Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many pairing.
Enjoy!
.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19
.
Chapter 11: Maurice Granger
Lupakan tentang liburan musim panas karena hal tersebut tidak akan menjadi hal yang menyenangkan untuk saat ini. Lupakan tentang Las Vegas. Lupakan tentang Asia.
Gadis itu berdiri karena daritadi dia sudah cukup lama berlutut—dia kembali menangis tanpa suara—dan menyeka air matanya sendiri menggunakan kedua tangannya. Terkadang dia mengusap-usap telapak tangannya yang kedinginan karena musim dingin.
Dia tidak mengatakan apa-apa sejak ibunya meninggal. Satu patah kata pun tidak bisa dia ucapkan. Dia tidak bisa mengucapkan apa-apa—yang dia lakukan hanyalah menangis dan memandangi potret ibunya. Setiap hari seperti itu—sampai hari ini.
Dia mengabaikan semuanya. Mengabaikan sepupunya—Maurice Granger—serta keluarganya yang lain, Ya, termasuk ayahnya. Dia mengabaikan semua sahabat-sahabatnya. Dia mengabaikan kekasihnya.
Dia terpukul.
Tapi yang lebih terpukul lagi ayahnya.
Mr. Granger tidak mau bergerak sesenti pun dari Rumah Sakit—dia selalu bersama istrinya, bahkan di kamar mayat sekali pun. Petugas kepolisian dan dari pihak kedokteran sudah menyuruhnya keluar, tapi Mr. Granger benar-benar stress. Dia tidak mau meninggalkan istrinya sekalipun.
Di pemakaman ini hening. Tidak ada yang bersuara. Beberapa orang sudah kembali dari tadi—dan yang tersisa hanyalah Mr. Granger, Hermione, Draco, dan Maurice. Kedua orang tua Maurice sudah pergi karena ada urusan penting yang tidak bisa mereka tinggalkan—begitu juga dengan anggota keluarga yang lain.
"Hermione, kau masih tidak mau berbicara?" tanya Draco lembut, berdiri di sebelah Hermione dan menggenggam tangannya.
Hermione diam dan menepis tangan Draco. Dia pergi dari sana meninggalkan semuanya. Mr. Granger menyusul Hermione tak lama kemudian. Suasana pemakaman menjadi lebih hening karena yang tersisa hanyalah Maurice dan Draco.
Gadis berambut ikal coklat serta sepasang bola mata keabu-abuan itu menatap Draco tajam.
"Jangan ganggu dia, Malfoy," ujarnya ketus. Dia menatap tidak suka kepada Draco dari atas sampai bawah, lalu dia melanjutkan, "kau hanya membuat moodnya tambah buruk."
Draco balas menatap Maurice dengan tajam. Dia menatap Maurice dari atas sampai bawah juga.
"Aku berusaha mengajaknya bicara, tahu? Memangnya kau? Mendiamkan dia begitu saja, tidak berusaha menghiburnya—"
"Aku mendiamkannya karena aku tahu dia memang tidak dalam keadaan mood untuk berbicara. Kalau kau mengganggunya, aku yakin dia akan menamparmu tak lama lagi."
"Tidak usah sok tahu, sialan." Uap-uap bermunculan dari mulut mereka berdua ketika mereka sedang berdebat. Cuaca musim dingin tidak membuat mereka menyerah, rupanya.
Maurice menatap Draco kesal. Dia menendang-nendang salju di bawahnya yang tidak bersalah.
"Kau baru mengenalnya dua tahun dan aku sudah mengenalnya sejak bertahun-tahun. Kaulah yang sok tahu. Dan kau tidak tahu apa-apa."
Draco merasakan amarahnya mendidih. Dia baru saja mengangkat tangannya untuk menampar Maurice, tapi ditahan oleh si gadis.
"Berani menamparku? Coba saja. Dan lihat apa yang terjadi dengan hubunganmu dan Hermione." Draco menurunkan tangannya perlahan-lahan dan melihat senyuman licik dari Maurice. "Tahu tidak? Aku tidak suka denganmu sejak awal. Dan aku tidak suka jika kau menjalin hubungan dengan salah satu sepupu kesukaanku—kau akan tahu akibatnya, Malfoy."
