[REMAKE] From The Darkest Side by Santhy Agatha

Genre :: Romance, Thriller

Cast :: Kim Jongin, Xi Luhan, and others. [KAILU]

Rated :: M

.

Disclaimer : Saya me- remake novel favorit saya, cerita aslinya kalian bisa

baca novel From The Darkest Side (Santhy Agatha). So, cerita ini

bukan milik saya, saya hanya meremake oke?jangan nuduh saya plagiat ya.

Oh iya ini re-post ya?

.

Typo(s). SG.

Don't Like , Don't Read chingu!

Annyeong aku bawa ff From The Darkest Side KaiLu Ver lanjutannya ^^

Happy Reading!

"Kau tidak boleh melakukannya. Kau sudah menyelamatkanku dari percobaan pemerkosaan yang dilakukan Minwoo, dan sekarang kau mau merendahkan dirimu dengan melakukan hal yang sama?"

Kai berdecak, "Aku membunuh Minwoo bukan untuk menyelamatkanmu dari pemerkosaan. Aku membunuh Minwoo karena dia berani-beraninya menyentuh kau yang sudah menjadi milikku." Matanya menyipit dingin, "Siapa pun yang berani menyentuhmu akan kubunuh."

Tubuh Luhan gemetar. Lelaki ini Iblis. Iblis yang tidak punya jiwa. Luhan salah mengira lelaki ini punya sedikit kebaikan dalam jiwanya ketika lelaki itu menyelamatkannya dan dengan lembut mengobati luka-lukanya. Ternyata lelaki itu melakukannya bukan untuk Luhan, tetapi untuk kepuasan egonya sendiri yang menakutkan.

"Aku akan bunuh diri kalau kau memperkosaku."

"Memperkosamu?" Kai mengerutkan keningnya, "Waktu itu kau sama sekali tidak menolakku." Suaranya rendah merayu, "Kau ingat malam itu? Ketika kau bercinta denganku semalaman, berkali-kali, penuh gairah? Kau sepertinya menikmatinya, kau mengerang puas ketika mencapai orgasmemu dengan aku tenggelam dalam-dalam di tubuhmu."

"Hentikan!" Luhan berteriak, "Waktu itu aku mengira kau adalah Jongin!"

"Jongin atau aku bukankah sama saja?" Kau mengangkat bahunya, "Jangan lupa Luhan, kami ini satu tubuh. Kau bercinta dengan Jongin berarti kau bercinta denganku. Begitu pun sebaliknya…" lelaki itu melangkah makin dekat, "Tidakkah kau merindukan tubuh ini? Tubuh yang pernah memelukmu?"

"Tidak! Mundur Kai! Jangan dekati aku." Mata Luhan melirik ke segala arah, "Aku tidak mau."

"Kenapa kau mau bercinta dengan Jongin tetapi tidak mau bercinta denganku?" Kai mengabaikan ancaman Luhan, dengan kasar direnggutnya tangan Luhan dan disentuhkan ke dadanya, "Lihat ini, rasakan ini, kami ini orang yang sama bukan?"

Luhan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Kai, tetapi lelaki itu menahannya dengan kejam, membuat Luhan meringis kesakitan, matanya terasa panas dan dia menatap Kai dengan menantang, "Kau iblis kejam yang tidak punya hati. Aku sangat membencimu. Dan kau tidak bisa disamakan dengan Jongin. Jongin jauh… Jauh lebih baik dari dirimu."

Kata-kata Luhan rupanya menyulut kemarahan Kai sampai batas kesabarannya. Lelaki itu mencengkeram kedua tangan Luhan dan mendekatkan wajahnya dengan marah, "Kau bilang Jongin lebih baik dariku? Mari kita lihat!"

Kai mendorong Luhan ke atas ranjang, secepat kilat Luhan melenting hendak bangun, tetapi Kai sudah menindihnya dengan tubuhnya yang kuat. Kedua tangannya mencengkeram tangan Luhan dan mengangkatnya ke atas kepalanya. Wajah mereka berdekatan. Luhan bisa melihat betapa tajamnya mata lelaki itu, betapa banyaknya amarah yang terkumpul di sana. Kai mendekatkan bibirnya, mencoba mengecup bibir Luhan, tetapi Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya menjauh sehingga bibir Kai hanya menyentuh pipi dan rahangnya. Dengan gemas Kai menurunkan tangannya, menggenggam kedua tangan Luhan hanya dengan satu tangan. Tangannya yang satunya mencengkeram rahang Luhan agar tidak bergerak, bibirnya lalu memagut bibir Luhan, membuat Luhan mengerang dan menolak sekuat tenaga.

