Pain#11
Main cast YEWOOK
Other cast akan muncul seiring berjalannya cerita
Rated : T
Warning : YAOI, AU, OOC, alur lambat, typos, dan kekacauan lain, GS for some cast
Genre : romance, angst, drama,
Enjoy!~~
################################################## #########################
0000000000000000000000000ooooooooooooooooooooooo00 00000000000000000000000
himalayavenus
/XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
"Yoboseyo?"
"Chunnie-ah."
...
"Suie?!"
"Ne, ini aku."
"Suie-ah! Ke mana saja kau selama ini? Mengapa kau pergi meninggalkanku begini? Sekarang kau di mana?!" Yoochun memberondong dengan berbagai pertanyaan.
"Aku aman-aman saja di sini, di suatu tempat. Apa kau baik-baik saja?" Junsu bertanya dengan suara yang pelan.
"Bagaimana bisa aku baik-baik saja?! Sekarang katakan kau berada di mana, aku akan menjemputmu sekarang juga."
"Ani. Aku tidak bisa pulang, aku telah melakukan kejahatan."
"Apa yang kau bicarakan? Mengenai masalah itu, Siwon sudah memaafkanmu. Dia memutuskan untuk tidak membawa masalah ini ke jalur hukum. Aku tahu, kau melakukan itu karena disuruh kan? Siapa yang menyuruhmu, katakan padaku."
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal."
"Suie! Suie! Apa maksudmu?! Suie-ya!" Yoochun berteriak kala ia tak mendengar suara Junsu lagi. Sambungan telepon pun sudah putus.
...
"Mian, Chunie." Junsu berkata lirih, ia melihat handphonenya yang sudah tenggelam masuk ke dalam sungai. Junsu mengeluarkan pisau kecil dari dalam sakunya, tangan wanita itu sudah bergetar dari tadi. Matanya juga terus mengeluarkan air mata. Ia sudah siap untuk mengakhiri hidupnya.
Pisau itu sudah mengoyak kulit pergelangan tangan Junsu, bukannya melepaskan Junsu malah makin memperkuat gerakan si pisau.
Crash.
Darah yang keluar karena seseorang menarik pisau yang sudah tertancap.
"Ya! Apa yang kau lakukan?!" Junsu berteriak.
Namja itu membuang pisau yang berlumuran darah ke air, ia memandang lurus kegelapan.
"Sungai ini terlalu indah untuk menjadi saksi kematianmu, Lee Junsu."
"Siapa kau?"
Jiyong tak banyak bicara, ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan langsung mengikat sapu tangan itu di pergelangan tangan Junsu. Junsu diam dari tadi, karena darahnya terus mengucur dan itu sangat menyakitkan. Junsu bahkan diam saat Jiyong mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil.
...
"Siapa kau? Apa maksudmu menyelamatkanku?" Junsu yang dari tadi diam mulai bicara, Jiyong sendiri masih sibuk berkutat dengan perban dan pergelangan tangan Junsu. Nampaknya acara mengobati pergelangan tangan Junsu sudah selesai, Jiyong langsung membuang semua barang yang dibelinya di apotek tadi ke tempat sampah. Dia menatap Junsu dengan wajah datar.
"Ya, nyonya. Kau harusnya berterimakasih. Bukan mencurigaiku seperti ini."
"Aku tidak mencurigaimu. Aku hanya bingung, mengapa kau melakukan ini? Kita tidak saling mengenal kan?"
"Tentu saja, kau tidak mengenalku. Tapi aku mengenalmu, Lee Junsu."
"Dari mana kau mengenalku?"
"Aku inspektur Kwon Jiyong, dari badan kepolisian Korea Selatan."
000000000
Seunghyun meletakkan beberapa mangkuk kecil di atas meja. Ia menyusun rapi soju, buah-buahan, dan beberapa makanan tradisional Korea. Minho juga membantu sang kakak. Hari ini adalah hari peringatan kematian ayah mereka. Mereka melakukan tradisi setiap tahunnya. Semua sesaji sudah rapi di altar. Seunghyun dan Minho kini sudah memakai setelan jas lengkap. Mereka berdua mulai bersujud di depan altar yang terdapat foto mendiang sang ayah, Choi Jungmo. Seunghyun dengan wajah khidmat seperti biasa, begitu juga Minho.
