"Saat ini, DNA yang terdapat pada tubuh yang sedang kalian diami itu sedang bertransformasi mengikuti bentuk DNA asli kalian saat kalian masih berada ditubuh kalian masing-masing."
"Lalu.. bagaimana dengan efek dari perubahan itu..?" tanya Naruto yang sedikit banyak berhasil memahami apa yang dimaksudkan oleh Jiraiya.
"Itulah yang menjadi pokok permasalahannya.."
"...?"
"Kalau hal ini dibiarkan terus menerus, kemungkinan besar DNA kalian akan berubah sepenuhnya menjadi DNA asli kalian.. dan kalau hal itu sudah terjadi, mustahil bila kita ingin mengembalikan kalian ke tubuh kalian seperti semula. Dengan kata lain.."
"Kalian tidak akan pernah bisa kembali ke tubuh asal kalian lagi!"
"APA?"
_-0-_
All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Romance, Humor and Fantasy.
Warning!: AU, OOC and Sci-fi.
Aturan Baca: Kalau ada kata yang deskripsinya menyebutkan nama Naruto, berarti yang dimaksud adalah Naruto yang berada di dalam tubuh Hinata, jadi pihak ketiga tetap mengira kalau yang berbicara itu adalah Hinata. Sedangkan kalau deskripsinya menyebutkan nama Hinata, berarti yang dimaksud adalah Hinata yang berada di dalam tubuh Naruto, pihak ketiga akan mengira kalau yang berbicara adalah Naruto. Dan kalau yang berbicara hanya mereka berdua saja (tanpa adanya pihak ke-tiga) deskripsi yang digunakan adalah deksripsi biasa atau normal.
Naruto(Hinata) : Maksudnya adalah, Tubuh Naruto yang sedang didiami oleh jiwa Hinata. Hinata(Naruto) : Kebalikannya, yaitu tubuh Hinata yang sedang dirasuki oleh jiwa Naruto.
_-0-_
Soul Exchange
O
o
.
Chapter 11
"A-apa? t-tidak bisa kembali...?" ujar Naruto shock, lalu ia menghempaskan tubuhnya jatuh terduduk disofa.
Hinata pun terlihat dalam keadaan yang sama terkejutnya dengan Naruto, namun ia masih bisa menyembunyikan emosinya dengan baik dan tetap tenang.
"Kalian tidak perlu khawatir," terang Jiraiya. "Karena itulah aku mengajak Orochimaru untuk ikut serta dalam pembuatan mesin ini.."
"Maksud paman..?"
"Dengan keberadaan Orochimaru yang ikut membantuku, kesempatan kalian untuk kembali ketubuh kalian semula menjadi semakin besar tentunya."
"M-memangnya dia bisa diandalkan..?"
"Yap! Dia juga adalah salah satu ilmuwan yang berbakat, walaupun kuakui, cara berpikirnya agak sedikit aneh.." seru Jiraiya coba meyakinkan.
Namun, raut wajah yang nampak gelisah, masih terbias dengan jelas pada wajah Naruto dan Hinata. Tentu saja, siapa yang tidak akan gelisah kala mendengar hal seperti itu. Mengingat bahwa mereka akan kehilangan tubuh mereka sendiri.
"Hah~ sudah kubilang kalian tidak usah takut," ujar Jiraiya. "Aku memberitahukan kalian hal seperti ini bukan karena aku ingin membuat kalian menjadi khawatir, aku hanya ingin tidak ada rahasia diantara kita, karena, hal ini sepenuhnya adalah hal yang berhubungan dengan kalian."
"J-jadi.. semuanya masih terkendali..?" tanya Naruto ragu.
Jiraiya mengeluarkan senyuman terbaiknya. "Tentu saja!"
"Tapi.. bukankah Orochimaru menginginkan rancangan itu?"
"Yup! Dan aku akan memberikan blueprint itu padanya setelah ia menyempurnakan mesin ini, tentu saja blueprint yang kumaksud adalah blueprint dari rancangan pembuatan gameku sebelumnya,"
"Dan kalau dia berhasil..? maksudku, kalau dia menyelesaikan rancangan itu dengan sempurna?"
"Tentu saja itu akan menjadi mesin game yang paling canggih yang pernah ada," seru Jiraiya sambil melemparkan senyumnya.
Naruto dan Hinata pun ikut tersenyum.
"Nah, sekarang kalian pulanglah, tak perlu memikirkan hal yang baru saja kukatakan tadi. Kalian masih bisa makan dan minum seperti biasa tanpa harus menakutkan hal itu."
"Baiklah..!"
Lalu Naruto dan Hinata mulai beranjak bangkit dari sofa dan bergerak meninggalkan ruangan.
