Disclaimare
Naruto punya Masashi sensei
Warning
MPERG, Alur berantakan, YAOI, Straight, Death Chara
***mulai***
Kadang orang tua selalu berbuat seenaknya, tak pernah memikirkan perasaan anak, namun percayalah apapun itu, orang tua akan selalu menyayangimu dan jasanya tak akan pernah bisa terbalaskan, meskipun kita sudah mandi darah...
Hinata terbangun dari mimpi indahnya. Pemandangan pertama yang dilihat oleh pemilik lavender itu adalah sosok malaikat mungil yang mirip dengannya. Malaikat mungil itu menepuk-nepuk wajah Hinata dengan tangannya yang kecil. Malaikat mungil itu tersenyum menampakkan gusi tanpa gigi. Tanpa sadar Hinata ikut tersenyum melihat Himawari, malaikat mungilnya. Hinata pun mengusap-usap rambut-rambut yang mulai tumbuh berwarna indigo milik Himawari.
"Hanya kau seorang yang dapat membuatku bertahan hidup, meskipun tanpa ayahmu. Andai saja saudaramu juga ada disini mungkin kebahagianku bertambah lengkap," ungkap Hinata dan pipinya kembali di tepuk-tepuk oleh Himawari.
Hinata beranjak dari tempat tidurnya. Semalam ia tidur bersama bayinya. Sengaja, untuk menemani dirinya yang kesepian. Lalu ia menggendong Himawari dengan hati-hati. Menaruh dalam box bayi, karena ia ingin mandi. Jika ditaruh di tempat tidurnya, Himawari bisa terjatuh. Kemudian Hinata masuk kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Kamar itu memang luas, cukup menampung tempat tidur, box bayi dan kamar mandi. Hinata tidak berlama-lama mandinya. Sepuluh menit cukup, karena ia mengkhawatirkan bayinya.
Benar saja, saat ia keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk pakaian warna ungu dan rambut basah yang ditutupi handuk kecil yang dipelintir-pelintir lalu ditaruh kebelakang, Himawari menangis. Ketika diperiksa rupanya Himawari mengompol. Meskipun belum lama mengurus bayi, Hinata sudah terampil mengganti popok. Tapi setelah popok diganti Himawari menangis lagi. Saat ditelusuri, Himawari lapar.
Hinata pun langsung memberikan ASI pada Himawari, sambil duduk di atas tempat tidur dan menggendong Himawari. Hinata jadi teringat saudara Himawari belum pernah diberikan ASI. Bagaimana bisa saudara Himawari bertahan? Setetes air mata kembali mengalir. Andai saja semua ini tidak terjadi.
Apakah ia batalkan saja gugatan cerainya?
Ia merasa kasihan dengan kedua anaknya. Sejak kecil kedua orang tuanya sudah dipisahkan. Bagaimana jika sudah besar nanti? Mereka pasti bertanya-tanya kenapa ayah dan ibunya tidak tinggal bersama. Apalagi jika pengadilan nanti memutuskan Himawari tinggal dengan Hinata dan Boruto - saudara Himawari, tinggal dengan ayahnya. Mereka pasti juga akan bertanya kenapa kami dipisahkan? padahal kami adalah saudara kembar.
Entah kenapa keraguan mulai menggerogoti keputusan Hinata. Apalagi sejak suaminya menyetujui gugatan cerai ini.
***ichigostrawberry-nyan***
Setelah mendapatkan ASI Himawari terlelap. Hinata langsung membawanya ke box bayi. Sekarang ia hendak menyiapkan sarapan untuk kakaknya. Jam di dinding masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Sebelum sarapan terlebih dahulu ia mengganti baju handuk yang dikenakannya. Saat menyusui tadi ia masih mengenakan baju handuk. Ia menggantinya dengan sweater hijau dan rok bergelombang panjang sampai betis. Rok tersebut bermotif rangkaian bunga.
Ia pun keluar dari kamar dan tidak mengunci pintunya. Supaya saat Himawari menangis, ia akan mudah masuk. Hinata berjalan menuju dapur. Ia mulai memeriksa isi kulkas. Hanya ada minuman dan makanan ringan.
