"Mmgh..."
Dokter membuka kedua matanya. Dia membangunkan tubuhnya perlahan dan langsung merasakan ngilu di sekujur punggungnya. Maklum, dia tidur dalam posisi duduk. Saat dia terbangun sepenuhnya, dia baru menyadari ada sesuatu yang tampak janggal di matanya.
"...Ke mana dia?"
Sambil menepuk-nepuk punggungnya, Dokter berjalan menuju pintu masuk ke dalam klinik. Dia pun terdiam. Sepatu Claire masih ada pada tempatnya.
"Hm..."
Dia berjalan menuju kamar mandi.
Tok tok
...
Kreekk
Dan... Kosong.
Dokter pun menggaruk-garuk kepalanya sambil menyipitkan matanya ke lantai dua.
"...Ck. Ke mana dia? Apa dia pindah ke lantai dua?"
"Loh? D-dokter!?"
Dokter sedikit terhentak melihat sosok Elli yang tiba-tiba muncul di atas tangga. Begitu pula dengan Elli yang terkejut dan langsung membalikkan badannya untuk merapikan rambutnya. Elli masih menggunakan piyamanya. Tampaknya, dia baru saja bangun dari tidurnya.
"A-ada apa, Dokter? Anda terlihat... Kebingungan?" Setelah memastikan rambut 'bangun tidur'-nya telah kembali rapi, Elli perlahan menuruni tangga dan menghampiri Dokter.
"Apa kau melihat..."
"Elli menyukaimu!"
Deg!
Dokter tiba-tiba terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat. Semenjak Claire mengatakan hal itu padanya, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang... Aneh, ketika dia berhadapan dengan Elli. Dia merasa aneh.
Ah, tidak. Bukan itu.
Dia... menjadi tidak tau apa yang harus dia lakukan apabila hal yang dikatakan Claire itu benar.
Dokter berusaha memalingkan pandangannya dari tatapan Elli.
"...Bukan apa-apa."
"A-ah... Baiklah..."
...
Dan suasana pun menjadi hening. Elli menundukkan kepalanya, dan Dokter masih memalingkan pandangannya. Dokter yang mulai merasa tidak nyaman itu pun, mulai mengangkat kakinya dan berniat untuk pergi ke lantai dua, sebelum...
"A-apa... Kau tidur di kamar pasien tadi malam?"
"Eh?" Dokter membalikkan badannya dan mendapati Elli sedang menatapnya lekat-lekat. Tapi tidak dengan tatapan yang biasa dia lihat sebelumnya. Kali ini tatapannya penuh dengan tekad bulat dalam menunggu jawaban Dokter. Dokter hanya menatapnya kebingungan.
"Mengenai hal itu... Lebih tepatnya bisa dikatakan kalau aku tertidur di sana?" Ujar Dokter santai. Kemudian dia kembali menaiki anak tangga.
"Jadi... Kau tidur bersama Claire di sana ya..." Elli berbisik pelan sambil menundukkan kepalanya, tapi kelihatannya Dokter dapat mendengarnya dengan jelas. Dia pun menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Elli dengan heran.
"Eh? Dia tidak tidur denganmu?" Kini gantian Elli yang balik menatapnya heran.
"Loh? Bukankah... Dia tidur di kamar pasien? Dia masih sakit, kan?"
"Tidak. Saat aku terbangun tadi dia sudah tidak ada di kasur pasien. Dan karena dia tidak ada dimana-mana, kupikir dia tidur di tempatmu."
Deg!
...
"...Oh... Begitu..."
Elli kembali menundukkan kepalanya. Wajah panik Dokter beberapa menit yang lalu masih terbayang dengan jelas di benaknya.
"Jadi... Ekspresi wajah itu ada karena Claire..."
Claire.
Lagi-lagi Claire.
Tanpa sadar Elli sudah menggigit bibir bawahnya. Dia sudah sadar sejak kejadian kemarin sore. Dia tau dia sudah kalah. Apapun yang dia lakukan saat ini tidak ada gunanya. Tapi... Tapi kenapa...?!
"...Dokter."
"Hm?" Dokter menatap Elli yang saat ini masih menundukkan kepalanya. Entah kenapa perasaannya mulai tidak enak.
"A-a..."
BRAAKKK!
"DOKTER! Kau sudah bangun, kan?!"
Dari pintu masuk, Karen yang masih memakai kaus oblong beserta celana pendeknya, segera berlari ke arah Dokter dan menarik kerah jasnya.
"H-hei! A-apa?!"
"Ini gawat! GAWAT! Kau harus mendengarnya langsung dari Doug!" Teriak Karen sambil melepaskan tangannya dari kerah jas Dokter.
"Tenang dulu, Karen. Ada apa?" Elli memegang kedua sisi pundak Karen, sambil menatapnya lekat-lekat.
"A-ah... Itu..." Menyesal tidak menyadari keberadaan Elli, Karen memalingkan matanya dan kembali berbicara, "Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya tapi intinya..." Karen menatap Dokter dengan tajam,
"Claire kabur dari desa tadi malam."
"...Apa?"
-oOo-
Pip pip!
[Cring! Cring!]
[Guwah! Hiyaahh!]
Pip pip!
[Hiaaahh! Take this! Laser beam!]
[Syuuu! DEGEERR DEGER DEGER!]
[Tet teret tet tet tet tet~]
[Yeah! We win! We defeated that demon! Now we must-...]
PRAAKK!
Claire melempar PSP-nya jauh-jauh, lalu melirik ke arah jam. Sudah hampir pukul dua siang. Setelah pulang dari pelabuhan dengan mata sembab, Claire langsung tertidur dengan nyenyaknya dan baru bangun sekitar dua jam yang lalu. Ibunya masih tidak banyak bertanya, dan Claire sangat berterima kasih akan hal itu. Saat ini dia masih perlu waktu untuk merenung sendirian.
Claire kembali berguling-guling di atas kasurnya, menarik napasnya dalam-dalam, lalu menatap langit-langit kamarnya itu lekat-lekat.
"...Aku... Pulang."
Sregh!
Claire mengubur wajahnya di dalam tumpukkan bantal miliknya. Dia dapat mengirup aroma 'rumah'-nya dengan jelas. Ya, dia benar-benar sudah berada di rumahnya.
Sekarang, dia bisa kembali melanjutkan bermain game RPG sepuasnya, menonton anime seharian penuh tanpa tidur, berbelanja sepuasnya di mall, atau bernyanyi sampai suaranya habis di tempat karaoke langganannya. Ya, dia dapat kembali melakukan hal yang biasanya dia lakukan untuk mengisi waktu luangnya. Hal yang sangat disukainya. Tetapi... Kenapa?
Kenapa... Dia tidak merasa senang?
...
Claire beranjak dari kasurnya, kemudian...
PLAAKK!
Dia menampar pipinya keras-keras.
"AKU SENANG! AKU SANGAT SENANG SUDAH BISA PULANG KE RUMAH!"
Claire mulai melompat-lompat dengan lincahnya.
"Aku bisa bermain sepuasnya! Aku tidak perlu bertemu dengan orang-orang norak dan aneh dari desa itu lagi!"
"Hohohoho! Hari ini juga kau semangat sekali Claire! Sebagai mayor, aku sangat bangga!"
