Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : AU, typos, possibly OOC
Yelena Milanova = Hyuuga Hinata
Dmitri Milanov = Hyuuga Neji
Happy reading minna ^^
.
.
.
Yelena menjejakkan langkah demi menyusuri lorong-lorong gelap. Sungguh, ia tak begitu paham mengapa Sasuke memilih untuk bertemu di tempat yang sedemikian pengap. Belum lagi dinding-dinding berlumut yang senantiasa mengeluarkan hawa lembab. Yelena bahkan harus berhati-hati ketika hendak berpegangan pada dinding jika tak mau jatuh terjerembab.
Setelah Hidan pulang dari rumahnya, Yelena tak bisa berhenti memikirkan apa yang ia bisikkan. Tak membuang waktu, ia mencari perkamen yang disebutkan. Tentu saja setelah memastikan Orochimaru mengendurkan supervisi yang ia lakukan. Mencuri dengar pembicaraan Orochimaru dengan Hidan membuat Yelena sedikit memiliki keyakinan bahwa Hidan bukanlah sosok lawan.
"Kau menggangguku. Demi butiran-butiran amber, apa maksudmu menyudahi mimpi sempurna yang kurancang untuknya?"
"Sudah kubilang, melihat reaksinya ketika bermimpi bertemu dengan Nona makin membuat celanaku sempit. Kaupikir kau satu-satunya orang yang ingin menulis sejarah baru dengan meneliti kemampuan manipulator waktu?" tukas Hidan, "Aku juga ingin mencatatkan namaku sebagai lelaki yang pernah meniduri Velikaya Kyazhna."
"Sshh ... bisakah pikiranmu tidak tertuju pada wanita dan ranjang, Rambut Klimis?" sergah Orochimaru.
"Terobsesi pada wanita itu wajar untuk laki-laki normal. Hey, Nona Ular. Setelah ini, apa rencanamu? Membuntuti Manipulator Waktu tercintamu itu?" ejek Hidan.
"Tutup mulutmu, Blyad! Tentu saja aku akan menengok sebentar untuk memastikan Ksatria Bodoh itu tak kembali lagi. Setelah itu aku akan mengawasi Velikaya Kyazhna lalu menunggu perintah Nona," balas Orochimaru.
"Velikaya Kyazhna dalam pengawasanku. Kurasa kehadiranmu hanya akan mengganggu," tukas Hidan.
"Ck! Sesukamu saja, Rambut Klimis."
Yelena ingat betapa dirinya terkejut manakala melihat sosok Orochimaru. Berambut legam berbalut ekspresi nan jaharu. Entah kenapa meski Yelena mengamatinya dari distansi yang cukup aksa, gadis itu yakin bola matanya berwarna kuning bersemu hijau melicau. Hawa jahat yang menyelubunginya mengingatkan Yelena pada sosok iblis pembunuh Neji yang telah berlalu.
Oponen tangguh setelah Katyusha, begitu pikirnya.
"Dobroye uto, Velikaya Kyazhna."
Yelena mengenali dengan cepat sosok pria Uchiha yang tengah bersandar di dinding. Ekor matanya melirik Yelena yang baru datang, sementara lekukan bibirnya menjeringing. Tak jauh darinya berdiri tegap seorang pria berambut perak yang selama ini disangkanya sebagai pengaling.
"Dabro pozhalovat, Velikaya Kyazhna."
Hidan membungkukkan tubuhnya. Seolah hendak berkata dirinyalah sang abdi yang setia. Pun begitu, Yelena tak dapat serta merta percaya. Ini mungkin salah satu jebakan yang telah disiapkan Katyusha. Seolah mengerti Yelena masih meragu, Hidan kembali mengucap kata demi meyakinkan Yelena.
"Dari waktu ke waktu ... tak peduli benar ataupun salah, suaramulah yang akan kudengar sebagai petunjuk apa yang akan terjadi. Karena segala yang kuinginkan adalah agar engkau bisa melihat mentari yang bersinar esok hari."
Kata-kata itu ... adalah janji setia yang selalu diucap para ksatria. Dan lagi ... Katja yang datang bersamanya juga tak memberikan reaksi kontra. Jika Hidan adalah ksatrianya, lalu bagaimana dengan ... Gaara?
"Ragu-ragu, Kyazhna?" tukas Sasuke, "Jangan pernah berpikir kaulah yang terhebat karena berhasil menyusup di kubu lawan. Ksatriamu bahkan sudah lebih dulu melakukannya."
"Tapi ... Gaara?"
"Siapa yang memberitahumu kalau kau cuma punya satu ksatria?" sahut Sasuke dengan cepat, "Oh, terima kasih sudah menjaga Kyazhna selama ini, Nona Manis."
