Im In Love With A Monster

ChanBaek

M

.

.

.

"Aku mungkin tidak akan datang ke tempat ini lagi"

"Uhukk, apa kau bilang?"

"Aku sudah menceritakan semua pada Eomma tadi pagi. Dan Eomma-ku mengancam akan memberitahu Baekhyun tentang aku yang selama ini hanya berpura-pura menjadi si culun Park kalau aku tidak berhenti main-main seperti ini. Eomma-ku memintaku untuk segera jujur pada Baekhyun dan menseriuskan hubungan kami"

"Aku setuju dengan Eomma-mu. Tapi untuk 'Tidak akan datang kesini lagi' aku ragu kalau kau mengatakannya"

Chanyeol yang saat itu baru saja menenggak habis alkoholnya hanya tertawa. Ia melirik gadis yang ada disisinya, ia bahkan nampak tak bernafsu dan hanya memutar mata jengah setelahnya.

Chanyeol sudah lelah memperingatkan gadis-gadis ini untuk tidak mendekatinya lagi. Tapi gadis-gadis itu tetap memaksa hingga Chanyeol tak bisa berbuat apapun selain pasrah.

"Kau sungguh-sungguh mencintai BitchyBaek? Awalnya kupikir kau akan bosan setelah beberapa kali menyetubuhinya"

"Sayangnya itu tidak terjadi. Aku malah semakin mencintainya setelah beberapa kali kami berhubungan badan"

Dan kini giliran Yifan yang tertawa. Lelaki tampan itu benar-benar tak menyangka kalau sahabat brengsek-nya itu akan berakhir melabuhkan hati pada seorang lelaki binal seperti Baekhyun.

Jujur ia lega kalau pada akhirnya Chanyeol memilih untuk berubah. Walau tidak akan secepat yang diinginkan, Yifan sudah senang mendengar sahabatnya memiliki niat baik. Oh, haruskah ia berterimakasih pada Baekhyun atau Eomma Park? Sungguh, sebenarnya Yifan sudah lelah kalau setiap hari harus menemani Chanyeol main kesana-kemari setiap malam. Hell, ia kan juga punya kehidupan sendiri.

"Yifan hyung! Haishh"

"Hn? Oh Sehun? Ada apa?"

Kedua lelaki tampan yang sebelumnya nampak asik berbicang berdua kini mau tak mau mengalihkan pandangan pada anak lelaki yang lebih muda dari mereka. Yifan menepuk sisi kosong disisinya bermaksud meminta Sehun untuk duduk. Namun anak itu menolak, ia menggeleng dan malah melipat tangannya didepan perut.

"Mama Wu memintamu pulang!"

"Mama-ku? Sejak kapan wanita itu pulang?"

"Baru saja dan ia memintaku menjemputmu! Haishh"

"Dan kau benar-benar menjemputku?"

"Hn. Dan kalau kau mau tahu, kau mengganggu kencanku dengan Luhan ngomong-ngomong"

Sehun menolehkan kepalanya kebelakang, bermaksud memberitahukan Yifan dan juga Chanyeol kalau didekat bar sana sang kekasih tengah menunggunya.

Yifan menyeringai, berbeda dengan Chanyeol yang langsung berusaha menyembunyikan wajahnya dengan membenamkan wajah dileher gadis sebelah.

"Yak! Apa yang kau lakukan hyung?" Sehun memperimgati dengan wajah galaknya yang makin terlihat tampan.

"Aku? Tentu saja bersembunyi! Kekasihmu itu bisa membuatku dan Baekhyun berperang kalau sampai ia mengetahui ada aku disini"

"Ah, kau benar hyung"

"Tapi, bukannya kau akan senang kalau pada akhirnya kau malah 'berperang' dengan Baekhyun-mu?"

"Haishh, bukan 'berperang' yang itu bodoh!"

Kaki panjang Chanyeol dengan sengaja menendangi Yifan yang kini malah tertawa mengejek. Ia jadi ingin memukuli wajah sahabatnya itu. Tapi tidak akan, ia tidak ingin membuat keributan yang pada akhirnya malah membuat Luhan menghampiri mereka karena penasaran.

"Hyung, aku pulang ya?"

"Pulanglah, aku akan pulang setelah tuan muda Park menyelesaikan ceritanya"

"Baiklah"

"YAK! Berhenti meledekku sial!"

"Maafkan aku master. Haha"

"Haishh"

Saat Sehun sudah melangkah menjauh pun Yifan masih tanpa segan mentertawakan Chanyeol. Tak ingin terlalu kesal dengan tawa sialan sahabatnya, Chanyeol pun pada akhirnya hanya memutar matanya jengah. Ia menyandarkan tubuhnya disofa, sengaja merangkul bahu gadis-gadis disisinya karena ia merasa tangannya cukup pegal.

Tak ada maksud lain, hanya saja ia benar-benar ingin bersantai sekarang. Masalah gadis-gadis yang menggerayangi tubuhnya ia tak peduli. Ia akan membiarkan gadis-gadis itu bermain sesukanya selama mereka tak berlebihan.

"Yeol, ini sudah malam"

"Lalu?"

"Tak ingin pulang saja? Kau bilang kau sudah berjanji dengan Baekhyun kan?"

"Aku dan Baekhyun memiliki janji jam 10 nanti. Dan sekarang, masih pukul 9. Masih ada satu jam untuk bersantai"

"Haishh, terserah sa-"

Byur

Tak hanya Chanyeol dan juga Yifan yang merasa terkejut. Bahkan beberapa orang yang melihat kejadian itu hanya bisa membelalakan mata mereka tanpa bisa ikut campur.

