Chapters 11

Sakura baru saja pulang dari rapat antara LDK UNISKO dan UNICHI. Membahas agenda GEMPAR bersama-sama dan kini Sakura hendak datang menuju gedung perusahaan Sasuke. Ia ingin memberitahu mengenai agenda itu.

Baru saja datang dan masuk ia tak sengaja bertemu dengan Yugao yang kini terlihat telah berhijab. "Hai Sakura." sapa Yugao dengan ramah.

"Eh kak Yugao apa kabar?" sahut Sakura ramah.

"Alhamdulillah sehat. Kamu?"

"Alhamdulillah kak, aku sehat."

"Mau kemana nih?" tanya Yugao.

"Ketemu kak Sasuke." jawab Sakura.

"Aa begitu tapi Sasuke-sama saat ini sedang rapat diluar negeri dengan beberapa dewan direksi, apa dia tidak memberitahu mu?" ujar Yugao.

"Aa mungkin dia sudah memberitahu kak, tapi ponsel ku mati." kata Sakura lesu. Yugao tersenyum tipis. "Mau mampir keruang kerjaku?" tawarnya.

"Boleh." kata Sakura.

Skip time*

"Jadi sedang hamil nih." kata Yugao tersenyum setelah mendengar Sakura bercerita seraya menaruh segelas teh hangat diatas meja untuk Sakura. Kemudian ia duduk disofa, berhadapan dengan Sakura dan hanya terpisah oleh meja kaca.

"Iya kak hehehe." sahut Sakura. "Oh ya kakak sudah menikah selama empat tahun dengan kak Hiko kan, boleh dong aku tahu gimana sih cerita pertemuan kalian?" tanya Sakura dengan nada menggoda. Yugao tertawa kecil mendengarnya.

"Kau akan terdiam dan akan marah padaku kalau aku cerita." jawab Yugao seraya meminum tehnya.

"Untuk apa aku marah, aku tidak akan marah. Apa kalian pacaran? Emmm maafkan hehehe." ujar Sakura tak enak hati dan memilih untuk meminum tehnya.

Yugao tak berbicara apapun melainkan hanya tersenyum. "Benar kata Yahiko, kau polos dan akan meminta maaf kalau sudah berbicara terlalu panjang." katanya. Sakura menundukkan kepalanya sebentar.

"Sudah jangan merasa bersalah Sakura tidak apa, dan aku akan bercerita. Dan aku harap kau tidak menyela tapi kau berhak marah padaku." ujarnya.

"Maksud kakak-"

"Akan aku ceritakan." potong Yugao cepat. Sakura mengangguk pasrah.

Yugao mulai bercerita dari awal. Dari ia mengenal keluarga Uchiha hingga awal pertemuannya dengan Yahiko dan berlanjut dengan rasa cinta yang ia rasakan kepada Yahiko dan cerita dimana Yahiko kenal dengan muslimah asal Jerman yang begitu baik dan lemah lembut. Mereka hanya teman tapi tanpa mereka ketahui mereka saling mencintai.

Tapi cinta Yugao kepada Yahiko itu buta. Ia rela melakukan apapun agar Yahiko menikah dengannya bukan dengan Fatimah. Hingga mengaku hamil.

Lamarannya pun batal dan Yahiko menikahi Yugao secara terpaksa. Hingga pada Yahiko dipenjara.

Sakura terdiam seribu bahasa. Marah, kesal, kecewa. Ia rasakan. Sakura menggengam erat gelasnya yang masih terasa panas.

"Maaf kak. Aku permisi dulu. Aku baru ingat harus membeli susu dan tomat. Assalamu'alaikum." Sakura pamit tanpa melihat wajah Yugao dan pergi begitu saja.

"Waalaikum'salam." jawab Yugao setelah pintu tertutup. Ia pun tersenyum sendu menatap awan mendung dari jendela kaca yang ada diruangannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke masih tampak sibuk dengan aktivitasnya, memeriksa beberapa berkas dan dokumen yang ia bawa dari kantor. Sesekali ia melirik kearah Sakura yang juga sibuk membuka beberapa buku tebal untuk menulis dan mencari materi yang tepat untuk skirpsi dan belum juga menemukan judul yang pas untuk skripsi.

