Session Talkshow
Bella : Yahoo, apa kabar minna? Bella kembali hadir dengan chapter terbaru fanfic De Angela. Gomen kalau lama kelanjutannya -_-
Kazusa : Sudah lama, tambah ngawur lagi ceritanya. Author, memangnya jalan ceritanya awalnya kayak gini ya.
Bella : Enggak sih, jujur saja Bella 'sedikit' lupa dengan alur ceritanya. Dan mau dibikin kayak gimana chapter sebelasnya. Tapi akhirnya, setelah bertapa (?) seharian ini. Bella dapat ide dan langsung Bella bikin deh daripada Bella lupa lagi.
Kazusa : Ya sudahlah, fanfic-fanfic situ. Ane nggak peduli.
Bella : Ya sudah, oh iya minna mungkin di chapter ini para readers akan sedikit bingung dengan pendeskripsian yang ditulis oleh Bella. Jadi kalian coba gunakan imajinasi kalian masing-masing ya. Semoga apa yang dibayangkan minna sama seperti yang dibayangin Bella waktu nulis chapter ini.
Kazusa : Oke deh, untuk balasan review dibacakan nanti. Jadi para readers yang baik hati, dermawan, dan suka menabung silahkan nikmati kelanjutan ceritanya.
Title : De Angela
Chapter 11 : Reason
Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
~De Angela~ © Bella-chan
Rated : T
Genre : Fantasy ; Friendship
Pairing : KazuRin
Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
Summary : "Jin, kau masih hidup." / "Tapi bagaimana dengan Jin, kita tidak bisa membiarkannya. Kita harus menolongnya!" / "Selamat datang dan selamat bergabung dengan dunia iblis!" / "Teman katamu, asal kau tahu saja mereka lebih memilih menyelamatkan diri mereka sendiri daripada menolongmu." / "Tidak, aku tidak mau. Jin sudah melindungiku, dia sudah menyelamatkan hidupku."
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~ De Angela ~
Normal POV
"Kenapa kita di hutan?" tanya Micchi begitu menginjakkan kaki di hutan.
"Mungkin saja Karin ada disini. Makanya kita dibawa kemari," terang Kazusa.
"Ohh," ucap Micchi mengerti.
"Tapi ngomong-ngomong, Kazune lama sekali," ujar Kazusa heran karena Kazune belum datang-datang juga.
"Iya, padahal-"
BLASH
Baru saja diomongin, tiba-tiba saja muncul sosok Kazune disertai kepulan asap putih.
"Kazune, kau lama sekali. Ngapain saja tadi?" tanya Kazusa heran.
"Tadi Arthur menahanku," jawab Kazune singkat. "Jadi disini tempatnya," sambung Kazune sambil menatap pohon-pohon besar di sekelilingnya.
"Sepertinya begitu. Lagipula, aku bisa merasakan aura Karin ada di sekitar sini," ujar Kazusa.
"Kalau begitu tunggu apalagi, ayo kita cari Karin!" seru Kazune yang langsung menerobos dahan-dahan pohon yang berkelebatan.
Kazusa dan Micchi hanya mengikutinya dari belakang.
Jin and Rika side
"Mereka sudah datang!" seru Rika tiba-tiba.
"Kelihatannya begitu, tapi sepertinya mereka sedikit terlambat karena kekuatan gadis itu sebentar lagi akan terserap sepenuhnya," ujar Jin seraya menatap tubuh Karin yang sudah diselebungi oleh shadow.
"Apa kali ini kita akan berhasil?" tanya Rika begitu mengingat peristiwa dulu saat Karin berhasil lolos dari shadow.
"Tenang saja, dia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa kalung ini," terang Jin seraya menghancurkan kalung Karin menjadi berkeping-keping.
Kazune, Kazusa, and Micchi side
"Entah kenapa, firasatku jadi buruk," ujar Micchi tiba-tiba.
"Aku juga, entah kenapa aku merasa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Karin," ucap Kazusa menyetujui.
"Apapun yang terjadi pada Karin, semoga kita tidak terlambat untuk menyelamatkannya," ujar Kazune penuh harap.
Kazusa dan Micchi hanya menganggukkan kepala. "Iya," ucap mereka serempak.
