"Dan namamu adalah?"
"Razak."
"Razak…?"
"Abdul Kahar."
"Mona, catatlah detil penting itu."
Suara guratan pensil terdengar di atas kertas.
"Dan keinginanmu kesini adalah…?"
"Bekerja menjadi saucier."
"Baiklah, Mon ami, selama hampir tiga bulan ini bukan hanya kamu yang menginginkan jabatan itu. Lagipula, jabatan saucier kami sudah terisi, dan kami tidak membutuhkan saucier lainnya di dapur kami."
"Saya bisa memuaskan pelanggan lebih dari saucier anda."
"Aku yakin itu, nak, tapi—"
"Apakah anda tidak melihat sertifikat yang saya miliki, Monsieur Bonnefoy? Saya jelas memilliki kualifikasi untuk menjadi saucier disini. Dan kulihat saucier disini bahkan tidak memiliki bakat yang cukup untuk meraih Michelin. Aku merasa lebih pantas berada di posisi saucier."
"…Kau punya keberanian, nak, aku menyukainya."
"Jadi, kau mau menerimaku?"
"…Boleh saja. Dengan satu syarat…"
.
.
.
.
.
.
I Like it Hot and Fast (and Yummy)
Daruma Shi
Please enjoy and keep in mind that I do not reap any economical benefits from this act. What I solely reap are the satisfaction of growing into a better writer and people's reviews.
.
.
.
Chapitre onz : Rival's Encounter
.
.
.
.
.
.
.
Bumi menutup matanya.
Tidak bisa tidur.
Ayoooo tutup matamu.
Tidak bisa tidur!
Bumi berguling ke kanan. Mencoba mencari posisi wuenak.
Tidak berhasil. Bumi berguling ke kiri.
Tidak bisa tidur.
Bumi berguling lebih cepat—
Kejedot.
Meringkuk menyentuh jidatnya yang mungkin bakal tambah lebar, Bumi mengingat kembali kejadian tadi malam. Matanya menatap laptop yang berdesing menyala, satu-satunya penerangan dalam ruangannya yang gelap, namun hangat.
.
Mata Bumi menemui Razak. Wajah yang seperti pinang dibelah dua dengan Bumi itu terlihat dingin. Bumi merasa bingung. Apa? ngapain Bocah ini ada disini? Kenapa dia ada disini? Dia mau jadi saucier? Memang dia bisa memasak? Bumi hanya berdiri disitu, tepat berada di dalam jangkauan mata Razak yang kemudian menemukan sosok Bumi. Tiba-tiba wajahnya mengerut dan dia segera berbalik, menjauhi orang-orang yang mengelilinginya. Francis terlihat agak bingung dengan kelakuan tidak sopan Razak dan menyuruh orang-orang segera pulang. Wajah Bumi berkeriut tidak suka dan segera menyambar tangan Francis. Francis berbalik dan tersenyum seakan-akan dia tidak baru saja membuat kehidupan Bumi menjadi lebih sulit.
"Ah, ma amoure! Apa ada yang bisa aku bantu?"
"Apa maksudnya yang tadi itu, pak? Saucier? Bapak bercanda kan?"
"Aku tidak bercanda." Francis tersenyum, namun matanya dingin. "Aku hanya memanfaatkan hal yang ada."
"Ini tidak lucu, pak. Bapak tahu saya ingin menjadi saucier." Cengkraman Bumi mengetat di tangan Francis yang lebih besar. Francis hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Non, non! Apa kamu lupa apa kataku, Bumi? Aku yakin kamu bisa jadi saucier yang hebat, namun anak itu, dia juga pasti akan menjadi saucier yang hebat. Aku tidak menolak talenta berbakat seperti dia, Bumi." Francis menggelengkan kepala, berusaha melepas Bumi.
"Dia baru berumur dua puluh tahun!"
"Bagaimana kamu tahu? Kamu sudah bertemu dengannya?" Tanya Francis, jelas terlihat senang Bumi mengenal Razak.
"Aku bertemu dengan dia kemarin. Aku tak suka dia." Aku Bumi akhirnya.
"Sayang, dia akan terus bekerja disini sebagai handkitchen." Ucap Francis akhirnya. Mata Bumi membelalak. Untuk pertama kalinya Bumi merasa bersyukur dia sudah dinaikpangkatkan. Tapi kalimat Pak Francis yang selanjutnya membuatnya mual.
