I REMEMBER

Title : That's Should Be Mine

Chapter : Chapter 10

Pairing : Taecsung

Genre : Angst, drama, romance

Note : update update…. Ini updatean cahp 10 special buat semua yang udah comment di chap sebelumnya…

Ehem, author lagi punya inspirasi ini, jadi dikebut ngetiknya biar bisa langsung diupdate. Ngomong-ngomong kalo ada typo maklum ya, soalnya author ga sempet ngedit-negdit dulu (rada males).

Happy reading aja dah!

©Davidrd copyrights©

Langit berwarna biru cerah tanpa setitik pun awan putih yang menghiasi membingkai Seoul dalam suasana musim panas. Kerumunan anak dan remaja berjalan hilir mudik di taman bermain terbesar di kota Seoul. Tawa dan canda bisa terdengar dari setiap sudut taman yang menandakan betapa bahagianya dan tanpa bebannya hidup mereka. Pasangan-pasangan kekasih yang menikmati kencan terlihat asik bercumbu di bangku-bangku kosong di bawah pohon.

Seorang pemuda berpegangan erat pada lengan Ok Taecyeon dan terus tersenyum bahagia. Senyumannya sampai ke telinga dan orang yang melihat pasti bisa langsung mengatakan kalau ia sedang benar-benar bahagia atau sedang benar-benar jatuh cinta. Pancaran sinar matanya menunjukkan tak ada beban di hidupnya, yang ada hanyalah perasaan bahagia.

Ok Taecyeon dan Hwang Chansung berjalan bergandengan menuju taman bermain dalam rangka melaksanakan kencan mereka yang tertunda. The younger dari keduanya tak hentinya-hentinya melompat-lompat kegirangan ketika Tecyeon menyuruhnya untuk berganti pakaian. Dipilihnya sebuah T-shirt putih polos dipadu dengan cardigan cokelat muda. Kakinya yang jenjang dibalut dengan celana jeans cokelat tua membuatnya terlihat seksi.

Taecyeon hanya bisa memandang Chansung tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Pemuda di hadapannya itu sangat hot kalau boleh ia berkomentar. Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke apartemen Chansung sebelum berangkat untuk berganti baju karena di apartemen KhunWoo tidak mungkin mereka menemukan pakaian ataupun celana yang seukuran untuk kedua orang itu.

"Hyung, apa aku tidak kelihatan aneh?" Chansung berputar-putar di depan cermin untuk memastikan bahwa busana yang dipakainya sudah serasi dan cocok di badannya.

Taecyeon yang tersadar dari lamunannya segera memberi tatapan mesra pada dongsaengnya itu sambil berkata,"You look hot in everything Channie."

Yang mendengar perkataan itu hanya bisa merona dan menunduk malu kemudian berganti menatap sang giant yang masih duduk manis di tepian tempat tidur. Rona merah di mukanya bukannya berkurang atau menghilang justru makin bertambah gelap saat diketahuinya kekasihnya itu terlihat sangat tampan dalam kaos putih oblong yang hanya ditutupi jacket abu-abu gelap.

"Hyung, kau juga kelihatan sangat tampan."

"Aku tahu aku tampan Channie, karena itu kau mencintaiku kan?" sang giant tak kuasa untuk meledek dongsaengnya.

"Aish hyung, kau ini benar-benar over PD."

"Tapi aku benar kan?" Taecyeon berjalan menghampiri Chansung dan meraih tubuhnya ke dalam pelukan.

"Hyung, kau selalu bisa membuatku malu," the younger menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Taecyeon sambil kedua tangannya sibuk menutupi wajahnya.

Kembali ke taman bermain, kedua pemuda yang sedang bahagia itu mencoba menaiki semua wahana yang ada, mulai dari rollercoaster bahkan sampai bianglala dan Viking. Sambil terus bergandengan tangan keduanya tidak pernah merasa malu menunjukkan kemesraan bahkan di depan umum. Walaupun banyak orang yang memberikan pandangan jijik atau bahkan menghina, tapi mereka berdua tidak peduli. Siapa yang akan peduli dengan orang lain ketika sedang dimabuk asmara?