Hinata beralih memeriksa rice cooker. Masih ada sisa nasi dan Hinata memutuskan untuk membuat nasi goreng. Lima menit kemudian Neji – kakaknya datang, Neji mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Ia hendak berangkat ke kantor. Namun ia sedang kesulitan memakai dasi. Hari ini ada meeting dengan klien penting. Jadi ia jarang memakai dasi, harus memakai dasi untuk kerapihan, ketika bertemu klien nanti. Setelah berkutat beberapa lama. Ia pun menyerah. Sepertinya ia memang tak ditakdirkan memakai dasi.
Neji pun memilih duduk menunggu Hinata selesai memasak. Aroma nasi goreng langsung tercium hidungnya. Beberapa menit kemudian dua mangkok nasi goreng tersaji di atas meja makan. Hinata juga membuat kopi untuk Neji.
"Kau masih ingat aku menyukai kopi di pagi hari?" Hinata hanya tersenyum menjawabnya. Kemudian mereka pun mulai menikmati makanannya. Hening melanda. Bahkan suara sumpit tidak terdengar, karena memang tidak sopan makan sambil membunyikan sumpit.
"Nii-san apakah keputusanku sudah benar?" tanya Hinata setelah selesai makan dan menaruh sepasang sumpitnya di atas mangkuk. Hinata juga sudah mengelap mulutnya dengan serbet kotak-kotak.
"Kau meragukan keputusanmu?" Neji balik bertanya dan Hinata hanya menjawab dengan menundukkan kepalanya serta memainkan jemarinya.
"Keputusanmu itu tidak salah. Orang seperti dia tidak pantas mendapatkan dirimu. Kau sudah berkorban banyak untuknya, sampai-sampai kau rela diusir dari rumah, demi dirinya. Tapi yang dilakukannya malah mengkhianatimu. Sudah! kau tak perlu berpikir lagi. Keputusanmu sudah benar, jangan buat dirimu direndahkan olehnya lagi," jawab Neji yang langsung beranjak dari kursinya. Ia sudah malas membahas permasalahan ini. Setelah perceraian ini selesai, ia akan membawa Hinata ke luar negeri, dengan atau tanpa persetujuan dari Hinata. Supaya Hinata bisa melupakan pria itu.
"Lalu bagaimana dengan kedua anakku, Nii-san? Mereka masih bayi dan seharusnya mereka mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya, bukan seperti ini..." ungkap Hinata seraya meremas roknya erat-erat.
"Kalau begitu kau bisa menikah lagi, kau tahu Shino masih mencintaimu sampai detik ini. Aku akan bilang padanya bahwa sebentar lagi kau akan bercerai dengan dia," jawab Neji dingin dan seenaknya.
"Nii-san aku tidak mencintai Shino. Aku hanya ingin Naruto-kun. Aku tahu dia telah bersalah. Tapi aku yakin ada jalan untuk memperbaiki ini semua. Kenapa Nii-san tidak mengerti? Kenapa Nii-san begitu menginginkan perceraian ini?" tanya Hinata, tak habis pikir kenapa Neji sangat menentang Hinata dan suaminya kembali bersama. Kali ini Hinata tidak menunduk, tapi menatap lurus ke arah Neji.
"Karena aku menyayangimu. Kakak mana yang tega adiknya disakiti suaminya? Jelas aku tidak ingin adikku menderita karena pria brengsek itu. Yang tidak mengerti itu kau Hinata!" ungkap Neji mulai emosi dan setengah membentak Hinata.
Mendengar perkataan itu Hinata menunduk kembali. Ia salah telah menyakiti kakaknya. Neji pasti sedih saat tahu ia disakiti suaminya. Hinata mulai ragu lagi dengan keputusannya. Ia bimbang. Ia ingin anak-anaknya bahagia, namun ia juga tidak ingin kakaknya bersedih. Dulu ia telah membuatnya ayahnya bersedih, ketika ia lebih memilih suaminya. Sekarang ia kembali mengulangi kesalahan. Ia tidak ingin mengulangi kesalahannya kembali.