Katja sedikit menundukkan kepala seolah hendak menghormati. Jika sudah begini, rasanya semakin sulit untuk menyebut semua ini sebagai suatu hipokrisi. Pun demikian, Yelena tetap menuntut sebuah eksplanasi.
Yelena ingat. Ayahnya pernah mengatakan bahwa penjaganya berjumlah empat. Kala itu ia masih seorang balita yang tak pernah sadar bahwa bahaya selalu mengintainya dengan cermat. Ketika ia sudah lebih paham, Neji tak pernah mengatakan siapa saja ksatria yang memegang amanat.
"Jelaskan padaku, Tuan Manipulator Waktu," ucapnya.
"Baiklah ... baiklah. Aku tak suka ikut campur. Tapi kalianlah yang memaksaku," ujar Sasuke, "pertama, Sir Shovkovsky membuatku terpaksa harus terlibat. Kedua, tentu saja kau sendiri yang mencoba berbuat curang dengan menyusup ke kubu musuhmu sendiri."
"Perang dan cinta takkan mengikuti aturan, Sasuke. Dan lagi, bukankah tempat yang paling aman justru ada di tempat yang paling berbahaya?" Pertanyaan retoris dipilih Yelena untuk menanggapi perkataan Sasuke.
"Aku suka logika berpikirmu," puji Sasuke, "bersyukurlah karena tindakanmu ini sudah diprediksi dengan tepat oleh Dmitri."
Dmitri Milanov, Hyuuga Neji. Kakak sekaligus penjaganya yang paling cerdas namun terpaksa harus meregang nyawa di tangan iblis keji. Dari caranya berbicara, sepertinya Sasuke memang benar-benar memahami apa yang belum Yelena ketahui.
"Delapan tahun lalu aku menangkap Dmitri dalam kasus pembobolan sebuah bank besar di Jerman. Ia tidak bicara apa-apa saat diintrogasi, tetapi dia memberiku sebuah MicroSD. Anak itu ... menantangku untuk memecahkan sebuah teka-teki," ujar Sasuke.
"Delapan tahun yang lalu ... berarti usiamu saat itu baru sembilan belas tahun, kan?" Yelena mengernyitkan kening. Rasanya agak mustahil membayangkan seorang pemuda berusia sembilan belas tahun sudah menangani kasus besar seperti pembobolan bank.
"Kyazhna," Hidan menyela, "usia Lord Sasuke saat ini mungkin sudah lebih dari setengah milenium."
"Cih ... kau membuatku merasa tua," Sasuke mendecih, setengah merasa terpaksa harus menjelaskan, "pertumbuhanku terhenti di umur 25 tahun. Kemampuan menggunakan dan memanipulasi waktu kudapat dari kakakku. Ah, bukan. Akulah yang mengira dia kakakku. Sebenarnya dia kakek dari kakek buyutku. Seorang manipulator waktu akan berhenti tumbuh di usia 25 tahun dan akan mati jika memberikan kemampuan itu pada orang lain. Oh, satu hal lagi. Kurasa aku harus mengatakan padamu kalau Gaara adalah cicitku."
Jika kondisinya lebih santai, mungkin Yelena akan tertawa mendengarnya. Namun alih-alih tertawa, Yelena justru menantikan kelanjutan cerita dari sang Uchiha. Ia ingin tahu enigma macam apa yang diberikan Neji hingga kakaknya tersebut dapat memprediksi langkahnya menelusup ke kubu Katyusha.
"Sejak awal aku tahu Dmitri adalah seorang ksatria. Begitu menyelesaikan teka-teki yang dibuatnya, kuakui aku cukup terkejut dengan kegigihannya mencari siapa sosok manipulator waktu. Dan kau tahu alasannya mencariku, Kyazhna? Karena Dmitri tahu Klan Shovkovsky sudah menemukan salah satu ksatriamu, Gaara," ujar Sasuke.
"Kyazhna mungkin tidak tahu, saya berteman baik dengan Dmitri. Dmitri adalah seorang statistician dan programmer yang mumpuni. Ia membaca buku-buku sejarah sejak Yantarnaya Komnata dibuat, diperebutkan, dan menghilang. Dari situlah ia menentukan trend linear dan memprediksi apa yang akan terjadi sekarang ini. Dari hasil peretasan data pula ia tahu Sir Shovkovsky berencana mem-brainwashing Gaara agar berbalik mengkhianati Anda," Hidan ikut membuka suara.
Sekarang Yelena mengerti. Ia mengerti mengapa Gaara seolah melakukan upaya desersi. Karena segalanya adalah bagian dari strategi. Yelena bisa mengambil konklusi kondisi sekarang ini merupakan perang strategi antara Sir Shovkovsky dengan Neji. Perang strategi di luar alur sejarah inilah yang membuat Sasuke terpaksa turut mengintervensi.
