Warning : OOC, Semi canon, i lope typo, i lope flame?/N.O:v

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Kuro no Unmei

--

"Kekuatan besar telah lahir.." Sarutobi memandang seorang gadis cantik yang terbaring di atas ranjang pasien. Putri tunggal dari keluarga Senju tengah terkapar lemah akibat luka yang ia dapat saat ujian sparring babak pertama.

"Sensei apa itu benar? maksudnya apa benar Tsunami memiliki cakra yang sama seperti kakekku?" Tsunade yang mengelus rambut pirang sang anak nampak tak percaya bila putri kecilnya yang lemah ini rupanya mewarisi bakat cakra Mokuton sama seperti mendiang Hokage pertama.

"Iya itu benar Tsunade.. anakmu telah membangkitkan jutsu Mokuton, saat bertarung dengan peserta ujian.."

Tak hanya Tsunade yang kaget, melainkan sang legenda Sannin petapa katak Jiraya-sama, Yondaime Hokage dan sang kakak Aratta Senju yang ada diruang rawat itu juga terkejut bukan main saat mendengarnya.

"Luarbiasa, jika itu benar.. saat ini Konoha bisa bernafas lega dan bisa melanjutkan garis keturunan dari Shodaime sebagai pelindung desa... andai saja Kyubi masih ditangan Konoha, maka bakat ini tidak akan sia-sia sekarang.." Jiraya nampak melipat tangannya. Ia kagum pada Tsunami yang rupanya menyimpan bakat luarbiasa.

Kabar baik yang menyelimuti sang adik tidak serta merta membuat Aratta senang mendengarnya. Walaupun adiknya memiliki element Mokuton, justru itulah masalahnya. Mulai dari saat ini Aratta harus makin waspada kepada tangan-tangan jahat yang ingin mengincar dan melukai adiknya. Bagaimanapun juga keberadaan seorang shinobi pengendali kayu pasti menjadi incaran empuk para mising nin atau kelompok musuh lainnya yang menginginkan kekuatan milik Tsunami.

Disisi lain, Yondaime bernafas sejenak. Ia cukup senang bila saat ini Konoha kembali dianugrahi bakat luarbiasa dari pengguna jutsu Mokuton. Dan benar yang diucapkan oleh Jiraya Sensei, jika saja Kyubi masih berada di bawah tangan Konoha maka bakat Tsunami bisa dipakai untuk mengontrol dan menekan cakra iblis Kyubi itu seperti yang pernah dilakukan oleh kakek buyutnya, yaitu Hokage pertama.

"Dan berita baiknya, aku dengar tim 7 dari Genin Konoha rupanya lulus di ujian Chunin babak pertama. Jadi aku rasa Tsunami dan juga timnya bisa mengikuti ujian babak kedua tiga hari lagi.."

"Apakah maksudmu adikku harus tetap mengikuti ujian Chunin dengan tubuh penuh luka seperti itu Sensei?" Aratta menatap tajam Jiraya yang awalnya bersuara.

Melihat sang putra akan naik darah, Tsunade memberikan kode melalui gerak mata agar Jiraya tidak memancing dialog yang menjurus pada ujian Chunin yang telah membuat putrinya terkapar penuh luka. Bahkan Hokage ketiga nampak menggeleng kecil dengan sikap over protektif yang Aratta berikan pada adiknya. Bukan rahasia umum lagi bila pada awalnya Aratta memang menentang keras keinginan Tsunami untuk menjadi seorang ninja. Alasan karena rasa takut Aratta akan kehilangan anggota keluarganya membuat lelaki ini tidak merelakan sang adik ikut menjadi ninja di dunia shinobi.

Jiraya terlihat gugup, ia menggaruk pipinya bersikap salah tingkah setelah dipelototi oleh Tsunade. "Ah.. itu, iya aku rasa itu tergantung dari keputusan Tsunami, apakah ia ingin lulus menjadi Jounin atau tidak.." Lanjut Jiraya.

Diskusi antara orang dewasa petinggi desa di kamar rawat Tsunami berlangsung selama 3 jam. Sampai larut sore dan bahkan orang yang tersisa diruangkan itu hanya ada Tsunade seorang, Tsunami belum juga nampak akan sadar.