"Claire, hari ini juga kau akan bekerja? Kalau ada apa-apa, datanglah kemari. Aku dan Stu selalu ada di rumah."
"CLAIRE! Mau beli ayam!? Atau mau beli telur?! Atau pakan ayam!? Mampir ya!"
"Ah, Claire. Maaf ya kalau Rick selalu merepotkanmu selama ini. Aku akan sering memeriksakan diri di klinik, jadi mohon bantuanmu juga, ya."
"Oh! Claire! Selamat pagi! Hari ini juga, semangat ya!"
"Claire! Kapan-kapan ayo kita main! Janji ya!"
"Claire-..."
...
"D-dan... Aku tidak perlu lagi pergi ke perpustakaan yang tidak memiliki buku bermutu sama sekali...!"
"Claire, ada apa? Apa kau butuh buku tanaman obat lagi?"
"Mary! Dia tidak butuh buku seperti itu! Lebih baik kau baca buku ini saja Claire! Kau bisa tertawa sampai terguling-guling! Seperti aku! Hahaha!"
"K-Karen... Hentikan... Itu memalukan..."
...
"... Aku juga tidak perlu bangun pagi lagi. Tidak perlu memakan sayuran lagi..."
"Claire! Bangun! Sampai kapan kau mau tidur? Bukankah kemarin kau minta dibangunkan pagi-pagi?"
"Claire, makan sayurannya. Kau tidak boleh membuang-buang makanan!"
"Hehehe, dasar. Adik perempuanku yang satu ini!"
...
"...tidak perlu mengotori diriku lagi untuk bekerja dan mencabuti rumput tidak jelas itu, dan tidak perlu..."
"Hoi. Sepuluh rumput obat biru. Cepat ya."
"Dasar... Sudah kukatakan berkali-kali. Periksa dulu bagian bawahnya!"
"Dasar bocah. Kau pikir tinggal disini itu gratis? Cepat kerja."
"T-tidak perlu... bertemu dengan orang menyebalkan itu lagi..."
"Bodoh! Kau tidak tau seberapa khawatirnya aku!?"
"Hahaha! Kau itu menarik, kau tau?"
"...Ayo, kita pulang."
"Claire."
Tes
Tes
"...Ukhh! Uhuhu... Claire... Bodoh...!"
Claire mengusap-ngusap matanya. Berusaha menghapus air matanya yang terus keluar dari matanya tanpa henti. Dia terus menangis, tanpa menyadari bahwa sejak tadi, ibunya sudah berdiri di samping pintunya. Menyandarkan dirinya pada dinding kamar Claire, sambil menatap anaknya lekat-lekat. Kemudian perlahan, dia mendekat ke arah anaknya, dan memeluknya dengan erat.
"Claire, ada apa? Ceritakan semuanya ke Mama, ya?"
"Uhuhuhu... Hiks! Ti-tidhak... Hiks! Bi-bizha... Huwaaa!" Masih sambil menangis, Claire berusaha berbicara dengan jelas.
"Tapi kalau terus begini... Mama tidak tau harus melakukan apa untuk membuatmu tenang..." Ujar ibu Claire, sambil memijat-mijat keningnya.
"T-ti... Tidhak udzah... Hiks hiks!"
"...He..." ibu Claire tau, anaknya itu sangat keras kepala dan percuma saja membuang-buang tenaga untuk melawan kehendaknya. Kemudian, dengan penuh aura hitam di sekelilingnya, ibu Claire keluar dari kamar anaknya. Tak lama, dia kembali membawa sebuah gelas berisi minuman di tangannya. Dia pun menyodorkannya kepada Claire.
"Nah, Claire. Supaya tenang, kamu minum ini dulu, ya?"
...
Tak lama kemudian...
"DIA KEJAM! KEJAM! Hiks! Hiks! Setelah dia menciumku dia tidak mengatakan apa-apa! PADAHAL ELLI JUGA MENYUKAINYA! HUWEEE!"
"Hee... Jadi begitu ya... Memang menyebalkan orang seperti itu..." ibu Claire mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lalu lalu... Aku tidak tau apa yang harus kulakukan karena Karen bilang aku menyukainya, dan aku sadar, dan aku bilang ke Elli, lalu... LALU ELLI MARAH KEPADAKU! HUWEEEE! HUAAAA! Hiks! Hiks! Uh... Uh... UHUWEEE!" Claire memukul-mukulkan kepalanya ke arah kasurnya. Setelah itu dia memutar-mutarkan kepalanya. Ibu Claire yang melihat tingkah anaknya itu, hanya bisa menatapnya pasrah penuh rasa bersalah. Dia menatap ke arah gelas yang dia berikan ke Claire tadi.
"Maafkan aku, anakku. Aku harus nembuatmu mabuk agar kau menceritakan semuanya. Aku tau ini salah tapi..."
"ELLI MARAH PADAKU! HUWEEEE! Aku suka Elli... Dia suka Dokter... Aku suka Dokter... Ini semua salahnya! SALAHNYA! Dan aku kabur! Aku kabur! KABUR! Huuweeee! WUAAAA!"
"Iya-iya... Mama sudah bisa mencerna kisahmu... Mungkin?" Ujar ibu Claire sambil menepuk-nepuk pundak anaknya. Dia menatap Claire sedikit heran. Dia masih belum bisa percaya anaknya jatuh cinta pada seseorang.
"Jadi... Siapa Dokter yang dibicarakan ini? Bagaimana rupanya?" Claire langsung terdiam mendengar pertanyaan dari ibunya. Dia langsung berdiri dan menatap ibunya tajam. Dia kemudian menyipitkan matanya menggunakan tangannya, dan mendekatkan wajahnya pada wajah ibunya.
"Dia itu yaaaa! Tampangnya seperti ini! Iniiiiii! Begini matanya! Dan bibirnya selalu agak maju seperti ini! Pokoknya ekspresinya selalu seperti aspal! Kaku sekali! Kaku! Kaaaaakuuuuu~! Kemudian dia itu selalu berkata seperti iniiiii..."
Claire mengambil selimutnya, dan mengikatkannya di lehernya. Persis seperti anak-anak kecil yang berlagak jadi Superman. Kemudian, dia menyilangkan tangannya di depan dadanya, sambil menyipitkan matanya.
"Hei, bocah. Rumput obat, dua puluh. Cepat. Jangan lelet."
"Hee...," Ibu Claire hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, melihat akting anaknya. "Lalu? Selimut itu untuk apa? Apa dia itu pahlawan atau sejenisnya?"
"BUKAN! INI BUKAN SELIMUT! Ini itu... Jas! Tau kan? Jas! Jas itu... Putih! Jas! Jas! Jas putih! AHAHAHA! PUTIH!"
Ibu Claire hanya terdiam melihat anaknya yang sibuk berputar-putar memainkan selimutnya. Ya, ini salahnya membuat anaknya mabuk. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini satu-satunya cara untuk membuat Claire membuka mulutnya.
"Jadi... Dokter itu sering menyuruhmu mengumpulkan tanaman obat?"
"IYAA! IYA! JAHAT KAN! JAHAT! Aku belajar berhari-hari karena gagal terus! Huh!"
"Lalu? Kau kesal dengannya?"
"SANGAATTT! Dia itu menyebalkan! Sebal! Sebal sekali! Apalagi yaaa! Kalau dia membuat ekspresi seperti ini nihhhh!" Claire mengerutkan alisnya dan menunjukkannya kepada ibunya.
