Not Just Babysitter
Chapter 11
Main Casts : Oh Sehun, Xi Luhan (GS), Oh Haowen (OC)
Support Casts : Find it by yourself
Genre : AU, Family, Romance
Length : Multichapter
2016©Summerlight92
Note : Silakan cek akun instagramku (summerlight92) terlebih dahulu. Ada postingan yang berkaitan dengan chapter ini ^^
Mata rusa Luhan berkedip-kedip. Ia baru saja keluar dari rumah Jiyoon, kemudian dikejutkan dengan keberadaan Sehun yang sudah menunggu di depan rumah anak didiknya itu. Sehun masih mengenakan setelan jas formal, membuat Luhan bisa menebak jika pria itu datang dari kantor.
"Luhan-ssaem, ahjussi itu siapa?"
Pertanyaan polos yang meluncur dari bibir Jiyoon membuyarkan lamunan Luhan. Ah, terlalu lama fokus pada Sehun, Luhan sampai melupakan Jiyoon yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
Sehun berjalan pelan menghampiri Luhan. Ia tersenyum geli melihat kekasihnya tampak kebingungan ketika berbicara dengan Jiyoon. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Sehun sempat membaca gerak bibir Jiyoon yang menanyakan dirinya.
"Annyeong, Jiyoonnie~"
Luhan terkejut mendengar Sehun memanggil nama Jiyoon. Sempat ingin bertanya dari mana Sehun mengetahui nama Jiyoon, tetapi urung dilakukan. Luhan ingat siapa kekasihnya. Tidak ada informasi yang sulit untuk dicari oleh pria itu.
"Ahjussi siapa?" tanya Jiyoon dengan mata berkedip polos.
Sehun mengulurkan tangan yang segera disambut Jiyoon. "Aku Oh Sehun. Calon suami Luhan-ssaem," jawabnya santai, tapi sukses membuat mata Luhan melotot. Bukan apa-apa. Pasalnya Sehun mengatakan kalimat itu tidak hanya di depan Jiyoon saja, melainkan di depan Minjung—ibu Jiyoon.
Luhan tersenyum kikuk kala mendapati tatapan penuh selidik dari Minjung. Kontras dengan Jiyoon yang seketika memandangi Sehun dengan mata berbinar-binar.
"Jadi Sehun-ahjussi calon suami Luhan-ssaem?"
Sehun mengangguk, lalu melirik sekilas ke arah Minjung sambil memasang senyum khasnya. Seolah menyapa wanita itu dengan anggukan kepala.
"Aku tidak tahu kalau Luhan sudah mempunyai calon suami," kata Minjung setelah bersalaman dengan Sehun. Ia tertawa kecil ketika mengetahui Luhan tengah memasang wajah cemberut yang sangat imut.
"Statusku tidak penting, Eonni," ucap Luhan sekenanya.
"Ey, tentu saja penting, Lu. Kalau kau masih berstatus single, tadinya aku berniat menjodohkanmu dengan salah satu kenalanku."
Suasana berubah hening. Baik Luhan maupun Sehun sama-sama diam, hingga akhirnya terdengar gelak tawa milik Minjung.
"Astaga, lihat wajah kalian berdua. Aku hanya bercanda," tutur Minjung dengan wajah tanpa dosa. Wanita itu kembali tertawa melihat pipi Luhan menggembung lucu, sedangkan Sehun hanya tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Luhan sedikit ketus pada Sehun.
"Aku datang untuk menjemputmu. Bukankah malam ini kita akan berkencan?"
Cubitan sayang langsung diterima Sehun. Wajah Luhan merah padam, ia malu sekali karena Sehun mengatakan rencana kencan mereka secara gamblang di depan Minjung dan Jiyoon.
"Wow, bagus sekali. Kau mendapatkan calon suami yang romantis, Lu," bisik Minjung sambil terkekeh pelan. Sayangnya itu lebih tepat dikategorikan ucapan biasa daripada bisikan. Sebab Minjung mengatakannya dengan suara cukup keras.
"Ish, kau menyebalkan!" desis Luhan seraya menatap tajam kepada Sehun yang lagi-lagi hanya tersenyum penuh arti.
"Ayo, kita tidak punya banyak waktu," Sehun menarik tangan Luhan yang disambut tatapan bingung kekasihnya itu.
"Mobilku?"
"Tenang saja. Biar Hyunjoong yang membawa mobilmu pulang ke rumah," jawab Sehun lalu mengulum senyum kepada Minjung dan Jiyoon. "Kami pergi dulu."
Minjung mengangguk, "Selamat bersenang-senang. Semoga acara kencan kalian berjalan lancar," katanya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Eonni!"
Jiyoon yang tidak mengerti obrolan orang dewasa hanya memandangi mereka dengan senyuman. Ia menarik tangan Sehun, membuat pria itu menatapnya dengan kerutan di dahi.
"Ahjussi tampan sekali. Cocok dengan Luhan-ssaem yang cantik. Hihi~"
Wajah Luhan kian merona karena ucapan Jiyoon. Dalam hati, wanita itu mengumpat kecil. Ibu dan anak sama saja.
"Terima kasih. Jiyoon juga manis sekali," balas Sehun dan sukses membuat Jiyoon beralih memeluk ibunya. Minjung tertawa melihat gelagat putrinya, lalu tersenyum menanggapi ucapan pamit Luhan yang segera membawa Sehun pergi.
Keduanya masuk ke dalam mobil Sehun. Pria itu membantu Luhan memasang seat belt. Gerakannya yang begitu tiba-tiba sempat membuat Luhan terkesiap kaget.
"Kau tidak perlu melakukannya. Aku bisa memakainya sendiri," kata Luhan dengan pipi menggembung lucu.
"Tapi aku ingin melakukannya," Sehun menjawab polos lalu mencium singkat pipi Luhan. Kali ini menyisakan warna merah pekat yang menghiasi wajah sang kekasih.
Luhan berusaha keras menetralisir debaran jantungnya yang semakin tak terkendali. Bukan hanya karena sikap Sehun, melainkan mengingat malam ini adalah kencan pertama mereka. Ya Tuhan, rasanya benar-benar gugup sekali.
"Kita mau ke mana?"
"Aku akan membawamu ke tempat yang menarik. Tapi sebelum itu," Sehun tersenyum, "kita pergi ke butik Jaejoong-noona."
Luhan mengerutkan dahi, "Untuk apa?" tanyanya bingung.
Terlalu gemas melihat wajah polos kekasihnya, Sehun kembali mencium pipi Luhan. Sukses membuat bibir wanita itu mencebil imut.
"Kita perlu mengganti pakaian, Sayangku." Sehun tertawa kecil, "Kita harus terlihat tampan dan cantik untuk kencan pertama kita."
..
..
..
Jaejoong menyambut kedatangan Sehun dan Luhan dengan penuh suka cita. Ia memeluk pasangan kekasih itu secara bergantian.
"Semua sudah siap, Noona?" tanya Sehun memastikan.
Jaejoong mengangguk, kemudian dengan semangat menarik Luhan untuk mengikutinya. Sesekali ia tertawa kecil melihat gelagat Luhan yang tampak kebingungan. "Sehun menyuruhku untuk membantumu bersiap, Lu," ucapnya sambil berbisik.
Luhan tidak berkata apapun, membiarkan Jaejoong membawanya masuk ke ruang khusus. Ia terpana melihat sebuah ruangan yang memiliki cermin besar, dilengkapi dengan meja rias dan peralatan lainnya. Di sudut ruangan terdapat area wardrobe juga kamar pas yang berdampingan.
"Sebenarnya ini ruangan pribadiku." Jaejoong tersenyum geli melihat perubahan ekspresi wajah Luhan. "Dan kurasa sangat cocok untuk dipakai dalam situasi seperti ini."
Luhan membalas ucapan Jaejoong dengan senyuman. "Maaf kalau merepotkanmu, Eonni," tuturnya dengan kepala sedikit tertunduk. Bukan tanpa alasan, ia tahu Jaejoong saat ini tengah sibuk menyiapkan rencana pernikahan dengan Yunho yang akan dilaksanakan kurang dari 1 bulan ke depan.
"Sama sekali tidak. Aku justru senang, Lu." Jaejoong menuntun Luhan untuk duduk di depan meja rias. "Kau harus tampil cantik di hari kencan pertamamu dengan Sehun. Ayo kita buat pria itu terpesona sampai lupa menutup mulutnya. Hihi~"
Tawa Luhan berderai. Berkat Jaejoong, rasa gugup yang menderanya perlahan mulai berkurang.
"Baiklah," Luhan menarik napas panjang, "Mohon bantuannya, Eonni."
