"Mereka akan menganggap kita sebagai keluarga, kau tahu?"

"Lagipula … lagipula soal keluarga itu … aku tak keberatan …."

"Sasuke, kuharap kau menjaga Sakura dengan taruhan nyawamu. Jika kau menyia-nyiakannya, aku takkan terima begitu saja."

"Aku tahu kau pasti sudah tahu siapa malaikat yang kakak iparmu agung-agungkan terus."

"Benar, perempuan itu. Dia Sakura."

"Sebaiknya kita kembali."

"Ya, dan kau bisa melepas rindu dengan Naruto di sana."

"Naruto … tak pernah menghianatimu. Dia mencintaimu, dan cintanya sangat besar."

"Waktu itu kita belum baikan seperti sekarang."

"Apa itu alasan sehingga kau menyembunyikan fakta bahwa Naruto sudah memukulmu? Sementara itu setiap malam aku selalu pergi dengannya?"

"Mobil kita tidak bisa jalan, Sakura."

"Sasuke! Kau tahu tidak bisa memeriksa apa pun di tengah hujan begini! Masuklah Sasuke!"

"Bajumu ... dilepas saja."

"Sasuke, apakah menurutmu… aku tipe wanita yang tidak setia?"

"Aku suka padamu …. Bukan sebagai kakak lagi …."

"Aku mencintaimu …."

Tak ada penyesalan lagi sekarang. Yang ada hanya keinginan diri sendiri bahwa ia ingin menjaga hal ini untuk terus berlanjut.

Lanjutkan.

Lanjutkan.

Buat aku mabuk lebih dari ini.

Dan Sasuke memang menyentuhnya lebih dalam, sampai Sakura benar-benar merasa dirinya telah mabuk.

Ah, takdir itu memang selalu berada pada jalannya.


Penyejuk Musim

Naruto © Kishimoto Masashi

'This is SasuSakuNaru fiction'

.

.

.

#11 Gugur: Takdir

Autumn: Fate


Sakura tak menolak. Justru wanita itu membalas semuanya. Sentuhan. Belaian. Juga hatinya. Semua hal itu, dikembalikan lagi padanya pada hitungan yang sama.

Sasuke sendiri sudah tidak tahu lagi, sejak kapan ia melepas pakaiannya sendiri, sejak kapan ia menanggalkan segala tenunan benang di tubuh Sakura. Juga entah bagaimana ia membawa raga keduanya ke belakang. Ia terlanjur melayang, ia terlanjur berputar-putar di awan, ia terlanjur berada pada ketinggian.

Ia tak pernah ... menemukan dirinya sebahagia ini sebelumnya.

Sakura.

Sakura.

Sakura.

Hanya nama itu, hanya satu kata itu yang bermain-main dalam pikirannya.

'Dia mencintaiku.'

'Dia mencintaiku.'

'Dia mencintaiku.'

"Aku mencintaimu Sasuke."

"Ya, aku tahu."

"Aku mencintaimu."

Seolah tak cukup, kalimat itu terlontar lagi dan lagi.

"Demi Tuhan aku mencintaimu!"

Sakura terus saja mengatakan itu. Sasuke hanya membisu, sementara Sakura menangis sambil menyerukan nama pria itu berulang kali. Lalu ketika Sasuke mencium air matanya, menghapuskannya, dan mengecup matanya yang terpejam, Sakura berhenti. Tapi kemudian Sasuke berbisik kecil padanya, "Panggillah namaku. Menangislah jika ingin menangis—dan aku pasti akan mengambil air mata itu tiap kali kau mengeluarkannya."

Banyak hal telah terjadi sebelum ini.

Air mata itu hanya satu dari banyak manifestasi luka dalam diri Sakura. Selintas, Sasuke kembali terbayang masa lalu. Bisakah ... bisakah ia benar-benar menghilangkan semua lukanya?

"Sakura ... aku mencintaimu."

Kala itu Sakura memandangnya tanpa ragu.

"Sangat."

Dan satu kata itu yang membuat Sasuke terbangun. Tak ada ingatan yang jelas mengenai kejadian setelah itu, seperti ... sesuatu yang terlalu indah untuk dideskripsikan.

Mimpi?

Ia tengah bermimpi?

Sama sekali tidak.

Perlahan Sasuke mengangkat tangannya. Pelan-pelan ia menyentuh kepala Sakura yang terkulai di atas dadanya. Kemudian pria itu membelainya dengan lembut.

Hari telah berganti. Langit masih gelap dan matahari belum berkumandang bahwa pagi telah datang. Tapi yang jelas, hari sudah berubah.

Suara hewan-hewan malam masih mendominasi pendengaran. Tak ada guruh petir atau suara angin yang ribut. Semuanya terdengar tenang dan damai. Namun udara berubah. Rasanya menjadi lebih dingin dan pekat. Tercium juga bau udara basah dengan aroma tanah yang begitu tipis.

"Sakura …." Sasuke memanggil lembut. "Hei …."

Tapi Sakura tak menjawabnya juga. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk membuatnya tetap terlelap. Ia berusaha bangun dan memindahkan Sakura untuk berada di atas jok mobil dengan hati-hati. Sakura hanya bergerak-gerak kecil, tapi ia tidak membuka matanya.

Tidurnya sangat halus dan damai, membuat Sasuke tak sampai hati untuk membuatnya terjaga. Dan pria itu pun membelai lagi surai wanita itu dengan pelan, lalu tersenyum tipis memandangi wajahnya. Sasuke menyelimuti Sakura menggunakan apa pun yang bisa dipakai. Dan setelah memastikan bahwa Sakura tidak terlalu kedinginan, Sasuke beralih pada ponselnya yang diletakkan di dashboard depan.

Ada enam panggilan tidak terjawab dan sebelas pesan. Ternyata sinyal sudah mendapatkan nyawanya lagi.

Itachi misscall, Itachi misscall, Itachi misscall, dan seterusnya sampai Itachi misscall lagi terbaca untuk yang kesekian kali pada layar ponselnya. Lalu pesan-pesannya pun bisa diprediksikan Sasuke.

'Kau dan Sakura akan pulang pukul berapa?'

'Hei, Haruki mulai panik dan menanyakan kalian terus.'

'Haruki memaksaku untuk menjemput kalian. Cepatlah pulang!'

'Sasuke, aku serius. Setidaknya jawab panggilanku.'

'Tunggu, kau tidak bisa dihubungi.'

'Sasuke, malam ini Haruki tidur di kamarku. Ia ketakutan, ia takut sama petir.'

'Jadi akhirnya kau memutuskan untuk tidak pulang karena cuaca sedang jelek? Baik aku mengerti. Setidaknya aku telah melakukan yang terbaik untuk mendiamkan tangisan anakmu.'

'Haruki baik-baik saja. Selamat bersenang-senang.'

Sementara itu, sisa pesan lainnya adalah dari orang-orang kantor yang tak perlu dibahas.

"Um … Sasuke …?"

Sontak Sasuke menaruh ponselnya dan menengok ke belakang. Sakura tengah beranjak duduk sambil mengucek matanya. Rambutnya sedikit berantakan dan ada bekas kemerahan di pipinya—mungkin karena ia tidur pada permukaan yang keras dan tidak rata. Tuxedo dan gaun yang dijadikan Sasuke selimut untuk Sakura merosot dari tubuhnya.

"Ini … ini pukul berapa?" tanya Sakura dengan suara parau. Dilihat dari sudut mana pun, Sasuke tahu kalau perempuan itu belum sepenuhnya sadar.

"Tiga pagi," jawab Sasuke, sambil beranjak ke jok belakang dan duduk di samping Sakura.

"Oh … tiga pagi …." Sakura menyahut asal sebelum dirinya mendekat pada Sasuke dan memeluk pria itu. "Dingin …."

"Ya, karena kau tidak memakai pakaian."

Sakura terhenyak sejenak. Berusaha mencerna dengan baik kata-kata Sasuke tadi dan barulah matanya terbuka lebar sekarang. Wajahnya menghangat. Rasanya masih tidak percaya, tapi melihat dirinya yang tidak berpakaian sekarang, membuat ia memaksa diri sendiri untuk percaya.

Bahwa kejadian tadi malam benar-benar ada.

Mungkin sulit dimengerti juga kenapa mereka melakukan itu di dalam mobil, dalam situasi seperti ini pula. Tapi entahlah, yang Sakura rasakan saat itu hanya bahwa ia memang ingin melakukannya.

Perasaannya campur aduk. Antara senang, terkejut, dan tidak percaya.

Sasuke mengambil kembali tuxedo dan gaun yang sempat jatuh tadi, lalu ia melingkarinya ke bahu Sakura. "Sudah ada sinyal. Dan mungkin sebentar lagi akan banyak orang-orang yang lewat sini. Sebaiknya kau berpakaian."

Tapi Sakura bergeming. Justru dirinya memeluk Sasuke semakin erat, membuat kulitnya kembali bersentuhan dengan kulit lelakinya. Berkeringat, lengket, juga dingin. Tapi Sakura merasa nyaman-nyaman saja. Ia hanya terkekeh pelan kemudian.

