A/N:

Annyeong ^o^ miss me dear?/digetok/ kk~ Akise Mizuno is back from hiatus. Maybe this will be last part of my fanfiction about Little family of MinKrisFan … Hope you will enjoy it dan please accept my sorry for late update/bow

Chapter ini sebenarnya sudah diupdate di WP Mizu karena mizu gak bisa akses ffn ... Mianhe ...

.

.

.

"MiFan … jangan dibawa bunganya."

"MiFan … jangan mengambil pitanya, Sayang."

"MiFan itu bukan makanan."

Rumah besar keluarga Wu tersebut tampak heboh. Bukan hanya karena adanya persiapan untuk sebuah pesta, namun ulah seorang balita yang sedari tadi menyambar apa pun dengan tangannya. Mengambil bunga hiasan, menarik pita panggung, bahkan memakan properti hiasan membuat YiFan yang kebagian menjaga balita itu tampak menarik napas pelan.

"Hyung gantian kau jaga."

Changmin hanya melihat YiFan heran saat tubuh pemuda itu berbalik dan meninggalkan area kebun belakang. Changmin gantian menatap pada MiFan yang balik menatapnya sembari tersenyum menyeringai.

"Appa doh."

"Aaaaa."

Dan teriakan Changmin siang itu membuat beberapa orang yang melihatnya hanya menggeleng saat MiFan menggigit telinga Changmin kuat dengan barisan gigi susunya. Tawa orang sekitar mereka pecah saat lagi-lagi MiFan melakukan tindakan penganiayaan pada kepala Changmin yang kini acak-acakan karena ulah tangan mungilnya.

"MiFan nakal," ujar Changmin mendudukan tubuh mungil aegyanya di atas meja. Menggosok telinganya yang memerah karena ulah MiFan. Gigitan yang tak bisa dianggap remeh.

"Appa nakal. Fan ndak. Cucu?" pinta MiFan menunjuk pada tas mungilnya yang terletak tak jauh membuat Changmin terpaksa berbalik hendak mengambil susu milik MiFan setidaknya bisa membuat MiFan diam sementara waktu daripada membuat acara persiapan pesta mereka berantakan.

"Ini susu Mi—" Changmin mengeratkan kepalan tangannya pada botol susu saat tak menemukan balita yang seharusnya duduk manis di atas meja. Bahkan memikirkan bagaimana caranya sang aegya turun saja Changmin harus mengurut pelipisnya sendiri. Dan maniks Changmin tampak menajam saat melihat dimana MiFan berada—diatas tumpukan makanan diatas meja dan tengah mengacak-acak makanan untuk pekerja mereka.

"MIFAAAAANN."

.

Back to Ours

(Sekuel Key of Heart)

Cast:

EvilDragon aka Shim Changmin & Wu Yi Fan Kris

With MiFan and YunJae

Genre: Family

Rated: T

Waning:

AU, crack pair(?) gila-gilaan, typo, alur cepat, M-Preg, genderswitch (Just for Kimbum & Heechul)

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

Berniat meneruskan? silahkan…

.

.

Kalau tidak suka tolong beranjak dan menjauh, Mizu gak mau ngotori fict Mizu dengan flame bodoh di fandom ini, Ok^^

.

.

Anda sudah diperingatkan dear

.

.

"Hiks … huwee … mma … hiks."

"Sayang, jangan menangis lagi ne, ayo ikut umma saja."

"Ndak. Ndak." Suara mungil dengan isakan kecil itu masih terus terdengar dari gulungan selimut di atas ranjang milik Kris. Membuat pemuda blonde itu menggeleng tak tahu harus melakukan apa. Karena pelaku yang membuat sang aegya menangis adalah orang yang sama yang biasanya bisa membuat MiFan tertawa.

"Kau apakan MiFan, Hyung?" tanya YiFan tajam pada Changmin yang duduk tak jauh darinya. Sejak membawa MiFan dari kebun belakang, aegya mereka itu memang langsung melesak masuk ke dalam selimut dan menggulung dirinya dengan wajah berurai air mata. Membuat YiFan yang sebenarnya sedang tertidur mendadak bangun.

Changmin menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari tertawa garing karena bagaimana mungkn ia mengatakan kalau tadi ia sempat menepuk bokong MiFan dan membuat balita itu marah padanya. Salahkan keluarganya yang terlalu memanjakan aegyanya itu sampai sekali saja dimarahi akan jadi begini.

"Kau memukulnya?" tanya YiFan pelan dengan tangannya masih mencoba untuk membujuk MiFan yang mulai tak terdengar lagi suaranya. Sepertinya MiFan tertidur sembari menangis tadi.

"Aku melakukannya karena kali ini kenakalannya sudah keterluan YiFan," ujar Changmin tersenyum kecil mencoba mengacuhkan raut marah dari YiFan padanya. Naik ke atas ranjang sembari menarik pelan selimut yang membungkus tubuh MiFan, Changmin terkikik kecil melihat posisi MiFan yang menggulung tubuhnya sendiri. Membenarkan posisi aegya kecilnya Changmin menyelimutinya kembali dan duduk tepat di samping sang aegya berbaring.

