~From Far Away~

.

Author : Kiela Yue

Genre : Boys love. Romance, Fantasy

Cast : Luhan, Sehun, Kai, Chanyeol, Baekhyun, and EXO members.

Plus~ 2min, Daezel dan Henry Lau…

Rating : T

Chapter : 11/?

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan YME, kecuali OC. Cerita ini benar – benar murni dari otak saya yang selalu di penuhi oleh makhluk planet EXO. NO PLAGIAT! Thanks.

Yang plagiat semoga jadi amnesia.. Amiin.

.

.

Fantasy

.

Summary

Setiap generasi, negeri Oberon selalu kedatangan manusia dari dunia Lain yang memiliki kekuatan. Manusia itu akan menikah dengan raja yang sedang berkuasa agar keturunannya tetap memiliki kekuatan magis. Tapi bagaimana jika manusia dari dunia lain itu ternyata namja dan rajanya juga namja? HunHan/Kailu/Baekyeol another pairs.

.

.

.

Chapter 11

.

.

Selang beberapa saat, Sehun mulai membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit yang begitu cerah. Ia … selamat? Sehun berusaha untuk bangkit namun ia mengurungkan niatnya karena ternyata Luhan menggunakan dadanya sebagai bantalan. Namja yang ia cintai itu terlihat sangat tenang dalam tidurnya.

Tiba – tiba saja Sehun sadar sesuatu. Seingatnya lehernya hampir kena tebas semalam. Kalau ia selamat, pembunuhnya kemana? Mereka tidak mungkin meninggalkannya sebelum memastikan ia benar – benar sudah mati. Saat menoleh kesamping, Sehun merasa ia amat sangat beruntung karena ketiganya mati terkena pohon yang tumbang. Sebuah kebetulan yang aneh. Masa sih pohon bisa tumbang tanpa ada angin atau tidak ada orang yang menebangnya? Ia juga heran kenapa Luhan berada didekatnya, belum lagi rambut palsu Luhan yang sepertinya terlepas karena Luhan yang dihadapannya adalah Luhan yang berambut coklat.

Sehun tersenyum simpul. Ia ingat betul saat rambut coklat itu dulunya sangat pendek, dan sekarang sudah agak panjang karena rambutnya tumbuh. Ia sudah hampir membelai rambut Luhan saat Luhan tiba – tiba membuka matanya.

"Yang…Mulia..selamat?" Luhan berkata dengan sangat pelan dan ia pun berusaha untuk duduk. Sehun yang sudah sedikit lebih baik berusaha untuk ikutan duduk dengan bantuan Luhan. Ia duduk sambil bersender pada batang pohon didekatnya.

"Ne, aku selamat. Aku beruntung karena pohon tumbang menimpa mereka dan racunnya tidak menyebar ditubuhku."

"KYAAAAAA….!" Luhan berteriak kencang saat ia melihat tiga mayat yang tertimpa pohon dan sepertinya tubuh mereka patah – patah. Belum lagi darah yang terlihat muncrat kemana – mana. Tadi malam ia terlalu menghawatirkan Sehun hingga ia tidak sadar apa yang telah ia lakukan. Sekarang ia sadar dan tahu dengan jelas, . . Luhan menggeleng – gelengkan kepalanya dan ia mulai menangis kencang. Ia pembunuh. Meski orang yang mati adalah orang yang hendak membunuh Sehun, tapi tetap saja ia sudah menjadi pembunuh.

"Luhan, kamu kenapa?" Tanya Sehun. Ia heran kenapa tangisan Luhan sengeri itu. apa mungkin Luhan baru pertama kali melihat mayat? Mungkin saja.

Sehun pun meraih pipi Luhan dengan sebelah tangannya. Sebelah tangannya masih belum bisa ia gerakkan. Ia benar – benar tidak sanggup melihat wajah Luhan yang berlumuran air mata.

"Kenapa?" tanyanya lagi. Pandangannya begitu lembut.

"Aku…" Luhan bahkan ketakutan untuk mengatakannya. "Aku..sudah membunuh orang."

Sehun membulatkan matanya. "Membunuh? Siapa dan dimana?"

"Me..mereka..yang tertimpa pohon, aku yang membunuhnya."

"Mereka mati karena tertimpa po…"

"TIDAAAAK!" Luhan berteriak dan memotong kata – kata Sehun. "Aku yang membunuh mereka. Aku yang membuat pohon itu menimpa mereka dengan kekuatanku!"

Mata Sehun membulat sempurna. Luhan punya kekuatan?

Seolah mengerti arti tatapan Sehun, Luhan melanjutkan kalimatnya dengan airmata yang tetap mengalir deras. "Aku..aku punya kekuatan, Yang Mulia. S-selama ini aku menyembunyikannya karena aku sendiri ketakutan dengan kekuatan yang kumiliki ini."

