The Dragon Element
Crossover :
Naruto X High School DxD
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
Dan beberapa Anime yang terkait : Bukan milik saya
The Dragon Element © Ryuukira Sekai
Genre : Adventure, Fantasy, Romance{Maybe}, Mystery{Maybe}
Rating : M
Pairing : Naruto.N x Harem {Raynare, Erza.S, Hinata.H, Rias.G dan Sona.S (masih ada kemungkinan bertambah)} dan Kamito.K x Akame.A
Warning : Author Newbie, Typo Bertebaran, Jurus dan Kekuatan Buatan Sendiri, No-Lemon, Super OOC, AU, OC dari Anime lain, Little bit Yuri dan masih banyak lainnya
Summary :
Para pemegang Dragon Element sudah mulai terkumpul, tapi Bersamaan dengan itu, Makhluk kegelapan telah bangkit. Pertempuran tidak dapat di hindari lagi. Karena bagaimana pun, ini adalah Takdir mereka. Takdir dari Pemegang Dragon Element {Bad Summary}.
"Remember 'Don't Like, Don't Read'!"
(Tidak suka tapi masih tetap baca dan kemudian memberikan protesan atau Flame, kau kalah dengan seekor Monyet)
.:::STORY START:::.
Chapter 11 : This Is Just The Beginning
—Pertemuan Tiga Fraksi—
Naruto, Erza, Hinata, Kamito dan Akame berdiri di atap sekolah . Pertemuan akan di adakan beberapa menit lagi, dan mereka hanya sedang menunggu. Kamito dan Akame datang atas undangan dari Naruto, sedangkan Erza dan Hinata sudah dari dulu ada di daftar tamu.
Area Kouh Academy dijaga dengan sangat ketat. Kekkai berlapis yang sangat kuat dari masing-masing Fraksi di gunakan untuk mensukseskan pertemuan ini.
Naruto memandang jam tangannya, lalu memandang kepada yang lainnya. "Sudah waktunya pertemuan di mulai" ucap Erza. Mereka berdiri dan menghadap Naruto. "Jika pertemuan ini sukses, kemungkinan kita mengalahkan Phantom akan semakin besar dengan adanya bantuan dari Tiga Fraksi akhirat" ucap Naruto. Mereka mengangguk setuju.
Yah~ memang benar, pertemuan ini untuk membahas perdamaian dan pembentukan Aliansi agar tidak ada lagi perseteruan antar Fraksi. Tapi tidak dengan perdamaian Dunia, masih ada satu masalah utama, yaitu Phantom. Dan dengan bergabungnya Fraksi dalam sebuah Aliansi, kemungkinan menang jika mereka berperang dengan Phantom akan lebih besar, itulah pikiran mereka.
"Aku dan Hinata-chan akan berjaga di luar. Kami serahkan masalah ini pada kalian" ucap Akame yang berdiri di samping Hinata. "Kurasa berjaga akan sia-sia saja. Kita sudah di lindungi oleh Kekkai berlapis. Ancaman dari luar tidak akan mempan, dan juga, pasukan dari tiga Fraksi juga telah berjaga di sekeliling Kekkai" ucap Erza mengeluarkan pendapatnya.
"Mungkin kau benar, tapi itu hanya untuk Ancaman Supranatural" ucap Kamito. "Dari kejadian beberapa hari yang lalu, kita melihat sendiri. Phantom adalah makhluk yang memiliki kekuatan Anti-Supranatural dan yang dapat melawannya hanya kita berlima. Kemungkinan penyerangan dari Phantom masih ada, jadi kita tidak boleh lengah" lanjut Hinata.
Erza memandang Hinata dengan pandangan aneh. "Rasanya aneh, orang yang paling bodoh dari kita berlima dapat menyimpulkan hal seperti itu" sebuah sindiran yang cukup menyakitkan. "Apa maksudmu, Erza-chan~" Hinata tersenyum dan memunculkan puluhan anak panah Es di belakangnya dengan Erza sebagai sasaran. Erza merinding ngeri, dia lupa seberapa menakutkannya Hinata jika marah.
Naruto, Akame dan Kamito sweetdrop melihatnya. "Terserah pada kalian, aku akan pergi duluan" ucap Naruto cuek dan meninggalkan atap sekolah dengan Kamito. "Hmmm, aku juga harus pergi" ucap Erza cepat dan menghilang di balik pintu. Berlama-lama di sana, pertempuran akan terjadi.
"Kalian terlihat seperti Saudari" ucap Akame. Hinata memandang Akame. "Kau kenapa, Akame-chan?" Hinata melihat perasaan rindu dari tatapan Akame.
"Bukan apa-apa, hanya mengingat masa laluku dengan adik kembarku" ucap Akame lalu berbalik dan duduk berjuntai dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Hinata duduk di samping Akame. "Ne, Akame-chan. Bukankah dulu aku sudah pernah menceritakan mengenai alasan Glamios bangkit? Bagaimana kalau sekarang kau yang menceritakan alasan Infernos bangkit?" tanya Hinata, mencoba memulai pembicaraan yang mungkin dapat mengalihkan Akame dari perasaan yang membebaninya.
"Baiklah, aku akan menceritakannya padamu" ucap Akame sambil memandang langit yang di tutupi Kekkai. "Dua tahun yang lalu, ..."
Akame pun memulai sesi ceritanya, sedangkan Hinata mendengarkan dengan seksama. Kita beralih pada pertemuan Empat Fraksi.
.
.
.
.
.
Dari perwakilan Fraksi Tenshi ada Michael yang di kawal oleh Xenovia dan Irina. Fraksi Da-Tenshi di wakili oleh Da-Tenshi Mesum, Azazel yang di kawal oleh sang Hakuryuukou. Sedangkan Di Fraksi Akuma di wakili oleh Maou Lucifer dan Leviatan, mereka berdua di kawal oleh beberapa Peerage Gremory beserta Peerage Sitri, Fraksi Ningen di wakili oleh pemegang Helios, Lexsos dan Ferros.
Pembahasan untuk membuat Aliansi antar Fraksi dan takdir dari Sekiryuutei dan Hakuryuukou sudah di bahas dan berjalan dengan cukup lancar, lupakan masalah si maniak bertarung yang menantang salah satu perwakilan Fraksi untuk bertarung dengannya. Dan juga Maou Childish yang selalu mencoba memeluk Naruto setiap ada kesempatan.
Sekarang sampai pada masalah yang utama, tentang kemunculan ekstensi baru di Dunia ini. Naruto berdiri dan memulai menjelaskan mengenai makhluk yang di sebut Phantom. Tapi saat baru sedikit menjelaskan, Naruto terdiam dan matanya memicing waspada.
"Erza. Kamito. Segera laku—" "Tidak perlu di katakan!" ucapan Naruto di potong oleh Erza dengan tegas. Dengan sangat cepat Kamito dan Erza berdiri di samping Naruto dan memunculkan Elemental Sword mereka masing-masing. Makhluk-makhluk yang mengikuti pertemuan ini tidak sempat mengekspresikan kebingungan mereka, karena hal ini terjadi dalam hitungan detik.
"Steel Wall!" "Earth Wall!" "Light Barrier!" "Tornado!"
Mereka bertiga menancapkan pedang mereka kepermukaan lantai dan menyebutkan masing-masing satu teknik pertahanan, kecuali Naruto yang menggunakan dua teknik pertahanan sekaligus. Ruang pertemuan ini ditutupi oleh Dinding Besi tebal dari segala arah. Di lapisan luarnya, terdapat Dinding Tanah yang dua kali lebih tebal dari Besi. Dan Diluar dinding tanah, terdapat sebuah Kubah Cahaya. Dan lapisan paling luar, terdapat Tornado yang berfungsi untuk mementalkan serangan jarak jauh.
'DHUUAARR!' 'BOOOM!' 'BLAAARRR!' 'KRRRAAKK!'
Berbagai macam serangan terdengar dari luar ruang perlindungan ini. Bahkan Dinding besi yang merupakan perlindungan terakhir sudah retak akibat serangan dari luar.
Nafas Erza, Kamito dan Naruto menjadi sedikit tidak beraturan. Semuanya dilakukan dalam hitungan detik dan sangat tiba-tiba, jadi hal seperti cukup wajar. Saat mereka bertiga mencabut pedang mereka, teknik pertahanan itu menghilang dan memperlihatkan Halaman Kouh Academy. Tidak ada lagi dinding bata, tempat pertemuan ini benar-benar hancur kecuali bagian yang sempat di lindungi oleh pemegang Dragon Element.
Di langit, seorang perempuan berambut Blonde bergaya Twintail sedang melayang dengan sayap Petir. Di wajahnya terdapat seringaian dan itu di tujukan kepada Naruto. "Kita bertemu lagi~, Onii~chan~" ucap gadis itu dengan nada sing a song.
Naruto mendecih. "Sial, kenapa harus sekarang?" Erza dan Kamito bersiap dengan posisi mereka masing-masing. Hinata dan Akame terbang menuju mereka dan berdiri di samping Naruto dan Kamito. "Maaf kami terlambat, ada beberapa Phantom yang menyusup di sudut lain sekolah ini, jadi kami harus mengurus mereka lebih dulu" ucap Hinata memberi alasan.
Para Petinggi Fraksi juga mulai waspada, walau mereka tidak mengenal siapa yang mereka lawan. Para pengguna Pedang mengeluarkan Pedang mereka masing-masing; Xenovia dengan Excalibur Destruction, Irina dengan Excalibur Mimic dan Kiba dengan Holy Eraser. Peerage Gremory beserta Sona dan Tsubaki bersiap dengan teknik mereka masing-masing. Hakuryuukou tersenyum, sedikit tertarik dengan musuh yang mereka hadapi, dalam hal pertarungan bukan Romansa. Sedangkan Issei dan Saji ...
"Kawaii~" ...Mereka malah kagum dengan rupa Naruko. "Ne, Hyuuga Onee-chan! Lama tidak bertemu. Boleh Naru membunuhmu sekarang karena telah berani merebut Onii-chan dari Naru?" Naruko memandang pada dua laki-laki mesum yang memandangnya. "Hal yang sama juga berlaku pada kalian, dua orang yang menatap Naru dengan pandangan mesum" ucap Naruko datar.
Hilang sudah khayalan indah Issei dan Saji. Gadis Blonde itu mungkin cantik, tapi dia mengerikan. Hinata tidak menjawab, dia sudah tau dari dulu mengenai perasaan Naruko pada Naruto. 'Naruko-chan' di dalam hatinya, ia merasa bersalah tapi semuanya telah terjadi, tidak ada yang dapat merubah masa lalu.
Darah Vali berdesir, dia dapat merasakan energi yang kuat keluar dari tubuh Gadis itu. Vali mengeluarkan Sacred Gear miliknya dan menghadap Naruko. "Kau kelihatannya cukup kuat untuk menjadi lawanku. Boleh aku mengajukan tantangan untuk berduel?" ucap Vali menantang.
Naruko menatap Vali dengan senyum polosnya. "Tentu saja, Hakuryuukou-san, tapi..." ucap Naruko. Vali tanpa peringatan, memasuki mode Balance Breakernya dan terbang menuju Naruko. Naruko menjentikkan jarinya.
Sosok Naga Panjang berwarna Biru Gelap melesat dari samping Naruko, menghempaskan Ekornya pada Vali. Vali yang terkejut tidak sempat menghindar dan melesat balik menuju permukaan tanah dan menciptakan retakan. Mereka yang melihatnya cukup terkejut, sang Hakuryuukou terkuat di hempaskan hanya dalam sekali serangan.
Naruko mendarat di permukaan beberapa meter dari tempat Vali jatuh, lalu kemudian menghilangkan sayapnya. "...Sayangnya, aku hanya ingin bertarung dengan Onii-chan. Jadi orang bodoh sepertimu lebih baik bermain-main dengan Hewan kecilku saja, oke?" tanya Naruko dengan ekspresi polos dan mata yang terpejam.
"Naruko, hentikan semua ini!" Naruko membuka matanya dan melihat Naruto yang terbang menujunya. "Ah, Onii-chan! Apa kau datang untuk menyerahkan diri?" tanya Naruko antusias. Naruto berdiri tepat di depannya.
Vali mencoba berdiri dengan susah payah. Bahkan dalam mode Balance Breaker, serangan seperti itu memberikan dampak yang cukup menyakitkan pada tubuhnya. Rasanya tulang punggung bengkok, dan Armornya juga sedikit retak pada beberapa bagian.
"Aku semakin tertarik untuk melawanmu" ucap Vali dengan darah yang berdesir karena semangat. Naruko dapat mendengar perkataan Vali. Naruko menghela nafas lelah dan sekali lagi menjentikkan jarinya.
Naga Biru Gelap tadi terbang menuju Vali dengan mulut yang terbuka lebar. Dan Vali sama sekali tidak bergerak dari tempatnya dan hanya memandang pada mulut Naga itu.
Mulut Naga itu tertutup dan Vali menghilang, masuk kedalam mulut Naga. Beberapa orang memandang kejadian tersebut dengan tidak percaya. Naga Biru tersebut terbang ke langit dan meraung keras.
"Dasar laki-laki bodoh" gumam Naruko dengan pandangan yang tertuju pada Naga Biru. Naga itu tiba-tiba terdiam dan perutnya membesar dengan cepat. Lalu ...
'DHUUAARR!'
... Meledak dan hancur berkeping-keping, Kepalanya tersangkut di puncak pohon di bawahnya. Diatas sana, Vali melayang dengan angkuh. "Kadalmu sudah kubereskan. Jadi boleh aku melawanmu, nona?" tanya Vali angkuh.
"Oooh~, benarkan kau sudah membereskannya?" balas Naruko. Pertanyaan itu menuai kebingungan di kepala Vali. Vali menatap pada Kepala Naga yang di ledakkan dari dalam tadi dan menemukkan keanehan pada kepala itu.
Mata Naga itu berkedip-kedip dan dari kepalanya mulai beregenarasi sehingga membentuk tubuh yang sama sekali lagi. "Kau tidak akan dapat membunuhnya! Makhluk seperti kalian tidak akan dapat membunuh satupun makhluk seperti kami dengan mudah!" ucap Naruko.
"Tidak dapat di bunuh? Ini jadi semakin menarik untukku. Akan aku hancurkan setiap sel dari makhluk ini, lalu aku akan membunuhmu Nona kecil" ucap Vali lalu melesat menuju Naga yang juga melesat padanya. Pertarungan antara Semi-Immortal Dragon melawan Hakuryuukou terjadi.
"Naruko, kumohon hentikan semua ini. Aku tidak ingin melawanmu, aku tidak mau melukaimu. Raihlah tanganku dan aku janji aku akan mengeluarkanmu dari kegelapan di hatimu" ucap Naruto seraya mengulurkan tangannya pada Naruko.