Taecyeon POV

Dua puluh enam tahun aku hidup di dunia ini, baru dua kali aku pergi ke taman bermain. Pertama, saat aku masih berumur lima tahun dan yang kedua kalinya adalah sekarang. Aku sangat berterima kasih pada Chansung karena ia telah membawaku ke tempat yang sangat penuh dengan kenangan ini. Ketika umurku lima tahun, kedua orang tuaku masih menyayangiku dan selalu berusaha membuatku bahagia, dan mereka mengajakku bermain ke sini. Itu dulu, jauh sebelum ayahku terobsesi dengan kekayaan dan ibuku yang juga gila harta. Aku tidak menyalahkan mereka, asalkan mereka tidak ikut membawaku ke jurang kenistaan itu bersama.

Sekarang aku kembali ke tempat ini dengan seseorang yang aku jatuh cinta kepadanya. Walaupun pemuda ini menganggapku adalah kekasihnya, walaupun ia tidak sadar dengan apa yang ia lakukan sekarang, tapi aku berharap dia akan mengingat ini selamanya. Dia boleh melupakan semua tentangku ketika ia sudah sembuh, tapi aku harap dia akan mengingat memori ini.

Memori dimana aku menuangkan semua perasaanku yang tulus padanya. Memori dimana aku menciumnya tanpa paksaan dan kami berdua menikmatinya. Memori dimana aku menyatakan cintaku tulus tanpa kebohongan.

Ketika naik bianglala.

Kami duduk berdampingan di dalam sangkar bianglala dengan tangan terus bergandengan. Chansung yang tak berhenti-hentinya meringis lebar-lebar menempelkan kepalanya ke pundakku. Dia ingin menikmati waktu ini dengan tenang, tapi aku punya ide lain. Kutarik tubuhnya dan kami berdua berhadapan membuatnya blushing. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan ketika kami bisa merasakan nafas kami masing-masing semakin dekat aku berkata,"Hwang Chansung, you are the best person I've ever met. You make my heart flutter and I feel so honored to love you. Please let me loving you for the rest of my life. I promise, I'll never make you sad again. Please let me be the one for you. I love you."

Kucium bibirnya perlahan. Satu kecup dua kecup dan kemudian dia berkata,"Hyung, tentu aku akan mengijinkanmu untuk mencintaiku selamanya. Kau akan menjadi satu-satunya orang yang kucintai di dunia ini hyung."

"Really?"

"Of course hyung. I love you too," dia berganti menciumku. Dengan senang hati kubalas ciumannya dan kutarik tubuhnya makin mendekat denganku. Kulumat bibirnya yang berwarna pink itu dengan penuh kasih sembari kedua tanganku menemukan jalannya melingkar di pinggang Chansung. Begitu juga dengan lengan Chansung yang langsung saja melingkari leherku dan menarik tubuhku makin mendekat dan makin makin mendekat ke tubuhnya.

Nafas kami berdua terasa hangat dan hal itu membuatku memohon agar Chansung membukakan bibirnya itu untuk kumasuki. Kusapukan lidahku ke bibir bagian bawahnya dan dia menerima sinyalku kemudian membuka bibirnya membiarkan lidahku memasuki mulutnya. Kuhisap, kujilat dan kujelajahi seluruh rongga mulutnya dan kunikmati rasa manisnya Hwang Chansung yang selama ini sangat kuimpikan.

Beberapa menit berciuman, Chansung mulai mengerang diantara ciuman kami membuatku menghentikan kegiatanku itu dan menatap nakal pada dongsaeng yang sekarang menutupi mukanya dengan kedua tangannya karena malu itu.

"Kenapa kau menutupi wajahmu Channie?" aku berusaha menyingkirkan kedua tangannya yang mengganggu pandanganku akan the blushing Chansung.

