Hola! I'm back! Ok then just go on the story ;D


Warning: OOC, USNesia, CanNesia, multi-pairing (fanservice purpose :p), AU, a bit of Mary Sue/Gary Stu, human name used, maybe plot hole, and other warnings.


xXx_Doppelgänger_xXx

Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya

Doppelgänger © Luz Bianca

xXx_Doppelgänger_xXx


Antonio mengggerak-gerakkan vacuum cleaner ke segala arah dengan tatapan menerawang. Kirana masih tidak mau bicara dengannya sejak Lovino mendadak muncul di depan pintu apartemen Kirana pada malam natal tempo hari. Saat ini pria berkeriwil itu tengah sibuk menghadiri pesta yang diadakan oleh rekannya sesama pemain sepak bola. Oh ya, Lovino sekarang tengah berada di puncak karirnya sebagai salah satu pemain di klub sepak bola papan atas dan kerap bermain di timnas Italia.

Terdengar suara aneh dari vacuum cleaner dan Antonio membungkuk untuk memungut benda yang menyumbat lubang penyedot debu. Sebuah buku saku tebal bersampul biru tua yang sudah sangat usang. Antonio membuka lembar pertama dan membaca nama si empunya buku yang ditulis dengan tidak begitu rapi, khas tulisan pelajar. Lovino Vargas.

"Kenapa Lovi membawa buku tua ini? Sangat bukan dirinya sekali." Gumam Antonio sambil membuka-buka lembaran demi lembaran yang sudah menguning dan sedikit berbau apak. Ia berhenti di suatu halaman dimana Lovino menggambar hati berwarna merah tua besar-besar dengan foto candid seorang gadis berseragam sekolah ditempelkan di tengah-tengah gambar. Tatapan Antonio langsung berubah menjadi sayu begitu mengenali siapa gadis itu.

"Apa sekarang kau masih menyukainya, Lovi? Kuharap tidak, karena..." Antonio menggantung ucapannya sambil menatap gadis dalam foto. Ibu jarinya mengusap foto itu dengan perlahan.

TING TONG

Antonio meletakkan buku itu di atas meja lalu mematikan vacuum cleaner kemudian berjalan menuju pintu. Ia mengintip melalui celah pintu dan langsung membuka pintu begitu tahu siapa yang datang. Seorang pria dengan senyum psikopat tersungging di bibirnya. Siapa lagi kalau bukan Ivan. Tapi mengapa ia datang kesini sekarang? Seingat Antonio, Ivan sudah menjemput Kirana ke kantor sekitar empat jam yang lalu.

"Aku kesini hanya ingin memberitahumu," ujar Ivan begitu ia dipersilakan duduk oleh Antonio. Terdapat nada panik dalam suaranya.

"Ja, memberitahu apa?" Antonio duduk di hadapan Ivan dengan kedua tangan bertaut di bawah dagu.

"Kirana masuk rumah sakit lagi. Parah sekali. Dia sampai harus masuk ruang ICU."

Napas Antonio tertahan dan sekujur tubuhnya menegang. Lagi?

"Kali ini, kumohon datanglah kesana. Kirana memang tidak mengatakan apa-apa tapi aku tahu, dia membutuhkanmu." Ivan menatap Antonio dengan sorot mata serius bercampur memohon. Antonio terpaku, mulutnya terasa membeku sehingga kata-kata yang ingin terucapkan sulit keluar.

"Datanglah, Antonio..."


"Tolong katakan padaku, Tiino. Apa ini semua salahku karena mengajak Kirana keluar makan siang?" tanya Matthew sambil mondar-mandir dalam kepanikan yang kentara. Tiino yang duduk di salah satu kursi di ruang tunggu depan ICU hanya diam, sama paniknya dengan Matthew. Iris violet-nya tertumbuk pada cincin platina yang terlihat asing tersemat di jari manis kanan Matthew. Matanya melebar selama beberapa saat, kemudian ia tertunduk, mengerti. Ia sudah kalah.

Suara derap langkah yang berasal dari pintu yang menghubungkan koridor ruang ICU dengan koridor utama membuat Matthew dan Tiino menghentikan aktivitasnya masing-masing. Keduanya terperangah melihat Ivan datang bersama seorang pria Hispanik berambut cokelat yang sama sekali tidak asing. Suster dan dokter yang kebetulan lewat langsung memberi jalan pada mereka berdua.