"Tapi... Kau menyukainya?"
Deg!
Claire terdiam. Begitu pula ibu Claire. Untuk beberapa detik suasana hening, sampai tiba-tiba Claire terhempas ke kasurnya. Ibu Claire yang terkejut, langsung menghampiri anaknya. Tapi yang dia dapati, adalah wajah anaknya yang sudah berubah semerah tomat.
"...iya. Aku suka dia. Sangat suka..."
...
Ibu Claire terdiam melihat anaknya. Tapi tak lama, senyuman pun menghiasi wajahnya. Dia pun mengelus rambut Claire sambil duduk di sampingnya.
"Kalau begitu, untuk apa kau berpikir lagi? Hanya dengan menyadari hal itu, sudah cukup untuk menemukan jawabannya."
"Apa... Yang... Ibu... Mak-... Sud..." Claire merasa kelopak matanya mulai terasa berat. Dia pun mulai memejamkan matanya, dan akhirnya kehilangan kesadarannya.
Kemudian...
"HOEEEEKKKKK!"
Srasshhh
"Hah... Hah... T-ternyata aku memang masih sakit..." Claire mengerutkan alisnya. Kepalanya terasa pusing. Dan dia merasa sangat mual. Dan entah apa yang terjadi, dia tidak bisa mengingat apa-apa semenjak kedatangannya ke rumahnya.
"Aku tidur... Lalu aku bangun... Makan... Bermain game... Lalu... Lalu apa yang terjadi?"
Merasa tidak mampu untuk berpikir lebih jauh lagi, Claire pun keluar dari kamar mandi dan melihat televisi di ruang keluarganya yang masih menyala, namun tidak ada orang yang menontonnya.
"Loh? Mama yang menyalakan tv ya? Tapi... Mama kemana?" Ujar Claire sambil melihat sekelilingnya.
Merasa ibunya tidak ada di dalam rumahnya, Claire pun duduk di sofa dan memutuskan untuk menonton televisi. Entah mengapa, dia merasa nostalgia melihat televisi yang tidak dilihatnya selama kurang lebih tiga minggu itu.
"Hmm~ ada acara apa ya?"
Pip!
[Yo! Kembali bersama saya! Puppi! Dalam acara... 'animal is friend'! Dan kali ini kita mendapat tamu spesial! Lihat ayam ini! Sayapnya... Paruhnya... Cekernya! Wangi... Mempesona...!]
"Gaaah!"
Pip!
Dengan penuh emosi, Claire mengganti stasiun televisinya.
[Tidak! Ini gawat! Kalau begini terus, keselamatan dunia akan terancam!]
"Oh? Kartun? Nah! Ini lebih baik! Aku suka kartun!"
[Bagaimana ini Peach?! Kekuatan kita... Kekuatan kita tidak akan cukup untuk mengalahkan Terong raksasa itu!]
[Hohohoho! Jangan khawatir!]
[A-apa?! Siapa kamu?! Kenapa badanmu kecil sekali! Tapi perutmu besar! Dan kau punya sayap lebah di pinggangmu!]
[Hohoho! Eits! Aku, yang lahir dari pohon anggur yang setiap hari disiram dengan susu kambing murni... Disinari oleh sinar bulan! Kau bisa memanggilku... Peri Kecil Thomas! Hihihi!]
PIP!
Claire segera mematikan televisinya.
"...entah kenapa kualitas kartun semakin memburuk drastis belakangan ini..."
...
Claire terdiam.
Sepi. Sepi sekali. Dan dia merasa aneh. Seharusnya dia sudah terbiasa dengan suasana sepi seperti ini. Ketika sehari-hari ibunya pergi bekerja, dia selalu ditinggal sendirian di rumah. Harusnya dia sudah terbiasa. Terbiasa. Tapi...
PLAK! PLAK!
Claire menampar kedua pipinya. Dia segera bangkit dari sofanya, dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Okei! Tidak apa! Aku tidak kesepian! Disini lebih baik! Disini lebih baik~! Nah Claire, setelah ini lebih baik kau mandi! Ayo kita mandi~"
Claire membalikkan badannya. Dan seketika dia membatu. Kedua matanya terbuka lebar-lebar. Dia merasa jantungnya berhenti saat itu juga.
A-apa...
B-Bagaimana mungkin...?!
-oOo-
Sekitar 12 jam yang lalu, di Mineral Town...
"...Apa?"
Dokter masih mengedip-ngedipkan matanya. Masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. Tapi tak butuh waktu lama baginya, untuk segera meraih kesadarannya dan bergegas menuju lantai dua. Dia berlari menuju kamar Elli.
BRAK!
...
Dokter melihat ke sekelilingnya. Barang-barang Claire masih berada di tempatnya. Tidak ada tanda-tanda Claire benar-benar pergi meninggalkan desa. Sampai akhirnya tepukkan Karen di pundaknya, menyadarkannya dari lamunannya.
"Aku tau kau masih tidak percaya... Tapi Claire tidak ada dimana pun. Aku percaya cerita yang dikatakan oleh Doug benar dan-..."
Tidak menunggu Karen selesai bicara, Dokter sudah berjalan menuruni tangga dan bergegas menuju pintu keluar. Namun sebelum Dokter berlari keluar dari klinik, Karen berhasil menghentikannya.
Grep!
"T-Tunggu dulu! Kau mau pergi kemana?!"
"Kau masih perlu bertanya? Tentu saja aku akan pergi mencarinya!" Urat Karen mulai keluar. Dia mulai kesal.
"Karena itu sudah kukatakan untuk mendengarkanku dulu! Doug mengatakan kalau tadi malam dia meminjam telepon di Inn dan meminta ibunya untuk menjemputnya di pelabuhan!"
"Tapi barang-barangnya masih ada di dalam kamarnya. Dan kau masih mau mengatakan bahwa dia kabur dari desa ini?"
"Bisa saja kan dia kabur dari desa ini tanpa membawa barang-barangnya?!"
"Terlebih, dia masih sakit. Akan gawat jadinya kalau aku tidak menemukannya dengan cepat." Ujar Dokter tanpa mempedulikan argumen Karen.
"Tapi kata Doug-..."
"AKU TIDAK PERCAYA!"
Deg!
Karen terhentak melihat Dokter yang tiba-tiba berteriak di depannya. Dan tanpa sadar, dia telah membiarkan Dokter pergi berlari begitu saja. Kesal, Karen pun segera berlari menyusulnya.
"HOI! TUNGGU! Arghh! Dokter sialan kepala batu!"
"A-aku ikut!" Elli pun menyusul mereka dari belakang.
Setelah itu, Dokter pun mengelilingi seluruh pelosok desa mulai dari rumah-rumah penduduk, alun-alun, gereja, pemandian air panas, gua, hutan, gunung, hingga akhirnya dia pun mulai kehabisan tenaganya, dan berhenti di satu tempat terakhir yang belum diperiksanya. Pantai.
"Ha... Ha..."
Dokter berusaha mengatur napasnya. Sementara Karen, di belakangnya, hanya menatapnya pasrah. Dan Elli yang juga ada di belakangnya, masih terdiam sejak tadi.
"... Hei. Menyerahlah. Sudah kukatakan bukan? Claire itu..."