Kai mengangkat bibirnya dan mengamati, "Sepertinya luka di sini sudah sembuh." Lelaki itu mengacu kepada luka bekas tamparan Minwoo kepadanya malam itu. Luka itu memang sudah tidak bengkak dan hampir tidak terasa lagi. Kai lalu menekankan tubuhnya dan memperdalam ciumannya sehingga berhasil membuka bibir Luhan dan melumatnya makin dalam. Disesapnya bibir bawah Luhan dengan penuh gairah, seolah ingin mencicipi keseluruhan rasanya.

Luhan merasakan bibir itu. Bibir yang sama dengan bibir Jongin yang pernah melumat bibirnya dengan lembut. Tetapi kali ini berbeda, ciuman Kai sangat kasar dan tidak tanggung-tanggung, lelaki ini melumat bibir Luhan seolah ingin menggilasnya. Seluruh kemarahannya tertumpah di ciuman itu, Luhan masih meronta, tetapi kemudian dia menyadari, bahwa semakin dia meronta, semakin Kai marah dan kasar kepadanya.

Dia lalu mencoba diam, tidak meronta dan tidak melawan. Jantungnya berdebar kencang. Antara ketakutan, penolakan dan gairah yang muncul tanpa bisa dia kendalikan. Bagaimana pun juga, tubuh yang sedang menindihnya itu adalah tubuh yang sama dengan lelaki yang dicintainya.

Kai menyadari perubahan sikap Luhan. Dia menghentikan ciumannya dan menatap Luhan. Napas mereka masih terengah akibat ciuman yang panas itu, dan bibir mereka masih begitu dekat. Kai tersenyum miring, "Memutuskan untuk menyerah, eh?"

Luhan menatap Kai dengan berani, "Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Aku tahu aku tidak akan menang melawanmu. Tetapi satu hal yang pasti. Kalaupun kau berhasil bercinta denganku. Aku membayangkanmu sebagai Jongin. Karena Jonginlah yang aku cintai, bukan kau."

Kai menggeram marah, "Kalau begitu aku tidak akan menahan diri lagi." Lelaki itu membuka pakaian Luhan dengan kasar, menariknya dari tubuhnya hingga Luhan telanjang dada di bawahnya, "Aku pernah menyentuh tubuhmu dan menikmatinya, kau pun menikmatinya. Malam ini akan kubuat kau menyadari bahwa aku berbeda dengan Jongin, aku lebih bisa memuaskanmu dibanding dia."

Lelaki itu mengangkat rok Luhan dan dia sendiri melepaskan celananya. Kejantanannya sudah menegang dan keras, Kai begitu bergairah, dia membungkuk dan melumat bibir Luhan lagi, tangannya menyentuh payudara Luhan, meremasnya dan memainkan putingnya dengan ahli. Lelaki ini tidak mengenal kelembutan dalam bercinta, lelaki ini benar-benar bercinta dengan nafsunya.

Sementara itu Luhan berusaha keras menjaga tubuhnya tetap diam, meskipun gairah itu mengalir deras di tubuhnya. Ini tubuh Jongin, dan jemari lelaki itu sedang memainkan putingnya dengan ahli. Ketika Kai menurunkan kepalanya untuk melumat puting payudaranya, sebuah erangan terlepas dari bibir Luhan.

Kai mengangkat kepalanya dan menatap Luhan dengan pandangan mengejek, "Suka sayang?" dengan sengaja dia melumat puting payudara Luhan, menggodanya dengan lidahnya dan menghisapnya dengan kuat, membuat Luhan menggigit bibir, berusaha menahan erangannya.

Kejantanan Kai menyentuh perutnya, terasa keras dan siap, lelaki itu menurunkan jarinya dan menurunkan celana dalam Luhan, membuangnya di kaki ranjang. Jemarinya menyentuhnya di sana, dan dia tersenyum puas, "Kau bisa menolakku dengan kata-katamu, tetapi tubuhmu tidak bisa berbohong, kau basah di sana, siap untuk melumasiku."

Luhan menatap Kai dengan marah, "Aku membayangkan Jongin."

"Kau tidak membayangkan Jongin, kalau kau membayangkan Jongin kau pasti akan membuka pahamu dengan sukarela untukku, bukannya menatapku dengan pandangan kebencian." Dengan kasar Kai membalikkan badan Luhan, membuat Luhan tertelungkup dan menoleh ketakutan.