"Hyung, kau membuatku malu."

"Wae? Apa moaning for my kiss is a sin?" aku kembali meledeknya.

"Hyung," dia memukulku pelan seolah marah.

"Arraseo," kutarik tubuhnya ke dalam pelukanku untuk menenangkannya.

Back to the present

Aku menatap kedua tanganku yang penuh dengan cotton candy dan tersenyum sejenak. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat Chansung yang sedang menikmati pemandangan dengan muka polosnya. Oh God, pemuda itu tidak bersalah dan aku telah menyeretnya ke lembah penderitaan. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Jiyoung Hyung ketika ia menanyakan mengenai fashion show akbar yang akan dibintangi oleh Chansung. Apa Chansung juga melupakan mengenai pekerjaannya itu?

Chansung berdiri dari tempatnya duduk dan melihat ke arahku kemudian melambaikan tangannya, menyuruhku untuk segera ke sampingnya. Dengan antusias aku melangkah menuju pemuda yang kucintai ini, namun sesorang menabrakku. Seorang gadis lebih tepatnya. Aku mencoba menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh ke tanah dengan melingkarkan lenganku di pinggangnya. Tapi bukan main kagetnya aku ketika kuketahui bahwa gadis itu adalah Im Yoona, gadis yang dijodohkan denganku oleh kedua orang tuaku. Dua buah cotton candy yang awalnya bersarang di tanganku pun terlupakan dan jatuh ke tanah sebagai gantinya.

"Taec," dia berujar lirih masih dalam posisi kami yang seperti dalam adegan di film-film.

"Berhati-hatilah saat berjalan Yoona-ssi," aku membantunya berdiri tegap dan sesegera mungkin menarik tanganku dari pinggangnya.

"Lama tak berjumpa oppa. Bagaimana kabarmu?" dia menatapku dan mengulurkan tangan kanannya ke arahku untuk bersalaman.

Aku turut memberikan tangan kananku dan secepat kilat gadis itu menarik dan mencium bibirku. Mataku membulat dan aku langsung gelagapan ketika dari ekor mataku kulihat wajah Chansung yang menyiratkan kesedihan dan kekecewaan.

"Yoona, apa yang kau lakukan?" aku berbicara dengan nada keras tak peduli apakah orang yang hilir mudik akan mendengarku memarahi seorang artis terkenal di tengah taman bermain.

"Oppa, aku hanya menyapamu. Lagian aku dengar kita sudah dijodohkan oleh orang tua kita. Kau tahu, aku tak percaya kalau akhirnya orang tuamu merestui hubungan kita berdua setelah sekian lama. Sepuluh tahun lamanya oppa, aku sudah menanti saat ini sepuluh tahun lamanya," ujarnya sambil berusaha memeluk tubuhku, tapi aku menepisnya sehingga ia terus memaksa dan akhirnya kedua tangannya melingkar di pinggangku membuatku risih.

Chansung yang semula hanya berdiri mematung, sekarang membalikkan tubuhnya dan hal itu membuatku panik. Apa Chansung cemburu dengan ini semua? Bagaimana kalau ia tahu aku sudah dijodohkan dengan Yoona dan bagaimana pula kalau ingatannya kembali?

"Yoona-ya, oppa ada urusan lain oke?" aku memberikan alasan pada gadis yang memeluk ini agar aku bisa pergi mengejar Chansung, tapi ia tetap tidak mau melepaskan pelukannya. Ia justru mempererat pelukannya dan sekarang ia mencoba membenamkan kepalanya ke dadaku.

Chansung berjalan makin menjauh dan dapat kulihat ia membuang boneka teddy hadiah dari games yang kuberikan padanya barusan. Kepanikanku semakin memuncak saat figure Chansung mulai tidak kelihatan karena banyak orang yang terus mondar-mandir kesana kemari. Ia menghilang, oh God. How come?

