"Kumohon jangan membuatku memaksamu Kyungsoo."
"Kai... Apa kau mau menghabiskan malam ini denganku?"
(10th Chapter)
Present by RoséBear
Main cast: Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery. Semi Mature
The Paradox of Lost Complementary
"Bicarakan dengan Kai sebelum kau memutuskan. Persetujuannya akan sangat penting Kyungsoo. Aku berharap Kai tidak melarangmu. Lalu kau bisa bicara pada malam hari, kuberitahu jika lelaki lebih penurut seusai kegiatan ranjang. Kau seorang istri. Aku tahu kau tidak pernah melayani suamimu di ranjang. Sekali saja cobalah tuntaskan gairahnya Kyungsoo."
Wanita itu memandang Kai dengan mata bulatnya yang mencoba menghipnotis. Dia tidak hanya mengingat ucapan Chanyeol sore ini, tapi juga pesan kakek Kai tadi pagi. Bagaimana percakapan singkat mereka saat Kyungsoo selesai membereskan beberapa barang kemudian kakek Kai menghampirinya di dapur.
"Kau sudah mencicipi wine yang dikirim Suho? Aku memintanya mengirimi kalian."
Kyungsoo menggeleng pelan. Seingat Kyungsoo, dia sudah mengatakan tidak mengkonsumsi alkohol. Wine termasuk dalam daftar larangan untuk dikonsumsi tubuh Kyungsoo karena takut kehilangan kendali jika mabuk. Apalagi sepengetahuan Kyungsoo orang mabuk bicara omong kosong, terlalu banyak ketakutan dalam dirinya.
"Satu teguk atau dua teguk wine tidak akan membuatmu mabuk. Aku belum pernah menemukan orang mabuk karena seteguk wine Kyungsoo."
Kyungsoo tidak membenarkan perkataan kakek Kai karena dia adalah contoh nyatanya. Pengecualian, mungkin tidak satu teguk tapi Kyungsoo memiliki kecendrungan aneh. Dia benar-benar bisa mabuk hanya dengan satu bowl wine.
Efek kelaparan pada pagi itu di tambah seteguk wine membuatnya hilang kesadaran dalam hitungan detik. Kyungsoo mengingat bagaimana dia menjadi cukup dekat dengan Kai.
"Kau sudah memasang kontrasepsi Kyungsoo?"
"Uhuk!" Kyungsoo tersedak oleh ludahnya sendiri. Malu-malu dia mengangguk. Ayahnya tentu sudah mengatur semua itu. Kyungsoo masih terlalu dini untuk menjadi ibu muda.
"Mau kuberitahu Kyungsoo?"
"Ya?"
"Menurut studi ilmiah, red wine bisa meningkatkan libido pada perempuan. Dia memperbaiki fungsi seksual perempuan. Kau harus mencobanya Kyungsoo."
~ RoséBear~
Sekarang, yang di hadapan Kyungsoo adalah seorang lelaki. Tepatnya suaminya. Tidak akan ada yang salah jika dia melakukannya, dikemudian hari nanti bukankah mereka akan melakukannya. Hanya menunggu kapan waktu untuk memulai itu sebelum benar-benar terjadi perpisahan? Sepertinya tidak akan terjadi. Pikir Kyungsoo seperti itu.
Ia menarik napas dalam sekali lagi.
"Kai?" Suaranya mengalun begitu lembut memanggil nama suaminya.
Tapi lelaki itu sama sekali tidak bergeming dalam beberapa waktu yang cukup panjang. Terlalu terkejut dan apa yang barusan Kyungsoo lihat? Kai tersenyum, tepatnya menyeringai. Oh ya Tuhan. Apa Kyungsoo salah waktu saat mengeluarkan kalimat barusan? Bukan sekarang? Tapi Kyungsoo membutuhkan persetujuan Kai. Walau bagaimana 'pun mereka telah mengingat janji satu sama lain. Kyungsoo merasa malu dengan penolakkan Kai malam ini saat pria itu tidak memberi jawaban apapun hingga dia berasumsi Kai telah menolaknya.
Perlahan Kyungsoo lepaskan tangan dari Kai. Menurunkan kakinya ke lantai dan memandang lurus ke depan, menghindari tatapan Kai.
"A-aku akan ke dapur."
Kyungsoo beranjak dari tempat duduknya. Tatapan Kai mengisyaratkan sebuah penolakkan. Kyungsoo sudah cukup malu jika terus berada di dekat pria ini.
"Ya. Aku akan mandi lalu sebaiknya kita istirahat Kyungsoo. Besok aku memiliki jadwal kerja pagi hari."
Digenggamnya tangan sekuat tenaga mendengar ucapan Kai pada langkah pertama Kyungsoo akan ke dapur.
Oh ya Tuhan. Yang dia butuhkan secepatnya tidak sadarkan diri agar bisa melupakan penolakkan Kai barusan.
