In my dreams you 're with me, we'll be everything I want us to be.
And from there, who know? maybe this will be the night
That we kiss for the first time.
Or it just me,
And my imagination?
Shawn Mendes – Imagination.
…
"Tunggu." Tanpa banyak gerakan, dalam satu tarikan Naruto menarik kepala Hinata dan mencuri ciumannya.
Awalnya, hanya sekedar menempelkan bibir keduanya.
Namun, siapa yang bisa menghindari kenikmatan yang Tuhan berikan?
Sekian detik kemudian, Naruto mulai mengeksploitasi bibir dan mulut gadis bersurai indigo itu.
Menjilati permukaan bibirnya dan merasakan candu yang luar biasa, menghisap lidahnya dan ia mengerti bahwa gadis ini tidak bisa ia lepaskan.
Mengecap rasa manis bibir sekaligus rasa segar yang ia dapatkan dari aroma nafas gadis yang sedang ia kecupi.
Dan Hinata, dengan perlahan melingkarkan tangannya pada leher tan pemuda itu.
Membuka lebih lebar mulutnya seolah memberikan izin pemuda bersurai blonde itu untuk berbuat lebih.
Dan, tentu saja.
Persetan dengan akal sehat. Naruto benar-benar kehilangan akalnya.
Dengan liarnya ia terus mengeksploitasi mulut gadis itu, mengabsen gigi putih nan rapih milik gadis indigo itu.
Tangannya bergerak kebelakang kepala gadis itu, menekannya untuk semakin memperdalam ciuman mereka.
Saliva mulai bercucuran dari ujung bibir keduanya.
Pasokan udara mulai menipis.
Dan, paru-paru mereka terus menggedor dada keduanya meminta isi.
Dan dengan terpaksa keduanya melepas ciuman itu.
Berpadangan sejenak sebelum semuanya menjadi canggung kembali.
…
Hinata terbangun dari mimpi indahnya itu, ia mengingat dengan jelas tiap detik mimpinya itu. Flashback ciuman pertamanya dengan Naruto, di pantai, suasana yang begitu baik. Namun, kondisi hubungan keduanya sedang tak baik waktu itu.
Dan, Hinata harus mengakui semua yang ia mau bersama Naruto terwujud di mimpinya. Mimpi indah, jarang sekali ia mendapatkannya. Masih sama, keadaannya masih sama. Berkegantungan dengan hal-hal negatif membuat dirinya begitu sedih.
Matanya menjelajah ke sekitar kamarnya. Lampu belum dimatikan, tetes darah terlihat di permukaan lantai, cutter yang tergeletak begitu saja.
Hinata menghela nafas, semuanya begitu berat. Ia tidak tahan.
Dengan perlahan, ia mengambil tissue basah yang ada di meja riasnya. Mengusap darah-darah yang hampir mongering itu, kemudian melempar tissue itu ke tempat sampah terdekat. Mengambil cutter dan mengusapnya sekali dengan tissue sebelum kembali menaruhnya di laci nakasnya.
Ia terduduk di lantai kamarnya yang cukup hangat ini, memeluk kedua lututnya yang dingin dengan kedua lengannya dan menatap dengan pandangan kosong pada dinding yang menggantung foto keluarganya. Jika ia mengingat kembali hal-hal dulu rasanya semua begitu baik. Ayah dan Ibunya selalu menyayanginya, Neji selalu menemaninya bermain saat ia tidak bermain dengan Naruto, Sasuke dan Sakura. Sampai ketika usianya enam tahun, bibinya yang ia tau tinggal di Sydney datang ke Tokyo, seingat Hinata ia membawa kabar duka yang Hinata tidak mengerti di usianya saat itu. Dua hari sejak kedatangan bibinya itu, semua keadaan memburuk untuk pertama kalinya ia tidak merasakan kecupan selamat pagi dari ayahya maupun ibunya, Neji untuk yang pertama kalinya bersikap angkuh dan arogan padanya. hingga hari ketujuh kedatangan bibinya ke Tokyo keluarga yang mengajaknya bicara dirumah itu hanya bibinya. Namun, dihari ketujuh itu juga bibinya pergi dari Tokyo setelah berdebat panjang dengan ayahnya. Hinata ingat sesuatu, kalimat yg ayahnya teriakan pada bibinya.
"Aku bukan kakak kalian lagi."
Dan setelahnya bibinya itu benar-benar meninggalkan Tokyo dan tak kembali hingga kini.
Tunggu,
"Kalian?"
Apa ayahnya memiliki adik lain selain bibinya itu?
Tapi, Hinata sama sekali tidak mengetahui itu. Seingatnya ayahnya hanya memiliki satu adik perempuan yaitu bibinya yang pernah mengunjungi Tokyo dulu. Lalu, apa makna kalian dalam kalimat ayahnya dulu?
"Mungkin ingatanku yang samar." Batinnya.
Lama melamunkan masa lalu, tanpa sadar air matanya turun. Ia menangis dalam diam. Rasanya begitu sakit diabaikan dan diacuhkan bertahun-tahun, tidak ada tempat untuk mengadu menjadikan dirinya bercandu pada rokok dan segala hal negatif lainnya. Seingatnya, dia sejak kecil adalah gadis manis nan penurut, tapi, kenapa? Dirinya begitu hancur saat ini?
"Aku tak tahan."
"Aku ingin mati."
"Aku ingin menghilang."
Batinnya terus-menerus berteriak meminta pembebasan atas segala deritanya.
"Tidak sekarang. Aku butuh waktu untuk sedikit berbahagia sebelum menemui Kami-sama dan meminta penjelasan atas nasibku didunia ini." Gumam Hinata pada dirinya sendiri.