Seunghyun dan Minho terpaut perbedaan usia 3 tahun. Kini usia Seunghyun 26 tahun, adiknya Minho berusia 23. Ayah mereka meninggal 10 tahun yang lalu, sedangkan ibu mereka sudah meninggal saat melahirkan Minho. Ayah mereka seorang pensiunan guru. Seunghyun dan Minho punya kehidupan yang lumayan berat sejak ditinggal ayah mereka. Tapi, kini Seunghyun sudah bekerja sendiri, ia membuka kantor sendiri dengan dibantu adiknya dan beberapa pegawai lain. Mengenai masalah pacar, jangan tanya Seunghyun. Ia paling anti dengan hal-hal seperti itu. Ia tidak peduli, yang ada di pikiran seorang Choi Seunghyun hanya memecahkan kasus. Itu saja, setiap hari. Meskipun begitu, Seunghyun tidak menyiksa diri sendiri. Ia juga mencintai liburan, bahkan sering berlibur saat pekerjaan menumpuk.
Sesudah menyelesaikan ritual tahunan mereka, Seunghyun dan Minho masuk ke kamar masing-masing. Mereka biasanya akan begini, di luar rumah, salju terus turun seiring cuaca yang makin dingin. Seunghyun sudah mengganti bajunya lagi. Ia tidak langsung tidur melainkan pergi ke loteng rumah mereka. Tidak disangka-sangka Minho sedang berada di situ juga.
"Ya, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku ingin mengambil beberapa foto appa, sayang sekali kalau kenangan berharga harus dimakan rayap."
"Aku juga ingin mencari foto keluarga kita."
"Kalau begitu, cepat bantu aku. Jangan hanya berdiri di situ, hyung."
PLETAK. Seunghyun menjitak kepala adiknya.
"Berani-beraninya kau memerintah aku."
Minho hanya memajukan bibirnya sambil terus mengelap beberapa album foto yang sudah berdebu.
"Wah, lihat hyung. Foto ini bagus sekali, appa berfoto denganmu. Mengapa aku tidak ikut berfoto, ah, menyesal sekali." Minho memukul kepalanya sendiri, lalu menyerahkan foto tua itu ke tangan Seunghyun. Seunghyun langsung menerimanya.
"Ini bukan aku." Seunghyun mengamati foto itu sambil berkata.
"Eh? Yang benar saja. Masa itu aku? Lihat ini, ini wajahmu. Amati itu baik-baik!" Minho menepuk keras punggung hyungnya.
Seunghyun langsung meletakkan foto itu. Di foto itu nampak Choi Jungmo, ayah mereka sedang menggandeng tangan seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia dibawah 10 tahun. Foto itu sudah sangat usang. Seunghyun melangkah mendekati tumpukan album-album foto dan kertas-kertas yang berserakan di lantai. Ia mengambil album foto berwarna cokelat, lalu membukanya. Di dalam album itu banyak sekali foto-foto keluarga mereka. Seunghyun membuka lembar demi lembar sampai akhirnya ia fokus di lembar ke 5.
"Kau lihat ini. Ini appa, aku, dan kau. Perhatikan baik-baik wajahku dan wajah appa."
Minho hanya memicingkan mata, ia seperti tidak menyadari apapun.
"Ada apa dengan wajahmu dan wajah appa?" Minho malah bertanya konyol.
"Ya. Kita bandingkan foto yang kau berikan tadi dengan foto ini. Di foto ini, rambut appa beberapa sudah memutih, wajahnya juga terlihat lebih tua. Sedangkan di foto yang kau berikan, appa terlihat begitu muda, rambutnya juga hitam semua."
"Hyung, yang benar saja. Foto yang kuberikan hitam putih, kau mana bisa bilang rambut appa di foto itu hitam semua. Siapa tahu ada putihnya sedikit." Minho berkata sok tahu.
"Justru kalau fotonya hitam putih kita lebih bisa melihat perbedaan warna rambutnya, bodoh." Seunghyun menjitak kepala Minho. Sang adik langsung memfokuskan mata di foto itu lagi.
"Kau ada benarnya juga, hyung. Muka anak laki-laki yang ada di foto hitam putih itu berbeda dengan wajahmu yang ada di foto ini."
"Kau benar sekali. Padahal aku menduga bahwa usia aku dan anak laki-laki ini tidak berbeda jauh. Lihat, tinggi badan kami hampir sama meskipun aku lebih pendek."
"Ne, kau pendek sekali rupanya."