"Oh iya! apa Minggu nanti kalian ada waktu?" tanya Jiraiya sekaligus menghentikan langkah mereka.
Mereka pun berbalik ke arah Jiraiya. "Hm.. sepertinya iya," tutur Naruto.
Jiraiya mengalihkan pandangannya pada Hinata dengan tatapan bertanya. Dan Hinata pun meresponnya dengan cepat. "A-aku juga tidak ada hal yang ingin kukerjakan Minggu nanti.."
"Bagus! Kalau begitu bisakah kalian bedua datang kemari Minggu nanti?"
"Tentu saja!" ujar Naruto yang sepertinya juga mewakili jawaban Hinata. "Memangnya kenapa?"
"Hm.. sepertinya mesin Seele Wechsler type-01 ini akan siap saat itu,"
"B-benarkah?"
"Yup, walaupun sebenarnya kami bisa menyelesaikannya hari ini juga, kondisi mesin pun saat ini sudah mencapai 98 %, hanya tinggal memasang Chip (mikroprosessor) yang diberikan oleh Orochi tadi," tutur Jiraiya menjelaskan.
"Kenapa tidak secepatnya saja, besok atau lusa mungkin.."
Jiraiya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Akan lebih baik kalau kita tidak terlalu tergesa-gesa, agar tidak terjadi kesalahan seperti yang lalu-lalu. Jadi.. kemungkinan besar Minggu nanti adalah saat-saat terakhir kalian bersama dengan tubuh itu," ujar Jiraiya optimis, sekaligus santai, karena memang ia tak ingin membuat hal yang diucapkannya menjadi sesuatu yang bermakna besar, walaupun memang kenyataannya seperti itu. "Kalian mengerti maksudku?"
"Tentu saja!" ujar Naruto.
"Bagus!"
"K-kalau begitu kami permisi dulu."
"Ya!"
Naruto membuka pintu dan meninggalkan ruangan, sementara Hinata menyusul setelah sedikit membungkukan badannya pada Jiraiya.
_-0-_
Kini, Naruto dan Hinata tengah berjalan melintasi trotoar kota, jam yang terdapat pada salah satu toko yang ada disana sudah menunjukan pukul 6 sore lebih sepuluh menit, langit senja pun kini sudah bercampur dengan lembayung keunguan yang siap membawa hitam pekatnya malam beberapa saat lagi.
Walaupun tadi, sempat ada senyum yang keluar ketika Jiraiya menenangkan mereka, tapi, terselip juga sedikit rasa khawatir dibenak mereka, yang mungkin berkata 'bagaimana' atau 'seandainya' dan perumpamaan-perumpamaan lainnya yang terpikirkan oleh mereka.
"Hinata.." ujar Naruto, yang seketika mengalihkan pandangan Hinata yang sejak tadi hanya menatap trotoar jalan.
"Hng?"
"Bagaimana.. kalau, kita terus seperti ini selamanya..?"
"Eh?" Hinata sedikit tersentak, mungkin, terlihat dari raut wajahnya. Namun bukan karena ia terkejut mendengar hal itu dari Naruto, tapi karena saat ini dia juga sedang memikirkan hal yang sama dengannya.
"K-kenapa kau bertanya hal seperti itu Naruto?" tanya Hinata, alih-alih ia tak pernah memikirkan hal itu.
"Entahlah.." jawab Naruto. "Hanya saja, rasanya sulit sekali bagiku untuk tidak memikirkannya.." sambungnya sambil melemparkan pandangannya ke ujung jalan.
"Bukankah, kita sudah pernah membicarakan hal seperti ini sebelumnya?"
"Ya, aku ingat, saat itu kita hanya berandai-andai saja. Tapi kali ini, kemungkinan itu ada, dan semuanya jadi terlihat sangat nyata bagiku, seolah-olah, itu semua sedang menunggu kita diujung jalan sana dan bersiap-siap menyergap kita saat kita sudah berada dalam jangkauannya nanti dan ..."
Naruto terhenti, ia tak ingin melanjutkan kata-katanya.
". . . . ."
"Naruto... a-apa kau takut..?"
"A-apa? T-takut..!" seru Naruto gugup. "T-tentu saja aku tidak takut!" bantahnya. Walaupun, tentu saja dengan caranya mengucapkan kalimat-kalimat itu, akan langsung diketahui kalau ia memang takut, atau setidaknya 'sedikit' takut.
"T-tidak apa-apa Naruto, semuanya p-pasti akan baik-baik saja!" ujar Hinata sambil tersenyum.
