Disclaimer : Akira Amano
Warning : Mohon dimaklumi jika ada typo(s), alur kecepetan, dan hal-hal tidak berkenan lainnya.
Hikage Natsuhimiko : Hikage-san~ Nggak apa-apa kok, yang penting kamu tetep jadi pembaca setia Sacchan ;). Entah kenapa melihat chibi Spanner di profil avatarmu membuatku ingin memasukkan Spanner. Berhubung Ririn suka dengan makanan manis, jadilah Spanner sosok kakak yang baik (dengan lollipopnya)~ Iya, tapi di CEDEF yang kenal Ririn sedikit karena dia ke sana cuma nyari lab. Verde.
Itu kesalahan Sacchan, maaf Sacchan lupa ama Romeo. Anggep aja berhubung tiga tahun berlalu jadi sikap Bianchi ke TYL Lambo berubah. Kayaknya TYL Bianchi kan nggak ngejer-ngejer TYL Lambo. Dan berhubung dua puluh tahun kemudian rambut Lambo tambah panjang, anggap aja nggak mirip Romeo karena rambutnya. Maaf maksa -_-'.
Selamat membaca~
.
.
.
Little Sisters In Act
.
.
.
Meet Rika Again
.
.
.
Namimori, Jepang
Merasa bosan berada di rumah pada hari Minggu, Miyuki yang melihat kakaknya berjalan keluar dari rumah memanggilnya. Hibari baru akan berangkat untuk melakukan patroli di kota Namimori. Miyuki yang bosan akhirnya mengikuti Hibari berkeliling kota Namimori.
Saat sedang berjalan melewati taman, Miyuki melihat sosok orang yang sangat di kenalnya. Matanya melebar kaget dan menghampiri sosok yang sedang duduk itu. Di sebelahnya berdiri seorang pria berpakaian hitam-hitam seperti butler.
Miyuki berjalan memasuki taman menghampiri orang yang sedang duduk di sana sambil menarik lengan kakaknya yang mengikutinya dengan setengah hati. Seorang gadis dengan rambut cokelat lembut dengan panjang sedada memakai topi bulat dan sundress berwarna pastel dengan cardigan berwarna senada.
"Rika-nee!" Miyuki berseru kaget begitu melihat Rika yang biasanya tidak pernah keluar dari rumahnya ada di taman.
"Ara~ Yuki-chan," Rika tersenyum menoleh menatap Miyuki yang datang menghampirinya. "wah, Kyoya-kun, lama tidak bertemu," Rika berdiri dari duduknya begitu melihat sosok yang berdiri di belakang Miyuki.
"Hn," Hibari hanya menundukkan kepalanya sekilas kepada Rika.
Beruntung taman itu sedang sepi, karena orang-orang pasti akan langsung bertanya-tanya siapa gadis yang punya nyali untuk memanggil Hibari dengan 'Kyoya-kun'.
"Kamu tidak banyak berubah ya, tetap tidak banyak bicara," Rika tersenyum melihat Hibari yang memandangnya datar.
"Rika-nee tidak apa-apa keluar dari rumah?" Miyuki memandang 'kakak perempuannya' dengan khawatir dan melihat Yamada sambil membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa. 'Dia' mengirimkan obat sejak dua tahun yang lalu dan perlahan-lahan aku menjadi lebih sehat. Karena cuaca hari ini bagus, aku ingin mencoba pergi ke kota," Rika tersenyum menenangkan Miyuki.
"Yuki, aku pergi," Hibari tiba-tiba membalikkan badannya setelah sekilas menganggukkan kepalanya pada Rika yang dibalas dengan senyuman dan lambaian tangan.
"Waah, Kyoya-kun benar-benar tidak berubah. Dulu juga dia sering pulang tanpa bilang meninggalkanmu," Rika tersenyum sambil memandang punggung Hibari yang sudah mulai tidak terlihat.
"Iya," Miyuki tertawa kecil mengingat kejadian itu.
Dulu, dia sering megajak paksa kakaknya untuk menemaninya ke rumah Rika. Tetapi, begitu bosan, Hibari langsung pulang sehingga membuat Rika dan Miyuki bingung. Miyuki mengajak Rika untuk duduk di kursi taman.
"Rika-nee, obat apa yang diberikan oleh 'Dia' sehingga bisa menyembuhkan penyakit Rika-nee?" Miyuki memandang Rika dengan penasaran.
"Bukan menyembuhkan, hanya memperkuat daya tahan tubuhku saja. Aku tidak tahu, dua tahun yang lalu dia memberikan obat itu pada ku bersama surat. Sekarang tiap bulan dia mengirimkan obat nya bersama surat,"
"Itu…bukan racun kan?" Miyuki menatap Rika dengan curiga.
