[Bagian 1]

Dia datang dari sudut ruangan gelap, berpakaian dalam balutan pakaian hitam, dia keluar dari sudut gelap menuju tempat terang dimana cahaya lilin menyinari ruangan tersebut.

Wajah khasnya yang menjadi momok bagi rasnya sendiri memperlihatkan senyum di wajah ketika dia keluar dari bayangan gelap.

Rizevim Livan Lucifer keluar dengan wajah khasnya. Dia datang menemui seseorang yang sedang duduk di sana, tepat di atas kursi kayu sederhana dengan meja kayu yang diatasnya terdapat sebuah lilin untuk menerangi malam dimana itu hal yang sedikit aneh mengingat sebenarnya seseorang yang duduk di atas kursi itu bisa membuat ruangan ini menjadi terang.

Seseorang itu menengok ke arah Rizevim yang datang padanya, matanya terkejut dan dia langsung bersiap untuk menyerang. "Kau!"

"Hahahaha, sepertinya kau tak senang melihatku lagi, neh... Orlando," Rizevim berkata tanpa seolah memperdulikan dunia.

Yang disebut Orlando oleh Rizevim sontak langsung mengambil ancang-ancang bertarung, mengingat dengan baik segalanya yang dikatakan Rizevim pada hari itu, hari dimana dia mendapat luka di mata kanannya yang menyebabkan dia kini hanya memiliki satu mata. "Aku tak tahu apa yang kau inginkan Rizevim! Kau iblis busuk, tapi sekarang kau-!"

Sebelum dia bisa menyelesaikan perkataannya, Rizevim berkata. "Jangan repot-repot mengeluarkan senjata sihir yang kau punya Orlando. Itu akan menjadi sesuatu yang tak baik bagimu, nee... Lagipula ketika aku datang bukan untuk bertarung" Dia menyeringai kecil lalu duduk di salah satu kursi kosong di sana. "Apa yang akan kau lakukan dengan bertarung denganku hanya membuang waktu karena kau tahu kau yang akan kalah sebelum bertarung."

"Setidaknya aku bisa memberikan luka cacat pada tubuhmu, maka itu akan sangat baik untukku."

"Hahahahaha, sebuah perkataan yang bagus dari ras yang sudah terlupakan dunia supernatural dan hanya menyisakan dirimu."

"Dan itu semua karena rasmu yang seenaknya bertempur di wilayah kami di Underworld! Kalian pikir berapa banyak temanku yang mati saat itu hah?!"

"Huh? Temperamenmu selalu buruk bahkan padaku yang sudah menyelamatkanmu? Apa kau perlu kuajari sopan santun lagi?"

Dengan jentikan jari, sebuah sigil bersinar di tangan Orlando, menyebabkan dia merasakan sakit yang sangat berkepanjangan. Dia berteriak dan terduduk sambil memegangi tangan kanannya yang bersinar akibat tanda ssigil tersebut. Melihat kepuasan dan melihat subjek dari perbuatannya suda mengalah, Rizevim menjentikkan jarinya kembali dan tanda sigil di tangan Orlando menghilang. "Nah... Kalau kau menurut seperti itu mudah bukan? Lagipula aku membiarkanmu hidup sampai sekarang karena sekarang waktunya kau menunjukkan wajah jelekmu yang bersembunyi di balik kulit manusia atau iblis atau makhluk lain itu, Troll"

Troll, ras seperti monster yang bisa mencapai tinggi hingga 10 meter lebih bahkan ada yang bisa mencapai tinggi sampai 15 meter. Memiliki kekuatan regenerasi sangat tinggi tanpa harus menghabiskan energi sihir dalam tubuh mereka. Istilahnya adalah regenerasi sel yang mutlak dimana itu melebihi regenerasi iblis dari pilar Phoenix. Bila iblis dari pilar Phoenix butuh energi sihir untuk mengaktifkan regenerasi sel mereka, maka Troll tak perlu hal itu karena regenerasi mereka merupakan mutasi pada sel tubuh Troll itu sendiri yang menyebabkan mereka memiliki kemampuan tersebut. Namun, karena tampilan mereka yang seperti monster dan mereka tak bisa memakai sihir perubahan untuk sebab yang tidak diketahui, Troll biasanya akan memakai kulit dari manusia mati atau makhluk supernatural lain yang mereka bunuh untuk menyamarkan tubuh mereka. Dan Orlando, Troll yang bersembunyi di balik tubuh iblis dengan rambut hijau dan mata perak itu yang merupakan iblis kelas rendahan memberikan pandangan yang jika itu mengeluarkan laser, maka sudah dipastikan Rizevim pasti akan tewas.

"Go fuck yourself!" Orlando berkata dengan nada penuh racun kepada iblis keparat yang sangat menjijikkan ini dipandangannya. Dia, Rizevim, bahkan jauh lebih buruk, ie... Dia itu sangat menjijikkan kelakuannya dibanding kelakuan makhluk terendah sekalipun.

Siapa makhluk yang sampai hati membuat perang antar ras-nya sendiri hanya karena tak ada hal yang menarik? Atau bahkan melakukan penyiksaaan beruntun dan eksperimen pada rasnya sendiri dengan keji?!

Rizevim tertawa. "Itu jauh lebih baik! Hahahahaha. Kutukan darimu adalah yang kurindukan Troll kecil...!" dia berjalan ke arah Orlando. "Tapi sudah saatnya membalas hutang nyawamu kepadaku sekarang..."

"Aku tak pernah berniat hidup selama ini! Kau yang memaksaku untuk hidup!"

"Itu tak penting sekarang, yang penting kau akan kugunakan untuk memancing seseorang keluar. Yah... Kurasa bodoh juga berpikir bahwa seorang Nephilim yang tersisa satu-satunya mau melayani klan manusia... Hmmm... Kau akan menyerang pimpinannya saja kalau begitu..."