0o0o0

Sejujurnya, Sasuke merasa sedikit tidak nyaman dengan pakaiannya sendiri. Mulai dari atasan sampai celananya masih belum kering betul akibat kecerobohannya kemarin. Tapi ia terus menyabarkan diri sendiri, dan tak berhenti bergumam dalam pikirannya bahwa sebentar lagi Itachi pasti akan sampai ke tempat mereka.

Sementara Sakura di luar mobil, tengah bersedekap sambil terus memandang bukit hijau yang terlihat jelas dari sana, seolah ada yang menarik dari situ. Wanita itu sudah memakai gaunnya lagi, ditambah tuxedo Sasuke, karena sandangnya sendiri lumayan tipis dan sedikit terbuka.

Ah, sesekali mobil-mobil atau berkendara melewati mereka. Saat itu pula Sakura spontan berpikir kalau mereka harus meminta bantuan. Tapi melihat ekspresi wajah Sasuke, kelihatannya pria itu enggan dan lebih memilih untuk menunggu Itachi yang sudah dihubungi.

"Ne, Sasuke," panggil Sakura yang merasa bosan dan kembali masuk ke dalam mobil. Ia melepaskan tuxedo di badannya dan menyerahkannya pada Sasuke. "Kamu menggigil."

"Hn." Sasuke tetap pada pandangan sebelumnya dan tidak tertarik untuk mengambil tuxedo yang diserahkan Sakura.

Sakura menekuk bibirnya. Ia mengeluh. "Jadi kenapa kau tetap saja dingin setelah semua yang kita lakukan tadi malam?"

"Aku? Dingin?" Mau tak mau Sasuke tersenyum geli mendengar keluhan Sakura. "Kau perlu kehangatanku lagi?" tawarnya sambil menoleh ke wanita itu dan menyeringai.

Sakura memukul bahu Sasuke main-main. "Bukan itu maksudku! Maksudnya, kau tetap saja kaku seperti itu. Kupikir sikapmu akan lebih sedikit melunak."

"Jadi selama ini aku tidak lunak?"

"Bukan. Aku hanya ingin kau lebih dan lebih lunak lagi."

Sasuke menarik sudut bibirnya ke atas, melihat bagaimana Sakura berapi-api seperti itu dan di matanya terlihat seperti gadis remaja polos yang menjelaskan sebuah teori yang baru ia temukan sebagai orang yang berada di pertengahan tahap dewasa. Ah, sesaat ia lupa juga tentang Sakura yang sudah menjadi seorang ibu.

"Jadi bagaimana perasaanmu?"

Sakura berhenti memasang ekspresi menuntut. "Perasaan bagaimana?"

"Setelah kita melakukannya."

Sakura kelihatan salah tingkah dan lagi-lagi pipinya merona pedas. "Kupikir kita melakukannya dengan sama-sama suka jadi …."

"Tidak ada trauma?" sela Sasuke dengan mimik wajah serius. Dia kelihatan memancarkan aura terluka dengan segudang rasa bersalah. Pikirannya tengah menyingkap masa lalu yang pedih.

Sakura tidak itu menerawang udara dengan kosong, dan tanpa sadar dirinya kembali melayang ke masa-masa suramnya dulu. "Masa lalu adalah masa lalu," katanya setelah sekian menit.

"Kau benar." Sasuke mendesah panjang. Sebenarnya, Sasuke ingin sekali berterima kasih bahwa Sakura masih mau menerima sentuhannya, menerima dirinya dimasuki kembali. Meski kali ini benar-benar murni tanpa paksaan, tapi selalu saja Sasuke teringat akan apa yang ia lakukan dulu.

Ah, tapi mungkin sebaiknya hal seperti itu tidak perlu dibahas lagi lebih dalam.

Karena masa lalu bukan hari ini. Dan hari ini bukan masa depan. Masa lalu memang tak menentukan hari ini, namun hari ini pasti akan menentukan masa depan.

Dan Sasuke memahami itu. Makanya, mulai sekarang ia akan terus maju tanpa perlu memikirkan kesalahannya dulu, karena itu hanya akan menghambat perubahannya. Hanya membuat segala apa yang ia lakukan dengan susah payah untuk mengganti kesalahan itu dengan berbagai tebusan menjadi tidak berarti lagi, lalu tak akan pernah ada masa depan yang diinginkannya.

Nah, yang penting adalah 'sekarang', bukan?

Sasuke tersenyum kembali setelah menarik napas panjang. Rasanya lega, menjadi seoptimis dan sebahagia ini begitu lega.

"Sasuke, aku ingin bercerita. Kau mau mendengarkan?"

Pertanyaan Sakura yang tiba-tiba itu membuat Sasuke sontak menoleh. "Tentang apa?"

"Tentang seorang gadis yang suka pada seseorang—katakanlah si A—kemudian mempercayai bahwa hanya bersama si A ia akan menghabiskan sisa hidupnya. Gadis itu berkata kalau ia akan setia pada A." Sakura menghentikan perkataannya. "Tapi gadis itu tidak tahu—

"—kalau manusia itu tidak bisa menghentikan rasa cintanya akan jatuh kepada siapa."

"Hn?"

"Ya, gadis itu berpikir bahwa selamanya ia akan hidup dengan A. Tapi ia tak pernah tahu bagaimana masa depannya kelak. Dan di masa depan, ia jatuh cinta pada pria lain—pria B—tapi ia tak menyadari itu. Rasa cinta itu datang sendiri, tanpa ia inginkan. Dan gadis itu selalu berusaha menyangkal, karena ia berpikir kalau ia harus setia terhadap A yang dulu—"

"Tunggu." Sasuke menyela dengan cepat. "Kau sedang menceritakan dirimu?"

Sakura berjengit. Ia langsung membantah. "Tidak! Aku kan bilang ini ceritanya tentang gadis—"

"Ya, dan gadis itu kamu. Wanita itu kamu."

Sakura bungkam. Ia langsung menggerutu. Pipinya merah karena malu.

"Ah, tapi biar kuberitahu kau sesuatu," kata Sasuke. Dan tanpa menunggu persetujuan langsung dari Sakura, ia sudah melanjutkan. "Kau pasti sering mendengar istilah cinta monyet kan? Kupikir cinta akan menjadi cinta monyet kalau sepasang kekasih menjalin hubungan tidak berdasarkan garis takdir yang digoreskan untuk mereka."

Sakura menautkan sebelah alisnya. Penjelasan Sasuke terdengar hebat tapi tetap saja ia sulit menangkap apa maksudnya.

"Aku percaya takdir. Kalau seandainya takdirku memang bersama orang yang kusukai saat ini, maka aku pasti akan bersamanya. Tapi jika takdirku bersama orang yang akan kutemui suatu hari nanti, maka aku pasti tidak akan bersama orang yang kusukai saat ini—" Sasuke menghela napas, "—tak peduli betapa keras aku berkata bahwa aku hanya akan setia kepada orang itu. Kalau takdirku bukan bersamanya, maka aku tidak akan bersamanya.

"Makanya jalani saja sesuai apa yang telah takdir berikan untukmu sekarang. Takdir tidak akan berbohong dan menuntunmu ke jalan yang salah."

"Jadi menurutmu apa yang terjadi pada kita kemarin itu adalah takdir?"

Sasuke tak lekas menjawab. Ia hanya tersenyum, senyuman ganjil yang terlihat sarat akan arti. "Menurutmu?"

0o0o0

"Lho, Naruto sudah mau pergi?" Tenten berjengit melihat Naruto yang telah siap di atas motornya pagi-pagi sekali. Kebetulan saat itu ia sudah berhasil membuat Tenji tertidur setelah semalaman bayi itu hanya menangis saja. Dan karena memang sudah hampir fajar, Tenten sekalian saja membuka jendela-jendela rumah sementara Neji langsung terlelap.

"Hmm." Naruto mengucek matanya yang berair.

"Kelihatannya kau masih ngantuk. Jangan terlalu terburu-buru begitu," titah Tenten sambil memandangi Naruto penuh perhatian.

Naruto menggeleng. "Aku baik-baik saja." Ia pun menyalakan mesinnya. "Masih banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan."

"Ee … Tapi—" Agaknya, Tenten sedikit khawatir melihat kondisi Naruto.

"Dah." Kemudian, dalam hitungan detik, sosok Naruto juga menghilang ditelan kabut pagi hari itu. Tak lama setelahnya, Hinata datang.

"Naruto-kun tak ada di kamarnya…."

"Dia baru saja pergi," sahut Tenten.

"Pergi? K-kok… tidak bilang-bilang…."

"Katanya masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan." Tenten menjelaskan. Setelah itu ia membalik badan dan segera masuk ke dalam rumah. "Aduh, aku ngantuk sekali! Semalaman Tenji tidak bisa tidur!"

0o0o0

Sakura tersenyum teduh ketika memandang putranya yang masih terlelap di kamar Itachi. Kala itu, melihat Haruki, Sakura seperti melihat masa depan sudah tersusun rapi di hadapannya, hanya tinggal menunggu sebentar untuk meraih itu.

Pada akhirnya anaknya akan memiliki orang tua yang utuh.

