Grey Morning "Sweet Enemy" (Noren Version)
Cast :
Huang Renjun
Lee Jeno
Qian Kun
Seo Jihee (OC)
Summary:
Semua orang menganggap Renjun beruntung karena bisa mendapat beasiswa dan bisa tinggal di mansion keluarga Lee. Tetapi tidak ada yang mengerti bahwa yang paling diinginkan Renjun adalah bisa lulus sekolah dan kemudian bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Dan hubungannya dengan Jeno membawa sebuah masalah rumit di kehidupannya sekarang.
Genre:
Romance, Hurt/Comfort
Rate: T
Warning:
BL, Yaoi, out karakter. Cerita ini bukan punya aku, aku hanya meremakenya jadi versi Noren, cerita aslinya punya Kak Santhy Agatha judul novelnya Sweet Enemy… Jadi kalo nemu crita yg sama dengan pair yg beda, itu wajar. Harap maklum karna critanya emang bagus, jadi banyak yg meremakenya (termasuk aku juga.. hehehe)
Big Thanks to:
realloveexo, chittaphon27, KM-FARA, Cho Kyungmint, CherryBomb127, Missyeonjeongseo, Cheon yi, FujosGirl, Wiji, It's YuanRenKai, nichi, oohseihan, and yang udah Favorite & Follow serta ngikutin ff ini dari awal ampek akhir… /lopelope/
-oOo-
12
"Seorang pecinta memiliki ketakutanterbesar, ketakutan itu adalah : kebenciandari sang tercinta."
(..•ˋ_ˊ•..)(..•˜_˜•..)(..•ˆ_ˆ•..)kkkk
-oOo-
Ketika mereka pulang, Jihee ada di sana sedang bercakap-cakap dengan Nyonya Lee di ruang tamu, ketika menyadari Renjun sudah dibawa pulang oleh Jeno, Nyonya Lee langsung berdiri dan menyambut Renjun.
"Renjun." dengan lembut Nyonya Lee memeluk Renjun, "Polisi mengabarkan bahwa semuanya sudah selesai, syukurlah semuanya baik-baik saja."
Jihee ikut berdiri dan menghampiri Renjun lalu memeluknya erat-erat dengan cemas, "Renjun syukurlah… Aku cemas sekali." Wajah Jihee pucat pasi, dia tampak benar-benar senang karena Renjun pulang dengan selamat. "Mereka tidak memperbolehkanku ikut, jadi aku menunggu di sini."
"Terima kasih Jihee." Renjun tersenyum lembut. Dia ingin berterima kasih kepada semua orang yang mencemaskannya, tetapi saat ini dia sangat lelah, amat sangat lelah.
Jeno sepertinya mengetahui bahwa Renjun harus beristirahat, dihelanya tubuh Renjun. "Aku akan mengantarkan Renjun ke kamar untuk beristirahat dulu."
"Biarkan aku saja…" Jihee mencoba mengambil tangan Renjun, tetapi Jeno menepiskannya.
"Tidak Jihee, terima kasih sudah ikut memberikan dukungan di sini. Mungkin kau juga lelah dan ingin beristirahat, ada kamar tamu yang tersedia untukmu. Aku yang akan mengantar Renjun beristirahat."
Renjun sudah terlalu lelah untuk berkata apapun, dia hanya menurut saja ketika Jeno menggandengnya ke kamarnya. Tidak disadarinya tatapan Jihee yang membara, menatap punggung mereka berdua dengan marah.
-oOo-
Jeno mendudukkan Renjun ke tepi ranjang dan mengambil kursi untuk duduk di hadapannya, diraihnya jemari Renjun dengan lembut, dahinya mengernyit ketika melihatnya.
"Ini pasti terasa sakit," gumamnya setengah marah. Renjun hanya tersenyum lemah menanggapinya, dan dia menguap. Jeno terkekeh melihatnya, "Tunggu sebentar, jangan tidur dulu, biarkan kuobati lukamu." Dia mengambil kapas dan antiseptik yang sudah disiapkan oleh pelayan, lalu mengoleskannya dengan lembut di pergelangan tangan Renjun yang memerah, "Sakit ya?" bisiknya lembut ketika melihat Renjun mengernyit, "Tapi ini akan sembuh dengan cepat."
"Terima kasih Jen hyung." Renjun mencoba tersenyum. Lalu dia merenung, "Perempuan yang menculikku itu, apakah dia benar-benar eommaku?"
"Jangan pikirkan itu dulu."
"Dan Kun… Benarkah dia kakak kandungku?"
Mata Jeno langsung bersinar cemburu ketika Renjun menyebut nama Kun. Dia terdiam dan menunggu. Sementara itu Renjun tetap bergumam, tidak menyadari api yang menyala di mata Jeno. "Kakak kandungku… Kenapa aku bisa melupakan bahwa aku mempunyai kakak lelaki? Kenapa kami dulu terpisah?" Renjun mengangkat bahunya dengan malu kepada Jeno, "Bahkan kaupun mungkin tidak akan menyangka kalau orang sepertiku bisa mempunyai kakak setampan Kun hyung…"
Jeno langsung menarik Renjun, tangannya yang masih menggenggam pergelangan tangan Renjun menariknya supaya menempel di tubuhnya, dan tanpa peringatan, Jeno mencium Renjun. Lelaki itu mengecup bibirnya dengan lembut, dan ketika Renjun masih terperangah kaget, Jeno melumat bibirnya dengan sepenuh perasaan, menikmati manis dan lembutnya bibir Renjun.
Lama setelahnya, Jeno melepaskan ciumannya. Matanya bersinar lembut ketika menatap mata Renjun yang melebar dan ternganga bingung. Jemarinya menyentuh bibir Renjun yang memerah karena ciumannya yang bergairah.
"Kau manis Renjunnie. Kun hyung pasti bangga memiliki adik semanis dirimu." Jeno bergumam serak, lalu mengecup dahi Renjun dengan lembut. Lelaki itu lalu menghela tubuh Renjun supaya berbaring di ranjang dan menyelimutinya.
"Tidurlah sayang, lupakan semua kejadian kemarin, mulai sekarang aku akan menjagamu." Bisik Jeno pelan, mengantarkan Renjun ke dalam tidurnya.