Maurice pergi dari sana setelah mengatakan kata-kata tersebut—meninggalkan Draco Malfoy yang ingin menonjok gadis itu sekarang juga. Draco melampiaskannya dengan memukul dirinya sendiri.
"Bagus. Sekarang tambah satu masalah lagi…" gumam Draco dengan dahi yang berkerut-kerut. Parkinson saja belum selesai masalahnya. Lalu ada Ginny Weasley yang tiba-tiba datang ke kelompok mereka.
Seandainya semua masalah-masalah itu bisa diselesaikan dengan semudah membalikkan telapak tangan.
.
.
"Hermione?"
Hermione membuka matanya setelah namanya dipanggil oleh seseorang yang dia kenal—gadis berambut ikal coklat dengan sepasang bola mata keabu-abuan. Maurice Granger. Dia mengucek-ngucek matanya—dia baru saja tertidur di mobil—dan menatap Maurice dengan tatapan ada-apa.
Maurice mendesah pelan. Dia menarik nafas sebentar sebelum kembali berbicara.
"Ayahmu butuh dukungan … tidak, kalian berdua butuh dukungan sekarang. Kenapa kalian berdua tidak mau berbicara sama sekali? Setidaknya untuk satu sama lain—aku tahu kalian sangat terpukul. Aku tahu…" Maurice diam sebentar. "Aunt Jean memang baik kepadaku, dia sering mengajakku shopping dan ke tempat-tempat yang aku suka…"
Mr. Granger yang menyetir di depan diam saja, begitu juga dengan Hermione.
Maurice yang merasa diabaikan kemudian tidak berbicara apa-apa lagi dan duduk dengan manis di bagian belakang bersama Hermione.
"Aku rasa kalian berdua memang butuh berbicara…" desah Maurice. Tapi untuk yang kesekian kalinya, gadis itu diabaikan—dan untuk kesekian kalinya juga, Maurice berpikir bahwa dia memang benar-benar harus diam saja.
Keadaan mobil menjadi hening. Dan kaku. Mr. Granger—sebagai kepala keluarga—yang sedang menyetir mobilnya menggigit bibirnya perlahan. Apa yang harus dia lakukan di tengah kepelikan seperti ini?
.
.
"Draco?"
Ron melambaikan kedua tangannya di depan Draco. Sekarang mereka berenam—Draco, Ron, Harry, Blaise, Theo, dan Ginny sedang berkumpul di kediaman Blaise. Mendiskusikan bagaimana cara mengembalikan Hermione seperti semula.
Dan Draco bengong. Iya, bengong. Dia masih memikirkan perkataan Maurice tadi yang menurutnya amat menjengkelkan—well—dan membuatnya cukup terintimidasi.
"Aku sudah menghubungi Hermione," ujar Ginny di tengah-tengah keheningan yang melanda mereka. Dia mengangkat ponselnya di hadapan mereka semua. "Dia tidak mau mengangkatnya."
"Jelas," sahut Ron dengan sebal. "Mana mau dia mengangkat telepon darimu."
Ginny langsung cemberut dan yang lainnya masih diam. Masih memikirkan cara supaya Hermione mereka tidak menjadi pendiam seperti itu.
"Draco, kau benar-benar sudah mengajaknya bicara?" tanya Harry.
Sudah, dan aku didamprat oleh sepupunya yang sialan.
"Sudah."
"Dan dia tidak mau menjawab perkataanmu sama sekali?" tanya Harry untuk kedua kalinya—untuk memastikan.
Bahkan genggaman tanganku ditepis olehnya.
"Ya."
"Nah nah Draco, kau jangan ikut-ikutan jadi seperti itu dong," kata Blaise sebal. "Jangan menganggap kita semua tidak mengunjungi pemakaman Mrs. Granger, ya—" Blaise berhenti sebentar, "—tadi kami sudah ke sana, tetapi karena ramai sekali, jadinya kami semua ketutupan."
Yang lain mengangguk.
Hari ini hari Kamis. Mereka berenam dengan rela bolos sekolah—mengikuti jejaknya Hermione. Sebenarnya Hermione tidak bolos, sih.
"Draco, aku yakin dia masih terpukul … bukannya tidak mau berbicara denganmu," ucap Harry sambil memukul pelan pundak Draco. "Jangan bersedih. Kami semua ada untukmu."
