My Teacher My Husband

XI

By

Arisa Adachi YunJaeShipper

a.k.a

U-Know Boo

Pairing :: YunJae, and many more

Disclaimer :: They are not mine, tapi Changmin forever mine!

Warnings :: Yaoi, OOC, and typo(s)

xxx

Pagi yang cerah ditandai dengan matahari yang bersinar terang dan kicauan burung yang terdengar begitu merdu. Jaejoong yang terbangun karena suara dering ponselnya mengusap-usap wajahnya. Kedua mata indahnya itu terasa sangat berat. Bagaimana tidak kemarin Yunho tega sekali 'membantai'nya hingga jam lima pagi. Diliriknya Yunho yang masih tertidur pulas disampingnya. Dengan agak malas-malasan Jaejoong meraih ponselnya.

'Leeteuk-ah calling…'

"Ne, yeobesseyo?" Jaejoong mengangkat teleponnya.

"Jaejoong-ah? Mianhaeyo, kami mungkin pulang jam sepuluh pagi nanti. Jadi sepertinya Changmin tidak bisa sekolah hari ini. Mianhae."

"Ne, gwaenchana Leeteuk-ah. Changmin-nya mana?"

"Dia masih tidur. Apa perlu kubangunkan?

"Tidak usah. Ne, gwaenchana. Apa Changmin merepotkan?"

"Tidak, dia anak baik kok. Ne Jaejoong-ah, annyeong."

"Ne, annyeong." Jaejoong menjatuhkan wajahnya ke kasur begitu teleponnya dengan Leeteuk putus. Inginnya sih tidur lagi, toh Changmin juga jam sepuluh nanti pulangnya. Tapi mana bisa Jaejoong tidur lagi dengan matahari yang sudah bersinar seperti itu. Jaejoong melirik jam yang terpasang di dinding kamar, masih pukul tujuh lewat rupanya.

"Yun… Yun…" Jaejoong menggoyangkan bahu pria yang masih pulas di sampingnya.

Yunho membuka matanya perlahan, "Ne, selamat pagi Boo." Yunho menarik tengkuk Jaejoong dan melumat bibirnya.

"Kau tidak ke sekolah?" tanya Jaejoong. Tubuhnya menelungkup di atas tubuh Yunho, membuat sebagian dadanya menempel pada dada Yunho.

"Sekolah kok, kau tidak?"

Jaejoong memajukan mulutnya, "Gara-gara kau badanku sakit semua tahu!"

Yunho tertawa kecil, "Mianhaeyo, salah sendiri, kau yang menggodaku. Changmin sudah pulang?"

"Masih di rumah Leeteuk-ah, Leeteuk-ah bilang mereka akan pulang jam sepuluh nanti."

Yunho mengangguk kecil, pria tampan itu kemudian mendudukkan tubuhnya. Membuat Jaejoong yang bertumpu pada dadanya kembali terhempas ke kasur. Melihat Jaejoong yang telentang begitu membuat gairah Yunho kembali muncul, menyadari hal itu Jaejoong cepat-cepat bangkit walau harus mengernyit sakit pada bagian bawahnya.

"Aku mau mandi, kau mandi di kamar Changmin sana." Dengan tertatih Jaejoong yang sudah memakai boksernya berjalan menuju kamar mandi. Melihatnya membuat Yunho terkikik sendiri.

.

.

.

Selesai mandi Jaejoong turun ke bawah. Pria cantik itu terkejut melihat ruang tengah yang berantakan dengan bungkus-bungkus cemilan, lebih terkejut lagi ketika menyadari pintu depan yang belum terkunci. Huft, untung tidak ada maling yang masuk.

Jaejoong kemudian memilih untuk berkutat dengan dapur. Pria cantik itu menghidupkan rice cooker untuk memanaskan nasi. Karena ini masih pagi Jaejoong berpikir lebih baik dia memasak nasi goreng saja. Jaejoong sedikit tersentak ketika merasakan pelukan lembut dari belakangnya.

"Jangan mengejutkanku Yunho!" seru Jaejoong sambil memukul pelan kepala Yunho dengan sendok yang dipegangnya. Yunho mengaduh kecil meski begitu ia sama sekali tidak melepaskan pelukannya, justru lingkaran tangan pada pinggang ramping itu ia eratkan. Dagunya bersandar nyaman di bahu Jaejoong. Dan bagaikan bayi koala yang menempel pada induknya, Yunho terus menempel pada Jaejoong yang tengah memasak. Ck, padahal Changmin saja tidak semanja itu.