"Menghindar!" seru Kazune tiba-tiba.
Tiba-tiba saja ada bola api hitam yang mengarah ke mereka. Untung saja Kazune segera menyadarinya dan memperingatkan pada yang lain untuk segera menghindar. Sehingga mereka bertiga bisa selamat dari serangan yang entah datang darimana itu. Mereka bertiga segera mencari sosok orang yang telah mengeluarkan serangan tersebut. Dan tiba-tiba saja ada sekelebat pergerakan kecil di balik dahan pohon.
Plok plok plok
Terdengar suara orang bertepuk tangan seiring dengan munculnya sosok berambut hitam dan bermata seperti kucing itu dari balik dahan tadi. Sontak saja Kazune, Kazusa, dan Micchi membelalakkan matanya begitu melihat sosok orang yang dikira mereka telah mati itu sekarang tengah berdiri di hadapan mereka tapi dalam wujud iblis.
"Jin, kau masih hidup." Akhirnya Kazusa lah yang memecah keheningan diantara mereka.
"Tentu saja, atau kau berharap kalau aku benar-benar mati," ucap Jin tajam.
"Bukan… bukan begitu, hanya saja… maafkan kami Jin, terutama maafkan aku," ujar Kazusa lirih.
~ De Angela ~
Flashback On
Tampak Kazusa yang masih berumur sepuluh tahun sedang membuntuti seorang pemuda. Bukan karena Kazusa memiliki perasaan khusus atau apapun pada pemuda itu. Bahkan dia sendiri masih terlalu kecil untuk mengerti apa perasaan khusus itu. Ia membuntutinya, karena ia tertarik dengan bayangan pemuda itu yang tadi tanpa sengaja terlihat oleh mata Kazusa dapat bergerak sendiri. Menurut apa yang sudah dipelajarinya di sekolah dunia langit. Itu adalah tanda-tanda bahwa manusia itu akan mengeluarkan shadow miliknya, dan Kazusa yang masih belum tahu apa-apa sangat antusias dengan itu. Ia ingin sekali melihat shadow secara langsung, di depan kedua matanya sendiri. Makanya tanpa rasa takut sedikitpun, Kazusa masih terus mengikuti pemuda itu hingga menuju gedung bioskop yang sudah tampak terbengkalai itu.
Kazusa kecil masih terus membuntutinya dengan semangat. Ia sudah tidak sabar, menunggu shadow itu keluar. Ia ingin cepat-cepat melihat seperti apa wujud shadow itu dan bagaimana besar kekuatannya. Ia ingin memastikan apa yang selama ini diceritakan oleh guru-guru di sekolah dunia langit itu benar atau tidak.
Jangan salahkan Kazusa kalau dia sampai nekat seperti ini. Maksudnya, dia itu hanya anak kecil yang memiliki keingintahuan besar di benaknya. Sebenarnya dia sudah paham dengan resiko yang ditanggung oleh seorang malaikat apabila sampai dimakan oleh shadow. Tapi tetap saja, keingintahuannya yang besar membuatnya tidak mempedulikan resiko itu. Lagipula dia yakin, kalau malaikat senior akan segera datang begitu shadow pemuda itu keluar. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan.
Tapi Kazusa tidak tahu kalau dia telah membuat kesalahan besar. Yang pertama, dia pergi tanpa ditemani oleh siapapun. Pulang sekolah tadi, ia langsung kabur membuntuti pemuda itu tanpa memberitahukan hal ini pada Kazune, Jin, dan Micchi. Yang kedua, dia melupakan kalau statusnya sekarang adalah malaikat junior. Dia tidak tahu kalau kemungkinan shadow yang terbentuk ini memiliki kekuatan besar dan ia tidak akan mampu untuk menghadapinya. Dan yang terakhir, dia tidak tahu kalau sekarang sedang diadakan rapat untuk malaikat senior di dunia langit. Sehingga malaikat senior tidak akan langsung datang begitu shadow itu bangkit. Dengan demikian, tamatlah sudah riwayat Kazusa.
(Bella : Kazusa, aku do'akan semoga kau tenang di alam sana)
(Kazusa : Author, aku belum mati)
(Bella : Tapi bentar lagi kamu mati kok)
(Kazusa : Nggak mauuuu!)