"Apa maksudmu bajingan!"

"Ah, nada bicara penuh racun yang sangat baik~" Rizevim memberikan cengiran pada Troll di depannya ini yang terduduk bertumpu dengan satu lutut memandangnya dengan tatapan membunuh. Dengan sebuah jentikan jari, sebuah sigil di leher dan dahi Troll tersebut bersinar lalu pandangan mata membunuh itu menghilang, lenyap seolah tak pernah ada sama sekali berganti dengan tatapan mata kosong, tanpa cahaya. Bahkan mata Troll itu yang semula bercahaya kini meredup.

"Tuan..."

Sebuah suara tanpa nada apapun, datar, tak berasa apapun hanya kosong keluar dari bibic Troll tersebut yang kini menundukkan wajahnya setelah melihat Rizevim yang terduduk santai di kursi kayu di sana.

Api dari lilin menari kecil bergoyang sebentar seolah tertiup angin menyebabkan bayangan mereka berdua bergerak.

"Hahahahaha..."

Rizevim tertawa senang. Dia menyentuh dahinya sendiri dengan salah satu tangannya sambil masih tertawa.

Dan ketika tawa itu berhenti, dia memandang Troll yang patuh kepadanya ini yang bagaikan drone, boneka, dan makhluk menjijikkan yang hanya akan mati untuk sebuah tugas yang akan Rizevim berikan padanya.

Rizevim mengangkat tangannya. Telapak tangannya terbuka dan sebuah lingkaran sihir berwarna ungu muncul, menjatuhkan sebuah berkas yang lalu dia lemparkan ke arah Orlando.

Berkas itu jatuh tepat di depan Orlando yang masih menunduk tak bergeming apapun.

"Ini perintaku, makhluk aneh... Baca berkas itu dan apa yang ada di berkas itu menjadi targetmu selanjutnya. Dia juga wakil dalam pertarungan Royal ini dan kau juga wakil. Jadi Kau bisa membunuhnya sekarang. Aku tak perduli kau mati atau apapun, tapi lakukan tugasmu dengan baik..."

"Baik tuan..."

Troll itu menjawab dengan sopan, seolah sama seperti sebuah robot yang baru saja diberi perintah, Troll itu kemudian duduk sambil menyilangkan kaki dan mengambil dokumen yang terlempar di depannya dan mulai membaca.

Di berkas itu, tertulis lengkap siapa saja nama targetnya; Seorang gadis dengan seorang pemuda dimana di sana tertulis dengan jelas nama dua targetnya, Murayama Rin dan Toujou Basara.

Dua target dimana satu merupakan perwakilan manusia dan satu merupakan perwakilan dari ras Nephilim.

Mereka adalah yang harus dibunuh? Atau pertama disingkirkan atau justru mereka adalah yang pertama membuat keajaiban? Rixevim ingin tahu hal itu karena itu dia menyuruh Orlando, si Troll ini melakukan itu karena apa? Tentu saja karena dia ingin tahu! Absurd memang. Tapi inilah Rizevim dengan segala hal yang membuatnya tidak waras namun psikopat yang jutru membuatnya melebihi sikap Joker yang menjadi musuh bebuyutan Batman.

Dan kenapa Rizevim malah berniat membuat Troll ini menyerang sementara dia bisa menyimpannya sebagai hal lain?

Katakan saja bahwa Troll itu tak pernah bisa berpikir jernih dan sebaik makhluk lain. Mereka hanya berpikir cepat dan melihat sikap dari Orlando setidaknya Troll ini bisa membuat kekacauan di kota Kuoh. Mungkin saja malah bisa juga membunuh si iblis budak dari Gremory atau dua pewaris adik dari Maou itu biar kekacauan makin besar... Oh, dia tak sabar melihat untuk itu.

Api kembari menari dan bayangan mereka berdua yang berada di ruangan ini menari, berliuk. Bayangan Troll yang memakai kulit iblis sebagai samaran masih terlihat seperti bayangan sosok manusia, namun...

Dia tengah susanana remang itulah, bayangan Rizevim berubah. Itu... Itu menunjukkan diri Rizevim sebagai iblis, makhluk sesungguhnya daripada wujud asli Rizevim dengan dua tanduk panjang mencuat dari dahi dan sebuah ekor dengan ujung lancip juga siluet sayap kelelawar yang mengubah bayangan awal manusia Rizevim menjadi seperti itu. Seperti makhluk iblis yang banyak digambarkan dalam sketsa yang ada lalu dalam sekejap, bayangan itu kembali normal membentuk siluet Rizevim yang sedang duduk.

Melihat Orlando yang tengah membaca, membuat Rizevim berdiri dan dia berjalan ke dalam sudut hitam ruangan yang tak diterangi oleh cahaya lilin. Dia harus pergi; masih bnyak yang harus dia siapkan karena sekarang waktunya memanen kekuatan dari dewi naga yang tengah menunggunya di ruang pertemuan Khaos Brigade. Dan tentunya dia tak ingin membuat sang dewi naga yang masih saja ingin menendang bokong naga apocalypse itu menunggu, bisa gawat nanti jika dia membuat dewi naga dengan sosok anak-anak itu menunggu.

[Bagian 2]

Dia kemudian menguap sambil masih bergeliat di atas kasur empuknya. Sebuah bantal guling hijau berada di sisi pinggir tempat tidurnya terjatuh ke lantai akibat gerakan menggeliat ala ulat itu.

Matanya mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang baru masuk ke dalam pupil matanya agar terbiasa. Cahaya yang masuk berasal dari celah-celah selambu jendela geser kamarnya.

Kemudian dia menegakkan tubuhnya untuk bangun, menepuk pipi dengan kedua tangan agar lekas sadar, dia kemudian menyibak selimutnya lalu dia bangkit berjalan menuju ke luar kamar.