"Mau dibangunkan?" tanya Sasuke yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Sakura.

Sakura menggeleng kecil. "Biarkan saja dulu," jawabnya. "Kata Kakak, Haruki susah tidur tadi malam." Lalu kemudian ia membalikkan badan dan memandang Sasuke yang sudah berpakaian rapi. "Kau langsung mau ke kantor?"

"Ah ...," Sasuke merapikan ujung lengan kemejanya, "...hn."

Sakura diam sejenak, lalu ia mengulurkan tangannya menuju kerah kemeja Sasuke. Ia membetulkan simpul dasi yang melingkar di sana.

Sasuke tersenyum tipis dan menggenggam tangan Sakura dengan lembut.

Sakura mengerjap dan ia tak punya pilihan lain selain menengadah.

"...Mau memberiku ciuman selamat pagi?"

Sakura berkedip sekali. Lalu ia berkedip lagi. Agak lama sebelum ia menyimpulkan seulas senyum yang manis. "Tentu."

Dan Sasuke spontan mendekat. Bibirnya meraih bibir Sakura yang entah mengapa begitu merekah di pagi hari itu. Ia mengecupnya, mengecupnya, dan mengecupnya lagi dan lagi. Mereka tersenyum satu sama lain, mendekat kembali dan hendak melakukannya lagi—namun suara batuk seseorang menginterupsi.

"U...huk."

Serta merta Sakura mendorong dada pria di depannya dan memalingkan wajah. Wanita itu langsung mengusap bibirnya dan menunduk. Wajahnya merah matang.

"Maaf." Itachi mengangkat tangannya. "Bisakah kalian tidak melakukannya di depan kamarku?"

Sasuke mendengus. Sementara itu Sakura salah tingkah dan menghindar dengan berkata kalau ia akan menyiapkan sarapan dulu.

Lalu Itachi tertawa lebar. "Sudah kuduga pasti terjadi sesuatu pada kalian tadi malam." Lalu kekehannya membahana dengan kencang di dalam rumah itu.

"Haruki sedang tidur. Berhenti tertawa atau kuiris urat lehermu," gerutu Sasuke.

Itachi terkesiap. Ia berkedip-kedip memandang adik tercintanya. "Eh, bercanda kok, jangan begitu dong." Dan sebelum Sasuke memakinya lagi, Itachi sudah masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat.

Sasuke mencoba menekan handle pintu ke bawah, tapi pintu itu kaku dan tak mau bergerak barang sedikit pun. Akhirnya Sasuke tak punya pilihan lain selain menggerutu sambil memandang pintu kamar kakaknya. "Harusnya kupindahkan saja langsung Haruki dari situ."

0o0o0

Malam itu Naruto sama sekali tak bisa tidur. Begitupula pagi ini saat ia sudah berada di kondominiumnya sendiri. Pikirannya telah dikontrol sempurna oleh kegelisahan. Bagaimana tidak? Semua kembali lagi soal kehadiran Sakura bersama Sasuke saat makan malam itu. Selalu, selalu Naruto bertanya-tanya dalam hati sejak tadi, 'kenapa jadi seperti ini?'

Apakah Sakura seakrab itu dengan Sasuke? Apakah hubungan mereka sedekat yang diperlihatkan tadi malam?

Naruto mendesis. Dadanya sakit. Jelas sekali bahwa ini adalah luka.

"Aku harus memastikan sesuatu." Naruto membuang bungkus ramen yang baru saja dimakannya. Ia merapikan rambutnya sedikit dan mengambil jaket.

0o0o0

"Otsukare!"

"Otsukare!"

Ino mengambil sebuah kipas untuk mengipasi dirinya yang tengah kepanasan. Aah, menjadi model memang tidak segampang yang dipikirkannya dulu.

"Ino, ada yang mencarimu," tutur Kurenai—sebagai penata rias senior di tempatnya bekerja.

"Siapa?"

"Tengok sendiri." Kelihatannya Kurenai tidak berniat untuk berbicara banyak. Ia tengah sibuk merias beberapa model.

Ino mengangkat bahu dan dengan ogah-ogahan, ia menemui tamunya.

Seorang pria duduk di sana. Ah, benar-benar wajah lama.

"Waw, apakah ada sesuatu yang sangat penting sampai kau datang padaku di jam-jam seperti ini? Ataukah ini tentang rencana aku dan Sai memakai jasamu untuk acara pernikahan kami?"

Naruto mendengus dan melirik Ino sekilas. "Aku ke sini bukan sebagai partner kerja."

"Lalu?" Ino mendudukkan dirinya di hadapan Naruto. "Teman lama?"

"Terserah mau menganggapku apa."

"Hm." Ino mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu. "Tentang Sakura?"

"Bagaimana hubungannya dengan Sasuke sekarang?"

"Kenapa bertanya padaku?"

"Issh. Kau kan teman baiknya. Aku tahu kalau Sakura sering curhat padamu."

"Itu dulu."

"Aku tahu, sampai sekarang." Kelihatannya Naruto sedikit kehilangan kesabaran. Ia benar-benar menekankan kalimat 'sampai sekarang' pada Ino.

"Iya, iya. Kau tak berubah ya, dari dulu sampai sekarang masih saja—"

"Apa hubungan mereka?"

"Mereka tak ada hubungan apa-apa," jawab Ino agak kesal. Ah, ini lebih parah dari yang dulu. Dulu Naruto memang keras kepala dan tidak sabaran. Tapi sekarang anak itu lebih tidak sabaran. "Yah… sebenarnya, mereka masih menjadi saudara satu sama lain. Hm, itu disebut hubungan tidak ya?"

"Lalu kenapa sekarang mereka sedekat itu?"

"Hm?"

Naruto berdecak lidah saking kesalnya. "Tadi malam, Sakura dan Sasuke datang di rumah bosku. Kau tahu apa yang mereka lakukan di sana? Melihat interaksi mereka benar-benar membuatku mual. Apa maksudnya? Berpura-pura jadi suami-istri di depan Neji?"

"Eh? Kau ada di sana? Di kediaman Hyuuga juga?"

Naruto tersenyum sinis. Tebakannya memang tak salah. Sakura suka mencurahkan isi hatinya kepada Ino. Buktinya, tentang makan malam bodoh itu, Ino tahu. Bukankah berarti Ino tahu lebih banyak dari ini? "Jadi sebenarnya apa hubungan mereka sekarang?"

"Sudah kubilang mereka adalah saudara."

"Cih."

"Apa maksudmu 'cih'?"

"Jujur saja. Menurutmu Sakura akan lebih baik dengan siapa? Aku, atau Sasuke?"

Ekspresi Naruto saat mengatakan itu, benar-benar serius. Ah, apa pria itu juga serius dengan Sakura? "Mana kutahu. Memang apa hakku memutuskan?"

"Kau kan cuma berpendapat."

"Makanya, apa hakku berpendapat? Memang aku Tuhan yang tahu begitu detail perasaan setiap manusia?"

"Kau sekarang berubah ya." Naruto menatap Ino kesal. "Kelihatannya kau lebih memihak Sasuke, orang yang pernah menyakitimu dulu."

"Aku tidak memihak siapa-siapa, Naruto. Sebenarnya kalau disuruh memihak, bisa dibilang aku memihak Sakura. Apa pun keputusan Sakura nanti, aku akan senantiasa mendukung."

Naruto membuang napasnya dengan keras. Kemudian ia dan Ino bertatapan cukup lama. Namun, itu belum juga cukup untuk mengetahui apa yang dipikirkan masing-masing lawan bicara.

"Terima kasih sudah meluangkan waktumu, Yamanaka Ino." Naruto beranjak dari duduknya.

Tapi pada saat Naruto mulai menjauh, Ino tiba-tiba berkata dengan keras. "Naruto, kau pasti percaya takdir kan? Tenang saja, kalau takdirmu memang bersama Sakura, tanpa perlu melakukan apa-apa untuk mendapatkannya, kau pasti akan bersamanya nanti."

Naruto membalikkan badan. "Masalahnya, sekarang posisi Sasuke lebih menguntungkan daripada aku. Dia tinggal serumah dengan Sakura dan mereka bahkan sudah punya anak. Kalau cuma diam seperti orang bodoh dan tidak melakukan apa-apa, itu sama saja menyia-nyiakan takdir. Takdir yang awalnya berpihak padaku, jadi memihak Sasuke."

Ino mengangkat bahu. Siapa tahu?

Naruto pun melenggang pergi. Ah, yang jelas Naruto harus mempercayai apapun yang bisa dipercayai sekarang.

Sasuke dan Sakura memang masih belum memiliki hubungan yang jelas.

0o0o0

Sasuke dan Sakura memang masih belum memiliki hubungan yang jelas.

Hubungan mereka masih belum jelas.

Ya, seharusnya begitu.

Tapi Naruto terpaksa mengerem motornya, saat ia melihat Sakura naik ke dalam sebuah mobil sedan berwarna hitam di depan matanya. Sasuke sudah lebih dulu menjemput Sakura.

Naruto menatap kepergian mobil itu dengan sorot mata terluka. Kenapa ... kenapa begini? Apa maksudnya?