Neji memang benar-benar cerdas. Di depannya, ia hanya berpesan agar mereka mengubah warna rambut dan nama untuk mengubah identitas. Sementara di belakangnya—setidaknya itu simpulan Hinata setelah mendengar penuturan Sasuke—ia berupaya keras agar data-data terkait diri mereka bisa diretas. Ia juga menyiapkan data dan identitas baru hingga semuanya menemukan konformitas.
Baiklah, itu menjawab pertanyaan mengapa selama ini Neji betah berlama-lama di duduk di depan layar digital.
"Saya sudah mencoba menggugah kembali ingatannya ketika dia berada di Permskaya. Saya mencoba mengingatkan kembali tentang tugasnya sebagai ksatria. Saya mencoba melenyapkan jiwa busuk yang tertanam dalam dirinya. Saat itu kukira ia benar-benar mati setelah menembak kepalanya," ujar Hidan, "tapi ternyata ia lebih pintar dari dugaanku semula.
"Tapi bukankah itu sama saja dengan membunuh Gaara?" tanya Yelena, "Jujur saja, akulah yang menyuruhnya mempertimbangkan kemungkinan itu. Aku tahu kau akan mengikutinya. Kupikir saat itu kau benar-benar sedang melaksanakan perintah Katyusha."
"Memang," ucap Hidan, "jika saat itu ia tidak menembak kepalanya, maka yang didapatkannya adalah lebih banyak lagi pengaruh buruk, sesuai dengan tugas yang kuterima dari Katyusha. Tapi sayangnya karena kematiannya yang pura-pura itu, aku jadi tak bisa melepaskan dogma salah yang telah ditanamkan padanya. Jika saat itu dia benar-benar menembak kepalanya dengan peluru sungguhan, satu detik tepat setelah itu aku akan menggunakan peluru itu sebagai media untuk membersihkan ingatannya. Dia hanya akan mengalami mati suri saja."
Sungguh, kali ini Hinata benar-benar merasa dirinya terlampau individualistik. Hidup dalam apriori seperti ini membuatnya bahkan tak dapat mengenali ksatrianya dengan baik. Ketakutannya bahwa musuh adalah musuh membuatnya tak mengenal dialektik. Padahal di sisi yang sama, ada ksatrianya yang mengikat diri dalam sebuah taklik.
"Dengar, aku akan memberi tahu apa yang pernah kudiskusikan dengan Dmitri. Kalian boleh menyebutnya taktik, tapi aku akan tetap menyebutnya strategi. Aku hanya akan memberi tahunya sekali karena aku yakin setelah ini Orochimaru takkan lengah mengawasi." Ucapan Sasuke membuat Yelena dan Hidan kembali berkonsentrasi.
Sebuah strategi yang membuat mereka mampu memenangkan pertarungan ini.
.
.
.
"Tsk!"
Gaara mendecih begitu sepasang kelopak matanya terbuka. Bulir-bulir keringat yang membasahi dahinya ia seka. Kendati demikian ia merasa lega. Semuanya hanya mimpi, Yelena tak benar-benar mati di hadapannya. Ia tak sanggup jika harus benar-benar membayangkan Katyusha menghunuskan pisau-pisau tajamnya di tubuh Yelena.
Sedikit frustasi, Gaara meremas helaian rambut merah bata yang ia miliki. Sosok Hinata seolah tak mau beranjak dari pikiran dan hati. Suara lembutnya senantiasa langsi. Dan memikirkannya sudah menjadi sebuah latensi.
Demi sebotol Rodnik Vodka, sejak kapan dirinya akrab dengan suasana melakolis seperti ini?!
Bicara tentang vodka, sepertinya Gaara tak memiliki stok lagi. Mungkin lebih baik ia pergi mencari beberapa botol vodka dan whiskey yang ia sukai. Mungkin brandy dan tequila juga bisa masuk dalam daftar eleksi. Rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan sensasi harum dan hangatnya brandy. Semenjak mengencani Yelena, kardiolog itu...
Gaara buru-buru menepis pemikiran itu. Apa pun yang terjadi saat ini, ia tak mengambil keputusan yang keliru. Hatinya mungkin masih rancau, tapi semuanya akan kembali seperti semula seiring dengan berjalannya waktu.
Waktu. Uchiha Sasuke.
Cukup.
Gaara sudah mengambil langkah untuk memutus simbiosis parasitisme yang pernah ia jalani. Tak ada yang harus ia cemaskan, toh jika memang Yelena benar maka sejarah akan berepetisi. Dan itu berarti, Velikaya Kyazhna akan selamat dari ancaman Klan Shovkovsky. Gaara bersiul-siul, mencoba menenangkan diri. Lalu jemarinya meraih mantel yang tergantung, mengenakannya, kemudian melangkah pergi.