Sehun berusaha untuk tetap tenang meski ia sangat kaget. Ini bukan saat yang tepat untuk menuntut Luhan lebih jauh lagi. Tapi ia tetap penasaran kekuatan apa yang dimiliki Luhan hingga bisa menumbangkan pohon sebesar itu?

"Kekuatanmu…seperti apa?"

Luhan menelan ludah sebelum ia berkata. "Aku bisa mengendalikan apapun dengan pikiranku."

.

.

.

Luhan sama sekali tidak mengerti Sehun marah padanya atau tidak. Kesal atau tidak. Karena wajah namja itu terlihat datar seperti biasanya. Karena itulah Luhan memilih untuk diam saja saat Sehun akhirnya memiliki tenaga untuk membawa mereka pulang dengan kekuatan anginnya. Ia bahkan tidak berani untuk menanyakan apakah tangan namja yang menggendongnya ini sudah baikan atau belum. Sesaat setelah ia mengatakan tentang kekuatannya, Sehun langsung terdiam dan meraih pinggangnya dengan tiba – tiba. Luhan tidak sempat protes karena Sehun langsung membawa tubuh mereka berdua terbang melesat dengan cepat melintasi kawasan hutan untuk segera kembali ke istananya Sehun.

.

.

.

"Aduh, bagaimana ini?" Taeyeon bolak balik di depan kamar Sehun dengan raut wajah yang sangat khawatir. Sehari setelah kepergian Luhan, Sehun menghilang. Meski sebagian pengawal berprasangka kalau Sehun mungkin pergi menyusul Chanyeol, ia tetap tidak tenang. Sehun itu jarang bepergian tanpa memberitahunya terlebih dahulu, kecuali Sehun akan pergi ketempat yang ia larang.

Saat itu Taeyeon sadar. Sehun pasti pergi ke pestanya Kai. Oh Tuhan, ia pergi sendirian tanpa pengawalan Chanyeol? Kenapa ia bisa begitu ceroboh? Bagaimana kalau prajurit pembunuh yang akan selalu menyerangnya muncul lagi?

"Apa kata dunia, Bila ku tak berasamamu? Apa kata dunia, bila melihatmu menangis? Buah semangka didasar laut, tak disangka hatiku terpaut. Ku kan berjanji selalu bersamamu~~~" Tiffany muncul sambil bersenandung ria dan menggoyangkan sedikit pinggulnya. Juga jangan lupakan ekspresi lucunya saat ia menirukan ekspresi lagu yang tengah ia nyanyikan sekarang.

"Eoh? Kamu kenapa eonni? Apa kamu sedang latihan meniru ekspresi Sehun?"

"Tiffany!" Taeyeon langsung memegang tangan Tiffany hingga ia kebingungan.

"Ada apa eonnie?" tanyanya lagi.

"Sehun! Sehun tidak ada. Sepertinya ia pergi menghadiri pesta Kai sendirian."

Senyuman diwajah Tiffany langsung hilang dalam sekejap. "Diaaa..pergi sendirian?" Taeyeon mengangguk.

"DASAR BODOHH!" Tiffany mulai berteriak. Ia menghentak – hentakkan kakinya karena ia sangat kesal. "Kenapa sih dia itu sangat bandel? Apa dia tidak sayang nyawa? Seharusnya ia tahu kalau pembunuh itu pasti akan muncul lagi! Duh! Meski dokter, aku ini tetap bosan melihatnya muncul dengan tubuh yang penuh luka setiap kembali dari sana! Sehun bodooooooooohhhhhh!"

Taeyeon diam saja. Ia juga tidak menghentikan Tiffany yang mulai mengeluarkan kata – kata tidak senonoh karena ia tahu begitulah gaya Tiffany saat sedang khawatir pada Sehun. Taeyeon sudah hampir menyuruh seseorang untuk memanggil Chanyeol dipegunungan saat tiba – tiba saja namja jangkung itu menunjukkan batang hidungnya. Senyuman konyol miliknya terlihat sangat cocok diwajahnya.

"A Yoo…. What's up guys?"

"Chanyeol!" dua yeoja itu langsung berlari menghampirinya dan memegangi tangannya. Taeyeon sebelah kanan dan Tiffany sebelah kiri. Perasaan narsisnya muncul. Memang sih, ia tampan. Tapi masa ia bisa menarik perhatian duo pelayan Sehun yang terkenal dengan kecantikannya? Wah~ ia sangat hebat ternyata. Siapa sih yang menolak yeoja yang begitu mempesona seperti mereka?

"CHAAAANYEEEEOLLLLLLL!" Tiffany berteriak sekuat tenaga tepat ditelinga Chanyeol untuk menyadarkan namja itu. Entah kenapa si pengawal Sehun itu malah tersenyum genit saat mereka berdua memgangi tangannya. Apa jangan – jangan ia berpikir Tiffany dan Taeyeon menyukainya? Cih! Hanya yeoja macam Baekhyun yang mau tergoda padanya.

"Oh, ada apa nona – nona?" Tanya Chanyeol sok mantap.