"Ya bukanlah," Rika tertawa mendengar pertanyaan Miyuki. "hanya ada efek sampingnya, membuatku sangat mengantuk begitu meminum obat itu," ucap Rika sambil tersenyum.
"Apa Rika-nee sering jalan-jalan ke kota?"
"Tidak, ini baru pertama…kali..," tiba-tiba Rika memegang kepalanya.
"Rika-nee!"
"Rika-sama!"
Miyuki dan Yamada langsung berseru panik melihat Rika memegang kepalanya. Rika mengangkat pandangannya sambil tersenyum kepada mereka.
"Rika-sama, sebaiknya kita kembali, anda sudah terlalu lama berada di luar rumah," Yamada memegang lengan Rika, berusaha membantunya berdiri.
"Yamada-san, sudah berapa lama Rika-nee di taman ini?"
"Hampir tiga jam yang lalu,"
"Apa?" Miyuki melebarkan matanya tidak percaya. Biasanya saja Rika hanya diizinkan berada di kebun maksimal satu jam, ini sudah tiga jam di tambah jauh dari rumahnya.
"Ahahaha, sepertinya aku terlalu senang karena sudah lama tidak ke kota. Tenang saja, aku hanya sedikit kelelahan," Rika tertawa kecil berusaha menenangkan Miyuki sambil berjalan mengikuti Yamada yang menuntunnya.
"Rika-nee hati-hati," Miyuki melambaikan tangannya pada Rika dan Yamada yang sudah mulai menjauh.
"Dasar! Seharusnya kalau dia mau keadaan Rika-nee membaik dia sendiri yang datang ke sini!" Miyuki bersungut kesal mengingat orang yang memberikan obat pada Rika.
Miyuki membalikkan badannya dan berniat melanjutkan jalan-jalannya walaupun tanpa kakaknya.
XXXXX
Lab. Rahasia, Italia
Ririn membawa sebuah troli penuh makanan yang dia masak sendiri dari dapur. Laboratorium itu memang tidak ditinggali siapapun kecuali Verde, sehingga mereka harus memasak sendiri makanan mereka. Sudah beberapa hari tinggal di tempat itu, Ririn mengingat mereka bertiga hanya memakan roti dan makanan tidak bergizi lainnya. Ditambah lagi jika sudah mulai serius mereka malah terkadang melewatkan waktu makan.
Mengingat nasihat Dino, Bibi Sepira dan Luce (berhubung paman Kawahira selalu makan ramen) bahwa makanan sehat sangatlah penting, Ririn memasak dengan bahan seadanya menggunakan resep yang di ajarkan Luce.
"Paman, Spanner, kalian belum makan sejak pagi,"
Ririn mendorong troli itu berhenti di dekat mereka berdua. Spanner dan Verde menghentikan pekerjaan mereka dan melihat troli yang di bawa Ririn. Dia atas troli itu ada dua piring nasi goreng porsi besar dan sepiring nasi goreng porsi kecil, semangkuk salad, tiga gelas, dua cangkir kopi dan satu teko air mineral.
"Dari mana kamu mendapatkan ini?" Verde melihat makanan yang ada di troli itu curiga.
"Ririn masak,"
"Kukira kamu tidak bisa masak?" Spanner menatap Ririn dengan tatapan tidak percaya.
"Sebelumnya. Sejak Ririn menginap di tempat Luce-nee, Luce-nee memaksa Ririn belajar memasak kue dan beberapa makanan yang mudah dimasak," Ririn menjawab dengan datar sambil memberikan Verde dan Spanner masing-masing piring dan sepasang sendok-garpu.
"Aku tidak ingat punya bahan makanan seperti ini di dapur," Verde memperhatikan makanan itu dengan curiga. Apakah Ririn membuat makanan ini dengan bahan kimianya?
"Ririn pergi ke pasar tadi pagi. Paman dan Spanner terlalu serius, tidak memperhatikan Ririn," ucapnya sambil menuang air ke dalam gelas dan memberikannya pada mereka berdua.
Ririn mengingat pagi tadi setelah dia selesai membuat ramuan yang diperlukan dan merasa haus dia pergi ke dapur dan menemukan kulkas milik Verde kosong. Sebagai anak baik yang ingin membantu pamannya (karena dia tidak bisa membantu dengan mesin), Ririn berinisiatif pergi ke pasar dan membeli bahan makanan untuk pamannya.
