"Kyungie.. eomma harus pergi, maaf karena tidak bisa terlalu lama menemanimu" ujar Heechul. Hati yang sedari tadi berapi-api kini mulai padam saat mendengar penuturan lembut wanita paruh baya didepannya ini. Dia adalah sosok malaikat yang selalu ia idamkan, ohh bagaimana bisa ia menyakiti wanita ini. Tidak .. Kyungsoo tidak akan menyakitinya, ia hanya akan menyakiti Luhan.. ia akan merebut semua yang menjadi kebahagiaan Luhan. Wanita itu sudah mendapatkan kebahagiaanya selama ini, dan salahkah jika kini ia berharap kebahagiaan itu akan menjadi miliknya?

"Ne Eomma.. hati-hati hmm?"

"Ya sayang.. sampai jumpa Haowen.. Nenek akan menemuimu lagi nenti ne" ujar Heechul mengecup sekali lagi bayi mungil itu dan segera meninggalkan ruangan Kyungsoo. Wanita itu kini tengah menangis, hati dan fikirannya berperang antara ingin dan tidak ingin menyakiti orang lain. Namun demi melindungi anaknya ia harus mengambil keputusan. Yaa… ia harus.

"Maaf Eonni… aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaanku kini" gumam Kyungsoo

.

.

.

.

.

.

"Sehun kau kenapa? kenapa sedari tadi kau cemberut?" Tanya Luhan penasaran.

"Tidak" ketusnya lalu kembali beralih pada makan siangnya menghiraukan tatapan bingung Luhan. Wanita itu menghela nafas lelah, sejak mereka bertemu dengan Kris Sehun jadi sedikit menyebalkan. Entahlah Luhan terlalu malas untuk berfikir terlalu jauh, melihat suaminya yang seperti ini membuatnya sedikit kesal.

"Kalau begitu aku pergi dulu, aku tidak bisa meninggalkan Kyungsoo terlalu lama" Luhan berdiri namun dengan sigap suaminya itu menarik tangannya untuk kembali duduk. Tatapannya menyeramkan, begitu tajam membuat bulu kuduk wanita itu sedikit meremang. Ada apa dengan suami tampannya itu?

"Kau ingin menemani Kyungsoo atau menemui pria itu?" tanyanya sarkastik. Luhan mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan Sehun, pria? pria mana yang suaminya itu maksud. Luhan berfikir dan dirinya teringat dengan Kris. Hatinya menghangat kala dia menyadari bahwa suaminya itu sedang cemburu dan Luhan yakin dengan itu. Sebuah ide terlintas diotaknya, sedikit menggoda suaminya itu tidak apa kan? kekeke' innernya.

"Siapa yang kau maksud Sehun?" Tanya Luhan pura-pura bodoh, wajah polosnya membuat Sehun menoleh malas padanya.

"Kufikir kau tau siapa pria yang kumaksud Baby"

"Ahh.. Kris maksudmu? Aku baru ingat dia baru pulang dari Jerman kemarin dan aku yakin dia sedang memeriksakan kesehatannya tadi. Aku belum bertemu dengannya 2 minggu ini. Apa sebaiknya aku menemuinya?" Kyuhun mengulum senyum melihat tangan Sehun terkepal erat, suaminya benar-benar memberikan respon yang dia harapkan.

"perlukah aku menjawab pertanyaanmu sayang?" Sehun mengangkat kedua alisnya berharap istrinya mengerti, namun sepertinya Luhan masih asyik menggoda suaminya itu.

"Baiklah.. aku fikir kau mengijinkannya Sehun" Luhan bersiap berdiri namun..

"Berani melangkah pergi aku tidak akan melihatmu lagi Luhan" ancaman Sehun mampu membuat Luhan gelagapan, niat untuk menggoda suaminya gagal karena ia lebih takut jika Sehun kembali mengacuhkan dan mengabaikannya. Luhan hanya menggangguk pasrah saat Sehun memberi tatapan mengintimidasi. Tapi itu semua tak menutupi kebahagiaan hatinya, dia tak menyangka jika Sehunnya mempunyai sifat yang posessive seperti ini dan sedikitnya itu membuat hatinya lega.

"Bagus anak baik" puji Sehun setelah mendapatkan anggukan patuh dari istri manisnya. "Kajja" tangannya Sehun genggam setelah pria itu kecup membuat sang istri kembali merona. Hal yang sepele namun sangat manis, ahh hatinya dipenuhi dengan bunga-bunga saat ini.

.

.

.

.