Naruko tersenyum dan dengan cepat menodongkan Elemental Sword miliknya di tenggorokan Naruto, tingga beberapa senti lagi maka pedang itu akan menggores leher Naruto. "Justru sebaliknya, Onii-chan. Naru'lah yang akan merengut Onii-chan dari Cahaya"
Para pemegang Dragon Element yang lain akhirnya bergerak dan melesat menuju tempat Naruto.
Saat jarak mereka tinggal sedikit lagi, tapi mereka harus segera berhenti saat empat sosok lain berdiri di depan mereka, menghalangi mereka dari menjangkau Naruto. Mereka terdiam bukan karena tidak bisa menembus secara paksa, melainkan mereka mengenal sosok-sosok di depan mereka.
Di depan mereka, berdiri masing-masing satu orang yang sangat mereka kenal. Mata mereka membulat terkejut.
Di depan Erza berdiri laki-laki berambut Hitam dan memiliki warna mata yang sama dengan rambutnya. "Gray Fullbuster" gumam Erza. "Kau mau kemana, Erza?" tanya laki-laki itu.
Di depan Hinata berdiri perempuan berambut Blonde ikat Ponytail dengan warna mata Aquamarine yang indah. "Ino-chan" gumam Hinata. "Lama tidak bertemu, Hinata-chan" ucap perempuan itu.
Di depan Kamito berdiri perempuan berambut Biru Muda di ikat Ponytail dengan pita Putih polos dan memiliki mata berwarna Merah. "Ellis, kenapa?" gumam Kamito. "Apa kau tidak ingat, Kamito?" ucap perempuan itu.
Di depan Akame berdiri laki-laki berambut Coklat dengan mata berwarna Hijau. "Tatsumi" gumam Akame. "Rupanya kau masih mengingatku, Akame-chan" ucap laki-laki itu.
Mereka berdelapan bersiap dengan Elemental Sword masing-masing. Steel untuk Erza dan Gray. Ice untuk Hinata dan Ino. Light untuk Kamito dan Ellis. Dan Dark untuk Akame dan Tatsumi.
"Musuh kalian adalah kami!" ucap para pemegang Dragon-Phantom bersamaan dan melesat pada lawan mereka masing-masing. Para pemegang Dragon-Element tidak dapat membantu Naruto atau menghindar dari masalah mereka sekarang.
Pertarungan Pedang di mulai, tapi ini sama sekali tidak menguntungkan para pemegang Dragon-Element. Musuh yang mereka lawan adalah orang yang berharga bagi mereka di masa lalu, jadi keraguan membuat mereka sulit untuk memberikan serangan balasan.
Pertarungan Pedang di permukaan dengan cepat berubah menjadi pertarungan udara saat pemegang Dragon-Element mencoba menghindar ke udara menggunakan sayap, hal ini malah membuat Dragon-Phantom ikut mengeluarkan sayapnya dan mengikuti mereka.
Beralih pada Naruto dan Naruko. Masih dengan posisi Naruko menodongi Naruto dengan pedang. "Menyerahlah, Onii-chan. Onii-chan tidak akan dapat mengalahkan Naru meskipun Onii-chan mencoba" ucap Naruko.
Tangan Naruto yang masih terulur kedepan sama sekali tidak bergerak. "Jikapun aku menjawab, sudah pasti jawabanku tidak akan sesuai harapanmu, jadi kau lah yang seharusnya menyerah untuk membujukku" balas Naruto.
"Kalau begitu ..." Senyum Naruko berubah menjadi ekspresi datar. "... Jalan paksalah yang Onii-chan inginkan" Naruko melakukan tendangan menuju perut Naruto. Naruto bersalto kebelakang.
"Jangan kabur, Onii-chan" Naruko melesat menuju Naruto dengan pedang yang siap menebas kapan saja. Naruto yang baru saja menginjak permukaan harus bergerak kembali dengan melompat kesamping untuk menghindari tebasan Naruko.
"Onii-chanlah yang menginginkannya, jadi berhentilah kabur!" Belum sempat menginjak permukaan, Naruko sudah ada di depannya dan melakukan tebasan. Naruto bereaksi dengan cepat, memunculkan Elemental Swordnya dan melakukan melakukan tebasan balik sampai Pedang mereka beradu.
Naruko tidak akan selesai hanya dengan satu serangan, serangan berikut dan berikutnya terus di lakukan sedangkan Naruto terus berusaha menangkis setiap serangan Naruto, beberapa kali Naruto melakukan tebasan pada Naruko tapi hasilnya sia-sia, Naruko tidak tergores sedikitpun. Berbanding terbalik dengan Naruko yang berhasil melakukan beberapa sabetan pada pakaian Naruto dan menggores kulitnya
Setelah Naruko melakukan tebasan Diagonal, Naruto melihat sebuah celah untuk melakukan serangan. Naruto melakukan tebasan pada Naruko ...
'Naru menyayangi Onii-chan, jadi berjanjilah, jangan pernah meninggalkan Naru'
...Tebasan Naruto berhenti saat bilah pedangnya tinggal beberapa senti dari tubuh Naruko. Sebuah kenangan kebersamaan 'Naruto' dengan Naruko di masa lalu tiba-tiba lewat di kepala Naruto, dan Naruto seakan-akan melihat bayang-bayang Naruko yang sedang tersenyum dulu pada Naruko yang ada di depannya saat melakukan tebasan itu.
Naruko tidak berdiam diri, dia mengambil kesempatan yang di berikan Naruto dan memberikan tebasan pada lengan kiri Naruto. Naruto menyadari hal itu, dan melompat kebelakang ...
'Crassh!'
... sayangnya cukup terlambat dan Naruto mendapatkan luka tebasan yang tidak terlalu parah pada bahu kirinya yang kini mengeluarkan darah segar. Naruto berlutut dan menekan luka di bahunya menggunakan tangan kanan.
"Naruto-kun!" Suara Rias terdengar jelas di telinga Naruto. Saat Naruto menoleh kebelakang, dia melihat Peerage Gremory, Xenovia, Irina, Sona dan Tsubaki terbang menujunya. Mungkin mereka ingin membantunya.
Naruko yang melihat para pengganggu berdatangan membuat ekspresi tidak suka. Naruko menjentikkan jarinya. Ratusan Phantom Laba-laba kecil, puluhan Phantom ukuran sedang, dan belasan Phantom berukuran besar seperti Chimera, Naga, Phoenix bahkan KingKong.
Semua monster-monster itu bergerak menuju mereka yang mendekati pertarungan Dragon-Element dengan Dragon-Phantom. Semua orang yang berusaha mendekati harus menghentikan niat mereka dan mengkhawatirkan diri mereka sendiri. Lima makhluk yang berukuran besar melesat menuju tempat pertemuan yang dimana disana ada para petinggi Fraksi. Sedangkan Vali baru saja selesai melawan Naga tadi dengan menghancurkannya sampai menjadi partikel-partikel kecil. Tapi sayangnya, musuh yang lain malah datang jadi di tunda dulu keinginan untuk bertarung melawan nona kecil yang menurutnya kuat tadi.
"Tidak ada yang boleh mengganggu waktu Naru dengan Onii-chan. Jika mereka mengganggu ..." ucap Naruko datar. Naruto memandang Naruko kesal, sedangkan Naruko menatap Naruto dengan tatapan datar. "...berarti mereka harus di bunuh"
Naruto melihat kebelakang dan melihat semua orang sedang dalam keadaan terdesak. "Kyaah!" Naruto terfokus pada asal teriakan tadi. Tubuh Rias sedang di genggam oleh makhluk yang mirip seperti Kingkong. Issei sedang sibuk berurusan dengan Phoenix dan yang lainnya dalam masalah mereka masing-masing.
Naruto memaksakan dirinya untuk berdiri dan mengeluarkan sayap Petir. Dan dalam sekejap meluncur menuju Rias ...
'CRAASSHH!'
... Tangan Kingkong yang menangkap Rias terjatuh di tanah. Naruto mendarat dengan Rias yang berada di gendongannya. "Kau tidak apa-apa, Rias-chan?" tanya Naruto seraya menurunkan Rias dari gendongannya.
Rias mengangguk pelan. "Terima kasih" ucap Rias. Naruto berdiri dan membalikkan badannya menghadap kumpulan Phantom yang semakin mendekat.
.
.
(AN : Scene-scene berikut ini terjadi dalam waktu yang bersamaan)
—Scene Erza—
Erza sudah hampir kehabisan tenaga untuk menghadapi Gray yang terus menerus menyerangnya tanpa jeda.
"Hentikan, Gray!" teriak Erza di sela-sela tangkisannya. Gray tersenyum miring. "Untuk apa?" dan kembali melancarkan tebasan beruntun.
Erza melompat mundur, menjaga jarak yang sangat jauh dari Gray. Gray mengarahkan ujung Elemental Swordnya pada Erza. Panah-panah besi bermunculan di sekitar Gray menargetkan Erza. "Salam dariku, Erza" ucap Gray dan panah-panah itu seketika meluncur menuju Erza.
Erza menancapkan Elemental Swordnya ketanah dan sebuah Dinding besi besar muncul dari tanah, melindungi Erza dari panah-panah. Baru saja selamat dari satu hal, Erza merasakan tanah di bawahnya bergetar.
Erza mengeluarkan Sayapnya dan terbang, sedetik setelah di melayang tanah tempatnya berpijak telah di penuhi oleh Duri-duri besi tajam. Saat Erza memandang kedepan di harus terkejut kembali, Gray sudah ada di depannya.
Gray memberikan tendangan pada perut Erza sehingga Erza meluncur ketanah, tapi untungnya Erza mendarat dengan mulus menggunakan kakinya.
"Apa hanya ini yang kau punya, Erza?" tanya Gray yang saat ini sedang terbang seraya memandang Erza dengan tatapan meremehkan. Erza mendecih geram. "Baiklah jika itu keinginanmu" gumam Erza.
Erza menutup matanya, berkonsentrasi. Kubah Besi muncul tiba-tiba, melindungi Erza. Saat Erza membuka matanya, warna irisnya telah berubah menjadi sewarna Metal. "Elemental Berserker : Steel!" Kubah itu meledak dan memperlihatkan Erza dalam penampilan yang sedikit berbeda.
Hampir semua bagian tubuhnya berubah warna menjadi warna Perak, kecuali warna Kulit dan Rambutnya. Kaos yang berwarna Perak polos serta sebuah simbol kepala Naga di dada Kirinya, Celana panjang yang berwarna Perak dengan sedikit garis merah di masing-masing sisi celananya, serta sebuah Jubah terbuka berlengan panjang dan berkerah tinggi berwarna Perak dengan garis merah di bagian ujungnya dan terdapat sebuah Simbol Pedang yang bersilangan di punggungnya.
Gray memberikan senyum meremehkan. "Penampilanmu berubah, tapi hal itu tidak merubah apapun" ucap Gray. Erza tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya.
Steel Sword Element mengeluarkan pendar aura keperakan. Detik berikutnya, Erza menghilang dari tempatnya dan muncul di depan Gray. Gray yang masih terkejut tidak sempat bereaksi banyak, saat Erza melakukan tebasan padanya.
'Trank!'
Masih sempat di tangkis menggunakan Elemental Sword yang di posisikan berlawanan dengan tebasan Erza.
Erza memutar tubuhnya dan memberikan tendangan keras pada Pedang Gray. Tendangannya sangat kuat sehingga Gray ikut meluncur kepermukaan dan membuat kawah berukuran sedang.
Gray yang masih sadar, langsung menghindar dengan melompat mundur sejauh yang dia bisa. Elemental Sword milik Erza tertancap tepat di tempat Gray tadi. Dan selanjutnya, kawah itu sudah berubah menjadi ladang senjata tajam bahkan sampai keluar dari kawah.
Erza berdiri di salah satu ujung tombak yang tertancap di tanah seraya memandang Gray. Steel Sword Element kembali tercipta di tangan kirinya. Gray tersenyum puas. "Inilah yang kuharapkan dari Rivalku" ucapnya dengan tawa puas.
.
.
—Scene Hinata—
Hinata tidak beda jauh dengan Erza pada awalnya. Ino juga terus menyerangnya. "Ino-chan, berhentilah!" teriak Hinata seraya terus menghindar. Ino malah melakukan hal yang sebaliknya, menyerang Hinata dengan berbagai cara.
"Bisa berikan aku satu alasan kenapa aku harus berhenti?" ucap Ino seraya menancapkan pedangnya di tanah. Belasan Tombak Es mengambang di sekitar Ino. Tanah coklat sudah berubah menjadi daratan Es yang memerangkap kaki Hinata sehingga Hinata tidak dapat bergerak.
"Sebenarnya, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Hinata balik. "Kau sudah tau dengan sangat jelas hal yang kuinginkan, Hinata-chan. Dan hanya satu hal itu yang dapat membuatku berhenti" ucap Ino dan berjalan mendekati Hinata.
Hinata dilanda kebingungan. "Ino-chan, kumohon hentikan ini. Aku ingin kita tetap menjadi saha—" "Jadi ini semua ini karena dia" Ino memotong ucapan Hinata sambil berhenti berjalan dan memandang Naruto yang berada dalam jarak yang cukup jauh darinya. Nada yang dia gunakan saat mengatakan hal itu, sama seperti wajahnya saat ini; datar tanpa ekspresi.
Mata Ino memandang kepada Naruto yang saat ini sedang berlutut di depan Naruko sambil memegangi bahu kirinya. (AN : Scene ini terjadi beberapa menit sebelum Scene Naruto berakhir)
"Bukan seper—!" "Kalau begitu, aku hanya harus membunuhnya" potong Ino lagi dengan datar. Tombak-tombak Es tercipta di sekeliling Ino. Hinata terkejut dengan yang di katakan Ino. Ino memandangnya sedangkan tombak-tombak ciptaannya menghadap punggung Naruto. "Perhatikanlah kematiannya dengan seksama" ucap Ino datar.
Tombak-tombak Es yang berada di sekitar Ino meluncur menuju Naruto. Hinata tidak mau melihat hal yang di inginkan Ino terjadi dan dia tidak akan pernah membiarkannya.
Hinata menghancurkan Es yang mengekang kakinya dengan mengalirkan energi Dragon-Element pada kakinya dan itu berhasil. Hinata tidak membuang-buang waktu lagi, dia melesat menuju kedepan tombak-tombak itu.
Hinata berhenti dengan menghadap Tombak-tombak yang menuju dirinya. Hinata menutup matanya dan ...
'Pyyaarr!' 'Pyaarr!' 'Pyaaarr!'