Jaejoong mengedipkan sebelah mata, "Serahkan saja padaku," balasnya sambil tersenyum lebar. Ia mulai mengambil beberapa peralatan make up. Jaejoong menatap wajah Luhan lamat-lamat, meyakini bahwa wanita itu akan sangat cocok memakai make up natural. Ini pendapatnya berdasarkan pertemuan terakhir mereka sewaktu acara makan malam di rumah orang tua Sehun. Jaejoong menilai kalau Luhan lebih menyukai tampilan sederhana, namun terkesan elegan dan anggun.
Selanjutnya Jaejoong menata rambut Luhan, mengubahnya sedikit bergelombang di bagian bawah. Selesai mendadani Luhan, Jaejoong tersenyum puas memandangi hasil karyanya.
"Sudah kuduga kau akan sangat cocok dengan dandanan seperti ini," puji Jaejoong yang membuat wajah Luhan bersemu. Ia kemudian berlari memasuki wardrobe, mengambil sebuah dress warna peach dengan motif bunga berwarna putih.
Luhan menyukai pilihan Jaejoong. Dengan penuh semangat, ia segera mengganti pakaiannya dengan dress pilihan wanita itu.
"Kyaaa ... kau cantik sekali!" Jaejoong memekik histeris ketika Luhan keluar dari kamar pas.
Luhan tersenyum malu-malu, matanya berbinar saat menatap sebuah blaser berwarna senada dengan dress yang ia kenakan.
"Pakailah. Kau tidak hanya akan terlihat cantik, namun juga elegan dan anggun."
Luhan menuruti ucapan Jaejoong, memakai blaser tersebut tanpa ragu.
"Sempurna!" Jaejoong bertepuk tangan gembira, lalu menarik Luhan dengan semangat. "Ayo. Sehun pasti sudah menunggu."
Luhan tidak sempat mengelak karena sejujurnya masih merasa malu untuk bertemu Sehun. Sayang, Jaejoong terlalu bersemangat membawa Luhan keluar dari ruangan pribadinya. Wanita itu terus menundukkan kepala, tanpa tahu jika Sehun yang sudah siap dan sedang duduk di salah satu sofa, kini menatap kagum ke arahnya.
Jaejoong menyikut pelan lengan Luhan, membuat wanita itu terkesiap hingga akhirnya memusatkan pandangan kepada Sehun. Mata Luhan nyaris tak berkedip melihat bagaimana penampilan Sehun.
Pria itu mengenakan kemeja bergaris warna putih dengan dalaman turtleneck cokelat tua, dibalut dengan blaser warna hitam. Jika biasanya rambut Sehun ditata ke atas, kini pria itu membiarkan poninya menutupi kening.
Luhan masih mematung di tempat, menyelami penampilan Sehun yang luar biasa tampan. Tanpa menyadari pria itu sudah berjalan mendekat ke arahnya.
"Kau cantik sekali," Sehun memuji penampilan Luhan, kemudian mengecup singkat kening wanita itu. Jeritan histeris terdengar dari pelanggan lain dan juga beberapa asisten Jaejoong. Sementara si pemilik butik sendiri hanya menggelengkan kepala. Tahu dengan jelas bagaimana sikap Sehun yang memang tak jauh berbeda dari Yunho.
"Ka-kau juga terlihat tampan."
Pujian yang dilontarkan Luhan membuat Sehun senang bukan main. Terlebih bagaimana cara wanita itu menyampaikannya dengan kepala tertunduk. Terkesan malu-malu namun sangat menggemaskan.
"Terima kasih, Noona. Aku memang tidak salah mengandalkanmu," ucap Sehun dengan senyuman lebar layaknya orang kasmaran.
Jaejoong tertawa kecil. "Pergilah dan selamat bersenang-senang. Ingat, kau harus membawanya pulang dengan selamat, Oh Sehun."
Sehun tergelak, "Kami hanya berkencan di Seoul. Aku bukan Yunho-hyung yang membawa wanitanya pergi ke luar kota," ucapnya sambil mengedipkan mata dan sukses membuat wajah Jaejoong merah padam.
"Aish, beruang gendut itu akan kuhukum!"
Luhan hanya mengedipkan matanya beberapa kali mendengar tawa Sehun yang menggelegar. Sampai akhirnya memekik kaget karena tiba-tiba pria itu menggenggam tangannya erat, lalu membawanya keluar dari butik Jaejoong. Sebelum benar-benar keluar dari butik, Luhan sempat berteriak untuk mengucapkan terima kasih pada Jaejoong. Setelahnya ia menatap kesal kepada Sehun karena telah bersikap tidak sopan.
"Ish, kau ini tidak sopan sekali!" Bibir Luhan mencebil imut, kedua tangannya terlipat di depan dada.
Sehun terkikik geli melihat bagaimana Luhan merajuk seperti anak kecil. Dengan gerakan kilat, ia mencium bibir Luhan, dan sukses membuat wanita itu mengerjapkan matanya polos.
"Sudah, jangan merajuk lagi." Sehun menyentil hidung Luhan dengan gemas, lalu kembali meraih tangan wanita itu. "Ayo, aku akan membawamu ke tempat yang menyenangkan."
Luhan tidak melakukan protes lagi, terlanjur menikmati genggaman tangan Sehun yang begitu hangat. Jantungnya kembali berdetak liar. Rasanya Luhan ingin sekali berteriak heboh setiap kali mengingat malam ini adalah kencan pertamanya dengan Sehun. Ia menggelayut manja sambil memeluk lengan Sehun. Mengabaikan bagaimana pria itu terkekeh pelan melihat gelagatnya seperti remaja tanggung yang sedang kasmaran.
..
..
..
Decakan kagum terus keluar dari bibir Luhan. Ia tidak menduga jika Sehun akan membawanya ke sebuah pasar malam yang cukup ramai. Tadinya ia berpikir Sehun akan mengajaknya ke restoran mewah atau sejenisnya. Namun dugaan Luhan meleset.
Melihat bagaimana ekspresi wajah Luhan, Sehun menghela napas lega. Ia sempat khawatir jika Luhan tidak suka dengan tempat pilihannya. "Kau suka?" tanyanya memastikan.
Luhan mengangguk semangat dengan senyuman mempesona. "Kenapa kau mengajakku ke sini?"
"Di sini banyak tempat yang menjual aneka jajanan, aksesoris dan perlengkapan lainnya. Lalu di ujung sana ada aliran Sungai Han. Kata orang di sana adalah tempat yang sangat romantis," jawab Sehun bersemangat. "Aku tidak mengajakmu ke restoran mewah atau sejenisnya karena kupikir itu sudah terlalu biasa. Maksudku, jika kita pergi ke sana kita hanya duduk, menikmati makan malam dengan alunan musik klasik yang terkadang sedikit membosankan. Kita hanya bisa saling menggenggam tangan satu sama lain dengan meja makan yang menghalangi."
Luhan mengernyitkan dahi ketika Sehun kembali meraih tangannya. Pria itu tersenyum penuh arti, lalu dengan gerakan lembut mulai mengusap wajahnya yang kini memerah.
"Jika di tempat seperti ini, aku bisa leluasa menggenggam tanganmu, menyentuh wajahmu, dan yang terpenting," Sehun menyatukan bibir mereka secara sempurna, "aku bisa menciummu kapanpun aku mau."
Rasa malu yang sempat menghinggapi Luhan langsung menghilang dalam sekejap mata. Ia memandang sekeliling, banyak pasangan yang juga menghabiskan waktu mereka di sini. Tak sedikit dari mereka melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Sehun barusan. Ah, sepertinya tempat ini memang sangat cocok untuk lokasi berkencan.
"Aku ingin ke ujung sana," pinta Luhan dengan nada malu-malu.
"Tentu, Sayangku." Sehun mengecup pipi Luhan. "Tapi sebelum kita ke sana, sebaiknya kita makan dulu. Kau pasti sudah lapar."
Luhan mengangguk setuju. Ia memeluk lengan Sehun dan kembali bergelayut manja. Keduanya berjalan seirama menikmati suasana pasar malam yang semakin ramai jelang jam makan malam. Mereka memilih salah satu kedai yang menjual makanan khas Korea Selatan.
Setelah mengisi perut, Sehun mengajak Luhan berkeliling sepanjang pasar makan malam. Ia tidak bisa berhenti menahan senyuman ketika melihat Luhan sangat bersemangat membawanya bersinggah dari satu kedai ke kedai yang lain. Tidak hanya mencicipi jajanan khas, tetapi juga membeli aksesoris lucu lainnya yang biasa dipakai oleh pasangan kekasih saat sedang berkencan.