Semua orang hanya diam ditempat mereka masing-masing. Semuanya menjadi cukup hening walau sebenarnya dentuman keras musik club malam itu masih terasa mengganggu telinga.

Dihadapan Chanyeol, Baekhyun menatapnya jengah. Anak itu nampak kesal hingga wajahnya memerah. Dan Chanyeol tahu, ini bukanlah pertanda baik kalau Baekhyun sudah berekspresi seperti itu.

"B-baekhyunnie"

"Cih, masih berani memanggilku seperti itu?"

"B-baek, aku...a-aku bisa jelaskan ini semua sayang"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan Park! Kau. MEM-BO-HO-NGI-KU! Brengsek!"

"Baek ak- Baekkie. Tunggu aku sayang, aku bisa je- Baek! Baekhyun! Haishh"

Entah kenapa Chanyeol bisa bergerak sangat cepat. Baekhyun jadi merutuk untuk keahlian kekasihnya yang itu. Ia baru saja hendak pergi tapi tubuhnya sudah dipeluk dari belakang oleh lelaki itu. Mau bagaimana lagi? Melawan pun Baekhyun tak akan mampu.

Pada akhirnya ia hanya diam, bahkan saat Chanyeol mengeratkan pelukannya yang bisa Baekhyun lakukan hanya diam dan menutup mulutnya rapat-rapat.

"Baek, bagaimana bisa kau ke- tidak, maafkan aku sayang. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu seperti ini. Ma-"

"Lepaskan!"

Baekhyun mendesis kesal sambil berharap Chanyeol akan segera melepaskannya. Dari tempatnya sekarang, Baekhyun dapat melihat Luhan yang baru saja bergabung bersama kekasihnya dengan wajah terkejut.

Suasananya sudah kembali normal seperti sebelumnya. Saat mengetahui kalau yang terjadi diantara Baekhyun dan juga Chanyeol hanyalah masalah pribadi, semua orang disana kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

"Sayang, a-aku tahu aku salah. Tap-"

"Lepaskan!"

"Tidak akan"

"Lepaskan aku Park Chanyeol! Atau aku ak-"

"Wah wah~ lihatlah betapa mirisnya kalian. Aku ikut sedih melihatnya."

Kedatangan Yebin yang tiba-tiba langsung membuat Baekhyun benar-benar kesal sekarang. Wanita itu menyeringai, bahkan bertepuk tangan kecil.

Wajahnya nampak menjengkelkan dimata Baekhyun. Kalau saja Chanyeol tak memeluknya seperti ini, Baekhyun bersumpah akan merobek mulut dan juga menarik keluar bola mata Yebin. Haishh, malam ini terlalu rumit.

"LE-PASKAN!"

Setelah berhasil melepaskan Chanyeol darinya, Baekhyun kembali berbalik menatap kekasihnya itu. Ia tak peduli lagi pada Yebin, bahkan Luhan yang sedari tadi terdengar ribut bersama Sehun ia abaikan.

Kepalanya sedikit menengadah mengingat perbedaan tinggi antara dirinya dan sang kekasih. Saat matanya sudah berpandangan dengan tatapan Chanyeol yang memang merasa bersalah, Baekhyun menghela nafasnya.

"Park Chanyeol!"

"Baek, maafkan aku. Aku hanya ing-"

PLAK

Tangannya terangkat dan melayang dengan cepat. Tahu-tahu saja pipi Chanyeol sudah memerah karena tangan Baekhyun barusan. Kedua lelaki itu saling tatap lagi, dengan pandangan kecewa Baekhyun dan juga tatapan memohon yang Chanyeol lontarkan.

"Hubungan kita..."

"Jangan katakan apapun sayang. Kumohon jangan katakan apapun!"

"Aku tidak tahu harus bagaimana ketika mengetahui ini semua. Apa...apa kita harus berpisah saja? Kau mem-"

"Tidak tidak. Jangan berani-beraninya kau mengatakan 'pisah' seperti itu. Bukannya...bukannya kau menyukai kalau aku seperti ini sayang? Buk-"

"PARK CHANYEOL!"

"..."

"Ini bukan masalah aku suka kau yang seperti ini atau tidak. Masalah kau yang brengsek atau kutu buku, apalagi kau yang bisa menyetubuhiku atau tidak. Tapi...tapi ini masalah kepercayaan, aku...aku sudah berusaha mempercayaimu, tapi kau sendiri? Kau bahkan tidak jujur padaku tentang siapa dirimu yang sebenarnya"

"Baek,"

"Kau membohongiku, dan aku baru mengetahuinya. Aku tak tahu sekarang harus bagaimana"

"Baekhyunnie~ sungguh, maafkan aku"

"Ah, bisa jangan panggil aku begitu? Aku jadi agak kesal mendengarnya"

"Sayang, maafkan aku"

"Aku akan pulang. Nikmati malam-mu disini ya Park"

Sebelum sempat Chanyeol menariknya lagi, Baekhyun sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Saat melewati Yebin ia hanya menghela nafas dan memutar matanya jengah. Ia tak peduli pada wanita yang tengah menyeringai dengan sangat menyebalkan itu. Haishh.

"Baek"

"..."

Ia hanya kesal. Tak habis pikir kalau rasa curiganya akhir-akhir ini benar adanya. Ia hanya tak tahu, juga masih tak percaya kalau Chanyeol bahkan memilih menyembunyikan ini semua disaat lelaki itu bahkan sudah berjanji akan selalu mencintainya. Hell, bagaimana hubungan mereka bisa bertahan lama kalau hal sepele seperti ini saja Chanyeol tidak jujur padanya.