Kazusa POV
'Ayolah, cepat keluarlah shadow,' batinku penuh harap.
Aku mengawasi terus gerak gerik bayangan pemuda itu yang sekarang gerakan semakin terlihat jelas dan nyata. Jantungku menjadi berdebar-debar begitu melihat bayangannya mulai membesar dan mulai membentuk wujudnya yang seperti manusia. Hanya saja berwarna hitam dan bermata merah menyala.
Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa melihat wujud shadow secara langsung. Tentu saja aku langsung bersorak gembira begitu keinginanku ini sudah terwujud. Karena terhanyut oleh rasa senangku. Aku jadi tidak menyadari kalau shadow itu mulai berjalan mendekat ke arahku.
Terlambat. Begitu aku sadar, shadow itu sudah berdiri di belakangku. Sontak saja aku langsung berlari menuju pintu keluar gedung bioskop ini. Tapi seakan tidak mau kehilangan mangsanya, shadow itu mulai menjulurkan tangannya untuk meraih tubuhku. Aku semakin mempercepat lariku, tapi tiba-tiba saja kakiku tersandung dan membuatku jatuh. Aku langsung meringis kesakitan begitu tubuhku menghantam ubin lantai yang keras. Aku segera mencoba untuk berdiri kembali sampai terdengar suara…
"Kazusa, awas!" Tiba-tiba saja ada yang mendorong tubuhku ke samping. Sontak saja aku langsung menoleh ke belakang dan alangkah terkejutnya aku begitu melihat Jin yang sudah ditangkap oleh shadow itu gara-gara melindungi tadi.
"Kazusa, kau tidak apa-apa?" tanya Kazune yang langsung berjongkok di hadapanku.
"Aku tidak apa-apa, tapi Jin. Gara-gara aku dia…," ucapku yang hampir menangis.
"Tenanglah, sekarang Micchi sedang memberitahu soal ini ke dunia langit. Sebentar lagi, malaikat senior akan datang kesini," terang Kazune.
"Tapi bagaimana dengan Jin, kita tidak bisa membiarkannya. Kita harus menolongnya!" jeritku keras seiring dengan jatuhnya bulir-bulir air mata di pipi Kazusa.
"Kazusa tenanglah dulu!" seru Kazune sedikit keras. "Kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa, kau tentunya sudah tahu kan resiko apa yang ditanggung jika seorang malaikat sampai tertangkap oleh shadow. Lagipula kita ini masih malaikat junior, kita bukanlah malaikat senior yang mampu bertarung melawan shadow. Jadi, tidak ada cara lain. Kita harus kabur dari sini dan biarkan malaikat senior yang mengurusnya," sambung Kazune yang setelah itu langsung membawaku keluar dari gedung bioskop.
"Jin, maafkan aku," gumamku di sela tangisanku.
Jin POV
'Dimana ini, apa aku sudah berada di dalam perut shadow,' batinku seraya menatap sekelilingku, tapi yang kutemui hanya kegelapan saja.
"Selamat datang dan selamat bergabung dengan dunia iblis!"
Aku langsung membalikkan badanku begitu mendengar ada suara di belakangku. Mataku langsung membulat begitu mendapati sosok yang berwajah mirip sepertiku dengan sayap hitamnya tengah berdiri di hadapku saat ini.
"Apa maksudmu dengan bergabung dengan dunia iblis, aku ini seorang malaikat. BUKAN IBLIS!" seruku keras.
"Kelihatannya kau lupa ya kalau malaikat yang sudah dimakan oleh shadow akan berubah menjadi iblis," terang sisi gelapku (anggap saja begitu).
"Heh, tapi a-aku tidak mau berubah menjadi iblis. Teman-temanku pasti akan menolongku," ujarku yakin.
"Teman katamu, asal kau tahu saja mereka lebih memilih menyelamatkan diri mereka sendiri daripada menolongmu," ujar sisi gelapku sambil tersenyum sinis.
"Itu tidak mungkin, mereka sahabat-sahabatku. Mereka tidak mungkin melakukan itu," ucapku tidak percaya atau tidak mau mempercayainya.