"Sekarang bukan saatnya bercanda Chanyeol. Sehun pergi sendirian ke istana Kai."

"APAAAAAAAAAA?!"

"Ne, karena itu kami khawatir. Bisakah kamu menyusulnya?" pinta Taeyeon. Chanyeol bisa melihat kalau yeoja itu sudah mulai menangis.

Sh*t! Chanyeol mengumpat dalam hati. Entah kenapa Sehun begitu senang membuat orang – orang yang menyayanginya khawatir padanya, seperti sekarang ini. Pantas saja raja yang lebih muda darinya itu menyuruhnya pergi kepegunungan. Untung saja ia datang kemari karena Baekhyun ingin melihatnya. Ia datang keistana untuk sekedar menyapa saja. Ternyata… si Sehun yang dulunya cadel itu malah berlaku seenaknya lagi.

"Kapan dia pergi?" Tanya Chanyeol.

"Sehari setelah kepergian Luhan," hanya Taeyeon yang mendengarkan Chanyeol. Sedangkan Tiffany begitu sibuk mengumpat dengan memonyong – monyongkan bibirnya.

"Baiklah, aku pergi dulu." Chanyeol langsung berbalik dan keluar. Taeyeon mengikutinya dari belakang dengan menyeret tangan Tiffany.

Dilorong mereka bertemu dengan Suho yang memandangi mereka dengan wajah angelnya yang selalu bersinar. "Ada apa? Kenapa semuanya terlihat terburu – buru?"

Namun betapa kasihannya seorang Suho karena tidak seorangpun yang menjawab pertanyaannya. Bahkan menoleh pun tidak. Suho cuma mengangkat bahunya tidak peduli. Diantara mereka bertiga memang hanya Taeyeon yang normal, sisanya ia anggap gila. Suho pun kembali melanjutkan langkahnya karena masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan sebagai penasehat kerajaan yang sangat sibuk.

Saat keluar dari istana, Chanyeol langsung menaiki kudanya dan bersiap untuk berangkat menyusul Sehun.

"Taeyeon, Tiffany, aku pergi…"

"Ne.. hati – hati Chanyeol…"

Saat kudanya baru beberapa langkah berlari, angin yang tidak terlalu kencang bertiup disekitar mereka hingga Chanyeol terpaksa berhenti. Namun seketika mereka kaget saat dari dalam pusaran angin itu mereka melihat Luhan yang bergelayut dibahu Sehun. Dikening dan wajahnya terlihat bekas darah yang sudah mengering. Bukan cuma itu saja, rambut palsunya juga terlepas dan berada ditangan Luhan. Keadaan Sehun lebih parah, wajahnya terlihat sangat pucat dan sebelah tangannya diikat kencang seperti habis terluka. Begitu mereka mendarat diatas tanah, Luhan langsung melepaskan tangannya dari Sehun.

"Yang Mulia!" Tiffany dan Chanyeol berlari menghampiri Sehun, sedangkan Taeyeon menghampiri Luhan.

"Kamu baik – baik saja?"

"Ne, eonnie, kau baik – baik saja. Keadaan Sehun jauh lebih parah. Ia…" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Luhan langsung ambruk. Taeyeon menahan tubuh Luhan dengan sekuat tenaga. Beberapa pengawal mulai munghampiri mereka dan Taeyeon cepat – cepat memasangkan kembali rambut palsu Luhan keatas kepalanya.

"Oh.. tanganmu terluka sangat parah, Yang Mulia. Coba kulihat dulu.." Tiffany meraih tangan Sehun dan Sehun meringis. Ia merasa tangannya hampir terlepas karena rasanya begitu sakit.

"Anda benar – benar nekat pergi sendirian. Kenapa tidak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya?" Tanya Chanyeol.

Sehun diam saja. Untuk berkata – kata pun rasanya sangat sulit sekali.

"Astaga!" Tiffany berteriak. "Anda keracunan!"

"S..sepertinya begitu…"

"Kenapa kamu tidak sayang nyawa, eoh?! Sepertinya aku perlu mengikat kakimu dibawah perapian! Ugh, kamu ingin kami terlihat lebih tua karena terlalu banyak khawatir? Kamu sudah dewasa, Yang Mulia. Sudah bisa memikirkan mana yang baik untuk diri sendiri. Kamu itu seorang raja dibagian Selatan dan segala tindakan yang kamu lakukan akan mempengaruhi banyak orang. Sampai kapan akan terus seperti ini? Hiks.." Tiffany terus mengomel sambil menangis. Ia bahkan tidak peduli jika tindakannya itu tidak sopan.

"Sudahlah….jangan diteruskan. Sekarang lebih baik kamu mengobati Yang Mulia dulu.." ujar Suho yang muncul tiba – tiba. Tadinya ia hendak menemui Sehun, namun karena ada ribut – ribut dihalaman depan, ia pun berlari kemari. Seperti yang bisa ia duga, ternyata kejadian yang sama terulang lagi.