Lagipula kakaknya benar. Suaminya itu salah. Jadi harus dihukum. Semoga dengan perceraian ini, suaminya sadar bahwa dirinya telah bersalah. Masalah kedua anaknya, pelan-pelan Hinata akan menjelaskannya. Ia harap kedua anaknya akan mengerti saat dewasa nanti.
"Maaf Nii-san aku tidak peka. Aku juga sayang Nii-san. Aku tidak akan membuat Nii-san bersedih, seperti aku telah membuat Tou-san bersedih. Aku tidak akan membicarakan hal ini lagi. Aku akan berusaha melupakannya. Tolong bantu aku Nii-san," ungkap Hinata dan Neji pun langsung memeluk wanita itu. Seraya mengusap lembut rambut Hinata.
'Maaf Hinata aku memang menyayangimu. Tapi alasan sebenarnya kenapa aku tidak ingin kau mendekatinya karena... aku tidak mau kau bersama seorang pembunuh...,' ungkap Neji dalam hati dan masih mengusap-usap rambut Hinata.
***ichigostrawberry-nyan***
Hari-hari terus berlalu. Tanggal-tanggal terus berganti. Matahari dan bulan terus bergantian menjaga bumi. Naruto masih melakukan aktivitas yang sama meskipun sudah menandatangani surat perceraian. Pagi hari jam sembilan sampai sore jam empat, ia akan bekerja di Ramen Ichiraku. Malam jam sembilan sampai pagi jam tujuh, ia akan berkerja di minimarket. Perbedaannya ia bekerja sambil membawa Boruto. Memang repot, tapi ia tak bisa meninggalkan Boruto sendiri di apartemennya. Lagipula ia tak punya uang untuk membayar baby sitter.
Sebenarnya Kurenai dan Asuma-pemilik apartemennya, bersedia merawat Boruto, kalau Naruto sedang bekerja. Namun Naruto menolak. Ia tak ingin dipisahkan dengan Boruto, karena malaikat kecilnya adalah penyemangatnya, dikala menunggu hasil persidangan. Dikala ia hidup sendiri tanpa kehadiran sang istri.
Selain repot menjaga Boruto, mengurus diri sendiri karena biasanya diurusin istrinya dan bekerja, Naruto juga direpotkan oleh telepon dari Uchiha Sasuke. Pemuda itu setiap malam, selalu menelepon dirinya, untuk menanyakan apakah dia sudah hamil atau belum.
Hae, dasar tidak sabar. Memangnya bayi bisa muncul dengan cepat setelah melakukan seks? Yang kemarin itu juga kan hanya kebetulan saja, muncul dengan cepat. Sperma Sasuke gerak cepat, jadi rahimnya mulai bereaksi.
Tapi sekarang kan beda. Rasanya Naruto ingin mencincang Sasuke, karena dia selalu menelepon ketika Naruto sedang tidur di minimarket, disela-sela sepi pengunjung. Apa Sasuke tidak tahu, kepalanya itu pusing dibangunkan mendadak dan yang dibicarakan cuma kapan Naruto hamil?
Tanya kabar gitu, atau kondisi Naruto apakah baik-baik saja, setelah digugat cerai. Ini malah selalu sama pertanyaannya.
Beberapa hari kemudian Naruto juga mulai disibukkan dengan keluar masuk ruang sidang. Naruto dan istrinya selalu datang ketika sidang berlangsung. Namun Naruto tidak bisa mendekati istrinya karena sang istri selalu ditemani Neji, yang selalu memandangnya dengan penuh kebencian. Membuat Naruto bertanya-tanya dalam hati, kenapa Neji begitu membencinya?
Ia paham dirinya salah. Hanya saja Naruto merasa, Neji lebih membencinya ketimbang istrinya. Dan Naruto tak mengerti kenapa Neji sangat membencinya. Apa dia pernah berbuat salah pada Neji?
Rasanya tidak, karena Naruto baru pertama kali bertemu Neji, ketika pemuda berambut kecokelatan itu sedang makan bersama Sasuke. Pada akhirnya Naruto memutuskan untuk mengabaikannya.