Tapi tak putus asa, Naruto mengeluarkan ponselnya. Ia segera menghubungi Sakura—sayang Sakura tidak mengangkatnya.

"Apa yang terjadi padamu Sakura?" keluh Naruto. "Kenapa kau ... kenapa kau 'berubah'?" Lalu ia diam sejenak. "Padahal ... padahal aku sama sekali tidak berubah dari aku yang dulu. Aku tetap menjaga perasaanku. Tapi kenapa ... kau tidak melakukan hal yang sama sepertiku?"

Naruto diam di tempatnya cukup lama. Ia menggunakan waktunya yang berharga untuk mengeluh, mengeluh lagi, dan kemudian memutar kendaraannya untuk berbalik pulang.

Lagi-lagi ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus saja dikacaukan oleh sang belahan jiwa yang perlahan-lahan sosoknya memudar dari penglihatannya. Dan Naruto terus saja menggumam dalam hati, terus menerus. "Apa yang harus kulakukan kalau begini?"

0o0o0

"Tidak mau mengangkat?" Seolah tahu siapa yang barusan menelepon, Sasuke berkomentar tepat setelah Sakura memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Sakura menggeleng pelan. "Aku tak bisa menebak apa yang akan ia katakan. Dan aku ... masih belum siap menghadapinya."

Sasuke mendengus. "Tapi kau tidak bisa seperti ini terus. Kalau tidak, tidak akan ada yang berubah dengan pasti."

Sakura membenarkan. Tapi kemudian ia memohon pada Sasuke untuk berhenti membicarakan Naruto sekarang. Sasuke tak menjawab, tapi ia mengerti. Dan ia memang tidak mengungkit-ungkit nama Naruto sepanjang perjalanan mereka pulang.

Saat tiba di rumah, tidak seperti biasanya Haruki menyambut kedatangan mereka sampai harus keluar rumah.

"Ayah! Ibu!"

Sakura berjengit. "Lho, Haruki kok belum tidur?"

Belum sempat Haruki menjawab, Itachi muncul dari dalam rumah dan menjelaskan semuanya.

"Di ulangan tengah semester kemarin, Haruki dapat nilai 100 empat kali berturut-turut."

Sakura melebarkan mata dan langsung meninggikan senyum. "Ah! Yang benar?"

Sasuke langsung mengacak rambut anaknya yang pada dasarnya berantakan, menjadi lebih berantakan. "Haruki memang selalu bisa diandalkan."

Wajah Haruki mendadak memerah mendengar ayahnya memuji seperti itu.

"Makanya dia ingin sekali pamer sama kalian secepat mungkin."

"Aaah Paman diam deh!" gerutu Haruki kesal dengan godaan pamannya.

"Maaf deh Paman nggak bisa diam, haha." Tanpa rasa berdosa, Itachi tertawa keras dan kemudian masuk ke dalam rumah diikuti tiga orang di belakangnya.

Haruki tidak berhenti menekuk bibirnya. "Bu, kok Paman gitu sih?"

"Gitu gimana?"

"Paman suka bikin Haruki kesal."

"Tapi gitu-gitu Haruki sayang Paman kan?"

Haruki memalingkan wajah. "Iya sih ... Haruki sayang Paman ..."

Sakura tak bisa menahan senyumnya melihat bagaimana Haruki malu mengakui perasaannya sendiri. Ah, entah bagaimana ia benar-benar bisa melihat Sasuke ada di dalam diri anak itu.

Mendekati ruang keluarga, Haruki langsung berlari ke arah meja dan mengambil sejumlah kertas ulangan dari sana. Dengan bangga ia menunjukkan kertas-kertas itu ke ayah dan ibunya.

Sasuke dan Sakura memeriksa kertas-kertas itu bergantian.

"Haruki good job!" komentar sang bunda setelah melihat hasil ulangan Haruki. Sakura mengacungkan jempolnya, yang segera dibalas Haruki dengan sama-sama mengacungkan jempolnya juga. Lalu Sakura segera mengangkat tubuh Haruki dengan gemas dan mereka tertawa bersama. "Haruki bener-bener mirip Ayah deh!"

"Eh? Beneran?"

"Iya, Haruki mesti tahu waktu sekolah dulu itu Ayah pinteeeeer banget kayak Haruki."

"Ayah begitu?"

Sasuke langsung mengekspresikan kesombongannya. "Tentu saja." Lalu ia mengekeh pelan. "Tapi Haruki lebih pinter dong. Haruki kan anak Ayah." Tak bisa ditahan, Sasuke mencubit kedua belah pipi putranya.

"Kalau Ibu juga pinter?"

"Kalau nggak pinter, Ibu nggak bisa jadi dokter kan?" Sasuke menjawab dengan senyuman, sambil melangkah untuk duduk di sofa, di sebelah Itachi.

"Kalau Paman pinter nggak?" tanya Haruki kemudian.

"Paman pinter banget dong!" Itachi langsung menyahut.

Diam-diam Sasuke menoleh ke Itachi saat Itachi mulai usil lagi menggoda keponakannya. Melihat bagaimana Itachi bisa tersenyum begitu tulus kepada anaknya, melihat bagaimana Itachi kelihatan lebih bersemangat kalau sudah bercanda dengannya.

Pada akhirnya Sasuke tahu kalau Itachi sebenarnya memang merindukan kehadiran seorang 'anak' dalam hidupnya. Tapi kenapa sampai sekarang kakaknya itu tidak pernah membicarakan pernikahan? Atau paling tidak, sekali dua kali membawa perempuan ke dalam rumah?

Sasuke mengangkat bahu. Entahlah.

Dan lagipula, Itachi juga masih cukup muda untuk menunda perkawinannya sendiri. Ia masih punya banyak waktu—tidak seperti dirinya.

Benar juga. Dan Sasuke pada akhirnya kembali memikirkan ini. Soal pernikahannya.

Masalahnya adalah, misalkan saja Sakura tidak melahirkan Haruki, Sasuke bisa saja menunda pernikahan seperti yang Itachi lakukan sekarang. Tapi bagaimanapun, Sasuke sadar kalau lambat laun Haruki pasti akan benar-benar membutuhkan status keluarga yang legal.

Sasuke memandang mereka—Haruki, Sakura, dan Itachi. Ia menghela napas. Senyumnya mengembang begitu saja tanpa ia sadari.

0o0o0

Sakura baru saja selesai menidurkan Haruki di kamarnya, ketika Sasuke menawarkannya untuk membicarakan sesuatu malam ini. Membicarakan tentang ... apa?

"Tentang masa depan keluarga kita. Aku, kau, dan Haruki."

Waktu itu, Sakura tak langsung mengiyakan. Ia membutuhkan waktu cukup lama untuk merenung, sebelum berkata "baiklah" dengan pelan, dan kemudian meminta waktu sebentar untuk mandi dulu.

'Sebentar' ...

Sebentar yang cukup lama.

Sasuke memerhatikan bagaimana jarum jam di kamarnya berjalan dengan lambat, namun terasa begitu cepat berpindah tempat. Sasuke mengeluh tiap kali jarum jam itu berganti ke angka yang berbeda tanpa terasa.

Apa yang membuat Sakura begitu lama?

Apakah Sakura bermaksud untuk menghindari pembicaraan ini? Tidak, tidak mungkin. Tadi perempuan itu sendiri sudah mengiyakan.

Sementara itu, sebenarnya Sakura sedang berpikir keras. Ia tahu, bahwa cepat atau lambat, pembicaraan tentang 'masa depan' ini pasti akan muncul, dan tak bisa dihindarinya. Tetapi, Sakura merasa bahwa ini masih terlalu cepat untuk mengambil keputusan dan berbahagia sekarang.

Paling tidak ... Sakura ingin menyelesaikan semua masalah tanpa harus ada beban yang mengganjal. Maka dari itu, ia sudah membulatkan sebuah keputusan. Dan dengan membawa segenggam putusan yang sudah dipikirkannya matang-matang, ia mengetuk pintu kamar Sasuke.

Namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban juga. Akhirnya dengan hati-hati Sakura membuka pintunya, dan masuk. Namun sekali lagi, ia tak melihat Sasuke di dalam sana.

Samar-samar terdengar suara gemericik air. Saat Sakura menoleh ke sumber suara, Sasuke sudah ada di sana, berdiri dengan rambutnya yang masih berselimut cairan yang satu demi satu jatuh menitik ke bawah.

"Maaf kalau aku lama." Sakura mengambil tempat di tepian tempat tidur.

"Aa—hn." Sasuke menghampiri, duduk tepat di sebelah Sakura.

Tanpa ragu Sakura mengambil handuk kecil yang melingkari pundak Sasuke, dan ia segera mengeringkan rambut basah lelaki itu.

Sasuke tak menolak. Justru ia tak banyak bergerak, membiarkan Sakura.

"Jadi ... kita harus mulai dari mana?" tanya Sakura setelah beberapa menit mereka hanya diam.

Sasuke memandang Sakura cukup lama. Sampai pada akhirnya ia menyuruh Sakura berhenti mengeringkan rambutnya, dan dengan pelan ia mendorong bahu Sakura sampai perempuan itu jatuh berbaring di kasur.