"Kau... Apa kau..."

"Diam!" Kai menarik pinggul Luhan ke atas dan menyusupkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Luhan. Luhan mengerang karena terkejut ketika merasakan kejantanan Kai tenggelam dalam-dalam.

"Apakah kau mengakui kalau kau merindukanku, sayang?" Kai bertumpu pada lengannya setengah membungkuk dan mengecup punggung telanjang Luhan, "Karena sepertinya aku merindukanmu." Lelaki itu lalu menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang cepat dan keras, membuat tubuh Luhan yang tengkurap terdorong di atas ranjang. Luhan mengerang dan menggertakkan giginya menahankan gerakan kasar Kai yang entah kenapa tetap membawa getaran panas di dalam dirinya, berpusat di kewanitaannya dan menyebar ke seluruh tubuhnya.

Kai menegakkan punggungnya dan memegang pinggul Luhan menggerakkannya supaya berpadu dengan gerakannya. Lelaki itu menggertakkan gigi menahan orgasmenya yang hampir datang, menunggu. Dan ketika Luhan mengerang karena orgasme yang dipaksakan datang kepadanya, barulah Kai memacu dirinya sendiri untuk mencapai orgasme yang sudah ditunggunya, dia menggeram, menekankan dirinya dalam-dalam dan meledakkan dirinya di dalam tubuh Luhan.

Setelah itu, Kai membaringkan tubuhnya, setengah menindih tubuh Luhan yang masih telungkup. Napas mereka berdua terengah-engah. Luhan masih telungkup, kepalanya masih miring ke satu sisi, enggan menatap Kai yang memeluknya dari belakang. Air matanya menetes dan jatuh membasahi sprei. Dia telah direndahkan dengan begitu dalam oleh Kai, dan dia mencapai orgasme! Astaga, wanita seperti apakah dirinya ini? Apakah dia wanita murahan? Bisa mencapai orgasme dari iblis kejam seperti Kai? Ataukah dia terlena karena Jongin dan Kai memiliki tubuh yang sama?

Tapi Kai tadi mengatakan bahwa Luhan tidak membayangkannya sebagai Jongin, dan itu adalah kebenaran. Luhan sadar sekali bahwa yang bercinta dengannya tadi adalah Kai. Dan dia tetap mencapai orgasmenya!

"Luhan...?" suara itu memanggilnya dengan lembut, membuat Luhan menggertakkan giginya marah. Permainan apa lagi yang dimainkan Kai? Apakah lelaki itu sedang mencoba mempermalukannya dengan berpura-pura lembut seperti Jongin?

"Luhan?" lengan kuat itu memeluknya lembut tepat di bawah payudaranya, bibirnya mengecup pundak Luhan penuh kerinduan, "Luhan ini aku. Jongin."

Luhan tersentak, lalu tertegun meragu. Suara itu, kelembutan sentuhan dan kecupan itu, sangat mirip dengan Jongin. Tetapi bukankah Kai bilang Jongin sudah hilang dan tidak bisa dia rasakan lagi? Apakah ini benar-benar Jongin atau Kai yang berpura-pura? Luhan sendiri saksinya, dia pernah melihat sendiri Kai yang sedang berpura-pura sebagai Jongin, dan Kai luar biasa ahli.

"Luhan, lihatlah aku."

Sambil menelan ludahnya, Luhan membalikkan badannya pelan-pelan. Menghadap ke arah lelaki itu. Mereka berbaring telanjang berhadapan, saling menatap, mata Luhan mencari di kedalaman diri Jongin, mencoba menemukan sesuatu, petunjuk atau apapun yang bisa memberitahunya siapakah yang ada di depannya ini. Tetapi dia tidak bisa menemukan jawabannya. Salah satu kekuatan Kai dibandingkan Jongin adalah kemampuannya untuk tetap sadar meskipun tubuh ini sedang dikuasai oleh Jongin, seperti yang dia bilang, Kai menikmati duduk diam di sudut dan mengamati. Hal itu berarti sangat mudah bagi Kai untuk berpura-pura sebagai Jongin, karena apa yang diketahui Jongin diketahui juga oleh Kai. Sebaliknya bagi Jongin, ketika Kai menguasai tubuhnya, dia tertidur dan hanya memiliki ingatan samar dan sepotong-potong tentang apa yang dilakukan Kai.