"B-bukannya dia Prince Antonio yang sedang buron itu...? Is he really coming here?" tanya Tiino sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Bagaimana keadaan Kirana? Dia baik-baik saja?" tanya Ivan sebelum pria berambut cokelat yang dipanggil Prince Antonio itu membuka mulutnya.

Matthew menggeleng, "Komplikasi kanker paru-paru stadium empat dan gangguan saraf motorik." Ia dapat mendengar suara napas Antonio yang tertahan.

"Apa kalian... sudah melihatnya?" tanya Antonio agak terbata. Matthew dan Tiino menggeleng.

Lalu pintu ruang ICU dibuka dan keluarlah beberapa perawat yang mendorong sebuah ranjang beroda yang ditiduri Kirana. Antonio, Ivan, Matthew dan Tiino langsung mengikuti mereka.

"Ivan?" suara itu membuat Ivan berhenti dan menoleh ke sumber suara. Seorang dokter berwajah Asia berambut hitam dengan helai kebiruan yang menarik.

"Daniel," Ivan menghampiri Daniel tergesa-gesa. "Bagaimana keadaan Kirana?" tanyanya khawatir. Alih-alih menjawab, Daniel malah berbalik pergi sambil memberi isyarat kepada Ivan untuk mengikutinya.

"Bagaimana keadaan Kirana, Daniel?" Ivan mengulang pertanyaannya saat mereka berdua telah duduk di dalam ruangan Daniel.

"Sudah berapa lama Kirana tinggal di apartemen itu?" Daniel malah balik bertanya. Ivan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Daniel.

"Apa hubungannya dengan keadaan Kirana, Daniel?" tanya Ivan gusar.

"Sudahlah, jawab saja!" seru Daniel sedikit membentak. Ia nampak gelisah. Ivan terdiam, mengingat-ingat. Jemarinya bergerak-gerak mengkalkulasikan apa yang ada dalam pikirannya.

"Empat tahun." Jawab Ivan. Daniel menghela napas berat. Dokter yang berusia akhir duapuluhan itu memijat pelipisnya.

"Kenapa? Apa yang terjadi, Daniel?" desak Ivan yang semakin khawatir melihat reaksi Daniel.

"Berjanjilah padaku untuk tidak mengatakan hal ini pada Kirana." Ivan menyanggupi dengan satu kali anggukan mantap.

Daniel menarik napas sebelum melanjutkan, "Ada timbunan polonium dan timah dalam paru-paru Kirana. Kedua unsur itu yang menyebabkan sel-sel paru-paru Kirana menjadi sel kanker. Aku curiga Kirana sudah sakit sejak lama sekali. Dan baru ketahuan sekarang, ketika kankernya sudah mencapai stadium empat."

"Kenapa... Bagaimana bisa ada timah dalam paru-parunya?"

"..." Tidak ada respon apapun dari Daniel selain wajah desperate yang ditunjukkannya.

"Daniel," ucapan Ivan menggantung. "Ini pasti berhubungan dengan lamanya Kirana tinggal di apartemen itu kan?" pertanyaan Ivan langsung terjawab saat Daniel menatapnya.

"Kau berkesimpulan, apartemen itu terkontaminasi polonium dan timah, begitu kan?"

"Tidak, bukan begitu. Kedua unsur tersebut merupakan hasil peluruhan dari gas radon yang sering ditemukan di dalam gedung. Nah, dalam apartemen Kirana diduga terkandung gas radon yang terhirup masuk ke paru-paru dan meluruh menjadi polonium dan timah." Jelas Daniel.

Ivan tak dapat berkata-kata lagi setelah mendengar penjelasan Daniel. Ia hanya memandang Daniel yang juga menatapnya dengan nanar.