...Tombak-tombak itu hancur saat melakukan kontak dengan sebuah kubah tipis yang terbuat dari Es di sekeliling Hinata. Pandangan untuk melihat kedalam Kubah mulai mengabur karena Uap dingin yang memenuhi kubah itu.
Hinata membuka matanya dan iris Putihnya berubah menjadi Biru Muda. "Elemental Berserker : Ice!" Kubah itu meledak dan mengantarkan hawa dingin keseluruh tempat dengan radius 10 meter.
Pakaian Hinata berubah menjadi sebuah Kaos Biru Muda polos dengan Simbol kepala Naga di dada kirinya. Celana panjang berwarna Biru Muda dengan sedikit garis putih. Sebuah Jubah terbuka berlengan panjang dengan kerah tinggi berwarna Biru Muda serta sebuah simbol kepingan Es di punggungnya.
"Aku tidak akan membiarkannya, Ino-chan!" ucap Hinata tegas dan mempersiapkan dirinya untuk melesat menuju Ino. "Cukup menarik, Hinata-chan" Ino menyeringai senang dan mempersiapkan Elemental Swordnya di samping tubuh dan sedikit membungkukkan badannya.
Ino berlari menuju Hinata begitu juga sebaliknya. Mereka saling melakukan tebasan dan pedang mereka beradu. Hawa dingin meledak dari tempat mereka bertarung. Semua benda dalam jangkauan yang cukup luas dari tempat mereka bertarung tiba-tiba berubah menjadi Es.
Ino menciptakan sebuah Pedang Es di tangannya yang bebas dan di gunakan untuk menebas pinggang Hinata.
Tinggal sedikit lagi maka pedang Es itu akan mengenai pinggang Hinata, tapi dengan gerakan yang cepat, Hinata melompat dan memutar tubuhnya di udara. Pedang Es Ino tidak mengenai Hinata dan hanya menebas udara kosong.
Setelah Pedang Es itu berlalu, kini giliran Hinata. Dengan badan yang masing berada di udara, Hinata melakukan tusukan pada dada Ino.
Ino memposisikan pedang Es-nya di depan Pedang Hinata. Berhasil di tangkis dengan mengorbankan Pedang Es buatan sampai Pedang Es itu hancur berkeping-keping.
Masih berada di udara, Hinata melepaskan pegangannya dari Elemental Swordnya dan Elemental Sword itu jatuh ketanah sehingga tertancap pada permukaan Es. Hinata memandang mata Ino tanpa ekspresi, atau lebih tepatnya sedikit rasa marah pada kilatan mata Biru Es-nya.
Dari Pedang Hinata yang berada di depan Ino, mengeluarkan pendar Biru. Ino dengan cepat mengeluarkan sayapnya dan terbang menuju langit. Dan tepat setelah dia tidak lagi berada di daratan, Tanah berlapis Es itu berubah menjadi Ladang Duri Es yang menjulang tinggi keudara seakan berusaha meraih Ino.
Ino terus terbang semakin tinggi guna menghindari Duri Es yang mengejarnya. Saat merasa sudah aman dari Duri, Ino menoleh kebelakang dan melihat Duri itu tidak lagi memanjang. Saat Ino menoleh kedepan ...
'Crasshh!'
...sebuah Panah Es menembus bahunya. Ino mengeraskan ekspresinya dan Panah Es itu hancur sedangkan Ino tidak terluka sama sekali setelah serangan yang tepat menembus bahunya. Ino berbalik dan memandang Hinata dengan seringaian puas.
"Ini akan semakin menarik" ucap Ino sambil menjilat bibir bawahnya.
.
.
—Scene Akame—
Akame tidak seperti Erza dan Hinata yang awalnya tersudutkan karena Ragu. Akame tanpa keraguan sedikitpun menyerang Tatsumi. Tatsumi juga tidak menyerah, pertarungan mereka berlangsung sengit dengan banyak tebasan, tusukan, gerakan curang ataupun tipuan. Ekspresi mereka kosong seakan yang ada di pikiran mereka hanyalah pada pertarungan.
Akame melakukan tusukan kewajah Tatsumi. Tatsumi memiringkan kepalanya sedikit dan tusukan itu sedikit menggores daun telinganya. Tatsumi sama sekali tidak memperdulikan luka kecil tersebut dan menggerakkan Pedangnya untuk melakukan tusukan pada perut Akame.
Akame menyadari hal itu dan memutar tubuhnya kesamping sehingga serangan itu melewatinya. Akame lalu memegang tangan Tatsumi dan kembali memutar tubuhnya dan melemparkan tubuh Tatsumi keudara.
Tatsumi mengeluarkan sayapnya dan melayang di udara. Saat melihat kebawah, dia di kejutkan oleh Akame yang sudah berada di dekatnya dan hendak melakukan serangan.
Tatsumi dengan ekspresi datar mengacungkan pedangnya pada Akame. Pedang Tatsumi mengeluarkan pendar aura Hitam. Akame berhenti di depan Tatsumi dan melancarkan serangan, tapi Akame membeku saat melihat seringaian di wajah Tatsumi.
'Greb!'
Pergelangan kaki Akame di pegang oleh sebuah bayangan Hitam yang terlhat seperti tali yang berasal dari permukaan tanah Hitam di bawahnya.
Tali Hitam itu bergerak menjauhkan diri Akame dari Tatsumi lalu menghempaskannya kepermukaan.
'Sial!' batin Akame seraya menahan sakit di punggungnya.
'Tap!'
Tatsumi mendarat di samping Akame dan menginjak perut Akame dengan keras membuat Akame mengerang kesakitan. Tatsumi menodongkan pedangnya ke dada Akame. Akame entah kenapa merasakan sebuah perasaan Deja Vu dengan keadaannya saat ini, hanya saja berbeda posisi; dialah yang menodongkan pedangnya dan seseorang yang ia todong adalah ...
"Merasa Familiar dengan keadaan seperti ini?" tanya Tatsumi dingin. Akame tidak menjawab tapi dia mengepalkan tangannya. "Biar kuingatkan padamu. Posisi ini adalah posisi saat kau ..."
Ujung pedang itu di dekatkan pada dada Akame. Sebuah seringai psikopat terpasang di bibir Tatsumi. Sedangkan Akame memandang Tatsumi dengan tatapan kebencian. "...Membunuh Adikmu sendiri!"
"Diam kau!" Mata Akame berkilat.
'BLAAARR!'
Ledakan yang cukup besar terjadi. Tatsumi terpental beberapa meter tapi tidak sampai terbaring. Dia berlutut dengan pandangan yang tertuju pada tempat Akame.
Akame berdiri dengan pandangan kebencian kuat pada Tatsumi. "Kenapa Akame-chan? Apa kau sudah ingat dengan adik yang mati di tanganmu sen—" "Diam kau" perkataan Tatsumi di potong oleh gumaman Akame yang masih dapat di dengar dengan jelas.
Aura Hitam berpendar di tubuh dan Dark Sword Element Akame. Sebuah kubah Hitam mulai tercipta sedikit demi sedikit dan akhirnya menutupi keseluruhan tubuh Akame.
Tatsumi berdiri dan mempersiapkan diri atas hal yang akan segera terjadi. "Orang yang tidak tau apa-apa seperti lebih baik diam saja" sebuah perkataan bernada dingin terdengar di telinga Tatsumi, suara itu adalah suara Akame.
"Mencoba menyangkal perbuatanmu sendiri?" ucap Tatsumi sinis. Iris mata Akame menjadi Hitam. "Elemental Berserker : Dark" Ledakan terjadi dari tempat Akame, kubah Hitam itu hancur dan memperlihatkan diri Akame.
Pakaian serba Hitam terpasang di tubuh Akame. Kaos Hitam dengan simbol kepala Naga di dada kiri menggunakan warna Merah darah. Celana panjang dengan beberapa garis merah di masing-masing sisi. Sebuah Jubah Hitam terbuka berlengan panjang dengan kerah tinggi serta sebuah simbol Matahari Hitam di punggungnya.
"Aku akan membunuhmu" ucap Akame dingin. Senyum mengembang di bibir Tatsumi dan Dark Sword Element di posisikan di samping tubuh. Elemental Sword Akame berpendar Aura kegelapan. Tanah di sekitarnya berubah menjadi Hitam dan belasan tangan kegelapan muncul dari tanah tersebut.
Tangan-tangan itu melesat menuju Tatsumi dan Tatsumi membalasnya dengan berlari menantang belasan tangan tersebut.
Tangan-tangan itu mencoba untuk menangkap Tatsumi tapi setiap tangan yang mendekat selalu di tebas oleh Tatsumi. Tatsumi tidak mengurangi kecepatannya sama sekali dan akhirnya sampai di depan Akame seraya menebaskan pedangnya.
Akame diam tidak bergerak, saat Dark Sword Element Tatsumi hampir mengenainya. Tiba-tiba saja Akame masuk kedalam tanah Hitam di bawahnya seakan menembus tanah. Serangan Tatsumi tidak mengenai apa-apa ...
'CRAASSHH!'
... tapi malah sebaliknya, Akame lah yang menusuk perutnya dari belakang. Dengan mata membulat karena terkejut, Tatsumi memuntahkah darah segar dari mulutnya. Tapi setelahnya ekspresi itu berubah menjadi senyum puas. "Seperti yang kuharapkan dari rekan lama"
.
.
—Scene Kamito—
Kini Kamito sedang beradu pedang dengan Ellis. Di antara pemegang Dragon Element selain Naruto, mungkin Kamito lah yang paling merasa ragu untuk bertarung dengan sahabat masa kecilnya.
Ellis adalah salah seorang anak di panti asuhan tempat Kamito di besarkan. Bahkan sebelum Kamito berada di panti asuhan, mereka sudah berteman. Inilah faktor yang membuat Kamito sama sekali tidak berani untuk menyakiti Ellis. Ellis terlalu berharga baginya.
Ellis merasa agak bosan menyerang dan hanya di tangkis oleh Kamito. Yang di lakukan Kamito dari tadi hanyalah menghindar dan menangkis setiap serangan yang di lancarkannya. Ellis melompat mundur. Ellis memandang Kamito tajam.
"Bertarunglah dengan serius denganku, Kamito!" ucap Ellis. "Ellis, hentikan! Aku tidak bisa bertarung denganmu! Dan lagi kenapa kau sampai menjadi seperti ini?" balas Kamito.
"Tidak bisa bertarung denganku heh? Apa karena aku orang yang berharga bagimu?" tanya Ellis sinis. "Sudah pasti bukan? Mana mungkin aku membiarkan orang yang berharga bagiku terluka?" balas Kamito.
"Kalau begitu bagaimana dengan Restia-nee-sama?" ucap Ellis cepat. Kamito membeku begitu mendengar nama kakakknya di panti asuhan. "Kau tidak akan membiarkan orang yang berharga bagimu terluka. Tapi kau membiarkan Restia-nee-sama lenyap!" teriak Ellis membuat Kamito semakin terdiam.
"Kenapa aku menjadi seperti ini? Semua ini karena kau! Kau membiarkan orang yang berharga bagiku menghilang!" lanjut Ellis dengan tatapan kebencian yang semakin bertambah. Kamito menundukkan kepalanya dan tangannya terkepal kuat.
"Kalau kau tidak ingin bertarung denganku, setidaknya kau harus merasakan rasa kehilangan yang sama denganku" mendengar ucapan Ellis, Kamito mengangkat kepalanya dan melihat Ellis mengarahkan ujung Light Sword Element pada punggung Akame yang berada puluhan meter dari tempatnya.
Elemental Sword Ellis mengeluarkan pendar aura Cahaya putih. Dan dalam sekejap mata, sebuah Laser putih di tembakkan pada Akame.
'SRRIINGG!'
Dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya, Kamito sudah ada di depan Laser itu dengan Light Sword Element yang di posisikan di depan tubuh.
Jaket Kamito berkibar karena angin yang terjadi akibat memantulkan serangan laser ke udara menggunakan pedangnya. Kamito memposisikan pedangnya di samping tubuh seraya menatap Ellis. "Kumohon hentikan. Aku sudah cukup merasakan rasa sakit karena kehilangan Nee-chan, aku tidak ingin merasakannya lagi. Jadi kumohon jangan paksa aku untuk bertarung denganmu Ellis!" ucap Kamito memohon.
"Kalau kau tidak mau kehilangan, maka matilah!" teriak Ellis dan melesat menuju Kamito. Sambil berlari, Ellis melakukan tebasan pada udara di depannya dan menghasilkan beberapa Wave cahaya.
Kamito menebas semua Wave cahaya itu. Ellis dengan tiba-tiba saja sudah ada di depan Kamito. "Jangan bergerak dan matilah dengan tenang"
Ellis menebaskan pedangnya pada kepala Kamito. Kamito menangkis serangan Ellis, tapi serangan itu terlalu kuat sehingga Kamito terlempar sampai menabrak pohon.
Kamito yang masih sadar langsung melompat menjauh dari tempatnya, dia tidak punya waktu untuk sekedar mengeluhkan rasa sakit. Jika dia tidak menghindar, sudah pasti tubuhnya akan terbelah dua seperti seperti yang telah terjadi pada pohon tadi. Pohon itu tertebas oleh pedang Ellis sampai bagian atas dan bawahnya terpisah.
"Ellis hentikan!" mohon Kamito sekali lagi. Ellis menghadapnya dengan pandangan dingin.
'Greb!'
Tubuh Kamito di cengkram dan di angkat keudara oleh tangan raksasa milik makhluk besar yang terbuat dari kekuatan Ellis. Makhluk itu terlihat seperti replika dari wujud Lexsos walau dalam hal kekuatan bagaikan langit dan bumi.
'CRASSHH!'
Karena perhatian Kamito teralihkan oleh Replika Lexsoso di belakangnya, dia jadi melupakan keberadaan Ellis yang menjadi musuh utamanya. Karena kelengahan tersebut, dada Kamito tertembus oleh Light Sword Element milik Ellis.
"Jangan khawatir, Kamito. Aku tidak akan membunuhmu dengan cepat" ucap Ellis dengan badan yang melayang di udara dan pedangnya yang masih berada di dada Kamito. Rasa sakit yang Kamito terima sudah masuk dalam kategori kritis. Entah beruntung atau apa, sedikit saja arah pedang Ellis di belokkan, maka jantungnya'lah yang akan tertusuk.
"Sebelum aku membunuhmu, aku akan membunuh orang yang berharga bagimu" pikiran Kamito tentang rasa sakit langsung menghilang dan di gantikan dengan kekosongan saat mendengar kelanjutan perkataan Ellis.
"Kau akan merasakan rasa sakit yang sama denganku, akan kupastikan itu. Aku akan membunuhnya dengan perlahan dan sangat menyakit—" "Sudah hentikan" ucapan Ellis di potong oleh Kamito dengan sebuah gumaman singkat.