Sehun merasa lega karena akhirnya Tiffany berhenti. Ia paling tidak tahan mendengar omelan dan melihat yeoja yang menangis.

"Yang Mulia!" Chanyeol langsung menahan tubuh Sehun yang sudah ambruk.

"C..Chanyeol…. cepat bawa Luhan kedalam. Biar Suho saja yang membantuku."

Chanyeol masih ingin memberontak, tapi ia sadar kalau orang lain yang membawa Luhan, nanti identitas namja itu ketahuan. Ia pun segera membawa tubuh Luhan dengan menggendongnya gaya bridal style. Sehun yang hampir hilang kesadaran masih berusaha untuk berjalan dengan bantuan Suho dan Tiffany. Taeyeon sudah berlari duluan menyusul Chanyeol..

Sehun meringis saat ia sudah berbaring ditempat tidurnya yang nyaman. Sesaat sebelum matanya terpejam ia masih bisa melihat wajah khawatir Chanyeol dan Suho.

.

.

.

Saat membuka mata, yang pertama kali dilihat Luhan adalah langit – langit kamarnya yang biasa. Ia benar – benar berada disini, di istana Sehun. Ia kembali. Kejadian saat ia bertemu dengan Kai dan saat ia dan Sehun hampir terbunuh serasa seperti mimpi, walau bagaimanapun ia tetap tidak bisa mengelak dari kenyataan kalau ia telah membunuh orang dengan kekuatan yang ia miliki.

"Kau sudah sadar, Luhan? Syukurlah…"

Luhan menoleh dengan pelan karena tubuhnya masih terasa susah untuk digerakkan. Ternyata itu Taeyeon. Yeoja itu terlihat menghapus airmatanya.

"Aku baik – baik saja. Eonnie tidak usah khawatir." Luhan berusaha untuk tersenyum. Tapi ia tidak berbohong karena ia memang baik – baik saja selama ia berada disini.

Luhan pun berusaha untuk duduk dengan bantuan Taeyeon. Saat itu ia sadar kalau kepalanya diperban dan ia tidak mengenakan wig nya. Bajunya juga sudah diganti dan ia hanya mengenakan kaos dengan celana pendek.

"Tidak apa – apa, Luhan," ujar Taeyeon dengan lembut seolah ia mengerti kebingungan Luhan. "Kamu hanya berada dikamar ini, jadi tidak masalah kalau kamu berpakaian seperti itu."

"Terima kasih," Luhan tersenyum manis. Ia benar – benar beruntung bertemu orang – orang yang berhati mulia seperti mereka. "Aku..pingsan berapa lama?"

"Dari semalam. Kamu kehilangan banyak darah. Karena itulah kata Tiffany tubuhmu jadi lemas meski lukamu tidak terlalu banyak."

"B-bagaimana keadaan Yang Mulia Sehun?"

Taeyeon menghela nafas pelan. "Dia juga baik – baik saja. Sekarang ia sedang beristirahat dikamarnya."

"Oh… syukurlah…"

Luhan kembali berbaring. Ia lega jika memang Sehun baik – baik saja. Yang ia khawatirkan hanyalah bagaimana reaksi Sehun sejak ia mengatakan ia memiliki kekuatan. Apa mungkin mereka akan mengasingkannya? Dan bagaimana jika mereka mengetahui ia telah membunuh? Apa ia terlihat menakutkan?

"Kamu kenapa?" Taeyeon khawatir melihat wajah Luhan.

"Eonnie…"

"Ne? Waeyo Luhan?"

"Bagaimana menurutmu jika aku pernah membunuh orang?"

Taeyeon tersentak mendengar pertanyaan Luhan. Kenapa tiba – tiba namja itu menanyakan hal yang aneh.

"Sudahlah Luhan. Jangan banyak bicara dulu. Kamu harus istirahat. Untuk masalah itu nanti saja kita bahas setelah kamu sembuh. Oke?"

Luhan mengangguk lemah. Memang sekarang bukan saat yang tepat untuk mengatakan pada siapapun tentang kekuatannya. Karena tubuhnya benar – benar lemah ia pun menutup matanya dan segera tertidur lagi.

.

.

.

Setelah beberapa hari hidup dalam kekhawatiran yang mendalam hingga rasanya tenaganya habis, akhirnya Tiffany merasa lega saat ia melihat Sehun akhirnya membuka matanya. Air matanya kembali keluar, bukan karena sedih, tapi karena ia senang Sehun sudah sadar. Chanyeol dan Baekhyun yang juga berada di kamar Sehun ikutan menghela nafas lega. Taeyeon yang duduk dikursi dekat tempat tidur Sehun tersenyum manis pada dan ia mengelus tangan Sehun dengan penuh sayang.