Yang lain mengangguk menyetujui.
"Yang butuh hiburan bukan aku…" kata Draco dengan raut wajah yang datar. Bisa dilihat ekspresinya yang tidak bisa ditebak. "Tapi Hermione."
"Kami tahu."
"Sekarang kami sedang memikirkan caranya—"
Theo yang sedaritadi paling diam di antara yang lainnya masih diam. Dia tidak bersuara sama sekali—entah berpikir atau bengong. Tidak ada yang tahu.
"Diamkan saja," ujar Theo tiba-tiba. Yang lain langsung menoleh kepadanya. "Aku mengenal Hermione, jadi aku yakin dia memang masih butuh waktu. Kalau kita mengerecokinya terus menerus, dia pasti sebal."
Draco menatap Theo dengan heran dan penasaran. Sejak kapan Theo bisa memiliki telepati dengan Maurice? Kenapa jawaban mereka hampir sama?
"Mungkin benar," celetuk Ron.
"Hmm…"
Yang lainnya masih berpikir. Draco memikirkan usul Theo tadi. Mungkin benar, mengingat sudah dua orang yang mengatakan yang persis seperti itu…
"Baiklah."
Yang lain menengok ke arah Draco.
"Mungkin kita harus mendiamkannya dulu. Aku sebenarnya tidak terlalu yakin dengan usul ini—" karena aku pasti merindukan Hermione setengah mati, "—tapi untuk kebaikannya, tidak apa-apa."
"Yosh. Sekarang, ada yang mau ke rumah Hermione?"
"Dia sedang menuju rumah sepupunya yang lain—keluarga besar Granger dan ibunya—aku tidak tahu namanya siapa—akan mengadakan pertemuan antar-keluarga," sahut Draco.
"Begitu…"
Tiba-tiba ponsel seseorang berbunyi—ponsel Ginny Weasley. Ginny melihat nama yang berada di ponselnya.
Roger Davies.
Untuk apa seorang mantan tiba-tiba meneleponnya di saat situasi sedang berduka dan suasana mereka semua sedang kaku?
Ginny mengangkat telepon itu dengan canggung setelah menatap satu persatu semua laki-laki yang berada di situ.
"Halo?"
Ron mencubit-cubit lengan adiknya dan menyuruhnya untuk memasang loudspeaker agar mereka semua bisa dengar. Dan anehnya, Ginny mengangguk patuh tanpa banyak bicara apa-apa lagi.
"Weasley, di mana kau? Bolos ya?"
Ginny tidak menjawab bagian yang tidak penting itu. Atau menurutnya, bagian itu tidak penting.
"Ada apa?" tanya Ginny tanpa basa-basi. Dia risih karena seharusnya pembicaraan pribadi ini menjadi pembicaraan untuk semua orang yang berada di sana.
"Ada hal penting yang harus kubicarakan—"
"Bicara saja," potong Ginny cepat.
"Kau sedang bermusuhan dengan Parkinson dan Greengrass?"
Mendengar kata Greengrass disebut, Theo memasang telinga baik-baik walaupun jaraknya dengan telepon Ginny paling jauh di antara yang lainnya.
"Hmm , kenapa?"
"Mereka sedang mengobrak-abrik lokermu entah melakukan apa. Bukan bermaksud ikut campur, tapi aku tidak suka karena tempat penyimpanan loker menjadi bau—"
"Bau?"
"Sepertinya mereka meletakkan bangkai di lokermu." Nada di seberang telepon menjadi dipelankan sedikit. Menurut pemikiran Harry, mungkin Davies sedang sembunyi-sembunyi saat menelepon Ginny—
"Sialan," desis Ginny. "Siapa yang melakukannya?"
"Entah. Antara Parkinson atau Greengrass."
"Kau mengetahuinya dari siapa?"
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
"Terus kenapa kau tidak tahu siapa yang meletakkan bangkai di lokerku?" tanya Ginny sebal. Dia membayangkannya—dan dia ingin muntah sekarang.
"Oke, oke." Terdengar suara pasrah di sana. "Greengrass."
Greengrass?
"Kapan dia bisa berubah?" gumam Theo pelan. Tetapi terdengar oleh Harry yang duduk di sebelahnya.