Sebuah senyuman yang bagaikan air yang kau guyurkan sesaat setelah kau puas bermain di pantai berpasir. Air itu mengalir deras dari ujung kepala sampai ujung kakimu dan merontokan semua pasir-pasir yang menempel disana serta membuat tubuhmu kembali bersih seketika.
Naruto merasa lega, sekaligus kesal, karena ternyata ia sangat lemah, bahkan seorang gadis harus menyadarkannya akan hal itu.
Tapi, yang mengejutkannya lebih dari itu adalah, ternyata, hanya dengan sebuah senyuman saja, Hinata mampu dengan mudah mengubah suasana hatinya yang sedang gundah dan menenangkannya.
'Apa memang senyuman Hinata memiliki kekuatan seperti itu?' pikirnya. Walaupun memang, saat itu yang tersenyum adalah wajah miliknya, tapi, perasaan yang mengalir darinya itu jelas-jelas adalah perasaan Hinata, yang entah mengapa terasa begitu hangat dan melegakan. Ia kini ragu dengan apa yang dirasakannya itu.
"Hinata.. apa kau benar-benar menyukaiku?" tanya Naruto.
DEG!
Sontak, Hinata terkejut dibuatnya, percakapan yang sebelumnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini, tapi kenapa tiba-tiba saja, Naruto..
"Eh..? a-aku.." ia pun hanya bisa terbata-bata dengan ucapannya. "A-aku.."
Tapi, tiba-tiba Naruto tertawa kecil. "Fufufufu..."
Hinata yang tadi tengah bergelut dengan perasaan 'dag-dig-dug' nya langsung terheran. "Hn?"
"Rasanya aneh sekali," ujar Naruto. "Menanyakan hal seperti itu saat kau berhadapan dengan tubuhmu. Seolah-olah kau jadi menanyakan hal itu langsung pada dirimu sendiri."
Hinata pun ikut membayangkan hal itu, dan tersenyum ketika imajinasinya sukses menggambarkan hal itu dengan baik.
"Semua ini karena ulah paman bodoh itu, yang dengan seenaknya mengaku kalau dia adalah ilmuwan berbakat, dan membuat tubuh kita akhirnya tertukar seperti ini karena game yang dibuatnya," ujar Naruto, terselip sebuah senyuman kecil dibibirnya.
"Tapi, berkat itu jugalah, hubungan kita berdua jadi semakin akrab seperti ini, ya kan?"
Lagi-lagi Hinata tertegun. Dengan begitu cepatnya Naruto mengubah tema pembicaraan, dan secepat itu pula raut wajah Hinata kembali memerah dibuatnya.
"I-i-iya..."
Keduanya terdiam sejenak.
Naruto kembali memulai pembicaraan sambil menengadahkan wajahnya ke langit senja.
"Apakah kau ingat, sebelum kita mengalami kejadian ini, bagaimana hubungan kita sebelumnya.." tanya Naruto, mengajak ingatan Hinata kembali ke waktu sebelum mereka mengalami pertukaran tubuh ini. "Saat itu, sekedar bercakap-cakap saja rasanya jarang sekali kita lakukan, dan membayangkan kita akan berjalan bersama berdua seperti ini, rasanya mustahil sekali, kalau seandainya saja pertukaran itu tidak pernah terjadi.."
"Aku jadi bingung, entah harus merasa kesal, atau aku harus berterima kasih atas pertukaran jiwa ini..."
"Aku tak ingin bilang kalau berada didalam tubuh orang lain itu terasa menyenangkan, tapi.. bisa menjadi lebih dekat dengan Hinata seperti ini, rasanya sangat menyenangkan bagiku," ujar Naruto lagi yang seketika itu langsung sukses membuat wajah Hinata merona merah dengan sempurna.
"A-aku juga," balas Hinata gugup sambil memainkan jari-jemarinya. "S-sebelum hal seperti ini terjadi, aku ingat kalau aku hanya bisa selalu menatap Naruto dari kejauhan, aku tak pernah berpikir kalau aku akan bisa bercakap-cakap seperti ini dengan Naruto, berjalan berdua seperti ini dengan Naruto dan akan banyak menghabiskan waktuku dengan Naruto."
"D-dan, kalau aku harus jujur, sepertinya aku akan lebih memilih bersyukur atas apa yang menimpa kita ini, k-karena kini aku tak lagi harus memendam perasaan yang kurasakan atau menuliskannya pada sebuah buku lagi, karena sekarang.." Hinata mengambil jeda sejenak, lalu ia mengepalkan jari-jari tangannya dengan sedikit bergetar. "Karena sekarang.. a-aku hanya perlu mengumpulkan keberanianku dan bilang.. k-kalau aku.. a-aku.."
Hinata menghentikan langkahnya, ia bulatkan tekad dalam hatinya, dan.. "Aku sangat suka sekali dengan Naruto!"