"Dan kau masih harus bekerja bersama dengannya."
Bumi tidak senang. "Maksud anda?"
"Maksudku, sayang cintaku, bahwa kamu masih harus bekerja sebagai handkitchen. Kita tidak ingin Razak sendirian, kan? Tentu saja, kalau kau tidak keberatan." Walau senyum Francis kelihatan easy-going, namun Bumi tahu pasti bahwa sang pria tampan berambut sutra di depannya ini akan melakukan sesuatu yang ekstrem bila Bumi membantahnya.
"Aku memberinya syarat—dia harus bekerja sebagai handkitchen terlebih dahulu sebelum bekerja disini. Tapi aku yakin dia tidak akan lama-lama menjadi handkitchen…" Francis mengangguk, senang dengan syaratnya tersebut. Bumi merasa tersindir. "Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding melihat seseorang berusaha memanjat menuju kejayaan, kan?"
Bumi curiga yang Francis bicarakan bukanlah Razak, tapi Bumi sendiri. "Kalau ini lelucon lain, saya tidak suka."
Francis hanya tersenyum misterius. "Ma amoure, aku sarankan kamu segera pulang sekarang…"
.
Bumi menatap malas laptop di depannya, e-mail yang sudah dia ketik tiga paragraf rapi siap dikirim menuju Indonesia. Sudah waktunya untuk tidur, pikir Bumi. Mematikan laptopnya, Bumi menjatuhkan tubuhnya diatas bed cover yang melambung, matanya jelalatan ke kegelapan yang membumbung dalam kamar Bumi.
Kenapa Francis melakukan hal ini? Apa yang dia inginkan? Bumi memejamkan mata, kepalanya sakit.
Mungkin Bumi kurang layak. Mungkin Bumi memang tidak bisa berada disini. Mungkin Bumi terlalu lembek. Ya, itu pasti jawabannya, karena apa lagi yang bisa menjelaskan kelakuan Francis yang seperti ingin menyingkirkannya? Kalau ini berhubungan dengan keengganan Bumi mengikuti fighting event, well, bollocks then. Bumi mengerutkan dahi. Dia tidak suka berkompetisi. Jika kelakuan Bumi yang mundur teratur dalam menghadapi fighting event tidak menunjukkan sesuatu, maka Bumi tidak tahu lagi harus bagaimana.
Sejak awal Bumi yakin dia pasti akan bisa mendapat posisi saucier—entah karena kesombongan diam-diam atau bagaimana. Setiap orang punya kesombongan diam-diam—perasaan dimana kau merasa kau akan berhasil yang tertutupi dengan kerendahan hati dan segala macam itu. Sementara kau berkata "tentu tidak, aku tidak yakin aku akan berhasil," jauh dalam hati kecilmu, jauh sekali, dalam sekali, kau berteriak, "Hell yes tentu saja aku bakal berhasil!" karena kau tidak mau berurusan dengan sakit hati dan rasa sedih saat kau tidak berhasil. Hati kecil Bumi pasti berbisik bahwa dia adalah anak buah Hatta Gibran, pastilah dia akan mendapat posisi dengan mudah. Dia bahkan mengira dia bisa membawa nama Indonesia di Ranah Perancis. Karena itu saat dia malah menghadapi jalan buntu, dia tidak dapat move forward. Hal itu membuat bibir Bumi melengkung ke bawah.
Dia tidak menyangka dirinya bisa sepicik ini.
Dia kira dia sudah menghilangkan semua perasaan sombong dari dalam dirinya semenjak bertahun-tahun lalu, saat orang-orang mencemooh, saat orang-orang tidak tahu seperti apa kemampuan asli Bumi.
Tapi aku memang anak buah Hatta Gibran, suara kecil sombong, picik, menjijikkan, dan secara menyebalkan keras bergaung dalam diri Bumi, Pak Hatta memilihku.
Cepat-cepat Bumi menghilangkan pikiran sial itu.
Aku hanya beruntung. Bumi akhirnya mendeklarasikan dirinya, aku hanya beruntung karena Ayah mengenal Hatta Gibran.
Tapi dari belakang kepalanya dia masih bergaung, kau tahu itu tidak benar.
