DAISUKE NEE-SAN!

:

:

:

Chapter 11

Waiting for You, again?

:

:

:

"Dia disini kan?"

Sasuke berdiri didepan apartemen Hyuuga Neji. Ia menanyakan perihal keberadaan Karin. Neji yang tidak tahu apa-apa tentu saja heran melihat kedatangan atasannya itu.

"Siapa yang anda maksud, Uchiha-sama?" tanya pria berambut coklat itu.

"Karin. Aku yakin dia disini. Cepat kau panggil dia atau aku akan memaksa masuk."

"Uchiha-sama. Saya baru tiba dari Kobe, kampung halaman saya satu jam yang lalu. Saya rasa anda tahu kalau saya mengambil cuti selama satu minggu. Karin tidak ada disini."

Sasuke berpikir sebentar. Ia memang tahu kalau Neji mengambil cuti selama seminggu untuk mengunjungi orang tuanya. Menghela nafas frustasi, Sasuke beranjak dari hadapan pemuda itu. Baru beberapa langkah , ia mendengar pemuda Hyuuga itu memanggil namanya.

"Uchiha Sasuke." Sasuke hanya menghentikan langkahnya namun tidak membalikkan badannya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian. Tapi kalau sampai aku melihat gadis yang kucintai terluka. Aku akan membunuhmu." Ancam Neji. Tidak ada lagi panggilan hormat untuk atasannya itu. Sasuke yang mendengarnya tidak berkomentar apapun, ia melanjutkan langkahnya meninggalkan gedung apartemen itu.

Sasuke memukul stir mobilnya setelah memasuki mobil. Ini merupakan hari kedua semenjak kepergian Karin. Sasuke tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya karena memikirkan gadis itu. Ia sudah mencari disegala tempat di Tokyo yang kemungkinan dikunjungi gadis itu. Namun hasilnya nihil. Menghubungi ponselnya pun tidak ada gunanya karena selalu tidak aktif. Barangkali gadis itu telah mengganti nomornya. Sasuke menyandarkan kepalanya dibangku mobilnya dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Kemudian ia tersentak mengingat sesuatu.

"Konoha.." gumamnya. Ya, ia harus segera ke Konoha. Gadis itu pasti disana. Baru saja ia akan menjalankan mobilnya, handphone disaku jasnya bergetar. Ayahnya yang sudah mendiamkannya selama dua hari menelpon.

"Ya, Tou-san…"

"Datang sekarang ke Kantor dan selesaikan pekerjaan yang kau tinggalkan ini. "

"Tou-san, akau tahu Karin dimana. Aku harus segera mencarinya."

"Jangan kekanakan. Kau punya tanggung jawab disini. Sekalipun kau tahu Karin dimana, aku yakin dia tidak akan mau menemuimu."

"Tapi Tou-san—"

"Datang sekarang atau aku akan menyeretmu dan menikahkan mu dengan Mei Terumi saat itu juga." Setelah mengatakan kalimat ancamannya, Fugaku langsung memutuskan sambungan telponnya.

Sasuke mengacak rambutnya frustasi. Ia pun melajukan mobilnya menuju Uchiha Resort. Sesampainya disana, Sasuke melihat ayahnya sudah duduk disofa yang ada diruangannya.

"Tou-san. "

"Aku sudah menyelesaikan semua berkasmu. Pulanglah ke mansion Uchiha, temani wanita itu. Aku tahu dua hari ini kau tinggal diapartemen Karin. "

Sasuke hanya diam mendengarkan penuturan ayahnya. Memang dua hari ini ia tidak pulang kemansion, melainkan keapartemen Karin.

"Tou-san." Panggilnya. Namun ayahnya tidak menyahut.

"Maafkan aku. Aku, aku sudah mengecewakanmu."

"Hn. Pulanglah. Aku tahu kau lelah karena mencari Karin. Pekerjaanmu, biar aku yang mengambil alih sementara."

"Terimakasih, Tousan."

Sasukepun meninggalkan ruangannya. Fugaku menghela nafas dan menyandarkan kepalanya pada sofa.

Drrt drrrt.

Fugaku mengambil handphonenya yang bergetar dimeja.

"Hn. Bagaimana?"

"…."

"Sudah kuduga. Kapan kau akan kembali ke Jepang?"