"Kau yang memanjakannya hyung jadi jangan salahkan MiFan kalau ia masih tak mengenal mana yang salah dan benar—"YiFan tak melanjutkan perkataanya saat Changmin menggerakkan tangannya meminta dirinya untuk mendekat. Menaikkan alisnya bingung, YiFan mengangkat bahunya dan merangkak mendekati Changmin. Berhati-hati agar MiFan yang berada di tengah mereka tak terbangun.

"Apa?" tanya YiFan saat ia berada di depan Changmin.

Changmin tersenyum kecil menarik tangan YiFan hingga menubruk tubuhnya. Membuat tubuh jangkung pemuda itu kini berada diatasnya.

"Aku merindukanmu."

Senyum kecil terbingkai di bibir YiFan mendengar kalimat yang terucap dari bibir Changmin untuknya. Sejak beberapa waktu yang lalu mereka memang jarang bertemu untuk persiapan hari ini bahkan melakukan persiapan mengosongkan keluarga Wu dan menjauhkan keluarga Jung untuk sementara waktu. Hanya untuk melakukan hal ini.

"Aku ju—"

Dua bibir itu sudah saling menyesap bahkan saat YiFan belum menyelesaikan ucapannya. Tangannya menarik pelan bagian depan baju Changmin sembari membalas pergulatan lidah yang ditawarkan Changmin. Singkat tapi YiFan tahu seberapa besar rasa rindu yang ditawarkan Changmin padanya.

"Jauhkan tanganmu hyung," YiFan menahan tangan Changmin yang hendak masuk ke dalam pakaiannya. Menjitak kepala Changmin yang hanya terkekeh karena tak berhasil mengajak YiFan.

"Kenapa?" tanya Changmin memasang wajah sepolos mungkin membuat YiFan memutar bola matanya bosan dengan sikap calon suaminya itu.

"Jangan menyentuhku lagi sampai kita mengikat sumpah di depan Tuhan hyung," ujar YiFan tersenyum kecil mengecup singkat ujung hidung Changmin dan tertawa kecil melihat wajah Changmin yang membatu. Hanya sesaat sebelum tawa Changmin ikut pecah menyadari bias samar di wajah YiFan.

"Hahaha—uhmpp."

"Jangan tertawa terlalu keras. Kau bisa membangunkan MiFan, hyung."

Tersenyum kecil dibalik tangan YiFan yang membekapnya Changmin menarik tangan YiFan perlan. Mengecup punggung tangan YiFan sembari tersenyum manis, "as ur wish princess—"

Duagh

"Jangan sesekali memanggilku princess atau kau tak akan pernah menyentuhku selamanya."

Changmin hanya bisa mendecih kecil saat kaki YiFan menendangnya dari atas tempat tidur dan sekarang sang pria sudah memasang aura membunuh padanya. Akhirnya Changmin tahu darimana bakat MiFan menganiayanya siapa lagi kalau bukan dari sang umma yang ternyata lebih galak bak seorang naga pemarah.

Berdiri Changmin tersenyum kecil mendekati YiFan. Memasang seringai yang membuat YiFan memasang sikap waspada, "arra aku mengerti. Tapi kau tetap princessku, little dragon—cup."

Dan YiFan hanya bisa memasang sumpah serapahnya di dalam hati saat Changmin melenggang dengan santai keluar kamar setelah mengecup bibirnya tak lupa sebuah wink nakal padanya. Kalau saja hanya ada mereka berdua mungkin YiFan sudah membunuh evil mesum itu. Tidak kalau ada MiFan yang tertidur di sampingnya.

"Sebentar lagi baby, umma akan bersamamu—cup." Mengecup pelan dahi MiFan, YiFan menyamankan tubuhnya di samping MiFan dan memeluk tubuh MiFan hati-hati tak menyadari kalau Changmin masih berada di depan kamar. Tersenyum manis melihat keduanya.

"Manisnya istriku~"

.

.

.

"Eh? Kau bercanda Xiu?"

"Kalau aku bercanda aku tak mengabarimu secara mendadak. Kau sudah mengambil semua izin yang tersisa dan aku tak yakin Prof. Ren akan memberikan kesempatan mu untuk ujian. Dan sejak seminggu yang lalu ponselmu tak bisa dihubungi."

YiFan mengurut kepalanya saat ia baru menyadari kalau ia sudah melewati waktu liburnya. Bahkan ia lupa kalau semester awal yang akan diikuti ada kelas ujian awal dengan kehadiran seratus persen. Dan ia memang belum mengambil ponselnya dari ummanya.

"Apa yang kau lakukan di China sampai kau lupa untuk kembali Kris?"

YiFan menarik pelan menyandarkan tubuhnya dibalik tembok. Maniks gelapnya menelusuri taman belakang rumahnya yang kini berubah menjadi sebuah tempat pesta yang begitu asri. Sebuah pesta yang akan digelar lusa dan ia baru saja mendapatkan telpon kalau pembimbingnya akan mengadakan ujian dihari yang sama.

"Kris kau mendengarkanku? Kris."