Ada salah satu kedai yang menjual aksesoris bando dengan hiasan menyerupai telinga binatang. Luhan mengambil bando bertelinga rusa yang langsung ia pakai, kemudian memilihkan bando bertelinga serigala untuk Sehun. Awalnya Sehun menolak karena merasa malu. Namun berkat kekuatan puppy eyes milik Luhan, Sehun akhirnya luluh dan menuruti kemauan wanita itu.
"Ayo kita berfoto," Luhan mengeluarkan ponselnya, mengarahkan kamera agar mereka melakukan selfie.
Sehun terkikik geli. Luhan benar-benar mirip sekali dengan seorang remaja yang baru pertama kali melakukan kencan. Barangkali memang demikian adanya, mengingat Luhan pernah bercerita bahwa ia adalah pria pertama yang menjalin hubungan dengan wanita itu.
"Say cheese!"
Tidak hanya memasang pose konyol, tetapi mereka juga memasang pose romantis di mana Sehun dan Luhan saling mencium pipi masing-masing. Mereka juga meminta bantuan orang lain untuk mengambil foto. Sebenarnya ini permintaan Sehun. Ia ingin sekali diambil foto ketika sedang memeluk Luhan, entah dari samping maupun dari belakang. Bahkan tanpa tahu malu, Sehun mencium bibir Luhan ketika sedang diambil foto.
"Kau benar-benar mesum, Tuan Oh," desis Luhan tajam sambil mencubit pinggang Sehun. Pria itu hanya meringis lebar. Sesekali mengusap pinggangnya yang kesakitan karena dicubit Luhan.
"Kalian benar-benar pasangan yang serasi."
Celetukan dari pasangan remaja yang sempat membantu mengambilkan foto membuat keduanya menoleh kompak.
"Apa kalian pasangan suami-istri?" tanya gadis itu dengan bersemangat.
Luhan menggeleng kencang, "Kami belum menikah," cicitnya.
"Tapi tak lama lagi kami akan segera menikah," sambung Sehun tak kalah cepat yang sukses membuat wajah Luhan merona.
Mereka tersenyum melihat interaksi Sehun dan Luhan yang sekilas memang lebih mirip pasangan suami-istri.
"Kalau begitu kami ucapkan selamat. Semoga kalian hidup bahagia," si pemuda menggandeng si gadis yang sedari tadi mencuri foto Sehun dan Luhan dengan kamera ponselnya. "Kami juga berharap kelak bisa mengikuti kalian untuk segera menikah."
"Tentu. Kami doakan semoga kalian juga hidup bahagia," balas Sehun.
Pasangan remaja itu berpamitan dengan Sehun dan Luhan. Tak lupa keduanya mengucapkan terima kasih karena sudah membantu mengambilkan foto mereka.
Setelah puas mengambil foto berkencan, Sehun membawa Luhan pergi ke ujung jalan. Ada beberapa pasangan yang tengah menikmati pemandangan Sungai Han di malam hari.
Sehun menuntun Luhan untuk duduk di salah satu bangku panjang yang kebetulan sedang kosong. Keduanya menyamankan posisi dekapan mereka sambil menatap ke depan. Pemandangan Sungai Han di malam hari memang terkenal sangat indah dan romantis. Sorotan lampu warna-warni dan semacam air terjun buatan dengan berbagai gerak air membuat Sungai Han terlihat begitu mempesona.
"Kau senang?" tanya Sehun sambil mengusap lembut rambut Luhan. Sesekali ia mengecup pucuk kepala sang kekasih, menghirup aroma madu kesukaannya.
"Eum," Luhan menyamankan posisi kepalanya yang kini bersandar di bahu Sehun. "Apa sebelumnya kau pernah mengajak Hanna ke sini?"
"Dulu aku ingin sekali mengajaknya ke sini. Sangat disayangkan Hanna tipe wanita yang tidak terlalu suka dengan keramaian." Sehun tersenyum dan untuk kesekian kali mencium pipi Luhan. "Kau yang pertama, Sayangku."
Perasaan bangga muncul dalam diri Luhan. Ia semakin mengeratkan pelukan tangannya di sekitar pinggang Sehun. "Kapan-kapan aku ingin ke sini lagi," bisiknya pelan dengan nada manja.
Sehun tertawa kecil, "Tentu, Sayangku. Kapanpun dan ke manapun kau ingin pergi, aku akan menurutimu."
Luhan tersenyum bahagia mendengar jawaban Sehun. Ia berniat menyandarkan kepalanya, namun urung ketika tangan Sehun menyentuh dagunya, kemudian menuntun wajah mereka agar saling berhadapan satu sama lain.
"Saranghae."
Sata kata yang penuh makna terucap dari bibir Sehun.
"Nado saranghae."
Dan balasan Luhan membuat kebahagiaan mereka terasa semakin lengkap. Dalam hitungan detik, wajah mereka mendekat hingga bibir keduanya menyatu dalam ciuman lembut yang memabukkan.
..
..
..
Sehun dan Luhan sampai di rumah jelang jam 10 malam. Keduanya turun dari mobil dan kembali bergandengan tangan saat berjalan memasuki rumah. Langkah Luhan mendadak terhenti saat matanya menangkap keberadaan mobil lain yang terparkir di depan rumah. Luhan membelalakkan matanya lebar ketika mengenali mobil tersebut.
Itu 'kan mobil Yifan-oppa.
"Sayang, ada apa?" tanya Sehun bingung karena mendapati Luhan terdiam dengan pandangan ke arah lain. Ia pun ikut memperhatikan apa yang sedari tadi menjadi pusat fokus Luhan. "Sepertinya sedang ada tamu."
Luhan buru-buru mencengkeram kuat lengan Sehun, membuat pria itu menatapnya heran. "Ada apa?" tanyanya bingung dengan perubahan sikap Luhan.
Tak ada jawaban yang keluar dari Luhan. Hanya gumaman tidak jelas yang membuat Sehun kian penasaran.
"Ayo kita masuk," ajak Sehun sambil menggandeng tangan Luhan. Rasa penasaran Sehun kian bertambah ketika merasakan genggaman tangan Luhan semakin mengerat. Sungguh ia bingung dengan sikap Luhan yang seolah enggan untuk masuk ke dalam rumah.
"APPA! EOMMA!"
Teriakan khas Haowen menyambut Sehun dan Luhan yang baru masuk ke ruang tengah. Sehun terkejut mengetahui putranya belum tidur, namun ia lebih dikejutkan dengan keberadaan sosok pria yang berjalan di belakang Haowen.
"Kris?"
Luhan mendesah pelan, kesal karena firasatnya benar jika mobil yang dilihat di depan memang mobil Yifan. Padahal ia sudah berharap tebakannya akan meleset. Luhan pun menghadiahi tatapan menuntut penjelasan pada Yifan yang diam-diam tersenyum menyeringai.
"Kenapa baru pulang? Haowen dari tadi menunggu Appa dan Eomma," rengek Haowen dengan bibir mencebil imut. "Untung saja ada Kris-ahjussi yang menemani Haowen bermain."
Sehun tidak mengatakan apapun, selain membiarkan Haowen langsung bergelayut manja pada Luhan. Atensinya lebih terfokus pada Yifan -yang ia kenal sebagai Kris. Pria berambut pirang itu tampak mengambil sesuatu dari atas meja. Sebuah buket bunga.
"Apa yang sedang kau lakukan di rumahku?" tanya Sehun dingin.
"Aku datang ke sini untuk bertemu dengan Luhan." Yifan menjawab santai dengan gaya khasnya. "Tadi aku sempat ke rumah orang tuanya yang ada di Incheon, kupikir Luhan ada di sana. Mereka bilang Luhan sudah lama tinggal di Seoul, di apartemen. Tapi kata mereka belakangan ini Luhan mulai tinggal di rumahmu. Untuk itulah aku datang ke sini."
Luhan terkesiap melihat Yifan menyodorkan buket bunga kepadanya.
"Ini untukmu," Yifan mengedipkan sebelah mata. Seolah berlagak sedang menggoda gadis incarannya. Luhan ingin sekali melempar buket bunga itu ke wajah kakaknya, namun Yifan sempat melotot. Memberi isyarat untuk mengikuti skenario yang sudah disepakati.
"Terima kasih," jawab Luhan lirih. Tidak berani keras-keras karena ia bisa melihat bagaimana kemarahan tergambar jelas di wajah Sehun.
Dalam hati Luhan mengumpat Yifan habis-habisan. Seenaknya datang ke rumah Sehun tanpa memberitahu terlebih dahulu. Merusak mood orang yang sedang bahagia setelah berkencan.
