DISCLAIMER : Detektip Konan punya Aoyama Gosho, aku hanya menyadur aja!
Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
Aku memegang gagang pintu kantor detektif ayahku, menarik napas.
Shinichi menahan bahuku. Wajahnya memelas. Tadi pagi, dia memohon padaku supaya dia menemani aku untuk menemui Ayah, karena ia takut aku kenal omel. Shinichi merasa itu salahnya. Namun aku menolaknya. Sama seperti sekarang. Aku melemparkan pandangan aku-tidak-apa-apa-sudah-pulang-saja-kau! dan dia mendengus, menyeret tasku yang satu lagi ke atas.
"AKU PULAANG!" ujarku sambil membuka pintu. Lalu aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Kotor, dan kaleng bir tergeletak dimana-mana. Ayahku banget.
Ayah yang sedang tidur di meja, terbangun dan melihat ke arahku. Ia menghampiriku dengan wajah marah. Aku sudah menduganya, dan aku siap menerima itu. Ini semua memang salahku.
"RAAANNN! KAU KEMANA SAJA!" tidak taunya air mata Ayah bercucuran, ia menangis. "AKU KHAWATIR SEKALI DENGANMU! KAU TELAT PULANG SEMINGGU, DAN KATA ADIK KELASMU KAU TIDAK IKUT KARANTINA… HUHUHU…" ia memelukku erat seolah takkan pernah melepasku. Aku membalasnya, tertawa kecil melihat reaksi Ayah. Karena itu sangat lucu buatku, apalagi dengan ketegangan yang selalu menghantui selama sebulan ini.
"Aku tidak apa-apa, Ayah…" aku menyelipkan nada ceria di suaraku. "Ada beberapa hal yang harus diurus, dan tidak bida ditinggalkan…"
Ayahku melepas pelukannya dan mendorong bahuku agar bisa melihat wajahku. "Kata sahabatmu yang pesolek itu, kau mengunjungi detektif ingusan itu ya? Apa yang kau lakukan, Ran? APA YANG DIA LAKUKAN PADAMU?"
Aku tertawa lagi. "Ayah, aku hanya berlatih bersama senior kakak kelasku di kelas karate! Aku 'kan sudah mengirimi Ayah SMS, apa Ayah tidak membacanya?" tanyaku dengan ekspresi biasa-biasa saja. Aku memang mengiriminya SMS agar ia tidak melaporkan ke polisi soal menghilangnya aku.
"Itulah alasannya sampai sekarang aku belum melaporkanmu ke polisi karena kau menghilang! Aku hampir gila seminggu ini, Ran, karena kau tak pulang-pulang! Tadinya, bila kau belum pulang juga hari ini, besok pagi aku akan melapor ke polisi! Ibumu mencak-mencak karena menurutnya itu salahku yang tidak bisa menjagamu, sehingga kau menghilang… apalagi kata adik kelasmu kau tak ikut karantina!"
"Ayah… mungkin Ayah salah menanyakan orang… mungkin Ayah bertanya ke anak tae-kwon-do karena seragam kami sama…"
"T, tapi…"
"Sudahlah." Aku memutuskan untuk menghentikan perdebatan ini. Lagipula Ayah tidak marah padaku 'kan? "Ayah percaya saja padaku. Aku tidak melakukan hal yang berbahaya, sungguh."
"Benar?"
"Aku bersumpah." Semoga saja mengikuti misi untuk menghancurkan organisasi jahat dan membuatku hampir tertembak bukanlah hal yang berbahaya…
Ayahku mendengus. "Baiklah, Ayah percaya padamu."
Aku hampir melompat saking girangnya. "TERIMA KASIH AYAH!" lalu aku memeluknya. Ayahku mengernyit, lalu nyengir lebar dengan gaya kocaknya.
Pintu kantor detektif terbuka. Aku membalikkan badan, ayahku menoleh. Terlihat seseorang yang selama ini mengisi ruang hatiku, muncul dari balik pintu. Kepalanya doang sih, dengan cengiran khas di wajahnya.
"Ran, semua sudah…" kata-katanya terputus karena —bahkan aku bias merasakannya juga— tatapan membunuh ayahku yang diberikan untuk Shinichi. "…beres…"
Ayahku menyeberangi ruangan dan menarik kerah Shinichi. "HEI BOCAH SIALAN, APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ANAKKU, HAH? AKU TAU KAU BIANG KEROK DARI SEMUA INI!" Shinichi langsung menutup lubang telinganya dengan kedua telunjuk. Aku tertawa. Sikap permusuhan Ayah vs Shinichi itu sangat lucu buatku. Shinichi menatapku kesal.