Untunglah Dino memasukkan dompet ke dalam koper Ririn, sehingga Ririn mempunyai uang untuk membayar bahan makanan yang dia beli. Ririn merasa sedikit lega mengingat Luce, Aria dan Yuni beberapa kali menariknya untuk berbelanja sehingga dia tahu bagaimana cara membeli barang, mengingat di Cavallone semua kebutuhannya selalu disiapkan oleh maid dan butler di sana sehingga dia tidak pernah pergi berbelanja.
Ririn meletakkan semangkuk salad di antara mereka bertiga dan memberikan dua kain basah pada mereka. Verde dan Spanner mengelap tangan mereka dengan kain yang di berikan Ririn dan memandang makanan mereka sesaat sebelum memakannya.
"Lumayan," Spanner mengangkat alisnya.
"Cukup bisa dimakan," Verde membenarkan kacamatanya.
Mereka berdua melanjutkan memakan nasi goreng itu sampai habis dan salad di hadapan mereka. Ririn merasa lega mereka berdua mau memakan makanan buatannya dan menghabiskan makanannya.
"Makanmu apa tidak terlalu sedikit?" Spanner memakan salad sambil menatap Ririn dengan alis terangkat.
"Tidak. Ini lebih dari cukup," jawab Ririn setelah menghabiskan makanannya.
"Makanlah lebih banyak. Anak kecil memerlukan banyak nutrisi untuk pertumbuhan," Verde menambahkan sambil memakan salad.
"Ririn tidak mau dibilang begitu oleh batita yang sering melupakan waktu makan dan hanya makan makanan tidak sehat," ucap Ririn datar sambil menatap Verde dengan tatapan yang sama datarnya.
Verde tersedak salad yang sedang di makannya dan terbatuk-batuk kecil sedangkan Spanner tertawa mendengar perkataan Ririn.
"Ini kan bukan wujudku yang sebenarnya," Verde membenarkan kacamatanya sambil menatap Ririn. "Sudahlah, istirahatnya sudah selesai, ayo lanjutkan pekerjaannya," Verde lalu mengambil kopi yang masih tersisa dan meminumnya sambil membaca sebuah buku yang sepertinya adalah cara pembuatan alat yang diminta Ririn.
Spanner meletakkan kopi miliknya di atas sebuah meja kecil dan mengambil sehelai kain hitam yang ada di sebelahnya dan menghampiri Verde. Ririn merapihkan piring dan gelas kotor lalu membawanya ke dapur dan mencucinya.
Sebelum keluar dari dapur dia membuatkan beberapa onigiri dan menyimpannya dengan plastic wrap untuk di berikan nanti kepada Verde dan Spanner sebagai snack.
Ririn lalu memasuki laboratorium dan melihat kembali beberapa barang buatannya. Beberapa butir benda bulat seukuran kelereng beraneka warna dari bahan kimia yang dia padatkan dan bisa meledak jika di lempar, beberapa cairan di dalam benda yang seperti balon karet hanya lebih kuat dan tidak mudah sobek dan pecah, serta berbagai macam serbuk di dalam tabung botol kecil.
"Kalau begini Ririn tidak perlu panik sampai 'itu' selesai dibuat," Ririn bergumam dan memasukkan barang buatannya ke dalam tas rajutnya.
Ririn lalu berjalan menuju jendela kecil di salah satu sudut ruangan itu dan memandang langit. Langit yang indah bertabur bintang dengan bulan sabit yang meneranginya. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat beberapa SMS dari kakaknya.
Beruntung Ririn sempat bertanya pada Luce yang sering telponan dan SMS-an dengan pacarnya yang sedang berada di tempat yang jauh tentang cara menggunakan ponsel, walaupun yang dia ingat hanya mengangkat telepon, mematikannya, dan membuka SMS.
Dia tidak pernah menulis SMS untuk kakaknya karena menurutnya itu merepotkan dan kakaknya sering meneleponnya karena dia tidak menjawab SMSnya sambil merajuk atau menangis atau merengek, yang tidak pernah ditanggapi oleh Ririn dan pembicaraan selalu berakhir secara sepihak.
"Tenang saja, kita akan segera bertemu lagi," Ririn menarik ikat rambutnya hingga rambutnya yang di kepang tergerai dengan bebas.
Ririn memegang cerminnya dan mengangkat cerminnya, melihat pantulan wajahnya di cermin. Dia menyentuh matanya yang berwarna silver di cermin dan wajahnya. Wajah yang semakin mirip dengan seseorang yang disayanginya.
XXXXX
Minna~
Maaf sedikit telat, harusnya malem, ini malah bukan malem lagi updetnya. Internet Sacchan bermasalah, jadi baru di update.
Chapter ini lebih sedikit dan judulnya agak maksa, maaf. Untuk alat yang diminta oleh Ririn akan disebutkan di chapter depan, tenang saja.
Minna mind to R&R?