"Ahjussi, terima kasih sudah menemani Haowen. Besok datang ke sini lagi, ne? Haowen ingin bermain lagi dengan Ahjussi."
Sehun dan Luhan terkejut mendengar kalimat polos yang diucapkan Haowen. Berbeda dengan Yifan yang tampak mengulum senyum sambil mengusap kepala bocah laki-laki berusia 7 tahun itu.
"Tentu, besok ahjussi akan datang lagi ke sini. Sekarang Haowen tidur, ne?"
"Eung~" Haowen melirik Luhan, kemudian meraih tangannya. "Eomma, temani Haowen sampai tidur~"
Tanpa sempat memberikan respon, Luhan terlanjur ditarik Haowen pergi menuju tangga. Sesekali wanita itu melirik ke belakang, memastikan Sehun dalam kondisi baik-baik saja. Meskipun ia tidak yakin karena sempat menangkap kilatan api kemarahan dalam tatapan Sehun yang dilayangkan kepada Yifan.
"Kau sudah bertemu dengan Luhan. Sebaiknya kau pulang sekarang."
Yifan menanggapi ucapan Sehun dengan santai. "Aku memang akan pulang sekarang," jawabnya sok polos. Dalam hati berusaha menahan tawa ketika melihat wajah kesal Sehun. Ia puas sekali menjahili calon adik iparnya itu.
"Kau tahu, aku terkejut saat mengetahui Luhan tinggal di rumah ini. Bukankah tidak pantas, seorang pria dan wanita yang tidak terikat hubungan pernikahan tinggal di dalam satu rumah? Bagaimana jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?"
"Dalam waktu dekat kami akan segera menikah." Sehun menjawab dengan penuh keyakinan. "Dan kau tenang saja, aku sangat menghormati calon istriku. Aku tidak akan berbuat lebih sebelum kami benar-benar menikah. Lagi pula, kami tidur di dalam kamar yang terpisah. Selain itu, anakku tidak bisa lepas dari Luhan. Itu sebabnya aku meminta Luhan untuk tinggal di sini."
Yifan menaikkan sebelah alisnya, "Kau menganggap Luhan sebagai pengasuh anakmu, eoh?"
"Dia bukan sekedar pengasuh biasa untuk Haowen." Sehun tersenyum penuh arti, "Dia calon ibu Haowen dan juga anak-anak kami nanti."
Wajah Yifan tampak datar, kontras dengan suasana hatinya yang sangat puas dengan jawaban Sehun. Meski begitu, ia belum berniat mengakhiri permainan yang baru saja dimulai. Masih ada sedikit rasa kesal karena perlakuan Sehun sebelumnya kepada Luhan, sehingga memunculkan berbagai rencana untuk menjahili pria itu.
"Rupanya begitu." Yifan mengangguk-angguk, kemudian tersenyum menyeringai. "Jadi ... selama kalian belum resmi menikah, artinya aku masih memiliki kesempatan."
Mata Sehun membelalak lebar.
"Persiapkan dirimu, Tuan Oh." Yifan berbisik dengan nada penuh ancaman. "Sedikit saja kau lengah, kupastikan Luhan akan berpindah ke sisiku."
"Kau ..." Sehun mati-matian menahan emosinya, mengingat Minseok dan Jongdae masih berada di ruang tengah.
"Aku pamit, sampaikan salamku untuk Luhan." Yifan menepuk bahu Sehun dengan santai, kemudian menganggukkan kepala ke arah Minseok dan Jongdae.
"Huh, menyuruhku menyampaikan salam untuk Luhan?" Sehun berdecih kesal. "Jangan bermimpi!"
Sehun menatap sekilas pada Minseok dan Jongdae yang masih betah membisu. Tanpa menyapa keduanya, Sehun berjalan kesal menuju ruang kerja. Suara bantingan pintu yang keras membuat pasangan suami-istri itu saling memandang, kemudian tertawa tanpa sepengetahuan Sehun.
"Belum pernah aku melihat Sehun emosi seperti itu," Minseok menyeka matanya yang sedikit berair. "Aku jadi semakin penasaran. Kira-kira apa lagi yang direncanakan kakak Luhan untuk menguji Sehun?"
"Aku juga penasaran. Kurasa besok Yifan-hyung akan datang ke sini lagi," sahut Jongdae.
"Menurutmu begitu?"
Jongdae mengedikkan bahu, "Kita lihat saja nanti. Tunggu kejutan dari Yifan-hyung."
Minseok mengangguk, kemudian tertawa lagi bersama suaminya. Mereka teringat kembali kejadian beberapa jam lalu.
Flashback
Minseok baru saja membuka pintu dan dikejutkan dengan kedatangan pria berambut pirang yang sudah berdiri di sana. Ia berniat menanyakan siapa gerangan pria itu, namun seruan Haowen dari belakang sedikit menjawab pertanyaannya.
"Samchon~"
Minseok terkejut melihat Haowen langsung melompat ke dalam pelukan pria tak dikenal yang baru saja datang.
"Haowen?"
Haowen menoleh lalu tersenyum kepada Minseok. "Ahjumma, ini Yifan-samchon. Saudara eomma."
Mata Minseok berkedip-kedip, "Kau ... kakak Luhan?"
Yifan mengangguk, kemudian membawa Haowen yang merengek ingin minta digendong. "Xi Yifan. Senang bertemu denganmu."
"Ah, namaku Kim Minseok. Aku kepala pelayan di rumah ini." Minseok mendadak gugup karena terlalu kaget dengan kedatangan kakak Luhan. "Senang bertemu denganmu, Yifan-ssi."
"Tidak perlu terlalu formal. Panggil saja aku oppa." Yifan tersenyum ramah. "Aku satu tahun lebih tua darimu."
"Baiklah, Yifan-oppa." Minseok ikut tersenyum. Rasa gugup yang sempat menderanya perlahan menghilang kala melihat interaksi Haowen dan Yifan. Diam-diam ia memperhatikan keduanya. Ada yang janggal di sini. Bagaimana Haowen bisa mengenal kakak Luhan? Apakah mereka sudah pernah bertemu sebelumnya?
"Ada perlu apa Oppa datang ke sini?" Minseok bertanya dengan nada berhati-hati. Takut jika salah bertanya.
Mendengar pertanyaan Minseok, Yifan justru tertawa kecil. "Kau tidak bertanya kenapa aku bisa ada di sini?"
"Aku terlalu bingung sampai tidak tahu harus bertanya apa, Oppa," jawab Minseok jujur.
Tawa Yifan berderai, "Aku akan menceritakan semuanya. Tentang aku, Luhan, dan Sehun, juga Haowen. Asalkan ... kau mau berjanji padaku."
"Berjanji?"
Yifan mengangguk, "Berpura-puralah mengenalku sebagai Kris jika Sehun sedang bersama kita."
Flashback off
Jongdae hanya menggelengkan kepala tiap kali melihat Minseok kembali tertawa seorang diri. Sepertinya wanita itu terlalu senang mengetahui rencana kakak Luhan yang berniat menguji Sehun. Sudah pasti Minseok berada di pihak Yifan.
..
..
..
Luhan menarik selimut untuk menutupi tubuh Haowen yang kini sudah mengenakan piyama. Ia setengah berbaring di samping Haowen, mengusap lembut kepala anak itu dengan penuh kasih sayang.
"Eomma ..."
"Ada apa? Haowen ingin sesuatu?"
Haowen menggeleng pelan, kemudian tersenyum lebar. "Besok Yifan-samchon akan datang ke sini lagi 'kan?"
"Eomma tidak tahu," gerakan tangan Luhan mendadak terhenti setelah mendengar pertanyaan janggal dari Haowen. "Tunggu. Haowen sudah tahu kalau ahjussi tadi Yifan-samchon?"
Haowen mengangguk dengan mata berkedip polos.
"Sejak kapan?"
"Sejak Yifan-samchon datang ke rumah harabeoji dan halmeoni kemarin, Eomma," jawab Haowen jujur. "Samchon bilang, kalau Haowen ingin hadiah, Haowen harus mengikuti kata-kata samchon."
"Termasuk memanggilnya Kris-ahjussi di depan appa?" selidik Luhan curiga.
"Eung~" Haowen tersenyum bangga. "Haowen sudah menuruti kata-kata Yifan-samchon. Pasti hadiah Haowen akan segera terwujud."
"Memangnya Haowen minta hadiah apa sama Yifan-samchon?" tanya Luhan penasaran.
"Haowen ingin adik, Eomma."
"MWO?!" Luhan buru-buru membekap mulutnya setelah sadar baru saja berteriak. Ia menatap Haowen yang masih memasang wajah innocent. "A-adik?"