Gadis itu berdiri di balik kitchen set. Tangannya bertopang pada kitchen set danmenyisahkan napas putus-putus. Ia meraih gelas dan meminum air mineral cukup banyak. Barulah Kyungsoo berani melangkah ke kamar saat terdengar suara pintu terbuka. Ia yakin Kai telah pergi lebih dulu.
Tebakkan Kyungsoo benar, bahkan Kai telah memasuki kamar mandi.
Tiba-tiba dia menjadi gugup jika harus bicara lagi dengan Kai nanti. Di bagian nakas yang memiliki laci tanpa pintu, tergeletak botol red wine. Kyungsoo tak pernah menyentuhnya, itu adalah barang yang dikirimkan Suho beberapa waktu lalu. Jantungnya berdegup cukup cepat, Kyungsoo meraih botol itu, menggunakan garpu untuk membuka busa penutup.
Tegukkan pertama yang membuatnya mengernyit. Dia masih sadar, lalu tegukkan kedua mulai membuat mata Kyungsoo berkabut. Rasanya red wine itu mulai bereaksi pada tubuhnya, muncul semburat merah, saat mencoba berdiri segera Kyungsoo bertopang pada sisi ranjang.
"Wahhh," bahkan nada suaranya terdengar sedikit kacau. Ia memandangi botol gelap di tangannya, kembali meneguk lebih banyak cairan. Sedikit kasar Kyungsoo meletakkan botol itu di atas nakas. Ia mulai menaiki ranjang namun rasanya panas, Kyungsoo benar-benar kesulitan menguasai diri karena efek alkohol yang terkandung di dalam red wine. Seharusnya dia memastikan berapa lama proses fermentasi wine itu. Kemudian terdengar pintu kamar mandi berbunyi, berhasil menarik perhatian Kyungsoo.
Ia mendongak mendapati raut terkejut Kai secara samar-samar.
~ RoséBear~
Jika dipikiran, bukankah dunia ini begitu luas? Lalu kenapa rasanya begitu sempit hanya memikirkan perkataan Kyungsoo beberapa saat yang lalu. Kenapa tiba-tiba Kyungsoo ingin menghabiskan malam bersama dengannya, tentu saja Kai bisa mengartikan kalimat tersebut. Terdengar sedikit aneh hingga memaksa Kai mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ia memilih melewatkan makan malam daripada memiliki perbincangan yang panjang dengan Kyungsoo.
Sebenarnya lelaki ini hanya tidak ingin membuat Kyungsoo menyesal di kemudian. Ia tahu Kyungsoo telah menggunakan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang di rencanakan tuan Do dalam waktu dekat. Tapi menyentuh Kyungsoo dalam waktu dekat, meninggalkan rasa sakit itu terdengar sedikit tidak menyenangkan. Lalu apa yang diinginkan Kyungsoo sebenarnya?
Ia menyudahi mengguyur tubuhnya. Namun lelaki itu terkejut mendapati Kyungsoo memandanginya. Kyungsoo menunggu Kai di atas ranjang. Susah payah Kai ingin menghindar dari tatapan Kyungsoo, ia berjalan menuju ruang ganti namun tiba-tiba tangan dingin dan begitu lembut itu melingkarkan diri dari belakang.
"Kyungsoo?" Kai sedikit menegur.
"Kau menolakku? Tidakkah kau tahu ini pertama kalinya aku meminta seseorang bercinta denganku. Kau bodoh Kai."
'Ya. Aku memang bodoh karena mengabaikanmu dalam banyak hal.'
Kai hanya diam. Dia terlalu sibuk dengan pikiran naifnya. Sementara Kyungsoo masih mempertahankan posisi keduanya.
"Kau suamiku, kita tidak akan berdosa melakukannya Kai."
Rasanya penciuman Kai masih sangat baik. Buru-buru ia membalikkan badan. Memegang erat kedua lengan atas Kyungsoo. Ia menghela napas berat menyadari napas berat Kyungsoo, mata memerah berkabut dengan merona, semakin memerah saat menyadari tatapan dalam Kai.
Kyungsoo menunduk, jemari tangannya yang bebas merayap ke perut berotot Kai di balik bathrobe biru yang ia kenakan. Mengelus hingga membuat Kai susah payah menahan dirinya. Telapak tangan Kyungsoo terasa hangat dan itu membuat adik kecilnya hampir menegang.
Kyungsoo maju menempelkan tubuhnya, mencoba mendengar detak jantung pria itu. Ia mendongak dengan senyum jahil.
"Kau menginginkannya juga Kai?"
Sekarang Kai yakin Kyungsoo telah mabuk. Tatapannya mendapati botol red wine yang masih terbuka. Tergeletak begitu saja di atas nakas.
Lelaki itu diam saja, memikirkan apa yang telah Kyungsoo lakukan selama dia menghabiskan waktu di kamar mandi.
Kini ia kesulitan bergerak karena Kyungsoo telah menginjak kedua kakinya. Berjinjit dan mulai mencium bibir Kai dengan lembut.