DEG!
Selangkah kemudian, Naruto ikut menghentikan langkahnya, bahkan sang waktu pun seolah ikut terhenti bagi mereka berdua, suara-suara yang tadi ramai mengisi relung-relung di telinga mereka kini seolah lenyap tak berbekas, meninggalkan semilir angin yang berhembus meniupkan desiran-desiran halus ditelinga.
"Duh.. gawat! Bisa-bisanya aku mengatakan hal seperti itu, dan lagi, kenapa harus sekarang sih!" ujar Hinata membatin.
"H-Hinata..?" ujar Naruto, seolah ia tidak mempercayai apa yang didengarnya barusan.
Hinata hanya diam tertunduk, berusaha menyembunyikan semburat merah yang ia yakini saat ini sedang menghiasi wajahnya. "Gawat! S-sekarang aku harus bagaimana..?" batinnya.
Lalu, Naruto berbalik menghadap kearah Hinata dan menatapnya dalam.
Kontan saja hal itu semakin membuat wajah Hinata kian merona, ditambah lagi rasa gugup yang kian menjalar dalam tubuhnya.
"Hinata.."
DEG!
Sejenak, Hinata merasa tersentak mendengar Naruto menyebut namanya itu, pikirannya yang tengah menduga-duga apa yang akan Naruto katakan selanjutnya membuat rasa gugup dalam dirinya semakin besar dan semakin jelas terlihat.
"B-benarkah yang kau katakan itu, Hinata..?" tanya Naruto.
Pertanyaan itu mau tak mau membuat Hinata harus mengangkat wajahnya untuk menjawabnya, namun, ketika kedua mata mereka beradu pandang, lagi-lagi Hinata tak mampu mengontrol perasaannya dan membuatnya hanya bisa kembali tertunduk. Tapi, sebagai gantinya, ia mengangguk kecil mengiyakan pertanyaan Naruto tadi, tentu saja dengan semburat merah yang masih menghiasi wajahnya.
Dan anggukan kecil yang diisyaratkan oleh Hinata itu, berhasil membuat bibir Naruto melengkung dan menampilkan senyumnya.
"J-jadi.. yang tertulis di buku diary mu itu.." tanya Naruto untuk sekedar memastikan, walaupun sepertinya ia sudah yakin dan tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh Hinata.
Dan memang hampir seperti yang Naruto duga, Hinata kembali menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan pertanyaan tersebut.
Naruto semakin melebarkan senyumnya, ketika ia melihat anggukan itu untuk kedua kalinya. "Ya Tuhan! Ada apa ini.. kenapa jantungku berdegup begitu cepat? Dan perasaan apa yang terasa begitu menyenangkan ini?" batinnya.
Hening sejenak.
"J-jadi..?" tanya Hinata, sambil sedikit menaikkan wajahnya agar ia bisa melihat Naruto. Sebab sejak tadi ia sama sekali belum mendengar tanggapan dari Naruto mengenai pernyataan–cinta-nya yang sebelumnya.
"A-anu Hinata.. a-aku tak tahu apa yang harus kukatakan.. tapi, rasanya aku merasakan sesuatu yang aneh bergejolak dalam diriku, aku tak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi yang kutahu, perasaan itu terasa begitu menyenangkan.."
Naruto terdiam sejenak, dan saat itu sepertinya Hinata juga sudah bisa merasakan adanya harapan atas cinta yang selama ini terus dipendamnya.
"Mungkin, sepertinya.. aku juga.."
DEG! DEG! DEG!
Begitu kembali mendengar apa yang dikatakan Naruto barusan, Hinata menjadi semakin yakin kalau apa yang akan didengar setelahnya ini akan berbuah manis. "A-akhirnya..." ucapnya membatin. Ia mempersiapkan dirinya agar tidak terlalu exited mendengar ucapan Naruto yang berikutnya dan membuat semuanya menjadi kacau.
Kemudian..
1 detik..
2 detik..
5 detik..
10 detik..
. . . . . .
. . . . . . . . . (?)
Beberapa detik pun berlalu, tanpa sedikitpun Hinata mendengar kelanjutan dari ucapan Naruto yang sebelumnya. Dan rasa penasaran yang berkecamuk didadanya, mendorongnya untuk mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk itu untuk mengetahui alasan dibalik kesunyian ini.
"N-Naruto..?" tanya Hinata sedikit terbata, sambil mendongakan wajahnya kearah Naruto.
Dan saat itu, didapatinya Naruto tengah memicingkan kedua matanya, memperhatikan kearah langit yang berada dibelakangnya.
"A-ada apa Naruto?" tanyanya lagi yang melihat keanehan sikap Naruto.