"YA." Seunghyun memberi Minho deathglare. Mereka pun menyimpan kedua foto itu lalu kembali sibuk melihat-lihat foto lain.
000000000
Namja mungil bernama Ryeowook mengeratkan mantelnya saat ia menyadari cuaca semakin dingin di malam ini. Ia sampai harus membersihkan beberapa salju yang menghampiri hoodie mantelnya. Ia mengingat kejadian kemarin, ia yang dari siang bersenang-senang bersama Jongwoon tiba-tiba berada di kamarnya sendiri besok paginya. Jongwoon yang membawa namja mungil yang akhir-akhir ini selalu tersenyum itu ke kamarnya. Ryeowook sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya dari minimarket 24 jam. Ia habis membeli beberapa bahan untuk mengisi kulkas kembali. Ryeowook masih bekerja di bar dan restoran seperti biasa, jadinya ia hanya punya waktu malam hari sehabis bekerja di bar. Jongwoon juga sering pulang balik Seoul-Yongin karena tuntutan pekerjaan. Padahal 3 hari lagi natal, Ryeowook ingin sekali merayakannya berdua. Ini adalah momen di mana ia ingin untuk merayakannya bersama orang lain, tidak sendiri lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi, Ryeowook sangat memahami kesibukan Jongwoon. Ia tidak bisa menuntut agar Jongwoon selalu ada di sampingnya. Ia sudah sangat bersyukur dengan perhatian dan kasih sayang Jongwoon selama ini, sudah lebih dari cukup.
Ryeowook yang melangkahkan kakinya tak sadar jika ia bertabrakan dengan orang lain. Bahu mereka saling bertabrakan, beberapa kantong belanjaan Ryeowook sampai jatuh. Ia mengambil semuanya tanpa melihat siapa yang ditabraknya. Nampaknya orang yang ditabrak Ryeowook marah, terlihat dari kilatan matanya. Ryeowook sadar ia ternyata menabrak orang lain setelah melihat kaki jenjang itu.
"Joesunghamnida. Aku tidak sengaja." ucap Ryeowook sambil membungkukkan badannya berkali-kali.
"Ya! Kalau jalan itu lihat-lihat!"
"Jeongmal joesunghamnida." Ryeowook masih membungkukkan badannya.
"Kau. Kau bukannya... dongsaeng yang kutabrak dulu?"
"Ye?" Ryeowook mengangkat badannya. Yoona langsung memegang kedua bahu Ryeowook. Namja mungil itu ingat siapa yeoja di depannya.
"Noona?"
"Ne! Ini aku! Kau masih ingat kan?" Yoona menggoyang-goyangkan bahu Ryeowook membuat sang pemilik tidak nyaman.
Tidak biasa bagi Ryeowook melihat Yoona berjalan sendiri di malam hari seperti ini. itu karena dia tidak tahu siapa dan bagaimana seorang putri keluarga Jung. Mungkin tidak akan ada yang pernah mengerti Yoona karena dia memang sangat sulit untuk dimengerti. Ryeowook sebenarnya sudah mau pamit pulang, tapi Yoona menahannya. Gadis itu mengajak Ryeowook untuk makan es krim di malam yang dingin dan bersalju. Awalnya Ryeowook menolak, tapi Yoona memaksa. Akhirnya mereka singgah di sebuah kedai es krim.
Mereka mengobrol tentang beberapa hal, Yoona juga tak lupa menanyakan keadaan Ryeowook pasca kecelakaan itu. Mudah bagi seorang Tan Ryeowook untuk memulai pertemanan dalam moodnya yang sangat baik. Karena pada dasarnya Ryeowook sangat suka berteman. Begitu juga Yoona, dia merasa menemukan teman yang enak untuk diajak curhat. Menurutnya Ryeowook banyak berubah. Jika dulu Ryeowook sangat dingin, sekarang semua itu sudah tidak ada lagi. Lenyap, digantikan Ryeowook yang suka tersenyum, tertawa, banyak bicara, dan tentunya menarik. Yoona sangat senang punya teman baru. Begitu juga Ryeowook, dia berpikir mungkin Yoona bisa jadi teman yang baik.
"Noona jalan-jalan sendirian, apa pacar noona tidak khawatir?"
"Molla, dia hanya peduli pada pekerjaannya saja, tidak pernah peduli padaku."
