Jingga dan Senja

Main Cast : Kai, Chanyeol, Sehun, Baekhyun

Pairing: Kaihun?or Hanhun?

Genre : Drama, romance, slice of life

Disclaimer : saya repost cerita punyanya kak Esti Kinasih yang judulnya Jingga dan Senja, ada yang tau? Ini versi buat anak exo nya tapi.

Thanks banget buat yang udah mau ngereview, kalian selalu bikin saya ga tega buat kalian nunggu, karena saya tau rasanya nunggu ff yang lama banget update itu ga enak makanya saya selalu coba buat fast update hehehe

Jadi sehun itu siapanya kai ya?hmmm cari tau sendiri deh nanti ga seru dong kalau udah diceritain duluan hehehehe

Part 11

Keesokan harinya, begitu Kaii memasuki tempat parkir, dilihatnya Chanyeol sedang duduk di atas salah satu motor yang diparkir. Begitu melihat Kai, Chanyeol langsung melompat turun dan menghampiri.

"Udah aku datengin lagi gadis itu tadi. Iya, dia nggak cerita ke siapa-siapa. Dan dia juga baik-baik aja, Man," lapornya. "Sebelumnya aku juga udah ke secretariat, tapi mereka ngotot nggak mau ngasih tau nomor telepon sama alamat rumah Sehun. Aku udah tanya ke orangnya langsung sih, tapi dia nggak mau ngasih tau. Aku juga nggak mau maksa."

Kai mengangguk. Dilihatnya jam tangannya. Masih lima belas menit lagi sebelum bel.

"Titip," diserahakannya tas dan jaketnya ke Chanyeol. "Aku mau ke kelas gadis itu dulu." Langsung ditinggalkannya Chanyeol, yang masih berdiri di tempatnya, memeluk jaket dan tas milik Kai sampai sang pemilik hilang dari pandangan.

"Bakalan ada berita besar nih. Akhirnya ada seorang gadis yang ditaksir Kai," desah Chanyeol sambil berjalan kearah koridor.

Begitu Kai muncul di pintu kelas Sehun, saat itu juga pria itu menjadi fokus tatapan. Semua yang menyadari kehadiran pentolan sekolah itu seketika menghentikan kegiatan masing-masing dan mengikuti setiap langkahnya dengan penuh perhatian sekaligus tanda tanya.

Sesaat Kai berdiri di ambang pintu, memindai seluruh isi kelas. Gadis yang dicarinya berada di antara sekelompok gadis yang duduk berkelompok. Asyik ngobrol dengan riuh. Dasar wanita, katanya dalam hati. Sehari aja nggak ngegosip, mati kali ya?

Tak seorang pun dari gadis-gadis itu menyadari kehadiran Kai. Sampai Kai meraih sebuah bangku lalu menariknya tepat ke sebelah Sehun dan menjatuhkan diri di sana, baru gadis-gadis itu tercengang. Apalagi Sehun. Kai menyambut tatapan-tatapan kaget yang terarah padanya itu dengan senyum.

"Tolong pada pergi ya. Aku ingin bicara dengan Sehun," ucapnya dengan nada otoritas seorang kakak kelas. Gadis-gadis itu langsung menurut. Mereka bubar. Berjalan menuju bangku masing-masing, tapi dengan kedua mata melirik ingin tahu kearah dua orang itu. Termasuk Baekhyun. Meskipun yang dia duduki bangkunya sendiri, gadis itu ikutan pergi, duduk berimpitan dengan Kyungsoo.

Kai memajukan tubuhnya. Dia letakkan kedua lengannya di meja, kesepuluh jarinya saling bertaut. Dilakukannya itu agar bisa menatap muka Sehun, yang tidak bisa dilakukan kalau posisi duduknya sama seperti gadis itu, menempelkan punggung di sandaran bangku.

Kemunculan Kai membuat suasana kelas menjadi hening. Semua mata terarah padanya meskipun tidak terang-terangan. Semua telinga terpasang tajam-tajam. Kai tahu itu, karenanya dia bicara dengan suara perlahan. Sebenarnya dia bisa masa bodo, tapi akibatnya untuk Sehun yang dia pikirkan.

Dengan kepala dimiringkan, Kai menatap gadis yang duduk di selah kanannya itu. Ketegangannya terlihat jelas. Bukan hanya di muka dan sorot kedua matanya, tapi juga sikap tubuhnya.

Sebenarnya Kai juga dalam kondisi yang sama. Bahkan lebih parah. Gejolak emosi itu sudah membuatnya kacau sejak diketahuinya nama lengkap gadis ini. Kalau saat ini dia terlihat tenang, itu karena Kai memaksakan dirinya untuk tenang. Namun, dia tahu dengan sangat pasti, ketenangannya ini serapuh gelembung sabun.