Haowen mengangguk lagi. "Kata samchon, kalau Haowen sudah menjadi anak yang penurut, Haowen bisa meminta adik pada Eomma. Begitu katanya."
"Samchon bilang begitu?" Luhan sedikit berteriak di akhir kalimatnya.
"Eung~" Haowen tersenyum lebar, "Jadi kapan Haowen punya adik, Eomma?"
Luhan membenamkan wajahnya pada bantal. Dalam hati kembali memaki Yifan yang sudah menggunakan kepolosan Haowen untuk ikut dalam permainannya. Ingatkan aku untuk menghukum naga sialan itu suatu hari nanti.
"Eomma~"
Luhan menarik napas panjang. "Tidak bisa dalam waktu dekat, Sayang. Eomma dan appa 'kan belum menikah."
"Menikah?" Haowen teringat lagi ucapan ayahnya. "Seperti Jongin-samchon dan Kyungsoo-imo?"
Luhan mengangguk.
"Lalu kapan appa dan eomma menikah? Haowen sudah tidak sabar ingin segera punya adik, Eomma."
Sekali lagi, kesabaran Luhan sedang diuji. Ia hanya bisa menghela napas, sambil mengusap kepala Haowen yang kini tengah merajuk dengan bibir mencebil imut.
"Soal itu tanyakan saja pada appa, tapi ..." Luhan tersenyum geli melihat mata memelas Haowen, "kalau Haowen mau bersabar menunggu, berjanji akan menjadi anak yang baik, dan selalu berdoa pada Tuhan, eomma yakin keinginan Haowen akan segera terkabul."
"Jinjja, Eomma?" melihat Luhan mengangguk, semangat Haowen kembali terisi. Luhan tertawa kecil melihat Haowen menangkupkan kedua tangan dengan mata terpejam. Sepertinya anak itu segera memanjatkan doa kepada Tuhan.
"Haowen janji akan bersabar menunggu dan menjadi anak yang baik." Haowen berkata dengan riang. "Sebenarnya setiap hari Haowen selalu berdoa pada Tuhan, Eomma."
Luhan mengerutkan dahi, "Haowen berdoa apa kepada Tuhan?"
"Haowen selalu berdoa pada Tuhan agar menyampaikan pesan Haowen untuk eomma yang ada di surga. Haowen ingin eomma tahu kalau sekarang Haowen sudah tidak kesepian lagi. Sudah ada Luhan-eomma yang menemani Haowen di sini. Haowen selalu berharap akan hidup bahagia bersama appa, Luhan-eomma, dan adik Haowen nanti."
Mata Luhan berkaca-kaca mendengar doa yang dipanjatkan Haowen. Tanpa bisa ditahan lagi, air mata itu menetes mengaliri kedua pipinya.
"Eomma kenapa menangis?" Haowen menangkup wajah Luhan, kemudian dengan lembut mengusap air mata Luhan. "Apa Haowen berbuat salah, Eomma?"
"Aniya, Haowen sama sekali tidak berbuat salah." Luhan buru-buru menghapus air matanya. "Eomma hanya terlalu senang mendengar doa yang diucapkan Haowen kepada Tuhan."
"Jinjja?"
Luhan mengangguk, "Eomma yakin Tuhan akan menyampaikan doa Haowen untuk eomma Haowen yang ada di surga. Eomma juga percaya, Tuhan akan memberikan kebahagiaan kepada kita semua. Haowen akan selalu hidup bahagia bersama appa, eomma, dan adik Haowen nanti."
Haowen tersenyum bahagia, kemudian memeluk Luhan dengan erat. "Haowen sayang sekali sama Eomma."
"Eomma juga sayang sekali sama Haowen." Luhan mengecup kening Haowen, "Sekarang tidur, ne? Besok Haowen harus bangun pagi untuk berangkat ke sekolah."
"Eung~"
Dengkuran halus perlahan mulai terdengar. Luhan tersenyum menatap Haowen yang tampak begitu tenang dalam tidurnya. Dengan gerakan pelan, Luhan turun dari ranjang agar tidak membangunkan anak itu. Kemudian ia mencium kening Haowen dalam waktu cukup lama. Sebelum akhirnya keluar dari kamar Haowen untuk menyelesaikan masalah lainnya.
..
..
..
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sehun memilih menghabiskan waktunya di ruang kerja, masih dengan setelan pakaian yang sama sewaktu berkencan dengan Luhan.
CKLEK!
Sehun menggulirkan pandangan ke arah pintu. Ia buru-buru memalingkan wajah ketika mengetahui siapa yang datang.
"Kau belum tidur?"
Helaan napas panjang keluar dari bibir Luhan. Ia sudah menduga Sehun tengah dalam mode merajuk. Kentara sekali dari cara pria itu yang seolah sengaja menghindari tatapannya. Tak kehabisan akal, Luhan berjalan mendekati Sehun. Pria itu memutar kursinya, sengaja membelakangi Luhan.
Bibir Luhan berkedut. Demi apapun, Sehun tampak lucu ketika sedang merajuk. Benar-benar persis seperti Haowen. Tanpa membuang waktu lagi, Luhan mengalungkan kedua tangannya di sekitar leher Sehun, memeluk pria itu dari belakang, kemudian menghadiahi kecupan lembut di pipinya.
"Kau marah, hm?" Luhan melirik sekilas ke arah Sehun. Wajah pria itu masih tertekuk, kusut seperti pakaian yang belum disetrika.
Tak ada respon dari Sehun membuat Luhan kembali mencari cara lain. Spontan saja, ia duduk di pangkuan pria itu. Luhan tertawa kecil melihat wajah kaget Sehun saat bokongnya mendarat mulus di atas paha pria itu. Luhan menangkup wajah Sehun, memaksa pria itu untuk menatap ke arahnya.
"Jangan menggodaku, Sayang~" Sehun mendesah pelan.
"Kau yang memaksaku melakukannya, Tuan Oh." Luhan mencebil sebal. "Apa kau benar-benar marah padaku? Sejak tadi kau terus mengabaikanku."
Sehun menarik napas panjang-panjang. "Aku tidak marah," jawabnya lirih.
"Lalu kenapa kau diam saja saat aku masuk ke sini?"
Bukan jawaban yang diperoleh Luhan, melainkan sebuah ciuman lembut yang mendarat di bibirnya. Belum sempat Luhan kembali bertanya, Sehun menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
"Aku hanya terlalu takut kau pergi dariku, Lu." Sehun memejamkan matanya sejenak, "Kris ... tadi dia mengancamku. Jika aku lengah, kau akan kembali ke sisinya."
Mata rusa Luhan mengerjap lucu. Tak lama setelahnya ia tertawa pelan, mengundang rasa kesal Sehun yang sebelumnya sempat mereda.
"Kenapa malah tertawa? Kau pikir ini lelucon?!"
Luhan berdeham pelan. Dalam hati kian merasa bersalah pada Sehun yang untuk kesekian kali terpancing omongan Yifan. Andai saja Sehun tahu siapa Yifan. Ah, Luhan bersumpah akan menghukum kakaknya itu jika sampai membuat Sehun frustasi.
"Apa sampai sekarang kau masih meragukanku?" tanya Luhan sambil membelai wajah Sehun.
Sehun tertegun mendengar pertanyaan Luhan. Ia teringat lagi ucapan Yunho sebelumnya, agar tidak meragukan Luhan jika ingin gadis itu berada di sisinya.
"Aniya, aku percaya padamu." Sehun mengeratkan pelukannya pada pinggang Luhan. "Maafkan aku. Tidak seharusnya aku meragukanmu, Sayang."
Luhan tersenyum, lega karena rasa percaya diri Sehun kembali.
"Kalau begitu, kau tidak boleh lengah. Atau aku benar-benar akan kembali ke sisi pria itu."
"Aku tidak akan pernah memberinya kesempatan untuk mendapatkanmu lagi." Sehun memperlihatkan wajah penuh keyakinan. "Kau akan selalu berada di sisiku. Tidak akan kubiarkan pria itu mengambilmu dariku."
"Nah, ini baru Sehunku." Luhan mencium singkat bibir Sehun. "Ayo kita tidur. Ini sudah malam."
Seringaian khas seketika muncul di bibir Sehun. "Tidur bersamaku, ne?"
"Tanpa kau minta aku memang akan tidur denganmu 'kan?" Luhan menyentil gemas hidung Sehun. "Aku selalu tahu apa yang ada di dalam otakmu, Tuan Oh mesum."
Tawa Sehun berderai. Dengan penuh semangat, ia bangkit dari kursi sambil membopong tubuh Luhan. Wanita itu memekik kaget karena pergerakannya yang tiba-tiba. Refleks mengalungkan lengan di leher Sehun. Belum sempat mengeluarkan protes, lagi-lagi Sehun membungkam mulutnya dengan satu ciuman lembut.
