Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
Kongming-san : Soalnya kalau terlalu banyak berharap, nanti nggak bisa bersyukur kalau dapetnya jauh dari harapan. XD
Atin-san : Yah, nggak papa. Biar pembaca pada penasaran. Kalau langsung panjang, ntar nggak penasaran lagi. XD
Airin-san : Hubungan mereka akan tetap begitu meskipun mereka pacaran betulan soalnya mereka berdua memang abnormal. He he he.
shiho Nakahara : Jangan salah paham dulu sama Shinichi. Rate-nya tidak akan berubah karena meskipun ada adegan mesum, akan aku sensor. Contohnya di chapter ini. He he he.
shihoCool'n : Oke deh!
Misyel : Ya harus dong. Kan Shinichi belum bisa menundukkan Shiho. Kalau Shiho suka atau nggak, silahkan ditebak sendiri karena ini masih misteri. He he he.
SherryHazel : Kiss-nya rencananya habis konflik dan karena konfliknya belum muncul juga, ya dimohon kesabarannya. He he he.
moist fla : Roger bos. Chapter ini juga masih ShinShi. Bahkan mungkin sampai chapter depan. Kiss-nya... tunggu tanggal mainnya! XD
Aiwha-san : Karena wanita ingin dimengerti? XD
grey chocolate : Ooh, aku nggak nonton soalnya nggak ada Ai, Conan dan BO, udah gitu katanya banyak mature content-nya. Dan karena aku gagap soal artis Jepang, aku nggak ngeh walaupun banyak yang bilang kalau Tori itu populer. Kalau ortu Shinichi, setelah di awal cerita, aku juga belum tahu apakah mereka akan ambil bagian lagi. Tapi mungkin mereka bakalan muncul saat pesta pernikahannya Profesor Agasa dan Fusae. XD
Anonim : Jangan berprasangka buruk dulu sama Shinichi. XD. Kalau reaksi Ran, kita tidak akan pernah tahu. Maklum, dia cuma jadi cameo.
kudo kun ran : Yang jelas kissing-nya habis konflik. Namun aku juga belum tahu konfliknya di chapter berapa. Jadi kesimpulannya, aku juga belum tahu kissing-nya di chapter berapa. Jadi sabar aja. He he he.
Waktunya curcol!
Ckckck, ternyata banyak pembaca yang mulai berpikir yang tidak-tidak kayak Heiji dan Sera. He he he. Padahal maksudnya Shinichi itu dia ingin membawa Shiho ke tempat tidur untuk tidur, bukan untuk melakukan hal yang lain. Tapi karena para pembaca sekalian kelihatannya ingin sekali mereka berdua melakukan hal lain selain tidur, maka penulis dengan terpaksa menulis hal lain itu sebelum mereka tidur. XD
Selamat membaca dan berkomentar!
Jangan Bilang Tidak
By Enji86
Chapter 11 – Pelajaran Pertama
Saat Shinichi menyadari bahwa Shiho sudah mematikan laptopnya dan sedang membereskan buku-bukunya, Shinichi langsung menutup buku Sherlock Holmes-nya dan menaruhnya di meja lalu bangkit dari sofa. Dia melangkah ke belakang Shiho lalu berlutut untuk memeluk Shiho.
"Sayang, bisakah kita ke kamar sekarang?" tanya Shinichi lalu dia mengecup pipi Shiho.
"Kau lihat sendiri kan kalau aku sedang...," ucapan Shiho terhenti karena dia berteriak kecil ketika Shinichi tiba-tiba menggendongnya.
"Kau tahu kan, aku tidak menerima jawaban selain iya," ucap Shinichi sambil nyengir.
"Tapi aku harus membereskan buku-bukuku," protes Shiho.
"Kau bisa melakukannya besok. Sekarang kau adalah milikku," ucap Shinichi sambil mulai melangkah.
Shiho pun hanya bisa menghela nafas karena ketika Shinichi ada maunya, Shinichi sangat pemaksa, sama seperti pacarnya yang dulu. Tapi meskipun begitu, Shinichi juga sangat pengertian karena sampai sekarang Shinichi tidak pernah memaksanya untuk berciuman atau bercinta dengannya padahal dia kadang-kadang memergoki Shinichi sedang menatap bibirnya dengan tatapan penuh hasrat.
Beberapa saat kemudian, Shiho sudah berada dalam dekapan Shinichi di tempat tidur. Mereka berdua hanya berdiam diri selama beberapa lama sampai Shinichi membuka mulutnya.