Jika mereka semua menangis bahagia, maka lain halnya dengan Sehun. Ia menautkan alisnya sesaat setelah membuka mata. Entah kenapa ia merasa orang – orang diruangannya seperti sedang menangisi kematiannya. Baekhyun menangis sesenggukan dipelukan Chanyeol, Tiffany berusaha untuk terlihat tetap ceria padahal ia berusaha keras menghilangkan jejak air mata dipipinya. Taeyeon, walaupun tersenyum tetap saja ada air matanya yang keluar meski hanya sedikit.

"Kalian kenapa?" tanyanya dengan suara yang pelan karena ia memang belum sanggup berteriak untuk menghentikan mereka.

"Kami senang anda sudah sadar, Yang Mulia…" Taeyeon menjawab pertanyaan Sehun dengan suara yang begitu lembut. Sangat berbeda dengan reaksi Tiffany yang mulai berteriak.

"Apanya yang 'kenapa' eoh?! Anda benar – benar tidak tahu apa yang terjadi. Begitu bangun langsung saja sok mantap! Apa anda tahu kalau anda hampir kehilangan sebelah tangan?!"

"Sudah, Tiffany.. yang penting Yang Mulia sudah sadar…" Taeyeon berusaha untuk menenangkan Tiffany.

"Benar… yang penting ia selamat…" Baekhyun ikut menimpali.

Tiffany memandangi mereka dengan tatapan mendelik. "Yang penting? Apa kalian tidak sadar seberapa parah luka yang dideritanya? Dia keracunan! Kalau sedikit saja terlambat ia pasti sudah tidak bisa lagi berada disini bersama dengan kita. Dan lagi…" Tiffany berhenti sejenak untuk menghela nafas karena dadanya sesak. "Racun yang ada ditubuh Yang Mulia Sehun sama dengan racun yang dulu diminum oleh Seohyun!"

Dalam sekejap, aura diruangan itu langsung berubah saat mereka mendengar Tiffany menyinggung Seohyun. Nama itu adalah nama yang hampir terlarang untuk diucapkan didekat Sehun karena ia tidak segan – segan untuk menghukum siapa saja yang berani menyebutkan namanya. Sekarang, Tiffany mengucapkannya dengan lantang. Walau ia mengatakan kebenaran tapi tetap saja mereka khawatir apa yang akan dilakukan Sehun pada yeoja itu.

Taeyeon memandang Sehun dengan pandangan memelas karena ia tidak ingin Sehun menampar Tiffany hingga yeoja itu terhempas dan bibirnya mengeluarkan darah seperti dulu saat Tiffany melakukan hal yang sama, menyinggung nama Seohyun. Ia berdo'a dalam hati semoga saja Sehun tidak mengamuk.

Untuk beberapa saat suasana begitu senyap hingga debaran jantung pun terdengar dengan jelas. Mereka semua terdiam, termasuk Sehun. Ia sedang berpikir kenapa sekarang ia tidak kesal ada yang mengungkit nama itu. Seharusnya ia marah, seharusnya ia kesal karena nama itu selalu mengingatkannya pada kebodohannya dan ketidakpercayaannya pada orang yang menyayanginya. Tapi sekarang, perasaan seperti itu malah tidak ada sama sekali. Sangat aneh.

"Huh! Kenapa kalian diam? Apa yang baru saja aku katakan adalah kenyataan. Tidak ada yang perlu ditutup - tutupi. Racun itu memang sama. Racun yang sangat kuat dan bisa saja membuat tubuhmu mengering dan menjadi seperti mumi. Aku sama sekali tidak menyangka akan menemukan lagi racun yang sama dengan yang waktu itu. Saat Seohyun…."

"Tiffany!" Chanyeol cepat – cepat memegang tangan Tiffany untuk menghentikan ocehannya. Ia bahkan sampai melepaskan pelukannya pada Baekhyun.

"Jangan kau teruskan lagi. Lebih baik sekarang kita keluar dulu dan membiarkan Yang Mulia istirahat sejenak. Kalau masih tetap menyebutkan nama itu.. aku.."

"Sudahlah."

Mereka semua menoleh kearah Sehun yang baru saja berkata dengan suara yang sangat pelan.

"Aku..aku tidak pernah mendengar nama itu dalam hidupku. Kalau memang aku terkena racun yang sangat kuat, aku berterima kasih pada dokterku yang hebat karena berhasil menyembuhkanku."

Senyuman merekah langsung terlihat diwajah Taeyeon saat mendengar perkataan Sehun barusan. Chanyeol dan Baekhyun bernafas lega, begitu juga dengan Tiffany. Tapi mereka tetap heran kenapa tiba – tiba saja Sehun bisa melupakan Seohyun.

"Luhan..apa dia baik – baik saja?"

Tiffany dan Taeyeon berpandangan. Jadi begitu…. Ternyata karena Luhan makanya Sehun tidak lagi marah saat nama mantan kekasihnya disebut didepannya. Mereka memang belum tahu apa yang terjadi, tapi perubahan sikap Sehun dan wajah Luhan yang selalu memerah jika mereka bertanya sudah menjawab semuanya.