Namun, tanpa menunggu jawaban dari Naruto, Hinata pun ikut menolehkan wajahnya kearah dimana Naruto terus melemparkan pandangan terkejutnya sejak tadi. Dan, begitu melihat apa yang juga dilihat oleh Naruto, keterkejutan yang dialami Naruto seolah juga merambat dan menjalar dengan sukses diwajahnya.
"A-apa itu..?" tanya Hinata dengan terkejut.
Bagaimana tidak, sebuah asap hitam yang cukup besar mengepul diudara dan ikut meramaikan corak warna dilangit yang senja itu.
Setelah terdiam cukup lama, Naruto akhirnya angkat bicara juga. "Aku tidak tahu asap apa itu, tapi, sepertinya asap itu berasal dari arah rumah paman Jiraiya!"
"Hee.. a-apa mungkin telah terjadi sesuatu dengan paman?"
"Entahlah!" ujar Naruto sembari menggelengkan kepalanya, "Tapi, aku merasakan firasat buruk."
Sejenak Hinata memperhatikan kecemasan yang tersirat dari wajah Naruto. "Um.. Bagaimana kalau kita lihat keadaannya?" ajak Hinata.
Ajakan itupun langsung dibalas dengan anggukan oleh Naruto, mereka berdua pun langsung bergegas menyusuri jalan yang tadi baru saja mereka lewati, dan dengan cepat mereka sudah sampai pada tempat yang dimaksud.
Benar saja, ketika mereka sampai di kediaman Jiraiya, sebuah asap terlihat mengepul keluar dari salah satu ruangan yang terdapat dilantai dua. Asap itu terlihat jauh membumbung tinggi ke angkasa melalui jendela kamar yang sudah pecah tak karuan, kontan saja hal itu meningkatkan tensi kepanikan yang berada dalam diri mereka berdua.
"A-apa yang terjadi disini..?" tanya Hinata dengan rasa cemas yang melandanya.
"Haah~ pasti paman bodoh itu gagal melakukan eksperimennya lagi," balas Naruto. "Kalau begitu aku akan memeriksa kedalam, kau tunggu disini saja ya Hinata.."
"A-aku ikut.." pinta Hinata. "Aku juga cemas akan keadaan paman Jiraiya!" sambungnya.
Naruto berpikir sejenak. "Hm.. baiklah, tapi hati-hati ya! Mungkin saja keadaan didalam sana masih berbahaya!" serunya.
"Hm.." ujar Hinata sambil mengangguk.
Lalu mereka berdua pun bergerak masuk. Dan ketika mereka menarik tuas dan membuka pintu, asap tipis yang menyelimuti lorong kamar segera menyambut kedatangan mereka. Dengan sedikit terbatuk-batuk dan pandangan yang terganggu, mereka menyusuri lorong itu dan mencari dimana Jiraiya tengah berada sekarang.
"Paman! Kau ada dimana?" teriak Naruto sambil memeriksa tiap-tiap kamar yang mereka lewati.
"Uhuk.. uhuk..uhuk.."
"K-kau tidak apa-apa Hinata?" tanya Naruto.
"I-iya.. aku tidak apa-apa! tapi, asap ini benar-benar mengganggu sekali.." ujarnya sambil mengibas-ngibaskan tangan kanan didepan wajahnya, agar asap itu tidak terhirup masuk kedalam pernapasannya.
"Apa tidak sebaiknya kau menunggu diluar saja?" tanya Naruto lagi.
"T-tidak! A-aku akan ikut Naruto mencari paman Jiraiya.."
"Kalau begitu..." Naruto kemudian menjulurkan tangannya.
"Eh?"
"Sini, kemarikan tanganmu! Jalan didepan sedikit tidak terlihat akibat asap ini, bisa berbahaya kalau jalan sembarangan!"
BOFFF!
Raut wajah Hinata segera memerah begitu mengetahui maksud Naruto menjulurkan tangannya, dan tentu saja ia tak dapat menolak tawaran itu.
"I-iya.."
Hinata pun segera meraih tangan itu dan menggenggamnya erat.
GREP!
Dan bersamaan dengan itu, seluruh darah dalam tubuhnya seolah mendidih dan bergejolak begitu hebat, membuat detak jantungnya bergerak begitu cepat dan menaikan suhu tubuhnya. "Ya ampun, saat ini pasti wajahku benar-benar merah! Aku tidak pernah menyangka akan bergandengan tangan dengan Naruto-kun disaat-saat seperti ini, sepertinya paman Jiraiya memang adalah dewa keberuntunganku, berkat dia, aku jadi bisa sampai sedekat ini dengan Naruto-kun," ujarnya membatin dengan senang.