Aku tersenyum. "Ayah, sudahlah, dia tidak terlibat…"
"Bohong! Jangan-jangan dia yang menculikmu!"
"Ayah! Dia yang menjemputku dan membantu membawakan tasku! Ayah jangan selalu berprasangka buruk dengan Shinichi! Itu semua aku yang memintanya!"
Ayah balik badan, dan matanya menyipit menatapku. Aku tersenyum memohon.
"Huh! Terserah kau sajalah!" Ayah keluar dari kantor detektif dan membanting pintu keras-keras. Shinichi sedikit mundur mendengarnya. Aku tertawa lagi.
Bebanku serasa hilang rasanya.
"Tertawa terus." sindir Shinichi. Aku memeletkan lidah.
"Kau lapar tidak? Dari tadi malam kau tidak mau makan!" aku menaruh koperku di ujung sofa. Shinichi menampilkan wajah memelas seperti kucing kelaparan yang kehujanan. Aku tersenyum dan mendorong bahunya, keluar kantor detektif.
"Kau mau masak?" tanya Shinichi.
"Aku capek. Makan di Poirot saja, ya! Kau yang traktir!" ujarku sambil menyejajarinya. Shinichi memutar bola matanya dan menarikku lebih dekat, menggenggam tanganku. Wajahku merah, tapi nampaknya dia cuek saja. Dasar detektif tidak peka.
"Selamat siang!" wajah Azusa-san* nampak kaget melihatku masuk. "Lho, Ran-chan? Kata ayahmu kau menghilang? Sudah pulang?"
Aku tersenyum. "Tidak, ayahku saja yang berlebihan…"
Shinichi melihat sekeliling. Lalu Azusa-san membisik ke arahku. "Hm, ini pacarmu yang sering kau ceritakan bersama Conan, ya?"
Shinichi jelas mendengarnya, ia lalu menoleh. Aku jadi ingat dulu memang sering bercerita dengan Conan soal Shinichi. Pantas saja Conan selalu berusaha membuat image Shinichi bagus. Rupanya…
"Ah, bukan, dia hanya teman masa kecil…" aku nyengir sambil melambaikan tangan. Genggaman Shinichi tambah kuat, dia melihatku galak. Memang kenyataannya seperti itu, kok. Mau dia bicara apapun juga, tapi dia tidak pernah memastikan hubungan kami.
Azusa-san membimbing kami ke meja dekat jendela. Aku dan Shinichi duduk berhadapan, dan memesan makanan. Lalu kami terdiam.
"Shin…"
"Ran…"
"Eh…" Shinichi menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal, sementara aku merasakan wajahku memerah.
"Kau duluan saja, Shinichi."
Shinichi mengangkat tangan, mempersilahkan aku duluan. Namun aku bungkam. Tetapi lama-lama aku tak tahan juga dengan keheningan ini, jadi aku membuka mulut.
"Uhm, Shinichi, ada yang mau kubicarakan denganmu…"
"Tidak ada negosiasi lagi, Ran. Telpon setiap malam dan kunjungan akhir pekan." Shinichi dengan wajah sok taunya, mengangkat telunjuknya dan menggerakannya ke kanan dan ke kiri. Aku mendengus sebal.
"Dengar dulu dong!"
"Ok, ok…" ia berlagak mengunci mulutnya, dan menatapku. Aku jadi merasa ditelanjangi seperti itu. Ini semua gara-gara Ara.
"EEEH? Menyatakan cinta?" aku menatap Ara tidak percaya. Orang itu malah membalas tatapanku, iseng, dan mengedipkan matanya.
"Betul sekali!"
"Tidak! Aku tidak mau!" tolakku langsung. Menurutku, pernyataan cinta itu adalah hal yang sakral dan harus laki-lakilah yang menyampaikannya! Bukan perempuan! Aku tidak peduli dengan cemooh konservatif atau semacamnya, namun itu prinsipku.
"Ck ck ck, Mouri Ran…" Ara menggerakkan telunjuknya dengan gaya sok tau. "Kau tau Kudou itu orangnya bagaimana! Ia sangat cuek! Aku yakin, dia tidak akan kepikiran soal itu sampai misi ini selesai —Oh ya, itu masih sekitar 2-6 bulan lagi, itupun paling cepat!—dan kau harus memancingnya. Karena dia bodoh, jadi takkan mudah untuk dipancing, lebih baik… DOR!" tangan Ara membentuk pistol. "tembak langsung!"
Aku mulai bimbang.
"Me, memangnya, kau yang menyatakan cinta duluan ke Dhan-san?"