Tidak mereka sadari bahwa semua kejadian itu dilihat oleh Jihee yang mengintip di pintu. Matanya menyala penuh kebencian. Dia tadi datang pura-pura membawakan teh hangat untuk Renjun, tetapi pemandangan inilah yang didapatnya.
Kurang ajar! Batinnya penuh kemarahan. Ini tidak bolehterjadi, ini semua melenceng jauh dari rencananya. Dia harus bisamemisahkan Jeno dari Renjun!
-oOo-
Pagi harinya Renjun terbangun dengan kebingungan dan ingatan yang bercampur aduk. Semua kenangan kembali kepadanya secara serentak, penyelamatannya dari penculikan. Teriakan Soojun yang mengatakan bahwa dia adalah ibu kandung Renjun, kenyataan bahwa Kun adalah kakak kandungnya. Semuanya berpadu menjadi satu… Lalu… Ciuman Jeno.
Apakah itu benar-benar terjadi atau jangan-jangan ituhanyalah khayalannya saja?
Tetapi kenapa Jeno menciumnya? Renjun menyentuh bibirnya dan pipinya terasa panas. Bibir Jeno sudah menyentuh bibirnya… Melumatnya...
Tanpa diduga pintu kamarnya terbuka, dan lelaki yang sedang dibayangkannya sudah berdiri di sana.
"Hai." Jeno tersenyum lembut.
"Hai." Renjun tersenyum, tiba-tiba dia teringat akan Jihee yang menyambutnya kemarin tetapi Renjun sudah terlalu lelah untuk menanggapinya, dia merasa menyesal karena sudah tidak sopan kepada Jihee.
"Apakah… Apakah Jihee masih menginap di sini?"
"Semalam dia berpamitan pulang..." Jeno mengernyit dan memandang ke sekeliling, "Ketika kami masih menanti kabar tentangmu Jihee menginap di rumah ini... Tetapi meskipun ada banyak kamar tamu di mansion ini, Jihee memilih tidur di kamarmu."
"Di kamar ini? Kenapa?"
"Aku tidak tahu." Jeno mengangkat bahunya tiba-tiba baru menyadari akan keanehan perilaku Jihee itu, "Dia bilang dia akan lebih tenang mendoakanmu kalau tidur di sini."
Jihee tidur di kamar ini? Renjun mengerutkan dahi dan merasa sedikit aneh. Tetapi kemudian dia berpikir bahwa apa yang dikatakan Jihee mungkin ada benarnya, sahabatnya itu pastilah amat sangat mencemaskannya.
"Kau merasa lebih baik?" tanya Jeno kemudian.
Renjun berusaha menyembunyikan pipinya yang merona, dia menganggukkan kepalanya, "Aku sudah merasa lebih baik." Jawabnya pelan.
"Baguslah." Jeno melangkah duduk di kursi yang didudukinya kemarin, membuat ingatan akan ciuman itu menyerbu benak Renjun, membuatnya semakin salah tingkah. Lelaki itu duduk dalam posisi yang sama, dihadapan Renjun yang sedang duduk di ranjang. "Aku tahu ini terlalu pagi. Tetapi Kun hyung tadi menelepon dan mengatakan bahwa dia akan kemari untuk menjemputmu." Mata Jeno bersinar sedih, "Dan aku tidak berhak melarangnya, semalaman aku berpikir keras, dan aku menyadari bahwa aku tidak boleh memisahkan kakak beradik yang sudah terpisah sekian lama, kalian pasti ingin bersama."
Jeno menghela napas panjang, "Tetapi sebelumnya ada yang ingin kukatakan kepadamu, kenyataan yang mungkin akan membuatmu menyalahkanku. Aku pikir aku harus mengungkapkannya kepadamu sebelum Kun hyung yang melakukannya."
Renjun memandang Jeno dengan bingung, Kenyataantentang apa? Renjun menyuarakan pertanyaan di dalam benaknya.
"Tentang masa laluku, tentang masa lalu kita." Jeno menatap mata Renjun dalam-dalam. "Aku pernah mengatakan padamu bukan bahwa aku pernah mengalami percobaan penculikan di waktu kecil? Dan kemudian ada seorang lelaki yang menyelamatkanku? Lalu aku mengatakan bahwa lelaki itu sudah meninggal?"
Jeno memang pernah mengatakannya, tetapi apahubungan itu semua dengan...
"Orang yang menyelamatkanku adalah appamu." Jeno mengatakan dengan jantung berdetak kencang, "Appamu dulu adalah seorang pemain biola terkenal dan jenius, kau lihat bahwa bakatnya menurun kepada Kun hyung... Sedang appaku sangat tertarik dengan bidang musik klasik, mereka bersahabat... Sampai kemudian seorang penculik berpisau mencoba membawaku dan appamu menyelamatkanku."
Appa seorang pemain biola terkenal? Renjun mencoba memahami informasi itu, berusaha menyatukan semua bayangannya dengan kenangannya tentang ayahnya, seorang buruh bangunan kasar dengan tangan penuh luka dan kapalan. Mana mungkin ayahnya pemain biola terkenal?
"Usaha menyelamatkan diriku telah merenggut bakat appamu." Jeno seolah tahu apa yang ada di benak Renjun, "Pisau penculik itu mengenai sarafnya sehingga dia tidak bisa bermain biola lagi..." Jeno menghela napas panjang. "Dan appamu kehilangan masa depannya. Dia kehilangan keluarganya... Semuanya berawal dari diriku."
Selesailah sudah. Jeno mengernyitkan keningnya, mengamati wakah Renjun yang pucat pasi. Apakah Renjun akanmembencinya? Apakah Renjun akan menuduhnya sebagaipenghancur keluarganya? Bisakah Renjun memaafkannya?
Berbagai pikiran berkecamuk di benak Jeno, membuatnya merasa ngeri. Perasaannya kepada Renjun telah bertumbuh menjadi sesuatu yang asing dan takut untuk dia akui. Tetapi setelah ciuman semalam itu dia tidak bisa menyangkalnya lagi. Jeno mencintai Renjun, dan dia takut kehilangannya, dia tidak akan tahan kalau Renjun membencinya.