"…"

"Kau melakukannya dengan sangat baik, Izumo." Fugaku memutuskan sambungan telponnya dan meletakkan kembali handphonennya dimeja. Pria paruh baya itu menyeringai.

"Kau akan mendapatkan akibatnya karena sudah berani menipu Uchiha." Gumam Fugaku.

.

.

.

"Sasuke, kau darimana saja? Aku merindukanmu tahu. " Mei Terumi bergelayut manja pada lengan Sasuke . Wanita itu menyambut kedatangan Sasuke dipintu masuk mansion.

"Hn. Aku banyak kerjaan. Bagaimana keadaanmu?" Sahut Sasuke sambil mendudukan dirinya disofa.

"Aku dan anak kita baik-baik saja. Oh ya, kemarin Fugaku-tousan mengirimkan ini." Wanita itu menunjukkan tiga buah katalog. Covernya menggambarkan dua orang mempelai pengantin.

"Tou-san berpesan melalui Jugo-san bahwa kita sudah bisa memilih mulai dari gaun, cincin dan konsep pesta pernikahan kita berdasarkan katalog ini."

Sasuke menghela nafas, 'Apa Tou-san benar-benar ingin aku menikah dengan Mei?' batinnya.

"Mei, aku lelah. Aku ingin istirahat."

"Ah, baiklah. Kita bisa membicarakannya malam ini. Kau istirahat saja."

"Hn." Sasuke meninggalkan Mei dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.

"Sebentar lagi kau akan menjadi milikku, Sasuke." Ucap wanita itu menyeringai licik.

.

.

.

Karin sedang memasak untuk makan malam bersama Ino. Sebenarnya Karin menyuruh Ino untuk istirahat saja. Namun sahabat pirangnya itu memang keras kepala. Ia bersikeras untuk ikut memasak. Akhirnya Karin memilih mengalah dan membiarkan Ino membantunya.

"Bagaimana rasanya hamil?" tanya Karin tiba-tiba. Mereka telah selesai memasak. Tinggal menunggu sup ayamnya matang saja.

"Bagaimana ya. Karena ini pertama kalinya, aku agak sedikit gugup dan takut. Tapi yang lebih dominan adalah rasa senang karena akan segera mempunya seorang anak. Apa lagi melihat ekspresi Kakashi saat tahu aku hamil. Dia sangat senang dan bersemangat." Ino mengingat saat pertama kali ia tahu bahwa ia hamil. Karin tersenyum, tentu saja ia turut bahagia.

"Apa kalian sudah tahu jenis kelaminnya?" Ino mengangguk antusias mendengar pertanyaan Karin.

"Umm. Anak kami laki-laki. Aku senang sekali. Kau tahu, aku berharap kalau kau menikah nanti, kau akan mempunyai seorang anak perempuan dan kita akan menjodohkan anak kita. Kyaa~~ itu akan sangat menyenangkan."

"Hahaha. Aku juga berharap begitu."

Ting nong.

"Kakashi sudah pulang. Aku menyambutnya dulu."

"Ino, jalan pelan-pelan." Karin menasehati sahabatnya yang terlalu bersemangat itu. Karin berjalan ke arah kompor untuk melihat sup yang sepertinya sudah matang. Tak lama kemudian Ino datang bersama Kakashi.

"Tadaima, Karin. "

"Okaerinasai, Kakashi-nii."

Ya, Karin memanggil Kakashi dengan panggilan nii-san karena pria itu yang menyuruhnya. Pria perak itu bilang kalau dia bukan lagi dosennya dan karena Karin merupakan sahabat sehidup semati istrinya maka otomatis mereka sudah menjadi saudara. Kakashi juga bilang kalau mendiang ibunya adalah wanita berambut merah, jadi ia merasa Karin sangat cocok untuk menjadi adiknya. Karin tentu saja senang, diterima menumpang dirumah ini saja ia sudah senang, apalagi dijadikan adik angkat oleh Kakashi.

"Aku mau mandi dulu. Kalian para ladies, tunggu aku ya." Kakashi beranjak menuju kamarnya dan Ino.

"Hai'.." sahut kedua wanita itu bersamaan.

.

.

.

"Akhirnya kau pulang juga." Fugaku menyambut kedatangan orang kepercayaannya di bandara.

"Maafkan saya, Fugaku-sama. Saya membawa seseorang yang akan membantu kita. Terimakasih karena sudah repot-repot menjemput saya."