"Jinjja? Mana mungkin dia tidak peduli, punya pacar secantik noona." Ryeowook memuji Yoona. Yeoja genit itu langsung senyum-senyum tidak jelas.
"Ah, kau bisa saja, Wookie. Aku juga heran, aku secantik ini tapi dia tidak pernah peduli padaku. Padahal bulan depan kami tunangan, Wookie." Yoona bercerita.
Ryeowook agak sweatdrop saat mendengar Yoona memuji diri sendiri, tapi ia langsung antusias lagi ketika Yoona bercerita bahwa ia akan segera bertunangan.
"Jinjja? Chukae, noona!" Ryeowook mengucapkan selamat sambil tersenyum.
"Gomawo, ne, saengie... Tenang saja, saat aku tunangan, kau akan kuundang. Kau harus datang ya? Awas kalau kau sampai tidak hadir." Yoona mengundang dengan nada memaksa. Telunjuknya menunjuk wajah Ryeowook. Ryeowook hanya tersenyum kecil menanggapi yeoja kekanak-kanakan itu.
"Ne, aku pasti akan datang. Noona, aku harus segera pulang. Noona bisa pulang sendiri? Apa mau kucarikan taksi?" Ryeowook bertanya pada Yoona yang menyangga pipi dengan tangan kiri, tangan kanan sibuk mengaduk-aduk es krim. Tampangnya sudah seperti orang mabuk dengan mata yang kadang terpejam kadang terbuka.
"Ah, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, kau pulang saja duluan. Gomawo ne, Wookie?" Yoona melambaikan sendok es krim di tangan kanannya. Ryeowook mengangguk lalu meninggalkan Yoona yang masih berkutat dengan dirinya sendiri.
000000000
Namja paruh baya yang tampan di usianya yang tidak lagi muda memarkirkan mobilnya. Ia memasuki arena pemakaman. Kedua tangannya membawa beberapa bahan-bahan makanan untuk dijadikan persembahan yang akan ditaruh di makam nanti. Hari ini Siwon meluangkan waktunya khusus untuk pergi ke tempat ini. Ini pertama kalinya setelah sekian lama ia tidak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang anak. Ia sudah menelepon Changmin untuk membantunya menyelesaikan beberapa urusan. Changmin sangat membantu di tengah keadaan Kim Group yang sebenarnya agak turun di minggu-minggu ini.
Siwon meletakkan keranjang berisi buah di depan pusara yang terbuat dari keramik berwarna biru kehitaman. Ia juga meletakkan beberapa buah botol soju di situ. Namja tampan ini mengambil posisi tepat di depan pusara, ia bersujud dengan kepala yang menyentuh tanah. Siwon juga meletakkan bunga yang telah dibelinya di dekat persembahan-persembahan itu. Ia memutuskan untuk lebih lama lagi berada di pemakaman itu.
000000000
Jongwoon merapikan beberapa kertas di mejanya. Ia berada di kantornya di Yongin. Henry tidak pulang-pulang, namja imut itu benar-benar keenakan di kampung halamannya. Ia sudah meminta izin pada Jongwoon. Jongwoon yang sedang berbunga-bunga mengizinkan sekretarisnya itu. Sebagai bos, ia harus adil. Henry tidak tahu jika ia juga bersenang-senang di Seoul dengan Ryeowook. Jadi daripada Henry kembali ke kantor dan tidak menemukan dia di situ, lebih baik ia membiarkan Henry berlibur. Dan lihat akibatnya Kim Jongwoon, kau kerepotan, sebentar lagi akan natal, dan itu berarti semakin banyak juga orang yang ingin berlibur. Itu mengartikan bahwa Kim Resort cabang Yongin juga akan sibuk. Mereka menyiapkan beberapa arena untuk bermain ski. Jongwoon juga harus terus memantau. Ia tidak bisa main tinggal-tinggal saja, apalagi setelah kemarin berada cukup lama di Seoul.
"Wookie-ah... bogossipo..." Jongwoon berkata dengan nada manja. Di seberang telepon Ryeowook menahan tawanya.
"Aigoo, Direktur Kim manja sekali. Mau Wookie cubit, hm?" Ryeowook berbicara setelah meletakkan sendoknya. Saat ini ia memang sedang makan siang. "Kau sudah makan? Ingat, jangan lupa makan. Kau tidak boleh sakit lagi, kalau kau sakit, aku akan memukul kepalamu yang besar itu." Ryeowook melanjutkan bicara.