Terkutuklah hari Sabtu! Di tengah hati yang tengah alufiru, Gaara dipaksa menyaksikan banyak pasangan yang tengah bercumbu. Jika bukan demi minuman kesukaannya yang diharapkan mampu memupus rasa rindu, Gaara akan memilih kembali pulang dan memainkan Nintendo untuk membunuh waktu. Dan semoga saja Yelena tidak...
Dan harapannya tidak akan dikabulkan. Karena di sana—belasan meter di depannya—ada Yelena dan Hidan. Berdiri di depan etalase sebuah toko roti dan ... oh, kali ini Hidan hanya berani menggenggam tangan. Baguslah, setidaknya pria mesum itu bisa sedikit lebih sopan.
Tidak, ini sama sekali bukan hal yang patut disyukuri. Ini bahkan buruk sekali. Ia pergi agar tak mengingat Yelena lagi, tetapi Dewi Fortuna rupanya memang sedang cuti. Ck ... bahkan matanya pun seolah tak mau berganti fokus atensi. Dan ... hey, bukankah laki-laki berambut panjang itu adalah sosok tak kasat mata yang mengincar Sasuke dan dirinya tempo hari? Untuk apa ia di sini? Dan lagi ... apakah ia sedang mengintai Yelena dan Hidan yang sedang berada di depan toko roti?
Entah bagaimana, kedua bola mata Gaara tergerak untuk menoleh pada satu figur sentral. Tepat ketika Hidan tengah merangkul Yelena dengan gestur yang terbilang amikal. Bola matanya terbeliak menyaksikan ada sebilah pisau dalam genggaman Hidan, siap menghunuskan serangan letal.
"Tuan?!"
Setengah tergagap, Gaara menoleh ke arah sang pemanggil. Seorang wanita tua mengamati dirinya yang setengah terjerembab di atas hamparan kerikil. Untuk sejenak, Gaara merasa seperti manusia imbesil.
Bagus, siapa yang akan menyangka orang sepertinya akan terjatuh dengan sangat-sangat memalukan usai melihat kekasih—atau mungkin mantan kekasihnya—hendak dibunuh secara keji. Tanpa membuang banyak waktu, Gaara segera berdiri. Bulatan jumantan di kedua bola matanya tergerak kembali untuk mencari sosok yang—dengan berat hati ia mengakui—masih ia cintai.
Huh ... kali ini Gaara boleh berlega hati. Apa yang dilihatnya tadi hanyalah sebuah ilusi. Toh, nyatanya Yelena dan si rambut ubanan itu masih terlihat berbincang dengan santai.
"Tuan, kau baik-baik saja?" tanya si wanita tua itu kembali.
"Ya." Gaara menjawab singkat, meraih kembali kantung berisi beberapa botol alkohol yang dibawanya, kemudian memutuskan untuk segera kembali di rumah sebelum wanita tua itu kembali bertanya dan ia merasa malu. Ekor matanya mencoba kembali mengintip sosok tak kasat mata yang pernah amat sangat mengganggu. Sedari tadi sosok Yelenalah yang ia tuju.
Seharusnya Gaara tak perlu lagi memikirkan untaian misteri abstrak. Seharusnya ia tinggal menikmati waktu libur di rumah, memainkan koleksi game dalam komputernya, menikmati berteguk-teguk vodka tanpa harus ada hal yang merisak. Kenyataan bahwa Velikaya Kyazhna adalah Tuan Putri brengsek pengkhianat rakyat adalah kebenaran yang sulit dielak. Dan Gaara sudah sangat berbaik hati karena tak melakukan langkah apa pun untuk membuatnya semakin terdesak.
Jadi kenapa sekarang ia harus merasa gelisah? Kenapa tiba-tiba ia berpikir bahwa Hidan—lelaki yang nyata-nyata tertarik pada Yelena—mungkin akan membunuh Yelena dengan sadis bahkan hingga berdarah-darah? Dan kenapa ia bisa tiba-tiba merasa tak nyaman ketika fokus penglihatan sosok menakutkan itu tak kunjung berpindah?
Ragu-ragu Gaara menyentuh permukaan perkamen. Beberapa hari yang lalu ia kesal karena seharusnya ia tak lagi menyimpan benda-benda sentimen. Namun sekarang ada dorongan dari hatinya untuk melakukan eksamen. Seolah ada bagian dalam dirinya yang menginginkan fragmen yang koheren.
Perlukah?
Setengah kesal, perkamen di tangannya justru diremas. Mungkin sebaiknya ia melemparkan benda ini ke dalam bara api agar dirinya tak lagi merasakan distabilitas. Bagaimanapun, ia harus mempertahankan keputusan yang kebenarannya sudah jelas.
"Oe ... oe ... oe...!"