Bumi menggelengkan kepala lebih keras, mungkin hampir membentur bed post saking kencangnya dia menggeleng. Dia tidak ingin merasa seperti ini—merasa seperti dia yang paling atas walau sebenarnya tidak. Dia hanyalah handkitchen pengecut yang tidak berani menerima kenyataan. Apakah dia bahkan memiliki kemampuan yang cukup untuk berdiri di dapur istimewa seperti Le Roi?
Pemikiran horor ini membuat mata Bumi melebar. Apakah selama ini kemampuan yang Bumi miliki hanyalah berada dalam pikirannya? Apakah, berdasarkan delusi gila semata, orang-orang hanya ingin melihatnya senang, bahagia, dan tidak mengatakan apa yang sejujurnya tentang masakan Bumi? Apakah Bumi bahkan benar-benar bertalenta? Bagaimana jika Francis benar? Bagaimana jika Razak memang memiliki talenta? Bagaimana jika Bumi tidak punya talenta sama sekali, hanya seorang pengecut yang memiliki sekantung penuh keberuntungan selama hidup dalam dapur? Bagaimana jika Razak berhasil, sementara dia tidak? Bagaimana jika Razak begini, begitu, begini…
Dengan pemikiran seperti ini menggigiti otaknya, Bumi tidak bisa menutup mata, ketidaknyamanan menyundul-nyundul jantungnya.
Sementara itu, tiga ratus kilometer dari tempat Bumi berada, Lovino Vargas sekarang sedang sibuk dengan catatan di depannya—dia sedang membuat sebuah resep baru untuk Le Roi. Rambutauburn-nya sembab sehabis mandi. "No diggity, I've got to bag it up, bag it up yo… uh-huh… I like the way you work it, no diggity…" No Diggity-nyaBlackstreet sayup-sayup terdengar dari bibir itu.
Apartemen yang bisa dibilang flat itu cukup modern—kau bisa melihat sentuhan eropa yang elegan dan dingin di sana-sininya dengan warna warm bronze dan warna hard lilac, tapi ada juga sedikit percikan pribadi di pojok ruangan, seperti foto-foto Lovino yang sedang melakukan perjalanan kuliner ke Jepang bersama Arthur, atau berlibur ke Milan (sendirian, tentu saja), Berjalan-jalan di Albania dengan Francis, fotonya yang sedang cemberut dengan Antonio yang tersenyum lebar. Antonio tengah mengenakan balutan matador-nya saat itu, membuat figurnya yang trim dan slender namun berotot semakin membuatnya menggiurkan untuk para wanita dan sebagian pria. Saat itu dia sedang berlibur ke Spanyol, dan Antonio yang terkenal lah yang menjadi guide -nya. Disamping foto-foto berbingkai, ada banyak souvenir yang dia beli dari tempat-tempat tersebut terjajar rapi di atas kabinet, di samping televisi, di bar dapur, di atas meja kaca, di dalam kamar, dimana saja.
Kembali ke resep baru, Lovino memiliki mimpi yaitu mengalahkan Arthur dalam fighting event. Tentu saja, kalau dia ingin menang dia harus menyusun strategi menggulingkan-Arthur-dari-singgasananya. Arthur jelas adalah salah satu cook paling berbakat dan paling berinovasi yang Inggris miliki. Namun untuk Lovino yang dijuluki God of Cuisine di tanah kelahirannya, Italia, dia pasti memiliki kesempatan paling tidak sedikit saja untuk membuat Arthur jatuh. Pemikiran membuat wajah Arthur cemberut marah membuat Lovino terkekeh kejam.
Perlu diingatkan bahwa keinginan Lovino menjatuhkan Arthur bukanlah karena dendam ataupun hal-hal yang temeh seperti itu—tidak, yang dia rasakan adalah hal lain. Lovino menganggap Arthur sebagai lawan yang sepadan, yang sejajar, maka dari itu Lovino tidak boleh setengah-setengah saat menghadapi Arthur. Lovino harus mengerahkan sekuat tenaga untuk membuat Arthur mengakuinya. Membayangkan hal itu membuat darah Lovino mendidih, adrenalin mengalir cepat, membuat jantungnya berdegup kencang, hal ini lebih menyenangkan daripada berlari, hal ini lebih menyenangkan daripada berciuman dengan seorang gadis manis di belakang pub kotor—hal ini sangat menyenangkan.