Sebagai seorang ibu hati kecil Tsunade benar-benar cemas. Pasalnya luka yang dialami oleh Tsunami sebenarnya sudah sebuh tanpa bekas. Hanya saja entah kenapa putrinya itu belum lekas siuman.

"Yaampun andai saja ada Dan disini.." Rancu Tsunade dengan raut yang sedih. "Aku ibu yang buruk karena sampai membiarkan putrinya terluka seperti ini.."

--

--

Tersisa waktu 2 hari lagi bagi tim 7 dari Konoha untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian Chunin babak kedua. Disebuah distrik klan paling terpandang di Konoha, Uchiha Sasuke nampak resah di dalam kamarnya. Ia awalnya duduk ditepi ranjang, tapi beberapa detik kemudian ia kembali berdiri dan berjalan mondar-mandir membentuk sebuah lingkaran yang oval.

"tcih sial!.." Umpat remaja berambut pantat ayam itu.

Bagaimana ini? untuk permulaan tim 7 dari Konoha berhasil lolos ke babak kedua ujian Chunin. Tapi masalahnya, satu anggota tim mereka mengalami cidera yang parah. Sasuke mengetahuinya setelah Sakura menceritakan sparring yang dialami oleh Tsunami.

Berarti dengan kemungkinan anggota tim yang tidak lengkap maka tim 7 tidak akan bisa mengikuti ujian Chunin tahun ini. Argghh sial sekali! Sasuke tidak akan bisa menunggu sampai tahun depan seperti pecundang lemah peserta ujian dari desa lain.

Karena apa?

Iya karena tentu tuntutan dari ayahnya. Fugaku tidak akan memaafkan Sasuke bila bungsu Uchiha itu sampai memalukan nama besar klan Uchiha bila ia gagal pada ujian Chunin tahun ini. Bisa-bisa Sasuke akan dibakar hidup-hidup dengan jutsu Katon oleh Fugaku jika itu sampai terjadi.

Ada baiknya hari ini Sasuke mengecek sendiri keadaan rekan satu timnya dirumah sakit. Siapa tau cerita yang ia dengar dari Sakura itu hanya dilebih-lebihkan dan luka yang diderita oleh Tsunami itu sebenarnya tidaklah parah.

Iya Sasuke harus tau keadaan Tsunami saat ini, agar ia bisa meminta Kakashi Sensei untuk melatih tim 7 selama dua hari kedepan.

iya itu ide yang bagus Sasuke!

Dengan mengganti bajunya menjadi, baju kaus berleher v warna dark blue disertai gambar kipas kecil di bagian dada kiri sebagai lambang klan Uchiha. Sekarang Sasuke siap menjenguk Tsunami dirumah sakit.

Ketika Sasuke melewati teras, ia melihat Kaa-sannya sedang menyapu. Setelah memakai sepatu standarnya, Sasuke lantas berpamitan kepada Mikoto.

"Kaa-san aku pergi dulu.." Sasuke melambaikan tangannya pada Mikoto yang masih mematung melihat sang putra bungsu.

"Loh Sasuke mau ke mana?"

Sasuke sedikit menoleh, ia tersenyum pada Kaa-sannya "Ke suatu tempat Kaa-san.. tapi aku tidak akan lama kok.." Balas anaknya dengan nada ringan.

"Hati-hati Sasuke, dan pulanglah sebelum jam makan malam ya.." Sasuke hanya mengangkat tangannya keudara untuk menyahuti teriakan terakhir dari Kaa-sannya.

--

--

Sasuke akhirnya sampai di rumah sakit. Berbekal sebuah buket bunga yang cantik ia menyusuri koridor untuk mencari kamar inap dari rekan satu timnya.

Beberapa pasien rumah sakit menatap penuh damba ke arah Sasuke yang berjalan dengan menenteng sebuket bunga ditangannya. Bukannya sok tebar pesona, atau apa! yang jelas keberadaan Sasuke dirumah sakit Konoha. Mampu membuat pasien wanita sembuh dengan cepat setelah melihat wajah bening dari salah satu keturunan Uchiha ini.