"Tidak masalah. Kita harus menyelesaikan semua ini dengan cepat."

"Hai'. Perkenalkan, dia adalah orang yang akan membantu kita, Fugaku-sama. Dia adalah teman Sasuke-sama."

"Hn. Aku Uchiha Fugaku. Ayah Sasuke."

"Saya Otsutsuki Toneri."

"Mohon bantuannya."

"Hai', tapi saya punya satu permintaan, Uchiha-san."

.

.

.

Mei Terumi sedang duduk santai diruang TV saat didengarnya suara mesin mobil. Ia mengintip dari jendela dilihatnya Fugaku turun dari mobil disertai Izumo yang Mei ketahui adalah tangan kanan sicalon mertua. Dengan wajah penuh senyum ia menyambut kedatangan Uchiha besar itu.

"Okaerinasai, Tou-san."

"Aaa. Tadaima. Bagaimana keadaanmu dan anakmu?" tanya Fugaku .

"Kami baik-baik saja, Tou-san." Senyum manis masih terkembang diwajah wanita cantik itu.

"Baguslah. Aku ingin bertanya tentang konsep pernikahan kalian. Apa kalian sudah mendiskusikannya?" Fugaku mendudukkan dirinya disofa ruang tamu.

"Sasuke-kun bilang aku saja yang mengatur semuanya. Sebentar ya Tou-san." Mei meninggalkan Fugaku, namun sesaat kemudian ia kembali membawa tiga buah katalog yang beberapa hari lalu ditunjukkannya pada Sasuke. Wanita itu membuka catalog itu satu persatu.

"Untuk cincinnya, aku pilih yang ini. Gaunnya yang ini. Konsepnya aku memilih garden party saja. Bagaimana menurutmu, Tousan?" tanya waniita itu antusias.

"Aku suka. Kau sangat pandai memilih. "

"Terimakasih, Tou-san. Kalau boleh tahu, kapan kami akan menikah?"

"Secepatnya. Ah , sebaiknya aku memanggilkan pengantin prianya."

"Sasuke-kun juga pulang? Aku tidak mendengar suara mobilnya."

"Aku tidak bilang Sasuke pulang. Aku bilang akan memanggil pengantin prianya. "

"Ma-maksud Tou-san?" Entah mengapa Mei merasakan perkataan dan aura Fugaku berubah menjadi dingin dan tajam.

"Atau akan lebih mudah dimengerti bila kukatakan… Ayah dari anak yang kau kandung."

"A-ayah dari anak ini? Tentu saja itu adalah Sasuke. Sasuke adalah ayah dari anak ini. A-apa maksud Tou-san?"

Fugaku menghela nafas. "Masuklah." Mei melihat kearah pintu utama. Matanya hampir saja keluar melihat siapa yang datang. Izumo datang bersama pria berambut putih yang sangat dikenalnya.

"Mei. "

"Si-siapa kau? Aku tidak mengenalmu."

"Kalau kau tidak mengenalnya, tidak mungkin kau terkejut melihat kedatangannya." Izumo mulai berbicara.

Tap tap tap.

"Tou-san ada apa? Kenapa tiba-tiba menelpon dan menyuruhku pul— Toneri?" Belum lagi hilang keterkejutannya melihat pria berambut putih itu, Mei kembali dikejutkan dengan kemunculan Sasuke.

"Apa yang terjadi disini? Toneri, kau disini?" tanya Sasuke pada temannya itu.

"Ya, Aku ingin memperjelas semuanya. Maaf bila kedatanganku terlambat, Sasuke."

"Memperjelas apa maksudmu?"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Pergi kau! Aku tidak mau melihatmu!" Mei berteriak sambil berusaha mendorong Toneri namun ditahan oleh Izumo.

"Tolong jelaskan semuanya, Toneri-san." Ujar Fugaku.

"Sasuke, sebenarnya… anak yang dikandung oleh Mei… adalah anakku." Sasuke membelalakkan matanya mendengar penuturan temannya.

"A-apa?"

"Sa-sasuke, itu tidak adalah anakmu! Jangan dengarkan dia. Dia berbohong! Pergi kau dasar pembohong!"

"Kaulah yang pembohong !" Fugaku mulai terpancing emosinya.