"Mereka bukan sahabatmu, di dunia ini yang namanya persahabatan itu adalah sampah. Yang ada hanya kepalsuan saja," terang sisi gelapku dingin.
"Persahabatan bukanlah sesuatu yang dianggap sampah," ujarku tidak terima.
"Oh iya, lalu kenapa orang yang kau anggap sahabatmu itu meninggalkanmu sendirian disini, membiarkanmu be-"
"SUDAH CUKUP, AKU TIDAK MAU MENDENGARNYA LAGI!" jeritku keras.
Aku langsung menutup kedua telingaku. Aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mulutnya yang terus menjelekkan Kazune, Kazusa, dan Micchi. Mereka sahabat-sahabatku. Itulah yang aku yakini. Kalaupun mereka meninggalkanku, pasti karena ada alasannya. Aku yakin itu.
"Ugh jadi itu yang kau pikirkan, yah tak apalah. Lagipula sebentar lagi aku akan mengambil alih tubuhmu. Jadi mulai detik ini, tidurlah kau untuk selama-lamanya," ujar sisi gelap Jin sambil mendekat ke arahku.
Tiba-tiba saja, aku merasakan aura jahat dari sisi gelapku mulai menyelimuti tubuhku. Aku langsung merintih kesakitan, aku dapat melihat tubuhku sendiri mulai berubah menjadi ribuan cahaya putih. Hal terakhir yang kulihat adalah seringaian sisi gelapku.
"Maafkan aku semuanya."
Normal POV
Gadis kecil berambut blonde panjang masih mengurung diri di kamarnya. Matanya masih terlihat sembab, sesekali bulir-bulir air matanya lolos jatuh menuruni kedua pipinya.
"Jin, maaf." Hanya dua kata itu yang terus diucapkan oleh bibir mungilnya. Nama sahabatnya dan kata maaf. Lagi-lagi ia menangis, menangis begitu mengingat ini semua adalah kesalahannya. Dialah yang menyebabkan ini semua terjadi.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Gadis itu menghentikan tangisannya, namun matanya masih terlihat berkaca-kaca. Ia menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Kazusa, kau tidak apa-apa?" tanya Kazune sembari masuk ke dalam kamar Kazusa.
Kazusa langsung memeluk tubuh kakak kembarnya ini. "Hiks, Jin dia…" Kazusa tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Rasanya sulit sekali untuk mengucapkannya.
Kazune tersenyum sendu, ia menepuk-nepuk punggung adik kembarnya ini. "Tenanglah Kazusa, kau jangan menangis. Jin pasti sedih melihatnya, kau harus kuat," hibur Kazune.
"Tapi gara-gara aku, Jin jadi-"
"Sshhhtt, sudahlah Kazusa. Semuanya yang sudah berlalu, biarkanlah berlalu. Aku dan Micchi juga sama kehilangan Jin, tapi kami berusaha untuk tegar. Kami tidak mau mengenang sosok Jin dengan kesedihan. Kau juga tidak mau kan begitu?" tanya Kazune lembut.
"Tidak, aku tidak mau. Jin sudah melindungiku, dia sudah menyelamatkan hidupku," ucap Kazusa lirih.
"Maka dari itu, kau jangan bersedih. Hargailah Jin yang sudah melindungimu dengan menjadi malaikat yang kuat. Kau mau kan?" tanya Kazune lagi.
Kazusa terdiam sesaat, namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku janji aku akan menjadi malaikat yang kuat demi Jin," ujar Kazusa penuh tekad.
"Nah itu baru adik kecilku," ucap Kazune seraya mengacak-acak rambut Kazusa.
"Jangan panggil aku adik, kita ini cuma lahir berbeda menit saja tahu," protes Kazusa.
"Tapi tetap aku yang lahir duluan kan," ujar Kazune sambil tersenyum.
Kazusa hanya menunjukkan wajah cemberutnya. "Terserah," ucapnya kesal.
"Hahahahaha, kau lucu sekali jika berwajah seperti itu Kazusa," ujar Kazune ditengah tawanya.
"Kazune, berhenti tertawa!" seru Kazusa kesal.
Tanpa mereka berdua sadari, ada sosok yang sedari tadi mengintip mereka di balik pintu kamar.