Tanpa mau peduli kalau Chanyeol mengejarnya atau tidak, Baekhyun keluar dari dalam Club itu dan langsung membawa mobilnya cepat-cepat. Ia jadi pusing dan tak bisa memikirkan apa-apa lagi selain beristirahat dikamarnya.

.

.

.

"Haishh! YAK! YAK! DASAR BODOH HAISHH!"

"Kenapa dia tidak jujur saja padaku? Haishh, dasar bodoh!"

"Kalau dia jujur dari dulu pasti aku tidak akan kesal seperti ini. YAK! YAK! DASAR BODOH SIALAN!"

Sudah berkali-kali Baekhyun memukuli stir mobilnya. Bahkan tiap dia merasa kekesalannya memuncak, tanpa segan ia langsung menaikan kecepatan mobilnya. Ia mengoceh tak jelas didalam mobil selama perjalanan, ketika mengingat Chanyeol ia benar-benar masih tidak percaya kalau Chanyeol yang sebenarnya berbanding terbalik dengan yang selama ini ia kenal.

Beruntung jalanan yang ia lewati kali ini nampak sangat sepi. Bahkan sedari tadi Baekhyun sama sekali tak mendapati kendaraan selain miliknya melintas disini. Ia tidak takut, dan ia malah menaikkan kecepatan mobilnya sesuka hati.

"Aku harus bagaimana Tuhan~ Chanyeol benar-benar membuatku frusta-"

Ckiitttt

Kalau saja Baekhyun tidak cepat-cepat menginjak rem mobilnya, pasti besok akan muncul berita kecelakaan dikoran pagi. Kalau telat sedikit saja pasti mobilnya sudah menabrak dengan suka rela mobil sport didepannya.

Asap-asap mengepul diluar mobilnya dan Baekhyun dapat melihatnya dengan jelas. Asap yang muncul karena ban-nya bergesekan kasar dengan jalanan ketika ia menghentikan mobilnya secara mendadak.

Masih dalam mode bersyukur, Baekhyun menghela nafasnya lega. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan melepaskan tangannya yang sedari tadi memegangi dadanya karena terkejut.

"Haishh, dasar gila!"

Baekhyun mengetahui mobil siapa yang menghalangi jalannya didepan sana. Ketika pemilik mobil didepan sana membuka jendelanya, wajah Chanyeol lah yang pertama Baekhyun lihat dari balik kaca mobilnya.

Masih merasa kesal, Baekhyun pun menyambar ponselnya. Ia menelepon Chanyeol walau sebenarnya ia bisa saja keluar dari mobilnya dan langsung memarahi lelaki itu.

Wajahnya masih tak bersahabat, ia bahkan menatap lekat-lekat Chanyeol dari dalam mobilnya ketika ia sadar Chanyeol masih setia berada didalam mobil didepan sana tanpa mengalihkan pandangan darinya.

"Menyingkir!"

"..."

"KUBILANG MENYINGKIR PARK CHANYEOL! JANGAN HALANGI JALANKU! Haishh"

"Baek"

"..."

"Baek, kumohon. Aku mencintai-mu sayang, maafkan aku"

"Orang bilang, terlalu banyak menyatakan cinta artinya kau tidak benar-benar mencintai orang itu. Itu hanya alasan un-"

"Baek, pengecualian untukku! Aku benar-benar mencintaimu. Jutaan kali aku mengatakan aku mencintaimu, aku tetap mencintaimu sayang. Aku serius"

"..."

"Baek"

"Menyingkir Yeol. Aku benar-benar lelah"

"Sayang"

"Kalau kau mencintaiku. Menyingkirlah."

"..."

Butuh sekitar 3 menit untuk keduanya diam. Sambungan keduanya masih terhubung, tapi tak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan. Mobil Chanyeol masih menghalangi jalan mobil Baekhyun seperti sebelumnya.

Baekhyun jengah, ia benar-benar lelah dan ingin segera beristirahat dirumahnya. Tapi Chanyeol didepan sana sama sekali tak terlihat peduli. Heol, apa susahnya memundurkan mobilnya sedikit agar Baekhyun bisa pergi.

"Yeol? Kumohon menyingkirlah"

"Aku harus menjelaskan banyak hal padamu sayang"

"Aku tahu"

"Tolong dengarkan aku dulu. Aku menyesal menutupi se-"

"Aku lelah Yeol, sungguh"

"..."

Keduanya terdiam lagi. Tapi beberapa detik kemudian Baekhyun bisa melihat kalau mobil Chanyeol perlahan-lahan menyingkir dari hadapannya. Ia menghela nafas lega. Saat kira-kira mobilnya bisa kembali berjalan, tanpa basa basi Baekhyun langsung melaju cepat dan mengabaikan Chanyeol.

"Terimakasih"

.

.

.

Pict 1

"Kau tidak akan percaya dengan apa yang kulihat"

Pict 2

"Kau harus tahu kalau kau bukanlah satu-satunya. Kekasihmu yang bodoh itu adalah maniak, semua orang mengenalnya. Memang aku baru mengetahuinya juga, tapi semoga kau tidak terkejut dengan ini semua"

Pict 3

"Kuharap hubunganmu cepat berakhir dengan si tampan itu ya Baek. Kalau hubunganmu berakhir, aku pasti akan lebih mudah mendapatkan apa yang aku inginkan"

Lagi-lagi Baekhyun menghela nafasnya. Ia baru saja sampai beberapa menit yang lalu dan langsung merebahkan dirinya diatas ranjang.