"Maafkan aku Xiu. Bisakah kau kembali ke China? Ada yang ingin kuberitahukan padamu tapi tidak ditelp."

"Aku bisa saja pulang toh blok ujianku sudah selesai. Yakin kau tak akan kemari dulu?"

"Aku—"

"Ummaa~"

Sosok MiFan yang tiba-tiba memeluk kakinya membuat YiFan tergagap melirik ke ponselnya ia menggeleng dan segera memutuskan pembicaraannya dan bisa dipastikan Xiumin akan menginterogasinya sesampainya disini. Mengambil MiFan dan menggendongnya YiFan mencari-cari kalau-kalau ada Changmin yang mengikuti MiFan. Dan YiFan mendesah lega saat hanya ada MiFan. Bisa-bisa rencana mereka gagal kalau Changmin tahu ia sudah gagal untuk kelasnya.

"Sayang. Mana appamu?" tanya YiFan pelan pada MiFan yang kini tengah memeluk lehernya erat. Menggeleng pelan YiFan membawa MiFan menjauh dari tempatnya semula di sudut rumah. Berjalan kembali menuju kebun belakang dan ia memasang senyum tipis saat menemukan Changmin tengah memasang sebuah foto besar mereka bertiga di depan gerbang rumah. Sebentar lagi dan YiFan tak mau semua berantakan hanya karena kebodohannya.

"Darimana saja?" tanya Changmin mengambil MiFan dari pelukan YiFan. Balita itu tampak tertawa saat tangan besar Changmin sesekali menggelitikinya.

"Hanya melihat persiapan di belakang hyung. Dan lebih baik kau hubungi YunJae hyung juga kedua orang tua kita. Mereka pasti semakin kesal."

Changmin menganggukkan kepalanya walau tatapan matanya sesekali melirik wajah YiFan yang terlihat sedikit muram baginya. Namun Changmin tak akan bertanya lebih kalau calonnya itu tak mau mengatakan apa-apa toh nanti YiFan akan bercerita dengan sendirinya.
"Ayo jalan-jalan," ujar Changmin tersenyum sembari sebeleh tangannya menggenggam tangan YiFan.

"Lan-lan pa?" maniks besar milik MiFan tampak berbinar senang mendengar kalimat yang diutarakan sang appa bahkan balita mungil itu memeluk erat leher Changmin. Sepertinya seminggu terkurung di kediaman Wu membuat putra tunggal MinKris itu bosan.

"Ne sayang, kita jalan-jalan bertiga."

Keluarga kecil itu tampak berjalan beriringan keluar dari kediaman keluarga Wu dengan senyum kecil yang berhias di bibir masing-masing. Tak lupa dengan celotehan ringan dari sang balita yang terus saja berteriak kesenangan.

"YiFan?"

"…"

"YiFan?"

"Eh … ya hyung?"

Changmin menatap tajam pada YiFan yang terlihat tak fokus di sampingnya. Rasanya sedari tadi ia tak mendengar suara YiFan. Walau pria berambut pirang itu jarang berbicara panjang lebar buakan berarti sependiam ini dan sedari tadi Changmin tak menemukan suara milik YiFan.

"Kau baik-baik saja?" tanya Changmin sedikit khawatir ia menarik tangan YiFan ke salah satu bangku. Duduk berdua melihat MiFan yang kini berlari kecil ke arah bak pasir bermain sendiri.

"Aku baik-baik saja hyung," jawab YiFan tersenyum kecil, YiFan menyandarkan kepalanya di bahu Changmin. Membuat Changmin semakin heran dengan tingkah laku YiFan. Ada yang aneh dan terlihat tak biasa. Sejak kapan YiFan mau bermanja ria dengannya.

Tak mau memaksa YiFan untuk bertanya, Changmin membiarkannya saja tangannya mengelus pelan surai lembut milik YiFan dan tersenyum kecil saat melihat senyum tipis yang berada di bibir milik YiFan. Mendekatkan kepalanya ke arah wajah YiFan Changmin berniat mencicipi bibir merah muda itu sebelum sebuah teriakan membuatnya membatalkan niatnya.

"Maa!"

Itu suara teriakan MiFan dan sontak membuat YiFan yang tengah menutup matanya sontak bangun dan mendekati MiFan yang tengah bermain pasir. Bahkan ia tak sadar kalau Changmin masih terpaku dan kini mengelus kepalanya yang tak sengaja terantuk tubuh YiFan saat berdiri tiba-tiba.

Changmin menatap tajam pada balita manis yang tertawa dan bermain pasir bersama calon istrinya tersebut. Rasanya semakin lama MiFan tahu cara mengacaukan acara bermesum rianya.

Drrttt

Merogoh kantong celananya, Changmin mengerutkan dahinya saat melihat nama yang tertera di ponselnya. Umma kesayangannya.

"Annyeo—"

"Ya anak durhaka apa saja yang kau lakukan sampai selama ini. Kenapa masih belum menghubungi kami. Apa kau tak tahu kalau kami sudah bosan menunggu."

