Cliche Case!
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typos, OOC, and many more
...
Hinata's
Hari perkemahan pun tiba. Aku memperhatikan anak-anak didikku yang mondar-mandir, mereka sedang mengurus kelas masing-masing. Aku melihat kelas binaanku, 3-A. Para siswa menyiapkan kayu bakar untuk api unggun dan para siswi menggelar tikar, sebenarnya aku yang meminta tugas itu dari panitia karena tak mau melihat Hanabi terlalu capek. Dan kelas yang mendapatkan tugas berat adalah kelas binaan Rock Lee, 3-D. Mereka membangun tenda setiap anak, dan yang meminta tugas itu adalah Lee.
"Olahraga itu bagus untuk jiwa muda!"
"JIWA MUDA NDASMU!"
Seperti itulah saat Lee-san memberitahu tugas dan mendapatkan sorakan dari anak didiknya, mau tidak mau mereka mengerjakan itu. Perkemahan ini akan berlangsung tiga hari, dengan diisi berbagai macam kegiatan ringan sampai berat.
Hari pertama, diisi dengan mempersiapkan berbagai alat perkemahan, dan akan langsung disuguhi kegiatan berat, yaitu memutari gunung diselingi dengan menjawab jawaban di pos yang tersedia. Selanjutnya, kegiatan bebas.
Hari kedua, diisi dengan kegiatan membersihkan lingkunagan alam. Kemudian setiap kelas akan diberi selembar kertas yang berisi teka-teki. Pada malam harinya pesta api unggun.
Hari ketiga, aku yakin inilah yang paling di tunggu-tunggu. Karena pihak sekolah mengundang band terkenal dan mengadakan ajang bagi siapa yang merasa mempunyai bakat.
"Jika tugas kalian sudah selesai, segera berkumpul di lapangan!" Teriakkan dari Ibiki-sensei menggelegar membuat siswa-siswi tubuhnya menegang karena suara dari Ibiki-sensei. Yah, kalau untuk itu sih tidak heran, karena Ibiki-sensei adalah mantan tentara Jepang yang pernah dikirim untuk perang, tentu saja mempunyai suara yang menggelegar merupakan hal yang wajar bagi para tentara.
Para siswa pun berjalan menuju ke lapangan, dibangunnya panggung yang sengaja di sediakkan untuk hari ketiga. Aku pun melangkah menuju ke tenda guru, sekedar untuk istirahat sebenarnya. Entah kenapa kalau bergerak sebentar membuatku lelah, apakah karena efek perjalanan tadi? Aku tak tahu.
"Hinata," Aku menengok siapa yang memanggilku, aku pun mengembangkan senyumanku. "Sakura-san? Kamu juga ikut?" Sakura pun menggangguk dan duduk di sebelahku, tampak senyumannya tak memudar, pipinya bahkan terlihat bersemu.
"Sepertinya ada yang membuat perempuan di sampingku ini bahagia," Ucapanku membuat Sakura menengok ke arahku, ia pun tersenyum dan menghentakkan kakinya. Dengan segera ia memelukku sangat erat, sangat.
"HINATAAAA! AAAAA!"
"Uhuk! Se—sesakh, uhuk!" Sakura pun melepaskan pelukannya, aku pun berdehem menetralkan napasku karena tersendat oleh pelukan mautnya. Aku masih melihat binar kebahagiaannya, bahkan ia terkikik sendiri membuatku berpikir bahwa kewarasannya berkurang lima persen.
"Jadi... ada apa?" tanyaku, Sakura menengok dan merentangkan tangannya. Aku pun sigap berdiri dan memeluk diriku sendiri. "Jangan memelukku!" Sakura terlihat cemberut. Tetapi wajah cemberutnya berubah menjadi cerah dan membuat dirinya terkikik.
"Ada apa hingga membuat kewarasmu sedikit hilang?" aku duduk kembali dan menatap wajah bahagia milik Sakura. Ia menyodorkan tangan kirinya, memamerkan cincin yang bertengger di jari manisnya. Tunggu, cincin?