Ia tidak tahu kenapa ia tidak sama sekali merasa sedih dan menangis mengetahui Chanyeol seperti itu. Sedari tadi yang ia rasakan hanyalah kesal, ingin memukul dan menghancurkan wajah tampan Chanyeol tapi tak serius menginginkannya.

Ia sendiri bingung, bahkan sejak ia bercumbu dengan ranjangnya yang ia lakukan hanyalah berguling-guling tidak jelas sambil kembali mengamati foto yang dikirimkan Yebin tadi. Foto yang membuatnya tahu dan bisa melabrak Chanyeol seperti tadi.

"Haishh, kenapa aku tidak bisa tidur huweee~"

Tubuhnya sudah terbalut selimut, bahkan penutup mata bergambar cony dan juga bantalnya sudah ia gunakan untuk menutupi kepalanya. Tapi sampai saat ini ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya yang sudah lelah.

Drrtdrrt

Ponselnya yang tergeletak naas disisi bantal ia raih cepat saat beegetar beberapa kali. Dengan tak sabaran ia membuka penutup matanya, berharap-harap kalau itu adalah Chanyeol. Namun saat melihat nama 'Kim ahjussi' yang muncul dilayar ponselnya, ia hanya bisa menghela nafasnya.

"Ahjussi~"

"Baek, to the point saja. Yebin bilang kau mengibarkan bendera putih?"

"M-maksudnya?"

"Kau menyerah? Kau akan membiarkan Yebin memenangkan ini semua?"

"Aku tidak bilang begitu. Ahjussi percaya pada wanita gila itu? Haishh"

"T-tidak juga. T-tadi dia meneleponku dan bilang kalau kau putus lagi dengan kekasihmu. Benar?"

"Aku...tidak tahu"

"Baek, kita harus bicara serius. Mulai detik ini juga, berhenti main-main!"

"A-ahjussi~"

"Ceritakan padaku yang sebenarnya terjadi. Lalu, apa benar kau mengakhiri hubunganmu dengan kekasihmu?"

"Aku tidak bisa cerita sekarang Ahjussi~ besok saja, aku janji. Dan hubunganku dengan Chanyeol...aku masih tidak tahu."

"..."

"..."

"Haishh, yasudah kalau begitu. Istirahatlah, semoga saja tidak terjadi hal-hal buruk padamu ya Baek. Selamat malam"

"Hn. Selamat malam Ahjussi. Terimakasih sudah memperhatikanku"

"Ne. Sekarang tidurlah"

Kembali Baekhyun menyembunyikan kepalanya dibawah bantal. Matanya lagi-lagi berusaha terpejam ketika ia kembali merasakan lelah. Ia tak tahu, tiba-tiba saja ia jadi malas untuk menjalani hidupnya. Ia pikir, kalau saja tadi ia tidak membuka pesan dari Yebin pasti tidak akan seperti ini akhirnya.

Ia melemparkan ponselnya keujung ranjang, seolah tak peduli kalau benda itu bisa saja jatuh dan retak layarnya. Baekhyun tak akan pernah peduli walaupun ponselnya itu rusak dan tidak akan hidup lagi. Ia benar-benar jengah.

"Haishh haishh! Yak! Kenapa aku memikirkan Chanyeol lagi haishh. Dasar gila!"

Dengan emosi yang tersulut tiba-tiba, Baekhyun sudah duduk diatas ranjangnya. Ia mengacak rambutnya frustasi, menunjukkan wajah yang benar-benar bingung dan kesal.

Tapi kemudian ia malah memukul-mukul bantal dipangkuannya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia merindukan Chanyeol-nya, merindukan lelaki itu ada didekatnya tapi ia sedang marah. Ia malu kalau harus menghubungi Chanyeol terlebih dahulu.

Saat merasa dirinya sudah lebih baik, Baekhyun pun berusaha untuk kembali berbaring. Ia hanya butuh istirahat sekarang. Ia masih benar-benar shock setelah mengetahui kalau Chanyeol bukanlah Chanyeol yang ia kenal selama ini.

"Aku ak-"

"Baby!"

Ah, Baekhyun baru ingat kalau ia bahkan lupa mengunci pintu kamarnya. Kini pun, dengan sedikit terkejut ia dapat melihat lelaki yang sudah membuatnya nampak frustasi tengah berdiri diambang pintu kamarnya dengan nafas terengah dan juga sedikit bulir keringat yang membasahi dahinya yang terekspos.

Berani-beraninya Chanyeol memamerkan dahi seksi itu dihadapan banyak orang tadi! Baekhyun jadi semakin kesal mengingatnya.

"Ah, aku lupa mengunci pintunya"

"Baby"

"Ada apa Chanyeol?"

Baekhyun yang tadinya berbaring kini berusaha bangkit dan memilih untuk berdiri disisi ranjangnya. Ia tak menghampiri sang kekasih seperti biasanya, tak juga tersenyum menggoda, apalagi sampai memeluknya. Baekhyun hanya diam berdiri ditempatnya dengan tangan yang ia lipat didepan perutnya.

"Baekkie, aku harus menjelaskan ba-"

"Diam saja disana dan jangan coba-coba mendekat! Aku masih bisa mendengarmu dari sini"

"Baek~ kumohon sa-"

DrrtDrrrt

"Ada apa Lu?"

Baekhyun melirik Chanyeol lagi setelah sekali lagi meraih ponselnya. Sebenarnya ia juga malas menjawab telepon dari Luhan, tapi mau bagaimana lagi? Mungkin Luhan juga tengah mengkhawatirkannya.