"Greengrass yang mana?"
"Yang lebih tua."
Theo menjadi menyesal kenapa dia memaafkan Daphne seperti itu. Gadis itu tidak pernah berubah, dan sepertinya tidak mau berubah ….
"Tapi atas usul Parkinson, 'kan?" tanya Ginny cepat—dia melihat perubahan pada raut wajah Theo. Ginny tahu tentang hubungan mereka berdua dan dia tidak mau melihat salah satu di antara mereka terluka.
"Sepertinya. Sudah, ya. Aku sudah mau masuk kelas."
Sambungan telepon dimatikan oleh Davies. Kini suasana menjadi hening kembali. Ginny memang tidak terlalu terkejut karena dia yakin akan diberikan 'hukuman' seperti ini oleh mereka bertiga. Tapi … dia tidak mau hubungan orang lain menjadi ikut campur masalahnya. Dia berniat baik sekarang—sungguh, dia sudah tidak ada niat jahat seperti saat dia bergabung dengan Pansy and the Gang dulu.
"Theo?" panggil Ginny pelan. Ginny menatap Theo dengan prihatin.
Theo tidak menjawab dan menunduk. Memainkan karpet berbulu di ruang tamu Blaise—entah apa yang dilakukannya.
Yang lain jadi ikut-ikutan menoleh ke arah Theo.
"Jangan menatapku seperti itu," ujar Theo. "Itu menijijikkan."
Yang lain langsung menoleh ke arah lain—memalingkan pandangan. Theo mendengus pelan. Dia tidak butuh dikasihani.
"Aku duluan."
Theo bangkit dari duduknya, mengambil mantel yang tergantung di belakang pintu rumah Blaise, memakai sepatu boots miliknya, lalu keluar dari rumah yang hangat itu.
Entah apa yang akan dilakukannya—semua hanya mengangkat bahu. Menatap kepergian Theo dengan tanda tanya besar di kepala mereka.
.
.
"Baiklah … Hermione, dengarkan aku," bisik Maurice di telinga Hermione ketika anggota keluarga yang lain sedang sibuk. "Mungkin kau tidak mau berbicara, tapi aku akan mengatakan sesuatu … tentang hubunganmu dan Malfoy—"
Secepat kilat Hermione segera menoleh ketika nama Malfoy disebutkan.
"Jujur saja, aku kurang suka dengan dia, apalagi hubunganmu dengan dia," lanjut Maurice masih tetap berbisik. "Tahu tidak? Tadi dia hampir menamparku di pemakaman ibumu."
"Dia juga mengatakan aku sok tahu—" kata Maurice. "Kau mungkin tidak percaya, tapi dia juga mengataiku sialan."
Hermione menatap Maurice tidak percaya. Dia membelalakkan sepasang mata hazelnya. Maurice tidak memerdulikan tatapan itu, dan dia terus mengoceh dan berbicara.
"Kau mungkin boleh tidak percaya, tapi yang aku katakan itu sungguhan. Entah dia tidak suka dengan aku atau dengan keluarga kita, Hermione—mengingat dia tidak ada sedih-sedihnya saat pemakaman ibumu. Tapi apa kau yakin mau mempertahankan hubunganmu dengan pemuda kasar macam dia?"
Benarkah semua itu…?
"Andai saja Aunt Jean masih di sini, dia pasti sependapat denganku…" ujar Maurice sedih. Dia menundukkan kepalanya. "Hermione? Kau mendengarku, kan?"
Hermione menggeleng pelan … entah apa yang dia gelengkan.
"Hermione?"
"Draco…"
Maurice bisa mendengarkan suara sendu yang dikeluarkan Hermione—suara pertama yang dikeluarkan setelah kematian ibunya.
Seandainya saja Hermione bisa melihat seringai licik dibalik helaian rambut ikal coklat milik gadis itu.
Maurice kembali menegakkan kepalanya dan menepuk pundak Hermione.
"Ya sudah, tidak usah dipikirkan," kata Maurice tersenyum ceria. "Mungkin dia memang sebal padaku, hahaha," Maurice tertawa hambar. "Aku senang kau berbicara lagi, Hermione."
Tapi anehnya, Hermione terus menggeleng.