Lantas dari mana Sasuke mendapat sebuket bunga?

Tentu saja ia membelinya di sebuah toko bunga yang sempat ia lewati tadi di desa. Sasuke belajar dari Kaa-sannya, yaitu 'jika kau ingin menjenguk orang yang sedang sakit setidaknya janganlah datang dengan tangan hampa.' Kurang lebih seperti itulah pesan Kaa-sannya sewaktu mengajak Sasuke menjenguk salah satu kerabat Uchihanya yang sedang sakit dulu.

Karena Sasuke bingung, mau membawa apa sebagai bawaan untuk menjenguk Tsunami. Maka ia lantas memutuskan untuk membeli bunga ini. Agar tangan tak kosong ketika menemui rekan satu timnya itu.

"Jadi yang ini kamarnya.." Gumam Sasuke. Dari pintu geser berwarna putih dan dilapisi kaca pada bagian atasnya itu, Sasuke bisa mendengar suara Sakura dan juga Tsunami yang tertawa begitu keras.

Ketika Sasuke akan menggeser pintu, sebuah bayangan terlihat mendekat dan pintu kamar itu terbuka sebelum Sasuke menyentuh lempengan besi pada pintunya.

Seorang pria tinggi lengkap dengan jas putih yang membalut tubuhnya, tengah berdiri menatap Sasuke begitu tajam dari atas sampai bawah.

"Kau!?"

Sasuke buru-buru menyembunyikan buket bunganya dibelakang punggung. Ia tak bergerak setelah Aratta menangkapnya didepan pintu kamar inap Tsunami.

"Masih ada nyali juga kau datang ke sini! dasar Uchiha tidak tau diri.." Desis Aratta tertahankan. Rasanya ia muak melihat wajah-wajah Uchiha yang masih ingin berhubungan dengan keluarga Senju.

"Aku datang dengan niat baik.. aku ingin menjenguk Tsunami, dia rekan satu timku.." Balas Sasuke, ia mencengkram semakin kuat buket bunganya.

"Menjenguk adikku? untuk apa kau peduli padanya! seingatku kau tidak pernah peduli pada orang lain, bahkan pada Kakakmu sendiri... benar kan? Dengar ya, Uchiha Sasuke.. aku tidak akan mengijinkanmu untuk bertemu dengan adikku disini.. lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku benar-benar marah padamu.."

Sasuke menelan ludahnya dalam-dalam, ia paham sederet kalimat tajam yang mengarah padanya. Kebencian Aratta pada dirinya begitu jelas tergambar.

"Kalau begitu maumu baiklah, aku akan pergi.." Sasuke berbalik, kembali ke jalan semula. Ia tak mau membesarkan masalah dengan laki-laki tadi. Dan setelah agak jauh dari kamar inap Tsunami, Sasuke membuang buket bunga dari tangannya ke sebuah tong sampah tanpa tutup.

"Tidak berguna.." Ucapnya lemah tapi menusuk begitu dingin.

--

--

Hari terakhir sebelum ujian Chunin babak ke 2

Kabuto datang ke penginapan Naruto saat malam hari, ia memakai seragam Jounin yang sama dengan seragam standar Jounin milik Konoha. Tentu kedatangannya disambut bingung oleh Naruto, Sui dan Kimimaro.

"Apa yang kalian lakukan? kenapa Jounin dan Anbu Konoha sampai mengawasi penginapan ini?"

Kabuto bicara cepat namun seperti berbisik, ia tau jika ada banyak telinga di sekitar kamar anak asuh Madara ini.

"Kami tidak melakukan apapun.." Sahut Naruto.

"Apa aku bisa mempercayaimu? Sepertinya Konoha mulai mencium gerak-gerik kita.. aku ingin kalian jangan terlalu menarik perhatian di ujian ini.. cukup menjadi peserta bisa dan tetap awasi Uchiha Sasuke di ujian besok!.."