Wajah Ara memerah. "Tidak, sih… dia menyatakan cinta padaku juga karena ia mengira aku menyukai sahabatnya, sedangkan sahabatnya sudah punya pacar! Dia kepingin aku tau soal itu dan perasaannya… laki-laki memang tidak bisa membaca perempuan…"
Shiho masuk dengan nampan dan tiga gelas kopi di atasnya. "Dia bukan kau yang asal tembak, Ara. Dia itu wanita. Kau hanya setengah wanita!"
"Kurang ajar!" Ara memberengut sambil mengambil satu gelas kopi. Shiho memutar bola matanya, dan menaruhnya di atas meja. "Kopi, Ran-san."
"Ah, i, iya…" aku menghirup kopinya. Seperti yang kuduga, enak.
Shiho angkat bicara. "Walau bagaimana juga, teori Ara benar. Jujur, aku tak mau melihat kau hanya dengan status teman sejak kecil…itu menyedihkan, padahal kalian saling menyukai."
Wajahku memerah lagi. Kata-katanya sangat tepat sasaran.
Ara menatap wajahku serius. "Dengar, Ran-chan. I think it's better if you say it first to him. Take it, or you won't get it."
"Uhm… Shinichi…"
"Ya?"
Glek. "A, apakah, kau men… men… men… mencin…"
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" suara Azusa-san berteriak dari alah toilet. Shinichi menoleh, dan aku menjulurkan leherku panjang-panjang. Shinichi berlari ke arah sana.
"SHINICHI!" aku menyusulnya. Kami membuka pintu toilet, dan Azusa-san berdiri di depan salah satu bilik toilet.
"A, Azusa-san? Ada apa?" aku berusaha membantunya berdiri, namun tubuhnya gemetaran.
"Ran, telpon polisi." suara Shinichi tegas memerintahku.
"Memangnya ada apa?" tanyaku. Shinichi menghalangi penglihatanku dengan tubuhnya. "Jangan lihat," bisiknya.
"Apa sih?" aku mengintip dari balik bahunya.
Mayat. Wajahnya pucat, dengan bibir membiru. Sebuah handphone tergenggam erat ditangannya, dan dia terduduk di toilet.
"KYAAAAAAAAAAAAAA!"
"Ojima Takuji, pengusaha, 29 tahun." Opsir Takagi membaca buku catatan kepolisiannya. "Mati karena keracunan arsenik, menurut penuturan keluarga korban, dia mau menikah, dan bahagia saja, jadi kemungkinan untuk bunuh diri sangatlah kecil. Menurut petugas forensik dia dibunuh…"
"Hmmm…" Inspektur Megure dan Shinichi menaruh tangannya di dagu mereka, wajah mereka berpikir. Aku ikutan memutar otak, jawaban dari semua teka-teki si pembunuh.
Shinichi mendekati mayat. "Tadi aku melihat ada handphone di tangan si korban… apakah ada sesuatu disana?"
Seorang petugas forensik dengan kacamata datang, membawa plastik berisi handphone korban di tangannya. "Inspektur! Kami menemukan sesuatu di layar HP korban!"
"Hn? Apa itu?" Inspektur Megure memintanya, namun Shinichi keburu mengambilnya dan melihat wallpaper HP itu. Aku mendekatinya agar bisa melihat juga.
Tidak ada wallpaper. Hanya ada tulisan 14#19#75. Aku langsung menganga melihatnya, sementara Shinichi terlihat berpikir.
"Apa maksudnya ini?" Inspektur Megure juga memeras otak. Shinichi mengeluarkan buku catatannya dan mencoret-coretnya, mungkin untuk menyusun kode tersebut.
Inspektur Megure Nampak seperti teringat sesuatu. "Oh, bagaimana dengan tersangkanya? Apakah ada orang yang tertuduh?"
"Ya… kekasih korban, Shibata Riska, 25 tahun. Ia seorang mahasiswa kimia di Universitas Beika, keturunan Indonesia-Jepang. Ia memiliki motif karena korban menyuap ayah korban untuk menikahkannya dengan korban. Teman kuliah Ojima-san, Bill Clark, 29 tahun, pemilik supermarket di jalan ini. Sebelumnya ia adalah kekasih Shibata-san. Lalu Kaneko Yuki, 26 tahun, karyawan korban. Ayah Kaneko-san pernah terlibat hutang olehnya, dan jadi bunuh diri karena itu. Sekarang ia adalah kekasih Clark-san. Mereka berempat ada di restoran ini untuk double date, dan mereka semua masing-masing memiliki kesempatan untuk memasukkan racun. Clark-san memberikan rokok untuknya, Shibata-san yang membawakan kopi untuknya, sementara Kaneko-san yang mengantarkan makanan mereka semua."