Apa yang harus dia buat? Tirrane (1) dengan daging angsa? Tidak, itu bakalan amis, dan minyaknya lengket di rounde. Bagaimana dengan Mouless Marinieres (2)? Dengan fondue putih dan parsley, jelas wanginya akan membuat orang-orang ngiler! Tapi tidak, tidak semua orang akan suka wine putih. Blanquette de Veau (3)? Dengan dessert Paris-Brest, cream-puff yang fluffy dan manis dilihat, meleleh di mulut, menyenangkan di perut? Semua kemungkinan membuat Lovino terlempar kembali ke masa kecil, saat dia mencorat-coret kertas dengan krayon, menggambar omelet dengan warna biru dan warna kuning, atau saat dia mulai mewarnai dinding dengan pensilnya dengan gambar dada ayam panggang yang seksi sekali.
Lovino merasa kembali ke masa lalu.
Seperti roller-coaster.
Pria berumur 27 tahun itu menggigit ujung pulpennya, mungkin sudah se-rim kertas dia corat-coret demi mendapatkan resep surga yang sedari tadi dibayangkan. Resep yang terlihat berkilau, indah, berteriak ingin dimakan…
"Ngggggggggggggggg…" Lovino menjengkang ke belakang tiba-tiba, matanya tertutup ke arah langit-langit. Arthur itu tipe conservative, pikir Lovino. Para Tetua Perancis dan Inggris menyukainya karena masakannya yang lurus, tidak goyah oleh modernitas, dan tidak mudah untuk dipatahkan. Sangat teguh. Resep masakannya diambil langsung dari buku berdebu peninggalan nenek moyang, namun entah kenapa Arthur can pull it off. Makanannya yang disangka biasa saja, ternyata malah bisa membuat orang berdecak kagum karena keperfeksionisan sang Brit terhadap plating, saucing, mis en place, dan lain-lainnya. Bisa dibilang Arthur lebih tua lima puluh tahun dari pada Lovino jika menyangkut soal masakan.
Sementara Lovino sendiri, adalah tipe fusion dish. Tipe yang bertolak belakang dengan Arthur. Lovino senang berkesperimen, rasanya menyenangkan mengetahui orang-orang menikmati hasil eksperimen pemikiran Lovino. Lovino senang berkelit diantara jemari resep primitive Perancis yang begitu mengungkung, namun Lovino bisa bilang dengan sangat bangga bahwa dia sudah melakukan kerja bagus dengan masakannya.
Handphone Lovino bergetar menyebalkan secara tiba-tiba. Lovino sudah setengah jalan kepingin mengabaikan handphone tersebut, namun dia ingat malam ini Francis ingin membicarakan soal pekerjaan. Francis bilang dia mempunyai teman yang ingin menyewa jasa Le Roi sebagai catering pernikahan. Francis tidak bilang siapa pemakai Jasa ini. Awalnya Lovino dan Arthur tidak setuju garis keras—mereka restoran, bukan Penjual Jasa Katering. Hal ini akan mencoreng nama restoran. Tapi Francis, sebagai seorang berkewarganegaraan Perancis, selalu menjadi seseorang yang fleksibel dan tidak terlalu memikirkan omongan orang lain. Dia hanya bilang pada mereka bahwa maksud Francis membangun Le Roi adalah untuk membuat orang-orang dapat menikmati masakan Perancis dengan mudah, dan itu jelas membuat luluh hati Arthur dan Lovino (walau mereka enggan mengakuinya.) Lovino jadi ingat, karena kefleksibilitasan Francis-lah dia bisa bekerja di restoran Perancis. Karena hampir seluruh orang Perancis menjunjung tinggi homogenitas, mereka bakal kaget saat mereka tahu yang membuat makanan mereka bukanlah orang Perancis, tapi orang luar yang bahkan tidak memiliki secuil pun darah Perancis.
"Halo."
"…fratello?"
Suara lembut yang sudah setengah tahun ini Lovino tidak dengar bergaung. Lovino terdiam mendengar suara itu.
"Ini Feliciano..."
Lovino tidak ingin menjawab. Lovino tidak ingin menjawab. Lovino ingin segera menutup telepon, namun itu akan menunjukkan bahwa dia seorang pengecut, iya kan? [Lovino benci dibilang seorang pengecut.]
"Apa?" tanya Lovino, suaranya sedingin es—kilasan wajah Feliciano yang bagaikan pinang dibelah dua dengan Lovino membuat dada Lovino sakit.