"Iya kami mengerti, setidaknya jika tikus Konoha itu tidak menyerang kami.. aku rasa kita tidak usah khawatir jika mereka memata-matai kegiatan kita disini.." Kimimaro yang juga mengerti maksud Kabuto menyahut lantang mewakili kedua temannya.

"Apa maksudnya? memata-matai siapa?" Hanya Sui yang mencak-mencak kebingungan dengan arah pembicaraan ini.

"Diamlah bodoh!.. akan aku jelaskan nanti.."

"Kau pilih kasih Naruto.."

"Baiklah karena kalian tim yang cukup bagus.. akan aku berikan sedikit bocoran untuk ujian besok.."

Kabuto memberikan kartu kecil yang berisi rute perjalanan ujian Chunin babak kedua, dia juga menjelaskan jika diujian ini peserta akan diuji kemampuannya dalam bertahan hidup disebuah hutan selama kurang lebih 4 hari 3 malam.

"Jadi diujian babak kedua ini, apa kita diperbolehkan membunuh peserta lain?"

"Tentusaja, namanya juga ujian bertahan hidup.. jika kau tidak mau dibunuh maka kau yang harus membunuh..! itu seperti hukum rimba untuk kalian.." Jawab Kabuto kepada Sui sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Sangat menakutkan.."

"Yah begitulah.. kau harus tau ujian yang seperti ini, sudah lumrah di dunia shinobi.. dimana dunia ini tidak akan pernah bersih dari lumuran darah.." Kabuto menyeringai saat menekankan kalimat terakhirnya. Sui hanya menatapnya dengan horro, baginya cerita Kabuto itu sangat seram untuk menjadi nyata.

Tak mau berlama-lama berada dalam sebuah ruangan berpengawas, Kabuto akhirnya berpamitan dengan anak buahnya. Lantas ia menghilang bagaikan debu yang tertiup angin.

--

--

Hari terakhir sebelum ujian Chunin babak kedua dikediaman Uchiha

"Bahkan sampai malam, Sasuke juga belum pulang.. kemana anak itu?.." Uchiha Fugaku, berdehem setelah ia selesai makan. Ketidak hadiran sang putra bungsu saat makan malam cukup membuat 3 orang itu merasa ada yang kurang.

"Tou-san, tadi siang aku melihat Sasuke pergi bersama Kakashi.."

"Iya mereka pergi kemana Itachi-kun.. Kaa-san khawatir pada Sasuke, dia juga belum makan siang sebelum pergi dari rumah tadi.." Mikoto Uchiha, menyempatkan dirinya untuk membereskan meja makan. Walau hatinya tengah gundah memikirkan keadaan putra kecilnya.

"Entahlah Kaa-san, aku tidak tau.. aku hanya melihatnya sekilas... kalau begitu biar aku saja yang mencarinya. Dia tidak boleh terlalu lelah latihan karena besok dia akan mengikuti ujian Chunin babak kedua.."

"Jika kau mencarinya, kau mau pergi kemana?" Fugaku masih bersedekap dada saat Itachi akan melangkahkan kakinya meninggalkan dapur.

"Kemana saja, aku bahkan tidak keberatan jika harus mengelilingi Konoha untuk menemukan Sasuke..." Balas Itachi, kemudian kembali melangkah menjauh dari dapur.

--

Disebuah perbukitan, dengan kontur tanah berbatu. Dua orang shinobi tengah bertarung sengit dengan taijutsu tingkat tinggi. Dua orang dengan Sharingan itu begitu jeli menangkis dan menyerang sudut-sudut lemah lawannya yang terbaca melalui gerakan mata itu.

"Bagus Sasuke kau sudah bisa menggunakan Sharinganmu dengan baik.." Hatake Kakashi sedikit tersenyum di sela-sela pertarungan, ia memuji anak didiknya yang sudah berlatih keras demi ujian Chunin besok.

"Ini masih belum seberapa.." Sasuke melesatkan pukulan keras. Sayangnya Kakashi bisa dengan mudah menghindar dan akibatnya pukulan milik Sasuke justru mengenai sebuah bongkahan batu sampai hancur.

"Cukup Sasuke!.. hari ini sudah cukup sampai di sini.."