Ellis memandang kepala Kamito yang tertunduk dengan bingung. "Akulah yang kau inginkan, jangan sakiti dia. Jika kau ingin pertarungan maka, ..." dari tubuh Kamito meledak aura suci yang sangat kuat.
Kamito mengangkat kepalanya memandang Ellis dengan gerakan Slow Motion. Ellis dapat melihat ekspresi Kamito yang terlihat kosong. Iris Dark-Blue miliknya menjadi Putih seputih salju. "Elemental Berserker : Light"
'DHUUUAARR!'
Replika Lexsos lenyap oleh ledakan besar itu. Ellis selamat, walaupun terpental sampai menabrak dinding sekolah.
Kamito melayang di udara dengan pakaian yang sudah sepenuhnya berbeda. Kaos Putih dengan simbol kepala Naga di dada kiri, celana panjang berwarna putih Polos serta sebuah Jubah Putih terbuka berlengan panjang berkerah tinggi dengan simbol Bulan Sabit di punggungnya. Bekas luka tusukan didadanya sudah menghilang sepenuhnya.
"...Aku tidak akan ragu lagi, Ellis!"
Ellis menghapus bekas darah di sudut bibirnya dan seringaian senang terpatri di bibir mungilnya. "Benar, Kamito. Jangan pernah ragu" gumam Ellis.
.
.
—Scene Naruto—
Naruto memandang diam pada kumpulan Phantom yang menuju dirinya. Naruto menyentuhkan ujung Pedangnya kepermukaan tanah. Sebuah pusaran air tiba-tiba muncul di ujung pedang Naruto.
Dari pusaran kecil, Air itu bergerak menuju untuk menutupi permukaan tanah yang di lalui Phantom.
Air sudah siap, Phantom sudah memasuki area berair. Tinggal satu hal. Bilah pedang Elemental Sword mengeluarkan Listrik bertekanan tinggi dan menyalurkannya pada Air.
'BLIIZZT!'
Semua Phantom yang berada di atas area berair kena setrum, tapi hanya yang berada di level rendah menengah sedangkan satu Phantom berukuran raksasa masih hidup dan sedang menuju Naruto. Phantom yang memiliki bentuk seperti Naga berwarna Hitam.
Naga itu mengepakkan sayapnya dan terbang menuju Naruto. Naruto mengangkat pedangnya dan memasang kuda-kuda dengan pedang di depan tubuh. Bilah Pedang Naruto di selimuti oleh Angin tipis.
Naruto mengeluarkan sayap Naga Anginnya-nya dan mengambil ancang-ancang berlari, lalu ...
'Whuusshh!' 'Crasshhh!'
Tubuh Naga itu; bagian atas dan bawahnya terpisah, terpotong dua oleh pedang Naruto. Tubuh Naga tersebut terjatuh di tanah dalam keadaan mengenaskan. Naruto mendarat dan menghilangkan Sayap Anginnya serta lapisan angin yang menyelimuti bilah pedang Naruto. Naruto berdiri tepat di depan Naruko dengan pandangan tajam pada bola mata Sapphire-nya.
Naruko memandang kepada rekan-rekan Dragon-Phantom yang sepertinya sudah mencapai tujuan mereka masing-masing. Naruko memandang kepada Naruto dengan senyum ceria di wajahnya.
Naruko menjentikkan jarinya. Sekumpulan asap hitam berkumpul di samping Naruko. Asap itu menghilang dan memperlihatkan seorang Pria dewasa berambut Hitam yang memandang kosong kepada Naruto.
Naruto terkejut dengan siapa yang berada di depannya, sosok yang menghilang selama beberapa hari yang lalu bersamaan dengan kematian istri dan anaknya yang tewas dalam kecelakaan. Komura Hirata, wali kelas Naruto.
"Komura-sensei!" panggil Naruto walau dia sadar, Komura-sensei tidak akan mendengarnya dalam keadaannya sekarang. Bibir Komura bergerak seperti sedang menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar jelas.
"Ne, Onii-chan. Orang ini sudah sangat putus asa loh. Bagaimana kalau Naru berbuat baik dengan 'membebaskan'nya? Apa Onii-chan akan menganggap Naru sebagai anak baik?" tanya Naruko polos dan menodongkan pedangnya pada leher Komura-sensei.
Alasan Komura menghilang dulu karena dia pasti adalah Gate. Jadi yang di maksud Naruko dengan kata 'bebas' adalah ...! Melihat Naruto sudah menyadari maksudnya, membuat Naruko tidak tahan untuk menyeringai.
Naruko menebaskan pedangnya pada leher Komura. Tapi anehnya, sama sekali tidak ada darah yang keluar, seakan bilah pedang itu hanya menembus leher Komura. Mata Komura bergetar, garis-garis ungu yang membentuk retakan mulai bermunculan di tubuhnya.
Semakin banyak retakan yang tercipta sampai akhirnya, 'retakan' memenuhi tubuh Komura. Mata Komura kembali memunculkan cahaya dan memandang Naruto. "Kumohon, ...Bunuh aku" tiga kata itu di katakan Komura, sebelum akhirnya tubuhnya meledak dalam ledakan besar.
Badan Naruto terdorong kebelakang oleh dampak ledakan besar di depannya. Debu tebal mulai menghilang dan menampakkan sosok raksasa yang seharusnya sudah punah jutaan tahun yang lalu karena teori Meteor Jatuh.
Sosok Tyrannosaurus Rex atau lebih akrab di panggil T-Rex dengan ukuran super jumbo berdiri dengan gagak di depannya. Badannya yang berwarna Merah Bata, giginya yang terlihat dari sela-sela mulutnya terlihat sangat tajam, kukunya yang dapat dipastikan juga tidak kalah tajam dengan giginya, nafas panas keluar dalam bentuk uap dari mulutnya, Matanya berwarna semerah darah dan dari belakang kepala sampai ujung ekornya di tumbuhi oleh tulang-tulang besar yang menyerupai duri. Dan tambahan, terdapat sebuah Permata Hitam di antara matanya.
T-Rex itu mengaum keras membuat tanah di sekitarnya bergetar. "Selamat menikmati, Onii-chan~" ucap Naruko polos. Mata Tyrannosaurus itu memandang kepada Naruto dengan pupil vertikalnya yang sangat tajam. Naruto mempersiapkan dirinya untuk serangan pembuka.
Tyrannosaurus tersebut menggerakkan kakinya untuk menginjak tubuh Naruto. Sebelah kakinya saja, berukuran belasan kali tubuh Naruto, sudah pasti remuk tubuhnya jika sampai terinjak. Naruto memunculkan sayap berelemen Petir dan menghilang dari tempatnya dan muncul di udara di depan T-Rex tersebut.
Naruto melakukan tebasan Vertikal dan Horizontal pada udara kosong di depannya. Tercipta dua buah Wave, Wave Vertikal menuju Dada dan Wave Horizontal menuju kepala. Di luar dugaan Naruto, reflek makhluk sebesar itu ternyata sangat cepat.
Wave Vertikal di hancurkan dengan sekali ayunan tangan 'kecil'nya, sedangkan yang Horizontal di makan. Permata di dahi Tyrannosaurus itu berubah menjadi Kuning.
"Tidak mempan?" gumam Naruto bingung. Sayap Naruto berubah menjadi berelemen Angin. "Kalau begitu yang ini" Naruto melesat menuju Tyrannosauraus tersebut. Saat hampir mencapai tubuh sang Tyran, Tyrannosaurus itu memutar tubuhnya, berniat menghantamkan ekornya pada Naruto.
Naruto melakukan manuver, menghindar dari ekor itu tanpa mengurangi kecepatannya. Sword Five Element di tangannya di kelilingi oleh angin yang semakin memanjang sehingga terlihat kalau panjang pedang itu berubah menjadi belasan kali lipat dari panjang aslinya.
"Hyaaaaah!" Naruto menebaskan pedangnya secara Diagonal, berharap serangannya dapat memotong tubuh Tyrannosaurus raksasa di depannya. Tyrannosaurus itu malah mendekati Naruto. Dan hal di luar dugaan terjadi, gerakan hewan raksasa ini sangat cepat dan lebih dulu menangkap tubuh Naruto dengan tangan kanannya.
Serangan Naruto terhenti sedangkan Tyrannosaurus mencengkram tubuhnya dengan kuat. Naruto tidak kehabisan akal, dia menggunakan elemen anginnya untuk menyelimuti tubuhnya sebagai perisai. Angin yang semakin tipis dapat memotong apapun, jadi semakin Tyrannosaurus mencengkramnya maka dia sendiri yang akan terluka.
Permata di dahi Tyrannosaurus yang berwarna kuning kembali menjadi Hitam. Naruto melihat sedikit percikan listrik pada kuku Tyrannosaurus. Semua kuku di tangan kanan Tyrannosaurus berubah menjadi kuku listrik.
"Aarrgg!" dan yah~, Naruto tersengat oleh elemen petir bervolt tinggi. Seraya menahan rasa sakit akibat kuatnya listirk di tubuhnya, Naruto mencoba mengeluarkan satu terknik yang mungkin dapat menyelamatkannya.
"TORNADO!"
Badan Naruto dan Tyrannosaurus di telan oleh Tornado yang tiba-tiba muncul. Akibat Tornado itu, tubuh Tyrannosaurus menjadi oleng dan genggamannya terlepas. Naruto dengan cepat terbang menjauh.
Naruto membalikkan badannya saat merasakan sesuatu yang aneh. Apa yang terlihat membuat Naruto terkejut, Tyrannosaurus tersebut membuka mulutnya dan menghisap semua tornadonya. Permata di dahi Tyrannosaurus berubah menjadi Hijau.
Naruto merubah sayapnya menjadi elemen Api. Naruto mengangkat Elemental Swordnya ke udara. Bola-Bola api berukuran besar muncul di sekitarnya. Tyrannosaurus mengaum keras.
Naruto mengarahkan pedangnya pada Tyrannosaurus dan bola-bola api di sekitarnya melesat menuju Tyrannosaurus tersebut. Tyrannosaurus tersebut mengadah dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Permata di dahinya kembali menjadi Hitam. Dari mulutnya, tercipta sebuah Tornado angin kecil yang melesat menuju bola-bola api Naruto. Karena terkena Bola Api milik Naruto, Tornado angin itu berubah menjadi Tornado Api dan terus melesat menuju Naruto.
Naruto terkejut dan bereaksi dengan cepat, mengganti elemennya menjadi Air. Sayap Air Naruto membungkus tubuh Naruto, melindunginya dari Tornado Api, sekaligus menyembuhkan luka yang sebelumnya di dapatkannya. Serangan Tornado api tersebut akhirnya berakhir, tapi yang Naruto lihat adalah ekor Tyrannosaurus itu memanjang dan berusaha menusuk tubuhnya.
Naruto dalam keadaan Checkmate sekarang ini. Mengganti elemen membutuhkan waktu, dan itu tidak akan sempat. Tepat beberapa senti dari perut Naruto, ekor itu tiba-tiba berhenti memanjang. Naruto memandang kebawah dan melihat sang Tyran sedang memandangnya. Mata Tyrannosaurus itu berubah menjadi sebagaimana mata manusia.
Pandangan Naruto teralihkan pada benda bercahaya di dahi Tyrannosaurus tersebut. Permata Hitam itu berkedip-kedip keputihan. 'Kumohon, bunuh aku, Namikaze-kun'
Sebuah kalimat tiba-tiba terdengar di telinga Naruto, dari suaranya, ini adalah Komura. Tapi bagaimana mungkin? Bukannya Komura-sensei sudah menjadi Phantom yang sekarang dia lawan?
'Kumohon, aku tidak dapat bertahan la—' "GOOOAARR!'
Telepati itu di putuskan oleh raungan oleh sang Hewan Purba. Mata Hewan raksasa itu sudah kembali menjadi merah darah.
"Aku mengerti, Komura-sensei" Naruto menghembuskan nafas panjang dan menutup matanya. Sayap elemen Air menghilang dan di gantikan oleh kumpulan debu-debu coklat yang berterbangan di sekitar Naruto.
Semakin lama, debu-debu itu terkumpul dan berubah menjadi sebuah Bola Tanah besar yang menutupi keseluruhan tubuh Naruto.
Naruto membuka matanya, menampilkan iris Coklat terang. "Elemental Berserker : Earth" Bola Tanah yang menutupi tubuh Naruto terurai menjadi pasir dan jatuh kepermukaan. Pasir-pasir itu menyatu dengan tanah.
Naruto dengan Kaos Coklat tua dan sebuah simbol kepala Naga di dada kiri. Celana panjang berwarna senada dengan Kaosnya, dan sebuah Jubah Coklat berlengan panjang berkerah tinggi dengan simbol Batu di punggungnya. Naruto mendarat dengan tenang di permukaan dan memandang datar Tyrannosaurus yang berlari ke arahnya.
'DHUUAAK!'
Angin berhembus dan membuat Jubah Naruto berkibar bersamaan dengan sang Tyrannosaurus yang terlempat puluhan meter setelah menerima sebuah Tinju di kepalanya. Sosok Raksasa yang lain berdiri di belakang Naruto, sesosok raksasa yang memiliki tubuh mirip dengan Manusia; punya dua tangan, dua kaki dan sebuah kepala. Seluruh tubuhnya terbuat dari tanah dan ukurannya sama dengan Tyrannosaurus. Raksasa itu berdiri dengan posisi siaga bertarung.
Tyrannosaurus berdiri dari posisi terbaringnya dan memandang Golem Tanah yang meninjunya dengan pandangan tajam. Golem Naruto mengangkat tinjunya ala petinju.
Tyrannosaurus tersebut berlari menuju sang Golem. Naruto berlari balik melawan Tyrannosaurus, dan Golem bagaikan menjadi bayangannya, dia mengikuti Naruto.
Jarak antara dua makhluk raksasa tersebut sudah hampir habis. Tyrannosaurus menabrakkan kepalanya pada perut Golem. Golem menangkap kepala Tyrannosaurus dengan kedua tangannya. Mendorongnya sedikit dan memberikan tendangan lutut pada bawah mulut Tyrannosaurus beberapa kali.
Naruto tanpa menghentikan larinya, terus memotong jaraknya dengan tubuh Tyrannosaurus. Naruto melihat ekor Tyrannosaurus yang sepertinya menyabet tubuhnya.
Naruto menekan langkah kakinya, tanah sedikit bergetar dan sebuah pilar Tanah muncul sekaligus membawa Naruto naik. Ekor itu menyabet Pilar Tanah Naruto dan memotongnya, Naruto melompat dari permukaan pilar menuju kepala Tyrannosaurus. Tanpa menghentikan arah gerakannya, ekor Tyrannosaurus terus bergerak dan menyabet tubuh Golem dari samping.