"Eh? Tapi tunggu dulu, bukankah karena dia juga, a-aku jadi tidak bisa mendengar jawaban Naruto-kun tentang perasaanku tadi? Kalau saja tidak ada kejadian seperti ini, pasti saat ini.. aku.."
"Hauu.. apa yang kupikirkan disaat-saat seperti ini sih? Tentu saja keselamatan paman Jiraiya lebih penting! Aku tidak boleh egois! Aku tidak boleh egois!"
"Ada apa Hinata? kenapa kau diam terus sejak tadi?" tanya Naruto.
"E-eh? A-aku tidak apa-apa kok Naruto!" jawab Hinata gugup sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih merah merona.
"Kalau begitu hati-hati, perhatikan langkahmu baik-baik," saran Naruto.
"I-iya.."
Tiba-tiba, terdengar suara kegaduhan yang asalnya dari lantai dua.
GUBRAK! DRAP DRAP DRAP DRAP!
Hinata yang terkejut segera mendekatkan dirinya pada Naruto. "A-apa itu?"
"Mungkin itu paman Jiraiya! Ayo kita lihat!" ajak Naruto.
Mereka pun segera menuju tangga yang berada di sebelah kiri ruangan dan dengan cekatan menapaki tiap-tiap anak tangga yang dilapisi karpet itu.
Setelah sampai di lantai dua, mereka mendapati sebuah pot tanaman berukuran cukup besar yang terjatuh dan masih sedikit bergoyang, menandakan kalau mereka datang tak lama setelah pot itu terjtatuh. Mereka pun segera menghampiri pot tersebut dan meletakannya kembali ke tempatnya semula.
"Ya ampun, apa yang terjadi disini?" keluh Naruto.
"Apa yang barusan itu adalah paman Jiraiya?" tanya Hinata.
"Mungkin saja! Dia 'kan ceroboh!" terang Naruto.
Kemudian, sesuatu kembali mengejutkan mereka, kali ini sebuah rintihan yang terdengar dari salah satu pintu kamar yang tertutup rapat yang terdapat tepat di sebelah kiri mereka.
"N-Naruto..?" seru Hinata yang terdengar takut.
Begitu mereka mengamati kamar asal suara rintihan tersebut, ternyata dari situlah asap tipis yang memenuhi ruangan ini berasal. Tanpa pikir panjang, Naruto segera mendekati pintu kamar itu, kemudian ia menempelkan telinganya untuk memastikan benar tidaknya suara rintihan itu berasal dari kamar tersebut.
Tanpa perlu menunggu lama, suara rintihan itu kembali terdengar. Dan kali ini Naruto bukan hanya dapat memastikan asal suara rintihan itu, tapi ia juga berhasil mengenali pemilik suara rintihan tersebut.
"Itu paman (Jiraiya)!" seru Naruto
Ia pun segera memutar knop pintu tersebut dan membukanya, untung saja pintu itu sedang tidak dalam keadaan terkunci, jadi ia dapat membukanya tanpa halangan.
Asap yang lebih tebal dari sebelumnya berhembus keluar ketika Naruto membuka lebar pintu tersebut, sambil mengibas-ngibaskan tangannya dihadapan wajahnya, ia merangsek masuk tanpa mempedulikan asap tebal yang ada disana, begitu juga dengan Hinata segera yang menyusul dibelakangnya.
"Paman! Kau ada dimana?" teriak Naruto yang pandangannya terhalang oleh asap tebal tersebut. "Uhuk.. uhuk! Cih, asap ini benar-benar mengganggu!" keluhnya.
Ia melirikkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, mencoba menemukan jendela kamar agar ia bisa mengeluarkan asap yang mengepul itu. Untunglah Naruto dapat menyadari sedikit cahaya yang masuk melalui jendela kamar yang tadi pecah yang dilihatnya dari halaman depan kediaman Jiraiya, cahaya itu menuntunnya ke arah jendela tersebut untuk kemudian membukanya lebar-lebar dan mengeluarkan asap yang mengganggu itu.
Berangsur-angsur, asap yang mengepul di ruangan itu mulai menipis, membuat pernapasan dan penglihatan menjadi sangat jauh lebih baik dari sebelumnya. Naruto dan Hinata pun mulai mengeksplorasi ruangan tersebut untuk mencari dimana paman Jiraiya berada.
Berkat semakin baiknya penglihatan diruangan tersebut, Hinata akhirnya berhasil menemukan Jiraiya. Sayangnya, Jiraiya yang dilihatnya saat itu adalah Jiraiya yang tengah terkapar tak berdaya disudut ruangan, dengan latar belakang komponen-komponen mesin yang hancur dan kini berserakan dilantai disekelilingnya.