Jongin menelusurkan jarinya dan menyentuh bibir Luhan, lalu ke pipinya. Matanya menelusuri bekas memar di tubuh Luhan, di lengan Luhan, bekas memar di tubuhnya akibat perlakukan kasar Minwoo memang masih ada, menjadi ungu kehitaman, meskipun rasanya sudah tidak sakit lagi, tetapi memarnya masih tampak mengerikan. Alis Jongin mengerut dan dia menatap Luhan dengan sedih, "Apakah dia, Kai menyakitimu?"

Ini mungkin benar-benar Jongin. Lelaki ini tampaknya tidak tahu apa yang dialami Luhan malam-malam sebelumnya. Luhan menatap Jongin, bibirnya bergetar, meragu,

"Jongin...?" panggilnya.

Lelaki itu tersenyum, lalu meraih jemari Luhan dan mengecupnya, "Ini aku sayang."

"Jongin." air mata kelegaan langsung mengalir. Oh Astaga, ini Jongin, Jonginnya masih hidup, lelaki ini masih ada. Dia tidak mati seperti yang dikatakan oleh Kai. Berarti masih ada harapan untuk mereka. Luhan memeluk Jongin erat-erat merasa begitu bahagia hingga ingin tertawa dan menangis bersamaan. Sementara Jongin balas memeluknya, menenggelamkan wajahnya di keharuman aroma tubuh Luhan yang nikmat.

Lama kemudian mereka bertatapan kembali, mata Jongin yang menatapnya dengan serius, lelaki ini tampak seperti lelaki dingin yang berwibawa yang pertama kali ditemui oleh Luhan, "Katakan padaku, apakah Kai berbuat kasar kepadamu? Memar-memar ini..."

"Tidak, bukan Kai pelakunya," Luhan menggelengkan kepalanya, dia lalu menceritakan kepada Jongin tentang rencana Jongdae, tentang Minwoo, bagaimana Kai kemudian menemukannya tepat di saat Minwoo hendak memperkosanya, dan kemudian bagaimana Kai membuatnya bercinta dengannya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku... Aku..." bibir Luhan bergetar dan matanya memanas. Dia merasa malu, sungguh malu kepada Jongin.

Tetapi lelaki itu tersenyum, dan menyentuhkan telunjuknya ke bibir Luhan, menahannya untuk berbicara. "Stttt... Bukan salahmu Luhan, bagaimana pun juga tubuh kami sama... Mungkin tubuhmu mengenali tubuh ini dan meresponnya," Jongin berbisik lembut dan mengeratkan pelukannya kepada Luhan, "Maafkan aku membuatmu harus mengalami ini semua di hidupmu."

Luhan balas memeluk Jongin, menenggelamkan kepalanya di dada telanjang Jongin yang bidang dan menangis, "Aku mencintaimu Jongin."

Lelaki itu menghela napas panjang. "Aku juga Luhan, aku juga. Aku sudah tertidur lama. Tetapi kemudian aku merasakan kehadiranmu, keberadaanmulah yang membuatku bangun kembali... Aku ingin mencintaimu dan ingin memelukmu, membuatmu berada di sisiku selamanya..." Jongin tampak sedih, "Tapi selalu ada Kai... Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai."

Mencintai Kai? Luhan mengernyit. Jongin benar. Kai sangat sulit untuk dicintai.

Jongin tersenyum melihat Luhan mengernyitkan matanya, "Kau sudah tahu semua dari Jongdae ya? Pembunuhan-pembunuhan itu... Aku menyesal Luhan, aku tidak berdaya mencegah Kai melakukan itu semua. Ketika aku sadar, kecelakaan yang menewaskan keluarga angkatku sudah terjadi, kecelakaan yang menewaskan Kris, ayahmu. Kai sudah bertindak terlalu jauh, dan itu sama saja aku melakukannya dengan tanganku sendiri."

Luhan menggenggam kedua tangan Jongin erat-erat, "Tidak Jongin, kau tidak bersalah. Kau tidak sadar ketika semua kejahatan itu terjadi."

Jongin menghela napas, "Kadang-kadang aku merasa Kai membunuh hanya untuk menggangguku. Entah kenapa dia membenciku setengah mati. Tangan ini, entah berapa nyawa yang direnggut oleh tangan ini."

Luhan mengecup kedua tangan Jongin yang berada dalam genggamannya, "Kai yang melakukannya Jongin, bukan kau."

"Dan aku tidak bisa menghentikannya. Mungkin satu-satunya jalan adalah aku harus mati. Itu akan menghentikan Kai juga."