Sepuluh menit kemudian Sakura menghela nafasnya lelah dan juga bersyukur karena ia sudah mendapat judul yang tepat dan materi yang sesuai.

Jam yang menempel didinding telah menunjukkan pukul sembilan malam namun kedua pasangan itu belum juga berminat untuk mengistirahatkan diri. Sasuke sedikit merasa barsalah karena seharusnya ia tidak membawa perkerjaannya kerumah lalu ia pun menutup laptopnya dan membereskan berkas dan dokumen dan meletakknya disofa yang ada dikamarnya lalu menghampiri Sakura yang masih sibuk dimeja belajar.

"Ayo istirahat, kau pasti lelah dan kerjakan besok saja sisanya." ujar Sasuke seraya mengambil alih buku yang cukup tebal dari genggaman Sakura.

"Tapi kak, aku ini gak cukup pintar jadi harus belajar ekstra." kilah Sakura dan mengambil buku dari tangan Sasuke lagi.

"Kau sedang hamil Sakura. Tidak baik tidur terlalu malam." tegur Sasuke lebih tegas dan membereskan semua buku milik Sakura dan menggendong Sakura menuju tempat tidur. Tak peduli jika istrinya itu sedikit memberontak dengan wajah yang merah padam.

"Akan aku bantu kau mengerjakan skripsi mu itu, jadi sekarang kau istirahat." kata Sasuke dan membaringkan Sakura ditempat tidur dan ia pun ikut berbaring disamping istrinya itu.

Sakura menghela nafasnya lagi dan dengan sedikit terburu-buru ia memeluk tubuh Sasuke yang baru saja berbaring tanpa peduli Sasuke sedikit kualahan akan tindakkannya.

Sakura menyusupkan kepalanya di leher Sasuke membuat siempunya leher sedikit terbatuk karena merasa sedikit tercekik.

"Sakura." ucap Sasuke pelan.

"Kak." panggilnya pelan.

"Ada apa?" tanya Sasuke pelan dan membernarkan posisinya dan membiarkan lengan kirinya menjadi bantal kepala Sakura dan tangan kirinya berusaha menutupi tubuh keduanya dengan selimut.

"Menurut kakak, wanita yang baik itu seperti apa?" tanya Sakura.

"Wanita yang mampu menjaga kesuciannya, penglihatannya, perkataannya, pikirannya, pendengarannya, perbuatannya, dan hatinya." jawab Sasuke seraya membenarkan selimut.

"Kalau wanita itu hanya mampu menjaga kesuciannya dan yang lainnya tidak?" tanya Sakura lagi.

"Kalau wanita itu berakhlak baik dan berpikir positif, ia adalah angka 1. Kalau ia juga cantik, tambahkan 0, jadi 10. Kalau ia juga punya harta, imbuhkan lagi 0 jadi 100. Kalau ia cerdas imbuhkan lagi 0 jadi 1000. Jika seorang wanita memiliki semuanya tapi tidak memiliki yang pertama, ia hanya '000'. Tidak bernilai sama sekali."

"Kalau ia berusaha untuk kembali memperbaiki dirinya kembali?"

"Itu lebih baik, memohon ampun kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulang kesalahannya itu lagi. Maka kesalahannya akan dimaafkan tapi ingatlah bahwa apa yang kita kerjakan saat ini akan dipertanggung jawabkan nanti di hari akhir."

"Ya aku harap dia benar-benar berubah." Sakura mengeratkan pelukkannya.

"Siapa yang kau bicarakan Sakura?" tanya Sasuke to the point. Sakura terdiam. "Kau tidak akan bertanya kalau tidak ada sebab." lanjutnya.

"..." Sakura menggeleng pelan.

"Tidak apa, katakan saja."

Sakura membuang nafas dileher Sasuke kemudian dia menjauh sedikit dan menatap sepasang mata kelam milik suaminya dan mulai bercerita mengenai Yugao dan Yahiko. Dan Sasuke diam mendengarkan dengan baik.