"Leher bajumu rendah sekali," gumam Yunho ketika menyadari Jaejoong mengenakan kaus berleher yang cukup lebar, "Mau menggodaku, ya?" lanjut Yunho sambil menghirup aroma vanilla yang menguar dari sana.

"Bicara apa sih? Dasar pervert," ketus Jaejoong sambil menyikut perut Yunho pelan. Pria cantik itu meneruskan pekerjaan meski agak terganggu karena Yunho yang terus menempel di belakangnya. Berkali-kali ia harus menggigit bibir untuk menahan desahannya ketika tangan nakal Yunho menjelajahi tubuhnya.

"Sarapannya… sudah siap…" bisik Jaejoong sambil meletakkan nasi goreng yang sudah matang ke meja makan dengan agak lemas. Lemas karena sedari tadi Yunho terus mengerjai telinganya yang lumayan sensitif.

"Aku sedang sarapan, jangan ganggu aku." Yunho meneruskan kegiatan menjilat leher Jaejoong, sesekali ia memberikan gigitan kecil disana. Jaejoong menumpukan tangannya di meja makan sementara Yunho masih memeluknya dari belakang. Pria cantik itu menggigit bibir bawahnya ketika merasakan junior Yunho yang mulai mengeras menusuk bagian belakang tubuhnya.

"Y-yun… i-itu… menusuk~" bisik Jaejoong lirih. Yunho tidak menanggapi, mulutnya asyik mengulum daun telinga Jaejoong sementara tangannya mulai menyusup ke dalam kaus Jaejoong.

"Jae…" bisik Yunho dengan suara beratnya, "Sebentar saja ya?" lanjutnya sambil meraba pantat Jaejoong.

"Tapi nanti kau terlambat ke sekolah…" sahut Jaejoong yang mengerti maksud Yunho.

"Gwaenchana, jadwal mengajarku sekitar jam sembilan." Dan tanpa persetejuan dari Jaejoong, Yunho langsung mengangkat tubuh Jaejoong ke kamar.

*** NC sedang berlangsung~ harap tunggu sebentar~***

Yunho merapikan dasi coklatnya sambil tersenyum cerah. Benar-benar pagi yang indah, begitulah pikir Yunho. Diliriknya jam dinding di kamar, 08:45. "Ne Jae, aku ke sekolah dulu ya?" ujar Yunho pada pria cantik yang menelungkup lemah di kasur. Pria cantik itu terlihat masih mengatur nafasnya yang memburu. Melihat itu Yunho tersenyum tipis,

Ia menundukkan tubuhnya dan mengecup dahi berkeringat Jaejoong lembut, "Saranghae Joongie…" bisiknya sambil mencium bibir Jaejoong sekilas.

Jaejoong hanya tersenyum tipis. Mata besarnya mengikuti hingga punggung Yunho keluar dari kamar. Tak lama terdengar suara mesin mobil, itu artinya Yunho sudah pergi. Jaejoong sedikit mengernyit sakit ketika ia membalikkan tubuhnya.

"Dasar pervert…" bisik Jaejoong lirih. Pria cantik itu kemudian memutuskan untuk mandi lagi. Yah jelas saja, karena aktivitasnya dengan sang suami beberapa menit lalu, tubuhnya terasa agak lengket.

.

.

.

~Beberapa minggu kemudian~

"Joongie-ya!"

Jaejoong yang sedang memainkan ponsel seorang diri di kelasnya menoleh ketika mendengar ada yang memanggil. Senyum manis menyeruak di wajahnya ketika mendapati suami sekaligus wali kelasnya berdiri di ambang pintu kelas. Cepat-cepat Jaejoong menghampiri orang itu.

"Lama menungguku?" tanya Yunho sambil mengecup pelan dahi Jaejoong. Tadi dia ada rapat dengan para guru. Jaejoong yang selalu pulang bersama Yunho mau tidak mau menunggu hingga rapat guru selesai.

"Tidak juga," sahut Jaejoong. Tanpa sungkan ia menggenggam tangan Yunho sementara tangan yang satunya masih sibuk dengan ponselnya. "Jangan berjalan sambil memainkan ponsel begitu, nanti kau jatuh," ujar Yunho memperingatkan.

"Tapi kau tidak mungkin membiarkanku jatuh 'kan?"