"Kau tidak mau menciumku Kai?" Kyungsoo menarik kepalanya membuat ekspresi seimut mungkin.
Mati-matian Kai berusaha menahan dirinya agar tidak menyakiti Kyungsoo tapi perempuan ini yang lebih dulu menggodanya. Sekali lagi Kyungsoo berjinjit menekan kaki Kai, menempelkan bibir hatinya.
Dengan sadar Kai merambatkan tangannya ke punggung Kyungsoo. Menarik kepala istrinya semakin mendekat. Ia membalas ciuman Kyungsoo. Memberikan tekanan lembut pada bibir hati itu, dia tidak mau menghancurkan bibir hati itu. Tentu saja Kai tahu Kyungsoo benar-benar payah dalam hal berhubungan badan bentuk apapun. Ia mencium bibir Kyungsoo dengan pelan.
Tapi hasrat bercinta Kyungsoo sepertinya semakin memuncak, perempuan itu tidak mau mengakhiri ciumannya, jika Kai akan melepaskan maka Kyungsoo akan menahannya. Sepertinya efek red wine itu membuatnya benar-benar relax menikmati setiap sentuhan Kai.
Perempuan itu menerima ketika Kai mengangkat kakinya, membawa kedua kaki itu melingkarkan di pinggang tanpa melepaskan ciuman mereka. Hanya perlu maju beberapa langkah sampai Kai menjatuhkan tubuh Kyungsoo ke atas ranjang. Melepaskan tautan bibir keduanya, menyaksikan bagaimana napas Kyungsoo terputus-putus.
Kai menahan tubuhnya dengan lutut yang bersimpuh di sisi tubuh Kyungsoo. "Jadi? Kau benar-benar ingin aku bercinta denganku?"
Samar-samar Kyungsoo mengangguk, ia menggigit jemarinya menyaksikan bagaimana Kai melepaskan bathrobe biru di tubuhnya, menampilkan kulit tan yang begitu sexy. Lelaki itu mengikat tangan baju handuk mandi pada pinggangnya masih menutupi kejantanan Kai.
"Kau ingin aku menyentuhmu dimana?" Ia merunduk. Membawa jemari tangan menyingkap kaos tidur Kyungsoo. Mengelus kulit putih selembut kulit bayi. Kai terkesiap sejenak, ini pertama kali dia menyentuh Kyungsoo begitu intim.
"Di sini?"
Kyungsoo memejamkan matanya erat. Tubuhnya melengkung hanya dengan sentuhan yang begitu ringan.
Kai membawa tangannya sedikit turun melewati karet celana piyama Kyungsoo.
"Atau disini?"
"Ssssshhhhh."
Kini ia mendengar Kyungsoo berdesis. Sekali lagi perempuan itu menganggukkan kepalanya. Menyetujui saran Kai barusan. Tangannya meremas seprai tak bersalah ketika Kai menyentuh pakaian dalam Kyungsoo.
Membawa wajah mereka berhadapan. Ia mencium ujung hidung Kyungsoo begitu lembut, membiarkan tangan bebasnya berkeliaran di bawah sana membuat Kyungsoo bersusah payah menahan gairah di tubuhnya. Ekor mata Kai menyaksikan bagaimana usaha Kyungsoo bertahan dengan meremas seprai semakin kasar.
"Jadi yang mana lebih dulu Sayang?"
Kyungsoo mengerang frustasi karena Kai menekan miliknya. Oh shit! Rasanya benar-benar menyiksa. Gelenyar panas membuat Kyungsoo mencoba bangkit namun lelaki itu melarangnya.
"Biar aku yang melakukannya."
Percayalah, Kai bahkan belum siap untuk bercinta dengan Kyungsoo, ia tahu istrinya dalam pengaruh alkohol. Mata Kyungsoo masih tampak berkabut, tapi hasratnya begitu tinggi.
Untuk pertama kali Kai menarik celana piyama Kyungsoo turun hingga ke lutut. Menyisahkan pakaian dalamnya yang tanpa renda. Lelaki itu membuka selangkangan Kyungsoo, mencium paha dalam Kyungsoo begitu seduktif, dari balik bulu matanya ia bisa melihat Kyungsoo tampak tidak nyaman.
Sekali waktu Kai mengeram sakit ketika Kyungsoo menarik rambutnya kasar. Menekan kepala lelaki itu untuk merasakan miliknya.
Kai merangkak menaiki tubuh Kyungsoo. Menghembuskan napas hangat pada wajah istrinya, tampak berkeringat, kabut di mata Kyungsoo tak kunjung hilang. Dibelainya lembut wajah Kyungsoo guna menyingkirkan helaian rambut setengah basah karena keringat.
"Ini pertama kalinya untukmu?"
Kai berani bertanya begitu karena dia merasakan reaksi tubuh Kyungsoo ketika mencium paha dalam perempuan itu.
Kyungsoo mengangguk. Dia tidak pernah disentuh oleh pria manapun.
"Jangan malu padaku sayang. Bagaimana jika aku mengajarimu perlahan?"