"Paman!" teriak Hinata dengan perasaan terkejut bercampur cemas melihat keadaan Jiraiya.
Sementara, Naruto yang sedang mencari di sudut lain ruangan, terkesiap ketika mendengar Hinata berteriak dan segera menghampirinya.
"Astaga! Paman! Apa yang terjadi?" tanya Naruto begitu melihat kondisi Jiraiya kacau balau.
Hinata-yang berada dalam tubuh Naruto- yang memiliki tenaga lebih kuat, segera mendudukkan tubuh Jiraiya dan menyandarkannya. Dan saat mereka melihat Jiraiya dari jarak yang lebih dekat, mereka sadar kalau terdapat luka yang cukup serius pada tubuh Jiraiya. Kepala dan sudut bibirnya mengeluarkan darah!
"Paman! Kau kenapa? Apa yang terjadi?"
Jiraiya mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat kesekeliling. "N-Naruto... Hinata.." ujarnya pelan, sambil kemudian merintih memegangi bahu kanannya.
"K-kalian tak boleh berada disini!" ujarnya lagi sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Maksud paman?"
"Orochimaru.. dia.. dia mendengar p-pecakapan kita yang sebelumnya.." ujar Jiraiya sedikit terputus-putus.
"Hah! D-dia mengetahui rencana kita..?"
"Ya, dia merasa dipermainkan dan ..."
"Apa dia yang melakukan semua ini?" potong Naruto tanpa membiarkan Jiraiya menyelesaikan kalimatnya.
Jiraiya mengangguk mengiyakan.
"Sial! Sudah kuduga, sejak awal aku tak pernah menyukai laki-laki itu!" sungut Naruto.
"M-mungkin, yang menjatuhkan tanaman tadi adalah dia Naruto.." ujar Hinata.
"Cih!" Kemudian Naruto beranjak bangkit dan berdiri, lalu berlari menuju kearah pintu. "Dimana dia?" tanyanya.
"Kau mau kemana Naruto?" tanya Jiraiya.
"Kemana? Tentu saja aku akan mencari laki-laki itu! aku akan buat perhitungan dengannya!" balas Naruto. Kemudian ia sudah dalam posisi untuk kembali berlari, tapi Jiraiya kembali menghentikannya.
"Tunggu dulu!" seru Jiraiya. "Dengan tubuh seperti itu, apa kau pikir kau bisa menangkapnya?"
Naruto kembali terhenti dan berbalik kembali ke arah Jiraiya.
"Sebelum itu, ada hal lain yang harus kau lakukan!" ujar Jiraiya.
"Apa?" timpal Naruto yang terdengar ketus, seolah tak tertarik untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Jiraiya selanjutnya, sebab ia memang lebih memilih untuk membuat pembalasan dengan si Orochimaru, laki-laki yang telah menyerang dan melukai Jiraiya.
"Aku akan menukar jiwa kalian, sekarang!"
"Eh!"
_-0-_
Dengan tergopoh-gopoh, Jiraiya berjalan dengan bersandingkan Naruto dan Hinata di masing-masing sisinya. Walaupun keadaannya sedikit mengkhawatirkan, ia tetap saja memaksakan dirinya.
"P-paman, a-apa tidak sebaiknya kami membawamu ke rumah sakit?" tanya Hinata sedikit khawatir.
"A-aku tidak apa-apa, kalian tak perlu mengkhawatirkanku!" ujarnya menolak halus tawaran yang diajukan oleh Hinata tadi.
"Benar paman, kau tak perlu memaksakan dirimu seperti itu, kami tidak apa-apa kok walaupun harus menunggu sampai Minggu nanti!" seru Naruto.
"Tidak ada waktu lagi! Kalian tetap harus melakukannya sekarang!" balas Jiraiya yang tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Bukankan sebelumnya, paman sendiri yang blang kalau kita tidak boleh terburu-buru?" tanya Naruto.
"Memang sebelumnya aku bilang begitu, tapi sekatang situasinya telah berubah. Kalau tidak cepat-cepat, justru aku khawatir kalian malah akan mengalami kesulitan nantinya."
"Kesulitan?" ujar Naruto heran.
"Ya! Kesulitan," sambung Jiraiya menegaskan. "Nah, berhenti disini," seru Jiraiya.
Naruto dan Hinata terheran mendengar perintah Jiraiya yang satu ini. dia bilang berhenti, tapi kanan kiri lorong dimana tempat mereka berdiri sekarang sama sekali tidak ada pintu untuk membawa mereka ke tempat selanjutnya. Dan dihadapan mereka, yang ada hanyalah sebuah tembok dengan sebuah daun jendela yang sepertinya sama sekali tak pernah tersentuh.