Walaupun Maurice terkadang menyebalkan, Maurice tetap sepupunya, keluarganya … keluarga yang tidak bisa dibeli dengan apa pun…
Hermione menggelengkan kepalanya sekali lagi. Tatapan matanya kosong. Mungkin dia memang tidak menangis sekarang, tetapi—siapa yang tahu isi hati seorang Hermione Granger?
.
.
Hari Jumat, Hermione masuk sekolah. Dia berjalan sendiri. Tanpa teman, tanpa sahabat, tanpa kekasihnya. Dia sendirian.
Ron hampir menyemburkan jus yang berada di mulutnya ketika melihat Hermione sudah masuk ke sekolah.
"HERMIONE!" teriak Ron heboh. Dia membuat siswa-siswi yang berada di kantin menoleh kepadanya. "AKHIRNYA KAU MASUK! SINI, DUDUK DENGAN KAMI!"
Siswa-siswi yang lain menatap sebal pada Ron yang heboh dan melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Hermione mendengar Ron, tetapi dia mengabaikan Ron dengan gelengan kepala.
Ron, Harry, Blaise, Ginny, dan Draco—penghuni meja itu menatap Hermione dengan heran. Tergesa, Draco menghampiri Hermione dan menepuk pundaknya.
"Ada apa?"
Hermione menggeleng lagi.
Lagi-lagi, tangan Draco ditepis oleh Hermione. Pansy Parkinson yang tidak jauh dari tempat kejadian mengamati kejadian itu dengan dahi yang berkerut-kerut dan mata yang melotot hampir keluar dari tempatnya. Dia penasaran apa yang terjadi.
"Draco…"
"Hermione, akhirnya kau berbicara." ujar Draco senang.
"Kau berbicara apa saja dengan Maurice di pemakaman ibuku kemarin?" tanya Hermione sambil menatap Draco—tetapi tatapan matanya kosong. Tidak fokus. Entah apa yang dipikirkannya. Lagi-lagi … itu semua masih tidak jelas. Blur.
Draco membelalakkan matanya ketika Hermione menanyakan hal itu.
"Maurice Granger sepupumu, maksudmu?"
Hermione mengangguk pelan.
"A—aku…"
Apakah Hermione marah karena dia membentak sepupunya? Tapi gadis itu yang membuatnya panas terlebih dulu—Draco bertindak karena emosinya sendiri …
"Kau hampir menamparnya?"
Gadis itu mengadukan semuanya pada Hermione? Sialan.
"Aku memang hampir menamparnya karena dia bilang—"
Draco tidak jadi melanjutkan perkataannya karena dia lihat Hermione sudah meninggalkannya. Hermione berjalan keluar dari kantin dengan langkah gontai. Terlihat kalau wajah Hermione sangat tidak diketahui ekspresinya—sangat tidak bisa ditebak.
"Sialan…" desis Draco geram. "Sebenarnya apa tujuan dari si brengsek itu?"
Draco melangkah menuju meja yang sudah dipenuhi teman-temannya—pengecualian untuk Hermione yang baru saja pergi dan Theo yang tak kunjung datang. Dia memijat-mijat pelipisnya dan menatap teman-temannya satu persatu.
"Sekarang, di mana Theo?" tanya Draco cepat. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari temannya yang satu itu, tapi tidak kelihatan.
"Tidak tahu," ujar yang lainnya bersamaan. Lalu mereka semua menatap satu sama lain.
"Dengar," kata Draco dengan mimik wajah serius. Semua mendengarkannya. "Aku ingin semua masalah kita selesai. Tolong … aku butuh bantuan kalian. Kita harus menyelesaikan semua masalah." Draco berhenti sebentar. "Aku ingin kita menjalani kehidupan sekolah kita di High School tanpa banyak masalah yang memusingkan."
Harry menatap Draco heran. Yang lainnya mengikuti jejak Harry.
"Apa maksudmu?"
"Aku ada masalah," sahut Draco cepat. "Dan kita semua sedang banyak masalah. Kita sahabat, benar? Mari kita bantu satu sama lain sekarang."
Blaise, Ron, Harry, dan Ginny menatap Draco dengan tatapan yang—well—bisa dikatakan kagum dan tidak percaya.