"Renjun?" Jeno akhirnya bertanya ketika Renjun hanya diam dan terpaku. "Apakah kau membenciku?" Kenapa Renjun tidak mengatakan sesuatu kepadanya?
Jantung Jeno makin berdebar, menanti apapun reaksi dari Renjun. Apapun reaksi itu dia akan menerimanya, dia sudah siap menerima cacian, tamparan bahkan mungkin ditinggalkan, tetapi sikap diam Renjun ini bukanlah apa yang diharapkannya. Kemudian seorang pelayan mengetuk pintu dengan hati-hati, membuat Jeno menoleh dengan kening berkerut.
"Ada apa?"
"Tuan Kun menunggu di bawah." gumam pelayan itu memberitahu.
Jeno langsung beranjak, menatap Renjun yang masih terdiam, dengan sedih dia menyentuhkan jemarinya di pipi Renjun, "Kau boleh marah padaku kalau kau mau." Gumamnya lembut, "Aku tunggu di bawah ya."
Lalu Jeno melangkah pergi, meninggalkan Renjun yang masih termenung dalam kebingungannya.
Semua kenangan itu tiba-tiba menyeruak kembali di dalam benaknya, kejadian di malam hujan dan badai itu ternyata bukan mimpi. Semua itu nyata. Teriakan-teriakan di tengah hujan itu adalah teriakan ibunya yang mencaci maki ayahnya, mengancam akan meninggalkannya. Dan lalu... Anak lelaki kecil itu… Itu Kun kakaknya, yang kemudian direnggut paksa oleh ibunya. Renjun berteriak-teriak memanggil kakaknya, tetapi dia didorong oleh ibunya sampai terjatuh dan ditolong ayahnya.
Kun menjerit-jerit memanggil Renjun dalam gendongan ibunya, tetapi sang ibu tetap tidak menghiraukan teriakan mereka. Kun dan Renjun dipisahkan dengan paksa. Kenangan akan masa itu begitu traumatis sehingga Renjun kecil menenggelamkan semua ingatannya dalam-dalam, menyimpannya jauh di dalam memorinya dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Ayahnya mengetahui itu dan membiarkannya, berpikir bahwa lebih baik Renjun lupa semuanya sehingga bisa melangkah ke kehidupan baru tanpa kenangan masa lalu yang menyakitkan. Lalu semua kenangan itu kembali secara samar ketika Renjun bertemu dengan Kun untuk pertama kalinya, mendengarkan permainan biola lelaki itu. Sekarang setelah ingat semuanya, Renjun tahu kakaknya sangat berbakat bermain biola, menuruni bakat ayahnya. Renjun kecil selalu menunggui Kun ketika kakaknya itu berlatih biola, Kun selalu memainkan lagu apapun yang diminta Renjun setelahnya. Hidup mereka dulu terasa begitu bahagia, bisa berdua. Sampai kemudian pertengkaran itu terjadi dan ibunya memutuskan bahwa ayahnya tak pantas lagi untuknya. Dan pemicu pertengkaran itu pastilah kecelakaan yang mematikan saraf jemari ayahnya, yang membuatnya tidak bisa bermain biola lagi dan kehilangan masa depannya yang cerah. Dan semua itu terjadi karena ayahnya menyelamatkan Jeno... Renjun merenung, mencoba menelaah semua kenyataan itu di dalam benaknya. Lalu setelah menghela napas panjang, Renjun melangkah turun menuju ke arah Jeno dan Kun.
-oOo-
Ketika Renjun masuk, Jeno dan Kun langsung menoleh bersamaan, kedua lelaki itu tampak sedang berbincang-bincang dengan serius.
"Renjun?" Kun bertanya lembut, menatap adiknya dengan penuh kasih sayang, "Kau sudah merasa baik?"
Renjun menatap wajah Kun, untuk pertama kalinya menyadari bahwa lelaki ini adalah kakaknya, untuk pertama kalinya dia menatap wajah Kun sebagai wajah kakaknya, wajah yang sama, hanya versi dewasa dari kakak kecilnya dulu yang sangat menyayanginya. Mata Renjun berkaca-kaca.
"Kun... hyung..." suara Renjun terdengar serak.
Seketika itu juga Kun menyadari bahwa Renjun sudah ingat, bahwa seluruh kenangan mereka di waktu kecil sudah bisa Renjun ingat, Kun langsung melangkah tergesa, sejenak berdiri ragu di hadapan Renjun, lalu menarik Renjun ke dalam pelukannya, "Renjun... Adikku." dipeluknya Renjun erat-erat seolah akan meremukkannya. Oh ya Tuhan. Setelah sekian lama, setelah mencari dan putus asa, akhirnya Kun bisa memeluk Renjun lagi dalam rengkuhan lengannya. Matanya terasa panas, dan kemudian ikut larut dalam air mata haru yang ditumpahkan Renjun di dadanya. Semua kenangan menyakitkan tentang perpisahan mereka yang dipaksakan itu musnah sudah, digantikan oleh kebahagiaan karena pertemuan indah itu, pertemuan kakak dan adik yang sudah lama terpisah.
Sementara itu Jeno menatap Kun dan Renjun yang sedang berpelukan itu dengan perasaan campur aduk.
-oOo-
13
"Kau bisa menghilangkan kebencian denganmerelakan."
(..•ˋ_ˊ•..)(..•˜_˜•..)(..•ˆ_ˆ•..)kkkk
-oOo-
Lama setelah mereka menumpahkan perasaan, Renjun mendongakkan kepalanya dan menatap Kun, matanya penuh air mata, tetapi kemudian Kun mengusapnya dengan jemarinya, dengan penuh rasa sayang.
"Apakah Soojun-ssi adalah eomma kandung kita?" Renjun teringat perempuan cantik yang selalu berdandan dan pergi ke pesta-pesta, tidak pernah ada di rumah dan meninggalkan Renjun dan Kun kecil di tangan para pembantu. Dia tahu bahwa ibunya dulu tidak mempedulikan mereka, tetapi dia tidak menyangka kalau ibunya setega itu menculiknya hanya demi harta.
