"Mikasa," panggil Levi. "Kau maupun aku memang masih harus memikirkan ini dan itu sekali lagi."
Setelah lama Levi berkata seperti itu, Mikasa tetap tidak berkata apapun. Ketika Levi menatap ke arahnya, gadis itu ternyata sudah tak sadarkan diri. Ia tertidur dengan pulasnya dengan posisi menyakitkan di atas sofanya. Ia hanya bisa menghela nafas setelahnya.
Kemudian, ia berdiri dan berjalan mendekati Mikasa. "Kau sudah mencapai batasnya, eh?"
Lalu, ia mengambil posisi disamping perempuan tanpa pertahanan itu. Ia memposisikan lengannya bersandar lurus pada bagian atas sandaran tubuh. Membiarkan musik terus mengalun, ia menatap lurus saja sembari berpikir. Ia telah menutup hati selama 8 tahun. Itu saja. Kalau saja Erwin bisa berkata dengan bahasa yang lebih mudah dipahami waktu itu. Tatapan tajamnya kemudian melirik perempuan yang beristirahat dengan posisi tidak biasa itu- duduk setengah berbaring. Ia berdiri dari duduknya.
Levi mengangkat tubuh bagian atas Mikasa dan menaruh kepalanya sandaran tangan setelah memastikan kakinya telah diluruskan. Ia hanya bermaksud untuk memposisikan agar tidak terasa sakit saja saat bangun nanti. Namun, ia begitu tertarik dengan rambut hitam berkilau yang mirip dengannya itu. Mungkin rambut hitam yang dimiliki keturunan Ackerman memang seperti itu. Rambut yang begitu mirip dengan Kuchel Ackerman, pikirnya. Lagu yang diputar kembali berganti.
'Don't you think of me enough?'
Kemudian, ia berjalan ke bagian belakang sofa dan berdiri sambil menyandarkan tubuh bagian depannya pada sofa.
'I've been burning my heart out.'
Ia dapat melihat Mikasa dari atas, akhirnya. Ditatapnya lekat-lekat wajahnya yang sangat polos ketika tidur, dengan wajahnya yang masih datar seperti biasanya.
'I've got to face, need to tell you.'
But, know he realized that Mikasa is too beautiful to feel the pains. Hidup memang adil. Tidak selamanya yang indah akan merasakan keindahan.
'I won't run because I'm reticent.'
Tangan kanannya meraih helaian rambut yang berkilau itu. Halus sekali. Levi menatapnya dengan datar, mungkin ia hanya bisa seperti itu. Kala seperti ini, hanya ia yang tahu- agak curang menurutnya bila ia melakukan hal yang lebih. Ia, masih tahu diri- sebagai orang yang tidak memiliki hubungan spesial apa-apa.
'You will know you're reborn tonight.'
'Must be ragged, but I stay by your side.'
Levi menatap wajha perempuan itu semakin dalam.
'Even if my body's bleached to the bones.'
'I don't want to go through that ever again.'
Kemudian, ia menyadari bahwa terdapat air menggenang dibalik kedua kelopak mata yang tertutup itu. Tangannya segera mengusap air mata itu dan membelai wajah mulus itu.
'So cry no more, oh my beloved.'
'Go ahead, be proud and fight it out.'
Mikasa mengerang pelan ditengah tidurnya. Levi segera menarik tangannya kembali, refleks saja.
'You're the one, our rising star.'
'You guide us far to home yet girl.'
"Jangan..." gumamnya pelan, wajahnya berkerut gelisah. "... aku tidak ingin sendiri lagi."
Tanpa seorangpun yang menyadari, malam itu Levi telah membebaskan apa yang telah ia belenggu selama bertahun-tahun. Bahkan ia tidak menyadarinya, memang makhluk yang tidak peka. Namun, perasaan itu dapat ia rasakan- perasaan yang sudah lama tidak muncul. Andai semua orang dapat melihat dan mendengar apa yang terjadi di bagian terdalam kesadarannya, bagian dari dirinya tengah menyambut kedatangan dari apa yang pernah hilang itu dan berkata, "Senang kembali bertemu denganmu."
"Sudah kuduga, aku memang harus selalu ada untukmu." Levi benar-benar melunak. "Aku merasa aku harus menuruti permintaanmu, Eren Jaeger."
.
.
.
Shingeki no Kyojin itu bukan punya saya~
Sorry for any mistakes that I made. It can be typos, OOCs, or even my lateness.
This chapter may contains some flashbacks. Not too much, but I guess it's enough.
Tanoshinde kudasai na, minna!
.
.
.
"Ini laporan keuangan dari bagian produksi bulan ini," ujar pemuda itu seraya menyerahkan berkas di dalam amplop cokelat yang diikat rapi. "Um, Pak Levi."
"Aku tidak suka dipanggil seperti itu," balas Levi dingin. "Setidaknya jangan tambahkan namaku ketika kau menyebut kata 'Pak'."
"Baiklah, Pak," sahut pemuda itu cepat mengerti. Ia melihat sekeliling ruangan Direktur Keuangan.
Levi menerima amplop tersebut dan menatap pemuda itu sebelum membukanya. "Kau baru pertama kali masuk ke ruanganku?"
"Benar, Pak," jawabnya cepat.
Levi memilih untuk tidak membalas dan segera membuka isi amplop tersebut. Diperhatikannya rincian laporan yang baru saja diserahkan itu. Begitu detail dan rapi. Padahal sesuai yang ia ingat, orang yang tengah berdiri tegap dihadapannya ini baru memegang jabatan sebagai Manajer Produksi. Laporan yang ia tulis seperti laporan dari orang yang sudah lama bergelut dibidangnya. Levi tidak ingat nama pemuda ini.