Beberapa hari setelah dirawat Kyungsoo sudah diperbolehkan kembali kerumah oleh pihak Rumah Sakit. Dirinya ingat meski dialah yang dirawat namun suaminya memberi perhatian yang berlebihan terhadap istri pertamanya itu, apalagi jika malaikatnya hadir diantara mereka. Mereka seperti keluarga bahagia sementara dirinya hanya bisa menonton drama romantic itu dengan kepalan tangan dan hati yang membara. Hanya saja dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Heechul bahkan Jaejoong beberapa kali mengunjunginya berikut suami-suami para wanita paruh baya itu. Kyungsoo hanya bisa menahan kekesalan karena mereka semua mengacuhkan dirinya yang memang belum dalam kondisi baik. Mereka semua juga terlalu sibuk memuji Luhan dan memberikan panjatan do'a kepadanya agar segera mendapat momongan dengan sang suami. Hell bahkan Kyungsoo tahu jika Sehun tidak pernah meniduri Luhan, setidaknya itu yang dia tahu. Karena itu Kyungsoo terus merengek pada Sehun agar segera pulang dan istirahat dirumah. Selain karena ia tidak nyaman tinggal dirumah sakit ia juga menghindari para wanita tua yang terus mengganggunya, terutama Jaejoong yang kerap kali membuatnya muak dengan segala sikap acuhnya, apalagi perkataannya yang selalu membuatnya merasa menjadi wanita murahan yang merusak rumah tangga orang lain. Bukankah julukan itu lebih pantas untuk Luhan? Bahkan wanita itu yang merebut Sehun darinya. Kyungsoo berjalan perlahan menuju dapur untuk mengambil air karena ia merasa sangat haus, wanita itu tidak ingin membangunkan suaminya yang sedang terlelap karena kelelahan sedangkan Luhan sudah berangkat kekantornya sedari pagi. Dirumahnya sedang ada Jaejoong yang memang ingin menemui sikecil.

"Jadi apa hasilnya?" suara itu terdengar sangat pelan dari arah taman belakang yang memang satu pintu dengan area dapur. Kyungsoo mendekat mencari tahu siapa yang sedang berbicara. Retinanya melihat ibu mertuanya sedang menelpon seseorang dengan serius, merasa penasaran Kyungsoo bersembunyi dibalik pintu agar telinganya bisa mendengar lebih apa yang dibicarakan Jaejoong.

"Kau yakin?"

"…."

"Hmm jadi bayi itu benar-benar milik Sehun"

"…."

"Baiklah terimakasih untuk bantuanmu"

Pip

Kyungsoo segera masuk kekamar Haowen mengetahui ibu mertuanya sudah mengakhiri panggilannya. Tangannya terkepal erat, dia semakin membenci wanita yang selalu menyakiti hatinya itu. Tentu saja Haowen anak Sehun memang selama ini dia tidur dengan siapa lagi selain dengan Sehun. Melihat anaknya yang tertidur pulas membuatnya kembali terenyuh, anaknya sudah diragukan dan itu salah satu bukti jika ibu mertuanya berusaha memisahkan mereka bertiga. Sayang sekali Kyungsoo tidah selemah dan sebodoh itu.

"Baik jika maumu seperti itu Eomonim, aku akan mengikuti permainanmu" seringainya. Demi Haowen dan juga kebahagiaanya ia akan melakukan apapun. Anaknya adalah pewaris dari keluarga Oh dan ia akan memastikan itu. Luhan bahkan siapapun tidak boleh menghalanginya, ia akan memastikan jika pada akhirnya Sehun memang hanya untuknya bersama Haowen tentunya.

"Kau tenang saja sayang.. Eomma akan memastikan kau mendapatkan hakmu yang seharusnya. Tidak ada orang yang akan merusak kebahagiaan kita bersama Daddy mu. Dan Mommymu .. Eomma akan berusaha menyingkirkannya" gumamnya .

.

.

.

.

"Baby.. aku merindukanmu"

Orang yang dipanggil hanya tersenyum lalu memeluk ringan sahabatnya ini. "Sudah berapa kali jangan menyebutku seperti itu Kris"

"Aku tidak bisa.. dan aku tidak mau" ketusnya.

"tapi—hahh baiklah terserahmu saja" Kris hanya terkekeh geli melihat raut kesal Luhan. "Bagaimana keadaanmu heum? apa kau baik? kudengar kemarin kau sempat demam, jadi itu alasannya aku menemukanmu dirumah sakit?" Tanya Luhan bertubi sembari meletakkan tangannya dikening Kris. Pria itu menatap dalam mata wanitanya sampai kapanpun ia akan selalu jatuh dalam pesonanya. Tidak ada yang bisa menggantikan wanita ini dihatinya, dia akan menjadi satu-satunya untuk pria itu. Kris memegang tangan Luhan lalu mengecupnya. Wanita itu reflex melepaskan tangannya terkejut dengan apa yang dilakukan Kris, sebenarnya dia terbiasa dengan hal itu jika saja statusnya masih lajang, namun keadaanya akan berbeda saat dia memiliki suami. Orang akan berfikir jika dia adalah tipe wanita tukang selingkuh dan Luhan tidak mau itu terjadi. Tapi hatinya juga tidak pernah bisa berhenti untuk peduli dengan Kris, bagaimanapun Kris adalah pria yang selama ini ada untuknya, melindunginya dan menjaganya meski itu tak luput dari kesalahan yang pria itu perbuat dimasa lalu.

"Aku baik-baik saja sayang… aku hanya terlalu merindukanmu"

"Kris jika orang lain mendengar mungkin mereka akan mengira jika aku sedang berselingkuh denganmu, kumohon jangan memanggilku seperti itu heum?"

"Kau sungguh bahagia dengan kehidupanmu sekarang?"

