©SYEnt present:

Innocence Bride
by Shii & Cchi

Length: Chapter 8 of 16

Cast: EXO's member, Others

Pairing: Main!HunHan, Others

Rating: T (naik seiring berjalannya waktu)

Genre: Drama, Romance, Shonen-ai, Life(?) dll

Disclaimer: Cuma ceritanya doang yang milik saya.

Warning: AU. FLUFF. BoyxBoy. OOC,Typo,Gaje. KTT. DLDR.


Luhan terduduk di sofa ruang tengah di rumahnya dengan penerangan yang cukup remang. Lampu ruang tamu dan dapur telah dimatikan, ini sudah cukup larut. Layar televisi di depannya tengah menampilkan film Thunder yang dibintangi oleh Wu Yifan, aktor China favoritnya, dengan volume lirih. Ah... rasanya sepi sekali tidak ada Sehun. Walau pada hari-hari biasa juga hanya dia yang menonton televisi sedangkan Sehun di seberang ruangan sana berkutat dengan laptopnya, tapi ia tidak pernah merasa sendirian seperti sekarang. Kali ini, ia baru menyadari bahwa rumah yang mereka tinggali selama ini terlalu besar untuk dihuni oleh hanya dua orang saja. Sangat sepi. Sendiri.

Diposisikan badannya itu menjadi tiduran di sofa sana. Meski Wu Yifan adalah aktor favorit Luhan, ternyata itutidak cukup untuk mencuri perhatiannya, terbukti karena sekarang ini Luhan tengah memandangi tempat di mana Sehun biasa menemaninya dari kejauhan. Sebuah napas dihela dan ia menyambar ponsel yang berada di sampingya.

To: Sehun

Sehun-ah, apa kau sudah sampai?

Cukup lama ia menunggu dalam keheningan malam hingga kemudian ponselnya bergetar dan sebuah pesan baru tertera di layar ponsel itu.

From: Sehun

Aku telah sampai satu jam yang lalu. Maaf belum sempat mengabarimu. Teleponlah Tao untuk menemanimu, Hyung.

To: Sehun

Oh, begitu. Aku akan meneleponnya besok.

From: Sehun

Dia tidak akan terganggu, Hyung. Teleponlah sekarang. Aku tahu kau tidak suka sendirian.

To: Sehun

Baiklah akan segera aku telepon. Segeralah istirahat, kau pasti lelah.

From: Sehun

Kau juga harus segera tidur, Hyung.

To: Sehun

Aku mengerti.

Setelah menekan tombol "Send" ia segera berjalan menuju telepon rumah di dekat tangga lantai dua. Ditekannya nomor rumah keluarga Wu itu. Mendengarkan dering telepon beberapa kali sebelum sebuah suara dari seberang menyapanya, terdengar berat dan malas. "Halo," katanya.

"Halo, Tao?" tanya Luhan dan ia bisa mendengar suara berisik dari sana.

"Ah, Gege! Aku menunggumu meneleponku, kau tahu? Apa aku harus ke sana sekarang?" tanya suara di seberang. Luhan mengerutkan alisnya, mungkin Sehun sudah memberitahu Tao bahwa ia butuh teman, pikirnya. Ia bisa mendengar suara berat Kris yang menanyakan siapa yang tengah menelepon kekasihnya itu malam-malam begini.

"Oh, tidak perlu jika kau tidak bisa. Maaf aku mengganggumu dan Kris."

"Aku akan segera ke sana sekarang!" seru suara di seberang. Sebelum ia menjawab, sambungan telah diputus namun ia masih dapat mendengar Tao menyerukan 'Get off!' dan suara erangan Kris. Ia memandangi gagang telepon yang dipegang sebelum meletakkannya kembali dengan sebuah helaan napas kembali ia keluarkan.

Tidak membutuhkan waktu lama untuknya mendengar suara bel dan ia langsung bergegas membukakan pintu. Nampaklah Tao di sana tersenyum cerah seperti biasa. Lelaki itu langsung masuk sebelum Luhan mempersilakan namun Luhan tidak peduli karena itu hal yang biasa dan ia segera mengekor Tao yang berjalan memimpin menuju ruang tengah.

Ia mendudukkan tubuhnya di samping Tao yang langsung mengambil posisi senyaman dan seenak mungkin di sofa. Cukup ada waktu bagi hening mengisi ruang itu sebelum Luhan akhirnya menawarkan minuman untuk Tao yang dijawab dengan gelengan oleh yang bersangkutan.