"—umma—"

"Jung Changmin mati kau—"

Itu suara mertuanya. Dan Changmin mengerutkan dahinya saat mendengar ceramah ringan dari dua wanita kesayangannya itu. Ummanya dan umma YiFan. Dan sepertinya keduanya benar-benar terlihat seperti kakak dan adik kalau sudah mengeluarkan tanduknya.

"Ummaumma mertua dengarkan aku," ujar Changmin setelah hampir lima belas menit telinganya berdengung sakit mendengar suara dari seberang sana, "aku baru saja hendak menghubungi kalian. Semua sudah selesai dan YunJae hyung yang akan menjemput appa, umma, umma mertua, dan appa mertua dari pulau itu. Jadi nikmatilah hari terakhir kalian di sana. Salam sayang dari anak dan menantu kalian yang paling tampan ini ya."

"Ya Jung—"

Dan Changmin hanya terkekeh mendengar teriakan yang tak tersambung karena ia buru-buru mematikan ponselnya. Memasukkan kembali setelah mengirimkan pesan singkat pada hyungnya Changmin mendekati MiFan dan YiFan yang tengah membuat istana pasir.

Taman di sore hari biasanya ramai. Namun ini hanya ada beberapa anak yang bermain bersama orang tuanya. Bahkan bak pasir yang biasanya digandrungi anak-anak hanya ada aegyanya seorang.

"Siapa yang menelpon hyung?" tanya YiFan tanpa menolehkan kepalanya. Tangannya masih asyik membuat istana pasir bersama tangan mungil MiFan.

"Umma. Dan mereka sukses membuat telingaku berdengung sakit."

Terkekeh pelan YiFan hanya menggeleng saja. Salah Changmin sendiri. Mengakali kedua orang tua mereka untuk terbang ke pulau pribadi milik keluarga Jung dan menutup akses kendaraan kesana. Hanya karena mereka ingin mempersiapakan pesta ini sendiri. Dan Changmin memastikan kedua orang tua mereka tetap di sana dengan meminta tolong pasangan YunJae untuk tinggal di pulau yang sama walau beda arah dan membuat kedua orang tua mereka tak sadar.

"YiFan."

"Hn?"

"Saat sumpah itu sudah terucap tolong jangan pernah merahasiakan apapun lagi padaku. Berbagi dan berceritalah semuanya. Janji?" ujar Changmin sembari tersenyum kecil menatap dalam pada wajah YiFan yang kini menatapnya dengan tatapan yang sama.

Tersenyum kecil YiFan tahu kalau Changmin merasakan keresahannya dan membiarkannya untuk berbicara nanti, "aku berjanji hyung. Dan terima kasih untuk menungguku berbicara."

Changmin mengangguk dan mengacak ringan rambut YiFan. Beralih pada MiFan Changmin membuka tangannya saat dilihatnya MiFan berlari kecil kearahnya dengan tangan berlumuran pasir.

"Ppa~"

"Kotor sayang bajunya." Changmin menggeleng melihat aegya kesayangannya yang benar-benar hiperaktif bahkan persiapan pesta yang mereka rencanakan sebenarnya sudah selesai dari kemarin namun aegya kecilnya membuat semua itu terlambat satu hari dengan ulahnya. Lagi pula tak seorang pun bisa memarahi sang aegya yang bahkan sudah memasang wajah andalannya—maniks berkaca-kaca dengan bibir yang bergetar. Dan akhirnya Changmin lah yang terkena amukan YiFan karena membuat YiFan menangis.

"Hyung apa kita akan selalu bersama?" tanya YiFan saat melihat bagaimana sayangnya Changmin pada MiFan. Ia memang tak pernah meragukan kasih sayang yang diberikan Changmin pada aegya mereka itu sejak awal. Bahkan rasa kagumnya makin besar saat melihat secara langsung beberapa bulan ini.

"Kita akan selalu bersama YiFan sekarang dan selamanya," ujar Changmin mengecup puncak kepala YiFan dengan sayang. Dan kemudia mengecup puncak kepala MiFan yang tertawa merasakannya. Dan bukannya senang MiFan malah menepuk kedua pipi Changmin keras.

"Aisssh sayang, MiFan makin kejam dengan appa ne?" menggelitik pelan perut MiFan Changmin mengangkat tubuh putranya itu ke udara. Melemparkannya dan menangkapnya kembali.

Beberapa orang yang melihat ketiganya ikut tersenyum kecil. Mengira ketiganya adalah kakak beradik yang akur melihat jenis kelamin ketiganya yang sama. Tak tahu kalau itu adalah keluarga kecil bahagia. Keluarga kecil yang akan merengkuh kebahagiaan mereka sebentar lagi berjanji di hadapan Tuhan untuk saling menyanyangi. Mencintai. Hingga akhirnya maut memisahkan mereka.

'Gomawo hyung. Gomawo sudah merawat MiFan Gomawo sudah mencariku dan membuatku menemukan jiwaku yang hilang.'

.

.

.

Hari itu akhirnya datang. Kediaman keluarga Wu yang biasanya terlihat lengang kini penuh hingga kejalanan. Bahkan papan ucapan terima kasih sampai menutupi sisi jalanan. Terlihat banyak para tamu undangan yang masuk ke dalam sana. Untuk menyaksikan pertukaran sumpah dua anak manusia.