Sasuke sedikit terkejut dan tak percaya akan apa yang dilakukan oleh Yugao. Gadis yang selama ini diasuh ayahnya dengan baik mampu melakukan semua ini. Setelah Sakura menjelaskan semuanya, ia berharap suaminya itu tidak akan memberitahukannya kepada orang lain dan Sasuke berjanji akan hal itu.

"Apa yang dilakukan Yugao itu salah dan tindakkan yang diambil oleh Yahiko juga salah. Jika memang benar apa yang dikatakan Yugao adalah salah, Yahiko berhak untuk melawan dan meloporkannya kepolisi dan polisi dapat memcahkan masalah itu dengan tepat dan benar. Karena apa yang dikatakan oleh Yugao adalah fitnah dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya dan karena Yahiko memutuskan untuk menikahi Yugao maka ia dengan sendirinya masuk kedalam perangkap dan membuat orang-orang percaya kalau yang ia benar-benar telah menyentuh Yugao."

"Dan selama empat tahun tidak ada yang mengetahui bahwa mereka suami istri dan mereka bersikap tak saling kenal dan pada akhirnya hanya bersikap layaknya teman. Apa pernikahan seperti itu benar? Tidak Sakura. Itu tidak benar."

"Dan kau tahu mengapa Yugao melakukan itu?" Sakura menggeleng pelan.

"Karena jatuh cinta. Jatuh dan cinta. Mencintai itu boleh tapi jangan menyakiti. Seperti halnya cinta Fatimah dan Ali. Ali tidak pernah menganggu setiap laki-laki yang mencoba melamar Fatimah dan Fatimah tidak pernah marah atau kesal saat yang melamarnya bukan Ali. Mereka saling mencintai tapi tidak saling mengetahui. Mereka saling menjaga sikap dan tindakkan. Ucapan dan penglihatan hingga setan pun tidak mengetahui tentang rasa cinta yang mereka rasakan dan Allah pun menyatukan mereka didalam sebuah ikatan pernikahan."

"Sakura, Suami istri itu bagaikan sepasangan sepatu walau tak sama persis namun serasi saat berjalan tak pernah persis berdampingan tapi tujuannya sama walau tak pernah bisa ganti posisi, namun saling melengkapi. Selalu sederajad, tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Bila yang satu hilang, yang lain tak punya arti."

Sakura tersenyum mendengar penjelasan suaminya, memang benar apa yang dijelaskan oleh suaminya itu. Suami dan istri itu berbeda tapi pernikahan adalah tujuan mereka untuk saling melengkapi dan menemani disaat susah maupun senang.

"Aku mengerti kak, apa yang kakak katakan benar tapi semuanya telah terjadi dan mungkin ini juga sudah takdir mereka, kita orang terdekat hanya bisa mendukung saja dan mendoakan hal yang baik bagi mereka."

Sasuke menggangguk setuju. "Sekarang kita tidur Sakura, karena ini sudah malam." Sakura kembali memeluk Sasuke erat. "Iya kak."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Azan subuh belum berkumandang tapi musolah kecil yang ada di dalam rumah milik pasangan Uchiha ini telah ada paman Yuu, paman Zuko dan juga bibi Suri yang duduk sesuai saf dan Sakura masih mengambil wudhu sedangkan Sasuke duduk dengan diam seraya berzikir menunggu azan subuh.

Azan subuh telah berkumandang tepat setelah Sakura duduk disamping bibi Suri dan mereka pun duduk diam mendengarkan azan dan membalas azan dengan mengucapkan beberapa kalimat pujian untuk Allah.

Dan sholat subuh pun dimulai dengan hikmat.

"Allahu akbar!"

.

.

.

Setelah sholat usai Sakura salim dengan Sasuke lalu bersalaman dengan bibi Suri dan paman Yuu dan Zuko bersalaman dengan Sasuke dan dilanjutkan dengan ketiga pria itu membaca Al-Qur'an dan sedikit kuliah subuh dengan Sasuke.

Sedangkan Sakura dan bibi Suri membuat sarapan. Sakura tidak pernah menganggap orang yang berkerja dirumahnya adalah bawahan tapi lebih tepat teman. Karena Allah sendiri menganggap semua manusia itu sama tidak ada yang kaya atau miskin jadi untuk apa Sakura menyombangkan dirinya dan menganggap pembantunya itu rendah? Karena hanya Allah lah yang berhak sombang karena semua yang ada didunia ini adalah milik-Nya dan apa yang manusia miliki saat ini hanyalah titipan dari-Nya.