"Aku baik-baik saja"

"..."

"Ke...kekasihku? Siapa?"

Baekhyun menyeringai, melirik Chanyeol dan berusaha menyindir lelaki tampan itu. Chanyeol ditempatnya hanya diam dan memperhatikan, merasa agak marah ketika Baekhyun bicara seolah-olah tak menganggapnya sebagai kekasih.

Namun saat ingat Baekhyun tengah marah padanya, Chanyeol hanya memilih untuk mengalah. Ia tak ingin bertengkar terlalu lama bersama kekasih manisnya itu. Kini, ypang Chanyeol rencanakan hanyalah diam dan meminta maaf sampai Baekhyun akan memaafkannya.

"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja dan aku tidak menangis sama sekali!"

"..."

"Aku akan minta Taehyung atau Bobby menemaniku malam ini"

"..."

"Aku...mungkin akan meminta mereka menginap disini. Aku butuh teman untuk tidur bersamaku ma- C-chanyeol!"

"..."

"Lu, nanti kutelpon lagi"

Mata Baekhyun mendelik tajam kearah Chanyeol yang kini sudah ada tepat dihadapannya. Bahkan Chanyeol nekat mempersempit jarak mereka hingga kini keduanya hanya terpisahkan dengan jarak sekitar 5 cm.

Lagi, Baekhyun dapat melihat wajah tampan itu dari dekat. Dahi seksinya nampak menantang, membuat Baekhyun menginginkan Chanyeol menguasainya malam ini. Tapi ia ingat, ia masih marah dan kesal pada lelaki dihadapannya.

"Siapa yang memintamu mendekat?"

"Rencanamu buruk sekali sayang"

"Rencana apa ngomong-ngomong. Oh, bisa menjauh dan kembali lagi ketempatmu? Syukur-syukur kau lebih memilih pulang ketimbang ada disini"

"Baek"

"Hn?"

"Kau itu adalah MI-LIK-KU! Kau adalah milikku dan kau mengakuinya. Satu hal yang harus kau tahu. Aku tidak suka ada orang lain yang menyentuh milikku. Dan kau? Kau malah berencana membiarkan orang lain menyentuhmu malam ini. Tidak akan kubiarkan kau me-"

"Sudah selesai bicaranya?"

"Baby~"

"Aku memang milikmu Chanyeol. Aku tahu kalau aku ini milikmu sejak beberapa minggu belakangan ini. Tapi kau juga harus ingat, kau juga adalah milikku! Park Chanyeol adalah milik Byun Baekhyun seorang"

"..."

"Kau tidak suka AKU disentuh orang lain. Kau tidak suka aku menggoda orang lain. Tapi kau sendiri? Bahkan aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kau menyentuh orang lain dan juga membiarkan mereka menyentuhmu semau mereka. Apakah itu adil?"

Baekhyun tersenyum meremehkan kemudian, dan nampak tak peduli pada tatapan terkejut Chanyeol. Faktanya, walau sempat kesal ketika Chanyeol mendekat padanya sampai saat ini Baekhyun masih bertahan ditempatnya. Ia dapat mencium bagaimana aroma menggoda ditubuh kekasihnya, bagaimana bibir tebal Chanyeol yang terlihat sangat nikmat kalau bisa ia cium seperti biasanya. Baekhyun ingin Chanyeol memeluknya, menciumnya dalam seperti biasa. Baekhyun sangat menginginkannya, tapi ia benar-benar tak mau memulainya duluan.

"B-baek, Aku...aku benar-benar minta maaf. Sebenarnya...a-aku sudah berniat menceritakan semua ini padamu. Tapi kau malah datang terlebih dahulu dan me-"

"Jadi ini semua salahku?"

"T-tidak begitu baby. Sungguh, maafkan aku eum?"

"Jangan menyentuhku!"

Bodoh. Tadi kau ingin Chanyeol memelukmu. Tapi saat lelaki itu merengkuh pinggangmu kau malah mendorongnya.

Walau Baekhyun berusaha bertingkah galak, dimata Chanyeol anak itu tetaplah sama. Tak berbeda dengan ketika anak itu hanya merajuk karena hal kecil. Baekhyun tetap menggemaskan dimatanya.

Chanyeol tahu kalau ini semua adalah kesalahannya. Harusnya ia menuruti Eomma-nya untuk tidak pergi ke Club malam hari ini. Haishh, kalau tahu akan seperti ini akhirnya Chanyeol pasti tidak akan datang ke tempat terkutuk itu.

"Baekhyunnie~"

"..."

"Baek, ini semua salahku, aku tahu. Aku benar-benar minta maaf padamu sayang. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak ak-"

"Yeol"

"Aku tidak akan mengulanginya lagi. Baek, aku harus apa agar kau percaya padaku eum? Aku harusnya jujur padamu tentang diriku yang sebenarnya sejak awal. Sungguh, aku benar-benar menyesal tidak mengatakan ini semua sejak a-"

"Yeol, sungguh"

"..."

"Aku tidak suka berdebat, aku tidak suka bertengkar dan akhirnya kita hanya akan mengakhiri hubungan kita. Yeol...aku...aku tidak tahu lagi. Kita...putus saja"

"B-baek, kumohon tarik kata-katamu sayang. Jangan katakan itu Baek. Aku akan melakukan apapun, tapi...tolong jangan katakan kalau kau ingin mengakhiri hubungan kita. Aku sangat mencintaimu Baek."