"… dan sekarang silahkan anda mencium pasangan anda."

Mendekatkan wajahnya pada wajah YiFan, Changmin tersenyum kecil sebelum mengecup bibir YiFan lembut. Mengecup lama bibir yang selalu memberikan rasa candu untuknya.

"Jduagh!"

Changmin sontak melepaskan ciumannya pada YiFan saat merasakan sesuatu menimpuk kepalanya dan matanya mendelik saat melihat benda apa yang menggelinding di kakinya.

"Hahah—umpph haha—" YiFan menutup mulutnya sendiri menahan tawa melihat wajah kesal Changmin saat ini. Tersenyum kecil ia mendekat ke arah Changmin mengecup pelan pipi Changmin dan membuat wajah suaminya itu kini terlihat lebih baik.

"Tak baik marah dihari pernikahan kita hyung … lagi pula mungkin begitulah cara MiFan memberikan hadiah dihari pernikahan kita," ujar YiFan melirik kecil pada balita yang tengah digendong kakak iparnya dan terlihat gelisah minta turun.

"Appa~"

Changmin menangkap MiFan yang berlari dari gendongan hyungnya ke arahnya. Menangkapnya dan mencium gemas pada balita mungil yang baru saja melempar kepalanya dengan botol susu yang sontak membuat beberapa tamu undangan ikut tersentak kaget dan kemudian tertawa bersama.

"Selamat atas pernikahan kalian Changmin, YiFan."Yunho menepuk pundak Changmin sembari mengacak rambut Changmin yang awalnya rapi kini acak-acakan karena ulahnya.

"Selamat. Dan hati-hati kau dimakan lagi seperti waktu itu," terkekeh pelan Yunho melirik wajah sang mempelai yang merupakan adik iparnya itu memerah malu. Tak menyangka kalau pria yang terlihat datar dan dingin itu bisa terlihat begitu manis.

"Jae Hyung~ tolong jauhkan beruang kesayanganmu sebelum aku meminta MiFan melemparkan botol susunya lagi," ujar Changmin mendeathglare hyungnya yang malah menepuk kepalanya.

"Hahaha … walau kuakui YiFan juga manis tapi aku tak tertarik dongsaeng pabbo. Jaeku saja sudah lebih dari cukup bagiku aww—yak kenapa dicubit sayang?" toleh Yunho pada Jaejoong yang baru saja mencubit perutnya ringan.

Jaejoong menggeleng melihat ulah usil suaminya yang selalu saja menggoda Changmin kapan pun. Sepertinya Yunho berniat membalas Changmin karena permintaan anehnya untuk mengurung orang tua mereka di pulau pribadi keluarga Jung.

"Aku bercanda Jaejoongie chagi," ujar Yunho mencium kilat bibir Jaejoong dan membuat sang pemilik sontak memerah malu.

"Hei yang menikah hari ini bocah setan itu Yun, kenapa malah kalian yang bermesraan di sini?"

Keempat pasang mata itu sontak menoleh pada kedua pasang orang tua mereka yang kini berada di dalam satu ikatan keluarga. Termasuk gadis manis yang datang menggandeng seseorang.

"Kris~ selamat atas pernikahanmu."

YiFan hampir saja terjatuh saat tiba-tiba Qian menubruknya kuat dan memeluk tubuhnya erat. Tapi wajah terkejut itu berganti sebuah senyuman teduh dan YiFan mengusap pelan kepala Qian. Terlebih ia mendengar suara isakan kecil dari bibir milik Qian.

"Hey ini tak seperti kau biasanya Qian. Aku tak kemana-mana hanya menikah dan kau malah menangis di hari pernikahanku?"

Mengusap air matanya, Qian menarik pelan pipi YiFan tersenyum manis pada satu-satunya kakak kesayangannya itu. Hatinya lega karena akhirnya ia bisa melihat kembali senyuman milik YiFan. Wu YiFan bukan Kris. Dan ia bisa merasakan kalau kakak kesayangannya kembali. Seperti saat sebelum sang dragon menghilang. Namun kini Qian tak akan menyesali apa pun saat ia bisa mendapatkan seorang keponakan manis yang kini tersenyum padanya.

"Jangan biarkan mereka berpisah lagi ya sayang," bisik Qian pelan di telinga MiFan dan mengecup pelan pipinya walau dibalas dengan tepukan di pipinya, "ah iya Kris perkenalkan ini Nickhun. Kekasihku."

"Selamat atas pernikahannya Kris."

Kris menatap tajam pada pria yang berada di samping adiknya. Seorang pria tampan yang membalas tatapan tajamnya dengan sebuah senyuman manis tak takut dengan tatapan menyelidik miliknya. Tapi hanya sekejab kemudian saat YiFan meliat wajah malu-malu dari Qian dan ia tahu kalau adiknya itu benar-benar menyukai Nickhun.

"Terima kasih," balas YiFan pelan dan mendekati Nikchun sembari berbisik pelan, 'jaga adikku kalau kau tak mau aku membunuhmu karena menyakitinya.'