"Bi, sarapan kali ini kita buat bubur jagung saja dan jagungnya sudah aku beli kemarin dan ada di kulkas." kata Sakura.

"Apa nyonya sedang ingin makan bubur jagung?" tanya bibi Suri dan tersenyum tipis. Wajah Sakura sedikit merona. "I-Iya." Sakura mengangguk seraya menyiapkan mangkuk dan gelas lalu bahan-bahan untuk membuat bubur.

"Sepertinya ngidam untuk pertama kalinya, lalu selain bubur nyonya mau makan apa lagi?" tanya bibi Suri penasaran.

"Sebenarnya aku ingin sekali makan pempek Palembang seperti yang dibawakan paman Iruka satu tahun yang lalu. Sejak kemarin aku ingin memakannya." jawab Sakura.

"Pempek Palembang, itu jenis makanan apa nyonya?" tanya bibi Suri bingung karena baru kali ini ia mendengar nama makanan tersebut.

"Itu loh bi, makanan khas kota Palembang, orang menyebutkan pempek Palembang dan kota Palembang itu ada di Indonesia." jawab Sakura sedikit kecewa. Bibi Suri yang sedang mengupas kulit jagung juga terlihat bingung.

"Indonesia? Jauh sekali nyonya. Memangnya di Jepang tidak ada yang menjual makanan itu?" Sakura menggeleng singkat. "Tidak ada bi dan dari kemarin aku mau memakannya." kata Sakura dengan wajah cemberut.

Wanita yang sedang ngidam terkadang suka meminta yang aneh-aneh, kok aku jadi seperti bernostalgia, pikir bibi Suri dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Akan aku buat untuk nyonya kalau aku tahu resepnya." ujar bibi Suri. Sakura tersenyum senang mendengarnya tapi ia kembali merengut. "Aku mau yang membuatnya orang Palembang asli." ujarnya.

Bibi Suri menggelengkan kepalanya lagi lalu mencuci jagung yang sudah ia kupas sedangkan Sakura duduk dikursi. "Tapi nyonya kota Palembang itu jauh."

"Tapi aku mau pempek Palembang dan orang Palembang yang bikinnya." kata Sakura sedikit kesal dan bibi Suri menyedari nada suara Sakura sedikit meninggi. Ibu hamil memang sensitiv jadi dia merasa maklum dengan perubahan sikap nyonya mudanya itu.

"Maaf bi." bibi Suri menoleh singkat kearah Sakura, ia tersenyum kecil. "Tidak apa nyonya." bibi Suri menyayangi Sakura seperti anaknya sendiri meski ia baru beberapa minggu berkerja disini tapi ia sudah paham akan sifat Sakura. Sakura mudah meminta maaf kalau ia merasa bersalah.

"Aku bantu." ucapnya kemudian dan membantu bibi Suri membuat bubur jagung. "Nyonya kalau ngidam bilang sama bibi nanti bibi buatkan makanan yang nyonya suka. Wanita hamil kalau ngidam itu wajar." ujar bibi Suri.

"Tadi aku membentak bibi, maaf yang bi." kata Sakura menyesal. bibi Suri menggeleng pelan. "Tidak kok nyonya tidak membentak." kilahnya.

"Ugh." Sakura meringis pelan lalu berlari ke kamar mandi yang ada didapur dan muntah. Bibi Suri cukup cemas melihatnya lalu meninggalkan masakannya sebentar dan hendak menyusul Sakura namun suara baritone yang ada dibelakangnya menghentikan tindakkannya.

"Bibi siapkan saja Sarapan." kata Sasuke dan bibi Suri menyingkir dari pintu kamar mandi dan kembali menyiapkan sarapan dan Sasuke masuk begitu saja.