"Tidak! Jongin, jangan pikirkan itu, masih ada cara lain. Mungkin kau bisa berdamai dengan Kai." Tiba-tiba pikiran itu melintas di benak Luhan, kalau Jongin dan Kai tidak bisa saling menghancurkan, bukankah jalan satu-satunya adalah berdamai? Dan Luhan tahu saat ini Kai ada di dalam, mendengarkan dan mengamati mereka dari sudut yang paling gelap. "Kalian bisa hidup berjalinan tanpa saling menyakiti."

"Bagaimana mungkin Luhan?" Jongin menyela dengan tak sabar, "Tubuh ini hanya ada satu. Kami dua kepribadian yang sangat bertolak belakang. Kata 'damai' adalah satu-satunya hal yang tidak mungkin kami lakukan."

Luhan menghela napas panjang, mungkin memang tampak sulit. Tetapi tidak bisa menutup kemungkinan bahwa itu bisa dilakukan bukan? Masalah satu-satunya adalah Kai sangat kejam, dengan insting membunuhnya yang luar biasa. Ketika dia meledak maka akibatnya sangat menakutkan. Seandainya saja Jongin bisa menidurkan Kai.

Luhan mengerutkan keningnya, teringat akan kata-kata Kai kepada Jongin. "Dia menanggung seluruh pukulan untukmu."

"Apa?"

"Kai, dia bilang dia menanggung seluruh pukulan untukmu."

"Maksudmu... Di masa kecilku?" kenangan itu muncul lagi di benak Jongin, kenangan samar tetapi menyakitkan yang berusaha dimusnahkannya. Kenangan tentang ayahnya yang sangat pemarah dan terlalu disiplin. Jongin kecil harus bisa memenuhi semua keinginannya, bisa berkuda, bisa berenang, melakukan semua hal yang disebutnya sebagai 'kegiatan laki- laki' tanpa mempedulikan bahwa Jongin hanyalah seorang anak kecil.

"Kai bilang ayahmu sering memukulimu dengan tongkat, dan ibumu tidak membelamu..."

"Aku tidak punya ingatan tentang hal itu," Jongin mengernyitkan kening, "Yang aku ingat adalah seringkali aku bangun di tempat tidur dengan punggung sakit dan bilur. Aku sering berpikir bahwa aku hilang ingatan..."

"Itu karena Kai mengambil alih tubuhmu. Ketika ayahmu memukulimu, dia muncul dan menjadi tamengmu. Membuatmu terlindung dalam ketidaksadaran yang hangat, dan kemudian menanggung pukulan-pukulan itu," Luhan menghela napas panjang, "Kai bilang dia tumbuh makin kuat seiring bertambahnya kemarahan dan kebencian terpendammu..." Luhan menatap Jongin dengan serius, "Mungkin kau harus memaafkan ayahmu, dan dengan begitu Kai menghilang."

"Aku bahkan tidak pernah memikirkan ayahku lagi." Memikirkan tentang ayahnya hanya menimbulkan kenangan buruk untuknya. Karena itulah Jongin menghindarinya. Tetapi mungkin juga, itulah yang membuat kemarahan dan kebenciannya di masa kecil atas sikap jahat ayahnya terpendam dan tumbuh semakin dalam, menjadi bahan bakar untuk Kai agar semakin kuat.

"Tetapi kau ada benarnya juga." Jongin menghela napas panjang. Dia kemudian bangkit dari ranjang dan mengenakan pakaiannya, "Istirahatlah Luhan... Aku akan mencari Jongdae..."

"Jongdae..." Luhan menelan ludahnya. "Dia membantuku melarikan diri, dan kemudian Kai mengetahuinya. Aku selalu bertanya-tanya, karena sepertinya tidak ada Jongdae di rumah ini. Tapi tentu saja aku tidak pasti karena aku dikurung di kamar ini... "Wajah Luhan tampak ragu,

"Apakah menurutmu... Kai telah membunuh Jongdae?"

Jongin tertegun. Jongdae adalah satu-satunya orang yang menghubungkannya dengan ikatan masa lalunya. Lelaki itu sudah menjadi pelayan di rumah ayah kandung Jongin, bahkan sejak sebelum Jongin dilahirkan. Kalau Kai membunuh Jongdae...

Jongin mengusap rambut Luhan lembut, "Aku akan mencari tahu. Jangan cemas ya." Dikecupnya dahi Luhan dan melangkah pergi, ketika di pintu dia memutar tubuhnya, "Kau tidak akan dikurung di kamar ini Luhan."