Tujuannya? Tentu saja kamar mandi. Di pagi hari setelah orang bangun tentu saja dia perlu ke kamar mandi untuk membasuh muka di wastafel yang ada di kamar mandi. Dia membuka pintu, matanya sebenarnya masih merasa mengantuk tapi dia tak peduli.

Bahkan saat dari suara televisi dari ruang tengah yang dia lewati tak mengganggu dirinya. Dia mengabaikan itu yang mana dia juga mengabaikan suara sapaan yang masuk gendang telinga dari pendengarannya.

"Yo! Kau terlihat kusam dan jelek juga kalau bangun tidur!"

Dia hanya mengangkat tangan dan masuk ke dalam kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Sensasi air dingin yang membasuh wajahnya membuatnya sadar sepenuhnya dan dia mengambil sebuah sikat gigi dan pasta gigi lalu menyikat giginya.

Suara televisi kartun pagi masuk ke pendengarannya. Dia mengira itu mungkin saja Ophis atau Asia yang melihat kartun pagi hingga sebuah realitas menamparnya keras.

Tunggu sebentar!

Kartun pagi?!

Di apartemennya tak pernah ada yang melihat kartun pagi selain dirinya! Dan lagi... Suara tadi... Suara yang tadi menyapanya adalah suara laki-laki!

Oh, demi apapun itu, dengan sikat gigi yang masih ada di mulut, dia lekas keluar dari kamar mandi dengan gauntlet Boosted Gear sudah terpanggil di tangan.

"Hahahahaha... Oh lucu sekali! Dasar kucing bodoh!"

Dan dia kemudian melihatnya. Berpakaian sama seperti kemarin saat menemuinya dan Ophis, sosok yang se-enaknya masuk apartemennya itu terlihat tergelak tawa melihat kartun pagi Tom And Jerry dengan sangat santai. Camilan keripik kentang yang Naruto tahu betul itu merupakan camilan yang dia simpan di kulkas dan lengkap dengan minuman jeruk terpaku du meja dengan sosok itu duduk menyilangkan kaki di atas sofa. Belum lagi masih ada sisa sisa bungkus camilan yang lainnya yang berserakan di lantai dekat sofa! Sofa yang baru saja dia beli menggantikan sofa lamanya yang entah kenapa dan tidak tahu kenapa dirusakkan oleh dewi naga saat melatih Asia!

Alis Naruto berkedut dengan kesal seketika.

Dia... Dia yang seenaknya makan camilan keripik kentang dan bertingkah seenaknya di rumahnya seolah ini rumahnya sendiri, mengambil camilan orang tanpa ijin... Tak peduli dia naga apocalypse atau bukan, tingkahnya sudah menjengkelkan!

Dengan menjentikkan jari, sebuah lingkaran sihir ruang dimensi yang membuka gerbang dimensi ke tempat asal dari Naga merah, Sekiryushintei terbuka, menampakkan celah dimensi berwarnakwarni layaknya pelangi yang terlukis dengan absurd muucul di bawah sofa, membuat sosok perwujudan naga merah agung Great Red sadar dan dengan bego hanya berkata...

"Eh?"

Pelaku penyusupan rumah tanpa ijin itu mengerjap beberapa kali sebelum kemudian sadar... Tapi itu sudah terlambat karena dia, ie... Dia dan sofa itu jatuh masuk ke dalam celah dimensi sambil berteriak.

"Uwaaaaaahhhh?!..."

Sungguh hari yang buruk sebagai permulaan.

"Jadi... Kenapa dia ada di sini Dear?!"

Mata Ophis menatap tajam; tajam sekali hingga membuat siapapun yang melihatnya akan ciut nyalinya. Tapi yang ditatap hanya nyengir sebentar dan melanjutkan makannya seolah tak peduli pada tatapan dewi naga ini. Hal seperti tak peduli milik Great Red inilah yang membuat Ophis sangat kesal dan aura hitam keluar dari tubuhnya menakuti Asia yang duduk di samping Ophis yang terkaget ke samping dan bergetar takut sebelum kemudian sebuah pukulan karate chop pelan mengenai kepala Ophis, menghilangkan aura hitam miliknya.

"Aw!..."

Pemilik kepala yang terkena puklan itu mengaduh kaget lalu memegangi kepalanya. Dia cemberut dan memandang ke pelaku pemberi pukulan ke kepalanya.

"Jangan bertingkah menyeramkan. Asia menjadi takut kau tahu..." Naruto berujar sambil menaruh dua piring berisi pancake yang disiram syrup marple diatasnya dan dua buah Stroberi sebagai penghias. Selepas itu dia dengan cekatan kembali ke dapur sambil meletakkan dua gelas susu coklat di hadapan Asia dan Ophis.

"Mou...! Salahkan si baka ini yang pagi-ъagi sudah datang kemari dan membuatku jengkel hanya dengan melihat wajahnya!" Ophis menunjuk Great Red atau Red sambil berkata demikian.

"Jangankan kau, aku saja sudah dibuatnya kesal sebelum kalian bangun..." Naruto berujar dengan menghela nafas sebelum duduk di tempatnya di ruang makan yang menjadi satu dengan dapur.

Apartemen ini sudah diubah oleh Naruto menjadi sedikit lebih luas dan lebar dengan bantuan sihir. Menjadikan apartemen ini tidak lagi kelihatan sempit seperti saat dia tinggal sendiri.

Sementara yang disinggung sudah selesai makan dan minum air putih. Sarapan pagi ini baik juga dengan daging rusa yang dia tangkap di belahan Afrika sebagai oleh-oleh untuk dimasakkan oleh pacar atau kekasih Ophis ini.

"Masakan yang sangat memuaskan anak muda..." Ujar Red sambil masih memegang gelas. "Kemampuanmu memasak sungguh baik. Pantas saja Ophis takluk denganmu. Mengisi perut orang yang kau sayang juga bisa menjinakkan mereka."