"Sayang, apa kau masih ingat? Beberapa waktu lalu kau pernah bilang padaku kalau kau akan mengajariku cara untuk bermesraan. Jadi kapan kau akan mengajariku?" tanya Shinichi.
"Entahlah," jawab Shiho. "Apa aku harus melakukannya?" tanyanya.
"Tentu saja. Kau kan sudah bilang kau akan mengajariku," jawab Shinichi.
"Entahlah, Kudo-kun. Aku hanya khawatir nanti kau akan menyesal," ucap Shiho.
"Kenapa memangnya? Atau jangan-jangan kau sama bodohnya seperti aku kalau menyangkut hal-hal semacam itu? Makanya kau juga tidak mau berciuman dan bercinta denganku?" tanya Shinichi penasaran.
Shiho pun tertawa kecil kemudian mendongak untuk menatap wajah Shinichi.
"Kau akan menyesalinya. Percayalah padaku," ucap Shiho tanpa menjawab pertanyaan Shinichi.
Mendengar ucapan Shiho barusan malah membuat Shinichi makin penasaran, jadi dia semakin ingin mencoba.
"Sayang, apa kau sudah lupa kalau aku adalah seorang detektif? Aku akan mencoba apapun walaupun aku akan menyesalinya. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan penyesalanku," ucap Shinichi dengan senyum penuh percaya dirinya.
Shiho pun menatap Shinichi dengan geli.
"Tapi masalahnya kau akan menyesalinya sebagai seorang laki-laki, bukan sebagai detektif," ucap Shiho.
"Aku tidak peduli. Bagiku itu sama saja. Jadi lakukan saja yang harus kau lakukan," ucap Shinichi yang sudah mulai tidak sabar karena rasa penasarannya sudah tidak terbendung.
"Hmm, bagaimana ya?" ucap Shiho dengan ekspresi sedang berpikir keras.
"Shiho," rengek Shinichi sambil menarik-narik lengan piyama Shiho seperti anak kecil.
"Kudo-kun, kau sadar kan kalau kau sedang merengek padaku," ucap Shiho, setengah terkejut, setengah geli.
"Aku tidak peduli. Aku ingin kau melakukannya. Aku ingin tahu. Aku tidak peduli walaupun aku harus merengek kepadamu," ucap Shinichi masih dengan nada merengek.
"Baiklah, karena kau begitu tidak peduli," ucap Shiho sambil melepaskan diri dari dekapan Shinichi. "Aku akan mengajarimu," lanjutnya sambil mendorong Shinichi agar berbaring telentang. "Dan karena kau seorang detektif jenius, aku hanya akan memberimu contoh," lanjutnya sambil menduduki pinggang Shinichi. Lalu dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Shinichi kemudian menatap mata Shinichi dengan intens. "Dan kuharap kau tidak melupakan kesepakatan kita," ucapnya sambil membuka kancing kemeja Shinichi sehingga jantung Shinichi berdebar sangat kencang. "Dan jangan salahkan aku karena aku sudah memperingatkanmu," ucapnya setelah dia selesai membuka semua kancing kemeja Shinichi. "Kau akan menyesalinya, Kudo-kun," ucapnya sambil tersenyum ala Sherry. Lalu dia pun melakukan apa yang harus dia lakukan.
Melihat reaksi Shinichi terhadap apa yang sedang dilakukannya membuat Shiho teringat pada Shuichi. Dia yakin sekali, kalau dia melakukan hal seperti ini pada Shuichi, dia pasti akan menjadi tahanan Shuichi dan Shuichi pasti tidak akan pernah melepaskannya. Memikirkan hal ini membuatnya tersenyum.
"Jadi bagaimana menurutmu, Sayang?" tanya Shiho sambil menatap Shinichi yang berwajah sangat merah dan bernafas terengah-engah, sementara tangannya sibuk mengancingkan kembali kemeja Shinichi. Senyum ala Sherry-nya masih menghiasi wajahnya.
"Itu... sangat... hebat...," ucap Shinichi putus-putus karena dia masih berusaha keras mengendalikan organ pernafasannya.
Shiho pun tertawa kecil.
"Benarkah? Padahal aku sudah lama tidak melakukannya. Kurasa aku memang ahli dalam hal ini," ucap Shiho.
"Jadi kau... pernah melakukannya... pada orang lain...?" tanya Shinichi yang nafasnya masih belum normal kembali dengan nada tidak suka.
