"Sakura, bagaimana keadaan Gaara?"

Sakura menutup pintu kamar Gaara dengan pelan, kemudian menoleh ke arah sahabat pirangnya yang tengah berdiri tak jauh dari pintu kamar Gaara.

"Sudah lebih baik, Temari-nee sudah membersihkan lukanya dan mengobatinya." gadis itu menghela napas pelan sebelum melanjutkan. "Ia sedang tidur."

Ino tersenyum lemah. "Syukurlah."

Sakura berjalan mendekati Ino, sekilas menoleh ke arah Shikamaru yang setia berada di samping Ino kemudian tersenyum kecil. Dengan pelan, ia mengajak kedua temannya itu untuk melangkah menuju ruang tamu dan duduk di sana. Sakura melihat Temari dan Kankurou—kedua kakak Gaara, tengah sibuk di pelataran rumah mereka ini.

"Apa kejadian ini menyebar begitu cepat?" tanya Sakura pada kedua sahabatnya itu.

Ino dan Shikamaru saling pandang. Sakura dapat melihat sorot khawatir serta tak enak hati menyambangi keduanya.

"Seseorang memberitahu Naruto tentang kejadian di taman itu. Saat tahu terjadi pertengkaran antara Sasuke dan Gaara … kami semua segera berkunjung ke apartemen Sasuke." Ino yang menjawab.

Sakura tahu, yang dimaksud 'kami' oleh Ino adalah teman-teman dekatnya. Ia menyangsikan apakah mereka mengetahui sebab dari pertengkaran Sasuke dan Gaara yang sebenarnya atau tidak, tetapi yang membuatnya merasa khawatir saat ini adalah karena semua temannya telah mengetahui hal ini.

"Dan terima kasih karena kalian berdua sudah mau repot-repot datang kemari. Mungkin kalian akan membenciku—"

"—Sakura," Ino memotongnya cepat. "Tidak ada alasan bagi kami untuk membencimu. Mungkin memang Sasuke dan Gaara bertengkar karena … kau, tapi justru itulah yang ingin kutanyakan sekarang."

Sakura mendongak, menatap Ino.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Lanjut gadis pirang itu lagi.

Sungguh, Sakura sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya menyebabkan Sasuke menyerang Gaara semalam. Ia tidak mengerti apa alasannya yang sebenarnya akan Sasuke katakana semalam—karena ia terus-menerus menolongnya.

Yang ia dengar, Sasuke hanya mengatakan bahwa Gaara melupakan janjinya, lalu pemuda itu tidak meneruskan perkataannya karena lagi-lagi ia memotongnya.

Lalu, Sasuke juga mengatakan … ada yang ingin kukatakan padamu.

Sebelum akhirnya, yang terlontar dari indera pengucap Sakura adalah makian bahwa ia membenci Sasuke. Yang kemudian kembali membungkam perkataan pemuda itu.

Cukup. Mungkin memang ini waktunya untuk menjauh dari Sasuke. Ia tak memerlukan alasan atau penjelasan Sasuke tentang semalam. Karena Sasuke pasti telah membencinya sekarang.

Semakin membencinya.

Ia menarik napas, berujar dengan suara parau dan kembali memusatkan pandangan pada sahabatnya. "Ino…"

Ino membalas tatapannya, masih memandangnya dengan sorot mata khawatir. "Ya?"

"Boleh aku menumpang tinggal di rumahmu sebelum orangtuaku kembali beberapa minggu ini?" Tandas Sakura akhirnya.

"Maksudmu?" Gadis pirang itu mengangkat sebelah alisnya. Begitu pula dengan pemuda di sampingnya.

Dan Sakura melanjutkan dengan lirih. "Aku akan pindah dari apartemen Sasuke."

.

.

Two Way Arrows

—dua arah anak panah

©LastMelodya

Disclaimer: all characters belong to Masashi Kishimotoabsolutely

I warn you: AU, miss-typo, miss-OOC(?), a SasuSakuGaa fanfic, DLDR!

.

.

"To be honest, with every thought you take."

.

.