"Kata-kata anda bertolak belakang dengan tingkah laku anda, Red-sama. Pagi-pagi sudah masuk apartemen orang dan memakan segala stok camilanku. Anda sangat tidak sopan!"

"Aku tak terikat dengan aturan kesopanan yang dibuat oleh manusia itu sendiri, anak muda... Nyahaahahaha..."

"Ano nee, Nii-san..." Asia angkat bicara yang membuat Naruto melihat ke arahnya. "Tuan ini siapa?" tanyanya sambil melihat ke arah Red.

Mendengar pertanyaan Asia membuat Ophis menjawab.

"Seseorang naga tua bodoh!"

"Makhluk tak tahu sopan santun, Asia..." jawab santai Naruto sambil membuka penutup ramen yang sudah dia seduh sebelumnya. "Jangan hiraukan dia, dia hanya orang aneh yang suka masuk sembarangan dan seperti katanya, tak punya sopan santun."

"Hey...!"

"...Tapi lebih dari itu, dia adalah ras sejenis Nii-san sekarang yang walaupun Nii-san sudah usir berapa kali-pun tetap akan percuma."

"Ugh... Kata-kata kalian berdua pedas sekali..." Red berkata demikian sambil terlihat menangis anime. Suatu pemandangan yang membuat mual perut saja melihat orang yang bertingkah seperti Yankee ini menangis seperti itu.

Dan ucapan Naruto tadi memang benar, mau berapapun dia mengusir Red sejak tadi pagi, dia akan selalu muncul lagi dan lagi. Hingga akhirnya karena merasa jengkel, Naruto kemudian berniat memindahkan apartemennya saja, tapi itu rupanya dicegah oleh Red yang berkata bahwa dia hanya akan di sini sampai selesai sarapan. Dia bahkan membawakan daging rusa yang cukup banyak untuk Naruto masak sebagai menu sarapan bagi semua; atau lebih tepatnya untuknya karena semua yang tinggal di apartemen Naruto itu tidak terlalu menyukai daging.

"Sudah kami bilang kan? Itu karena anda menyebalkan Red-sama. Dan lagi sepertinya inilah yang membuat Ophis tak betah di celah dimensi bersama anda."

"A-hahahaha..." menggaruk belakang kepala padahal tak gatal sama sekali melainkan canggung, naga berjuluk Sekiryushintei itu hanya nyengir saja.

"Dia itu kalau berenang di celah dimensi selalu memakai wujud besarnya, sambil bernyanyi lagu dengan suara serak besarnya, Naru..." Ophis yang sudah tenang mulai memakan pancake miliknya. Dia kemudian mengeluarkan desahan puas saat mersakan pancake itu terasa lumer di mulutnya. "Bayangkan saja dimensi-ku yang sunyi menjadi berisik dengan suara Fals yang memekakkan telinga"

"Astaga imoutou... Aku tak seburuk itulah dalam bernyanyi..."

"Sudah kubilang aku bukan adikmu, baka Red!" gertak Ophis kemudian. "Dan ya! kau itu penyanyi terburuk yang pernah kudengar!"

"Bisakah kalian tenang?! Ada yang mencoba makan pagi dengan nyaman disini!"

Kesal dengan ocehan ini, Naruto kemudian memukul meja makan dengan tangan. Pandangan tajamnya serasa membuat siapapun yang memandangnya akan ciut nyalinya. Apalagi jika disertai dengan ancaman untuk keluar dari rumahnya atau dia yang keluar.

"Humph!..." dengus Ophis.

"Ah... Gomen..." ucap Red.

"Dan Asia..." Suara Naruto melembut dengan perlahan. "Segera makan sarapanmu. Kita berangkat setelahnya."

"Eh..., Ha'i Nii-san" cicit Asia kemudian.

Melihat sudah tenang kembali Naruto kemudian melanjutkan makan paginya. Sungguh benar-benar pagi yang menjengkelkan.

[Bagian 3]

Mata itu memandang dari atas atap sekolah dimana siapapun tak berada di sana. Jubah coklatnya berkibar dengan lembut diterpa angin kering.

Tak ada siapapun yang dia pandang hanya mata kosongnya saja yang terlihat.

Lalu dengan satu gerakan tangan, dia mengangkat tangan ke atas. Sebuah tanda lingkaran merah muncul di atas. Lingkaran itu berisi berbagai aksara aneh yang tak akan dimengerti manusia.

Dan itu menjadi pemandangan aneh bagi semua murid yang melihat dari jendela, tapi tidak bagi beberapa makhluk yang ada.

Para iblis terkaget, para klan pahlawan juga sama kagetnya. Semua berpikir, siapakah yang berani menunjukkan sihirnya di saat seperti in secara terang-terangan. Bahkan Naruto yang melihat itu juga mengutuk siapapun yang melakukannya.

Semua murid yang melihat itu hanya bertahan sebentar. Mereka, para manusia yang tak pernah mengenal dunia supernatural mulai ambruk satu-persatu. Bahkan Naruto juga harus pura-pura ambruk tak sadarkan diri agar dirinya tak ketahuan. Menyisakan hanya para klan pahlawan dan para iblis yang bergegas ke atas atap sekolah.

"Kalian sudah datang ya?"

Suara tanpa nada apapun terdengar di gendang telinga masing-masing yang berada di atas atap sekolah. Mereka semua kemudian melihatnya. Melihat bagaimana sosok itu ternyata menatap mereka dengan pandangan tanpa ekspresi apapun. Mereka melihat sosok pria berumur lebih tua dari mereka semua dengan rambut hijau dan mata perak tanpa cahaya menatap mereka, para iblis dan klan pahlawan yang ada di sini.

"Ketemu... Murayama Rin dan Toujou Basara..."