"Do, dober dat?"
"Ah, bukan, Inspektur." Opsir Takagi hendak menjelaskan, aku menahan tawa. "Double date. Itu artinya kencan ganda, dua pasangan berkencan bersama-sama."
"O, oh…" wajah Inspektur memerah. "Kalau begitu, panggil semua tersangka kesini."
"Ba, baik…"
"Inspektur!" Opsir Chiba datang tergopoh-gopoh. "Kami sudah mengecek rumah tersangka. Shibata-san mengoleksi keris dan benda pusaka lain dari negaranya. Clark-san memiliki banyak sekali binatang peliharaan, dan Kaneko-san mengoleksi parfum…"
"ARGH!" Shinichi menggaruk kepalanya frustasi.
"Santai, nanti juga ketemu. Kau 'kan detektif hebat." ujarku menenangkan.
"Uh… otakku tidak jalan nih…
"Oh, Kudou-kun, Ran-kun!" Inspektur Megure menghampiri kami. "Tak kusangka akan bertemu kalian disini. Kalian sedang kencan?"
"Ah, eh… tidak kok!" jawab kami bersamaan.
Inspektur Megure tertawa. "Hahahaha! Kalian lucu sekali! Lalu Kudou-kun, kapan kau pulang?"
Drrt, drrt, drrt. Handphoneku bergetar di saku, pertanda ada telepon masuk. Aku berbalik dan mengangkat telpon tersebut. Ternyata dari Shiho.
"Halo?"
"Oh, Ran-san? Kau sedang bersama Kudou-kun?"
"Eh, iya… ada kasus disini. Ada apa, Miyano-san?"
"Pantas aku tidak bisa menghubunginya… tolong beritahukan Kudou-kun kalau kami akan latihan intensif untuk hari Sabtu nanti, jam 7 malam…"
"Latihan intensif? Tunggu, memangnya kalian mau kemana?"
"Kami akan ke Hokkaido untuk mengejar mereka, ada transaksi di gedung tua disana. Tadi Kudou bilang dia mau memberitahumu…"
"Ke Hokkaido?" aku setengah berteriak.
"Ya… memang kau belum tau?"
"Ah, i, iya…"
"Tolong sampaikan ya, Ran-san. Terima kasih."
"Ba, baik… sama-sama." Aku memutuskan hubungan. Shinichi menghampiriku.
"Ada apa, Ran?"
"Kau akan ke Hokkaido hari Sabtu nanti." Ujarku dingin.
"Eh? Darimana kau tau?"
"Dari Miyano-san…"
"Lalu ia bilang apa saja?"
"Dia bilang kalian akan latihan jam 7 malam nanti…"
"Lalu? Apa lagi yang dia bilang?"
Aku menggeram marah. "TIDAKKAH KAU MENGERTI? KAU MEMBOHONGIKU LAGI!"
"A, aku…"
"Kau tidak mengatakannya lagi… kau tidak jujur lagi, hal sepenting itu… kau tidak memberitahuku?" aku merasakan air mataku menggenang. Tanganku terkepal, marah. Para polisi menatap kami seakan kami adalah adegan sinetron yang asyik untuk ditonton. Tapi aku tidak perduli.
"Ra, Ran…"
"Seberapa sulit untuk mengatakannya, Shinichi? Yang ada di otakmu hanya kasus, kasus, kasus!" aku merasakan tenggorokanku tercekat. "SETIAP UNSUR DARI DIRIMU HANYALAH KASUS!"
Shinichi nampak berpikir, lalu memukulkan tangannya. "Ha! Aku mengerti kode itu! Terima kasih Ran, aku sudah memecahkannya!"
"Kasus lagi." geramku. "Kasus lagi? Tidakkah kau pernah berpikir soal aku?"
"Bukan itu maksudku…" Shinichi menyibakkan rambutku kebelakang. Air mata sudah turun ke pipiku.
Sulitkah? Sulitkah ia tidak melulu memikirkan kasus? Sulitkah ia untuk jujur padaku? Sulitkah, untuk mengatakan kebenaran, sekali ini saja? Kebenaran tentang perasaan kami, hal yang akan dilakukannya… hal yang bahkan mengancam nyawanya! Sulitkah ia menjaga hatiku? Sulitkah ia memahami perasaan, yang sudah jelas-jelas kutunjukkan dan kukatakan! Sulitkah? Begitu sulitkah, sampai di otaknya hanya ada mayat, pembunuhan, kode, kasus…
Kepalaku terasa dihantam godam begitu menemukan jawabannya. Ya. Ia sulit melakukan itu semua.