"Ya Kris, maafkan aku.. aku harap kau mengerti"

Pria itu menghela nafas berat, rasa tidak rela kembali menjalar kehatinya. Kenapa? kenapa bukan pria itu yang Luhan pilih. Jika saja dia bisa membeli hati wanita itu dengan uang mungkin ia akan rela kehilangan seluruh kekayaannya demi mendapatkan hati Luhan. Tapi pria itu tahu bahwa wanitanya bukanlah wanita jalang yang gila uang seperti kebanyakan yang ia tau. Wanitanya adalah malaikat yang meraihnya saat terpuruk, wanitanya adalah bidadari yang memiliki hati selembut sutra. Dan itu cukup membuatnya tergila-gila.

Flashback On

BUAGH.. BUAGH.. remaja laki-laki itu tersungkur dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Tubuhnya sudah tak berdaya menghadapi beberapa orang yang memukulinya dengan sadis.

"Dasar bajingan tidak berguna ! itulah mengapa orang tuamu membuangmu !" teriak salah satu anak dari gerombolan itu.

"Cuihhh" seseorang bahkan meludahi wajahnya yang sudah berlumuran darah. "Lebih baik kita habisi saja dia" mereka semua mengangguk bersiap memberi pukulan lagi terhadap anak laki-laki yang sudah lemah itu sebelum sebuah peluit terdengar digendang telinga mereka.

Gerombolan itu menatap malas pada gadis yang sedang meniup peluit itu. Siapa lagi jika bukan anak dari ketua yayasan sekolah mereka. Gadis itu Luhan.. gadis cantik yang sangat bersinar, pintar, berani, lembut. Dia bahkan terlalu sempurna untuk dikatakan sebagai bidadari.

"Ayo kita pergi, akan jadi masalah besar jika gadis itu melaporkan kita pada ayahnya"

"Yakk ! kemana kalian.. hadapi aku jika kalian memang berani" teriak Luhan yang langsung mendapatkan helaan nafas malas dari mereka yang berlalu melewatinya. Namun sedetik kemudian ia teringat laki-laki yang dipukuli tadi. Dengan sigap Luhan mendekati laki-laki yang sudah terduduk lemas.

"Heyy kau tidak apa-apa?" Tanya Luhan khawatir namun laki-laki itu menepis kasar tangan Luhan.

"Pergi. jangan mengasihaniku"

"Siapa yang mengasihanimu, aku hanya ingin mengobati luka-lukamu" namun lagi-lagi ucapannya dihiraukan namja itu. Dia bahkan berusaha berdiri dengan susah payah meski Luhan mencoba membantunya namun namja itu kembali menolaknya. Luhan yang khawatir mengikuti namja itu dari belakang.

"Sampai kapan kau akan mengikutiku?" yang ditanya hanya mengedikan bahunya acuh. Namja itu mendengus lalu kembali melangkah tertatih hingga tak lama kemudian dirinya sudah berada dirumah sederhana yang tidak jauh dari sekolah.

"Kau tidak berguna ! sama seperti anakmu !"

"Kau yang tidak bertanggung jawab ! setiap hari kerjamu hanya mabuk-mabukan ! kau fikir uang kucari hanya untuk membuaskan hasrat minummu !"

"Lalu apa bedanya dengan anakmu?! bisanya hanya berkelahi ! dan kau? menjual tubuhmu untuk mendapatkan uang? menjijikan"

"Dia bukan anakku ! dia anakmu ! dan juga itu bukan urusanmu ! kau bahkan lebih menjijikan !"

Tangan yang hampir saja memegang kenop pintu itu ia urungkan, namja itu menghela nafas berat lalu berbalik meninggalkan rumah yang akan disinggahinya dengan tangan yang terkepal erat. Luhan yang mendengar semua itu terenyuh, hatinya begitu sakit kala mendengar kata-kata menyakitkan yang terlontar dari dua orang didalam sana. Ia baru mengetahui jika ada orang tua sekejam itu yang tidak meganggap anaknya. Karena khawatir sekaligus penasaran Luhan kembali mengikuti namja itu yang kini mereka sudah sampai didepan aliran sungai yang menyejukkan mata. Namja itu menatap kosong kedepan. Luhan mendekat perlahan lalu menangkup wajah namja itu dengan kedua tangannya membuat orang didepannya ini meringis.

"Kau masih mengikutiku?" namun Luhan tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan beberapa antiseptic dan tissue basah untuk mengobati luka-lukanya.

"Hentikan itu ! aku bisa melakukannya sendiri" kembali namja itu menepis namun kali ini Luhan tidak ingin mengalah ia dengan sekuat tenaganya kembali mengobatinya.

"Luhan .. namaku Luhan"

"Aku tidak bertanya"

"ya.. dan bolehkah aku tau siapa namamu?"

"Kris" jawaban singkat itu membuat Luhan tersenyum. Lalu tangannya beralih mengobati luka dikaki Kris. Kris menatap dalam gadis yang menurutnya keras kepala ini, manis, cantik dan terlihat tulus. Kris terpesona dan jantungnya berdebar lebih cepat kepada seseorang untuk pertama kalinya.

"Selesai. Senang berkenalan denganmu Kris" gadis itu tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya membuat Kris semakin salah tingkah.