"Bagaimana kalau dari sini?"

Sakura mengekeh. "Jangan bercanda." Tapi kemudian Sasuke hanya diam dan menatapnya dalam, sampai Sakura pelan-pelan menaikkan dagu.

Dan Sasuke menurunkan kepala.

Mereka saling mengecap bibir pasangannya. Merasakan alurnya berganti ke tahap yang lebih tinggi secara perlahan-lahan. Lalu sama-sama terbuai.

Sakura benar-benar tak sadar, sejak kapan dan bagaimana Sasuke bisa membawanya untuk berbaring di tengah ranjang. Menikmati segala belaiannya yang membuatnya lemah sedemikian rupa. Membiarkan Sasuke membuka kancing kemejanya satu per satu—dan menyanggupi permintaannya melepaskan tenunan benang yang dipakai pemuda itu. Merasakan bagaimana bibir Sasuke turun melewati segalanya, berputar-putar di dada dan perutnya yang terbuka.

Sakura merasa, malam itu, langit-langit begitu indah untuk disaksikan walau hanya dengan tatapan kosong dan desahan. Sakura mencengkeram bahu Sasuke yang sudah mulai berkeringat.

"Sasuke ..."

"H-hn?"

Sakura memejamkan mata sejenak. Menikmati segala gelitikan yang menyetrum tubuhnya. "Kumohon jangan katakan apa pun malam ini."

Mau tak mau Sasuke berhenti. Agak lama desau angin mendominasi pendengaran. "...kenapa?"

"Aku hanya ingin memulai segala sesuatu dengan cara baik-baik ... dan mengakhirinya dengan cara yang sama." Sakura menangkap kedua belah pipi Sasuke. Ia tersenyum, mencium Sasuke. "Aku telah memulai sesuatu, namun aku belum sempat mengakhirinya." Jeda sejenak, giliran Sasuke yang mencium. "Maukah kau menunggu sebentar?"

"Kau akan selalu bisa menemukanku di sini."

Sakura mengulum senyum lebar. Lalu ia memeluk lelaki yang dikasihinya itu. "Ya ..."

Sasuke tak berbeda. Bahkan mungkin bibirnya mematri senyum yang lebih dalam daripada Sakura. Mereka tak perlu berkata-kata panjang lagi. Dialog mereka adalah sentuhan. Bagaimana interaksi itu bisa membuat keduanya tahu apa yang dipikirkan tanpa percakapan.

0o0o0

"Paman! Paman!"

Itachi tak punya pilihan lain selain membuka matanya dengan terpaksa. "Ah? Haruki?" gumamnya setengah sadar.

"Paman bangun!" Haruki yang duduk di atas badan Itachi langsung menepuk-nepuk pipi pamannya. "Paman bangun! Paman bangun!"

"Hm? Ya ... Paman bangun ya ..." Itachi menutup matanya kembali.

"Pamaaaaan!" Saat Haruki mulai menjewer pipi pamannya, barulah Itachi membuka mata selebar mungkin sambil mengaduh kesakitan.

"Iya, iya Paman bangun! Haruki jangan gitu dong!" gerutu Itachi sambil mengelus pipinya. Tapi melihat bagaimana Haruki menggembungkan pipinya yang bulat kemerahan itu, mau tak mau Itachi tertawa. "Ada apa sih memangnya?" Ia beranjak duduk setelah memindahkan Haruki dari atas badannya ke atas kasur.

"Paman, Ayah sama Ibu nggak ada!"

"H-hah?"

"Iya, waktu Haruki ke kamar Ibu, di sana kosong. Terus waktu Haruki ke kamar Ayah, pintunya nggak bisa dibuka. Paman, Ayah sama Ibu di mana? Kok pagi-pagi banget udah nggak ada?"

Itachi bengong sebentar, sebelum kembali pada realita saat Haruki merengek memanggilnya lagi. Dalam hati ia menggerutu, 'Mana aku tahu mereka di mana.', kemudian ia berkata, "Ayah sama Ibu lagi jalan-jalan sebentar kok. Sebentar lagi juga pulang." Tapi melihat wajah Haruki tetap mendung, Itachi tak bisa berbuat apa-apa selain tertawa canggung. "Ya udah, Haruki juga jalan-jalan sama Paman yuk. Nanti boleh beli es krim deh kalo Haruki mau!"

Awalnya Haruki tak bereaksi seantusias biasanya ia mendengar kata 'es krim', anak itu hanya mengedip sekali lalu memalingkan wajah. Tapi saat ia memandang pamannya kembali, dan menatap Itachi penuh selidik, Haruki bertanya pelan, "Benar?"

"Benar kok!" Itachi menaikkan jari kelingkingnya, yang langsung dibalas Haruki.

"Horeeeee!" Haruki langsung melompat kegirangan di atas kasur Itachi. "Haruki mau ganti baju dulu!" Dan tanpa basa-basi lagi, anak itu melesat pergi dari sana.

Itachi menguap memandang punggung kecil Haruki yang menjauh. Ia mengucek matanya sambil tersenyum, lalu beranjak turun dari ranjang untuk bersiap-siap.

Tapi nyatanya, saat Itachi mengecek ruang makan, ada Sasuke, Sakura, dan Haruki di sana. Mereka semua berpakaian rapi.

Lho?

Itachi mengerjap heran dan mengambil tempat duduk sambil tak berhenti memandang dua adiknya penuh tanya.

"Paman, jalan-jalannya nanti aja deh. Soalnya Ayah sama Ibu udah pulang."

Sakura nyengir lebar sambil menaruh sup yang sudah matang di atas meja. Itachi seperti menangkap ada kata 'terima kasih' dari cengiran itu. Dan tak sengaja, matanya menangkap beberapa bercak kemerahan di leher adik perempuannya.

"A-ah ..." Itachi mendadak merasa canggung. Ia segera memalingkan wajah dan memandang Sasuke yang tengah membaca koran. "Hari ini kalian mau ke mana sih?"

"Mau beli bingkai, Paman!"

"Bingkai?"

"Iya, buat foto yang di depan Miki Moosu itu lho!"

"Miki Moosu? Mickey Mouse?"

Haruki mengangguk tegas.

"Kalau mau Kakak boleh ikut kok," tawar Sakura.

Entah kebetulan atau tidak, Itachi melihat Sasuke langsung menurunkan korannya dari depan wajah. "Oh, boleh!" Itachi melihat lagi, Sasuke langsung melipat korannya. "Aku kangen jalan sama kalian!" Dan Sasuke langsung melotot memandang dirinya.

Itachi tertawa dalam hati.

"Terserah, tapi jangan macam-macam," komentar Sasuke tentang bergabungnya Itachi ke acara keluarga kecilnya.

0o0o0

Acara membeli bingkai itu tak berlangsung lama. Haruki cepat sekali memilih bingkai foto yang disukainya. Lalu setelah itu mereka berempat menyempatkan diri berkunjung ke Minato Park. Sebuah taman terbuka yang dekat dengan laut. Sampai di sana Haruki langsung kegirangan dan memanjat jembatan. Sakura spontan menjaga anaknya supaya tidak jatuh.

"Bu, lihat gedungnya tinggi-tinggi banget!" serunya sambil menunjuk deretan gedung pencakar langit di seberang laut.

"Iya, tinggi banget! Haruki mau ke sana?"

"Eh? Boleh?"

Sakura nyengir. Ia melirik Sasuke, seolah berkata 'Biarkan Haruki ke kantormu nanti.'.

Sasuke mengangkat bahu dan terus berjalan, mencari tempat untuk duduk di deretan tempat duduk berpayung di sana. Ia memesan beberapa minuman sementara mendengarkan keluhan Itachi tentang cuaca hari ini yang lumayan panas.

Tapi kemudian, kedua kakak beradik itu sama-sama memandang objek yang sama: Sakura dan Haruki di depan sana.

"Melihat kalian membuatku ingin menangis," kata Itachi melankolis.

Sasuke mendengus geli.

"Kalian kenapa tidak menikah saja?"

Pandangan Sasuke pun meredup. Butuh waktu beberapa lama sebelum ia menjawab, "Sakura ingin mengakhiri sesuatu yang lama sebelum memulai sesuatu yang baru."

"Hm?"

Sasuke mendengus lagi. "Tidak apa." Lalu ia mengganti topik. "Kau sendiri gimana? Mau kalah dengan adik sendiri?"

"Apa maksudmu?" tuntut Itachi pura-pura tersinggung.

"Bodoh. Menikah tentu saja," jawab Sasuke. "Atau kau memang beneran homo?"

"Hoy!" Itachi hendak memukul lengan Sasuke, tetapi Sasuke cepat menghindar sambil tertawa mengejek. "Hmm, tidak perlu buru-buru. Lagipula aku juga masih muda."

Sasuke menautkan alis. Tatapan Itachi meredup. "Tidak sampai aku benar-benar melupakannya."

"Hn, aku tidak peduli lagi."

"Kau itu!" Kali ini pukulan Itachi mengenai lengan Sasuke. Sasuke hanya mengekeh, mengejek. "Lagipula untukku ... banyak cara supaya bahagia tanpa menikah."