"Ka—kamu dilamar?" tanyaku shock, Sakura mengangguk kemudian berdiri dan berjingkrak. Para guru yang melihat kelakuan Sakura terlihat heran, aku pun menarik tangan Sakura untuk duduk kembali, kemudian meminta maaf pada para guru.
"Lebih baik jangan permalukkan dirimu sendiri."
"Bagaimana tidak Hinata! Aku dilamar oleh pria pujaanku! OH MY GOODD!"
Aku sih tidak masalah dia sudah dilamar atau tidak, tetapi reaksinya yang berlebihan itu membuatku ingin pergi dari sini. "Jadi dengan siapa kamu dilamar?" tanyaku.
Saat dia ingin membuka mulutnya, aku membungkamnya. Aku pun menatapnya dengan pandangan intimidasi, "Aku tak ingin jawabanmu di hadiahi dengan reaksi berlebihanmu." Sakura mengangguk.
"Aku dilamar oleh Sa—Sasuke..."
Sasuke?
Jangan bilang...
"Sasuke Uchiha, pewaris dari Uchiha Production?"
"Iya."
Aku adalah teman SMA-nya, walaupun dia tampan, tapi dia tampak acuh terhadap perempuan. Dia dijuluki 'Kulkas' di sekolah. Bahkan di kalangan para guru ia di juluki 'Cold Genius'. Walaupun waktu itu aku berada di peringkat kedua, dan dia berada di peringkat ketiga, walaupun hanya terpaut dua poin, peringkat pertama di pegang oleh sahabatku.
"Aku yakin kisah cintamu penuh perjuangan." Ucapku pada Sakura. ia tampak mengangguk dan mengusap cincin di jari manisnya itu. aku cukup paham, karena Sakura merupakan satu-satunya wanita yang beruntung mendapatkan si Kulkas itu.
"Pada awal bertemu aku benci padanya karena dia bersikap dingin, tetapi lama kelamaan saat berada di dekatnya aku merasa nyaman. Dan pada saat pertama kali aku menembaknya, dia menolakku..." Sakura tersenyum kecut, aku mengusap pundaknya.
"Tetapi aku tetap sayang padanya, aku tahu dia baik walaupun sifatnya dingin seperti itu. Waktu itu aku bersikap layaknya teman, dan memendam rasa sakitku..." Sakura terdiam,aku tahu bahwa dia akan melanjutkan ceritanya jadi aku hanya memperhatikannya.
"Dan tiba-tiba dia datang padaku dan memintaku menjadi istrinya, walaupun cara melamarnya tak romantis tetapi maknanya dalam, aku akan menjadi istrinya." Sakura pun tersenyum lalu mengangkat tangan kirinya, menatap cincin yang tersemat di jari manisnya itu.
"Alasan dia melamarmu adalah?" tanyaku penasaran, Sakura menurunkan tangan kirinya dan menatapku, matanya memutar tampak mengingat sesuatu. "Dia berkata bahwa ia akan kesepian jika tak ada aku."
Entah kenapa aku merasa Sasuke mempunyai sifat Tsundere, tak jujur pada perasaannya. Mau tapi malu, itu pendapatku.
"Tetapi Hinata..." aku menatap Sakura, wajahnya terlihat seperti berharap akan hal sesuatu. Aku mengernyitkan dahiku untuk menunggu kata-katanya.
"Aku ingin dia ingin mengatakan 'Aku cinta kamu' dari bibirnya, dengan begitu aku sangat bahagia..."
Saat mendengar kata-katanya aku merasakan hal yang sama, kata-kata yang keluar dari bibirnya, dengan membayangkan tatapan lembutnya. Tangannya yang hangat, aku ingin menggenggamnya. Dan juga pelukannya, dari suamiku...
"Hinata!"
Lamunanku buyar karena Sakura menatapku bingung. Aku mengusap tengkukku dan tertawa sendiri, mana mungkin hal itu terjadi.
"Apakah Naruto sudah mengatakan itu?"
Aku memandang bingung Sakura, maksudnya?
Sakura pun berdehem, berdiri kemudian berjongkok di hadapanku, ia mengambil sedotan di atas meja kecil di sampingku dan menyodorkannya kepadaku.
"Hinata, I love you..." Ucapannya membuatku bergidik, aku menyentil dahi lebarnya. Ia mengaduh kesakitan."Aku masih normal."