"Apa kau sehat…?"
"Katakan apa maumu." Kata Lovino, kali ini dengan nada sedikit memaksa dan tidak sabar. Lovino tidak memiliki lebih banyak kesabaran—seluruh kesenangan dan mood yang dia bangun semalaman penuh sudah amblas, amblas ke dasar neraka sana.
"Ah, aku, aku hanya berpikir Fratello tidak datang kemarin karena sakit… apa sakitmu parah sehingga tidak dapat datang? Apa aku perlu datang kesana menjengukmu?"
Lovino memandang kalender. Ah, begitu rupanya. Kemarin dia sudah melewatkan hari sempurna. Hari sempurna keluarga Vargas. Bukan berarti Lovino peduli atau apa. Lovino tersenyum kecut. Feliciano selalu ingin tahu. Selalu ingin tahu semua hal. "Bukan urusanmu kan, mau aku datang atau tidak? Toh ada atau tidaknya aku tidak akan membuat komet jatuh atau apa. tinggalkan aku sendiri." Lanjut Lovino tajam. "Kukira aku sudah bilang bahwa aku tidak ingin dihubungi dengan berbagai macam komunikasi. Kalau hanya itu yang ingin kau katakan, selamat malam." Lovino secara sepihak melepaskan handphone dari telinganya dan memencet tombol berwarna merah dengan brutal.
Persetan dengan Francis, pikir Lovino mengabaikan ceceran kertas di mejanya. Aku mau tidur sekarang juga.
Bumi merasa awkward dengan Razak berada di sampingnya.
Mereka sudah bekerja samping-sampingan semenjak dua puluh menit yang lalu—Bumi sedang mencuci tomat dan Razak tengah mencuci piring. Bisik-bisik terdengar di sekitar mereka dan Bumi merasa tidak nyaman. Kenapa orang-orang melihat mereka berdua seperti itu? Apa mereka merasa marah pada Razak juga, karena sudah masuk secara tiba-tiba menjadi employee restoran Le Roi? Sebelum Bumi bisa berpikir lebih jauh, Razak berbalik dengan wajah masam dan berseru, "Kalau kalian mau mengambil foto, kalian bisa melakukannya sekarang. Perlakukan saja aku seperti binatang di kebun binatang kalau itu yang kalian inginkan. Rendahan." Bagian terakhir Razak hanya bisikkan pada diri sendiri, namun tetap terdengar oleh Bumi.
Entah kenapa Bumi melihat persamaan pada Razak… dan Lovino.
Another hell hound, then, Bumi berpikir sedih.
Rekan-rekan dapur mereka segera pergi seakan-akan tidak ingin membuat Razak marah. Bumi memandang Razak dengan pandangan takjub. Sumpah, yang tadi itu berani sekali. Bumi yang sudah sering di-bully lebih parah oleh senior-seniornya tidak berani berbicara seperti itu (paling tidak secara langsung) pada mereka, kenapa Razak yang baru sehari saja sudah berani? Bumi tidak habis pikir.
Razak sendiri hanya menganggap Bumi seperti setitik kotoran yang tidak berarti—dia tidak melihat ke arah Bumi atau berbicara dengannya. Hanya menganggapnya udara kosong. Hostilitas yang membingungkan namun sudah Bumi yakini akan terjadi di antara mereka berdua ternyata tidak berubah. Kenapa Razak begitu membencinya? Padahal dia baru bertemu dengan Razak kemarin, bersama Kiku dan teman-teman.
.
"Razak pernah dikecewakan oleh orang Indonesia…"
.
Bumi teringat perkataan Akara. Dikecewakan? Bayangan seorang gadis Tanah Air menolak Razak sangat jelas di belakang mata Bumi. Dengan kelakuan Razak yang sumpah-kurang-ajar begini, jelas tidak banyak yang menyukainya secara langsung maupun tidak langsung. Bumi segera menaruh tomat terakhirnya, puas dengan berkilaunya sang tomat merah. Kemarahan Razak tidak berdasar. Kenapa dia menggeneralisasikan seluruh orang Indonesia seperti Gadis itu? Itu kan berpikiran sempit namanya. Tidak ada alasan untuk Razak berlaku seperti kakek sihir begitu, kan?