"Hoeekk... Hoeeekk..." Sakura terus memuntahkan isi perutnya namun tidak ada yang keluar. Sakura sedikit menderita karena muntah-muntah yang sering ia alami setiap pagi. Tubuhnya melemah seketika dan secara perlahan tubuh Sakura merosot dan hampir mencium lantai namun dengan cepat Sasuke memeluk tubuh Sakura dari belakang.

"Sakura! Kamu tidak apa-apa?" tanya Sasuke khawatir dan lalu menyelipkan tangan kanannya keleher Sakura dan tangan kirinya menyusup kebawah paha Sakura. Sasuke langsung menggendonh tubuh Sakura dan membawanya kekamar tak lupa ia meminta bibi Suri untuk membawa sarapan untuk Sakura kekamar.

Dibaringkannya tubuh lemah Sakura ketempat tidur dan menyelimuti tubuh Sakura yang sedikit terasa dingin. "Kak." ucapnya pelan.

"Sudah kamu istirahat saja ya." kata Sasuke lembut. Sakura memejamkan matanya sesaat kemudian membukanya lagi, memperlihatkan sepesang emerald hijaunya terlihat sayu. "Hari ini aku ada rapat kak." Sasuke menghembuskan nafasnya pelan. "Aku mau hari ini kau istirahat Sakura, aku tidak mau terjadi apapun padamu apalagi kau sedang mengandung." Sakura menggembungkan pipinya kesal dan malah membuat Sasuke gemas melihatnya lalu ia cubit pelan pipi Sakura.

"Aw! Kakak sakit." Sakura meringis pelan seraya mengusap pipi kanannya pelan. "Hari ini kau istirahat dan tidak boleh kemana pun. Kebetulan hari ini aku cuma ada jadwal rapat dengan beberapa kepala devisi setelah itu aku akan pulang. Takkan lama." Sakura mengangguk pelan. "Baik kak."

Tok! Tok! Tok!

Setelah mendapat jawaban dari dalam, bibi Suri masuk kedalam kamar sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur jagung da segelas teh hangat. Tak lupa ia mengucapkan salam sebelum masuk dan dijawab oleh kedua majikannya.

Bibi Suri menaruh nampan diatas meja nakas, setelah itu ia pamit keluar.

"Kamu makan dulu biar baikan setelah nanti aku pulang, kita akan pergi ke dokter." kata Sasuke sambil meraih mangkuk berisi bubur dan mengaduk-aduknya agar dingin.

"Kak?"

"Hn?"

"Aku mau makan pempek Palembang. Tapi yang asli bikinan orang Palembang." Sasuke mengangkat sebelah alisnya heran. Mungkin ngida, pikirnya.

Sasuke beranjak dan mengambil ponselnya dari atas meja belajar Sakura dan menelpon seseorang.

"Waalaikum'salam." kata Sasuke menjawab salam dari telpon.

"Kau masih di Palembang?"

"..."

"Begitu, baiklah. Kau belikan pempek Palembang ya. Yang banyak nanti uang mu aku ganti."

"..."

"Hn, terimakasih."

"..."

"Waalaikum'salam."

"Siapa yang kakak telpon?" tanya Sakura. Sasuke tersenyum tipis dan menaruh ponselnya diatas meja. "Salah satu karyawanku ada di Palembang untuk beberapa hari untuk menemui keluarga istrinya yang sedang mengadakan pesta pernikahan dan untunglah, ia saat ini akan segera pulang dan saat aku telpon tadi, ia sedang membeli oleh-oleh sebelum pesawatnya berangkat." jawab Sasuke.

"Waaah kebetulan sekali, makasih ya kak." ujar Sakura dengan senangnya.

"Sama-sama. Dan sekarang habiskan buburnya ya."

"Suapi ya kak."

"Hn."

"Hn apa?"

"Artinya iya sayangku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura tak dapat menahan senyumannya saat Sara mengatakan bahwa anak yang ia kandung dalam keadaan sehat bahkan Sasuke yang jarang menampakkan ekspresi kini terlihat bahagia.

"Jaga Sakura baik-baik Sasuke-san dan insyaallah kita mulai bisa mengetahui jenis kelaminnya dua bulan yang akan datang." kata Sara selaku dokter kandungan seraya tersenyum setelah mengatakan hasil pemeriksaannya.