"Kau tidak perlu merasa kau membebaniku, Ge. Lagipula aku melakukan ini tidak secara gratis, Sehun berjanji akan membelikanku es krim jika aku mau menemanimu kapanpun kau butuhkan, " Tao bicara ketika ia dan Luhan tengah terlarut dalam program yang mereka tonton. Dari sudut matanya melihat keraguan Luhan sebab mengganggunya malam-malam begini.

"Tapi meskipun dia tidak menyogokku aku tetap akan menemanimu, kok. Aku tahu bagaimana rasanya ditinggal seperti itu," lanjutnya, menatap Luhan yang memandangnya dan kemudian tersenyum padanya. "Terima kasih, Tao." Tao melebarkan senyumannya dan mereka kembali larut dalam acara televisi di sana.

"Gege, aku ingin bertanya sesuatu, tapi jika kau tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa," ujar Tao beberapa saat kemudian. Wajahnya memandang khawatir kepada Luhan. Luhan menatapnya sebentar dan menggangguk memperbolehkan.

"Apakah kau dan Sehun mencintai satu sama lain?" Tao bertanya pelan. Ada nada khawatir di sana, mungkin saja pertanyaan tersebut tidak seharusnya ia ajukan, tapi ia benar-benar penasaran dengan pasangan itu.

Luhan tertawa canggung, tapi melihat bahwa Tao menatapnya dengan penuh harap menanti setiap jawaban yang akan ia lontarkan, ia kemudian tersenyum tipis pada pemuda itu. Ada jeda sejenak sebelum Luhan menjawab dengan lirih, "Mungkin iya." Matanya tidak memandang pada sosok Tao di sana namun menerawang jauh ke atas.

Tao langsung memeluknya dan mengalihkan pembicaraan mereka. "Aku yakin Sehun di sana pasti sangat merindukanmu," ujarnya. Luhan hanya tersenyum tipis menanggapi. "Kau tahu, waktu dulu Sehun datang ke rumahku, kukira dia tukang susu makanya waktu itu aku langsung menyemprotnya karena terlambat mengantarkan susu," lanjut Tao.

Luhan menaikkan alisnya, cukup merasa penasaran. Diposisikan duduknya kini menghadap Tao untuk bisa menyimak cerita pemuda itu dengan lebih nyaman.

"Yah habisnya, pakaiannya waktu itu formal sekali. Menggunakan kemeja dan dasi, bagus sih, tapi parahnya dia masih menggunakan sandal jepit, Ge! Aku selalu mem-bully-nya setelah itu, kekeke."

"Aku tidak pernah mendengar cerita itu dari Sehun..." lirih Luhan. Menelengkan kepalanya, Tao menampakkan wajah imutnya. "Benarkah? Aku yakin dia pasti malu padamu kalau sampai ketahuan, kekeke," jawab Tao. Luhan mengangguki sambil ikut tersenyum membayangkan Sehun dimarahi tanpa tahu apa sebabnya.

"Gege, waktu dulu itu, saat aku ingin bermain ke rumahmu tapi tidak jadi karena hujan, kulihat ada beberapa orang datang berkunjung. Apa mereka teman-temanmu?" tanya Tao kemudian.

Luhan mengangguk antusias. "Eum. Tapi ada juga temannya Sehun, yang paling tinggi seperti tiang itu. Lalu ternyata salah satu dari mereka juga adalah kawan lama Sehun."

"Hmm... Apa mereka tinggal di kota ini?"

"Selain Xiumin hyung yang kabarnya pulang ke Beijing, setauku semuanya ada di sini," jawab Luhan sambil berjalan menuju dapur. Mengambil beberapa snack dan minuman di sana.

"Waah. Ada yang dari China juga?"

"Bukan. Xiumin hyung orang Korea, ia lahir di Korea dan hanya tinggal di sana sejak ia kecil lalu pindah saat masuk high school. Makanya sewaktu aku pindah kemari saat masuk universitas aku langsung meminta bantuannya," jawab Luhan panjang lebar. Diletakkan beberapa snack dan dua buah soda di depan Tao dan satu dibawanya.

"Begitu.. Hm.. Bagaimana jika besok kau mengundang mereka untuk menginap di sini? Pasti akan asyik sekali, Ge! Kita adakan pajama's party, bagaimana?" usul Tao menggebu. Ia lalu mengambil dan membuka kaleng sodanya lalu meneguknya sedikit.

Luhan mengangguk dengan cepat. "Aku setuju," jawabnya setelah snack dalam mulutnya itu habis. Mereka berdua kemudian saling mengobrol seru. Saking asyiknya hingga Luhan sendiri tidak menyadari bahwa sebuah pesan dari Sehun telah masuk ke inbox-nya dan seseorang di kediaman Wu yang tengah berusaha untuk tidur menggeram frustasi, ia tak bisa memejamkan matanya sebab rencananya untuk mengapa-apakan pemuda peach yang menemani Luhan itu gagal.


