"Tidak, Dok—"
Dokter Min meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Sudah saatnya bagimu untuk bangkit dan meraih kembali kehidupanmu yang telah hilang. Kim Taehyung bukan orang baik, Jungkook. Tidak ada orang baik yang merampas kehidupan orang lain. Tidak ada orang baik yang menyakiti sesama. Apa yang kau pikirkan selama ini salah, Kook. Rubahlah pemikiranmu"
Dokter Min menarikku dalam pelukannya. Ia memelukku dengan hangat dan mengusap-usap kepalaku.
Mengingatkanku akan Taehyung...
Meskipun aromanya 180 derajat berbeda.
Taehyung begitu maskulin, sedangkan Dokter Min begitu... wangi dan lembut. Tak berbeda jauh dariku.
Sebuah ketukan menjadi alarm bagi kami untuk memisahkan diri. Dokter Min tersenyum tulus padaku dan memberiku tissue untuk menghapus air mataku.
"Masuk" ucapnya tegas. Tak terlalu keras, tapi cukup keras untuk di dengar sosok di luar sana.
Tak berapa lama pintu terbuka lebar dan menampilkan sosok pria berbadan tinggi tegap dengan bahu lebar dan senyuman indah yang khas. Sosok pria yang ku kenal dengan baik. Sosok pria yang menyediakan tempatnya bagiku dan Taehyung untuk berteduh. Sosok pria yang menyelamatkanku setelah aku melompat dari atas jembatan. Sosok pria yang selalu berdebat dengan pasangannya di pagi hari. Sosok pria yang menjadi sahabat dan rekan Hollow Taehyung di Omitter...
"Selamat pagi, Tuan Jeon. Saya Dokter barumu, Dokter Kim. Senang bertemu denganmu"
.
.
.
TBC
.
.
.
Semoga tidak bosan bacanya ya manteman.
Plum baca semua reviewnya dan sukses bikin senyum-senyum like an idiot hahaha. Keep review ya!
Love ya.
Follow IG : summer_plum (double underscores)