"Kamu tidak bisa diajak bercanda..."
"Terserah..."
"Jadi, apakah sudah?"
"Apanya?" tanyaku kebingungan. Sakura menepok jidatnya kemudian mencengkram bahuku, ia pun mendekatkan wajahnya padaku.
"YANG TADI HINATA! ASTAGA!"
Cengkramannya terlepas dan menatapku garang. Sekarang aku merasakan pipiku bersemu dan aku mengalihkan pandangan darinya. "Be—belum.."
"..."
Sakura hanya terdiam dan menatapku tak percaya, kemudian ia bangkit lalu mencubit pipiku. Aku berusaha melepaskan cubitannya.
"Ada apa sih!"
"Hinata... padahal kalian ini adalah pasangan serasi... tetapi... KENAPA SI BODOH ITU TAK MENGATAKANNYA!"
Entah sudah keberapa kalinya teriakkan yang telah terlontar dari bibir Sakura. Ia memijit pelipisnya dan menatapku dengan pandangan lelah. "Kalian adalah pasangan plin-plan." Ia pun kembali duduk dan menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Aku ingin bertanya padamu Hinata, apakah kamu mencintainya?"
Mencintai? Aku rasa aku belum merasakan itu, tetapi aku merasa nyaman di pelukannya serta perlakuannya terhadapku. Tapi, kenapa hatiku menolak pemikiranku?
"Aku rasa belum..." jawabku ragu, Sakura mendesah kemudian menegakkan tubuhnya. "Dengar Hinata, mata tak pernah berbohong, kamu menatapnya penuh cinta. Aku merasa kamu tak ingin berpisah darinya, aku merasa kamu tak ingin si bodoh itu tak ingin dekat dengan perempuan lain selain dirimu. Dan jika perkataanku berbanding terbalik dan terjadi, apakah kamu rela?"
Aku terdiam. Aku merasa tak ingin berpisah dengannya, jika itu terjadi kemungkinan itu akan membuatku gila. Aku merasa tak ingin dia dekat dengan perempuan lain selain diriku, tentu saja! mengingat sekretaris yang pernah diceritakannya kemudian dibanggakannya membuatku muak.
"Sepertinya kamu benar-benar tak ingin semua itu terjadi. Ikuti kata hatimu Hinata, maka kebahagiaan akan menunggumu."
...
Aku memikirkan perbincanganku dengan Sakura tadi. Aku tak mau semua itu terjadi, jika itu terjadi maka...
"Hinata." Suara bariton yang kukenal membuatku beralih dari kegiatan memperhatikan kegiatan bebas siswa-siswi di lapangan. Aku mengangkat wajahku sedikit karena faktor tinggi badannya.
"Ada apa?" tanyaku pada Naruto-kun, ia tampak tampan dengan pakaian santainya. Kaos polonya melekat di tubuhnya, mencetak jelas dada bidangnya serta celana army yang membungkus kaki jenjangnya.
"Aku ingin memperkenalkan sekretarisku padamu."
Dan ini dia. Rasanya aku ingin mencabik-cabik wajah sekretarisnya itu, aku penasaran kenapa ia begitu dibanggakan. Apakah dia cantik? Sexy? Ataukah hebat di... TIDAK.
"Hinata, kamu tunggu disini saja ya,"
"Kenapa?" tanyaku sebal.
"Katanya dia hanya mau di jemput olehku."
Mungkin sekretaris sialannya itu mau berduaan dengan sumaiku yang satu ini. Aku hanya menghela napas dan mengangguk pasrah. Dia mengecup keningku dan meninggalkanku, aku pun kembali memperhatikan lapangan. Terlihat Konohamaru mencoba menggoda Hanabi tetapi Hanabi menjauhi Konohamaru dengan menghentak-hentakkan kakinya, ngambek mungkin?
Di seberang sana aku melihat salah seorang siswi terjatuh karena tersandung, dan ketika beberapa saat kemudian seorang siswa membantunya dengan membopong tubuhnya. Seketika itu aku mengingat kenanganku dengan sahabat nanasku, ngomong-ngomong bagaimana kabarnya, ya? Aku tak pernah berhububang lagi dengannya setelah lulus kuliah.