Dan Nikchun mengangguk tanpa melepaskan senyumannya setidaknya ia tahu ia sudah diterima oleh Kris sebagai kakak dari kekasihnya.

"Selamat atas pernikahannya YiFan dan selamat datang di keluarga Jung."

YiFan mengangguk canggung mendengar kalimat ucapaan selamat dari pasangan yang kini menjadi bagian keluarganya. Rasanya ia tak percaya kalau apa yang pernah terbersit menjadi mimpinya saat memeluk MiFan pertama kali menjadi kenyataan. Bahkan ia merasakan pelukan yang sama saat Siwon dan Kibum memeluknya erat. Sama dengan pelukan mamanya.

"YiFan~ hiks …"

"Sudah mama. Jangan menangis."

YiFan mengusap pelan punggung wanita yang sudah melahirkannya itu perlahan. Rasanya baru kali ini ia melihat wanita itu menangis lagi sejak kepergiannya dan kali ini dirinya lagi yang membuatnya menangis."

"Ma …"bisik YiFan memeluk erat tubuh mamanya sebelum wanita itu malah tertawa dengan air mata yang masih berada di sudut matanya.

"Aissshh anak nakal akhirnya kau menikah juga," kekeh Heechul sembari menarik pelan ujung dahi mancung milik YiFan membuat sang pemilik mengerutkan dahinya heran. Baru sedetik menangis dan sekarang malah tertawa seperti biasanya.

"Kalau evil itu menelantarkanmu dan juga cucu mama katakan segera. Biar mama menggantungnya di balkon rumah. Mengerti."

Changmin yang menjadi obyek sasaran tatapan tajam milik sang mertua hanya bisa menggaruk pipinya dan mengalihkan pandangannya dari sang mertua cantik nan galak.

"Tenang saja eonni kalau evil itu membuat menantu dan cucuku menangis kupastikan dia akan merasakan namanya kelaparan selama seminggu," balas Kibum tersenyum manis pada Heechul tak merasakan kalau anaknya sudah meneguk ludah susah payah kalau benar apa yang dikatakan wanita cantik itu benar adanya.

Para pria di sana sontak tertawa mendengar bagaimana kompaknya dua wanita yang mereka cintai hendak membully seorang Jung Changmin dan sepertinya itu juga ultimaltum tak langsung yang harus dipatuhi Changmin.

"Ppa!"

"Ya sayang?"

Jduagh

"Aisssh …" Changmin mengusap kepalanya yang baru saja dipukul MiFan dengan botol susu lagi yang entah sejak kapan berada di tangan balita mungil itu.

"Kenapa memukul appa lagi, Sayang?" tanya YiFan heran mengambil MiFan dari gendongan Changmin dan membuat Changmin pundung seketika saat MiFan mengacuhkannya dan malah memeluk erat leher YiFan. Bahkan balita itu asyik memainkan rambut YiFan mengacuhkan panggilan dari appa evil kesayangannya.

"Sepertinya dia kesal karena kalian mengacuhkannya tadi dan membalasnya pada Changmin."

"Hahaha sepertinya kau kalah dengan YiFan sekarang evil," timpal Jaejoong lagi pada kalimat Yunho.

"Cucuku memang hebat."

"MiFan tak boleh begitu lagi sayang."

"Aku baru tahu Changmin oppa ternyata kalah dengan balita sekecil MiFan."

"Hmmnn …"

"Sepertinya lain kali kau jangan mengacuhkan MiFan lagi Changmin."

Changmin semakin terpojok dan mendeathglare kecil pada aegyanya yang malah tertawa dengan mencium wajah YiFan. Tak merasakan kalau appanya mulai merasa cemburu karena sudah memonopoli sang umma sendirian.

"YiFan …"

Keluarga kecil itu menolehkan kepalanya saat seorag gadis cantik berbalut gaun biru pendek indah mendekati. Gadis yang pernah menjadi penghuni di hati YiFan dulu.

"Selamat atas pernikahannya."

Sedikit tertegun YiFan menatap uluran tangan yang diberikan Jessica padanya. Sebelum kemudian bibirnya menyunggingkan sebuah senyum tipis menyambutnya. Bagaimana pun juga mungkin inilah akhir yang terbaik.

"Terima kasih, Jessi."

Mengangguk Jessica tersenyum pada sosok balita yang memeluk erat leher YiFan. Walau ia tak melihat langsung wajahnya tapi ia tahu kalau balita manis itulah alasan ia tak bisa kembali dalam sebuah masa lalu. Masa depan mereka sudah berubah sejauh tangannya tak lagi bisa menjangkaunya.

"Changmin-ssi. Selamat." Menundukkan kepalanya sedikit Jessica beranjak menjauh dari pasangan baru tersebut. Ia hanya ingin melihat YiFan untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi dari dunia YiFan. Menggapai kebahagiaannya sendiri.

"Kau yang mengundang Jessica kemari?" tanya YiFan pada Qian yang tengah asyik berangkulan mesra dengan kekasihnya.

"Ya. Aku hanya membantumu dragon~ memutus semua masa lalumu karena aku tak mau keponakan manisku menangis karena kesalahan bodohmu," ujar Qian menjulurkan lidahnya sembari bersembunyi di balik tubuh Nikchun.