"kau senang? sekarang jangan ganggu aku" ketusnya lalu beranjak meninggalkan Luhan yang semakin tersenyum.

.

.

.

Berbeda dengan apa yang ia perintahkan gadis itu malah semakin gencar mendekatinya, Luhan dia selalu datang kekelasnya dan membawa makan siang untuk mereka berdua. Gadis itu bahkan selalu mengganggunya saat ia membolos dan merokok diatap sekolah. Kris berusaha menghilangkan pemikirannya jika ia menyukai gadis itu. Semakin lama kelakuannya membuat Kris semakin jengah karena Luhan selalu melarangnya dan melakukan apapun yang ia tidak suka, dan itu membuatnya semakin kesal.

"Bisakah kau berhenti mengikutiku?"

"Tidak.. aku sahabatmu"

"Cihh apa kau selalu menyebut dirimu sebagai sahabat pada setiap orang?"

"Maksudmu?" Kris terkekeh.

"Bagaimana dengan si hitam yang selalu mengekor dibelakangmu itu? dia juga sahabatmu?" gadis itu tersenyum.

"Yaa dia juga sahabat terbaikku. Dan kau sahabat baruku Kris" namun jawaban itu membuat namja itu kembali jengah. Dengan kesal Kris meninggalkan Luhan yang terkekeh, biasanya gadis itu tidak seagressif ini namun saat melihat Kris entah mengapa rasa peduli itu semakin kuat, bukan karena kasihan dan simpati namun karena hatinya benar-benar tulus ingin berteman dengan namja itu.

.

.

.

Hari itu Luhan dengan riang akan mengajak Kris untuk menemaninya ke toko buku karena Jongin sedang sibuk dengan klubnya. Gadis itu bersenandung ria menuju tempat teman barunya, meski ia akan mendengar kalimat-kalimat tajam dari mulut Kris namun namja itu tidak pernah tidak mengikuti kemauannya. Yaa meskipun gerutuan itu sering kali dilontarkan oleh mulutnya namun saat Luhan meminta sesuatu lelaki itu akan sigap membantunya.

PRAAANGG

"Anak tidak tahu diuntung ! beraninya kau menolak keinginanku !" Luhan terkejut dengan teriakan dan suara-suara berisik dari dalam rumah Kris.

"Kau hanya selalu menghamburkan uang untuk berjudi dan mabuk ! ini uang untuk biaya sekolahku yang kuhasilkan sendiri ! kau tidak berhak memintanya !" jawab Kris.

"Kau dan ibumu yang pelacur itu sama-sama tidak berguna ! pergi kau dari sini !" Kris yang sudah lelah dengan keluarganya segera berlari meninggalkan rumahnya, namun saat membuka gerbang ia melihat gadis yang akhir-akhir ini mengganggu fikirannya berada didepannya dan menatap sendu matanya. Itu adalah hal yang paing ia benci, tatapan mengasihani dan iba dari setiap orang. Dan Luhan melakukannya saat ini, walau pada dasarnya tatapan Luhan adalah tatapan kekhawatiran namun karena gelap mata lelaki itu menganggapnya berbeda.

"sedang apa kau disini?!"

"A-aku…"

"KUBILANG SEDANG APA KAU DISINI !" teriakan Kris mampu membuat gadis itu terkejut dan gemetar. Sekalipun Kris sering membentaknya namun ia tidak pernah berteriak seperti itu padanya.

"K-Kris aku .. aku.."

"BERHENTI MENGANGGU HIDUPKU ! KAU HANYA MEMBUATKU TERLIHAT MENYEDIHKAN ! KAU FIKIR AKU SENANG SAAT KAU MENDEKATIKU HAH ?! MAAF NONA MUDA TAPI JANGAN FIKIR DENGAN KEKUASAAN YANG KELUARGAMU MILIKI KAU BISA DENGAN MUDAHYA BERTEMAN DENGANKU ! KAU TIDAK LEBIH DARI GADIS MANJA YANG MENGANDALKAN KEKUASAAN ORANG TUAMU ! DAN AKU MEMBENCI GADIS SEPERTI ITU ! AKU MUAK PADAMU ! JADI PERGI DARI HIDUPKU SEKARANG JUGA !" setelah berteriak Kris melarikan diri meninggalkan Luhan yang terpaku dan menangis dalam diam. Baru kali ini ia melihat Kris yang benar-benar terlihat sangat murka. Gadis itu berusaha melangkahkan kakinya yang berat walau akhirnya ia berkali-kali terjatuh, dan terus seperti itu hingga ia ditemukan pingsan didekat rumah Kris dengan wajah pucat.

.

.

.

Sudah 2 minggu kejadian Kris membentak Luhan, selama itu pula lelaki itu tidak mendapati Luhan yang datang kekelasnya membawa makanan ataupun mengganggunya diatap. Kris merasa sedikit bersalah dengan apa yang ia katakan pada gadis itu tempo hari. Kembali dia menggelengkan kepalanya berfikir bahwa ini memang yang terbaik, seorang gadis kaya tidak akan cocok berteman dengan namja miskin sepertinya. Kris tidak mau semua orang mencemooh gadis yang disayanginya, biarlah dia hidup dalam hinaan orang lain namun tidak dengan gadisnya, lelaki itu tidak sanggup mendengar dan melihatnya ini adalah jalan yang terbaik.