Yang disebut namanya langsung waspada. Apalagi mereka merasakan sesuatu yang berbeda. Ya! Perasaan ini... Ini adalah perasaan saat mereka bertemu dengan wakil Battle Royal yang lain! Sensasi fluktuasi Mana yang mereka secara khusus rasakan dimana Mana ini adalah Mana khusus untuk mendeteksi sesama wakil pertarungan Royal. Bahkan Issei juga merasakan hal tersebut!

Dan sosok itu, Orlando kemudian mengambil kapak yang ada di belakang punggungnya. Kapak dengan warnag perak berbalut emas dan mereka yang ikut dalam Battle Royal melihat itu...

Tanda Sigil warna merah dengan bentuk yang terlihat seperti bentuk monster besar dengan ekor.

Lalu sosok itu bergerak; menerjang langsung ke depan! Dengan kapak yang sudah siap diayunkan yang mengarah langsung ke arah Murayama Rin.

Basara yang melihat itu kemudian langsung maju. Dengan secekatan dia langsung memanggil senjata miliknya, Brynhildr, dan menangkis ayunan kapak yang mengincar Rin.

Tranggggg!...

Benturan dua senjata itu langsung menghempaskan angin yang mendorong semua yang ada di dekatnya terdorong ke belakang. Sangat kuat sekali gelombang shockwave yang dihasilkan dari dua benturan itu.

Melihat hasil itu, Rin tahu pertempuran pertamanya di Battle Royal sudah dimulai. Dengan segera dia membuat dimensi buatan; memindahkan dirinya dan semua makhluk supernatural yang ada, para iblis dan juga kelompoknya ke ruang sihir buatan yang hampir sama persis dengan wujud akademi yang ada. Dengan begini tak akan ada manusia yang tak ikut campur dalam pertarungan ini terlibat.

Basara yang masih menahan kapak itu kemudian mementalkannya ke atas sambil menebas, sosok Orlando itu menghindarinya dengan melompat ke belakang. Pedar emas menyelimuti kapaknya dan dia kemudian mengayunkannya, membentuk gelombang emas besar yang mengarah langsung ke arah Basara.

Dengan sebuah tebasan pula, Basara melakukan Banishing Shift yang membuat tebasan tersebut menjadi tak berguna karena masuk ke dalam celah Void.

Sosok itu yang melihat serangannya gagal hanya memandang kosong saja sambil mendarat pelan di lantai.

"Apa maksudnya ini?!" Sona berteriak dengan keras. Suaranya terkesan tegas dan dia marah. Siapa yang tidak marah mengetahui akademi dimana dia menjabat sebagai ketua Osis diserang oleh orang yang dia tak ketahui? "Dan siapa kau?!"

Sosok itu memndang ke arah Sona, membuat Sona yang melihat, ie... Semua yang melihat pandangan mata kosong itu terasa mencekam dan seolah mengirimkan sensasi merinding.

"Bukan target..." Orlando berkata dengan mengacungkan kapaknya. "Mereka yang bukan target diharapkan pergi dari sini segera atau akan ikut dibunuh disini."

"Buchou, minna, semuanya pergilah dari sini... Dia adalah salah satu wakil juga..." Issei bicara kemudian. Dia kemudian memanggil sacred gear miliknya.

Semua iblis yang mendengarnya terkejut. Tentu saja mereka tahu apa yang dimaksud dengan wakil itu, bahkan mereka diminta berhati-hati dengan itu.

Rin dan Basara yang tahu itu juga menaikkan alis. Mereka tahu sosok ini wakil yang mengincar mereka, hanya mereka tak tahu dia berasal dari mana.

"Jadi kau tahu bahwa dia juga wakil, neh, Hyoudou-san?" tukas Basara. Mereka kemudian saling berpandangan sejenak sebelum saling mengangguk.

Satu hal yang belum diketahui adalah, meskipun Issei tahu Rin dan Basara adalah wakil, dia tak menyerang mereka. Bahkan dengan sebuah persyaratan yang ada, mereka membentuk aliansi sementara dalam pertempuran ini untuk bertahan hingga akhir yang disetujui kedua belah pihak baik dari pihak iblis dan pihak klan pahlawan yang juga mau dengan beraliansi sementara yang diajukan oleh pihak iblis dalam menghadapi pertarungan yang menggemparkan seluruh dunia supernatural ini. Tentu saja pihak klan pahlawan menyetujui ini karena pihak iblis menawarkan informasi yang klan pahlawan butuhkan.

"Semuanya ayo pergi dari wilayah ini! Ini bukan sesuatu yang bisa kita hadapi." Naruse Mio berkata demikian yang disetujui yang lain. Mereka yang bukan bagian dari ini segera menyingkir, meninggalkan tiga orang disana, Issei, Rin dan Basara.

"Kita tak tahu apa kekuatannya. Lebih baik kita berhati-hati. Aku akan berada di belakang sebagai support kalian." tukas Rin kemudian. "Dia sudah melanggar peraturan dengan menyerang disini. Pertarungan harusnya berada di Underworld bukan disini, jadi bunuh dia dan selesaikan dengan cepat!"

"Youkai! Ojou-sama..."ujar Basara.

"Kita kalahkan dia!" ujar Issei kemudian. [Balance Breaker: Rodius Armor!]; suara sacred gear Issei menggema dan Issei kemudian terbalut armor kemudian.

"Bunuh sasaran..."

Suara dingin masuk kembali. Dengan cepat Orlando bergerak kembali menerjang dari depan; Basara juga maju ke depan dengan pedangnya.

Dua senjata itu berbenturan menimbulkan gelombang sama seperi yang pertama. Tepat saat dua senjata itu berbenturan, Issei juga ikut menyerang. Dia tiba-tiba muncul di samping dengan tombak aliran petirnya yang siap membunuh dan dia kemudian menusukkannya, mengincar kepala dari Orlando.