"Dia memang bukan ibu yang punya hati." Kun mengernyit sedih. "Kau tahu kenapa aku membenci perempuan? Karena aku membencinya. Dia menjualku hanya semi uang untuk bersenang-senang di luar negeri."
Renjun menutup mulutnya dengan tangannya dengan jemarinya, dia tidak pernah menyangka ibunya sekejam itu, hari itu dia dan Kun dipisahkan dengan paksa. Renjun berpikir bahwa ibunya memang ingin membawa Kun, tetapi ternyata ibunya hanya menganggap Kun sebagai aset yang bisa mendatangkan uang untuknya.
Jeno yang sejak tadi hanya diam dan mengamati pun mengernyit ketika mendengar kisah itu lagi. Ibu macam apa yang tega menjual anaknya demi uang? Ibu macam apa yang tega menyandera anaknya sendiri demi tebusan? Well, Jeno memang belum pernah menemui hal semacam ini, tetapi dia menemukannya dalam kasus Renjun dan Kun. Tiba-tiba saja dia merasa beruntung, meskipun ibunya selalu sibuk dan jarang punya waktu, setidaknya ibunya selalu menjaganya.
Jeno berpikir mungkin ini waktu yang tepat untuk menyela.
"Aku tidak mau mengganggu reuni kalian." Jeno memilih menatap Kun, masih tidak berani menghadapi kenyataan di mata Renjun, dia tidak siap kalau lelaki manis itu ternyata menatapnya penuh kebencian. "Apakah kau datang kemari untuk menjemput Renjun?"
Kun mengangguk, dan meskipun sudah melepaskan pelukannya, dia tetap merangkul Renjun dengan posesif.
"Aku sudah berbicara dengan orang tuaku. Orang tua angkatku," gumamnya mengoreksi dengan senyum miris, "Mereka tidak keberatan aku membawa Renjun tinggal di rumahku, mereka malah merasa senang. Dan aku pikir, aku adalah satu-satunya keluarga Renjun yang tersisa, kami harus tinggal bersama."
Jeno menghela napas panjang, "Aku tidak berhak melarang sebuah keluarga untuk bersatu," gumamnya pedih, "Maafkan aku atas semua kejadian di masa lalu yang memporak-porandakan keluarga kalian."
Kun menatap Jeno lama, lalu tersenyum kecut, "Tidak apa-apa Jeno, tanpa adanya kejadian itu, keluargaku mungkin tetap akan porak poranda, ibuku adalah manusia jahat, entah bagaimana caranya dialah yang menjadi penyebab utama hancurnya keluarga kami, bukan kau."
Sebuah maaf. Jeno memejamkan matanya, lega mendengarkan jawaban Kun itu. Lalu kemudian dia melirik ke arah Renjun, lelaki manis itu menunduk dan tidak menatap matanya, membuat Jeno kecewa.
"Kurasa kau mungkin ingin mengemasi pakaianmu." Kun menyentuh siku Renjun lembut, membuat Renjun mengangguk dan melangkah pergi dari ruangan itu.
Lama kemudian Kun dan Jeno saling bertatapan.
"Dia membenciku. Aku menceritakan semuanya tadi pagi, dan dia membenciku." Gumam Jeno pedih, menatap ke arah pintu dimana tubuh Renjun menghilang.
"Pada awalnya pasti begitu," Kun bergumam memaklumi, "Aku juga begitu pada awalnya, tetapi kemudian aku memahami bahwa semua itu bukan karena salahmu, seperti yang kukatakan tadi, dengan atau tanpa adanya dirimu, keluarga kami pasti akan hancur." Kun tersenyum tenang dan mengulurkan tangannya, "Kuharap setelah ini kita bisa berdamai dan bersahabat seperti semula."
Jeno membalas uluran tangan itu, "Pasti hyung."
Lalu mereka melangkah duduk di sofa, dan Kun mengamati kegelisahan Jeno.
"Kau memikirkan Renjun?"
"Dia bahkan tidak mau menatapku." Jeno merenung.
Kun terkekeh, "Sepertinya kau jatuh cinta kepada adikku."
Jeno tidak menjawab, tetapi tidak juga membantah, dia menatap Kun dengan tatapan menantang, "Apakah kau akan menghalanginya?"
"Tergantung."
"Tergantung apa?" sela Jeno penasaran
"Tergantung seberapa besar niatmu untuk membahagiakannya."
"Sangat." Jeno menjawab dengan tulus, "Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya dengan orang lain manapun."
"Dan aku tidak pernah melihatmu seperti ini dengan seorang manapun." Kun tersenyum, menyadari ketulusan Jeno.
"Kalau begitu semua tergantung Renjun."
Kun dan Jeno tidak menyadari, bahwa Renjun masih berdiri di balik pintu. Mendengarkan percakapan mereka dengan jantung berdegup kencang.
Apakah maksud dari percakapan ini? Apakah Jeno mencintainya? Pemikiran itu membuat dadanya membuncah oleh perasaan hangat.
-oOo-
Setelah tas Renjun siap, pelayan memasukkannya ke mobil Kun. Nyonya Lee sedang ada urusan bisnis sehingga Renjun berpamitan dan mengucap terima kasih melalui telepon, berjanji akan berkunjung segera setelah urusan bisnis Nyonya Lee selesai.
Kun berdiri di depan Jeno di pintu, mengamati betapa kikuknya Jeno dan Renjun, lalu mengangkat bahunya geli.
"Well, aku akan menunggu di mobil kalau kalian ingin berpamitan," gumamnya pelan sambil tersenyum dan melangkah menuju mobil hitamnya di parkiran.
Sementara itu Jeno menatap Renjun dalam-dalam.
"Hati-hati, ya." gumamnya pelan, penuh perasaan, ada yang hilang di dalam hatinya ketika mengetahui bahwa Renjun tidak akan tinggal di rumahnya lagi, tidak akan pulang ke rumahnya lagi.
"Iya." Renjun menjawab kaku, "Selamat tinggal." Gumamnya cepat-cepat, lalu membalikkan tubuhnya dan setengah berlari ke mobil, meninggalkan Jeno. Jeno sendiri hanya terperangah ditinggalkan begitu saja, dia menatap Renjun dengan pedih, lalu membalikkan tubuhnya hendak memasuki rumah, tidak tahan melihat punggung Renjun yang makin menjauh.