Tapi mengingat selama ini hanya gadis itu yang tulus padanya Kris kembali memberenggut. Gadis itu benar-benar membuatnya gila. Okke Kris menyerah sekarang, ia akan menghilangkan egonya dan mencari tahu kemana gadis itu setelah menghilang 2 minggu ini.

"Hey kau.." Jongin menoleh pada lelaki yang memanggilnya dengan tidak sopan itu.

"Ada apa?" ketusnya lalu kembali dengan makanannya.

"Kau sahabat Luhan kan? bisa kau beritahu dimana dia sekarang?" Tanya Kris yang dibalas tatapan menyelidik dari Jongin.

"Ada urusan apa kau dengannya?"

"Baiklah jika kau tidak ingin memberi tahu aku bisa mencarinya sendiri" Kris beranjak dari duduknya.

"Dia sakit" Kris menghentikan langkahnya. Lalu kembali duduk dan mendengarkan Jongin.

.

.

.

Kris berlari dilorong rumah sakit menuju ruangan yang diberi tahu Jongin. Tidak peduli jika bajunya basah dengan keringat setelah dia berlari dari sekolahnya kerumah sakit seperti orang gila. Kata-kata Jongin terngiang diotakya.

"Luhan dirawat dirumah sakit karena Typus. 2 minggu yang lalu dia ditemukan pingsan di kawasan belakang sekolah. Demamnya sangat tinggi bahkan ia sering mengigau dan menangis berkata 'maafkan aku Kris' entah siapa orang itu. Namun yang pasti keadaanya semakin memburuk hingga dia harus dirawat dirumah sakit"

"Maaf .. maaf" kalimat itu terus terlontar dari mulut Kris. Pintu itu terbuka dengan tidak elegannya, tidak peduli jika itu mengganggu penghuni yang berada disana yang lelaki itu butuhkan hanya melihat wajah cantik dari gadis yang selama ini dicintainya. Kris sudah menyadarinya jika ia mencintai Luhan. Disana ia melihat Luhan sedang duduk diranjangnya menatap dirinya bingung.

"Kris?" Tanya Luhan. Lelaki itu hanya mengambur kepelukan Luhan dan mencium keningnya berkali-kali menyalurkan rasa khawatir dan cinta sekaligus.

"Maafkan aku.. Maafkan aku Lu" Luhan tersenyum dan membalas pelukan Kris.

"Tenanglah aku sudah memaafkanmu Kris" lelaki itu menatap Luhan lalu kembali mencium keningnya lembut membuat kedua mata mereka terpejam.

"Maaf karena sudah berkata kasar, saat itu aku hanya emosi aku tidak benar-benar menginginkanmu pergi Luhan"

"Aku tahu.. karena kau tidak bisa hidup tanpaku kekeke"

"Yaa aku tidak bisa hidup tanpamu Luhan"

"Heumm tenang saja sahabatmu ini akan selalu disampingmu, jadi jangan menyembunyikan apapun lagi dariku arraseo !"

Lelaki itu tersenyum lalu memeluk gadis itu lagi. Dia berjanji tidak akan menyakiti lagi gadisnya ini, meski ada rasa tidak rela saat Luhan hanya menganggapnya sebagai sahabat namun itu sudah lebih cukup baginya untuk bisa menjadi orang terdekat gadis ini.

.

.

.

Setahun sudah mereka berteman, Luhan sudah menginjak kelas 2 SHS sedangkan Kris 1 tahun diatasnya. Mereka semakin dekat, hingga tiba-tiba kejadian mengenaskan membuat Kris sedikit tertekan dan depressi, orang tuanya bercerai.. lalu beberapa hari setelah itu dia menemukan ayahnya tewas secara mengenaskan didepan rumahnya. Esoknya hal yang sama juga terjadi pada ibunya. Kris shock berat, bagaimanapun dia masih remaja yang tingkat emosinya masih labil. Dia mengingat setiap para penagih hutang itu datang kerumahnya dan dia akan selalu berakhir dengan dipukuli oleh ayahnya. Sedikit banyaknya tragedy itu membuat dirinya senang sekaligus sedih. Hingga disaat yang paling buruk dia melihat Luhan tertawa setelah bercerita bahwa dia mencintai seseorang yang menolongnya dari tindak kekerasan yang dialaminya seminggu sebelumnya, gadis itu begitu memuja lelaki itu. Seorang pahlawan yang datang tepat waktu saat gadisnya berada diambang kehancuran karena hampir diperkosa oleh beberapa preman kota. Sehun.. nama itu yang terlontar dari mulut gadisnya, nama seseorang yang sudah mencuri hati gadisnya, nama seseorang yang membuatnya muak. Kesalahan fatal karena gadis itu berbahagia saat sahabatnya dalam masa terpuruknya. Sedikitnya apa yang gadis itu alami sebelumnya membuatnya terpukul, dia gagal melindunginya, dia gagal menjaganya. Hingga gadis itu harus diselamatkan oleh orang lain. Salahkan emosinya yang tidak stabil dan egoismenya yang masih tinggi membuat Kris memikirkan hal negative terhadap gadis didepannya. Luhan tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Kris, lelaki itu hanya terlihat lebih murung akhir-akhir ini.