Naruto lebih memilih menatap Hinata yang terus menunduk ketika persidangan berlangsung. Namun Naruto bisa melihat wajah mendung Hinata. Ia merasa sangat bersalah melihat Hinata, tapi ia tidak bisa mengulang waktu. Hanya maju terus yang bisa ia lakukan.
Suatu hari akhirnya hakim telah mengambil keputusan. Bahwa persidangan cerai dirinya dan Hinata telah disetujui. Sekarang tinggal keputusan hak asuh kedua malaikat kecil mereka. Setelah sidang selesai, Naruto kembali ke apartemen.
Ia ingin cepat-cepat menemui Boruto yang sedang di jaga oleh Kurenai. Untuk menghapus rasa sedih karena hasil keputusan sidang. Hanya Boruto yang dapat menghapus kesedihannya. Namun saat ingin pulang sebelah tangannya dipegang oleh Hinata. Kening Naruto berkerut heran, melihat ulah Hinata.
"Bisa bicara sebentar," pinta Hinata.
"Ya, tapi bagaimana dengan Neji?" tanya Naruto.
"Tidak apa, aku sudah ijin Nii-san tadi."
Langit mulai mengubah warnanya menjadi jingga. Sebentar lagi langit akan berubah warna menjadi kelam. Udara sore berhembus hangat pada kedua sejoli yang sudah berpisah itu. Mereka berjalan beriringan namun tidak bergandengan tangan.
Naruto memakai kaus merah lengan panjang dengan turtle neck dan celana jeans abu-abu kebiruan. Sepatu kets warna hitam. Rambut kuning Naruto tertutup topi rajut warna hitam.
Sementara Hinata memakai baju kodok panjang semata kaki. Baju kodok warna biru itu membalut kaus putih lengan panjang. Hinata memakai sepatu selop tanpa hak warna putih. Rambutnya digerai dan memakai bando hitam. Tas biru tua tersampir di bahu kanannya.
"Kau sedang libur bekerja?" tanya Hinata memecah keheningan diantara mereka. Burung-burung di atas pohon-pohon di pinggir jalan, terlihat mengamati pergerakan mereka.
"Ya," jawab Naruto singkat. Hening kembali dan canggung melanda. Angin masih sibuk bermain-main dengan rambut hinata.
"Bagaimana keadaan Boruto?" tanya Hinata lagi.
"Baik, Himawari bagaimana?" tanya balik Naruto.
"Baik." Lagi-lagi hening. Hanya suara-suara burung dan langkah kaki pejalan di trotoar yang melewati mereka.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Naruto yang kali ini memecah kesunyian.
"Kita sudah berpisah. Aku hanya ingin bicara denganmu. Setelah ini kita masih bertemu untuk sidang keputusan hak asuh anak. Lalu setelah itu aku akan berangkat ke Inggris. Aku ingin melupakanmu..." Naruto tersenyum miris mendengarnya.
"Inggris yah, itu negara yang jauh..."
"Bagaimana denganmu? Sejujurnya kau belum menceritakan apapun, kenapa kau tidur..." Hinata tidak bisa melanjutkan pembicaraannya, karena terlalu sakit untuk mengingat apalagi membicarakannya. Namun ia juga ingin tahu apa yang terjadi.
"Kau benar, aku belum bercerita apapun denganmu, padahal kita sudah berpisah. Yah memang sudah waktunya aku bicara..."
Lalu Naruto pun mulai menceritakan mulai dari Kabuto yang memberitahukan padanya, bahwa Hinata akan melakukan operasi caesar. Berapa biaya operasi tersebut. Berapa uang yang dimilikinya. Bagaimana ia mencari pinjaman ke tempat kerjanya. Namun hasilnya nihil. Disaat keputusasaan hampir melanda, datang Sasuke yang membawanya secercah harapan.
Namun harapan itu berujung pada kesalahan. Tapi Naruto tetap nekat. Asal istri dan anak-anaknya selamat, ia pun mengambil harapan itu. Mungkin lebih tepat harapan itu disebut pedang bermata dua.