Ck ... suara bayi, identik dengan Katja. Boneka iblis itu, apa sebenarnya maunya? Setengah menggerutu, Gaara mencoba mempertajam penglihatannya. Dan lagi-lagi yang dilihatnya adalah visualisasi tak biasa.
.
.
.
Sepasang bola mata oniks itu mengamati objek di depannya dengan presisi. Detik berikutnya ia menyeringai. Dan selanjutnya tak dapat lagi menahan tawa geli. Lawan bicaranya mendecih, setengah merasa ditelanjangi. Jika bukan karena eksplanasi atas preskripsi, ia takkan sudi menemui Sasuke hanya untuk ditertawakan begini.
"Hn ... tertawalah sepuasmu, tapi setelah itu jawab pertanyaanku," Gaara mulai tak sabar.
"Apa? Apa? Coba kauulangi kalimatmu tadi!" pancing Sasuke.
"Kubilang tertawalah sepuasmu, Landak Tuli," tukas Gaara.
"Tidak, bukan seperti itu yang kumau," ucap Sasuke, "katakan 'Tuan Sasuke yang kuhormati, beri tahu aku segala yang kautahu. Kebijaksanaanmu akan menghapus semua ragu.'"
"Brengsek! Tadi aku tidak bilang begitu!" Gaara tak bisa lagi menahan rasa kesalnya, "Kubilang 'beri tahu aku tentang segala yang kautahu tentang Velikaya Kyazhna, Tuan Sasuke'."
Sasuke masih terkekeh geli, namun sejurus kemudian ekspresinya berubah menjadi stoik kembali. Menggoda Gaara memang tak pernah gagal memberinya hiburan tersendiri. Namun bagaimanapun ia harus memastikan tujuan Gaara ke sini. Dari sepasang lingkar kehijauan itu, Sasuke tahu Gaara benar-benar menghendaki desinensi.
"Pulanglah. Velikaya Kyazhna bukan lagi urusanmu. Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk meninggalkannya?" Sasuke mengajukan tanya retorik.
"Semestinya begitu ... semestinya," ujar Gaara, "tapi yang kusaksikan beberapa hari ini membuatku ragu-ragu. Aku bingung. Aku merasa tidak ada yang salah dengan tindakanku, tapi ... ilusi-ilusi tentang Yelena itu benar-benar menggangguku."
"Ilusi? Seperti apa?"
"Yah, seperti yang kulihat ketika Yelena menjelaskan banyak hal padaku. Misalnya ketika aku nyaris membakar perkamen yang kutemukan di Trans-Siberian, tiba-tiba saja api di dalam tungku seolah memperlihatkan gambaran seperti ketika Katja dibakar hidup-hidup."
Sasuke melirik sekilas ke arah tangan Gaara. Memang terlihat kemerahan seperti luka bakar di areal punggung tangannya. Tampaknya ia berupaya keras agar perkamen itu tak lenyap oleh bara. Sepertinya ia menyesal telah meninggalkan Yelena. Hanya saja egoisme dan perasaannya tak seiya sekata.
"Dua hari ini aku membuntutinya, sekadar ingin memastikan ia baik-baik saja. Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa tidak tenang," gumam Gaara.
"Stalker," komentar Sasuke setengah mengejek.
Gaara berjengit, "Bukankah sebagai intelijen kita juga sering melakukannya? Jadi, apa bedanya?"
"Hhh ... dasar Panda Dungu. Jelas saja menguntit penjahat dengan menguntit mantan pacar itu tidak sama. Memangnya jika kau berhasil mendapat apa yang kauinginkan dari hasil menguntit mantan pacar, kau akan melaporkannya pada Naruto?" tukas Sasuke.
Meski enggan mengakui, Gaara setuju dengan apa yang Sasuke katakan. Barang kali memang dirinyalah yang terlampau terbawa perasaan. Jika menilik dari reaksi yang Sasuke berikan, kelihatannya si jabrik ini takkan memberinya informasi yang ia inginkan. Sial, padahal dialah satu-satunya tumpuan harapan.
"Ketika kau memutuskan untuk mundur sebagai ksatria, maka saat itu pula urusanmu dengan Velikaya Kyazhna terputus. Dan itu berarti, kau tak lagi berhak untuk mendengar kelanjutan dari pertarungan," kata Sasuke, "mengertilah, Yelena sedang berjuang habis-habisan. Ksatria galau sepertimu hanya akan membawa beban. Jadi pulanglah, dan tunggu saja kabar kematiannya atau kabar pernikahannya dengan ksatrianya yang lain."
Pernikahannya dengan ksatrianya yang lain ... ugh, membayangkannya saja sudah membuat Gaara sakit kepala. Mungkin selama ini ia terlalu besar kepala, menganggap dirinyalah satu-satunya ksatria. Hey, bukankah tempo hari ia sendiri yang mengatakan bahwa ksatria hanyalah tokoh rekaan Yelena? Lalu, kenapa sekarang ia merasa semakin kecewa.