Ia mengencangakan tali pada jubah tidurnya. Kemudian bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar kamar. Menuruni satu per satu anak tangga yang ada sesekali mengamati interior rumah klasik keluarga Hyuuga. Hingga tiba didapur, ia meraba sekitar dinding untuk menemukan saklar lampu, begitu menemukannya langsung saja ia menekannya sehingga ruangan memasak itu terang benderang.
Dan,
Hyuuga Neji ada disana?
Neji mengerjapkan kedua matanya begitu cahaya tiba-tiba menyerbak masuk ke matanya. Dan melihat sosok bersurai indigo dengan jubah tidurnya sedang berdiri menatap dirinya.
"Kau?" gumam Neji dengan suara sedikit serak khas orang mengantuk.
Hinata hanya diam dan berlalu dari pandangan Hinata. Dia menekan pemanas air pada dispenser, dan segera meracik teh untuk dirinya. Ia sedikit melirik pada Neji yang tampak menggigil itu. Ia kembali mengambil sebuah cangkir dan membuatkan teh untuk kakaknya itu.
"Kau tampak kedinginan." Kata Hinata saat menaruh cangkir yang masih mengepul itu di hadapan Neji.
Neji melirik cangkir itu pelan kemudian segera menatap adiknya, perasaan aneh menyergap dadanya ia merasa bersalah dan sangat ingin memeluk adiknya itu.
"Tak perlu merasa jijik. Aku tidak memasukan apapun yan berbahaya kesana. Aku juga tidak akan menyombongkan diri hanya karena membuatkan secangkir teh untukmu." Seru Hinata saat menyadari tatapan Neji.
Ia bersiap untuk kembali ke kamarnya begitu melihat Neji mengesap tehnya.
"Tunggu." Cegah Neji, saat Hinata mulai melangkah.
Dan Hinata kembali menoleh pada kakaknya itu.
"Kau bisa duduk disini. Maksudku, tehmu bisa dingin jika kau membawanya kekamarmu."
Hinata menatap kakaknya aneh, apa kakaknya mabuk? Hanya karena membawa teh itu ke lantai atas, tehnya tidak akan dingin begitu saja.
"Duduklah, Nata-chan." Seru Neji sambil menggesek kedua telapak tangannya mencari kehangatan.
Hinata membatu, ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia mendengar panggilan itu,
pangilaan sayang untuk dirinya. Ia melemas bahkan cangkirnya itu bisa jatuh kapan saja jika ia tidak menguasai dirinya.
"Niisan." Panggil Hinata pelan.
Neji mengesap sekali lagi teh buatan Hinata dan tersenyum. "Katakan padaku, apa kau serius menganggap aku sebagai kakakmu?"
"Apa kau pernah menganggapku sebagai adikmu?"
"Duduklah lebih dulu. Apa kau tak ingin berbicara layaknya saudara denganku?" Tanya Neji pada gadis indigo itu.
Hinata melunak, perlahan ia mendudukan diri pada bangku yang disebelah Neji. "Jadi, apa jawabanmu, Niisan?"
"Tentu. Tapi, sudah sangat lama. Mungkin sebelum Hanabi lahir."
"Saat ini?" Hinata berharap-harap cemas akan jawaban yang keluar dari kakaknya.
Neji menarik nafas berat. "Tentu. Siapa yang bisa mengelaknya? Kau dan Hanabi adalah adikku. Tapi sayangnya, keluarga kita memaksa memisahkan diriku dan dirimu, Nata-chan. Apa kau membenciku?"
Pecah, tangisannya sudah pecah. Beruntung, cangkir berisi teh hangat itu sudah terletak dimeja panjang itu, jika tidak Hinata yang yakin cangkir itu sudah pecah. Rasanya begitu hangat setidaknya dibalik perlakuan angkuh kakaknya selama ini dia tetap menganggap Hinata adalah adiknya.
"Niisan, arigatou."
Neji menarik sudut bibirnya, ia tau ini. Hinatanya, adiknya tidak pernah berubah. Tapi, ia tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Hinata. Sampai kapanpun, bahkan sampai sekarang.
Neji mendekat pada Hinata merengkuhnya sejenak dan mengangkat dagu adiknya itu, "Maukah kau berjanji? Kau akan tetap menjadi dirimu sendiri, kau tidak akan berubah untuk seseorang, kau tetap Hinata. Hyuuga Hinata, adikku?" Tanya Neji sambil menatap lurus mata amethyst adiknya, yang serupa dengannya.
Hinata tersenyum, ia mengganguk pada Neji, dan membuat Neji kembali tersenyum.
"Tidurlah, ini sudah sangat larut."
Hinata tersenyum ia kembali mengangguk.
"Konbawa, Niisan."
Neji mengangguk sebagai jawaban atas ucapan selamat malam Hinata.
Hinata benar-benar tidak mempercayai ini, kakaknya kembali menjadi Neji yang ia kenal dulu. Rasanya begitu, dia tidak dapat mendeskripsikan perasaannya saat ini. Baginya, Nejinya, kakaknya, sudah kembali untuknya. Ia memeluk boneka beruang merahnya lebih erat.
"Kami-sama, kau sungguh baik." perlahan Hinata menarik selimutnya menutupi tubuhnya hingga batasan leher dan mulai memejamkan matanya.
Dia bahkan tidak bisa menyangka bencana besar yang terjadi setelah Neji menipunya.
…
Neji memastikan bahwa memang Hinata sudah tak ada disekitar dapur, setelah merasa semuanya baik. ia menghembuskan nafas berat. Ia melirik dua cangkir teh yang sudah mungkin sudah tak sehangat tadi. "Hinata, gomenesai." Gumam Neji lesu.