Chapter 11: Honest

"Ceritakan padaku selengkapnya, Sakura."

Ino melontarkan pernyataannya sesaat setelah gadis berambut merah muda yang kini duduk di sebelahnya menutup pintu mobil. Mobil yang dikendarai oleh Shikamaru itu mulai bergerak perlahan, membawa mereka bertiga menyusuri jalanan pusat kota Konoha yang padat.

"Jelaskan apa lagi, Ino?" Sakura menjawab dengan suara lirih. Dengan perlahan, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran jok, dan tanpa sadar memejamkan matanya erat.

Ino yang melihat sahabatnya serapuh itu mau tak mau jadi merasa simpati. Sesaat ia melirik ke arah Shikamaru di jok depan, kekasihnya itu hanya mengangkat bahu pertanda bahwa ia tak ingin ikut campur.

Pelan, Ino menyentuh sebelah tangan Sakura. "Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu sebenarnya. Mulai dari latar belakang pertengkaran Sasuke dan Gaara yang sebenarnya, hubunganmu dengan Gaara, hubunganmu dengan Sasuke, hubungan Sasuke dengan Gaara, alasan rencanamu pindah dari apartemen Sasuke. Tapi karena aku tak tega denganmu, mungkin kupendam saja ya…"

Ino menghentikan ucapannya saat merasa Sakura terkekeh pelan seraya mencubit tangannya yang menggenggam tangan sahabatnya itu.

"Hei! Mengapa kau mencubitku? Dan, apa yang lucu?"

Sakura membuka matanya. Emerald dengan sinar yang redup itu menatap Ino lelah. Bibirnya tersenyum lemah. "Kaubilang tak tega, tapi tanpa sadar kau telah menyebutkan semua pertanyaanmu, Pig!"

Ino yang tak sepenuhnya paham ucapan Sakura terdiam sejenak, saat akhirnya ia tersadar bahwa ia telah mengucapkan seluruh pikirannya tadi, akhirnya ia pun ikut menertawakan dirinya sendiri.

"Hahahaha, kau benar, bodoh sekali, sih."

Sakura hanya menggelengkan kepalanya. Ah, ia jadi membayangkan bagaimana serunya jika ia tinggal bersama sahabat pirangnya itu. Pasti setiap waktu akan terasa menyenangkan dan seru seperti ini. Tertawa bersama, bergosip bersama…

Memang seharusnya dari awal ia tak perlu tinggal di apartemen Sasuke.

"Sakura."

Sakura dan Ino serentak menoleh ke arah satu-satunya pria yang bersuara barusan. Shikamaru meneruskan ucapannya, masih dengan tatapan lurus ke depan menatap jalan raya.

"Bagaimana perasaanmu sebenarnya?"

Hening.

Hembusan angin dari celah kaca mobil yang diturunkan membuat beberapa helaian rambut Sakura berkibar. Udara sedang berada pada level sejuk. Sehingga AC tidak perlu dinyalakan.

Dan pertanyaan Shikamaru seketika membuat Sakura menggigil.

"P-perasaanku? Perasaanku baik-baik saja." balas gadis itu kaku.

Sakura tahu, yang Shikamaru maksudkan bukanlah suasana perasaannya saat ini. Melainkan perasaan pribadinya terhadap … entah Sasuke atau Gaara, mungkin.

"Bukan itu maksudku." Balas Shikamaru lagi. "Perasaanmu kepada … Sasuke. Jujur saja, saat kau meresmikan hubunganmu dengan Gaara, sebenarnya aku agak terkejut. Setidaknya, yang kutahu kau dekatnya dengan Sasuke."

"Kami dekat hanya sebatas sahabat, kau jelas tahu itu, kan, Shikamaru? Dan tentang perasaanku pada Gaara … kupikir perasaan pribadiku tidak perlu kuungkapkan kepadamu."

Shikamaru kembali menambahkan. "Aku tahu, Sakura. Dan aku sangat tahu semenjak masa High School yang kaukejar itu Sasuke. Bukan Gaara."

"Jangan menilai seenaknya, Shika!" Sakura membentak keras. Tubuhnya menegang mendengar semua ucapan salah satu sahabat dekatnya semenjak High School itu.