"Ish, kau ini suka sekali menciumku."
"Siapa suruh bibirmu terasa manis." Sehun menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidung Luhan. "Bibirmu itu selalu membuatku ketagihan, Sayang."
BLUSH!
Wajah Luhan seketika merah padam. Ia buru-buru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sehun, dengan tujuan pria itu tidak melihat wajahnya yang menyerupai tomat.
"Dan aku sangat suka saat wajahmu merah padam seperti ini. Kau sangat menggemaskan," bisik Sehun seduktif.
"Sehunnieeee~"
"HAHAHA~"
Tawa Sehun kembali pecah. Luhan memang selalu berhasil mengembalikan moodnya yang sempat memburuk.
Diam-diam Luhan tersenyum senang. Lega rasanya melihat Sehun kembali seperti semula. Ia berharap semoga dirinya mampu memperbaiki mood Sehun yang sewaktu-waktu akan hancur karena Yifan. Permainan ini belum selesai, Luhan tidak boleh lengah ataupun kecolongan di saat Yifan kembali melakukan aksinya menjahili Sehun.
Sedikit saja pertahanan Sehun goyah, bisa dipastikan emosi pria itu akan meledak seperti bom waktu.
..
Not Just Babysitter
..
Keesokan paginya, sungguh sial karena suasana hati Sehun kembali memburuk. Sarapan pagi yang seharusnya terasa menyenangkan, nyatanya tak berlaku bagi pria itu. Jika kalian bertanya apa alasannya, itu dikarenakan Yifan yang sekarang berada di ruang makan.
Luhan mendesah pelan. Untuk kesekian kali ia menatap tajam ke arah Yifan yang tampak santai menikmati sarapan. Memorinya kembali pada kejadian beberapa menit lalu, tepatnya saat Yifan datang ke rumah dengan wajah sok polos, kemudian dengan seenaknya ikut bergabung bersama mereka menikmati sarapan pagi. Salahkan Haowen yang terlalu bersemangat melihat Yifan kembali datang. Haowen terus menempeli Yifan, sampai-sampai meminta duduk di samping pria berambut pirang itu.
Nafsu makan Sehun seketika menguap kala melihat pemandangan Haowen yang begitu akrab dengan Yifan. Demi apapun, ia ingin sekali menendang pria itu keluar dari rumahnya.
"Appa, Haowen ingin berangkat ke sekolah diantar Kris-ahjussi."
Dan permintaan yang meluncur dari bibir Haowen membuat kekesalan Sehun kian menjadi. Ia memejamkan matanya sejenak, berusaha mati-matian menahan emosinya yang siap meledak kapan saja.
"Haowen ..."
"Aku tidak keberatan mengantar Haowen ke sekolah."
Luhan ingin sekali menyumpal mulut Yifan dengan benda apapun yang ada di meja makan. Benar-benar kakaknya itu terlalu banyak bicara, atau memang sengaja memperburuk suasana hati Sehun.
"Appa~" Haowen memasang puppy eyes andalannya yang selalu sukses meluluhkan hati Sehun.
"Terserah Haowen saja." Sehun tidak ingin mengeluarkan tenaganya hanya untuk hal tidak berguna karena Yifan.
"Yeay!" Haowen bertepuk tangan gembira, "Eomma juga ikut, ne?"
"Uhuk!" Luhan tersedak salivanya sendiri, kemudian buru-buru meraih gelas air putih. Karena terburu-buru, Luhan tidak menyadari masih ada sisa air di sudut bibirnya.
Yifan mengulurkan tangannya ke depan, kemudian mengusap lembut sudut bibir Luhan. "Sudah bersih," ucapnya santai sambil tersenyum lebar.
Mata Luhan berkedip-kedip, terlalu kaget dan tidak siap dengan perlakuan Yifan. Lain halnya Sehun yang seketika tampak emosi. Rahangnya mengeras, bersamaan dengan kedua tangannya yang mengepal kuat. Cukup, ini sudah melampaui batas.
TRANG!
Semua orang menoleh kaget ketika Sehun dengan sengaja membanting peralatan makan. Disusul suara berderit dari kursi yang semula diduduki oleh Sehun.
"Aku selesai."
Tanpa menunda waktu, Sehun bergegas pergi meninggalkan ruang makan sambil menenteng jas dan tas kerjanya. Mengabaikan Luhan yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Eomma," Haowen melirik takut-takut, "Appa marah sama Haowen?"
Luhan menggeleng, "Appa tidak marah, Sayang. Hanya sedang terburu-buru," jawabnya asal. Kemudian menatap tajam ke arah Yifan yang diam-diam berusaha menahan tawa.
"Oppa." Luhan mengerucutkan bibirnya kesal. "Kau. Sangat. Menyebalkan."
Tawa kecil keluar dari bibir Yifan. Reaksi yang diperlihatkan Yifan membuat Luhan ingin sekali menghanyutkan kakaknya itu ke aliran Sungai Han.
..
..
..
Yunho berdiri di depan podium untuk memimpin jalannya rapat para pemegang saham. Di tengah sambutan, beberapa kali Yunho melirik ke arah Sehun yang tampak tidak fokus sejak rapat dimulai. Awalnya Yunho memilih mengabaikan, namun suara gumaman yang keluar dari adiknya itu mulai mengganggu konsentrasi.
Bukan hanya Yunho saja yang merasa terganggu, beberapa orang yang berada di ruang pertemuan merasakan hal yang sama. Mereka mulai mengalihkan pandangan dari layar di depan, memilih memandangi Sehun yang terus menggerutu seorang diri.
"Dia pikir dia itu siapa?"
Tanpa Sehun sadari, suasana ruang pertemuan berubah hening. Tak pelak suara gumamannya mulai terdengar ke seluruh penjuru ruangan.
"Datang ke rumah orang tanpa diundang, ikut sarapan seenaknya, merebut perhatian Haowen, dan dengan seenaknya menyentuh wajah wanitaku! Benar-benar kurang ajar!" Sehun berteriak di akhir kalimat sambil menggebrak meja. Hyunjoong nyaris terjatuh dari kursi karena terlalu kaget, sementara orang-orang mulai menatap heran ke arah Sehun yang terlihat seperti orang gila. Berbicara sendiri dengan emosi menggebu-gebu.
"Awas kau, Kris Wu! Aku tidak akan pernah membiarkanmu lolos. Kau akan mendapatkan hukumannya! Lihat saja nanti!"
Tepat setelah Sehun selesai menggerutu, sebuah map mendarat di atas kepalanya.
"Auw!" Sehun melotot, berniat memaki si pelaku pelemparan, sampai kesadarannya kembali untuk menuntunnya menatap sekeliling. Semua orang memandang ke arahnya dengan ekspresi beragam. Bingung, heran, iba, dan tak sedikit yang berusaha keras menahan tawa.
Sehun melirik takut-takut ke arah Yunho yang sudah memasang wajah marah di depan podium.
"Sajangnim ..."
"KALAU KAU TIDAK FOKUS, SEBAIKNYA KAU KELUAR DARI RUANGAN!"
Teriakan kemarahan Yunho membuat suasana di dalam ruang pertemuan berubah tegang. Semua orang kembali ke posisi semula, memasang wajah serius namun sebenarnya menyembunyikan ketakutan karena kemarahan pimpinan mereka.
Menyadari kesalahannya, Sehun berdiri dari kursi, membungkuk singkat sambil menyampaikan permintaan maaf, kemudian keluar meninggalkan ruangan.
"Ada apa lagi dengan anak itu," gumam Yunho pelan sambil memandangi pintu yang baru saja ditutup oleh Sehun. Ia menatap sekilas pada orang-orang di sekeliling.
"Mari kita lanjutkan," ucapnya mengabaikan sorot mata ketakutan dari semua orang yang ada di dalam ruangan.
..
..
..
Hyunjoong berlari tergesa-gesa menuju ruangan Sehun. Pikirannya tidak tenang, mengkhawatirkan Sehun semenjak atasannya itu pergi meninggalkan rapat para pemegang saham. Sesampainya di depan pintu ruangan, Hyunjoong mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah. Tangan Hyunjoong yang berniat mengetuk pintu sedikit gemetar. Ia tahu Sehun dalam kondisi mood yang sangat tidak baik. Sedikit saja salah bicara ataupun bersikap, bisa dipastikan ia tidak akan selamat dari amukan sang atasan.