Pulang sekolah hari itu Kris yang sudah cemburu menjadi gelap mata sehingga menculik Luhan dirumahnya yang kumuh. Gadis itu menangis pilu tak menyangka jika sahabatnya melakukan perbuatan seperti itu. Hingga saat yang paling menakutkan adalah saat Kris merobek paksa seragam sekolahnya, mengoyaknya menciumnya dengan paksa. Luhan terkejut karena dia harus mengalaminya lagi.. percobaan pemerkosaan, yang lebih membuatnya sakit adalah orang itu sahabatnya sendiri, sahabat yang begitu ia sayangi. Hal itu tidak bisa menahan air matanya untuk terus mengalir berharap akal sehat hinggap difikiran lelaki itu. Seakan tersadar dari tindakan jahatnya saat mendengar isakan sang gadis yang pilu membuatnya menghentikan segala tindakan kejinya.

"Maafkan aku hiks.. maafkan aku" kata-kata itu begitu menyayat hati Luhan yang ketakutan setengah mati. Namja itu memeluknya erat menutup tubuhnya dengan jaket miliknya, mencium keningnya berkali-kali. Tapi Luhan tetap merasakan takut yang teramat sangat.

Setelah kejadian itu Luhan tidak berani menemui Kris, namja itu juga menghindari Luhan. Sampai saat dimana gadis itu mengetahui bahwa Kris pergi ke Jepang tanpa berpamitan dengannya. Lelaki itu diadopsi seorang pengusaha disana, katanya seseorang yang memang telah lama dikenal Kris. Hari itu juga Luhan mengetahui apa yang terjadi dengan Kris. Gadis itu menyesal, seharusnya dia tidak perlu menjauhi Kris yang seperti itu. Dan dia berharap bisa bertemu dan meminta maaf padanya suatu saat nanti.

Tapi alangkah terkejutnya saat 6 bulan kemudian namja itu berada didepan rumahnya dengan wajah yang berantakan, gadis itu menangis mendapat kabar bahwa selepas kepergiannya dari Korea Kris sering mengamuk dan kalap, dia selalu menyebut namanya. Pernah dia ditemukan pingsan saat berusaha melompat dari atas balkon. Kris dia depresi berat dan trauma membuatnya semakin parah, hingga ia harus dirawat dirumah sakit jiwa selama 2 bulan. Kesehatannya berangsur membaik saat Luhan menemaninya dan selalu berada disisinya. Hingga orang tua angkatnya meninggal tepat setahun kemudian dan menyerahkan perusahaan itu pada Kris. Tentu saja Kris yang menahan Luhan untuk tetap disisinya. Itulah alasan mengapa Luhan bekerja dengannya. Hingga saat ini Luhan bahkan tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap pria itu menjaganya dan selalu menjadi obat penenang baginya.

Flashback Off

.

.

.

KLIK

Pintu kamar Luhan terkunci, langkah kaki yang berat itu perlahan mendekat. Dipandangnya wajah polos seseorang yang berhasil mengacukan fikirannya akhir-akhir ini. Sehun mendekat mencium lamat-lamat kening istrinya. Dia sadar, dia sudah sangat menyayangi istrinya ini. Hanya saja dia belum yakin jika itu cinta. Merasakan ada pergerakan yang mengganggu membuat wanita itu membuka matanya. Senyumnya mengembang kala melihat suaminya yang sudah wangi dan tampan berada didepannya.

"Hai sayang" Sehun mengelus rambut Luhan yang terlihat berantakan dan menyampirkannya.

"Hai Sehun"

CUP

"aku merindukanmu Luhan" Sehun memeluk erat tubuh istrinya yang masih terbaring setelah mengecup bibirnya. Luhan tersenyum dan mengelus punggung suaminya pelan.

"Aku juga sayang, kau akan tidur denganku malam ini?"

"Heum tentu saja sayang.. Luhan…" Sehun beringsut membaringkan dirinya disamping Luhan, mereka berhadapan dengan Sehun yang masih mengelus lembut rambutnya.

"Heum?"

"Aku menyayangimu.. jangan tinggalkan aku kumohon" Wanita itu mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan suaminya.

"Hey kenapa berbicara seperti itu?"

"Aku hanya takut.. aku takut kau meninggalkanku, karna aku bukan suami yang baik untukmu"

"Tidak Sehun.. kau suami terbaikku"

"Tapi aku menduakanmu" kata-kata itu membuat Luhan tertegun, namun kembali dia menepis segala fikiran negative bukankah itu permintaanya? bukankan itu yang ia inginkan? lantas kenapa sekarang dia harus menyesal?