Sementara Renjun setelah beberapa langkah merasa ragu. Dia membalikkan tubuh, dan melihat punggung Jeno yang sudah berbalik hendak memasuki rumah.
"Jeno hyung!" serunya, lalu sebelum Jeno sempat membalikkan tubuhnya, Renjun berlari ke arah Jeno dan menubruk tubuhnya dari belakang, memeluknya erat-erat, membuat Jeno mematung.
"Terima kasih sudah menjagaku selama ini." Bisik Renjun pelan, membuat jantung Jeno berdegup liar. Lelaki itu langsung membalikkan tubuhnya, dan memeluk Renjun erat-erat.
"Kau memaafkanku? Kau tidak menyalahkanku karena semuanya?" Jeno berbisik di atas puncak kepala Renjun, jemarinya lalu mendongakkan kepala Renjun supaya menghadapnya, Renjun sedang tersenyum, menatapnya dengan malu-malu.
"Semula aku memang terkejut." Renjun tersenyum ragu, "Tetapi kemudian aku sadar bahwa itu semua bukan salahmu."
Jeno memejamkan matanya lega, "Syukurlah." Dengan lembut di sentuhnya dagu Renjun dengan jemarinya, "Tahukah kau bahwa setiap waktu yang kuhabiskan bersamamu, membuatku semakin mencintaimu?"
Renjun menggelengkan kepalanya, pipinya merona merah,
"Aku tidak tahu... Bagaimana mungkin seorang kau bisa jatuh cinta kepadaku?"
Jeno memutar bola matanya, "Seorang aku?" Gumamnya geli, "Kau seolah menganggap aku ini alien atau apa. Aku semula bertekad menjadi hyungmu, yang bisa menjagamu dengan baik. Tetapi kemudian aku menyadari ada sesuatu yang lebih." Pelukan Jeno makin erat, "Apakah kau juga merasakan hal yang sama untukku?"
Apakah dia merasakan hal yang sama? Renjun terpaku. Ya. Dia selalu merona kalau membayangkan Jeno. Bukankah itu artinya dia memiliki perasaan yang lebih kepada lelaki ini?
"Aku tidak tahu... Tetapi sepertinya aku menyukaimu."
"Menyukaiku?" Jeno mengernyit menggoda, "Aku mengatakan bahwa aku mencintai dan tergila-gila kepadamu, tetapi kau mengatakan bahwa kau hanya menyukaiku?"
"Eh... Aku tidak tahu." Renjun mengalihkan tatapannya, tidak tahan dengan pandangan tajam yang dilemparkan Jeno.
Sikap itu membuat Jeno merasa gemas, dia lalu mengecup dahi Renjun, turun ke hidungnya, lalu ke bibirnya. "Mungkin ini bisa membuatmu memutuskan." Jeno menundukkan kepalanya, lalu melumat bibir Renjun dengan penuh cinta. Renjun otomatis merangkulkan lengannya di leher Jeno, membalas ciumannya. Mereka berciuman dengan penuh perasaan di teras rumah itu, lupa akan sekeliling mereka, dan baru terpisah ketika klakson mobil Kun berbunyi.
"Apakah kalian akan terus-menerus berciuman dan membuatku menunggu di sini?" teriak Kun jengkel dari jendela mobilnya.
Jeno dan Renjun tertawa, masih berdekatan dengan bibir terasa panas bekas ciuman mereka. Jeno mengecup dahi Renjun lagi dengan lembut, lalu melirik ke arah mobil Kun. "Sebaiknya dia tidak usah pindah dari sini."
Kun langsung mengeluarkan kepalanya dari jendela, "Dengan kau yang mencintainya? Tidak, aku tidak akan membahayakan kesucian Renjun dengan membiarkannya tinggal di sini, siapa yang tahu kalau kau memutuskan akan menyerangnya malam-malam?"
Jeno merengut mendengar perkataan Kun, "Aku tidak akan melakukan hal serendah itu." Nada tersinggung dalam suaranya membuat Renjun tertawa.
Tetapi rupanya Kun sudah bertekad bulat, "Kau boleh mengajak Renjun tinggal bersamamu setelah kau menikahinya. Sebelum itu dia tinggal bersamaku, dan kau hanya bisa mengunjunginya dengan sopan di ruang tamu." Jawab Kun keras kepala.
Renjun tertawa, menatap Kun dalam senyuman, "Sebaiknya aku pergi."
Jeno menganggukkan kepalanya, mengecup jemari Renjun sebelum melepaskannya, "Aku akan datang berkunjung. Setiap hari." Bisiknya mesra sambil menatap Renjun penuh tekad, membuat pipi Renjun memerah. Ketika Renjun meninggalkan rumah itu, hatinya sungguh berbunga-bunga.
-oOo-
"Jeno menyatakan cinta kepadamu dan sekarang kalian berpacaran?" Suara Jihee agak meninggi di seberang sana dan membuat Renjun mengernyit. Dia tadi segera menelepon Jihee untuk mengabarkan bahwa dia sudah pindah ke rumah Kun, kemudian karena perasaannya begitu bahagia, dia menceritakan semuanya kepada Jihee, ingin berbagi kepada sahabatnya. Tetapi tanggapan Jihee sama sekali tidak diduganya, dia mengira Jihee akan tertawa dan menggodanya, alih-alih yang didengarnya adalah nada tinggi seperti... Kemarahan?
"Apakah... Kau tidak setuju, Jihee?" tanya Renjun hati-hati.
Sejenak suasana di seberang sana terdengar hening, lalu kemudian Jihee tertawa, "Aku cuma kaget Renjun, aku sangat bahagia mendengarnya. Selamat ya," Gumamnya dalam gelak tawa, membuat Renjun merasa lega.
-oOo-
Dilain pihak, ketika Jihee menutup percakapan dengan Renjun, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi, matanya nyalang membakar dan hidungnya kembang kempis terengah-engah. Dia berteriak keras-keras memenuhi seluruh rumah. Dengan marah dibantingnya seluruh barang di kamarnya, membuat suara gaduh yang menakutkan, apalagi diiringi dengan jeritan dan teriakan-teriakan yang mengerikan.