"Begini saja," ujar Sasuke, "semula kau berada di pihak Yelena dan kemudian kau merasa dia tak pantas dibela. Aku tak tahu apa yang kausaksikan dari jejak Sir Shovkovsky di Permskaya, mungkin juga jejak-jejak lain yang tak pernah kuketahui. Pertimbangkan lagi olehmu, kebenaran macam apa yang selama ini tersembunyi."
"Sepertinya kau cenderung berpihak pada Yelena," cemooh Gaara, "cih, putri seperti itu..."
"Sah-sah saja kan jika suatu saat akulah yang menikahinya?" pancing Sasuke, "Uchiha ... Hinata. Nama yang cocok juga."
"Kau!"
"Hubunganmu dengannya sudah berakhir, kan? Dan kau juga tidak bisa memakai alasan 'jauhi dia demi kebaikanmu' karena kau tak pernah mengakuiku sebagai teman baikmu. Jika rivalmu, aku, menikah dengan mantan kekasihmu yang sekarang sangat kaubenci, Yelena, kurasa tidak ada yang salah dengan itu, kan?" Sasuke kian bersemangat menggoda rival sekaligus rekannya.
"Tsk!" Lagi-lagi Gaara tak bisa menyangkal. Jika ia membenci Yelena semestinya ia senang jika wanita brengsek itu menikahi sang rival.
"Hey, Kepala Tomat, mau kuberitahu sebuah klu?" tanya Sasuke.
"Itu yang kutunggu sejak tadi, Buntut Ayam!" geram Gaara, "Cepat beritahu. Jadi aku bisa cepat pulang dan tak perlu lagi melihat wajah brengsekmu itu."
"Dasar Panda Galau," cibir Sasuke, "Coba ingat kembali bagaimana dirimu di masa lalu. Sebelum kau bertemu Sir Shovkovsky dan sesudah itu. Bandingkan, lalu ambil simpulan. Kujamin, kau akan menemukan hal-hal yang menarik."
"Hanya itu?" tanya Gaara tak percaya.
"Sudah, pulang sana! Ck ... sudah kuusir dari tadi, kenapa masih saja di sini? Dasar Panda Galau!" Ketenangan Sasuke berubah kembali menjadi Sasuke si penyulut perang. Meski begitu, Gaara juga ingat berkali-kali si jabrik ini menyuruhnya pulang.
"Iya, iya, Blyad. Aku pulang sekarang!" sungut Gaara, "Ngomong-ngomong, terima kasih ... Sasu—Landak Jabrik."
Sasuke sedikit terpana, tetapi ia cepat-cepat menyahut, "Pulang sana. Jangan pernah menginjak apartemenku lagi."
Gaara hanya menoleh dan menjulurkan lidahnya. Sedang Sasuke bertingkah seolah hendak melemparinya dengan pot bunga. Meski terkadang kekanak-kanakan, toh bertengkar dengan Gaara mengasyikkan juga.
"Pulanglah lebih cepat. Sebelum Orochimaru melihatmu di sini. Sebelum mereka menyadari bahwa brainwashing takkan menghapus jiwa ksatriamu dari hati."
.
.
.
"Selamat malam, Velikaya Kyazhna. Siap untuk menjemput mimpi burukmu?"
Yelena terkesiap begitu mendapati Katyushalah yang menyambutnya begitu ia membuka pintu kamar. Bola mata kebiruannya milik bocah itu tampak liar. Di tangannya tampak beberapa bilah pisau yang siap dilempar. Seringainya membuat Yelena menggerakkan ekor mata, menyadari bahwa dirinya telah tertingkar. Dan benar saja, beberapa orang-orang Katyusha—termasuk Shino dan rekan-rekannya di rumah sakit—menunjukkan batang hidung kendati posisi mereka berpencar.
Sial, rupanya mereka bergerak lebih cepat ketimbang dugaan semula.
"Jika kalian benar-benar ingin menangkapku, lakukanlah," tegas Yelena.
"Kau lebih kooperatif dari yang kukira, Velikaya Kyazhna," sinis Karin. Wanita berambut merah itu menyiapkan tali untuk mengikatnya.
"Begitukah?" Kali ini wanita berambut indigolah yang terdengar sinis, "Katja!"
Syuutt! Syuutt! Syuutt!
"Hey! Apa-apaan ini?!" Karin menjerit begitu seutas tali—nyaris seperti benang transparan mengikat tangan kanann dan kaki kirinya hingga membuatnya melayang di udara setelah Katja menekan tuas pengendali beberapa perangkap yang Yelena pasang di rumahnya.