"Mesum."

"Bukan itu maksudnya!"

Sasuke hendak membalas lagi, tetapi kedatangan Sakura dan Haruki langsung membungkam mulutnya.

"Anu, bisakah setengah jam lagi kita pulang? Aku harus ke rumah sakit."

0o0o0

"Selamat malam." Sakura membungkuk ramah pada rekan kerjanya. Ia segera merenggangkan badan sejenak, sebelum akhirnya menyadari kehadiran seseorang yang tak ia duga berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Aku ingin bicara."

Sakura memiringkan kepala. Sejak kapan Naruto ada di sini? Hari ini Sakura pulang agak terlambat, mungkinkah pria itu sudah menunggu lama? "Mau bicara apa?"

"Tidak di sini."

"Ah." Sakura melirik motor di belakang Naruto. "Hari ini kau tidak menculik Haruki rupanya."

Naruto mendengus. "Aku tidak pernah menculik."

"Pernah." Sakura tersenyum lebar. "Ini sudah malam. Kalau ingin bicara, di sini saja."

"Jangan menolak." Naruto memberikan helm ke Sakura. "Aku benar-benar ingin bicara."

Sakura memandang helm di tangannya. Agaknya, ia merasa sedikit ragu. Ah, tapi Sakura ingat. Ia juga punya sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Naruto. "Baiklah, kebetulan aku juga ingin bicara." Sakura memakai helm pemberian Naruto di kepalanya. "Jadi, kita mau ke mana?"

"Apartemenku, tidak apa?"

"Baiklah."

"Ini." Naruto memakaikan jaketnya ke Sakura. "Malam ini agak dingin." Kemudian pria itu menyalakan mesin motornya.

Pelan-pelan Sakura menaiki motor Naruto. Sejujurnya, ia agak sedikit ragu tentang ini. Sakura tahu Naruto masih menyayanginya. Bahkan kehangatan dari rasa kasih sayang itu benar-benar membuat Sakura seperti dihimpit perasaan yang kacau balau.

Tapi Sakura juga tak ingin menunda waktu. Paling tidak, ada sesuatu yang harus diakhirinya dengan pasti.

0o0o0

CKREK

"Ah, rindunya…."

Naruto tersenyum tipis melihat Sakura yang bersikap seperti anak kecil sejak melangkahkan kaki ke dalam, perempuan itu berjalan sambil sedikit melompat dan membuka-buka ruangan yang ada di sana, lalu sesekali ia mengeluh.

"Sudah berapa lama ya aku tidak ke sini? Berantakan sekali!" Sakura menghampiri sampah makanan yang berserakan di atas meja ruang makan. "Ada baiknya kau belajar sedikit tentang bersih-bersih." Sakura membereskan tumpukan sampah itu dengan semangat. Melihat banyak piring menumpuk di tempat cucian piring, Sakura jadi cerewet lagi. "Kau itu, kapan sih akan berubah? Kalau seperti ini terus, kasihan juga istrimu nanti." Ia mengambil spons dan sabun. Diremasnya spons itu hingga banyak busa yang keluar.

"Sakura, tentang yang kemarin—"

"Lihatlah, sisa nasinya sampai mengerak."

"Sakura."

"Tentang kemarin apa?"

"Hinata bukan pacarku. Ini memang sulit. Seharusnya aku cerita dari awal. Dia adalah putri bosku. Dulu, aku pernah menolongnya, dan itu membuatnya tidak bisa lepas dariku. Aku bersumpah sudah bilang padanya bahwa aku menyukai wanita lain, tapi itu malah membuatnya depresi. Dan … Neji memintaku untuk berpura-pura di depan Hinata, berpura-pura menyayanginya …."

"Aku mengerti."

Sedikit banyak, Naruto merasa heran dengan reaksi Sakura.

Sakura menarik napas panjang. Ia tengah membilas piring yang sudah dibersihkannya dengan sabun. "Dulu, kau pernah bercerita padaku. Ingat? Waktu kita baru bertemu di sini setelah sekian lama."

Naruto mendengus sambil tersenyum geli. "Ingatanmu tajam juga ya?"

Lalu pria itu melangkah, tangannya terulur melingkari tubuh wanita di hadapannya. Sakura serasa benar-benar membeku saat mendapati Naruto tengah memeluknya dari belakang. "Tapi percayalah, aku sangat mencintaimu."

Meskipun sudah sekian banyak Sakura mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Naruto, entah mengapa kali ini terasa berbeda. Jika dulu ia mendengar kalimat itu karena merasa bahwa itu memang layak ditujukan untuknya, sekarang ia merasa bahwa kalimat seperti itu … dilontarkan pada tempat yang salah—pada orang yang salah. Kalimat itu adalah sebuah kesalahan.

"Karena itu, aku ingin kita menjalin hubungan yang serius. Mulai sekarang, sampai besok, dan besoknya lagi. Sampai Tuhan memutus usia kita."

Sakura mendesah. Pelukan Naruto kali ini terlalu kencang.

"Aku tidak mau kita hidup di jalan yang berbeda."

Sakura terpaksa melepas tangan yang melingkari pinggangnya itu. "Maaf." Ia menarik napas dalam. "Aku sudah punya kehidupan yang memang jauh berbeda dengan kehidupanmu.

"Kau seharusnya tahu, kan? Aku … sudah menjadi seorang ibu."

Naruto tersenyum kaku. "Lalu apa masalahnya? Sejak dulu aku sudah bilang, kan? Aku bersedia menjadi ayah bagi Haruki."

Sakura tersenyum tipis, bukan sebagai respon tentang kesedian Naruto. Tapi ia tersenyum untuk kenangan-kenangan yang telah ia lalui bersama Sasuke dan Haruki.

"Selama masih ada ayah kandungnya, kenapa harus memilih ayah yang lain?"

"Ap—"

Sakura mati-matian mengumpulkan keberaniannya mengatakan hal ini. Mengatakan hal yang benar-benar baru dipahaminya dengan benar baru-baru ini. Ia membalikkan tubuh dan menatap Naruto serius. "Aku memilih Sasuke."

Naruto membulatkan mata dan membalas tatapan Sakura dengan sorot mata kecewa. "Apa maksudmu?"

"Aku …."

"Kau jatuh cinta pada pria itu? Pria yang menyakitimu selama sepuluh tahun? Jangan bercanda Sakura!"

"Naruto, aku tidak—hmmmph!"

DUK

Naruto mendorong Sakura sampai punggung wanita itu menabrak wastafel dengan keras. Dilumatnya bibir Sakura hingga wanita itu kesulitan untuk mengambil napas.

Sakura memukul-mukul dada Naruto, berusaha melepaskan diri. Tapi sia-sia saja. Tenaganya sudah terkuras untuk kerja lembur hari ini. Ditambah lagi, perempuan melawan laki-laki. Sakura bukan orang bodoh. Ia tahu ia tak bisa menang, tapi Sakura tak mau hal seperti ini terjadi.

Sakura pun tak punya pilihan lain selain menendang perut Naruto dengan lututnya. Agaknya, pukulannya itu terlalu keras hingga membuat Naruto jatuh terduduk.

Napas Sakura dan Naruto yang terengah-engah terdengar begitu jelas di ruangan itu.

Sakura mengusap bibirnya. "Apa yang terjadi padamu?"

"Huh." Naruto memalingkan wajah—menatap lantai yang ia duduki. Lalu ia menengadah, menatap Sakura dengan tajam. "Seharusnya aku yang tanya begitu! Apa yang terjadi padamu!"

Sakura cukup kaget mendengarnya. Ini adalah kali pertama Naruto membentaknya seperti ini. Wajah Naruto yang memerah … terlihat sangat marah.

"Apa maksudmu dengan mengatakan kau memilih Sasuke!"

Sakura menggigit bibir—meskipun itu hanya akan menambah rasa sakit di sana. Ia benar-benar takut. Dengan langkah gemetar, Sakura mencoba pergi dari situ. "S-sebaiknya …." Bahkan suaranya terdengar gemetaran. "Kita bicarakan ini, setelah kita sama-sama mendinginkan kepala."

"Tidak adil …." Naruto mengepalkan tangannya. "Kalau kau memilih Sasuke hanya karena Haruki, itu tidak adil!"

Naruto mengangkap pergelangan tangan Sakura, menarik wanita itu, memaksa ia mengikutinya ke kamar, dan kemudian Naruto dorong wanita itu hingga terjatuh ke atas ranjang.

"Kalau seperti itu alasannya … biarkan aku melakukan hal yang sama."

Sakura menggeleng. "Tidak, jangan …."

"Aku … benar-benar mencintaimu, kau tahu?" Naruto memegang bahu Sakura sangat erat. "Sejak dulu. Sampai sekarang."

0o0o0

Ini memang bukan Uchiha Sasuke sekali. Terlihat resah dan berulang kali membuka tirai, mengintip dari jendela mengenai keadaan di luar.

Sasuke melirik jam dinding yang tergantung manis di kamar ini. Sudah lewat tengah malam dan Sakura belum pulang? Sebenarnya, bukan salah Haruki juga kalau semalaman anak itu terus menanyakan di mana ibunya.