"Mei, dengarkan aku. Kumohon, hentikan semua kebohonganmu ini. Bayi yang ada didalam perutmu adalah anakku dan kau jelas tahu itu. Ikutlah denganku, kita kembali ke Amerika." Tatapan pria itu terlihat sendu.

"Tidak mau! Aku mau disini. Aku hanya mau bersama Sasuke. " wanita itu bersikeras. Sasuke terdiam, ia terlalu syok dengan semua ini.

"Kau telah membohongi kami, Terumi-san. Aku bisa saja menyeretmu kepenjara saat ini juga.." Fugaku mengancam.

"Jangan, jangan penjarakan aku. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu Sasuke. Kau harus tahu aku sangat mencintaimu. " Mei menarik-narik lengan Sasuke.

"Tapi aku tidak mencintaimu, Mei." Sasuke melepaskan tangan Mei yang ada dilengannya.

"Pergi dari sini atau aku akan memanggil polisi. Aku sudah sangat ingin menjebloskanmu kepenjara. Tapi pria bernama Toneri ini memohon padaku supaya tidak melaporkanmu kepolisi." Ancam Fugaku. Entah mungkin sudah diperintah, seorang pelayan datang membawa koper baju milik Mei menuruni tangga.

Mei hanya bisa diam dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Wanita hamil itu hanya menundukkan kepalanya. Toneri mendatangi wanita itu dan menggenggam tangannya.

"Aku tahu aku bukanlah pria yang kau harapkan. Tapi kumohon, ikutlah denganku. Aku mencintaimu Mei. Dan anak itu adalah anakku, anak kita. "

Wanita itu tidak menjawab, ia mengangkat wajahnya yang sudah berurai airmata. Tiba-tiba Sasuke mendatang mereka. Pemuda Uchiha itu menarik Mei kedalam pelukannya.

"Kau tidak usah khawatir. Aku sudah memaafkanmu. Dan selamanya, kalian berdua adalah temanku."

.

.

.

Ino sedang membaca buku diruang keluarga saat didengarnya bel berbunyi. Wanita Hatake itu langsung menuju pintu masuk untuk menyambut tamunya. Ya, ia yakin itu bukan Karin ataupun suaminya. Ini masih jam dua siang. Kakashi biasanya pulang sekitar jam lima dan Karin bilang akan pulang sekitar jam empat. Sahabatnya itu sedang mengikuti interview disalah satu perusahaan yang memanggilnya. Ia memang sudah mengajukan beberapa lamaran diperusahaan yang ada di Konoha. Dan kebetulan kemarin ia mendapat panggilan dari salah satunya. Perut besar Ino membuat jalannya sedikit lambat. Ia merasa harus meminta maaf kepada sang tamu karena lama membuka pintu. Setelah pintu terbuka, Ino sedikit syok melihat tamu yang ada dihadapannya.

"Selamat siang, Yamanaka-san."

"A-ah ya. Selamat siang Uchiha-san."

.

.

.

Karin sedang menatap bosan lukisan dengan pola rumit didepannya. Saat ini ia sedang berada diruang tunggu. Ia memang mendapat panggilan untuk interview dari Key Corp. Pihak perusahaan mengatakan interview dimulai pukul satu siang. Dan ini sudah jam tiga sore. Sudah dua jam ia menunggu, namun belum ada yang memanggilnya. Sebenarnya ia merasa aneh, bukannya biasanya perusahaan akan memanggil beberapa orang untuk interview? Tapi sejak tadi hanya dirinya seorang diri yang menunggu diruang tunggu. Apakah hanya dia seorang yang mengajukan surat lamaran? Gadis berambut merah itu kembali mengecek penampilannya. Kemeja putih lengan panjang dengan scarf motif polkadot dan rok hitam sekitar lima senti diatas lutut. 'Masih rapi' batinnya. Sesekali ia memperbaiki letak scarfnya. Tiba-tiba seorang wanita berambut coklat kopi yang disanggul rapi masuk keruang tunggu.

"Uzumaki-san. Mari ikuti saya."

"Hai'." Karin pun mengikuti wanita itu. Ia cukup terheran ketika mereka sampai diruang direktur. Wanita berambut coklat itu membukakan pintu untuk Karin dan mempersilahkan gadis itu masuk.

"Direktur sudah menunggu anda."

"Direktur?"

"Benar. Silahkan masuk."

Mau tak mau, gadis berambut merah itu memasuki ruangan yang didominasi warna hitam itu.