"Aku akan membunuhmuuuuu..!"
-oOo-
Jeno sedang menyelesaikan pekerjaannya di depan komputer ketika salah seorang pelayan mengetuk pintunya, dia mengernyit.
"Ada tamu untuk anda Tuan, Nona Jihee ingin bertemu anda di ruang tamu."
Kerutan di dahi Jeno semakin dalam. Jihee? Ingin menemuinya? Mungkin pelayannya salah dengar, mungkin yang ingin ditemui oleh Jihee adalah Renjun, apakah Jihee belum tahu bahwa Renjun sudah pindah dari mansion ini?
Benak Jeno langsung menghangat ketika membayangkan Renjun. Dia sudah merindukan Renjun padahal baru setengah hari mereka berpisah. Tetapi tidak apa-apa, beginilah pasangan yang sehat seharusnya. Saling merindukan. Jeno tiba-tiba teringat tentang Jihee dan memutuskan untuk menemui perempuan itu.
Sesampainya di ruang tamu, dia melihat Jihee sudah duduk di sana. Jihee tampak sangat cantik dengan pakaian yang sangat rapi dan dandanan yang sempurna, penampilannya tenang dan anggun, tetapi sayang, dia bukan tipe Jeno, hati Jeno sudah terpikat pada Renjun dan dia bersyukur ayahnya dulu membatalkan pertunangannya dengan Jihee.
"Hai Jihee." Jeno duduk di depan Jihee, menatap perempuan itu dengan ramah, "Pelayanku bilang kau ingin menemuiku, mungkin dia salah dengar? Kalau kau mencari Renjun dia sekarang tinggal di rumah Kun, kau pasti tahu kalau Renjun adalah adik kandung Kun bukan?"
"Aku tahu." Jihee tersenyum samar, "Renjun pasti bercerita kepadaku, dia selalu berbagi semua denganku. Aku kesini untuk menemuimu Jeno."
"Menemuiku? Tentang apa?"
"Kau pasti tahu bahwa kita sudah ditunangkan sejak kecil." Jihee tersenyum lembut, "Lalu pertunangan itu dibatalkan secara sepihak oleh appamu. Aku bukannya ingin menyalahkan appamu atau apa, lagipula aku tidak merasakan pengaruhnya ada atau tidak ada pertunangan itu. Bahkan ketika aku kembali ke negara ini aku sama sekali tidak peduli dan tidak memikirkanmu, sampai kemudian aku bertemu dengan Renjun dan baru tahu bahwa dia tinggal bersamamu, tetapi itupun tidak masalah untukku, kuharap kau jangan merasa tidak enak."
Jeno tersenyum hangat, "Aku senang kau membahasnya Jihee, pembatalan pertunangan itu memang terasa mengganjal di antara kita, apalagi kau adalah sahabat Renjun... Dengan begini mungkin kita bisa meluruskan semuanya dan menghilangkan rasa tidak enak."
Jihee menganggukkan kepalany, "Oke. Tapi masih ada satu hal lagi, aku pikir kau pasti tidak tahu kenapa appamu membatalkan pertunangan itu secara sepihak."
"Kenapa?" Jeno mengernyitkan keningnya, merasa ingin tahu.
Tiba-tiba senyum Jihee tampak mengerikan, perempuan itu mengeluarkan benda berkilau dari tas tangannya yang ternyata adalah sebuah pisau daging ukuran kecil yang tampak sangat tajam.
"Karena aku gila." Jihee menyeringai sambil mengacungkan pisau itu. "Aku didiagnosa menderita kegilaan turunan, seperti ibuku yang mati bunuh diri karena gila, ibuku bukan mati karena kecelakaan, dia mati karena kegilaannya mendorongnya melompat di tangga. Aku tidak sakit, selama ini appa mengurungku ke luar negeri karena malu kepadaku. Tetapi aku pandai berakting dan bersikap baik, sehingga akhirnya appa luluh dan membiarkanku pulang ke negara ini dan bersekolah di sekolah umum." Mata Jihee menyala, "Lalu aku melihat Renjun dan jatuh cinta pada pandangan pertama, aku mendekatinya dan yakin bahwa dia juga mencintaiku. Dia mencintaiku!" Jihee mulai menjerit, "Tapi kau lalu datang mengganggu. Kalian semua laki-laki hanya pengganggu, aku akan membunuhmuuuuu...!"
Jihee berteriak keras seperti orang gila lalu berdiri dan mengacungkan pisaunya ke arah Jeno yang masih duduk terperanjat.
-oOo-
Renjun sedang berusaha menyesuaikan diri di rumah Kun. Kedua orangtua Kun sangat baik dan menyempatkan diri menyambut Renjun, tetapi mereka juga orangtua yang sibuk, sama seperti ibu dan ayah Jeno. Kun mengantarkannya ke sekeliling rumah supaya dia terbiasa, dan ternyata sudah menyiapkan kamarnya, kamar dengan desain warna yang menenangkan yang sangat Renjun sukai.
"Kuharap kau kerasan tinggal di sini." Kun tersenyum lembut sambil menyiapkan biolanya. Dia selalu berlatih setiap hari. Bedanya dulu dia berlatih dalam kesendirian, sekarang ada Renjun yang menungguinya.
Tiba-tiba telepon di rumah mereka berbunyi. Kun yang mengangkatnya, dia tampak bercakap-cakap, lalu mendadak wajahnya berubah serius, ketika menutup telepon, dia langsung mengajak Renjun.
"Renjun kita harus ke rumah Jeno segera, ada hal serius di sana."
-oOo-
Kun tidak mengatakan apa-apa tentang Jeno, membuat Renjun panik setengah mati, benaknya panik memikirkan segala kemungkinan. Apakah ada kebakaran? Ada perampokan? Ada kejahatan? Apakah Jeno sakit?
Akhirnya mereka sampai di rumah Jeno, di sana tampak ramai banyak mobil diparkir, salah satunya ambulans dan mobil polisi, Renjun dan Kun langsung berlari menghambur ke mansion itu segera setelah mereka turun dari mobil.