Tapi Orlando mengelak dengan menarik kepalanya ke belakang, menghindari tombak itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Dengan wajah masih tanpa emosinya, Mana meledak dari tubuhnya, membuat dua pemuda itu terpental sedikit kebelakang.

Tiba-tiba, setelah dua pemuda itu terpental, dua lingkaran sihir yang mengeluarkan laser energi murni dengan warna oranye dari lingkaran sihir itu keluar, mengincar dua pemuda itu dengan kecepatan yang akan membuat iblis kelas menengah terlihat lambat dalam perbandingan.

Tapi dua pemuda itu cepat, lebih cepat dari iblis kelas menengah yang ada. Apalagi Issei yang kecepatannya sekarang sudah setara dengan iblis kelas tinggi, dua pemuda itu menghindarinya dengan memutar tubuh mereka untuk menghindari laser tersebut.

Laser tersebut mengenai tempat pemuda itu terpental dan membuat ledakan besar, menggetarkan tanah dan shockwave yang tercipta setelahnya cukup untuk membuat manusia biasa terlempar jauh sekali.

Itu kemudian ketika Orlando tiba-tiba melemparkan kapaknya kepada Basara. Kapak itu berpedar emas. Merupakan kapak dengan kemampuan memotong jarak yang menyebabkan tiba-tiba saja kapak itu sudah berada di depan wajah Basara.

Hal itu buruk! Basara tak bisa melakukan teleportasi dan dia tak bisa menangkis kapak sedekat ini!

Tapi seketika itu pula sebuah tombak petir membuat kapak itu terpental ke udara. Issei yang melemparkan tombak petirnya itu menyelamatkan Basara dengan melemparkan tombak tepat pada saat tombak itu dilemparkan Orlando ke arah Basara. Tombak itu memang memiliki kemampuan memotong jarak, tapi Issei memiliki kemampuan petir yang membuat tombaknya juga cepat secepat petir yang menyambar!

Kapak yang terpental itu kemudian jatuh lagi ke tangan Orlando. Tapi tepat saat itu jatuh ke tangannya, sebuah lingkaran sihir juga mengeluarkan laser berwarna putih, mengincar Orlando yang hanya memandang kosong ke arah laser yang datang ke arahnya. Kapak yang dipegangnya kemudia berdetak dan itu kemudian membesar menjadi dua kali ukurannya dan pedar emas kembali menyelimuti kapak itu sebelum kemudian sebuah gerakan tebasan horisontal dilakukan Orlando, menciptakan gelombang emas dengan bentuk bulan sabit yang mengarah ke arah laser.

Suara ledakan tercipta seketika dan hembusan angin setelahnya benar-benar kuat sekali.

Orlando benar-benar seperti robot sekarang, drone atau boneka yang tak banyak bicara apapun. Dengan pelan dia melompat ke belakang denga cepat dan kemudian dia berdetak.

Tubuhnya berdetak, lalu perlahan kulit manusia itu sobek. Memunculkan monster mirip kadal namun bukan naga karena tak bersisik berwarna ungu dengan rambut di kepala yang tingginya 15 meter dengan gigi tajam dan terlihat menjijikkan. Kapak yang dia pegang juga menjadi membesar menyesuaikan ukurannya dan dia kemudian jatuh ke tanah.

Tanah bergetar dengan hebat ketika itu. Dengan teriakan yang keluar dari mulutnya menjadikan dia lebih agresif.

"Makhluk apa itu?!" teriak Issei.

Kemudian setelah teriakan itu reda, kapak besar itu terayun ke arah bangunan tempat mereka bertiga berada.

"Oh, sial! Rin!"

"Diam dan jangan berteriak!" balas Rin. Tepat sebelum kapak itu menyentuh bangunan, mereka bertiga sudah berpindah dengan sihir teleportasi ke salah satu bangunan terdekat.

"Rrrrrrooooaaaarrrrr!"

Bangunan itu hancur terkena kapak yang diayunkan dengan kuatnya. Material bangunan terhempas ke berbagai arah.

Rin menggertakkan giginya. Dia tahu makhluk ini dari apa yang pernah dia baca.

Troll.

Mahkluk yang hampir punah, bahkan sudah bisa di kategorikan punah karena tak pernah ada lagi yang terlihat di dunia supernatural. Dia tak menyangka awal pertempurannya adalah melawan makhluk ini.

"Rin..."

"Kita melawan Troll, Basara..."

"Sial!" kutuk Basara kemudian. Troll itu masih mengamuk dan menebaskan kapaknya tanpa henti.

"Kita butuh sesuatu seperti sihir dengan api panas untuk memotong atau membakar Troll hanya itu satu-satunya cara untuk menang."

"Tapi dari kita semua tak ada yang punya itu!" teriak Basara frustasi. Banishing Shift akan tak berguna melawan musuh yang mempunyai kemampuan regenerasi instan.

"Atau mungkin kita memang butuh api..." ujar Rin kemudian. Dia lalu memandang Basara dengan tatapan serius. "Aku bisa membakarnya dengan apiku dan Kita bisa membunuhnya dengan mengirimnya ke celah Void. Celah Void sendiri yang akan mencabik-cabik tubuhnya. Tapi masalahnya apa kau kuat melakukan itu Basara? Membuka celah Void besar benar-benar membebani tubuhmu bukan?" tukas Rin kemudian. Dia khawatir dengan Basara jika rencana ini dilakukan. Terakhir kali Basara membuka celah Void besar adalah untuk melindungi mereka semua dari serangan gila Sekiryutei yang mana di akhirnya Basara harus menderita luka cukup parah namun untungnya masih bisa disembuhkan.

"Kalau begitu, maka kita lakukan saja!"