"Apa aku harus memberi tahu mereka kalau Jin masih hidup tapi sebagai iblis," gumam sosok berambut coklat karamel itu bingung.
Flashback Off
~ De Angela ~
'Bagaimana mungkin Jin masih hidup, bukannya ia sudah dibunuh bersama dengan shadow itu oleh malaikat senior.'
Mungkin itulah yang ada di pikiran Kazusa dan Kazune begitu melihat sosok Jin yang sekarang jelas-jelas berdiri di hadapan mereka. Sedangkan Micchi, ia juga sama kagetnya. Tapi ia kaget, lebih karena ia tidak menyangka kalau iblis yang menculik Karin adalah Jin. Sahabat yang dianggap oleh Kazune dan Kazusa sudah mati. Tapi kenyatannya tidak, karena Jin yang sudah berubah menjadi iblis waktu itu telah mengalahkan malaikat senior yang datang tidak lama kemudian setelah Kazusa berhasil membawa Kazusa pergi.
"Jin, kau masih hidup." Akhirnya Kazusa lah yang memecah keheningan diantara mereka.
"Tentu saja, atau kau berharap kalau aku benar-benar mati," ucap Jin tajam.
"Bukan… bukan begitu, hanya saja… maafkan kami Jin, terutama maafkan aku," ujar Kazusa lirih.
"Tak ada gunanya kalian minta maaf, semuanya tidak akan kembali seperti semula," ucap Jin dingin.
Kazusa hanya bisa terdiam mendengar perkataan Jin. Matanya mulai berkunang-kunang, rasanya ia ingin menangis begitu mendengar Jin berkata seperti itu padanya.
"Kazusa, kendalikan dirimu. Kita datang kesini untuk menolong Karin!" seru Kazune membuyarkan lamunan Kazusa.
"Tapi, dia Jin. Aku tidak bisa-"
"Dia bukan Jin, Kazusa. Dia bukan Jin yang kita kenal dulu, karena aku yakin Jin sahabat kita tidak mungkin melakukan hal ini," ujar Kazune menyadarkan Kazusa.
"Kazune benar Kazusa, aku yang sekarang bukanlah Jin yang kalian kenal dulu. Jadi tidak perlu ragu untuk melawanku," terang Jin seraya tersenyum meremehkan.
Kazusa hanya menundukkan kepalanya.
"Hei sudah selesai belum reuniannya. Aku sudah bosan mendengarkan kalian." Tiba-tiba saja Rika meloncat turun dari sebuah pohon. Rupanya sedari tadi dia hanya duduk menunggu di atas pohon.
"Bukannya aku sudah bilang, biar aku yang mengurus mereka," ucap Jin tajam.
"Dan kau pikir, aku akan menurutinya," balas Rika tak kalah tajam.
"Kazusa, tujuan utama kita datang kesini adalah menyelamatkan Karin. Kau tidak mau mengulangi kesalahanmu dulu kan," bisik Kazune seraya melihat Rika dan Jin yang masih berdebat.
"Tidak, aku tidak ingin Karin bernasib sama seperti Jin," ucap Kazusa lirih.
"Kalau begitu, ayo kita berjuang sekalipun lawan kita adalah Jin," ujar Kazune memberi semangat.
"Betul yang dikatakan Kazune, kita tak boleh kalah Kazusa. Kau harus buktikan pada Jin, kalau kau sekarang sudah menjadi malaikat yang kuat," ujar Micchi yang ikut menyemangati.
Kazusa hanya menganggukkan kepala. "Terima kasih Kazune, Micchi," ucapnya sambil tersenyum.
"Oke kita langsung saja ya, aku tidak mau membuang waktu lagi," ucap Rika yang rupanya sudah mengakhiri perdebatannya dengan Jin.
"Itu yang kami harapkan," ujar Kazune yang sudah kembali fokus pada lawan di hadapannya.
"Angelos ignis!"
"Angelos aqua!"
"Angelos aeris!"
"Diabolus ignis!"
"Diabolus solumque!"