"Kau sudah datang? "

"Ka-kau?" Karin tersentak kaget melihat siapa yang didepannya. Pria tampan yang pernah mendekatinya atau lebih tepatnya 'menembak'nya dulu.

"Lama tak berjumpa Karin." Pria itu tersenyum tulus pada Karin.

"Y-ya. Lama tak berjumpa, Kiba-san."

"Maaf membuatmu lama menunggu. Aku baru selesai meeting. Duduklah." Karin menuruti Kiba untuk duduk didepannya.

"Apakah anda yang akan menginterview saya Kiba-san?"

"Oh ya, tentu saja. Tapi aku tidak perlu melakukannya. "

"Maksud anda?"

"Ayolah Karin, jangan terlalu formal padaku. Kita ini kan teman lama."

"Baiklah, apa maksudmu Kiba? Kenapa aku tidak diinterview?"

"Kau sudah diterima. Mulai besok, kau akan bekera sebagai sekertarisku. "

"Be-benarkah?"

" Kau tidak percaya?"

"Yaaah. Aku jelas mencium ada bau nepotisme disini. Tapi walau bagaimanapun terimakasih. Aku akan bekerja dengan baik."

"Ya dan aku juga akan bekerja keras mendapatkan hatimu."

"Kiba jangan mulai."

"Hahaha. Mohon kerjasamanya, Uzumaki-san." Kiba mengulurkan tangannya.

Karin tersenyum. "Hai'." Karin balas menjabat tangan calon bosnya itu.

.

.

.

"Karin sedang ada interview hari ini. Mungkin akan pulang sekitar jam empat, Uchiha-san." Ino menjawab ketika sang tamu menanyakan keberadaan sahabatnya.

"Aa. Apakah aku bisa menunggunya disini Yamanaka-san?"

"Tentu saja. Silahkan diminum tehnya sebelum dingin."

"Ya, terimakasih. Jangan terlalu formal padaku. Kau bisa memanggilku jii-san seperti Karin. " Fugaku mengambil teh yang telah disediakan Ino dan meminumnya.

"Hai. Kalau begitu anda juga tidak usah formal kepadaku. Panggil Ino saja."

"Apa Karin menceritakan padamu apa yang terjadi di Tokyo?" tanya Fugaku sambil meletakkan kembali cangkir tehnya.

"Ya. Dan dia terlihat sangat terpukul. Sebenarnya aku berharap dia tidak lagi berurusan dengan Sasuke." Sahut Ino. Ia memang agak kesal dengan pemuda itu.

"Semua hanya salah paham. Wanita itu berbohong. Sasuke tidak pernah menghamilinya." Perkataan Fugaku membuat Ino terkejut,

"Benarkah?" tanyanya tak percaya.

"Ya. Untuk itu aku datang kemari. "

"Kenapa bukan Sasuke yang dat— AAKKH! "perkataan Ino terpotong karena ia merasakan sakita diperutnya. Fugaku sontak panik dibuatnya.

"Kau kenapa Ino?" Fugaku menghampiri Ino yang memegangi perutnya..

"Perutku! Perutku sakit. Akh! " Fugaku mengambil handphonenya dan menghubungi Izumo yang ada diluar. Tak sampai satu menit, Izumo datang.

"Sepertinya dia akan melahirkan, Fugaku-sama."

"Aku tahu. Kita harus segera membawanya kerumah sakit." Fugaku tentu saja paham, sudah dua kali ia mengalami situasi seperti ini. Dia menyandarkan Ino pada sofa.

"Akh! Sakit sekali! "

"Tenanglah Ino. Kau harus tenang. Tarik nafasmu pelan-pelan. Boleh aku tahu dimana kau simpan perlengkapan bayimu?"

"Di akh..kamar lantai dua. Aku sudah mengemasnya dalam sebuah tas berwarna biru. Huuuuft." Ino berusaha menarik nafas sesuai instruksi Fugaku. Izumo langsung bergegas mengambil tas biru yang dimaksud Ino.

"Jii-san. Tolong hubungi suamiku." Ino menunjuk handphonenya yang tergeletak dimeja.

"Aku mengerti." Fugaku mengambil handphone tersebut dan menekan tombol satu. Ia yakin itu adalah nomor suami Ino. Dan benar saja nama Kashi-kun terpampang dilayar itu.

'Ya, In—"

"Istrimu akan segera melahirkan. Kita bertemu di RS Konoha."