"Tapi Sensei?"

"Hei bocah.. Kakashi bilang latihanmu selesai ya, selesai.. Apa kau tidak kasihan padaku yang sedari tadi memegang senter disini?" Seekor anjing kuchiyose mengeluh tajam ke arah Sasuke. Pasalnya anjing bernama Pakun ini sudah banyak mengeluhkan kakinya yang pegal dimintai tolong untuk memegang senter selama dua orang itu melakukan sparring terakhir ditengah bukit yang gelap.

"Hahaha... terimakasi Pakun, kau selalu bisa diandalkan.."

"Iya, sama-sama Kakashi.. tapi aku merasa tidak berguna jika hanya disuruh memegangi senter ini, apa sekarang aku sudah boleh pulang?"

Kakashi mengangguk dan memberikan salam dengan mengibaskan tautan jari telunjuk dan jari tengahnya di atas pelipis.

"Wah kalau begitu terimakasih.. sampai jumpa.."

BUUUFF...

Dibarengi oleh kepulan asap, anjing ninja itu menghilang dan senternya masih tergeletak diatas bebatuan. "Sasuke ayo pulang.. ini sudah larut malam.." Kakashi mengambilnya dan berjalan lebih dulu menuju ke Konoha, diikuti oleh muridnya dibelakang.

Di lain tempat, Itachi menyusuri desa seorang diri. Ia sendiri mencari adiknya, pandangannya fokus ke beberapa titik walaupun tidak bisa dipungkiri jika pikirannya melayang jauh dari raga.

Flasback Itachi saat dirumah sakit.

Kakinya melangkah dengan tergesah di sepanjang koridor rumah sakit. Uchiha Itachi begitu ia disebut, terlihat terburu-buru untuk menemui seseorang. Bahkan saat ini ia lupa jika seragam Anbu lengkap dengan topeng masih melekat di tubuhnya.

Tak lama setelah menyusuri rumah sakit, akhirnya Itachi bertemu dengan orang yang ia cari. Diujung sana, Senju Aratta berjalan dari arah yang berlawanan semakin dekat ke tempat Itachi.

"Sempai!.."

Aratta berhenti melangkah, ia mengamati seorang Anbu bertubuh pendek dengan rambut panjang yang menghalangi jalannya.

"Iya, apa kau ada perlu denganku?" Tanya Aratta.

"Sempai ini aku.." Itachi membuka topengnya lalu menyimpannya di belakang pantat. "Ada apa kau kemari?" Seperti biasa pandangan Aratta sangat dingin menusuk untuk para kaum Uchiha.

"Aku dengar adikmu terluka, aku buru-buru datang kemari untuk menjenguknya.." Tutur Itachi sambil tersengal.

"Baru saja adikmu datang, untuk melakukan hal yang sama denganmu.. tapi maaf saja, aku tidak bisa membiarkan kalian berdua bertemu dengan adikku.."

Itachi terperangah, ucapan dari mantan kaptennya di pasukan Anbu, membuat hatinya sesak. Sepertinya Aratta tidak akan membuat hal ini menjadi mudah seperti dulu. "Apa ini masih tentang sikap Sasuke..?"

"Kau bisa menebaknya dengan benar.. anak itu masih tidak bisa berbahasa manusia padaku.. setidaknya sebagai seorang kakak, kau harus bisa mengajari adikmu hal-hal yang bisa berguna untuk dirinya dan untuk orang lain hm..." Aratta menepuk pundak kecil Itachi kemudian pergi berlalu mendahului Anbu berbakat itu.

"A-.. Sempai!.."

Falshback end.

"Sasuke!.. sudah sejauh mana kau berubah?" Guman Itachi sembari melompati atap-atap rumah penduduk desa Konoha.

--

--

--

Yeii sudah habis..

ega mau bilang jika cerita ini akan fokus ke konflik, kalau ada fight mungkin nyempil dikit-dikit dan ega nggak bisa buat jutsu sepesifik mungkin karena mengingat umur Naruto dan kawan-kawan masih kecil dan kemampuan mereka belum terlalu menonjol seperti di naruto shippuden.