(Bella : Para readers sudah tahu sendiri kan, siapa yang mengatakan mantra-mantra di atas. Jadi nggak usah disebutin ya)
Begitu kelima mantra itu diucapkan secara bersamaan. Muncul lingkaran bercahaya dengan simbol yang sesuai dengan elemennya masing-masing (Terserah kalian mau membayangkan seperti apa karena Bella sedikit kesulitan dalam mendeskripsikannya) di bawah kaki kelima orang itu. Begitu semuanya sudah dalam mode bertarung. Mereka kembali mengucapkan mantra pemanggil secara bersamaan untuk memanggil senjata mereka masing-masing.
Setelah mereka semua sudah memegang senjata mereka masing-masing di tangannya. Pertarungan pun dimulai.
.
.
To Be Continued
.
.
Please Review
Session talkshow
Bella : Oh ternyata dan ternyata para readers sekalian. Dalang dibalik Jin yang berubah menjadi iblis adalah Kazusa.
Kazusa : Aku tidak terima, masak aku yang disalahin. Aku menuntut author yang sudah membuat chapter ini. Aku menuntut chapter ini harus diganti secepatnya.
Bella : Heh, nih fanfic-fanfic ane. Kenapa situ yang protes (mengkopi kalimat Kazusa tadi)
Kazusa : (Langsung mingkem)
Bella : Oke, karena banyak balasan review yang harus Bella balas. Bella akan panggil bala bantuan. Power rangers!
BLAM
Tiba-tiba ada kepulan asap dan dari asap itu munculah ketiga sosok dengan pose ala superhero.
Karin : Ranger hijau siap membantu!
Himeka : Ranger biru datang menolong!
Micchi : Ranger merah siap bertempur!
Kazusa : (Langsung cengo)
Bella : Lho Kazune sama Jin mana?
Karin : Egh iya, mereka kemana ya. Tunggu sebentar (Langsung berlari keluar dan tak lama kemudian masuk kembali dengan menyeret Kazune dan Jin) Nih author, mereka nggak mau makek kostum power rangers padahal keren kan.
Kazune : Tunggu sampai aku nggak takut lagi sama serangga, baru aku mau makek.
Jin : Iya, langkahi mayatku dulu.
Bella : Ya sudahlah, egh kayaknya kita sudah lama nggak kumpul kayak gini.
Karin : Itu karena author jarang update fanfic lagi belakangan ini.
Bella : Iya ya maaf, ya sudahlah kita langsung bacain balasan review ya. Kalian baca masing-masing lima ya. Kita mulai dari urutan abjad nama kalian ya. Jadi mulai dari Himeka, Jin, Karin, Kazune, Kazusa, dan yang terakhir Micchi. Nah kita mulai, cekidot.
Himeka
Mey-mey Hinamori : Aku tahu kok kalau aku kawai (Bella : Egh yang kawai itu fanficnya, bukan kamu). Iya ya author, jangan ikut nibrung dong. Maaf ya sudah membuat Mey-chan lama menunggu.
Minna: Wah, karena yang review langsung banyak orang sekaligus. Jadi balasnya pakek minna juga ya. Kalau kita (-Bella) orang Jepang. Cuma author yang Indonesia tulen (Bella : Dasar penjajah *langsung diplester mulutnya sama Kazusa karena dari tadi ganggu terus*)
andien hanazono : Gomen-gomen kalau author lama banget update-nya. Semoga chapter ini bisa menebus rasa penasaran andien ya.
ryukutari : 10000000 100000000 x 1000273873728282819000 ... Wah, kalau dihitung pakek kalkulatur pasti langsung syntax error tuh. Tak apa review-nya lebay, author sendiri saja orangnya lebay tingkat akut -_-
TsukiRin Matsushima29 : Tenang saja yang bacain bukan Jin kok (Jin : Tapi aku dengar, Nitsuki-chan *langsung digampar Kazusa karena ikut-ikutan ganggu acara balasan review*) Semoga, dosa-dosamu segera diampuni oleh Nitsuki-chan.
miss Vanila : Makasih makasih makasih.
Karena Jin masih tepar gara-gara digampar Kazusa, jadi balasan review-nya langsung diloncat ke Karin.
Karin
yume sora : ku tunggu juga review-nya chapter ini #PLAK. Hehehe, maaf dan makasih atas kesetiannya menunggu chapter ini yang super duper lama update-nya.