Ia mengeluarkan ponselnya sejenak, mengetikan sesuatu disana. Dan terakhir, ia kembali menatapi cangkir yang isinya belum habis itu. Ia meraih kedua cangkir itu, membuang sisa isinya kedalam wastafel dan dengan memejamkan mata ia melempar dua cangkir itu ke tempat sampah begitu saja.
"Gomenesai Imouto."
…
Pagi yang berat untuk Naruto matanya terasa begitu sulit dibuka, dan kepalanya berdenyut ngilu. Badannya begitu pegal, seolah ia baru melakukan pekerjaan berat. Dengan sedikit paksaan ia mulai bangkit dari nyamannya ranjang hangat miliknya.
'06 : 15 AM'
Itu hal yang pertama kali dapat otak Naruto cerna, waktu saat ini masih cukup pagi itu yang dicerna otaknya.
Ia sedikit melenturkan tubuhnya sebelum mulai berdiri dan menyentuh handuk yang tergantung apik disudut kamarnya ini.
Dan, hal yang pertama kali Namikaze muda ini lakukan adalah membersihkan diri.
Naruto mengatur suhu air yang akan mengisi bath up nya dan segera memasukan dirinya kedalam bath up mewah itu. Aroma citrus dan lemon yang ia peroleh dari sabun cair yang ia gosokan ke tubuhnya sedikit merilekskan beberapa ototnya yang sempat tegang.
Pikirannya melayang jauh, apa saja yang terjadi pada dirinya. Ia sungguh bingung dengan yang terjadi, seingatnya ia meneguk banyak alkohol saat dirumah Gaara dan ia sempat bertemu Hinata entah dimana, dan ia bertemu Shion. itu yang ia ingat sampai sekarang. Ia menenggelamkan kepalanya lebih dalam, dan melemaskan bahunya yang terasa berat.
Merasa acara berendamnya cukup, Naruto menarik handuk yang tergantung di dinding berwarna putih itu dan mengikatnya pada bagian pinggangnya.
Menarik kemeja putih bersih yang tergantung pada lemarinya, dan mulai mengancingnya satu per satu, merapihkan bagian kerahnya dan terakhir, menarik celana hitam dan memakainya.
…
"Ohayou, Naruto-sama."
"Ohayou, Naruto-sama."
Naruto menganggukan kepalanya pada para maid yang menyapanya, biasanya ia akan tersenyum ramah bahkan menjawab sapaan itu. Moodnya yang buruk, membuatnya lebih banyak diam.
Saat sampai di ruang makan tampak ayah dan ibunya telah duduk dan sedikit bercengkrama.
"Ohayou, sayang." Sapa Kushina saat melihat putranya.
Dan, lagi Naruto hanya tersenyum canggung dan mulai mengoleskan selai pada rotinya. Jika dibandingkan dengan keluarga jepang yang umumnya menyantap makanan berat seperti nasi dan kare saat sarapan. Keluarga Namikaze cenderung mengikuti budaya barat, mungkin karena Minato dibesarkan di Spanyol, kebiasaannya disana terbawa hingga dirinya menikah dan berkeluarga.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Kushina dengan hati-hati, ia tau benar sikap dan kelakuan putranya ini. Dan jika ada yang aneh, pasti membuat Kushina bertanya.
Naruto mendongakan kepalanya sejenak menatap mata violet ibunya, sebelum kembali memakan rotinya.
"Tidak, tidak ada apapun, Kaasan." Katanya pelan.
"Hampir sebulan ini aku tidak pernah melihat Hinata, kemana gadis itu?" Minato menuangkan susu pada gelasanya dan terus menatap gerakan tak nyaman Naruto.
"Kami sama-sama sedang sibuk. Mungkin saat natal dia akan berkunjung, mungkin."
"Katakan pada Kaasan, apa yang terjadi antara k-
"Kushina, bisa ambilkan jas hitam juga syalku?"
Kushina menatap safir suaminya, dan mengerti. Suaminya tidak ingin Kushina mengungkit lebih dalam masalah antara Naruto dan Hinata.
"Ya, tungggu disini." Segera saja Kushina bangkit dari duduknya dan meninggalkan dua pria yang sangat mirip itu.
Menatap punggung istrinya sudah menjauh, Minato menatap anaknya yang tampak acuh tak acuh pada sarapannya. Ia meneguk sekali lagi susu putih yang ada pada gelasnya.
"Butuh bantuan?"
Naruto menatap ayahnya dengan pandangan bingung, ia tidak mengerti apapun yang ayahnya coba jelaskan.
"Aku bertemu Hamura Otsutsuki kemarin. Dia bercerita tentang putrinya yang cantik, siapa namanya, ah Shion, ya Shion."
"Kurasa, kita bisa membahas hal lain Tousan?"
"Mengalihkan pembicaraan adalah hal yang tak jantan, my gentleman."
"Maaf, tapi aku sudah selesai." Naruto membalik garpu dan pisaunya dan segera bangkit dari kursinya dan melangkah meninggalkan Minato yang diam .
Minato melirik piring Naruto yang hanya berisi potongan roti namun tak mengurangi porsi roti itu "Hyuuga dan Otsutsuki, kau pasti bisa membedakan mana mutiara mana butiran kerikil." Gumam Minato saat Naruto melewati kursinya.
"Ya, aku bisa Tousan." Sahut Naruto sambil terus berjalan.