Baekhyun menggeleng dan akhirnya memilih untuk menunduk. Setelah sejak tadi tak merasakan sedih atau apapun, kini ia mulai merasakannya. Bahkan dadanya sakit sekali ketika ia mengatakan ingin mengakhirinya bersama Chanyeol. Saat ini ia merasa tubuhnya jadi lemas, ia bergetar dan merasa putus asa tiba-tiba.

Ia yakin Chanyeol dihadapannya tengah menatapnya lekat-lekat. Ia juga tahu kalau lelaki itu mungkin tak akan berhenti mengintimidasi dirinya kalau ia tak benar-benar memberi penjelasan. Tapi Baekhyun tak sanggup, tak sanggup mengulangi kata-katanya yang hampir membuat jantungnya meledak.

Disatu sisi ia begitu mencintai Chanyeol, berharap lebih pada lelaki itu utuk kedepannya. Tapi saat mengetahui kalau lelaki itu bahkan tidak sama sekali membuka diri padanya, ada rasa kecewa terselip. Seolah-olah minggu-minggu mereka bersama adalah hal biasa hingga Chanyeol masih memilih untuk menutupi segalanya.

"Aku...kupikir kau mencintaiku. Tapi sepertinya disini hanya aku yang ter-"

"AKU MENCINTAIMU BAEKHYUN! AKU JUGA MENCINTAIMU! JANGAN KA-"

"KENAPA BERTERIAK? KENAPA MEMBENTAKKU CHANYEOL? KENAPA? Hiks"

Ini bahkan pertama kalinya Chanyeol bisa meninggikan suara dihadapannya. Tak ada Chanyeol yang nampak pemalu dan juga gugup ketika berhadapan dengan Baekhyun. Tak ada juga lelaki tampan berkacamata yang biasanya selalu tersenyum lembut ketika Baekhyun merajuk.

Semuanya hilang karena yang ada dihadapan Baekhyun kini hanyalah Park Chanyeol. Si brengsek yang sialnya adalah kekasihnya. Kekasih? Baekhyun bahkan mulai ragu untuk status itu.

Ia tidak masalah kalau Chanyeol adalah seorang brengsek, maniak atau apapun itu. Baekhyun benar-benar tak masalah kalau Chanyeol adalah lelaki sialan yang gemar bermain wanita. Tapi masalah besar kalau Chanyeol malah menutupi siapa dirinya sendiri seperti ini. Baekhyun jadi merasa dibohongi, merasa seperti orang bodoh yang tidak mengenal siapa kekasihnya yang sebenarnya.

"Baek, kalau kau mencintaiku...kenapa memilih berakhir sayang? Aku tahu kau kecewa padaku. Aku benar-benar menyesal Baek, aku tak tahu kalau ak-"

"Hiks. A-aku mencintamu Yeol, sangat. Tapi kenapa kau menutupi semua dariku? K-kalau kau juga hiks mencintaiku, kenapa tidak menceritakan hiks semuanya d-dari awal? Aku sudah sangat hiks terbuka mengenai diriku padamu, tapi kenapa kau tidak? Bagaimana kita bisa bertahan lama jika kau s-saja hiks tidak mencoba untuk terbuka padaku?"

"B-baby, a-aku akan mencobanya. Aku akan lebih bersikap terbuka padamu. Aku akan berubah dan tidak akan mengecewakanmu lagi. Baek, maafkan aku sayang"

"..."

Chanyeol tak mendapatkan jawaban apapun. Sebenarnya pun ia sudah tak tahan, ia ingin menerjang Baekhyun, memeluknya erat sampai anak itu membukakan pintu maaf untuknya.

Ia jadi merasa semakin bersalah ketika anak itu malah menangis sesegukan. Baekhyun tetap menunduk, dan kalau saja Baekhyun nanti mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajah manisnya yang sudah becek karena air mata, Chanyeol mungkin akan merasa benar-benar brengsek.

Kalau saja Baekhyun tidak akan marah dan semakin membencinya, Chanyeol pasti sudah dari tadi menarik Baekhyun kepelukannya dengan jutaan kata cinta dan juga maaf yang akan ia senandungkan didepan telinga Baekhyun. Namun sialnya Chanyeol tidak melakukannya, ia masih takut Baekhyun akan semakin membencinya kalau ia melakukannya tiba-tiba.

"Aku tak tahu apa arti hiks h-hubungan ini untukmu Yeol. Aku tidak tahu~ apa...kau hanya hiks ingin main-main? Oh, hiks atau ini adalah karma u-untukku karena hiks dulu sering main-main?"

"..."

"Kita hiks berjanji, s-sudah jutaan kali hiks mengatakan kalau kiita saling mencintai dan a-akan hiks bersama untuk kedepannya. Tapi hiks kenapa sekarang...k-kita butuh rasa saling percaya Yeol. Hubungan kita krisis kepercayaan. Ah, tepatnya kau yang mungkin tidak percaya padaku. Apa mungkin, aku terlalu jalang untuk bisa memilikimu seutuhnya?"

"B-baekhyun"

"Kalau diawal-awal saja hubungan kita sudah rumit seperti ini, bagaimana kedepannya? Ini hal kecil Chanyeol, hanya hiks masalah kepercayaan. Tapi itu sangat penting bagiku, kalau hal sekecil inipun kau sembunyikan terus, bagaimana dengan hal-hal yang lainnya? Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?"

"Sayang"

"Kita akhiri saja. Mungkin aku akan berusaha tidak terlihat menyesal nantinya."

"..."