Tubuh Basara bersinar. Dan dia lalu terbalut armor putih miliknya dengan tanda aura Nephilim keluar dari tubuhnya. Hal itu kemudian menarik perhatian Troll yang masih mengamuk itu dan di datang menerjang ke arah bangunan dengan kapak yang akan terayun yang mana tiba-tiba saja dia sudah di depan bangunan itu dengan kapak yang sudah siap turun

"!"

Basara yang melihat itu segera menahan kapak besar itu. Shockwave yang tercipta cukup untuk mementalkan Rin ke belakang. Tapi Rin segera memutar tubuhnya. Matanya bersinar dan dia kemudian mengarahkan satu tangannya ke depan.

Sebuah lingkaran sihir berwarna ungu muncul di bawah kaki Troll besar itu yang kemudian api keunguan keluar dari sana.

Incinerate Anthem.

Sacred gear yang memiliki wujud api kutukan berwarna ungu.

Api ungu itu dengan cepat naik ke atas, membakar Troll tersebut dengan api kutukan yang dibawanya. Suara teriakan kesakitan terdengar keras dan Troll itu mulai mengamuk dalam kesakitan.

Sebenarnya, jika saja Troll itu tak dikendalikan oleh suatu sigil sihir yang membuatnya menjadi mengamuk seperti hewan buas yang marah saat menunjukkan wujudnya, Troll itu bisa menjadi musuh yang akan sangat merepotkan, sayangnya hal itu tidak terjadi sekarang.

Apa yang Rizevim inginkan hanyalah suatu tayangan yang menarik hatinya yang bosan. Membuang satu wakil yang tak berguna dalam pertempuran Royal yang dia sudah dapatkan jauh sebelum Battle Royal ini dimulai adalah harga yang murah untuk itu.

Lagipula dia ingin melihat kualitas dari duo Nephilim yang bersumpah setia pada putri dari ketua Klan Pahlawan itu dengan iblis pawn dari Gremory yang diberkahi dengan kecepatan pertumbuhan abnormal.

"Rrrrroooooaaaarrrr!"

Teriakan kesakitan Troll itu akibat api kutukan menggema di ruang dimensi buatan. Itu terasa... Terasa seperti seseorang yang dibakar hidup-hidup. Dengan beringas, Troll itu mengayunkan kapaknya secara membabi buta meskipun dia masih merasakan sakit. Kulitnya terbakar dan Rin memang berniat membakar hingga habis Troll tersebut.

Sebuah ayunan kapak mengenai bangunan tempat mereka berada. Dengan cepat Basara dan Rin melompat ke arah bangunan lain. Mereka berdua melompat ke arah bangunan olahraga yang ada dan mendarat disana.

Tapi tunggu, dimanakah Issei?

Suara petir menggelegar terdengar di langit dan Issei melayang di atas dengan posisi siap melemparkan tombak petir besar ke arah Troll yang berada di bawahnya.

"Makan ini! Lightning Bolt!"

Dengan satu lemparan kuat, tombak petir dilemparkan Issei ke bawah. Tombak itu datang dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara dan itu tepat menancap di kepala Troll tersebut yang kemudian memuncratkan darah berwarna hitam dan meledak dalam pilar besar berwarna biru.

Tapi apakah itu cukup? Tentu saja belum. Saat pilar biru itu mereda, terlihat tubuh Troll itu terkelupas di beberapa bagian, memperlihatkan tulang hitam yang ada dan daging yang ada terlihat meletup-letup tanda akan beregenerasi.

Tapi itu tak akan dibiarkan oleh Rin. Tidak ketika ungunya berkobar membesar dan semakin membakar.

"Fire Rosario."

Rin mengucapkan nama tekniknya. Api miliknya merangkak membesar menjadi bentuk salib dengan panas yang teramat sangat panas dan membakar Troll itu.

Dan Basara sudah bersiap dengan tiba-tiba di belakang Troll tersebut yang terkurung dalam api. Pedangnya terselimuti pedar hijau bercampur keemasan.

Ini bukan Banishing Shift, bukan. Ini adalah teknik pedang rahasia miliknya.

Dan cahaya pedangnya menjulang ke atas langit berwarna kehijauan bercampur emas. Itu bersinar sangat terang hampir seperti matahari kedua; harusnya itu akan menyakitkan untuk dilihat melihat betapa terangnya, itu harusnya membutakan, namun yang melihat itu tak mengalaminya. Teknik pedang ini adalah merupakan salah satu kartu As yang dia miliki. Dia belum memberi nama teknik ini jadi yang dia lakukan selanjutnya hanyalah satu.

Pilar cahaya kehijauan dengan campuran emas masih berada menjulang di atas, itu masih belum menghilang bahkan semakin dilihat, cahaya pilar itu semakin terang dan makin membesar.

Dan cahaya yang menembus langit itu mulai mengaum, dan Basara mulai mengambil langkah maju untuk mengayunkan cahaya turun.

Dan pilar cahaya itu mengenai Troll yang berada di dalam api salib itu, memakan Troll beserta apinya seluruhnya dan dalam waktu sedetik tak ada lagi yang tersisa, eksistensi Troll itu hilang sampai ke inti menyisakan tanah yang membara dan berwarna hitam dari sisa kemarahan pilar cahaya Basara.

Dan siapapun yang melihat serangan barusan akan meneguk ludah setelahnya.

[Bagian 4]

"Hmmm... Itu sangat menarik. Jika bisa kubilang itu adalah serangan yang setara Satan kelas rendah, nee... Basara..."

Dia berada di sana. Mengawasi pertempuran antar wakil dimana satu dikeroyok oleh tiga wakil yang bekerjasama. Yah, beraliansi satu sama lain adalah pikiran yang cukup logis dalam pertempuran yang memiliki banyak sekali wakil dalam satu pertempuran.

Dia sudah duduk disini cukup lama. Rambut pirangnya berkibar dan wajah tampannya terlihat di sebuah dahan pohon tempat dia mengamati.