…
Hinata terdiam di mobilnya, sudah dua jam ia berhenti dipinggiran kota Tokyo. Niatnya ke sekolah hilang begitu saja saat melihat flat mobil Naruto di persimpangan menuju sekolahnya. Ia mengingat dengan jelas semua yang terjadi saat ia menelpon Naruto semalam, dan entah kenapa itu semua membuatnya benar-benar muak bertemu Naruto, bahkan memikirkan berada satu atap dan selantai dengan Naruto membuatnya risih.
Ia menundukan kepalanya dan menaruhnya pada kemudi dengan kedua tangannya sebagai tumpuan. Menghembuskan nafas berat, dan ia perlahan mengeluarkan air matanya. Ia diam, jangan kira ia menangis dengan menjerit-jerit seperti biasanya, kali ini dia lebih tenang dan mampu menguasai dirinya. Air mata jatuh begitu saja. Ingatannya terbawa pada saat ia benar-benar merasa Naruto selalu ada disampingnya.
Flashback on
Pesta perayaan pernikahan Shizune Kato dan Kabuto Yakushi terasa begitu mewah dan meriah. Kedua mempelai tampak begitu bahagia, gaun putih dengan bordir mewah seluruh gaun itu membuat Shizune terlihat sangat cantik dan Kabuto terus saja tersenyum memperhatikan istri cantiknya
Hinata tersenyum melihat keduanya, dalam benaknya ia berjanji pada dirinya sendiri ia pasti akan memiliki masa depan seperti itu. Menikah dengan orang yang ia cintai dan berpesta semewah ini. Dan dalam imajinasinya, tentu saja hanya ada Naruto, ya hanya Naruto yang ia bayangkan ada disampingnya saat ia mengucapkan sumpah pernikahannya.
"Kau terlihat bahagia. Padahal ini pernikahan Shizune-nee. Tapi, kenapa kau yang terlihat paling bahagia."
Hinata merilik kesal pada pemuda yang merusak imajinasi indahnya, dan tentu saja hanya dia, Namikaze tunggal yang sedang mengganggunya merusak imajinasi indahnya.
"Kau terlalu banyak bicara, kurangi bicara dan perbanyak makan. Di pesta ini banyak makanan mahal." Bisik Hinata pada Naruto dan membuat Naruto tertawa, dan membuat gadis itu mau tak mau ikut terkekeh pelan.
"Kau cantik sekali. Gaun itu sangat cocok untukmu." Bisik Naruto pelan dan membuat Hinata tersenyum kikuk dan meronakan pipinya.
"Aku memang cantik." Lagi, Hinata menanggapi semua gurauan Naruto dengan perasaan bahagia.
"Tidak, hanya malam ini. Karena malam ini spesial."
"Pernikahan Shizune-nee memang spesial. Tapi, tentu saja pernikahaku nanti lebih spesial."
"Tidak, aku sedang tidak membicarakan pernikahan siapapun disini."
"Lalu?"
"Menarilah denganku, Mrs Hyuuga." Naruto membungkukan sedikit badannya dan mengulurkan tangannya.
"Apa bisa? Kita masih sangat muda untuk berdansa bersama para orang dewasa itu." Bisik Hinata pelan.
"Percayakan semua padaku, Miss."
Hinata tersenyum kecil kemudian mengulurkan tangannya. Dan Naruto, mengecup singkat punggung tangan Hinata sebelum berdiri tegak menatap gadis itu.
"Ready?"
Dan Hinata hanya menganggukan kepalanya, malu.
Naruto menggenggam tangan Hinata yang terulur pada tangannya, dan menarik gadis itu mendekat padanya.
"Tatap aku." Bisik Naruto.
"Aku tidak bisa berdansa." Bisik Hinata lagi
"Maka, percayakan semua padaku."
Hinata tersenyum lebar dan mulai menatap mata safir yang menyejukan itu
"Letakkan tangan kanan mu pada bahuku, dan tangan kirimu pada telapak tanganku."
Sesuai ucapan Naruto, Hinata mengikutinya sesuai instruksi yang diberikan Naruto. Naruto mengalungkan sebelah tangannya pada pinggang Hinata dan mulai menggerakan kakinya maju dan mundur.
Beberapa pasang mata mulai menatap mereka dan berbisik-bisik.
"Hyuuga itu hanya memanfaatkan Naruto-san."
"Tidak, dia memang jatuh cinta pada Naruto-san."
"Abaikan segalanya. Setelah ini, aku akan mengangkat tangan dan kau berputarlah."
"Yes, sir." Jawab Hinata dengan senyuman lebarnya.
Naruto mengangkat tangannya yang otomatis membawa tangan Hinata dan sesuai yang Naruto instruksikan ia mulai berputar dan membuat sedikit jarak tanpa melepas genggaman keduanya. Dan Naruto mulai menarik Hinata kembali dan menyentuh pinggang gadis itu, dan perlahan bergerak menjatuhkan Hinata dan menangkapnya kembali. Kedua mata mereka saling memandang, saling menikmati momen bahagia ini dan tentu saja saling berdoa semoga ini akan berlalu sangat lama.
Mendorong tangan Hinata kembali dan segera menariknya dan memposisikan tubuh gadis itu didepannya, dan mulai bergerak ke kanan dan ke kiri. Kepala Hinata tepat berada di ujung dagu Naruto, dari jarak sedekat ini Naruto bisa mencium wangi lavender dari surai indah gadis itu. Perlahan Hinata menggeser kepalanya dan dapat menatap safir Naruto yang memandang penuh harap pada amethyst-nya.