Ketika Bumi berbalik itu mengambil segentong kentang yang belum dikupas dari ujung ruangan, Bumi melihat Razak yang menatap tajam ke arah Lovino yang sibuk memasak. Lagi-lagi, Lovino sedang bereksperimen dengan makanan yang dia lakukan—Bumi sudah tahu bahwa masing-masing chef di restoran ini memiliki signature. Misalnya Berwarld yang sepertinya seorang legumes chef (4), atau Sabina—si pastry chef, patissiere—yang merupakan liquid chef (5), atau tipe fusion dish Lovino yang pemberani dan gaya. Mengesampingkan diversitas tersebut, makanan yang dihasilkan sangat kaya akan rasa, bisa dikatakan Umami (6) yang sempurna. Mata Razak menyipit dengan masakan yang dibuat oleh Lovino, mengkalkulasi, sangat intens, sebelum akhirnya dia membuang pandangannya acuh tak acuh, melenggang ke depan untuk mengecek wine di gudang wine. Semenjak tadi, mata Razak mengalkulasi tidak hanya Lovino, tapi juga semua orang yang ada di dapur.
(kecuali Bumi, tentu saja.)
"Dia menyeramkan. Mengintimidasi sekali." ucap Yong, berbicara pada Wanda, seorang commis de chefviande. "Mau bagaimana lagi, seorang jenius memang beda." Ucap Wanda sambil mengangguk-angguk. Telinga Bumi berdiri. Jenius? "Aku bingung saat pertama kali mendengar seorang Razak Abdul Kahar datang kemari… hanya untuk menjadi saucier." Bisik Wanda. "Apa Monsieur Francis gila? Monster seperti dia hanya akan membuat kita gugup. Lebih baik segera saja Monsieur Francis menendang Roxy keluar dan menjadikan Razak kepala saucier." Yong berkata dengan antusias. Roxy adalah seseorang yang menjabat menjadi saucier sekarang.
"Kalau dibandingkan dengan dia…" suara Wanda mengecil di akhir dan Yong cekikikan, pergi dari sekitar Bumi. Bumi yakin yang dimaksud dengan Wanda adalah dirinya, yang mana membuat perut Bumi langsung jatuh bebas. Monster? Jenius? Apa maksud mereka berdua? Bumi merasa disisihkan, dibuang dari masyarakat. Apa yang mereka tahu dan aku tidak tahu? Berbagai macam teori membuat Bumi merasa tidak enak dan insecure mulai menggerogoti kepala Bumi, membuat Bumi tidak konsentrasi dan akhirnya hampir memotong jarinya sendiri.
"…!" Bumi memandang jarinya yang sudah merembeskan darah merah dan segera jauh-jauh dari bahan makanan, kalau tidak semuanya akan terkontaminasi darah. Menghela nafas, Bumi segera mencuci tangannya sampai darah tidak terlihat dan mengambil kotak aid kit yang tersampir di loker. Setelah selesai membebat jemarinya sendiri, dia hampir bertabrakan dengan sebuah dinding… yang bernapas.
"Maaf—"
Bumi mendongak dan melihat Razak yang memandangnya dengan pandangan yang berbeda. Bumi refleks mundur selangkah ketika Razak mengepalkan tangannya. Ekspresi wajahnya sangat keras—seperti seorang predator yang menemukan mangsanya. Bumi memandang mata Razak, tanpa suara menantang Razak.
Ini adalah permainan psikologi, mereka yang mundur dan membuang pandangan duluanlah yang kalah. Detik demi detik berlalu, udara sangat berat, seperti ada elektrisiti yang membumbung tidak nyaman di kulit Bumi. Namun Bumi tidak akan mundur dari tantangannya sendiri pada Razak. Jika Bumi harus mempertahankan sesuatu, itu adalah kekeraskepalaannya.
"Kenapa kamu ada disini?" ucap Bumi. Ambigu. Bisa menanyakan tentang keberadaan Razak di ruang loker dan bisa juga menanyakan keberadaan tiba-tibanya di Restoran Le Roi ini.
"Karena kamu disini."
Ucapan selanjutnya dari Razak membuat Bumi mengerutkan dahi. "Aku bersyukur," bisik Razak kemudian, wajahnya masih memandang Bumi dengan tepat—Bumi memelototi Razak lebih dalam karena Razak berani maju selangkah, badan mereka tidak dibatasi oleh apapun. Aura rival yang berat dan kental menguar dari Razak, menggigiti kulit Bumi. "Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Bumi Adhiswara, di atas ring stage ini." Razak terlihat geli sekaligus puas.