Yoona memundurkan punggungnya. Merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena duduk terus-menerus sejak siang tadi di ruangannya itu. Bosnya yang ia kagumi ketampanannya itu benar-benar membuatnya pusing kali ini. Lihat saja tumpukan informasi yang telah ia dapatkan harus ia teliti ulang kebenarannya. Untung saja ia memang orang yang sabar dan cukup workaholic, sehingga ia mau-mau saja mengerjakan tugas yang diberikan bosnya itu.

Hanya saja ia heran kali ini. Bosnya itu sangat tertarik dengan perusahaan yang sedang ia teliti. Ia bukan hanya bekerja dengan bosnya itu setahun-dua tahun, tapi sudah lebih dari setengah dekade. Ia tahu ketika bosnya tertarik dengan sebuah perusahaan, entah untuk dikalahkan atau dijadikan sebagai afiliates, pemuda itu akan menugaskannya untuk meneliti perusahaan itu. Namun, anehnya untuk perusahaan yang kali ini ia tangani, bosnya juga menyuruhnya untuk mengecek perusahaan yang akan bergabung dengan perusahaan itu, juga salah satu petingginya yang disebut-sebut sebagai Ice God bernama Oh Sehun dengan sedetail-detailnya.

Memang sih ia tahu bosnya itu menyukai sesama jenis, juga telah beberapa kali berpacaran dengan petinggi perusahaan yang dibilang cukup menarik. Namun, itu semua hanya bertahan beberapa bulan atau bahkan minggu. Sedikit tahu, karena Yoona adalah orang yang ingin tahu dan bosnya memang tidak segan untuk bercerita dengannya jika ia bertanya, alasan bosnya itu tidak pernah bisa lama dengan mereka karena beliau merasa ada yang kurang dari mereka. Entah itu apa Yoona tidak pernah bertanya.

Ia pertama kali berpikir mungkin ini adalah siasat baru bosnya agar dua perusahaan itu bisa ia kuasai, namun melihat betapa sangat tertariknya bosnya itu terhadap setiap informasi yang ia berikan tentang Oh Sehun dan senyum yang terkembang setiap bosnya melihat foto Oh Sehun yang diberikannya itu, ia tahu ada sesuatu yang tersembunyi. Ia ingin bertanya tapi ini masih terlalu awal rasanya.

Ia masih merenggangkan ototnya ketika pintu ruangan bosnya terbuka dan sosok pemuda gagah nan tampan yang ia kerap panggil Fishy jika bukan jam kerja seperti sekarang keluar dengan penampilan yang bisa dibilang tidak cukup rapi. Kemejanya dikeluarkan dengan satu kancing bawah terlepas dan satu kancing paling atas dibuka, dasinya menggantung di leher dengan longgar dan lengan kemejanya disingsingkan hingga siku. Pemuda itu tersenyum padanya dengan wajah lesu.

"Aku capek sekali kau tahu, mataku panas memelototi komputer seharian," suaranya terasa lelah sekali. Yoona menyunggingkan senyum tipis. "Kau bekerja terlalu berlebihan, Fishy~" jawabnya. Yang dipanggil tertawa semu, mendekati meja asisten pribadi sekaligus temannya itu.

"Aku ingin coklat," katanya kemudian. Yoona refleks berdiri untuk menyediakan apa yang bosnya inginkan, namun sebelum sempat melangkah, bosnya telah memotong, "Maksudku, aku ingin minum coklat di luar. Sekalian refreshing dari seluruh laporan itu," ujarnya. Ia memandang asistennya dengan harap.

"Aku belum menyelesaikan penelitianku yang kau limpahkan padaku itu, Bos, tapi jika kau memaksa mungkin aku bisa mengabulkan keinginanmu itu," ucapnya. "Aku tidak memaksamu, Yoon, tapi aku sangat berharap kau mengatakan iya," balasnya dengan sebuah cengiran. Yoona dengan mengangkat kedua alisnya kemudian mengangguk dan setelah membereskan meja masing-masing, mereka segera melaju ke kedai coklat yang biasanya mereka kunjungi.

.

"Aku ingin bertanya padamu. Sebenarnya menurutku ini masih terlalu awal, tapi aku tidak bisa mengenyahkan pikiran ini sejak lama," kata Yoona sambil menyesap frappucino miliknya.

"Hm? Kau memang selalu ingin tahu seperti biasanya, ya. Bertanyalah jika kau sebegitu ingin tahunya," jawab Donghae.