Ia dekatkan wajahnya. Menekan bibir Kyungsoo dan mendapatkan balasan untuk ciuman lembut Kai.
'Di bibirmu terdapat kemanisan yang tidak pernah habis.'Pikir lelaki itu pelan.
Ini bukan pertama kalinya bagi Kai untuk bercinta dengan perempuan dalam menuntaskan gairahnya, ia sering mengikuti one night stand yang menjamin pasangan bercintanya dalam semalam. Tapi ini pertama kali baginya untuk mengajari seseorang bercinta, dia tidak pernah bercinta dengan perawan sebelumnya. Kyungsoo benar-benar tidak mengerti apapun tentang berhubungan intim. Dia menjaga tubuh untuk suaminya, Kai.
Pelan Kai membawa Kyungsoo untuk kembali berbaring di kepala ranjang setelah dia bergerak-gerak gelisah akibat sentuhan yang membasahi bagian bawahnya.
"Ka-Kai."
Jemari Kyungsoo tampak gemetar. "Aku ingin bercinta denganmu."
"Ya. Aku mengerti sayang."
~ RoséBear~
Suara denting jam yang teratur, perempuan itu masih bergerak gelisah di balik selimut tebal. Bersembunyi dari hawa dingin musim gugur. Ia telah mencoba sebisa mungkin untuk kembali tidur namun kemudian ia terbangun, rasa pening segera mendera.
Kyungsoo.
Menyentuh keningnya yang terasa dingin, terdapat handuk basah di dahinya, sebuah kompres. Ia menjadi linglung untuk beberapa saat. Mata bulatnya hanya setengah terbuka, mencaritahu keberadaan dirinya sekarang. Ini kamarnya bersama Kai.
Kai?
Kyungsoo terkesiap. Ia menyingkap selimutnya, tidak ada sakit di manapun. Ya walau beberapa bagian tubuh pegal dan pening mendera. Ia masih mengenakan pakaian, tapi bukan kaos polos dengan celana piyama seperti biasanya. Melainkan kemeja putih kebesaran dan celana dalam. Puting payudaranya menekan dasar kemeja karena udara dingin. Dengan sigap ia menarik selimut kembali menutupi bagian bawahnya ketika suara pintu kamar mandi terbuka.
Dilihatnya Kai keluar dengan celana dasar hitam tanpa pakaian atas.
"Kau sudah bangun?"
Pria itu berjalan mendekat masih berusaha mengeringkan rambutnya yang basah. Mengambil posisi duduk di pinggir ranjang. Lalu menjulurkan tangan merasakan suhu tubuh Kyungsoo melalui sentuhan di dahinya.
"Masih pusing?"
Kyungsoo ragu untuk memberikan jawaban apa. Tapi ia menggeleng pelan.
Sepersekian detik ia melihat Kai tersenyum, lelaki itu mendekatkan tubuhnya, mencium dahi Kyungsoo sementara tangannya menarik pundak. Dengan tangan yang bebas Kai menyentuh paha dalam Kyungsoo.
"Apa di sini juga masih sakit?"
Detik itu juga jantung Kyungsoo terasa berhenti, tubuhnya menegang. Kemudian jantungnya berdegup cepat. Kai terlalu dekat dan membuatnya tidak bisa melarikan diri.
"Tidurlah lagi. Di luar sana masih cukup gelap," jemari tangan lelaki itu mengancingkan kancing atas kemeja miliknya yang dikenakan Kyungsoo.
"Aku akan coba menyiapkan sarapanmu, tapi aku tidak bisa menemanimu pagi ini, aku punya jadwal pemeriksaan pasien. Aku akan mengantarmu ke tempat bimbingan belajar setelah pekerjaanku selesai."
Kai baru saja akan beranjak ketika tiba-tiba Kyungsoo memberanikan diri menarik tangan suaminya.
"Kai?" Terdengar kegugupan luar biasa pada panggilannya.
"Kita benar-benar melakukannya semalam?"
Kyungsoo sama sekali tidak berkedip. Ia mendapatkan perhatian Kai beberapa saat. Pria itu kembali duduk di sisi ranjang. Membawa tangan Kyungsoo menyentuh wajahnya.
"Lain kali jangan mabuk agar kau bisa mengingatnya." Suaranya bakan terdengar begitu lembut.
Kyungsoo terlihat ragu tapi dia meyakinkan diri, "sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Alis Kai naik satu tingkat. Jadi ada yang ingin Kyungsoo bicarakan? Apakah begitu penting hingga dia menawarkan tubuhnya pada Kai?
"Ya. Aku punya 30 menit untuk menyiapkan sarapan dan mendengarkanmu."
Napasnya tergelincir begitu saja, masih membiarkan Kai memegang tangannya.
"Apa kau mengizinkan aku ikut kompetisi? Aku akan tetap mengikuti ujian masuk perguruan tinggi untuk fakultas kedokteran."