"Kau tidak cerita ke siapa pun, kan?" tanyanya dengan suara pelan.

"Nggak, Sunbae." Sehun menggeleng.

"Luhan mengantarmu sampe rumah?"

"Iya." Sehun mengangguk, heran gimana Kai bisa tahu.

"Ngomong apa aja dia?"

"Cuma ngobrol…"

Sehun tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Kai memotongnya dengan satu perintah.

"Majuin dudukmu." pria itu menggerakkan dagunya ke depan. Sehun menatapnya bingung.

"Aku udah memintamu jangan cerita apa-apa, kan?" suara Kai makin pelan.

"Kalo caranya kayak gini sama aja bohong, lagi."

"Oh!" Sehun langsung mengerti. Dia majukan duduknya, tapi tanpa sadar arahnya menyerong, agak menjauh dari Kai.

"Deketan sini. Malah makin jauh, lagi. Tenang aja, aku nggak ngegigit. Kalopun iya, nggak bakal aku lakuin itu di depan banyak orang." Kalimat itu kontan membuat muka Sehun memerah. Digesernya tubuhnya mendekati Kai.

"Sip!" Pria itu mengangguk kecil. "Sekarang cerita. Jangan ada yang diumpetin ya."

Tanpa berani menatap Kai, Sehun menceritakan semuanya. Sejak dia dan Baekhyun dibawa paksa ke Busan High School dengan motor Suho dan Chen. Perlakuan yang diterimanya di sana, yang sebagian juga diketahui Kai, sampai dia diantar pulang oleh Luhan.

Selama gadis itu bercerita, suasana kelas semakin hening lagi. Baik Kai maupun Sehun, keduanya menyadari itu. Sehun jadi semakin lirih, membuat Kai jadi menggeser tubuhnya semakin dekat. Kepalanya yang sejak tadi menoleh ke arah Sehun dengan posisi menunduk semakin dia tundukkan karena kepala Sehun juga semakin menunduk. Ketika cerita Sehun sampai di bagian Luhan mengajaknya makan, reaksi Kai seperti tersengat.

"Makan!?" desisnya. Kedua matanya yang sejak tadi terus menatap muka Sehun seketika menyipit tajam.

"Iya." Sehun mengangguk, jadi ngeri. "Di deket rumah sih."

"Dan kau mau?"

Entah kenapa, seperti ada alarm yang tak mengeluarkan suara bordering di dalam kepala Sehun. Yang memeperingatkan gadis itu untuk tidak memperlihatkan keterpihakan pada Luhan bahkan dalam skala terkecil, di depan Kai.

Karena itu Sehun nggak berani bilang sikap Luhan tuh baik dan manis. Jadi dia nggak merasa terancam. Beda dengan saat bersama Kai begini. Meskipun dikelilingi teman sekelas, nggak Cuma berdua, Sehun merasa seperti ada bahaya yang sedang mengintai.

"Katanya dia dari pagi belom makan. Gara-gara itu…" Sehun terdiam. Diliriknya Kai takut-takut. "Itu… sibuk bikin rencana mau nyerang sekolah kita." Suaranya jadi semakin lirih lagi, tapi Kai bisa mendengarnya dengan jelas.

"Karena dia sibuk bikin rencana nyerang sekolah kita, yang langsung dilanjut dengan realisasi, jadi nggak sempet makan. Terus kau menemaninya makan. Hebat!" Kai mengangguk-angguk.

Sehun langsung menyesal kenapa bagian yang ini nggak dia simpan untuk diri sendiri aja. Tapi kalo dipelototin gini, mau nggak jujur susah juga.

"Cuma sebentar kok. Yang makan juga cuma dia. Saya cuma minum aja."

Kai mengangguk-angguk lagi.

"Kau dimaafkan kalo begitu."

Diam-diam Sehun menarik nafas panjang, lega. Kai menatap jam tangannya. Kurang lima menit lagi bel masuk akan berbunyi. Sekarang ganti pria itu yang menarik napas panjang diam-diam. Kedua matanya menatap lurus-lurus ke depan. Ke arah whiteboard yang saat itu bersih tanpa sedikit pun tulisan. Pria itu mencoba mencari kekuatan dalam belantara putih di fokus pandangannya itu.

Kai tidak sadar, dia telah menciptakan keheningan yang mencekam. Meskipun tidak bisa mendengar percakapan kedua orang itu dengan jelas, seisi kelas bisa merasakan ketegangan sedang meningkat, karena bahasa tubuh Kai mengatakan itu dengan jelas.