"Tentu saja. Kalau aku tidak pernah melakukannya pada orang lain, bagaimana bisa aku sehebat itu," ucap Shiho sambil nyengir sehingga wajah Shinichi menjadi cemberut dan dia mengalihkan pandangannya dari Shiho yang masih menduduki pinggangnya. Membayangkan Shiho melakukan hal itu pada laki-laki lain membuat hati Shinichi terasa sakit.
Melihat tingkah Shinichi, Shiho pun tersenyum. Dia kembali membungkuk kemudian dia memegang kedua pipi Shinichi agar Shinichi kembali menatapnya.
"Ada apa?" tanya Shiho.
Shinichi kembali ingin membuang muka tapi Shiho memegang pipinya dengan kuat sehingga dia tidak bisa berpaling.
"Tidak ada apa-apa," jawab Shinichi meskipun matanya dan ekspresi wajahnya berkata lain.
"Kalau ini bisa membuatmu merasa lebih baik, sebenarnya hal itu merupakan salah satu keahlian dasar yang wajib dimiliki oleh anggota Organisasi yang berjenis kelamin wanita dan merupakan keahlian pilihan bagi anggota Organisasi yang berjenis kelamin laki-laki," ucap Shiho. Kemudian dia menggerakkan jari telunjuknya ke tengah dahi Shinichi lalu bergerak turun ke pipi, bibir, rahang dan leher Shinichi sambil melanjutkan perkataannya. "Dengan begitu, meskipun mereka harus menghadapi lawan yang jauh lebih kuat daripada mereka, mereka tetap mampu menghabisinya dengan mudah."
Shinichi menelan ludah dengan susah payah dan tubuhnya merinding karena rasa takut sekaligus rasa nikmat yang muncul karena ucapan Shiho dan sentuhan Shiho. Dia merasa agak kecewa ketika Shiho menegakkan tubuhnya kembali dan berhenti menyentuhnya.
"Tapi karena aku seorang ilmuwan yang lebih banyak menghabiskan waktu di laboratorium Organisasi, aku tidak pernah melakukannya pada laki-laki yang bukan anggota Organisasi dan seingatku mereka semua mati saat kita menggerebek markas Organisasi," ucap Shiho melanjutkan ucapannya. "Jadi apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanyanya sambil nyengir.
"Bagaimana bisa aku merasa lebih baik setelah aku mendengar semua itu?" gerutu Shinichi sambil kembali membuang muka.
Shiho hanya tersenyum kecil mendengar gerutuan Shinichi, kemudian dia bangkit dari pinggang Shinichi dan berbaring di sebelah Shinichi.
Sementara itu, Shinichi berbaring melingkar dengan punggung menghadap Shiho setelah Shiho bangkit dari pinggangnya. Tubuhnya masih terasa panas setelah apa yang dilakukan Shiho padanya. Bahkan rona merah di wajahnya tidak juga menghilang. Sekarang dia merasa tidak terima karena Shiho pernah bermesraan dengan laki-laki lain sementara dia belum pernah melakukannya dengan wanita lain sebelum Shiho. Bahkan tidak dengan Ran karena hubungannya dengan Ran adalah hubungan yang polos. Dia hanya sampai mencium kening dengan Ran karena entah kenapa Ran tidak memberinya rangsangan untuk berbuat sesuatu yang lebih jauh padahal dulu dia sering sekali membayangkan berciuman dengan Ran. Tapi begitu kesempatan itu datang, dia jadi tidak menginginkannya lagi.
Shinichi memeluk dirinya sendiri dengan erat untuk menahan keinginannya mendekap tubuh Shiho. Tapi itu sangat berat setelah apa yang dilakukan Shiho barusan. Dia menutup matanya rapat-rapat, mencoba untuk tidur, tapi dia tidak bisa sehingga akhirnya dia memutuskan untuk menoleh. Dia berpikir mungkin jika dia melihat Shiho sekilas, hasratnya bisa sedikit terpuaskan. Namun begitu dia melihat Shiho yang sudah menutup matanya, dia benar-benar tidak bisa menahan diri. Dia langsung mendekap Shiho dengan erat.
Shiho tidak bisa menahan senyum yang terbentuk di bibirnya ketika dia merasakan Shinichi mendekapnya saat dia sudah akan menginjak alam mimpi. Dia pun membuka matanya lalu meraih pipi Shinichi dan mengecup bibir Shinichi sekilas. Lalu dia kembali menutup matanya dan melanjutkan perjalanannya ke alam mimpi.