Apakah aku sebenarnya hanya narsis saja? Padahal ia menganggapku teman sejak kecil, tak lebih? Namun aku melihatnya, ia menyukaiku…
Aku tenggelam dalam kesedihan.
"Ran, aku…"
Aku menepis tangannya, dan keluar dari toilet itu. Semua orang memperhatikan aku, tapi aku tidak peduli. Aku menaiki tangga ke lantai tiga, namun Shinichi keburu menarik tanganku. Otomatis, keseimbanganku menghilang dan aku jatuh ke pelukannya. Kepalaku bersandar di dadanya. Air mataku terus turun.
"Ran, aku baru akan memberitahumu… tapi tadi…"
"Ya, kenapa kau tidak mengatakannya duluan? Itu hal penting 'kan? Oh, aku tau. Kau tidak menganggapku perlu tau hal itu…"
Ulu hatiku berasa ditusuk ribuan pisau.
"Bu, bukan…"
Aku mendorongnya, namun ia mengeratkan pelukannya. Aku melepas diri, berlari lagi ke atas dan menutup pintu. Berdiri di baliknya dan menangis keras.
Shinichi menggedor pintu. "Ran, aku…"
Lalu aku mendengar makian Ayah, dan pembelaan Shinichi. Mereka bertengkar lagi. Aku menyusut air mataku. Kemudian Ayah mengusir Shinichi.
Sebelum dia pergi, dia berbisik dari balik celah pintu.
"Aku mencintaimu, Ran. Tanpa harus kukatakan, aku rasa kau tau soal itu."
Air mataku turun lagi, semakin deras.
*Aku lupa nama pelayan di Poirot Café, cewek berambut panjang dan berjidat lebar itu lho… pernah muncul banyak di kasus anak-yang-hilang-di-pemancingan vol. 51… aku lupa menaruhnya dimana… kalau salah betulin ya!
Thanks to :
Sha-chan Anime Lover (Haaa, rele? Aku gak tau, pedomanku bukan buku EYD tapi Twilight Series karena itu 'kan baku banget… wkwkwk. Aku udah baca, karena AU aku gak bisa nentuin… updated!)
Peri Hitam (Emang didunia gaada yang sempurna *nangis* Hahaha, aku readers di FNI, itu sebabnya aku gak suka pair SasuNaru, udah Yaoi ngebash orang seenaknya lagi! Ya, tenang kulanjutkan kok…)
Fumiya Ninna 19 (Kita gak bisa meremehkan detektip kita ini… baca aja ya!)
Pii (Rele? Makasih, aku jadi senyum-senyum sendiri.. updated!)
uchiha cucHan clyne (Pujian kamu banyak banget, makasih… jadi terharu, wkwkwk. Aku malah suka sama Shiho karena dia pinter, kocak, dan keren… hahaha. Maka itu 'kan, aku sih gak benci charanya… cukup authornya aja!)
Kongming (Maaf deh, typo dikit, Gnya ketinggalan… hahaha, memang ficmu itu gak romance banget, tapi pairnya 'kan masih ShinShi, ehehehe… promosi crossfic yang mana?)
Azalea (Makasih, beneran? Updated! Pasti lanjut dong!)
Sisi (Speechless karena keren, atau karena jelek?)
Kudo Widya-Chan Edogawa (Updated! Penasaran? Hantu? Jangan datengin aku!)
Tachi Edogawa (Hahaha, happily ever after? Updated!)
WAAAAAAAAAHHHH ROMANCE BANGETT! *digampar*
OOC gak sih? Aduuh, serem OOC aja nihhh!
Ada yang tau arsenik? Itu dipakai untuk pembunuhan Munir... I wait for your deduction at your review!
Oh ya, untuk tempat penyelidikan kemarin, aku menggunakan setting S*mmarecon M*l Serp*ng atau biasa disebut SMS, di Tangerang. Aku 'kan tinggal di Tangerang… tempat anak muda itu di Downt*wn, dan toko buku itu adalah G**media. Ada yang pernah kesana?
Maaf ya telat… aku sudah mengusahakan agar fic ini di update paling telat 1 minggu. Setelah selesai kemarin, komputerku malah crash dan BLAR! Ketikanku selama 5 hari mencari inspirasi hilang! Brengsek memang… akhirnya aku menyusun kata-kata lagi selama 3 hari, lalu mempublishnya sekarang… hehehe, maaf ya :)
Review!