Kai menoleh, mengembalikan tatapannya pada gadis yang duduk diam di sebelahnya. Rambut panjangnya diikat ekor kuda. Sebuah pita oranye menghiasi ikatan itu. Kedua telinganya dihiasi anting-anting plastik berbentuk matahari sedang bersinar. Lagi-lagi berwarna oranye dengan gradiasi kuning. Ada sebentuk cincin lucu melingkari jari tengah tangan kirinya. Lagi-lagi berbentuk matahari. Kali ini matahari itu sedang tersenyum lebar.

Cewek ini! Desis Kai dalam hati. Kelu. Bisa dirasakannya detak jantungnya mulai bergemuruh, karena luka-lukanya yang memang selalu terbuka mulai mendenyutkan rasa sakit. Ketika kemudian mulutnya terbuka, Kai sudah nyaris mengerahkan seluruh kekuatannya agar emosinya tetap terjaga.

"Bener namamu Sehun Jingga Matahari?" bisiknya.

"Iya." Sehun mengangguk.

Kai jadi tertegun. Seiring dengan jawaban Sehun, kedua mata hitam Kai menggelam dengan cepat.

"Sehun Jingga Matahari atau Sehun Matahari Jingga?" kejar Kai, membuat kening Sehun jadi mengerut.

"Sehun Jingga Matahari."

" Sehun Jingga Matahari ya, bukan Sehun Matahari Jingga?" Kai seperti meminta kepastian.

"Iya. Sehun Jingga Matahari." Sehun mengangguk.

Kai mengangguk-angguk. Nyaris di luar kesadarannya, karena kedua matanya masih tertancap lurus-lurus pada raut muka Sehun. Baginya, kombinasi kedua kata itu tidaklah penting. Kenyataan gadis ini menyandang kedua kata itu, itulah yang terpenting.

Kalau sebelumnya Sehun bisa mengatakan sepertinya dia kenal Kai, kali ini dia benar-benar nggak tahu siapa pria yang duduk di sebelahnya itu. Bel berbunyi. Kai bangkit berdiri.

"Sunbae," panggil Sehun buru-buru, membatalkan langkah pertama Kai menuju pintu. "Ng… itu…," Sehun menatapnya takut-takut, "kertas yang waktu itu diselipin Luhan di kamus saya, masih ada nggak?"

"Kenapa" suara Kai langsung menajam.

"Boleh saya minta nggak?" tanya Sehun dengan nada hati-hati.

Kai membungkukkan tubuhnya. Benar-benar rendah di atas Sehun, sampai gadis itu terpaksa melengkungkan punggungnya untuk menciptakan jarak.

"kau mau digebukin orang satu sekolah?" bisik Kai. Sehun menatapnya bingung.

"Pria itu anak Busan High School!"

"Oh." Sehun langsung mengerti. "Cuma ingin tau aja kok, dia nulis apa."

"Ngajak kenalan. Waktu itu aku sudah bilang,kan?"

"Iya. Ya udah kalo gitu." Sehun mengangguk.

Kai menegakkan punggungnya, balik badan lalu berjalan ke luar kelas. Sehun menatapnya sambil menarik napas lega. Begitu Kai hilang dari pandangan, seisi kelas sudah bersiap akan menyerbu meja Sehun lalu memberondongnya dengan pertanyaan.

Sayangnya, Siwon Songsaenim, guru fisika, keburu muncul. Guru itu memasuki kelas setelah sesaat berdiri di luar pintu, menatap Kai yang berjalan menjauh dengan kening berkerut. Untuk kedua kalinya Sehun menarik napas lega. Bukan apa-apa. Dari cara Kai ngomong tadi, pelan bahkan beberapa kali dengan berbisik, ditambah pria itu memintanya untuk duduk agak merapat, jelas Kai tidak ingin orang lain tahu isi pembicaraan mereka tadi.

Baekhyun kembali ke tempat duduknya. Sesaat kedua matanya menatap Sehun. Terlihat cemas. Sehun hanya bisa membalas tatapan itu dengan ekspresi tak berdaya.

.

.

.

.

Sebelumnya untuk yang belum ngerti, jadi di novel aslinya karakter Sehun itu nama aslinya "Jingga Matahari" tanpa embel apapun, ada ada bagian waktu Ari atau disini aku ganti jadi Kai nanya "nama lo bener Cuma Jingga Matahari?tanpa ada embel apapun?" itu aku apus ya soalnya kan disini jadi "Sehun Jingga Matahari"

Mungkin buat beberapa yang belum tau, inti dari novel init uh berhubungan sama nama, nah kalau namanya tetep "Oh Sehun" atau "Kim Jongin" bakal jadi jauh banget sama novelnya, karena niat saya Cuma ngeremake, jadi saya Cuma ganti nama doang^^