"Sudah, sudah, Shika. Ini bukan saat yang tepat untuk memojokkan Sakura." Ino berbisik pelan pada Shikamaru sembari menenangkan Sakura di sampingnya. "Sudah, Saku. Maafkan Shikamaru, ya. Kami tidak akan memaksamu lagi."

Sakura mengangguk pelan. Kembali memejamkan matanya erat-erat.

Ia tak mengerti.

Sungguh tak mengerti.

Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bagaimana perasaannya pada Sasuke. Sangat tahu.

Tapi, melihat pria itu memukuli Gaara seperti semalam dengan alasan yang tak masuk akal dan seenaknya … pada akhirnya ia juga memikirkan Gaara, yang notabene adalah kekasihnya kini.

Gaara adalah kekasihnya, dan ia sudah memantapkan hati untuk jatuh cinta pada pria itu.

Sedangkan Sasuke … ia bahkan tidak pernah tahu bagaimana perasaan pemuda itu yang sebenarnya.

Jadi, mengapa harus sulit-sulit mengambil resiko yang tidak pasti, jika pada kenyataannya sudah ada kepastian lain yang menunggu di hadapanmu?

Mengapa harus menunggu kepastian perasaan Sasuke, jika ia sendiri bisa mencoba untuk mencintai Gaara yang sudah begitu pasti dengan perasaannya?

Seberapa keras ia memikirkan semua itu, tetap saja Sakura tak pernah mendapatkan jawabannya.

"Shikamaru, mampir ke apartemen Sasuke, ya. Aku ingin mengambil semua barang-barangku."

Dan inilah saatnya menetapkan perasaannya sendiri.

Sasuke melangkah pelan menuju pintu apartemennya. Naruto dan Kiba berjalan di depannya. Ketiga pria muda itu akhirnya berhenti saat sampai di depan pintu. Dan sekali lagi, Naruto menatap Sasuke.

"Kau yakin tidak ingin menyelesaikan urusan ini?" ucap pemuda pirang itu dengan nada serius.

"Hn."

Naruto dan Kiba hanya menghela napas sekaligus saling mencuri pandang mendapati Sasuke yang seperti itu.

'Baiklah." Lanjut Kiba akhirnya. "Kami ke rumah Gaara, ya."

Sasuke tak berbicara apa-apa lagi saat kedua temannya keluar dari apartemennya. Dengan gerakan tanpa minat, ia kembali menutup pintu saat Naruto dan Kiba sudah tak terlihat di ujung koridor.

Dengan gontai Sasuke kembali melangkah ke dalam. Pikirannya lagi-lagi terbang pada kejadian tadi malam. Rasanya memang sangat kejam membuat Gaara sampai babak-belur seperti itu, dan kini dirinya malah bersikap tak bertanggungjawab sama sekali. Bukan begitu, hanya saja Sasuke yakin, bahwa luka-luka pada tubuh Gaara pastilah tidak lebih sakit dibandingkan rasa sakit di hatinya.

Sakit.

Seberapa kini Sasuke membenci dirinya sendiri. Membenci dirinya yang terlalu angkuh dan sombong dengan perasaannya sendiri. Bagaimana dulu ia benar-benar ta pernah sedikit pun mencoba menghargai perasaan Sakura.

Harusnya ia sadar lebih awal, kalau Sakura memang spesial.

Ia tak pernah berpikir bahwa ternyata melihat gadis itu bersama pria lain merupakan hal yang menyakitkan. Haruskah ia mengakui eksistensi Eros sekarang? Sang Cupid yang mengutuk Apollo agar mencintai Dafne. Dafne yang pada akhirnya terus pergi menjauh, tak tergapai, tak tersentuh, dan malah membencinya.

Crap.

Apalagi yang harus ia lakukan saat ini?

Tok. Tok. Tok.

Belum sempat Sasuke sampai kamar tidurnya, pintu apartemen kembali diketuk. Pemuda itu mengerutkan kening, oh, bagus, kalau lagi-lagi orang di balik pintu itu adalah Naruto dan Kiba yang memaksanya menjenguk Gaara, ia tidak akan segan-segan membuat mereka babak belur menyusul Gaara.