Leonyta : Sudah tahu kan kenapa Jin jadi iblis, tapi masalahnya aku tidak terima. Apa maksudnya dengan siksa Karin, kalau Kazune sih disiksa sih aku ikhlas lahir batin. Tapi kalau aku, aku kan anak baik-baik yang suka menabung dan suka menolong (Kazusa : Karin, kalau kamu kebanyakan ngomong. Kamu yang jadi korban selanjutnya) Ma-maaf deh, dan yang terakhir aku sependapat dengan Leonyta-chan, Jin sama Rika memang 100% cocok jadi iblis.
jj : Huwah, sekali lagi maaf kalau sudah lama banget update-nya. Semoga untuk chapter selanjutnya nggak bakal selama ini.
jg : Enaknya Jin jadi malaikat lagi atau enggak ya. Mungkin bisa, karena author suka akhir yang happy ending. Yah pokoknya diusahain deh.
RahmaDes : Sip sip, ini sudah lanjut kok. Semoga suka.
Kazune
NailaaKS : Naila-chan jangan terlalu memuji author, diluar sana masih banyak fanfic yang lebih keren daripada fanfic bikinan author yang asal-asalan ini.
Milka : Memang author satu ini malas buat ngedit fanficnya sendiri, makanya suka banyak typo yang bertebaran. Memang benar umur author berkisar segitu. Tepatnya 16 tahun, sudah tua kan. (Kazusa : Kazune, kalau bacain balasan review yang bener dong. Untung author aku ikat tangannya kalau nggak sudah digampar kamu)
mikasa yoshioka : Aku juga bertanya-tanya tentang itu, kenapa summon-ku tikus. Kenapa nggak hewan yang lainnya. Tapi ya sudahlah, author kan memang suka menyengsarakan aku.
Nadasalsabila93 : Iya, ini sudah lanjut.
karinkazune : Memang sengaja, author kan suka bikin orang penasaran.
Kazusa : Dari tadi balasan review-mu nggak ada yang benar.
Kazune : Biarin, yang penting aku sudah baca bagianku. Sekarang giliranmu!
Kazusa
Tamaki-Neechan: Arigatou sudah dibilang keren. Semoga chapter ini nggak kalah kerennya dari chapter sebelumnya.
K4HRN : Thank you very munch. I hope you like this chapter too.
Viona-chan: Sudah nggak kepo lagi kan kenapa Jin bisa jadi iblis. Dan maaf kalau chapter ini update-nya nggak sesuai harapan Viona-chan.
yunah-xianxi : Bagaimana ceritanya? Penasarannya sudah berkurang atau malah makin bertambah?
Eva Kaban : Makasih atas semangatnya, dan makasih sudah dibilang oke *sambil ngacungin jempol*
Micchi
Rikachan: Tuh author disemangatin sama para readers, makanya jangan malas update.
jk : Makasih atas semangatnya! Semoga liburan ini author nggak malas update.
Android5Family : Maaf kalau pendek, padahal waktu di tulis di buku sampai beberapa lembar. Tak tahunya waktu diketik, jadinya segini deh.
Guest : Sudah lanjut kok, gomen kalau lama.
karin : Wah makasih sudah menyukai fanfic ini. Sebagai pemain, aku juga ikut senang.
Kazusa : Nah balasan review sudah dibacakan semua.
Karin : Wah, baru nyadar kalau panjang juga ya balasan review-nya -_-
Kazusa : Sekali lagi atas nama author, mau minta maaf sama para readers kalau chapter ini kurang memuaskan.
Himeka : Dan terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan me-review fanfic ini. Author sangat menghargai itu.
Kazusa : Oh ya sebelum kami tutup. Author mau nanya ke para readers. Kalian lebih suka fanfic yang ini atau fanfic author yang satunya lagi.
Karin : Yang mana, Kazusa?
Kazusa : Itu lho, yang Vampire Game.
Karin : Memangnya kenapa?
Kazusa : Enggak, author cuma ingin tahu saja pendapat dari readers. Mungkin salah satu dari kedua fanfic itu bakal ada yang mau ditamatin sama author.
Micchi : Ohh gitu, baiklah kalau begitu kalian jangan lupa pilih ya sekalian sama alasannya dan sekian dari kami.
All (-Bella dan Jin) : Sampai jumpa!