"Menarilah dengan bebas, tapi kau harus tau. Hanya padaku kau bisa kembali." Bisik Naruto pelan
Sekali lagi, Naruto mengulurkan tangan gadis itu dan menciptakan jarak cukup jauh tanpa melepas genggaman keduanya dan kemudian menarik Hinata kembali ke pelukannya. Dan terakhir, Naruto mengangkat tangannya dan membuat Hinata kembali berputar, kali ini Naruto melepas genggamannya. Dan Hinata, mengikuti nalurinya mulai bergerak menggerakan kedua kaki dan tangannya berputar sekali.
Naruto menatapnya dengan mata memicing, ya memicing pada pria yang menatap lapar pada bahu Hinata yang terekspos dan kaki jenjang Hinata yang sangat bersih dan mulus.
Hinata sekali lagi berputar dan berlari mendekat pada Naruto, melingkarkan tangannya pada leher pria itu dan membuat Naruto mengulurkan kedua tangannya pada pinggang gadis itu dan keduanya tersenyum menyudahi kegiatan dansa keduanya.
Beberapa pasang mata menatap keduanya dengan pandangan kagum, dan Shizune sedikit terkikik melihat penampilan cucu dari pamannya yang mampu menyita perhatian para tamunya.
"Aku terkesan dengan penampilanmu, Mrs Hyuuga."
"Aku lebih terkesan padamu, Sir. Aku tidak menyangka kau sangat pandai berdansa."
Dan keduanya kembali tertawa saling menggoda satu sama lain.
"Kau bilang ada yang spesial, apa?"
"Ini. Menari denganku adalah yang spesial."
"Hanya itu?"
"Tentu tidak. Aku mengatakan, kau bisa sebebas-bebasnya saat menari. Tapi, kau hanya bisa kembali padaku. Itu artinya mulai sekarang kau bebas Hinata, kau bebas melakukan apapun yang kau suka. Tapi, ingatlah hanya padaku kau bisa kembali, mulai hari ini aku bersumpah, aku akan selalu bersamamu."
Dan Hinata yang saat itu berusia lima belas tahun hanya dapat menganggukan kepalanya tak mengerti maksud ucapan Naruto.
Ternyata benar, tak ada satupun yang dapat menggantikan Naruto. Naruto benar-benar menguasai hatinya. Ia sejenak menutup matanya mencoba menyembunyikan bayang Naruto, tapi tidak mampu. Bayang Naruto ada disetiap sudut otaknya, dan ia sangat jenuh dengan hal itu. Dan ia memeluk dirinya sendiri, kali ini ia sendiri. tidak ada sahabat seperti Naruto, dan tidak ada satupun yang bisa menjadi Naruto untuknya.
"Aku, apakah aku bisa merubah segalanya?"
Sakit, Hinata merasa segalanya bukan salahnya, namun, kenapa ia yang harus berupaya menyelesaikan segalanya? Seperti ia adalah sumber kesalahan di dunia ini.
Ia membekap kedua mulutnya, dan perlahan menangis sejadi-jadinya.
"Sampai kapan semuanya akan seperti ini?"
…
Hikari menatapi foto pernikahannya yang tergantung di dinding kamarnya. Surai indigo miliknya digulung tinggi dengan mahkota berwarna silver pada tengah kepalanya, gaun sutera yang menjutai anggun itu tampak terlalu anggun untuknya yang bisa dibilang gadis binal sebelum menikah.
Berikutnya mata amethystnya menatap tiga bingkai berurut yang menampilkan tiga orang bayi berusia 3 tahun. Ketiganya adalah anaknya, ketiga anak yang pernah tumbuh dalam rahimnya, ketiga anak yang lahir ke dunia ini karena perjuangannya, ketiga anak yang ditakdirkan bersaudara. Namun, karena masa lalunya, ketiganya mengalami nasib seperti ini. Putrinya, Hinatanya, tak seharusnya hidup dalam penderitaan ini. Dan putranya, Nejinya seharusnya tidak melakukan hal angkuh dan keras pada adiknya. Hanabinya, kembang api untuk hidupnya, seharusnya menjadi gadis manis namun gadis itu menjadi sosok dingin dan cenderung congkak. Seharusnya ia hidup untuk mendampingi ketiga anaknya, menyayangi ketiganya, dan memeluk ketiganya penuh kasih sayang. Bukan untuk menjadi alasan ketiganya berselisih dan mendendam seperit ini. Dalam diam ia mengutuk semua hal yang menyebabkan hal ini terjadi, menyebabkan anak-anaknya hidup dalam drama tanpa akhir.
Ini semua salah, ia tidak tahan. Jangan kira dia tidak tau semua hal yang terjadi pada ketiga anaknya, ia tau dan sangat sedih dengan hal ini. Ia menyentuh pigura foto Hinata, Hinata adalah korbannya, korban masa lalu kelamnya. . Tubuhnya terasa begitu berat, beban yang ia bawa selama ini semakin besar dan mengganggunya, ah tidak, lebih tepatnya menghukumnya. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding dan menangis dalam diam..
Seharusnya ia lah yang menderita.
Seharusnya ia lah yang mendapat perlakuan kejam ini.
Seharusnya ia lah yang mendapat cacian dan makian ini.
Seharusnya ia lah yang mengalami segala yang Hinata alami.
Seharusnya dia yang menanggung akibat dari kesalahannya, bukan putrinya, ini semua sangat sedih dan menyiksanya.
"Kau menangis, Hikari?"
Dengan cepat Hiakri mengusap matanya, dan segera menarik senyum pada bibirnya. "Tidak, hanya debu pada foto-foto ini mengenai mataku, Anata."
"Apa kau membenciku?" Hiashi menatap mata amethyst Hikari menuntut jawaban sejujurnya pada wanita itu.
"Kau tau dan mengerti Anata, aku benci topik ini."
"Apa kau membenciku atas semua yang terjadi? Terutama pada Hi-
"Diam. Aku tak ingin membaahas apapun tentang itu."