Entah sudah berapa kali Hyunjoong mengetuk pintu namun tidak terdengar sahutan dari dalam ruangan. Akhirnya Hyunjoong memberanikan diri untuk masuk, kebetulan sekali pintu ruangan dalam kondisi tidak terkunci. Apa yang dilihat Hyunjoong sukses membuat pria itu tercengang.
Sehun sudah melepas jas formal yang kini hanya menyisakan kemeja warna putih. Pria itu berbaring di atas sofa panjang dengan tangan kiri yang menutupi wajah.
"Busajangnim ..."
Mata Sehun yang sempat terpejam perlahan terbuka. Hyunjoong langsung menciut di tempatnya ketika mendapati tatapan tajam menusuk dari Sehun.
"Ada apa?" Bahkan suara Sehun terdengar sangat menakutkan. Seperti geraman binatang buas yang siap menerkam mangsanya.
"Sa-saya hanya ingin menyampaikan sesuatu, Busajangnim."
"Jika itu soal rapat tadi, aku tidak ingin membicarakannya," ucap Sehun tegas.
"Bukan, ini soal Kris Wu."
Jawaban Hyunjoong membuat Sehun membelalakkan matanya, lalu dengan cepat mengubah posisi menjadi duduk di atas sofa. "Kau sudah menemukan informasi tentang pria itu?"
Hyunjoong menggeleng pelan, "Saya benar-benar minta maaf, Busajangnim. Sulit sekali untuk mendapatkan informasi mengenai Kris Wu. Saya berpikir, ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dari pria itu."
Wajah cerah Sehun perlahan berubah masam. "Aku tidak mau tahu. Bagaimanapun caranya, kau harus mendapatkan informasi soal pria itu. Mengerti?"
"Baik, saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Keluarlah, aku ingin beristirahat." Sehun kembali berbaring di atas sofa. Hyunjoong membungkuk sopan dan berniat keluar, namun urung karena secara mengejutkan Yunho baru saja masuk ke dalam ruangan.
Yunho mengedikkan dagu ke arah pintu, memberi isyarat pada Hyunjoong untuk keluar meninggalkan ruangan. Setelah Hyunjoong keluar, Yunho menghela napas panjang. Gemas sekali pada Sehun yang belum menyadari keberadaannya. Pria itu masih berbaring di atas sofa.
"Oh Sehun!"
Satu teriakan keras sukses membangunkan Sehun. Pria berkulit pucat itu terkesiap dan langsung duduk sopan di atas sofa. Ia mengusap tengkuknya, memasang wajah kikuk, dan beberapa kali memperlihatkan cengiran khasnya. "Hyung ..."
"Aish, sebenarnya apa yang terjadi padamu, hah?!" Yunho tidak sanggup lagi menahan emosinya. "Selama rapat kau tidak fokus hingga mengacaukan konsentrasi semua orang, termasuk aku. Kau tahu 'kan rapat tadi sangat penting?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Hyung. Maafkan aku," sesal Sehun.
Melihat bagaimana wajah frustasi Sehun, Yunho bisa menebak jika adiknya sedang ada masalah. "Terjadi sesuatu?" tanyanya penasaran.
Sehun mengangguk, "Si penganggu itu benar-benar mengacaukan moodku, Hyung!"
Yunho menaikkan sebelah alisnya, "Pengganggu?"
"Siapa lagi jika bukan Kris Wu?!"
Yunho mengedipkan matanya, terlalu kaget karena teriakan Sehun. Dalam hati pria itu tertawa geli. Ah, seharusnya aku bisa menduga lebih awal. Pasti ada hubungannya dengan Yifan.
"Memang apa lagi yang dia lakukan?" Yunho memicingkan matanya, "Jangan bilang dia mengacaukan acara kencanmu dengan Luhan?"
"Untung saja acara kencan kami berjalan dengan lancar, Hyung. Hanya saja ..."
"Hanya saja?" Yunho mengulang kalimat terakhir Sehun. Kemudian dengan seksama mendengarkan semua penjelasan yang diucapkan adiknya. Mulai dari kejadian semalam, di mana Yifan secara mengejutkan sudah berada di rumah Sehun dan tampak akrab sekali dengan Haowen. Yifan yang menghadiahi buket bunga untuk Luhan, lalu mengancam padanya untuk merebut wanita itu dari sisi Sehun.
Kejadian pagi ini pun tak luput dari penjelasan Sehun. Semua Sehun ucapkan dengan jelas dan terperinci.
Jujur saja Yunho ingin sekali tertawa melihat bagaimana Sehun begitu emosi tiap kali mereka membicarakan Yifan. Andai saja Sehun tahu siapa Yifan, yang ada adiknya akan langsung tunduk pada calon kakak iparnya itu. Sayangnya, Yunho tak bisa berbuat apa-apa. Ia dan orang tuanya sudah memberi izin kepada Yifan untuk menguji Sehun.
Sekarang yang ada dalam benak Yunho hanya rasa penasaran, bagaimana Haowen tiba-tiba berubah sangat akrab dengan Yifan. Ia teringat lagi akan obrolan keponakannya dengan Yifan saat di rumah orang tuanya. Kira-kira hadiah apa yang sudah dijanjikan Yifan pada Haowen?
"Apa yang harus kulakukan, Hyung? Haruskah aku memberi pelajaran pada pria berambut pirang itu?"
Oh, itu bukan solusi yang baik adikku. Kau hanya akan menambah masalah.
"Hyung ..."
"Saranku tetap sama, Sehun." Yunho tersenyum tipis, "Kau hanya perlu percaya pada Luhan. Dan ..."
Sehun masih menunggu.
"... berusahalah menahan emosimu," lanjut Yunho sebelum akhirnya keluar dari ruangan. Tepukan halus ia berikan di pundak Sehun yang hanya menatapnya dengan kerutan di dahi.
..
..
..
Luhan berjalan memasuki gedung kantor Oh Corporation. Setelah mendapat kabar dari Yunho soal Sehun yang kehilangan fokus selama rapat, Luhan menjadi khawatir. Ia meminta Jongdae mengantarnya menemui Sehun di kantor.
Kedatangan Luhan disambut ramah beberapa staff di bagian resepsionis. Luhan tersenyum miris melihat perubahan sikap mereka, setelah tahu status dirinya yang merupakan kekasih Sehun. Salah satu staff secara spesial mengantar Luhan ke ruangan Sehun, menaiki lift khusus pimpinan tertinggi perusahaan.
"Selamat siang, Nona Luhan."
"Selamat siang, Hyunjoong." Luhan membalas sopan sapaan Hyunjoong, kemudian mengucapkan terima kasih pada staff yang sudah mengantarnya. "Apa Sehun ada di ruangannya?"
Hyunjoong mengangguk, "Sejak rapat, busajangnim tidak pernah keluar dari ruangannya, Nona. Suasana hatinya benar-benar buruk," jawabnya jujur.
Luhan menghela napas. Sekali lagi ia hanya bisa meminta maaf dalam hati. Semakin ke sini rasanya tidak tega melihat Sehun selalu berujung emosi tiap kali berurusan dengan Yifan. Entah sampai kapan Yifan berniat menguji kekasihnya. Akan tetapi, jika dirasa sudah kelewatan, maka Luhan sendiri yang akan mengakhiri permainan ini.
Hyunjoong membukakan pintu untuk Luhan. Wanita itu masuk ke dalam ruangan Sehun dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian. Jantungnya berdebar tidak karuan ketika matanya dengan cepat menangkap sosok Sehun yang kedapatan berbaring di atas sofa.
Senyum kecil menghiasi bibir Luhan. Miris sekali melihat bagaimana kondisi Sehun yang tampak tidak baik-baik saja. Luhan mempercepat langkahnya, kemudian sedikit berjongkok di dekat sofa yang ditempati oleh Sehun.
"Sehunnie~"
Panggilan pertama tidak ada respon. Luhan menghela napas, lalu memberanikan diri menggenggam tangan pria itu.
"Sehunnie~"
Genggaman tangan Luhan yang mengerat membuat Sehun bereaksi. Secepat kilat pria itu menoleh, lalu melonjak kaget begitu melihat keberadaan Luhan. "Sedang apa kau di sini? Kapan kau datang?"
Luhan tertawa kecil. Reaksi Sehun benar-benar memperlihatkan bahwa pria itu memang tidak fokus selama berada di kantor. "Maafkan aku ..."
Sehun menautkan kedua alisnya, "Untuk apa kau meminta maaf?"
"Yunho-oppa bercerita kalau kau hampir saja mengacaukan rapat pemegang saham. Gara-gara aku, kau jadi tidak fokus selama berada di kantor. Maafkan aku," ucap Luhan bersalah. Ia mengatakannya dengan jujur. Sekalipun sumber masalahnya adalah Yifan, Luhan tetap merasa yang paling bertanggung jawab atas kondisi Sehun.