"Aku… aku akan menghancurkanmu, sekuat tenagaku."
Hal ini membuat Bumi merinding dan sejenak, mata Bumi goyah. Tapi hal ini tidak luput dari mata Razak yang berwarna hitam seperti Bumi, yang berbentuk almon seperti Bumi—Razak menyeringai, primal. Seakan dia tahu dia sudah berhasil mengintimidasi Bumi. Seakan dia tahu dia yang akan ada di atas—mengalahkan Bumi. Seakan…
Seakan dia tahu Bumi tidak cukup, tidak pantas, tidak relevan, berada di restoran ini.
Dan dengan itu Razak berbalik, mengambil handuk kecil miliknya, keluar dari loker bersama.
Jantung Bumi bertalu-talu.
.
.
.
.
.
.
.
Berwarld dan Tiino berpandang-pandangan menatap Bumi yang terlihat… suram.
Mereka sedang menuju stasiun untuk pulang, dan semenjak tadi Bumi yang biasanya talkative hanya diam mengangguk dan mengiyakan namun buta akan percakapan apa yang sedang mereka bicarakan. Tiino kemudian berkata, "Bumi, apa ada sesuatu yang mengganggu dirimu?" Bumi menatap Tiino dengan pandangan kaget sebelum dia tersenyum terpaksa. "Aku tidak apa-apa, sungguh. Hanya sedikit stress." Jelas Bumi tidak hanya sedikit stres, menilik dari cara bicaranya yang layu dan tidak semangat. "Apa ini ada hubungannya dengan… kenaikkan pangkatmu?" tanya Tiino, suaranya diam. Berwarld memandang Bumi, walaupun wajahnya datar, matanya menunjukkan kecemasan. Bumi hanya tersenyum dan berkata, "Awalnya sih, iya."
"Awalnya? Jadi ada masalah lain?" Tiino mengerutkan dahi memandang Bumi.
Bumi hanya diam.
"Kau bisa cerita pada kami, tahu?" Tiino bergumam lembut, matanya yang berwarna ametis indah berkilat di kegelapan malam. "Kami temanmu, kami akan mengerti masalahmu jika kamu menceritakannya.
Bumi masih diam.
"Kami tidak akan bicara pada siapapun, pinky swear." Tiino kemudian gelagapan, "Ma-maksudku, bukan, aduh. Pinky swear terdengar seperti anak kecil! Baiklah, ayo kita ulang lagi. Kami tidak akan bicara pada siapapun, oke? Kami berjanji seperti dua orang pria dewasa." Bumi tergugu sebelum tersenyum, menatap Tiino dan Berwarld. Bumi merasa terharu dengan kekhawatiran Tiino dan wajah cemas Berwarld. Akhirnya Bumi memutuskan untuk bercerita… setengah bercerita, tentu saja, dia tidak sebodoh itu bercerita tentang kontraknya yang gila dengan Pak Francis.
Setelah selesai Tiino menganga dan Berwarld mengangguk-angguk. "Jadi, kamu mau jadi saucier juga, seperti si Razak itu? Impressive," ucap Berwarld. "Tapi Roxy tidak mudah untuk dikalahkan."
Bumi hanya menghela napas. Tiino menginjak kaki Berwarld, yang hampir saja mengaduh dengan sangat tidak elitnya.
Sekarang Bumi jadi semakin sedih, deh.
"Aaaah," Tiino kemudian meraih tangan Bumi. "Bagaimana kalau kita coba membuat dirimu jadi lebih baik?"
Mata hitam milik Bumi bertemu mata Tiino. Bertanya dalam diam 'apa yang bisa kau lakukan?'
Tiino nyengir.
"Masih ingat La Reine?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ingat dulu saya pernah bilang ada alesan mengapa Feli sama Lovi nggak tinggal bareng? Yep! Finally some dramas happening!
.
Dan kuroi uso nanya pertanyaan yang saya tau cepat atau lambat bakal ditanyain :
"ini cerita rated M karena nanti ada adegan dewasanya atau karena pengucapan bahasanya yang agak kasar gitu?"
Saya jawab disini ya.