Srassshh
TOOOTTTTT
Tiba-tiba dari ujung laut, terlihat ada sebuah kapal yang mendekati pelabuhan desa mereka. Kapal itu tidak nampak asing lagi di mata mereka bertiga.
"Loh? Itu bukannya kapal Zack?" Ujar Karen sambil berlari menuju pinggir pelabuhan dan melambai-lambaikan tangannya ke arah kapal itu.
TOOOOTTTT
Kapal itu merespon lambaian tangan Karen. Nampaknya dugaannya tidak salah lagi.
"Tapi... Kapan Zack pergi dari desa ini? Untuk apa? Dan kalau baru sampai sekarang berarti dia pergi ke tempat yang cukup jauh... Ah!" Menyadari sesuatu yang harusnya dia tidak katakan, Karen melirik ke arah Dokter. Dan benar saja, Dokter sudah dalam posisi siap untuk menginterogasi pemilik kapal itu dengan tatapan penuh 'tiada ampun'-nya. Karen memalingkan pandangannya sambil memukul jidatnya.
((Maafkan aku, Zack.)) Ujarnya dalam hati.
Tak butuh waktu lama, kapal itu akhirnya sampai di pelabuhan. Dan pemilik kapal itu pun segera menapakkan kakinya di pasir pantai. Segera berlari menyambut Karen yang berada di sisi terdekatnya.
"Yo, Karen! Apa yang kau lakukan di pantai pagi-pagi begini? Apa kau mencariku?" Dengan muka penuh rasa bersalah, Karen menggelengkan kepalanya.
"B-Bukan aku yang mencarimu... Tapi... Dia." Ujar Karen sambil menunjuk ke arah seseorang di belakangnya.
"Dia?" Zack mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Karen dan mendapati Dokter sudah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dia deskripsikan sekali pun. Tubuhnya merinding. Itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
"Ha... Ha... A-aku baru ingat ada barang yang tertinggal jadi aku harus pergi lagi..." Zack langsung membalikkan badannya dan berniat lari ke kapalnya. Namun, orang di belakangnya cukup gesit untuk menangkapnya sebelum dia sempat melangkahkan kakinya.
Tep!
Zack merasakan cengkraman yang kuat di salah satu pundaknya. Dia bisa merasakan air mata 'kepasrahan'-nya mulai menetes.
"Mau ke mana kau? Aku ingin bicara denganmu. Kau tidak akan pergi... Sampai kau menceritakan semuanya. Aku mau kau jelaskan... Secara detail."
"Baik, Dokter." Ujarnya tersenyum pasrah, sambil mengelap air matanya. Dia berharap... Setidaknya, nyawanya bisa terselamatkan.
Tak lama kemudian...
"B-Begitulah..."
"Hm..."
Hening. Karen menggaruk-garuk kepalanya. Dia sudah bisa menduga alasan Claire melakukan semua hal itu. Karen pun melirik ke arah Elli. Dia masih terdiam, sambil menundukkan kepalanya. Karen tentu merasa iba melihatnya, tetapi...
"Lalu, apa yang kau tunggu?" Dokter berdiri dan segera berjalan menuju kapal milik Zack.
"E-eh?" Zack menatap Dokter heran. "A-apa yang kau lakukan?"
"Tentu saja aku akan menyusulnya. Kau, cepat nyalakan kapalmu."
"A-APAA?!" Bukan hanya Zack saja yang berteriak, kali ini Karen juga berteriak saking kagetnya. Dia segera menghentikan Dokter.
"Tunggu-tunggu-tunggu! Apa kau ini gila?!"
"Mungkin."
"Iya aku tau sejak awal, tapi... Eh? H-HEI! Bukan begitu maksudku! Aku serius! Maksudku... Bagaimana mungkin kau bisa menemukannya semudah itu?! Kau bahkan tidak tau alamatnya?"
"Aku bisa bertanya pada ibunya."
"Ya, kau bisa. Tapi... Eh? H-HEI! Kau tidak bisa! Kau bahkan tidak tau nomor telepon ibunya?!"
"Bisa, jika aku menggunakan telepon di Inn. Tinggal tekan tombol redial."
"U-ugh... Ta-tapi hei! Tunggu dulu!" Karen berusaha menyusul Dokter yang kini mulai berjalan keluar dari pantai. Tampaknya tujuan dia selanjutnya adalah Inn.
"D-Dokter! Bagaimana denganku!? Aku baru saja pulang dari kota dan tidak tidur ja-jadi..."
Tep.
Dokter menghentikan langkahnya. Dia kemudian berbalik menatap Zack dengan aura kematiannya.
"Apa katamu tadi...?"
"... Baik, Dokter. Kapalnya akan segera kusiapkan." Ujar Zack tersenyum, sambil menghapus air mata 'kepasrahan'-nya yang mulai menetes lagi.
Dokter dan Karen masih terus berjalan sampai...
"DOKTER!"
Dokter berhenti berjalan dan menoleh ke arah Elli. Begitu pula Karen, dan Zack.
"Ada apa, Elli?"
"Apa... Kau benar-benar... Akan menjemput Claire?"
...
Dokter hanya terdiam. Kemudian dia membalikkan badannya dan kembali berjalan lagi. Karen yang melihatnya, langsung menarik bajunya, dan menghentikannya.
"H-hoi..."
"A-aku tau alamat rumah Claire!"
Tep.
Dokter kembali menghentikan langkahnya dan menatap Elli.
"Benarkah?" Elli hanya menganggukkan kepalanya pelan untuk menjawab pertanyaan Dokter.
"Aku juga memiliki nomer telepon ibu Claire... Jadi kau tidak perlu ke Inn..."
"...Zack."
"I-i-i-iya?!" Zack yang kaget mendengar namanya disebut, spontan langsung berlari ke arah Dokter.
"Kau punya kertas dan pulpen? Tolong berikan kepada Elli."
"E-eh tapi..."
"Cepat."
"B-b-b-baik Dokter!" Zack segera berlari ke dalam rumahnya. Karen hanya bisa menatapnya dengan tatapan penuh iba.
Tak lama, Zack keluar dari rumahnya dengan membawa sebuah kertas dan pulpen. Dia lalu memberikannya kepada Elli. Setelah menerima kertas dan pulpen itu, Elli mulai menuliskan alamat dan nomer telepon ibu Claire.
"Elli..." Karen menatap Elli dengan tatapan penuh kesedihan. Dia tau, saat ini Elli pasti merasa sangat sedih. Sangat sangat sedih. Tapi...
Karen melirik ke arah Dokter. Tidak salah lagi. Melihat ekspresinya, saat ini yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara agar dia bisa cepat menemui Claire. Claire. Claire. Dan hanya Claire. Karen merasa Dokter telah mengetahui perasaan Elli. Tapi... Dia tidak sedikit pun memikirkan tentang perasaan Elli. Atau mungkin, dia... Menolak untuk memikirkannya. Setidaknya, itu menurut perkiraan Karen.
"Ini." Elli menyodorkan kertas yanh telah berisi alamat dan nomor telepon itu ke arah Dokter.
"Terima kasih, Elli." Dokter pun menerimanya, dan segera pergi melewatinya begitu saja menuju kapal milik Zack. Zack yang menyadarinya langsung berlari mendahului Dokter, dan segera bergegas menyiapkan kapalnya. Karen yang tidak tahan atas perlakuan Dokter itu, hendak menghentikannya. Namun Elli, telah mendahuluinya.