"D-disini?" tanya Naruto memastikan.
"Iya, disini," ujar Jiraiya.
Ia lalu melepaskan pegangannya dari Naruto dan Hinata, kemudian berjalan sendiri menuju ujung lorong. Naruto dan Hinata hanya bisa menatap Jiraiya dengan rasa penasaran atas apa yang akan dilakukannya. Lalu, Jiraiya berjongkok pada bagian ujung karpet yang melapisi lantai kayu di lorong tersebut dan kemudian menggulungnya sebagian.
Sekilas, nampak tidak ada yang aneh pada lantai kayu tersebut. Namun, begitu Jiraiya memukulkan tangannya pada salah satu titik di lantai kayu itu, sebagian dari lantai kayu itu bergerak dan sedikit terangkat keatas. Kemudian, Jiraiya mengangkat sebagian dari lantai kayu yang terangkat tersebut layaknya sebuah jendela. Dan kemudian, dengan senyumnya yang khas -dan tanpa mempedulikan reaksi Naruto dan Hinata yang sedang terheran-heran dengan apa yang dilihatnya- ia mempersilahkan Naruto dan Hinata untuk masuk kedalam lorong yang berada dibalik lantai kayu tersebut.
_-0-_
"Whoa! Ruangan ini benar-benar hebat!" seru Naruto yang terkagum-kagum dengan ruangan yang baru saja dimasukinya itu.
"I-iya, juga nampak sedikit kotor!" singgung Hinata.
"Tidak ada waktu untuk mengoreksi kamar orang lain! Lebih baik kalian segera mempersiapkan diri kalian, setelah menyelesaikan pemasangan chip ini, semuanya akan segera siap!" tutur Jiraiya menjelaskan.
"Hm.. baiklah! Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Naruto.
"Tidak ada! Cukup tunggu saja sampai aku menyelesaikan mesin ini, lalu setelah itu a- ku.. a-ka-n.."
TRANGG!
Kunci perkakas yang sedang dipakai oleh Jiaiya terjatuh dilantai, menghasilkan bunyi bergelinting yang keras dan menggema diruangan tersebut. Tak lama kemudian, disusul oleh tubuh Jiraiya sendiri yang jatuh tersungkur dilantai. Sontak hal itu kembali menimbulkan kepanikan dalam ruangan tersebut.
"Paman!" teriak Naruto sambil berlari mendekat dengan penuh cemas.
Hinata pun terlihat melakukan hal yang sama dengannya, mendekati Jiraiya dan langsung berusaha menopang tubuh Jiraiya yang lemah itu.
"Paman! Kau tidak apa-apa?" tanya Hinata khawatir.
"A-aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah.." terang Jiraiya
Namun, apa yang diucapkan oleh Jiraiya itu tidak lantas langsung membuat Naruto percaya begitu saja. Jiraiya, selain kepala dan bibir yang tadi sempat mengeluarkan darah, besar kemungkinan ada luka lain yang didapat oleh Jiraiya yang tidak ditunjukan kepadanya.
"Apa kau yakin paman?" tanya Naruto memastikan.
"Tentu saja tidak! Sebab tangan kanannya patah!" ujar sebuah suara yang terdengar asing ditelinga Naruto.
"Siapa?" seru Naruto lantang. Lalu dengan sigap ia mengubah posisinya dan berjaga, begitu juga dengan Hinata yang langsung berdiri seolah membentengi Jiraiya dari sosok tersebut.
Kemudian sebuah derap langkah kaki terdengar dari sudut kamar yang gelap. Dan derap langkah itu semakin terdengar mendekat, sampai akhirnya masuk dalam ruang lingkup jangkauan sinar lampu dan menyinari sosoknya itu.
Saat cahaya lampu itu baru setengahnya saja menyinari separuh bagian bawah sosok tersebut, sosok tersebut kembali berujar. "Jangan khawatir bocah! Aku berada di pihak kalian."
Jiraiya terkesiap ketika ia mendengar suara itu untuk yang kedua kalinya. "Suara ini? jangan-jangan... kau...?"
_-0-_
T.B.C
_-0-_
A.N
Muhahahaha! Chapter 11!
Terima kasih atas kesabarannya menunggu.
Semoga penantian panjangnya-kalau memang ada yang menanti- terbalaskan sudah.^^
Sebagai penutup, Ao ucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah membaca fict ini^^
Juga jangan di review ya^^
Baiklah, kalau begitu, Ao undur diri dulu.
Sekali lagi terima kasih atas review-review yang telah diberikan sebelumnya..
Sampai jumpa lagi di chapter berikutnya.
Long Live NaruHina
ciao