Sasuke sudah menjemput Sakura, tapi ia tidak menjumpai wanita itu di rumah sakit. Beberapa rekan kerjanya yang kelihatannya lembur sampai pagi mengatakan bahwa Sakura sudah pulang.

Tapi, bukankah ini aneh? Jika Sakura mampir ke suatu tempat, tidak perlu sampai lewat tengah malam begini kan?

"Ayah …."

"Ah, Haruki bohong sama Ayah." Sasuke menghampiri Haruki yang bangun dari tidurnya. "Bukannya Haruki harusnya sudah tidur?"

"Ibu belum pulang?"

Sasuke membelai rambut Haruki dan menidurkan kembali anaknya. "Ada apa?"

"Haruki mimpi buruk." Anak kecil itu segera memeluk ayahnya manja. "Haruki nggak mau di sebelah Haruki ada yang kosong."

Sasuke menarik napas panjang. "Sebentar lagi Ibu pulang. Haruki tidur sama Ayah dulu."

Haruki langsung naik ke atas tubuh Sasuke dan memeluk ayahnya. "Haruki takut …."

"Tidak apa-apa." Sasuke memejamkan mata dan membelai rambut anaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Ayah ada di sini."

Hening sejenak.

"Lagipula ... sebentar lagi Ibu pulang."

0o0o0

Air mata itu terus turun, membanjir, semakin deras tiap detiknya. Seberapa keras Sakura berusaha untuk diam dan menyikapinya secara dewasa, ia tidak bisa.

Segalanya sudah hancur.

Apakah ini adalah hukuman dari Tuhan untuknya? Apakah ini adalah kesalahannya sampai Naruto telah berubah sejauh ini? Apakah ia memang ditakdirkan untuk seperti ini?

"Makanya jalani saja sesuai apa yang telah takdir berikan untukmu sekarang. Takdir tidak akan berbohong dan menuntunmu ke jalan yang salah."

Isakannya semakin mengencang tiap mengingat Sasuke, tiap mengingat suaranya, tiap mengingat segalanya tentang ia.

Sasuke ... apakah ... apakah kejadian yang menimpaku sekarang juga termasuk takdir yang pernah kaubicarakan?

"Sakura ..." Suara panggilan Naruto tak membuat keadaan menjadi baik. Seberapa kerasnya pria itu berusaha untuk lembut memanggil namanya, fakta yang telah terbentuk sekarang hanya ada satu.

Sakura jijik pada pria itu, juga pada dirinya sendiri.

Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Tubuhnya sudah terlanjur tak memiliki tenaga, sementara ia ingin sekali menarik tangannya dari genggaman Naruto.

"Semuanya pasti akan baik-baik saja." Suara Naruto terbang bersama angin yang berlari di sekeliling mereka. "Aku janji."

Sakura tak menyahut selain ia menangis semakin keras, meraung-raung sementara Naruto tetap bertahan menggenggam tangannya selembut mungkin.

"Ah, bagaimana kalau begini?" Naruto membuat nada bicaranya menjadi seceria yang ia bisa. "Kita mengulangi semuanya dari awal. Hanya kita berdua. Di suatu tempat yang jauh, di mana tidak ada orang lain yang bisa mengusik kebahagiaan yang akan kita bangun, di mana mereka tak bisa menemukan kita."

Naruto tetap mempertahankan senyumnya, meski Sakura tak berhenti juga membanjiri pipinya dengan air mata.

Naruto menghela napas. Pelan-pelan ia bangkit dari tidurnya dan memeluk Sakura dengan erat. "Aku mencintaimu."

0o0o0

TRING TRING

Ino berusaha menggapai ponselnya di meja, tapi usahanya malah membuat vas bunga yang berada di dekat ponselnya terjatuh. Suara pecahannyalah yang sebenarnya membuat Ino terpaksa bangun.

"Sial…," gerutu Ino kesal. "Aku tak mungkin membereskan itu malam-malam begini." Ia mengucek matanya sambil melirik vas bunganya yang pecah. Kemudian tatapannya beralih ke ponselnya yang mengemis minta diangkat. "Siapa pula yang menelepon—moshi-moshi?"

"Ino, Sakura menginap di rumahmu?"

"Haah, Sasuke ya. Jangan bercanda. Untuk apa menginap? Memangnya ada badai besar di luar?"

"Dia sempat berkunjung ke rumahmu?"

"Tidak. Semalaman ini aku bersama Sai."

"Sampai sekarang dia belum pulang."

"Mungkin lembur kerja—hoaahhm!"

"Tidak, teman kerjanya bilang kalau dia sudah pulang."

"Mungkin—eh? Apa? Bagaimana kalau memang terjadi sesuatu? Misalkan dia diculik?" Ino membuka matanya selebar mungkin. Ah, ia baru sadar kalau ini bisa jadi gawat. Tatapannya beralih ke vas bunganya yang pecah.

Sasuke tak menyahut di seberang sana. "Jangan bercanda."

"Aah, bagaimana kalau benar? Kau membuatku takut!" Ino mencari-cari di mana jam digitalnya berada—ini sudah pukul satu malam. Dan suara desahan putus asa Sasuke, mendadak menyadarkan Ino bahwa tadi ia mungkin sudah salah bicara. "Oh, tapi bisa saja mungkin dia pergi ke rumah teman, dan ia lupa menghubungimu!"

"Hn?" Sasuke tak menyahut sejenak. "Siapa saja 'teman' yang mungkin?"

"Mungkin …." Ino terdiam sesaat. Rasanya, ia baru saja melewatkan sesuatu yang penting. Melupakan sesuatu … yang sangat penting. "Ah, kau sedang bertengkar dengan Sakura?"

"Tidak."

"Aa, jadi mungkin …." Ino menggaruk pelipisnya. "Barangkali ia ke rumah Naruto." Ino menerawang jauh dan mengingat-ingat perbincangannya dengan Naruto kemarin siang. "Ee, tapi mungkin—"

TUT TUT TUT

0o0o0

"Naruto. Kenapa aku tidak kepikiran sama sekali?" Sasuke pun mengambil kunci mobilnya. Ia pernah mengantar Naruto yang mabuk dulu ke apartemen bocah itu. Dan Sasuke berharap, ia bisa mengandalkan ingatannya kali ini.

Entah mengapa, setelah mendengar nama 'Naruto', perasaannya jadi tidak enak. Rasanya ada berbagai hal yang berputar-putar seperti arus yang deras di hatinya. Apa ya? Kekhawatiran yang berlebihan.

Dan itu aneh, sangat tidak biasa.

Sasuke mendorong korneanya untuk berhenti ke sudut mata. Melirik sekilas ponsel yang ia letakkan di jok sebelah. Sampai detik ini, Sakura belum juga meneleponnya. Padahal sudah ratusan kali Sasuke melakukan panggilan pada wanita itu. Apa pula yang membuat nomornya berada di luar jangkauan?

Butuh waktu lima belas menit untuk Sasuke menemukan apartemen Naruto. Sebuah tempat yang sepi—sangat sepi. Letaknya benar-benar jauh dari hiruk pikuk kota. Gedung berlantai tiga. Tidak terlalu mewah, bangunannya sendiri benar-benar kuno. Mungkin, renovasi yang dilakukan oleh pemilik apartemen sendiri hanya untuk menambal bagian-bagian yang kurang layak. Sama sekali tidak fleksibel.

Tapi lupakan soal itu, sebab Sasuke tak mendapati Naruto di sana. Menurut keterangan dari orang yang tak sengaja di temuinya, Naruto sudah pergi dari tempat itu setengah jam yang lalu. Pergi bersama seorang perempuan.

"Aku tak begitu jelas melihatnya. Dia memakai tudung jaket untuk menutupi rambutnya, jadi aku tak tahu. Lagipula, perempuan itu terus saja menunduk."

Tanpa perlu bertanya lagi pun Sasuke yakin kalau itu Sakura. Masalahnya, apa yang mereka lakukan? Dan ke mana mereka pergi?

Sasuke mendecih sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pulang kembali. Ia ingin memastikan sekali lagi bahwa Haruki tidak bangun lagi.

0o0o0

Sayangnya Sasuke mendengar suara putra kecilnya tengah menghitung ketika ia sampai di rumah. Haruki bangun lagi dari tidurnya, dan sekarang ia sedang berada di ruang keluarga, duduk di atas sofa, meringkuk di sana.

"Enam puluh, satu, dua, tiga, empat ..."

"Haruki?"

Sontak Haruki berhenti berhitung. Dari belakang, bahu kecilnya mendadak tegang. Tapi Haruki tidak menjawab panggilan Sasuke. Sampai akhirnya Sasuke memutuskan untuk mendekat, dan ia menemukan Haruki tengah menunduk, memeluk lututnya dan ia menangis kecil.

"Haruki ... Haruki tetap ... nggak bisa tidur ..." Anak kecil itu memilih untuk terus menunduk dan mengisak, menolak untuk bersitatap dengan ayahnya sendiri. "Habis Ayah tiba-tiba nggak ada ... terus Ibu belum pulang juga ..."