Tadi, ketika Troll itu menyerang, dia harus pura-pura pingsan dan kemudian baru menyusup bergerak masuk ke dalam ruang dimensi buatan tanpa ketahuan dengan skill Penetrate miliknya. Lalu dengan sihir Camouflage, dia membuat dirinya menjadi transparan hanya untuk mengamati pertempuran ini.

Satu wakil sudah tewas. Beberapa di belahan dunia lain Underworld juga sudah bertempur dan ada juga yang sudah mati.

"Tapi... Mengirim seeorang Troll yang jadi wakil dan ternyata seorang pion untuk melanggar peraturan... Kau itu sedang merencanakan apa sebenarnya huh?"

Naruto bergumam sendiri. Dia tahu yang mengirimkan Troll ini adalah Rizevim karena dia mendapat pemberitahuan telat dari Zetsu karena katanya Zetsu tadi sedang bermain dengan seekor neko-chan hitam yang nakal. Sungguh ingin sekali dia menghajar Zetsu karena itu, tapi biarlah. Dia juga pasti punya alasan untuk itu.

Dengan melanggar pertarungan yang harusnya ada di Underworld, pihak ras Troll yang masih tersisa satu pasti menerima kosekuensi dari ini.

"Tiga orang ras berbeda yang diperkirakan setidaknya menjadi faktor jalannya pertempuran." Naruto kemudian memandang ke arah Rin yang sedang menatap tanah hitam hasil serangan Basara. "Dan satu ras yang harus dilindungi. Mattaku... Sepertinya kelompok kalian akan jadi magnet masalah, Nee... Rin-chan..."

"Tapi..." Tubuh Naruto kemudian terselimuti api, dia akan melakukan teleportasi. "Seperti yang kubilang sejak awal, kita akan melihat siapa yang memainkan siapa bukan Rizevim?" tukasnya sambil memandang di salah satu bangunan dimana dia melihatnya. Sang iblis perak yang juga ikut melihat pertarungan ini yang sedang tersenyum maniak. Sangat maniak hingga itu seperti anak kecil yang baru saja kegirangan melihat tontonan kartun yang menarik.

"Karena... Mau bagaimanapun, kau adalah faktor yang berada di peringkat ke tiga yang patut diwaspadai..."

Gumaman itu diucapkan Naruto sebelum dia pergi dari sana, menghilang seolah tak pernah berada di sana.

Sementara itu, yang dimaksud Naruto yang sedang tersenyum maniak itu kemudian berbalik dan mulai melangkah pergi. Dia terlihat cukup puas saat ini dimana dia sudah mendapat informasi apa yang dia butuhkan, terlebih lagi dia juga berhasil tahu bahwa ada orang ketiga yang juga mengamati pertarungan ini dari jarak jauh yang bersembunyi dan tak terlihat olehnya tapi Rizevim merasakannya karena dia, yang bersembunyi itu juga merupakan salah satu wakil.

"Sebuah permainan baru saja dimulai... Saa... Setelah ini saatnya menarik Hyoudou Issei ke arahku dan akan kumajukan dia...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

...

... Untuk melukai cucu kesayanganku yang memilih menjadi manusia"

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Daftar Ras yang sudah keluar sementara

Dragon : Naruto, ?

Manusia : Murayama Rin, Vali Lucifer.

Iblis : Rizevim Livan Lucifer, Hyoudou Issei

Malaikat : Dulio Gesualdo, ?

Malaikat jatuh : Ikuse Tobio, ?

Elf : Emilia, ?

Undead : Grimmjow Jaegerjaquez, ?

Dwarf : Ariele, ?

Nephilim : Toujou Basara, ?

Troll : Orlando, ?

Vampire : Seras Victoria, Alucard

Deskripsi

Troll yang berada di dunia DxD adalah ras yang sudah punah, tak pernah ada lagi yang tersisa kecuali beberapa akibat tempat atau wilayah mereka dibuat medan perang oleh perang saudara Iblis antara fraksi iblis lama dan fraksi iblis baru. Kebanyakan mereka dibunuh atau dibunuh secara masal oleh fraksi iblis lama dimana Orlando adalah salah satu yang berhasil selamat dari genosida yang ada dalam keadaan sekarat. Dia ditemukan oleh Rizevim dan dia disembuhkan namun dengan bayaran dia ikut dengan Rizevim sebeelum akhirnya pergi berkhianat. Tapi ternyata penghianatan yang dia lakukan hanyalah bagian dari Rizevim semata agar dia bisa bebas sementara karena tanpa dia sadari, dia sudah diberikan sigil budak di tubuhnya.

Basara sebagai Nephilim atau campuran antara malaikat dan iblis akan ikut dalam Battle Royal. Dia ikut bukan sebagai wakil ras tapi sebagai seseorang yang akan melindungi Murayama Rin hingga dia menang untuk membayar hutang budinya kepada klan pahlawan.

Aliansi antara pihak iblis dan pihak klan pahlawan dibuat setelah kegemparan terjadi. Pihak iblis melatih serius wakilnya sementara mereka mencari wakil lainnya yang ternyata Rizevim tanpa mereka ketahui. Issei akan tumbuh pesat dalam kekuatan nantinya.

Aku tak bisa menampilkan adegan action terus menerus kalau kurang puas silahkan tekan saja tombol back.

Chapter 11 sudah update dan aku mau langsung mengerjakan chapter 12.

Ada banyak yang harus aku ubah berdasarkan runtutan cerita, tapi itu tak masalah nanti.

Naruto overpower? Pffftt... musuh yang sama kuatnya atau lebih hebat dari dia belum muncul. Dan kuberitahu, musuhnya sangat mencengangkan!

Terima kasih untuk yang sudah mendukung fic ini. Silahkan tinggalkan jejak review kalian untuk menghargai penulis.