Kirana diam memandangi selang infus yang menempel di pergelangan tangan kirinya. Ia tidak pernah menyukai rumah sakit yang selalu beraroma kematian. Rumah sakit juga selalu mengingatkannya pada Miranda yang merelakan jantungnya untuk menyelamatkan Kirana yang nyaris mengalami kegagalan jantung. Saat ia membuka mata beberapa menit yang lalu, ia langsung berteriak histeris dan memberontak ingin kabur begitu menyadari dirinya berada di rumah sakit. Antonio, Tiino, dan Matthew sampai kewalahan menenangkannya hingga akhirnya masuklah seorang perawat yang kemudian menyuntikkan suatu cairan yang membuat Kirana lemas. Kirana menyadari cairan yang disuntikkan itu adalah obat penenang.

Kirana memalingkan pandangannya dari selang infus dan menatap ketiga pria yang duduk di sekelilingnya. Bibirnya yang pucat membuka, membisikkan permintaan akan air. Antonio membantunya untuk menegakkan tubuh sementara Matthew meminumkan segelas air putih yang terasa sangat dingin di tenggorokannya yang kering.

Ia meringis pelan saat kepalanya terasa sakit begitu ia kembali merebahkan kepalanya ke bantal. Ia memejamkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya keras-keras saat rasa sakit itu semakin menyiksa. Bahkan erangan kecil lolos dari bibirnya. Matthew menggenggam tangan kanannya dan ia mengerahkan segala kekuatannya untuk balas menggenggam tangan Matthew seerat mungkin. Namun yang terasa oleh Matthew hanyalah remasan kecil.

"Ss-sakit..." rintih Kirana. Ingin rasanya ia menjambak rambutnya sampai rontok, namun apa daya seluruh tubuhnya lemas bagai tak bertulang setelah disuntikkan obat penenang beberapa saat yang lalu. Rasanya berkali-kali lipat lebih menyiksa. Kirana sampai ingin menangis rasanya.

Tiba-tiba sesuatu yang lembut menekan bibirnya dan surai pirang memenuhi pandangannya. Onyx Kirana bergerak hanya untuk menemukan bahwa dirinya sedang bertatapan dengan sepasang violet yang keindahannya tertutup kacamata.

Cokelat bertatapan dengan pirang yang lain.

Kemudian pintu terbuka dan Ivan masuk, membuyarkan seluruh kegiatan di kamar itu.

"Kirana, thanks God, kau sudah sadar, da." Ivan mendekati Kirana dan menggenggam tangannya. Ia melirik sekilas Matthew yang sedang mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Sadar tengah dilirik, Matthew menjadi salah tingkah. Apalagi Tiino dan Antonio melihat semuanya tadi.

"Aku baik-baik saja, Ivan." Sahut Kirana pelan.

"Syukurlah jika benar begitu. Aku, Antonio, dan Tiino pergi keluar dulu." Ivan mendorong Antonio dan Tiino─yang nampak tidak terima dengan perkataannya─keluar ruangan. "Matthew, tolong jaga Kirana sebentar ya." Ia menyunggingkan senyum penuh arti pada Matthew sebelum menutup pintu.

"Kenapa kau menyuruh kami keluar?" tanya Tiino saat sudah berada di luar kamar. Kedua alisnya berkerut tidak senang.

"Kirana dan Matthew butuh waktu berdua saja, kau tahu kan kalau mereka baru saja bertunangan."

"Apa? Kirana sudah bertunangan?!" ulang Antonio dengan intonasi tinggi. Ivan memberi isyarat pada Antonio untuk diam dan mengangguk.

Antonio berdehem sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih pelan tanpa mengurangi keterkejutannya, "Sejak kapan?"

"Sejak tadi, beberapa saat sebelum Kirana mendadak pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Saat itu Kirana dan Matthew sedang keluar makan siang berdua." Jawab Tiino. Kemudian ia menambahkan dengan nada lirih, "Matthew menceritakan rencananya padaku bahwa ia akan melamar Kirana di sebuah restoran bergaya Perancis yang romantis."

"Memangnya kenapa, Antonio?" Ivan melirik Antonio yang terdiam dengan kekecewaan yang terlihat jelas di raut wajahnya. Tangannya bergerak mencengkeram sesuatu yang berada di sakunya. Melihat Antonio yang sepertinya tidak akan berkata apa-apa, Ivan memilih untuk duduk di salah satu kursi yang berada di depan kamar.