Kyungsoo sudah bertekad. Namun dia juga membutuhkan dukungan dari pria ini.
"Kau memang harus melakukannya Kyungsoo," tentu Kai bicara tentang perguruan tinggi.
"Aku tidak akan mengganggumu, aku akan berlatih di luar rumah." Sekali lagi dia mencoba meyakinkan Kai.
"Hm?"
"Aku akan membereskan rumah sebelum kau pulang. Jadi kau tenang saja, tidak akan ada yang berubah. Hanya tiga jam dalam satu hari. Kumohon Kai..."
Kai menghela napasnya. "Apa kau sedang berusaha menjadi istri yang baik untukku?"
Mendengar ucapan Kai membuat Kyungsoo mengigit bibir bawahnya. Ia menunduk dan benar-benar terlihat lemah. Jadi Kai tetap tidak mengizinkan bahkan setelah dia memberikan apapun yang dia miliki.
"Kyungsoo, kita masih bicara bukan?" Kai bertanya bukan tanpa sebab, dia melihat wanita ini hanya diam tidak memberikan respon apapun lagi.
"Ya Kai."
"Ya?" Kai menuntut penjelasan Kyungsoo. Perempuan itu kembali menggigit bibir bawahnya.
Shit! Wajah itu benar-benar sebuah godaan yang sulit diabaikan.
Dengan satu gerakan cepat ia mencium Kyungsoo, memberi tekanan penuh gairah pada wanitanya.
Lama hingga ciuman itu terlepas, Kai menahan kepala Kyungsoo agar menatapnya. "Kemarin aku sudah melarangmu. Tapi akan kupertimbangkan lagi. Apa kau akan menunggu jawabanku?"
Kyungsoo tersenyum senang tanpa sadar ia menarik Kai, memeluk pria itu erat.
"Ya. Aku akan menunggu jawabanmu." Serunya cepat.
"Apa kau merasa berhasil dengan seks tadi malam Kyungsoo?"
Tubuh Kyungsoo kembali menegang mendengar perkataan vulgar Kai. Wajahnya merona. Jadi benar mereka melakukannya semalam?
"Istirahatlah akan coba kusiapkan sarapan untukmu."
Kai meninggalkan Kyungsoo yang masih berusaha mengingat kejadian semalam. Dia sama sekali tidak ingat apapun. Tapi ia masih ingat penolakkan Kai semalam. Samar-samar ia juga mengingat ciuman panas keduanya. Dimana Kai membawanya menaiki ranjang dan dada telanjang pria tan itu. Bagaimana kecupan basah Kai pada paha dalamnya. Semakin nyata ketika dengan sadar ia melihat beberapa tanda kemerahan di tulang depan dadanya pada cermin rias yang menampilkan tubuh Kyungsoo di atas ranjang, setelah wanita itu membuka kancing atas kemeja yang sebelumnya di kancingkan Kai. Tidak terlalu banyak hingga Kyungsoo bisa menyimpulkan Kai tidak bermain kasar, apa itu artinya kenapa dia tidak merasakan sakit pada kewanitaannya?
Jadi? Kyungsoo telah melakukannya dengan Kai?
Tapi kyungsoo masih ragu, pria itu juga meninggalkan kemeja wangi pada tubuh Kyungsoo, tidak ada aroma sex, tidak ada rasa lengket.
'Dengar Kyungsoo. Aku temanmu, aku seorang wanita. Ada hal yang tidak bisa kau bagi dengan teman lelaki, maka katakan padaku. Kumohon lupakan masa lalu kita. Aku mau kau percaya padaku lagi Kyung.'
Ucapan Baekhyun kemarin sore seperti kunci untuk membuka pintu kecanggungan diantara keduanya. Apa Kyungsoo yakin harus bercerita pada Baekhyun? Tapi jikapun dia melakukannya dengan Kai, seharusnya dia tidak perlu khawatir, Kai adalah suaminya. Hanya saja lain hal jika mereka berniat berpisah atau Kai tidak melakukannya? Kyungsoo benar-benar malu pada pria itu.
~ RoséBear~
Fajar menyingsing. Kai berbohong tentang 30 menit itu. Dia bahkan bisa meminta orang lain menggantikan tugasnya pagi ini. Alasan pemeriksaan pagi ini hanya untuk menghindari keinginan Kyungsoo.
Lelaki itu bersiap seorang diri, ia mengalami kesulitan untuk kembali ke kamar. Dengan tangan yang tidak di latih untuk membuat makanan ia memaksakan diri memilih menyiapkan sarapan untuk Kyungsoo lalu beranjak mengambil kunci mobil. Rumah ini memang sangatlah kecil, tapi masih memiliki ruang untuk garasi mobilnya yang kecil. Kai hanya mengeluarkan mobil itu ke pinggir jalan. Ia turun lalu hendak menutup kembali garasi rumahnya yang terdapat di samping. Lelaki itu berdiri cukup lama di depan garasi, ia berbalik untuk memastikan sesuatu. Di balik gang sempit berjarak tiga rumah dari hunian mereka. Tapi Kai terlalu malas untuk memastikan. Ia memilih masuk ke dalam mobil. Tidak menjalankan mobil itu begitu saja.