Terpaksa kudorong tubuh kerempeng gadis di hadapanku ini dan dengan cepat aku berkata,"Yoona-ya, mianhae. Kau pasti sudah dengar juga dari ayahku kalau aku menolak perjodohan ini? Aku tidak ingin menikah denganmu Yoona-ya."

"Oppa, kenapa?" dia melotot padaku seolah-olah tidak percaya pada apa yang ia dengar.

"Aku tak punya waktu untuk menjelaskan itu semua. Aku harus pergi sekarang Yoona-ya," aku memegang pundaknya erat dan menatapnya tajam sebelum berjalan menjauh.

"OPPA," dia berteriak sekuat tenaga, membuatku harus berujar dalam hati agar tidak menggubrisnya dan terus berlari menerobos kerumunan mencari sosok Chansung yang seperti hilang ditelan bumi.

End of Taecyeon POV

©Davidrd copyrights©

Seulong POV

Aku sedang menikmati liburan di taman bermain bersama kekasih yang kucintai. Betapa senangnya hatiku karena aku bisa mengajak Jinwoon berjalan-jalan setelah sekian lama kami harus berkutat dengan pemotretan dan fashion show yang menguras seluruh tenaga dan waktu yang kami miliki. Sekarang aku bisa menjelajahi taman bermain tanpa ada orang yang bisa mengganggu ketenangan kami berdua. Hehehe menjadi seorang model memang menyenangkan, dikelilingi banyak wanita cantik, tapi aku lebih menyukai kalau ada Jinwoon seorang di sampingku.

Memang, tidak banyak yang tahu kalau aku adalah seorang gay, tapi bukan berarti aku harus berteriak dengan keras membuat semua orang tahu kan? Kalau ada yang bertanya pasti akan aku jawab, tapi kalau tidak untuk apa aku mengumbar semuanya. Aku senang hidup dalam kedamaian tanpa mencari masalah tentunya. Begitu juga dengan Jinwoon, kekasihku itu juga memiliki anggapan yang sama sehingga ketika kami berada di perusahaan, kami berusaha bersikap sewajar mungkin agar orang lain juga tidak risih dan terganggu akan keberadaan dan hubungan kami.

"Hyung, kapan kita bisa seperti ini lagi?" Jinwoon yang sedang sibuk menjilati es krimnya bertanya padaku.

"Hm, setiap ada waktu libur kita bisa pergi bersama Jinwoon-ah," aku mengacak-acak rambutnya penuh kasih.

"Jincha hyung?" matanya berbinar mendengar jawabanku.

"Tentu saja," aku menggangguk memberinya kepastian.

"YAH KAU MAU CARI MASALAH DENGANKU YA? JALAN ITU PAKE MATA DAN JANGAN ASAL TABRAK PACAR ORANG DONK! NYARI MATI YA?"aku mendengar ribut-ribut tak jauh dari tempatku duduk bersama Jinwoon.

Kupalingkan wajahku dan melihat seorang pria mencengkeram baju seorang pemuda jangkung. Beberapa saat otakku bekerja memproses apa yang kulihat dan betapa terkejutnya aku ketika kutahu bahwa pemuda itu adalah Chansung, dongsaengku di perusahaan. Seolah mengerti dengan yang kulihat, Jinwoon juga memberikan reaksi yang sama denganku, yakni berlari ke arah kedua orang itu dan mencoba menghentikan pria yang hendak memukul Chansung.

"Hentikan!" aku menyingkirkan cengkeraman maut pria itu dari tubuh Chansung dan Jinwoon membawa Chansung menyingkir dari arena.

"Siapa kau? Berani ikut campur urusanku?" pria itu menatap galak padaku.

"Siapa aku bukan urusan bagimu. Maafkan kalau temanku punya salah padamu tuan," aku berusaha berbicar sesabar mungkin untuk menghindari perkelahian, karena aku tahu perkelahian tidak akan memberikan dampak yang baik bagi kami semua. Aku melirik ke arah Chansung yang seperti habis menangis dan kembali menatap pria yang masih terus menerus mengepalkan tinjunya seperti tak sabar untuk memukul.