Sasuke menghela napas. Pelan-pelan ia mengangkat tubuh mungil putranya, memeluknya. "Maaf tadi Ayah pergi sebentar," aku Sasuke. "Kenapa Haruki nggak minta tidur bareng Paman saja?"

Haruki menggeleng dalam pelukan Sasuke. "Ayah ... Ibu ke mana? Kenapa Haruki mimpi Ibu pergi?"

Entah bagaimana, kala itu Sasuke tidak bisa memaniskan lidahnya untuk menenangkan Haruki. Pria itu hanya mampu bungkam, dan terus memperbanyak diam. Sementara itu telinganya terus menerima bagaimana isakan Haruki sampai di sana. Hatinya gelisah, dan ia sendiri tak tahu mesti bagaimana. Hanya terus berbisik dalam diri sendiri, "Aku harus bagaimana?"

Sampai kemudian suara telepon berdering.

Sasuke melepaskan Haruki dari pelukannya dan berjalan menuju meja telepon. Baru saat ia hampir menyentuh gagangnya, tiba-tiba Haruki menyergah.

"Itu dari Ibu ya? Dari Ibu?" tanya anak kecil itu sambil menarik-narik celana Sasuke.

Sasuke memandang putranya dan berkata, "Tunggu sebentar, Ayah belum mengangkat." Sementara itu karena sibuk meladeni Haruki yang ribut, tangannya tergelincir dari gagang telepon dan menyinggung bingkai foto di sana hingga terjatuh dan pecah.

"Fotonya!" Haruki membelalak. Matanya semakin berkaca-kaca. Ketika ia hendak menyentuh bingkai foto yang telah pecah itu, Sasuke tak punya pilihan lain selain membentak.

"Haruki jangan dekat-dekat!"

"Tapi fotonya—itu foto ..." Foto keluarga milik Haruki yang pertama. Foto keluarganya di depan patung Mickey Mouse. Foto yang amat sangat disukainya.

Sasuke mendecak dan akhirnya ia menggendong putranya dengan tangan kiri sementara tangan lainnnya mengangkat telepon yang sejak tadi berdering-dering kesetanan. "Moshi-moshi—"

"Sasuke!" Suara Mikoto terdengar di ujung sambungan.

"Ibu? Ada apa menelepon malam-malam begini?"

Mikoto terus saja menyebut nama 'Sakura' berulang kali, tak ada kata lain yang diucapkannya selain nama itu. Sampai pada akhirnya Fugaku mengambil alih sambungan, dan berkata dengan suara yang jelas ditangkap telinga Sasuke.

Gagang telepon itu terjatuh dari tangannya.

Haruki bisa melihat; bagaimana ayahnya tiba-tiba membelalak, merunduk, dan mengisak pelan. Ayahnya menangis.

Takdir itu ... tak selalu baik pada setiap orang, meski pada awalnya ia muncul memberi banyak sekali kebahagiaan.

Bersambung


A/N

Akhirnya chapter 11 selesai! Dan ini berarti ... one chapter left! Chapter 12 adalah chapter terakhir :'D

Saya nggak bisa kasih banyak evaluasi buat chapter ini. Pokoknya maaf banget kalo terlalu banyak adegan dewasa terjadi dalam satu chapter. Buat yang request lemon, apakah beberapa scene di atas udah termasuk lemon? Saya harap iya #ditimpuk. Yang jelas buat sekarang, saya emang nggak bisa bikin yang lebih jauh dari ini, maaf :)

Yap, btw karena chapter depan PM bakal tamat, silent readers bertobat dan review dooong xD #buagh

Special thanks to:

Riato Kid, nyaachan, mysaki, Lhylia Kiryu, Guest, Horyzza, ntika blossom, itachislovelywife, MuFylin, Aphrodite Girl13, indri. schorpion, hanazono yuri, Mayuri Zha, Rimpo Marshmallow, haruchan, QRen, Dya Onyx, tezuka, zero, Aika Yuki-chan, Akiko Mi Sakura, Yukio Valerie, AyuClouds69, kHaLerie Hikari, goonerette, Uchiha Ratih, sasusakulunatic, aliyah, who, Guest2, Permata Hitam, Taniachan, iya baka-san, Natsumo Kagerou, sagasar, 5a5u5aku, kazuran, Akina Takahashi, Uchiha Tachi'4'Sora, Azi-chan, AoStraw, allihyun, Arakafsya Uchiha, UchihaSepthie, Uchizuma Angel, ay ahalya, uchiha, uchihana rin, Anka-Chan, laksmiann, Nohara Rin, kasih hazumi, Mariyuki Syalfa, fuji. pangesti, sakakibaraarisa, Animea-Khunee-Chan

Balasan review non login:

nyaachan: Thanks udah review lagiiii :D hehe, moga2 chapter 11 juga masuk favorit ya xD (walo kayaknya ga deh) Dan so pasti saya terus menuliis!

mysaki: Err... maaf chapter 11 updatenya gak kilat2 banget, hiks

Guest: Siap dilanjut! :D

Aphrodite girl13: Err... padahal saya kira update kemaren itu termasuk cepet xD tapi thanks lho udah revieeeeew! :D

haruchan: Haha, gubrak dah ... Yang jelas makasih banget buat reviewnyaaaa :D Ini udah dilanjut : 3

QRen: Wakakak, Naruto dah dkasih nasihat tuh, jangan nyolot terus makanya *dirasengan*

Yap, saya tetep semangat kooook :D

Dya onyx: Wooh, impian Haruki yang mana atuh? O.o *mendadak jadi amnesia*

Maaf updatenya ngaret :D

tezuka: Udah dilanjuuuuttttt!

zero: Wakakak, Itachi emang bego dalam banyak artian yang positif ya #woy

Uwaaa, seneng saya dibilang update cepet )/( *okegapenting*

goonerette: Waa, thanks udah dibela-belain baca ngebuuut!

Hehe, lemon nya udah tuh di atas (goonerette: woy, itu bukan lemooon!)

sasusakulunatic: Saya gak bisa jawaaab, ntar spoiler #buagh

Maaf update ngaret yaaa T..T

aliyah: SS moment lagi? Boleh bangeeeet! :D

Tapi maaf moment SasuSaku nya di chapter ini ga full, hehe

who: Heheh, soalnya kalo dimunculin xxx-nya ntar bakal jadi panjang banget ceritanyaaaa *alesanajalu*

Wahaha, kadang2 Naruto emang perlu dibikin nyebelin *dirasengan*

Kalo kisah Itachi ... itu di atas udah ada dikit xD ntar saya pertimbangin buat bikin cerita utuhnya deh :D

Guest2: Hehe, saya emang suka yang nanggung-nanggung #buagh

Permata Hitam: Saya malah bahagia dapet review panjang koooook, ga usah ga enak gitu laaah xD

Wah, brarti fic ini jodoh sama kamu xD

Hehe, aduh, maaf saya lupa kasih kredit ke Dem*krat buat kata 'lanjutkan' nya xD

Salam kenal jugaaaa

Taniachan: Udah diupdateeee!

Natsumo Kagerou: Uwaaaaa, thanks udah ngasih tauuuu (soal typonya)! Saya bener-bener ga sadar lho sebelum dikasih tau kamu xD ini udah diperbaiki kok :D jangan segan2 koreksi lagi ya kalo ada kesalahan

Hehe, dan thanks sekali lagi buat doanya *peyukNatsumo*

Plus beribu thanks lagi dan lagi buat kesetiaanmu mbaca fic iniiii!

sagasar: Hehe, Saku hamil lagi itu kehendak Tuhan YME, saya nggak berhak menentukan #woy

5a5u5aku: Iyaaa, Sasucake emang harus dibikin dewasa sekali-kali, haha (habis MK njahatin dia mulu sih #woy)

Yap, saya udah update ASAP yang saya bisa!

kazuran: Udah dilanjuuut! :D

UchihaSepthie: Salam kenal Septhieeee!

Waaah, aku bahagia dapet fans buat cerita iniiii *melayangdiangkasa* Udah dilanjut kok nih :D

Uchizuma Angel: Wakakak, boleh juga tuh jatuh cinta pada bacaan pertama xD

Buseeeet, kalo sampe 100 chapter sayanya yang ga kuaaaat #buagh. Haha, tapi sampe SasuSaku dapet cucu itu sesuatu banget xD

Yap, salam kenal juga sweetie! :D

ay ahalya: A-aaaa, aku melayang waktu tau teteh sampe dibela-belain gitu buat baca fic ini *fly*

Dan aku jauh lebih ngepaporitin teteeeeh~ aku bukan cuma fans, tapi fans fanatikmuuu xD #woy

Btw, makasih buat reviewnya lho teh :'D aku selalu berusaha buat update cepet! ;D

uchiha: Siap dilanjuuuuttttt!

Anka-Chan: Yap, udah dilanjut nih! Saya juga menunggu reviewnya! :D #woy

Mariyuki Syalfa: Hehe, iya, soalnya kalo pas kemaren langsung dikasih kata 'tamat' kesannya ada yang kurang gimana gitu xD btw makasih banget buat kesetiannyaaaaa :D

.

.

.

Yap, reviewnya pleaseeee ;D,

Yamashita