"Renjun! Sayangku!" teriakan yang sangat dikenal Renjun membuatnya terpaku bingung. Itu Jihee, tetapi bukan Jihee yang biasanya. Perempuan itu dipegangi oleh dua orang paramedis yang setengah berusaha menyeretnya keluar, Jihee yang ini tampak berantakan, rambutnya acak-acakan dan matanya nanar, dia menatap Renjun seperti orang mabuk, "Aku sudah membunuh Jeno, dia penghalang cinta kita, sekarang kita bisa saling mencintai... Sekarang kita bebaaass..." Paramedis itu berhasil menyeret Jihee keluar dibantu rekannya, sementara Jihee masih terus mengoceh tidak karuan.
Renjun merasa ngeri atas pemandangan di depannya. Kenapa Jihee seperti itu? Dan dia bilang dia sudah membunuh Jeno? Jantung Renjun berdebar kencang tidak karuan, dengan langkah tergesa dia menuju ke dalam mansion.
Napasnya langsung lega melihat Jeno duduk di sofa, sedang dirawat oleh paramedis, sementara Kun ada di sampingnya. Lengannya tampak terluka oleh bekas sayatan dan sedang di perban.
"Jeno hyung!" Renjun bergumam cemas, berjongkok di depan Jeno, "Kau tidak apa-apa? Dan kenapa Jihee seperti itu? Diakah pelaku semua ini?"
Jeno terkekeh, "Ternyata dia gila, dia gila dan dia berhasil menyembunyikannya dengan baik." Jeno menatap Renjun lembut, "Sebenarnya aku sudah curiga sejak lama ketika mengetahui bahwa Jihee mendekatimu." Dia berdehem pelan, " Jihee eh... adalah mantan tunanganku di masa kecil..."
"Tunangan?" Renjun dan Kun bergumam bersamaan, merasa bingung.
"Ya.. tetapi entah karena alasan apa, appaku membatalkan pertunangan itu... kurasa dari kata-kata Jihee tadi, sepertinya appaku membatalkan pertunangan itu karena tahu tentang penyakit Jihee." Mata Jeno tampak sedih, "Dia bilang dia gila... karena itulah dia diasingkan di luar negeri oleh appanya sendiri."
Karena itulah Jihee tidak suka membicarakanpenyakitnya. Renjun langsung terkenang ke percakapan mereka waktu itu.
"Apakah dia kembali karena ingin menemuimu? Mantan tunangannya?" Renjun langsung menarik kesimpulan, "Aku.. karena merasa Jihee sahabatku, langsung meneleponnya dan menceritakan hubungan kita." Pipinya kali ini benar-benar merah padam. "Mungkinkah Jihee cemburu dan memutuskan untuk menyerangmu?"
Jeno tampak geli sendiri, "Jihee memang cemburu, tetapi tidak seperti yang kau pikirkan. Dia bilang dia bahkan tidak memikirkan pertunangan kami di masa kecil, Jihee jatuh cinta kepadamu Renjun. Dan dia merasa aku ini penghalang, jadi dia berusaha menyerangku. Beruntung aku dibekali ilmu bela diri yang cukup, hasil usaha appaku untuk menghindarkanku dari percobaan penculikan, dan ternyata kemampuan itu terpakai juga." Jeno menatap menyesal ke arah luka di lengannya, "Tetapi memang susah menghadapi perempuan gila yang nekad."
"Jihee jatuh cinta pada Renjun?" Kali ini Kun yang berseru, "Pantas aku selalu merasa ada yang aneh tentangnya, aku tidak pernah menyukainya meskipun dia selalu berusaha tampil manis di luarnya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatku merinding. Apalagi ketika dia meminta tidur di kamar Renjun malam itu. Aku merasakan sesuatu yang ganjil."
"Aku juga, tetapi aku melupakannya begitu saja, aku pikir dia benar-benar mencemaskan Renjun." Jeno menghela napas panjang, Renjun masih tertegun, shock atas semua yang terjadi.
Jihee... dia tidak menyangka kalau Jihee seperti itu. OhAstaga. Jihee mencintainya? Jihee sebenarnya gila? Dia bahkan tidak punya firasat sedikitpun tentang hal itu.
"Lain kali hati-hati kalau memilih teman." Goda Jeno lembut ketika melihat Renjun masih merenung karena shock, hal itu membuat Kun yang mendengarnya ikut terkekeh.
Renjun tersenyum malu, "Aku pikir... aku terlalu senang sehingga tidak waspada, karena hanya Jihee yang mau berteman denganku. Lagipula selama persahabatan kami dia benar-benar baik... aku tidak menyangka bahwa dia ternyata seperti ini." Gumam Renjun dengan nada menyesal.
"Aku tahu." Jeno mengulurkan tangannya dan memberi isyarat supaya Renjun mendekat, Renjun langsung melakukannya.
"Mungkin memang pada awalnya Jihee ingin berteman denganmu, tetapi kemudian semuanya berubah menjadi kegilaan yang mengerikan, menurutku dia memang labil dan harus dirawat."
"Semoga dia baik-baik saja." Renjun mendesah, bayangan Jihee yang ditarik petugas paramedis ke dalam mobil membuatnya merasa kasihan. Jihee begitu cantik, begitu sempurna penampilan luarnya, kenapa dia harus berakhir seperti itu?
"Tenang saja, eomma sudah menelepon appa Jihee, dia akan menjemput Jihee di rumah sakit. Aku rasa appa Jihee akan membawanya kembali ke luar negeri."
"Mungkin itu yang terbaik." Kun menggumam, "Menurutku dia belum sepenuhnya sembuh, sangat berbahaya kalau dia berinteraksi dengan orang-orang dan kemudian tidak dapat menahan emosinya seperti kejadian barusan." Kun melirik luka di lengan Jeno, "Untung saja kau tidak apa-apa."