Fanfik ini rate-M karena emang di masa depan (di cerita pertengahan menuju akhir, yang mana masih cukup lama, karena saya penganut slow-built) bakalan ada SEXUAL CONTENT-nya. Iya, anda nggak salah baca. Walau saya agak aneh nulis smut dalam bahasa Indonesia… walau saya bakalan awkward banget nulis birds and bees… saya akan berjuang… (lemah)
Dan sebagai kompensasinya, untuk yang sekarang, marilah kita bilang fanfik ini rate-M karena bahasanya yang bukan Cuma agak kasar, tapi kasar banget.
Tapi saya masih ragu nih nulis Sexual content (pengecut) jadi buat reader, bisa tolong saya nanya? Kira-kira saya harus turunin sexual content dari lemon ke lime atau gimana nih? Atau saya harus turunin ke rate-T aja biar nggak mbingungin? Monggo dituang semuanya di review!
.
Daaaan yang kemaren ngereivew pake akun, silahkan buka PM yaaa~
: daging bacon yang dibebat jadi satu lalu dipanggang.
mariniere : kerang besar yang dimasak dengan wine, daun thyme dan bay leaves.
de Veau : ragout versi Perancis, atau rebusan kental yang berbahan veal, mirepoix, mentega, krim dan tepung supaya viskositasnya tinggi. Inget rendang? Kayak gitu, minus warna hitam dan dagingnya.
chef : chef yang orientasi masakannya bersandar pada sayuran.
chef : chef yang poin tingginya berada dalam cairan yang dia masak, seperti caramel, fondue, jus, puree dst.
: lima rasa harmonis yang berada dalam satu masakan. Makanan yang memiliki umami biasanya adalah makanan yang sudah dijaga selama berabad-abad.
Review, please? They make me smile.
Pojok-balesin-komen :
Hompimpah : xDDD makasih udah komen, darlingz!/AnonAnon : WHOA SENPAI. OMG ANOTHER PICK UP LINE I CAN'T? XDDD apa jadi senpai adalah cenayang? xDDD TADAIMA SENPAI :'''')) BTW…. ALHAMDULILLAH AKU KETERIMA SENPAI AKU UDAH JADI CAMABA. XDDD obsesi oom-oom… kalo senpai pengen tahu, senpai bisa liat di KDrama 'Greatest Love', nah yang cowok pemeran utamanya itu Hatta Gibran HAHAHA. NYURI FAMILY NAME—((CHOKING)) OKE MAKASIH SENPAI ;-;/cendol goreng : ADUH KALO SAMA SEMUANYA… eh boleh juga kali ya. ((ditampar)) saya juga paling ga suka sama Mary Sue, jadi tenang, saya akan berusaha supaya Bumi ga jadi Mary Sue. Hmmm bisa dibilang Cuma temen sekilas yang /oh gue tau dia sapa tapi… gue gakenal namanya…/ dan ketidakberuntungan Arthur adalah bahwa Bumi GA INGET dia sapa dan GA INGET namanya siapa. Kasian kakek Arty : ( Arthur kan mau ngelingdungin Bumi ceritanya… tenanggg soal lempar-lemparan sindiran mungkin ga bakal terjadi sekarang tapi WILL TOTALLY DO IN THE FUTURE… munculin laaah saya suka sama Grey dan Jazz soalnyaaa~/Megumi Yoora : EHEHEHEHE… kalo soal Arthur atau Lovi… well, kan ini Harem xDD tapi akhirnya masih sama Lovi… mungkin… Aduh nethere adain ngga ya… adain deh. Tapi mungkin ngga sekarang, slotnya udah abis buat dia X-X ahaha, iyaya? Kamu lulusan SMA juga? Alhamdulillah aku udah dapet PTN yang diincer. Hehe kita semangat jadi maba, yaaa xDDD/Tomochi : WAAA TOMOCHI DATENG. Wkwkwk RomaNes For The Win~~~ ARTHUR ALISNYA NTAR TAMBAH TEBEL SOALNYA DIA NANTI AKAN SEMAKIN NGGA DI NOTIS… diem-diem ya, saya Cuma kepingin bikin Arthur menderita karena di salah satu fanfik Hetalia yang saya suka… malah Romano yang menderita (PASTILAH TAU YAKAN YADONG TAU LAH FANFIK YANG MANA) yaudah deh… saya membully Arty heheheHEHEHE. OKEY MAKASIH DAH REVIEW~