"Sejak kapan kau puitis seperti itu, Draco?" tanya Blaise usil. Draco mendelik kepadanya. "Aku harus mencari Theo … aku yakin dia juga sedang dalam masalah—"
"—dengan Daphne," lanjut Ginny. Draco mengangguk menyetujui perkataan gadis berambut merah itu. "Aku pergi dulu. Aku mau menyeretnya ke sini sekarang. Lebih bagus lagi kalau aku bisa menemukan Hermione."
Yang lain mengangguk.
Sebenarnya Draco masih tidak yakin jika Hermione kembali untuk bersekolah. Mungkin Hermione memang ke sini untuk menemuinya, menanyakan pertanyaan tadi.
.
.
"Jangan menatapku seperti itu. Itu menjijikkan," ujar Theo ketus terhadap Daphne yang sedang mengejar di belakangnya. "Dan jangan mengejar-ngejar aku seperti itu, Greengrass."
Langkah keduanya berhenti. Iya, keduanya.
Theo menoleh ke arah Daphne yang sedang menunduk.
"Aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti itu."
Daphne tetap menunduk. Dia memainkan seragamnya berkali-kali dan pura-pura merapikan rambut panjangnya. Terdengar giginya yang bergemeletuk.
"Theo—"
"Aku tidak bisa, Daphne. Aku sudah bilang aku mau kau berubah sikap." Theo memalingkan pandangannya. Lima detik kemudian, dia membalikkan badannya dan memunggungi Daphne. "Aku berharap kau berubah," gumam Theo pelan dan melanjutkan langkah-langkahnya.
"Aku mencintaimu—"
"—aku juga."
Suara-suara itu mereka ucapkan tanpa suara. Seakan memiliki telepati dalam hati, memiliki pikiran yang sama, memiliki hati yang sama.
—bukankah karena mereka saling mencintai?
.xOx.
TO BE CONTINUE
A/N: Halo. Welcome!:)
gothicamylee: makasih, ya! :D hmm … kurang panjang? Maafkan qunny T_T dia emang nggak bisa bikin yang panjang-panjang T_T ini sudah update. Mind to RnR again? ;)
caca: ini sudah update. Mind to RnR again? ;)
valerieva: tjiyeee flashback:p ahahaha. Ini sudah update, kak. Mind to RnR again? ;)
BlueDiamond13: hah? Masa sih? Wkwkwk ._.ini sudah update. Mind to RnR again? ;)
DeeMacmillan: hmm … Maurice memang ditampilkan di sini. Bisa dibilang perannya sekarang lumayan besar. Baca aja, ya! :D mind to RnR again? ;)
larastin: maafkan aku nak ;'3 baru kepikiran idenya sekarang. Err .. maaf ya maaf? /begging you/ ahahaha. Nyambit aja si Ronnya /heh. :3 ini anggap aja kado ficnya /digampar. Mind to RnR again? ;)
rereistiana: iyaah soalnya mereka sepupuan ehe maap yak :3 kalo Hermione kayak gitu jadinya Mary-Sue dong? T_T haha. Saya juga suka pasangan itu. Bikin greget dan aku emang suka saat ngetik tentang mereka :3 yaudah gapapa :D mind to RnR again? ;)
anyaaa: hehe:D di follow aja/promosi. Ini sudah update. Mind to RnR again? ;)
ksatriabawangmerah: benarkah? Makasih ya:3 rae juga update fic MCnya dong ehehe. Hmm iyah:D mungkin yaa :D mind to RnR again? ;)
Adisti Malfoy: ini sudah update. Mind to RnR again?;)
Maaf updatenya terlalu lama karena kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa dihindari. Ini sudah bisa ngetik saja udah syukur:DD
Maurice … entah kenapa saya malah suka mengetik tentang dia ketika dia sedang memainkan peran antagonis di sini. Mungkin karena sayanya yang memang menyukai karakter antagonis? Entahlah. Maafkan saya yang telah membuat karakter OC di sini—Maurice, menjadi berperan lumayan banyak.
Saya tidak tahu nama asli kedua orang tua Hermione, tapi mengingat nama tengah Hermione adalah Jean maka saya menyimpulkan sendiri kalau Jean adalah nama ibunya—tapi kita tidak tahu apa-apa, benar? Maka untuk fic ini, anggap saja nama ibu Hermione adalah Jean.
Review? :D