"Dia baik – baik saja Yang Mulia. Dia hanya pingsan selama satu hari, setelah itu ia sama sekali tidak keluar dari kamarnya karena memang ia butuh istirahat. Dan anda juga sebaiknya istirahat dulu," jawab Taeyeon.

Sehun mengangguk pelan. Ia jadi tenang jika memang Luhan baik – baik saja. Tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan selain….kekuatan Luhan. Ia memang belum menanyakan apapun. Saat ia tahu Luhan memiliki kekuatan, satu – satunya yang terpikir dikepalanya hanyalah membawa namja itu secepatnya kembali keistananya. Bisa gawat kalau pembunuh bayarannya bertambah dan mereka menemukan kekuatan Luhan. Ia bahkan tidak mengerti darimana ia mendapat kekuatan untuk menerbangkan mereka berdua hingga kemari.

Begitu Sehun mulai terlelap, mereka keluar dari ruangan Sehun dengan langkah perlahan. Taeyeon tetap tinggal. Ia sangat tidak ingin terjadi apapun pada Sehun yang sudah seperti adiknya. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu Sehun. Jika Tiffany masih bisa menyelamatkan nyawanya dengan bantuan kemampuan mengobatinya, dan Chanyeol bisa menjaga Sehun dengan kekuatannya maka Taeyeon memilih untuk selalu menjaganya dan menyayanginya. Tidak masalah baginya jika lingkaran hitam sudah tumbuh dengan semarak dibawah matanya karena tidak tidur berhari – hari. Ia benar – benar tidak peduli meski penampilannya terlihat sangat kacau. Satu – satunya yang ia pedulikan hanyalah keselamatan Sehun dan…keselamatan Luhan.

.

.

.

Luhan benar – benar galau sekarang. Ia senang karena mereka tidak memaksanya untuk memakai pakaian laknat itu, tapi ia juga kesal karena Chanyeol dkk tidak memperbolehkannnya keluar dari kamar ini meski hanya selangkah. Keluar = mati. Kejam banget ga sih? Meski ia bisa saja membuat tubuh Chanyeol hancur berkeping – keping, ia tidak mau melakukannya. Trauma karena ia ternyata telah membunuh orang tetap saja menghantuinya. Ia bahkan sampai bermimpi hantu ketiga orang itu muncul dihidupnya dan terus mengikutinya kemana ia pergi. Tapi untung saja Henry datang dan mengusir hantu – hantu itu dengan menyirami tubuh hantu itu dengan air yang diambil dari kali ciliwung. -_-

Henry lagi. Luhan bahkan sudah hampir melupakan kehidupan lamanya karena ada begitu banyak hal yang terjadi disini. Tapi mimpinya pada Henry membuatnya kembali teringat. Tapi seberapa keras pun ia berpikir, ia tetap tidak tahu bagaimana cara keluar dari sini. Apakah kekuatannya sanggup untuk membawanya keluar? Lalu… apakah Henry, kedua orang tuanya akan membencinya jika ternyata ia pernah membunuh? Luhan tidak bisa mengetahuinya.

Tiffany yang baru saja memasuki kamar Luhan untuk mengecek keadaan namja itu mengerutkan keningnya. Luhan duduk dipinggiran tempat tidurnya sambil menunduk dalam. Posisinya, menurut pemikiran konyol Tiffany terlihat seperti ia sedang memandangi anu-nya. Haha.. Ia sudah hampir mengegetkan Luhan, namun ia mengurungkan niatnya karena ia melihat airmata Luhan terjatuh. Luhan menangis? Namja blangsakan itu menangis? Tiffany diam ditempat. Ia mengerti kenapa Luhan seperti itu. Sudah terlempar kedunia asing, disuruh memakai pakaian yeoja, diusir kemudian kembali lagi, hampir terbunuh dan sepertinya cintanya pun ditolak. Duh, malang nian nasib mu nak…

"Apa..yang kamu lakukan disitu?" Luhan bertanya tanpa melihat Tiffany. Ia tetap menunduk dan berusaha untuk menahan airmatanya agar tidak terjatuh lagi.

Glek, Tiffany menelan ludahnya. Ternyata Luhan tahu ia sudah masuk diam – diam. "Ehm,, aku kemari untuk mengecek keadaanmu, Luhan. Kamu sudah baikan kan?"

"Sudah," jawab Luhan. "Tapi aku sedang tidak ingin meminum obat – obatan aneh itu. Bisakah kamu keluaaarrr KKKYAAAAAAAAAAA! SEEETAAAAAAANNNNN..." Luhan berteriak kencang dan terjungkal kebelakang saat ia mengangkat wajahnya dan bertatapan dengan Tiffany. Jantungnya hampir saja copot melihat penampilan yeoja itu.