"Kau dulu ada hubungan apa dengan Oh Sehun itu? Aku tau kau bukan hanya berusaha ingin mendekatinya demi perusahaan itu," Yoona bertanya pelan, ditatapnya Donghae dengan penuh harap agar pemuda itu mau menjawabnya.

Tertawa kecil sekilas, Donghae balik menatapnya, "Mengapa kau berpikir seperti itu?"

Yoona memutar bola matanya. "Oh, ayolah, Hae. Aku sudah bekerja denganmu cukup lama dan aku tahu jika kau menyuruhku melakukan sesuatu demi keuntungan perusahaanmu itu hanyalah sebuah siasat, tapi aku tahu ada yang berbeda denganmu sejak kau tahu Oh Sehun ada di perusahaan itu. Kau juga tahu aku ini sangat teliti dan kau sendiri yang mengatakan bahwa mataku itu 'tajam' terhadap sesuatu. Tapi, jika kau tidak mau mengaku sih ya sudah tidak apa-apa, aku juga tidak memaksa. Hanya saja kau tahu aku akan bertindak mencurigaimu terus menerus, bukan?"

Mendengar jawaban panjang lebar asistennya itu, Donghae tertawa. "Haha... Yeah, sepertinya aku memang harus menjawabnya atau kau akan membunuhku dengan tatapan curiga darimu itu."

Yoona tersenyum lebar merasa menang.

"Well.. aku menyukainya," ujar Donghae singkat.

Yoona masih terdiam menunggu Donghae melanjutkan penjelasannya, tapi beberapa detik berlalu dan Donghae hanya menatapnya tak berkata lagi.

"Hanya seperti itu?" Yoona menyuarakan pikirannya dan Donghae mengangguk, membuatnya melempar tatapan membunuh untuk pemuda itu. Kembali Donghae tertawa, kali ini sedikit lebih keras dan lama.

"Aku serius, Fishy sayang," ucapnya dengan wajah malas. Diaduk-aduk dengan malas pula frappucinonya. Donghae masih tertawa dan Yoona meninju lengannya cukup keras hingga pemuda itu berhenti.

Ia memandang cukup lama gadis yang kini tengah sibuk dengan coklatnya itu. Asistennya ini benar-benar orang yang 'tajam'. Ia benar beruntung bisa mengenal gadis itu, namun kadang ia juga merasa menyesal karena telah mengangkatnya sebagai asisten pribadinya sebab Yoona pasti tahu jika ada sesuatu yang tengah mengganggunya. Bukannya ia tak mau dicampuri urusannya jika itu berkaitan dengan bisnis perusahaan, itu malah membantunya. Hanya saja kadang Donghae merasa ia tidak ingin membicarakan hal-hal pribadinya dengan sembarang orang, meskipun Yoona dapat memberinya saran untuk beberapa hal dan itu berhasil, tapi kalau untuk urusan hatinya seperti ini—dengan Oh Sehun tentu saja—ia tidak mau dicampuri.

"Aku akan mengatakan padamu jika aku sudah siap dan jika saat itu tiba, kau benar-benar harus mempersiapkan otakmu itu untukku, Yoon," mendadak suara Donghae terdengar amat serius di telinga Yoona hingga perempuan itu menatap Donghae dengan heran namun ia tetap mengangguk menyanggupi permintaan bosnya itu.

Ia memang bukan orang yang selalu mengiyakan apa yang bosnya suruh, namun entah mengapa untuk perintah atau permintaan Donghae, rasa-rasanya Yoona tidak bisa mengatakan tidak—walau ia juga pernah beberapa kali menolak apa yang diminta atasannya itu—dan kali ini ia merasa jika apa yang akan terjadi nanti adalah suatu hal yang sangat menarik untuk ia ketahui. Ia merasa seolah kejadian besar seperti dalam opera-opera sabun yang ditontonnya itu akan menjadi kenyataan, entah yang mana, tapi ia tidak akan melewatkan kesempatan untuk terlibat di dalamnya meski tidak secara langsung.


Luhan membuka matanya dan dengan sigap irisnya beradaptasi dengan cahaya sekitar. Diliriknya jam dinding di atas televisi telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia menggeliat sebentar untuk menempatkan kembali otot-ototnya. Uh.. rasanya pegal sekali tidur di sofa dengan posisi setengah duduk begitu. Saking asyiknya bercerita dengan Tao, mereka tertidur di ruang tengah tersebut dengan televisi yang masih menyala. Tao di sofa yang lain masih tengkurap dengan nyamannya di sana, dengkuran halus terdengar dari pemuda itu.