"Sial, aku bahkan menangis hanya karena kau meneriakiku"

Apa yang Chanyeol takutkan sebelumnya benar, dadanya berdenyut menyakitkan ketika Baekhyun memaksakan sebuah senyum. Anak itu nampak bodoh ketika memaksakan diri untuk tertawa sambil menghapus air matanya.

Tapi Baekhyun sama sekali tidak menatapnya, tidak melirik Chanyeol dan hanya berpura-pura sibuk menghapus air matanya. Chanyeol tak tega, merasa begitu menyesal karena semua perbuatannya.

"Baek, dengarkan aku!"

"Uuh, mataku gatal"

"Baek, lihat ak-"

"Haishh, kenapa pipiku jadi sak-"

"YAK! BYUN BAEKHYUN!"

"C-chanyeol"

Karena kesal Baekhyun terus mengabaikannya, bahkan Chanyeol tak sadar kalau ia baru saja menerjang Baekhyun hingga anak itu terjungkal kebelakang. Kedua tangan Baekhyun yang seperti ranting ditahan dikedua pergelangan tangannya oleh Chanyeol disisi kepala anak itu.

Lelaki ditasnya nampak mengintimidasi, bibirnya terkatup rapat-rapat tapi Baekhyun tahu kalau Chanyeol sangat marah.

"Maafkan aku kalau ini terkesan kasar"

"Lepaskan aku!"

"..."

"..."

"Baek, tak bisakah? Kumohon~"

"Menyingkirlah!"

"Baek, berikan aku kesempatan kedua."

"..."

"..."

"Yeol"

"Ya Baby?"

"Cium aku!"

Chanyeol agak terkejut ketika tiba-tiba saja Baekhyun sudah memejamkan matanya. Tubuh anak itu melemas tiba-tiba seolah memasrahkan dirinya pada Chanyeol. Sial, bahkan Chanyeol langsung meneguk liurnya kasar saat melihat Baekhyun yang seakan-akan minta disetubuhi. Padahal anak itu hanya minta dicium, tetapi kenapa bisa semenggoda ini?

Tak ada hal lain yang bisa Baekhyun rasakan selain rasa rindu akan sentuhan Chanyeol. Ia memang marah pada lekaki tampan itu, tapi ia mana bisa marah pada sentuhan memabukan Chanyeol padanya. Ia merindukan itu semua, dan ia ingin Chanyeol menguasainya walau mereka tengah didalam sebuah konflik.

Walau ragu-ragu, Chanyeol tetap melakukannya. Bibirnya menyentuh dengan lembut permukaan bibir Baekhyun yang terasa agak dingin. Chanyeol menjilatnya lembut, membuat bibir Baekhyun menjadi lembab dan juga basah.

Lumatan lembut Chanyeol berikan secara bergantian pada bilah bibir Baekhyun. Ia bahkan tak sama sekali menggunakan nafsunya, ia menahannya agar rasa cintanya yang tulus bisa tersampaikan pada kekasihnya itu melalui ciuman ini.

Tangannya masih dengan setia memegangi kedua pergelangan tangan Baekhyun walau Chanyeol tahu anak itu tidak akan memberontak. Dan ciumannya semakin dalam, walau Baekhyun tak membalasnya sama sekali, Chanyeol sudah bersyukur saat Baekhyun mau membuka mulut untuk menyambut ciumannya.

"Nhh"

Rasanya geli ketika Chanyeol menggelitik langit-langit mulutnya dengan ujung lidah. Bersamaan Baekhyun yang sama sekali tidak berniat untuk menolak, Chanyeol terus menciumnya bahkan sampai saliva Baekhyun meleleh dari sudut bibirnya.

"Maafkan aku"

Mungkin sudah puluhan kali Chanyeol meminta maaf pada Baekhyun dalam jangka waktu kurang dari 2 jam. Lelaki tampan itu benar-benar merasa menyesal dan penuh rasa bersalah pada Baekhyun. Kalau saja ia tahu Baekhyun akan semarah ini padanya, Chanyeol tak akan menyembunyikan dirinya sejak awal.

Kini ia tak tahu harus berbuat apa agar Baekhyun bisa memaafkannya. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memandangi wajah Baekhyun, menatap tepat dimatanya saat anak itu masih sibuk mengisi pasokan udaranya setelah berciuman tadi.

Keduanya saling berbincang didalam tatapan masing-masing, tak saling membuka mulut untuk melontarkan segala paragraf yang sudah mengalir bebas didalam kepala mereka.

"Tidurlah, sudah malam"

Cup

Dengan lembut Chanyeol mengecup kening Baekhyun. Tangannya dengan sangat telaten menyibak poni yang menutupi kening sang kekasih. Chanyeol melakukannya berkali-kali, membuat kening Baekhyun kini terlihat jelas dimatanya.

Chanyeol tersenyum singkat lagi, agak miris karena Baekhyun pun sama sekali tak berniat meresponnya. Anak itu hanya diam, membiarkan Chanyeol memperlakukannya bagai bayi sambil ia menatap tanpa ekspresi kekasih tiangnya.

"Maafkan aku membuatmu jadi begini. Maafkan aku sungguh. Aku...aku tidak akan memaksamu lagi. Aku terlalu mencintaimu hingga aku tak akan sanggup memaksamu."

"..."

"Aku...Tidurlah, aku akan pergi"

"..."

Cup

Itu sekali lagi sebelum Chanyeol bangkit dari posisinya menindih Baekhyun. Lelaki manis itu bahkan tetap diam, saat Chanyeol sudah bangkit dan hendak berbalik pun Baekhyun masih diam dan hanya memandangi punggung kekasihnya.