Eat the shit. Ia tidak peduli sekejam apa ia sekarang hanya karena seorang gadis bernama Haruno Sakura.

Dengan langkah berapi-api, Sasuke berbalik arah. Ia melangkah cepat ke arah pintu apartemen dan membukanya dengan kasar.

Namun seketika, pergerakannya terhenti.

Karena yang ia lihat kini adalah sosok merah muda dengan sorot emerald-nya yang terlihat redup.

"—Sakura?"

Gaara membuka jade-nya dengan perlahan. Cahaya yang masuk dan menerangi netranya membuat pria berambut merah itu kembali memejamkan matanya dengan refleks. Bersamaan dengan itu, kepalanya berdenyut dan rasa pening yang menyakitkan menyambanginya.

"Ukh…" ia mengerang pelan. Kedua tangannya meremas kencang helaian rambut merahnya, bermaksud untuk mengurangi rasa sakitnya barang sedikit.

"Gaara, jangan bangun dulu." Temari yang melihat Gaara sedang berusaha bangkit dari tidurnya dengan ekspresi kesakitan segera menghampiri adik bungsunya itu. Segera membantunya kembali merebahkan tubuh.

"Temari-nee." Gaara berkata serak sebelum melanjutkan. "Sakura … di mana?"

Pria itu ingat, semalam Sakura lah yang mengantarnya sampai rumahnya. Gadis itu membopongnya mulai dari tempat kejadian ia dan Sasuke, membawanya ke mobil, mengendarai mobilnya dengan panik, hingga akhirnya berhasil sampai ke rumahnya ini.

Gaara masih mengingat semua itu sampai akhirnya ia terlalu lelah untuk terjaga dan akhirnya tertidur.

Setidaknya, ia akan sangat senang saat ia membuka matanya kembali sekarang, Sakura lah orang pertama yang ia lihat.

"Sakura tadi ikut pulang bersama Shikamaru dan Ino." Temari berkata pelan sembari memberikan Gaara segelas air putih. Pemuda itu meminumnya sedikit.

Pulang?

Ke … apartemen Sasuke?

Belum sempat ia berpikir lebih banyak tentang kemungkina-kemungkinan yang ada, suara gaduh dari luar kamarnya kembali memutus kemelut pikirannya.

Kankurou muncul dengan wajah kesal. "Sudah kubilang kalau Gaa—ah, Gaara, kau sudah bangun ternyata?"

Gaara melirik ke arah dua orang laki-laki di samping Kankurou. Naruto dan Kiba.

"Tuh, kan! Gaara sudah sadar! Jadi kami boleh menjenguknya sekarang." Naruto menukas gembira seraya menghambur ke kamar Gaara. Kiba mengikutinya.

"Gaara, bagaimana keadaanmu, hei!"

Gaara hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan terlalu semangat milik sahabat pirangnya itu. Ia hanya meringis seraya mengangkat bahu, membiarkan Naruto menilainya sendiri.

"Oh, Sasuke sialan. Dia membuatmu babak belur seperti ini, Gaara?" Kiba mendekat ke sisi ranjangnya dan memasang tampang sedih yang dibuat-buat.

"Hei! Dasar muka dua! Tadi di apartemen Teme kau membelanya. Sekarang di sini, kau malah membela Gaara. Dasar!" seru Naruto dengan mata menyipit.

Kiba hanya menatap Naruto tajam seraya berharap kalau saja tatapan bisa membunuh seseorang.

Gaara terkekeh kecil, kemudian menerawang sembari tersenyum miris. "Tidak apa-apa. Aku memang pantas mendapatkan ini."

Ucapan Gaara membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatapnya takjub. Mereka memang tidak mengerti, apa sebenarnya permasalahan Gaara dan Sasuke di sini. Namun, satu analogi yang kini akhirnya terbentuk di dalam pikiran mereka semua.

Hal ini pasti berhubungan dengan Sakura.

"Naruto, Kiba, apa tadi kalian baru saja dari apartemen Sasuke?"