Jongin menemui Jongdae segera setelah mengetahui bahwa pelayan setianya itu berada di rumah sakit. Dia melangkah menuju kamar tempat Jongdae ditempatkan. Melihat beberapa penjaga berjaga di sana dan mengernyitkan dahinya tidak suka.

"Kalian semua sudah tidak diperlukan lagi di sini. Pergilah."

Para pengawal itu semula tampak ragu dan saling berpandangan. Bukankah Tuan Jongin sendiri yang menginstruksikan bahwa mereka tidak boleh pergi dari sini apa pun yang terjadi? Kenapa Tuan Jongin berubah pikiran secepat itu?

Jongin memasang ekspresinya yang paling dingin. "Pergilah. Jangan sampai aku mengulang perintahku untuk ketiga kalinya."

Para pengawal itu pun pergi dengan patuh. Jongin membuka pintu kamar Jongdae dan mendapati Suho ada di dalam sana. Duduk dalam keheningan dan mengawasi Jongdae yang sedang terbaring tidur di atas ranjang rumah sakit.

Suho berdiri ketika melihatnya.

"Pergilah Suho." Jongin memerintahkannya dengan dingin. Tahu pasti bahwa pegawainya yang satu ini lebih setia kepada Kai dibandingkan dirinya. Ketika Suho tidak bergeming, Jongin menatapnya tajam, "Aku memang Jongin bukan Kai, tetapi aku tetap atasanmu. Pergilah, Suho."

Suho hanya menganggukkan kepalanya, dalam hening dan langkah yang hampir tak terdengar suaranya, lelaki itu melangkah pergi meninggalkan kamar Jongdae.

Setelah kamar itu sepi, Jongin melangkah mendekati ranjang tempat Jongdae terbaring tidur, mengamati dengan sedih kedua lengan Jongdae yang di gips. Kai telah mematahkan kedua tangan Jongdae tanpa ampun. Lelaki itu benar-benar iblis. Jongin menggertakkan bibirnya marah. Tetapi setidaknya Kai tidak membunuh Jongdae, dan tidak menyakiti keluarganya. Jongin sudah mengecek tadi, keluarga Jongdae baik-baik saja, Kai sama sekali tidak pernah menyentuh mereka.

Jongdae rupanya menyadari bahwa dia sedang diawasi, lelaki itu membuka matanya, dan langsung waspada melihat siapa yang sedang berdiri di tepi ranjangnya.

"Aku Jongin," Jongin bergumam tenang, menyadari bahwa Jongdae masih mengira bahwa dia adalah Kai, "Aku kembali Jongdae."

Bibir Jongdae menganga kaget. Tetapi dia masih menatap Jongin dengan curiga. Bisa saja lelaki yang ada di depannya ini adalah Kai yang tengah berpura-pura, bukankah biasanya begitu?

Jongin menyadari tatapan curiga Jongdae dan tersenyum, "Kau boleh curiga Jongdae, tetapi aku benar-benar Jongin, lagi pula apa untungnya Kai bersandiwara sebagai aku? Tidak ada untungnya buat dia."

Benar juga... Jongdae membatin. "Tuan Jongin sudah kembali? Apakah Tuan Kai masih ada di dalam sana?"

Jongin menganggukkan kepalanya, "Dia masih terasa kuat di dalam sini." Ditatapnya Jongdae dengan pandangan sedih, "Maafkan aku Jongdae, membuatmu mengalami kesakitan mengerikan seperti ini."

"Tidak apa-apa tuan, lagi pula sepertinya ini setimpal buat saya, rencana saya untuk menyelamatkan nona Luhan malah mencelakakannya, saya salah memilih orang, tidak terbayangkan kalau Tuan Kai tidak datang dan menyelamatkan nona Luhan ketika itu."

"Tetapi Kai tetap tidak berhak mematahkan tanganmu seperti ini," Jongin menghela napas panjang, "Keluargamu aman."

"Saya tahu, Tuan Kai mengatakannya kepada saya. Sebelumnya dia bilang bahwa dia sudah membakar anak, menantu dan cucu saya hidup-hidup... Saya… Saya pikir waktu itu sudah tidak ada gunanya lagi saya hidup." Jongdae meneteskan air mata, "Pada akhirnya Tuan Kai mengatakan bahwa dia sama sekali tidak menyentuh keluarga saya, apa yang dia katakan waktu itu hanya untuk mempermainkan saya."

"Kai memang kejam, dia sangat suka mempermainkan emosi orang lain," Jongin mengerutkan keningnya, "Luhan bilang Kai terbentuk dari emosi dan kebencianku di masa lalu karena kekejaman ayah kepadaku."