Golem Naruto sedikit kehilangan keseimbangan, tapi pegangannya dari kepala Tyrannosaurus tidak terlepas sama sekali. Muncul tangan Baru di pinggang Golem dan menahan ekor Tyrannosaurus agar tidak bergerak.
Naruto yang masih melayang di udara, memunculkan Elemental Sword miliknya dan berpikir untuk melakukan serangan pada kepala Tyrannosaurus.
Duri-duri pada ekor yang merupakan tulang dari Tyrannosaurus bergetar sedikit, sebelum akhirnya memanjang tiba-tiba dan menargetkan Naruto. Naruto menyadari serangan, tapi dia tidak melakukan apapun.
Di saat-saat terakhir sebelum mengenai tubuhnya, Naruto membalikkan tubuhnya dan memposisikan pedangnya di depan dada. Salah satu tulang berbenturan dengan bilah pedang Naruto yang sangat keras, membuat Naruto terlempar sangat tinggi.
Ketika tubuh Naruto berhenti melambung, dia memandang dua makhluk di bawahnya. Tyrannosaurus dan Golem Tanah sedang berbagi pukulan, tendangan, serudukan dan bahkan sabetan ekor dengan ganas.
Perhatian Naruto di fokuskan pada permata Hitam di antara mata Tyrannosaurus. Naruto terjun bebas dengan posisi tubuh terbalik tepat di atas tempat tujuannya, permata Hitam tersebut. Golem tanah Naruto memutarkan tubuhnya kebelakang tubuh Tyrannosaurus dan menangkap badan Tyrannosaurus dengan kuat.
Naruto membuka matanya. Bagaikan Meteorid yang memasuki Atmosfer, di depan tubuh Naruto muncul Api ke-orange-an yang dengan perlahan menutupi seluruh tubuh Naruto, membuat Naruto terlihat seperti sebuah Meteor.
Tubuh Golem mulai hancur sedikit demi sedikit menjadi pasir. Mata Naruto berubah menjadi Orange. "Elemental Berserker : Fire" Lapisan Api Orange yang melindungi Naruto menghilang bersama angin.
Kaos Merah Polos dengan simbol kepala Naga di dada kiri. Celana Panjang berwarna merah dengan beberapa garis Orange di setiap sisi. Jubah Merah berlengan panjang berkerah tinggi berwarna merah dengan garis ujung Jubah berwarna Orange, serta sebuah simbol kobaran Api di punggungnya dengan warna Orange.
Jubah Naruto berkibar seiring dengan semakin cepatnya dirinya jatuh. "Maafkan aku, Komura-sensei" gumam Naruto.
Naruto membalikkan tubuhnya; kepala di atas. Elemental Sword Naruto di selimuti oleh Api yang berwarna Merah ke-orange-an. Naruto memegang Sword Five Element di atas kepala. Golem Naruto akhirnya lenyap menjadi pasir dan tercerai berai di tanah.
"Sekali lagi, maafkan aku, Komura-sensei" gumam Naruto sekali lagi. Naruto menajamkan pandangannya pada Permata Hitam di kepala Tyrannosaurus. Tyrannosaurus menolehkan kepala beberapa kali, mencari keberadaan targetnya. Tyrannosaurus itu mengangkat kepalanya memandang Naruto, sepertinya dia baru menyadari kehadiran Naruto.
Naruto mengeratkan pegangan kedua tangannya pada gagang Elemental Sword miliknya. Api pada pedang itu membesar dan berkobar dengan liar. "Hyaaaaaahh!" Dan dalam satu tebasan Vertikal ...
'CRRAAAASSSSHHH!'
Naruto mendarat tepat di antara kaki Tyrannosaurus yang terdiam layaknya patung. Pada dahi Tyrannosaurus, Permata Hitam itu sudah pecah tak berbentuk. Tubuh Tyrannosaurus itu terbelah oleh satu tebasan Pedang Api.
Tubuh itu terbag menjadi dua bagian yang masih-masing jatuh pada sisi yang berbeda. Naruto mengangkat kepalanya dan melihat sebuah cahaya.
Seperti sebuah Ilusi, dia melihat Komura-sensei dalam pakaian gurunya tersenyum padanya. Komura-sensei berbalik dan Naruto melihat Ilusi yang lain, seorang Wanita cantik sedang menggendong seorang Bayi. Komura-sensei melayang menuju mereka dan meraih tangan wanita cantik tersebut. Komura-sensei berbalik memandangnya dengan senyuman bahagia.
'Terima kasih banyak, Namikaze-kun'
Sebuah suara milik Komura Hirata terdengar di pikiran Naruto. Naruto memberikan senyum kecil sebagai balasan.
Sosok Komura beserta Istri dan anaknya berbalik dan melayang bersama sebelum akhirnya lenyap.
"Wow~, sebuah drama yang cukup menarik, Onii-chan" Naruto meluruskan pandangannya pada Naruko. Naruko berjalan menujunya dan berhenti pada saat mereka sudah berhadapan dengan jarak beberapa meter sebagai pemisah. "Dan juga ..." Naruko menjeda kalimatnya dan memandang Naruto dengan lekat lalu menjilat bibir bawahnya. "...Onii-chan terlihat keren. Naru jadi semakin ingin memiliki Onii-chan" ucap Naruko dengan nada sedukatif.
"Apa kau puas dengan semua ini? Menggunakan nyawa makhluk hidup seakan mereka hanyalah mainan yang tidak berarti" tanya Naruto dingin.
Naruko bergumam dan meletakkan jari telunjukkan dan tengahnya di dagunya, pura-pura berpikir. "Sepertinya tidak. Dan lagipula, mereka memang mainan untukku" ucap Naruko innocent. Naruto menggeram marah dengan jawaban Naruko, meskipun dia tahu, yang menjawab adalah Phantom-Helios, bukan Naruko-nya.
"Oh iya! Kami kesini hanya ingin memberi salam. Dan sepertinya mereka semua sudah selesai dengan salam mereka masing-masing" ucap Naruko seraya menolehkan kepalanya pada rekan-rekannya.
"Minna! Sudah waktunya kita kembali!" teriak Naruko seakan dia adalah Ibu yang memanggil anak-anaknya yang sedang bermain. Mereka yang di maksud menghentikan pertarungan mereka dan terbang menuju Naruko.
Ellis, Gray, Naruko, Ino dan Tatsumi berbaris menghadap Naruto. Rekan-rekan Naruto akhirnya datang dan berdiri berhadapan dengan lawan mereka masing-masing.
"Sepertinya kami tidak dapat berlama-lama, kami harus segera kembali. Tapi jangan khawatir, kita akan bertemu kembali untuk menyelesaikan urusan masing-masing" ucap Naruko. "Kami akan mengabari kalian saat sudah waktunya. Pastikan kalian datang ke pertarungan kalian masing-masing, atau ..." lanjut Naruko lalu menjeda kalimatnya. Mereka berlima menyeringai dan menodongkan ujung Elemental Sword masing-masing pada musuh mereka masing-masing.
"""""Dunia akan hancur!""""" ucap Dragon-Phantom bersamaan.
Naruto dan yang lainnya diam, tapi di dalam hati, perasaan mereka sedang campur aduk.
"Aku akan menunggumu, Kamito" ucap Ellis dingin lalu menghilang menjadi partikel cahaya. Kamito menggenggam tangannya erat saat melihat kepergian Ellis. Ellis yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Ellis-nya dulu, dan hal ini adalah kesalahannya dan juga tugasnya untuk bertanggung jawab membawa Ellis pulang.
"Saat pertarungan kita selanjutnya, aku akan membunuhmu, Akame-chan" ucap Tatsumi lalu menghilang menjadi debu-debu hitam. Akame mendecih kesal. Ingatannya bergulir pada beberapa tahun yang lalu, saat dia, adiknya dan Tatsumi menjadi sahabat, Partner, Rekan dalam segela keadaan. Satu tahun yang lalu, karena satu 'kejadian' yang berakhir dengan kematian adiknya, tali pertemanan mereka hancur berkeping-keping. Dalam kejadian itu, kesalahan terbesar di dominasi oleh dirinya dan mungkin sekarang adalah balasan atas perbuatannya dulu.
"Akan aku balas semua yang telah kau perbuat padaku di masa lalu, Erza" ucap Gray lalu tubuhnya berubah menjadi besi dan hancur berkeping-keping. Erza merasakan perasaan yang sulit di jelaskan, antara kesal, sedih, marah dan menyesal. Dari dulu, dia dan Gray adalah sahabat dekat, bahkan Gray juga menjadi cinta pertama Erza dulu. Sampai suatu saat, Gray mengurung dirinya dari dunia setelah Erza 'membunuh' harapannya.
"Saat kita bertemu nanti, pastikan kau sudah menemukan jawabanmu, Hinata-chan" ucap Ino lalu tubuhnya menjadi Es dan terpecah menjadi keping-keping Es. Hinata dan Ino telah menjadi sahabat dari kelas satu SD. Dari hari kehari, hubungan mereka menjadi semakin dekat sampai pada beberapa bulan yang lalu lalu, Ino melewati batasnya dan berujung dengan persahabatan mereka selama sembilan tahun menjadi hancur tak berbentuk. Sejak saat itu, Hinata tidak pernah mendengar apapun mengenai Ino.
"Di pertarungan nanti, Naru akan membuktikan kalau Onii-chan hanya milik Naru, bukan milik siapapun. Jaa ne, Onii-chan" ucap Naruko lalu menghilang dalam kobaran api. Naruto mengepalkan tangannya sampai telapak tangannya berdarah. Sejak kecil, Naruko sudah bergantung padanya dan secara tidak sadar, Naruko sudah menjadi pusat hidup 'Naruto'. Di dalam pikiran Naruto, yang adalah hanyalah rencana-rencana untuk mendapatkan Naruko-nya kembali.
'GOOOAAARRR!'
Naruto dan yang lainnya memalingkan tubuh mereka dan melihat ratusan Phantom yang di tinggalkan oleh Naruko masih mengamuk dan menyerang semua makhluk yang di lihatnya. Pasukan Akuma, Da-Tenshi dan Tenshi, sudah banyak yang mati karenanya.
Tapi jumlah Phantom yang sekarang ini sudah berkurang seperempat dari yang pertama kali. Azazel, Serafall, Sirzech dan Michael turun tangan dan membunuh Phantom dengan mudah seakan yang mereka lawan adalah hal yang biasa.
Serafall dengan cara membekukan Phantom lalu menghancurkannya. Sirzech dengan Power Of Destrusion yang melenyapkan Phantom sampai tidak bersisa. Azazel dengan menghujani para Phantom dengan Light Spear. Michael yang meledakkan energi sucinya ketingkat yang sangat tinggi sehingga Phantom yang mendekatinya lenyap tak bersisa. Alaminya, Phantom adalah makhluk yang tercipta dari energi negatif makhluk hidup, jadi yang perlu di lakukan hanyalah memberikan tekanan energi positif atau suci pada mereka, dan mereka akan lenyap dengan sendirinya karena menerima hal yang sangat berlawanan dengan sifat mereka.
Oh, jangan lupakan Vali yang terlihat sangat antusias menghancurkan Phantom-Phantom yang berada di jarak pandangannya. Jika melihat bagaimana dia menembakkan Laser, melemparkan bola energi dan meledakkan badan Phantom sampai hancur tak bersisa sambil tertawa gila, bagaikan melihat seorang Psikopat.
'Mereka membunuh Phantom' batin Naruto saat menyadari satu hal. Naruto ingat, Helios pernah bilang kalau dalam Great War dulu; Helios di bantu oleh para petinggi dari tiga Fraksi untuk berperang melawan Phantom. Dari hal itu, Naruto menarik kesimpulan, Phantom bukanlah makhluk anti-Supranatural, lebih tepatnya, mereka hanya dapat di musnahkan oleh makhluk yang memiliki kekuatan yang sangat besar seperti petinggi Fraksi atau selevelnya.
Naruto tersadar dari lamunannya saat salah satu Phantom berbentuk Minotaur berlari menuju mereka.
Erza yang mengambil langkah lebih dulu, dia berlari melewati samping Minotaur dan sedikit menggoreskan bilah pedangnya pada pinggang Minotaur, tanpa menghentikan larinya dan terus menuju kumpulan Phantom yang berada di depannya.
Minotaur yang di gores oleh Erza terdiam. Dan selanjutnya, duri-duri besi bermunculan di tubuhnya, membuatnya Mati seketika. Erza tidak pernah berhenti dan menebas semua Phantom yang berada di depannya tanpa kesulitan.
Saat Naruto melihat kepada Hinata, dia sudah terbang menuju langit, tanpa menggunakan sayap. Naruto memperhatikan Hinata yang berhenti terbang dengan tubuh melayang di udara. Sekumpulan Phantom yang bisa terbang mendekatinya, berniat melakukan serangan.
Jarak Phantom darinya masih sekitar belasan meter. Hinata melakukan tebasan pelan pada udara kosong, yang mana di depan tebasan kosong itu terdapat Phantom yang berusaha mendekatinya. Sebuah gelombang uap dingin menerpa tubuh Phantom terbang tersebut dan seketika, tubuh Phantom itu menjadi Es dan hancur. Hinata kembali melakukan tebasan pada Phantom-phantom di udara dan hasilnya sama, tubuh mereka menjadi Es dan hancur.
Pada Kamito. Dia sudah dari tadi memulai acaranya. Sekumpulan Phantom bertubuh besar datang padanya dan Kamito melakukan tebasan ringan pada perut Phantom di depannya. Tubuh itu beserta beberapa Phantom di belakangnya terpotong dan akhirnya mati karena terpotong Wave yang muncul berkat tebasan Light Sword Element. Kamito melakukan manuver serangan santai, tapi berakhir mengerikan bagi Phantom.
Akame entah sejak kapan, berada di tengah-tengah Phantom berukuran raksasa seperti Naga, Phoenix, Chimera, Anaconda dan makhluk berukuran raksasa lainnya. Akame menundukkan kepalanya, Dark Sword Element mengeluarkan pendar aura redup. Tanah di bawahnya dengan radius belasan meter berubah menjadi tanah kegelapan. Tangan-tangan kegelapan berukuran besar muncul dari tanah kegelapan dan menggenggang semua makhluk yang berada di areanya. Akame mengangkat kepalanya dan memperlihatkan iris Hitamnya yang kosong tanpa emosi. Tangan kegelapan yang menggenggam makhluk bernama panggilan Phantom itu menggenggam kebih kencang sampai akhirnya, tubuh Phantom yang di genggam hancur tidak berbentuk, darah menciprat dari sela-sela jari tangan kegelapan tersebut. Tanah kegelapan kini berubah menjadi tanah berdarah.