Kedua pemuda itu mengangguk pelan mendengar pertanyaan Gaara.

Sedangkan Gaara kini hanya terdiam sembari menerawang. Beberapa luka yang menghiasi wajahnya sudah ditutup oleh plester. Namun begitu, masih ada beberapa lebam yang terlihat di sisi-sisi wajahnya. Lalu, ia mendongak perlahan.

"Ada yang ingin kutanyakan pada kalian."

Sakura terus berusaha menghindari tatapan Sasuke di hadapannya. Setelah pemuda itu membuka pintu, dengan ragu gadis itu masuk ke dalam dan segera melangkah cepat-cepat ke kamar Sasuke untuk mengambil seluruh barang-barangnya.

"Aku datang hanya untuk mengambil barang-barangku."

"Apa?"

Sasuke mengikuti gadis itu yang bergegas masuk ke dalam kamarnya. Mengambil koper miliknya di sudut kamar, dan mulai merapikan baju-baju, perlengkapan, serta barang-barangnya yang terhampar di kamar itu.

"Sakura, apa yang sedang kau lakukan?!" Sasuke menarik lengan Sakura hingga gadis itu berhenti dari aktivitasnya memasuki pakaian-pakaiannya ke dalam koper. Namun dengan cepat, Sakura segera menepis tangan Sasuke dari lengannya dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.

"Sakura, aku tahu kaumarah padaku. Tapi jelaskan apa yang sedang kaulakukan ini!" Lagi-lagi Sasuke menandas dan kembali menarik lengan Sakura. Kali ini lebih erat.

"Lepas, Sasuke! Sakit." Ujar Sakura sembari meringis pelan. Tangan Sasuke kini mencekalnya dengan kencang, seolah-olah tak memperbolehkannya lepas. "Aku akan pindah, dan tolong lepaskan aku, Sasuke."

Bukannya melepaskan, pemuda itu justru semakin mengeratkan pegangannya. Ia menarik Sakura dan memojokkannya hingga gadis itu membentur sisi tempat tidur.

"Pindah? Memangnya orang tuamu sudah kembali?" tukas Sasuke lirih. Entah mengapa, ia tak menyukai kenyataan bahwa Sakura harus pindah dari sini.

Sakura masih menghindari tatapan Sasuke. "Tidak, aku akan pindah ke rumah Ino, Sasuke. Aku tidak bisa terus di sini…" Gadis itu menunduk.

"Apa maksudmu, Sakura?"

"Aku tidak bisa terus merepotkanmu, Sasuke! Kumohon biarkan aku pindah ke apartemen Ino!"

"Demi Tuhan, Sakura, tidak ada yang direpotkan di sini!"

Sasuke membentak kencang. Sakura mendongak kaget.

Tatapan mereka pun akhirnya bertemu.

Onyx kepada emerald. Hitam dan hijau. Tajam dan bersinar. Hanya saja, kali ini kedua iris itu seakan sama-sama meredup.

"Kumohon, Sakura…" Entah bagaimana caranya, suara Sasuke kini terdengar begitu putus asa. Sakura sama sekali tak pernah melihat pemuda itu seperti ini. Onyx yang biasanya menatap tegas, kini hanya menatapnya sayu. "Kumohon jangan pergi…"

Mata Sakura melebar. Ada setitik rasa yang sudah berhasil ia tekan dalam-dalam, kini terasa kembali menyeruak ke permukaan. Kembali memaksa keluar.

Sasuke… Sasuke… Kumohon jangan berkata seperti ini. Jangan lagi, jangan seperti ini…

Sekuat hati Sakura menahan perasaannya itu. Ia harus sadar dan kembali pada realita yang sebenarnya. Ia telah memutuskan tadi, dan ia tidak akan merubah pikirannya kembali begitu saja.

Namun, lagi-lagi rasa itu kembali memaksa keluar—bahkan kini lebih menggebu-gebu, saat tangan Sasuke di bahunya mengendur dan turun menelusuri kulitnya. Bahu, siku, lengan, pergelangan, hingga jari-jemari.