"Bukan salahmu," Sehun menuntun Luhan agar duduk di atas pangkuannya. Ia mengusap wajah Luhan yang tampak murung. "Salahku sendiri yang tidak bisa mengontrol emosiku tiap kali berurusan dengan pria itu."
"Tetap saja, aku—" kalimat Luhan terpotong saat tiba-tiba ujung jari Sehun menempel di bibir wanita itu.
"Kau sama sekali tidak bersalah, Sayang." Sehun mencium lembut bibir Luhan. "Apa yang kualami di kantor, memang berasal dari kesalahanku sendiri. Mungkin aku harus berusaha lebih keras untuk mengendalikan emosiku."
Luhan terdiam, memandangi wajah Sehun yang tampak kelelahan.
"Hanya saja, aku khawatir jika suatu saat nanti aku gagal mengendalikan emosiku." Sehun menatap Luhan dengan sorot mata ketakutan, "Aku takut jika kegagalanku dalam mengendalikan emosi akan berdampak pada hubungan kita. Aku benar-benar takut kehilangan dirimu, Lu ..."
Luhan meraih tangan Sehun, kemudian menggenggamnya dengan erat. Ia mengecup tangan kekasihnya berulang kali, "Sudah kubilang, kau hanya perlu percaya padaku, Sehunnie. Begitu pun denganku yang akan selalu mempercayaimu."
Sehun menatap Luhan dengan kerutan di dahi.
"Aku percaya kau akan mampu melawannya. Jangan biarkan Kris-oppa mengendalikanmu dengan ancamannya yang tidak penting," Luhan mengatakan kalimat itu dengan sepenuh hati. "Kita hanya perlu percaya satu sama lain. Dengan begitu, tidak akan ada yang mengganggu hubungan kita."
Kata-kata menenangkan dan penuh keyakinan yang diucapkan Luhan membuat hati Sehun merasa lega. Pria itu mengeratkan pelukannya, lalu menghadiahi ciuman penuh cinta di bibir Luhan.
"Terima kasih karena sudah mempercayaiku. Aku sangat membutuhkanmu, Sayang." Sehun mengusap wajah Luhan. "Hanya kau yang bisa mengendalikan emosiku."
Luhan tersenyum bahagia, kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang Sehun.
"Berjanjilah kau akan selalu berada di sisiku."
"Kau sudah mengatakannya ratusan kali, tapi aku tidak pernah bosan mendengarnya." Luhan tertawa kecil, "Kau tahu kenapa?"
Sehun menggeleng, lalu ikut tersenyum saat melihat ekspresi wajah Luhan yang sangat lucu.
"Karena aku sudah berjanji, akan selalu berada di sisi Oh Sehun untuk selamanya," jawab Luhan diakhiri dengan senyuman lebar.
Sehun tertawa, kemudian menyentil gemas hidung Luhan. "Kau memang yang terbaik, Sayang."
Luhan ikut tertawa, lalu teringat lagi tujuan lain datang ke kantor Sehun. "Kita makan siang bersama, ne? Aku lapar, Sehunnie~" rengeknya manja.
"Apapun untukmu, Sayangku." Sehun mencium pipi Luhan, kemudian membawa wanita itu keluar dari ruangan. "Ayo."
Mereka bergandengan tangan dengan senyum bahagia yang menghiasi wajah masing-masing. Mengabaikan tatapan beragam dari beberapa staff yang berpapasan dengan mereka, termasuk Hyunjoong yang sebelumnya sempat terbengong saat melihat Sehun keluar dengan wajah cerah.
Sehun dan Luhan memilih berjalan kaki, karena kebetulan restoran yang dipilih lokasinya berdekatan dengan kantor. Sesekali Luhan mengobrol dengan Sehun, termasuk memberitahu acara pernikahan Chanyeol dan Baekhyun yang akan dilaksanakan minggu depan.
"Kau sudah tidak sabar ingin segera menyusul kedua sahabatmu?" tanya Sehun dengan nada menggoda.
Luhan menatap sebal ke arah Sehun. Ia hanya mencebilkan bibirnya imut dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
Sehun tertawa melihat reaksi Luhan, kemudian merengkuh pinggang Luhan ke dalam dekapannya. "Arraseo, kau tidak perlu khawatir. Kita akan segera menyusul mereka setelah Yunho-hyung dan Jaejoong-noona menikah. Aku pun sudah tidak sabar ingin segera menikahimu, Sayang," ucapnya tanpa ragu-ragu.
Wajah Luhan kembali merona. Ia kembali memeluk erat lengan Sehun, bergelayut manja untuk meluapkan kebahagiaannya yang tidak terkira atas keyakinan Sehun yang benar-benar ingin menikahinya.
Kurang lebih memakan waktu 10 menit, Sehun dan Luhan akhirnya tiba di restoran khusus masakan Italia. Setelah mendapatkan tempat duduk, salah seorang pelayan mendatangi keduanya sambil membawakan buku menu. Selagi keduanya sibuk memilih menu makan siang yang hendak mereka pesan, siapa yang menduga jika bencana itu kembali datang.
"Suatu kebetulan bisa bertemu kalian lagi di sini ..."
Tubuh Luhan seketika menegang. Secepat kilat ia menoleh ke samping, kemudian matanya membulat sempurna kala melihat sosok pria yang berdiri di samping meja mereka. Reaksi serupa juga diperlihatkan Sehun. Ia tidak habis pikir kenapa bisa bertemu lagi dengan sumber masalahnya.
Yifan tersenyum menyeringai melihat perubahan ekspresi wajah Sehun dan Luhan. Menurutnya permainan ini semakin mengasyikkan. Sulit baginya untuk berhenti sampai hari itu datang.
Hari di mana salah satu dari mereka gagal mengendalikan emosi, hingga akhirnya meledak seperti bom waktu yang menghancurkan segalanya.
TO BE CONTINUED
13 Agustus 2016
A/N : Yifan, kenapa dirimu selalu saja muncul di tempat yang sama dengan HunHan? Apa pekerjaanmu sekarang beralih menjadi stalker-nya HunHan? *jeritan hati para readers*
Kalian boleh berasumsi apa saja, bagaimana caranya Yifan tahu keberadaan HunHan sehingga dia selalu muncul di timing yang tepat. Ada GPS atau memang menyewa jasa mata-mata untuk mengikuti adik kesayangannya pergi ke mana saja *senyum evil bareng Yifan*
Maaf untuk keterlambatannya, tapi rasanya senang sekali akhirnya bisa publish sesuai janji kemarin. Yang gemes/dongkol/emosi sama Yifan, yuk kita panggil pawangnya *lirik Zitao* ^^v
Buat Sehun yang sabar ya, Nak. Perjuanganmu masih panjang~ *pffft*
Aku minta maaf kalau chapter ini kurang memuaskan *deep bow*, tapi tetap selalu berharap semoga kalian suka. Terima kasih sudah membaca :)
Special Thanks to :
teukiangle, Avivah495, Oh Pheonix, Wenxiuli12, Selenia Oh, ohfelu, daebaektaeluv, babydkas, riamariana916, Fe261, arosiwonest603, keziaf, joohyunkies, Juna Oh, Yuliani kim, Ai90, pcyB . I, kartikaandri15, chocovanila, Bambi, anxbyul, ichaadyah, Hunna04, oktafernanda666, Fangirl TwoThousandandFourteen, wollfdeer520, ohhsitik, Skymoebius, Rin SNL, chenma, Sehunnissa, park hye cha, Ririn Ayu, Arifahohse, ramyoon, satanSEKAI, kimjunheekji, joon park, Angel Deer, sehunshit94, Jang Ha Na, osehn, hime31ryuka, baekbeelu, HunHanCherry1220, Seravin509, alyn, Nurul999, Telekinetics726, minrin . oh, elisabethlaurenti12399, shintaaulia23, PxnkAutumnxx, Kim YeHyun, almurfa, rizkianita16, Guest(1), OhXiSeLu, Byunsilb, Mocha-chan, sanmayy88, BabyByunie, AlienBaby88, yousee, fuckyeahSeKaiYeol, Guest(2), Laura950, bylvcky, awk . ohra, Gaemgyu402evilmaknae, luhan1220, Guest(3), Oh Hee Ra, OHPARK, lululovehunnie, TRLSTRHUN, restuayu31, Langit Merah, auliaMRQ, hatakehanahungry, 07VA, hunnaxxx, happybubblee, kimaerinuna520, princess . hangul, rasyaa, deerbee, sehunluhan0494, OohDinda, Xxian, Guest(4)
I love you all *muach*