"Hm, araseo. Sebentar lagi aku akan makan. Wookie sendiri, apa sudah makan?" Jongwoon bertanya.
"Aku sedang makan. Jongwoon-ah?"
"Hm?"
"Saat hari natal, apa kau bisa ke Seoul?" Ryeowook bertanya dengan suara yang dipelankan. Namja mungil itu takut jawaban Jongwoon tidak sesuai harapannya.
"..."
"Kalau itu sih, aku belum tahu, chagi. Sekarang aku masih sibuk, tapi aku usahakan. Kau sangat merindukanku ya?"
"Ya~ bukan begitu... aku hanya ingin merayakan natal bersama."
"Sedih sekali mendengar kau tidak merindukanku, ah, aku akan mati dalam hitungan ketiga. Satu... dua..."
"Ya! Jongwoon-ah! Aku merindukanmu, Wookie merindukan Jongwoonie. Jinjja, jinjja." Ryeowook buru-buru menginterupsi sebelum hitungan ketiga, Jongwoon hanya terkekeh.
"Hehe... gomawo chagi, saranghae. Tunggu aku saat natal, ok?"
Ryeowook hanya mengangguk, ia tersenyum lalu meletakkan handphone kembali. Ia melanjutkan makannya yang tertunda.
000000000
"Ya, Lee Junsu. Yang benar saja, bagaimana bisa kau menjalin kerjasama dengan orang lain tanpa mengetahui namanya?" Seunghyun memandang Junsu tidak percaya. Junsu yang dipandang hanya bisa menunduk.
"Aku lebih tua darimu, setidaknya panggil aku noona."
"Shireo. Kau lebih seperti ummaku daripada noonaku." Jiyong memandang Junsu dari atas sampai bawah.
"Kalau dipikir-pikir, usiamu mungkin hampir sama dengan anakku. Berapa usiamu?"
"Ahjumma, jangan samakan aku dengan anakmu. Aku 26 tahun, anakmu 24 kan?"
"Ne." Junsu menjawab masih dengan kepala yang menunduk, sebenarnya ia agak takut dengan Jiyong. Jiyong memperlakukannya dengan baik, tapi bagaimanapun juga dia adalah polisi.
Jiyong sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menginterogasi Junsu. Tapi dia belum mendapat sesuatu yang cemerlang dan cukup penting. Junsu ternyata melakukan perjanjian dengan namja tua itu sebulan sebelum ia melakukan aksinya yang membuat semua orang bertanya-tanya waktu itu. Junsu melakukan itu karena namja tua itu bilang padanya bahwa ia tahu perihal Junsu yang meletakkan anaknya di sebuah gudang kecil di dekat rumahnya dulu. Junsu yang mendengar kata anak yang diletakkan di gudang kecil langsung bereaksi. Ia menerima kerjasama yang malah membuatnya rugi.
"Apa alasanmu menerima kerjasama bodoh ini?" Jiyong mulai menyantap spagetti yang ada di hadapannya. Ia santai sekali menghadapi Junsu setelah mengetahui Junsu tak lebih dari seorang ahjumma biasa.
"Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya. Anakku baru berumur 3 hari dan aku sudah meninggalkannya. Rasa bersalah menghantuiku puluhan tahun. Aku bukannya tidak berusaha mencari, aku sudah mencari, tapi kami tidak mempunyai benda apapun yang membuat polisi lebih mudah mendapatkannya. Dan sudah berlalu 24 tahun, dia tidak ditemukan. Aku hanya seorang ibu yang tidak becus." Junsu menangis saat menceritakan semuanya. Jiyong langsung memberikan tisu yang ada di depan mereka.
Jiyong mulai kasihan pada Junsu. Ia pikir Junsu hanya seorang wanita malang yang dijebak oleh pria tua itu. Junsu kehilangan anaknya selama 24 tahun. Masalah seperti itu cukup untuk membuat orang melakukan hal bodoh. Apalagi Junsu melakukan itu karena dia ingin tahu di mana anaknya sekarang. Tentu saja itu sama sekali tidak salah.
"Suamimu? Apa dia tahu kau melakukan semua ini demi menemukan anak kalian?"
"Tidak, dia tidak tahu apapun. Aku meninggalkannya tanpa bilang apa-apa. Ah, aku ingin menangis sekarang." Junsu mengeluarkan air mata lagi.