Sementara itu, Shinichi langsung membeku di tempat ketika bibir Shiho menyentuh bibirnya. Dia sebenarnya sangat menginginkan bibir itu, apalagi setelah apa yang dilakukan Shiho padanya tadi. Dia jadi bertanya-tanya kenapa Shiho barusan mengecup bibirnya dan itu membuatnya mulai berharap bahwa Shiho akan mau berciuman dengannya dalam waktu dekat. Dia pun tersenyum pada harapannya itu lalu menutup matanya untuk menyusul Shiho ke alam mimpi.
Sayangnya Shiho tidak pernah tahu bahwa dia mendapat nilai sempurna saat pelatihan keahlian ini di Organisasi sehingga dia tidak bisa memamerkannya pada Shinichi dan membuat Shinichi lebih ketakutan. Karena nilai sempurnanya itulah, Gin menyebutnya wanita liar. Dia bisa mendapat nilai sempurna karena tingkat kesadisannya yang sangat tinggi. Bagaimana tidak, dia bahkan merasa biasa saja ketika mengorbankan tikus-tikus percobaannya di laboratorium Organisasi untuk mencoba APTX buatannya meskipun dia sangat menyayangi mereka dan menganggap mereka sebagai sahabatnya.
Keesokan paginya, Shinichi menyadari bahwa tadi malam dia tidak belajar apapun. Otaknya serasa berhenti bekerja dan diselimuti kabut ketika Shiho mulai menyentuh tubuhnya. Yang dia ingat hanyalah dia merasa seperti di surga dan dia menginginkannya lagi. Dan dia juga tidak peduli lagi meskipun Shiho sudah pernah melakukannya pada laki-laki lain.
XXX
Shinichi benar-benar merasa tidak sabar sehingga dari tadi dia membolak-balik badannya di tempat tidur Shiho atau berjalan mondar-mandir di kamar Shiho. Kadang-kadang dia juga keluar dari kamar Shiho untuk melihat kalau-kalau Shiho sudah muncul. Saat itu sudah hampir tengah malam, tapi Shiho masih saja mengurung diri di ruang bawah tanah. Sebelumnya Shiho sudah memperingatkan atau lebih tepatnya mengancam Shinichi agar tidak mengganggunya sampai dia selesai mengerjakan apa yang harus dikerjakannya di ruang bawah tanah.
"Shiho lama sekali sih? Sebenarnya apa yang dikerjakannya di situ?" Shinichi mengomel sendiri sambil mendudukkan dirinya di tempat tidur Shiho setelah mondar-mandir selama beberapa lama.
Shinichi kemudian berbaring di tempat tidur, namun belum lama dia berbaring, dia mendengar seseorang membuka pintu kamar Shiho sehingga dia menoleh dan melihat Shiho sedang menutup pintu kamarnya. Shiho pun kemudian menoleh ke arahnya.
"Lho, kau belum tidur?" tanya Shiho dengan heran.
"Siapa bilang? Aku sedang tidur tadi tapi suara pintu yang kau buka membuatku terbangun," jawab Shinichi dengan angkuh.
Shiho pun langsung tertawa kecil karena dia tahu kalau Shinichi berbohong.
"Benarkah?" ucap Shiho sambil melangkah menghampiri tempat tidur. Kemudian dia menjatuhkan dirinya ke atas tubuh Shinichi yang berbaring telentang dan mengubur wajahnya di bahu Shinichi.
Shinichi agak terkejut dengan aksi Shiho tapi dia segera sadar dan otomatis melingkarkan lengannya di tubuh Shiho.
"Maaf sudah membangunkanmu," gumam Shiho sambil tersenyum.
"Kau ini! Sebenarnya apa sih yang sedang kau kerjakan? Sudah beberapa hari ini kau selalu mengurung diri di ruang bawah tanah," omel Shinichi.
"Penelitianku. Tapi aku tidak mau membahasnya sekarang. Aku capek sekali," ucap Shiho.
"Kalau kau capek kenapa kau kerjakan?" tanya Shinichi masih dengan nada mengomel.
"Karena aku harus mengerjakannya," jawab Shiho.
"Tapi kau jadi tidak mempedulikan aku belakangan ini," ucap Shinichi tanpa bisa menahan mulutnya.
Shiho langsung mengangkat kepalanya untuk menatap Shinichi dengan geli.
"Jadi itu sebabnya kau mengomel dari tadi?" tanya Shiho sambil tersenyum geli.
"Aku tidak mengomel," seru Shinichi membela diri tapi karena Shiho terus menatapnya, rona merah segera muncul di pipinya sehingga dia mengalihkan pandangannya. "Tapi kau memang tidak mempedulikan aku belakangan ini padahal aku menginginkannya lagi," gumamnya.