Ia juga sampai membohongi Hinata, karena Naruto tak ingin membebani semua pada istri tercinta. Apalagi istrinya mau melahirkan. Naruto takut Hinata kepikiran dan berbuah buruk pada bayinya dan juga kondisi istrinya.
Kebohongan itu memang melahirkan kebahagiaan, istri dan anaknya selamat. Tapi ternyata kebohongan itu juga berbuah musibah. Tak disangka olehnya, Neji adalah kakak Hinata dan juga teman Sasuke. Neji memukulinya karena perbuatan yang dilakukannya. Memang Naruto merasa ia pantas mendapatkannya.
Tak sampai disitu, ternyata sudah ada zigot dalam tubuhnya. Ia kehilangan bakal bayinya. Dan Sasuke yang mendengar itu malah berniat bunuh diri, mengemudikan mobilnya dengan kencang, sampai mengalami kecelakaan.
Naruto sebenarnya tak ingin meneruskan semua ini. Namun melihat Sasuke yang masih tidak menyerah untuk mendapatkan anak, dan juga ia masih terikat kontrak, akhirnya ia pun melakukan hal tabu lagi.
"Setelah itu kau tahu apa yang terjadi..."
Hinata hanya diam mendengarkan. Naruto melihat reaksi Hinata. Entah marah, kecewa atau sedih, Naruto tak tahu.
"Kau tahu Naruto-kun, andai kau jujur padaku, semua ini tidak akan terjadi..." itulah ucapan Hinata setelah mendengar cerita dari Naruto. Dan Naruto tahu, Hinata benar. Namun nasi sudah menjadi bubur. Waktu juga tidak bisa kembali. Hanya bisa menerima semua ini...
Mungkin memang mereka tak ditakdirkan bersama...
***ichigostrawberry-nyan***
Hari-hari setelah persidangan dilewati Naruto dengan aktivitas seperti biasa. Bekerja, merawat Boruto dan mendengar ocehan pertanyaan dari Sasuke setiap malamnya. Tidak ada lagi kesedihan yang terpancar di wajahnya. Berganti dengan tekad membesarkan Boruto yang terpancar di wajah tan Naruto.
Apalagi ketika hakim memutuskan Naruto merawat Boruto dan Hinata merawat Himawari. Yang ada dipikiran Naruto hanya bagaimana membahagiakan malaikat kecilnya, walaupun tanpa kehadiran Himawari dan Hinata. Bagaimana membuat Boruto bahagia, tanpa kasih sayang dari ibunya. Ia akan melakukan apapun dan tak ada waktu untuk bersedih. Apalagi menangis.
Baginya perceraian ini adalah hukuman untuknya, karena telah melukai istri sendiri. Karena telah membohongi istri sendiri. Naruto bahkan tidak berencana untuk menikah lagi. Dipikirannya hanya ada Boruto seorang.
Namun suatu ketika tubuhnya tidak seperti biasanya. Padahal meskipun hari-harinya berat, bekerja, menjadi ibu sekaligus ayah, dan menanggapi ocehan telepon Sasuke, yang terakhir itu abaikan saja. Sasuke baginya adalah salah satu batu dikehidupannya, yang sering membuatnya kesal, padahal ia sendiri sedang kerepotan. Bukannya membantu, malah merepotkan. Ia harap urusan dengan Sasuke cepat selesai.
Seperti biasa Naruto bangun pagi-pagi. Mengecup kening Boruto, tapi ternyata bayi itu sudah terbangun sebelum ayahnya bangun. Boruto sedang asyik mengemut jempolnya. Saat Naruto mengecup keningnya, Boruto menepuk-nepuk wajah Naruto. Senyuman tipis terpancar di wajah Naruto.
Lalu Naruto mencuci muka dan sikat gigi. Berganti pakaian dengan seragam Ramen Ichiraku, atasan putih dan bawahan biru, memakai topi warna putih. Tak lupa mengganti pakaian Boruto dan memandikannya. Boruto memakai atasan warna putih dengan gambar beruang-beruang kecil dan celana panjang putih dengan gambar yang sama. Memakai jaket warna oranye dan topi rajutan warna oranye. Naruto juga tak lupa 'menyusui' Boruto.