"Kenapa sih? Santai aja kaleeee…"

Luhan mengelus – elus dadanya. Beberapa malam ini ia bermimpi ketemu hantu, sekarang Tiffany muncul dengan dandanan seperti itu? Rambut panjangnya digulung keatas dengan sangat tidak rapi hingga sebagian lagi tetap menjuntai keluar. Ia memakai pakaian putih panjang hingga ujungnya menyentuh lantai. Bajunya benar – benar putih polos tanpa hiasan sedikitpun, tanpa ada renda dan tidak ada ikat pinggang seperti yang biasanya. Lengan bajunya juga kepanjangan hingga jarinya – tidak kelihatan. Tidak cuma itu, wajah hingga lehernya juga ditutupi oleh…apa itu? Seperti masker? Hanya mata dan bibirnya saja yang kelihatan. Bibirnya merah merekah. Daripada terpesona oleh bibirnya, Luhan malah merasa ia seperti hantu yang habis meminum darah. Hhhiiiyyyyy…..

"Tiffany keparat! Apa kamu ingin membunuhku eeooohhh? Apa maksudmu muncul dengan gaya seperti itu?" Luhan menunjuk – nunjuk Tiffany.

"Heheheeee….. piiissss" Tiffany cuma nyengir dan tersenyum manis. "Masa sih kamu takut hantu? Kamu kan namja?"

"HUH! Memangnya namja tidak boleh takut hantu? Bagaimana kalau hantu itu datang dan mengerayangimu sepanjang hidupmu? Mengganggu tidurmu? Membunuhmu? Menarik keluar seluruh organ tubuhmu dan melahapnya? Bagaimana kalau…"

"Sudahlah Luhan!" Tiffany memutar matanya bosan. Padahal dalam hati ia senang semangat Luhan sudah kembali. Ia pun merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. "Ini obat yang harus kamu minum hari ini."

"TIDAK MAU!"

"Apaaaa?"

" . . .ITU! TITITKKK!" Luhan menolak dengan tegas. Ia tidak sakit, kalau hanya kepalanya yang terbentur kan sudah sembuh. Lagipula tenaganya sudah kembali. Ia merasa kalau Tiffany hanya mengerjainya saja. Soalnya obat yang diberikan Tiffany rasanya berbeda setiap hari. Kadang rasanya sangat asam sampai matanya berkedip – kedip saat meminumnya. Lalu nantinya obatnya terasa sangat pahit luar biasa hingga ia bahkan tidak selera makan dan ia memeletkan lidahnya selama berjam – jam karena rasanya tidak hilang. Mentang – mentang dokter, ia seenaknya saja mengerjai Luhan? Oh, maaf saja. Luhan tidak mau jadi bahan olokan Tiffany.

"HEH! Luhan monyong! Apa kamu mau mati eoh? Waktu lengan Sehun berdarah kan kamu terkena darahnya. Bagaimana kalau racun itu tertular padamu? Kamu memang bandel. Waktu mau pergi pun kamu sama sekali tidak mendengarkan penjelasanku tentang obat yang kuberikan padamu. Dan sekarang kamu menolak minum obat? Kayak anak kecil saja! Aku bahkan tidak pernah tidur untuk mencari bahan obat penangkal racunnya. Asal kamu tahu saja!"

Luhan terdiam mendengar perkataan Tiffany, ada benarnya juga. Ia merasa bersalah kalau memang benar Tiffany sampai tidak tidur. "Ah…baiklah. Aku akan meminumnya. Tapi.. apa aku boleh keluar? Heheheee… "

Tiffany mendelik. "Apa katamu? Keluar? Tidak boleh!"

"Sekalipun aku memakai pakaian yeoja?"

"Tidak!"

"Ayolah Tiffany…aku merasa bosan disini terus. Kulitku juga pucat tidak terkena matahari. Jadi biarkan aku keluar neee?" Luhan menggoda Tiffany sambil memasang puppy eyes andalannya.

Bukannya tergoda, Tiffany malah jijik melihatnya. Ia pikir aku tergoda? Maaf yee, jurus kampungan semacam itu tidak mempan padaku.

"Kenapa sih kamu begitu ingin keluar? Padahal tidak ada tempat yang ingin kamu kunjungi. Atau jangan – jangan…." Tiffany berhenti sebentar karena ia menemukan ide untuk mengganggu Luhan. "Kamu sangat merindukan Sehun ya? Iya kan? Kamu tidak bisa tidur sebelum melihat wajahnya? Sebelum mendapatkan kecupan manis darinya? Oh, atau kamu begitu ingin disampingnya saat ia tengah sakit seperti sekarang? Menyeka keringatnya, menyuapinya, dan juga mengganti bajunya…kya kya kyaaaaaa…." Tiffany berteriak sok manis. Ia juga sampai meloncat – loncat kegirangan.

Sebenarnya Luhan merasa malu karena semua yang dikatakan Tiffany memang benar. Bahkan sampai keinginannya untuk mengganti baju Sehun. ;). Tapi tetap saja ia kesal. Tiffany terlalu bahagia mengganggunya. Ia pun berdiri tepat di depan Tiffany.