"Temanku sedang ada masalah. Maaf kalau dia menabrak pacarmu barusan."

"Ah, persetan," dia siap melayangkan tinjunya ke wajahku namun aku segera berkata,"Kalau kau memukulku, kau akan masuk penjara dan wajahmu akan dipampang di TV."

Seorang wanita yang kebetulan berkerumun di sekitarku berteriak,"Im Seulong-ssi."

"Siapa?" Pria botak yang sangat bernafsu untuk memukulku itu menanyakan pada sang wanita.

"Dia model terkenal dari JYP Group."

"Apa?"

"Itulah sebabnya kalau kau memukulku, kau akan masuk penjara tuan. Sudahlah, maafkan temanku itu."

"Ba…baiklah. Aku tidak mau berurusan dengan polisi."

Setelah urusan dengan pria pemarah kelar, aku berjalan menuju Chansung dan Jinwoon. Jinwoon seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan dan aku menatap Chansung yang sepertinya sedang tenggelam dalam pemikirannya sehingga ia seperti tidak menyadari keberadaan kami di sisinya.

"Chansung you Ok?" aku bertanya pada dongsaeng yang sudah kuanggao seperti adikku sendiri ini.

Tidak ada jawaban. Chansung terus menatap hampa membuatku bingung.

"Chansung, apa yang terjadi?" Jinwoon sekarang yang berusaha bertanya. Jinwoon dan Chansung adalah teman baik. Mereka menjadi model di waktu yang hampir bersamaan. Mereka menjalani masa-masa trainee bersama dan itu jelas membuat mereka bersahabat.

Kembali tidak ada jawaban.

Jinwoon menatapku dan aku hanya bisa mengangkat kedua pundakku untuk memberitahunya bahwa kau juga tidak tahu apa membuatnya seperti ini. Belum pernah aku melihat Chansung sangat tertekan seperti ini. Tubuhnya seakan tidak bernyawa dan bisa dikatakan ia seperti zombie yang berjalan.

Tak berapa lama.

"Chansung! Oh God, there you are," Taecyeon tiba-tiba saja berdiri di depan kami sambil ngos-ngosan dan keringat bercucuran dari dahinya membasahi wajahnya.

"What's wrong Taec?" aku bertanya pada sang giant yang selalu saja berulah menyusahkan semua orang.

"Chan, kenapa kau lari dariku?" Taecyeon tidak mendengarkan pertanyaanku dan sekarang memegangi kedua pundak Chansung yang pandangannya tidak focus.

"Taec, waegurae?" aku kembali bertanya.

"Chan, dengarkan aku. Aku dan perempuan itu tidak ada hubungan," mata Taecyeon menyiratkan perasaan bersalah dan memelas, satu pandangan yang sangat jarang ditunjukkannya selama sepuluh tahun terakhir ini.

"Im Yoona. Dia Im Yoona kan hyung?" tiba-tiba Chansung bersuara setelah membuat kami semua panik dengan keadaannya yang mirip zombie.

"Ne."

"Dia gadis yang dijodohkan denganmu oleh kedua orang tuamu bukan?" sekali lagi Chansung berkata tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang terus menerus datar.

"Chan, dengar-."

"Hyung, aku sudah ingat semuanya."

Pegangan Taecyeon di kedua pundak Chansung melonggar seketika membuatku heran. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan sejak awal sehingga aku dan Jinwoon hanya bisa mendengarkan tanpa menginterupsi.

"You do?" suara Taecyeon yang tadinya bersemangat dan menggebu-gebu berubah menjadi lemah dan lirih.

"Ne."

"You mean everything?" sekali lagi Taecyeon berusaha mendapatkan kejelasan akan sesuatu, entah itu apa.

"Everything," kedua tangan Taecyeon langsung terlepas dengan sendiri dari pundak Chansung. Ia tertunduk dan kemudian terduduk di hadapan Chansung, dongsaeng yang kukira selama ini ia coba untuk hindari keberadaannya.