"Tidak sayang, mereka berdua adalah bagian hidupku saat ini. Aku bahagia memiliki mereka.. Dan sampai kapanpun aku akan selalu disisimu"

Sehun terkesiap, betapa mulianya hati istrinya itu. Rela untuk dimadu olehnya, membagi segalanya dengan wanita lain. Bolehkah dia berharap, jika dikehidupan berikutnya ia akan tetap bersama wanita ini? dan hanya wanita ini. Tuhan begitu baik mengirimkan malaikat ini padanya, dan dengan kejamnya dia selalu menyakiti hatinya. Sehun berjanji tidak akan menyakiti hati istrinya ini. Janjinya adalah dia akan memberikan sisa hidupnya untuk membahagiakan Luhan. Ya kita lihat saja, semoga itu benar adanya.

"Janji?"

"Janji" Luhan tersenyum melihat tingkah manja Sehun, apalagi saat wajahnya memberengut dan menyodorkan kelingkingnya untuk membuat janji dengannya. Sikap suaminya semakin hangat dan manis. Membuatnya berkali-kali lipat bahagia, apakah Sehun mulai mencintainya?

"Sayang…"

"Ya…"

"Jangan terlalu dekat dengan atasanmu itu" ucapan itu membuat Luhan terkekeh, sekarang dia tahu alasan dibalik permintaan Sehun tadi. Suaminya itu tengah cemburu dengan sahabatnya. Namun Luhan tidak ingin membuat suaminya semakin cemburu, ia hanya menganggukan kepalanya membuat Sehun semakin erat memeluknya.

"Tidurlah"

"ya sayang.. kau juga"

CUP

"Jaljayo Baby.."

"Hmm jaljayo Sehun"

.

.

.

PRRAANGG ..

Terdengar pecahan yang membuat Sehun membuka matanya seketika, ia meraba sebelahnya namun kosong. Pria itu segera turun dan mencari arah keributan pagi ini. Dia terkejut melihat Kyungsoo yang memarahi Luhan karena susu untuk Haowen berhamburan dilantai.

"Eonni ! Apa yang Eonni lakukan? Kau menumpahkan semua susu Haowen !" bentaknya.

"Mi-mianhae Kyungie aku tidak sengaja. Tapi tadi kau mengejutkanku tiba-tiba berada dibelakangku"

Kyungsoo memutar matanya jengah "Aku sedang mengambil minum Eonni, kau yang melamun terus. Haowen mungkin akan terbangun karena dia belum mendapatkan susunya dari semalam. Jadi siapkan segera susunya. Aku harus berolah raga agar tubuhku kembali seperti semula. Mengandung dan melahirkan membuat tubuhku melar"

"KYUNGSOO !" Keduanya terkejut melihat Sehun datang dengan aura yang mematikan, tatapannya begitu mengintimidasi. Kyungsoo menunduk takut, ia tahu Sehun tengah marah kini. Kesalahan bodoh karena dia lupa bahwa suaminya masih ada dirumah mereka membuatnya tidak bisa leluasa menindas istri pertama suaminya itu.

"Kau ! berani sekali kau menyuruhnya ! Dia bukan pembantumu !" telunjuk Sehun mengarah tepat pada wajah istri keduanya, matanya melotot rahangnya mengeras. Kyungsoo sadar suaminya itu tengah murka.

"A-aku hanya meminta tolong Oppa" lirihnya.

"Haowen anakmu ! kau yang seharusnya mengurusnya bukan Luhan !"

"Ta-"

"Sehun sudahlah, aku memang ingin melakukannya"

"SHUT UP LUHAN ! Haowen anak Kyungsoo ! bukan anakmu !" Luhan menatap nanar suaminya. SIAL ! dia salah bicara, seharusnya dia lebih pintar dalam memilih kata. Lihatlah wajah istrinya yang mulai berkaca-kaca. Ohh Sehun tahu ini adalah kesalahan besar, menyakiti hati wanitanya itu. Tapi gengsinya sedikit lebih tinggi, dia harus tegas kepada istri-istrinya. Luhan mungkin bukan masalah, hanya saja emosinya pada Kyungsoo membuatnya menjadikan Luhan pelampiasan.

"Haowen.. dia anakku juga Sehun" Luhan menunduk sedih, wajahnya sudah memerah. Ia juga menyayangi Haowen, dia berharap mempunyai malaikat kecil juga. Dan perkataan Sehun barusan membuat harga dirinya terjatuh. Sehun menyadari hal itu, Luhan sangat sensitive jika itu menyangkut hal anak. Mood yang sudah terlanjur buruk membuat Luhan berniat meninggalkan ruangan itu secepatnya. Namun teriakan Sehun lagi-lagi membuatnya tak berkutik.

"DIAM DISITU !" Luhan masih terdiam menurut namun air matanya tiba-tiba menetes mendengar bentakan suaminya. Kenapa suaminya itu terus berteriak padanya. Luhan memalingkan wajahnya tak mau melihat orang yang membuat hatinya seperti diremas. Pria itu perlahan mendekat dan tiba-tiba Luhan merasakan tubuhnya terangkat membuatnya reflex mengalungkan kedua tangannya dileher Sehun.

"Se-Sehun ada apa" pria itu tak menjawab. Hanya mendudukan Luhan disofa terdekat. Lalu mencari sesuatu dilemari dapur. Setelah mendapatkannya pria itu berlutut didepan Luhan membuatnya terheran.