Merasa tidak bisa tidur kembali—tentu saja ia akan memilih untuk tidur dari pada menghabiskan waktu sendirian, jika tidak ada Tao tentunya—Luhan segera pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Ia pikir masih pagi untuk mandi. Toh ia juga tidak akan kemana-mana dan ia tidak perlu terlihat rapi di mata Tao, bukan? Meski begitu, Luhan tetap membersihkan wajahnya dan menggosok gigi serta menyisir rambutnya.

Setelahnya, ia kembali ke bawah. Rencanaya ia akan membuatkan sarapan untuk Tao—meski ia tahu kemampuannya sangat tidak bisa dikata pas-pasan, apalagi Tao lebih mahir darinya jadi ia agak sedikit tidak enak juga—namun urung karena Tao ternyata telah berada di dapur dan mengeluarkan beberapa bahan-bahan yang ia beli seminggu lalu dengan Sehun.

Tao menoleh lalu tersenyum manis ketika mendapati Luhan tengah berjalan menujunya.

"Selamat pagi, Gege!" sapanya riang. Luhan mengangguk dan tersenyum membalasnya, "Selamat pagi, Tao. Kau sedang apa?"

"Oh, maaf aku langsung masuk dapurmu, hehe. Aku mau memasak sesuatu untukmu, kau tidak keberatan, kan? Sekalian untuk Kris, hehe," katanya malu-malu tanpa malu.

"Kau tidak perlu repot-repot memasak untukku, Tao."

"Tidak apa-apa, Ge. Lagipula aku terbangun sesaat setelah kau bangun dan tidak ada yang bisa kukerjakan jadi aku pikir lebih baik aku memasak saja. Kau kan biasanya yang memasak untuk Sehun setiap pagi, jadi kali ini biarkan aku yang memasak untukmu," jelas Tao. Sebuah pisau ditangannya memotong bahan-bahan di sana dengan cekatan sembari menjawab pertanyaan dan pernyataan Luhan, sesekali bertanya pada pemuda yang lebih tua darinya itu—kebanyakan tentang resep-resep yang ia berikan pada Luhan dan sedikit kehidupan seksnya dengan Kris, well, Tao bukanlah orang tertutup dalam urusan seperti itu dan Luhan sepertinya memang harus dijejali dengan cerita macam itu.

Setelah tak berapa lama mereka habiskan waktu untuk memasak bersama—meski Luhan hanya membantu angkat-angkat piring dan membuang sampah-sampahnya, tapi setidaknya ia sudah bekerja—dan sedikit gosip sebelum memakan sarapannya, Tao bergegas pamit karena takut Kris sudah berada pada ambang batasnya. Ia tahu ia meninggalkan Kris semalam tidak dalam keadaan normal, juga pasti laki-laki itu sekarang sangatlah lapar. Untung saja ini hari Sabtu dan Kris tidak masuk kerja di akhir pekan, jadi dia mungkin akan menebus kesalahannya semalam.

Setelah mengucapkan terima kasih pada Tao—Tao juga mengucapkan terima kasih untuk Luhan, maksudnya untuk makanan gratisnya—dan maaf karena ia harus merepotkan panda itu sekali lagi juga beberapa hari ke depan, Luhan kembali ke kamarnya. Mengecek ponselnya, ia mengerut ada sepuluh pesan masuk dalam inboxnya, tujuh pesan khawatir dari Oh Sehun dan tiga pesan dari kerabatnya yang lain. Meski begitu, hatinya membuncah ingin melompat dari tempatnya mengetahui bahwa Sehun mencemaskannya. Segera ia mengetikkan balasannya, mengatakan pada suaminya itu untuk fokus pada pekerjaannya dan tidak perlu khawatir karena ia baik-baik saja dan Tao menemaninya seperti apa yang diingikan pria itu. Tidak sampai semenit ponselnya kembali bergetar. Balasan dari Oh Sehun dan senyumnya merekah lebar saat ia membaca pesan itu.


Sehun's diary:
Sejujurnya, aku sangat benci keadaan seperti ini.
tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
aku mungkin telah gila dibuatnya.
ah ya, aku melihat seseorang kemarin dalam perjalananku kemari.
tapi, mungkin itu hanya perasaanku saja..

TBC GUYS


Yang di AFF ngga bisa di update... Editornya ngga keluar. LJ keknya habis ini, tapi jarang yang bisa buka LJ ya wkwk, jadi gua buat wordpress dah. Wkk.

BTW ada yang mau jadi co-author ga? Gua sendirian nerusin ini cerita dan yang satunya. Kalo yang fic2 Jepang sih masih Cchi.