"Karena ada yang ingin kukatakan padamu." lanjut Sasuke lagi.

Satu sentakan lembut dilakukan Sasuke pada sebelah tangannya, membuat Sakura kini terbaring di tempat tidur dengan pemuda itu di atasnya. Sakura memekik kaget.

"Sasu—"

Ucapan Sakura terhenti begitu saja saat merasakan lengan Sasuke mengurung tubuhnya. Pemuda itu menatap Sakura lekat-lekat, dalam, intim…

"Untuk kali ini, kumohon jangan menyelaku."

Sasuke mengangkat tangannya, menyentuh lembut helai-helai merah muda Sakura yang kini tergerai bebas di tempat tidur. Napasnya terasa berat. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tangannya terus berpindah menyentuh wajah sahabat merah mudanya itu. Terus ke kening, dan berhenti di sebelah pipi gadis itu.

"Aku … menginginkanmu, Sakura."

Dalam sekejap, pemuda itu menghilangkan segala jarak di antara mereka. Tubuhnya merapat, wajahnya membentur sisi wajah Sakura. Dan napasnya menggelitik leher gadis itu.

Sedetik kemudian, Sasuke terpejam dan menenggelamkan wajahnya pada sisi leher jenjang sang gadis.

Sakura melotot. Refleks, ia memalingkan wajahnya.

"Ugh—Sasuke," Sakura menggigit bibirnya keras, menahan segala gejolak yang kini menyambangi dirinya. Perutnya seperti tergelitik, hingga rasanya begitu melilit.

Sasuke mengangkat wajahnya, kini kembali mempertemukan kedua iris berbeda warna miliknya dengan milik gadis di bawahnya. Ia menatap Sakura dalam. Kali ini, ia ingin Sakura melihat seluruh kejujuran di dalam hatinya.

Wajah pemuda itu kembali merendah, dan Sakura merasakan seluruh bulu kuduknya meremang saat merasakan Sasuke menempelkan bibirnya di rahangnya dengan lembut. Mengecupnya.

"Sakura—"

Bibir Sasuke semakin menelusuri sisi-sisi rahangnya, hingga kini sampai di sudut bibirnya. Mengecupnya dalam-dalam dan lama. Tangan pemuda itu kini juga telah berada di kedua bahunya, mengelus lembut di sana.

"—aku mencintaimu."

Sakura memejamkan matanya erat-erat saat akhirnya bibir lembut itu sampai di atas bibirnya. Mengecupnya sebentar sebelum akhirnya melumatnya dalam-dalam. Ia dapat merasakan tubuh Sasuke yang semakin merapat pada tubuh mereka yang sudah tak berjarak itu. Perutnya semakin melilit geli, saat merasakan lidah Sasuke ikut menyapu permukaan bibirnya. Membuatnya mengerang tanpa sadar, terlebih saat sebelah tangan Sasuke berpindah dari bahu menuju tengkuknya. Menekan dan mengelus lembut di sana, mencoba terus memperdalam ciuman intim mereka ini.

Gadis itu sudah tak dapat berpikir apa-apa lagi. Karena belum sempat ia menyadari, ia sudah membalas ciuman pemuda itu.

Sakura mengerti—sangat mengerti. Dengan keadaan seperti ini, ia dapat merasakan seberapa bahagianya dicintai. Seberapa bahagianya rasa cinta yang tersimpan rapat bertahun-tahun, bertepuk sebelah tangan, kini berbalik dan disambut. Tapi … apa memang ini akhir kisahnya? Kalau iya, mengapa ia masih merasa ada yang mengganjal?

Suara erangan kembali terdengar saat lidah Sasuke memaksa masuk menerobos rongga mulut Sakura. Sasuke seolah tak pernah puas, ia terus memperdalam ciumannya, menarik tengkuk Sakura hingga tubuh mereka semakin merapat.

Lagi, lagi, dan lagi.