Mereka sudah melakukan tugas mereka, walaupun batin mereka masih terganggu dengan pertarungan sebelumnya. Naruto tersenyum tipis dan mulai mempersiapkan diri untuk tugasnya sendiri. Sebuah perisai angin tercipta di sekeliling tubuh Naruto. Iris "Elemental Berserker : Wind" Pusaran Angin tersebut menghilang dan memperlihatkan Naruto dalam Kaos Hijau polos dengan simbol kepala Naga di dada kiri. Celana panjang berwarna senada dengan Kaosnya. Jubah Hijau berlengan panjang berkerah tinggi dengan simbol Tornado kecil di punggungnya.
Sebuah Replika Sword Five Element tercipta di tangan Naruto yang kosong. Naruto mengangkat kepalanya dan membuka matanya yang memiliki manik Hijau. Naruto berlari menuju medan pertarungan.
Sekumpulan Phantom datang dari dua arah, kiri dan kanannya. Naruto tanpa menghentikan larinya, melakukan masing-masing satu tebasan Vertikal dengan pedang di kedua tangannya. Angin Tornado kecil muncul tiba-tiba dan melahap semua Phantom yang awalnya menargetkan Naruto. Saat Tornado menghilang, potongan-potongan tubuh berjatuhan dan memenuhi halaman Kouh Academy.
Di depan Naruto, ada beberapa Phantom ukuran besar. Naruto mempersiapkan kedua pedangnya dan melesat semakin cepat menuju mereka.
.
.
.
.
.
Pertarungan Phantom melawan tiga Fraksi dan Dragon Element berakhir dengan sangat cepat. Dalam hitungan menit setelah Dragon Element bergabung, semua Phantom sudah di basmi sampai tidak bersisa.
Hinata, Erza, Kamito dan Akame sedang beristirahat dan mengumpulkan tenaga mereka di bawah pohon rindang yang entah bagaimana bisa selamat setelah pembataian pada Phantom tadi. Elemental Berserker sudah lenyap dan memperlihatkan diri mereka yang biasa.
Naruto yang sekarang ini sudah mengganti mode Elemental Berserker-nya menjadi 'Water', tengah berdiri berdiri di depan pemegang Dragon Element yang lainnya seraya memandang langit. Naruto mengangkat Sword Five Elementnya dengan ujung menghadap langit.
Sebuah Pendar aura Biru tercipta dan berubah menjadi Laser Biru yang menuju Langit, tentu saja tidak sampai langit mengingat mereka sedang berada di dalam Kekkai. Laser itu membentur Kekkai dan menghilang. Entah bagaimana, walau berada di dalam Kekkai, awan Hitam berkumpul dan menurunkan hujan lebat yang membasahi keseluruhan Kouh Academy.
Semua orang yang mana kulit mereka melakukan kontak dengan air hujan ini, luka mereka mulai sembuh dengan sendirinya. Setelah melakukan hal itu, 'Elemental Berserker : Water' milik Naruto mencair bagaikan air dan menghilang. Tubuh Naruto ambruk ketanah dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"Naruto-kun, kau tidak apa-apa?" Rias berlari menuju mereka berlima bersama Sona di sampingnya. Naruto merubah posisinya menjadi duduk menghadap Rias. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja" jawab Naruto dengan senyum yang di paksakan, berusaha agar tidak membuat mereka berdua khawatir. Padalah kenyataannya tidak, dia masih terganggu dengan bayang-bayang Naruko.
Rias dan Sona memandang Naruto tidak yakin, mereka dapat melihat dengan jelas kebenaran dari senyum Naruto.
"Aku akan mengantar Akame pulang lebih dulu" Kamito memutuskan keheningan pada suasana ini. Kamito berdiri dan berjalan menuju Akame yang tertidur dengan bersandar pada batang pohon. Kamito berjongkok dan menggerakkan tangannya untuk mengangkat tubuh Akame dalam gendongan ala Bridal Style.
Kamito berjalan menjauh. "Kurome ...maaf" dalam tidurnya, Akame mengigau nama adiknya. Kamito memandang wajah Akame sedih. Dia sudah tau bagaimana masa lalu Akame, tapi dia tidak dapat melakukan apa-apa, yang bisa dia lakukan hanyalah menguatkan Akame saat dia terbangun nanti. Sebelum itu, dia harus menguatkan dirinya dulu.
Kamito mengeluarkan sayapnya dan terbang menuju Kekkai. Kamito menembus Kekkai itu, atau lebih tepatnya melubangi Kekkai itu dengan sedikit kekuatannya. Lubang pada Kekkai itu pulih dengan sendirinya.
"Hiks .. hiks" sebuah suara isakan pelan terdengar. Perhatian terfokus pada Erza yang sekarang ini sedang menyembunyikan kepalanya di antara lututnya. Erza mungkin terlihat yakin saat bertarung dengan Gray, tapi hatinya merasakan perasaan tertekan oleh kenyataan. Lebih tepatnya, dia menangisi nasibnya dan ketidakmampuannya mengubah hal yang telah terjadi.
Hinata berdiri dan menghampiri Erza. Hinata menyentuh pundak Erza membuat Erza menegang. "Erza-chan?" gumam Hinata khawatir. Erza mengangkat kepalanya memandang Hinata. Mata hitam kecoklatannya berlinang dengan air mata.
Sebelum Hinata dapat berkata apa-apa, Erza menepis tangannya dan berdiri lalu berlari menjauh. Memunculkan Sayap Besi dan terbang menembus Kekkai. Hinata memandang lubang pada Kekkai yang di tembus Erza dengan pandangan khawatir.
Sebuah tepukan pada bahunya membuat Hinata tersadar dari lamunannya. Saat dia berbalik, dia melihat Naruto yang terlihat sama khawatirnya dengannya. "Aku mengerti dengan perasaanmu, tapi berikan dia waktu" ucap Naruto mencoba menenangkan Hinata.
Hinata mengangguk dan kembali memandang ke arah Kekkai yang sudah pulih entah kapan. Naruto menoleh pada Rias dan Sona. "Aku minta maaf, tapi kami akan pulang lebih dulu. Katakan pada mereka semua mengenai kepulangan kami sekaligus permintaan maaf atas kekacauan ini" ucap Naruto.
Rias dan Sona mengangguk paham. "Kami permisi" ucap Naruto lalu menggenggam tangan Hinata dan berjalan lebih dulu sambil menarik tubuh Hinata. Hinata tersadar dari lamunannya. Naruto mengeluarkan sayap Naga Angin dan Hinata juga mengeluarkan sayapnya sendiri. Mereka terbang menuju Kekkai. Lagi-lagi Kekkai harus berlubang karena mereka berdua.
"Aku khawatir dengan mereka semua. Meskipun aku tidak tau masalah seerti apa yang mereka hadapi" ucap Rias lalu berjalan bersama dengan Sona menuju gedung sekolah. "Aku juga sama, tapi seperti kata Naruto-kun, berikan mereka semua waktu" ucap Sona.
Mereka menuju gedung sekolah untuk bertemu dengan Peerage mereka, serta menjelaskan mengenai kepulangan Fraksi Ningen.
Pertemuan kali ini, ...
.
.
.
.
.
...berakhir kacau.
.
.
.
.
.
Saat Naruto dan Hinata sampai dirumah, rumah ini sudah sepi. Raynare dan Mittelt kemungkinan sudah tertidur. Naruto dan Hinata berjalan menuju kamar Akame untuk memeriksa keadaannya. Hinata mengintip lewat celah pintu yang sedikit dia buka tanpa suara.
Hinata dapat melihat Akame yang sedang berbaring —sepertinya tidur—, dengan Kamito yang duduk di samping tempat tidur menjaga Akame. Dari kepala Akame yang sedikit dan mulutnya yang beberapa kali mengucapkan kata-kata aneh, kemungkinan dia sedang bermimpi buruk. Sedangkan Kamito memandang Akame dengan khawatir seraya tangannya mengelus pipi Akame lembut dan mengucapkan kata-kata untuk menenangkan, berharap dia dapat menghilangkan mimpi buruk Akame.
Hinata menjauhkan kepalanya dari celah pintu. Hinata memandang Naruto yang menunggu jawaban darinya. "Kita tidak perlu khawatir, dia punya Kamito di sisinya" ucap Hinata. "Kurasa kau benar, tapi sekarang aku mengkhawatirkan Erza, dia tidak punya siapa-siapa di sisinya" ucap Naruto.
"Apa maksudmu? Kau kekasihnya, kau harus berada di sisinya saat ini" ucap Hinata tegas. "Tapi, bagaimana dengan—" "Tidak ada tapi-tapian. Kau harus ada di sisinya saat dia membutuhkan. Jangan khawatir tentangku, aku pasti bisa bertahan dari semua ini" potong Hinata.
Mereka terdiam beberapa saat karena tiba-tiba saja suasana berubah menjadi canggung. "Aku yakin kau pasti sudah tau bagaimana Infernos bangkit dari Akame. Kalau tidak keberatan, maukah kau menceritakannya padaku nanti?" tanya Naruto berusaha mengakhiri suasana canggung yang mengganggunya. Hinata tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. "Bukan masalah. Kalau begitu, Oyasumi" ucap Hinata lalu berbalik dan berjalan menjauh.
"Hinata-chan, apa kau yakin tidak apa-apa? Aku yakin kau pasti terganggu dengan kejadian tadi" tanya Naruto kurang yakin. Hinata berhenti berjalan. "Sudah kubilang, aku pasti bisa bertahan. Jadi tidak perlu khawatir" ucap Hinata lalu kembali berjalan.
'Lagipula, kaulah yang mengajarkanku untuk lebih memerdulikan orang lain dari diri sendiri' pikir Hinata dengan senyum kecil di bibirnya saat mengingat kenangannya dengan Naruto beberapa tahun yang lalu.
Naruto memandang punggung Hinata. Hinata mengkhawatirkan semua orang, tapi dia tidak ingin dirinya di khawatirkan oleh orang lain. Andaikan Naruto dapat membagi dirinya seperti di dunia Shinobi, dia akan ada untuk semua orang yang membutuhkannya dalam satu waktu.
Naruto berjalan menuju kamar lain empat, kamar Erza. Naruto berdiri di depan pintu yang membatasi dirinya dengan isi kamar Erza. Naruto berniat mengetuk, tapi saat mendengar suara isakan tangis dari dalam, Naruto menghentikan niatnya.
Naruto membuka pintu dengan pelan. Di atas tempat tidur berukuran Queen Size, Erza duduk bersandar di kepala ranjang sambil mendekap sebuah Boneka Beruang seukuran anak kecil. Erza terisak pelan dengan menempelkan wajahnya pada belakang kepala Boneka di dekapannya.
Naruto berjalan menuju Erza. Erza tidak menyadari keberadaan Naruto, dia terlalu sibuk dalam pikirannya. Naruto duduk di samping tempat tidur sambil menghadap Erza. Naruto menepuk pundak Erza.
Erza terkejut dan melepaskan Teddy Bear-nya dan dengan cepat menghapus air mata di kelopak matanya. "Tidak apa, Erza-chan. Kau bisa menangis sesukamu, tidak ada yang akan menyebutmu cengeng" ucap Naruto setengah bercanda.
Erza masih membersihkan jejak air mata di pipinya dengan punggung tangan seraya berkata dengan nada serak. "Haha, siapa yang menangis. Aku tid—"
'Sret!' 'Greb!'
Belum selesai Erza berkata-kata bohong. Naruto bergerak duduk di sampingnya dan menarik Erza kedalam pelukannya. "Kau bukanlah orang yang pandai menutupi perasaan, Erza-chan. Jika kau ingin menangis, lakukanlah. Aku akan menjadi sandaranmu selama yang kau inginkan" ucap Naruto.
Kepala Erza berada di dada bidang Naruto, jadi dia tidak dapat melihat wajah Naruto. Air Mata mulai menggenang di kelopak mata Erza. "Baka, harusnya kau menyuruhku untuk tegar, bukan malah menyuruhku menangis, hiks" di sela-sela perkataannya, Erza terisak pelan.
"Kurasa kau benar, aku memang Baka. Tapi asalkan, semua orang dapat mengeluarkan perasaan mereka tanpa kebohongan, aku tidak masalah menjadi Baka" ucap Naruto pelan dengan senyum tipis di wajahnya.
"Hiks ..hiks, Baka" Erza mulai melepaskan bebannya dengan menangis, tangannya menggenggam pakaian bagian dada pada Jaket Naruto dengan erat. Naruto mengelus kepala Erza dengan lembut.
Erza Scarlet, seseorang yang paling jahil dan terlihat tegar, kini menangis dengan kencang. Erza sudah lama tidak merasakan perasaan seperti ini, pelukan ini, perasaan saat ia melepaskan perasaannya tanpa ragu, mengingatkan dirinya dengan Ibunya dulu. Saat ia mengalami sebuah masalah, Ibunya selalu bilang. "Jika kau ingin menangis, menangislah. Jika kau ingin marah, marahlah. Tidak ada yang akan mengadilimu karena jujur dengan perasaanmu sendiri"
Pelukan Naruto, seakan membuat Erza merasakan perasaan kekeluargaan yang selama ini menghilang. Dia memang memiliki paman, tapi perasaan bersama pamannya agak berbeda entah kenapa. Saat pertama kali bertemu dengan Naruto, dia sudah merasakan ikatan diantara mereka, walau dia sendiri tidak tau ikatan seperti apa.
Erza menangis, melepaskan perasaannya yang sesungguhnya selama entah berapa lama. Setelah beberapa menit, Erza berhenti menangis, dia menghapus jejak air mata di pelupuk matanya dengan punggung jari telunjuknya. "Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Naruto.
Erza mendorong tubuhnya menjauh dari tubuh Naruto dengan pelan. Erza memandang mata Naruto, sebuah senyum terlukis di bibirnya. "Terima kasih atas semuanya. Aku sudah agak mendingan berkatmu" ucap Erza.
Naruto tersenyum tipis. "Kalau begitu, syukurlah" ucap Naruto lalu duduk di samping ranjang. Erza memandang punggung Naruto yang membelakanginya. "Cobalah untuk tidur, besok kita harus sekolah. Aku akan kembali ke kamarku sendiri" ucap Naruto lalu berdiri.
"Ano ..." Naruto menghentikan niatnya untuk berjalan da menolehkan kepalanya menatap Erza. Erza terlihat malu untuk mengatakan keinginannya. "Maukah kau ... hmm...untuk malam ini ... tidur disini bersamaku?" akhirnya, Erza mengatakan keinginannya.