Pandangan Kai masih tertuju pada gang sempit di sana melalui kaca spion. Pria tan itu tersenyum, ia kembali turun dari mobil dan masuk ke rumah segera.
"Kyungsoo?"
Kai membuka pintu kamar dan menemukan istrinya baru saja selesai mandi. Perempuan itu keluar dengan handuk melingkar di tubuh. Ia terkejut oleh kehadiran Kai yang mendadak.
"Y-ya?" Kyungsoo bahkan terlihat gugup atas kehadiran Kai.
Ia hanya mengamati Kyungsoo, kemudian tersenyum begitu tulus.
"Mau menemaniku sarapan?"
Kyungsoo mengangguk pelan. "Ya. Tapi.. Kupikir tadi kau telah mengeluarkan mobil."
Kai mengangguk. "Ya. Tapi aku berubah pikiran. Apa kau mau mengunjungi kakek?"
Perempuan itu mengangguk semangat. "Aku mau. Bisakah kau menungguku di luar?" pintanya kemudian.
Dengan kepala dimiringkan Kai memastikan. Wajah Kyungsoo memerah, tangan perempuan itu memeluk tubuhnya sendiri mempertahankan handuk di tubuhnya membuat tawa Kai tidak bisa di tahan lagi.
"Kenapa aku harus menunggu di luar? Apa kau malu berganti pakaian di hadapanku? Aku sudah melihat semuanya Kyungsoo."
Ia benar-benar melepaskan tawanya saat Kyungsoo menunduk menahan malu. Rasanya jantung Kai berdebar dan hangat dalam waktu yang bersamaan. Tidakkah Kyungsoo begitu polos? Kemana anak perempuan yang dulu pernah memakinya di pertemuan pertama mereka?
"Y-ya. Terserah padamu."
Kini Kai seperti melihat Kyungsoo di pertemuan pertama mereka. Bagaimana cara perempuan itu berjalan melewati Kai menuju ke ruang ganti. Kai masih saja setia bersender di daun pintu. Membawa ekor matanya mengikuti setiap gerakan Kyungsoo.
"Kau sudah selesai? Aku berubah pikiran? Ayo sarapan di rumah sakit. Kita bisa membawakan kakek beberapa roti panggang dan cream sup."
Alis Kyungsoo bertautan. Mempout bibirnya lucu saat Kai memintanya membungkus makanan di atas meja. Lelaki itu juga menggandeng pundak Kyungsoo saat keluar rumah. Membukakan pintu hingga membuat Kyungsoo tersenyum senang. Ya. Perlakukan manis Kai selalu sukses membuat pipi istrinya merona.
Kai melajukan mobil. Mengabaikan sosok bayangan yang bersembunyi di dalam gang gelap itu. Mengabaikan rasa penasaran dan kegugupan luar biasa dari Kyungsoo.
~ RoséBear~
Mereka hanya butuh beberapa menit untuk bisa sampai di rumah sakit. Kai menyetujui untuk tinggal sementara di rumah ini karena jaraknya memang dekat dengan rumah sakit. Memudahkannya dalam melakukan pemantauan langsung pada perawatan sang kakek.
Pria tua itu segera menyambut kedatangan Kai dan Kyungsoo.
"Kyungsoo? Aku pikir kau akan kemari setelah kelas belajarnya selesai."
Kai memperhatikan bagaimana Kyungsoo tersenyum canggung. Setiap siang hari Kyungsoo memang sering berkunjung. Namun sejak seminggu yang lalu Kai melarangnya dengan alasan agar Kyungsoo bisa belajar dengan baik. Ia membiarkan Kyungsoo mengambil alih tempat duduk menemani kakeknya bicara.
Sementara Kai kini menyiapkan sarapan mereka. Sebagai anggota keluarga, Kai juga tidak bisa terus-terusan melihat kakeknya memakan makanan rumah sakit. Kakeknya sering mengeluh tentang itu. Mereka bisa menikmati cream sup dan roti panggang yang Kai buat pagi ini, lebih sederhana karena pria tan memang tidak terbiasa memasak. Jika dia berada di dapur, bisa dipastikan dua makanan itulah yang akan tersaji.
"Kai? Kau bilang ada pekerjaan pagi ini?" tiba-tiba Kyungsoo bertanya.
"Hm? Oh. Baiklah. Aku tinggal kau disini. Jam sembilan aku akan kemari menjemputmu."
Kai hanya meninggalkan sebuah ciuman lembut di dahi Kyungsoo, hal manis nan sederhana yang selalu pria itu lakukan. Memperlakukan Kyungsoo sebagai seorang istri yang disayangi. Ya, Kai memang menyayangi Kyungsoo, walau dia masih perlu banyak belajar untuk menerima Kyungsoo.