Sontak Tiffany menghentikan tawanya. Ia bisa melihat tanduk merah yang tumbuh dikepala Luhan. "Apa yang huwaa….haaaiiiittt(sakit)…."

Luhan yang kesal langsung mencubit kedua pipi Tiffany dengan keras. Tidak cuma itu saja, ia juga menggoyang – goyangkan kepala Tiffany.

"Rasakan ini, yeoja tengikk! Berani – beraninya kamu menertawakanku… hahahaaaa…." Luhan tertawa dengan nista. Ia senang karena Tiffany tidak bisa melawan.

Setelah ia merasa puas, barulah Luhan melepaskan cubitannya. Air mata Tiffany keluar karena pipinya terasa perih. Luhan menyubitnya tanpa ada rasa kasihan sama sekali. Menyebalkan sekali!

"Hiyyaaa…Luhan tonggos! Apa yang kamu lakukaaan? Masker ku rusak! Ugh, padahal aku sedang perawatan. Awas kau yaaa KYAAAAAAA….!" Tiffany kembali berteriak karena Luhan menjambak rambutnya dari belakang. Menariknya hingga kini ia berada di dekat pintu. Luhan membuka pintu dan sebelum Tiffany sempat protes ia mendorong yeoja itu keluar lalu menutup pintu dengan keras.

"LUHAAAAAAAAAAAAN!"

Tiffany berteriak tepat didepan pintu sampai tenggorokannya terasa sakit sambil menghentak – hentakkan kakinya. Berani sekali Luhan melakukan ini padanya. Awas saja. Nanti ia akan memasukkan cacing kering kedalam makanan Luhan. Huh! Huh! Huh!

Ia pun berbalik dan melangkahkan kakinya dengan kuat. Namun naas, maksud hati melampiaskan kekesalan, ia malah terjatuh karena tersandung ujung bajunya yang kepanjangan.

"Hmmff.." pengawal didepan kamar Luhan berusaha menahan tawa mereka melihat Tiffany yang terjatuh. Penampilan yeoja itu terlihat kacau balau seperti korban yang selamat dari bencana gunung meletus. Namun mereka langsung terdiam saat yeoja itu memandang mereka dengan tatapan membunuh miliknya.

"Kalian menertawakanku?"

Pengawal itu menggeleng. "Tidak nona."

"Huh! Baguslah!" Tiffany memutar tubuhnya dan kali ini ia mengangkat gaunnya tinggi – tinggi sampai pahanya hampir kelihatan. Pengawal yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Entah kenapa pelayan raja yang satu ini sama sekali tidak bisa bersikap dewasa. Begitu berbanding terbalik dengan Taeyeon yang selalu berperilaku lembut dan sopan.

Begitu Tiffany keluar, Luhan kembali merenung. Kalau ia memang tidak tahu bagaimana cara kembali, setidaknya biarkan ia bebas. Meski maksud mereka baik, tetap saja ia ingin keluar. Ia tahu kalau ada orang – orang yang begitu menginginkan kematian Sehun. Luhan begitu ingin mengetahui keadaan Sehun. Ia juga ingin minta maaf karena menyembunyikan sesuatu yang penting dari orang yang sudah menyelamatkan hidupnya. Ia begitu…merindukan Sehun. Menyedihkan sekali tidak bisa bertemu padahal mereka berdekatan.

*.*.*.*.*

*.*.*

.

.

Te Be Ce

.

.

.

HunHan belon ada disini. Chapter depan ajah yaaaaa. Kalo digabung disini ntar kepanjangan dan readers jadi mules bacanya. Ini aja udah 4k words.

.

.

.

Oh iya, karena Kiela apdet cepet, ga sempet bales review.. maaaf maaf maaaf sekaliiiiii. *DEEPBOW. T_T

.

.

Sapa tau kedepannya makin banyak hal yang harus dilakukan, jd apdet sekarang je. Bener ga readers? *wink

.

silakan buka link ini untuk liat FanArt yang udah Kiela buat khusus untuk FF ini.

. ?fbid=148019448720554&set=a.148019362053896.1073741830.100005374993385&type=3&src=http%3A%2F% . %2Fhphotos-ak-prn2%2F977228_148019448720554_178998 2589_ &smallsrc=http%3A%2F% . %2Fhphotos-ak-prn1%2F934788_148019448720554_178998 2589_ &size=1024%2C430

.

BIG THANK'S TO:

EXOST Panda, Azura Lynn Gee, Tania3424, Guest, TanTan, dian deer, Kim Mika, fleur, Vicky98Amalia, lisnana1, mel, ajib4ff, kyeoptafadila, park do bi, hunhanie, baby exo sehun, ssnowish, chyshinji0204 6, Exotan Ell, Mei, 0312luLuEXOticS, asroyasrii, finky'lulu, Lkireii0521, rinie hun, junmakyu, PutriPootree

.

.

MAKASIH BANGET BUAT SEMUA YANG UDAH NGEREVIEW, FAV DAN FOLLOW. LUV U
MMUAAACHHHHH
.