Tanpa disangkanya, Antonio mengeluarkan benda di sakunya yang sedari tadi ia genggam. Sebuah kotak cincin beludru hitam berbentuk mawar─persis seperti dugaan Ivan sebelumnya. Antonio mendesah berat, menatap kotak cincin itu dengan tatapan sedih, "Aku berniat untuk melamar Kirana. Aku membeli cincin ini secara darurat dengan memanfaatkan popularitasku sebagai pangeran. Aku tidak peduli dengan berita tentang keberadaanku yang akan menyebar. Dan ternyata aku terlambat. Sangat terlambat." Ia menyunggingkan senyum getir.

Antonio berjalan menuju tempat sampah dan mengangkat tangannya yang memegang kotak cincin sehingga berada di atas tempat sampah. Dengan tatapan sayu ia melepas genggamannya dan membiarkan kotak cincin itu meluncur jatuh ke dalam tempat sampah. Suara kotak cincin yang menghantam permukaan tempat sampah memecahkan kesunyian yang mendadak menyergap mereka bertiga.

"Bagaimana dengan Putri Sara, Antonio? Bukankah kau sudah dijodohkan dengannya? Apa yang kurang darinya? Dia cantik, dia baik hati, dan dia juga sangat aktif dalam organisasi-organisasi kemanusiaan internasional. Sejauh ini aku tidak menemukan cacat dari dirinya." Tanya Ivan memecahkan keheningan, merujuk pada Sara Guevara, putri kedua dari Kerajaan Portugis. Keduanya memang telah dijodohkan demi mempererat hubungan kerjasama antar negara. Pernikahan politik.

"Putri Sara, ya?" Antonio bergumam, "Justru karena itu. Dia terlalu sempurna untukku dan itu membosankan. Dan sebaliknya, saat bersama Kirana aku merasa dibutuhkan. Dan hanya itu yang aku inginkan. Aku membutuhkan wanita yang membutuhkanku." Antonio menatap pintu kamar dengan nanar. Memorinya selama tinggal di apartemen Kirana muncul di pikirannya. Mulai dari bagaimana gadis itu menyelamatkannya yang meringkuk kedinginan nyaris hypothermia di pinggir jembatan sampai bagaimana gadis itu marah padanya. Semuanya terasa menyenangkan dan membahagiakan.

"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, da?" tanya Ivan.

Muncul senyuman getir dari bibir Antonio, "Apalagi yang dapat kulakukan? Sudah pasti menikahi Putri Sara. Dan menerima ceramah dari kedua orangtuaku." Ia melipat kedua tangannya dan menatap dinding koridor rumah sakit yang berwarna salem lurus-lurus seolah ia memiliki dendam pribadi pada dinding itu.

Ivan membuka mulutnya dan baru saja akan menyahut ketika pintu kamar berderit terbuka menampakkan kepala pirang Matthew di baliknya.

"Kalian kenapa tidak langsung masuk saja? Kirana menunggu kalian." Ucapnya.

"Ah, maaf. Kami keasyikan ngobrol." Ivan menimpali. Ia berdiri, memberi isyarat pada Tiino dan Antonio untuk masuk. Matthew membuka pintu lebih lebar agar semuanya bisa masuk kemudian menutupnya lagi setelah yakin tidak ada tamu lagi di koridor.

Antonio yang terlebih dahulu menghampiri Kirana yang duduk bersandar pada ranjang yang telah disesuaikan posisinya untuk menyangga punggungnya. Melalui pandangan mata, ketiga pria lainnya di kamar itu setuju untuk tetap diam di tempat. Mereka bertiga mengamati Antonio yang menggenggam tangan Kirana erat-erat sambil berbicara dengan suara rendah yang tidak terlalu terdengar. Kirana terlihat sedih namun berusaha menutupinya. Ia terkesiap saat Antonio memeluknya, namun kemudian ia diam tidak menolak. Kedua lengannya perlahan bergerak melingkari tubuh Antonio, balas memeluknya.

Ivan melirik Matthew yang menatap mereka berdua dengan tatapan aneh. Ia meletakkan tangannya di pundak kanan Matthew dan menepuknya dua kali.

"Kirana tetap milikmu, Matthew." Matthew memalingkan kepalanya dan menjadi salah tingkah. Rupanya Ivan memahaminya lebih dari yang diduganya.