"AKU MENYUKAIMU!"
Tep.
Langkah Dokter terhenti begitu mendengar pernyataan Elli.
"Aku... Menyukaimu."
Dokter masih terdiam, tapi dia sama sekali tidak menoleh ke belakang.
"Sejak pertama kali mengenalmu, hingga saat ini... Perasaanku sama sekali tidak berubah sedikit pun. Aku... Selalu berusaha... Agar kau menyukaiku, Dokter." Elli menghempaskan dirinya di pasir, dan menundukkan kepalanya.
"Tapi... Aku tau... Bahwa kau sama sekali tidak memandangku. Bagimu, aku tak lebih dari asisten setiamu. Seberapa besar usahaku, aku... Aku..."
"Elli."
Elli membuka kedua matanya. Suara Dokter terdengar sangat jelas di kupingnya. Dia mengangkat kepalanya dan mendapati Dokter telah berlutut di depannya, hingga kedua wajah mereka kini sejajar. Dokter menatap Elli lekat-lekat.
"Maaf. Dan... Terima kasih." Ujarnya sambil tersenyum lembut. Dokter kemudian berdiri dan berjalan, lalu menaiki kapal milik Zack.
"T-tunggu dulu... Dokter-..." Karen mencoba mencegah Dokter tapi... Dia memutuskan untuk menghentikan niatnya itu.
"Kita berangkat, Zack."
Zack hanya terdiam dan mengangguk kecil. Dia segera menjalankan kapalnya dan seketika, kapal itu mulai bergerak di atas permukaan air laut.
TOOOTTTTT
Tooott
Perlahan kapal itu mulai menjauh, sampai akhirnya tidak terlihat lagi. Karen masih terus menatap Elli yang masih terdiam di posisinya. Menatap kapal yang sudah tidak bisa dia lihat lagi itu.
Perlahan, Karen mencoba mendekati Elli dan duduk di sampingnya. Dia memutuskan untuk tetap diam.
"...nyum..."
"Eh?" Karen menoleh ke arah Elli, dan mendapati sebuah senyuman sudah menghiasi wajahnya.
"Akhirnya... Dia menatapku... Dan tersenyum padaku..."
Air mata masih terus menetes di pipi Elli, tapi Karen tau, itu bukanlah air mata kesedihan lagi. Melainkan sebuah air mata kebahagian baru. Ya, dia tau itu.
"Bagus untukmu, Elli." Ujar Karen sambil tersenyum, membalas senyuman Elli. Kemudian, Karen berdiri dan merentangkan tangannya, lalu tertawa keras-keras. Elli sempat terhentak mendengarnya.
"Dokter itu bodoh sekali ya! Menolak perempuan super baik, pintar, dan cantik sepertiku ini!" Elli mengedip-ngedipkan matanya bingung mendengar perkataan Karen. Tapi, Karen masih tersenyum dan melanjutkan kalimatnya.
"Tapi... Kau lihat saja nanti! Aku pasti akan mendapatkan pria yang jaaauuuhhh lebih baik dibandingkan dia! Seratus kali lipat lebih baik daripada dia! Dan aku akan membuatmu iri padaku! Ingat itu baik-baik!" Karen mengulurkan tangannya kepada Elli,
"Saat bertemu Claire nanti, kau harus mengatakannya dengan lantang, OKE?!"
Kedua mata Elli terbuka lebar. Kemudian tak lama, dia merasakan air mata mulai membendung di kelopak matanya. Dengan cepat dia menghapusnya, lalu menerima uluran tangan Karen sambil tersenyum dengan lebar.
"Ya... Aku janji..."
"OH! Jangan lupa tambahkan, 'Karen juga akan mendapatkan lelaki yang sama kerennya denganku! Jadi jangan sombong dulu ya!', oke?"
Di hari yang unik itu, untuk pertama kalinya pantai yang selalu sunyi itu, dipenuhi oleh suara tawa yang terdengar sangat hangat. Ya, itu adalah suara tawa yang penuh dengan kebahagiaan, dan keyakinan, untuk terus melangkah maju.
"Selamat tinggal cinta pertamaku."
"Selamat tinggal... Trent."
-oOo-
"A-a-a-a..."
Tangan Claire gemetaran. Dia mengacungkan telunjuknya kepada orang yang berada di depannya. Bagaimana... Bagaimana mungkin?!
"Aku datang... Untuk menemuimu."
"Ta-tapi... Bagaimana... Mungkin?"
"Elli memberikan alamat dan nomor telepon ibumu. Aku sudah mendapat izin untuk masuk ke rumahmu, jadi aku bukan penjahat. Mengerti?" Ujarnya sambil menunjukkan kunci rumah Claire yang berada di tangannya. Claire pun mengerutkan alisnya.
"La-lalu... Mama?! Mama dimana sekarang?!"
"Oh? Dia sedang pergi membeli makan malam bersama Zack."
((Wanita tua itu~!)) Ujar Claire dalam hati sambil menutup wajahnya.
"Claire."
Deg!
Tubuhnya terasa bergelonjak saat mendengar Dokter memanggil namanya. Perlahan, dia mengangkat kepalanya dan mendapati Dokter menatapnya lekat-lekat. Bukan tatapan penuh amarah, kecewa, maupun tatapan cuek yang telah berulang kali membuat Claire kesal.
Tatapan Dokter kali ini, adalah tatapan penuh rasa lega. Itu yang Claire simpulkan, saat melihat kedua matanya lekat-lekat.
"Kenapa...?"
Deg!
"Kenapa kau... Pergi tanpa mengatakan apapun?"
Grep!
Claire mengepalkan tangannya yang sejak tadi tidak bisa berhenti bergemetar itu. Dia tidak tau harus berkata apa lagi. Dan... Yang ada di pikirannya hanya satu.
Claire menarik napasnya dalam-dalam.
"AAHHHHHHHHH!"
Claire berteriak sambil menujuk ke arah belakang Dokter. Dokter yang terkejut spontan menoleh ke belakang, dan dengan cepat Claire langsung berlari ke arah kamar mandi dan...
Cklek!
Menguncinya.
"Hoooiii... Beraninya kau menipuku, hah?!" Suara Dokter terdengar benar-benar marah dari luar sana. Claire langsung menutup kupingnya, dia duduk, dan menyenderkan dirinya di balik pintu.
Tok tok tok
"Claire. Buka pintunya."
"Tidak mau!"
"Kenapa?"
Claire terdiam. Dengan suara yang bergemetar, perlahan dia mulai berbicara.
"A-aku takut..."
"Takut?"
"Aku takut kau marah!" Teriak Claire. Dokter terdiam sejenak.
"Aku tidak marah."
"Bohong!"
"Tidak marah."
"Bohong! Katakan yang sejujurnya!"
"Baiklah. Aku sedikit marah."
"TUH KAN! KAU BOHONG!"
"A-apa maumu?!"
BRAK!
Dokter memukul pintu kamar mandi Claire.
"Cepat keluar, Claire!"
"Tidak mau! Kenapa kau susah-susah datang kemari?!"
"Karena aku ingin bertemu denganmu."
"A-... Hah?"