"Terima kasih Sara, kau sudah memeriksa Sakura." kata Sasuke tulus. Sara menundukkan kepalanya sebentar.

"Sama-sama dan kau harus jadi suami siaga Sasuke-san apalagi dia pasti akan mengidam banyak hal." Sakura tertawa kecil mendengar perkataan Sara. Semua itu memang benar adanya.

"Baiklah kalau begitu kami permisi. Assalamu'alaikum." pamit Sasuke. Dan Sakura ikut mengucapkan salam.

"Waalaikum'salam." jawab Sara.

Sasuke dan Sakura berjalan bersama-sama dilorong rumah sakit sesekali mereka melirik satu sama lain dan Sakura akan menundukkan pandangannya saat Sasuke mengetahui kegiatannya.

"Kamu lucu." Sasuke tersenyum tipis. Wajah Sakura semakin merona.

"Aku gak lucu." cicit Sakura seperti anak kecil.

"Ya sudah baiklah. Oh ya bagaimana dengan agenda gempar?" tanya Sasuke.

"Kakak tenang saja semuanya sudah beres hari minggu ini acaranya kakak mau kan ngisi acara talk show kami lagi? Temanya ya gempar kak, kakak jelaskan saja semuanya mengenai hukum-hukumnya dan juga hadis mengenai hijab." jawab Sakura dengan serius.

"Tentu saja kakak akn mengisi acaranya kau tenang saja." senyum Sakura semakin lebar mendengarnya kemudian ia berjalan lebih dulu dari Sasuke berharap suaminya tidak melihat wajahnya yang merah seperti tomat.

.

.

.

Sesuai dengan agenda tanggal 4 hari minggu ini acara GEMPAR resmi dibuka. Puluhan anggota LDK UNICHI dan UNISKO serentak turuk kejalanan dan membagikan hijab gratis kepada setiap perempuan yang mereka temui dan tak lupa mereka bertanya dulu apa wanita itu muslim atau bukan bukan bersikap diskriminasi dan memaksa mereka yang non-muslim harus masuk islam.

Tapi para wanita non-muslim hanya tersenyum maklum karena apa yang dilakukan oleh para aggota LDK adalah untuk memperkuat iman para muslimah. Sakura sangat senang membagikan hijab bersama teman-temannya.

"Sakura setelah sholat asar kita kumpul di aula UNISKO untuk acara talk show dan tolong jangan paksakan dirimu." kata Ino sedikit khawatir apalagi Sakura sedang hamil muda.

"Kau tenang saja." kata Sakura.

"Sakura ini sudah jam dua siang kau harus istirahat." kata Ino cemas melihat bibir pucat Sakura.

"Setelah hijab ditanganku habis." Sakura tersenyum lebar dan Ino mendengus kesal, masih ada lima hijab ditangan Sakura. Sakura sudah membagikan hijab sejak pukul sebelas siang dan istirahat sebentar jika lelah dan sholat zuhur.

"Aku mohon Sakura kalau tidak aku akan melapor pada suamimu." ancam Ino.

Sakura masih terus keras kepala dan menghampiri para ibu-ibu dan bertanya apa mereka muslimah. Namun mereka menggeleng dan pergi meninggalkan Sakura. Semangat Sakura tidak padam begitu saja. Ino semakin khawatir melihat keringat Sakura yang becucuran dan pucat, segera Ino mengeluarkan ponselnya untuk mengirim email kepada Sasuke dan kalau tanya dari mana ia tahu alamat email Sasuke itu karena pada saat mereka ingin meminta Sasuke mengisi acara talk show bertema cinta islami kemarin.

Kedua mata Ino terbelalak saat dilihatnya Sakura jatuh pingsan dan tubuhnya jatuh dari atas anak tangga yang berjumlah tiga.

"SAKURA!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Maaf gak bisa membalas reviews kalian satu-satu tapu terima kasih atas saran dan komentarnya dan maaf kalau fanfic aku ini sangat jauh dari kata bagus, kurang greget, kurang romansanya dan kata-kata yang tidak baku, pendiskripsian emosi tokoh juga kurang maafkanlah aku karena aku masih baru dalam hal menulis.

Gomenasai minna *Membungkuk 90'