Naruto berbalik dengan sedikit tanpa kebingungan di wajahnya. Erza ingin menambahkan saat melihat wajah bingung Naruto, tapi Naruto lebih dulu berbicara. "Baiklah"
"Eh?" sekarang malah Erza yang bingung dengan jawaban cepat Naruto. "Apa harus kuulang lagi? Aku setuju untuk tidur bersamamu malam ini" ucap Naruto.
Naruto merangkak naik ketempat tidur dan mendekatkan wajahnya ke wajah Erza. Wajah Erza memerah melihat senyuman Naruto dari jarak sedekat ini. Naruto tanpa di duga mencium dahi Erza. "Tidurlah, sekarang sudah lewat tengah malam" ucap Naruto.
Wajah Erza semakin memerah dan buru-buru membaringkan tubuhnya membelakangi Naruto agar Naruto tidak melihat wajah memerahnya. Naruto terkekeh pelan dan kemudian ikut berbaring telentang.
Naruto menutup matanya, berusaha untuk memasuki alam mimpinya. "Naruto, apa kau sudah tidur?" Naruto kembali membuka matanya dan menolehkan kepalanya kesamping. Naruto melihat Erza yang berbaring menyamping menghadapnya dengan wajah sedikit merona.
"Ada apa, Erza-chan?" tanya Naruto. "Apa aku boleh tidur sambil memelukmu?" tanya Erza pelan.
"Tidak biasanya kau bertanya, biasanya kau langsung memelukku tanpa permisi" ucap Naruto menggoda Erza. Wajah Erza menjadi memerah malu. "Maksudku, enggh..." Erza kehilangan kata-kata untuk menyangkal. Wajahnya sedikit demi sedikit menjadi semakin memerah.
Ini pertama kalinya Naruto melihat sisi Erza yang pemalu dan Tsundere. Rencana untuk menggoda Erza, jadi hilang entah kemana. Tidak tega membuat Erza malu lebih dari ini. Naruto memiringkan badannya menghadap Erza. "Tidak masalah, jika itu dapat membuatmu nyaman" ucap Naruto.
Erza yang mendengar jawaban Naruto, mendekatkan dirinya ketubuh Naruto. Erza memegang jaket depan Naruto dan menyamankan kepala di dada Naruto yang hangat. Naruto memeluk tubuh Erza agar semakin dekat dengannya serta mencium dahi Erza sekali lagi. "Tidurlah, aku akan menjagamu"
Wajah memerah tidak pernah meninggalkan wajah Erza dari beberapa menit yang lalu. Erza menutup matanya, berusaha untuk masuk kedalam dunia mimpinya. Sebuah senyum tulus dan manis terukir di wajah damai Erza.
Dengan hangatnya pelukan Naruto, perasaannya menjadi tenang. Serasa seperti masalahnya telah menghilang. Walaupun masalah akan datang lagi, selama ada Naruto di sisinya, dia yakin pasti dapat bertahan. Naruto telah menjadi penyemangatnya, sosok yang mengingatkannya pada Ibunya, sosok yang telah membuat hidup Erza jauh lebih berwarna dari sebelumnya.
Perasaan yang sangat umum, tapi sulit di jelaskan oleh kata-kata kini tumbuh semakin besar di hati Erza untuk Naruto. Akhirnya Erza dapat tertidur dengan damai di pelukan hangat Naruto dengan senyum manis. Merasa Erza sudah tertidur, Naruto menutup matanya dan masuk kedalam mimpinya tanpa melepaskan pelukan mereka.
.
.
.
.
.
—Skip Time—
Pagi harinya. Naruto bangun dan yang pertama kali dia lihat adalah surai merah. Erza masih tidur dengan tenang pelukannya, serta tangannya yang menggenggam jaket depan Naruto. Naruto tidak kuasa menahan senyumnya saat mengingat kejadian tadi malam.
Naruto melihat Jam Tangannya. Naruto menghela nafas. Jam tangannya menunjukkan angka 06 : 01. "Enghh~" Erza melenguh pelan. Wajahnya sudah menunjukkan tanda-tanda ingin terbangun. Mungkin Erza sedikit terusik dengan gerakan kecil yang Naruto buat untuk melihat waktu tadi.
Genggaman Erza melemah sehingga Naruto dapat mengambil jarak menjauh dari Erza. Naruto duduk seraya memandang wajah Erza. Erza membuka matanya kemudian mengedipkannya beberapa kali. Setelah sepenuhnya terbangun, Erza memandang wajah Naruto dengan wajah ngantuk.
Naruto membalasnya dengan senyuman. "Ohayou, Erza-chan" ucap Naruto. Erza duduk dan menggosok sudut matanya. "Ohayou, Naruto-kun. Ho~aaam!" ucap Erza lalu menguap. Sadar atau tidak sadar, dia manambahkan suffiks –kun pada nama Naruto.
"Ayo cepat bangun, lalu bersiap. Aku akan menunggu di meja makan" ucap Naruto lalu berdiri duduk si samping tempat tidur. "Aku masih ngantuk. Sepuluh meni—"
'Cup'
Apapun protesan yang akan di keluarkan Erza harus berhenti di tenggorokannya saat Naruto merangkak naik dan mencium keningnya. Mata Erza yang awalnya masih mengantuk, kini terbuka lebar. Rasa ngantuknya hilang dengan kecepatan cahaya(?).
Naruto menjauhkan wajahnya dan memandang wajah Erza dari dekat. "Sekarang sudah tidak ngantuk bukan? Atau aku harus melakukan cara lain agar kau bangun" ucap Naruto dengan senyum menggoda seraya kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Erza.
Wajah Erza memerah terang. Erza mengambil boneka Teddy Bear-nya dan mendorongkan kepala Naruto menjauh dengan itu. "Baiklah! Baiklah, aku akan bangun. Jangan mendekat lagi" ucap Erza seperti gadis Tsundere.
Naruto merangkak mundur lalu turun dari tempat tidur dan kemudian memandang Erza dengan senyuman puas. "Kalau begitu, aku akan menunggu ruang makan" ucap Naruto lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Naruto-kun!" Pintu sudah terbuka, tapi saat Erza memanggilnya, Naruto berhenti dan menolehkan kepalanya pada Erza. "Terima kasih untuk yang semalam dan untuk segalanya yang telah kau berikan" ucap Erza malu-malu dengan kepala tertunduk.
"Jangan di pikirkan. Aku hanya melakukan yang kubisa agar kau, orang yang berharga bagiku berhenti bersedih" ucap Naruto. Wajah Erza semakin memerah saat mendengar Naruto menyebutnya sebagai orang yang berharga baginya. "Kalau begitu, aku permisi" ucap Naruto lalu keluar dan menutup pintu.
Tersisa Erza sendirian. Erza menyentuh dada kirinya, tempat organ Vitalnya berdetak dengan kencang. Saat mengingat semua hal mengenai Naruto, perasaannya menjadi nyaman. Suaranya, Senyumannya, Pelukannya, Perlakuan hangatnya, Perhatiannya padanya, semuanya telah membuat Hatinya berdetak di luar batas normal.
Erza turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Masalahnya malam tadi, biarlah berlalu. Dia akan menyambut semua masalahnya tanpa menutupi perasaannya dari sekarang.
.
.
.
.
.
Naruto berjalan menuju kamar lain di lantai ini. Kamar membuka pintu kamar di depannya dan mengintip kedalam. Seorang gadis masih tertidur nyenyak di tempat tidur kamar ini. Naruto masuk kedalam kamar tanpa menutup pintu. Naruto berjalan menuju satu-satunya tempat tidur di kamar ini.
Naruto berdiri membungkukkan badannya dan memandang wajah damai gadis di depannya. Gadis yang lebih memperdulikan orang lain dari dirinya sendiri dan juga gadis yang menyuruhnya untuk berada di sisi Erza malam tadi. Naruto melihat bekas jejak air mata di pipi Hinata.
Naruto tersenyum miris. Seandainya dia masih bisa melakukan Kage Bunshin seperti di dunia Shinobi, maka dia dapat berlaku adil malam tadi. Dua gadis terluka karena kenyataan mengenai orang terdekat mereka yang 'berubah', dan dia hanya bisa menemani salah satunya, sedangkan yang lainnya terabaikan.
Naruto membersihkan bekas air mata itu dengan jari jempolnya. Naruto menangkup sebelah pipi Hinata dan menurunkan kepalanya menuju kepala Hinata. Sebuah ciuman mendarat di kening Hinata.
Sudut mata Hinata mengkerut, tidurnya sedikit terusik dengan yang di lakukan Naruto. Saat Naruto menjauhkan kepalanya, Mata Hinata terbuka dan sebuah senyum tulus mengembang di bibirnya. Wajah Hinata dan Naruto berhadapan dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Naruto tersenyum. "Ohayou, Hinata-chan" ucap Naruto. "Ohayou, Naru-kun. Bagaimana keadaan, Erza-chan?" tanya Hinata.
"Dia sudah lebih baik. Tapi maaf, aku tidak ada disampingmu saat kau membutuhkanku" ucap Naruto menyesal. Hinata tersenyum misterius dan mengelus pipi Naruto. Naruto sedikit bingung dengan arti senyuman Hinata.
Hinata memegang belakang kepala Naruto dan menekannya mendekat.
'Cup'
Bibir mereka bertemu. Naruto membulatkan matanya terkejut. Hinata tidak hanya menciumnya, tapi juga memasukkan lidahnya untuk mengajak lidah Naruto bergulat dalam sebuah cumbuan. Naruto terhanyut suasana dan balas membalas cumbuan Hinata.
Hinata mengalungkan kedua tangannya di leher Naruto untuk memperdalam ciuman mereka. Mereka bercumbu lidah selama beberapa menit sampai Hinata memutuskan ciuman itu sendiri.
Hinata sedikit menjauhkan wajah Naruto dan memandang mata Biru Naruto. "Sekarang kau tidak perlu minta maaf, aku sudah mendapatkan bayaranku" ucap Hinata dengan senyum. "Terima kasih, Hinata-chan" balas Naruto dengan senyuman.
"Sampai kapan kau akan memandangiku terus? Kita harus segera bersiap untuk sarapan, Naru-kun" ucap Hinata menyadarkan Naruto dari lamunannya. Naruto menegakkan badannya dan mundur dua langkah.
"Maaf. Sampai nanti di meja makan" ucap Naruto lalu berjalan keluar kamar Hinata. Hinata memandang punggung Naruto dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Saat Naruto sudah menghilang dari pandangannya, Hinata turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
.
.
.
.
.
—Skip Time—
Saat Naruto sampai di ruang makan dengan seragam sekolah yang terpasang rapi di tubuhnya, dia melihat Raynare, Mittelt, Rias dan Sona membantu Maid Gremory menyiapkan meja makan. Melihat wajah mereka yang berkerja sama dengan Maid tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda enggan. Maid Gremory juga bersikap biasa pada mereka, bagaikan teman. Pelayan dan Tuan, tapi terlihat seperti mereka telah berteman tanpa memandang perbedaan derajat.
Naruto tersenyum tulus dan berjalan mendekati mereka semua. "Ohayou, Minna" ucap Naruto menarik perhatian mereka berempat beserta para Maid.
"Ohayou, Naruto-kun/-sama/-nii-chan/" reaksi yang berbeda di keluarkan. Sona, Rias dan Raynare menggunakan suffiks –kun. Mittelt dengan suffiks -nii-chan. Sedangkan para Maid membungkuk hormat dan memanggilnya dengan suffiks –sama.
"Minna, kalian boleh kembali. Kami berempat yang akan mengurus sisanya" ucap Rias pada para Maid di belakangnya. "Kalau begitu kami permisi, Rias-sama. Minna-sama" ucap salah seorang pelayan lalu menghilang dengan Lingkaran sihir bersimbol Gremory.
Naruto duduk di kursinya. Rias dan Mittelt menata peralatan makan di atas meja, sedangkan Sona dan Raynare mengambil masakan dari dapur.
"Ohayou, Minna" ucap sebuah suara lembut. Mereka semua menoleh pada asal suara dan melihat Hinata yang berjalan dengan anggun ke arah mereka. "Ohayou, Hinata-chan/-nee-chan" ucap mereka bersamaan.
Hinata berjalan menuju meja makan dan duduk di samping Naruto. "Kalian sudah berkumpul rupanya" ucap sebuah suara lain. Kali ini Kamito dan Akame (yang bicara tadi Kamito)
Mereka berdua duduk di tempat mereka dengan tenang. "Akame-chan, bagaimana keadaanmu?" tanya Hinata. "Sudah lebih baik. Kamito selalu ada untukku, jadi aku tidak apa-apa" ucap Akame sambil tersenyum tipis.
"Souka, senang mendengarnya" ucap Hinata lega. "Jadi yang tersisa hanya Erza. Apa dia ketiduran la—"
"Maaf aku terlambat, Naruto-kun" baru saja Kamito berucap beberapa kata, orang yang di bicarakan sudah datang. Semua pasang mata kecuali Naruto memandang penuh selidik pada Erza. Mereka merasa aneh dengan sikap Erza sekarang ini, sepertinya dia sedang senang. Dan lagi, tadi dia memanggil Naruto dengan apa? Itu pikiran para gadis.
Erza berhenti bergerak dan keringat muncul di belakang kepalanya. "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Erza gugup. Hinata menghela nafas pasrah, tapi tidak menutupi senyum tulusnya. Sona, Mittelt dan Raynare sedikit cemburu. Rias tersenyum misterius.
"Aku yakin bukan hanya aku yang berpikir seperti ini. Tapi kau terlihat senang dan bersemangat. Dan juga ... aku baru pertama kali mendengar kau menyebut Naruto-kun dengan suffiks '-kun'. Aku penasaran, apa yang terjadi semalam?" ucap Rias menggoda.
Wajah Erza merona mengingat kejadian tadi malam dan beberapa menit yang lalu. "Naruto-kun, sebenarnya apa yang kau lakukan dengan Erza-chan tadi malam?!" Raynare berdiri dan bertanya (teriak) pada Naruto.
Wajah Erza semakin memerah. Dia terlalu sibuk dengan khayalannya dan hal itu malah membuat kesalahpahaman pada beberapa pihak. Aura kecemburuan kini meningkat dan Naruto seperti bisa melihat makhluk gelap astral di belakang beberapa orang.
Naruto meneguk ludahnya. 'Bahaya' pikir Naruto. Erza masih sibuk dengan pikirannya dan tidak menyadari hasil dari ketidakpekaannya.
.
.
.
.
.
—Skip Time—
Sudah tiga hari berlalu sejak kegagalan pertemuan hari itu. Kini Fraksi mulai merundingkan untuk melakukan pertemuan sekali lagi. Sudah di putuskan, pertemuan tersebut akan di lakukan 2 hari dari sekarang.