"Ini rumahku, Suster Karin. Aku yang memegang kendali di sini," Yelena menodongkan revolver-nya ke arah Karin.
"Dan jangan lupa kalau aku juga ada di sini, Yelena," Ivan menempelkan sebilah belati di leher rekan kerjanya, "rumahmu cukup keren. Sayang, waktumu sudah habis. Nona, apa kita bisa berangkat sekarang?" Ia menoleh ke arah Katyusha.
"Jangan pikir semuanya akan berjalan dengan mudah, Dokter Ivan!" Yelena menginjak ujung sepatu rekan kerjanya dan menyikut tulang rusuknya secara bersamaan. Merasa dilecehkan, pria bertubuh tinggi itu lekas menangkap kedua lengan Yelena lalu menguncinya hingga gadis itu mendesis kesakitan.
"Nice try, tapi jangan pernah bermimpi untuk mengalahkan kami," Ivan memelintir kedua lengan Yelena.
"Sshh ... kalianlah yang bermimpi!" geram Yelena.
Yelena memerhatikan jumlah mereka secara terperinci. Ia juga menghitung koordinat mereka secara presisi. Mereka mungkin tak sekuat Katyusha, tapi segalanya jelas akan lebih mudah tanpa mereka yang menghalangi. Konsentrasi ... ia harus bisa berkonsentrasi agar rencananya berjalan sesuai prediksi.
"Arrggghh!"
Satu persatu mereka jatuh kesakitan. Ivan juga bukan pengecualian. Yelena buru-buru meloloskan diri dari belenggu Ivan. Bagus ... sepertinya jarum-jarum berisi obat bius itu bekerja seperti harapan.
"Kemampuan telekinesismu boleh juga," Shino dan Karin, dua orang yang masih berdiri tegak selain Katyusha. Agaknya dua orang itu sudah mengantisipasi bagaimana kemampuan seorang Velikaya Kyazhna.
Trangg!
Dua jenis logam beradu di udara sesaat setelah Katyusha melempar belati. Di saat yang sama, Katja juga melemparkan nampan perak sebagai proteksi. Boneka itu mengerjapkan matanya, mengisyaratkan pada Yelena untuk lari.
"Cih! Dasar boneka terkutuk!" tukas Karin, "Shino, pergilah bersama Nona. Boneka terkutuk ini biar menjadi bagianku saja."
Yelena tak membuang banyak waktu. Dengan cepat ia menyambar nampan perak untuk menangkis pisau maupun butiran-butiran peluru. Melumpuhkan Shino mungkin hanya butuh probabilitas, tetapi gerak cepat Katyusha juga akan membuatnya berkaru.
"Arh!" Yelena memekik ketika Katyusha berhasil menjegalnya. Belum sempat ia menghela napas, jari-jari kehitaman dengan kuku-kuku tajam mencekik lehernya.
"Na ... na ... na ... mencoba lari, Kyazhna?"
Situasi ini nyaris sama seperti mimpinya. Mata itu ... mata yang teramat dibencinya. Begitu serakah, begitu haus akan kuasa, begitu haus pula akan harta. Dengan membebaskan iblis yang terperangkap dalam Amber Room, mereka bisa meminta apa pun yang dikehendakinya.
Cengkeraman Katyusha kian membuatnya kesulitan bernapas. Seperti dalam mimpi itu, Yelena bisa merasakan lapisan kulit lehernya betas. Lebih buruk lagi, ia tak sedang menggenggam apa pun walau untuk sekedar meruntas.
"Nona, cukup Nona. Kita harus segera sampai ke tempat persembahan. Jika Kyazhna sampai mati di sini, maka semuanya akan sia-sia," Shino memberi peringatan.
"Brukk!"
Katyusha melepaskan cengkramannya setengah terpaksa. Kali ini giliran Shino yang menempelkan belati perak di lehernya, sementara Katyusha juga tetap mengawasinya. Yelena tak punya banyak pilihan selain mengikuti mereka atau mati terbunuh sebelum tiba di tempat persembahan yang disebutkan mereka.
Sepertinya mati terbunuh juga bukan pilihan yang buruk.
Disambarnya tangan Shino yang memegang belati, diarahkannya tepat ke dada diri. Tempat di mana terdapat pusat denyut nadi. Jika memang tak ada cara untuk memenangkan pertarungan ini ... jika memang tak ada yang bisa menjadi solusi ... maka mati adalah sebuah desinensi.
"Net!" Karin menjerit tak rela dari distansi aksa. Katja pun memberikan ekspresi mata serupa.
Tik ... tok ... tik ... tok ...
"Dasar bodoh!"
Suara milik Sasuke terdengar manakala waktu seakan-akan tengah terhenti. Ia berdiri dengan santai di ambang pintu, menenggak isi botol whiskey. Lelaki itu memang selalu tahu bagaimana cara untuk bersantai, bahkan di saat yang tidak tepat seperti ini.