'H-hai'

Izumo datang menuruni tangga dengan membawa tas biru yang dimaksud Ino. Mereka pun langsung menuju RS Konoha.

.

.

.

Pria berambut perak terlihat terburu-buru dikoridor RS Konoha. Peluh terlihat mengalir dikeningnya. Ia tidak tahu siapa yang tadi menghubunginya menggunakan handphone Ino, yang pasti orang itu bilang bahwa Ino akan segera melahirkan. Ia menjadi panik luar biasa. Ini adalah pengalaman pertamanya untuk menjadi seorang ayah sehingga ia gugup bukan main. Setelah menanyakan pada perawat dimana ruang bersalin istrinya, Kakashi langsung bergegas menuju ruang bersalin istrinya itu.

Alangkah terkejutnya Kakashi melihat orang yang dikenalnya duduk dikursi yang ada didepan ruang bersalin. Apakah pria itu yang menghubunginya.

"Jii-san." Panggilnya.

"Kakashi. Apa yang kau lakukan disini. Ah! Kau suami Ino?!"

"Hai. Apa Jii-san yang membawa Ino kemari?"

"Ya. Aku datang kerumahmu untuk menemui Karin."

"Arigatou." Kakashi membungkukkan badannya.

"Hn. Aku senang kau tidak lagi bersama wanita itu."

"Aku sudah lama meninggalkannya Jii-san. "

Ceklek!

Seorang dokter wanita keluar bersama dua orang perawat.

"Tuan Hatake?"

"Ya, saya dokter." Kegugupan Kakashi kembali begitu berhadapan dengan sang dokter.

"Selamat. Putra anda lahir dengan selamat. " Kakashi menghela nafas lega.

"Terimakasih, Dokter. Terimakasih."

"Sama-sama. Anda bisa masuk, istri anda pasti sudah menunggu."

"Hai'. Ayo, jii-san."

"Tidak. Aku langsung pergi saja. Selamat untuk kelahiran putramu. Aku masih harus menemui Karin. Bisa kau berikan nomor handphonenya yang sekarang.

"Aku sudah menghubungi Karin. Kurasa dia akan datang sebentar lagi. "

"Benarkah? Kalau begitu aku akan menunggu disini saja."

"Hai'. Sekali lagi terimakasih jii-san. Kalau jii-san tidak ada tadi aku—"

"Sudahlah. Istrimu menunggu.

Kakashi menganggukkan kepalanya sekali dan meninggalkan Fugaku dan memasuki ruang bersalin istrinya.

.

.

.

Uchiha Sasuke sedang mengerjakan berkas-berkasnya diruangannya seperti biasa. Sudah seminggu sejak insiden terungkapnya kebohongan dari Mei Terumi dan sudah tiga minggu sejak kepergian Karin. Masalah salah paham memang sudah selesai. Tapi ia tidak bisa langsung mencari keberadaan Karin. Kenapa? Tentu saja karena Tousannya yang seenaknya mengambil keputusan yang membuat Sasuke harus mendapat hukuman. Hukuman apa dan seperti apa?

Flashback on.

"Bagaimana ini bisa terjadi Tou-san?"

Sasuke bertanya pada ayahnya setelah Mei dan Toneri meninggalkan mansion Uchiha.

"Kau ingat aku pernah bertanya padamu tentang apa yang kau lakukan saat menghadapi situasi seperti kemarin?"

"Hai'. "

"Jawabanmu sangat mengecewakanku. Yang seharusnya kau lakukan adalah menyelidiki apakah wanita itu berbohong atau tidak. Bukannya malah menemui Karin dan menjelaskan semuanya." Terang sang ayah.

"Maafkan aku, To-san. Aku memang masih kekanakan dan belum pantas memimpin Uchiha Resort." Sasuke menundukkan kepalanya.

"Ya, karena itu kau akan mendapatkan hukumannya."

"Hukuman? Apa maksud Tou-san?" Sasuke langsung mengangkat kepalanya mendengar perkataan ayahnya.

"Karin. Aku tahu dimana dia sekarang."

"Aku juga tahu Tou-san. Saat ini Karin ada di—"

"Kalau maksudmu Konoha, dia tidak ada disana. Dia tidak mungkin pergi ketempat yang pasti akan kau ketahui. " Fugaku memotong ucapan ayahnya.