Dokter menempelkan kepalanya ke pintu yang ada di depannya, dan bicara dengan nada yang lebih lembut dibandingkan sebelumnya.
"Karena aku... Ingin bertemu denganmu."
"A..." Claire terdiam. Wajahnya memerah. Dia menutup mulutnya. A-apa yang orang ini barusan katakan?!
"Apa kau... Tidak ingin bertemu denganku?"
Deg!
Claire terdiam. Dia memegang erat bajunya. Wajah Elli tiba-tiba muncul di benaknya. Dia pun menggigit bibir bawahnya.
"T-Tidak... Pulanglah."
Dokter terdiam. Dia menjauhkan dirinya dari pintu.
"Apa... Kau serius mengenai pernyataanmu barusan?"
"Ya... P-pulanglah..." Ujar Claire dengan suara bergetar. Dia masih menggigit bibir bawahnya.
"...Baiklah. Aku akan pulang kalau itu maumu."
Set
Dokter membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar. Claire terdiam. Dia kemudian langsung berdiri dan memegang ganggang pintunya.
((Dokter... Pergi? Dia... Benar-benar sudah pergi...? T-Tapi...))
"Kau menyukainya."
((Tapi... A-aku...))
"Apa kau serius mengenai pernyataanmu barusan?"
((A-aku!))
BRAAAKK!
"TUNG-..."
Sregh!
"Uwaa!"
Kedua mata Claire terbuka dengan sangat lebar. Saat Claire membuka pintu, tiba-tiba sepasang tangan menarik Claire ke dalam pelukannya. Ternyata, Dokter yang Claire kira telah pergi, masih berada di depan pintu kamar mandinya.
"K-kau menipuku..." Claire berusaha melepaskan pelukan Dokter, namun usaha yang dilakukannya sia-sia. Tenaganya tidak bisa menandingi tenaga Dokter. Saat itulah dia menyadari tangan Dokter yang memeluknya sedikit gemetar.
"D-Dokter?"
"Syukurlah..."
"Eh?"
"Syukurlah aku dapat menemuimu lagi."
Deg!
Claire merasa air matanya hampir keluar dari kelopak matanya. Tapi, dia berusaha menahannya sekuat tenaga.
"...Lepaskan." Ujar Claire.
"Tidak mau." Jawab Dokter. Dia makin mempererat pelukannya.
"Lepaass!" Ujar Claire sedikit memaksa. Dokter masih tidak melepaskan pelukannya.
"...Kenapa?" Tanyanya dengan nada yang terdengar sedih. Mendengarnya, Claire merasa tenaga yang dia simpan untuk melawan Dokter, hilang seketika. Dia pun menundukkan wajahnya, malu.
"A-aku... Belum mandi dari pagi."
...
"Pfht!"
"KAU BARUSAN TERTAWA KAN!?" Claire memukul punggung Dokter berkali-kali. Namun hal itu sama sekali tidak membuat Dokter melepaskan pelukannya. Dia malah semakin mempereratnya.
"Sama halnya denganku."
"E-eh?"
Dokter akhirnya melepaskan pelukannya, lalu menatap Claire dengan lembut.
"Aku terlalu sibuk mencarimu sejak pagi, sampai aku lupa untuk mandi."
Deg!
Hati Claire terasa luluh mendengar perkataan Dokter.
Hei, apa benar dia orang yang pertama kali dia temui di supermarket itu? Orang kasar tukang ngutang yang selalu menyuruhnya untuk bekerja terus-menerus? Dia tidak memiliki kepribadian ganda, kan?
"Tapi... Kenapa... Kenapa kau melakukan hal ini? Sejauh ini?"
Plak!
Dokter menutup wajahnya. Dia pun menundukkan kepalanya, lemas.
"Sudah kuduga kau sama sekali tidak menyadarinya. Kau itu memang... Bodoh."
"A-apa?!"
Dokter memegang kedua pundak Claire, dan menatapnya lekat-lekat.
"Aku tidak tau apa aku sanggup untuk mengatakannya lagi, tapi untuk sementara waktu ini... Aku rasa aku hanya sanggup mengatakannya sekali, jadi dengarkan baik-baik."
"I-iya?"
"A-aku..." Dokter berhenti bicara. Dia mengalihkan pandangannya sesekali. Menarik napasnya. Lalu menatap Claire sekali lagi.
"Aku menyukaimu."
...
Degdegdegdegdegdegdegdegdegdegdegdegdegdegdeg
Claire merasa jantungnya bekerja dengan sangat cepat. Wajahnya memanas. Dan tenaganya hilang seketika.
((Aku harus menjawab apa?! Menjawab apa?! Menjawab apa?!))
Melihat ekspresi Claire, Dokter pun tersenyum lalu menggenggam tangan Claire. Tubuh Claire pun terhentak.
"Lalu?"
"L-l-l-l-lalu b-bagaimana m-maksudmu?!" Tanya Claire gugup. Perhatiannya hanya terpusat pada tangannya yang saat ini digenggam oleh Dokter.
"Bagaimana... Denganmu?"
"A-ah..." Merasa tidak sanggup lagi menatap mata Dokter, Claire menundukkan kepalanya.
"A-aku..."
"Hmmm?" Dokter mendekatkan wajahnya lebih dekat ke arah wajah Claire. Claire semakin salah tingkah.
"Aku juga... M-menyukaimu..." Mendengar hal itu, Dokter pun tersenyum.
"Ya, aku tau." Ujarnya. Singkat.
Namun, hal itu membuat Claire seketika, membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Heh?"
"Hah?" Dokter bingung melihat reaksi Claire.
"Apa maksudmu... Kau tau?"
"A-ah... I-itu..." Dokter menggaruk-garuk kepalanya.
Gawat. Dia keceplosan.
Kemudian, dia mendapat sebuah ide di benaknya. Dia pun tersenyum.
"Itu karena, aku adalah seorang Dokter."
"Hah? Curang! Jadi Dokter bisa tau hal-hal seperti itu juga?!"
"Y-yah... Begitulah...?" Ujar Dokter sambil mengalihkan pandangannya. Kemudian dia menatap Claire lekat-lekat. Perlahan, dia pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah Claire. Claire yang menyadarinya, langsung menghindar dan bergerak mundur.
"M-m-m-mau apa kau!?" Tanya Claire gugup dengan wajah memerahnya. Dokter menahan lengannya, dan membuatnya tidak bisa bergerak.
"Bukankah sudah jelas?"
"APANYA?!" Teriak Claire marah. Seluruh wajahnya terasa memanas. Dia tidak bisa berpikir jernih lagi.
"Claire..."
Deg!
Ketika namanya dipanggil seperti itu, Claire merasa dirinya sudah tidak berdaya lagi. Dia pun mulai memejamkan matanya. Membiarkan Dokter... Eh? Tunggu.
PLAK!
Dengan cepat, tangan Claire menutup wajah Dokter yang tadinya hanya berjarak beberapa mili dari wajahnya itu.
"TUNGGU!"
"...Apa?" Nada Dokter terdengar kesal kali ini. Tapi Claire tidak mempedulikannya, dan menatapnya lekat-lekat.
"Tidakkah menurutmu ini aneh?"
"Apanya?"
"Nama."
"Hah?" Dokter benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataan Claire.
"...Aku belum mengetahui... Namamu..." Ujar Claire ragu-ragu. Dokter pun membatu.