"Alasan ketiga, kau membuatku merasa harus turun tangan, Kyazhna," tukasnya, "kemarilah. Kita punya dua puluh detik. Kulempar kau ke dimensi waktu yang lain."
Yelena mengangguk penuh semangat, meyakini ini semua memang belum berakhir. Tawaran Sasuke juga bukan sesuatu yang dapat diapkir. Sepasang bola mata Sasuke berubah warna, lengkap dengan tiga buah koma yang berputar demi mempersiapkan portal untuk calon avonturir.
"Tidak semudah itu, Sasuke!" Kontak mata mereka terputus akibat agresi yang dilancarkan Orochimaru. Sasuke mendecih, bukan karena harus melawan Orochimaru tetapi karena pria berambut panjang itu membuat waktu dua puluh detiknya kacau. Sebentar lagi, Shino, Katyusha dan Karin pasti akan kembali normal setelah dua puluh detik berlalu.
"Lawanmu adalah...,"
"Aku," Hidan menjulurkan sabit mata tiganya demi menghalau langkah Orochimaru, "Lord Sasuke bukan tandinganmu. Hormati dia sebagai manipulator waktu."
"Ya, ya, ya, kurasa Hidan benar. Jadi Velikaya Kyazhna, selamat berjuang. Aku hanya akan jadi pemandu sorakmu," ucap Sasuke sebelum menenggak kembali whiskey-nya.
"Kau sangat menyebalkan, Sasuke!" geram Yelena.
"Terima kasih, Sayangku." Sasuke tertawa kecil sebelum naik ke atas buffet, memilih untuk benar-benar jadi penonton sejati ditemani whiskey."
Yelena hanya bisa menggerutu. Semestinya ia tak perlu berharap banyak pada manipulator waktu. Intervensinya tadi hanyalah karena dirinya dianggap hendak melanggar aturan yang berlaku. Selebihnya, ia takkan sudi membantu. Lebih baik ia mempersiapkan diri untuk menghadapi Katyusha sekaligus Shino sebelum detik kedua puluh berlalu.
.
.
.
TBC
.
.
.
Thanks to : Thi3x Noir, Ritard. S. Quint, Schein Mond, Hitaiyo Mangetsu, Hyuu Hikari, Freeya Lawliet, Aden L kazt, Ryu Lawliet, Yamanaka Emo, Michelle Aoki, thelittlething, Nara Kazuki, el-chan *makasih atas pujiannya ^^. Gomen orz kalo rima saya terkesan kayak pantun. Secara pribadi, saya menyukainya. Btw, rima juga salah satu teknik saya belajar banyak kosa kata baru. Jadi sekali lagi, mohon maafff~~ banget, ya orz*, ck mendokusei, and ursa. black.
Glossary :
1. Dobroye uto (Russian) = selamat pagi
2. Dabro pozhalovat (Russian) = selamat datang
3. Net (Russian) = Tidak
4. Desinensi = penyelesaian
5. Dialektik = seni berpikir secara logis
Chapter terpanjang selama saya menulis X. Salah satu chapter favorit saya juga. Pertama karena di sini Gaara terlihat galau. Kedua karena Sasuke terlihat santai-nggak jelas-tapi penuh pemikiran-menyebalkan, salah satu karakter yang saya suka tiap kali nonton anime #mendadak ingat Mephisto Pheles di Blue Exorcist. Ketiga karena 'perangnya' sudah dimulai.
Secara singkat Neji vs Sir Shovkovsky, adu strategi. Hidan vs Orochimaru. Katyusha, Karin, Shino vs Katja dan Hinata. Sasuke jadi penonton saja. Terkait kenapa Sasuke tadi menyebut 20 detik, ya sebenarnya suka-suka dia juga mau nyebut angka berapa. Hidan kelihatan mesum dan membingungkan? Namanya juga bagian dari penyamaran. Orang menyamar kan harus pintar ngomong #jitaked.
Mudah-mudahan chapter depan adalah chapter terakhir (karena chapter 13 fokus utamanya adalah tentang Sasuke dan kemampuannya memanipulasi waktu, tidak begitu berikatan dengan chapter-chapter sebelumnya bahkan bisa dibaca sebagai fic tersendiri). Karena itu, mohon beritahu saya sekiranya ada yang mengganjal. Jika jawaban atas keganjalan itu berkaitan dengan plot, saya akan membahasnya—meski saya harus menambah chapter ekstra—tetapi jika tidak, saya hanya akan menjawabnya via PM atau balasan review seperti yang selama ini saya lakukan ^^
Yosh, itu saja yang bisa saya katakan. Seperti biasa feedback Anda sangat saya harapkan.
Спасибо ^^