"Menginginkannya lagi? Menginginkan apa?" tanya Shiho, setengah bingung, setengah penasaran, sehingga Shinichi langsung sadar bahwa lagi-lagi dia tidak bisa mengendalikan mulutnya.
"Tidak, bukan apa-apa," jawab Shinichi.
"Ya sudah kalau kau tidak mau bilang. Tapi kau tidak akan mendapatkan apapun dariku kalau kau tidak bilang," ucap Shiho lalu dia kembali mengubur wajahnya di bahu Shinichi.
"Uhm, Shiho," panggil Shinichi.
"Hmm?" sahut Shiho.
"Aku... yang aku inginkan itu...," ucap Shinichi dengan gugup sehingga Shiho kembali mengangkat wajahnya untuk menatap Shinichi. "Err..., kau tahu kan, sesuatu yang menurutmu akan membuatku menyesal itu...," lanjutnya masih dengan gugup dan wajah memerah.
Shiho langsung mengerjap-ngerjapkan matanya lalu tertawa sehingga Shinichi menatapnya dengan kesal.
"Apanya yang lucu? Kan kau sendiri yang bilang kalau aku tidak mengatakannya padamu, aku tidak akan mendapatkannya?" ucap Shinichi dengan kesal.
"Habis kau mengatakannya dengan rumit begitu. Setidaknya kalau kau menginginkan hal itu, kau harus merayuku," ucap Shiho setelah tawanya reda.
"Jadi kau ingin aku merayumu?" tanya Shinichi.
"Tidak. Karena aku tidak akan mengabulkan keinginanmu itu," jawab Shiho.
"Kenapa tidak?" tuntut Shinichi.
"Karena yang kemarin itu adalah contoh yang kuberikan untuk mengajarimu karena aku sudah bilang aku akan mengajarimu," jawab Shiho.
"Tapi aku tidak belajar apapun," sembur Shinichi.
"Apa maksudmu?" tanya Shiho sambil menyipitkan matanya sehingga wajah Shinichi kembali memerah.
"Yah, aku terlalu terhanyut jadi aku tidak ingat apapun selain aku menginginkannya lagi," jawab Shinichi dengan malu-malu.
"Dasar laki-laki mesum," ucap Shiho sambil berusaha bangkit dari atas tubuh Shinichi tapi Shinichi menahannya.
"Shiho, tolong, aku sangat menginginkannya. Aku sangat ingin kau melakukannya lagi," ucap Shinichi dengan nada memohon sambil menggesekkan tubuhnya pada tubuh Shiho.
Melihat Shinichi yang kelihatan begitu putus asa menahan gejolak hormonalnya, Shiho pun melunak. Lagipula apa yang dia lakukan tidak melibatkan pertukaran cairan diantara mereka berdua. Shiho memang tidak mau bertukar cairan dengan Shinichi karena Shinichi sudah ada yang punya, makanya dia tidak mau berciuman atau bercinta dengan Shinichi.
"Baik, baik, aku akan mengijikanmu merayuku, tapi tidak sekarang, jadi hentikan itu sekarang juga. Aku ingin tidur sekarang karena aku capek sekali," ucap Shiho.
Shinichi langsung tersenyum lebar dan memeluk Shiho dengan erat sehingga Shiho kembali membenamkan wajahnya di bahu Shinichi.
"Sayang, kau memang yang terbaik," ucap Shinichi.
"Jangan senang dulu. Kalau kau tidak berhasil merayuku, aku tidak akan melakukannya," ucap Shiho sambil tersenyum.
"Aku pasti berhasil merayumu. Kau lihat saja nanti," ucap Shinichi dengan penuh percaya diri.
"Dasar detektif mesum," gumam Shiho sambil menutup matanya. Senyum masih menghiasi bibirnya.
"Hei, aku tidak mesum, aku ini hanya laki-laki normal," ucap Shinichi pura-pura kesal tapi Shiho tidak menanggapinya sehingga Shinichi mengangkat kepalanya untuk melihat Shiho dan menemukan bahwa Shiho sudah tertidur.
"Hmm, lagi-lagi dia tertidur dengan seenaknya," ucap Shinichi namun kali ini dia tidak merasa kesal dan malah tersenyum. Dia membelai rambut dan punggung Shiho dengan sayang sambil mulai berpikir bagaimana caranya merayu Shiho.
Bersambung...