Perlahan, Hiashi merengkuh istrinya dan mengelus punggung rapuh wanita paru baya itu. "Maaf, maafkan keegoisanku."
"Aku sendiri yang memilih jalan ini." Sahut Hikari sambil menahan air matanya.
"Kau ingin semuanya kembali?"
"Tidak. Aku sudah menyerahkan seglanya pada Kami-sama, aku yakin semua yang terjadi selama ini memiliki arti." Perlahan Hikari membalas pelukan suaminya.
"Sudah 12 tahun. Apa, kau masih tahan dengan hukuman ini?"
"Aku melepaskan cintaku, menjauhkan diri dari putriku, lalu apa lagi yang aku punya? Hanya Neji dan Hanabi yang menjadi alasanku tetap hidup. Hidupku, bagai sebuah bencana tanpa akhir."
Hiashi mengeratkan pelukannya, lagi dan lagi ia selalu lemah jika menghadapi istrinya ini.
"Katakan, apa kau menyesal?"
"Apa kau lihat aku pernah memeluk Hinata seperti aku memeluk Hanabi?"
Pecah, Hiashi mulai menangis dibahu istrinya ini.
"Maaf, maafkan aku."
"Minta maaflah, pada Hinata. Dan, Natsu, bagaimanapun dia adikmu."
Dan berikutnya tak ada lagi suara yang menyahut, yang Hikari tau hanya ada pelukan yang mengerat dan bahunya yang basah.
…
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Naruto melirik pada Sasuke yang tampak memperhatikan wajahnya. "Tidak ada."
"Apa yang bisa ku lakukan untuk membantumu?"
"Tidak ada."
"Dan, apa yang bisa kau lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?"
"Tidak ada yang bisa aku lakukan, Teme."
Sasuke menyesap kopi hitamnya dengan pelan. Kemudian mengikuti arah pandang Naruto pada hamparan salju yang ada di lapangan luas KHS. "Jadi kau siap melepasnya?"
"Aku bahkan tidak mengerti apa yang harus ku lakukan."
"Cinta dan hubungan itu seperti kopi hitam. Sebagaian orang enggan mencobanya karena warnanya yang pekat, padahal mereka tidak tau bagaimana rasanya."
Naruto menarik kedua sudut bibirnya. "Kadang kau cukup bijak."
Sasuke sedikit menyeringai. "Ya, jika aku tidak pandai memainkan kata-kata mungkin sudah sejak lama hubunganku dengan Sakura berakhir."
"Jaga dia. Bagaimanapun, dia adalah adikku."
"Sepupu, maksudmu?"
"Yah, terserah apa kau menyebutnya." Naruto mengangangkat bahunya sebelum mengesap moccacino yang ada dimejanya.
"Semalam aku berhubungan dengannya. Rasanya, aku mengerti mengapa aku begitu mencintainya."
"Teme, jangan membicarakan hal pribadi padaku. Terutama masalah itu."
"Maksudku, kau juga semalam bermalam dengan Shion kan? Lalu kau tidak merasakan sesuatu padanya?" Sasuke bertanya dengan hati-hati dan berusaha bersikap senormal mungkin.
"Kau? Jangan bercanda Sasuke."
Sasuke menghela nafasnya berat. Ia yakin hal ini terjadi, Naruto tak mengingat apapun tentang malam panasnya dengan Shion. Padahal, sedari tadi yang ia bahas adalah tentang Shion. "Kau tau mengapa aku sedari tadi berusaha membahas masalah cinta yang sebenarnya sama sekali bukan topik utamaku?"
Naruto menggeleng kaku.
"Kau menidurinya, kau meniduri gadis itu." Ujar Sasuke sambil menutup matanya.
Naruto rasa dunianya hancur, ia tersandar lemas pada kursinya. Matanya menatap kaku bahkan mulutnya sedikit menganga dengan pernyataan Sasuke. "Kau serius?"
"Apa aku bisa mempermainkan gadis yang sedang menganggap dirimu adalah segalanya?"
"Shion, dimana? Dimana gadis itu?"
"Aku tidak tau, dobe."
"Aku harus menemuinya." Naruto bangkit dari kursinya dan bergegas melangkah.
"Tunggu." Seru Sasuke, ragu."
"Ada apa lagi teme?"
"Apa kau akan mengatakan padanya bahwa yang semalam hanya kecelakaan karena kau mabuk?"
"Sebut aku brengsek, bajingan, atau apapun. Tapi, aku benar-benar tidak menginginkannya."
Dan Sasuke hanya dapat memejamkan matanya, ia tidak menyangka suasana akan serunyam ini.
…
"Amaru, dimana Shion?"
"Naruto-senpai? Aku melihatnya di perpustakaan tadi."
Dengan secepatnya Naruto berlari menuju lantai kedua dari sekolah ini, menuju tempat dimana gadis itu berada.
Itu dia, gadis itu sedang duduk dan membaca sesuatu disana.
"Shion." Panggil Naruto dengan pelan.
Shion tersentak kaget, ia mematung mendengar suara itu. Dengan kaku ia mendongakan kepalanya. "Senpai?"
"Aku, ah tidak, maksudku kita perlu bicara kau bisa ikut aku?"
Shion mengerti arah pembicaraan ini. Ia menganggukan kepalanya dan berjalan mendekati senior tampannya itu.
"Ikuti aku." Naruto berjalan mendahului Shion yang mengekorinya dengan pelan.
Mobil mewahnya, Naruto mengajak Shion masuk ke dalam mobilnya. dan gadis itu hanya menurut.