Shikamaru Nara, orang itu mempunyai sifat pemalas. Lebih herannya walaupun malas entah kenapa selalu mendapatkan nilai tinggi, dan menjadi sainganku terus. Sewaktu SMA aku hanya terpaut satu poin darinya, maka dari itu aku mendapat peringkat kedua. Dan juga aku mendengar kabar bahwa ia telah menikah, lebih parahnya aku tak di undang.
"Hinata," aku menengok dan melihat suamiku mendekatiku. "Sekretarisku ada di tenda guru, ayo kita kesana." Aku dan Naruto-kun berjalan menuju tenda guru. Rasa penasaranku membuncah karena melihat punggung seseorang yang familiar, bahkan gaya rambutnya sama, jangan-jangan...
"Shikamaru?"
Naruto-kun menengok dan menatapku bingung, "Dari mana kamu tahu kalau nama sekretarisku Shikamaru?" aku pun berjalan melewatinya dan menghampiri Shikamaru, aku pun menepuk pundaknya.
"Naruto, kau lama seka—"
"Hai," salamku, Shikamaru menatapku tak percaya. Ia menelitiku dari atas sampai bawah, "Ini bukan arwah Hinata kan?"
Aku pun menjitak kepala nanasnya itu. Mataku memelototinya tak percaya, "Seenaknya saja memanggilku arwah, aku benar-benar Hinata!"
"Kalian saling kenal?" suara suamiku menginterupsi perbincanganku dengan Shikamaru. Aku mengangguk. "Dia adalah sahabatku, kami selalu bersaing dalam bidang akademik maupun non-akademik. Bahkan saat aku berduel dengannya dalam karate dia mengalahkanku,"
"Naruto, jangan-jangan cewek dingin ini istrimu?"
"Iya."
"Astaga, aku benar-benar kasihan padamu, Naruto."
"Hei! Apa-apaan itu!"
Naruto-kun merangkulku, aku memicingkan mataku menatap Shikamaru. "Dasar sahabat tak punya hati, saat pernikahanmu aku tak di undang,parahnya pada saat pernikahanku kau tak menghadirinya." Cercaku.
"Aku sedang ditugas kan di luar negeri oleh suamimu, dan masalah pernikahanku itu karena aku dan istriku melaksanakannya secara tertutup."
"Secara tertutup?"
Shikamaru mengangguk, "Keluarganya merupakan pemilik perusahaan yang lumayan terkenal, jadi dilakukan secara tertutup."
"Memang siapa istrimu itu?"
"Sabaku Temari."
Sabaku? Tunggu, jangan-jangan Temari yang itu? Temari, kakak dari Gaara? Mahasiswi yang menghadiri acara seminar di New York?
"Sabaku Temari, anak dari pengusaha Sabaku Oil. Apakah itu dia?" tanyaku pada Shikamaru, ia menganggukkan kepalanya. Wow, ini kebetulan, kakak dari seorang yang pernah melamarku menjadi seorang istri dari sahabatku.
"Dia juga pernah bercerita tentangmu, Hinata. Dia tampak mengagumimu, saat dia bercerita seorang gadis yang seharusnya berada di bawah tingkatnya telah lulus dan meraih gelar Strata tiga di usia dua puluh tahun."
"Yah, sebenarnya aku sedikit canggung karena menjadi motivator untuk orang-orang yang lebih tua dariku." Ucapkku. Kalau kalian berada di posisiku pasti akan tahu rasanya bagaimana.
"Jadi, kenapa kau ikut ke perkemahan ini Shikamaru?"tanyaku.
"Shikamaru disini aku tugaskan untuk mendokumentasikan perkemahan ini." Suara Naruto-kun yang menjawab pertanyaanku membuatku sadar bahwa tangannya masih melingkar di bahuku serta keberadaannya yang masih disini.
"Kenapa istrimu tak diajak?" tanyaku.
"Dia sedang mengurus perusahaan."