Yunho tertawa kecil. Ia memajukan wajahnya dan menggosokkan hidungnya ke hidung Jaejoong. Jika ada seorang yunjaeshipper yang melihat adegan ini, mungkin ia akan mati di tempat. Sambil bergenggaman tangan keduanya berjalan menuju parkiran sekolah. Mereka bisa melakukannya dengan leluasa karena seluruh koridor sekolah telah sepi.

"Oh ya, Leeteuk-ah sudah tidak bekerja lagi," gumam Jaejoong membuka pembicaraan dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.

"Jinjja?"

Jaejoong mengangguk, "Katanya sih supaya lebih mudah mengawasi perkembangan Kyuhyun, 'kan Kangin-sshi tinggal di luar Korea. Dia hanya memantau keadaan kantor dari rumah."

"Hemm… Berarti kita bisa mempercayakan Changmin sepenuhnya pada Leeteuk-ah ya?"

"Humm~ Yunho…"

"Ya?"

"Bisakah aku berhenti sekolah?" tanya Jaejoong sambil menatap Yunho.

"Mwo? Wae?" Yunho balas tanya sambil balas menatap Jaejoong. Namun hanya sebentar sebelum ia kembali menoleh ke jalanan.

"Supaya aku bisa mengawasi Minnie. Dia pasti kesepian setiap pulang sekolah." Jaejoong menundukkan wajahnya. Ia selalu ingat raut wajah Changmin yang begitu senang ketika ia dan Yunho pulang sekolah. Itu meyakinkan Jaejoong betapa kesepiannya Changmin ketika mereka tidak ada.

Bukannya menjawab Yunho malah tertawa kecil, tangannya terulur mengacak rambut Jaejoong, "Aku mengerti, tapi tetap saja itu bukan alasan untuk berhenti sekolah, ne?"

Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal, "Lagipula untuk apa aku sekolah lagi? Toh aku sudah menikah. Sekolah atau tidak pun ujung-ujungnya aku pasti di rumah mengurusimu atau Changmin, ya 'kan?"

"Tidak begitu juga 'kan Joongie-ya. Biar bagaimana juga pendidikan itu pasti bermanfaat. Lagipula apa kau mau Changmin diolok-olok temannya karena ibunya tidak tamat sekolah, huh?"

Jaejoong hanya menundukkan kepalanya dengan bibir yang masih mengerucut. Sekali lagi Yunho tertawa karenanya. "Setahun lagi 'kan kau tamat, bersabarlah…"

"Arraseo, arraseo," ujar Jaejoong akhirnya, "Ngomong-ngomong anak kelas tiga sudah mulai ujian ya?"

Yunho mengangguk, "Lalu setelah kelas tiga ujian, giliran kelas dua dan kelas satu yang ujian. Kau belajar yang rajin, jangan main terus, arra?" ujar Yunho sambil menarik pipi Jaejoong.

Jaejoong hanya manyun seraya mengusap-usap pipinya, "Huh, aku 'kan sering belajar, kau saja yang selalu menggangguku tiap aku belajar~"

Yunho tertawa kecil mendengarnya, "Makanya kalau belajar jangan pakai celana pendek, itu berarti kau mengundangku untuk mengganggumu tahu"

"Pervert!"

Yunho hanya tertawa kecil sambil mengacak rambut Jaejoong. Jaejoong sendiri membiarkan rambutnya diacak, toh dia suka kalau Yunho menyentuhnya dengan sayang begitu.

.

.

.

Makan malam yang tenang di keluarga Jung. Terlihat Yunho meminum jusnya dengan tenang sambil mengotak-atik ponselnya. Lalu Changmin yang makan dengan lahap sehingga membuat Jaejoong kelabakan membersihkan mulutnya yang penuh dengan nasi.

"Kaa-chan~"

"Hm?"

Changmin menelan makanan yang ada dimulutnya sebelum melanjutkan ucapannya, "Luca kaa-chan cama tou-chan diculuh ke cekolah~"

"Ke sekolah?" Jaejoong mengangkat sebelah alisnya, ia melirik Yunho sekilas, lalu kembali menatap Changmin, "Untuk apa Min?"

Changmin mengangkat bahunya, "Nggak tahuu~ Pokoknya halus datang~"

"Mungkin ini soal Changmin yang akan tamat TK sebentar lagi, ne?"

"Benar juga ya," celetuk Jaejoong, "Sebentar lagi Min tamat TK, terus masuk SD deh… Omoo… Minnie-yah sudah besar…" tambah Jaejoong sambil mengecup puncak kepala Changmin dengan gemas.