Sekarang sudah pagi. Penghuni kediaman Namikaze baru saja mulai terbangun. Di kamar Naruto. Naruto sedang duduk di samping ranjang. Naruto memandangi layar Handphone-nya yang terdapat gambar Naruko yang dia dapatkan dari Kamito beberapa hari yang lalu.
Saat melihat foto itu, Naruto dapat mengingat berbagai kenangan masa kecil 'Naruto' bersama Naruko.
.
.
.
.
.
—Flashback—
Di sebuah padang rumput yang luas di siang hari yang cerah. Dua anak kecil berbeda jenis kelamin sedang bermain kejar-kejaran. Gadis kecil sedang mengejar anak-laki-laki yang yang lebih tua darinya, tapi anak laki-laki cukup lincah dan membuat sang gadis kesulitan menangkapnya.
"Ayo, tangkap aku, Naruko-chan!" teriak laki-laki itu semangat. "Awas kau, Onii-chan! Jangan lari dari Naruuu!" gadis itu terlihat geram dan berusaha dengan keras untuk menangkap sang kakak.
'Greb!'
Akhirnya, bocah laki-laki yang di ketahui adalah 'Naruto' yang berumur 10 tahun dapat di tangkap di pergelangan tangan oleh Naruko. Naruto terkejut dan secara tidak sengaja, kehilangan keseimbangannya dan terjatuh sambil menarik Naruko bersamanya.
Mereka jatuh dengan posisi Naruko menindih Naruto di bawahnya. Wajah mereka sangat dekat dan hampir bersentuhan. Senyum senang mengembang di bibir Naruko. "Ketangkap kau, Onii-chan. Sekarang kau tidak bisa lari lagi dan rasakan balasannya"
Naruko sedikit menjauhkan badannya dan menggerakkan kedua tangannya untuk menggelitik pinggang Naruto tanpa ampun. "Gyahaha, Naruko-chan! Hentikan! Geli! Hahaha" Naruto tertawa keras dan berusaha menggapai tangan Naruko untuk menghentikannya.
"Naru akan berhenti, jika Onii-chan berjanji satu hal. Apa Onii-chan mau?" ucap Naruko dan menghentikan acara 'menggelitik'nya untuk sementara. Naruto memandang wajah Naruko dengan ekspresi bingung. Naruko kembali menggelitik pinggang Naruto karena kakaknya sama sekali tidak menjawabnya.
"Hahaha, iya! Iya aku akan berjanji" ucap Naruto, dia terlalu lelah untuk tertawa. Naruko berhenti dan tersenyum senang. Dia memeluk Naruto erat dan menyamankan kepalanya di dada Naruto yang terasa hangat.
"Naru menyayangi Onii-chan, jadi berjanjilah, jangan pernah meninggalkan Naru" ucap Naruko. Naruto tersenyum dan balas mendekap Naruko, matanya memandang lurus kelangit yang berwarna biru cerah seperti mata mereka.
"Aku berjanji"
.
.
Saat ini adalah Ulang tahun Naruko yang kesebelas. Yang merayakannya hanyalah bagian dari keluarga Namikaze serta beberapa kerabat dekat, jadi tidak dapat di anggap terlalu meriah. Naruko duduk di depan meja. Naruto datang dari dapur dengan membawa sebuah Kue Ulang Tahun yang di atasnya di pasangi lilin dengan angka 11.
Naruto meletakkan Kue itu tepat di depan Naruko dan kemudian menyalakan lilinnya. Semua orang mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan Naruko memandang Naruto lalu kepada lilin di depannya.
Dengan satu hembusan nafas, api pada lilin itu padam. Semua orang bertepuk tangan dan Naruko terlihat sangat bahagia. "Ne, Naruko-chan. Permohonan seperti apa yang kau inginkan saat meniup lilin tadi?" tanya Naruto penasaran.
Kushina yang berada di belakang Naruto menjitak kepala anak laki-lakinya dengan keras. "Jangan menanyakan privasi seseorang" tegur Kushina. "Tidak apa-apa, Okaa-chan. Naru tidak masalah kok" ucap Naruko dengan senyum sambil memandang Kushina.
"Eh?" Naruto dan Kushina bingung dengan jawaban Naruko. "Karena keinginan Naru adalah ... menjadi Istri Onii-chan" Naruko langsung memeluk Naruto dan memberikan ciuman panjang di pipi.
Semua orang yang mendengar permohonan Naruko terkejut dan suasana mulai menjadi heboh karena Naruto yang di kejar oleh Kushina karena dianggap telah meracuni otak polos Naruko dengan sesuatu yang aneh-aneh.
.
.
.
.
.
—Flashback End—
Naruto tersenyum saat mengingatnya, sepertinya kehidupan 'Naruto' sangat menyenangkan, tidak seperti kehidupannya dulu. Tapi saat mengingat hal itu, dia menjadi sangat yakin kalau dialah yang telah bersalah.
Harapan Naruko dari dulu adalah bersamanya. Dan saat 'Naruto' meninggal dalam kecelakaan pesawat, dapat di pastikan bahwa harapan Naruko telah berubah menjadi keputus-asaan. Kehilangan sosok Ayah, Ibu dan sosok kakak yang sangat di cintainya, hal itu pasti membuatnya sangat tertekan.
"Aku minta maaf, Naruko" gumam Naruto.
'Deg!'
Tiba-tiba saja kepala Naruto berdenyut keras. Naruto dengan satu tangan, memegangi kepalanya. Entah kenapa, rasanya otaknya sangat sakit.
"Ohayou, Onii-chan"
Naruto menolehkan kepalanya kesekeliling kamar. Tapi dia tidak menemukan siapa-siapa. Jelas sekali dia mendengar suara Naruko.
"Naru tidak ada di sana jika Onii-chan mencari Naru. Kita berkomunikasi lewat Telepati"
"Naruko, kamu di mana?"
"Itu tidak penting, Onii-chan. Naru hanya ingin memberitahukan bahwa tempat pertarungan kita sudah di siapkan. Besok saat fajar, pertarungan kita akan di mulai. Untuk mengetahui lokasi pertarungannya, Onii-chan hanya perlu merasakan energi Naru. Oh iya, jangan khawatir, yang lainnya juga sudah di beritahu kok"
"Tunggu dulu, Naruko!"
"Jadi bersiaplah, Onii-chan. Naru akan sangat menantikan saat-saat itu, saat Onii-chan hanya menjadi milik Naru. Jaa ne~"
Sambungan telepati di antara mereka akhirnya terputus. Naruto menggenggam tangannya dengan erat. "Kenapa harus menjadi seperti ini?" gumam Naruto frustasi. Aura kegelapan sedikit demi sedikit menguar dari tubuh Naruto tanpa di sadarinya.
["Naruto, tenangkan dir—"]
Aura kegelapan itu hilang dengan sendirinya saat Naruto di sadarkan oleh peringatan Helios. Tapi aneh, kenapa suara Helios terpotong?
Naruto berbaring di kasurnya dan menutup mata. Berkonsentrasi dan masuk ke alam bawah sadarnya.
—Mindscape—
Naruto terbangun di padang rumput seperti biasanya. Naruto berdiri dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Helios. Naruto akhirnya menemukannya, Helios sedang berbaring membelakanginya, beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Naruto berlari menghampiri Helios. Naruto berdiri di depan Helios dan melihat Helios sedang menutupi dadanya yang terdapat simbol Pentagram gelap.
"Kenapa hal ini terjadi lagi?" tanya Naruto. Nafas Helios terengah-engah dan tangan yang menutupi dadanya di pindahkan agar Pentagram itu dapat di lihat dengan jelas oleh Naruto. Salah satu sisi dari Pentagram itu sudah hampir terputus.
["Kuncinya adalah perasaanmu. Semakin kau merasa tertekan atau putus asa, segel ini akan semakin rusak dan akhirnya hancur"] ucap Helios sambil mencoba berdiri. "Itu artinya, saat segel itu hancur, maka ..." ucap Naruto menggantungkan kalimatnya tidak percaya.
["Saat itu terjadi, aku bukan lagi aku, melainkan sosok Trinity yang membawa keputus asaan dunia"] Helios melanjutkan kalimat Naruto yang di gantungkan.
"Aku minta maaf karena sedikit lepas kendali" ucap Naruto sambil menunduk sedih. ["Ini bukan salahmu, jadi tidak perlu minta maaf"] balas Helios.
Naruto masih diam, bukan karena merasa bersalah, melainkan sedang memikirkan sesuatu yang tiba-tiba melintas di kepalanya. "Helios, dulu kau pernah bilang, seseorang memisahkan dirimu dengan Trinity, lalu orang itu mati dan memberikan kekuatannya padamu. Apa kekuatan yang dapat memisahkan jiwa itu masih ada di dirimu. Kalau ada, kumohon berikan padaku agar aku dapat memisahkan Trinity darimu sekali lagi" ucap Naruto setelah mengangat kepalanya dan berucap dengan tegas.
Helios menghela nafas sambil berucap. ["Sudah kuduga, cepat atau lambat kau akan menyadari hal itu"]
Naruto masih menunggu jawaban Helios. Helios memandang lurus padanya. ["Tapi sayangnya, aku tidak dapat memberikan kekuatan itu"] lanjut Helios.
Naruto terdiam. "Kenapa?" tanya Naruto bersikeras. ["Akan lebih mudah untuk di tunjukkan daripada di jelaskan. Sekarang tutuplah matamu"] perintah Helios. Naruto menuruti perintah Helios dan menutup kedua matanya.
["Apa kau yakin ingin mengetahuinya? Ini akan terasa 'cukup' menyakitkan jika kau memaksakan diri"] ucap Helios memastikan.
"Tidak masalah. Lakukan saja" ucap Naruto tanpa membuka matanya. Helios sekali lagi menghela nafas, pasrah. ["Baiklah"] Ekor Helios bergerak menuju Naruto. Ujung ekor Helios mengeluarkan pendar aura keemasan.
["Aku tidak mau tanggung jawab atas rasa sakitmu, mengerti?"] tanya Helios sekali lagi untuk memastikan keputusan Naruto. Naruto menjawabnya dengan anggukan pasti.
Sesaat setelah Naruto menjawab, ujung Ekor Helios melesat dengan cepat menuju kepala Naruto.
'CRRAASSHH!'
—Mindscape End—
Naruto seketika terbangung dengan wajah yang di penuhi oleh keringat dingin. Nafas yang sangat tidak teratur dan tubuh yang bergetar.
"Kenapa kau tidak bilang kalau akan sesakit itu? Rasanya kau seperti ingin membunuhku" ucap Naruto kesal.
["Aku sudah memperingatkanmu. Kau saja yang keras kepala. Lagipula, hanya itu satu-satunya jalan untuk membuka ingatanmu yang tersegel secara paksa"] balas Helios.
Naruto menyeka keringat di dahinya dan berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak puluhan kali lipat lebih cepat dari normalnya. Setelah berhasil mengendalikan dirinya, Naruto menghela nafas panjang.
"Helios, apa yang 'tadi' itu benar?" tanya Naruto kurang yakin. ["Percaya atau tidak. Itu adalah kenyataannya dan hal itu juga di ambil dari ingatanmu sendiri"] ucap Helios.
Mendengar jawaban Helios membuat Naruto berpikir sebentar. Naruto mengeluarkan ponselnya dan kembali memandangi foto Naruko. "Jika memang begitu yang terjadi, kurasa kita punya kesempatan untuk menang dan mengakhiri semuanya. Bagaimana menurutmu, Helios?" gumam Naruto.
["Setelah melihat ide di otakmu yang licik. Kurasa, hanya kau satu-satunya orang yang memiliki ide segila itu. Tapi apapun keputusanmu, aku akan terus mengikutimu. Karena bagaimanapun kau adalah ..."]
Naruto mengangkat kepalanya memandang lurus kedepan. "Bukan 'aku', tapi 'Kita'. Karena kita semua adalah..." sebuah senyum tipis terukir di wajah Naruto. Naruto dan Helios melanjutkan perkataan mereka secara bersamaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
["...Saigo no Kibou"] "...Harapan Terakhir"
.
.
.
.
.
.
.
.
...::: To Be Countinued :::...
.
.
.
.
.
.
Yo, Minna! Saya kembali lagi. Bagaimana menurut kalian, chap kali ini?
Well, mari jawab Review non-login
Ren asbhel : Mungkin bisa aja, tapi entahlah. Aku tidak janji lho~ ^_^
Bayu : Ha'i, sudah lanjut ^_^
Zzz : Seperti yang kau lihat, karakter dari anime yang sama dengan pemegang Dragon-Element-nya. Hm, sudah lanjut nih ^_^
Uzumaki nara : Mungkin akan hancur. Dan pertanyaan kedua, saya tidak dapat menjawabnya dengan pasti. Mungkin mati, mungkin hidup atau mungkin ...jadian hantu aja?#PLAK ^_^
Mahdian dragneel : Etto~, kenapa ada tanda tanya di Reviewmu? -_-'
Saya mau sedikit meluruskan beberapa hal. Yang berada di tubuh Naruko itu adalah Phantom-Helios. Sedangkan Trinity berada di tubuh Helios yang asli. Kau mengerti Senju-nara shira-san?
Orang-orang yang menjadi wadah Dragon-Phantom adalah orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan pemegang Dragon-Element. Saya mengambil karakter mereka dari Anime yang sama seperti pemegang Dragon Element.
Dari Anime Naruto : Naruto melawan Naruko. Hinata melawan Ino.
Dari Anime Fairy Tail : Erza melawan Gray.
Dari Anime Seirei Tsukai no Blade Dance : Kamito melawan Ellis.
Dari Anime Akame ga Kill : Akame melawan Tatsumi.
Mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang mengetahui alasan mereka bertarung satu sama lain dari sedikit clue di atas. Tapi bagi yang tidak tau, saya tidak dapat melakukan apa-apa #PLAK
Semua alasan Dragon Element bangkit sudah di jelaskan, kecuali kebangkitan Infernos. Apa saya harus membuat Flashback juga mengenai alasan kebangkitan Infernos di chapter mendatang?
Dan satu lagi, apa ada yang dapat menebak hal apa yang di tunjukkan Helios pada Naruto? Atau mungkin ada yang tau rencana Naruto? Jika ada yang tau coba katakan, siapa yang jawabannya benar, mungkin akan saya kasih hadiah spesial yang misterius. Ada yang mau?
Well, saya sudah kehabisan bahan untuk di bahas, jadi sama silahkan bertanya jika kalian ada pertanyaan, silahkan kritik jika ada kesalahan, silahkan beri komentar jika kalian suka dan jangan Flame jika tidak suka :v
Saya Ryuukira Sekai, pamit undur diri, salam Fanfiction ^_^
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ryuukira Sekai. Log Out. Harasho~ ^_^