"A-apa? Kalau begitu beritahu aku Tou-san. Aku harus segera menemuinya."

"Aku tidak akan memberitahumu. Karena…" mengambil jeda beberapa detik, Fugaku melanjutkan perkataannya. " itu adalah hukumanmu."

"Maksud Tou-san?"

"Dalam dua tahun ini. Kau harus bekerja keras sebagai pemimpin Uchiha Resort yang sebenarnya. Hilangkan sifat kekanakan itu dan tingkatkan kinerjamu. Buktikan kau pantas menjadi pemimpin . Kalau kau berhasil saat itu juga aku akan membawa Karin untukmu." Terang sang Uchiha besar.

"Tapi Tou-san…"

"Kurasa kau tahu kesalahanmu dan ini adalah hukuman yang pantas."

Sasuke hanya bisa terdiam. Dan setelah ayahnya pergi, ia hanya bisa mengerang frustasi.

Flashback off.

Ayahnya benar. Ini adalah hukuman yang pantas untuknya dan sebagai lelaki, ia harus bertanggungjawab dengan menjalankan hukuman yang diberikan ayahnya. Tapi dua tahun? Padahal baru sebualn lebih ia menikmati kebersamaannya dengan gadis tercintanya .Ia merasa dua tahun itu akan menjadi dua tahun terlama dalam hidupnya. Tapi mau bagaimana lagi, ini memang salahnya yang tidak bisa mengambil keputusan dengan benar. Ia kembali menatap dokumen yang menumpuk dimeja dan kemudian menghela nafas.

"Karin, maukah kau menungguku?"

Setelah sekali lagi menghela nafas, Sasuke mengambil sebuah map biru dan memeriksanya. Ia harus serius kali ini.

.

.

.

Karin berdiri mematung dikoridor rumah sakit. Setelah mendapat panggilan dari Kakashi, ia yang baru saja keluar dari Key Corp. langsung bergegas kerumah sakit. Sahabatnya akan segera melahirkan. Namun ia terkejut bukan main melihat orang yang dihindarinya kini ada didepan matanya.

"Akhirnya kau datang juga Karin." Fugaku langsung berdiri dari duduknya begitu melihat Karin datang.

"Jii-san."

"Kita harus bicara. Ah, sebelumnya sahabatmu sudah selesai bersalin. Putranya lahir dengan sehat." Perkataan Fugaku mebuat Karin menghela nafas lega.

"A-ada apa jii-san kemari?" tanya Karin gugup.

"Bukankah sudah kubilang kita harus bicara."

Kantin RS Konoha.

"Ja-jadi wanita itu berbohong?"

"Ya. Dan dia sudah pergi seminggu yang lalu. "

"Be-benarkah?" Karin merasakan lega yang luar biasa dalam hatinya. Berarti Sasuke tidak mengkhianatinya.

"Ya. Tapi sebelumnya aku ingin minta maaf padamu."

"Soal apa Jii-san?"

Fugaku mengambil jeda beberapa detik sebelum kemudian melanjutkan perkataannya.

"Maukah kau menunggu Sasuke dua tahun lagi?"

"Ma-maksud Jii-san?" tanya Karin yang tentu saja heran.

"Sasuke belum bisa memimpin Uchiha Resort dengan baik. Kurasa kau tahu kalau sifat kekanakannya belum sepenuhnya hilang. Apalagi tentang Mei, dia dengan bodohnya pasrah dengan pengakuan bohong wanita itu. Jadi, aku menghukumnya untuk dua tahun ini. Dia harus benar-benar menunjukkan keseriusannya. Aku berharap kau mengerti Karin. Ini juga untuk kebaikannya." Karin hanya terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebar Fugaku. Pandangannya hanya tertuju pada teh yang ada didepannya.

"Karin.."

"Aku mengerti, Jii-san." Karin mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap pria yang sudah dianggap sebagai ayah sendiri olehnya.

"Maafkan aku. Kau sudah menunggu tiga tahun tapi aku malah membuatmu menunggu lebih lama ." Fugaku tampak menyesal.