"APA?!" Dia pun berteriak saking kagetnya. Claire sampai terhentak.
"Kenapa kau sekaget itu..." Ujar Claire, sedikit tersinggung. Sementara Dokter masih menatapnya tidak percaya.
"Kau sama sekali tidak mengetahui namaku...?"
"K-kau tidak pernah memberitahunya kepadaku! Dan semua orang memanggilmu 'Dokter'! Mana aku tau!?" Protes Claire. Dokter menghela napasnya.
"Begitu ya... Yah, aku memang jarang memberitahukan namaku kepada orang lain..." Ujar Dokter pelan. Claire hendak protes, tapi Dokter mendahuluinya.
"Trent."
"E-eh?"
"Namaku Trent."
Deg!
Sejenak, Claire merasa ada jantungnya berhenti berdetak seketika. Dia pun menarik napasnya, dan mencoba menatap kedua mata Dokter.
"T-Trent..."
Dokter terdiam. Dia menatap Claire yang saat ini menundukkan wajahnya yang mulai memerah itu. Tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, Dokter langsung menggenggam lengan Claire.
"A-a-apa?!"
"...Sekali lagi."
"E-eh?"
"Panggil namaku... Sekali lagi."
Claire menarik napasnya. Padahal itu hanya sebuah kata yang terdiri dari lima huruf. Tapi kenapa... Sulit sekali baginya untuk mengatakannya?!
"T-... Trent..."
Dokter pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah Claire sekali lagi. Setelah memastikan Claire telah menutup matanya, Dokter pun mendekat sambil menutup matanya, dan...
"T-TUNGGU!"
PLAK!
Lagi-lagi telapak tangan Claire mendarat di wajahnya.
"APA LAGI?!" Tanya Dokter emosi. Perlahan, sedikit demi sedikit, rasa trauma mulai timbul di hatinya.
"A-aku... Tidak ingin... Menghianati Elli..."
Dokter terdiam. Dia menghela napasnya.
"Bisa pinjam telepon?"
"E-eh? Bisa... I-itu... Disana." Ujar Claire sambil menunjukkan telepon rumahnya. Dokter berjalan ke arah telepon milik Claire, menekan beberapa nomor, dan mulai berbicara.
"Oh? Halo Doug. Ya, ini aku. Apa Elli ada disana? Oh. Kebetulan. Tolong berikan padanya. Katakan aku ingin bicara dengannya."
Deg!
Mendengar nama Elli disebut, Claire merasa jantungnya ingin copot. Dia takut. Tapi yang lebih dia takutkan... Apa yang ingin Dokter bicarakan kepada Elli?
"Oh? Elli. Ya, ini aku. Hm? Sudah. Aku sudah bertemu dengannya. Hm? Ya, dia ada di sampingku. Oh, aku ingin kau berbicara dengannya. Tunggu sebentar."
Dengan sekuat tenaga, Claire memberikan isyarat kalau dia tidak ingin berbicara dengan Elli. Tapi tatapan tajam dari Dokter mengalahkannya. Perlahan, dia pun mengangkat ganggang teleponnya dan mulai berbicara.
"...E-Elli?"
[...]
Tidak ada suara dari balik telepon. Walaupun takut, Claire memutuskan untuk memanggilnya sekali lagi.
"E-Elli-..."
[D-Dokter itu bodoh sekali ya...! M-menolak perempuan super baik, pintar, dan cantik s-sepertiku ini...]
Claire awalnya benar-benar terkejut mendengar perkataan Elli, terlebih dengan suaranya yang terdengar gemetaran itu. Tapi dia sadar, Elli belum selesai berbicara. Jadi Claire tidak ingin memotongnya.
[T-Tapi...]
Claire bisa mendengar Elli menarik napasnya dari balik telepon, dan berusaha untuk menahan air matanya.
[Tapi... Kau lihat saja nanti! Aku pasti akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dibandingkan dia. Seratus kali lipat lebih baik daripada dia! Dan aku akan membuatmu iri padaku! Ingat itu baik-baik!]
"E-Elli... A-aku..."
[Karena itulah...] Elli masih melanjutkan perkataannya,
[Kau harus bahagia, bersama dengannya. Claire.]
Deg!
Claire menggenggam ganggang teleponnya erat-erat. Dari balik telepon Elli masih terus berbicara.
[Jangan pikirkan aku, oke? Aku sudah melupakannya! Dan kau tau aku, kan? Kalau aku, pasti dengan cepat akan mendapatkan banyak hati para pria-...!]
"BENAR!"
Kini gantian Elli yang terhentak dan terdiam dari balik telepon.
"Kalau itu Elli... Pasti dengan sekejab sepuluh... Ah tidak. Beratus-ratus lelaki akan jatuh cinta padamu. Aku yakin! Dan aku paham perasaan mereka semua! Karena... Karena..."
Claire berusaha menghapus air matanya.
"K-kau sudah membuatku jatuh cinta padamu juga..."
[...]
Untuk beberapa saat, tidak ada suara dari balik telepon, tapi tak lama, terdengar suara tawa kecil yang sedikit terdengar serak. Tapi... Terdengar sangat bahagia.
[Ya... Terima kasih, Claire. Kau... Adalah adik perempuanku yang paling kusayangi!]
"Aku lebih sayang padamu... Dasar kakak bodoh..." Ujar Claire sambil tertawa kecil. Dokter yang ada di sampingnya pun, tersenyum kecil melihatnya.
[HOI CLAIRE! JANGAN SOMBONG YA!]
NGIINNGGG
Suara Karen terdengar begitu keras sampai Dokter pun dapat mendengarnya dengan begitu jelas.
[Aku juga akan mendapatkan pacar yang jauh lebih keren dari Dokter lemah itu!]
"A-apa?! Lemah!?" Dokter protes.
[Jadi... Kau harus kembali kesini lagi ya! Janji loh! CEPAT PULANG!]
NGGIIINNGGG
[Karen! Aku juga ingin bicara!]
[A-aku juga!]
[Hei, gantian pelan-pelan! Mary duluan, oke?! Ini!]
[Claire! Novelku sudah tamat! Kau harus membacanya!]
[Dan-... Hei! Tunggu! Kau-...!]
[CLAIREE MAAFKAN AKU! KARENA AKUUU-...!]
NGGIINGG
[BRAK BRAK! Prang!]
[RICK BODOH! Ap- bzbzbz... Ka- bzbz kukan-... bzbzbzbzbz-]
[Tut tut tut tut]
Claire dan Dokter saling bertatapan. Kemudian mereka pun tertawa bersama.
"Dasar mereka itu... Bodoh." Ujar Claire sambil menghapus air matanya.
"Lalu? Kau akan kembali?" Claire terdiam mendengar perkataan Dokter. Kemudian dia memejamkan matanya.
"Untuk saat ini... Aku tidak bisa. Aku ini masih sekolah, kau tau?"
"Ah. Aku lupa kau masih bocah."
"HEI! Ukhh... P-pokoknya! Setelah lulus, aku sudah memutuskan untuk kuliah dalam bidang farmasi..."
"Farmasi?"
"Ya... Aku akan belajar dengan giat, agar aku bisa membuat berbagai macam obat dan... M-membantumu... Kurasa?"