~ RoséBear~
Pagi itu, Kris yang belum pulang kembali mendatangi Kai. Bicara mengenai pasiennya lagi.
"Aku menunggumu. Mari bicarakan tentang pasien yang kuceritakan tempo hari."
Ia mengabaikan pria tinggi itu, tapi rupanya Kris tidak menyerah. Kakinya masuk ke ruang dokter bedah mengikuti Kai.
"Kau harusnya tahu apa yang aku takutkan, akibat buruk dari salah sasaran ketika melakukan operasi. Ini bedan saraf pada otak Kai."
"Itu ketakutan keluarga pasien. Kenapa kau yang harus mengalami nya."
Sekarang terdengar perdebatan kecil di antara mereka.
"Jangan membuatku mengulanginya lagi Kai, terlalu banyak orang yang akan mendengar alasan..." kini Kris terlihat setengah frustasi atas jawaban Kai sebelumnya.
"Bukankah sudah kukatakan kau tinggal daftarkan saja di melalui manajemen rumah sakit."
"Tapi aku ingin kau yang menjadi dokternya."
Sekali lagi mereka telah memaksakan ego masing-masing.
"Hanbin-ah, mari periksa pasien bersamaku."
Dia mengabaikan Kris sepenuhnya, menyudahi perdebatan pagi dan meminta seorang dokter magang mengikutinya. Dokter magang itu sama sekali tidak menolak. Bergegas mengambil buku catatan dan mengikuti langkah Kai. Meninggalkan Kris yang mengerang frustasi akan penolakkan Kai, lagi.
~ RoséBear~
Kyungsoo bercerita banyak hal pada kakek Kai. Mulai dari kondisi di rumah sakit dan...
"Sudah lama aku tidak mendengarkanmu bermain violin. Tidak bisakah kau membawanya Kyungsoo?"
Ia tersenyum canggung bagaimana harus menjelaskan bahwa Kai melarangnya karena harus fokus pada ujian masuk.
"Oh ya. Apa kalian sudah pikirkan rencana bulan madu? Bukankah sudah dua minggu sejak pernikahan kalian. Kondisiku juga membaik, ayahmu merawatku dengan sangat baik Kyungsoo."
"Ya. Ayah selalu bersemangat mengenai pasiennya."
Tanpa sadar ia mengatakan itu.
"Dia juga sangat bersemangat tentang pernikahan kalian. Jadi? Ke mana kalian akan berbulan madu?"
Kyungsoo terkesiap.
"Aku belum memikirkannya."
"Anak bodoh itu tidak memaksamu bercinta setiap malam bukan?"
Mata Kyungsoo membulat lucu. Tanpa sadar ia mengeluarkan tatapan terkejut atas pertanyaan barusan.
"Ti-dak."
'Kupikir tadi malam dia melakukannya dengan sangat lembut. Atau... tidak?'
Hatinya mulai berperang mencoba mengingat sebenarnya apa yang terjadi tadi malam. Haruskah dia bertanya? Bagaimana jika Kai menertawakannya?
"Kyungsoo?"
"Y-ya?"
Pria Kim tua tersenyum pada kegugupan Kyungsoo. "Kemarilah," ia ingin Kyungsoo mendekatkan telinganya.
"Cobalah bicara dengan Kai saat dia dalam keadaan setengah sadar. Kai selalu menepati janjinya, percayalah padaku."
Mata bulat Kyungsoo terbuka sempurna?
Bagaimana caranya? Jika mengajak Kai minum bersama dialah yang akan mabuk terlebih dahulu. Itu hal yang sangat tidak mungkin.
"Tidak akan bisa. Oh ya,,, kakek tahu aku berencana mengikuti kompetisi nasional violin? Tapi Kai masih mempertimbangkannya." Ia menatap pria Kim tua meminta pendapat.
"Kenapa dia harus mempertimbangkannya?"
"Seleksi pertama satu bulan lagi, Kai tidak mau aku mengabaikan janjiku dalam tes masuk perguruan tinggi."
Keduanya menghela napas berat bersamaan. Seolah memahami di mana pembicaraan mereka saat ini.
"Ya Kyungsoo... Apa kau yakin bisa melewati keduanya?"
Dengan yakin dia mengangguk segera.
"Kalau begitu aku akan coba bicara dengannya."
"Jangan kira karena kakek sakit aku akan mengiyakan begitu saja."
Keduanya terkejut oleh kedatangan Kai. Nyatanya salah satu pasien yang akan diperiksa adalah kakeknya sendiri.
"Kau? Kau bilang datang jam sembilan? Itu masih satu jam lagi Kai." Kyungsoo berseru setelah melihat jam di dinding kamar menyaksikan kedatangan Kai..
"Ya? Aku sedang memeriksa pasienku."
Oh. Kyungsoo hampir lupa jika ayahnya sedang melakukan konferensi sehingga Kai yang bertanggung jawab atas kakeknya sendiri.