"Aku akan meminta eomma untuk mendesak appa Jihee agar membawanya kembali ke luar negeri," Jeno menyetujui, "Kalau tidak bisa berbahaya bagi Renjun." Jeno menatap Renjun dengan lembut. Pipi Renjun memerah menerima tatapan itu, tatapan penuh cinta yang intens dan tidak disembunyikan lagi, dulu dia bahkan tidak bisa menebak apa yang ada di dalam benak Jeno , lelaki itu selalu memasang tampang datar dan tidak terbaca tetapi kemudian, ketika memutuskan untuk membuka hatinya, Jeno tidak tanggung-tanggung, lelaki itu dengan terang-terangan menatap Renjun penuh cinta, hingga membuat Renjun salah tingkah.
"Jangan menatapnya seperti itu." Kun yang bergumam, "Kau akan membuatnya makin memerah seperti kepiting rebus."
Jeno tertawa, tetapi Renjun benar-benar memerah seperti kepiting rebus. Lalu lelaki itu memeluk Renjun dengan sebelah tangannya yang tidak terluka, tidak mempedulikan Kun yang cemberut melihatnya, "Aku tidak melihatmu baru sebentar dan sudah merindukanmu."
Renjun menatap Jeno sambil tersenyum, "Aku juga, Jeno."
"Aku tidak merindukanmu sama sekali." Kun menyela, berusaha mengganggu pasangan itu, membuat Jeno meliriknya dengan mencela.
"Apakah kau tidak punya kegiatan lain selain mengganggu kami?" Gumam Jeno ketus.
"Tidak." Kun mendongakkan dagunya, menantang, Jeno mendengus, lalu dia memutuskan mengabaikan Kun dengan memeluk Renjun erat-erat.
"Semoga setelah semua musuh dikalahkan, tidak ada lagi yang menghalangi kita."
Kun mengeluarkan suara mencibir yang sengaja dikeraskan, membuat Renjun tersenyum geli. Betapa bahagianya dirinya, memang banyak musuh yang mengintai diam-diam, dia juga hampir celaka dan sedih memikirkan bahwa pelakunya adalah ibunya sendiri. Tetapi setidaknya semua kejadian itu membawanya kepada ujung yang membahagiakan, Renjun bisa bertemu kakak kandungnya yang tak bisa dibantah lagi amat sangat menyayanginya, dan dia bisa menemukan Jeno, lelaki yang sangat dicintai dan mencintainya.
Rasanya hidupnya begitu lengkap, dan dia tidak ingin apa-apa lagi.
-oOo-
.
.
END
Happyyy Ending, horaayyy... manmansaeeee...
Uhh, wow jihee ternyata gila, udah gila dibutakan cinta jadi tmbah menggila *omongapasihh
Untung aja jeno menghindar waktu jihee berniat nusuknya.. baguslah, kalo jihee kembali diasingkan, bisa bahaya kau dibiarkan. Eh, biarpun gila jihee pintar juga yaa, pintar bgt nyembunyiin kegilaannya. Agak aneh sih, ah udahlah, critany emang gituhh...
Sedih, grey morning udah end, bakal rindu kalian nih.. huhuhu
Tp ada kabar gembira nih buat kalian yg kangen ma aku /emangada/ aku ada ide untuk mmbuat crita markren gs slight noren nomin markkei/markyukh n yukchan, complicate bgt kan. Penasaran? Tunggu setelah lebaran yaa.. soalnya ada rate m nya wkwkwk
Oh, satu lagi. Karna kemarin haechan anakku yg paling bawel lagi ultah /bawel2 poto teasernya bikin mamihnya kilaff/ tiba2 ada ide buat ff markhyuck slight markmin noren wookei (jungwoo x yukhei). Penasaran juga? Tunggu setelah lebaran yaa... soalnya ini juga ada rate m nya wkwkkkk /ketauan deh klo minnie mesum orangnya/
Enaknya publishnya barengan ato satu2? Sarannya dong!
Trus buat yg nanya kok dari tadi mark mulu yg jadi cast utamanya? /mang ada yg nanya/
Jawabannya aku mau nistain mark, karena udah bikin aku kilaf kalo liat wajahnya, emang visual semua member nct tidak perlu diragukan lagi, bahkan aku bingung nentuin biasku di nct sampai saat ini, jadi deh semua member aku anggap biasku semua.. /wah serakah tuh namanya/
Balesan Review Kemarin
realloveexo: aku gg lupa nat, cuma gi sibuk nugas aja, makanya hiatus dulu.. mangkanya kun benci sama ibunya, krna secara tak sadar penyebab terpecahnya keluarga mereka ya karna ketamakkan ibunya.
chittaphon27: kayaknya nextku kelamaan deh, hehe mian...
KM-FARA: udah tau kn jihee yg sebenarnya..
Cho Kyungmint: jihee ngapain hayoo?
CherryBomb127: beb, demi menyambut nct 127 kambek, bebeb ganti penname ya? Gpp beb, aku juga seneng kambek lagi..
Missyeonjeongseo: gg juga, untung kun ngrestuin noren.
Cheon yi: makasih udah nunggu, sequel salah sasaran yaa? Gg tau kapan up nya hehehe..
FujosGirl: bukan jeno tapi renjun, kkamu terkejutkan waktu tau jihee trobsesi sama renjun?
Wiji: tuhh, mereka udah pacaran. Udah dapet restu lagi. Tinggal nikah..
It's YuanRenKai: iyap, jihee punya obsesi lebih pd renjun, bahkan dia berani membunuh jeno, tp untung jeno gpp.
nichi: mau jadi gila kayak jihee? Kalo aku sih gg mau fatin.
oohseihan: ini malah udah end, mian up nya lama. Aku lagi dilanda sama virus malas, soalnya pas bulan puasa yg baca kayaknya menurun deh jumlah, apa lagi pada hiatus baca ff yaa? Makasih udah nungguin ff ini.
Terakhir, aku mau minta maaf kalau ada kata2 yg kurang mengenakan yg tak sengaja aku ketik ketika aku membalas review kalian, maaf kalau ada typo bertebaran, ada bagian crita yg mengganjal, atau kurang pas. Maklum aku penulis abal2 yg ingin mencoba pengalaman baru. Udah bosan jadi pembaca, hingga tiba2 ada niatan buat nulis cerita.. jangan bosan2 memberi kritik dan saran, karena itu sangat membantuku untuk lebih baik kedepannya.. sampai jumpa di epilog ff ini...
Sign
Minnie