"Arrrgghh"

Sengatan itu bagai menyadarkan Luhan bahwa suaminya kini tengah mengobati luka dikakinya. Hell sejak kapan dia terluka? bahkan dia tidak menyadarinya. Yang dia lihat darah sudah mengalir dari kakinya. Sehun dengan telaten mengobatinya, membersihkan luka-lukanya. Hal itu membuat hatinya kembali menghangat, bentakan Sehun tadi adalah untuk melindunginya. Jika saja ia tadi berjalan mungkin pecahan kaca itu akan semakin banyak melukai kakinya. Luhan tersenyum memikirkannya, suaminya meski sering membuatnya sakit dan kesal dia adalah pria yang manis. Meski bukan hal yang mewah namun setiap tindakannya membuatnya tersanjung. Dan Luhan bahagia melihat perubahan sikap Sehun terhadapnya.

"Lain kali perhatikan langkahmu heumm? aku tidak ingin kau terluka" ujar Sehun mengusap lembut pipi sang istri yang meninggalkan jejak air mata.

Luhan mengangguk dan memeluk erat suaminya. Biarlah dia menukar nyawanya jika imbalannya adalah perlakuan manis dari suaminya. Biarlah ia menukar sisa hidupnya jika yang ia terima adalah tatapan sayang dari Sehunnya.

CUP.. lagi-lagi Sehun mengecup manis bibir Luhan. Wanita itu tidak lagi menangis, mata mereka saling menatap sayang. "Gomawo Sehun" ucapnya.

"Heumm.. dan maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud memarahimu tadi, aku hanya terlalu khawatir padamu" Luhan mengangguk dan kembali memeluk erat suaminya.

Kebahagiaan mereka tak luput disaksikan oleh sepasang mata yang kini menatapnya marah dan penuh kebencian. Sedari tadi ia hanya mematung dan tidak dihiraukan, bahkan suaminya mengacuhkannya seakan dia tidak berada disana. Karena kesal Kyungsoo meninggalkan ruangan itu dan membanting pintu kamarnya keras.

"Lihat saja.. kau akan mendapatkan kebencian Sehun lagi Luhan.." sinisnya.

.

.

.

.

TBC

Okke sebelumnya aku mau minta maaf untuk 2 sampai 3 minggu kedepan aku gabisa up, aku harus fokus ujian semester mulai minggu depan. Mungkin kalo aku ada waktu bisa up tapi gajanji yaa.

Untuk adegan peluit itu aku terinspirasi dari drakor 49 Days, dimana Jihyun nolong Hanka apa siapa ya aku lupa namanya ahaha entah kenapa jadi kefikiran adegan itu. Dan adegan Hunhan aku terispirasi dari drakor My Love From The Star, dimana Min Joon ngangkat Song Yi ahahaha. karena aku ga ahli bikin cerita yang manis aku bingung mau bikin adegan apa, terkadang buntu buat mencari adegan romantic. Senengnya bikin adegan menderita wkwkwk jahat banget yaa..

Oh ya, salah satu temanku mengajak readersnya berkenalan tadi dan itu membuat aku juga pengen berkenalan sama kalian,.. Annyeong ! Joneun Astri ibnida.. aku berasal dari Bandung, Umurku 23 tahun. kesibukan aku saat ini bekerja + kuliah semester 3 jurusan akuntansi. Jadi kalian mengerti kan kenapa aku slow update? yaa aku hampir gapunya waktu buat menulis kalo bukan Weekend. Dan OTP kesayangan aku itu Wonkyu, dan sekarang aku juga menyukai HunHan juga Krishan masih tahap mengenal siih, jadi mian kalo aku belum banyak tahu tentang mereka hmm.. jadi salam kenal juga buat para HHS.. jangan lupa balas koment untuk memperkenalkan diri yaa..

Untuk penyanyi terbaik kita Oppa Jonghyun.. Semoga kau tenang disana, semoga kau tidak kesepian lagi disana, walau bukan bias aku tapi denger kabar ini bikin aku nangis juga. Dari tayangan2 yang aku tonton aku lihat dia adalah orang yang ceria dan bahagia kelihatannya, tapi aku ga nyangka dia begitu banyak menyimpan luka didalam. Sakit dan kesepian.. itu bener2 pernah aku rasain juga saat didepan orang lain kita berusaha tertawa dan menghibur namun kita gatau cara untuk menyampaikan perasaan diri sendiri. Entah hanya aku atau yang memiliki sifat seperti itu juga sama aku gatau, tapi saat seseorang berkata tidak baik itu akan menjadi beban fikiran, dan saat kita menyakiti orang lain dengan perkataan ataupun tindakan yang tak disengaja itu juga menjadi beban fikiran. Tapi aku harap mulai sekarang semuanya bisa mengekspresikan semua perasaan yang ada dihati oke, jangan sampai hanya memendamnya dan membuat luka yang makin dalam.

Karna itu, aku harap kita sebagai fans ga banyak menuntut pada mereka, karna mereka juga manusia yang punya hati dan perasaan, bisa sakit, bisa kecewa, dan mereka juga bisa melakukan kesalahan dan saat itu kita harus tetap mendukungnya.. Okke cukup segini ceritanya.

Happy Reading dan jangan lupa meninggalkan jejak ya Chingudeul..

Review Please ^_^