"Untung saja aku sedang memeluk MiFan kalau tidak habis kepalamu kubotaki."

"Coba saja YiFan umma~"

Tuan dan nyonya Tan hanya menggeleng melihat kedua anak mereka yang adu mulut bak bocah. Mengacuhkannya keduanya malah menarik Siwon dan Kibum menjauhi anak muda itu. Sudah waktunya mereka bersantai ria.

"Kau akan disini atau kembali ke Korea Min?" tanya Yunho sembari menyesap minumannya. Menatap tajam Changmin karena adiknya itu malah terus saja memperhatikan MiFan yang kini berada digendongan Jaejoong dan duduk dipelataran taman. Pesta mereka masih berlangsung dengan para tamu yang semakin banyak berdatangan. Bahkan rasaya bibir Changmi mulai kelu untuk tersenyum.

"Ke Kanada. Aku akan membawa MiFan dan YiFan ke Kanada hyung."

"Kanada?"

Semua kepala sontak melihat keduanya saat suara Yunho ternyata cukup keras membuat semua mata kini menatap keduanya.

Tersenyum kecil Changmin berjalan mendekati YiFan dan menarik tubuh pemuda itu ke dalam pelukannya. Mencium dahinya lembut dengan intensitas dalam. Membuat YiFan hanya bisa mengedipkan matanya berulang kali karena bingung.

"Maaf aku kebetulan bertemu dengan temanmu kemarin saat dia hendak menemui di rumah dan dia yang menceritakannya, Sayang."

"Maaf—hyung—"

"Kenapa kalian harus ke Kanada?" tanya Heechul yang tiba-tiba sudah berada di samping Changmin dan Kris. Wanita itu sepertinya sedikit tak rela kalau Changmin dan YiFan kembali ke sana walau ia tahu Kris masih kuliah di sana. Bukankah bisa dipindahkan ke China atau Korea.

"Tidak apa Ma. Aku hanya ingin YiFan meneruskan kuliahnya di sana. Lagi pula itu bukankah jurusan yang tak ada disini," balas Changmin tanpa menyinggung alasan sebenarnya mengapa ia harus ke Kanada. Kris harus mengambil susulan kelasnya kalau ia harus benar-benar pindah ke Korea atau China nantinya.

"Apa kau yakin Min?" tanya Kibum balik. Kalau mereka di Kanada siapa yang akan menjaga MiFan sedangkan YiFan dan Changmin pasti akan sibuk dan ia tak rela kalau cucu kesayangannya di asuh orang lain.

"Aku yakin umma. Tenang saja. Tak akan ada yang menyentuh MiFan kecuali kami berdua," balas Changmin ringan dengan tangannya yang tak berhenti melingkari pinggang Kris.

"Lalu apa kau mengatakan acara kita hari ini hyung?" bisik YiFan pelan mendempetkan tubuhnya pada Changmin agar tak seorang pun tahu. Membuat yang melihat mengira betapa mesranya kedua pengantin baru itu.

"Di sana." Tunjuk Changmin dengan dagunya pada sosok yang tengah menikmati makanan dan duduk berdua dengan seseorang di bangku tengah.

Dan mata YiFan sedikit membesar saat Xiumin menyadari tatapannya dan malah melambaikan tangan padanya. Sepertinya Xiumin sudah tahu semuanya termasuk siapa Changmin. Dan pria pemilik pipi chubby itu memberikan tanda salute padanya pertanda ia ikut bahagia dengan keputusan YiFan kali ini.

"Pindahkah saja ke Korea atau China. Mama tak mau kalian terlalu jauh di Kanada."

"Benar lebih di tempat salah satu dari kita daripada sendirian di Kanada. Kasihan MiFan, Changmin."

"Umma biarkan Changmin yang menentukan," ujar Yunho menahan keinginan sang umma pada adik bungsunya lagi pula ia tahu Changmi pasti ada alasan melakukannya.

"Chang—"

"Kami akan baik-baik saja umma. Percayalah dan kami akan pulang saat liburan YiFan nanti."

"Jangan bawa adik baru untuk MiFan ne evil kk saat kalian pulang nanti~" canda Jaejoong yang telah berdiri di samping Yunho sembari tertawa melihat wajah pias Changmin dan YiFan karena perkatannya.

"Baiklah kalau itu keputusan kalian." Heechul dan Kibum akhirnya menyerah karena bagaimana pun Changmin dan YiFan bukan anak-anak lagi mereka sudah dewasa bahkan memiliki tanggung jawab sendiri.

Mencium kedua wanita itu tepat dipipi satu persatu Changmin tertawa saat kepalanya mendapatkan bonus geplakan dari sang mertua cantik.

"Ya sudah MiFan akan hyung culik dulu sampai besok. Bukankah malam ini ada yang ingin bersenang-senang?" lirik Jaejoong pada Changmin lagi dan ia tertawa saat MiFan melihatnya dengan maniks besarnya.

"Ppa?"

"Ne appa sayang. Dia mau membuatkan saeng buat MiFan~"

"Cayeng?"