Boruto langsung tertidur dan Naruto menaruhnya di dalam box bayi. Namun begitu selesai meletakkan Boruto ke dalam box bayi, pandangannya mendadak berkunang-kunang, dan ia merasa pusing. Ia memijat keningnya. Sambil terus berjalan keluar untuk menyiapkan sarapan untuknya. Naruto mengabaikan rasa sakit dikepalanya. Ia pikir pasti akan sembuh.
Lalu Naruto mengecek kulkas, masih ada roti dan selai. Kepalanya terlalu berat, jadi ia makan roti dan selai saja. Ia mengoleskan selai cokelat di atas rotinya. Baru satu gigitan, perutnya mendadak bergejolak. Buru-buru ke kamar mandi dan ia langsung muntah di atas wastafel. Muntahannya ia buang dengan aliran air keran wastafel. Kembali meneruskan sarapan. Namun perutnya bergejolak lagi.
Berkali-kali ia bolak-balik meneruskan sarapan dan kamar mandi. Namun akhirnya tubuhnya lemas. Rotinya hanya termakan sepertiga. Itu pun terbuang lagi, karena muntah terus. Rasa sakit dikepala juga tak hilang. Mungkin duduk sebentar di atas lantai kamar mandi tak masalah.
Setelah agak baikan ia berdiri dan hendak melanjutkan perjalanannya ke Ramen Ichiraku. Tak lupa Boruto di bawa. Karena Boruto masih tidur, ia menggendongnya secara perlahan. Ia sudah tak bernafsu makan lagi. Ia memilih berangkat saja. Ia tidak minum obat ataupun berangkat ke dokter. Naruto pikir pasti langsung sembuh, mungkin dia hanya kelelahan. Nanti saat bekerja pulang cepat saja, jika masih tidak enak badan.
Benar saja saat bekerja ia tak merasa pusing. Bahkan malam ia makan banyak. Hal ini berlangsung terus-menerus. Pagi sakit kepala, muntah, badan lemas tak bertenaga, membuatnya selalu telat bekerja, karena Naruto hanya mengobatinya dengan tidur sejenak.
"Telat lagi Naruto?" tanya Ayame melihat Naruto baru datang padahal sudah jam sebelas.
"Maaf, aku sudah cerita padamu kan, kalau setiap aku sering muntah dan sakit kepala. Badanku juga lemas, tadi juga sama. Maaf Ayame," ujar Naruto sambil membungkuk memohon maaf.
"Hae, kalau bukan pegawai kesayangan, kau sudah dipecat Naruto. Apa kau sudah meminum obat atau pergi ke dokter?"
"Belum, habis setelah tidur juga sembuh, lagipula lebih baik uangnya untuk Boruto, ketimbang buat beli obat atau pergi ke dokter," jawab Naruto.
"Kalau begitu besok kau libur saja. Pergilah ke dokter dan jangan membantah, atau kau mau kupecat, hm?" perintah Teuchi, ikut dalam pembicaraan Naruto dan Ayame.
"Ukh, jangan Teuchijii-san¸nanti bagaimana caranya aku membiayai Boruto. Baiklah besok aku akan ke dokter," ujar Naruto dengan bibir mengerucut kesal dengan kata-kata Teuchi yang ingin memecatnya. Sementara Ayame hanya tertawa kecil melihat reaksi kekanakan Naruto.
Keesokan harinya Naruto berangkat ke rumah sakit, untuk memeriksaan dirinya. Tentu saja dengan membawa Boruto. Ia berangkat ketika matahari berada tepat di atas kepala. Karena paginya ia mengalami muntah-muntah. Sejak saat itu ia tidak pernah sarapan. Ia hanya makan siang dan malam.