"Kupikir kau punya banyak pasien lainnya. Kenapa harus kembali ke ruangan ini dengan segera?" Kyungsoo bergumam, sayangnya di dengar oleh Kai. Pria itu hanya tertawa kecil mendengar kekesalan Kyungsoo.
Namun pada akhirnya Kyungsoo menyingkir membiarkan Kai melakukan pekerjaannya.
~ RoséBear~
Satu jam itu tidaklah lama jika dia menghabiskan waktu berbincang dengan pria Kim tua. Kyungsoo sama sekali tidak keberatan ketika Kai mengantarnya ke tempat kursus walau rasanya dua minggu ini dia selalu bersama Kai jika mengingat sebelumnya Kyungsoo selalu berjalan sendiri. Jikapun lelah dia akan meminta supir ayahnya menjemput.
Sepanjang perjalanan kembali mata bulatnya sering kali memperhatikan taman kota. Karena Kyungsoo sedikit merindukan banyak hal dalam hidupnya sebelum bertemu Kai. Tapi dia tidak sepenuhnya menyesal melakukan pernikahan ini. Hanya saja...
"Kai? Apa kau sudah memikirkannya?"
"Hmm?" Lelaki itu hanya berdehem tanpa kehilangan fokus pada jalan. Dalam sekali waktu mereka telah tiba di halaman gedung berlantai dua itu.
Mobil berhenti dan sebelum Kyungsoo sempat melepas sabuk pengamannya. Kai terlebih dahulu telah melakukannya. Tanpa menarik kembali jarak pandang mereka yang hanya beberapa centi saja pria itu tersenyum membuat istrinya menjadi canggung.
"Menurutmu aku akan memberikan jawaban bagaimana?"
Detik itu juga Kyungsoo menghembuskan napas dan menunduk. Dia mulai menyadari arti tatapan lelaki ini. Kai tidak akan mengizinkan sebelum melihat hasil ujian Kyungsoo. Jika perkiraan Kyungsoo benar, pengumuman ujian itu kemungkinkan beberapa hari setelah seleksi pertama.
Pelan ia mendorong tubuh Kai menjauh. "Aku mengerti. Mungkin akan ada lain kali untukku." Tidak bisa dipungkiri jika Kyungsoo sangat berharap Kai akan memberikan sedikit dukungan untuknya.
To be continue...
Epilog
Pelan Kai membawa Kyungsoo untuk berbaring di kepala ranjang...
"Ka-Kai."
Jemari Kyungsoo tampak gemetar. "Aku ingin bercinta denganmu."
"Ya. Aku mengerti sayang."
Di sinilah mereka, bagaimana lembutnya Kai menautkan jari keduanya. Menjilati jari Kyungsoo satu persatu. Membuat wanita itu menggelinjangkan tubuhnya. Ini benar-benar sentuhan intim pertama kali bagi Kyungsoo. Tiap Kai menggigit ujung jarinya, wanita itu memejamkan mata erat. Dia benar-benar merelakan diri di bawah kekuasaan Kai. Setelah meyakinkan jemari Kyungsoo basah, pria itu menuntun Kyungsoo untuk menyentuh dadanya.
Keras dan begitu padat, namun kulit yang halus dan tidak akan pernah menyakiti siapapun yang ada di bawahnya. Kyungsoo tersenyum setengah terpejam, menggerakkan jemarinya di atas dada bidang Kai. Akan terasa hangat bila dia bisa bersandar pada dada bidang ini setiap saat.
Sementara pria itu menikmati pemandangannya, Kyungsoo yang tampak begitu polos membuatnya tertawa kecil. Beginikah rasanya mengajari seseorang bercinta untuk pertama kalinya? Kai tidak bisa begitu saja menumpahkan gairahnya, dia sudah menahan diri setiap malam karena tidur di ranjang yang sama dengan Kyungsoo. Pikiran kotor terkadang bekerja jika Kyungsoo memijat jemarinya.
Ahhhh~ bisakah malam ini jemari lentik itu meminta miliknya? Nyatanya tidak. Lihatlah gadis itu telah tertidur dengan napas teratur. Kai hanya tertawa kecil meihat Kyungsoo mulai meringkuk mencari kehangatan. Dia hanya menghabiskan sisa malam dengan memeluk Kyungsoo.
Hingga beberapa jam kemudian Kai merasakan pergerakan Kyungsoo, ia segera terjaga dan membantu Kyungsoo yang setengah sadar untuk duduk.
"Huek!"
Kini pria tan hanya bisa tertawa kecil mendapati muntah Kyungsoo pada tubuhnya.
Epilog end.
Well! Aku tidak bisa merekomendasikan kalian tentang banyak hal. Tapi aku hanya ingin mengingatkan kepada kalian bahwa cerita ini masih cukup panjang. Kurasa satu persatu jawaban atas pertanyaan kalian akan terjawab ^^ terima kasih banyak telah sampai pada bagian ini.
How about next week? Hmmm...
-nothing preview chapter 11-
Terima kasih
.
RoséBear
[Part 2 : Get in TOUCH 171008]