"Mianhae," ucapnya.

Pandanganku tertuju pada Chansung, kemudian berpindah pada pemuda yang kini berlutut di hadapannya dan kembali lagi pada Chansung yang masih tidak menunjukkan ekspresinya. Tanpa terasa suasana ini membuatku merinding dan sekejap saja rasa takut menjalari sekujur tubuhku. Aku dikagetkan oleh tangan Jinwoon yang juga berusaha meraih lenganku untuk menunjukkan bahwa ia tidak mengerti apa yang terjadi.

"Kau sangat jahat hyung," Chansung berkata kemudian tangisnya pecah dan seperti terserang sakit kepala mendadak, ia mencengkeram rambut di kepalanya dan ikut terjatuh ke tanah membuat kami semua panik dan khawatir. Air matanya bercucuran dan matanya tertutup rapat menandakan bahwa ia merasa sangat kesakitan. Taecyeon dengan cepat mencoba membopong Chansung yang berusaha berguling-guling di tanah sambil terus meneriakkan,"Chansung, Channie please wake up!"

End of Seulong POV

©Davidrd copyrights©

"OK TAECYEON WHAT THE FUCK ARE YOU DOING RIGHT NOW?" Junho berlari dan memukuli dada sang giant dengan kedua tangannya. Kali ini Junsu tidak bisa berbuat apa-apa karena ia merasa bahwa ia sudah tidak bisa membela Ok Taecyeon lagi. Bukan karena ia tidak percaya padanya, hanya karena ia merasa bahwa kepercayaannya telah disalahgunakan.

Sang giant yang dipukuli juga tidak bergerak sama sekali. Ia tidak berusaha menangkis pukulan itu, walaupun ia bisa saja menyingkirkan pemuda berambut merah itu dalam waktu sekejap saja. Ia merasa bahwa dirinya pantsa untuk dipukul, bahkan pantas untuk dibunuh jika perlu.

Nickhun dan Wooyoung datang dengan tergesa-gesa dan wajah yang khawatir serta kepanikan yang melanda. Keduanya terlihat baru saja selesai bekerja dan langsung menuju ke rumah sakit. Seulong dan Jinwoon yang turut berada di lorong rumah sakit masih belum mnegerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya ikut membantu Taecyeon membawa Chansung ke rumah sakit. Itu saja.

"OK TAECYEON YOU BASTARD. HOW CAN YOU DO THIS TO MY BABY CHANNIE. YOU ARE SUCH A BEAST OK TAECYEON," Junho menangis dan serasa lututnya lemas sehingga ia hampir saja jatuh ke lantai sebelum akhirnya Junsu menyangga tubuhnya.

"Baby, tenanglah. Kita tunggu dokter keluar dulu ya?" Junsu memeluk tubuh Junho yang lemas.

"Apa yang terjadi?" Nickhun bertanya pada Seulong.

"Chansung pingsan di taman hiburan, sisanya aku tidak tahu Khun," Seulong menjawab.

"Hyung, apa Chansung mengingat semuanya?" Wooyoung menunjukkan kekhawatiran yang berlipat-lipat sekarang.

"Mungkin saja," Nickhun hanya bisa menatap lurus pada pintu Ruang Gawat Darurat dimana Chansung berada.

"My Baby Channie, apa dia akan baik-baik saja Su?" Junho menangis sesenggukan di pelukan Junsu yang masih sibuk mengusap punggungnya untuk menenangkannya.

"Aku rasa dia akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat Junho-ah," Junsu mengecup pelan puncak kepala merah Junho.

"Hyung, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Taecyeon hyung berpacaran dengan Chansung?" Jinwoon menatap Seulong.

"Molla. Aku tidak tahu Jinwoonie. Kita tanyakan pada mereka kalau semuanya sudah tenang."

©Davidrd copyrights©

2013

TBC

Balesan comment nunggu chap berikutnya ya…. Gomawoooooo ^^v.