Saat di rumah sakit, ia bertemu dengan Kabuto. Dokter berkacamata itu menanyakan kedatangan Naruto ke rumah sakit. Naruto pun menceritakan apa yang terjadi dengan tubuhnya pada Kabuto. Kabuto mendengarkan sambil mengelus-ngelus janggutnya yang tipis, tidak kelihatan jika dilihat dari jauh.
Setelah Naruto bercerita, ia langsung di bawa Kabuto ke ruangannya. Kabuto pun langsung memeriksa Naruto, tanpa diminta olehnya. Di atas kasur putih Naruto berbaring dan mulai diperiksa Kabuto. Sementara Boruto dititipkan oleh susternya Kabuto. Guren namanya.
"Naruto kurasa kau harus memberikan kabar baik ini pada Sasuke," ujar Kabuto setelah selesai memeriksa Naruto. Kini Naruto sudah tidak berbaring di atas ranjang pasien. Melainkan duduk berhadapan dengan Kabuto.
"Kabar baik? Maksudnya?" tanya Naruto dengan kening berkerut.
"Kau akan punya anak," jawab Kabuto.
"Eh? Benarkah?" tanya Naruto tidak percaya. Kabuto hanya mengangguk menjawabnya.
Naruto tidak tersenyum, tidak juga bahagia mendengarnya. Wajahnya lebih terlihat seperti orang terkejut. Tak percaya juga. Naruto mencubit tangannya. Siapa tahu ia bermimpi. Namun nyeri langsung datang saat ia mencubit tangannya. Ia tidak bermimpi. Namun sungguh sulit dipercaya.
Naruto pun pulang setelah selesai pemeriksaannya. Tak lupa mengambil Boruto dari Guren. Tapi ia rasa, ia harus mengatakannya hal ini pada Sasuke. Tidak. Lebih baik langsung pada Sakura, pikirnya.
Sasuke pernah cerita kalau istrinya sepertinya sering membuang obat-obatnya. Sasuke ingin melarang, namun ia tidak tega memarahi istrinya. Ternyata raja tega seperti Sasuke bisa lembut juga, begitu menurut Naruto. Sasuke jadi bingung harus apa menghadapi istrinya.
Jadi Naruto pikir, jika ia memberikan kabar ini pada Sakura-istri Sasuke, mungkin Sakura bisa lebih semangat lagi. Naruto putuskan menuju kediaman Uchiha, untuk memberitahukan kabar ini pada Sakura.
Namun sebelum itu harus menelepon Sasuke dulu, karena ia tidak tahu dimana alamat rumah Sasuke. Ia mengambil handphone lipat miliknya dari kantong celana. Sebelum ia berhenti di troatoar yang menyediakan bangku besi panjang. Ia duduk disana, karena ia kerepotan menelepon sambil membawa Boruto jika sambil berdiri.
"Hn?" seperti biasa jawaban Sasuke singkat padat dan tidak jelas. Naruto kadang tidak mengerti kenapa Sasuke selalu seperti itu, jika ditelepon ataupun bicara langsung.
"Aku ingin tahu dimana alamat rumahmu? Ada yang ingin kubicarakan dengan istrimu," jawab Naruto.
"Untuk apa kau berbicara dengan Sakura?" dingin seperti biasa.
"Aku tidak bisa mengatakannya, nanti akan kukatakan setelah aku bicara dengannya..."
"Che, baiklah terserah saja, nanti akan kuemailkan alamat rumahnya."
"Terima kasih..."
"Sebentar apa kau sudah hamil lagi?"
Naruto mendengus mendengarnya dan memilih untuk menutup handphonenya. Bosan mendengarkan pertanyaan yang sama. Benar-benar pangeran tidak sabaran. Beberapa menit kemudian email masuk. Dari Sasuke, alamat rumahnya dan Naruto bergegas kesana dengan naik taksi.
Perjalanan ke rumah Sasuke, tepatnya mansion, lumayan lama. Naruto membutuhkan waktu hampir satu jam untuk menuju ke mansion tersebut. Ketika datang, ia disambut maid dan buttler yang cantik dan tampan.