Jongdae mengenang masa lalu. Ayah Jongin, Tuan Kim, memang sangat kejam. Dia tidak segan-segan memukul siapa pun yang tidak bisa melakukan apa yang dia mau, tidak terkecuali anaknya yang masih kecil.

"Luhan bilang Kai yang menanggung pukulan-pukulan ayah terhadapku... Benarkah itu Jongdae? Yang ada diingatanku hanyalah ingatan samar, bahkan aku sering terbangun dengan luka di punggungku, sudah diobati olehmu."

Jongdae menganggukkan kepalanya, "Pertama kali saya merasakan ada sesuatu yang berbeda adalah ketika saya menatap mata anda, ketika itu ayah anda sedang memukuli anda dengan tongkat. Anak kecil lain pasti akan menangis dan berteriak-teriak dipukuli seperti itu. Tetapi anda hanya diam dan menantang tatapan ayah anda, hal itu membuat ayah anda semakin marah dan semakin keras memukuli anda... Saya menatap mata anda dan ada sinar di sana. Sinar yang tidak saya kenali... Anda tahu, saya sudah bersama anda dari kecil," Jongdae menghela napas panjang,

"Kemudian ketika ayah anda selesai, saya membawa anda ke kamar dan mengobati anda. Anda masih tetap diam... Sehingga saya takut anda terlalu shock untuk bicara, saya memanggil nama anda. Tetapi kemudian anda menjawab dengan dingin, anda bilang anda tidak mau dipanggil dengan nama Jongin, anda mau dipanggil dengan nama Kai," Jongdae menatap Jongin, saya pikir waktu itu anda sedang mengigau... Tetapi kemudian banyak kejadian aneh, hewan-hewan mulai mati, dua anjing pitt bull milik ayah anda, yang sangat disayanginya ditemukan mati dengan bagian dalam tubuh terburai, beberapa kali kami menemukan bangkai kelinci di kebun kondisinya dimutilasi tak kalah mengenaskan... Sampai akhirnya saya sendiri yang menemukan anda sedang mencongkel mata kelinci itu dari tubuhnya. Saya begitu terkejut dan berusaha memanggil anda untuk menghentikan perbuatan anda, tetapi anda menolehkan kepala dan tersenyum yang bagi saya cukup menakutkan, padahal waktu itu anda hanyalah seorang anak kecil... Anda bilang 'Hai Jongdae, kita bertemu lagi' dan saya langsung menyadari bahwa anda sudah berubah menjadi Tuan Kai, bahwa sosok bernama Kai itu benar- benar ada di dalam diri anda."

Jongin menatap Jongdae dalam-dalam, sedikit terkejut. Jongdae tidak pernah menceritakan semua ini kepadanya sebelumnya. Ternyata Kai menjadi begitu jahat karena seluruh dendam, ketakutan, kemarahan dirinya waktu kecil ditenggelamkannya dalam-dalam, ditolaknya, dan itu kemudian memisahkan diri dan membentuk kepribadian sendiri bernama Kai.

"Luhan bilang kalau aku bisa membuang kemarahanku kepada ayahku, maka Kai akan menjadi lemah. Masalahnya aku bahkan tidak ingat perlakukan buruk ayahku. Aku memang membencinya, tetapi aku tidak menyimpan dendam dan kemarahan kepadanya."

Jongdae menganggukkan kepalanya, "Yang paling menerima perlakukan buruk ayah anda, adalah Tuan Kai. Kalau ada yang harus menghilangkan dendam dan kemarahannya, itu adalah Tuan Kai."

"Dan dia tidak akan mau menghilangkan kemarahannya. Kemarahan, kebencian, dan dendam sudah menjadi kekuatannya... Aku memang tidak akan bisa melenyapkannya dari dalam diriku." Jongin mengacak rambutnya frustrasi, "Apakah menurutmu aku gila Jongdae? Apakah aku harus masuk ke rumah sakit jiwa?"

"Tuan Kai mungkin sakit jiwa, tetapi anda tidak."

"Tetapi kami adalah satu," Jongin menghembuskan napasnya, "Dia gila maka aku gila. Dia membunuh maka tanganku juga berdarah..." mata Jongin memancarkan tekad, "Kalau aku lenyap, maka Kai juga akan lenyap. Mungkin itu satu-satunya cara."

"Apa maksud anda?" Jongdae menatap Jongin cemas, "Anda tidak akan melukai diri anda sendiri kan? Tolong katakan anda tidak akan melakukannya."