"Aku tidak apa-apa, Jii-san. Tenang saja. Lagian, aku baru saja diterima bekerja disalah satu perusahaan. Tidak mungkin kan aku berhenti tiba-tiba. Jadi, aku akan bekerja disini dulu. Dua tahun tidak terlalu lama kurasa." Karin tersenyum berusaha menghilangkan rasa bersalah yang dipancarkan oleh wajah Fugaku. Walaupun sebenarnya ia juga tidak rela. Sangat tidak rela malah. Tapi melihat Fugaku yang sangat mengharapkan perubahan Sasuke membuatnya tidak rela.

"Karin, kau tahu aku sudah menganggapmu sebagai putriku. Kau adalah wanita yang baik. Terimakasih."Fugaku menggenggam tangan Karin.

"Aku tidak mau. Jangan anggap aku sebagai putrimu Jii-san." Karin menarik tangannya dan melipatnya didada.

Fugaku mengernyit heran. "Kau tidakmenyukainya?"

"Um, Kalau aku jadi putrimu, maka aku akan menjadi kakak Sasuke. Aku tidak mau." Karin sedikit memalingkan wajahnya.

"Ma-maksudmu?" Karin tersenyum melihat keheranan diwajah Fugaku. Kemudian gadis itu berdiri, melangkah kearah Fugaku yang duduk didepannya dan memeluk pria itu dari samping.

"Jangan anggap aku sebagai putrimu, tapi anggap aku sebagai menantumu jii-san ah tidak Otou-san. "

Fugaku hanya terkekeh, akhirnya ia mengerti. " Ya, kau adalah menantuku."
Dalam hati ia berkata 'Mikoto, Itachi. Aku telah menemukan wanita luar biasa yang akan mendampingi Sasuke.'

.

.

.

Kakashi memandang tak percaya seorang bayi mungil digendongan istrinya. Bayi gemuk berambut sama sepertinya itu sedang menyusu pada ibunya. Semua kegugupan dan rasa takut yang tadi dirasanya meluap seketika setelah melihat wajah putranya. Ia sudah menjadi ayah sekarang. Tanpa ia rasakan, setetes air mata berhasil lolos dari mata kelamnya.

"Ino, a-aku… aku sudah jadi ayah. Kau percaya itu?" Ino tersenyum melihat wajah terharu suaminya. Matanya pun ikut berkaca-kaca.

"Ya, dan aku sudah menjadi ibu sekarang."

Kakashi memeluk istrinya. "Terimakasih, sayang. Terimakasih karena sudah memberikan anugerah terindah ini. Kau sudah berjuang dengan keras. Terimakasih." Kemudian pria Hatake itu mengecup lembut kening istrinya.

Ino hanya mengangguk. Setelah dirasanya anaknya sudah tidak menyusu lagi, Ino memperbaiki pakaiannya.

"Kau mau menggendongnya?"

"A-ah. Ti-tidak. Aku takut melukainya." Kakashi mundur satu langkah.

"Tidak apa. Kau pasti bisa." Ino mengangsurkan bayi mungil itu pada suaminya. Kakashi menerimanya dengan sangat hati-hati. Setelah bayi tampan itu berada digendongannya, Kakashi tersenyum tulus. Ia merasa airmatanya akan jatuh lagi.

"Anakku. Ini anakku. Selamat datang didunia, sayang. Ini Tou-san. " Kakashi memainkan hidungnya lembut pada pipi tembem anaknya.

"Jadi dia bukan anakku?" Ino mengerucutkan bibirnya berpura-pura marah.

"Haha. Anak kita. " Kakashi mendudukkan dirinya diranjang Ino.

"Sudah memikirkan nama untuk anak kita?"

"Kazuki. Namanya Hatake Kazuki. Bagaimana menurutmu?"

"Harapan? Aku suka. Ne, Kazuki-kun, selamat datang didunia sayang. Ini Kaa-san." Ino mengcopy perkataan suaminya membuat Kakashi tersenyum.

" lihat sayang? Kaa-san mu sangat cantik." Sepasang suami istri itu saling tersenyum kemudian kembali menatap putra mereka.

.

.

.

TBC

Apa-apaan ini?! Udah apdet lama malah kayak gini?! #plak!

Hahaa. Maaf banget nih apdetnya lama. Lagi dilanda galau karena UTS .

Udah selesai sih.

Oh ya, kayaknya chapter depan bakalan jadi chapter end deh. Doain yah biar semuanya lancar dan bisa apdet cepat fict ini maupun yang WYBMF .

Arigatou Gozaimasu !

Review please ..

Yana Kim *sambil gendong Kazuki*

.

.

.