Dokter terdiam. Dia masih menunggu Claire menyelesaikan kalimatnya.
"Karena itu... Saat aku sudah berpengalaman dan pantas menjadi asistenmu, m-maukah... Kau menungguku... Trent?"
Dengan wajah yang mulai memerah, Claire menatap Dokter dengan serius.
"...Bodoh. Aku tidak suka menunggu."
"Eh?! T-tapi...!"
"Karena itulah, aku akan menjemputmu."
"E-eh...?"
"Setuju?" Dokter tersenyum sambil menatap Claire dengan lembut. Claire pun membalasnya dengan senyuman lebar. Dia segera melompat ke arah Dokter sambil memeluknya.
"Setuju!"
"O-oi!"
Dokter yang tidak siap menerima lompatan Claire itu pun mulai kehilangan keseimbangannya dan terjatuh, dengan Claire di atas badannya.
"A-aduh... Maaf-..."
Deg!
Saat ini wajah mereka sudah sangat dekat. Claire bisa merasakan wajahnya mulai memanas lagi. Kemudian dia merasakan telapak tangan Dokter sudah menyentuh bagian belakang kepalanya. Mendorongnya untuk mendekat. Claire hanya memejamkan matanya, sebelum...
BRAAAKKK!
"Hoi! Claire! Dokter! Kami pulang... Membawakan... Ma... Ka... Nan..."
...
"Ada apa? Kenapa berhen... Ti... Ups! Hehe! Maaf... Kami muncul di saat yang tidak tepat, ya?" Ujar ibu Claire yang segera pergi keluar dari rumahnya.
"A-a-ah! Maafkan aku, Dokter!" Zack pun segera pergi keluar dari rumah Claire. Meninggalkan mereka berdua yang masih tidak bergerak dari posisi mereka. Dokter pun menggertakkan giginya, kesal.
"Kenapa..."
"KENAPA SELALU GAGAL?!"
-oOo-
TOOOTTT
"... Kau akan pergi sekarang?"
"Hm." Ujar Dokter singkat. Claire tidak menyangka setelah makan malam, Dokter dan Zack segera pamit untuk pulang. Claire pun menundukkan kepalanya.
"S-saat liburan... Aku akan kesana lagi!"
"Ya."
"S-setiap liburan! Dan setiap hari... Aku akan menelponmu... Lewat Inn... Iya, kan?"
"Ya."
"Atau kita bisa mengirim surat! Iya kan?"
"Ya."
"...U-uhh..." Claire berusaha sekuat tenaga menahan air matanya. Dia tau, sesungguhnya dia benar-benar masih ingin tinggal disana. Tapi dia tau, dia tidak bisa. Dia masih harus menamatkan sekolahnya. Dia harus bersabar.
"A-aku..."
"Aku akan merindukanmu." Claire mengangkat kepalanya. Dokter telah mendahuluinya berbicara. Claire pun menggigit bibir bawahnya.
"A-aku juga..."
TOOOTTTT
Bunyi cerobong asap kapal Zack mulai menggema di udara. Dokter pun segera menoleh ke arah kapal Zack.
"Aku harus pergi."
"Mhmm. A-aku tau..." Ujar Claire sambil menundukkan kepalanya.
"Sampai jumpa." Ujar Dokter sambil tersenyum kecil, lalu membalikkan badannya menuju kapal Zack. Claire hanya terdiam melihatnya. Dia terus menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangannya. Claire menarik napasnya, kemudian mengangkat kepalanya.
"T-TRENT!"
Merasa namanya dipanggil, Dokter pun menolehkan kepalanya dan mendapati Claire berlari ke arahnya.
"Ada apa?"
"Mmm... I-itu..." Claire melihat ke arah Dokter kemudian sedikit menundukkan kepalanya. "B-bisa menunduk sedikit?"
"Ada a-..."
Cup.
Dengan cepat Claire menempelkan bibirnya pada bibir Dokter. Setelah itu dia menatap Dokter dan berkata di depannya.
"Aku sangat menyukaimu! Dadah!"
Lalu, Claire membalikkan badannya dan berlari sekuat tenaga. Dia malu. Sangat malu sampai dia bersumpah dia bisa saja saat ini berguling-guling di jalanan saking malunya.
Claire terus berlari, sampai dia merasakan seseorang menggenggam tangannya dan menariknya dalam pelukkannya.
Grep!
"U-uwah!"
"Bodoh!"
"E-eh?! Kenapa kau masih disini?! Ka-kapalnya..."
"Bagaimana aku bisa pergi setelah kau melakukan hal itu, hah?!"
"E-eh?! Jadi ini salahku?!"
"..."
Dokter pun terdiam. Dia menatap Claire lekat-lekat.
"Sekali lagi."
"E-eh?!"
"Sekali lagi, setelah itu aku akan pergi."
"Ke-ke-ke-KEJAM! Aku sudah se-malu ini dan kau masih ingin membuatku lebih mau lagi?!"
"Claire."
Deg!
"Gaaahh! Baik-baik! S-sekali lagi... Hanya sekali... Oke?! ...Sekali... Saja..."
Tep!
Deg!
Tangan Dokter mulai menyentuh pipi Claire. Ini sama seperti kejadian di hutan waktu itu. Claire menatap wajah Dokter yang perlahan mulai mendekat. Claire pun menutup matanya perlahan.
Tak lama, dia mulai merasakan bibir Dokter mendarat di bibirnya. Berbeda saat dia mencium Dokter tadi, kali ini dia merasa bibir mereka bersentuhan dengan sangat lembut.
Perlahan Dokter mulai menjauh, dan mereka berdua membuka mata mereka.
"...Aku berubah pikiran. Setelah lulus SMA aku akan segera menjemputmu."
"E-EH?! T-tidak bisa begitu!"
"Atau kau ingin aku membawamu sekarang?"
"E-Eh?!"
Sret!
"U-UWA! T-Tunggu! Hei! Turunkan aku!"
"T-TRENT!"
-oOo-
Kau itu menyebalkan.
Kaku.
Kasar.
Keras kepala.
Itulah yang selalu ada di dalam pikiranku ketika melihatmu.
"Anakku! Selamat!"
Grep!
"Haha, mama! Kau memelukku terlalu kencang, kau tau?"
"H-habis... Aku sangat senang..."
"Hehehe! Aku juga-... Hm?"
Namun...
"Claire."
"Ah... Hehehe. Mama, aku kesana dulu ya.
"Kema-... Oh! Hmm~ aku mengerti. Pergilah!
"Okei! Hehehe!"
Kau juga adalah...
Orang yang sangat kucintai!
"Um... H-hei! Sudah lama ya..."
"Selamat atas kelulusanmu."
"Hehe, terima kasih. Entah kenapa kalau kau yang mengatakannya aku jadi malu sendiri!"
"Claire."
"M-mm?"
Kau dan aku, akan selalu sering bertengkar.
Kau dan aku, akan sering berbeda pendapat.
Kau dan aku, akan sulit untuk mengalah satu sama lain.
Karena kau dan aku, adalah rival.
Hal itu tidak akan pernah berubah,
Tetapi...
"Ayo, kita pulang."
Kau dan aku, akan selalu terhubung dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain!
...
Karena itulah...
"...Ya. Ayo kita pulang."
Kau dan aku, kita akan selalu bahagia bersama, selamanya!
-oOo-