"Aku muak hidup dengan membawa darah orang-orang tak bersalah yang menjadi korban Kai di tanganku..." Jongin menatap tangannya sendiri, "Mungkin lebih baik bagi semua orang kalau kami berdua lenyap. Saat ini aku sedang kuat... Jadi aku bisa mengambil keputusan itu tanpa Kai bisa berbuat apa-apa. Kalau nanti Kai sudah mengambil alih tubuh ini, semuanya akan terlambat."

"Anda tidak boleh melakukannya. Bagaimana dengan nona Luhan?"

"Luhan akan baik-baik saja tanpaku. Hidupnya lebih berbahaya kalau aku ada di sampingnya, Kai bisa muncul kapan saja dan siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Kai kepada Luhan nanti." Jongin menatap Jongdae dengan pandangan lurus, "Apa pun yang terjadi kepadaku nanti, aku ingin kau menjadi pelayan Luhan yang setia dan menjaganya."

"Tuan Jongin..."

"Semoga kau lekas sembuh Jongdae, aku akan menghubungi dokter, kau akan mendapatkan fasilitas yang terbaik sehingga kesembuhanmu sempurna." Jongin beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Tidak mempedulikan Jongdae yang memanggil-manggilnya, mencoba membuatnya mencegah pikirannya.

Jongin terus melangkah menuju koridor dengan tekad yang bulat. Dia harus melenyapkan dirinya sendiri. Itulah satu-satunya cara dia bisa melenyapkan Kai.

Bayangan Luhan berkelebat di benaknya. Membuat dadanya sakit. Seandainya saja keadaan normal, Jongin mungkin bisa bersatu dengan Luhan, menjadi pasangan bahagia. Sayangnya keadaan mereka berbeda.

"Kau terlalu pengecut untuk bunuh diri." Kai menggumam mengejek niat Jongin. Tentu saja dia tahu apa yang ada di benak Jongin, mereka satu bukan?

"Diam." Jongin mencoba menghentikan bisikan Kai yang mengganggu. Dia harus membulatkan tekad.

"Memangnya kau mau bunuh diri memakai apa? Menusuk dirimu dengan pisau? Menembak kepalamu? Atau memilih cara pengecut dengan meminum obat?" Kai tidak mau menyerah. Dia terus saja berbicara. "Kau akan rugi kalau bunuh diri dan mematikan kita berdua, Jongin."

"Hah. Aku tidak rugi apa-apa. Kau ketakutan bukan Kai?" Jongin terkekeh. "Kau takut aku bunuh diri dan membunuhmu juga, dan kau saat ini tidak punya kekuatan apa-apa untuk mencegahku."

"Bagaimana dengan Luhan?" Kai mengeluarkan senjatanya. "Dia mencintaimu."

"Dia akan lebih baik tanpaku." Jongin menggumam tegas. "Kalau dia ada di dekatku dia juga ada di dekatmu, aku tidak akan membahayakan Luhan dengan kehadiranmu."

Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk. Jongin mengernyitkan dahinya.

"Masuk."

Pintu terbuka sedikit, dan Luhan menengokkan kepalanya sedikit, "Jongin? Apakah kau sibuk? Bolehkah aku masuk?"

"Masuklah Luhan," Jongin tersenyum, "Ada apa? Kupikir kau masih tidur di kamarmu, aku tidak mau mengganggumu," Jongin mengernyit melihat ekspresi Luhan, gadis itu tampak pucat pasi,

"Kenapa sayang? Ada apa?"

Luhan menatap Jongin bingung, "Aku bingung akan mengatakannya kepadamu atau tidak.

Tetapi aku juga tidak bisa menyimpannya sendiri."

"Kenapa Luhan?" Jongin mulai cemas.

"Aku..." Luhan menghela napas panjang, "Maafkan aku Jongin... Sepertinya... Sepertinya aku hamil."

TBC

Annyeong chingudeul :D

Gomawo buat yg mau nunggu lanjutan ff remake'a ini #deepbow

Big Thanks review chingu :D #deepbow, mianhae klo ga menyebutkan namanya satu-persatu ne...

Mumpung aku ada waktu, makanya aku sempet2in ngepost ff ini

Jg aku ingin ngucapin ultah buat Onew oppa : Saengil chukkahamnida Onew oppa

Wish you all the best and success forever with SHINee and best leader

#26YearsOfOnew

Kamsahamnida chingu :D #deepbow

Ditunggu reviewnya chingu :)