Hingga pada batas waktunya, Sakura merasakan kehabisan napas. Tangan mungilnya terulur untuk mendorong dada Sasuke yang kini masih dengan kuat menempel pada dadanya. Namun apa daya, sedikit pun tubuh Sasuke tak bergerak. Gadis itu menggelengkan kepalanya, bermaksud membuat Sasuke mengerti bahwa ia membutuhkan pasokan oksigen saat ini.

Tak mendapati respon dari partnernya, dengan refleks Sakura menggigit bibir bawah Sasuke. Dan, berhasil. Pemuda itu kini melepaskan ciumannya, meninggalkan benang-benang saliva yang kini terlihat di antara bibir keduanya.

Keduanya terengah. "Ugh, Sasuke, aku—"

Belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, kembali Sasuke menyerang bibirnya. Tidak, tidak lebih lembut dari ciuman sebelumnya. Sasuke terus menguasai mulut gadis di bawahnya itu.

Sakura terbuai. Ia hanya dapat memejamkan matanya dengan erat. Kedua tangannya kini sudah terangkat untuk meremas pelan kemeja Sasuke, dirinya terus-menerus menahan segala gejolak aneh yang membuat erangan-erangan terus meluncur dari mulutnya. Sakura tak bisa memungkiri, betapa ia menyukai sentuhan Sasuke saat ini.

Hingga akhirnya, sebuah analogi lain melintas dengan cepat di pikirannya. Tujuannya datang ke sini, keputusannya yang telah ia buat, dan—

—Gaara.

Sakura mendorong tubuh Sasuke dengan kencang. Entah kekuatan apa yang ia miliki saat itu, tetapi dalam sekali sentakan gadis itu berhasil menyingkirkan Sasuke dari atas tubuhnya. Kalau saja Sasuke tak pintar menyeimbangkan tubuhnya, ia pasti sudah tersuruk jatuh saat itu juga.

"Apa yang kau lakukan!" Sakura berteriak murka. Dengan cepat, ia bangkit dari ranjang Sasuke dan berdiri di hadapan pemuda itu.

"Sakura…"

"Tidak, cukup. Jangan mendekat." Gadis itu kembali berseru, Sasuke kini dapat melihat genangan air yang menghiasi emerald redupnya.

"Tapi kau membalas ciumanku tadi, Sakura…" Pemuda itu menatapnya lekat-lekat. Suaranya serak. Ia masih ingat betapa bibir merah Sakura itu tak menolak ciumannya. Bahkan membalasnya.

"Tidak, Sasuke! Kumohon jangan membuatku lebih sakit lagi!"

Air mata akhirnya tumpah dari kedua netra Sakura. Tidak, ia tidak bermaksud mengatakan bahwa ciuman Sasuke tadi menyakitinya. Tidak sama sekali.

Hanya saja … ini tidak benar.

Setidaknya saat ia masih memiliki hubungan dengan Gaara. Dan bahkan pria itu kini tengah terbaring sakit karena pemuda di depannya ini. Yang barusan tadi menciumnya dengan intim.

"Aku tidak mengerti, Sakura… Aku tidak mengerti." Sasuke menatapnya dengan pandangan putus asa. "Aku tidak mengerti mengapa sangat sulit untuk memilikimu bahkan saat kau sudah berada dalam genggamanku."

Sakura hanya dapat terisak. Cukup. Cukup sudah. Ia harus cepat pergi dari sini sebelum tatapan dan ucapan Sasuke membuatnya menyerah.

Sungguh, ia mencintai pemuda itu. Sangat. Namun, ia akan sangat jahat kalau saat ini ia egois dan meninggalkan Gaara begitu saja.

Maaf, Sasuke. Kau terlambat.

Maka, dengan tekad bulat, Sakura melangkah cepat mengambil kopernya yang sudah ia rapikan, memastikan tidak ada barang yang tertinggal, dan berbalik menarik koper itu keluar dari kamar Sasuke ini.

Namun, sesosok yang ia lihat tengah berdiri di depan pintu kamar kini membuat jantungnya serasa melompat.

Begitu pula dengan ekspresi Sasuke yang juga terlonjak mendapati siapa sosok merah yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan kamarnya itu.

"G-Gaara?"

.

.

To be Continued

.