Baekhyun menghela nafasnya sejenak sebelum memejamkan matanya. Jantungnya berdegup tak karuan dan ia mulai bingung dengan apa yang harus ia lakukan setelah ini. Chanyeol terlalu berharga untuk ia lepaskan, tapi disatu sisi ia tidak menyukai kalau dirinya dibohongi seperti ini. Ia ingin melepaskan Chanyeol, tapi juga ingin Chanyeol terus berada disisinya untuk waktu yang lama kedepannya.

"Chanyeol"

Chanyeol yang hendak menutup pintu kamar Baekhyun mau tak mau berhenti. Ia melirik Baekhyun ragu-ragu, bahkan memaksakan sebuah senyum kecil tanpa berniat menghampiri sang kekasih.

"Aku..."

"..."

"Kemarilah!"

"Hn?"

"Kalau kau benar-benar mencintaiku...kemarilah!"

Kalau diminta untuk terjun bebas dari atas bukit untuk membuktikan cintanya pada Baekhyun, Chanyeol akan melakukannya. Apalagi hanya diminta mendekati anak itu, hanya butuh waktu sepersekian detik hingga Chanyeol sudah berdiri dihadapan Baekhyun yang masih telentang pasrah diatas ranjangnya.

"Ada ap-"

"Kau menyesal menyembunyikan ini dariku?"

"..."

"Mendekatlah!"

Kesempatan kedua.

Baekhyun bahkan tak yakin dengan apa yang ia pikirkan. Ia tak tahu kenapa tiba-tiba saja ia memikirkan kata-kaya Chanyeol mengenai kesempatan kedua. Ia ingin memberikan, tapi masih sedikit takut kalau-kalau nanti Chanyeol malah akan mengecewakannya lagi.

Ia membiarkan Chanyeol kembali menindihnya, membiarkan wajah lelaki itu mendekat padanya hingga mereka bisa merasakan bagaimana nafas hangat satu sama lain.

Chanyeol masih tak mengerti dengan apa maksud Baekhyun memintanya mendekat seperti ini. Tapi ia tetap melakukannya, karena biar bagaimanapun ia sudah berjanji akan melakukan apapun agar Baekhyun bisa memaafkannya.

"Tunjukkan padaku!"

"Hn?"

"Tunjukkan padaku sebagai dirimu sendiri!"

"A-apa? Apa yang ha-"

"Tunjukkan padaku bagaimana Park Chanyeol yang sebenarnya! Lakukan sebagai dirimu sendiri. Jangan mencoba untuk berpura-pura lagi padaku! Cukup lakukan agar aku tahu!"

"B-baek!"

"Lakukan dan aku tidak akan melawan!"

Chanyeol bisa menangkap kalau Baekhyun begitu sungguh-sungguh dengan perkataannya. Anak itu bahkan tak nampak ragu sama sekali saat dibalik kata-katanya ia memasrahkan dirinya.

"B-baek, kau..."

"Lakukan seperti yang biasanya Park Chanyeol lakukan!"

"Tap-"

"Jangan menolak kalau kau memang benar-benar mencintaimu!"

"Aku mencintaimu sayang. Aku mencintaimu melebihi apapun. Tapi kalau untuk melakukan itu padamu...ak-"

"Aku hanya akan diam dan berusaha menikmati apa yang akan kau lakukan. Aku...anggap saja aku ini jalang yang sering kau tiduri"

"Tidak akan!"

"..."

"Aku tidak bisa menyakitimu Baek"

"Kau bahkan sudah menyakitiku dengan kebohonganmu"

Chanyeol diam saat merasa tersedak kata-kata kasar Baekhyun untuknya. Lelaki manis itu masih terlihat santai walau wajahnya mulai berubah sedikit demi sedikit menjadi sendu.

Chanyeol mana tega kalau harus menyetubuhi anak itu sambil membayangkan kalau kekasihnya itu adalah jalang yang sering ia temui. Walau ia brengsek, ia masih bisa menghargai bagaimana kekasihnya. Ia hanya tak ingin menyakiti Baekhyun dengan segala tingkah brutalnya nanti.

"Terbukalah Chanyeol. Kalau kau benar-benar ingin memperbaiki semuanya, biarkan aku mengenal dirimu!"

"Tapi tidak sep-"

"Hanya sisi brengsek-mu yang tidak kuketahui. Jadi, kumohon lakukan!"

"Kau...kau yang meminta. Jangan membenciku setelah aku melakukannya padamu!"

"Akan kuusahakan"

"Dan...kuharap kau tidak menyesali kata-katamu yang memintaku melakukan ini padamu. Aku...akan kutunjukan bagaimana aku yang sebenarnya. Kalau dengan menunjukkan diriku bisa membuatmu memaafkanku, akan aku lakukan"

"..."

"Tapi...kumohon, jangan memaksakan dirimu sayang"

"Aku tidak memaksakan diri. Sudah kubilang aku hanya akan diam dan berusaha menikmati"

"Kau...benar-benar tidak akan menyesal kan?"

"Tidak akan"

TBC

Annyeong~

Aku angkat tangan berapa kali ya kemarin pas ngetik Chap ini wkwk gatau aja, tiba-tiba mood ilang melulu ditengah jalan pas lagi ngetik wkwk

Makasih banget buat kalian-kalian yang udah setia nungguin ff ini. Makasih juga buat yang udah review, fav, follow atau cuma ngelirik kni ff^^

Oh, sepertinya Chapter depan... *lirikchanbaek

Review Juseyoooooooooooooo~