"Iya sayang saeng untuk teman bermain MiFan~"ujar Jaejoong menciumi gemas kedua pipi MiFan saat balita itu malah menatapnya dengan dua maniks polosnya, lalu berbisik pelan ditelinga sang balita "minta dengan appa dan umma MiFan."

"Ya Jae hyung jangan mengotori pikiran MiFan."

Mengambil MiFan dari gendongan Jaejoong, Changmin menarik tangan YiFan menjauh dari keluarga besar mereka yang tertawa melihat wajah merah keduanya. Seperti pasangan polos saja padahal mereka sudah pernah membuat(?) MiFan sebagai hasilnya.

"Selamat atas pernikahannya Changmin. YiFan. Semoga berbahagia."

.

.

.

"Hyung?"

"Hn?"

YiFan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang tengah mereka duduki. Tangan keduanya masih belum terlepas dan masih bertaut sama seperti sebelumnya. Menutup matanya sejenak, YiFan tersenyum kecil sebelum menangkup pipi Changmin dan mengecup bibir Changmin singkat.

"Gomawo. Sudah menjemputku dan memintaku kembali ke sisimu."

Terkekeh pelan Changmin balas balik mengecup singkat bibir YiFan tersenyum saat akhirnya mereka bisa saling bisa jujur dan sekarang sebuah kehidupan baru bersama.

"Paa!"

Jduagh

Tiga kali. Dan Changmin menatap tajam pada aegyanya kesayangannya yang sebenarnya sempat sesaat ia lupakan karena rasa candu dari bibir pria yang kini sah menjadi miliknya. Menarik napas pelan Changmin menegakka tubuh MIFan yang semula berada dipangkuannya. Menatap langsung ada aegya yang menduplikasi wajahnya dengan sempurna kecuali mata yang merupakan milik sang umma.

"Hahaha mian sayang. MiFan mau di poppo juga eoh?"

Mengecup sekujur wajah MiFan suara renyah sang malaikat kecil menyapa gendang telinga mereka. Sebuah kebahagiaan saat mendengarnya. Tawa sang malaikat yang menjadi pengikat mereka.

"Maa~"

"Umma juga sayang MiFan." YiFan mengecup pelan bibir MiFan dan membuat balita itu tertawa dan langsung menarik rambut pirangnya. Bahkan tangan kecil itu berkali-kali menepuk pelan pipinya. Seakan menyalurkan rasa bahagia yang sama karena pada akhirnya sosok yang pernah pergi kini kembali.

Dan kini mereka akan bersama. Sekarang besok juga selamanya.

"Terima kasih sudah mencariku hyung." Menggenggam tangan Changmin, YiFan tersenyum manis sore itu. Membalas senyuman milik Changmin yang menemaninya dan memintanya untuk bersama.

"Terima kasih sudah kembali YiFan." Changmin mengecup puncak kepala YiFan dan menyalurkan perasaanya pada namja yang kini akan menemaninya bersama sang aegya.

Keduanya memeluk erat tubuh MiFan yang menatap keduanya dengan mata bulatnya. Terkekeh sebelum bibir mungil sang balita mengeluarkan kalimat yang membuat Changmin dan Kris membelalakan matanya.

"Ppa. Maa. Fan. Mau Caeng. boyeh? Dua." Dengan dua jarinya yang terangkat ke udara. Tertawa dengan senyuman sang evil turunan sang appa,"cekalang."

"EHHHHHH?"

.

THE END

.

A/N:

*Tebar confetti* akhirnya selesai … Mian gak bisa ucapkan terima kasih satu"*bow* gomawo yang sudah mengikuti ff ini sejak awal dan masih mau nunggu sampai sekarang termasuk yang hobi neror Mizu buat balik dari hiatus*deep bow*

Sampai jumpa lagi di session selanjutnya tentang keluarga kecil ini … haha tak jadi ditamatin sampai sini bakal berlanjut ke session II
Pai … pai …

Mizuno

_Thanks for Reading_

.

.

.

Cuplikan Spoiler Session II

"Ya kemari kau bocah nakal"

"Siapa yang bocah nakal? Hyung yang nakal~ Fan hyung nakal~ nappeun~ salah siapa berciuman dikamar tapi tak dikunci."

"…"

"Umma~ Fan hyung mesum~"

"Jung Jiho!"

"Princess ByungJoo … selamat anda akan diangkat menjadi seorang ratu."

Jduag

"Ya hyung kenapa kepalaku dijitak lagi?" protes bocah bersurai merah tersebut. Rambut sehitam malam yang mirip dengan appanya itu sudah berganti merah saat mengikuti sang umma ke salon minggu lalu.

"Kau apakan my SweetyJoo?"tanya MiFan menggendong seseorang berusia sama dengan sang namja ke dalam pelukannya. Menggeleng melihat gaun seorang putri yang sedang dikenakannya. Tak tahukah kalau sang saeng juga namja.

"Oppa~"

What the hell. Rasanya MiFan mau menjedukkan kepalanya sekarang juga.

"Hyung sayang. Siapa yang mengajari begitu?"

"Jiho oppa."

"Jung Jiho!"