Pintu tiba-tiba terbuka dengan sentakan keras, mengagetkan semua yang berada di kamar. Antonio dan Kirana terkejut dan cepat-cepat melepaskan pelukannya. Dari pintu muncul Lovino yang berdiri tersengal-sengal. Ia menatap Kirana yang berbaring setengah duduk di ranjang dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam benaknya muncul bayangan Kirana semasa sekolah yang sering keluar-masuk rumah sakit.

"Lovino..." gumam Kirana. Ia mengenali ekspresi wajah Lovino sebagai ekspresi takut kehilangan. Persis seperti saat Kirana drop ketika masih bersekolah di G'Lo.

"Sudah tujuh tahun terlewat setelah Miranda pergi," gumam Lovino kemudian melanjutkan, "Apa kau berencana untuk pergi juga?"

"Apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu? Aku tidak─ukhh..." Kirana menunduk mengernyitkan alisnya saat dirasakannya nyeri pada rusuk dan ulu hatinya.

"Kirana? Kau baik-baik saja?" tanya Antonio khawatir. Kirana mengangkat tangannya dan mengangguk sambil berusaha menahan sakit.

"Tak apa, ini hanya reaksi tubuhku pada obat. Aku... baik-baik saja."


Karena Kirana menolak menjalani pengobatan secara kemoterapi, Daniel memutuskan untuk membuat lubang kecil di dada Kirana─untuk mengeluarkan cairan yang memenuhi paru-parunya. Daniel juga memberi Kirana obat-obatan oral untuk meringankan rasa sakit akibat gejala kanker─yang sebenarnya juga berpotensi merusak paru-paru Kirana serta berefek samping pada organ lainnya.

Sambil mempersiapkan obat bius dan segala macam peralatan lainnya, Daniel melirik Kirana. Gadis itu terbaring─dalam balutan piyama hijau muda milik rumah sakit─diam tanpa ekspresi. Daniel tidak menyangka akan bertemu dengan Kirana lagi dalam kondisi yang sama persis seperti tujuh tahun yang lalu. Gadis itu sudah banyak berkembang semenjak terakhir Daniel bertemu dengannya di rumah sakit saat Kiku mengunjunginya, sekitar dua tahun yang lalu. Pengecualian untuk saat Kirana yang dibawa Ivan ke rumah sakit dalam keadaan lumpuh.

"Ada yang mengganggu pikiranmu, Daniel?" pertanyaan Kirana membuat Daniel menghentikan sejenak kegiatannya membuka bungkus alat suntik yang akan digunakannya untuk menyuntikkan obat bius ke botol infus.

Daniel tersenyum ramah dan menggeleng, "Aku hanya berpikir, kau sudah banyak berkembang sejak terakhir kali aku melihatmu bersama keponakanku." Ia melanjutkan kegiatannya. Dilihatnya Kirana menyunggingkan senyum tipis mendengar perkataannya. Daniel menyuntikkan obat bius yang telah disedotnya ke dalam alat suntik ke botol infus dan menunggu reaksi dari tubuh Kirana.

"Maafkan aku,"

Daniel menoleh terheran-heran, "Kenapa kau minta maaf?" Namun Kirana hanya menggeleng sambil tetap tersenyum tipis. Gadis itu menghela napas berat kemudian menatap langit-langit rumah sakit yang membosankan, merasakan pergelangan tangannya─dimana jarum infus itu tertanam─mulai terasa dingin dan perlahan menjalar ke seluruh tubuh. Ia merespon pertanyaan dari perawat asisten Daniel dengan jawaban-jawaban singkat hingga kemudian pandangannya menggelap dan ia tidak ingat apa-apa lagi.


Fuaahh! UN sudah selesai dan maaf saya perlu banyak waktu untuk melanjutkan fic kesayangan kita ini~ #plak

Inspirasi untuk chapter ini kudapat waktu lagi belajar Fisika kelas XII bab Radioaktivitas dan Atom Berinti Banyak plus materi Kimia bab Unsur-Unsur Radioaktif. Oh saya sukaaaaa banget materi ituuuuuu!#FYI #curcol

Well, umm... review?