Changmin hanya nyengir sambil mengusap kepalanya.

.

.

.

Suara jarum jam memenuhi ruangan tamu malam itu. Jaejoong sedang duduk di karpet sambil mengerjakan PR-nya. Sedangkan Yunho sedang menidurkan Changmin. Sesekali Jaejoong memutar pulpennya ketika menemukan soal yang sulit. Namun tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan jawabannya, karena sebenarnya Jaejoong adalah siswa yang lumayan cerdas.

"PR apa?" tanya Yunho yang tiba-tiba datang dan langsung menyelipkan tangannya di pinggang ramping Jaejoong.

"Fisika," jawab Jaejoong singkat. Mata besarnya yang tertuju pada buku PR-nya menunjukkan bahwa ia begitu konsentrasi dengan pekerjaan rumahnya itu.

Yunho hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa banyak bicara ia menumpukan kepalanya pada bahu Jaejoong. Sesekali tangannya mengusap pinggang 'istri'nya itu. "Yun, geli!" protes Jaejoong.

Yunho menghentikan usapannya, sebagai gantinya kini tangan jahilnya menyusup ke kaus Jaejoong dan menari-nari di perut rata pemuda cantik itu. "Yunnie-yaaaa~~~" rengek Jaejoong karena konsentrasinya buyar oleh Yunho.

"Pelit sekali," sahut Yunho sambil memajukan bibir bawahnya.

"Bukan pelit, tapi aku sedang mengerjakan PR."

"Arraseo, arraseo," ujar Yunho dengan nada kesal. Pria itu bangkit dari posisi duduknya dan duduk di sofa. Tangannya terjulur dan menghidupkan televisi yang sedari tadi dimatikan.

"Yunnie-ya, aku tidak bisa konsentrasi kalau kau menghidupkan televisinya!" protes Jaejoong lagi. Yunho mendecih kesal. Tanpa banyak bicara ia mematikan televisi dan berjalan menuju kamarnya.

"Yunnie-ya? Kau marah?" tanya Jaejoong sembari menatap punggung Yunho yang menjauh. "Yunnie-yaaa~?" panggil Jaejoong sekali lagi, kali ini menggunakan nada manja yang jadi andalannya kalau Yunho marah.

Namun sepertinya nada manja itu tidak mempan saat ini, karena Yunho tetap melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar mereka. Jaejoong menghela napasnya. Ia ingin menyusul Yunho, tapi Jaejoong tahu kalau menyusul Yunho sekarang ia pasti tidak bisa melanjutkan PR-nya. Akhirnya Jaejoong memutuskan untuk menyelesaikan PR-nya terlebih dahulu.

Jam menunjukkan pukul satu lewat ketika Jaejoong menyelesaikan PR-nya. Pria cantik itu tersenyum sambil menyusun bukunya. Namun senyumnya hilang ketika ia ingat bahwa dirinya masih punya satu PR lagi. Yup, menenangkan seorang Jung Yunho. Jaejoong yakin kalau Yunho masih marah padanya. Dan Jaejoong yakin pula untuk menenangkan amarah suaminya itu pasti mengorbankan waktu tidur dan mungkin 'lubang'nya juga.

'Krieeett'

Jaejoong membuka pintu kamarnya perlahan. Didapatinya kamarnya dalam keadaan remang-remang. Hanya lampu kecil di samping tempat tidur yang menyala. Jaejoong juga melihat gundukan di balik selimut yang ia yakini bahwa itu adalah Yunho. Yunho tidak tidur, Jaejoong tahu itu. Yunho tidak akan tidur kalau dirinya belum tidur, begitulah kebiasaan suaminya yang tampan itu.

Setelah mengganti kausnya dengan piyama dan meletakkan buku di rak buku, Jaejoong merangkak menaiki kasur dan menduduki tubuh Yunho yang seluruhnya ditutupi oleh selimut itu. Yunho tidur dengan posisi menyamping, sehingga Jaejoong kini duduk di pinggangnya.

"Yunnie-yaaa~~~" gumam Jaejoong manja. Tangannya menarik ujung selimut, namun ada tangan lain yang menahan selimut itu. Sesuai dugaannya, Yunho belum tidur.

"Mianhae Yunnie-ya~ Jangan marah padaku, ne?" ujar Jaejoong lagi sambil jarinya menusuk-nusuk pipi Yunho yang tertutup selimut.