"Ne, menangislah. Dari tadi ahjumma juga sudah menangis kan?" Jiyong menjawab dengan tidak berdosa. Dia hanya menyeruput jus stroberinya lalu kembali makan.
Junsu tidak mempedulikan beef steaknya. Ia hanya menangis dari tadi. Ia merasa sangat bodoh sekarang. Harusnya ia memberitahu Yoochun bahwa ia melakukan kerjasama bodoh itu karena mendengar seseorang mengetahui di mana anak mereka. Yoochun pasti sangat marah padanya sekarang. Bagaimanapun Junsu sudah meninggalkan suaminya itu selama 7 bulan.
Flashback
"Baby-ah, sebentar lagi appa akan pulang. Kita tunggu appa, sehabis itu kita pergi dari sini." Junsu berbicara lalu mengecup bayi mungilnya dengan sayang. Ia dan Yoochun memang berencana pindah ke desa yang lebih jauh saat ini. Supaya appa Junsu tidak dapat menemukan mereka.
SREK SREK
"Apa kau yakin ini rumahnya? Mengapa sepi sekali?"
"Aku yakin. Aku melihat Lee Yoochun dan Tuan Putri Junsu keluar dari sini kemarin."
"Ya sudah, ayo kita masuk."
Dua orang namja berbadan besar melangkah menuju rumah Junsu. Junsu yang melihat itu segera mengambil beberapa tas yang sudah ia siapkan dari kemarin. Ia menggendong bayi kecilnya sambil menenteng tas-tas besar itu. Yeoja ini langsung keluar dari rumah mereka lewat pintu belakang. Ia berhenti dan masuk saat menemukan sebuah gudang kecil di tepi jalan sepi yang agak jauh dari rumah mereka.
"Baby-ah, mian, umma harus meninggalkanmu sebentar. Umma harus mencari appa sekarang."
Junsu menaruh bayi mungilnya di sudut gudang, sebelumnya ia sudah menutupi bayi yang sedang tidur itu dengan selimut kain. Junsu segera berlari secepatnya setelah menutup dan mengunci rapat gudang itu. Ia berlari menuju sebuah minimarket di ujung jalan tempat Yoochun bekerja. Ia yakin jika ajudan appanya tidak menemukan mereka di rumah, orang-orang itu akan mencari dan membunuh Yoochun. Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Junsu akhirnya sampai di minimarket setelah berlari selama 10 menit.
"Suie? Mengapa kau kemari?"
"Kita..hosh.. hosh.. harus pergi sekarang juga.. Chunnie-ah.. hosh... mereka datang..." Junsu berbicara sambil terengah-engah. Yoochun langsung memberikan segelas air.
"Anak kita ada di mana?" Yoochun sadar Junsu tidak membawa anak mereka.
BRAK.
Junsu melihat keluar, ia mendapati namja berbadan besar itu menutup pintu mobil dengan membantingnya. Mobil mereka berada agak jauh dari minimarket. Tanpa persiapan Junsu langsung menarik lengan Yoochun untuk keluar dari minimarket. Mereka melewati pintu samping. Dua ajudan itu sadar bahwa orang yang baru saja berlari itu adalah Junsu dan Yoochun. Mereka berdua langsung masuk ke mobil dan mengejar suami istri itu.
Junsu sudah tidak tahan lagi, ia hampir jatuh, tapi dengan cepat Yoochun menarik tangannya lagi. Mereka berlari melewati jalan tikus, bisa dipastikan dua ajudan itu juga sudah turun dari mobil dan sedang berlari mengejar Junsu dan Yoochun. Junsu tahu bahwa dua orang itu tidak hanya mengincar bayi mereka, tapi juga ingin membunuh Yoochun. jelas-jelas mereka melihat Yoochun dan Junsu tidak membawa sang anak, tapi mereka terus mengejar selama 30 menit ini.
Yoochun membawa Junsu masuk ke bus yang sedang berjalan. Mereka telah sampai di jalan besar. Yoochun yang melihat bus tujuan Seoul itu langsung saja naik. Ia melihat Junsu yang memandang ke arah belakang dengan tatapan yang sulit diartikan. Yoochun menggenggam tangan istrinya.
"Chunnie-ah... anak kita."
"Di mana baby? Apa kau sudah menitipkannya?"
"Aku meninggalkannya di sana."