Author's note:

*take a breath*

and…

Helloooooooo!^^

Berapa lama fic ini tidak di-update? :') Beneran, deh, bukan bermaksud nggak mau update atau menelantarkan fic ini sama sekali. Tapi ternyata, ada beberapa hal yang lebih penting yang akhir-akhir ini kukerjakan dan harus didahului. Entah udah berapa bulan, tapi rasanya setiap hari pikiranku melayang ke fic ini. Setiap hari selalu kepikiran buat ngelanjutin, tapi apa daya, ternyata nggak sempat :')

Tapi ini cukup panjang, kan, yak? Heuheu. Dan maaf kalau tidak memuaskan. Apalagi di scene-scene terakhir ituuuuu. Oh My God, baru kali ini aku bikin scene ciuman yang sampai sangat intim begitu :''''))) hihi untung ini rate T yaaa ;p (nggak kebayang kalau aku harus bikin di rate M T.T) Eh iya, aku mau tanya, kalian berasa feel-nya nggak pas baca chap ini? Mohon masukannya yaa :D

Too much thanks to: Pinky Kyukyu (aku ngareeet #tebascelurit), Febri Feven (udh lanjut yaa, maaf telat x)), Iwahashi Hani (udh kulanjuuut, maaf telat hehehe), khoirunnisa740 (thanks yaaa), Autumn Winter Blossom (hehe makasih yaa, maaf gak kilat xD), Chi-chan Najiyah (#tepuk2pundakChi-chan jangan nangis yaa /loh/), Edelwish (sudah diapdet yaa), hanazono yuri (hehe maaf gak update kilat xD), sofi asat (sudah lanjut yaa), E.S Hatake (hihi poor you, Sasu!), Ikanatcha96 (hehe makasih yaa, maaf gak kilat xP), Maya (tp baku hantam di sini kuperlukan demi kelancaran alur :) thanks pendapatnya yaa), Resa (hehe makasih yaa, akhirnya…humor mungkin? *loh), Fivani-chan (biarkan saja waktu yg akan menjawabnya~ #lemparkeset), Kyouka Hime (hehe thanks yaa xD utk akhirnya, ikutin terus aja fic ini ya ;p), Aozora Straw (hihi maaf gak kilaat #oleskalpanax), BronzeQueen18290 (halo, Queen-chan :* Gaara emg paling cocok deh diselip2in kayak lidi xP), Baby Kim (hihiw keramat xP), Eysha 'CherryBlossom (hehe maaf ya lama apdetnya x) ini sudah lanjut yaa), Sa-chan Rivaille – ohoho (Oh, right, he's not okay! Btw penname kamu lucu xD), Megumizack (thankyou yaa xD sorry for late update :)), haruchan (aku juga suka bikin sasu frustrasi ;p hehe maaf gak kilat yaa), sasuke-chan (hehe thankyou yaa, sorry for late update x) oh ya kata2 mutiaranya beberapa ada yg kuambil dari tumblr :)), hikaru sora (hehe makasih yaa xD), Anka-Chan (makasih ya, Anka-Chan :D), Sasusaku's fans (aaa makasih :'')) hihi satu chap aja lama apalagi dua chap xP), Luca Marvell (ini sudah lanjut yaa xD), vannychan (#pukpukvanny hehe makasih yaa), putri (hehe makasih yaa, maaf gak kilat xD), Sweet and Devil (hihi ini aku harusnya bilang makasih atau engga ya? *ikutdilema hehe thankyouuu :*), Arisa Kurofuji (hehe maaf juga telat updatenyaaa), Ayumu Nakamura (hehe makasih banyak yaa, maaf telat update lagi xD), Komozaku Mori (ini sudah lanjut yaa :D)

Dan terima kasih untuk Ariska yang udah mau repot-repot nge-pm aku x) really, karena pm kamu, niatku untuk melanjutkan fic ini yg tadinya agak malas-malasan jadi kembali semangat lagi. Surprised karena ternyata masih ada yg nungguin xD thanks yaa.

And all who have read, favorited, and followed. You guys are rock \m/

Lastly, gimme more feedback? RnR, please (:

LastMelodya