"…"

"Aku tahu kau pura-pura tidur Yunnie-ya~ Jangan seperti ini, please?"

"…"

Jaejoong menghela napasnya. Yunho bukanlah tipe yang gampang merajuk seperti ini, tapi sekalinya merajuk akan susah membujuknya. "Yunnie-yaaaaa~~~" rengek Jaejoong sambil mengguncang-guncang bahu Yunho. Pria cantik itu memang mengantuk, tapi ia tidak mau tidur dalam keadaan bermusuhan dengan Yunho.

Jaejoong sedikit tersentak ketika Yunho membalikkan tubuhnya, sehingga kini Yunho berbaring dengan posisi telentang. Sekali lagi, masih dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Jaejoong yang tadi di pinggang Yunho, kini duduk di perut sixpack pria itu.

Kembali Jaejoong berusaha menarik ujung selimut, namun Yunho masih menahannya. Pria bermata indah itu mulai kesal dan kehabisan ide. Ia tidak tahu harus mengatakan apa untuk membujuk pria Jung ini. Ah, tidak kehabisan ide sih. Sebenarnya masih ada satu cara, namun Jaejoong ragu untuk mencobanya.

"Yunnie-ya! Aku akan kesal kalau kau tidak juga membuka selimut ini!" seru Jaejoong. Tapi sama seperti tadi, tetap tidak ada reaksi.

Jaejoong menghela napasnya. Oke, ini cara terakhir yang ia pikirkan. "Aku akan liburan ke Jepang, aku akan kencan dengan Siwon!" Jung Jaejoong mulai mengancam. Namun sayang disayang ancamannya tidak digubris sama sekali.

Pria cantik itu mulai mengerutkan alisnya karena kesal. Dengan cepat ia bangkit dari atas tubuh Yunho dan menuruni kasurnya. "Kalau kau marah padaku, aku juga akan marah padamu!" gerutu Jaejoong. Kini ia berniat untuk tidur di kamar Changmin saja.

Tetapi belum sempat ia melangkahkan kakinya, lengan kirinya ditarik kuat. Otomatis membuat tubuh rampingnya terhempas ke kasur. Dan dalam sekejap seseorang menindih tubuhnya.

Yunho tersenyum atau tepatnya menyeringai melihat wajah Jaejoong yang cemberut. Pasti kesal karena Yunho tiba-tiba menariknya ke kasur. Dengan perlahan ia mengusap bibir Jaejoong, "Berani sekali kau ingin kencan dengan lelaki lain."

"Memang kenapa?" tantang Jaejoong.

"Kau tidak akan ke Jepang, Joongie-ya…"

"Huh?" Jaejoong menarik alisnya, "Wae?"

Senyum licik bagai serigala terukir di wajah tampan pria berusia dua puluhan itu. Ia menundukkan wajahnya lebih rendah. Membuat bibirnya nyaris bersentuhan dengan bibir Jaejoong. "Kau tidak akan kemana-mana Joongie-ya, karena aku akan membuatmu tidak bisa berjalan."

"Ap- Mmmmph!"

.

.

.

Bocah mungil berambut lurus itu menggerak-gerakkan badannya gelisah. Membuat sprai kasurnya berantakan dan selimutnya bergeser. Dengan enggan ia membuka matanya yang sangat mengantuk. Ia mendudukkan dirinya di tempat tidur sambil mengucek matanya.

"Aaahh… Uhh! Ahhhh… Yuuuunh~"

"Cuala itu lagi~" gerutu bocah kecil yang terganggu tidurnya, "Kemalin-kemalin juga kedengelan~ Omonaaa… Min jadi nggak bica bobok nih…" Bocah bernama Changmin itu menguap lebar. Ia mengambil boneka bintangnya dan mendekapkan kepalanya kesana. Berharap tidak lagi mendengar suara 'ahh-uhh' yang mencurigakan itu.

==tbc==

a/n :: Apdet! Apdet! *tepuk2 jidat chunnie*Belakangan ini wall and inbox fb saia penuh dengan chingudeul yang minta ff ini secepatnya di-apdet. Hahaha… Yosh~ nih udah apdet~ Pendek ya? Hahaha… Mood saia lagi berantakan~

Untuk chap depan akan berpusat pada Changmin dan Kyuhyun ^^. Sekali-kali pengen dua bocah ini yang jadi bintang utamanya~

Okelah… Silakan di-ripiu~~~