Flashback end
Junsu terdiam, ia menatap kosong jika mengingat kejadian puluhan tahun lalu itu. Tidak mudah bagi mereka untuk menjalani kehidupan setelah kejadian itu. Junsu tidak bisa hidup dengan tenang, ia selalu memikirkan anak yang telah ditinggalkannya. Yoochun sudah memaafkan sang istri, mereka juga telah melapor kepada polisi tentang anak mereka yang hilang. Tapi mereka tidak pernah mendapat kabar baik. Belum lagi keadaan appa Junsu yang memburuk, orang tua itu meminta Junsu untuk kembali kepadanya. Junsu tinggal berbulan-bulan bersama sang appa, dia menemani ayahnya sampai orang tua itu meninggal. Yoochun juga sudah mendapatkan pekerjaan baru. Ia dan Junsu memilih tinggal kembali di Seoul. Yoochun mengizinkan saat Junsu bilang bahwa ia ingin menemani sang appa yang tengah sakit. Yoochun sendiri tidak ikut, dia tahu bahwa appa Junsu tidak pernah menerimanya. Yoochun juga khawatir dengan Junsu yang selalu murung, bahkan satu tahun setelah kematian sang ayah. Yoochun tahu Junsu terus memikirkan anak mereka yang tak pernah ditemukan.
000000000
"Hyung! Tunggu aku." Minho berteriak memanggil hyungnya yang sudah menghidupkan mesin mobil.
"Ppali!" Seunghyun berteriak dari dalam mobil.
Saat ini dua bersaudara itu akan mengunjungi makam ayah mereka. Setelah semalam berdebat tentang foto yang Minho temukan, dua bersaudara itu berbaikan juga. Mereka memutuskan untuk bersama-sama ke makam sang ayah hari ini. Di mobil Seunghyun duduk tenang sambil menyetir. Wajahnya terus memancarkan aura yang cukup serius. Seunghyun sebenarnya kelelahan, ia tidak tidur semalaman karena teleponan dengan Jiyong sampai pagi. Tapi Seunghyun tidak merasa sia-sia, ia malah bersyukur karena sudah mendapatkan dalang dari kasus ini.
Seunghyun memarkirkan mobilnya, ia dan Minho turun dari mobil. Mereka membawa banyak barang untuk dipersembahkan di kuburan sang ayah. Minho yang bertugas menenteng semua itu. Ia hanya mengeluh melihat hyungnya yang tidak membantu sama sekali. Seunghyun hanya berjalan membawa diri sendiri masuk ke area pemakaman. Mereka sudah hampir sampai di makam sang appa. Seunghyun melihat seseorang duduk di tepi makam itu, lengkap dengan banyak barang yang sudah tersusun rapi di tanah makam ayahnya. Ia hendak menepuk pundak orang itu, tapi belum-belum orang itu sudah membalikkan badannya.
"Kim Siwon ssi?"
Tbc
Annyeonghaseyooooo!~~~ halo halo semua... apa kabarnya? *nyanyi jalan sesama*
Hm, di sini ada tentang peringatan kematian gitu, maaf kalo salah ya, saya gak tahu persis gimana ritual yang lengkap, runtut, dan benar.. saya hanya mencoba menerka-nerka dari drama yang sudah saya tonton... untuk mencari artikel, sulit mendapatkan yang benar-benar membahas tentang hal itu.. maafkan saya dan seonggok kemalasan saya ya...
Untuk yewooknya mereka udah pacaran lohhhhh... (readers : perasaan udah dari lama deh.) mian ne klo saya membuat readers bosan.. saya masih perlu banyak belajar untuk selalu membangun feel dan passion di dalam karya tulis.. saya hanya seorang biasa... kekekekke... ... saya mohon bantuannya ne?
Gamsahamnida buat chingu yang selalu support ini, saya sangat mencintai kalian! Maafkan kesalahan saya selama ini ya?
Chingudeul, saya senang sekali melihat review kalian.. entah mengapa, ada beberapa chingu, yang menyebutkan kata 'misteri' .. saya mikir mikir.. sepertinya betul juga ya? Ah, sudahlah, yang penting kita semua happy..
Untuk teman-temanku semua, saya persembahkan,.. PAIN chapter 11 yang banyak kekurangannya ini.
Annyeong^^ ilopyupullll 333
Kalo ada typo(s), atau kekurangan lainnya silakan kasi tau lewat kotak review ya... :33 *bagibagiinkotakreview*