Naruto menghembuskan nafas berat, ia menatap surai blonde miiilik gadis itu yang terikat tinggi. "Kau pasti tau, apa yang akan aku bicarakan." Naruto berbicara dengan hati-hati.
"Jika yang ingin senpai bicarakan adalah, kejadian semalam, aku tidak apa." Shion mengangkat kepalanya dan menatapi Naruto dengan senyum kecil.
"Maaf, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri." Naruto menundukan kepala malu.
"Itu bukan yang pertama. Jadi, Senpai tidak perlu merasa bersalah."
Naruto mengangkat kepalanya ragu, dan menatap Shion dengan bingung.
"Ya, aku kehilangan kegadisanku diusia 12 tahun " Jawab Shion dengan pelan.
"Shion-
"Aku menceritakan ini, karena aku yakin Naru-senpai adalah orang yang bisa dipercaya."
"Kau butuh teman berbicara? Aku bisa menjadi pendengar yang baik."
"Berjanjilah, kau takkan membenci siapapun setelah aku bercerita?"
Dan Naruto hanya mampu menganggukan kepalanya.
"Aku diadopsi ketika usiaku empat tahun. Wanita yang melahirkanku adalah wanita bar, dia pecandu narkoba, aku ingat dia meninggal ketika usiaku tiga tahun. Dan setelah itu aku dibawa ke panti asuhan, dan yah, beruntung ada keluarga yang mengadopsiku." Shion menyunggingkan senyumnya saat mulai berbicara. "Otsutsuki, itu keluarga yang mengadopsiku. Lebih tepatnya, Hamura Otsutsuki dan istrinya Satsuki Otsutsuki yang menginginkan anak perempuan. Awalnya aku tidak mengerti, keduanya memintaku memanggil mereka Kaasama dan Tousama, dan aku hanya menurut saat itu. Mereka menghidupiku dengan layak, baju baju indah, sepatu sepatu mahal, dan makanan yang enak, dan fasilitas yang tidak semua orang dapat merasakannya, aku merasakannya selama ini karena mereka, hidupku bahagia semua orang menyayangiku, kecuali Otsutsuki Toneri, dia menggangap aku mencuri kedua orang tuanya. Dia yang berusia 2 tahun lebih tua dariku selalu memandang marah padaku. Hingga malam itu, Kaasama meninggal dunia, dan dia menganggap itu salahku. Dan kau tau apa yang ia lakukan? Menyatakan cinta padaku, aku jelas menolaknya, dia berkata Kaasama sudah mati jadi kami bisa berpacaran, aku marah dan menamparnya, dia sepetinya terluka kemudian, hiks, Ia menelpon tiga orang temannya yang aku ingat bersurai merah dan bersurai blonde." Nafas Shion mulai tersendat sepertinya ia mulai menangis, "Keduanya, hiks-, keduanya mulai memperkosaku. Dan Niisan, dia merekamnya. Aku bahkan berteriak malam itu, tapi sayang Tousama sedang mengurus beberapa tamu, dan kamarku kedap suara. Hiks, tidak, hiks, tidak ada yang mendengarku. Dan yang membuatku membenci diriku adalah saat keduanya memasuki secara bersamaan dari depan dan belakang, tubuhku bergetar dan meminta lebih. Hiks, sejak saat itu, hiks, aku menutup diri. Orang berfikiran aku begini karena kematian Kaasama. Setahun kemudian, Kaguya-baasan, menjemput Niisan dia memintanya ikut ke mansion utama Otsutsuki. Dan Niisan pergi. Itu saat paling menenangkan dalam hidupku walau masih ada di kota yang sama denganku aku tidak pernah melihatnya, namun tahun ini saat usiaku enam belas tahun, dia datang. Dia mengancamku, dengan video porno itu. Dia mengancamku untuk mendekatimu, agar dia bisa kembali pada kekasihnya Hinata-senpai. Tapi yang aku tau, dia berubah, karena Hinata-senpai yang mengubahnya. Dan beberapa minggu yang lalu ia memohon maaf padaku, ia bahkan bersujud pada kakiku, dan itu meluluhkan hatiku." Shion memejamkan matanya. "Dia kembali menyatakan cinta, dan aku, aku menghindar, oleh sebab itu aku ada dihotel itu semalam." Shion menghela nafas lega, rasanya ia sudah melepaskan bebannya selama ini. "Gomen, mempermainkan hubungan kita."
Naruto berkali-kali mencoba menguasai dirinya. Perasaannya terbukti benar, dulu saat Toneri mendekati Hinata dulu, Toneri bukan pria yang baik. jemarinya memutih menahan emosi. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Aku baik, sangat baik." Shion tersenyum untuk meyakinkan dirinya.
"Kau, mulai sekarang, kau adalah adikku, Shion."
Shion tercengang ia merasa ini mimpi, setelah menceritakan hidupnya yang menjijikan, ada orang yang mampu menerimanya seperti ini. Rasa hangat menjalar keseluruh permukaan hatinya. "Arigatou, arigatou gozaimashu, Namikaze Naruto-niichan."
Naruto mendekati Shion, merengkuh gadis itu dan sedikit mengusap surai blonde gadis itu. "Kemasi barang-barangmu di hotel, kau bisa tinggal di apartemenku mulai hari ini, sandi pintunya adalah 2712."
"Senpai? Kau serius?"
"Niichan, aku kakak mu mulai Shion mau tak mau kembali menitikan air mata harunya.
Sakura memperhatikan pemandangan itu dengan menggeram, ia mencengkram stir mobilnya menahan emosi, terlihat dengan jelas Naruto yang beberapa hari lalu meminta bantuannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Hinata menggenggam tangan bahkan memeluk gadis bersurai blonde itu. "Berani-beraninya kau Namikaze Naruto, kau pikir kau siapa berlaku seenaknya pada sahabatku?" Dengan emosi yang menguasai dirinya, Sakura mulai mengemudikan mobilnya.