"Siapa namamu?" tanya Levi disela kegiatannya.
"Eren Jaeger, Pak," jawab Eren. "Dua puluh tiga tahu-"
"Aku tidak menanyakan usiamu," potong Levi dingin. Namun, kalau ia sudah melepas topeng es itu, ia pasti sudah berdecak kagum dan menyanjung pemuda itu. "Sudah berapa tahun kau bekerja disini?"
"Bulan depan, setahun," jawab Eren.
Wah. Levi terkejut, katakanlah. "Kau punya koneksi?"
"Tidak ada."
'Lalu kenapa kau bisa berada di posisi itu?' tanya Levi cepat, di dalam hatinya saja. Ia memilih diam untuk selanjutnya.
Eren tampak bingung. "Pak?"
"Kau bisa kembali ke kantormu sekarang. Aku akan mendiskusikan ini dengan Presdir pada rapat sore ini sebelum pulang. Pastikan kau ikut dalam rapat, Jaeger."
Mulai saat itu, Levi menyadari bahwa Eren Jaeger adalah orang yang berbakat. Orang berbakat yang mendedikasikan hidupnya dengan tekad yang ia buat sendiri, tidak ada yang boleh menghalangi dan jika ia tidak dapat mencapainya- barulah ia akan meminta bantuan orang lain.
.
.
.
Mikasa tidak ingat dengan apa yang terjadi semalam. Ketika ia terbangun, ia sudah berada di dalam kamarnya dan Levi sudah tidak lagi berada di apartemennya. Ia merasa tidak enak pada Levi yang telah dua kali menggotong tubuhnya yang berat itu. Ia hanya bisa berharap bahwa ia tidak melakukan hal-hal aneh semalam. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya di depan orang yang- tunggu, apa? Mikasa menggelengkan kepalanya cepat. Baka mitai.
Kini, Mikasa meraih ponselnya yang terletak di meja makan. Ia memang sedang sarapan, sendirian. Hari ini tanggal 7 November. Besok adalah hari peringatan kematian Eren yang ke lima bulan. Sayangnya besok adalah hari Senin. Dirinya atau bahkan Armin pun mungkin tidak sempat. Ia menghela nafas panjang. Yah, memang tidak harus setiap bulan juga. Ia segera menyelesaikan makannya.
Ia melirik sebuah novel karyanya sendiri yang terletak tak jauh dari jangkauannya. Berjudul 'Till Rest of My Life', menceritakan tentang percintaan yang naif dan ditulis oleh orang yang naif. Sampai sekarang pun ia masih begitu naif menghadapi dunia. Tetapi, mungkin sebenarnya sampai semalam saja. Ya, semoga sampai semalam saja. Ia segera mengambil buku itu. Kemudian, ia melihat secarik kertas yang terletak dibawah sana. Alih-alih dari mengambil buku itu, ia justru lebih tertarik untuk mengambil kertas tersebut.
'Kalau kau mencari pekerjaan dengan fabulous wealthy, kurasa Erwin tidak ragu untuk menempatkan orang sepertimu di perusahaannya. -Levi Ackerman.'
"Oh, ya," gumam Mikasa pelan. Ia baru ingat bahwa ia telah membahas tentang rencananya untuk berhenti sebagai editor semalam. Ia kembali menatap secarik kertas itu. "Haruskah aku?"
Ia memegangi kepalanya. Padahal rasanya semalam ia benar-benar sudah membulatkan keputusannya. Ia bertanya dalam hati, 'Apa Levi telah mengatakan sesuatu?'
Ia memutar isi kepalanya. Ingatannya begitu kabur tentang semalam. Mabuk memang tidak begitu menguntungkan. Padahal ia sudah tahu sejak awal, haha. Ia tetap memasang wajah datarnya sembari mengingat-ingat. Setelah itu, ia berdiri dan melangkah menuju ruang tengah. Ia menyalakan televisi dan terus mengubah channel. Mungkin ia akan menanyakan pendapat orang-orang lain juga tentang apa yang harus ia pilih- berhenti menjadi editor atau terus menjadi editor. Ya, nanti saja.
Lalu, ia berhenti di channel yang menampilkan siaran turnamen figure skating yang tengah berlangsung sebelum event Grand Prix yang akan dilaksanakan pada bulan Desember nanti. Dilihatnya saja penampilan seorang wanita yang mewakili negaranya dalam penyisihan Grand Prix dalam bidang figure skater solo putri. Mikasa membaca namanya yang terpampang di layar kaca, Petra Ral.
Gerakan Petra begitu memukau Mikasa. Bagaimanapun juga, gerakannya begitu lincah- sesuai dengan lagu yang dipilih untuk program pendeknya. Walaupun ia dapat melihat usia Petra yang juga dimunculkan di layar kaca, ia kurang percaya. Seorang wanita yang berusia 28 tahun yang belum menunjukkan tanda penuaan dan bergerak lincah bernama Petra Ral itu Mikasa tidak mengenalnya. Ya, belum saja.
.
.
.
To Be Continued, desu!
Ya, minna! RisaKuma kembali lagi akhirnya -,-
Mulai dari sekarang, saya buka sesi QnA deh. Ntar kalo mau nanya-nanya, saya jawab di chapter depan.
BTW, bagian Think Again udah selesai ya. Jadi, chapter depan sudah bahas yang lain. Ada saran lagu buat kedepannya?
See you next chapter, nee?