Ruang tamunya juga mewah. Ia duduk menunggu Sakura dipanggil salah satu maid yang penampilanya seperti warga Tiongkok. Beberapa saat kemudian Sakura muncul. Wanita itu tampak kurus. Rambutnya pendek, terakhir kali Naruto bertemu rambut Sakura panjang. Ia mengenakan gaun hitam dengan turtle neck.
Padahal saat bertemu, Sakura begitu cantik di mata saphire Naruto. Namun sekarang keadaannya terlihat menyedihkan. Naruto jadi merasa prihatin dengan kehidupan Sakura. Setelah ia duduk, Sakura menanyakan tentang Boruto. Lalu setelah itu Naruto menyerahkan amplop berisi hasil pemeriksaannya dengan Kabuto. Sakura langsung bereaksi. Cukup mengejutkan untuk Naruto, karena wanita itu menangis.
"Aku...aku ingin hidup...aku ingin hidup..." teriak Sakura. Wanita ini pasti menjalani hidup yang berat, sehingga ia bereaksi seperti itu, begitulah menurut Naruto.
Namun Naruto bersyukur, dari teriakan Sakura, sepertinya wanita itu tidak akan membuang obatnya lagi.
***TBC***
Hei Ichi kembali, maaf baru update, hei, hei ada yang baca manga Boruto gak? Kemarin adegan sn-nya buat saya menggila~ uhuk
Ini balasan reviewnya...
mariaerisa: oke sudah dilanjut
Cute neko: semoga penasaranmu terjawab~
vemyoktia: update sih bisa kapan aja, tapi idenya itu loh yang suka datang telat.
D: sudah dilanjut
578: reaksi sasuke chapter depan kayaknya
Guest1: sudah dilanjut
Guest2: idem ama atasnya
Guest3: saya bukan 's' #jitak
Guest4: idem ama atasnya
blackrose966: akan ane pikirkan
kitsu-snl: kejamnya~
Furihata719: supaya tahu dari sisi sakuranya
Harpaairiry: idem ama atasnya
males ajh: apa sekarang sudah mainly? Kalau mau lebih mainly lagi di genre action aja, ini kan drama, jadi penuh dengan drama~
ajibana7777: sakura sakit itu sudah disiksa~
Guest5: yup akhirnya~
Hime-Uzumakiey: kejamnya~
Biybuy: fu...fu...
Ayame: makasih
Sukasn: liat chap depan~
Arashilovesn: fu...fu...
Guest: kejamnya~
Kuro SNL: hm kalau itu liat nanti dulu deh
Neko-Chan: ini juga kejamnya~
aka-chan: all hail~
call me: fu...fu...
Guest5: sedang dipikirkan
Viskanurkhofifah: sudah dilanjut
Name: he...he...iya sabar nak, fanfic ini hanya khayalan ane semata~ jadi pasti banyak kekurangan~
Kiiromaru: tadinya gak pengen dibuat dari sisi hinata, tapi akhirnya dibuat juga #jitak,
Sanayu: makasih
Shafiosia Prakasa: ia sengaja dipercepat #jitak,
justin cruellin: fu...fu...
gici love sasunaru: idem ama atasnya
: akan dipikirkan #pikiran mesum #jitak
Meli Channie: semoga ini sudah panjang
uzumakinamikazehaki: idem ama jawaban di atas
celindazifan: semoga~
Angel Muaffi: fu...fu...
siskajung: iya makasih yah, aku sadar kok kalau penulisanku berbelit-belit, semoga dichap ini sudah beruba...tar kupikirkan sasuke mode 's' sekalian #jitak
Vilan616: iya #jitak
phabo uniq: sudah dilanjut
Habibah794: idem ama yang diatas
Namikaze Ken: jujur aku baru tahu setelah baca review kamu, aku kurang referensi #jitak, ya sudahlah sudah terlanjur, kalau kanker itu bisa dari bahan kimia,
michhazz: iya makasih typo memang selalu menghantui fanfic buatanku #jitak
versetta: anak sasunaru pasti mirip sasunaru #jitak
hanazawa kay: ia semoga
Jasmine DaisynoYuki: yup
Dewi15: fu...fu...