…
Hinata berjalan dengan santai di koridor mall terbesar di Tokyo. Niatnya hanya ingin membeli selembar syal. Namun diskon pada pengujung tahun membuatnya tak bisa menahan langkah kakinya.
Biar sebesar apapun masalahnya, Hinata teteplah perempuan biasa. Yang tetap tergiur pada pakaian dan sepatu mahal.
"Hinata-chan."
Hinata menolehkan kepalanya begitu mendengar namanya disebut. Dan, dia membatu melihat sosok yang memanggilnya. "Baasan." Serunya kaku.
"Kenapa tidak ke sekolah?" tanya Kushina curiga.
"A-ah, aku, aku terlambat, ya aku terlambat. Jadi, ku pikir lebih baik tidak datang." Seru Hinata, gugup.
"Jika kau ingin bolos, itu wajar. Kau pasti stres dengan pelajaran menjelang ujian kan? Aku juga pernah muda loh." Kekeh Kushina, membuat Hinata canggung.
"Bagaimana jika kau menemani Baasan minum kopi? Belakangan ini kita jarang berbicara berdua kan?"
"T-tapi Baasan-
"Kau tidak mau ya?" seru Kushina lemas. "Apa anak nakal itu menyakitimu? Hingga kau menghindariku seperti ini?" Gumam Kushina dengan lemas.
Hinata mau tak mau mengikuti perempuan paru baya itu. "Bukan begitu Baasan. Aku hanya terkejut. Jadi, kita mau ke kafe mana?"
…
"Kelihatannya kau kurang tidur. Matamu berkantung dan menghitam seperti mata panda."
"Y-ya Baasan, belakangan ini aku terus disibukkan dengan ujian."
"Ya, Naruto juga seperti itu. Belakangan ini dia sanngat jarang berada dirumah. Kadang aku merasa seperti belum menikah, suami dan putraku sangat jarang menemaniku." Kushina memutar bola matanya bosan.
Hinata tersenyum kecil, baginya Kushina adalah segalanya. Sosok yang apa adanya itu bisa menjadi teman, ibu, bahkan musuh untuk Hinata. Hanya pada Kushina Hinata dapat membuka diri, walaupun harus terus dipancing. "Baasan, seperti remaja puber saja." Kekeh Hinata.
"Kau juga, mengapa sebulan ini tidak pernah mengunjungiku?" Kushina mulai merajuk pada gadis Hyuuga itu. Dan membuat Hinata semakin terkekeh.
"Baiklah, sebagai permintaan maafku bagaimana jika akhir pekan aku menemani Baasan? Kemanapun yang Baasan mau."
"Kau janji?" Kushina tersenyum bersemangat
Dan Hinata hanya mengangguk dengan senyuman lebar. "Baasan hubungi saja jika sudah punya tujuan."
"Ah, senangnya jika punya menantu seperti dirimu. Minato baka itu menyebalkan, padahal aku selalu ingin punya anak perempuan."
"Menantu?"
"Ya, kau harus menikah dengan anakku dan menjadi menantuku."
Dan, Kushina tidak sadar itu membuat Hinata sempat rileks kembali canggung.
"Hinata, ada apa?" Melihat Hinata yang terus melamun, membuat tanda tanya sendiri pada hati Kushina.
"Tidak ada, aku baik, Baasan."
"Apa Naruto buatmu tidak senang?" Tanya Kushina hati-hati.
Sejenak Hinata memandang Kushina. "Ini rumit, Baasan." Jawab Hinata tanpa minat.
Kushina mengerti, bagaimanapun dia adalah wanita perasaannya cukup peka. "Kau jatuh cinta pada anakku?"
Dengan sendirinya air mata jatuh dari mata amethyst Hinata, dia menghembuskan nafas pelan dan segera mengusap setetes air mata yang masih membasahi pipinya. "Aku, aku tidak tau, Baasan. aku, belum pernah merasakan hal seperti ini."
"Dengar sayang, aku tidak menyukai gadis manapun yang Naruto jadikan kekasih. Entahlah, menurutku mereka hanya ya memanfaatkan Naruto."
Dan Hinata hanya mengangguk kaku. "Aku, aku sudah berusaha menaklukan hatinya tapi, dia tidak pernah jatuh cinta padaku." Seru Hinata sedih.
"Kau salah, dia mencintaimu, percayakan semua padaku, aku akan membuat kalian bersama. Berjanjilah kau akan selalu bersama anakku?"
Dan sekali lagi Hinata hanya mengangguk dengan beberapa air mata yang jatuh dari matanya.
Halo, sekitar 4/5 bulan fic ini tidak dilanjutkan, itu karena aku sibuk dengan persiapan menuju prakerin. dan syukurlah, semuaanya sudah selesai, dan aku punya banyak waktu untuk melanjutkan semua fic ku. tenang aja, aku ga akan ninggalin fic yang ada di akunku, aku semua fic akan diup pada waktunya. dan jika kalian bertanya kenapa di chp ini peran shion lebih dominan, tenang aja shion ga akan ngambil peran utama. judul fic ini adalah look at my hurt life, yang berarti akan menunjukan sisi-sisi menyakitkan hidup para tokohnya, di chp ini sisi hurt hidup shion sudah ditunjukkan. dan masalah hubungan naruhina akan berlanjut mulai chp depan. enjoy my story, and forgive me for the typo.
13/11/12 - with love, orihime yoshizuki.