Aku pun kembali melanjutkan perbibcanganku dengan Shikamaru, bahkan aku kembali tak menyadari keberadaan suamiku. Tiba-tiba namaku di panggil oleh siswi untuk mengurus murid yang sakit. Aku pun meminta izin pada Naruto-kun, dia mengizinkannya. Sebelum aku meninggalkan mereka berdua aku mengecup pipinya dan pergi meninggalkan tenda.
...
"Tidur jangan terlalu larut ya."
"Ya, sensei." Aku tersenyum dan meninggalkan salah satu tenda. Aku pun mengelilingi perkemahan ini, aku ditugaskan untuk memerikasa apakah masih ada siswa-siswi yang nongkrong. Aku mengedarkan senterku kesegala arah
Kresek, kresek.
Aku mengarahkan senterku ke semak-semak. Aku sedikit membungkuk dan berjalan pelan-pelan mendekati semak-semak yang bergerak itu. Aku pun membuka semak-semak itu, dan ternyata ada seseorang disana. Aku menghela napas, kenapa dia lagi.
"Konohamaru, apa yang kamu lakukan malam-malam begini di semak-semak?" tanyaku, Konohamaru hanya cengengesan, kemudian menunjukkan sesuatu.
"Ponselku terlempar, hehe."
"Kenapa ponselmu bisa terlempar hingga ke semak-semak?"
"Aku tak sengaja tersandung." Jawabnya dengan tampang polos. Aku menghela napas dan menatapnya tegas. "Kamu sekarang kembali ke tenda, kemudian tidur." Tegasku. Aku pun menarik tangannya untuk keluar dari semak-semak.
"Jika ada temanmu yang masih terjaga, suruh dia tidur."
Konohamaru hanya mengangguk dan membungkukkan badannya sebelum meninggalkanku. Aku hanya menggeleng dengan kelakuan anak itu. Mengapa Hanabi bisa tahan dengannya?
Tiba-tiba aku mendengar sayup-sayup orang menyanyi, aku pun mengikuti seumber suara itu. aku pun memasukki hutan, disini banyak semak belukar. Aku berjalan pelan-pelan seraya mengedarkan senterku. Semakin aku berjalan, suara itu terdengar jelas. Aku pun keluar dari hutan dan menemukan seseorang yang duduk di pinggir tebing sembari menatap bintang-bintang di atas sana.
"Naruto-kun?"
Ia menghentikkan nyanyiannya dan melihatku. Ia mengibaskan tangannya kemudian menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Aku pun menurutinya dan duduk di sebelahnya. Ia menarik tubuhku hingga aku bersansar di bahunya.
"Aku tak tahu kamu pintar bernyanyi." Ucapanku membuatnya terkekeh, aku menatap ke arah bawah dimana banyak pepohonan, dan sungai yang membelah daratan di bawah sana.
"Aku dulu pernah mengikuti paduan suara." Aku hanya ber-oh ria saja. Kami pun terdiam, menikmati hembusan angin malam yang menerpa tubuh kami. Aku menengadah dan menatap wajahnya yang menatap bintang di atas sana, aku pun mengikutinya.
"Langit malam yang cerah." Gumamku, ia pun menengok dan mengecup puncak kepalaku. "Dari mana kamu menemukan tempat ini?" tanyaku.
"Aku pernah kesini sebelumnya, dan salah satu alasan mengapa aku memilih tempat kemah disini karena tempat ini."
"Aku pernah mendengar rumor masyarakat sekitar kalau tempat ini selalu cerah dan tak pernah mengalami cuaca buruk. Dan ternyata benar, aku pernah membuktikannya dengan meneliti tempat ini."
Penjelasannya membuatku kembali menatap wajahnya. Ia tampak menikmati pemandangan di hadapannya. Tempat ini seperti surga, sungai di bawah sana tampak tenang. Suara jangkrik yang menemani kami. Di dekapannya yang hangat melindungiku dari kedinginan.
Aku berharap bahwa waktu bisa berhenti...
.
.
.
To be continued.
A/N: Dua chapter lagi tamat, dan saya kembali semangat untuk mengetik cerita baru saya. Setelah ini selesai membaca ini, silahkan mampir ke cerita baru saya yang berjudul Meet You, slight Sasusaku lho ;)
Review please?
Thank u for review guys! See ya for next two chap!
